alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5a7f796df23128b977404f/sisi-lain-seorang-pelakor
Lapor Hansip
19-08-2019 17:52
Sisi Lain Seorang Pelakor
Past Hot Thread
Sisi Lain Seorang Pelakor

Apa yang menarik dari seorang pria beristri?

Uangnya?

Tidak.

Aku bukan pelacur yang begitu tergiur dengan iming-iming rupiah. Di samping itu, uang yang kudapat dari orang tua sangat lebih dari cukup. Jadi salah apabila ada yang menyangka aku mencari uang dengan menempel pada suami orang.

Mencari mangsa, menjeratnya, kemudian menghancurkan rumah tangga yang mereka bina sebelum kutinggalkan adalah tujuan. Mungkin kalian menganggapku gila. Ya, mungkin. Otakku sudah tidak bisa lagi membedakan mana perbuatan baik dan mana yang buruk.

Menjadi duri dalam mahligai orang lain adalah sebuah kepuasan. Kemudian aku bisa tertawa puas. Sangat puas.

Pekerjaanku menjadi seorang 'wedding organizer' begitu membuka akses bertemu dengan berbagai macam orang. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi korban. Untuk masalah memorakporandakan rumah tangga, aku jagonya.

"Belum pulang?"

Sebuah suara yang sudah sangat kukenal mengagetkanku. Aku menoleh ke arah suara. Fadly, seorang perwakilan dari rekanan penyedia jasa multimedia terlihat tampan dalam balutan kemeja hitamnya.

"Aku belum pulang, sih, masih baru mau cari taksi." Dia bisa dibilang pria spesial karena kemampuan komunikasinya yang beberapa kali berhasil meyelamatkan reputasiku di hadapan klien.

"Naik motor malu nggak?"

"Kenapa malu?"

"Ya kali gitu. Kalau nggak malu, aku antar boleh?" Mata pria itu terlihat menunggu jawab dengan penuh harap. Aku tersenyum, mangsa baru.

Malam itu aku menerima tawarannya sekaligus mulai menebar jaring. Ternyata memang semudah yang kubayangkan. Dia sama dengan korban-korbanku di masa lalu.

Aku berhasil mengorek sampai ke akar.

Jaring dan racun semakin banyak kutebar.

Semakin lama hubungan kami makin intim.

"Mulai besok kamu sering-seringlah nginep di rumahku." Entah mengapa kalimat itu terus mengusik pikiran hingga akhirnya kulontarkan. Aku ingin sering-sering bersamanya. Rasa aneh yang sebenarnya aku bingung mengartikannya.

"Nggak bisa."

"Takut sama istrimu?"

Dia diam, tak berapa lama tangannya mengeluarkan rokok dari dalam saku kemeja, kemudian menyalakannya. Aku menikmati wajahnya yang terlihat serius menikmati asap beracun itu. Wajah tampan yang sepertinya sudah berhasil membuatku tergila-gila.

Hari terus berganti, hingga aku benar-benar sudah tidak ingin ditolak lagi.

Sore itu aku baru saja bersiap-siap untuk 'meeting' dengan klien. Baru saja selesai mandi saat seseorang membuka pintu kamar. Kaget bukan kepalang karena ternyata Fadly yang datang. Wajahnya tampak kusut.

"Aku nginep sini, ya?"

Aku yang masih terbengong karena kehadirannya yang mendadak menjadi semakin kaget mendengar kalimatnya. Aku yang hanya mengenakan kimono mandi mendekatinya kemudian memberi sebuah kecupan di bibir sebagai ucapan selamat datang. Sesi berikutnya tidak usah kuceritakan karena semua pasti tahu akhirnya.

Tiga hari Fadly menginap di rumahku.

Hari itu dia berniat pulang, kusuruh mandi agar badannya segar. Saat itulah ponselnya berdering. Nama seorang perempuan terpampang.

"Halo."

Hening. Beberapa detik berlalu, tetapi tak ada sahutan. Kututup dengan dengkusan.

"Siapa?"

Kuulurkan ponsel ke arahnya. Wajah itu meneliti benda persegi panjang yang baru saja kuberikan. Ada perubahan yang tampak nyata di sana.

Tanpa banyak bicara Fadly mengemasi tas punggung yang dibawanya saat datang. Bibirnya terkatup. Aku tidak suka menyaksikan aksinya. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sedikit posesif. Apa aku jatuh cinta?

Selesai membereskan tas, Fadly langsung pergi. Tidak ada kata-kata manis yang akhir-akhir ini mulai kusukai. Tidak ada juga kecupan di dahi layaknya sepasang kekasih.

Tiba-tiba hidupku terasa hampa. Pikiranku berkelana entah ke mana. Terbayang indahnya sebuah pernikahan yang begitu sering kusaksikan.

Haruskah aku menikah?

Tidak. Aku tidak ingim seperti Mama. Wanita itu menghabiskan waktu sepuluh tahun dengan siksaan batin.

Masih teringat jelas malam itu saat usiaku baru memasuki sepuluh tahun. Papa terlihat mengemasi barang-barangnya setelah berulang kali memukul Mama. Mama hanya menangis tersedu-sedu sambil memegangi kedua pipinya yang basah oleh air mata.

Mama hidup tanpa gairah. Beliau hanya tersenyum saat bersamaku. Tidak ada lagi senandung kecil Mama saat memasak di dapur, menyirami tanaman bunganya, atau memberi ikan-ikannya makan. Dunia Mama berubah warna dalam sekejap. Mama menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan.

Mama kini bekerja di sebuah tempat bimbingan belajar. Kemampuan akademisnya yang lumayan bagus menjadikan Mama mengajar beberapa pelajaran sekaligus untuk tingkat SMA. Hari-hari Mama banyak tercurah ke sana. Aku senang karena pada akhirnya Mama bisa sedikit tersenyum.

Namun, Mama hanya wanita biasa yang punya rasa lelah. Mama jadi sering sakit. Bahkan untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari perlu bantuan. Aku hanya bisa menyemangati Mama dengan kalimat-kalimat hiburan. Aku yang polos hanya bisa menangis saat melihat Mama sering kali tiba-tiba tersedu di kursi rodanya.

Mama lumpuh. Namun, Papa masih tetap memberi kami uang seperti biasa. Dengan uang itu, Mama bisa diberikan perawatan terbaik. Meski pada akhirnya di tahun ke-10 Mama meninggal. Saat itu usiaku yang memasuki usia dewasa mulai terdoktrin bahwa laki-laki adalah kaum yang jahat. Aku tumbuh menjadi sosok penakut sekaligus pendendam.

Aku takut dikhianati, maka dari itu kupilih menghkianati. Aku juga takut milikku dicuri, untuk itu kucuri duluan milik orang lain. Begitulah.

Aku tersadar dari lamunan saat ponselku berdering. Nomor baru yang kemungkinan besar adalah calon klien. Namun, ternyata bukan.

Seorang wanita yang mengaku istri Fadly.

Baru kali ini aku gentar menghadapi wanita yang suaminya kuganggu. Biasanya tidak ada beban saat harus mengatakan hal-hal buruk yang bertujuan merusak rumah tangga mereka. Namun, kali ini perasaanku lain.

Wanita itu sama sekali tidak mengancamku.

Dia dengan sangat tenang justru mengundangku ke rumah mereka. Kepalang tanggung, kusanggupi. Aku akan datang segera.

Semampainya di rumah sempit di pinggir perkampungan yang lumayan ramai, aku dipersikakan masuk. Aku melangkah memasuki ruangan sempit yang terdapat tiga buah sofa kecil. Kulihat Fadly terduduk lemas di salah satu sofa. Aku sadar apa yang akan terjadi.

"Mbak Mona mau minum apa?"

Astaga, dia masih menawariku minum?

Aku hanya menggeleng.

"Langsung saja, apa yang perlu kita bicarakan?"

Senyum datar terbit di bibir wanita berhijab itu. Wajahnya yang bulat dan kusam sama sekali tidak menarik. Pantas Fadly begitu gampang kurayu. Baru saja wanita itu ingin membuka mulut, tiba-tiba saja ada yang datang dengan mengucap salam. Ternyata dua orang anak, mungkin seumuran enam atau tujuh tahun dan satu lagi mungkin sekitar tiga tahun. Keduanya adalah anak-anak yang cantik dengan kerudung dan gamis sederhana melekat pada tubuh-tubuh itu.

"Ma, ngajinya pulang cepat, soalnya ustazah bilang mau takziah." Dua anak kecil itu berbicara sambil menyalami kedua orang tuanya, lalu menghampiriku kemudian melakukan hal yang sama. Perasaanku bergetar tidak menentu.

"Kakak dan Adek main dulu, ya! Mama ada tamu, mau ada urusan penting jadi anak-anak nggak boleh tahu." Kuakui, cara berkomunikasi wanita itu sungguh mengagumkan.

Di saat rumah tangganya di ujung tanduk dan di hadapannya ada si perusak, tetapi dia tetap tenang itu sangat luar biasa. Hatiku ngilu. Wanita seperti ini mengingatkanku akan Mama.

"Saya minta maaf untuk semua yang sudah saya rusak," ucapku tulus saat kedua anak itu sudah berlalu. Air mataku turun begitu deras. Aku malu.

Tanpa kuduga, wanita itu justru memelukku. Erat. Ya Tuhan, cabut saja nyawaku sekarang! Mukaku sudah hilang entah ke mana.

***

Sebulan berlalu sejak drama menangisku di rumah Fadly. Badanku terasa aneh. Aku begitu sering lelah dan pusing.

Aku mencoba untuk banyak istirahat.

Sembuh, lalu kumat lagi.

Tanpa pikir panjang aku menemui dokter.

"Tidak sedang hamil, kan, Bu?" Pertanyaan dokter perempuan itu sontak membuat napasku tercekat. Hamil? Yang benar saja.

"Saya tidak hamil."

Begitulah, aku berkeras hati meyakinkan dokter bahwa aku tidak sedang hamil. Namun, rasa penasaran menggiringku untuk membeli alat tes kehamilan. Sepanjang perjalanan aku sibuk meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak hamil. Sesampainya di rumah, kusimpan alat itu untuk digunakan esok hari. Dalam hati dan otak ini, berbagai pikiran dan prasangka bermunculan. Aku ketakutan. Ketakutan yang baru kali ini kurasakan. Hingga keesokan harinya saat alat itu kugunakan dan hasilnya positif, duniaku terasa runtuh seketika.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Meminta pertanggungjawaban? Atau melepaskan beban dengan sebuah goresan di pergelangan tangan?

Mungkin bagiku mati adalah solusi.


Lanjutan ada di:
lanjutan

lanjutan lagi

menuju akhir

ending

Gambar: https://instagram.com/djdeelishea?ig...=1wamfo69t65bw
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hyunz dan 36 lainnya memberi reputasi
37
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 13
19-08-2019 17:56
Waduh rumit sekalipun hidupnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 17:57
Wow menarik sekali ceritanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamaproduktif dan 3 lainnya memberi reputasi
4
19-08-2019 17:58
duh pelakor yee semoga kagak ada kasus seperti ini lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan 3 lainnya memberi reputasi
4
19-08-2019 17:59
Lanjutan
Beberapa bulan berlalu, perutku semakin besar. Semangat hidupku yang dulu menggebu kini sirna. Gangguan mood akibat perubahan hormon progresteron menyebabkan duniaku benar-benar terasa buruk.

Pekerjaanku menuntut untuk selalu bergerak lincah. Boro-boro bisa, badanku justru menolak segala aktivitas yang menguras tenaga. Konsumsi makanan terutama karbohidatku pun terbatas.

Tidak enak.

Pernah sekali saat sedang meeting dengan keluarga calon pengantin, aku justru mabuk berat. Badan penuh keringat dingin, kepala rasanya mau pecah, dan tidak ketinggalan mual. Hampir saja aku pingsan andai saja mereka tidak tanggap dan menunda pertemuan. Mereka yang tidak mengenalku tentu terlihat bahagia saat mengetahui aku hamil.

Sialnya, lingkunganku tidak bisa menolelir keadaan ini. Gunjingan mulai terdengar dari kanan kiri. Hingga suatu hari hal yang tidak kuduga justru datang. Pria tua yang sangat kuhindari itu datang tanpa diundang.

Di ambang pintu, dia menatapku tajam.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya laki-laki tua itu tanpa basa-basi. Tangannya berkacak pinggang. Raut kecewa dan marah bercampur di wajah perseginya. Alih-alih takut, aku yang sedang tiduran di sofa sambil mendengarkan lagu-lagu barat yang melankolis berusaha bangkit.

"Ada perlu apa?" balasku.

Kami beradu pandang.

"Bajingan mana yang sudah menghamilimu?"

"Apa urusan Anda?"

"Mona!" bentak laki-laki yang bahkan membuatku ingin muntah dengan hanya mendengar namanya. Laki-laki laknat yang sudah menoreh luka begitu dalam di hati Mama. "Bilang Papa!" Sekali lagi dia membentak.

Hatiku yang sejak awal sedang hancur, kini rasanya makin hancur berkeping.

"Saya nggak punya Papa. Saya nggak punya siapa-siapa. Pergi dari rumah saya!"

Laki-laki yang mengaku Papa itu membujukku.

Katanya dia punya jalan keluar. Menggugurkan kandungan atau menikah. Andai kupilih menikah, pilihannya ada dua.

Bajingan yang menghamiliku atau laki-laki--yang entah seperti apa bentuk dan perilakunya--pilihan Papa.

Aku menunduk, merasakan dada ini yang terasa sesak. Jantung hatiku rasanya diremas dengan sangat kuat. Ternyata aku merindukan Papa.

Dia memelukku.

Aku meminta waktu. Aku memang sebenarnya begitu lemah saat sudah berada dalam puncak emosi. Rayuan lelaki itu cukup ampuh meruntuhkan kerasnya tekadku yang tadinya sangat tidak ingin diintervensi.

"Segera kabari," pesannya sebelum melangkah kembali ke luar pintu. "Papa sayang sama kamu." Air mata yang sedari tadi kutahan, kini lolos.

Aku hanya mampu mengangguk.

***

Mencintai suami orang ternyata tidak selalu indah. Ada masanya kuharus menelan pil-pil pahit sebagai WIL atau bahasa kekiniannya 'PELAKOR'. Namun, obsesiku yang begitu besar terhadap penderitaan wanita lain begitu meracuni pikiran. Pada akhirnya, dosa itu kini harus kubayar.

Tentang tawaran Papa, sulit aku memilih.

Mungkinkah aku menikah dengan Fadly?
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
19-08-2019 18:02
Pelakor di mana-mana ya, Mamih😅
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 18:15
Quote:Original Posted By erina79purba
Waduh rumit sekalipun hidupnya


Iya hiks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
19-08-2019 18:18
Quote:Original Posted By delia.adel
Wow menarik sekali ceritanya


Terima kasih kakka

Quote:Original Posted By Richy211
duh pelakor yee semoga kagak ada kasus seperti ini lagi


Aamiin kakka

Quote:Original Posted By rezaagustin
Pelakor di mana-mana ya, Mamih😅


Iya, waspadalah
profile-picture
profile-picture
rezaagustin dan YenieSue0101 memberi reputasi
2
19-08-2019 18:33
Quote:Original Posted By nofivinovie
Terima kasih kakka



Aamiin kakka



Iya, waspadalah


Pejwanin lupa ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 18:34
Quote:Original Posted By delia.adel
Pejwanin lupa ya


Hihi tadi kena stop
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan YenieSue0101 memberi reputasi
2
19-08-2019 18:36
Lanjutan Lagi
Hingga kuputuskan mengambil jalan yang menurutku benar. Fadly harus bertanggung jawab. Kuhubungi wanita yang kemarin sempat memelukku erat. Ini bukan pilihan yang mudah, percayalah.

Dengan keberanian yang sudah kuisi ulang, kaki ini melangkah ke rumah kontrakan sempit itu. Rasa di dalam dada sudah tidak menentu. Ada perasaan bersalah, takut, tetapi juga sedikit berharap belas kasih.

"Mona ada apa?" Begitu kalimat pembuka yang sukses membuat debar-debar di dada makin menjadi. Kugigit bibir bawah kuat-kuat sambil menggosokkan kedua telapak tangan di pangkuan.

"Kak, sebelumnya aku minta maaf--"

"Ngapain lagi kamu?"

Fadly yang baru saja keluar dari ruangan tengah rumah sempitnya nan berdebu itu terlihat tidak menyukai kehadiranku. Hampir saja dia menyeretku keluar andai saja istrinya tidak mencegah. Ternyata keberanian yang tadi kurasa sudah penuh ternyata punah.

Air mataku turun seketika.

"Duduk dan dengarkan, Mas!" Agak ditekan nada yang keluar dari bibir pucat wanita berhijab itu. Kuberanikan diri mengangkat wajah dan menatap mereka bergantian. Keduanya tampak tegang, terutama Fadly.

Melihat ketegangan yang tercipta, aku justru memiliki kekuatan untuk berbicara.

Kuceritakan apa yang terjadi. Tentang anak dalm kandunganku dan tawaran Papa. Juga tentang alasanku kembali ke tempat itu.

Wajah Fadly semakin menegang.

"Lo mau apa sebenarnya?" tanya Fadly dengan nada membentak. Sakit tentu saja, tetapi demi darah daging yang tidak berdosa ini kurela diperlakukan seperti apa pun. Aku hanya ingin seorang ayah untuk buah hati saat nanti dia lahir. "Jangan ganggu rumah tangga kami!" tegas Fadly.

Laki-laki itu sudah benar-benar membangun benteng. Sayangnya sang istri terlihat datar, tidak berekspresi. Hal itu justru membuat keberanian yang sudah kupupuk tadi kembali mati.

"Sekarang maumu gimana?"

"Aku mau Mas Fadly."

***

Sudah seminggu aku menikah dengan Mas Fadly, tentu saja setelah Mba Syifa menggugat cerai ke pengadilan.

Sudah seminggu menikah, tetapi Fadly yang sekarang bukan sosok yang kugilai sebelum ini. Dia tidak ubahnya seorang bajingan yang sibuk meratapi nasib. Tiap detiknya hanya dihabiskan untuk melamun, memandangi foto mantan istri dan anak-anaknya di layar ponsel.

Aku yang menginginkan sebuah perhatian layaknya istri pada umumnya, sedikit kecewa. Ternyata memiliki raga laki-laki yang hatinya untuk wanita lain tidaklah enak. Mendadak ingatanku melayang dan mengingat dosa-dosa yang sudah kutumpuk sedemikian rupa.

Perut gendut ini membuat aku susah bergerak.

"Mas, tolong ambilin aku minum!" Aku meminta tolong pada Fadly yang masih memandangi foto. Akan tetapi pria itu sama sekali tidak menghiraukanku.

"Aku di sini bukan pembantu."

Kalimat itu yang terlontar sebelum Fadly bangun dari duduknya dan bergegas keluar. Melihat itu hatiku gusar. Gigiku gemeretak menahan marah.
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
19-08-2019 18:36
Menuju Akhir
Kalau keadaanku tidak seperti ini, mana mungkin kutundukkan ego. Andai perutku tidak membuncit karena ulah laki-laki itu, tidak akan aku mengemis. Mungkin saat ini aku sedang merasakan apa itu karma.

Ya, dulu aku begitu pongah. Dulu aku jumawa. Sekarang bahkan mengemis pun tak kudapat apa yang kupinta.

Mama, harusnya aku tidak memilih jalan seperti ini. Harusnya aku menjadi wanita tegar sepertimu. Bukan malah menjadi murahan.

Esok harinya, kudapati Mas Fadly yang sedang sibuk dengan ponsel pintarnya. Sepertinya ada hal serius, terlihat dahinya yang mengerut. Ada aroma kopi menguar yang kupastikan berasal dari cangkir di hadapannya.

Badanku rasanya lemah, pinggang sakit, dan sedikit nyeri di perut. Aku masih terbaring di ranjang, ada sedikit harapan Mas Fadly berbaik hati membawakan sarapan. Beberapa menit berlalu, sepertinya harapanku hanya angan.

Pria itu benar-benar larut dalam dunianya.

"Mas, bisa minta tolong buatkan aku sarapan?"

"Aku ada kerjaan."

Ketus.

Ya Tuhan, dia benar-benar bukan Fadly yang dulu kukenal. Dia tidak lebih dari seorang monster. Air mataku menitik.

"Bisa tolong belikan sebentar?"

"Aku nggak ada waktu."

Laki-laki itu bangkit. Disesapnya kopi di cangkir. Aku turun perlahan dari ranjang. "Kamu mau ke mana?" tanyaku lagi. Klai ini aku sudah ada di depannya.

"Aku mau cari uang."

"Mas, kamu butuh uang berapa?"

"Nggak usah mau tahu, ini urusanku!"

Laki-laki itu meletakkan kembali cangkirnya.

Baru saja dia akan melangkah, tanganku menarik kemejanya. Reflek, tangannya mengibas. Tanganku terlepas, kemejanya sedikit berantakan.

"Aku butuh kamu. Kamu butuh uang berapa?" tanyaku lagi. Mas Fadly menahan napas. Wajahnya terlihat begitu keras.

"Aku nggak butuh uangmu! Kamu sudah merusak rumah tanggaku. Kamu membuat anak-anakku kehilangan ayah." Dia berkata kencang sambil menunjuk wajahku. Sakit. Apa dia bilang? Jadi semuanya aku yang salah?
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
19-08-2019 18:37
Akhir
Fadly terlihat bergegas keluar rumah.

Kecewa tentu saja, ternyata sekeras apa pun aku berusaha, Fadly memang tidak tergapai.

Kuelus perut buncit ini, kukatakan pada dia yang di dalam sana, "Nak maafkan ibumu!"

Hanya itu kalimat yang bisa mewakili apa yang sedang kurasakan. Hanya itu yang sanggup kuucapkan. Bibirku yang bergetar menahan isak, terus berusaha sekuat tenaga agar tidak meledak.

Tapi, sekeras apa pun aku berusaha, air mata dan raungan itu akhirnya tidak tertahankan.

Aku meraung, melepaskan semua sakit.

Bermenit-menit kemudian, wajahku sudah basah dan memerah, terlihat dari cermin besar yang menempel di sisi ranjang. Di sana, wajah itu terlihat menyeringai. Dari sana, aku melihat bagian diriku yang lain.

Prang!

Aku melempar ponsel ke wajah di dalam sana. Kena. Aku puas, tertawa. Terbahak hingga terbatuk-batuk. Lalu, kembali terisak.

Perlahan, aku mendekati kaca yang terserak.

Kuambil sebilah kecil, lalu menggoreskannya.

Rasanya memang sakit, perih dan entah apa lagi. Tapi belum seberapa jika dibanding dengan sakit hati yang kurasakan. Nyeri di bekas goresan makin menjadi seiring kucuran darah yang terus keluar.

Tubuhku merosot, lemas.

Selesai.

NB: sekian kisah Mona ane tulis. Ane berencana menuliskan kisah Fadly juga Syifa. Boleh tahu, kalian mau ane tulis yang mana dulu?

Makasih sudah mengikuti kisah ini, semoga ada poin yang bisa kalian ambil.

emoticon-Jempol
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
19-08-2019 19:08
masih pejwan ini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 19:09
Quote:Original Posted By nofivinovie
amankan suhuuu


Udah aman ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 19:11
Pelakor ada banyak, biasanya pake dukun tuh
Kaya mama teman ane ngedukunin laki orang, sampe dibeliin rumah+mobil sama laki orang
Bininya buru2 amanin property yg lainemoticon-Embarrassment
Diubah oleh ushirota
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 19:12
trus gimna lanjutannya? poligami? emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 20:02
Waah, gitu ya ceritanya, lanjut mba
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 20:25
Quote:Original Posted By pabloo
Udah aman ya


Aman suhuemoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan ajang.dee memberi reputasi
2
19-08-2019 20:42
Quote:Original Posted By nofivinovie
Aman suhuemoticon-2 Jempol


Oke deh gan emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
19-08-2019 20:54
lanjutannya gmn gan
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2
Halaman 1 dari 13
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jampe-popotongan-kisah-nyata
Stories from the Heart
teror-hantu-penunggu-tpu
Stories from the Heart
halte
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.