alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4ac0996df23138ac4158df/elang-mataram
Lapor Hansip
07-08-2019 19:14
Elang Mataram
Past Hot Thread
Hai hai saya kembali dengan cerita baru setelah "Wasiat Iblis" yang terdiri dari 100 episode terbit di ceritera.net tamat. Kali ini saya kembali dengan cerita silat (Action) fiksi sejarah yang berlatar pada masa awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam atau lebih tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Senopati. Oke langsung saja ini sinopsisnya :

Cerita bermula pada penyerbuan pasukan Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo pada Jipang Panolang. Menurut Ki Juru Mertani sang ahli strategi dari Selo, agar peperangan cepat berakhir, maka mereka harus bisa sesegera mungkin membunuh Arya Penangsang sang Pemimpin Jipang. Ia pun menyuruh Sutowijoyo putra sulung Ki Pemanahan untuk menghadapi Arya Penangsang, sementara jagoan kerabat Selo lainnya, Ki Wirojoyo diminta untuk menghadapi Ki Mentahun sang Patih Jipang, dan Ki Surokerti untuk menghadapi Arya Mataram adik Arya Penangsang.

Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang dan Jipang Panolang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.

Putra bungsu Ki Wirojoyo berhasil diselamatkan oleh Ki Suradipa, seorang pertapa sakti dan aneh yang bergelar Si Burung Mayat dari Karang Hantu. Ia pun diangkat menjadi murid si Burung Mayat. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suradipa pun memerintahkan agar Putra Ki Wirojoyo tersebut untuk menumpas kelompok Kelelawar Hitam dan mengambil keris pusakanya yang telah dicuri oleh Ki Rono Tikusilo sang pemimpin kelompok tersebut yang ternyata adalah mantan muridnya.

Maka dimulailah pengembaraan Putra Ki Wirojoyo untuk melaksanakan tugas dari gurunya sekaligus untuk memburu dendamnya. Karena pemuda ini kerap memainkan seruling yang ia dapatkan dari pembunuh keluarganya maka ia dipanggil dengan nama Joko Suling. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Retno Wulan yang ternyata adalah Kakak kandungnya yang selamat dari pembantaian 10 tahun yang lalu, dan ia masuk ke kesatuan Prajurit Kajineman Mataram untuk menyelidiki kelompok Kelelawar Hitam. Nasib pun membawanya terlibat dalam perang antara Mataram melawan Pajang sebelum menjalan tugas gurunya sekaligus membalas dendamnya.

Oke berikut ceritanya, semoga bisa berkenan buat para Agan2 & Aganwati2 emoticon-Big Grin

Episode 1 - Prolog

Episode 2 - Gugurnya Arya Penangsang

Elang Mataram Episode 3 - Tanah Perjanjian

Episode 4 - Jayengrono Dan Sekar Arum

Episode 5 - Kelelawar Hitam

Episode 6 - Awal Dendam Kesumat

Episode 7 - Awal Dendam Kesumat (2)

Episode 8 - Burung Mayat Dari Karang Hantu

Episode 9 - Wasiat Ki Ageng Mataram

Episode 10 - Ki Surokeri Dan Ki Rono Tikusilo
Diubah oleh farizpradipta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
b4perman dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
07-08-2019 19:16
Elang Mataram Episode 1– Prolog
Elang Mataram
Episode 1– Prolog

Setelah terbunuhnya Sunan Prawoto oleh Ki Rungkud utusan Arya Penangsang Kesultanan Demak terpecah menjadi dua, Arya Penangsang memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Jipang, sementara menantu Sultan Trenggono, Mas Karebet pun mendirikan sebuah negara baru di pedalaman tepatnya di wilayah Pengging yang kemudian diberi nama negeri Pajang. Pendirian negeri Pajang dan pengangkatan Mas Karebet menjadi Sultan bergelar Sultan Hadiwijoyo ini didukung penuh oleh seluruh kerabat Sultan Trenggono, terutama Ratu Kalinyamat dan Pangeran Timur. Sementara Arya Penangsang mendapat dukungan dari Sunan Kudus dan Sunan Drajad.
Ketegangan antara Sultan Hadiwijoyo dengan dengan Arya Penangsang alias Haryo Jipang berkembang menjadi perang besar yang terjadi pada tahun 1480 Saka atau tahun 1558 Masehi. Bagi Pajang penghancuran Jipang Panolang sangat menentukan untuk mengembangkan sayap kekuasaannya di tanah Jawa, setelah Kesultanan Demak runtuh digerogoti perang saudara antara keturunan Raden Fatah, dan Pajang adalah negeri penerusnya.

Demikianlah, seperti yang diceritakan dalam serat Babad Tanah Jawa serta Serat Kanda, pertempuran besar mereka terjadi di tepi Bengawan Sore pada suatu siang. Pasukan Jipang kala itu dipimpin oleh Arya Penangsang yang merasa terhina oleh surat tantangan dari Sultan Hadiwijaya yang sebenarnya adalah surat palsu yang ditulis oleh Ki Juru Mertani, seorang kerabat Selo yang menjadi ahli strategi Pajang. Sedangkan kekuatan Pajang yang dibantu oleh ratusan kerabat Selo, dipimpin oleh Ki Ageng Pemanahan bersama Ki Penjawi.
Waktu itu kekuatan Jipang yang dibantu oleh kekuatan Bang Wetan* lebih unggul dari kekuatan Pajang yang merupakan Negeri baru yang hanya dibantu oleh kerabat Selo serta sisa-sisa kekuatan kadipaten Jepara, Jipang juga lebih unggul dalam hal persenjataan karena memiliki lebih banyak meriam. Hal ini membuat Ki Juru Mertani berpikir keras untuk mencari taktik yang tepat demi memenangkan peperangan ini. (Bang Wetan = Jawa Timur. Waktu itu negeri-negeri kecil dan Kadipaten-Kadipaten bawahan Demak di Jawa Timur yang tidak menyukai pemerintahan Sultan Trenggono, memihak Arya Penangsang)

Ki Pemanahan selaku pemimpin kekuatan Pajang, menatap nanar jalananya peperangan dari atas kudanya. Ia merasa gelisah ketika melihat kekuatan Pajang mulai dipukul mundur oleh kekuatan Jipang. Ia pun langsung mengutarakan kegelisahan hatinya kepada Ki Juru Mertani. “Adi Juru, nampaknya kekuatan kita tidak sanggup memukul kekuatan mereka, malah kita yang mulai didesak mudur! Bagaimana?”
“Benar Adi Juru, padahal Aryo Penangsang belum turun tangan, apa yang harus kita lakukan?” sambung Ki Penjawi yang ikut menyuarakan kegelisahan hatinya.

Ki Juru Mertani terdiam sejenak, kemudian dia menatap pasukan meriam Jipang yang berada di sebrang Bengawan Sore yang dipimpin oleh Patih Jipang Ki Arya Mentahun. Kemudian pria paruh baya ini mengangguk-ngangguk dan menoleh pada Ki Wirojoyo, salah seorang jagoan andalan kerabat Selo yang ternama panda berkuda sehingga dipercaya untuk memimpin pasukan berkuda.
“Adi Wirojoyo, bawa setengah pasukan berkudamu untuk berputar menyebrangi Bengawan Sore, kemudian bokong pasukan Guntur Geni* itu dari belakang!” (Guntur Geni = Meriam. Watu itu orang Jawa menyebut Meriam dengan sebutan Guntur Geni)
Ki Wirojoyo mengangguk mendengar pengarahan dari ahli strategi keluarga Selo yang ternama amat cerdik tersebut. “Baik Kakang Juru!” Tanpa banyak bicara lagi, ia segera mengerahkan setengah kekuatan pasukan berkudanya ke garis belakang, kemudian menyebrang sungai Bengawan Sore dari kawasan yang agak jauh dari medan pertempuran.

Ki Juru lalu menatap seluruh Senopati perang yang semuanya terdiri dari para kerabat Selo tersebut. “Sambil menunggu pasukan Adi Wirojoyo sampai ke sebrang dan membokong pasukan Guntur Geni mereka, kita harus memecah kekuatan Jipang terlebih dahulu!”
“Baik Adi Juru, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ki Pemanahan.

“Pasukan kita di tengah harus berpura-pura terdesak dan terus mundur sehingga pasukan Jipang akan mengejar kita dan terpusat pada bagian tengah pasukan kita. Setelah pasukan mereka terpancing oleh pasukan tengah kita, pasukan di sayap kanan dan sayapp kiri kita akan menusuk mereka dari dua bagian sayap! Untuk itu kita rubah gelaran Garuda Ngelayang* kita menjadi Wulan Canggal!*” jawab Ki Juru. (Garuda Ngelayang = Gelaran perang dimana prajuritnya berbaris menyerupai paruh dan kedua sayap garuda yang sedang terbang). (Wulan Canggal = Gelaran Perang dimana prajuritnya berbaris membentuk Bulan Sabit).

“Bentuk Wulan Canggal! Adi Surokerti pimpin sayap kiri, dan Adi Penjawi pimpin sayap kanan!” perintah Ki Pemanahan pada Ki Surokerti yang merupakan salah satu jagoan kerabat Selo selain Ki Wirojoyo dan Ki Penjawi adik angkatnya.

Dua kesatria dari Selo itu pun segera melaksanakan perintah Ki Pemanahan. Ki Surokerti segera ke sayap kiri, dan Ki Penjawi ke sayap kanan. Ki Pemanhan yang memimpin pasukan inti Pajang di tengah, segera berpura-pura mundur karena terdesak. Seperti yang telah diperkirakan oleh Ki Juru, pasukan Jipang segera memusatkan kekuatan mereka ke bagian tengah pasukan Pajang.

Di saat yang bersamaan, pasukan berkuda Pajang yang dipimpin oleh Ki Wirojoyo telah sampai ke sebrang sungai Bengawan Sore dan langsung membokong pasukan meriam Jipang yang dipimpin oleh Ki Patih Mentahun. Ki Patih Mentahun dan pasukan meriamnya terkejut mendapati bokongan tersebut, hingga terpaksa meninggalkan meriam-meriam mereka. Pasukan-pasukan penembak meriam itu segera menghunus pedang dan tombak mereka untuk mempertahankan diri dari gempuran pasukan Ki Wirojoyo.

Di belakang barisan inti pasukan Jipang, Arya Penangsang dan adiknya Arya Mataram terkejut menyaksikan bokongan pasukan kuda Ki Wirojoyo yang berhasil membuat pasukan meriam Patih Mentahun menjadi kocar-kacir! “Wirojoyo berhasil membokong dan menghancurkan pasukan meriam kita!” keluh Arya Mataram.

“Laknat! kerahkan inti kekuatan kita untuk balas memukul pasukan Wirojoyo! Mumpung mereka telah melanggar pantangan untuk menyebrang Bengawan Sore dan jauh dari induk pasukan mereka, kita bantai habis mereka!” geram Arya Penangsang.

“Jangan Kakang! Bisa jadi itu hanya pancingan!” Arya Mataram menyuarakan ketidak setujuannya. “Sebaiknya kita pusatkan pasukan kita untuk segera menggempur induk pasukan mereka. Lihat, bagian tengah induk pasukan Pajang mulai terdesak oleh pasukan kita! Sebaiknya kita kita pusatkan seluruh kekuatan untuk menggempur bagian tengah pasukan kita!” usul adik Arya Penangsang tersebut.

“Baik! Kalau begitu kerahkan seluruh kekuatan untuk menggempur bagian tengah kekuatan Pajang! Sebrangkan seluruh inti kekuatan kita! Aku sendiri yang akan memimpin pasukan kita!” perintah Arya Penangsang yang sudah amat bernafsu untuk segera menyelesaikan peperangan ini dan langsung balik menyerbu Pajang, sehingga ia menjadi amat bernafsu dan tak dapat berpikir jernih.

Haryo Jipang langsung memimpin seluruh inti kekuatan Jipang yang amat besar tersebut menyebrangi sungai Bengawan Sore. Saat itulah Arya Mataram seolah baru menyadari kecerobohannya, ia lupa pada sebuah wiyatuya* kuno, bahwa barang siapa yang lebih dulu menyebrang sungai Bengawan Sore dalam satu pertempuran, maka akan mendapat celaka. Namun terlambat, kakaknya sudah memimpin seluruh inti kekuatan Jipang menyerangi sungai Bengawan Sore, maka ia pun terpaksa ikut menyebrang untuk mendampingi kakaknya. (*Wirayatuya = Ramalan)

Sementara itu di barisan inti pasukan Pajang, Ki Juru Mertani melihat bahwa taktiknya telah berhasil untuk memancing Arya Penangsang dan seluruh induk pasukan Jipang memusatkan perhatiannya ke bagian tengah induk pasukan Pajang. Ia pun segera memberi aba-aba pada Ki Pemanahan. “Kakang Pemanahan, sekaranglah saatnya!”

Ki Pemanahan mengangguk, ia kemudian bersuit menggunakan tenaga dalamnya sehingga suaranya bergema kemana-mana dan terdengar oleh telinga Ki Surokerti dan Ki Penjawi yang berada di ujung sayap kiri dan kanan kekuatan Pajang. Kedua jago kerabat Selo itu segera memberi aba-aba agar pasukan mereka yang berada di sayap, segera bergerak ke tengah untuk menjepit kekuatan Jipang.
Lagi-lagi taktik Ki Juru Mertani berbuah gemilang, kekuatan Jipang berhasil dijepit dari kedua sisi sayap, dalam sekejap saja mereka langsung terdesak akibat jepitan kekuatan Pajang dari kedua sayap tersebut. Hal ini membuat Aryo Penangsang semakin geram dibuatnya. “Jahanam! Taktik licik!” makinya.

“Wahai seluruh prajurit Jipang! Jangan ada yang berani mundur! Siapapun yang mundur akan kutebas lehernya! Terus gempur baik-baik dari Pajang itu sampai tetes darah kalian yang terakhir!” perintah Arya Penangsang sekaligus mengancam seluruh pasukannya. Sementara Arya Mataram hanya bisa terdiam karena ini adalah kesalahan taktiknya, apalagi sekarang mereka sudah terlajur menyebrangi sungai Bengawan Sore.

Sementara itu di sebrang Bengawan Sore, perang berkecamuk tak kalah dahsyatnya. Pasukan berkuda Pajang yang dipimpin Ki Wirojoyo terus merangsek maju, mendesak buntut induk pasukan Jipang yang masih berada di sebrang sebelah timur sungai Bengawan Sore. Ki Wirojoyo terus mengamuk dengan hebatnya, pedang pusakanya berkelbat kian kemari membabat tubuh para pasukan Jipang.
Tak terhitung jumlah pasukan musuh yang nyawanya melayang akibat amukannya ini. Hal ini membuat Patih Mentahun berang, Sang Patih Jipang pun segera memacu kudanya dan mengadang Ki Wirojoyo. “Ternyata jagoan Selo macam kau beraninya hanya pada prajurit kecil Wirojoyo! Ayo hadapi aku!”

Ki Wirojoyo menyeringai mendapati sindirian Patih Mentahun tersebut. “Aha Gusti Patih Mentahun! Kalau begitu majulah prajurit besar!” ejeknya.

“Kurang ajar! Hiaaaa!!!” Ki Mentahun segera melompat dari kudanya dan menerjang Ki Wirojoyo dengan tombak pusakanya. Yang diserang tak tinggal diam, dia palangkan pedang pusakanya untuk menahan ujung tombak Ki Mentahun. Kemudian ia pun melompat dari kudanya dan balas menyerang Ki Mentahun, terjadilah duel yang amat seru diantara dua jago berilmu sangat tinggi tersebut.

Semua hal ini tak luput dari pandangan Ki Juru Mertani. Menurutnya sekaranglah saatnya untuk mengakhiri perang ini. Ia menoleh pada Sutowijoyo, putra sulung Ki Pemahan sekaligus putra angkat Sultan Hadiwijoyo, yang sudah menunggangi kuda betina yang bulu di buntutnya sudah dipotong sehingga memperlihatkan “Bagian Kewanitaan” dari kuda betina tersebut.

“Kakang Pemanahan, sekaranglah saatnya untuk memancing Arya Penangsang!” ujar Ki Juru.

Ki Pemanahan mengangguk, kemudian menatap putra sulungnya yang sudah siap siaga dengan tombak Kyai SENSORd di tangannya tersebut. “Sutowijoyo anakku.”

Sutowijoyo mengangguk takzim. “Ya Romo.”

“Lakukan tugasmu sesuai dengan rencana Adi Juru! Dan jangan lupa, tombak Kyai Plered jangan sampai lepas dari tanganmu!” perintah Ki Pemanahan.

“Sendiko Romo!” jawab Sutowijoyo.

Ki Juru pun menatap Sutowijoyo dengan tatapan penuh harapan, kemudian senyum kecilnya merekah. “Hati-hati Ngger!”

“Baik Paman! Hiaahhh! Hiaah!” Sutowijoyo mengangguk kemudian memacu kuda betinanya ke tempat dimana Arya Penangsang berada.

Ki Juru Mertani mahfum bahwa Arya Mataram, adik Arya Penangsang selalu berada disisi kakaknya, maka ia pun memanggil salah satu jagoan Selo lainnya, yakni Ki Surokerti. “Adi Surokerti!”

“Saya Kakang Juru.” jawab Ki Surokerti.

“Sutowijoyo akan memancing Arya Penangsang seperti yang kita rencanakan, namun adinya Arya Mataram selalu berada disisinya. Kamu hadapilah Arya Mataram agar dia menjauh dari Arya Penangsang!” perintah Ki Juru.

“Baik Kakang Juru! Hiaaahhhh!” Ki Surokerti menjura kemudian memacu kudanya untuk menghampiri Ki Arya Mataram.
Saat melihat penguasa Jipang yang sedang mengamuk mengobrak-abrik pasukan Pajang, Sutowijoyo langsung berteriak dengan lantangnya seraya mengacungkan tombak Kyai Plerednya. “Aryo Penangsang! Tunjukan keberanianmu! Hadapi aku, putra Romo Kanjeng Sultan Hadiwijoyo! Sutowijoyo!”
Diubah oleh farizpradipta
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 2 lainnya memberi reputasi
3
07-08-2019 19:19
Elang Mataram Episode 2 – Gugurnya Arya Penagsang
Elang Mataram
Episode 2 – Gugurnya Arya Penagsang

Arya Penangsang menghentikan amukannya dan menatap tajam pada Sutowijoyo. Nafasnya memburu, dadanya bergemuruh dahsyat, matanya melotot bagaikan hendak keluar ketika mendapati tantangan dari Sutowijoyo yang ia anggap masih anak kemarin sore tersebut. “Bocah Edan! Berani dia menantang aku!”

“Hati-hati akan kelicikan si Juru Mertani dan orang-orang Selo itu Kakang!” bisik Arya Mataram.

Namun Arya Penangsang tidak menggubris peringatan dari adiknya tersebut. “Hoi anak sableng! Suruh ayahmu Hadiwijoyo datang kemari sesuai surat tantangannya! Suruh dia adu kesaktian sampai mati denganku!” bentak Arya Penangsang yang suaranya menggema kemana-mana.

Sutowijoyo menyunggingkan senyum meledek seolah meremehkan Arya Penangsang untuk memancing kemarahan lawannya. “Kau tidak pantas menjadi lawan Ramanda Sultan! Cukup aku yang mejadi lawanmu!”

Bukan main marahnya Arya Penangsang mendapat penghinaan demikian rupa dari pemuda tanggung tersebut, dia langsung menghunus pedang pusakanya. Arya Mataram segera menahannya. “Jangan pedulikan dia Kakang…” namun belum selesai Arya Mataram berucap, tiba-tiba Gagak Rimang, kuda yang dinaiki Arya Penangsang menjadi binal, dan sekonyong-konyong berlari mengejar kuda Sutowijoyo. Ternyata Sutowijoyo sengaja membalikan kudanya sehingga “Bagian Kewanitaan” kuda betina yang ditumpanginya terlihat oleh Gagak Rimang, karuan saja kuda tumpangan Arya Penangsang tersebut menjadi amat bernafsu, terpancing hasrat libido untuk menuntaskan naluri kejantanannya.

“Kakang!” seru Arya Mataram seraya hendak mennyusul kakaknya, namun tiba-tiba… Wushhh!!! Sebatang tombak menyergap dari arah samping kiri Arya Mataram dengan secepat kilat, terpaksa adik Arya Penangsang tersebut melompat dari kudanya, berjumpalitan di udara demi menghindari serangan yang membokongnya tersebut.

“Arya Mataram! Akulah lawanmu!” seru si pembokong yang tak lain adalah Ki Surokerti sambil mengacungkan keris pusakanya di hadapan Arya Mataram.

“Sial!” maki Arya Mataram. Ia tak punya pilihan lain, maka menerjanglah ia dengan hebatnya pada Ki Surokerti agar bisa secepatnya menyusul kakaknya. “Akan kutumpahkan darah kalian orang-orang Selo untuk memerahkan air Bengawan Sore ini!” maki Arya Mataram seraya menusukan keris pusakanya mengarah dada Ki Surokerti.

Ki Surokerti membalas dengan tak kalah geramnya. “Kita lihat darah siapa yang akan memerahkan kali ini! Hiaatttt!” Ki Surokerti mengelak dan balas menyerang, maka terjadilah duel dahsyat yang dipenuhi dengan jual beli serangan-serangan mematikan antara jago Selo melawan jago Jipang tersebut.

Sementara itu Sutowijoyo memacu kudanya ke arah kali Bengawan Sore, Aryo Penangsang terus mengejar Sutowijoyo dengan penuh nafsu. Di tengah kali bagian yang dangkal, sekonyong-konyong Sutowijoyo membalikan kudanya, dan tombak Kyai Plered dengan secepat kilat menusuk ke arah perut kiri Arya Penangsang!

Di lain pihak, Gagak Rimang kuda yang dinaiki Arya Penangsang kembali menjadi sangat binal ketika melihat area kewanitaan kuda betina yang dinaiki Sutowijoyo, sehingga menjadi sulit dikendalikan oleh Arya Penangsang. Hal ini pula yang membuat Arya Penangsang sulit untuk menghindari tusukan dari tombak Kyai Plerednya Sutowijoyo!

Crasss!!! Arya Penangsang masih berhasil mengelak dengan melompat keatas dari punggung kudanya, namun mata tombak Kyai Plered masih sempat membeset perut bagian kiri Arya Penangsang sehingga perut penguasa Jipang Panolang tersebut robek besar! Lukanya menganga hingga ususnya berbuntai keluar dari dalam perutnya! Ternyata Ajian “Lembu Sakilan” miliknya yang membuat tubuhnya kebal terhadap segala jenis senjata, tak mampu menahan keampuhan dari mustika Tombak Kyai SENSORed!

Dengan menggeram menahan sakit yang teramat sangat sekaligus menahan amarahnya yang sudah meledak di atas ubun-ubunnya, Arya Penangsang mengaitkan ususnya yang berbusaian keluar ke hulu Keris Kyai Setan Kobernya yang terselip di pinggang sebelah kirinya.
Kemudian ia menggerung dahsyat dan berkelebat secepat kilat, pedangnya menerjang mengarah tubuh Sutowijoyo! Yang diserang terkejut, maka ia pun melompat dari atas kudanya… Bresss!!! Kepala kuda betina yang tadi dinaiki Sutowijoyo terpenggal, kena babatan pedang pusaka Arya Penangsang!

“Bocah Setan! Sekarang giliran kepalamu yang kupenggal! Akan kukirim kepalamu pada si Karebet*!” Geram Arya Penangsang setelah melihat Sutowijoyo berhasil menhindar dari serangan mautnya. (*Karebet / Mas Karebet = Nama Asli Sultan Hadiwijoyo)

Sutowijoyo malah berkacak pinggang sambil tertawa meremehkan lawannya. “Ternyata kau hanya becus omong besar seperti dalang wayang saja! Hahahaha!”

“Jahanam! Hiaaahhhh” Arya Penangsang kembali menerjang, menyerang Sutowijoyo. Sutowijoyo terkejut karena melihat Arya Penangsang masih bisa bergerak secepat kilat seperti itu! Tranggg! Sutowijoyo berhasil menahan sabetan pedang pusaka Arya Penangsang, kembali ia dibuat terkejut ketika senjata beradu, ternyata tenaga dalam Haryo Jipang tersebut masih sangat dahsyat, malah mungkin berada satu tingkat diatas putra sulung Ki Pemanahan ini.

Sebelum sempat Sutowijoyo berpikir bagaimana langkah selanjutnya, serangan-serangan maut Arya Penangsang keburu menghampiri dirinya. Arya Penangsang terus mencecar seluruh bagian vital tubuh Sutowijoyo dengan beringas sehingga membuat putra angkat Sultan Hadiwijoyo ini kelabakan dan terus mengayunkan tombaknya hanya untuk menangkias serangan-serangan lawannya.

Akhirnya Sutowijoyo mengambil satu keputusan berani, ia melompat beberapa tombak kebelakang, ia langsung menancapkan tombaknya diatas tanah, kemudian memasang kuda-kuda untuk melepaskan ajian pamungkas miliknya, yakni “Ajian Gelap Ngampar” Sutowijoyo membentak dahsyat seiring mendorongkan kedua tangannya, dari kedua belah telapak tangannya, menderulah dua halilinttar raksasa berwarna perak yang teramat panas menerjang Arya Pengangsang!

Sementara Arya Penangsang yang terlanjur menerjang hendak membabatkan pedangnya ke pangkal leher Sutowijoyo terkejut mendapat serangan dahsyat yang tiba-tiba tersebut, maka tak ada jalan lain selain memalangkan pedangnya sembari mengalirkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya dan kembali memanggil ajian “Lembu Sakilan”!

Bleeddaarrrr!!!! Pedang Arya Penangsang hangus menjadi abu, yang empunya terpapah kebelakang beberapa langskah, dadanya berdenyut sakit tanda ia terluka dalam. Namun manusia satu ini sungguh luar biasa, luka dalam yang ia derita setelah menerima langsung pukulan dari Sutowijoyo tersebut tidak terlalu parah. terbukti nafasnya kembali normal setelah beberapa saat saja.

Sutowijoyo kembali terkejut melihat lawannya setelah pukulan pamungkasnya hanya sedikit melukai Arya Penangsang. Ia tidak menyangka Arya Penangsang sedemikian saktinya sehingga tombak Kyai Plered serta pukulan “Ajian Gelap Ngampar” dari dirinya tidak sanggup untuk merobohkan apalagi menewaskan lawannya.

Dilain pihak Arya Penangsang semakin memuncak amarahnya, “Anak Setan! Mampuslah kau!” bentaknya seraya mendorongkan kedua telapak tangannya dalam “Ajian Gombala Geni”! Dari kedua telapak tangannya menderulah dua gelombang pusaran api panas menerjang Sutowijoyo!

Kali ini Sutowijoyo kembali dapat berbuat cerdik. Ia meraih tombak Kyai Plerednya dan melompat berjumpalitan ketas bagaikan ikan mas melompat dari kolam air. Blaarrr!!! Tiga batang pohon yang tadi berada di belakang Sutowijoyo hancur berantakan dilalap api! Sementara Sutowijoyo melompat berjumpalitan di udara dan tahu-tahu ujung mata tombak Kyai Plered sudah berada diatas ubub-ubun Arya Penangsang!
Arya Penangsang segera melompat kesamping menghindari serangan kejutan tersebut. Crasshhh! Kembali ujung tombak Kyai Plered berhasil menggores bahu kanan Arya Penangsang! Tak bisa dibayangkan bagaimana marahnya Arya Penangsang saat itu, beberapa kali ia berhasil dilukai oleh pemuda yang ia anggap anak kemarin sore yang tak pantas ia hadapi. Ia menjadi gelap mata dan seolah lupa dengan luka parah di perut bagian kirinya.

“Anak Setan! Mampuslah kau diujung kerisku!” bentak Arya Penangsang seraya menghunus Keris Kyai Setan Kober yang terselip di pinggang kirinya yang ia pakai untuk mengaitkan ususnya yang berbuntaian keluar akibat luka di perutnya oleh serangan pertama tombak Kyai Plered.
Bresss!!! Pengelihatan Arya Penangsang seketika menjadi gelap ketika darah terus memuncrat dan memancur dari ususnya yang robek menjadi beberapa bagian. Ternyata ususnya yang tadi ia kaitkan ke gagang hulu keris Kyai Setan Kober terpotong oleh kerisnya sendiri tersebut ketika ia menhunus kerisnya dengan penuh nafsu. Tubuh pria perkasa yang kesaktiannya mengguncang seluruh tanah jawa itu pun langsung jatuh tergeletak dengan masih menggenggam keris Kyai Setan Kober.

Sutowijoyo pun menarik nafas lega ketika melihat lawannya yang teramat tangguh itu roboh. Para kerabat Selo serta prajurit Pajang yang melihat peristiwa tersebut pun segera berteriak “Arya Pensang tewas! Arya Penangsang Tewas!” teriakan berisi pengumuman tewasnya Arya Penangsang tersebut terus bergema ke seantero arena peperangan.

Kabar mengenai tewasnya Arya Penangsang telah sampai ke sebrang bagian kali Bengawan Sore, dimana Ki Patih Mentahun sedang adu kesaktian antara hidup dan mati melawan Ki Wirojoyo, sang kesatria kerabat Selo yang pilih tanding.

“Ki Patih Mentahun! Junjunganmu sudah mati! Sekarang sebaiknya kamu dan seluruh prajuritmu menyerah agar kita bisa segera hentikan pertumpahan darah ini!” bujuk Ki Wirojoyo dengan tegas.

Ki Mentahun terdiam sejenak sambil memandang ke sekeliling arena pertempuran, namun kemudian ia kembali memasang kuda-kuda untk menyerang Ki Wirojoyo. “Sekalipun Gusti Arya mati, namun aku tetap berkewajiban untuk mempertahankan kehormatan negeri Jipang dari kalian orang-orang Pajang yang serakah! Hiaaattttt!”

Ki Patih Mentahun menerjang Ki Wirojoyo bagaikan harimau luka dengan keris pusakanya. “Keras kepala!” maki Ki Wirojoyo. Ki Wirojoyo segera melompat beberapa langkah kedepan, kemudian mengangkat tangan kanannya keatas, sementara tangan kirinya dilintangkan didepan dadanya. Ia memusatkan pikirannya, mulutnya berkomat-kamit. Dari kepalan tangan kanannya memancar cahaya merah yang menggindikan.
Rupanya Ki Wirojoyo mengeluarkan ajian pamungkasnya yakni “Ajian Lebur Saketi” yang keampuhannya menggegerkan tanah Jawa tersebut. Dengan teriakan menggeledek, pria paruh baya asal Selo ini dorongkan tangan kanannya ke muka. Satu sinar merah yang teramat panas menderu mengarah Ki Patih Mentahun! Bledaarrr!

Tubuh Ki Patih Mentahun terlempar beberapa tombak kebelakang, sekujur tubuhnya memerah sementara dadanya yang terkena pukulan Lebur Saketi milik Ki Wirojoyo nampak hangus menghitam, dari mulut, telinga, dan hidungnya terus mengalir darah segar. Sang Patih Jipang tersebut nampak menggelepar-menggelepar beberapa kali sampai akhirnya tak berkutik lagi.

“Patih Arya Mentahun mati! Patih Arya Mentahun mati!” teriak para pasukan Pajang dan kerabat Selo yang melihat peristiwa tersebut. Seperti kabar kematian Arya Penangsang, kabar kematian Ki Patih Mentahun pun bergema di seantero arena peperangan!

Di lain sudut, Arya Mataram langsung gelagapan ketika mendengar kabar kematian kakaknya Arya Penangsang. Akibatnya ia menjadi lengah dan satu besetan keris merobek bahunya disertai satu tendangan maut Ki Surokerti bersarang di perutnya! Arya Mataram jatuh terduduk sambil menahan sakit di bahu serta perutnya yang terkena serangan Ki Surokerti.

Ketika ia melompat bangun, kembali terdengar kabar kematian Ki Patih Arya Mentahun yang membuatnya semakin gugup. Ki Surokerti menghentikan serangannya dan berkata, “Arya Mataram! Kakakmu Arya Penangsang dan Patih Mentahun sudah tewas! Sekarang sebaiknya kau dan seluruh sisa pasukanmu menyerah agar kita bisa mengenhtikan pertumpahan darah ini!”

“Dalam mimpimu!” bentak Arya Mataram. Ia langsung mengangkat kedua tangannya, seketika itu angin membadai langsung bertiup disekitar dirinya. Saking dahsyatnya angin ribut tersebut sampai membuat beberapa prajurit Pajang serta kerabat Selo terbang melayang terbawa angin! Hanya Ki Surokerti yang berhasil bertahan dari angin ribut yang keluar dari kedua telapak tangan Arya Mataram tersebut.

Sekonyong-konyong tangan kiri Arya Mataram merogoh ke balik pakainnya, entah apa yang ia ambil dari balik bajunya, namun ketika ia melemparkan apa yang dipengang di tangan kirinya, tiba-tiba… Bummm! Suara ledakan keras menggema disekitar tempat tersebut berbarengan dengan bergumulnya asap putiih yang beracun memenuhi tempat itu.

Ki Surokerti segera menutup mata dan menahan nafasnya, namun malang bagi prajurit-prajurit Pajang, kerabat Selo, serta prajurit-prajurit Jipang sendiri yang berada di sekitar tempat itu. Mereka langsung tergelatak tak berdaya akibat mengirup asap beracun tersebut, malah beberapa orang ada yang langsung tewas dibuatnya!

“Sial! Dia melarikan diri!” maki Ki Surokerti ketika perlahan asap putih pekat yang amat beracun itu menghilang tersibak angin.

“Biarkan saja!” seru Ki Pemanahan yang menghampiri Ki Surokerti, “Dengan terbunuhnya Arya Penangsang dan Patih Arya Mentahun kita sudah menang!” lanjutnya.

“Benar, kalau begitu kita sudah bisa menghentikan pertumpahan darah ini bukan Adi Juru?” sahut Ki Penjawi seraya bertanya pada Ki Juru Mertani.

“Betul Kakang, lihat…” tunjuk Ki Juru Mertani, saat itu seluruh prajurit Jipang yang tersisa segera menjatuhkan senjatanya kemudian mengangkat tangannya ketas, sedangkan seluruh sisa kekuatan Bang Wetan yang mendukung Jipang, segera melarikan diri ke sebrang kali Bengawan Sore untuk terus mundur ke wilayah Bang Wetan.

Ki Pemanahan pun segera memerintahkan agar para prajurit Pajang mengurus jenasah Arya Penangsang dan Patih Arya Mentahun dengan layak untuk segera dibawa ke Pajang dan mengurus semua yang terluka juga prajurit Jipang yang menyerah. Setelah itu seluruh kekuatan Pajang pun mulai bergerak meninggalkan Sungai Bengawan Sore yang menjadi saksi bisu jalannya pertempuran yang dahsyat antara kekuatan Pajang melawan Jipang Panolang.




profile-picture
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan 2 lainnya memberi reputasi
3
20-08-2019 22:27
Akhirnya suhu lanjut nulis lagi,,makasih suhu,,izin gelar tiker di mari,,
Terus kapan nih kelanjutannya??
Jngn ampe kentang ya suhu,,,
0
20-08-2019 22:59
Quote:Original Posted By bayuhanggara56
Akhirnya suhu lanjut nulis lagi,,makasih suhu,,izin gelar tiker di mari,,
Terus kapan nih kelanjutannya??
Jngn ampe kentang ya suhu,,,


Iya ntar kita cicil ya 🙏😁
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
20-08-2019 23:53
Balasan post farizpradipta
Siap Suhu,,ane pantengin dah,,jangan lama2 ya nyicilnya,,hehe
0
21-08-2019 16:19
Quote:Original Posted By bayuhanggara56
Siap Suhu,,ane pantengin dah,,jangan lama2 ya nyicilnya,,hehe


Insyaallah 🙏 oya cerita ini juga lebih ringan daripada "Wasiat Iblis"
profile-picture
bayuhanggara56 memberi reputasi
1
21-08-2019 19:28
Hmm...
Cerita silat berlatarkan zaman kerajaan menjelang berdirinya mataram islam memang menarik. Referensi buku cerita " api di bukit menoreh."

0
21-08-2019 19:54
Quote:Original Posted By cos44rm
Hmm...
Cerita silat berlatarkan zaman kerajaan menjelang berdirinya mataram islam memang menarik. Referensi buku cerita " api di bukit menoreh."


Setuju Gan 👍😁
0
Lihat 1 balasan
21-08-2019 20:48
Quote:Original Posted By cos44rm
Hmm...
Cerita silat berlatarkan zaman kerajaan menjelang berdirinya mataram islam memang menarik. Referensi buku cerita " api di bukit menoreh."


Betul gan, tapi sayang seribu sayang critanya gak sampai tamat..

Tandai dolo kalau sudah banyak updetan baru bacaemoticon-Cool

Buat kang TE ES cemungud cemungud eaemoticon-Ngakak
profile-picture
cos44rm memberi reputasi
1
21-08-2019 20:58
wah mantul nih ada cerita baru emoticon-Recommended Seller

lagi bosen ama sfth yg cinta2an trus ada yg beginian ane demen dah emoticon-Malu

dulu yg wasiat ane ikutin gan tapi ane biasa sr selalu emoticon-Malu

kali ini ikutan komen dah kasih semangat buat te es nya biar makin lancar update nya emoticon-Ngakak
0
21-08-2019 22:08
Quote:Original Posted By initialtakumi86
Betul gan, tapi sayang seribu sayang critanya gak sampai tamat..

Tandai dolo kalau sudah banyak updetan baru bacaemoticon-Cool

Buat kang TE ES cemungud cemungud eaemoticon-Ngakak


Makasih ya 👍😁
0
21-08-2019 22:12
Quote:Original Posted By fadlost26
wah mantul nih ada cerita baru emoticon-Recommended Seller

lagi bosen ama sfth yg cinta2an trus ada yg beginian ane demen dah emoticon-Malu

dulu yg wasiat ane ikutin gan tapi ane biasa sr selalu emoticon-Malu

kali ini ikutan komen dah kasih semangat buat te es nya biar makin lancar update nya emoticon-Ngakak


Makasih 🙏 ane memang sengaja bikin alternatif bacaan selain dari cerita2 mainstream (roman) semoga berkenan ya 😁
0
Lapor Hansip
22-08-2019 10:35
Balasan post farizpradipta
Gaspooll....
____________ emoticon-Ngacir2
0
22-08-2019 21:35
Sambil nunggu covernya jadi, saya update 1 episode ya emoticon-Big Grin
0
22-08-2019 21:38
Elang Mataram Episode 3 – Tanah Perjanjian
Kabut pagi mulai memudar, cahaya mentari mulai menampakan sinarnya di ufuk timur, burung-burung berterbangan kesana-kemari sambil berkicau riang menyambut turunnya selimut bumi, seiring dengan pancaran sang surya menghalau kelamnya malam, sungguh suatu pagi yang amat cerah secerah senyum para prajurit Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo.

Senyum cerah terus merekah mengiringi perjalanan mereka kembali menuju Pajang setelah berhasil menaklukan negeri Jipang Panolang, tak terkecuali para kerabat Selo yang masih tersenyum lebar karena berhasil menunaikan tugas yang teramat berat dari Sultan Hadiwijoyo, namun senyum mereka langsung berubah ketika Ki Wirojoyo memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sesungguhnya masih menjadi beban pikiran bagi para Kerabat Selo terutama Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.

“Sekarang, sebagai Senopati pemimpin pasukan Pajang dalam perang ini… Kakang Pemanahan harus berani menanyakan yang pernah dijanjikan oleh Sultan.” celetuk Ki Wirojoyo yang membuat raut wajah para kerabat Selo langsung berubah.

Ki Pemanahan menghela nafas, namun seulas senyum kecil masih terlukis di wajah pemimpin Kerabat Selo tersebut. “Sebagai orang Selo, kita harus berjuang tanpa pamrih.”

“Kita memang tidak mengharapkan pamrih, Adi Sultan sendiri yang berniat memberikan hadiah.” sahut Ki Juru Mertani.

Ki Wirojoyo langsung menimpali. “Benar Kakang, maaf bukannya saya pamrih, tapi itu hak kita sesuai dengan yang dijanjikan oleh Gusti Sultan.”

“Iya, Saya berterima kasih pada Kakang Juru dan Adi Wirojoyo yang sudah mengingatkan saya. Sebagai yang tertua dari kerabat Selo aku memang berkewajiban untuk mengingatkan Adi Sultan… Tapi biar Adi Sultan sendiri yang berkenan memberikannya. Saya tidak akan mengadili…” pungkas Ki Pemanahan dengan suara datar yang membuat para kerabat Selo mahfum dengan sikap Ki Pemanahan yang mencerminkan watak orang-orang Selo.

Sesampainya di Kotaraja Pajang, para prajurit Pajang yang dipimpin oleh para kerabat Selo tersebut mendapat sambutan yang sangat meriah, Sang Sultan sendiri yang langsung menjemput mereka dengan kereta kebesaran keraton. Ki Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Juru Mertani mendapat kehormatan untuk ikut naik kereta kebesaran keraton milik Sultan sampai ke Keraton Pajang.

Sesampainya di Keraton Pajang, para Kerabat Selo pun langsung diterima di Balai Penghadapan Agung yang juga dihadiri semua pejabat Pajang. Ki Pemanahan langsung melaporkan semua tugas yang ia emban sebagai Senopati perang, Sultan Hadiwijyo pun memberikan ucapan selamat dan ucapan terima kasih kepada semua kerabat Selo tersebut, sampai akhirnya Sultan mulai berbicara soal pemberian hadiah yang pernah ia janjikan bagi siapa saja yang berhasil menumpas Aryo Penangsang.

“Dengan terbunuhnya Aryo Penangsang, negeri Jipang Panolang tidak berarti apa-apa lagi bagi Pajang.” ucap Sultan.
Ki Pemanahan menjura hormat sebelum menjawab. “Benar Gusti, kekuasaan Pajang di pesisir utara akan lebih mantap.”

Ki Penjawi pun ikut menimpali setelah menjura. “Selain pesisir utara, Jipang yang sudah kita kuasai juga merupakan pintu masuk bagi Pajang untuk melebarkan sayap kekuasaannya ke Bang Wetan.”

Sultan mengangguk sambil tersenyum sumringah. “Ya… Aku berterima kasih atas perjuangan dan pengorbanan kalian, orang-orang Selo. Terutama kepada Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi yang berhasil membunuh Aryo Penangsang*.” (*Menurut Babad Tanah Jawa, yang dilaporkan berhasil membunuh Aryo Penangsang adalah Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, bukan Sutowijoyo. Hal ini dilakukan atas saran Ki Juru Mertani agar Sultan tidak melupakan janjinya untuk memberi tanah Mataram dan Tanah Pati pada Ki Pemanahan dan Ki Penjawi)

“Secara khusus, aku juga berterima kasih kepada Kakang Juru Mertani yang sudah memberikan aku saran juga taktik untuk mengalahkan Aryo Penangsang. Dan tak lupa, aku juga berterima kasih kepada Kakang Wirojoyo yang berhasil membunuh Patih Mentahun.” lanjut Sultan.

Semua kerabat Selo menjura hormat dengan kepala tertunduk dalam-dalam, alangkah bangga dan bahagianya mereka mendapatkan pujian begitu rupa dari Sultan penguasa tanah Jawa yang baru ini. Akan tetapi ada satu orang yang kurang puas, yakni Ki Surokerti yang namanya tidak ikut disebut Sultan. Meskipun ia gagal membunuh Arya Mataram, ia merasa tetap berjasa besar dalam penaklukan Jipang ini. Namun hal itu tidak nampak di wajahnya karena ia terus menundukan kepalanya dan memandang lantai keraton lekat-lekat.

Sultan menatap para kerabat Selo dengan tatapan bangga, kemudian kembali ia berujar. “Nah sekarang aku mau bicara soal hadiah. Sebelum kalian berangkat perang, aku pernah berjanji bahwa barang siapa yang dapat membunuh Aryo Penangsang, aku akan memberikan tanah Pati sebagai hadiah… Tapi masalahnya sekarang, ada dua orang yang melakukannya, dan sebagai raja aku harus bersikap adil tidak boleh pilih kasih.”

Sultan kemudian menatap Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. “Baik Kakang Pemahanan maupun Kakang Penjawi harus mendapatkan hadiah yang cukup pantas. Bagaimana Kakang Pemanahan?”

“Ampun Gusti, saya sebagai yang lebih tua akan mengalah, biarlah Adi Penjawi yang memutuskan.” jawab Ki Pemanahan dengan sungkan.
“Bagaimana Kakang Penjawi?” tanya Sultan.

“Mohon ampun Gusti, saya menyerahkan keputusan kepada Gusti yang jauh lebih bijak daripada kami.” jawab Ki Pemanahan yang juga nampak sungkan.

“Bagaimana Kakang Pemanahan?” tanya Sultan kembali pada Ki Pemanahan.

“Ampun Gusti, hamba setuju dengan Adi Penjawi, kami percaya Gusti Sultan akan memutuskan masalah ini seadil-adilnya.” jawab Ki Pemanahan yang tak mau pamrih.

“Kalau begitu begini saja, aku masih mempunyai daerah yang bagus lagi subur walaupun masih berwujud hutan belantara. yang kumaksud adalah Alas Mentaok atau Tanah Mataram.” usul Sultan yang tentu saja langsung diamini oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.

“Sekarang bagaimana, siapa yang memilih Alas Mentaok? Siapa yang memilih Tanah Pati? terserah Kakang berdua.” lanjut Sultan.

Baik Ki Pemanahan maupun Ki Penjawi tidak langsung menjawab, mereka terdiam untuk berpikir sejenak. Tapi kemudian Ki Pemanahan yang terlebih dahulu mengambil keputusan, ia memilih Alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara untuk mengalah pada adiknya, Ki Penjawi. “Ampun Gusti, kalau hamba boleh memilih, biarlah hamba memilih Alas Mentaok.” jawaban tersebut cukup mengejutkan Ki Penjawi karena tadinya ia yang hendak mengalah untuk mengambil Alas Mentaok karena waktu itu tanah Pati sudah makmur dan maju daerahnya.

Sultan mengangguk. “Bagus… Bagaimana Kakang Penjawi? Kakang Pemanahan sudah memilih daerah yang dia senangi.”

Meskipun merasa agak tak enak pada kakaknya Ki Pemanahan, Ki Penjawi tak punya pilihan lain, maka ia pun menjura hormat. “Ampun Gusti, apa yang Gusti berikan akan hamba terima dengan baik.”

“Baiklah. Soal hadiah untuk Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi sudah diselesaikan, sekarang aku punya satu hadiah lagi untuk adikku, Adi Wirojoyo yang tak kalah berjasanya dalam penaklukan ke Jipang ini.” ujar Sultan.

Sungguh tak terkira oleh Ki Wirojoyo bahwa ia akan disanjung sedemikian rupa oleh Sultan, ia pun menjura dengan sungkan. “Ampun Gusti, hamba hanya menjalankan tugas dari Gusti.”

Sultan tersenyum mendengar jawaban dari salah satu saudara angkatnya yang pandai merendah tersebut. “Kesetianmu itulah yang selalu aku harapkan. Aku juga punya hadiah yang cukup pantas atas jasamu yang berhasil membunuh Patih Arya Mentahun… Akan aku anugerahkan pusaka Keris Kyai Blarak sebagai ganjaran atas jasa dan kesetianmu!”

Sungguh suatu anugerah yang tak terkirakan bagi Ki Wirojoyo karena perjuangan dan kesetiannya pada Sultan tanpa pamrih, semuanya ia lakukan demi mengangkat harkat dan drajat para kerabat Selo, terutama Ki Pemanahan yang menurut wasiat Ki Ageng Selo kelak akan menurunkan raja-raja penguasa tanah Jawa. Ki Wirojoyo pun hanya bisa menjura dan mengucapkan terima kasih kepada Sultan.
“Nah soal hadiah sebagai ganjaran kalian yang telah berjasa besar pada negeri ini telah kita selesaikan dengan baik, sabdaku sebagai raja telah kusabdakan kepada kalian semua!” tegas Sultan kepada semua yang hadir.

“Kakang Penjawi bisa langsung ke Pati. Pimpinlah daerah itu dengan baik agar terus berkembang menjadi daerah yang makmur!” ujar Sultan.
“Terima kasih Kanjeng Sultan” jura Ki Penjawi.

Sultan terdiam sejenak, seperti ada yang sedang ia pikirkan, dengan suara agak tersendat diawal ia berucap. “Tapi untuk Kakang Pemanahan, aku minta maaf karena sekarang belum bisa memberikan Tanah Mataram. Akan kubenahi dulu tanahnya, aku akan memerintahkan untuk membuka ladang-ladang pertanian, agar pantas kuserahkan kepada Kakang sebagai tanah perdikan.”

Ki Pemanahan agak kecewa karena ia dan seluruh kerabat Selo pun sanggup untuk membuka hutan Mentaok tersebut, namun ia menerima dengan ikhlas apa yang dikatakan oleh Sultan tersebut. Demikianlah, seluruh kerabat Selo menerima anugerah dari Sultan dengan suka cita.
Ki Penjawi langsung mendapat tanah Pati, Ki Pemanahan mendapat Tanah Mataram meskipun harus tertunda, dan Ki Wirojoyo mendapat hadiah berupa keris Pusaka bernama Keris Kyai Blarak, sedangkan Ki Juru Mertani sudah cukup senang untuk dapat mendampingi Ki Pemanahan untuk mengolah Tanah Mataram.

Hanya Ki Surokerti yang merasa tak senang hatinya karena tak mendapat pujian khusus apalagi hadiah dari Sultan. Rasa iri hatinya yang langsung berubah menjadi rasa dengki ia tumpahkan kepada Ki Wirojoyo, karena baginya Ki Pemanahan dan Ki Penjawi adalah pemimpin dan wakil pemimpin kerabat Selo, tapi Ki Wirojoyo hanya salah seorang jago kerabat Selo yang sama seperti dirinya. Soal jasa, ia merasa sama berjasanya dengan Ki Wirojoyo karena mereka sama-sama perwira pasukan Pajang, ia juga turut berjasa karena turut menghadapi Arya Mataram, adik Arya Penangsang. Tapi kenapa ia tak mendapat pujian dan hadiah? Ki Surokerti hanya bisa menyumpah-nyumpah dalam hatinya kepada Ki Wirojoyo.

***
Satu tahun berlalu, Sultan Pajang ternyata enggan memenuhi janjinya untuk memberikan tanah Mataram kepada Ki Pemanahan. Ki Pemanahan pun merasa tak enak hati karena sudah mengumpulkan seluruh kerabat Selo di Pajang yang telah ia minta untuk bersiap membuka dan mengolah Alas Mentaok. Ki Pemanahan merasa sangat malu dan tak enak kepada seluruh kerabat Selo.

Selama itu Ki Juru Mertani dan Ki Wirojoyo senantiasa selalu mendampinginya dan memberinya nasihat agar Ki Pemanahan selalu dapat bersabar untuk menunggu Sultan Hadiwijoyo menepati janjinya, meskipun selama itu tak ada tanda-tanda Sultan akan menempati janjinya karena tak ada seorangpun orang Pajang yang dikirim ke Alas Mentaok untuk membuka hutan apalagi membuat sawah ladang disana.
Lama-kelamaan Ki Pemanahan dan Ki Juru semakin menyenangi Ki Wirojoyo yang selalu mendampingi mereka dengan setia dan memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kedua pemimpin kerabat Selo tersebut. Ki Wirojoyo selain bijak dan cerdas, juga mempunyai kesaktian yang tinggi sehingga bisa diandalkan oleh Ki Pemanahan untuk membantunya. Ki Pemanahan pun tak segan untuk mengangkatnya menjadi orang kepercayaannya selain Ki Juru Mertani.

Atas kesetiannya dan semua bakatnya tersebut, Ki Pemanahan pun berjanji dalam hatinya, bahwa kelak apabila ia dan keluarganya mendapatkan kemuliaan, ia akan membagi kemuliaan tersebut dengan Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Juru Martani pun sangat menyukai Ki Wirojoyo karena orangnya dapat diandalkan, maka ia menyarankan kepada Ki Pemanahan agar Ki Wirojoyo diangkat menjadi guru dan salah satu penasihat dan pengasuh Sutowijoyo, putra sulung Ki Pemanahan. Ia juga menyarankan apaila kelak Ki Pemanahan sudah menjadi penguasa Bumi Mataram, agar Ki Wirojoyo diangkat menjadi salah satu pejabat penting di Mataram.

Kedekatan Ki Wirojoyo dengan Ki Pemanahan dan Ki Juru semakin membuat Ki Surokerti dengki kepada rekan sekaligus Kakak seperguruannya tersebut. Apalagi ketika ia mendapati bahwa Ki Wirojoyo diangkat menjadi guru sekaligus salah satu penasihat dan pengasuh Sutowijoyo.

Dalam masa penantian pemberian Tanah Mataram kepada Ki Pemanahan, Sutowijoyo pun banyak berjasa besar kepada Pajang. Satu waktu Sultan Hadiwijoyo memerintahkannya untuk menjadi Senopati Perang mendampingi Pangeran Benowo (putera mahkota Sultan) untuk menaklukan Bang Wetan. Selama masa penaklukan Bang Wetan itu pula, Ki Wirojoyo diminta oleh Ki Pemanahan untuk mendampingi dan mengawal keselamatan Sutowijoyo yang bisa ia lakukan dengan baik.

Sutowijoyo yang juga merupakan putera angkat Sultan dapat melaksanakan tugasnya dengan gilang-gemilang. Hampir seluruh wilayah Bang Wetan takluk kepada Pajang, meskipun untuk menaklukan Surabaya, Tuban, dan Madura Sultan Hadiwijaya harus menaklukannya secara politik, yakni mengangkat para Adipati tersebut menjadi menantunya.

Dua tahun kemudian, akhirnya Ki Pemanahan mendapatkan haknya yakni Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya berkat bantuan Sunan Kalijaga. Selidik punya selidik, ternyata Sultan enggan memberikan Tanah Mataram karena merasa khawatir oleh ramalan Sunan Giri Prapen yang mengatakan bahwa kelak di Mataram akan lahir seorang raja yang akan menguasai seluruh tanah Jawa mengalahkan Pajang.

Namun hal itu ditepis oleh Sunan Kalijaga dengan memberi saran kepada Sultan agar menyuruh Ki Pemanahan selalu setia kepada Pajang, Ki Pemanahan pun berjanji setia kepada Pajang namun ia tidak berjanji kesetiaan keturunannya kelak karena itu merupakan rahasia Illahi.
Setela mendapat tanah Mataram dan bersiap untuk membuka tanah yang masih berupa hutan perawan tersebut, Ki Pemanahan mengangkat Ki Juru Mertani sebagai penasihat tertinggi dan mengangkat Ki Wirojoyo sebagai tangan kanannya untuk memimpin para pria Selo membuka Alas Mentaok. Hal ini semakin menambah kedengkian dan kebencian Ki Surokerti kepada Ki Wirojoyo saja.
profile-picture
profile-picture
sentinelprime07 dan cos44rm memberi reputasi
2
23-08-2019 22:14
Elang Mataram Episode 4 – Jayengrono Dan Sekar Arum
Malam itu Ki Juru, Ki Wirojoyo, Ki Surokerti, dan Sutowijoyo berkumpul di rumah Ki Pemanahan untuk membahas pemberangkatan seluruh kerabat Selo dari Pajang ke Alas Mentaok. “Alhamdulillah, kesabaran kakang Pemanahan menuai keberhasilan.” ungkap Ki Wirojoyo dengan wajah berseri-seri yang mengungkapkan rasa syukur. amat gembira ia bahwa penantian pemimpin kerabat Selo itu berakhir sudah.

“Meskipun telihat seperti ditunda-tunda, tapi saya tetap yakin tak ada dusta dan khianat dalam ucapan dan janji Dinda Sultan Hadiwijoyo. Gusti Sultan pasti akan memenuhi janjinya.” ucap Ki Juru Mertani yang juga nampak sumringah.

Ki Pemanahan mengangkat kepalanya, tak coba ia sampaikan bagaimana akhirnya Sultan “terpaksa” menyerahkan tanah Mataram setelah Sunan Kalijaga turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Ia merasa tak perlu mengungkit-ngungkit masalah itu selain tak mau menjelek-jelekan Sultan. Kepada para tetua kerabat Selo tersebut ia utarakan rencana kepindahannya.

Semakin sumringah wajah Ki Juru mendengar rencana kepindahan tersebut. Ia pun berujar. “Sesuai janjiku, aku juga akan turut pindah bersama para kerabat Selo untuk mendampingi Kakang Pemanahan dan Sutowijyo untuk mengolah tanah Mataram.”

Semakin gembiralah Ki Pemanahan mendengar ucapan adik iparnya tersebut, ia sangat bersyukur karena Ki Juru menepati janjinya untuk selalu mendampingi dirinya dan keluarganya sebab kehadiran Ki Juru Mertani yang ternama sangat cerdas, bijak lagi pandai bersiasat amat dibutuhkan untuk membangun Mataram. “Terima kasih. Tanah Mataram akan kian terolah dengan baik apabila Adi Juru ikut menyertai kami.”
Ki Pemanahan kemudian melirik Ki Wirojoyo dan berujar. “Adi Wirojoyo, aku juga punya dua permintaan untukmu.”

“Apa itu Kakang? Insyaallah saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhinya.” tanya Ki Wirojoyo.

“Pertama, Aku minta Adi untuk memimpin pengamanan selama para warga Selo membuka hutan Mentaok!” jawab Ki Pemanahan, “Dan yang kedua, apabila Kademangan Mataram sudah berdiri, kita akan membutuhkan pasukan pengaman untuk mengamankan seluruh wilayah Mataram. Aku minta Kakang yang nanti melatih para pemuda untuk dijadikan pasukan pengaman sekaligus menjadi lurah tantama pasukan Mataram!” (Lurah Tantama = Pemimpin kesatuan pasukan).

“Baik Kakang! Akan saya laksanakan sebaik-baiknya tugas dari Kakang ini!” angguk Ki Wirojoyo dengan tegas namun sopan kepada pemimpn kerabat Selo tersebut.

“Adapun Adi Surokerti, aku minta untuk membantu tugas Adi Wirojoyo!” ucap Ki Pemanahan kepada Ki Surokerti.

“Baik Kakang!” jawab Ki Surokerti dengan tersenyum namun menyumpah-nyumpah dalam hatinya. Tentu saja ia tidak berkenan dengan hanya menjadi “Pembantu” Ki Wirojoyo. Jengkel benar ia kepada perintah Ki Pemanahan tersebut. Kini kedengkian dan kebecian dalam hatinya kepada Ki Wirojoyo mulai berkobar menjadi api dendam.

“Kakang Wirojoyo, bersiaplah untuk melaksanakan tugasmu, tujuh hari lagi kita akan berangkat ke Mataram!” ucap Ki Pemanahan.

Ki Wirojoyo mengangguk mantap. “Baik kakang, tapi saya minta waktu untuk menjemput keluarga saya di Banyu Urip untuk kemudian saya boyong ke Mataram.”

Ki Pemanahan mengangguk, keluarga Ki Wirojoyo memang tinggal di desa Banyu Urip yang letaknya satu hari perjalanan ke arah timur dari Kotaraja Pajang, rumah Ki Pemanahan saat ini. “Baiklah, kapan kamu berangkat?”

“Malam ini juga agar besok siang sudah sampai, kami akan menyiapkan perbekalan dan segera kemari untuk pergi bersama ke Mataram.” jawab Ki Wirojoyo.

“Baik, pergilah. Hati-hati di Jalan Adi.” pungkas Ki Pemanahan.

***
Pagi hari itu di sebuah hutan dekat desa Banyu Urip. Seorang bocah laki-laki nampak sedang merentangkan busur panahnya ke atas dimana nampak sepasang burung sedang terbang bersama dengan cerianya. Ketika ia hendak melepaskan anak panah dari busurnya, tiba-tiba seorang anak perempuan yang sama-sama membawa perlengkapan memanah segera menahan tangan bocah laki-laki itu. “Tahan!” hardik si anak perempuan, “Jangan panah burung-burung itu Rono!”.

Si bocah laki-laki langsung menatap dengan memelas pada si anak perempuan bertubuh tinggi ramping yang nampaknya lebih tua dari si bocah. “Heee… Kenapa Yu Sekar?”

Si anak perempuan berkulit hitam manis yang ternyata adalah kakak si bocah tersenyum sembari menepuk-nepuk kepala adiknya tersebut. “Jayengrono, burung-burung itu punya kehidupan seperti kita, jangan renggut kehidupan mereka hanya demi kesenanganmu! Kasihan kan?”
Jayengrono, nama bocah itu langsung manyun dan menendang-nendang tanah dibawahnya. “Tapi… Aku ingin belajar memanah… Aku ingin jago memanah seperti Yu Sekar!”

Sekar Arum, nama anak perempuan tersenyum kemudian mengambil sebuah batu kerikil dan memberikannya pada Jayengrono. “Rono pergilah dua puluh langkah kesana, kemudian lemparkan batu ini tinggi-tinggi keatas!”

Jayengrono yang langsung paham akan maksud Mbakyunya mengangguk sambil tersenyum, kemudian bocah itu berlari sebanyak dua puluh langkah kearah yang ditunjukan oleh Sekar, kemudian melemparkan batu kerikil ditangannya sekuat tenaga keatas kepalanya.

Saat itu pula dengan secepat kilat, Sekar mengambil busurnya dan langsung melepaskan anak panahnya mengarah tepat pada kerikil yang baru saja dilempar Jayengrono! Pleettaakkk!!! Mulut Jayengrono menganganga ketika dilihatnya anak panah Sekar tepat mengenai batu yang baru saja dilemparnya keatas.

“Lihat? Kalau ingin berlatih memanah kita tidak harus menyakiti apalagi membunuh mahluk hidup lain bukan? Ingat pesan Romo itu Rono!” ucap Sekar sambil menepuk pundak adiknya seraya mengingatkan pesan Ki Wirojoyo ayah mereka pada Jayengrono.

“Yu Sekar memang hebat! Ayo tunjukan sekali lagi! Aku pingin lihat!” ucap Jayengrono sambil tertawa kegirangan.

“Baiklah. Hmm…” Sekar menyapukan pandangannya kesekitarnya, kemudian mengambil sebuah dahan pohon yang sudah lapuk dari sebuah pohon yang sudah tumbang.

“Rono, ambil dahan pohon ini!” perintahnya, Jayengrono pun segera mengambil dahan pohon dari tangan kakaknya.

“Sekarang pergilah tiga puluh langkah kebelakangku, kemudian lemparkan dahan pohon itu keatas sekuat tenagamu!” lanjut Sekar.

Jayengrono mengangguk, kemudian berlari sejauh 30 langkah kebelakang Sekar dan melemparkan dahan pohon ditangannya keatas sekuat tenaganya. Tanpa diberi aba-aba, Sekar langsung mengambil anak panahnya dan merentangkannya di busurnya, kemudian berbalik kebelakang dan langsung memanah keatas tanpa melihat sasarannya yakni dahan pohon yang dilempar adiknya.

Trakkk! Sungguh hebat anak perempuan ini, dengan hanya mengandalkan naluri dan pendengarannya, anak panahnya berhasil menancap tepat di tengah-tengah dahan pohon yang dilempar Jayengrono! Itulah kehebatan jurus memanah “Mata Elang” yang diturunkan ayahnya KI Wirojoyo kepada dirinya.

Sejenak Jayengrono terkesima melihat kepiawaian mbakyunya dalam ilmu memanah. Kemudian bocah yang berusia sekitartujuh tahunan ini mengambil dahan yang dipanah Sekar barusan dan memperlihatkannya pada Sekar. “Yu Sekar hebat sekali! Tolong ajari aku ilmu memanahmu! Ya! Ya!” rengeknya.

Sekar tersenyum kemudian mengusap-usap kepala adiknya yang manja tersebut. “Mintalah pada Romo adikku, sebab aku juga masih baru belajar.”

“Ah Romo jahat! Dia tidak mau mengajariku ilmu memanah dan ilmu silat. Padahal aku juga pingin jadi pendekar seperti Romo!” rajuk Jayengrono.

“Kamu tidak boleh begitu. Bukan hanya ilmu memanah, Romo juga pasti akan mengajarimu seluruh ilmunya padamu. Kan selama ini Romo masih sibuk karena banyak tugas membantu Raden Sutowijoyo.” Bujuk Sekar.

“Tapi kapan? Huh!” rengek Jayengrono.

“Pada waktu yang Romo anggap tepat.” jawab Sekar, tapi kemudian wajah anak perempuan ini menjadi muram. “Kamu lebih beruntung dariku. Romo hanya mengajariku ilmu memanahnya, dia tidak mau mengajariku ilmu kanuragan karena aku perempuan! Dia pasti akan menurunkan seluruh ilmu padamu Rono!” ucapnya dengan suara seperti tercekik karena menahan kekecewaan dalam hatinya, apalagi kalau ia teringat bahwa ia telah dijadikan calon selir seorang pembesar Pajang.

Jayengrono yang masih polos itu tidak paham dengan maksud Mbakyunya, apalagi melihat perubahan ekspresi wajahnya. “Yu Sekar kenapa? Sepertinya Yu Sekar sedih?”

Sekar menggelengkan kepalanya dan kembali mengulas senyum pada adik laki-lakinya tersebut. “Sudahlah! Ayo kita pulang! Jangan sampai kita dimarahi Ibu karena pulang kesorean!” Sekar pun menuntun pulang adiknya menuju ke Desa Banyu Urip meskipun adiknya yang manja itu masih terus merengek memintanya untuk diajari bermain panah.

***
Di sebuah rumah besar yang terdapat di Desa Banyu Urip, Ki Wirojoyo menambatkan tali kekang kudanya dibantu oleh seorang pria tua yang merupakan pembantu rumahnya. “Selamat datang Den.” sambut ramah si pria tua.

Ki Wirojoyo meberikan sebuah buntelan kain pada pria tua itu sambil tersenyum. “Terima kasih Ki Rongkot. Dan kamu bersiap-siaplah, besok kita akan pergi ke Pajang untuk kemudian pindah ke Tanah Mataram!”

“Alhamdulillah… Akhirnya Gusti Sultan menepati janjinya untuk memberi tanah Mataram pada Ki Pemanahan. Baik Den, Aki akan segera mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan jauh kita.” jawab Ki Rongkot dengan semangat.

Ki Wirojoyo kemudian melangkah menuju kedalam rumahnya. Di pintu rumahnya seorang wanita paruh baya berwajah cantik langsung menyambutnya dengan senyuman. “Selamat datang Kakang.” sambutnya.

Ki Wirojoyo pun memeluk istrinya, dengan senyum lebar ia memberikan kabar gembira pada istrinya. “Nyai bersiap-siaplah! Akhirnya kita akan pindah ke Tanah Mataram!”

“Jadi akhirnya Gusti Sultan memberikan Tanah Mataram pada Ki Pemanahan?” tanya Nyai Wirojoyo.

“Benar! Enam hari lagi Ki Pemanahan dan seluruh kerabat Selo akan pindah ke Mataram. Jadi kita harus segera bersiap-siap untuk pindah sekarang juga, karena besok kita harus ke rumah Kakang Pemanahan di Pajang terlebih dahulu!”

Nyai Wirojoyo mengangguk sambil tersenyum melihat suaminya yang sangat bersemangat tersebut. “Saya sudah membereskan barang-barang seperlunya yang akan kita bawa, tinggal membereskan beberapa barang lagi.”

Ki Wirojoyo mengangguk-ngangguk. “Bagus! Aku akan segera membereskan barang-barangku!”

“Tapi sebaiknya Kakang istirahat dan makan siang dulu. Kakang tentu lelah bukan menempuh perjalanan dari Pajang?”

“Ah kamu benar juga, saking terlalu bersemangatnya aku sampai lupa kalau aku belum makann dari kemarin malam hahahaha…” Ki Wirojoyo menuntun istrinya masuk kedalam rumahnya, kemudian ia duduk di meja makan ruang makan rumahnya untuk melepas lelah. Nyai Wirojoyo segera menghidangkan nasi pecel serta ayam goreng untuk makan siang suaminya serta satu kendi air putih.

“Mana Jayengrono dan Sekar Arum Nyai?” tanya Ki Wirojoyo sebelum menyantap makan siangnya.

“Mereka sedang bermain ke hutan Kakang, tadi Jayengrono terus merengek pada Mbakyunya untuk diajari memanah.” jawab istrinya.

Ki Wirojoyo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Si Jayengrono… Dia anak yang sangat manja… Tapi rumah kita pasti sepi kalau tidak ada dia…”

“Mungkin sudah saatnya Kakang mengajari dia ilmu kanuragan dan ilmu keprajuritan agar dia tidak jadi anak yang manja. Umurnya sudah cukup bukan?”

Ki Wirojoyo mengangguk perlahan. “Kamu benar Nyai, Aku harus mendidiknya agar dia bisa menjadi pria yang kuat, agar kelak dia bisa menjadi prajurit Mataram yang pilih tanding dan membanggakan warga Selo!”

Nyai Wirojoyo mengangguk sambil tersenyum, “Aku yakin Jayengrono akan menjadi seorang lelaki perkasa seperti dirimu Kakang. Lalu…” tiba-tiba wajah istri Ki Wirojoyo tersebut berubah muram. “Bagaimana dengan anak kita yang satu lagi? Kakang aku merasa tidak tega kalau Sekar Arum harus menjadi selir Tumenggung Menggolo… Lagi pula dia belum akil baligh…”

Ki Wirojoyo menghentikan makannya sebentar, dia menghela nafas berat dengan wajah muram. Lalu dengan suara sedikit tercekat berkatalah ia. “Aku juga tidak tega Nyai… Tapi kita harus bagaimana? Sekarang meskipun aku mengabdi kepada keluarga Ki Pemanahan dan kerabat Selo, tapi statusku adalah seorang Perwira prajurit negeri Pajang, dan Tumenggung Menggolo adalah atasanku… Aku tak berdaya menolaknya…”

Mendedengar jawaban pesimis dari suaminya tersebut, Nyai Wirojoyo hanya bisa duduk lemas dan menundukan kepalanya. “Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan Kakang? Sekarang Tumenggung Menggolo sudah paruh baya, apalagi nanti saat ia mengambil Sekar menjadi selirnya? Ahh… Kasihan Sekar Arum, dia masih kecil, saat seharusnya dia bisa bersenang-senang danmenikmati indahnya dunia…”

“Baiklah Nyai. Nanti aku akan bertanya kepada Kakang Juru Mertani tentang masalah ini, mudah-mudahan dia bisa memberikan jalan keluar untuk kita… Tapi itu nanti, karena sekarang kita harus bersiap untuk membuka Hutan Mentaok dan mengolah tanahnya agar dapat menjadi negeri yang subur dan makmur.” ucap Ki Wirojoyo dengan nada optimis, istrinya pun mengangguk setuju.

Setelah dapat menenangkan hati istrinya, Ki Wirojoyo meneruskan acara makannya. Tapi tepat ketika ia selesai makan, tiba-tiba hatinya merasa tidak enak. Ia seperti menangkap firasat yang sangat berbahaya yang akan segera menghampirinya. “Duh Gusti perasaanku jadi tidak enak…” hatinya semakin tidak enak ketika mengingat kedua anaknya belum pulang ke rumah.
profile-picture
sentinelprime07 memberi reputasi
1
23-08-2019 22:39
we want more
we want more
we want more
0
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
23-08-2019 23:21
Balasan post sentinelprime07
Quote:Original Posted By sentinelprime07
we want more
we want more
we want more


Makasih, nantikan episode2 selanjutnya ya emoticon-Big Grin
profile-picture
sentinelprime07 memberi reputasi
1
23-08-2019 23:23
Jejak dulu. Pasti bikin penasaran nih.
0
23-08-2019 23:33
Quote:Original Posted By aquatrium
Jejak dulu. Pasti bikin penasaran nih.


Monggo 😁
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
penyesalan
Stories from the Heart
cinta-seorang-hacker
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.