Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
239
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5795ad82d4955fba3b9705/boleh-percaya-boleh-tidak-cerita-kehidupan-nyata
Rosalia menutup diarynya. Sebelumnya menciumnya dengan hangat seakan itu adalah seseorang yang dirindukannya. Yang tak pernah beranjak dari hatinya, Betapa rumitnya cinta.
Lapor Hansip
17-08-2019 12:50

boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA

Past Hot Thread
Biarlah Cintaku Dalam HP

Tuhan....
Sungguh siang dan malam hanya dia yang ku impikan.
Meraja atas diriku.
Bagian tiap tarikan nafasku
Tapi aku tak sanggup, menanggung cinta, yang demikian dasyad kau anugrahkan.

Rindu yang terlalu luas, tak ada ujung dan tepian.
Harapan yang demikian tinggi tanpa puncak dan akhiran.
Tuhan biarlah dia selamanya menjadi mimpiku.
Jika kau jadikan dia nyata tubuhku pun tak sanggup menerima geletar cinta.
Yang seakan mau meledak kan tubuh.
Tuhan biarlah dia menjadi hayalku.
Dan selamanya begitu.


Rosalia menutup buku dearynya. Sebelumnya menciumnya dengan hangat, dan mesra, seakan itu adalah seseorang yang betapa di rindukannya selama ini. Yang tak pernah beranjak dari hatinya, tapi ia sama sekali takut memilikinya. Ah betapa rumitnya cinta. Gadis cantik jelita itu mengusap airmatanya, matanya yang sipit semakin sayu saja.

"Semua sudah beres...?" tanya ibunya. Ibu Rida, orang tua tunggalnya. Karena ayahnya telah menceraikan ibunya ini.

Rosalia telah di ijinkan oleh dokter pulang dari rumah sakit Bandung. Setelah jatuh pingsan di sekolah karena menerima telepon. Cerita ini berawal di hari kamis, karena libur kerja, aku pun tidur habis menjalankan sholat subuh. Tiba-tiba hp ku berdering, ku angkat. Terdengar suara Muhsin.

"lagi tidur mas?"

"iya, ." jawabku malas.

"umroh yuk..."

"ah lagi bokek, gak ada fulus."

"udah berangkat aja, tak usah uang, alias gratis,"

"gratis gimana?, aku bener-bener tak punya uang, ATM nya rusak."

"udah pokoknya berangkat aja, ini dah ku jemput pake taksi, udah mau nyampai barak, baju ihrom juga sudah ku sediakan, jadi sediakan baju ganti aja..."

Aku segera pontang-panting memasukkan baju kedalam tas, perlengkapan ala kadarnya, dan keluar kamar, memang Muhsin telah menunggu dengan taksi.

Muhsin umurnya lebih tua dariku, selisih kurang lebih lima tahun. Dia adalah salah satu murid toriqohku. Toriqoh kodiriyah naksabandiah. Dan dia yang paling rajin menimba ilmu kepadaku. Tapi karena juga lebih lama di Saudi Arabia maka dia yang menjadi pembimbingku, dalam menghadapi atasan, aku di Saudi baru tiga bulan, sementara Muhsin sudah enambelas tahun. Maka pagi itu kami berangkat umroh. Mobil taksi temannya Muhsin. Makkah dan daerahku di tempuh selama 5 sampai 6 jam perjalanan.

Sampai yu lamlam kami mengganti pakaian ihrom. Setelah itu berangkat ke Makkah, di jalan kami terus membaca talbiah sampai Makkah. Di Makkah kami segera menjalankan towaf, kemudian sa'i, dari sofa ke marwa. Setelah sai, mencukur atau memotong rambut. Perutku terasa lapar, Muhsin mengajak makan hamburger, karena tak bawa uang sama sekali, aku hanya menunggu. Kulihat orang berjejalan. Berebutan membeli hamburger arab. Yaitu kubus yang di lipat, kemudian di isi sayur dan daging sapi panggang. Rasanya? Tak ada rasanya.

Seorang ibu menghampiriku, mungkin seorang TKW. Bajunya hitam karena wajahnya tak di tutup, jadi aku tau pasti kalau dia orang Indonesia. Umurnya ku taksir sekitar 35 atau 40.

"nak bisa tolong ibu membeli makanan?!" katanya.

"ibu tak sanggup berjejalan." dia menyodorkan sejumlah uang kepadaku. Aku segera menerimanya.

"ibu tunggu di sini ya?" kataku, kemudian ikut berdesak-desakan. Sekitar lima menit makanan ku dapat. Dan menyerahkan kepada ibu tersebut. Dia mengulurkan satu kepadaku.

"tak usah bu, aku telah di belikan temanku." tolakku.

"anak ini baik sekali, kalau boleh ibu tau siapa nama anak ini?"

"saya ian bu, febrian."

"kalau ibu, panggil saja ibu Rida..."

"nak ian kerjanya di mana?"

"saya di pabrik sement bu, ibu sendiri?"

"yah kalau saya jadi pembantu, anak ini di indon. Asal daerah mana?"

"saya dari jJwa Timur bu. tepatnya daerah Tuban, ibu sendiri dari mana?"

"ibu dari Bandung".

"nak maaf ya..,kalau ibu lancang bertanya?".

"ah tak apa-apa, tanya aja bu, kalau saya bisa jawab, akan saya jawab, tapi jangan yang sulit-sulit ya bu?..."

Supir taksiku yang orang India memberikan hamburger kemudian meninggalkanku yang sedang duduk dengan ibu itu di undag-undakan depot, dia berpesan kalau mencarinya, supaya mencari di dekat babul miftah, aku mengiyakan dan tersenyum melihat dia berkata-kata sambil menggeleng-gelengkan kepala, dasar orang India.

"nak ian ini sudah punya istri?" tanya ibu Rida.

"saya bu?".telunjukku menunjuk hidungku.

"ah belum kepikir kesitu bu, susah jaman sekarang milih istri, salah pilih bisa-bisa rugi seumur-umur, bukannya suami istri harusnya seumur hidup."

"wah nak ian ini dewasa sekali, kalau mau ibu punya anak gadis cantik, kalau mau nak ian jadi menantu saya....".

"wah ibu ini ada-ada saja, kita kan baru kenal, siapa tau saya ini orang jahat, kan kasihan anak ibu nanti,"

"orang jahat dan tidak itu bisa dilihat dari sinar mata dan cahaya di wajah, ibu ini sudah banyak mengenal lelaki, dan sudah sangat memahami, nak ian bukanlah lelaki kebanyakan, dan atas penilaian saya ini, saya tak takut anak saya di sia-siakan, karena aku tau betul dari cahaya yang terpancar di wajah nak ian, nak ian bukanlah orang yang seperti itu."

"wah ibu ini, nanti menyesal lho.., saya jadi kegeeran nih bu.."

Lalu ibu Rida membuka tasnya dan mengeleluarkan sebuah foto,"ini foto anak saya, namanya Rosalia...."

Kulihat foto itu, memang gadis yang teramat cantik dan imut-imut, matanya sipit, bulu mata lentik, hidung mungil mancung, bibir kecil yang ranum. Dagu lancip, ah kecantikan yang sempurna.

"bu seandainya aku mau, anak ibu juga belum tentu mau..."

"ah dia pasti mau, apalagi setelah melihat nak ian yang ganteng, pasti dulu nak ian di indo. Banyak pacarnya ya?, ibu aja kalau masih muda pasti akan naksir sama nak ian.."

"wah ibu ini , makin membuat saya salah tingkah aja."

"bener, ibu aja dari tadi memperhatikan, setiap gadis yang lewat di depan nak ian pasti matanya melirik kagum."

"ah sudah dulu ya bu, saya ke tempat teman dulu, nanti di cari-cari."

Tapi ibu Rida menahanku, dan minta nomer hpku, aku pun memberikan dan dia pun menyerahkan foto Rosalia, dan nomer hp di Indonesia.

Hp ku bunyi, nada dering lagu bumi putra, seribu tahun ku dengar, segera ku terima telpon.

"sudah menelpon Rosa belum nak ian?" terdengar suara Ibu Rida, tiap hari ibu Rida menelponku, setelah sekembaliku dari umroh, kadang menanyakan kesehatanku, sudah makan belum, sudah tidur belum, tidurnya jangan malam-malam, dan tak lupa apa aku sudah menelpon Rosalia. Aku belum pernah mengalami hubungan tanpa saling tau terlebih dahulu. Makanya sudah tiga bulan dia memintaku mengebel si cantik Rosalia, aku tak juga melakukannya.

"belum ini bu..."

"ah gimana sih nak ian ini, nak ian cobalah sekali saja coba di bel."

"iya deh bu, nanti kucoba,"

Siang itu Rosalia, tengah mengendarai supra X pulang dari sekolah, tiba-tiba hp nya bunyi, ia tepikan motor dan berhenti di tepi jalan, yang tak begitu ramai. Lalu dia angkat hpnya.

"Hallo..!,siapa nih?"suaranya kecil manja.

"ini bicara sama Rosalia?"

"bener..! Ini siapa ya..?"

Ah repot juga, mau jawab apa, ah kalau baru tahap perkenalan begini, bisa panjang ceritanya.

"aku ian, teman ibumu, aku di suruh menghubungimu, apa kamu sehat?"

"sehat, mas ini apanya ibu? Dekat sama ibu?"

"aku kenal ibumu kemaren waktu umroh, terus aku di minta ngebel kamu, oo aku jauh sama ibumu, dari tempatku, ke tempat ibumu ya kira-kira seharian perjalanan."

"udah ya, aku mau jalan dulu". Hp di matikan. Ah bikin repot aja nih ibu Rida.

Setelah hari itu aku pun sering mengebel Rosa, setiap ibu Rida menyuruhku mengebel anaknya maka aku pun mengebel, sampai satu hari Rosa marah-marah.

"kamu ini maunya apa sih? Tiap hari ngebel terus, huuh maunya apa?!!"

Aku keki mau jawab apa, ah daripada ini berlarut-larut, sekalian jelas saja.

"aku mau di jodohkan ama kamu oleh ibumu, kamu mau gak?".

"di jodohkan gimana!!" nadanya marah, "di jodohkan mau di jadikan suami istri gitu? Emangnya ini zaman siti nurbaya? Main jodoh-jodohan segala."

"jadi kamu tak mau? Jawab aja yang jelas, jadi aku lega, hanya akan menganggapmu adikku, sebab ibumu, juga telah kuanggap ibuku sendiri ."

"aku gak mau wuek..! Udah jangan ganggu aku lagi....!" hpnya di matikan.

Sejak saat itu aku tak mau menghubungi Rosalia, bukan aku marah atas sikapnya, tapi aku tak mau mengganggu prifaci orang lain.

Walau berulang kali ibu Rida memintaku, tapi aku tetap tak mengebel.

"sudah lah bu, wong Rosa tak mau, mbok ya jangan di paksa."

Setelah itu ibu Rida pun jarang mengebelku. Sampai suatu siang, hari sedang libur jadi aku tidur, hpku bunyi, kuangkat, dan terdengar suara ibu Rida menangis.

"nak ini gimana nak? Ini gimana ibu mau di perkosa, orangnya ada di ruang tengah, aku tadi lari ke dapur...tolong lah nak ini bagaimana..?.!"

"yang mau memperkosa majikan ibu?"

"bukan , tapi orang yang menyerobot masuk. Mungkin tetangga."

"majikan ibu di mana?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kyukyunana dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Halaman 1 dari 12
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 12:52
"semua pergi, tinggal ibu di rumah sendirian, aduh bagaimana ini?" terdengar kecemasan yang tak terkira.
ibu Rida sudah seperti ibuku sendiri. Kalau kehormatanya terancam, aku tak boleh tinggal diam, tapi jarak tempatku ini dengan tempat ibu Rida, seharian perjalanan ah kenapa tak terpikirkan.

Aku segera tiduran lagi, sebelumnya pintu ku kunci. aku segera merapal aji rogo sukmo, segera saja sukmaku lepas dari tubuhku dan melesat teramat cepat, dalam waktu sekitar tiga menit, aku telah sampai di dekat ibu Rida, yang meronta di bawah lelaki Arab besar berkulit hitam sudani. Lelaki itu mencoba membuka celana dalam ibu Rida, sementara, pakaian bawahnya telah tersingkap tak karuan.

Ku tendang dia sekencangnya dari belakang. Tepat di selangkangannya, sehingga tubuhnya terlontar terbalik, melewati atas kepala ibu Rida.

Rupanya dia menyangka perbuatan itu di lakukan ibu Rida, nyatanya dia masih berusaha memegang ibu Rida, sementara tangan kirinya memegangi selangkangannya sendiri yang kesakitan. Kulihat pisau dapur tergantung di rak dapur. Segera saja ku raih. Ibu Rida yang melayang di udara langsung kaget dan pingsan, sementara lelaki arab sudan itu juga heran setengah mati. Tanpa tunggu lama, ku tusukkan pisau ke tangan kanannya, lelaki itu menjerit, memang sengaja tak ku tusukkan di dada atau perutnya, karena bagi ibu Rida nanti urusannya akan repot, kalau dia di tuduh membunuh maka hukumannya tiada lain kecuali penggal. Pisau itu ku cabut lagi, darah muncrat-muncrat dari tubuh sudani.

Melihat pisau yang kupegang melayang-layang, dia melotot dan kabur pontang-panting, sambil teriak setan-setan..! Aku segera membersihkan darah arab sudani yang tercecer di sana-sini, lalu mengangkat ibu Rida ke kamarnya, kemudian menyelimutinya,

Kasihan ibu ini, kucari minyak angin dan ku oleskan sedikit di hidungnya. Perlahan dia siuman. Dan kebingungan. Aku segera pergi. Sebentar kemudian, terdengar Hp ku berdering,

"ian..ibu tak di perkosa, ibu selamat...!"suaranya gembira,

"syukur lah bu..."

"tapi aneh. Kok ibu malah tidur di kamar ya?"

"apa tadi ibu mau di perkosa tadi cuma mimpi?"tanyaku pura-pura tak tau.

"ah pasti tidak, apa tadi ibu nelpon kamu?. Iya kan ini aja datanya di hp ibu masih ada, apa kamu yang menolong ibu?"

"gimana aku menolong ibu. Aku kan jauh..."

"ah tak taulah.."jawab bu Rida sangsi.

"kalau ibu ada apa-apa telpon aku, syukur sekarang ibu selamat.

Sementara itu di Bandung di rumah Rosalia, gadis cantik itu tak bisa tidur, telah beberapa hari ini ia gelisah, ia rindu ,menunggu, Hp nya berdering dan suara halus yang biasanya menyapanya sebelum tidur, mencandanya, yah suara ian itu hadir. Kenapa dia begitu merindukan suara itu, dia ingat satu-satu dari pertama ian menelepon sampai terakhir sudah dua bulan yang lalu dia marah-marahi. Gadis itu membolak-balik tubuhnya. Sudah beberapa hari ini, dia begitu, apakah aku jatuh cinta? Pikirnya, ah tak mungkin, lihat orangnya aja belum, bagaimana dia jatuh cinta, tapi kalau tak jatuh cinta kenapa iyeng-iyengan kayak gini.

Ia meraih hpnya, apakah di miscall ya? Ah tidak ah, aku telah memarahinya. Terjadi perang dalam batin Rosalia, sebentar dia duduk di tepi pembaringan. Lalu berjalan mengitari kamar, berjalan ke toilet, berkaca, dan jam 3 malam baru dia bisa tidur, besok bangun mau pergi kesekolah matanya memerah. Begitu tiap malam, rindunya semakin menumpuk, seperti gunung anakan. Karena tak tahan dia pun menelpon ibunya.

"mas ian kok gak pernah lagi nelpon aku ya?" katanya setelah berbasa-basi menanyakan khabar ibunya.

"lho kata mas ian kamu tak suka di telponin terus...ya mas iannya jelas tak mau ngeganggu."

"o...,jadi ngadu sama ibu?"

"ya nggak ngadu, cuma dia ibu suruh nelpon kamu, tapi dia nggak mau katanya kamu marah-marah."

"ah dasar emang tukang ngadu..." Rosalia sebel dan mematikan hp.

Tapi kalau tak mendengar suaranya, uh pastilah dia cakep sekali, suaranya halus. Sopan, selalu bercanda, walau Rosa tak pernah menanggapi, tapi kalau mikir candaannya jadi ketawa sendiri. Makin hari bertambah makin membuncah rasa rindu di hatinya. Dan sekali lagi dia menelepon ibunya,

"buk, tolong mas ian suruh nelpon..."

"ih kamu kangen, rindu..?"

"ah ibu menggoda aja..udah deh suruh aja nelpon, aku mau minta maaf..."

"ya udah..."

Hp rosa berdering, dia lihat nomer yang muncul di layar, ah benar nomer mas ian. Dia tak segera mengangkat, dia membayangkan disana pasti ian tengah menempelkan hp di pipi, Rosa memeluk hpnya yang berdering, ia membayangkan ian tidur didadanya, ah cinta memang gila. Baru kemudian hp dia angkat.

"hallo, ini Rosa ya....?" Rosa tersenyum, seperti ada air yang dingin menggelontor hatinya yang kerontan, dan air itu amblas saja kedalam hatinya yang retak-retak, karena badai rindu yang selama ini panas menanduskan tanah hati yang di belai angin harapan tanpa jawaban.

"dek lia, kata ibu kamu, kamu minta di telpon? Ada apa?"

"siapa yang minta kamu telpon..!?, ah ibu ini..!."

"oh maaf ya kalau begitu.."

Klik hp ian pun di matikan. aku sebel sekali, seperti di permainkan aja.

Sementara itu ketika sambungan terputus, Rosa seperti orang yang mendaki jurang dengan tali lalu tali itu putus begitu saja. Dia membanting diri keranjangnya, tangannya memukul-mukul bantal dan menangis.

"kenapa aku galak, kenapa aku jutek....,uuu...ah usaha yang ku raih, ku hancurkan sendiri..huu., " bantalnya sampai basah air matanya, ia pun tertidur karena lelah.

Sejak itu, aku tak pernah menelepon Rosa, walau ibu Rida menyuruh dan memintaku.

"sudah lah bu, Rosa tak suka kepadaku, jadi tak usah di paksa, walau dia tak jadi istriku, ibu tetap ku anggap ibuku."

Sudah beberapa hari ibu tak menelponku, aku juga di sibukkan kerja yang menumpuk, tapi ketika sore itu hp ku berdering, mengalun lagu Wali bertitel dik. Hp ku angkat. Dan suara ibu Rida, mengeluh.

"aduh yan...ibu ini kenapa? Semua tubuh gatal-gatal semua..."

"sudah di bawa ke dokter?"

"sudah, tapi kata dokter tak ada penyakit apa-apa, gimana nih yan...?"

"udah gini aja, entar malem ibu sediain air, sebotol aqua sedang, aku coba transfer obat dari sini, nanti kalau bangun tidur, sebagian obatnya di minum, dan sebagian lagi untuk mandi, nanti perkembangannya gimana, khabari aku ya bu."

Pagi-pagi sekali ibu Rida telah menelponku, suaranya gembira.

"Alhamdulillah yan, setelah mandi penyakit ibu hilang, tapi aneh dari kulit sekujur badan keluar tepung... ini bagaimana."

"udah, ibu tenang saja, itu efek dari pengobatan, nanti juga hilang sendiri."

Dan memang setelah beberapa hari ibu Rida mengatakan bahwa tepung yang keluar dari tubuhnya telah hilang. Lama, ada satu bulan ibu Rida tak meneleponku, dan kali ini dia meneleponku saat aku tengah kerja, dia menangis.

"iyan gimana ini, Rosa kecelakaan...huhuu."

"Kecelakaan gimana bu..!?"

"Dia kecelakaan dari motor, huhuu, kepalanya ada gumpalan darah beku mau di operasi..huu. Maafkan Rosa ya. Bila selama ini telah menyakiti hatimu..huu".

Tanpa sadar air mataku pun berlinang.

"sudahlah bu...tak usah di tangisi lagi, berdoa saja semoga dia selamat dalam operasinya."

"tapi dia terus memanggil namamu terus..."

"sudahlah bu, tak usah di tambahi kesedihan ini..." kataku menghibur.

Sebenarnya apakah yang terjadi terhadap Rosalia. Sejak aku tak pernah menelponnya, gadis itu benar-benar kehilangan gairah, dia hilang semangat belajarnya, yang biasanya dia rangking 1 atau 2. Sekarang jeblok...rangking satu dari belakang, tubuhnya tak kuasa menampung luapan rindu, yang anginnya saja bisa mengeringkan bunga yang mekar. Badainya bisa menguras air tuju samudra, suara hembusan nya adalah sepi yang menyayat-nyayat setiap pori-pori hati, mengapa Tuhan menciptakan rindu yang demikian ganasnya. Hanya untuk menandai cinta itu telah meraja.

Rosalia semakin tak punya semangat hidup, linglung, di dera cinta, tapi dia juga takut andai bertemu pujaan hati, rindu dalam dadanya terlalu lama di bendung, andai pujaan hati ada, bendungan itu akan jebol, tak terbayangkan akan apa yang terjadi, mungkin dadanya akan meledak, terlalu ngeri Rosalia membayangkan itu.

Hari itu seperti biasa, gadis yang makin kurus itu, mengendarai motornya dan karena pikirannya entah di mana jadi dia tak melihat tikungan, dan ada mobil angkot dari depan, sadar-sadar monyong mobil telah ada di depannya, dia membanting setir ke kanan dan motornya pun menghantam trotoar. Dia terlempar, walau tak ada luka yang berarti, namun dalam kepalanya ada gumpalan darah yang harus di operasi.

Aku kembali memakai ilmu raga sukma, aku sebenarnya tak mengerti bagaimana proses ilmu ini apa aku ada yang membawa? Atau aku terbang sendiri? Begitu saja sukmaku lepas dari ragaku menuju tempat yang ku tuju, dengan teramat cepat sampai, dan tak salah sasaran. Anehnya aku sadar seratus persen.

Sukmaku melesat di atas laut, sekali waktu ku lewati kapal nelayan, lalu melesat cepat sekali, kota di bawahku seperti gambar filem yang di putar cepat. Tiba-tiba aku telah di dalam kamar di rumah sakit, aku segera turun dari udara, menjejak keramik dingin rumah sakit.

Kulihat Rosalia terbaring, jarum infus tertancap di pergelangan tanganya. Ada seorang perempuan muda duduk di kursi dan kepalanya di letakkan di tepi ranjang Rosalia, tertidur. Juga ada lelaki setengah tua, dan perempuan setengah tua duduk tidur menyender.

Aku tak salah pasti yang tidur di ranjang pastilah Rosalia, walau tubuhnya kurus, dan kepalanya plontos, karena mau di oprasi, tapi kecantikan yang di milikinya masih bercahaya, tiba-tiba dia mengerjapkan matanya, dan terbuka menatapku,

"oh...!" dia kaget.

"apakah kau malaikat yang akan mencabut nyawaku?" tanyanya.

Aku meletakkan jari di mulut, dan aku tak heran dengan prasangkanya, karena memang sukmaku mengeluarkan cahaya lembut putih keperakan. Aku menggeleng.

"lalu kau siapa? Setankah?"

Aku mendekat dan menyentuh jemarinya.

"aku ian, kakakmu...." kataku sehalus mungkin takut mengejutkannya.

"oh...!" hanya terdengar suara itu, dan dia meraih tanganku, di ciuminya, di dekap di dadanya, di peluknya erat-erat sekali, ku biarkan saja, kulihat air matanya berlinangan, dan mulutnya pletat-pletot, serta tubuhnya terguncang-guncang menahan tangis, tanganku di genggamnya erat dan di cium lama sekali. Kubiarkan tangan kananku di genggam dan seakan tak mau di lepaskan. Kugunakan tangan kiriku mengusap kepalanya yang gundul. Dan ku kecup mesra.

"adikku sayang, kakak akan coba mengobatimu." ku salurkan tenaga dari pusarku bergulung-gulung.

Ketapak tangan kiriku, masuk ke kepalanya, mengumpulkan segala penyakit dan ku tarik keluar, sampai beberapa kali,

"kepalanya masih sakit sayang?" dia menggeleng.

"nanti kalau sembuh, belajarnya yang rajin ya?" dia manggut.

"sayang, besok minta di ronsgen ulang sama dokter, sebelum di oprasi ya...!" dia manggut lagi.

Padahal aku ingin sekali mendengar suaranya.

"sudah kamu tidur lagi, kak ian pergi dulu..."

Tiba-tiba ia menarik tanganku kuat-kuat dalam pelukannya.

"kak jangan pergi kak, jangan tinggalkan aku...., aku tak sanggup hidup tanpamu..,"air matanya keluar deras mengucur dari ujung mata, membasahi bantalnya. Terpaksa aku menyalurkan aji sirep, dan membuat dia mengantuk, lalu tertidur. Setelah dia tertidur, akupun melesat pergi.

Pagi itu semua yang menunggui Rosalia heran, karena gadis itu tidur nyenyak sekali, sampai jam delapan pagi belum bangun juga, raut wajahnya berseri tak menunjukkan wajah orang sakit. Bibinya mengguncang tubuhnya perlahan.

"Rosa...rosa, bangun..!" tiba-tiba Rosa gragapan bangun, dan duduk.

"kak ian...kak ian...!" bibinya heran kenapa Rosa bisa bangun, padahal kemaren jangankan bangun, bergerak aja tak mampu, karena terlampau lemah. Lalu dia turun dari ranjang tangkas.

"mana kak ian?, mana?" mencari-cari.

"heh kamu mimpi?" tanya bibinya.

"tidak, semalem kak ian kesini..."

"kesini bagaimana, wong pintu bibi kunci semua. semalem..."

"Ayo dek untuk persiapan operasi, lho kok malah turun dari ranjang to..." kata perawat yang tiba-tiba masuk.

"tidak.! Aku tak mau di operasi..!"

"tak mau di operasi bagaimana to, kamu jangan mberung lho.." kata bibinya melotot.

"aku mau di operasi tapi di ronsgen lagi...."

Karena Rosalia ngotot, terpaksa di lakukan ronsgen ulang, dan dokter yang melihat hasil foto heran sekali, karena gumpalan darah di kepala Rosa telah tak ada, bahkan ketika di lakukan pemeriksaan ulang, malah tubuh Rosa di nyatakan sehat seratus persen, dokter yang menyatakan itu sampai tergetar mengucapkannya, karena seperti tak percaya dengan yang terjadi. Hari itu juga Rosa di perbolehkan pulang.

"Rosa sebenarnya apa yang terjadi semalam? Apa nak ian benar-benar datang dan kamu di obati." Rosa hanya tersenyum sumringah.

Kini Rosa hanya menunggu rambut yang terlanjur di gundul itu tumbuh lagi, untung dari dulu dia gadis berjilbab, jadi dia tak perlu malu dengan teman-teman sekolahnya.

"iyan...! Rosa sudah sembuh,"

"benarkah bu?"

"iya, tak jadi di operasi..."

"syukur kalau begitu bu."

Aku bahagia mendengar perempuan yang ku anggap seperti ibuku sendiri bahagia.

Tiga bulan telah berlalu, bu Rida telah pulang ke Indonesia, masih sering menghubungiku. Kemaren dia mengebelku sebentar, memintaku untuk mengebel balik, tapi kujawab hpku tak ada isinya, karena memang tak pernah ku isi pulsa. Sebab kugunakan internetan gratiz.

"nanti bu, aku beli pulsa dulu." sampai besoknya aku lupa tak beli pulsa. Baru tadi aku pergi kerja sambil ke mini market, beli pulsa. Ku bell ibu Rida, sunyi, hp di angkat, pertama ku dengar suara manja Rosa.

"mau nyari ibu ya?, maaf hp ibu ku bawa, dan hpku di bawa ibu, jadi tukeran...ini siapa?"

"aku febrian..."

"aaaakkh....!" kudengar jeritnya, melengking....dan di dalam hp yang masih terhubung ku dengar ramai para murid sekolah..

"rosa pingsan...rosa pingsan..." hp ku matikan. Air mataku mengalir, ah begitu beratkah kau terima aku disisimu?
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
1 0
1
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 12:55

Fitri...itu, bukanlah fitri

[B][Fitri...itu, bukanlah fitri/B]

Bus Indonesia yang ku tumpangi, memang bukanlah bus yang baru, mungkin boleh di bilang bus rongsokan, bukan maksud memuja, ketika keluar dari terminal Terboyo, yang jalannya sudah ancur-ancuran karena terkikis air laut yang naik ke darat, suara bus itu bergombrengan ramai sekali, kaca-kacanya seperti mau lepas saja, seakan sudah tak tahan nongkrong di tempatnya, kami sebagai penumpang terbanting-banting mencari pegangan, mengikuti bus yang berjalan mengejar setoran. Cuma karena rasa khawatir pikiran sang sopir jangan-jangan di depan ada penumpang yang di serobot bus lain duluan, sehingga bus pun ngebut tak karuan, kalau ada bus di depannya, pasti mati-matian saling mendahului.

Ah sepertiku jadi penumpang memang mau apa? Cuma bus ini yang ku harapkan sampai ke Tuban. Biarpun gedombrangan kayak gini juga, tak apalah, asal sampai rumah sesuai waktunya.

Sampai di terminal Demak Bus tak berhenti, karena tak ada penumpang yang naik, sampai di kracaan dan gajah Bus berhenti karena ada penumpang yang naik dan turun.

Bus berjalan lagi, suaranya menggerung-gerung, seperti sedang menarik tlailer yang sedang mogok dan teramat berat, padahal isi penumpang tak penuh, dari tadi aku saja duduk sendirian, dan banyak kursi lain yang kosong. Ah lebih baik tidur saja, kulihat jam juga rongsokan, menggelantung di atas supir, menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit, mungkin sampai di Tuban jam empat atau lima sore,

Aku pun menggelosorkan kepala ke kaca, walau terasa kaca berisik sekali, akupun akirnya tertidur juga. Sampai ada rasa hangat dan lembut menempel pahaku, dan kurasakan kehadiran orang lain di kursi bus yang kududuki,

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, dan ku lihat pakaian putih-putih di sampingku, aku pun membetulkan dudukku agar memberi penumpang tempat duduk yang nyaman.

Ku tengok kesamping, uh cantik sekali gadis ini?, wajahnya yang putih, makin putih saja karena baju yang di kenakan serba putih, dan dia tersenyum kepadaku, wadoh mak senyumnya itu, di bilang manis terlalu manis, giginya gingsul, eh jangan-jangan senyum itu tak untukku?, aku menengok ke sampingku tak ada orang hanya kaca, apa dia tersenyum pada kaca? Ah rasanya tak mungkin. Ah biar di bilang GR juga tak apalah, aku beranggapan senyumnya pasti di tujukan padaku.

"dari mana, mau kemana mbak?" tanyaku.

"dari Kudus mau ke Pati." jawabnya singkat.

"kok pakaiannya putih-putih?, kerja apa masih sekolah?" aku tak mau kehabisan pertanyaan, nyari aja yang simpel-simpel, agar tak kaku .jangan nyari yang berat-berat, seperti perhitungan geometrik. Atau pertanyaan kuis million yang di bawakan Tantomi yahya. Aku tersenyum sendiri.

"kenapa senyum-senyum?" tanya gadis itu. Jelas aku kaget, kirain senyum ini di hatiku doang, ternyata sampai juga di mulutku.

"ah tak apa-apa, kok pertanyaaku tadi belum di jawab?" mengalihkan kecurigaannya atas senyumku.

"aku kerja magang di rumah sakit Pati." jawabannya tak membuatku mengerti, dan tak ingin mengerti, sebab aku bertanya, yah biar tak kelihatan seperti berseteru.

"jadi udah bekerja ya?"

"belum mas, tapi praktek lapangan."

Wah tadi katanya di rumah sakit, kenapa belum beberapa menit sudah pindah ke lapangan. Ah tak mudeng. Lah. Tapi karena maksud bertanyaku tak untuk paham jawabannya, maka aku pun tak kehabisan bahan pembicaraan. Sehingga kami akrab, sampai ketika bus sampai di pati.

"ah kita sudah ngobrol lama, tapi kok belum kenalan?" ku ulurkan tanganku. Dan dia pun menjabat tanganku.

"Fitri...." katanya menyebut namanya.

"adi.." kataku ngawur. Tentu itu bukan namaku, asal jeprot aja, dari pada sudah ngajak kenalan tapi tak menyebut nama, aku sebut aja sekenanya, yang mudah aja, kulihat dia juga tak perduli.

"boleh nanti maen ke rumah?" tanyaku.

"nanti datang saja ke rumah sakit Pati, cari namaku." jelasnya.

Dia pun turun di Pati. Melambaikan tangan ke arahku, ketika bus jalan lagi. Aku kembali menata badan yang enak dan tidur lelap sampai terminal Tuban.

Aneh di rumah aku selalu ingat Fitri, padahal kalau aku mau gadis tinggal comot aja. Dan walau sering gonta-ganti pacar, aku rasanya belum pernah mengalami cinta, sampai mabuk kepayang, tiap hari ingat yang di sayang. Pacaran, ya pacaran aja tak ada terus selalu ingin ketemu, seperti dalam cerita novel roman. Pernah aku berpikir, yang namanya cinta itu, sebenarnya tak ada, itu hanya bumbu penyedap tukang novel aja, mengungkapkan kalau cinta itu berbunga-bunga. Buktinya aku tak pernah jatuh cinta.

Tapi ini kenapa aku jadi ingat gadis itu terus, wah bisa berabe kalau begini. Apa mungkin aku ini kena pelet. Tak taulah, dari pada bingung begini, kuputuskan untuk pergi saja ke Pati dan mencari Fitri di rumah sakit Pati. Perduli setan, dari pada liyung-liyungan kayak gini. Kini aku pun telah di terminal Pati. Ku panggil tukang becak untuk mengantarku ke rumah sakit Pati.

"ada keluarganya yang sakit ya mas?" tanya tukang becak, sambil enggos-enggosan menggenjot becaknya.

"he-eh..!" jawabku singkat karena tak mau banyak cakap. Tapi di hatiku ngedumel. Keluarga sakit gimana., wong aku ini yang ngap-ngapan ingat terus sama Fitri, mungkin aku ini yang pantasnya di kasihani, karena sakit yang tak mudah di deteksi. Apa sakit ingatan atau apa ini namanya. Karena ingat terus, jadi sakit ingatan.

Sekarang Rumah sakit di depan mata, aku makin tak sabar saja, kubayar becak, dan aku pun mulai beranjak. Langsung aja aku tanya dokter jaga, yang di kanan pintu masuk.

"ada keperluan apa mas, bisa kami bantu?" ah suaranya ramah, seperti pelayan toko bertanya pada pelanggan.

"itu mbak, saya ingin bertemu perawat yang bernama fitri," tanyaku ke pokok masalah, tanpa berbelit-belit.
Kulihat dia membuka-buka daftar buku,

"wah tak ada tuh mas." katanya.

Lalu datang perawat satu lagi, kemudian keduanya bercakap berbisik, sambil menunjuk-nunjuk aku, kemudian menghampiriku.

"coba mas cari di bagian rongen." katanya sambil menunjukkan arah yang harus ku tuju.

Dengan semangat, aku melangkah pasti, sampai di ruang ronsgen, aku bertanya lagi pada seorang dokter.

"mas ini apanya?" katanya menyelidik.

Ah apa susahnya menunjukan, berbelit-belit amat, "aku temannya." jawabku.

"teman gimana maksudnya mas?" tanyanya lagi makin membuatku tak sabaran.

"teman sekolah..!" jawabku ngawur. Dokter itu tertawa sambil memegangi perutnya, ah sial amat, apa ini rumah sakit gila. Nampak seorang perawat menghampiri.

"ada apa dokter, kok ketawanya sampai begitu?" tanya perawat itu. Lalu dokter itu membisiki perawat itu, dan perawat itu pun tertawa, sampai berpegangan pintu, aku bengong saja, wah kalau ini rumah sakit gila, bisa tambah rumit nih urusan.

"benar mas ini teman sekelasnya?" tanya perawat itu, dan dia tertawa lagi, sampai jongkok. Mungkin juga terkencing-kencing.

"sudah-sudah, sana panggilkan." kata dokter itu pada perawat, yang segera beranjak pergi.
"tunggu sebentar ya mas." kata dokter itu masih menahan tawanya.

Lima menit kemudian, perawat yang di suruh memanggil datang, bersama seorang perawat yang teramat tua sekali.

"ini mas Bik fitri...apa betul yang ini teman sekolahnya..?"

"ah ya enggak lah mbak, dia tuh masih kuliah," kataku ngotot.

"tapi selama ini yang bernama fitri ya cuma bik fitri ini." perawat itu ngotot juga.

"ya sudahlah kalau begitu, saya salah orang." kataku mendongkol. Dan segera berlalu. Ah sial amat aku hari ini, siapa sesungguhnya yang mengerjaiku? Fitri...!?

End.
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
1 0
1
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 12:57

Sang Pujangga Cinta

Sang Pujangga Cinta

Hari masih pagi, Ivanka berdiri tegak di halte, baru kali ini dia mau naik angkot, matanya celingukan setiap ada angkot berhenti, dan nomer yang tertera di kaca depan angkot tak sesui dengan nomer yang di tujunya, yaitu nomer empat belas. Ah ini gara-gara papanya yang sok memasyarakat. Harusnya dia pake mobil pribadi, sekolahnya juga ke sekolah favourite nomer satu, bukannya malah di suruh sekolah SMA swasta, yah SMA MANGGALA, kata ayahnya sekolah itu banyak menelurkan orang-orang jempolan, bih juempolan apaan? Juempol kuda, Ivanka merutuk tak sadar kakinya di tendangkan ke tanah, seperti biasa kalau gadis ini marah.


Ah sekarang harus naik angkot lagi, kata ayahnya ini hanya untuk mensejajarkan tingkat ekonomi, kamu nanti kalau naik mobil mewah, yang mau berteman denganmu nanti cuma yang memandang mobilmu, dan akan terjadi kontradiksi, antara dirimu dan yang tak punya, memang kalau di pikir kata papanya ada benarnya. Tapi kalau di rasa nunggu angkot kayak gini, apa dia mampu bertahan. Sialan...sialan..!

"mau ke SMA Manggala ya?" terdengar suara lelaki di sampingnya, Ivanka memandang, sebentar ia terlongo, buih ck..ck., cakep bener pemuda ini, wajahnya yang bersih menyiratkan kedewasaan tiada tara, matanya begitu sayu bak bening telaga, alisnya tebal rapi, hidungnya mancung, bibirnya ah kenapa mirip bibir perempuan? Tapi, ah bener-bener, rambutnya panjang sepunggung terikat rapi, ah pasti ini anak kuliahan.
Ivanka manggut.

"bareng saya aja..., saya juga mau ke sana,"

Ivanka diam, tapi setelah pemuda itu naik angkot 08, dia bertanya juga.

"lho kok naik angkot ini?" tanya Ivanka heran.

"o...maunya naik angkok nomer 14? Wah ditunggu sampai tiga tahun juga tak akan ada, sekarang di bikin dua jalur, biasa bagi-bagi rejeki antar angkot." pemuda itu tertawa. Uh tawanya dan giginya rapi sekali berbaris seperti pasukan pengibar bendera.

Ivanka benar-benar kesengsem dengan pemuda ini, sampai dia lupa, kalau dirinya sendiri teramat cantik kalau harus naik angkot, dan orang siapa saja pasti heran. Tapi Ivanka sudah mabuk pada tegukan pertama, maka ketika duduk di dalam angkot dia tak mau jauh dengan pemuda yang ada di sampingnya, begitu juga saat pindah ke angkot no 14.

Ivanka ingin sekali selalu ada di samping pemuda di sampingnya ini, ah betapa indahnya dunia. Tanpa sadar.

"boleh kenalan?" Ivanka mengulurkan tangannya, uih tak lucu kalau perempuan ngajak kenalan duluan, tapi tangan sudah terulur. Dah duh mati maaak, tangannya begitu halus dan kokoh hangat ketika menggenggam tangannya seperti melambung ke langit ketuju, tangan pemuda itu begitu lembut halus, hangat, walau tangan Ivanka tiap hari di rendam dengan cairan vaselin masih kalah dengan tangan pemuda ini, dia terpejam seperti di lambungkan ke istana dewa-dewi.

"Rangga.." suara itu mengagetkan hayalannya.

"iva...iva...ivanka." jawabnya gugup, ah kenapa sampai mau lupa nama sendiri.

Tiba-tiba pemuda itu menyuruh angkot berhenti, "aku turun sini ya, pak sopir nanti gadis ini turunkan di SMA Manggala..!" kata pemuda itu sambil menarik lembut tangannya yang masih di genggam Ivanka.

"tapi...." hanya itu yang terucap dari bibir mungil Ivanka, karena Rangga telah berlari menyeberang. Ah seperti ada yang hilang dari bagian hati dan jiwa Ivanka, terbawa pergi, dia akan merana...

Dalam kelas hanya terjadi perkenalan antar siswa, ah tak bermutu, tanpa kenalan juga nanti akan kenal, ih di pikiran Ivanka hanya cowok idamannya dalam angkot, baru sekarang terasa, oh papanya ternyata bijaksana sekali.

Saat istirahat anak-anak perempuan semua membicarakan SANG PUJANGGA CINTA. yang di bilang sempurna, hebat, syair-syairnya yang meluluh lantakkan hati.

"uh aku mau, tak tidur sebulan, di sampingnya mendengar dia membaca syair." kata Rika, yang rambutnya selalu di kuncir.

"eh jangan di kira, aku sekolah disini ini biar selalu dekat dengannya." kata Dina yang potongan rambutnya seperti putri Diana. almarhumah.

"ah kalau aku tak di bacakan syair, setahun dia tidur di pangkuanku. Aku akan kuat menahan semuten." kata Indri.

Juga semua murid perempuan ini membicarakan SPC ini besok akan menerima penghargaan tertinggi di sekolah karena telah menyabet penghargaan parade seni dan sastra di Perancis.

Semua cewek sekolah ini membicarakan tak di kantin, di ruang kelas. Di tempat nongkrong, hanya Ivanka yang tak ambil pusing, ah apa hebatnya, SPC, masih kalah dengan Rangga cowok idamannya.

Besoknya lebih pagi dari kemaren Ivanka sudah berangkat ke sekolah, papanya dan mamanya heran, ketika nanya tak digubris, Ivanka sudah semalaman tak bisa tidur, memikirkan Rangga, sekarang, pagi ini dia harus bertemu dengan Cowok idamannya itu. Kalau perlu menyatakan cinta langsung tanpa malu-malu. Ah kalau malu keburu di serobot orang nanti tak kebagian. Makanya Ivanka semangat sekali. Papa mamanya ketika menegurnya menyuruh sarapan dulu tak di perduli lagi, dia cepat-cepat berlari, sampai bang Ujang yang mencuci sedan mercedez nya hampir dia tabrak.

Sampai di halte tentu belum ada angkot. Ivanka duduk di kursi besi halte pantatnya terasa dingin. Dia memandang ke tempat di mana kemaren Rangga berdiri menyapanya. Ada kerinduan terselip menggumpal di hatinya, harapan andai saja Rangga itu berdiri di situ. Di pagi yang sepi ini, dia akan langsung berlari memeluknya, ah perduli amat, akan ku peluk erat-erat. Dan tak mau terpisah darinya.

Tapi sampai hari beranjak siang, Cowok pujaanya itu tak menunjukkan batang hidungnya, Ivanka manyun. Kalau tak ada orang riwa-riwi, rasanya dari tadi ia menangis, tapi ini tempat ramai, ah lelaki tak menepati janji, lho bukannya Rangga tak pernah janji kepadanya. Ah gimana sih, dengan wajah mbesengut dan setelah membanting kaki ke tanah Ivanka pun naik angkot yang kebetulan sama dengan yang dinaiki kemaren.

Sampai di sekolah, anak-anak telah berbaris untuk upacara, Ivanka segera menaruh tasnya di kelas, dan memasuki barisan. Hari ini adalah upacara penyerahan piagam penghargaan kepada SPC yang di puji-puji semua cewek di SMA Manggala. Ah peduli amat, tanpa sadar pandangan mata Ivanka menyapu ke barisan cowok di kelas 2. Ah..!sungguh tak di sangka, bukankah itu Rangga ? Tak salah lagi, rupanya dia juga murid sekolah ini, Ivanka tak salah mengenali, walau dari belakang. Bukankah rambutnya yang panjang terikat. Pasti tak salah lagi, hati Ivanka seketika berbunga-bunga, tubuhnya serasa melayang tak menginjak bumi. Di dadanya telah penuh sesak rintihan rindu. Yang minta di tumpahkan dalam nyata. Sampai dia tak mengikuti jalannya upacara. Terlalu sibuk menata hatinya sendiri.

Sampai masa penyerahan piagam kehormatan dan penghargaan kepada SPC.

"Penyerahan penghargaan Kepada murid tauladan tahun ini, yang telah membawa nama harum bangsa Indonesia akan di serahkan oleh Bapak Kepala Sekolah, saudara Turangga harap maju ke depan." terdengar pembawa acara membacakan.

Terdengar lamat-lamat di telinga Ivanka, padahal suara itu menggunakan pengeras suara. Memang cinta telah menulikannya. Pandangannya masih terarah pada Rangga.

Tapi ketika pemuda itu maju ke depan, di iringi jerit cewek-cewek yang ribut. dan pemuda itu menerima penghargaan, dan tersenyum ke arah semua murid dan mengangkat piala di tangan kirinya. Ah Ivanka serasa gelap matanya, dia ternyata seperti yang lain telah tertikam pedang cinta SANG PUJANGGA CINTA. Walau belum mendengar syair-syairnya. Ah..! Betapa dasyatnya cinta. Ivanka terkulai pingsan.
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 12:59

Menurutku Cinta Itu

================

Menurutku cinta itu memberi tapi tak mengharap balasan, kalau mengharap balasan namanya dagang, mengasihi, tapi tak menguasai, kalau menguasai berarti memperbudak, menjaga tapi tak ingin memiliki, kalau ingin memiliki, berarti di anggap barang, mengusahakan kebahagiannya tapi tak memaksanya, kalau memaksa berarti pemerkosaan, cinta itu luas, jadikan samudra jadi daratan, jadikan gunung jadi dataran,

================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:00
====================

Cinta itu hidup sejak zaman hawa, dan adam di satukan, selama itu dia tak pernah jadi benalu, karena dia ada bukti kedewasaan manusia, dia jadi benang merah bukti kalau setiap manusia itu di ciptakan bukan sendirian saja, sejelek apa pun manusia, dia ada jodohnya, seculun apapun manusia berarti punya hati tempat ladang cinta di tumbuhkan sampai Cumiarkan bunga rindu, dan daun kata-kata itu bermakna,

===============
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:01
====================

jangan seperti pujangga yang terperangkap oleh bekunya aksara, jangan seperti pedagng yang mengejar angka-angka, jangan seperti petani yang terkungkung, melulu padi, atau nelayan, yang tenggelam dalam perahunya, dunia ini beda karena ada yang sama, dunia ini gelap karena ada cahaya, air layaknya air, jangan pura pura jadi tanah, karena cuma ingin di tanami, jika kita manfaatkan yang kita miliki, sesungguhnya banyak yang dapat di perbuat sesuai takaran yang mudah untuk menjalankannya.

===================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:02
===================

merdekakanlah merdeka, merdekanya pikiran, untuk menyatakan pendapat, merdekanya hati untuk tulus menyayangi, merdeka untuk berbuat kebaikan, merdekanya gerak untuk, untuk karya kita di hargai, merdekanya kaki untuk melangkah tanpa takut bahaya, karena bahaya telah tak ada, merdekanya manusia, untuk menjalani hidup dari kecil, remaja, kemudian dewasa, tanpa di tekan, tanpa di perbudak, tanpa di hantui rasa takut,

===================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:04
==================

banyak orang yang belum mati tapi telah lama di kuburkan, dan banyak orang yang sudah mati tapi namanya masih hidup sepanjang jaman, nama-nama mereka selalu di sebut di setiap perhelatan, mengharumkan udara, dan memaniskan kata, kita ini termasuk yang mana? atau ingin jadi yang mana?

==================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:05
===================

cinta suci tak pernah mati, karena ia abadi, tak pernah patah hati, karena tak ada keinginan memiliki dan menguasai, tak pernah cemburu, itu adalah nafsu memakskan bersatu, tak pernah rindu, karena yakin cinta pasti bersatu, andai tak di dunia ini, maka di alam lain nanti, cinta suci hanya milik mereka yang dewasa, dan tau apa sesungguhnya cinta, tak cuma kenikmatan semu saja.

===================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:06
===================

ada orang yang mencumbui langit karena bintangnya, ada yang menyetubuhi gunung karena bebatuannya, dan banyak lagi yang tenggelam di laut karena keserakahannya, sementara orang bijak memikirkan alam karena bukti keberadaan Tuhannya

===================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:12
=====================

bicaralah yang benar, sebelum semua mulut hanya bisa berdusta, karena dusta jadi idola setiap kata, menulislah yang bermakna, sebelum tangan di kejar pekerjaan mengejar limpahan harta benda, dan hati di sibukkan oleh mimpi tentang bagaimana cara mudahnya menjadi raja, semakin pikiran kita gali, sebenarnya akan jadikan kita makin dewasa.......

=======================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:13
===========

kita dengan orang yang BISA itu sama-sama menghirup udara yang sama, sama-sama punya kelengkapan anggouta tubuh yang sama, tapi kenapa kita tidak bisa? karena kita tak pernah menempuh jalan menuju untuk BISA. maka kita berdiri selamanya di tempat yang sama, walau lipatan taun umur di berikan, kita tak kan beranjak, kalau tak pernah mau untuk beranjak, mulailah berbuat, bergerak, berkarya, karena sebenarnya kita bisa.

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:14
===================

apalagi tenggelam dalam menyesali diri, mendewakan kelemahan, memuja keterpurukan, dan memenyani kelemahan, wah.... seperti manusia yang menggali dan menguburkan namanya sendiri, kenapa harus mati? kalau kita masih bisa untuk berbuat yang lebih berharga, bukan untuk mencari nama, tapi untuk sebagai bukti, bahwa kita itu pernah ada, pernah hidup, dan pernah di sebut sebagai manusia yang berguna.

====================
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:18
===========

jika mengkalkulasi waktu, kita ini termasuk orang yang beruntung, ataukah yang merugi? kebaikankah yang selama ini kita perbuat, atau kebaikan yang berselubung, maksud tersembunyi, keuntungan pribadi, atau sungguh-sungguh kejahatan, kejahatan tanpa alasan, kemunafikan, kebejatan maksud tujuan perbuatan,, akibat buruk, keterasingan diri dari kepercayaan pada diri sendiri, pelarian dari kejenuhan, dan keisengan yang berujung.

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:19
===========

setiap orang lebih suka menghitung keuntungan, tapi malas menilai kerugian dari perbuatan diri, efek apa yang di timbulkan, berapa hati yang tersakiti, berapa perasaan harus tersayat, karena perbuatan kita......? selalu yang kita nilai, AKU TAK TERIMA TELAH DI SAKITI

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:21
==========

aku jatuh cinta pada malam, ketika pagi tak lagi menggiurkan, aku jatuh dalam dekapan sepi, ketika semua teman menjenuhkan, tapi aku tak mau jadi pendendam, ketika kekasih teramat mengecewakan, karena aku tau pasti, dasyatnya keikhlasan hati, bisa membuat kesengsaraan perlahan melata pergi.

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:22
==========

setiap hari mencumbui sepi, ternyata banyak hikmah yang tak bisa ku temukan saat aku bersama yang lain, mungkin itu ilham yang di berikan padaku sendiri, saat aku berbisik dengan kekasih robbku..., aku tak ingin di lihatnya mengeluh, sehingga aku terlihat seakan aku ini adalah untuk di ciptakan menjadi orang yang tersia, aku akan berdoa, karena kekasihku ingin aku berdoa,

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:23
==========

FAIDZA MARIDTU FAHUA YASFIN, apabila aku sakit maka Alloh lah yang memberi kesembuhan, mari bergabung ke dalam persaudaraan, kesembuhan dengan do'a, dan penyelesaian masalah dengan banyak berdoa, akan di tuntun sampai bisa, agar do'a kita di kabulkan, dan diri semakin dekat dengannya, dari tuntunan nabi, dan warisan para auliya' untuk belajar menjadi penyembuh bagi diri sendiri, dan bermanfaat bagi kesembuhannya

==========
0 0
0
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:24
==========

aku ingin jadi orang yang menyukai sepi, bukan karena benci pada keramaian, aku ingin jadi orang yang memanfaatkan waktu, bukan karena menginginkan peluang. dan aku ingin jadi orang yang bergerak, berguna, bukan karena muak pada diam, lalu apa yang kamu pikirkan?

==========
profile-picture
dwiaribachtiar memberi reputasi
0 1
-1
boleh (PERCAYA) boleh (TIDAK) Cerita Kehidupan NYATA
17-08-2019 13:29
==========

biarkan masa lalu melangus di jiwa, biar jadi debu, jangan di bentuk menjadi arca, lalu di puja, bahwa itu perwujudan Tuhan adanya, jangan ternaifkan diri, mengikuti cara hidup para penghuni neraka, ambil cahaya, jalani yang nyata kau lihat di kehidupan ini, agar ketersesatan tak makin jauh dari arah yang pasti. luka tak harus ternabikan, hingga mengikuti...., semua bisikan setan, untuk hancukan diri

==========
0 0
0
Halaman 1 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
Stories from the Heart
3-gadis-di-seberang-pantai
Stories from the Heart
pertarungan-melawan-tulisan
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia