Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
102
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d618a7e65b24d531e07169e/cemburu
Kumpulan Cerpen . Sumber Pinterest Dada berdenyut hebat, nyeri sekali. Hati pun terasa pedih bagai disayat pisau ribuan kali. Melihat suami dengan tampang tanpa dosa, pagi-pagi sudah mengelus-elus selingkuhannya. Ingin kuteriak, “Kenapa bukan aku yang kauelus-elus?” Namun, hanya bisa kuungkapkan dalam hati rasa jengkel ini. Aku yang sedang menyapu di dalam rumah tidak bisa fokus. Sesekali meli
Lapor Hansip
25-08-2019 02:05

Cemburu

icon-verified-thread
Kumpulan Cerpen[B]
Cemburu. Sumber Pinterest

Dada berdenyut hebat, nyeri sekali. Hati pun terasa pedih bagai disayat pisau ribuan kali. Melihat suami dengan tampang tanpa dosa, pagi-pagi sudah mengelus-elus selingkuhannya.

Ingin kuteriak, “Kenapa bukan aku yang kauelus-elus?” Namun, hanya bisa kuungkapkan dalam hati rasa jengkel ini.
Aku yang sedang menyapu di dalam rumah tidak bisa fokus. Sesekali melirik ke arah Mas Hendra. Kemudian dia melangkah ke arahku.

“Dek, kamu kenapa to, kok pagi-pagi sudah cemberut gitu?” tanya Mas Hendra suamiku.

“Nggak kenapa-kenapa!” ketusku.

Terdengar Mas Hendra mendesah pelan.

“Dasar wanita, ditanya baik-baik jawabannya selalu begitu. Sudah jelas ada apa-apa, masih saja mengelak,” gumamnya terdengar jelas di telingaku.

“Apa kamu bilang, Mas?” tanyaku sambil hendak memukul kepala Mas Hendra dengan sapu.

“Eh, nggak, Dek. Ampun, jangan pukul Mas, ya? Please.” Mas Hendra memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.

“Kamu sih! Jadi suami nggak bisa ngerti istri sama sekali, kurang peka!”

Mas Hendra hanya ternganga mendengar ocehanku. Membuat hati ini semakin mangkel.
Aku melengos pergi sambil menghentakkan kaki. Salah sendiri pagi-pagi sudah membuat marah dan kesal. Harusnya, membantu mengerjakan tugas rumah. Bukan malah asyik bermesraan dengan yang lain.

“Dek!” panggil Mas Hendra dari luar ketika aku sudah ada di dapur.

Aku tak mengacuhkannya. Hati ini sudah sangat dongkol. Capai. Setiap pagi harus mengomel.

“Urus saja itu selingkuhanmu! Dia lebih penting dari aku, ‘kan?” gerutuku sebal.

Lalu, tak terdengar teriakan Mas Hendra lagi. Sepertinya, dia memang sudah pergi dengan kesayangannya. Aku menghela napas panjang dan hanya mampu mengusap dada.

“Tuhan … kenapa nasibku harus tragis seperti ini? Suami sudah nggak peduli dan perhatian lagi,” gumamku.

Hati ini benar-benar perih. Mata pun terasa panas dan pandangan mulai buram. Kemudian, menitiklah satu per satu bulir-bulir bening yang rasanya sedikit asin.

Aku cemburu pada si merah, pagi-pagi sudah disayang dan ditimang, seolah dia lebih penting. Bahkan dengan bangga dan tanpa risih menciumnya di depan mataku. Istri mana yang tidak akan marah?
Sedang istrinya hanya dibiarkan melongo menyaksikan kebersamaan mereka. Sungguh keterlaluan.
Laki-laki memang begitu, lebih mementingkan hewan kesayangan daripada istri sendiri. Awas saja nanti, aku tidak akan masak. Biarkan saja kelaparan. Supaya nanti minta makan sama ayam jagonya!

“Ayam jago kesayanganmu itu memang kurang ajar, sudah merebut perhatianmu dariku!” Aku berteriak sendiri seperti orang gila.

Rasa sakit ini melebihi ditinggal menikah lagi.

***

Malam hari dengan perasaan yang sedikit gondok, menyaksikan acara televisi seorang diri. Mas Hendra jangan ditanya lagi, dia sedang asyik bercengkerama dengan si merah di teras depan.

Apa tidak bosan setiap hari hanya berduaan dengan ayam? Huh, kerjanya hanya membuai dan menggendong ayam saja. Istrinya dilupakan. Tubuh gemetar dan menggigil. Mungkin, karena kelaparan tidak ada yang bisa dimakan. Bagaimana bisa makan? Tidak ada yang dimasak. Suami benar-benar telah melalaikan kewajibannya.

Stok sabar yang aku punya sudah benar-benar habis. Tak rela jika suami semakin melupakanku, hanya karena si merah. Aku segera bangkit dari duduk dan melangkah menuju dapur. Setelah sampai, mata berkeliaran mencari sesuatu. Mata langsung berbinar ketika melihat barang berkilau nan cantik. Aku meraih dengan cekatan.

“Awas kamu, ya, tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu!” Aku tersenyum miring.

Salah sendiri telah merebut perhatian dan kasih sayang suamiku. Dasar ayam jago tidak tahu perasaan. Suka, kok sama jago juga. Harusnya cari betina! Rutukku dalam hati.

Aku berjalan ke teras dengan langkah yang cepat. Setelah sampai di teras, tanpa basa-basi langsung merebut si merah dari tangan Mas Hendra. Dia terbelalak melihatku menarik selingkuhannya, apalagi melihat belati yang mengkilat di tangan. Matanya merah menyala dan rahang mengeras. Namun, aku tak peduli, tujuanku hanya satu mengiris leher si ayam jago.

Aku tersenyum puas, setelah si merah berada di tanganku. Namun, tiba-tiba terasa ada tetesan cairan dingin jatuh tepat di atas kaki. Baunya sangat busuk.

“Ueek, ueek, dasar ayam nggak tahu sopan santun! Buang kotoran sembarangan!” teriakku.

Mas Hendra terpingkal-pingkal melihatnya. Kemudian merasakan hal yang sama terjadi pada tanganku. Ayam jago Mas Hendra buang tahi lagi. Perut rasanya diaduk-aduk, seluruh yang ada di dalam serasa mau keluar. Aku membanting si merah dengan kasar.

“Ini ayammu! Dasar nggak punya adab!” Aku menghentakkan kaki, lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan kencang.

“Suami dan ayam sama-sama menyebalkan semua! Tangan dan kakiku jadi kotor semua, ‘kan?” omelku ketika sudah ada di dalam kamar mandi.

“Dek! Dek! Kamu masih di dalam, ‘kan? Cepetan! Mas mau memandikan si merah!” teriak Mas Hendra dari luar.

Aku bergeming. Ayam saja dimandikan! Kenapa tidak menikah dengannya saja? Dasar!

“Dek! Bisa cepat sedikit nggak?”

“Iya, sebentar! Nggak sabaran sekali jadi suami.”
Aku membuka pintu kamar mandi. Belum keluar sepenuhnya, Mas Hendra sudah menerobos masuk. Kemudian, menutup pintu kamar mandi dengan kencang.

“Aku nggak akan mengganggu kalian! Kenapa harus ditutup?” tanyaku dari luar.

“Supaya si merah nggak malu, Dek,” jawab Mas Hendra.

Kedua alisku bertaut. Malu? Apa ayam punya perasaan? Duh, sepertinya Mas Hendra perlu dibawa ke psikiater. Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Lalu, berjalan menuju kamar, ingin tidur saja rasanya. Berharap besok semua yang terjadi malam ini, hanya sebuah mimpi.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, silau. Ternyata hari sudah pagi. Matahari sudah menyembul. Cahayanya menerobos masuk ke dalam melewati celah jendela kamar. Aku menoleh ke samping kanan, Mas Hendra sudah tidak ada. Berarti dia sudah bangun. Atau jangan-jangan … tidur di kandang ayam.

Aku segera beringsut dari atas ranjang. Setengah berlari, bergegas menuju halaman belakang. Ternyata benar, Mas Hendra tidur di pembaringan ayam. Maksudku, di teras belakang yang dekat dengan kandang. Ah, ternyata semalam bukan mimpi. Hati benar-benar ngilu bagai teriris sembilu.
Rasanya lebih menyakitkan dari suami yang direbut pelakor. Bagaimana tidak lebih sakit? Kalau pelakor kita bisa melabraknya, sedang ayam tidak mungkin, ‘kan marah-marah? Bisa-bisa kita disebut orang gila.

Tiba-tiba aku punya ide jitu. Aku kembali ke dalam rumah, mengambil barang yang aku butuhkan.

“Banjir-banjir! Ayo bangun, Mas. Rumah kita tenggelam!” teriakku sambil menyiram tubuh Mas Hendra dengan air satu ember penuh.

Mas Hendra tergagap. Dia meloncat dari atas kursi panjang. Aku tertawa puas. Akhirnya, tercapai juga mengerjai suami sendiri.

Rasakan akibatnya, siapa suruh tidur sama ayam. Istrinya dibiarkan sendiri.

“Aduh, Dek. Kamu apa-apaan, sih!” teriak Mas Hendra.
Aku bergeming. Kemudian melangkah ke kandang si merah dan mengambilnya. Lalu dengan wajah tanpa dosa mulai menyayatkan pisau ke lehernya.

“Tidakkk! Jangan, Dek. Jangan bunuh kesayangan Mas.” Mas Hendra terduduk lemas menyaksikan si merah meregang nyawa di tanganku.

Sedang aku tertawa puas. Dendam sudah terbalas. Sekarang waktunya eksekusi. Makanya, jangan macam-macam sama istri. Memangnya istri akan tinggal diam saja, jika merasa diabaikan.

****

Selesai ….
Diubah oleh Anna471
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 10 lainnya memberi reputasi
9
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Cemburu
25-08-2019 02:14
mayan,page one...buat kualitas cerita,???
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Anna471 memberi reputasi
2 0
2
Cemburu
25-08-2019 02:35
Quote:Original Posted By azroqysakti
mayan,page one...buat kualitas cerita,???


Kualitas ceritanya bagaimana?
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Cemburu
25-08-2019 07:07
hadiir... iya udh bner di sfth. semua cerpen tinggal kumpulon jadi satu di sini ya ka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Cemburu
25-08-2019 07:25
oke juga neh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Cemburu
25-08-2019 07:46
Quote:Original Posted By Anna471
Makasih ya


Gak masalah gan
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Anna471 memberi reputasi
2 0
2
Cemburu
25-08-2019 08:27
Wah bagus sekali.
Lanjutken, no kentang no makan
emoticon-shakehand
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Anna471 memberi reputasi
2 0
2
Cemburu
25-08-2019 08:51
bagus emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
25-08-2019 09:26
Istri yang kalah sama ayam....
Hmmm patut di pertanyakan kualitas servis nya.



emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
25-08-2019 09:26
dasar galak, ngurusin ayam aja dimarahin. ayam dicemburuinemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
25-08-2019 09:57
Thread ini digabungin aja sama thread Antara Cinta dan Sahabat, Mbak. Jadi bersatu di dalam kumpulan cerpenemoticon-Toast
Diubah oleh evywahyuni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
25-08-2019 19:04
Quote:Original Posted By evywahyuni
Thread ini digabungin aja sama thread Antara Cinta dan Sahabat, Mbak. Jadi bersatu di dalam kumpulan cerpenemoticon-Toast


Cara gabunginnya gimana? Kalau yang Antara cinta dan sahabat yang dipindah ke sini gimana Mbak?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
25-08-2019 19:05
Quote:Original Posted By masnukho
dasar galak, ngurusin ayam aja dimarahin. ayam dicemburuinemoticon-Ngakak


emoticon-Ngakak 😂😂 biasanya cewek kan gitu emang.
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Cemburu
25-08-2019 19:06
Quote:Original Posted By shotgunBlues
Istri yang kalah sama ayam....
Hmmm patut di pertanyakan kualitas servis nya.



emoticon-Cool


😁😁
0 0
0
Cemburu
25-08-2019 19:09
Quote:Original Posted By Anna471
Cara gabunginnya gimana? Kalau yang Antara cinta dan sahabat yang dipindah ke sini gimana Mbak?


Kudu pilih header thread yang sudah lolos review, lalu copas semua cerpen ke dalamnya. Pilih advance untuk copas cerpen.

Masuk di sini juga bagus karena trit ini udah lancar komennya jugaemoticon-Toast
profile-picture
Anna471 memberi reputasi
1 0
1
Cemburu
25-08-2019 20:39
Quote:Original Posted By evywahyuni
Kudu pilih header thread yang sudah lolos review, lalu copas semua cerpen ke dalamnya. Pilih advance untuk copas cerpen.

Masuk di sini juga bagus karena trit ini udah lancar komennya jugaemoticon-Toast


Berarti nunggu ada yang sudah lolos review dulu 😁 ini baru posting semalam. Baru jadi kreator juga beberapa hari lalu 😁
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan evywahyuni memberi reputasi
2 0
2
Cemburu
25-08-2019 20:52
Quote:Original Posted By Anna471
Berarti nunggu ada yang sudah lolos review dulu 😁 ini baru posting semalam. Baru jadi kreator juga beberapa hari lalu 😁


Yup, Mbakemoticon-Jempol kalo udah lolos review baru bisa dikumpulin trit cerpennya yang berceceran di luaremoticon-Cendol Gan
profile-picture
Anna471 memberi reputasi
1 0
1
Cemburu
26-08-2019 11:20
Quote:Original Posted By evywahyuni
Yup, Mbakemoticon-Jempol kalo udah lolos review baru bisa dikumpulin trit cerpennya yang berceceran di luaremoticon-Cendol Gan


Makasih Mbak 😊
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan evywahyuni memberi reputasi
2 0
2
Cemburu
26-08-2019 13:06
Quote:Original Posted By Anna471
Makasih Mbak 😊


Ma sama juga, Mbak Annemoticon-Shakehand2
0 0
0
Cemburu
27-08-2019 22:21

Kenakalan Si Kembar

Cemburu


Pagi yang cerah, cahaya matahari menerobos jendela kaca yang tertutup tirai. Seorang ibu muda sedang membangunkan kedua anak kembarnya yang tidak identik. Si Andi dan Ani. Mereka lahir dengan jarak sekitar sepuluh menit. Mereka berusia tujuh tahun.


“Andi, Ani, ayo bangun. Matahari sudah tinggi. Kalian harus sekolah,” ucap Pur, si ibu muda.


Bukannya langsung bangun, mereka malah menggeliat sambil menggumam.


“Ah, masih pagi ini, Mak,” gumam Ani.


“Aww!” teriak Andi.


“Andi! Andi! Kamu kenapa, Nak?” tanya Pur sambil mengguncang tubuh Andi pelan.


“Aduh, Mak, sakit. Perut Andi mules,” ucap Andi sambil nyengir.


“Duh, kamu ini membuat Emak jantungan saja. Cepat sana ke WC!” perintah Pur.


Andi lari terbirit-birit sambil memegang perutnya yang sakit. Dia meringis menahan sakit. Pur hanya menggeleng melihat kelakuan putranya. Kemudian pandangannya beralih ke Ani.


“Ani! Ayo bangun, anak gadis, kok tidurnya ngebo.” Pur menepuk pipi Ani.


“Mak, sakit. Jangan main tampar sembarangan!”


“Lha, salah sendiri nggak mau bangun. Matahari sudah tinggi, nanti rezekinya dipatok ayam.”


“Halah, Mak. Ayam itu makannya jagung, bukan rezeki. Rezeki nggak bisa dimakan.” Ani mengucek matanya yang masih lengket.


“Jangan membantah apa kata orang tua, nggak baik. Kita harus bangun pagi sebelum matahari terbit,” jelas Pur lagi.


“Aduh, Mak! Kalau matahari belum terbit tandanya masih malam, waktunya tidur. Jika sudah muncul, baru boleh bangun.”


Pur hanya bisa terdiam, kepalanya tampak mengangguk-angguk. Mungkin aneh dengan ucapan anaknya. Namun, anak kecil, ‘kan selalu merasa benar. Jika disalahkan pasti marah.


“Ya sudah, terserah kamu. Yang penting sekarang bangun.” Pur mengacak rambut Ani setelah itu melangkah keluar.


“Mak!” teriak Ani.


Terpaksa Pur berhenti dan menoleh. Dia menatap Ani, sepertinya meminta penjelasan kenapa berteriak histeris.


“Ani, kencing di atas kasur ….”


Mata Pur langsung membulat sempurna. Tangannya tiba-tiba mengepal keras.


“Apa! Kamu ngompol lagi?” tanya Pur dengan suara keras.


Ani menggeleng. Matanya tampak berkaca-kaca, sedetik kemudian meluncurlah butiran bening dari matanya.


Pur mendesah pelan, lalu melangkah ke arah Ani.

“Hhmmm, kamu kenapa bisa ngompol lagi, An? Emak sudah sering bilang kalau mau tidur buang air dulu. Nggak mau nurut si,” ucap Pur dengan suara yang mulai melunak.


Ani masih menunduk. Pur menatap Ani dengan pandangan penuh penyesalan.


“Maafkan Emak, ya, An? Habis kamu, sih, selalu ngompol setiap hari.” Pur mengusap rambut Ani pelan.


Ani tampak tersenyum, dia berhasil membuat emaknya menyesal.


“Ani nggak ngompol, Mak, tapi kencing di kasur,” ucap Ani.


“Ya sudah terserah kamulah. Emak ngalah,” ucap Pur sambil mendesah.


“Memang Ani benar, kok, Mak. Kalau ngompol, ‘kan nggak sengaja pas kita tidur. Sedang Ani memang niat pipis di kasur.” Ani cekikikan, kemudian segera beringsut dari ranjang dan segera berlari dengan kencang. Menghindar supaya tidak kena jewer telinganya. Pur hanya bisa mengelus dada, melihat kelakuan kedua anak kembarnya itu.


“Dasar anak-anak, ada saja tingkahnya yang membuat tensi darah naik.” Pur tersenyum sambil menggelengkan kepala.


***



Siang hari sepulang dari sekolah, Andi dan Ani bermain di halaman. Andi bermain kelereng dan Ani membaca komik. Tiba-tiba saja ada ide jahil dari Andi.


“Ani, sini sebentar,” bisik Andi.


Ani pun menoleh dan berhenti membaca komiknya.


“Apa? Ganggu saja kamu ini!” sungut Ani.


“Sudah diam! Jangan banyak protes. Ayo ikut aku,” ajak Andi.


“Ke mana?” tanya Ani.


Bukannya menjawab, tetapi Andi malah menyeret tangan Ani dengan paksa. Alhasil, Ani tergagap dan hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.


“Andi! Sakit ….” Ani mencoba melepaskan genggaman tangan Andi.


“Halah, manja. Anak cewek memang lemah, dasar!” ketus Andi.


Andi tampak melihat ke sekitar. Matanya jelalatan ke sana ke mari, seperti sedang mengintai sesuatu.


“Heh, kamu kenapa, sih? Mau ngapain kita di depan kamar emak?” tanya Ani.


“Sstt, jangan berisik! Nanti emak dengar.” Andi meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Kedua alis Ani bertaut dan mengangkat kedua bahu.


“Terserah kamulah, An.”


“Ayo. Sudah aman.” Andi menyeret tangan Ani, kemudian membuka pintu kamar.


Setelah tiba di dalam, Andi segera menggeledah lemari dan meja Pur. Ani hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan saudara kembarnya.


“Nah! Ketemu.” Mata Andi berbinar.


“Andi … kamu mau ngapain, sih? Nggak baik masuk kamar orang tua dan mengambil barangnya tanpa izin,” nasehat Ani.


“Halah, bocah tahu apa?” tanya Andi.


Bibir Ani seketika mengerucut, lalu melangkah ke arah Andi dan menjitak kepalanya.


“Sembarangan saja kalau bicara. Kamu itu yang bocah!” Ani berkacak pinggang.


“Diam! Nanti emak keburu ke sini.” Andi membekap mulut Ani.


“Aduh!” teriak Andi.


Ani pun tertawa puas. Dia senang karena berhasil menggigit tangan Andi.


“Rasakan! Makanya jangan seenaknya saja sama aku,” cebik Ani.


Andi pun hendak membalas perbuatan Ani. Namun, Ani berlari menghindar. Akhirnya, terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam kamar. Tanpa mereka sadari, menabrak meja yang ada di kamar Pur dan jatuhlah vas bunga di atasnya. Suaranya yang nyaring ditambah kegaduhan dari mereka terdengar sampai dapur.


“Kalian!” Suara Pur menggelegar.


Andi dan Ani terperangah. Melihat emaknya sudah ada di dalam kamar. Tubuh mereka tiba-tiba menggigil. Tangan saling menggenggam satu sama lain. Pandangannya menunduk, mungkin lantai terlihat lebih mengasyikkan dari pada wajah Pur.


“Kenapa kamar Emak berantakan begini?” tanya Pur dengan suara penuh penekanan.


Hening. Tak ada jawaban. Andi dan Ani saling pandang kemudian menunduk lagi. Pur menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu, melangkah ke arah anak-anaknya.


“Emak tanya sekali lagi. Kenapa kalian ada di dalam kamar? Bukannya tadi bermain di halaman?” tanya Pur dengan suara sedikit lembut.

Masih tak ada jawaban.


“Baiklah. Kalau nggak ada yang mau jawab, besok ke sekolah jangan harap dapat uang saku,” ancam Pur sambil lalu.


“Maaf … tadi Andi yang ngajak Ani main ke kamar,” ucap Andi dengan suara sedikit bergetar.


Pur pun menoleh dan melangkah kembali ke arah anak-anaknya.


“Nah begitu jawab yang jujur,” ucap Pur.


“Maafkan Andi, ya, Mak? Tadi ambil ini.” Andi menyerahkan selembar uang lima ribuan pada Pur.


Pur sedikit ternganga. Matanya merah menyala, tapi sedetik kemudian menghela napas panjang.


“Andi, kalau butuh uang nggak boleh ambil sendiri. Minta baik-baik sama Emak. Kalau tanpa izin namanya mencuri, itu nggak baik dan nggak boleh,” ucap Pur.


Andi mengangguk tanda mengerti.


“Satu lagi, nggak boleh masuk kamar orang lain tanpa izin. Paham?” tanya Pur.


Andi dan Ani mengangguk. Pur tersenyum melihat anak-anaknya bisa mengerti. Mereka pun berpelukan.


****


Selesai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gustiarny dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Cemburu
29-08-2019 02:35

Antara Cinta Dan Sahabat

Cemburu
Sumber: Pinterest


Mei merupakan bulan yang sangat istimewa bagiku. Selalu membawa cerita. Entah itu suka ataupun duka. Senantiasa mengingatkan akan dirinya. Kenangan antara aku dan dia.

Aku duduk di bangku kayu taman kota. Menikmati udara yang sedikit panas karena memang musim hujan sudah lewat. Melihat ke sekeliling, tempat penuh kenangan. Aku tersenyum membayangkan sosok Shin. Senyumnya yang manis semakin membuat rindu ini bergelora. 

Memori beberapa tahun lalu berkelebat di depan mata, layaknya sebuah film yang diputar ulang kembali. Dadaku terasa menyempit membuat napas menjadi sesak.

💔


Bulan Mei, masa terakhirku berada di bangku SMA. Saatnya mengucapkan kata-kata perpisahan. Waktu sekolah terisi banyak hal yang tak akan bisa terlupa. Begitu pula antara aku dan Shin. Kami mengisi tahun-tahun terakhir dengan penuh kebahagiaan. Senang sekaligus sedih, karena harus berpisah dari sahabat terkasih.

Suatu hari selepas wisuda, Shin mengajakku pergi ke taman kota. Dia bilang akan mengatakan hal penting. Mendengar semua itu, jantungku bekerja lebih keras dari biasanya. Entah, rasa apa yang ada dalam dada. Setiap kali bersamanya desiran halus senantiasa menyergap.

“Eemm, Dit, aku akan pergi ke Jepang dua hari lagi,” ucap Shin tiba-tiba. 

Seketika aku terbatuk ketika mendengar pengakuan pria lesung pipi di hadapan. Mengapa dia memberi kabar mendadak?

“Apa?” Aku langsung menoleh dan menatapnya tak percaya.

“Iya, Papa menyuruhku kuliah di Jepang.” Pria mata belo itu menatap lurus ke depan.

Ah, mengapa harus berpisah dengan Shin? Aku sudah terbiasa berada di sampingnya. Tiba-tiba ada yang nyeri di dalam sini. Mata pun langsung mengembun. Pandangan semakin buram, lalu meluncurlah buliran hangat membasahi pipi.

“Sudah nggak usah sedih, kita tetap bisa ngobrol lewat telepon,” ucap Shin sambil mengacak rambutku kasar.

Mengapa pria kulit putih itu, terlihat biasa saja meski akan berpisah denganku? Apa mungkin dia tak pernah mencintaiku sedikit pun? Napas kuembuskan dengan kasar.

Cinta lazimnya mendatangkan suka, tetapi tak jarang pula malah meramu lara. Kenapa rasa ini muncul tiba-tiba di hati? Shin sahabatku, tak seharusnya rasa ini hadir begitu saja. Aku tahu ini salah. Namun, aku juga manusia biasa, tak sanggup menolak apa yang hadir dalam hati. 
Mungkin perhatiannya selama ini, hanyalah sebatas perlakuan manis pada seorang teman. Ah, diri ini memang bodoh. Mengapa mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan?

“Hei, udah hampir senja. Ayo balik.” Pria rambut hitam lurus itu menepuk pundakku sehingga membuyarkan lamunan.

“Elah, malah ngelamun,” ledeknya.

Mendengar ejekannya seketika bibirku manyun. Dia sama sekali tidak peka, tak pernah mengerti apa yang kurasakan. Sahabat macam apa dia?

“Kenapa kamu ngasih kabar mendadak gini, sih, Shin? Harusnya bilang dari jauh-jauh hari!” sentakku sebal.

Mata pria jangkung itu membola, lalu bibirnya menggariskan sebuah senyuman manis.

“Kamu kenapa marah-marah nggak jelas begini, Dit?” tanya Shin sambil menatapku lamat.

“Habisnya kamu tiba-tiba mau pergi ninggalin aku!” Aku bersungut-sungut.

“Kamu lucu kalau lagi marah gini.” Shin tergelak, membuatku semakin dongkol.

“Malah ketawa! Kamu jahat, Shin!” bentakku.

“Astaga, Dita. Kamu kayak mau ditinggal pergi pacar. Lucu.” Pria kulit kuning langsat itu tertawa lagi.

Mendengar ucapannya seketika aku terdiam. Ternyata memang benar, Shin hanya menganggapku sahabat, tak lebih. Aku saja yang terlalu berharap. Pada akhirnya cinta ini hanya bertepuk sebelah tangan. Harus bisa mengubur dalam, perasaan yang ada dalam jiwa.

Akhirnya, kami memutuskan pulang, karena matahari mulai terlihat bulat dan jingga. Cahaya indahnya menerangi segala penjuru. Sebuah tower besar menjulang tinggi tepat di dekat mentari yang ingin membenamkan diri. Sementara awan tipis masih menghiasi langit, menambah keelokan senja hari.



Dalam perjalanan kami saling terdiam. Aku menikmati senja yang berpendar menghiasi ufuk barat. Sedikit mengobati luka dalam hati.

“Dita, kamu baik-baik aja, kan?” tanya Shin tiba-tiba.

“Iya.” Aku mencoba menjawab dengan tenang, padahal dalam hati bergejolak tak keruan. Ingin sekali menumpahkan segala rasa yang ada, agar jiwa damai. Namun, aku tak bisa. Biarlah cukup kusimpan di nurani, cinta kasih pada Shin.

“Yakin?” tanyanya lagi.

“He’em.” Aku terus memandang punggung pria di hadapan dengan perasaan gundah.

“Kok, tumben diem aja. Biasanya cerewet,” ucap Shin.

“Lagi males ngomong aja,” sahutku singkat sambil menengok ke spion agar bisa tahu bagaimana reaksi Shin. Ternyata wajahnya tampak datar, membuktikan bahwa dia tak benar-benar khawatir padaku. Aku pun hanya bisa menelan ludah, merasakan nyeri dalam dada. Sebab, cinta tak bersambut.

Selang beberapa menit, matahari mulai tenggelam. Tidak lagi terlihat bulat seperti koin, tetapi sudah tinggal setengahnya saja. Lambat laun benar-benar ditelan bumi, hanya meninggalkan semburat kilauan indahnya. Azan magrib pun terdengar berkumandang.

“Pegangan kuat, Dit. Udah magrib ini.” Lalu, Shin mempercepat laju motornya. Sementara aku memegang pinggangnya dengan erat.

Padatnya kendaraan membuatku dihinggapi rasa khawatir. Aku meminta Shin agar berhati-hati, tapi dia tak menggubris. Katanya tak perlu cemas, sebab dia sudah jago balapan. Dasar pria! Selalu begitu jika diingatkan.

Namun, tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi klakson truck. Sebuah truck melaju dengan kencang dari arah berlawanan, membuat Shin tak bisa menghindar. Sampai akhirnya, kami terpelanting jauh dari jalanan dan tak sadarkan diri.

Perlahan aku membuka mata. Silau. Melihat ke sekeliling tampak ruangan berdinding putih dan berbau obat. Kepala terasa nyeri. Di punggung tangan kanan tertancap infus. Mama tertidur di kursi sebelah kasur tempatku berbaring.

“Mama,” rintihku.

“Dita, alhamdulillah, setelah dua hari koma. Akhirnya kamu sadar juga.” Mama Siti Armalah mengusap kepalaku dengan lembut.

Seketika mata terbelalak tak percaya. Aku dua hari tak sadarkan diri? Kemudian, aku teringat Shin. Terakhir kali bersamanya dan kami mengalami kecelakaan.

“Ma ... Shin mana? Dia baik-baik aja, kan?” tanyaku.

Wajah mama seketika meredup, lalu menatapku pilu.

“Ma, jawab.” Aku menatap wajah mama penuh harap.

Mama menggeleng dan mengusap kepalaku dengan lembut. Lalu, mencium keningku. Sikap mama semakin membuat was-was tak keruan.

“Kamu yang sabar dan ikhlas, ya, Dit. Shin ... sudah nggak merasakan sakit lagi.” Mama tersenyum, tetapi semua itu malah membuatku cemas.

“Berarti Shin nggak apa-apa? Tapi, kok, nggak ada di sini, Ma. Apa dia udah pergi ke Jepang?” tanyaku.

Tiba-tiba mata mama berkaca-kaca. Kemudian, memelukku dengan erat. “Shin … nggak bisa diselamatkan, Dit. Lukanya sangat parah dan mengeluarkan banyak darah. Kamu harus kuat,” bisik mama.


Mendengar perkataan mama, tubuh terasa lemas tak berotot, tulang-tulang seperti dilolosi satu per satu. Aku benar-benar tak pernah menyangka sebelumnya, kalau kecelakaan maut akan terjadi. Rasanya seperti mimpi buruk dan masih belum sanggup melepas pria yang sangat berharga dalam hidupku.

“Shin!”

“Shin!”

Jiwa benar-benar terguncang. Hati bagai diluluhlantakkan. Rasanya seperti dihempas dari dataran yang begitu tinggi. Aku menyesal karena tak pernah mengungkapkan rasa cinta yang ada dalam nurani. Andai saja mengatakan dengan jujur sedari dulu, mungkin tak akan sesakit ini. Setidaknya Shin tahu kalau aku begitu mencintai dan menyayanginya. Nasi telah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Hanya doa yang bisa kuberikan, kini. Semoga dia tenang di sana.

💔

Memori enam warsa silam, benar-benar membuatku tersiksa. Mei memang bulan penuh cerita. Baik suka ataupun duka. Napas kuembuskan kasar. Atma gelisah dirundung nestapa.

Lalu, mata mengawasi sekitar. Matahari tampak mulai tenggelam. Suasana senja keemasan menambah gejolak dalam kalbu. Semburat jingga di ufuk barat mengingatkan akan nostalgia hangat bersama Shin di sini. Hati masygul berderik laksana sungai kering mengungkung ikan-ikan penuh dahaga.

Dia … meninggalkanku seorang diri, membiarkan termangu dalam sepi. Menyisakan getaran asmara yang kian menggebu. Rindu yang tak bermuara membuat atma benar-benar tersiksa.

Mei akan selalu terkenang sebagai bulan cerita antara aku dan dia. Tak akan terlupa sampai kapan pun. Begitu pun dengan cinta yang ada dalam hati, tak akan pudar sampai akhir hayat nanti. Meskipun semua akan sia-sia dan membuang waktu, tapi sebagai bentuk nyata kalau Shin cinta sejatiku. 

💔

--selesai--
Diubah oleh Anna471
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 37 balasan
Memuat data ..
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
perahu-tanpa-layar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
mas-ingin-menikah-lagi-dek
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia