Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
280
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu
Taka mulai gelisah. Duduknya tak nyaman. Beberapa kali dia menggeser kursi mendekat ke meja, lalu memundurkannya lagi. Dan ketika ponsel pintarnya bergetar tangan kanannya gemetar membuka pesan yang masuk.
Lapor Hansip
07-08-2019 17:16

Kotak Waktu

Past Hot Thread
Quote:Alhamdulillah. Kotak Waktu sudah dapat tanggal rilis, yaitu 11 November 2019.
Jangan lupa beli bukunya ya, Gan.
Akan tersedia di Gramedia dan toko buku partner di seluruh Indonesia.
emoticon-I Love Kaskus

Kotak Waktu


PRAKATA

Di era digital sekarang, menjaga hubungan pertemanan terasa lebih mudah untuk dilakukan. Orang-orang bisa tetap saling terhubung seberapa pun jauhnya jarak di antara mereka. Namun pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya jadi generasi yang tumbuh di era sebelum internet merajalela seperti sekarang? Tanpa media sosial, tanpa aplikasi perpesanan, dan tanpa kemudahan-kemudahan yang ada di zaman ini, bagaimana mereka akan tetap terhubung?

Sebagai bagian dari generasi yang merasakan peralihan dari era tradisional ke era modern, saya tahu betul bagaimana rasanya ‘kehilangan’ teman-teman dekat. Kalau generasi sekarang bisa dengan mudah memantau aktivitas teman melalui media sosial, kami di masa itu hanya mengandalkan surat untuk berkirim kabar. Atau sesekali menelepon, kalau ada uang lebih. Sebuah kabar dari teman lama yang berpindah kota atau negara, sungguh terasa mahal. Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kami akan saling dikejutkan dengan betapa banyaknya perubahan yang dialami, atau betapa banyaknya cerita hidup yang terlewatkan. Itu pun kalau sempat bertemu kembali.

Menulis buku ini menghadirkan banyak nostalgia di hati saya. Seperti petualangan menjelajah waktu, saya mengirim diri saya sendiri menuju hari-hari yang sudah lama berlalu, namun rasanya seperti baru kemarin. Ada kehangatan dan kerinduan yang terasa sangat dekat meskipun kenyataannya sungguh jauh.

Buku ini adalah pesan rindu dari saya untuk sahabat-sahabat lama yang kini entah di mana berada. Sahabat yang dulu sama-sama berjuang menggapai mimpi. Sahabat yang dulu selalu mengisi hari-hari dengan celotehan, nyanyian, atau bahkan makian. Sungguh cepat waktu berlalu. Saya percaya kita kini sedang belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.

Akhir kata, saya berharap buku ini bisa menjadi ‘sahabat’ yang baik untuk kalian, para pembaca. Atau setidaknya, mengingatkan kita semua bahwa di antara banyaknya hal-hal yang tumbuh dan luruh di dunia ini, hanya cinta dan persahabatan yang sanggup bertahan. Selamanya.

Tertanda,
Pudjangga Lama
Diubah oleh pujangga.lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 40 lainnya memberi reputasi
41
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 15
Kotak Waktu
07-08-2019 18:02
Meninggalkan jejak di thread milik sang legend emoticon-Paw

Anyway semangat nulisnya gan, semoga lancar terus
0 0
0
Kotak Waktu
07-08-2019 18:07
Wooaahh "Singa" nya sfth come back

emoticon-Selamat

Ijin nyimak om ari dan akn slalu setia menanti update nya emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
romlihamdani dan yunie617 memberi reputasi
2 0
2
Kotak Waktu
07-08-2019 18:34

DAFTAR ISI

Halo, teman-teman subforum SFTH.

Sudah hampir 9 tahun sejak saya menulis utas pertama, Sepasang Kaus Kaki Hitam (SK2H), dan sudah 2 tahun sejak bukunya terbit.

Bagaimanapun, SFTH KASKUS punya tempat yang istimewa bagi saya. Subforum ini adalah 'rumah' pertama untuk tulisan saya, juga tempat kembali ketika saya ingin berbagi cerita.

Saya pikir setelah menulis buku SK2H, saya akan berhenti menulis. Tetapi saya kemudian menyadari bahwa saya telanjur cinta menulis.

Memang, sekarang ini arah tulisan saya lebih ke dijadikan buku, bukan menulis di blog seperti dulu. Kali ini pun yang akan saya bagikan adalah nukilan dari versi cetak yang akan terbit tidak lama lagi, judulnya Kotak Waktu.

Tetapi seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, SFTH adalah tempat untuk kembali. Karena itu, saya akan unggah sebagian isi buku kedua di sini, khusus untuk para pembaca SFTH.

Semoga kalian suka. emoticon-coffee

Diubah oleh pujangga.lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pentium99999 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
Kotak Waktu
07-08-2019 18:55
Siap om, ditunggu updetannya. Kalo bisa langsung 5 part emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kyukyunana dan 4 lainnya memberi reputasi
0 5
-5
Kotak Waktu
07-08-2019 19:13
izin pageone om ari... emoticon-linux2
profile-picture
profile-picture
cakrawala.senja dan tangguyooh memberi reputasi
2 0
2
Kotak Waktu
07-08-2019 19:38
ini yang ditunggu
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 20:06
SFTH emang tempat kembali om...
wellcome back emoticon-Malu
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 20:09
mumpung masih kosong ikut nongkrong ya di pejwan emoticon-Shakehand2

Welcome back legend
emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
cakrawala.senja dan mandalawangi24 memberi reputasi
1 1
0
Kotak Waktu
07-08-2019 20:37
welcome back legend emoticon-Matabelo

numpang nenda dulu emoticon-Malu
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 20:49
Ijin nitip lapak di thread sang Legend SFTH yg baru kambek emoticon-Big Grin emoticon-Angkat Beer
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 20:55
Nitip lapak mas,, saya masih blum bisa lupa sama SK2H, benran mellow ending nya,,
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 21:27
welcome back... emoticon-Nyepi
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 21:36
akhirnya om ari balik lagi...
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 21:50
wih legend, om ari come back. ijin nenda om
profile-picture
cakrawala.senja memberi reputasi
1 0
1
Kotak Waktu
07-08-2019 22:02

PROLOG

Jakarta, 2014

Pada suatu malam yang terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya bagi seorang lelaki yang sedang berdebar-debar dadanya. Dari sudut ruangan dia melempar pandang ke luar. Hujan deras mengguyur selatan Jakarta. Rintik-rintik air menampar-nampar kaca jendela di depan wajahnya. Dialihkannya pandangan ke arloji di tangan kiri. Sudah pukul 8 lewat 10 menit. Sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan.

Taka mulai gelisah. Duduknya tak nyaman. Beberapa kali dia menggeser kursi mendekat ke meja, lalu memundurkannya lagi. Sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan. Dia hanya sedang mencoba menenangkan diri, walaupun tampaknya tidak terlalu berhasil. Dan ketika ponsel pintarnya bergetar, dia sedikit kehilangan kontrol. Tangan kanannya gemetar membuka pesan yang masuk.

From: Hana
Aku udah di parkiran.


Dengan sigap Taka membalas.

From: Taka
Ditunggu ya.


Taka menaruh ponsel di meja. Digosokkannya kedua telapak tangan supaya lebih hangat, tapi dia tetap saja kedinginan. Ini adalah hari yang penting untuknya. Dia tidak boleh terlihat gugup. Dia tidak ingin malu di hadapan perempuan itu. Seharusnya AC restoran ini diganti saja dengan kipas angin, dia mengomel dalam hati.

Pintu depan terbuka. Seorang perempuan melangkah masuk. Salah satu pegawai restoran datang menyambut. Sejenak mereka berbincang, lalu si petugas menunjuk ke meja Taka. Ke situlah perempuan itu melangkah.

Taka tersenyum menyambut kedatangan Hana.

“Maaf, aku telat,” kata Hana.

“Enggak apa-apa. Yang penting kamu datang.”

Ketika akhirnya mereka berdua duduk berhadapan, Taka mengingat lagi hari ketika pertama kali mereka bertemu.

*


Jakarta, 2013

Di dalam bioskop. Film sudah selesai dan lampu-lampu mulai dinyalakan, tetapi sebagian besar penonton masih duduk setia menunggu after credit scene yang memang biasa tayang di bagian akhir film.

Hari itu Taka datang sendiri. Teman-teman kantornya sudah lebih dulu menonton ketika film itu diputar pada hari pertama penayangannya di bioskop. Studio penuh. Taka kebagian duduk di kursi pada deretan tengah.

"Hei,” orang yang duduk di sampingnya memanggil. Selama film diputar, Taka sama sekali tidak tahu siapa yang duduk di kanan kirinya. Selain gelap, dia juga fokus pada film. “Nonton film Marvel kok pakai kausnya DC?”

Otomatis Taka menatap kausnya sendiri. Dia baru sadar memakai kaus putih dengan logo huruf ‘S’ khas pahlawan super dari planet Crypton, Superman. Superman adalah karakter pahlawan super milik DC Comics, sementara film yang ditontonnya hari itu berasal dari semesta Marvel.

“Kirain fan DC enggak suka filmnya Marvel,” lanjut perempuan itu.

“Aku suka dua-duanya, kok. DC ataupun Marvel, sama-sama bagus,” Taka berkilah dan menutupi kenyataan di kantor dia kerap beradu argumen dengan rekan kerjanya yang merupakan fan garis keras Marvel mengenai film mana yang lebih baik, DC atau Marvel. “Lagian perkara kaus doang. Memangnya kalau nonton Marvel harus pakai kaus Marvel juga?”

“Iya, dong. Lihat aku, nih.” Perempuan itu menunjuk kausnya yang bergambar perisai milik Captain Amerika.

Taka cuma nyengir. Orang-orang mulai beranjak pergi.

“Coba aku tes,” lanjut si perempuan. “Sebagai fan DC, apa aja yang kamu tahu tentang Avengers? Coba sebutkan karakter-karakter pahlawan super yang ada di semesta Marvel. Minimal sepuluh. Bisa?”

Taka menarik napas panjang. Kalau sudah ditantang, pantang dia menyerah. “Captain America, Iron-Man, Hulk, Thor, Black Widow, Hawkeye, Scarlet Witch, Vision, Black Panther, Ant-Man, Spider-Man, dan Doctor Strange.”

Perempuan di hadapannya tampak terkejut. Dia bertepuk tangan lalu mengacungkan kedua jempol tangannya. “Oke juga. Kamu udah bisa gabung ke klub Marvel. Ngomong-ngomong, namaku Hana.”

*


Hana seorang jurnalis politik di salah satu media cetak ternama. Dia sudah menggeluti profesi itu selama hampir empat tahun. Dia terbiasa mengejar berita bahkan ke daerah jauh sekalipun.

Taka hafal gaya berpakaian Hana yang kasual dan terkesan cuek. Karena itu dia terkejut malam ini Hana mengenakan maxi dress merah muda lembut dan strappy pumps berwarna senada. Dengan rambut tergerai di kedua bahu, sempurnalah penampilannya malam ini.

“Kenapa? Heran lihat aku enggak pakai kaus dan celana jins?” Hana seolah menerawang ke dalam kepalanya.

Taka hanya menggeleng pelan. Dia sudah menghabiskan suapan terakhir santapan malamnya. Tanpa sepengetahuan perempuan di seberang meja, Taka sering meraba pada saku celana panjangnya untuk memastikan kotak itu masih di sana. Dia beberapa kali menepuk kotak itu, seolah ingin mengatakan pada benda di dalamnya untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat.

Bukan hal mudah untuk melakukan ini. Butuh persiapan yang matang dan waktu berpikir yang lama sebelum akhirnya dia memutuskan bahwa ‘Hana-lah orangnya’. Kiranya satu tahun waktu yang cukup untuk Taka mempertimbangkan segala sesuatunya. Malam ini, dia memutuskan untuk melamar Hana.

Taka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada percakapan sepanjang menyantap makanan. Dia memikirkan banyak hal. Ketakutan, keinginan, dan harapan berbaur menjadi satu di kepalanya. Untung saja saat itu restoran menampilkan pertunjukan musik langsung. Di tengah ruangan ada sebuah panggung kecil dengan hanya satu kursi di atasnya. Seorang gitaris klasik asyik memainkan jari-jarinya di atas senar, menciptakan lantunan lagu yang menenangkan.

“Aku enggak tahu kamu suka musik klasik,” suara lembut Hana membuat lamunan Taka buyar. Taka menaikkan kedua alisnya, pertanda dia tidak mengerti maksud Hana. Perempuan di hadapannya mengedikkan kepala ke arah gitaris di atas panggung.

“Oh,” Taka tertawa pelan. “Aku suka semua yang disajikan restoran malam ini.”

Hana balas tersenyum. Meja mereka berada di sudut ruangan, jadi posisi gitaris saat itu membelakangi mereka. Hana sampai harus memutar badan untuk melihat penampilan sang gitaris. “Jago ya dia mainnya.”

Taka anggukkan kepala. “Aku jadi ingat, dulu punya teman yang juga jago main gitar di sekolah.”

“O ya? Jangan bilang dia yang ngajarin kamu main gitar.”

Taka tertawa. “Sejujurnya, iya. Dia yang ngajarin aku main gitar. Aku masih ingat, lagu pertama yang diajarkan waktu itu lagunya Peterpan yang berjudul Mimpi Yang Sempurna.”

“Jadulnya,” komentar Hana disusul tawa mereka berdua. “Gimana, sih, lagunya? Yang kayak gini bukan… Mungkinkah bila kubertanya, pada bintang-bintang. Dan bila ku mulai merasa, merasa kesunyian… Gitu?”

Taka menjentikkan jari. “Aku dan semua yang terluka karena cinta…”

“Aku ‘kan menghilang dalam pekat malam. Lepas kumelayang. Biarlah kubertanya pada bintang-bintang, tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna…”

Mereka bernyanyi bersama dengan suara cukup keras. Praktis perhatian semua pengunjung tertuju pada mereka. Menyadari perbuatannya sudah mengganggu orang-orang, Taka menangkupkan tangan tanda meminta maaf.

“Kamu, sih, yang mulai!” Bisik Taka.

“Tapi kamu juga ikut nyanyi. Suaranya keras pula!”

Mereka tertawa cekikikan.

Taka senang mendapat pengalih perhatian. Setidaknya kedua lututnya sudah tidak lagi bergetar. Saat itu hampir pukul sembilan malam. Taka merasa sudah sampai pada waktunya. Baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, ketika gitaris di atas panggung berdiri lalu membungkuk hormat ke semua penjuru disusul tepukan tangan para pengunjung. Saat itulah dada Taka berdebar kencang. Dia sampai berdiri untuk melihat dengan jelas sosok di atas panggung.

“Kenapa, Ka?” Hana yang penasaran memutar badan. “Kamu lagi ngelihatin siapa?”

“Gitaris itu,” Taka menunjuk. “Aku yakin kenal sama dia.”

“O ya? Jangan-jangan dia temanmu di sekolah, yang baru aja kamu ceritain.”

Taka menganggukkan kepala dengan cepat. “Iya. Aku yakin. Kamu tunggu sebentar ya. Aku mau nyamperin dia.”

Hana hanya menganggukkan kepala.

Taka berjalan dengan langkah lebar menyusul gitaris yang kini sedang bersalaman dengan seseorang yang tampaknya manajer restoran.

“Gugun,” Taka memanggilnya. Kedua lelaki di hadapannya menoleh. Selama beberapa detik Taka bingung. “Maaf, saya teman lama gitaris ini,” katanya pada manajer restoran.

Taka mengamati baik-baik sosok itu. Dia tidak mungkin salah. Walaupun tampak banyak sekali perubahan dibandingkan sosok yang dikenalnya semasa sekolah dulu, tapi tidak mungkin dia keliru. Dia tidak menyangka akan menemukan Gugun, sahabatnya, dalam situasi seperti ini.

Gugun yang diingatnya memang bertubuh tinggi, tetapi kali ini dia tumbuh lebih tinggi lagi. Rambutnya yang keriting panjang diikat ke belakang. Teman-teman dulu memanggilnya Guling alias Gugun Keling, julukan yang merujuk pada kulitnya yang cukup gelap. Sahabatnya itu memang gemar beraktivitas di luar rumah sejak kecil, main layang-layang, mandi di sungai, sampai jadi kuli bangunan meski orang tuanya melarang. Namun sekarang Gugun terlihat jauh lebih bersih dan cerah.

“Teman lama?” Gugun bertanya.

“Iya. Ini gue, Taka. Kita selalu duduk satu bangku dari kelas 3 sekolah dasar.”

Gugun mengernyitkan dahi. Dia tampak berpikir sejenak lalu mengangkat kedua bahu. “Gue enggak ingat.”

“Maaf, mungkin Bapak salah orang?” Manajer restoran bertanya dengan nada penuh kesopanan pada Taka.

Salah orang? Taka menjadi ragu untuk sesaat, tetapi melihat wajah di hadapannya, dia kembali yakin. “Enggak mungkin salah. Saya kenal dia dari kecil,” Taka sambil menjulurkan tangan berusaha memberi gambaran tinggi seorang anak pada umumnya, “sampai SMA. Rumah kami enggak bersebelahan tapi di gang yang sama. Saya enggak mungkin salah ingat. Begitu pun Gugun. Iya, kan?”

“Dari mana lu tahu nama gue?”

Taka diam sejenak, lalu meledaklah tawanya. Gugun sedang bercanda, pikirnya. “Oke. Lawakan yang bagus. Gimana kabar lu?”

“Maaf. Kayaknya lu beneran salah orang.”

Ketiga lelaki itu sama-sama diam. Menyadari situasi menjadi canggung, Taka akhirnya mengalah. “Oke. Mungkin saya salah orang.”

Dia pamit dan kembali ke meja. Hana yang memang sejak tadi memperhatikan, bertanya padanya. “Ada apa?”

Taka menggeleng. “Katanya aku salah orang.”

“Maksudnya, dia enggak kenal sama kamu?”

Taka hanya menganggukkan kepala.

“Kok gitu, sih? Katanya kalian teman lama?”

Taka mengangkat bahu. Diperhatikannya Gugun yang melangkah keluar dan lenyap di balik pintu. Dia benar-benar terkejut dengan respon dari Gugun. Dia pejamkan mata, berusaha mengingat dengan lebih baik, dan keyakinannya tidak berubah. Dia adalah Gugun, tukasnya. Dia tidak mengerti mengapa Gugun tak mengenalinya. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian sepuluh tahun lalu? Mungkinkah Gugun masih menyimpan dendam selama itu?

Taka termenung.

“Manusia bisa berubah,” kata Hana prihatin. Dia tersenyum seraya menggenggam sebelah tangan Taka di atas meja. “Mungkin sahabatmu benar-benar lupa, atau dia sengaja bersikap begitu dengan alasan tertentu. Hati manusia memang enggak bisa ditebak.”

Taka menarik napas panjang. Dia balas tersenyum pada Hana, lalu kembali merenung. Hatinya telanjur gelisah. Akhirnya malam itu Taka memutuskan untuk menunda lamaran. Setibanya di kosan, dia merebahkan diri di atas kasur dan otaknya menggali kembali ingatan yang lama tertimbun di masa lalu. Gugun adalah salah satu sosok penting dalam hidup Taka. Mengingat Gugun, berarti mengingat lagi sosok-sosok lain yang mengisi hari-harinya pada masa itu.
Diubah oleh pujangga.lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Kotak Waktu
07-08-2019 22:03
Siap om emoticon-Cendol (S) , selamat bercerita kembali di SFTH emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Kotak Waktu
07-08-2019 22:06
legendaaaa telah tibaaaaa
0 0
0
Kotak Waktu
07-08-2019 22:21
mantap thread baru lgi om.. selalu di nanti karya2mu di sfth emoticon-Jempol
0 0
0
Kotak Waktu
07-08-2019 22:22

BAB 1

Bandung, 2002

Suara lengkingan gitar membahana ke segala penjuru sekolah. Di lapangan terbuka yang biasa digunakan untuk upacara bendera, hari itu berdiri sebuah panggung besar dengan perangkat suara raksasa yang menghasilkan dentuman suara luar biasa. Di bawah panggung itu, ratusan siswa dan siswi berseragam putih abu-abu berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik yang dimainkan lima personel band di atas panggung.

Infinity, nama band yang sedang tampil membawakan lagu Sweet Child O’ Mine milik grup band legendaris asal Amerika, Guns N’ Roses. Gugun sebagai gitaris berhasil membuka lagu dengan permainan solo yang memukau. Sejak pertama kali senar gitar dipetik, melodinya berhasil membuat ratusan penonton berteriak histeris. Disusul tabuhan dram dan petikan bas menandai dimulainya sebuah pesta.

“She’s got a smile that it seems to me. Reminds me of childhood memories. Where everything was as fresh as the bright blue sky…” Dan suara melengking tinggi dari vokalis melengkapi mewahnya musik yang mereka mainkan.

Taka melihat semua keseruan itu dari lorong depan kelasnya di lantai dua. Tangannya bertumpu pada susuran tembok pembatas. Tubuhnya sedikit bergoyang mengikuti irama musik. Sebenarnya dia juga ingin berbaur bersama orang-orang di lapangan, tapi mengingat matahari siang sedang terik-teriknya, jadilah dia menonton dari atas.

Di atas panggung sana, Gugun sedang mengambil jatahnya pada bagian interlude dengan bersolo gitar. Banyak penonton bertepuk tangan menyaksikan kehebatannya memainkan melodi. Ketika akhirnya lagu selesai, suara tepukan tangan terdengar lebih banyak dari sebelumnya. Satu per satu para personel turun dari panggung. Dengan gayanya yang tengil, Gugun mengangkat kedua tangan dan melambai ke segala arah sambil meneriakkan sesuatu yang samar-samar terdengar seperti “I love you all!”.

“Belagu banget tuh anak.”

Saking terpukaunya Taka tidak menyadari kehadiran Dewi di sampingnya. Taka menatap ke arah yang sama, dan mau tidak mau dia setuju dengan ucapan Dewi. Saat itu Gugun terus melambaikan tangan meski perhatian penonton sudah teralih pada pembawa acara yang sedang mengumumkan penampil selanjutnya di atas panggung. Gugun bahkan terus meneriakkan kalimat yang sama di depan salah seorang guru yang kebetulan lewat. Walhasil, sebuah jeweran mendarat di telinganya.

Pemandangan itu membuat Taka dan Dewi tertawa terbahak-bahak. Entah Gugun mendengar suara tawa mereka atau hanya kebetulan, dia yang tadinya usapi telinga karena sakit, mendadak melambaikan tangan pada mereka sambil meneriakkan kalimat yang sama.

“Jijik banget, sih.” Dewi menanggapi gestur dari Gugun dengan dingin. Taka cuma tertawa.

Gugun dan Dewi adalah sahabatnya sejak lama. Mereka bertiga bersahabat. Meski begitu, Gugun dan Dewi sering bertengkar seperti anak kecil.

Gugun Gunardi, nama aslinya. Dengan tinggi lebih dari 170 sentimeter, menurut Taka seharusnya Gugun punya badan yang lebih berisi. Setiap kali dia melihat Gugun berlari—terutama pada jam pelajaran olahraga—Taka khawatir kawannya itu akan jatuh dan melayang terbawa angin.

Di kelas I-2, Gugun terkenal sebaga siswa paling malas. Dia jarang sekali mengerjakan tugas piketnya membersihkan ruangan. Dan kalau bukan karena disuruh oleh guru, tak ada satu pun siswa yang mau bergabung dalam satu kelompok belajar dengannya.

Satu hal yang sangat Taka kenal dari Gugun, adalah kebiasaannya tidur saat jam pelajaran berlangsung. Gugun punya sebuah buku tulis besar yang selalu dibawanya setiap hari. Buku itu bukan digunakan untuk menulis materi pelajaran, tetapi untuk menutupi wajahnya ketika tidur. Dia akan memosisikan bukunya berdiri di meja, melipat kedua tangan, lalu menyandarkan dagunya di sana, maka tidurlah dia. Sesekali Taka bisa mendengar suara dengkuran Gugun. Dia sangat menikmati tidur siangnya di kelas.

Tentu trik ini hanya bisa digunakan pada guru yang tidak interaktif dengan para siswa. Biasanya guru-guru semacam ini hanya akan membacakan materi pelajaran dari meja guru di depan. Atau berdiri sambil sesekali menulis di papan tulis tanpa peduli bagaimana reaksi siswanya. Gugun sudah hafal betul pelajaran apa saja yang dipimpin guru bertipe demikian. Untuk pelajaran lain yang gurunya lebih interaktif, Gugun akan berpura-pura membaca buku pelajaran dengan menundukkan kepala, padahal sebenarnya kedua matanya terpejam.

Tetapi uniknya, meski sering tidur saat belajar, nilai-nilai Gugun tidak bisa dibilang rendah. Dia selalu mendapat nilai di atas 50 pada semua ulangan. Bahkan pernah sekali dia hampir mendapat nilai 100 di pelajaran Kesenian. Dari situlah teman-temannya berpikir kalau Gugun suka menyontek.

Taka dan Gugun berteman sejak kepindahan Taka dari Jakarta ke Bandung beberapa tahun silam. Saat itu mereka masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Mereka ada di kelas yang sama, dan rumah keduanya pun berdekatan. Jadilah mereka akrab karena sering bermain bersama.

Sementara itu rumah Dewi sebenarnya hanya berbeda satu gang. Tetapi dibandingkan dengan Taka, Gugun lebih lama mengenal Dewi. Orang tua Gugun dan orang tua Dewi adalah partner dalam bisnis yang mereka jalankan. Mereka mempunyai sebuah pabrik kecil yang memproduksi furnitur rumah tangga berbahan kayu seperti kursi, meja, dan lemari. Karena relasi itu, Gugun dan Dewi sudah dekat meskipun Dewi tidak bersekolah di SD yang sama dengan Taka dan Gugun. Taka baru benar-benar mengenal Dewi ketika mereka bersekolah di SMP yang sama.

Dewi berperawakan tinggi, lebih tinggi dari Taka tetapi lebih pendek dari Gugun. Dia terbilang antiarus utama. Ketika anak perempuan sebayanya mulai menggemari tontonan bernuansa romantis, Dewi lebih suka film aksi. Dia bahkan dikenal sebagai sosok yang tomboi karena kegemarannya berpakaian seperti lelaki dan sifatnya yang tegas. Pernah suatu ketika Dewi memotong pendek rambutnya sehingga membuat orang tuanya marah besar. Dia dihukum tidur di gudang selama satu minggu. Setelah itu dia tak pernah lagi berani memotong rambut lebih pendek dari bahunya. Di lain hari, Dewi kedapatan berkelahi dengan anak lelaki, dan ajaibnya dia menang.

“Hei, hei, hei!” Gugun berteriak dari ujung lorong. Dia berjalan penuh gaya menuju Taka dan Dewi. Rambutnya yang keriting meriap-riap ditiup angin. “I love you!”

Dewi menggelengkan kepala sementara Taka tertawa lebar.

“Gimana penampilan gue tadi?” tanyanya begitu sampai di depan Taka dan Dewi.

“Keren.” Taka mengacungkan kedua jempolnya.

“Kalau menurut lu, Wi, gimana? Gue keren, kan? Ganteng, kan? Lu pasti tadi ikutan teriak-teriak di bawah sana.” Gugun lalu menirukan teriakan seorang fan yang kegirangan bertemu idolanya.

“Enggak! Dari tadi aku di sini sama Taka.” Dewi menyeringai jijik.

“Ka, lihat tuh. Dewi enggak mau mengakui gimana kerennya gue.”

Melihat reaksi Dewi yang seperti bom waktu—siap meledak dalam hitungan detik—Taka mengalihkan pembicaraan. “Elsa di mana ya? Dari tadi enggak kelihatan.”

“Katanya, sih, dia mau ke perpustakaan. Tadi bilang gitu ke aku.”

Gugun tertawa pelan. “Sayang banget dia enggak nonton penampilan gue.”

“Setop berlagak sok keren, atau kutonjok mukamu, Gun?”

“Nah, itu Elsa!” Taka bersyukur sekali Elsa muncul di saat yang tepat. Dengan membawa setumpuk buku, perempuan bertubuh tambun itu kesulitan melangkah. Buru-buru Dewi menghampiri dan mengambil sebagian bukunya lalu mereka berjalan menuju kelas I-2.

“Kamu mau bawa buku segini banyak, kenapa enggak bilang sama aku? Kan bisa aku bantuin,” kata Dewi.

Elsa nyengir malu. “Kalau kamu bantu saya di perpustakaan, nanti kamu enggak bisa nonton festival band hari ini.”

“Ah, enggak penting-penting banget itu mah,” Dewi berhenti sejenak di depan Taka dan Gugun. Kalimat selanjutnya diucapkan penuh penekanan, “yang tampil hari ini cupu semua! Enggak ada yang keren! Ngapain ditonton? Ha ha ha!” Setelah itu Dewi melanjutkan berjalan. Elsa di sampingnya menatap heran pada Dewi dan Gugun.

“Dasar cewek. Enggak ngerti musik,” Gugun menggerutu.

Elsa boleh dibilang anggota baru dalam geng Taka. Mereka baru mengenal Elsa di kelas 2 SMP. Awalnya, Gugun sering menjadikan Elsa bahan ledekan. Ini bisa dimengerti karena di antara semua orang, Elsa yang paling mencolok dengan tubuh gemuknya. Dewi tidak terima sikap Gugun. Mereka pun sempat berkelahi. Hasilnya, Gugun kalah. Dewi lalu memaksa Gugun berteman dengan Elsa. Begitulah awal mula mereka berempat kemudian menjadi sahabat.

Di antara mereka berempat, rumah Elsa yang paling jauh. Setiap kali main ke sana, mereka harus menggunakan angkot. Dengan keterbatasan uang saku, mereka mencari cara supaya bisa tetap main tanpa mengeluarkan uang. Mereka pun sepakat merayu orang tua masing-masing agar membelikan sepeda. Gugun dan Dewi bisa dengan mudah mendapatkannya, sementara Taka ditolak karena orang tuanya tidak mempunyai cukup uang untuk sepeda baru. Walhasil, dia selalu nebeng di sepeda Gugun.

“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, mari kita sambut band yang akan tampil selanjutnya,” suara Tio sebagai pembawa acara menggema di udara. “Ini dia band yang sudah tidak asing lagi, Miracle!”

Di bawah sana bergemuruh tepuk tangan dari penonton. Tiga orang berdiri di atas panggung. Penonton yang menyemut di sekelilingnya memang tak sebanyak ketika band Gugun tampil, tetapi satu hal yang pasti: mayoritas penontonnya adalah perempuan.

“Aku mungkin bukan pujangga. Aku mungkin tak selalu ada. Ini diriku apa adanya…” Sang vokalis yang juga merangkap gitaris mendapat atensi paling heboh dari penonton. Terlebih saat lagu memasuki bagian refrein. “Mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata. Ku tak selalu kirimkan bunga ‘tuk ungkapkan hatiku… Satu yang kupinta, yakini dirimu, hati ini milikmu. Semua yang kulakukan untukmu lebih dari sebuah kata cinta untukmu… Ku tak akan lelah jaga hati ini hingga dunia tak bermentari…”

Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari dalam kelas, disusul langkah-langkah berat beradu dengan lantai. Elsa dan Dewi berlari keluar kelas menuju tangga.

“Kak Iqbal lagi tampil!” Salah satu dari mereka berteriak.

“Ayo, jangan sampai terlewat!”

Taka dan Gugun saling pandang, lalu Gugun mendesah kecewa. “Gue benar-benar enggak ngerti. Penampilan band gue jelas lebih baik dari ini. Gue bawain lagu yang keren. Tapi kenapa cewek-cewek lebih suka lagu cengeng kayak gini?”

Taka setuju dengan Gugun. Di bawah sana, makin banyak siswa perempuan yang mengelilingi panggung. “Mungkin mereka cuma suka sama vokalisnya.”

“Siapa, sih, yang lagi tampil?”

“Iqbal,” Bagas, ketua kelas I-2, muncul dari dalam kelas.

“Iqbal yang mana?” tanya Taka.

“Kalian enggak tahu?” Bagas balik tanya.

Taka dan Gugun menggeleng bersamaan.

“Iqbal Fanjuri, kakak kelas kita. Digilai banyak cewek di sekolah ini.”

“O ya? Lu pernah dengar soal itu, Ka?”

Taka menggeleng lagi.

“Jelas aja kalian enggak tahu,” Bagas terlihat mulai jengkel. “Lingkar pertemanan kalian enggak luas. Itu-itu aja.”

“Memang apa bagusnya si Iqbal ini?”

Bagas tertawa menyeringai mendengar pertanyaan Gugun. “Biar saya kasih tahu. Iqbal ini, dia punya moge alias motor gede yang keren! Cewek seumuran kita suka sama cowok yang naik moge.”

Gugun tertawa sinis. “Cuma itu? Cuma perkara motor doang sampai dia digilai para cewek?”

“Saya belum selesai.” Bagas melempar tatapan tajam. “Dia kapten tim basket yang sering ikut kompetisi antarsekolah. Pertandingannya banyak ditonton siswa sekolah kita.”

“Paling juga lebih sering kalah. Iya enggak, Ka?”

Taka mengangguk.

“Iqbal itu ketua OSIS.”

“Terus?”

“Juara kelas dengan nilai tertinggi di antara juara kelas lainnya di sekolah kita.”

“Hm…”

“Aktif di beberapa organisasi sekolah.”

“Biasa aja, tuh.”

“Ganteng.”

“Relatif.”

“Vokalis band yang juga merangkap gitaris. Dan satu hal lagi,” Bagas buru-buru menyela sebelum Gugun berkomentar. “Ini poin utama yang ngebedain dia sama kalian berdua,” Bagas melanjutkan dengan penuh penekanan, “Iqbal selalu bayar setiap jajan di kantin.”

Hening sejenak.

“Masuk akal,” ucap Taka.

“Gue sekarang paham kenapa dia disukai banyak cewek,” Gugun menimpali.
Diubah oleh pujangga.lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Kotak Waktu
07-08-2019 22:24
Semangat om, meskipun sampe sekarang aku masih terjebak oleh Ari dan Mevallyemoticon-Frown
0 0
0
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 15
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia