alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4d9c1a68cc956eed0d4107/muara-sebuah-pencarian-true-story-18
Lapor Hansip
09-08-2019 23:15
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Past Hot Thread
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 

Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


"INDEX"


For You
Cinta Dalam Diam
Jangan Pergi
Kabar
Tanda
Kita Sama
Hilangkan
Maafkan Aku
The Rock dan Jumatan
Trit Kita Trit Rekomendasi
Sama-sama HT
Update kepedihan
Frustrasi
PM Berharga
25
Halaman Utama
Terima Kasih
Menemukanmu
Tentang Rindu
Belum Beruntung
Aku dan Kau
Hei lihat ini, untukmu NEW!

Mulustrasi


Peraturan


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g.azar dan 23 lainnya memberi reputasi
22
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 98
Post ini telah dihapus oleh radheka
10-08-2019 00:17
Prologue
Perkenalkan nama ane Firzy Andreano, biasa dipanggil Izy atau Ija. Ane memiliki proporsi tubuh yang lumayan lah untuk ukuran orang Indonesia, tinggi ane kurang lebih 178 cm dengan berat 60 Kg (ketika kisah ini dimulai), agak ceking ya. Hehehe. Kulit coklat tapi nggak sampai sawo matang banget, rambut ikal (tapi masih bisa dirapihkan dan disisir).

Ane merupakan half blood, tapi nggak pake prince, separo jawa, separo sumatera, jadi hidung rada mancung dikit (urusannya apa?!). Kata Mama ane, ane kalau senyum ada lesung pipi nya yang membuat muka ane jadi lucu wkwkwkwk. Biar lebih yakin ane nggak bohong, silakan aja tanya sama orang yang ane sayang, dia ada di forum ini juga, kalau bisa nemuin akunnya sih. Hahaha.

Ane juga seorang anak band ketika petualangan ini berlangsung, jadi kegiatannya lumayan padat, ya kuliah, ya ngeband, ya pacaran atau ngegebet tiada henti. hehehe.

Quote:Ane : yank jujur sama aku, apa yang bikin kamu sayang sama aku? Apa yang kamu rasain sampai akhirnya bikin kamu yakin kamu sayang sama aku?

Pcr : karena kamu jujur yank. Kamu bisa berbagi cerita sama aku, tentang semua hal, kamu bisa percaya sama aku.
Kamu perhatian banget.
Kamu cerewet! hahaha, tapi aku suka.
Kamu humoris.
Kamu bisa jadi moodbooster buat aku.
Kamu apa adanya.
Kamu berwawasan luas, dan kamu bisa jadi pendengar yang baik.

Ane : bener ya ini yank? Terus dengan atribut yang kamu sebutin ini, sangat mungkin nggak sih aku disukain cewe yank? Maksudku, beneran disukain, bukan hanya lihat fisik doang gitu.

Pcr : haha yaiyalah yank. Emang kenapa?

Ane : ((cuma senyum))


Chat ane ini baru-baru aja terjadi, belum lama, sekitar awal Agustus 2019 dan ditestimoni langsung oleh orang yang paling ane sayang selamanya (dia member sini juga, jadi dia pasti baca, trit dia bahkan sempet HT dibidang STORY (STFH) juga lagi, cukup fenomenal tritnya).

Oh iya, diri ane yang sekarang bukanlah diri ane yang akan ane ceritakan disini. Tapi kurang lebihnya poin poin tersebut mewakili diri ane dan itulah sebab kenapa kisah-kisah kehidupan ane ini bisa terjadi gan sis, jauh sebelum bertemu dengan Dia.

Ane punya kebiasaan mencatat momen-momen dalam kehidupan ane dari SD, awalnya untuk membiasakan menulis rapi, tapi jadi bablas. Jadinya kisah ini mengacu kepada catatan-catatan ane, sembari ane mengingat memori-memori yang ada, sehingga jika ada kesan fiksi karena terlalu detail, silakan dinilai sendiri.

Perjalanan cerita ini akan dimulai ketika ane mulai memasuki gerbang universitas. Ane diterima disalah satu Perguruan Tinggi paling prestisius di Pulau Jawa, yang mana termasuk kedalam 5 besar Universitas terbaik di negeri ini. Ane bangga bisa masuk ke universitas ini karena berhasil memenangkan satu kursi dari ribuan peminat lain dari seluruh Indonesia gan sis.

Tapi sayangnya, ekspektasi ane terhadap kampus ini tidak seindah yang terlihat dari luar. Dari mulai aturan-aturannya yang ketat terutama cara berpakaian, kemudian kuliahnya yang super berat dan menguras otak (eksakta sampai mati!) dan juga disini terkenal banyak mahasiswanya yang sangat-sangat religius, beda dengan ane yang dari awal juga udah blangsak, haha. Jadinya kalau mau penyaluran hasrat rada-rada mumet (pusing) juga, susah, bentengnya berlapis, mana lokasinya juga jauh dari kota lagi. Tapi bukan ane namanya kalau nggak bisa ngakalin itu semua. Hahaha #devillaugh

Hidup di universitas yang penghuninya agak konservatif itu berat buat ane gan sis, apalagi ane kan senang banget kalau melihat lawan jenis yang cantik-cantik, alim-alim (kelihatannya), ditambah udah pasti pinter lagi otaknya kan, jadi sayang aja kalau banyak larangan hahaha (otak setan emang), potensinya untuk dipacari atau digebet jadi kurang bisa dimaksimalkan.

Ternyata benar aja gan sis, sampai ane akhirnya lulus dengan susah payah dari kampus ini saja, setelah ane mulai bekerja, masih banyak bidadari-bidadari dunia yang bisa ane kejar loh dikampus ini, makin angkatannya muda, makin banyak yang bening kaya kristal yang bersinar haha.

Mengasyikkan, seru, sekaligus jahat gan sis. Kisah-kisah pencarian ane inilah yang akan ane bagikan. Menjadi seorang cassanova dengan budget terbatas itu memang selalu meninggalkan kesan tersendiri.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dennisCS1 dan 12 lainnya memberi reputasi
11
10-08-2019 09:25
Numpang puter balik
ane salah belok

emoticon-Ngacir2
profile-picture
eghy memberi reputasi
1
10-08-2019 09:36
Quote:Original Posted By s.i.n.y.o
Numpang puter balik
ane salah belok

emoticon-Ngacir2


Haha silakan gan putbal...
0
10-08-2019 14:45
oke om lanjut emoticon-Embarrassment
0
10-08-2019 20:08
Quote:Original Posted By berodin
oke om lanjut emoticon-Embarrassment


Wokeh gan hehe..
0
11-08-2019 01:25
Permission Granted!
Present Day

“hhmmmmmhh……usshhh!!” Ane mengerang, tubuh ane sudah cukup basah dengan keringat, dan ane semakin terpojok ke dinding kamar.

“hmmm…mmmm…clak!!!” tiba-tiba dia nyengir. “Enak?” Katanya.

“Pake nanya lagi, udah lanjutin, elah!” Ane yang udah kena tanggung protes keras.

Dia melanjutkan kegiatannya dibawah sana. Ane berdiri sambil gemetaran dan dia terus beraksi, kepalanya maju mundur seperti pajangan yang ada dimobil-mobil. Ketika udah hampir teriak karena mau sampai di titik akhir, tiba-tiba dia menggigit.

“addoooooh, anjir….sakit banget tauk!!! Ah gila kamu ya!!” hardik ane, sambil menjambak rambutnya berlawanan dengan tubuh ane, menjauhkannya dari tubuh ane sehingga dia pun berteriak.

“aduduuh, apaan sih, kok kasar pake jambak-jambak?” Protes dia.

“Ya kamu lagian, ngapain pake nggigit segala, anjir sakit banget ini. Masih on fire digigit itu bikin sesak napas, ngilu juga tau nggak kamu!” kata ane lagi.

“Itu balesannya yank! Enak nggak digigit begitu? Waktu tempo hari kamu juga pernah gigit aku pas lagi main disini!” dia menunjuk satu titik berwarna berbeda dengan kulit putih dadanya yang bagus, mulus dan berkeringat itu.

“Lah namanya gemes mau gimana lagi??” Kata ane polos.

“Yaudah kita impas kan?” Balas dia.

“Iya-iya..maafin aku ya.” Kata ane sambil membantunya berdiri.

Ane dan dia termasuk orang-orang yang cukup tinggi di bidang kelamin masing-masing, dengan tinggi ane 178 cm, cukup tinggi untuk laki-laki dan dia 165 cm, cukup tinggi untuk perempuan di negara kita tercinta ini. Dengan konfigurasi tinggi badan seperti ini, maka mudah bagi kami untuk saling berpelukan, beradu mulut dan lidah, serta penetrasi pada posisi berdiri. Dialah orang yang paling ane sayangi. Di waktu sekarang, diwaktu tulisan ini dibuat. Kalau di forum STFH biasanya mendeskripsikan pasangan atau orang yang dicintai itu pasti cantik, lucu, indah dipandang mata, juga disukai banyak orang. Baik yang true story maupun fiksi. Tapi ane bisa pastikan orang yang ane sayang ini emang beneran cantik, semampai, dan dibayangan orang-orang “wah bening banget ini pasti". Ya, memang gitu keadaannya.

“gimana, mau lanjut pertempuran kita? Waktu kita nggak lama loh.” tanya dia ke ane.

“Lah ya iyalah, masa cuman blow-blow doang, lu kira salon!” Balas ane nggak terima.

“Bacot aja lu ah. Sini….!” Kata dia sambil lanjut berjinjit sedikit dan nggak pakai babibu langsung hajar aja bibir ane.

Ane belum siap, tapi karena tadi kentang, yasudah pertempuran bibir pun tak terhindarkan. Berlanjut ke segmen yang semua orang tunggu-tunggu. Saking semangatnya, keringat dan air liur dari hasil saling menjilat satu sama lain bercampur. AC kamar kost yang dingin tiba-tiba terasa sangat panas. Gerah. Akhirnya kami saling melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh. Wow, luar biasa sekali pemandangan surga dunia didepan ane, walaupun sudah pernah lihat sebelumnya, tapi malam itu terasa sangat spesial. Ane mulai kegilaan kami dari bawah dulu, pelan-pelan sampai dia keenakan dan nggak bisa berkata-kata, jilatan, ciuman, dan gigitan tipis yang ane daratkan dihampir seluruh tubuhnya membuatnya semakin nggak kekontrol. Akhirnya dia balas yang sama.

Kemudian selesai sesi foreplay, you know lah. Dia banyak main diatas, menguasai ane. Staminanya luar biasa. Tapi untungnya ane pun punya stamina besar. Seimbang dong. Kondisi kamar sudah kacau balau karena kami bermain dihampir setiap sudut ruangan. Posisinya juga macam-macam. pokoknya gila banget deh, sampai 13 kali dalam waktu kurang dari 8 jam. Tapi klimaksnya yang ane khawatirkan gan sis. Khilaf euy. Terucaplah susunan kalimat yang absurd, aneh, tapi sangatlah populer di kalangan milenials, “keluar didalam.” Aneh nggak sih? Keluar, tapi didalam? Apa pulak itu.

“Kok kamu gitu sih?” katanya heran.

“Maaf yank, khilaf. Maafin aku, soalnya kan kita bakalan lama banget LDR-nya, aku kebawa suasana banget yank, padahal tadi sebelum-sebelumnya kan selalu diluar. Tapi kalau jadipun, aku siap. Karena aku emang berjuang pontang panting banting tulang, nyebrang pulau, lintas samudra, itu ya buat perjuangin kamu untuk jadi pendamping hidup aku.” Ane menjelaskan.

“Tapi kamu tahu sendiri kondisiku yank, apa kata keluargaku nanti? Kamu tau kan keluarga aku siapa didaerah ini? Aku mau nikah sama kamu, tapi nggak gitu caranya yank.” Dia masih memprotes.

“Maafin aku yank.” Kata ane seraya memeluknya. Dia menangis.

“2 hari lagi kamu bakal balik lagi ke Pulau Jawa sana dan dalam waktu yang sangat lama, kalau ini bener-bener jadi, aku harus berjuang ditemenin siapa ngehadapinnya?” Katanya.

Diskusi ini kemudian mengarah ke perhitungan masa subur, dan jika kalkulasi kami tidak salah, maka dia sedang tidak dalam kondisi subur. Ane dan dia lega, walaupun tidak sepenuhnya.

“Kamu janji kan, kamu udah insyaf, kamu nggak kaya dulu lagi. Kamu tu beruntung tau nggak sih nggak pernah sampai ada yang jadi. Kita itu sama-sama bukan orang baik, makanya kita dipertemukan dengan cara unik, jangan rusak ini semua ya sayang. Aku nggak tahu lagi siapa yang akan menerima keadaanku yang seperti ini kalau bukan kamu.” Katanya lagi sembari menyeka air matanya, dan ane melihat dirinya begitu lembut dan manis ketika dalam ekspresi seperti itu. Pingin ane karungin terus bawa pulang aja rasanya.

“Iya aku ngerti banget yank. Kamu harus tenang, kendalikan diri kamu dulu.” Ujar ane sambil menyuguhkan segelas air putih.

“Kamu udah lega kan cerita masa lalu kamu udah kamu ceritain di forum? Jadi beban kamu harusnya udah banyak yang keangkat, apalagi sekarang kamu juga udah ada aku, kurang apa lagi?" Kata ane lagi.

“Iya yank, lega banget. Apalagi respon readersnya juga baik, seru, ada yang kasih masukan, ada yang kasih kritik juga, ada yang ngedoain, ada yang PM, bahkan sampe ada yang ngebet banget mau kenal lebih dekat sama aku. Haha.” Kata dia sembari mulai kembali ke raut ceria yang ane selalu dambakan untuk dilihat dari dekat.

“Nah gitu dong, ceria lagi. Udah, kita yakin dan optimis, kita akan menikah dengan cara yang normal.” Kata ane berusaha meyakinkannya.

“Iya sayang.” Katanya singkat sambil memeluk ane. Pelukan hangat yang selalu ane tunggu-tunggu karena pasti ada bonus sumpelan yang berasa banget didada ane. Hahaha. Ngeres aja teruuuss. Setan emang ya.

Lalu ane pun berusaha menaikkan kembali moodnya yang sempat rusak tadi. Sedikit cuddling, melayani apa yang dia mau seperti mau saja disuruh beli mie goreng malam-malam, padahal ketika itu sudah pukul 02.00 WITA, nggak ada pula yang jualan, dan menemaninya sampai tertidur lelap.

I love you, Nda.” Bisik ane sambil mencium keningnya.

Ane pun tidur disampingnya dalam keadaan damai.

--

Esok harinya, karena dia masih cuti kerja, ane banyak menghabiskan waktu bercanda, makan, ribut-ributan kecil, eksplorasi rumahnya untuk mengetahui spot-spot asyik buat “bayar jatah” dan menonton film-film favorit kami berdua dan juga mendengarkan musik-musik kesukaan. Benar-benar terasa indah gan sis. Haha. Tapi keindahan tersebut akan segera berakhir. Ane harus pulang dan kembali ke rutinitas pekerjaan di Jawa. Perjuangan ane untuk rutin menyambanginya di Pulau Kalimantan memang berat, tapi ya ane coba lakukan, walaupun pendapatan ane bekerja pun belum besar-besar amat. Hahaha. Cintaku berat di ongkos ini sih.

“Hmm yank, gimana, boleh nggak aku nulis kisahku?” Tanya ane ke dia.

“Silakan aja yank, kalau itu bikin kamu lega nantinya.” Ujar dia mendukung.

“Yakin kamu? Kisah aku lebih gila dari kamu loh. Kita udah pernah bahas ini panjang lebar” Tanya ane lagi berusaha meyakinkan.

“Hmm, iya aku ngerti. Mungkin awalnya aku tolak banget. Tapi sekarang aku dukung kamu kok yank. Jadi gimana, mau kapan mulai? Aku tau kok kamu udah bikin draft-draft tulisannya.” Kata dia, cukup terkejut juga ane, tahu darimana dia.

“Dih, kok tau-tauan ini aku udah buat draft? Kamu lihat dimana?” tanya ane keheranan karena dia bukan orang yang suka bongkar-bongkar barang ane, apalagi lihat isi laptop atau HP. Saling percaya aja, kata dia selalu.

“Namanya cewek itu pasti tahu macam-macam lah soal orang yang disayanginya.” Katanya sambil tertawa kecil, gila ini manis banget asli pas ketawa-ketawa kecil gini gan sis. Hahaha.

“Jadi bener nih ya, boleh ya, tapi nanti ada part kita juga nggak apa-apa? Ada ++ nya juga nggak apa-apa?” kata ane lagi.

“Boleh, kan kemarin juga kamu udah puasin aku banget, jadi apa sih yang nggak buat kamu” katanya sambil mengerling sok centil ke ane.

“Makasih sayang. Nanti aku diskusiin juga ya buat nulisnya sama kamu via chat kek, medsos kek, VC atau VCS kek, biar kata kita LDR juga kan mesti tetap lancar komunikasinya yank.” Balas ane.

“Apaan itu ada VCS?” selak dia.

“lah kan, tipikal banget ini, dijelasin panjang lebar tentang cara komunikasi kita, taunya yang difokusin satu doang. Hahaha. Geblek.” Hina ane.

“itu penting yank, biar kamu ga mesum terus pikirannya.” Timpal dia.

“Iya sayang. Namanya juga usaha. Nanti kalo si rocky kelaparan kan ga ada yang kasih makan yank, teknologi digital belum sampe keranah itu penemuannya” kata ane asal.

“ada tangan lu b*go!” jawab dia asal juga.

“Dih, apaan sih, pake tangan juga kalo ga ada bahannya ya mana bisa nyembur, elah lu ah.” Bela ane.

“Yaudah deh ah, nggak usah dibahas. Nanti malah ga pernah fokus kamu disana. Urusan itu gampang, tunggu aja kejutan-kejutan dari aku.” Katanya lagi.

Begitulah gan sis, ane akhirnya diizinkan untuk menulis kisah petualangan masa lalu yang menurut ane seru ini. Jadinya fokus ceritanya ya bukan ke perjalanan cinta ane dan Dia gan. Permission granted ladies and gentlemen! Awalnya dia nggak setuju banget, tapi karena kami cukup intens membahas ini, akhirnya ibu polda itu menyetujui. Bahkan mendukung ane dengan berdiskusi masalah tata bahasa, diksi maupun alur atau timeline cerita, dia juga bantu ane ingat-ingat kejadiannya. Tapi tenang saja, ane selalu punya buku semacam diary, isinya ya macam-macam pengalaman hidup ane, dari mulai masa sekolah, kuliah, kerja, cari jodoh dan segala macamnya. Jadi cerita ini kurang lebihnya mengacu ke catatan ane dan memori ane tentang kejadian-kejadian yang tertulis didalamnya. Ane pun berpisah dengannya sementara waktu, dan kami hanya bisa berkomunikasi via chat atau media sosial lainnya untuk saat ini.



Here we go…..

Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
manokdjapati dan 8 lainnya memberi reputasi
9
11-08-2019 06:27
kirain di Bali, ternyata kalimantan.
semangat nulis sampe [tamat] ya.
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1
11-08-2019 09:53
Quote:Original Posted By madiunkaskus
kirain di Bali, ternyata kalimantan.
semangat nulis sampe [tamat] ya.


Haha bukan gan..terima kasih gan, silakan nunggu update ya
0
11-08-2019 17:34
Quote:Aku bukan seorang yang sempurna
Begitu pula dengan dirimu
Aku memiliki cinta untukmu
Namun harus kuakui
Hati kita berdua terbagi

Kubiarkan dirimu berbahagia
Kubiarkan ulas senyummu terkembang
Kubiarkan separuh hatimu disana
Karena aku mencintaimu

Tak bisa melihatmu bersedih
Tak bisa melihatmu berduka
Hatiku terbagi, hatimu terbagi
Hatiku luka, hatimu luka

Diriku selalu menunggumu
Pulang mengisi hatiku
Berharap cinta ini sempurna
Dengan hati kita utuh bersatu

Aku tahu kau mencintaiku
Aku tahu kau ingin memilikiku
Hatiku terbagi, hatimu terbagi
Hatiku untukmu, hatimu untukku

Cinta kita, cinta dalam diam
Cinta kita, cinta dari hati
Cinta kita, cinta seutuhnya
Cinta kita, cinta dalam diam


I LOVE YOU, Nda
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
manokdjapati dan 4 lainnya memberi reputasi
5
11-08-2019 23:16
Awal Kehidupan Kampus_Part 1
Orientasi mahasiswa baru telah berlalu, dan ane baru mengenal beberapa orang dikampus. Ane berkenalan dengan orang yang bernama Tanto. Tanto ini berasal dari Bekasi. Orangnya kalem, religius, tapi kalau diajak rusak juga mau kadang-kadang. Tanto ini ternyata setelah ane tahu satu jurusan sama ane. Kami akhirnya bersama-sama mempersiapkan segala urusan ospek yang melelahkan, dari mulai sekampus, kemudian ospek fakultas dan berakhir pada ospek jurusan yang memakan waktu sangat lama.

Pada ospek fakultas ini, para mahasiswa dari beragam jurusan di fakultas ane dicampur jadi beberapa regu. Tujuannya jelas, untuk mengenal satu sama lain agar satu fakultas bisa menjadi kompak. Bullshit. Satu regu itu ada 20 orang. Ane kebetulan juga satu regu sama si Tanto ini. Kebetulan yang mengasyikkan ya. Selama persiapan ospek fakultas ini ane kemanapun bareng sama si Tanto. Kostan ane awalnya berbeda dengannya, tapi pada semester genap dia pindah ke kostan ane.

Regu ane terdapat 8 orang perempuan muda, ada yang pakai jilbab, ada yang rambutnya tergerai, ada yang pakai ikatan keatas, ada pula yang bondol. Sepertinya ane kurang beruntung karena angkatan ane seperti kekurangan perempuan-perempuan bening yang sesuai selera ane, atau karena fakultasnya bukan ekonomi atau manajemen jadi pada kurang oke, kecuali satu orang. Namanya Zalina. Cewek keturunan arab dan madura yang ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah ane. Searah jalannya dengan ane kalau mau ke kampus.

Pada satu momen persiapan, ane berinisiatif untuk berkenalan dengan Zalina. Ane curhat dulu sama Tanto soal ini. Dasarnya orang culun, dia cuma iya-iya saja ketika ane curhatin.

"To, tau Zalina nggak lo?" Kata ane.

"Oh si Arab?" Cetus dia.

"Iya, dia. Siapa lagi." Lanjut ane.

"Mau ngapain? Kenalan? Ntar juga kenal, kan kita satu regu cuy." Ujar dia santai.

"Yeh, nggak gitu, gue mau sekalian pdkt To sama dia. Cocok ga kira-kira To?" Kata ane dengan pedenya.

"Gobl*k lo. Nggak ngaca muka lo kaya beruk begitu mau deketin cewek incaran kakak-kakak senior kita." Ledek Tanto.

"Dih si a*ji*g, ngapain jadi ngatain gue lo? Namanya juga gue mau usaha, mana tahu beruntung. Kalau beruntung, gue bakal terkenal seantero fakultas To. Hahaha." Kata ane masih kepedean.

"Gue sih terserah lo aja Ja, asal nanti kalau lo ditolak mentah-mentah jangan nangis-nangis ke gue lo ya. Hahaha." Kata Tanto kembali meledek ane.

"Bangke lo To. Iya, gue buktiin To ke lo nanti. Sepanjang hidup gue sampai sekarang, gue belum pernah ditolak cuy. Dulu aja pertama kali gue pacaran gue yang ditembak sama cewek." Ujar ane bangga.

"Oh iya? Sok ganteng lo a*j*ng! Tapi keren juga lo kalo emang benar begitu. Bagi-bagi resepnya lah Ja ke gue." Kata Tanto.

"Beres To, gue pasti ajarin lo dan kasih tips-tipsnya, mudah kok, asal lo pede dan yakin sama potensi diri lo. Gue ga ganteng-ganteng amat plus otak pas-pasan aja bisa, masa lo yang gantengan sama lebih pintar dari gue nggak bisa." Kata ane memuji Tanto.

"Lah emang iya ya? Kok nggak ngeh gue?" Lanjut Tanto.

"Makanya 18 tahun jangan dipake kencing doang tu barang, gobl*k lo ah. Hahaha." Kata ane lagi.

Beberapa hari jelang persiapan dan bahan-bahan serta barang yang harus dipersiapkan sudah dibeli, ane akhirnya memberanikan diri untuk menegur Zalina.

"Hai..." Sapa ane.

"Eh Izy kan?" Sahut Zalina kemudian.

Ane kaget. Dia sudah tahu nama ane. Senang lah pastinya.

"Gue Zalina, dulu sekolah di SMA .. Jakarta. Lo dekat kan dari sekolah gue rumahnya." Lanjut Zalina.

Wow. Makin terkejut lah ane. Dia bahkan sampai tahu rumah ane loh. Gila nih. Hahahaha. Berasa menang banyak ane gan sis.

"Iya kok lo tau?" Jawab ane singkat.

"Iya, gue dapat data-data anak-anak regu kita dari kakak senior yang jadi panitia, terus gue coba baca satu-satu, eh ternyata ada yang alamatnya dekat dengan sekolah gue." Ucap Zalina santai.

"Haha. Kirain lo cari tahu banget tentang gue, Zal. Eh gue panggil lo gitu, apa gimana?" Kata ane.

"Panggil aja Lina. Gue mau lebih kenal teman-teman seregu gue, biar nanti kalau kerjasama enak." Kata dia lagi sambil masih mengurus barang-barangnya di kantin fakultas tanpa melihat ke ane.

Ane langsung merasa kecewa, karena ternyata dia nggak kepoin ane gan sis. Kepedean banget lah ini. Oh iya, ane sedikit kasih deskripsinya si Zalina ini ya. Nama dia cuma satu kata itu doang, Zalina. Muka dia kaya artis-artis timur tengah gitu gan sis, mirip banget sama seleb hollywood Tala Ashe, hidung mancung, rambutnya sebahu, selalu dikuncir keatas dan agak kemerahan, matanya bulat agak kecoklatan, bentuk mukanya agak lonjong dan tirus seperti ane. Tingginya kurang lebih 160-an cm. Anaknya charming banget, sehingga yang melihat dia pun pasti gampang suka dengan dia. Dia anaknya cuek banget. Apa adanya. Pintar? Ya sudah pasti.

Tugas-tugas bodoh ospek mulai membanjiri kehidupan awal di kampus. Sembari mengikuti kuliah, malamnya kami maba-maba ini seperti dikerjai untuk mengurus hal-hal nggak penting atas nama orientasi mahasiswa. Suatu kebodohan menurut ane. Tapi positifnya adalah, ane jadi lebih banyak peluang untuk berinteraksi dengan Zalina. Zalina adalah sekretaris regu, sementara ane adalah ketuanya, ini dipilih berdasarkan kesepakatan seluruh anggota regu. So, bisa ketebak kan? Interaksi ane dan Zalina jadi semakin banyak dan intens.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dennisCS1 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
12-08-2019 11:42
Awal Kehidupan Kampus_Part 2
Ane sudah cukup sering berkomunikasi dan interaksi sama Zalina, secara langsung. Tapi tidak dengan media. Ane penasaran banget kenapa ini anak susah banget ngasih kontaknya ke ane, mau itu nomor HP ataupun PIN BB (dulu masih jaman Blackberry). Disuatu hari, ane lagi di perpustakaan bareng sama dia dan Tanto, selain itu ada Vira dan Ina. Vira dan Ina ini cewek-cewek berkerudung tapi asyik banget buat diajak gaul. Orangnya santai banget, terus omongannya juga nggak dijaga kadang-kadang, sama kayak ane. Haha. Asyik banget lah, apalagi buat curhat. Wah mereka siap banget mendengarkan, tapi ane masih memilih untuk curhat sama Tanto, karena selain satu kostan, satu jurusan juga, jadi kemana-mana kaya biji, dempetan melulu, bareng.

“Lin, gue minta kontak lo dong, biar gampang gue ngehubungin lo.” kata ane ke Zalina

“Kan kita ketemu tiap hari, ngapain masih kontak gue juga lewat HP sih?” Tanya Zalina

“Ya biar gampang kali, kan gue nggak harus nunggu nggak jelas, nebak-nebak lo ada dimana, dan lain-lain yang bikin gue ribet sendiri Lin.” Ane mencoba memberikan pembelaan.

“Udah deh, kalo lo ngerasa ribet, mending nggak usah ngobrol sama gue.” Ujar Zalina santai
Anjir, rese nih anak.

“Dih, nggak bisa gitu lah Lin, lo kan sekretaris gue. Kalo kita susah komunikasi ya nanti repot satu regu kita.” Kata ane.

“Yaudah mau gue kalo interaksi ya langsung. Titik!” Zalina mengakhiri obrolan.
Suasana jadi rada awkward, Vira dan Ina hanya diam sambil melirik satu sama lain. Tanto ngode Lewat mata ke ane buat coba ngobrol lagi sama Zalina.

“Yaudah oke Lin, terus kalo ada apa-apa, gue samperin langsung di Jurusan lo ya, atau gue ke kostan lo.” Kata ane lagi.

“Iya nggak masalah kok, lo pasti bisa nemuin gue, orang-orang juga pasti tau gue lagi ada dimana-dimananya.” Ujar Zalina, seolah memberi ane teka teki.

“Oke deh.” Jawab ane singkat.

Lalu obrolan ringan serta canda tawa terjadi di meja perpustakaan yang cukup besar itu, sampai-sampai kami ditegur oleh petugas perpustakaan karena dianggap terlalu berisik. Setelah kurang lebih 2 jam berada didalam perpustakaan, ane dan empat teman ane memutuskan untuk keluar dan makan. Dari perpustakaan menuju ke kantin yang cukup jauh jaraknya, Vira berjalan bersama Ina dan mengobrol, Zalina sama ane, dan si Tanto sendirian sambil melihat kanan kiri kaya orang linglung.

“Kenapa sih Lin susah banget ngasih kontak? Ada yang salah emangnya Lin?” Tanya ane.

“Nggak kok, gue emang berprinsip untuk nggak mudah memberikan nomor kontak ke siapapun, apalagi yang baru kenal.” Jawab dia.

“Loh kok gitu? Nah kan itu di tugas-tugas ospek sampah yang lo pegang kan pasti ada nomor kontak dan alamat, itu bisa lo taroin nomor disitu.” Kata ane.

Zalina membuka tasnya dan menunjukkan buku ospek dan membuka halaman pertama yang isinya biodata, dan ada pas foto ditempel disitu.

“Nih.” Kata dia sambil menunjukkan bukunya ke ane.

“Lah anjir kosong. Lo nggak takut diomelin senior kalo biodatanya banyak yang lo kosongin gini, mana alamat cuman ditulis Jakarta doang lagi. Haha.” Ujar ane takjub sekaligus bingung.

“Gue nggak suka Ja kalo terlalu ngumbar kayak gituan untuk umum.” Jawabnya singkat.

“Kenapa? Oke deh, lo kan juga udah kenal gue juga, walaupun belum lama. Masa lo nggak percaya gue Lin?” tanya ane.

“Gue belum mau Ja. Nanti kalo gue udah cukup mengumpulkan kepercayaan, baru gue kasih.” Jawabnya lagi.

“Kapan? Nunggu ospek brengsek ini selesai? Sampai kita lulus? Nanti kita nggak intens lagi dong.” Kata ane.

“Gue nggak tahu. Tapi emang lo pikir kita intensnya cuman sampai ospek ini doang?” Tanya dia.

Ane kaget. Kok berasa di kode ya. wah ane senang gan sis. Haha.

“Ha? Ya nggak lah. Kita bakal kontak terus dong, ngobrol, jalan dan lain-lainnya. Masa temenannya pas begini doang?” Ujar ane.

“Temenan doang lo yakin Ja?” Tanya dia singkat.

Ane diam seribu bahasa, mau balas omongan dia, ane sudah keringat dingin duluan karena kaget dengan pertanyaan singkat tapi penuh makna yang bisa ambigu juga ini. Lama banget ane diam, dia juga diam saja sampai perjalanan kami sudah hampir menuju ke tujuan.
Belum sempat ane balas jawab, ternyata kami sudah sampai di kantin. Kami pesan makanan dan minuman. Zalina pun seperti lupa dengan pertanyaannya tadi ke ane, jadi akhirnya ane memutuskan untuk nggak melanjutkan lagi pembahasannya. Kami makan dengan lahap, terutama cewek-cewek ini termasuk Zalina. Makannya banyak banget gan sis, padahal mereka badannya pada kurus-kurus. Nggak nyangka ane. Selesai makan akhirnya kami berpisah karena Vira dan Ina akan kuliah mata kuliah jurusannya, ane sama Tanto nggak ada kuliah siang, dan Zalina juga ada kuliah bareng dengan jurusan lain tapi masih di satu fakultas.

“Tadi gue ngobrol sama Zalina, eh terus dia masa nanya ke gue, masa mau temenan doang? Gitu To. Anjir ga lo.” ane memulai obrolan dengan Tanto sembari jalan.

“Hah? Gimana-gimana? Kok gue nggak mudeng.” Kata Tanto.

Ane pun menjelaskan obrolan singkat ane dan Zalina tadi.

“Seriusan lo? dia nanya begitu. Jangan-jangan dia demen ama lo Ja. B*ngs*t juga lo. hahahaha.” Kata Tanto sambil tertawa, padahal tidak ada yang lucu.

“Gue nggak tau, belum sempet gue jawab kita udah sampai kekantin dan langsung pesan makan. Obrolan si Zalina tadi di kantin juga nggak ada nayngkut-nyangkutin masalah itu kan? Adanya dia malah ketawa-ketawa pas gue nyeletuk-nyeletuk sambil ngata-ngatain orang-orang lewat kan. Haha.” Kata ane.

“Iya sih. Misterius juga tu cewek ya. nggak bisa ketebak arah pemikirannya.” Timpal Tanto.

“Cewek emang rumit ya, apalagi yang bening kaya gitu. Gue malah sempet mikir dia begitu karena buat proteksi dia loh, karena takutnya banyak laki-laki yang cuman main-main atau deketin dia karena fisiknya doang. Ribet tau punya muka ganteng atau cantik tu sebenernya.” Lanjut ane.

“Masa sih sampe segitunya pemikirannya?” Ucap Tanto heran.

“Ya nggak tau juga sih. Tapi mungkin aja kan? Yang punya fisik bagus tapi nggak sadar kan cuma lo doang To kayanya. Gobl*k lo emang. Hahaha.” Kata ane sambil meninju lengan Tanto.

“Sebenernya gue udah punya cewek tau Ja. Hahaha. Lo aja gobl*k percaya-percaya aja gue bilang jomblo.” Hina Tanto penuh kemenangan.

“Dih kok lo nggak ngaku pas awal-awal kita kenal? Bangke juga lo.” Ujar ane nggak terima.

“jangan Ja, gue takut ntar lo rebut. Hahahaha. Eh tapi seriusan Ja, aura lo itu aura orang-orang yang bisa narik cewek untuk mendekat. Anjir lah. Makanya gue takut Ja. “ Tanto menjelaskan.

“Dih ya nggak gitu lah. Gue juga nggak segila itu kali. Haha. Mana coba liat cewek lo? Siapa namanya To?” tanya ane.

“ini. Namanya Riana.” Tanto mengeluarkan foto dari dompetnya sambil menunjukkannya ke ane.

Riana ini tidak terlalu cantik kalau menurut ane, tapi senyumnya manis. Mukanya bulat, agak chubby sepertinya ya. Dia ternyata sudah berpacaran dengan Tanto sejak kelas 2 SMA.

“Gue cinta banget sama anak ini Ja, makanya gue protektif. Termasuk dari lo yang gue pikir adalah predator. Haha. Gue nggak mau dia sama yang lain. Belum tentu juga gue kuat lihat dia kalo nggak sama gue. Dia masuk (kampus) sini juga kok.” Ujar Tanto.

“Dih brengs*k juga lo. Gue nggak kaya gitu kali. Belum aja mungkin. Hahaha.” Timpal ane singkat yang di iringi tawa kami berdua.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dennisCS1 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
12-08-2019 12:55
kalo menurut ane, Zalina tu tantangan.
misterius & susah didapat.
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
12-08-2019 13:08
Balasan post madiunkaskus
Quote:Original Posted By madiunkaskus
kalo menurut ane, Zalina tu tantangan.
misterius & susah didapat.


haha iya emang benar gan. sulit ditaklukan.. hahaha
Diubah oleh yanagi92055
0
12-08-2019 14:30
Awal Kehidupan Kampus_Part 3
Akhirnya rangkaian ospek fakultas akan berakhir. Pada hari terakhir ospek itu ada semacam award yang akan memilih peserta-peserta ospek yang dirasa punya perbedaan dan lain sebagainya. Nggak penting. Ane dan Tanto sudah siap dari habis subuh. Sehabis salat subuh berjamaah di Kostan bersama dua orang penghuni lainnya, yaitu Adi S dan Adi F, kami mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan laga. Diperjalanan menuju ke lokasi kami bertemu dengan Zalina. Dia kelihatan culun banget. Pakai kemeja putih kebesaran dengan rok panjang hitam itu mengingatkan ane seperti orang-orang yang lagi ditraining untuk kerja ditempat baru ya. haha.

“Hai.” Sapa ane ke Zalina

“Hai, Ja. Udah siap?” Balas dia.

“Siap dong. Lo gimana, udah siap semua perbekalan dan segalanya?” tanya ane lagi.

“Beres semua udah. Pokoknya tinggal tempur aja ini. Haha.” Katanya sambil tertawa kecil. How cute.

“Gue Adi F.” tiba-tiba si Adi F menyelak obrolan kami.

“Zalina.” Kata dia sambil menyodorkan tangannya.

“Gue dari regu 19, lo sekelompok sama dua kampret ini ya? Sungguh nggak beruntung lo ya. hahaha.” Ujar Adi F sambil meledek ane dan Tanto.

“Hahaha. Iya bener, tapi lumayan lah ada dua orang yang mukanya rada bener dikit dikelompok gue, jadinya gue nggak bosen.” Kata Zalina santai.

Apa? Mukanya bener? Muka kayak gimana nih yang masuk kategori “bener” menurut dia. Ane inisiatif nanya.

“Lin, siapa yang maksud lo mukanya rada bener?” Tanya ane.

“iya siapa sih? Kan diregu kita cuman ada gue sama Ija doang yang lagi bareng lo, berarti kita dong? Hahaha.” Timpal Tanto.

“Iyalah b*go, siapa lagi.” Balas Zalina santai tanpa melihat ke arah kami berdua.

Ane sama Tanto langsung nyengir penuh kemenangan ke arah Adi F, si bocah asal Lombok yang super pintar otaknya, tapi kelakuannya rada absurd. Badannya nggak terlalu tinggi, hampir setinggi Zalina, rambutnya kriting sampai susah disisir, kulitnya sawo matang, dan kalau lagi ngelawak nggak pernah lucu. Tapi nasib anak ini kini luar biasa, sudah memimpin perusahaan di umurnya yang masih muda, dengan jerih payahnya sendiri, bukan meminta orangtuanya. Salut.

Adi S. yang sedari tadi juga ikut berjalan bersama kami tidak banyak bicara, padahal ini bakat melawaknya sangat natural, entah apa yang dia pikirkan saat itu. Dia adalah seorang mahasiswa asal Indramayu, tingginya 180-an cm, tegap, berisi dan kekar, kulit sawo matang banget, karena dia adalah seorang anak nelayan dan kehidupannya memang dihabiskan dipesisir pantai. Anak ini juga memiliki otak yang super encer, tapi terkadang oportunis. Kuliahnya ditopang dari beasiswa prestasi yang didapatkannya. Sungguh hebat teman-teman ane ini gan sis.

Ane sebetulnya juga nggak dodol-dodol amat sekolah, buktinya ane bisa masuk ke Kampus ini kan. Tapi begitu sampai disini, ane jadi berasa gobl*k sendiri gan sis, karena disini orang pintar aja nggak cukup. Banyak yang super-super otaknya, dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri, para pemuda pemudi berbakat ini kemudian memperkaya ilmunya demi mensejahterakan bangsa ini, dimulai dari menaikkan derajat keluarganya dahulu, kemudian dirinya sendiri, lalu baru berbuat untuk bangsa ini. Kampus ane merupakan kampus ramah orang yang kurang mampu. Karena waktu itu biaya kuliah masih terjangkau, juga banyak sekali penawaran beasiswa pendidikan yang meringankan beban mahasiswa. Akhirnya teman-teman ane banyak sekali yang berkuliah disini mengandalkan otaknya, karena mereka dari kalangan bawah biasanya gan sis. Hebat perjuangan mereka.

Sesampainya di medan laga, ane berkumpul bersama regu ane ditempat yang sudah disediakan, yaitu nama regu sudah ada dipatok tertentu yang ditancapkan ditanah. Kami menuju kesana dengan didampingi beberapa senior panitia, ada yang biasa aja, ada yang tampangnya bengis kayak singa, ada juga yang jelalatan karena melihat Zalina dan mungkin Vira. Vira ini termasuk lucu juga gan kalau dilihat-lihat. Nggak terlalu tinggi, mukanya bulat, mata dibalik kacamatanya bulat lucu kayak loli, udah gitu cerewet banget gan sis. Sayang sekali dia sudah punya pacar ketika itu, dia LDR-an sama pacarnya di Kebumen, Jawa Tengah sana, sementara dia merantau ke kampus ane.

Kami sudah bersiap ditempat yang sudah ditentukan. Kami sudah nothing to lose untuk rangkaian ospek yang memuakkan dan membosankan ini. Akhirnya kami disuruh untuk mengelilingi fakultas kami dengan pemberhentian di tempat-tempat tertentu. Ada pos lah istilahnya. Kami sudah pasrah untuk dikerjai, dimarah-marahi nggak jelas, dan pada akhirnya ada perjuangan fisik yang membuat Vira sempat pingsan karena kelelahan. Ane sebagai ketua regu merasa bertanggungjawab. Ane berinisiatif untuk menggendong Vira ke pos kesehatan, yang ternyata jaraknya lumayan jauh dari tempat Vira pingsan. Sementara ane membawa Vira, rekan-rekan regu ane lainnya melanjutkan perjalanan mereka, yang kali ini dipimpin oleh teman ane bernama Berli, menggantikan ane. Vira ternyata cukup berat gan sis. Ane berpikir anaknya kecil ini, pasti nggak susah lah buat diangkat. Memang pas diangkat ga susah, pas digendongnya gempor gan sis.

Ternyata ditengah perjalanan menuju ke pos kesehatan Vira sudah siuman.

“Lo pingsan Vir, sebentar gue angkut ke poskes ya.” Ane memberitahu Vira

“Dimana ini Ja? Aduh kepala gue puyeng banget.” Kata Vira dengan logat jawanya yang cukup medhok.

“Udah lo tenang aja ya. sampai di poskes baru deh lo banyakin tu nanya-nanyanya.” Kata ane lagi.

“Makasih ya Ja. Tapi kok lo sendirian? Yang lain ga ada yang bantu?” Tanyanya lagi.

“Yang lain udah gue suruh duluan aja. Karena gue pikir lo ringan jadi bisa gue angkat sendiri, ternyata lo berat juga ya. gempor gue.” Sahut ane.

“Maaf ya, gue emang keliatannya aja kecil, padahal berat badan gue emang lumayan kok, makanya gue mau diet. Hehehe.” Kata Vira

“Bagus deh, biar ngurangin beban hidup gue. Hahaha.” Ujar ane asal.

Vira cuman nyengir aja dan tiba-tiba tangan kanannya yang tadi ada di posisi terlempar-lempar kebawah meraih tengkuk ane. Otomatis ane kaget. Tapi nggak apa-apa, soalnya ane pikir ane juga berat bawa dia, kalau dia nggantungin tangannya ditengkuk ane, jadinya lebih ringan.

Sesampainya di pos kesehatan ane kaget ternyata sudah ada Zalina disitu. Tapi ane konsentrasi buat nurunin Vira dan melapor kejadian yang dia alami tadi. Zalina diam saja nggak berbuat apa-apa. Dia hanya memandangi ane saja dari mulai menurunkan Vira sampai selesai melaporkan kronologi, terus juga menjelaskan data diri Vira.

“Lin, lo ngapain ada disini? Harusnya kan lo gabung sama anak-anak tadi.” tanya ane.

“Nggak ngapa-ngapain, gue cuman mastiin Vira lo bawa kesini, bukan ke semak-semak.” Jawabnya.

“Dih kok lo mikir negatif gitu sih ke gue Lin? Gue salah apa sih sama lo?” Tanya ane kesal

“Lo nggak salah kok, gue cuman takut aja kan dikata.” Jawab Zalina lagi.

“gue bukan orang maniak yang nyari kesempatan dalam kesempitan Lin asal lo tau. Gue begini karena tanggungjawab gue sebagai ketua regu!” Ucap ane agak emosi.

“GUE TAU!” kata Zalina sedikit membentak, lalu pergi begitu saja. Ekspresinya membuat ane bingung.

Ternyata ada salah seorang senior yang melihat kejadian ini. Senior ini dua tahun diatas ane. Dia dari jurusan teknik. Badannya kecil kurus, nggak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160-an cm juga, kulitnya coklat, mukanya kusam, matanya agak beler kaya orang mabuk, dan ditangannya juga ada rokok yang sudah dibakar. Nggak terlalu ganteng, bahkan lebih pas seperti gelandangan. Kemejanya lusuh, dan memakai celana jeans yang robek dibagian lutut. Pakai sendal pula ini orang.

“Ngapain ribut disini lo?” Tanyanya.

“Nggak bang, salah paham aja itu.” Jawab ane.

“regu berapa lo?” tanyanya lagi.

“Regu 8 bang.” Jawab ane.

“Hati-hati lo ya.” dia memperingatkan.

“Oh iya bang, gue akan hati-hati.” Kata ane.

Dia pergi begitu saja. Ane berpikir, ini orang mabuk apa gimana? Dateng nggak jelas darimana, tiba-tiba ngajak ngobrol dan bilang hati-hati. Apaan ini orang maksudnya.
Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
vchiekun dan 8 lainnya memberi reputasi
9
12-08-2019 18:27
udah kena peringatan kakak kelas aja gan.
lanjut lagi gan.

boleh kasih tau link dari trit cewek ente gak gan? jadi penasaran....
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1
12-08-2019 23:00
Quote:Original Posted By Alea2212
udah kena peringatan kakak kelas aja gan.
lanjut lagi gan.

boleh kasih tau link dari trit cewek ente gak gan? jadi penasaran....


Haha iya nih.

Katanya yang bersangkutan bilang jangan. Biar aja disini seru-seruannya hehehe...
0
12-08-2019 23:18
Numpang pasang tenda
Bakar sate edisi idul adha

Awas aja muncul kentang yahhh
profile-picture
yanagi92055 memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
13-08-2019 11:55
Balasan post alofar
Quote:Original Posted By alofar
Numpang pasang tenda
Bakar sate edisi idul adha

Awas aja muncul kentang yahhh


haha silakan gan.....wah kentang udah disiapin nih tinggal disajiin wkwkwk
0
13-08-2019 11:58
Respon Aneh
Akhirnya rangkaian ospek fakultas berakhir dan Zalina terpilih sebagai peserta ospek terbaik. Kenapa terbaik? Karena memang anak ini mempersiapkan dengan baik semua yang diminta oleh panitia, menjalani dengan baik rangkaian ospeknya, dan tentu saja, ramah terhadap kakak senior. Efek dari sini adalah, ada beberapa senior cewek yang nggak suka. Normal lah ya, ngiri sama cewek kece yang baru masuk ke kampus dan bisa menarik perhatian para senior cowok yang mungkin aja ada yang disukai senior cewek kan.

“Gimana rasanya jadi peserta terbaik?” tanya ane ke Zalina

“Biasa aja nggak ada yang spesial.” Jawabnya santai.

“Serius lo? kan seru tau lo jadi makin terkenal deh seantero fakultas.” Tanya ane lagi.

“Percuma, adanya nanti gue bisa di teken sama senior-senior cewek kali.” Jawab dia.

“Iya juga sih, tapi tenang aja Lin, gue siap jagain lo kok kalau ada yang coba ganggu lo.” Tawar ane, sekalian modus.

“Makasih Ja, tapi kayaknya gue ngerasa aman-aman aja kok, banyak senior yang baik juga sama gue.” Sahut dia lagi.

“Ya seenggaknya kalau ada gue, gue bisa memastikan lo aman, the real aman. Hehehe.”

“iya, makasih. Lo selalu baik sama gue Ja. Hhm…tapi, apa lo kayak gini juga ke cewek lain Ja?” Tanyanya yang mengagetkan ane.

“Namanya juga teman Lin, kalau ada kesusahan ya gue coba bantuin. Gue berusaha baik ke siapapun Lin.” Jawab ane.

“Oh gitu ya, berarti posisi gue sama aja kayak orang lain yang lo perlakukan sama baiknya ya Ja?” Tanya dia lagi.

“Hmm…eeeh, gimana ya? Gue emang mencoba baik sama semua orang Lin. Tapi lo beda.” Jawab ane sambil kebingungan.

“Beda gimana Ja? Katanya lo perlakukan hal yang sama untuk semua orang.” Kata dia.

“Ya beda Lin, lebih spesial aja. Hehe.” Kata ane lagi.

“Kok gue nggak ngerasa lo spesialin?” Tanya dia lagi.

Mampus. Ane bingung harus jawab apa ini.

“Hmm, nggak berasa ya? mau gue bikin yang lebih berasa biar lo ngeh nggak?” Tanya ane.

“Mau nggak ya? terserah lo, senyaman lo aja.” Kata dia lagi, seperti biasa, membuat seolah seperti teka teki.

Sejurus kemudian ane mengambil tangan kanan dia, dan ane cium punggung tangannya.

“Udah lebih berasa?” tanya ane.

Dia hanya diam saja, ekspresinya datar. Dia berjalan meninggalkan ane, menuju ke kostannya. Ane ikuti dibelakangnya, sambil ane panggil-panggil sembari meminta maaf berkali-kali karena lancang, tapi dia hanya diam saja. Begitu terus ane seperti orang bodoh yang lagi ngemis cinta ke cewek populer di angkatan ane. Banyak yang melihat kejadian itu, sehingga banyak pula omongan yang menghina tapi tidak sedikit pula yang mendukung.

Sesampainya dikostannya, dia masih diam saja. Kostannya itu berbentuk kamar-kamar, khusus perempuan tapi agak bebas karena tidak ada penjaganya. Terdiri dari dua lantai dengan total kamar 30. Bentuknya kayak SD Negeri gitu gan sis bangunannya. Sepertinya kostan ini masih baru, kurang lebih mungkin baru setahunan berdiri. Kamar dia tidak pakai AC, melainkan kipas angin, kamar mandi berbagi. Para pria pengunjung biasanya duduk diteras depan kamar, sembari menunggu untuk dipanggil kedalam kamar, mungkin mau terima jatah kali ya. hahaha. Banyak cewek-cewek alim (kelihatannya) yang berkerudung kost disini. Tapi kalau urusan pacaran, bisa dikompromiin lah. Haha. Sama-sama tahu aja generasi muda jaman sekarang.

“Lo ngapain ngikutin gue sampai sini?” Tanya Zalina datar.

“Ya lo nggak ngomong apapun daritadi. Gue ngerasa bersalah dan udah berusaha minta maaf tapi lo cuekin Lin.” Jawab ane.

“Norak lo!” Kata Zalina lalu masuk kedalam kamar dengan sedikit membanting pintu.

Ane cuma bisa diam kemudian meninggalkan kostannya. Kostan ane dan dia sangat jauh, dan ketika itu ane tidak membawa uang sama sekali dari habis acara puncak ospek, jadilah ane jalan lumayan jauh, pakaian culun dan kumel, plus hati yang nggak jelas ini. Ane bertanya-tanya, ini anak sebenarnya senang nggak sih diperlakukan spesial oleh ane? Kurang apa ane, semua ane lakukan demi dia. Bahkan ane kalo lagi ngelawak aja dia ketawa juga kok. Tapi kalau kami sedang ngobrol berdua, dia lebih kayak orang nggak semangat, kadang jutek banget, walaupun kadang ceria juga. Ah memang misterius anak ini. Tapi justru itu yang bikin ane penasaran.

Diubah oleh yanagi92055
profile-picture
profile-picture
profile-picture
manokdjapati dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Halaman 1 dari 98
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-seorang-hacker
Stories from the Heart
kuntilanak-itu-istriku
Stories from the Heart
a-road-to-be-me
Stories from the Heart
ustad-in-love
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.