alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d445c06018e0d491904ab40/new-world
Lapor Hansip
02-08-2019 22:51
NEW WORLD (KEJADIAN 100 TAHUN YANG AKAN DATANG) Chapter 1
Past Hot Thread
NEW WORLDBukan perkara mudah menemukan ingatan yang telah hilang. Aku dan Laura, dua insan dengan kehidupan yang fantastis mencari jawaban atas teka-teki demi era baru yang akan merubah kerusakan dunia. Tanpa berpikir panjang mari kita mulai cerita ini agar tahu apa sebenarnya jawaban tersebut dan bagaimana cara menemukannya.


Krrriiiiinnngggg!!!!! Tanganku berusaha meraihnya, terasa sulit karena saat itu mataku masih terpejam atau dalam kata lain setengah tidur dan setengah bangun. Akhirnya kuraih jam itu lalu kubanting sebisanya, maklum masih kesal dengan kejadian semalam. Malam itu merupakan salah satu malam yang masuk ke dalam daftar malam-malam yang buruk dalam hidupku.

"Galuh, aku mau pamit" kata ia malam itu.

"Eh, mau kemana ra?"

"Jadi gini luh, aku tidak merasa cocok dengan lingkungan di sini."

"Aku ga' salah denger nih?"

"Iih aku ga bercanda tau! Udah ah aku mau pulang." Ia raih tas kecil yang merupakan salah satu kafo dari orangtuanya.

"Eh jangan dulu lah." Ucapanku seperti tak di dengar olehnya, suaraku seakan menghilang seiring tubuh Laura yang juga ikut di telan kegelapan malam.

Ah!!!!! Lagi-lagi aku tak mampu memberi tahunya, kugenggam kalung yang terbuat dari batu safir berwarna biru sembari berkata," Tunggu aku Laura! Karena aku masih menyimpan satu rahasia besar untukmu."

Kupandangi buku diary yang di atas meja yang ketika kubaca dapat memunculkan deja vu dan seakan akulah penulis buku ini. Kulihat lembardemi lembar dengan seksama. Lalu mataku kembali tertuju pada kata Dia yang bersinar, dia yang berada di sampingmu yang menurutku sangat mirip dengan waktu sekarang, hanya Laura yang kumiliki dan dapat kupercaya. Sejak malam itu, aku berniat mengejarnya pagi ini, kututup buku diary.

Pikiranku masih berputar tentang kata dalam buku tersebut seiring langkah yang mengarah ke arah rumah Laura. Kulihat di jalan banyak sekali bangunan yang telah runtuh tak terawat karena penghuninya telah bermigrasi ke tempat yang masih menyediakan sumber daya alam. Walaupun demikian, masih saja ada orang yang menetap dengan berbagai alasan, salah satunya mereka berharap tanah tempat mereka berpijak dapat hidup seperti sedia kala.

Kini aku berdiri di depan rumah kecil berukuran 5m × 7m dengan tembok berwarna putih yang telah kusam dimakan usia, di depan rumah terdapat pagar kayu setinggi setengah meter yang dijadikan pembatas rumah lengkap dengan taman kecil yang kini mulai rimbun ditumbuhi rumput liar, di dalamnya hanya hidup seseorang yang hidup sendiri tanpa teman, karena kedua orangtuanya telah meninggalkannya setahun yang lalu akibat insiden pembunuhan oleh perampok, ya benar perampok. Sekarang tindak kejahatan meningkat drastis karena tak ada lagi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan karena rusaknya ekosistem.

"Laura!!!" Teriakku dengan lantang.

"Lauraaa!!!!" Aku kembali berteriak karena tak ada jawaban dari dalam rumah.

Ada yang aneh dalam hal ini, tak biasanya Laura tak menjawab panggilanku. Dengan rasa khawatir aku memaksa masuk ke dalam berharap aku menemukan Laura. Aku masuki setiap kamar, namun aku tak menemukannya. Apakah ia telah pergi? "Tidak mungkin! Tidak mungkin ia tega meninggalkanku!" Kucoba sekali lagi menelusuri seisi rumah, namun hasilnya nihil. Laura tak ada di rumahnya!

"Lauuuuurrraaaaaaaaaaa!!!!" Air mataku tak berhenti mengalir.

Bersambung ...
Polling

Poll ini sudah ditutup - 1 Suara

Siapakah Galuh sebenarnya? 
100%
Pembuat buku diary
0%
Pembaca buku diary
Diubah oleh Abdulkhalim123
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cutycutypie dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
04-08-2019 21:49
Chapter 2 "Berangkatlah Aku"
Aku berlari seperti tikus dihadapan kucing-kucing lapar, kulihat jam tangan menunjukkan pukul 09.00, semoga kereta belum berangkat. Tas berat di punggungku semakin mempersulit langkah, aku lewati gang-gang kecil dengan hiasan mural karya anak-anak jalanan, aku tak memperdulikan itu karena untuk sekarang pikiranku hanya tertuju pada Laura.

Aku telah sampai di depan gerbang stasiun, tanpa berlama-lama kuhampiri loket berharap ada info tentang Laura pergi kemana.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa penjaga loket ramah.

"Selamat siang pak, saya mau tanya apakah ada penumpang bernama Laura?"

"Sebentar saya cek."

Kulihat ia memainkan jari-jarinya dengan cepat menuju tombol yang diinginkan. Sembari menunggu, kupandangi seisi stasiun, kulihat banyak orang dari berbagai daerah berkumpul dalam satu tempat, ramai dengan obrolan, gelak tawa, dan tangisan anak kecil minta dibelikan permen oleh orangtuanya. Tanpa menunggu lama penjaga loket memanggilku.

"Nak, orang yang bernama Laura Kartika Puspita Sari dua jam lalu naik kereta jurusan Yogyakarta."

"Baik Pak terimakasih, kapan lagi ada kereta jurusan Yogyakarta?" Tanyaku kepadanya.

"Dua jam lagi nak."

"Kalau begitu saya pesan satu tiketnya."

"Baik nak."

Berkat penjelasan penjaga loket tersebut aku jadi tahu kemana Laura akan pergi, tak salah lagi dia akan menemui kakeknya. Dua jam termasuk waktu yang panjang bagiku, sebab aku sudah tak sabar menyusulnya. Kuambil kembali buku tersebut, buku dengan sampul warna coklat berukuran 20cm × 10cm dan memiliki tali pita pembatas berwarna biru yang ujungnya telah terurai. Aku rebahkan tubuhku di teras stasiun, aku taruh punggungku pada tembok stasiun berwarna putih.

"Nak, keretamu telah datang."

"Oh iya pak, terimakasih banyak." Aku terkejut melihat penjaga loket tadi tiba-tiba ada didepanku. Ternyata aku tak sengaja tertidur.

Aku berlari menghampiri keretaku, kucari tempat duduk favorit yakni dekat jendela. Karena lewat jendela lah segala sesuatu dapat terlihat serta beribu-ribu inspirasi akan datang. Aku melihat jam ditangan, waktu menunjukkan pukul 13.00 sangat panas ditambah beban pikiran yang sekarang sedang penuh. Untuk menghilangkan kejenuhan, kulempar pandangan ke luar jendela, aku menangis dalam hati melihat keadaan dimana banyak manusia menyesal telah semena-mena terhadap alam, kini mereka terkena imbasnya termasuk aku. Benar sekali, di tahun 2120 ini kondisi bumi sudah jauh berbeda dengan kondisi seabad yang lalu, tak ada lagi anak bermain di bawah pohon dan tak bisa lagi ditemukan burung terbang dengan bebas, semua sirna semua hilang ditelan kerakusan manusia. Disamping itu, hatiku berkata,"Sebentar lagi aku sampai, Laura."

Bersambung.....
Diubah oleh Abdulkhalim123
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1
04-08-2019 21:52
Chapter 3 "Kejadian Di Stasiun Tugu"
Sssssshhhtttttt... Tak terasa aku telah sampai di bumi Yogyakarta, tempat yang dulu katanya dijadikan sebagai kota pendidikan di Indonesia. Tempat yang dahulu dijadikan sebagai gudangnya mahasiswa, tempat yang dibanggakan karena ilmuwan-ilmuwan terkenal lahir dari kota ini. Namun berbeda dengan pendapatku, memang banyak ilmuwan tercipta namun siapa sangka lewat teknologi ciptaan mereka kini bumi telah rusak, maafkan aku yang telah beranggapan demikian.

Kini pemandangan kota ini tak seelok saat kakekku hidup, kota yang dulu dikatakan indah dengan pohon-pohon rindang kini telah berubah menjadi kota penuh sampah lengkap dengan kendaraan-kendaraan rongsok, mereka tak lagi beroperasi karena pasokan minyak bumi telah menipis. Dahulu orang dengan bangga memiliki kendaraan mewah, namun mereka tak sadar akibat dari ulah mereka.
Kulihat ada tulisan yang sangat besar bertuliskan "Tugu".

Ya benar, kini aku berada di stasiun Tugu, stasiun yang terletak di daerah bernama Gedongtengen dan berdiri sejak 1887 ini sampai sekarang masih berdiri tegak dengan ciri khas cat putih. Hampir seluruh jenis kereta pernah melewati stasiun ini dan yang paling membuatku terkesan adalah penduduk asli di sini rata-rata ramah dengan pengunjung, walaupun sebenarnya di dalam wajah mereka tersirat kesedihan, bagaimana tidak, tempat mereka tinggal dipenuhi sampah plastik berumur puluhan tahun yang tak kunjung hancur. Sudahlah, aku kembali ke tujuan utama aku datang kemari. Kuingat kembali kediaman kakek Laura. Purworejo, nama kota kecil yang terletak di sebelah barat Yogyakarta. Aku bertanya kepada seseorang yang sedari tadi berteriak menjajakan dagangan yang kelihatannya masih banyak yang belum terjual.

"Pak" Kupanggil dia.

"Iya Dek, mau beli apa?"

"Oh tidak Pak, terimakasih, saya cuma mau numpang tanya."

"Oalah, Bapak kira adek mau beli, memang mau tanya apa tho?"

"Kalau mau ke Purworejo, harus naik apa pak?"

"Oh kalau adek ingin ke Purworejo bisa ke terminal, hmm coba ke terminal giwangan dek."

"Baik pak terimakasih banyak, eh saya mau beli minumannya satu."

"Monggo Dek, satunya lima ribu."

"Ini pak uangnya." Aku serahkan satu lembar uang berwarna coklat.

"Terimakasih banyak,Dek"

"Sama-sama."

Kubanjiri tenggerokanku yang telah kering selama berjam-jam. Kulanjutkan perjalananku yang sedari tadi terhenti, namun ketika baru tiga langkah beranjak dari tempat dudukku dari arah belakang ada orang berlari ke arahku lalu ..... Breettttt!!!
"COOPPPEEEETTT!!!!" Teriakku sambil berlari.

Bersambung ....
Diubah oleh Abdulkhalim123
0
05-08-2019 05:50
Chapter 4 "Pak Gandi"
Dia berbaju hitam dengan topi hijau dikepalanya, aku tak menyangka ternyata dia telah mengincarku sejak aku turun, bodohnya aku! tak menyadari hal tersebut. Aku kejar pencopet itu dengan segenap kemampuanku. Dasar diriku yang telah lama tidak olahraga membuat langkahku sedikit lambat darinya. Semakin aku berlari semakin cepat dia berlari, dan pada puncaknya dia menghilang di gang kecil sebuah perumahan.

Nafasku tersengal tak karuan sembari memegang lututku yang terasa ngilu. Waktu itu sempat diriku putus asa, berjalan kesana kemari seperti orang gila yang tak tahu arah, berharap bertemu pencopet yang menyebalkan. Ini kedua kalinya aku dicopet, dulu pernah kecopetan dan saat mengejarnya kakiku tak melihat batu yang tak sengaja aku tabrak dan pada akhirnya aku terjatuh dan memori dalam pikiranku hilang seketika.
"Siaaalllllll!!!! Apakah harus seperti ini takdirku!" Teriakku dalam batin.

Eh! Tak sadar ternyata aku sudah jauh dari stasiun, dan akhirnya aku putuskan kembali ke stasiun. Dua kilo sebelum sampai stasiun ada seorang mengejarku dari arah belakang dan berteriak,

"Dekk!!" Dengan dengusan nafas yang khas orang umur 40-an dia berkata " inikah tas adek cari?" Sambil menodongkan tas milikku.

"Iya, Pak." Sungguh mujur nasibku."Eh! Lalu Bapak dapat darimana?" Aku mulai heran melihat Bapak tadi.

"Sudahlah jangan dipikirkan, yang penting tas Adek sudah kembali."

"I,iya Pak, terimakasih banyak, Kalau boleh tau siapa nama Bapak?"

"Sucipto, Lengkapnya Gandi Sucipto, La Adek sendiri siapa namanya?"

"Saya Galuh, Galuh Kuncoro."

Aneh saja raut wajanya tiba-tiba berubah, kini wajahnya berseri-seri dan sejuk. Dengan sedikit tersenyum dia bertanya,
"Benarkah kamu Galuh anaknya Pak Aji Kuncoro?"

"Eh, darimana bapak tahu?" Mataku terbelalak sambil nyengir

"Pasti tahu lah dek, Dulu kan Bapak kamu teman sekelas waktu jadi mahasiswa."

" Memang sih, Ayahku pernah bercerita tentang temannya yang jago merayu cewek-cewek kampus, dan namanya mirip dengan anda."

"Hahahaha!" Tiba-tiba dia tertawa menujukkan gigi depan yang sudah ompong,"Dasar Bapakmu pandai membumbui cerita"

"Oh iya Dek" ia menambahkan,"akhirnya waktu yang diramalkan telah tiba."

"Waktu yang telah diramalkan? Maksudnya apa Pak?" Semakin bingung saja aku dibuatnya.

"Sudahlah nanti Bapak jelaskan dirumah saja, Adek lapar to?"

"Gak usah repot-repot, Pak." Aku mencoba menolaknya.

"Halah, gak usah malu-malu, gak bayar kok." Sekali lagi dia tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya.

"Hmmm.... Baiklah." Akhirnya aku mengalah.

"Nah, mari ikut Bapak, gak jauh kok."
Aku berjalan tepat di sampingnya dan sesekali menoleh ke arahnya. Aku bertanya dalam hati,"Siapa orang ini? Sampai-sampai ayahku sering menceritakannya." Ah! Sudahlah, setidaknya untuk saat ini aku merasa aman di kota yang sempat membuatku terancam.

Bersambung...
Diubah oleh Abdulkhalim123
profile-picture
profile-picture
cutycutypie dan doctorkelinci memberi reputasi
2
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
05-08-2019 14:46
Quote:Original Posted By doctorkelinci
Salut, kesadaran dirinya tinggi kamu lur. emoticon-Angkat Beer



Chapter 2
https://kask.us/iChWQ

Chapter 3 New world "Kejadian Di Stasiun Tugu"
https://kask.us/iCiiF


* * *



Next time tolong jangan diulangi lagi ya. Cukup jadikan thread ini sebagai thread UTAMA. Sehingga untuk update selanjutnya silahkan posting di kolom reply.

Dan untuk dua thread di atas (chapter 2 & 3) tidak usah diutak-atik lagi, mending hapus saja. Melanggar RULES soalnya.







Ok gan ... Tengkiyuuuuu, maklum lah masih newbie
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
1
05-08-2019 15:04
Okarin rasa ceritanya bagus cuma terlalu padat merayap spacenya en nggak dikasih jarak jadi ya cukup buat mata sedikit lelah gan emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2
profile-picture
Abdulkhalim123 memberi reputasi
-1
05-08-2019 15:16
Ok next post akan ada perbenahan .......
profile-picture
okarin89 memberi reputasi
-1
05-08-2019 19:23
Chapter 5 "Rahasia yang akan terungakap"
Wauuwww!! Besar juga rumah Pak Gandi ini, rumah yang mungkin berkali-kali lipat dibanding rumahku. Kulihat bagian depan terdapat taman yang cukup besar dengan beragam tumbuhan hias termasuk bonsai pohon serut yang tak kumengerti letak estetikanya. Maklum ayahku tak pernah menanamnya, boro-boro menanamnya, mengubrolkannya pun tak pernah. Di tengah-tengah taman kutemui kolam berbentuk oval, didalamnya ada belasan ikan koi yang beraneka ragam warnanya, tak lupa juga di dalamnya ada kecebong. Aku terheran, Pak Gandi ini pekerjaannya apa sampai-sampai punya rumah sebesar ini?

"Mari dek, masuk." Tawarnya sambil membuka pintu besar berukuran lebih dari dua meter.

"Baik pak." Aku menoleh kearahnya setelah pandanganku tertuju pada taman.

Kreeett... begitu pintu dibuka, alangkah terkejutnya diriku, ruang tamunya tak kalah mewah dengan tamannya. Dindingnya berwarna krem dan dihiasi dengan lukisan-lukisan dari berbagai aliran, ada realis, naturalis, abstrak, dll.

"Sebentar ya dek, Bapak buatkan minum dulu" ujarnya.

"Iya pak, repot-repot."

"Gak papa, itung-itung buat olahraga." Dia tersenyum.

Sementara Pak Gandi membuat minum, kupandangi kembali ruang tamunya. Di sebelahku juga ada akuarium yang kelihatannya berisi air laut, soalnya aku melihat ikan nemo di sana. Di ujung ruangan berdiri tangga kayu yang bentuknya melengkung. Kurapikan bajuku yang sempat kusut akibat kejadian tadi siang. Kuambil tasku, memastikan tak ada barang yang hilang. Alhamdulillah, ternyata barangnya lengkap tak satupun hilang. Selang beberapa menit Pak Gandi datang membawa dua cangkir kopi dan dua toples camilan di atas nampan.

"Silahkan dinikmati, maaf cuma seadanya."

"Iya pak. Ngomong-ngomong istri Bapak dimana? Aneh saja, biasanya kan istri yang buatin minuman."

"Istriku telah meninggal sebulan yang lalu." Kali ini kesedihan tampak diwajahnya.

"Astaga, maafkan saya Pak." Sambil membenarkan posisi dudukku.

"Iya gpp." Ia menyambung kalimatnya," Adek sendiri berangkat dari Bandung sejak kapan?" Ia balas bertanya.

"Saya berangkat dari sana sekitar pukul 10 pagi."

"Oh yaya, silahkan diminum, jangan dianggurin gitu dong minumannya." Kembali ia menawarkan.

Srruupppp... Kuambil kopi yang sedari tadi menunggu untuk diminum. Tercium aroma kopi yang begitu khas, yang pasti membuat orang yang meminumnya akan merasakan kenyamanan.

"Gimana rasanya? Pasti gak terlalu nikmat ya?" Pak Gandi tersenyum kembali.

"Enak kok, sudah lama saya tidak minum kopi senikmat ini." Ujarku sembari membalas senyumannya.

"Oh ya, kalau Dek Galuh sudah selesai minum, jangan lupa mandi lalu sholat Isya, nanti kita makan malam bersama."

"Baik Pak" Entah berapa kali aku mengucapkan kata ini.

"Soalnya ada yang ingin Bapak tunjukkin ke kamu." Pertanyaan yang sontak membuatku mengerutkan dahi.

"Memangnya apa Pak?"

"Sudah nanti saja, yang penting Dek Galuh mandi dulu biar bersih, oh ya Bapak tinggal dulu ya, mau nyiapin makan malam."

"Baiklah" Aku meng-iyakannya.

Seiring berjalannya Pak Gandi berjalan ke dapur, batinku bertanya, "Apa yang sebenarnya akan kau tunjukkan padaku, Pak Gandi?"

Bersambung...

profile-picture
ariefdias memberi reputasi
1
08-08-2019 21:26
update manink pleaseee
0
09-08-2019 05:18
Quote:Original Posted By ariefdias
update manink pleaseee



Hehe Maaf ya gan... Saya usahakan secepatnya, soalnya lagi fokus ama kerjaan yang laen...
0
14-08-2019 00:32
Chapter 6 "Rahasia Yang Semakin Dekat"
Kini badanku telah bersih dari debu-debu jalanan yang sedari tadi mengamati perjalananku dari rumah hingga kini telah sampai di rumah besar milik Pak Gandi. Kakiku berjalan ke sebuah ruangan tepat di atas tangga, sekilas kuamati kamar ini sudah lama tak dipakai oleh seseorang. Saat kubuka tercium aroma wangi parfum khas perempuan, begitu wangi sampai membuat pikiranku tenang sejenak. Aku masuk dan di dalam ruangan kulihat di samping kananku terpampang sebuah lukisan besar kira-kira berukuran satu meter, di dalam lukisan tersebut tersenyum wajah perempuan paruh baya, begitu hidup sampai-sampai seakan diriku terus dipandangnya. Kamarnya begitu elegan dengan dekorasi bergaya Eropa, temboknya berwarna putih bersih dengan sedikit ukiran di jendela. Belum sempat aku mengamati seisi ruangan dari arah pintu Pak Gandi memanggil dan mengagetkanku.

"Walah, Dek Galuh ternyata disini, Bapak cari-cari loh dari tadi, memangnya lagi ngapain to?"

""Eh, cuma lihat-lihat kok Pak...maaf Pak Gandi, saya telah lancang masuk." Jawabku cengengesan.

"Ooh... Sebenarnya ini kamar mendiang istri bapak, dan lukisan tersebut adalah wajah Lastri, istri Bapak dan sengaja bapak pajang biar bapak nggak kesepian." Ujarnya sambil duduk di sebelahku.

"Istri bapak ternyata begitu cantik."

"Hmmm... Begitulah, dia dulu salah satu primadona kampus waktu jadi mahasiswi." Matanya kini mulai berkaca-kaca, mungkin teringat memori ketika Bu Lastri masih hidup.

Tak lama kemudian dia mengusap air matanya yang tak sengaja menetes, lalu berkata padaku, "Oh ya, hampir bapak lupa, mari makan ... Kamu pasti suda lapar banget."

"Iya Pak."

Tuk ..tuk ..tuk suara langkah kami berdua terdengar begitu jelas ketika menuruni tangga kayu mengkilap karena di pelitur. Aku berjalan di belakang Pak Gandi, tubuhnya begitu tegap meskipun rambut di kepalanya mulai beruban. Sesampainya di meja makan, aku duduk terdiam mengamati Pak Gandi yang tengah sibuk mondar-mandir menyediakan makanan, melihat Pak Gandi yang kerepotan, rasanya tak tega hatiku.

"Bolehkah saya bantu?" Aku berdiri menawarkan.

"Gak usah, Dek Galuh duduk manis saja." Jawabnya dengan senyum yang khas.
Mulutku hanya bisa terdiam dan kembali duduk dengan masih menyimpan setengah rasa tidak enak.

"Monggo dinikmati seadanya, maklum saja, bapak tidak pandai memasak." Kata dia sambil menyuguhkan makanan yang mungkin bagiku terlalu banyak untuk porsi dua orang.

Aku mengangguk meng-iyakan, tanganku pergi kesana kemari mengambil nasi, sayur, dan ikan goreng dengan rasa canggung, maklum saja, karena diriku baru pertama kali makan bersamanya. Eh, ternyata enak juga masakannya, tak kalah dengan makanan di restoran-restoran di kota. Sebenarnya aku masih ingin tambah, namun demi menjaga etika, aku rela menyudahi makan.

"Ayo nambah, masih banyak kok." Ucapnya ketika melihat makanan di piringku telah habis.

"Sudah pak, saya sudah kenyang." Jawabku sambil mengelus-elus perutku sebagai isyarat bahwa aku sudah kenyang.

Usai makan aku kembali ke ruang tamu dengan maksud memindahkan tas yang dari sore sampai sekarang masih terdiam di sofa ke kamar yang telah di sediakan oleh Pak Gandi. Belum sempat aku sampai ruang tamu, Pak Gandi memanggilku.

"Dek Galuh! ayo ikut bapak."

"Kemana?" Tanyaku.

"Hahahah...kan tadi bapak janji mau nunjukin sesuatu, kau ini masih muda sudah jadi pelupa." Pak Gandi tertawa dan tak sengaja aku melihat sisa cabai menempel di giginya.

"Oh iya, saya lupa." Jawabku linglung sembari menggaruk kepala yang tak gatal.

"Sebenarnya apa yang akan kau tunjukkan padaku?" Batinku kembali berucap.

Bersambung.....
(Penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan Pak Gandi kepada Galuh? Ikuti terus kisahnya! Hehe ...)

profile-picture
ariefdias memberi reputasi
1
17-08-2019 15:29
dopost donk buat malming nech
0
20-08-2019 01:22
Chapter 7 "Surat Untuk Galuh"
Aku berjalan membelakangi Pak Gandi. Sejengkal demi sejengkal kami mulai mendekati sebuah ruangan yang kelihatannya adalah sebuah perpustakaan tempat Pak Gandi menyimpan koleksinya. Ruangannya begitu luas, dibagian samping kananku terdapat rak besar dengan buku-buku tebal yang tersusun rapi. Di samping kiriku ada sebuah meja persegi panjang dan diatasnya banyak sekali kutemukan benda-benda aneh, namun yang mencuri perhatianku adalah jam pasir yang sangat mirip dengan jam pasir milik mendiang ayahku.

Sembari menunggu Pak Gandi yang tengah sibuk kesana kemari, kuhampiri sebuah kursi goyang dengan ukiran naga di atasnya, di sampingnya terdapat buku catatan kecil yang diletakkan di atas meja kecil berbenntuk lingkaran. Kudekatkan pandanganku kepada buku tersebut, ku kernyitkan dahi lalu kueja satu persatu huruf pada covernya, dan terbaca "Perjalananku Menjelajah Waktu"

Di saat aku terpaku pada buku mungil itu, Pak Gandi memanggilku dari sisi ruangan yang lain,

“Dek Galuh, sini!” kulihat sejenak senyum Pak Gandi merekah.

Kuhampiri Pak Gandi yang kelihatan mengusap-usap buku tebal bersampul hitam pekat. Ia letakkan buku tersebut di atas meja lalu meniup debu dengan keras dan samar-samar huruf-huruf yang tak dapat kubaca karena berbentuk aksara, aksara jawa.

“Untung saja, buku ini terjaga dengan baik.” Ujar Pak Gandi seraya membuka lembar demi lembar.

Terlihat sangat terjaga sampai-sampai tak ada satu lembar pun dimakan rayap. Sesampainya di halaman paling belakang, pada sampulnya ada sebuah lembaran surat. Pak Gandi mengambil lalu membukanya dan tak lama kemudian membacakannya,

"Jika surat ini telah terbuka, berarti waktu yang telah diramalkan telah tiba dan semoga buku ini jatuh ke tangan yang benar" Pada kalimat pertama suasana ruangan tiba-tiba hening, hanya terdengar sumilir angin yang masuk lewat jendela di atas ruangan.

Pak Gandi melanjutkan kalimat selanjutnya, "Buku ini sengaja saya tulis dengan tulisan yang tak sembarang orang dapat membacanya. Buku yang sangat rahasia ini hanya boleh dibaca oleh putraku yang bernama Galuh" Jleb! Seketika itu hatiku berdeber dengan kencang, terpacu oleh kalimat terakhir, “Kenapa pada surat ini tertera nama Galuh?” batinku bertanya-tanya.

Pak Gandi melanjutkan kalimat terakhir di surat teresebut, "Datanglah kepada orang bernama Hartono di kota Purworejo, Gandi mengetahuinya. Mintalah kepadanya agar membacakannya."

Aku dan Pak Gandi terdiam sejenak.

“Dek Galuh, Bapak kenal betul dengan ayahmu.” Ucapnya memecahkan keheningan.

Aku menatap wajah Pak Gandi sambil mengernyitkan dahi. Beliau lantas melanjutkan kalimatnya, “Ia adalah orang dengan kebiasaan membuat teka-teki yang tak sembarang orang dapat memecahkannya.”

“Lantas apa yang harus saya lakukan?” tanyaku padanya.

“Temui Pak Hartono, dia akan memberikan jawabannya.”

Sekali lagi diriku hanya bisa terdiam dengan terus menatap buku hitam beraksara jawa tersebut dengan masih mempertahankan ekspresi terheran-heran.

“Dek Galuh, malam telah larut, lebih baik istirahat dulu, besok dapat dilanjutkan lagi.” Ujarnya.

“Baik pak.” Jawabku.

Pak Gandi menutup kembali buku itu lalu memegang pundakku dan berkata, “Mari...Istirahat.”

Bersambung...
(Penasaran dengan kisah Galuh esok hari? Ikuti terus update thread ini ..hehe)
Diubah oleh Abdulkhalim123
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan siskapws memberi reputasi
2
Lihat 1 balasan
20-08-2019 15:02
wah kentang nih gan
0
20-08-2019 15:14
one piece?
0
20-08-2019 15:58
Gan.. penasaraaann.. uwuwwuw..
itunggu lanjutannyaa yaahh..
0
20-08-2019 21:17
Agak jarang ya petugas kereta manggilnya 'Nak'
Hohoho
profile-picture
b4perman memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
20-08-2019 21:41
kurang. lah....lanjutt
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
21-08-2019 10:13
Lanjut
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ustad-in-love
Stories from the Heart
detektif-ega
Stories from the Heart
tamat-lie-love-in-elegy
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.