alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.2 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5409b6b8408837123f0bf2/the-way-you-are
Lapor Hansip
14-08-2019 20:16
The Way You Are
Past Hot Thread
Quote:
Real life itu boring, iya ga sih? Gue ga tau gimana orang bisa menceritakan RL story bisa sampai beratus-ratus part emoticon-Ngakak (S). Mau ditambah bumbu rempah dari India, Spanyol, Meksiko, Italia, Prancis, tetep aja susah buat ga boring. Atau mungkin real life gue aja yang boring ya emoticon-Hammer (S)

Trit ini tidak akan panjang. Ini hanya jeda sambil menunggu Senpai gue luang buat nulis lagi, ngelanjutin yang BTB. Trit ini seperti DNS yang sempat gue hapus dulu, ceritanya tentang friendship, bukan tentang temen-temen DNS, tapi tentang gue, Max dan Hans.

Bentar lagi ulang tahun Maxwell/Max, gue ingin mengenang apa yang pernah kami lewati sekalian biar gue punya ide mau ngasih hadiah apa taun ini emoticon-Big Grin

Untuk yang ga sabar lanjutannya BTB, sabar ya hehehe



Entah apa yang akan gue tawarkan dari cerita ini.

Friendship? Maybe.

Atau baca aja tidak usah berharap apa-apa. Siapin tissu ya, buat apa aja emoticon-Leh Uga

Bahasanya sebenernya sih Inggris, tapi akan gue translate. kalo banyak cursingnya jangan kaget ya emoticon-Ngakak (S)

We were Australian and now we are British, what you fookin' hope, oi Mate? We used to cock up in everythin, nothin' new eh! Don't be a cunt to spoil around! I am wearing heels bigger than your cock, Muppets! Read or sod off!


Semoga kalian berkesempatan hidup di UK agar tau sensasi misuh yang lebih dari Suroboyoan atau Batak! emoticon-Ngakak (S)

Enjoy Guys! Cheers!

-Dee-





Friendship is not always about finishing each other's sentences or remind you to the lyrics you forget. Many times, friendship is about how fluent are both of you in speaking silence.

-- Maxwell.




Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sunshine2rain dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 7
14-08-2019 20:36
Two Boys, One Girl
Cerita ini gue awali di sofa, tiga orang; dua pria satu wanita; di dalam sebuah country house dua kamar di kawasan Newcraighall, Edinburgh, UK, kira-kira setahun yang lalu. Anjir! Terdengar kayak mau shooting threesome double penetration wkwkkw!

Sayangnya tiga orang manusia itu hanya menatap TV dalam diam. Dua ekor anjing; Lexi (Golden Retriever) di pelukan Mamanya, Gen (Siberian Husky) tidur di kaki Papanya, dan satu lagi Vin (German Shepherd) mungkin sedang kejar-kejar burung di pekarangan belakang rumah, seperti Papanya yang suka kejar-kejar wanita.

Mereka adalah Hans, Dee dan Max. Yes ini tentang keluarga kecil gue. Dee karena as you know, nama gue sangat Jawa berawal dengan huruf D dan itu susah disebut sama orang bule jadi disingkat Dee sejak gue pindah ke Melbourne, ummm, 28 tahun silam. Saat ini umur gue 17 tahun. Hahahaha!

Hans adalah suami gue dan Max adalah......Max. Keduanya bule. Hans adalah keturunan Indonesia dan Belanda, tapi Indonesianya pun sudah campur aduk ga karuan sedangkan Max adalah Slavic. Yohoho Adidas Boi!

Kami sedang nonton Stranger Things saat itu. Maraton season 1 dan 2 karena tidak ada satupun dari kami yang punya waktu untuk nonton TV meskipun Netflix, Amazon Prime, dan Virgin Media (TV kabel) selalu terbayar setiap bulan. Gue selalu ingin meng-cancel plan-plan ini tapi:

Hans: Kalo aku gabisa tidur pas kamu lagi ga mau aku ajak boom boom syakalaka gimana, Sayang!

Max: Kasian The Boys loh Dee pas kita tinggal kerja, nanti kalo nonton yang banyak iklannya mereka jadi bawel kayak lo!

Uughh!

Sudah setahun saat itu kami tinggal di Edinburgh atas alasan pekerjaan Hans dan Max. Mereka bekerja di satu perusahaan konstruksi hanya berbeda bagian, Hans di bagian Department of Environment, Land, Water and Planning dan Max di bagian Department of Geodetic Surveyor. Perusahaan ini baru dibuka dua tahun yang lalu. Berpusat di Melbourne, ini adalah cabang pertama di luar Australia.

Pekerjaan kedua orang ini selalu bersinggungan. Ibaratnya Max yang nemu lahan, Hans yang menganalisa plus minusnya lahan tersebut, begitulah kira-kira mudahnya. Mereka berdua orang yang punya kantor tapi tidak pernah ditempati karena sibuk di lapangan.

Gue lelah mendengar diskusi mereka yang selalu ngomongin kerjaan di rumah. Gue tumbuh besar dengan seorang Papa yang adalah Bos Hans saat di Melbourne. Kuping gue sudah pengang dengar tentang fisika, properti dan konstruksi termasuk menghadapi seragam jaket oren+hard hat+baju+boots+celana bernoda semen dan cat. Sekarang gue hidup dengan DUA ORANG DEMIKIAN.

Sedikit tentang My Father, beliau sudah tidak di dunia ini lagi. Beliau sarjana Fisika di Indonesia, double Master Degree di Melbourne, dan PhD juga di Melbourne. Di usianya yang ke 48 tahun Papa meraih Level D dalam Academic. Beliau bukan dosen, tapi beliau Researcher dan pekerjaan Building Consultant beliau tekuni karena memang risetnya berhubungan dengan struktur material. Pekerjaan Papa adalah menganalisa efek angin dan pencahayaan terhadap struktur material suatu bangunan. Misalnya untuk gedung berkaca, kacanya harus berapa milimeter ketebalannya, sudutnya harus berapa agar tidak pecah saat ada angin, warnanya harus apa agar tidak terlalu memuai saat summer atau menyusut saat winter. Begitulah ketekunan Papa.

Level D setara dengan Professor di Asia, keistimewaan Level D dalam akademia: beliau tidak bisa dipecat dari akademia apapun keadaannya termasuk dalam hal ini di pekerjaannya sebagai Consultant, gimana rasanya punya kerja dengan gaji gede dan lo kagak mungkin dipecat apapun kesalahan lo?? Gue juga ga tau wkwkw!

Atas alasan itulah, Papa sangat dihormati dan gue dimudahkan atas kerja keras beliau: gue gampang dapet kerjaan di bidang beliau. Makanya belajar yang rajin, biar dapet respect dan anak kalian terjamin lahir batin. Gue aja males belajar!

Karena gue juga bosan nganggur dan iri dengan serunya kerja, akhirnya gue pun mencari pekerjaan. Gue ngelamar di kantor yang sama dengan Hans dan Max karena gue memiliki peluang besar untuk masuk sana.

Gue diterima di bagian Facility Management. Pekerjaan yang OKE bermodalkan "My Father told me a lot about it" saat wawancara, ditambah sebagian besar bosnya pindahan dari Australia dan kenal Papa, mereka tidak meragukan pengetahuan Papa sebagai Head of Project Consultant di Melbourne, ditambah gue juga alumni Fisika seperti Papa, padahal gue hanyalah sarjana yang cumlaude pun tidak, nasakom (nasib IP satu koma) iya, mereka percaya jika gue mewarisi kecerdasan sama seperti beliau. Wkwkwk, bullshit!

Gue pun kerja. Enggak dong, gue ga langsung jadi Manager. Fair disini, semuanya harus memulai dari 0 kalo ga punya pengalaman. Gue cuma dapet bypass langsung diterima.

Jadi bangunan-bangunan yang sudah jadi, apapun itu mau gedung apartemen, perkantoran, perhotelan, saat sudah selesai dibangun akan di desain dong. Mulai dari karpet, wallpaper, lampu, bedding/tempat tidur, kamar mandi, dapur dan lain-lain. Itu tugas Interior Designer. Gue adalah bagian yang menerima request dari para designer ini, melaporkannya ke atasan gue dan menghubungi Property Department untuk menghubungi para penjual lampu, bath up, kompor, keset dan lain-lain. Begitulah posisi gue. Setiap hari kerjaan gue nelepon sana-sini dan email sana-sini.

Bulan pertama fine. Gue sangat sibuk. Gue selalu PP bareng Hans dan Max. Kami punya dua mobil di rumah, satu mobil Mini Cooper 5 pintu milik Hans dan gue, satu mobil Range Rover Velar milik Max. Kemana Porsche kesayangan Hans? Dijual! Hahaha!

Akan ada cerita tentang ini.

Setiap kerja kami hanya bawa satu mobil karena Hans dan Max punya mobil kantor untuk mondar-mandir dan pulangnya bareng lagi. Setidaknya demikian rutinitasnya. Selain itu Hans dan Max sering ke London, dan kalian tau betapa macetnya London? Jakarta! Yes, no lies. Cuma macet teratur dan ga banyak motor aja. Jadi mereka juga lebih sering pilih naik transport umum.

Bulan kedua gue mulai bosan. Bukan karena pekerjaan, gue bosan selalu dekat dengan Hans dan Max, karena cerita yang sudah diceritakan di rumah diceritakan lagi di kantor oleh orang-orang yang berbeda, atau sebaliknya, bahasan yang sudah gue dengar di kantor dibahas lagi di rumah.

Gue bosan karena nama mereka selalu disebut oleh tetangga-tetangga cubic gue yang belum banyak, entah: tolong mintain laporan ini ke Hans ya, tolong telepon Hans ya, Max minta data geodesi bulan lalu, Max butuh tim tambahan untuk survey di Eltham, dan lain-lain.

Bagian terburuknya: Hans adalah karyawan lama di Melbourne. Kepindahannya ke Edinburgh adalah promosi dari Papa setelah pernikahan kami dengan menaikkan jabatannya menjadi Vice of CEO. Karena Sang CEO: Mister David dan Mister Murray sibuk di Melbourne, Hans sering diserahi tanggung jawab dong.

Dua kali gue menghadiri meeting yang dipimpin Hans.

Dia melihat gue kayak ga melihat istrinya! Dia tanya-tanya gue ga pake Baby, Sweetheart, Pumpkin, Bunny, Sweety Pie, atau Baby Duck kayak di rumah dong! Tapi:

Dee! Buka slide sebelumnya! Ini gimana ceritanya minta toilet harga £500! Itu kantor biasa bukan Penthouse! Panggil anak interior desain sama properti! Bego banget! Kamu jangan iya-iya aja Dee! Bantah aja kalo mereka ngelunjak!

Gue ga pernah kerja bareng Hans dan gue shock saat gue dibentak demikian di hadapan beberapa orang lainnya huhuhu!

Gue sakit hati, gue bosan bekerja satu pekerjaan dengan Hans dan Max, dan gue capek ngomong di telepon menghubungkan para interior designer dengan Property Department. Pokoknya gue harus berhenti.

Bulan ketiga gue berkonsultasi dengan atasan gue. Beliau menyayangkan tapi memaklumi. Gue pun mendapat pekerjaan baru: logistik di restoran. Restorannya cukup besar, punya 4 restoran besar di London dan Edinburgh. Gue bagian belanja dan mendistribusikan barang-barang belanjaan. ITS FUN!

Kembali lagi ke obrolan saat menonton Stranger Things, dimana saat ending season 2: Mike dan Eleven kissing.

"Kalian dulu kayak Mike sama Eleven gitu ya?" Tanya Hans.

"What??" Jawab gue dan Max bersamaan.

"Cinta monyet kayak Mike dan Eleven? Kalian gede bareng kan, ga mungkin ga saling jatuh cinta! Did you two fuck alot?"

..........



Without Me -- Eminem

Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
i4munited dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
14-08-2019 20:50
Oohh my babby uwuwuwuwuwu emoticon-Kiss (S)

Besok gue baca, gw cape mau bubu duluh

Oh ya nih di samping gue ada mas brian emoticon-Genit
Diubah oleh Anyaa351
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
1
14-08-2019 21:11
Sekali baca langsung suka.

Ijin mantengin ya sis @ladeedah emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan agungdar2494 memberi reputasi
2
14-08-2019 23:23
Wihh ada max ama mas hansemoticon-Embarrassment.. udah lama banget sejak di trit DNSemoticon-Belo
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan agungdar2494 memberi reputasi
2
14-08-2019 23:23
gue kapan bisa nulis mengalir, dan penuh rasa begini?
profile-picture
profile-picture
ladeedah dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
15-08-2019 05:55
Quote:Original Posted By Anyaa351
Oohh my babby uwuwuwuwuwu emoticon-Kiss (S)

Besok gue baca, gw cape mau bubu duluh

Oh ya nih di samping gue ada mas brian emoticon-Genit

Yaudah kelonin Brian ya, peluk y rapet emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By S.HWijayaputra
Sekali baca langsung suka.

Ijin mantengin ya sis @ladeedah emoticon-Embarrassment

Hai! Kunaon speechless kieu nya tiap baca IDmu emoticon-Hammer (S)
Seems I forgot something that dont even exist in my brain emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By Anon33m
Wihh ada max ama mas hansemoticon-Embarrassment.. udah lama banget sejak di trit DNSemoticon-Belo

Mereka masih idup kok Din wkwk
Quote:Original Posted By agungdar2494
gue kapan bisa nulis mengalir, dan penuh rasa begini?

Makasiiih Broo!! Duduk yang manis yes!
profile-picture
profile-picture
agungdar2494 dan S.HWijayaputra memberi reputasi
2
15-08-2019 22:19
ketinggalan gak nih? mejeng dulu ah
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
1
17-08-2019 00:10
Little Maxwell, Little Dee
Maxwell terlahir empat bulan setelah Dee kecil lahir. Dee kecil lahir Mei, Maxwell kecil September. Daddy-nya keturunan Inggris, Mommy-nya Yugoslavia yang lahir di Australia. Kedua orang tuanya memaksa nama anaknya memiliki kedua elemen budaya: British dan Slavic. Untung nama pertama Max itu Maxwell bukan Vladimir, Dmitri, Igor, atau Ivan wkwkw

Baby Maxwell lahir tanpa menangis. Sang Dokter harus membuat dia menangis dengan nabokin pantatnya beberapa kali sampai dia menangis. Saat kecilpun, Maxwell jauh lebih jarang menangis dibanding Kakak laki-lakinya, Bobby.

Perkenalan Maxwell kecil dan Dee kecil pertama kali adalah saat satu sekolah di North Melbourne. Sama-sama murid baru di Prep (setara TKB), mereka memakai name tag yang dikalungkan di leher.

Diajeng.

Maxwell.


"Can you help me coloring my rainbow?" adalah kalimat pertama yang Maxwell kecil tanyakan ke Dee kecil. Maxwell kecil menyerahkan kertas yang sudah bergambar lengkung-lengkung dengan pensil.

"Kok pink semua?" Tanya Maxwell kecil saat Dee kecil warnai semua lengkungnya dengan pink.

"Karena gue suka pink!"

"Tapi pelangi kan warna-warni ga cuma pink?"

"Lo mau gue bantuin ga??"

Maxwell kecil juga tidak banyak bicara. Dia hanya akan bicara jika Miss Mandy, guru wali kelas, meminta dia bicara. Di sisi lain, Dee kecil adalah anak yang amat sangat bawel. Maxwell kecil juga selalu main sendirian, kesukaannya adalah mengumpulkan batu-batu di playground sekolah lalu dia pilih yang paling bagus dan dia bawa pulang.

"Buat apa?" Tanya Dee kecil saat dia lihat Maxwell kecil memiliki banyak batu di tasnya.

“Mau gue warnain di rumah.”

Bocah aneh, pikir Dee kecil saat itu.

Maxwell kecil suka mengikuti Dee kecil, karena sama seperti Max kecil, Dee kecil juga tidak punya teman karena Dee kecil suka marah, tidak mau sharing, dan sering nangis haha. Dee kecil sering dibuli oleh teman-teman yang lain karena perangai buruknya. Semakin dibuli, semakin parah. Begitulah efek berantainya. Maxwell kecil juga tidak pernah mengajak Dee kecil main, atau sebaliknya, tapi Maxwell kecil selalu main dekat Dee main, hingga suatu hari mau tak mau dua anak ini main bersama karena sama-sama tersingkir dari pergaulan.

“Lo mau liat batu-batu gue ga?” Maxwell kecil menatap Dee kecil penuh harap saat mereka sedang mengikuti semut-semut yang menuju sebuah lubang di bawah batu.

“Mau!”

Maxwell kecil menarik tangan Dee kecil masuk kelas dan mengeluarkan dua batu berwarna hijau muda dengan totol-totol putih dan batu lainnya berwarna gold.

“Ini buat lo! Di rumah gue masih banyak lagi!”

“Ga ada yang pink?”

Maxwell kecil menggeleng kecewa.

Gue tidak ingat apa komen gue saat itu, tapi batu itu masih ada hingga saat ini di kamar gue di Edinburgh. Saat gue sudah besar dan melihat batu itu, hasil polesannya terlalu bagus untuk anak berusia lima tahun. Catnya smooth, rata dan solid. Bakat yang Maxwell bawa hingga besar: dia penggambar yang bagus. Bakat yang semakin tampak seiring kami naik kelas, Maxwell selalu mendapat nilai paling bagus di kelas Art.

Kedekatan Dee kecil dan Maxwell kecil semakin erat saat Mama-Mama mereka berteman dan sering jalan-jalan bareng karena sama-sama Ibu Rumah Tanggga pengangguran. Rumah Dee kecil dan Maxwell kecil tidak dekat kala itu. Rumah Dee kecil lebih dekat ke sekolah, tapi rumah Maxwell perlu naik tram atau bawa mobil karena kalau jalan kaki butuh sekitar setengah jam.

Rutinitas IRT pengangguran di belahan dunia manapun kalo punya temen biasalah ngerumpi di taman-taman atau level Mama-Mama kami saat itu paling banter ngopi karena harga Pandora mahal! Wkkwk!

Kedua IRT ini saking klopnya dan saking nganggurnya, mereka memutuskan ikut dance club. BUKAN MODERN DANCE ya tolong! Haha! Sesuai usia dan impian dan kebetulan diskonan pendaftaran, mereka mengikuti Tango Class. Oh Man! Siapa yang ga pengen bisa Tango! Yep. Tango. Kami semakin nempel karena kami selalu duduk di pojokan ruang berkaca, mewarnai, baca buku, atau lari-lari di hall saat Mama-Mama kami latihan selama dua hingga tiga jam.


“Dee, Papa ada jadwal ngelab malam hari ini. Mama juga ada latihan dance sampai jam delapan malam. Kamu mau ikut Papa ke kampus lagi? Atau ikut Mama latihan?” Papa membenarkan ikatan rambut Dee kecil yang selalu berantakan lagi sebelum sampai ke gerbang sekolah.

Rutinitas yang selalu dia lakukan di gerbang depan sekolah: mengencangkan ikat rambut Dee kecil.

“Dee mau ke rumah Maxwell aja! Nanti Papa jemput Dee di rumah Maxwell!”

“Maxwell? Dee kan belum pernah ke rumah Maxwell? Dan Mamanya Maxwell juga latihan dance sama Mama. Papa Maxwell baru pulang jam tujuh malam kerjanya.”

“Kan ada Bobby di rumah Maxwell.”

Bobby adalah Kakak Maxwell, terpaut tiga tahun dengan Sang Adik.

“DEE!” Maxwell kecil menghampiri Dee kecil. Papa mamandang dua anak itu dengan ragu.

“Maxwell sering di rumah sendiri? Bobby ada ga?” Tanya Papa.

“Ada Om! Bobby di rumah hari ini! Kalo Bobby ga di rumah juga aku sering di rumah sendiri!”

Sore itu Papa menjemput Dee kecil dan Maxwell kecil lalu mengantar ke rumah Maxwell.

“Ini simpan koin di saku kamu, jangan diambil kecuali untuk telepon umum! Ga boleh main api! Ga boleh main di luar! Ga boleh--”

“Iyaa Paaaa! Go away hush hush! Daaaaa!” Maxwell kecil dan Dee kecil tertawa cekikikan masuk ke rumah Maxwell kecil.

Itu adalah pertama kalinya Dee kecil main ke rumah Maxwell kecil.

Di Australia sendiri tidak ada aturan yang menegaskan usia berapa anak boleh ditinggal unsupervised di rumah, kecuali di Queensland. Di Queensland, jika anak dibawah 12 tahun sendirian di rumah DAN ketauan oleh pihak berwajib (mungkin tetangganya bawel dan lapor ke polisi) maka orang tua si anak bisa dikenai pasal hukum.

Namun Papa Dee kecil adalah orang yang sangat cerdas. Bagi Papa Dee kecil, meninggalkan anak di rumah bukan tentang usia berapa, tetapi memperhitungkan tingkat kedewasaan si anak, antara lain:

Berapa lama Dee kecil dan Maxwell kecil akan sendirian? Apakah lingkungan perumahan aman? Apakah ada anggota keluarga lain di rumahnya? Dan apakah anggota keluarga ini aman saat dekat dengan anak-anak?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil yang masih berumur 7 tahun ini bisa menghadapi situasi emergency? Misalnya ada kebakaran, apakah mereka tau cara melarikan diri dari rumah?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil saling mengingat nomer telepon emergency yaitu 000 untuk polisi? Apakah mereka hafal nomer telepon Papa Mamanya jika ada emergency? Apakah mereka bisa memakai telepon rumah? Telepon umum? Apakah mereka selalu menyimpan koin bersama mereka di kantong mereka saat tidak ditemani orang tua untuk alasan emergency menelepon orang tua di telepon umum?

Apakah Dee kecil dan Maxwell kecil mudah takut atas sesuatu, misal ada mati lampu mendadak? Petir? Hujan es? Dan apa yang akan mereka lakukan jika ada sesuatu yang membuat mereka takut?


Hari itu Papa menelepon setiap jam dari jam lima sore hingga jam tujuh malam, memastikan dua anak kecil tersebut masih hidup wkwkw.

Maxwell kecil ternyata lebih dewasa dibanding Dee kecil karena Maxwell kecil sudah bisa bilang: “Hey, don’t be worried, Bram! We will be allright!”

They did a great job that day karena setelah hari itu, mereka diijinkan untuk tinggal di rumah jika tidak ingin pergi bersama Mama atau Papa, bergantian kadang di rumah Dee kecil juga. Tapi seperti yang selalu Papa khawatirkan, mereka tidak pernah ditinggal lebih dari tiga jam.

Dee kecil dan Maxwell kecil selalu sekelas sejak Prep, namun seiring usia yang semakin besar, mereka juga berteman dengan teman-teman lainnya. Salah satunya adalah Sarah yang mulai mereka akrabi sejak kelas empat. Kebetulan rumah Sarah kecil ternyata dekat dengan rumah Dee kecil sehingga Sarah kecil sering ikut bergabung di rumah. Papa merasa lebih aman dan kadang menambah waktu main mereka bertiga jadi 3.5 jam, meskipun sangat jarang.

“Oi Beanstalk!”

Dee yang sudah kelas lima sedang bermain bersama Sarah di lapangan basket, melempar bola tennis ke dalam ring karena tidak ada bola basket saat itu dan memakai bola kaki untuk main basket cukup berat juga. Panggilan itu berasal dari Greg, siswa kelas enam yang terkenal nakal dan suka mengejek. Greg memang sering terjebak masalah dan sering kena detention/hukuman dengan harus social working membantu petugas di kantin atau merapikan buku-buku di perpustakaan. Rambut Greg jabrik berwarna merah dengan freckels tersebar di wajahnya yang tidak pernah tersenyum.

The Face of Greg! Dee kecil hanya bilang itu ke Papa saat wajah Papa atau Mama merengut galak tanpa senyum.

Dee kecil adalah salah satu objek ejekan Greg karena Dee sangat kurus.

Karena Dee kecil cukup populer kala itu dengan sering menceritakan buku-buku yang dia baca dengan berani saat Assembly (perkumpulan semua kelas setiap hari Jumat).

Karena Dee kecil namanya sering menjadi Student of The Week atas alasan kecil misalnya membantu Miss Ferosa membereskan kelas atau menyelesaikan jurnal PR membaca buku cerita lebih dulu.

Anak-anak grade senior pun akhirnya mengenal Dee kecil. Termasuk Greg. Beberapa menyapa Dee kecil ramah. Beberapa dengki. Greg rupanya sangat dengki lahir batin pada Dee. Setiap ada kesempatan memanggil Dee: lidi, batang kacang, tiang listrik, kurang gizi atau apapun akan dia sebutkan.

“Go away Greg!” Teriak Dee kecil dan Sarah kecil saat Greg mendekati mereka.

“Lo kurus kek pohon kacang! Tuh kaki awas patah loncat tinggi-tinggi! Kalo patah ga bisa disambung lagi!”

Dee hanya bertatap mata dengan Sarah dan tetap melanjutkan permainan tanpa menghiraukan Greg. Tiba-tiba Greg merebut bola tenis dan melemparkannya keluar pagar.

“Kok gitu sih! Ambil ga!” Dee melawan Greg.

“Kenapa ga ambil ndiri!” Greg mendorong tubuh Dee.

“Lo nakal banget sih! Gue bilangin Miss Campbell (kepala sekolah) ya!” teriak Dee lagi.

“Idih ngadu!” Greg menarik rambut panjang Dee yang diikat pony di belakang kepala. Sangat keras karena tarikan itu membuat Dee teriak kesakitan. Tarikan yang juga membuat Dee jatuh ke lapangan. Greg lari. Dee mengejar Greg.

Mereka terus berlari di lorong kelas meskipun beberapa guru sudah meneriaki mereka untuk berhenti. Lari di lorong kelas hukumannya berat. Greg berhenti dan langsung menyambut Dee yang berlari ke arahnya dengan satu tonjokan yang tepat bersarang di pipi kanan Dee. Seketika Dee tersungkur, berteriak dan menangis.

Satu hal yang Dee ingat di antara tangis kesakitan dan darah yang mengucur dari mulutnya, Dee melihat seorang siswa laki-laki adu tinju dengan Greg.

Maxwell.

Entah dia datang darimana, tapi Maxwell tidak berhenti menyerang Greg meskipun dirinya sendiri beberapa kali juga dipukul oleh Greg, tapi Maxwell tetap berusaha bangkit. Dia serang Greg dengan tinju dan tendangannya.

“STOP IT YOU TWO!!” Teriakan Mister Kogler, guru PE/Penjaskes, membuat teriakan di hall seketika sepi. Mister Kogler memisah paksa bersama guru lain, menarik tubuh dua anak laki-laki yang masih ingin saling serang. Hall sudah penuh dengan siswa-siswa yang menonton gelut Greg dan Maxwell.

Greg, Maxwell, Dee dan Sarah sebagai saksi dipanggil menghadap Miss Campbell.

Wajah Greg dan Maxwell sama-sama lebam dan berdarah, Dee juga, namun tidak separah mereke berdua. Sambil menghadap Miss Campbell, mereka memegang ice pack dari Nurse Sekolah.

“…..Max ikut-ikutan!” tutup Greg diujung pembelaan dirinya.

Tapi Maxwell tidak bicara apa-apa. Hingga interogasi selesai Maxwell juga tetap diam. Mereka bertiga dikenai detention berbeda-beda. Tak cukup dengan detention, orang tua mereka bertiga juga dipanggil ke sekolah hari itu juga. Dee masih mengingat wajah sang Papa yang pucat melihat wajah putri kesayangannya yang lebam dan bibirnya yang bengkak.

“Kamu ga apa-apa? Kenapa bisa begini??”

“The face of Greg hit me, Pa!”

Papa hanya mendengus dan menggigit bibir bawahnya menahan kesal.

Greg dan Maxwell harus membantu Janitor selama satu minggu saat jam istirahat dan setelah pulang sekolah. Dee harus membantu Kantin selama tiga hari.

Dua hari kemudian, Dee menghampiri Maxwell di kamar mandi yang sedang dia bersihkan setelah pulang sekolah. Dia tunggu hingga Maxwell selesai.

“Nonton Paddington di rumah gue yuk!” ajak Maxwell.

“Gue harus pulang. Papa mau bawa gue ke dokter karena masih sakit gusinya.”

“Sini coba gue liat!” Maxwell berhadapan dengan Dee dan melihat luka di bibir juga wajah Dee, lalu dia suruh Dee menunjukkan gusinya yang sakit.

“Sakit banget?”

Dee mangangguk. “Lo sendiri udah sembuh?”

“Udah ga kerasa apa-apa!” Maxwell memalingkan wajahnya dan berjalan lagi. Ga kerasa apa-apa tapi biru di mata dan pipinya masih jelas.

“Sini gue liat juga!” Dee memaksa memegang kantung mata Maxwell dan pipinya.

“Ouch, Dee! It hurts!”

“Katanya ga kerasa apa-apa!”

“Stop it you Stupid Dee!”

“Hahahaha I am sorry!” Dee melingkarkan tangannya ke bahu Maxwell.

“Makasih ya Max!” Dee belum sempat berterima kasih pada Max yang sudah membantu menghajar Greg.

Max diam. Papa Dee sudah menunggu di depan gerbang sedang ngobrol dengan Mister Kogler. Dia lambaikan tangan ke Papanya yang juga melambaikan tangan.

“Yaudah gue duluan ya Max! Lo ga bareng gue aja?”

Max menggeleng dan menunjuk ke Mamanya yang sudah menunggu di sisi gerbang yang lain.

“Oke, see you tomorrow, Blue Face!” Ejek Dee.

“Dee!”

Dee menghentikan langkahnya dan menghadap Max lagi.

“Kalo ada yang nakalin lo lagi, jangan lo lawan sendirian! Bilang gue! I will help you and I will protect you with my life!”

“I will, Max! You are my best friend!”

“You are my bestest friend!” Balas Maxwell.

Maxwell mendekati Dee lalu mencium pipi kanan Dee dengan cepat sebelum lari sekencang-kencangnya ke mobil Mamanya tanpa menoleh ke Dee lagi.

I will help you and I will protect you with my life....


The Way I Am -- Eminem


Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan i4munited memberi reputasi
2
17-08-2019 00:54
Quote:Original Posted By rezaegamo
ketinggalan gak nih? mejeng dulu ah


Masih kosong karpetnya Za emoticon-Leh Uga

===

Sorry baru updet, jadi baby sitter dua hari rasanya gue udah butuh terapi emoticon-Ngakak (S)
0
17-08-2019 05:19
28 tahun gue kenal lo.
28 tahun gue berlindung di bawah panji lo.
28 tahun gue memegang paspor hijau dengan Garuda kebanggaan lo.

Tidak ada yang berubah dengan bahasa Mama.
Tidak ada yang berubah dengan kegagahan nama Papa.

Gue yang memilih melepas kewarganegaraan Indonesia,

bukan karena ingin jadi berbeda, tapi karena administrasi pasutri beda bendera di negara yang berbeda benua susah ngurusnya.

Klasik Indonesia dengan keunikan ribet birokrasinya emoticon-Frown

Maafkan aku Indonesia.

Dirgahayu...Mantanku yang Terindah emoticon-Frown emoticon-Frown

Gue masih hafal Indonesia Raya dan hormat kok pagi ini emoticon-Mewek

Selamat 17an ya! Selamat lomba2! Selamat menikmati diskonan2! Selamat Ulang Tahun Indonesia! :merdeka
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan i4munited memberi reputasi
2
17-08-2019 13:53
Happy birthday Indonesiaa...

Hai ajeeeng aku lebih suka thread2 model begini daripada thread yang mengguncang hati...haha dasar lemah...aku...

Seru ya punya sahabat cowok kayak max...

Jaman SD dulu di indo klo ada cewek temenan akrab sama cowok dicap aneh
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
1
Lihat 2 balasan
Lapor Hansip
17-08-2019 19:22
Balasan post thefresh
Quote:Original Posted By thefresh
Happy birthday Indonesiaa...

Hai ajeeeng aku lebih suka thread2 model begini daripada thread yang mengguncang hati...haha dasar lemah...aku...

Seru ya punya sahabat cowok kayak max...

Jaman SD dulu di indo klo ada cewek temenan akrab sama cowok dicap aneh


Gitu ya? Padahal nulis trit ini mengguncang hati gue habis-habisan karena ada peran Papa yang sangat besar di antara Maxwell dan Dee.

Jujur, gue gabisa ga nangis tiap nulis setiap partnya haha

Emosional. Sangat.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1
17-08-2019 20:56
yeayyy ada trit dengan tokoh2 ini lagi! emoticon-Peluk


i miss them so much. especially Papa Bram and Dee...
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
1
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
18-08-2019 10:02
enak bet gan tinggal di luar negri
profile-picture
ladeedah memberi reputasi
1
18-08-2019 12:14
Hug From The Past
“Jadi Max first kisser kamu, Pumpkin?” Hans menatap gue penuh harap untuk terus bercerita tentang Max dan Dee kecil. Max melihat gue sambil memicingkan matanya, berharap tidak melanjutkan cerita tentang masa kecil kami. Max benci itu. Jawaban gue tertunda saat Vin berlari dari arah dapur dengan kaki berlumpur yang meninggalkan jejak di lantai kayu.

“ARRGHH! VIINN STOOPPP!!” teriak gue saat melihat Vin mulai menginjak karpet ivory di antara sofa untuk membangunkan Gen dan ngajak main.

“HOLY SHIT, VIN!” Max langsung bangkit dan mengangkat tubuh Vin ke kamar mandi.

Gue bukan orang yang perfeksionis soal kebersihan rumah, namun karena gue adalah anak tunggal, maka rumah gue dulu terbiasa bersih ditambah Mama Papa tidak suka banyak barang jadi rumah kami sangat rapi. Lalu kini gue hidup dengan dua pria serta tiga anjing, gue mengerti mengapa Mama selalu peduli dengan detail pekerjaan cleaner di rumah kami.

Hans perfeksionis.
Max berantakan.

Kombinasi yang membuat gue stress sendiri.

Bersih tidaknya gue targantung mood.

Bersih tidaknya Hans—Hans tidak pernah tidak bersih.

Max selalu tidak bersih.

Sering gue pro Hans, tapi tidak jarang juga gue pro Max. Tapi sebagai istri yang baik, gue selalu mendengarkan ngomelnya Hans untuk gue jadikan bahan amukan ke Max. Hahahaha.

Hans paling tidak tahan saat rumah kotor apalagi ditambah berantakan. Sering gue berpikir, seharusnya gue yang menjadi Mother of The House dan mengatur rumah ini sesuka gue, tapi keteraturan gue masih kalah jauh dengan Hans.

Apa yang bisa gue protes dari seorang pria yang memiliki ilmu perhotelan? Pria yang tau caranya pasang fitted sheet, flat sheet, doona cover dan menyusun kasur dalam European style? Pria yang selalu menyusun botol sabun di kamar mandi setelah mandi? Pria yang pakaiannya dia atur sendiri sesuai warna di lemari?

Gue pun yakin tidak banyak pria yang bisa membedakan warna Fuchsia dan Magenta, atau Lilac dan Lavender, bahkan gue yakin pada umumnya pria tidak akan peduli warna apa nama spesifiknya apa. Lilac? Itu mah ungu, Eneng! Magenta? Eta mah merah muda!

Suami gue hafal nama turunan warna-warna. Pernah dengar warna Carput Mortum? Xanadu? Malachite? Razzmatazz? Gamboge? Gue aja baru tau dari Hans wkwk

He’s crazy, I know!

Sore itu gue berujung menemani Max mengantarkan karpet ke laundry sekaligus belanja kebutuhan sehari-hari. Hans memilih tidak ikut karena dia masih ingin menonton TV saat kami ajak.

“Udah sih Dee ga usah ceritain masa kecil kita ke Hansen! Bukannya dia udah denger itu ratusan kali, masih aja nanya pertanyaan yang sama! Emang ga bosen dengernya? Gue aja eneg denger cerita tentang gue sendiri! Apalagi tentang lo!”

“Gue suka sih mempermalukan lo, Max! Hahaha! Masa lalu lo kan suram dan memalukan!”

“Itu karena lo cerita dari sudut pandang lo, kalo dari sudut pandang gue, lo jauh lebih memalukan!"

"Lo inget ga kita pernah bikin heboh waktu ke KL pertama kali dulu?" Gue tanya Max dengan excited dan dia tanggapi dengan tawa lalu diam. Elusan tangannya di rambut gue membuat gue sadar bahwa kadang, gue lupa kalau kenangan masih bisa membawa rasa sedih yang sama hebatnya ke pemiliknya.

Gue memiliki sepasang orang tua yang super perfect secara fisik. Mama gue adalah wanita yang sangat cantik. Sebagai putrinya, gue akui kalau gue tidak ada secuilnya dari Mama. Wanita yang kecantikannya membuat gue, anaknya, melihat dia seperti Princess Disney di dalam kubah kaca. Untouchable. Mama anggun dengan semua pembawaannya, dia tidak banyak bicara, selalu manja dan menggoda suaminya saat bersama. Hubungan pernikahan yang tetap hot, bukan hanya harmonis, tapi hot. Can you imagine that?

Wanita yang selalu peluk suaminya dari belakang saat lagi bikin kopi di dapur dan menggerayangi tubuh suaminya dari belakang sambil bilang “Good Morning Hottie”.

Wanita yang ga ragu untuk mendaratkan tangannya di selangkangan suaminya di bawah meja saat lagi makan di restoran bahkan saat bersama teman-temannya.

Wanita yang hampir selalu menaikkan kakinya ke pangkuan suaminya saat sedang nyetir dan menggoda dia dengan jari-jari kakinya.

Wanita yang selalu minta di pangku saat nonton TV dan suaminya ga pernah bisa menyelesaikan apa yang ditonton karena wanitanya lebih menggoda untuk dicumbui.

Disisi lain, Papa bukan orang yang jelek juga. Papa juga memiliki paket sempurna sebagai pria dengan tubuh atletis yang mengimbangi Mama, tampan, dan yang paling penting cerdas. Kedua orang ini seperti diciptakan untuk satu sama lain. Kedua orang ini juga tau bahwa mereka perfect dan tidak ragu untuk memancarkan kesempurnaan itu.

“Lo udah siapin barang-barang buat ke Kuala Lumpur, Max?” Kami masih berusia sepuluh tahun saat kami akan mengunjungi Kuala Lumpur untuk pertama kalinya. Club dansa yang diikuti Mama-Mama kami akan melaksanakan kompetisi dance disana. Mama gue dan Mama Max ikut dalam kompetisi tersebut dan kami diajak serta untuk mengisi liburan musim semi.

“Udah disiapin sih sama Mama! Eh walkman! Pinjem dong!” Max melirik tas gue yang terbuka dan melihat walkman berwarna silver dan hitam di dalamnya.

“Ga boleh!”

Dee tidak suka sharing meskipun sama Max.

“Pelit!”
“Biarin”
“Tapi lo bawa kan ke KL?”
“Bawalah!”
“Pinjem sih Dee buat satu lagu aja! Yayaya??”

Walkman itu bukan punya gue, tapi punya Papa. Dan gue bawa ke sekolah tanpa ijin ke Papa. Di dalamnya ada kaset The Beatles yang juga punya Papa. Lagu favorit Dee kecil adalah Hey Jude.

“Dengerin bareng aja ya! Nanti kalo lo pegang rusak! Gue yang dimarahin Papa!”

“Yaudah iya iya!” Kami menyelinap ke belakang sekolah dekat gudang sambil menyembunyikan walkman di balik jaket.

“Kalian ngapain??” Sarah menegur kami saat gue berusaha menyolokkan earphone.

“Hey Sarah! Sini! Tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya!” Max menarik tangan Sarah. Sarah hanya melongo melihat walkman di tangan gue. Bergantian, kami mendengarkan lagu dengan earphone.

Hey Jude, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better


Bertiga kami menyanyi sekenanya di kata yang kami tangkap lalu ber na-na-na-naa saat tiba di reffrain.

“Besok bawa lagi ya Dee, gue yang bawa kasetnya!” Tawar Sarah yang diamini oleh Max. Gue menimbang ide mereka serta menimbang ketauan tidaknya oleh Papa. Akhirnya gue iyakan. Sejak hari itu kami sering menyelinap di belakang sekolah untuk mendengarkan musik.

Seminggu kemudian gue dan Max sudah di dalam mobil Papa bersama Mama Max dan Mama gue. Gue sudah diijinkan oleh Papa untuk membawa walkman dan membawa beberapa mixtape milik Papa, tapi Max juga membawa mixtape milik Papanya dan Bobby sehingga kami harus bergantian namun tetap setuju untuk berbagi earphone.

“Kuala Lumpur itu diatas Indonesia!” Gue buka peta yang dibawa Max dan menunjukkan dimana Kuala Lumpur.

“Iya gue tau! Lo tau ga kira-kira kapan kita akan lewat Indonesia?”

Dua anak kecil itu berebut melihat kota Melbourne di bawah mereka melalui jendela pesawat seiring pesawat mengudara.

“Ga tau.” Jawab Dee. Max membuka tasnya dan mengeluarkan pocket watch pemberian Kakeknya.

“Penerbangan kita ke Kuala Lumpur butuh sekitar 9 jam, penerbangan Melbourne ke Indonesia sekitar 7 jam, jadi jam tujuh malem kita akan sampai di langit Indonesia.” Jelas Max.

“Sok tau!” jawab gue ketus.

Gue benci saat Max sudah bahas tentang pelajaran, terutama angka-angka alias Matematika.

I was-I am-suck in Math! Gue tidak bisa bermatematika dan Papa mad as hell atas kedunguan anak satu-satunya ini. Percayalah ujian SD gue sering dapet NOL dan di SMP gue dua kali merah di rapot: TIGA KOMA LIMA dari skala 10! Di ijazah SMA gue bahkan Matematika dapat nilai terendah: 5.25 dengan batas minimum kelulusan 5.0! Wkwkw!

Max adalah outstanding student. Max selalu bisa lulus dengan Grade A: Outstanding Achievement. Apalagi Matematika, pelajaran itu tidak ada sulit-sulitnya buat Max. Easy peasy lemon squeezey! Begitulah sombongnya.

Hanya dengan belajar otodidak membaca buku-buku, Max bisa paham Matematika, Fisika dan Kimia secara konsep. Saat kami SD kami selalu belajar bersama Papa dua atau tiga kali seminggu, terutama untuk boosting gue yang payah itu. Awalnya hanya gue dan Papa tapi karena Max sering ke rumah gue, akhirnya dia ikut belajar. Belajar bersama terasa menyenangkan, HINGGA:

Papa: Awesome, Max!--You did great, Max!--Wonderful!--How can you do that!--Unbelievable!--Perfect!--Thats my boy!--Atta boy!

Sementara ke gue:

Papa: Come on Dee, try harder!--Think harder!--Almost there, Dee!--You are my Girl and I know you can do it!--I believe in you, Baby!--I know you can!--If Max can do it, you can do it too!

Argh. Mungkin gue anak adopsian! Sejak Max selalu lebih unggul dari gue, bahkan Papa juga applause untuk prestasi Max, gue membenci Max dalam area pelajaran. Gue tidak mau membahas tentang PR atau ujian bersama dia dan mencari-cari alasan saat dia mengajak belajar bersama untuk ujian.

“Jadi kita ga boleh kemana-mana ini? Disini terus sampe Mama kita selesai??” Gue lihat bangunan perkotaan dari jendela kamar hotel. Kamar kami bersebelahan, 802 dan 804 namun sudah seharian kemarin gue menghabiskan waktu di kamar Max sambil membaca, bermain Scrabble dan beberapa board game yang kami bawa.

“Iya pesen Mama tadi begitu kan.”

“Yah boring dong! Main di loby boleh ga ya? Gue kemaren liat ada kolam ikannya disana! Yuk!”

“Nanti kalo kita ilang gimana?” Max ragu.

“Kita tinggal catet aja nomer kamarnya, kan dikuncinya ada nomernya juga!” Gue yakinkan Max.

“Takut diculik, Dee! Kita kan ga tau disini gimana!”

“Trust me, Max! Nothing will happen! Kita jangan saling jauh aja dan harus teriak sekenceng-kencengnya kalo ada yang jahatin kita! Oke!”

Max berpikir keras, namun pada akhirnya dia selalu tidak bisa bilang tidak pada ajakan Dee. Air minum, walkman, baterai, koin, jam, kompas, peta, buku panduan, serta kertas-kertas dengan nomer penting kami siapkan dan kami simpan di tas masing-masing.

“Lo siap?” Kami melongok keluar pintu hotel. Lorong kanan dan lorong kiri sepi. Max mengangguk ragu. Kami tutup pintu hotel dan berjalan berdampingan di lorong sambil mencari-cari dimana lift.

Kami tiba di lantai dasar tempat loby berada. Lobby hotel yang sangat besar dan cukup membuat kami takut melihat orang-orang yang tak kami kenal, namun kami juga excited untuk jalan-jalan. Kami berjalan-berlarian-berkeliling lobby hotel dan berusaha tidak menjawab saapn orang-orang asing termasuk petugas hotel karena kata Papa: “Jangan bicara dengan orang yang tidak dikenal!”

Sesuai rencana, kami menuju kolam ikan dan melihat beberapa ikan yang berenang disana. Lalu kami ingin menjelajah lagi, kami pergi ke lorong yang lain, ada kolam renangnya, kami duduk-duduk di pinggirnya.

Kami berdua adalah perenang yang sangat baik jadi kami tidak takut tenggelam. Tanpa ragu akhirnya geu dan Max memutuskan untuk nyemplung ke kolam dan bermain disana.

“Tuhkan kita ga diculik orang!” bisik gue ke Max saat kaki kami sudah lelah berenang dan rasa lapar mulai menyerang.

“Hahaha iya! Besok kita bilang ke Mama kita aja kalo kita mau jalan-jalan di hotel pas mereka pergi ya!” Tambah Max. Gue mengangguk dan mengacungkan jempol.

“MEREKA DISANA!” adalah teriakan yang membuat gue dan Max yang sedang duduk di tepi kolam terkejut. Di ujung kolam yang lain, Mama kami melihat kami dengan panik bersama petugas keamanan dan petugas hotel.

Dengan pakaian basah kami ditarik kembali ke kamar masing-masing dan diomeli. Kami hanya saling melempar senyum saat Mama kami masih ngomel sepanjang makan malam.

“Besok kita kabur lagi aja, kalo ijin ga akan diijinin!” Bisik Max.
“Iya-iya hihihi!” Jawab gue semangat.

Gue lelah tapi happy. Gue yakin Max juga. Meskipun tidak sabar dengan petualangan kami esok hari, gue tertidur pulas.

Gue bangun dengan Mama sudah tidak ada di samping gue. Sudah jam 9 pagi. Sarapan ada di meja samping tempat tidur dengan notes: Tidak boleh keliling hotel lagi. Stay di kamar Max! – Mama.

Gue segera bersiap-siap di kamar mandi, namun mulasnya perut membuat siap-siap gue tertunda. Setelah mengikat rambut di  dengan kucir kuda seperti biasa, gue poleskan krim anti kulit kering milik Mama di wajah gue, berikut sun block di kaki dan tangan. Sambil berbenah diri di kamar mandi, gue teringat akan mengambil baju renang di koper untuk renang lagi.

“Dee! Ada apa??”

Max menarik gue masuk setelah membuka pintu kamarnya. Air mata yang tidak bisa berhenti mengalir gue biarkan tanpa gue berusaha mengusapnya apalagi menahannya. Gue tarik tubuh Max dan menangis sekencang-kencangnya.

“Dee! DEE! ADA APA??” Max mulai berteriak panik.

“Mama..”

“Mama, Mama lo? Mama lo kenapa??”

Gue tidak bisa berkata apa-apa karena tangisan gue sudah mengambil alih semua kekuatan gue, bahkan untuk bernafas saja sulit. Bersama Max gue bersimpuh di lantai. Di dalam pelukan Max gue terus menangis dan menangis hingga gue lelah.

“Mama had sex sama—sama--sama bukan Papa.”
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
S.HWijayaputra memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
18-08-2019 14:13
OhDear kurang sempurna apa lagi "pria" seperti papah bram -_-
gue aja kepengen yg kayak dia, ya kalo gak dapet, brian boleh, davi juga boleh nggg....tapi max boleh juga tuh.
Diubah oleh Anyaa351
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 12
18-08-2019 18:03
Salaah satu part yang pernah kak nay ceritakan dan membuat ane dan pacar ane mewekemoticon-Turut Berdukaemoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Sorry
0
18-08-2019 18:06
Om Braam! I miss him, so bad! thanks kak lo cerita dia lagi. Begitu tau ada Kuala Lumpur, ingatan gue langsung ke Reminscing you sambil doa semoga lo gak cerita peristiwa itu. Pas baca selalu pengen gue skip karena.... Fck! Om Bram emoticon-Frown

Tapi gue inget, lo 10 tahun dah selesai baca lord of the ring juga abis itu wkwkwk

Dan hey Lexi! si coklat gede yang bikin gue merinding -_-

Sorry baru bisa mampir, abis mengisi hari kemerdekaan dulu wkwkwk
0
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
a-road-to-be-me
Stories from the Heart
ustad-in-love
Stories from the Heart
detektif-ega
Stories from the Heart
tamat-lie-love-in-elegy
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.