alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d2f287428c99150870c367e/korban-penganiayaan-mos-sma-taruna-palembang-bertambah
Lapor Hansip
17-07-2019 20:53
Korban Penganiayaan MOS SMA Taruna Palembang Bertambah
Quote:
Korban Penganiayaan MOS SMA Taruna Palembang Bertambah

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 03:27 WIB

Korban Penganiayaan MOS SMA Taruna Palembang Bertambah


Kegiatan MOS di SMA Taruna Indonesia Palembang menjadi perhatian menyusul adanya siswa yang tewas karena kekerasan dalam kegiatan tersebut. (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika) 

Palembang, CNN Indonesia -- Korban penganiayaan dalam masa orientasi siswa (MOS) di SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang bertambah.

Salah satu orang tua siswa baru SMA Taruna Indonesia, Suwito (44) mendatangi Polresta Palembang untuk melaporkan hal tersebut.

Suwito mengatakan, peristiwa penganiayaan dialami anaknya, WJ(14) diketahui pada Sabtu (13/7) sekitar pukul 14.00. Ia mengaku ditelepon pihak sekolah bahwa anaknya dibawa ke RS Karya Asih Kenten, Palembang karena sakit.

"Datang ke rumah sakit saya langsung diminta menyetujui tindakan medis mendesak untuk operasi. Kata dokter anak saya sakit di bagian perut karena ada ususnya yang terbelit. Jadi sekitar pukul 21.00 itu anak saya dioperasi," ujar Suwito.

Sebelumnya, Suwito pun menanyakan apa yang menyebabkan WJ masuk rumah sakit karena tidak memiliki sakit bawaan.

"Anak saya cerita, waktu MOS dia ditendang dan perutnya ditonjok. Dia juga menanyakan kondisi temannya [DBJ], 'mati dak kawan aku digebuki' kata anak saya. Sekarang anak saya masih dirawat pemulihan setelah operasi," ujar Suwito.

Lalu, Suwito didampingi kuasa hukumnya, Firli Darta memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Saat tiba di Polresta, Suwito diterima dan segera diperiksa Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Palembang.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Unit PPA Satreskrim Polresta Palembang Inspektur Dua Hasa menyatakan laporan tersebut masih didalami.

"Ada keluarga dari siswa SMA Taruna Indonesia yang melaporkan penganiayaan. Masih didalami, laporan sudah kita terima secara lisan dan akan ditindaklanjuti," ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Polresta Palembang menetapkan Obby Frisman Arkataku (24) sebagai tersangka penganiayaan yang menyebabkan DBJ (14) meninggal dunia. Obby merupakan pegawai sekolah yang bertugas sebagai pembina dan pengawas dalam kegiatan MOS di SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang.

DBJ mengalami kejang-kejang di asrama sekolah usai mengikuti proses orientasi yakni berjalan sejauh 4 kilometer pukul 24.00 Jumat (12/7). Namun pukul 01.00, Sabtu (13/7), setibanya di kawasan Sukabangun, DJB pingsan saat disuruh berjalan ke parit selebar 2 meter.

Akibat kejang-kejang tersebut, pihak sekolah membawa DBJ ke RS Myria Palembang untuk diberikan pertolongan medis namun nyawa DBJ tidak tertolong.




Quote:
Racau 'Ampun Komandan' Korban MOS SMA Taruna yang Masih Koma

CNN Indonesia | Rabu, 17/07/2019 20:07 WIB
Korban Penganiayaan MOS SMA Taruna Palembang Bertambah

Palembang, CNN Indonesia -- Untaian selang dan kabel masih menghubungkan tubuh WJ (14), siswa SMA Taruna Indonesia Palembang, dengan mesin penunjang kehidupan di Intensive Care Unit (ICU) RS RK Charitas, Palembang.

Sejak selesai operasi usus bocor di RS Karya Asih pada Sabtu (13/7) pukul 23.00 hingga Rabu (17/7) petang setelah dirujuk pindah rumah sakit, siswa baru SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia, Palembang ini masih dalam kondisi kritis dan sama sekali belum sadarkan diri.

Di sela ketidaksadaran anak dari pasangan Suwito-Nurwanah ini, igauan dan erangan kesakitan seringkali meluncur dari mulut yang dipasangkan ventilator tersebut.

Racauan 'ampun', dan 'ampun komandan' kerap terlontar dari mulut WJ yang dalam kondisi tak sadarkan diri tersebut.

"Ampun, ampun komandan," kata Suwito menirukan igauan anaknya.

Suwito mengatakan igauan anaknya itu terdengar sering, dan ia tak menghitung jumlahya.

Sang ibu, Nurwanah, enggan beranjak dari sisi kiri ranjang tempat WJ berbaring. Air mata Nurwanah terlihat menderai, dan mulutnya tak berhenti memanjatkan doa memohon kesembuhan anaknya itu. Berbeda dengan Suwito yang meladeni pembesuk, Nurwanah irit bicara kepada para penjenguk anaknya. Bahkan, ketika pejabat publik yang membesuk anaknya, Nurwanah tetap diam menemani sang buah hati.

Namun, dalam kunjungannya, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) RI Retno Listyarti mengungkapkan Nurwanah sempat mendengarkan pengakuan WJ yang mengalami kekerasan dan dianiaya dalam proses Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA Semi Militer Taruna Indonesia Palembang. Pengakuan WJ tersebut bahkan direkam Nurwanah.

"Sangat miris, orang tua mengantarkan anaknya bersekolah dalam kondisi sehat, namun pulang sudah di rumah sakit. Berdasarkan pengakuan orang tuanya pun korban sering mengigau, nampaknya mengalami trauma karena menjerit-jerit seperti orang dipukuli. Saya tidak tahu ini bagaimana menggali [keterangan] karena ibunya menangis terus," ujar Retno, Palembang, Rabu (17/7).

Suwito menerangkan pihak keluarga belum bisa melaporkan secara resmi penganiayaan WJ tersebut karena korban belum bisa dimintai keterangan.

"Untuk sementara ini, kita sudah minta Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Sumsel untuk memberikan bantuan psikologis kepada orang tua WJ. Termasuk orang tua korban yang meninggal, DBJ yang berada di kabupaten. Ini harus provinsi yang bergerak karena domisili korban yang antardaerah," ujar Retno.

Dokter ICU RS RK Charitas, Justinus R Nugroho mengatakan kesehatan WJ belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sejauh ini, kata dia, kestabilan WJ masih ditunjang obat-obatan dan pemakaian peralatan medis yang intensif.

Selain itu, sambungnya, rumah sakit pun membentuk tim khusus dari berbagai ahli untuk menangani kondisi kesehatan WJ

"Kami berharap kondisinya tidak memburuk. Kami masih mencoba mendiagnosa penyebab luka yang diderita oleh WJ, namun kini belum bisa disimpulkan penyebabnya," ujar Justinus.

Korban Penganiayaan MOS SMA Taruna Palembang Bertambah


Polisi melakukan olah TKP Penganiayaan SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia dengan tersangka Obby Frisman Arkataku di Palembang, 16 Juli 2019. (CNN Indonesia/Hafidz)

Laporan ke Polisi

Sementara itu, kuasa hukum keluarga WJ, Firli Darta mengatakan baru melaporkan penganiayaan yang dialami WJ secara lisan kepada Polresta Palembang. WJ yang masih dalam kondisi tidak sadar menyebabkan penyelidikan belum bisa dilakukan.

"Untuk saat ini keluarga masih fokus dalam masa penyembuhan, sekarang kondisinya sedang genting sekali, keluarga besar sudah berkumpul di RS Charitas," ujar dia.

Firli mengatakan saat mendaftar di SMA Taruna Indonesia, WJ dalam kondisi sehat wal afiat. Itu pun, sambungnya, dibuktikan pula lewat tes kesehatan yang menjadi syarat untuk masuk SMA Semi Militer tersebut.

"WJ dipastikan sehat tidak menderita penyakit apa-apa sebelum MOS, karena lulus tes kesehatan dari sekolah. Jadi ini ada penyebab lain yang menyebabkan ususnya terbelit atau bocor itu. Kita belum bisa menyimpulkan apa-apa karena WJ belum sadar. Doakan saja lekas sembuh, bisa kembali beraktifitas, dan bisa memberikan keterangan kepada penyidik," tutur Firli.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polresta Palembang Komisaris Yon Edi Winara membenarkan perihal belum dimulainya penyidikan atas laporan kekerasan yang dialami WJ.

Ia mengatakan keluarga WJ baru melaporkan secara lisan, karena belum memiliki bukti terkait laporan tersebut. Pihaknya masih akan menindaklanjuti laporan keluarga WJ apabila korban sudah sadarkan diri.

"Kita tidak bisa menuduh ataupun mengusut perkara dimana belum ada buktinya. Karena itu, kami masih menunggu WJ sadar untuk keterangan tersebut. Kami juga masih harus menunggu hasil medisnya," ujar Yon Edi.






Quote:
Korban meninggal 1 orang, korban ICU 1 orang.. emoticon-Berduka (S)
Gw yang dewasa saja umur 20-an ditonjok dan ditendang pasti bisa tidak sadarkan diri, sedangkan ini yang masih anak-anak malah ditendang di tonjok. emoticon-Mad

Ini sih sudah tidak bisa ditolerir lagi. Tidak ada itu namanya kekerasan fisik di pendidikan Militer apalagi ini pakai embel2 semi militer. emoticon-Mad

Anak umur 14 tahun masih dibawah umur sudah ditendang2 di doktrin sebutan2 ampun dan pakai istilah senioritas seperti komandan dsb. emoticon-Hammer

Amat sangat wajib menutup sekolah seperti ini. emoticon-shakehand
Bayangkan saja kejadian ini baru Masa Orientasi Siswa (MOS) alias perkenalan belum masuk ke masa pendidikan resminya.


Diubah oleh anarchy0001
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
17-07-2019 20:57
praktikknya pasti udah bertaun-taun, kali ini kena batunya kau tong.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 2 lainnya memberi reputasi
3
17-07-2019 21:02
parah tu, mending sekolahnya ganti jadi sekolah bela diri aja dah emoticon-Gila

serem ususnya ampe terbelit, emang ditonjok bisa ampe kaya gitu ya? emoticon-Takut (S)
Diubah oleh spoyspoyz
0
17-07-2019 21:02
RIP, smoga yang ditinggalkan diberi ketabahan emoticon-Turut Berduka
profile-picture
ambarawan memberi reputasi
1
17-07-2019 21:02
bubarkan sekolahnya. jadiin sekolah tinggi sekalian.
profile-picture
anarchy0001 memberi reputasi
1
17-07-2019 21:17
ane rasa usia segitu belum siap ya untuk pendidikan seperti itu, kalaupun mau masuk sebaiknya dilakukan test fisik tertentu yang bisa jadi indikator bahwa calon anak didik memiliki fisik kuat dan mental yang hebat.
kayak ane dulu seleksi minimal 6x putaran selama 12 menit muter lapangan bola.
yg gg kuat tentu. muntah muntah dah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Lihat 1 balasan
17-07-2019 21:18
masih doyan gini2an indon..
budaya peninggalan londo freemason skuls and bones konthol..
Diubah oleh sibuk.nyaleg
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan eggnostick memberi reputasi
2
Lihat 15 balasan
17-07-2019 21:21
anak 14 tahun loh, gila ini sih..gw jg punya anak, ga mw anak gw msk sekolah kek gitu, cape2 ngedidik ngebesarin, malah d pukulin sampe koma sama org lain....ga punya otak..
Diubah oleh m4r1c0
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 5 lainnya memberi reputasi
6
17-07-2019 21:22
Quote:Original Posted By spoyspoyz
parah tu, mending sekolahnya ganti jadi sekolah bela diri aja dah emoticon-Gila

serem ususnya ampe terbelit, emang ditonjok bisa ampe kaya gitu ya? emoticon-Takut (S)


Sepertinya ditendang gan. Pernah kejadian pemain sepakbola liga indonesia ususnya ambrol karena kena tendang emoticon-Turut Berduka
0
17-07-2019 21:26
Tutup aja sudah, nanti alasan sekolah pura-pura tidak tahu, basi emoticon-Mad
0
17-07-2019 21:31
bubarkan..
0
17-07-2019 21:32
Kualitas sekolah kacau, yg pertama diajarkan adalah praktek balas dendam.
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan anarchy0001 memberi reputasi
2
17-07-2019 21:39
sekolah tolol
0
17-07-2019 21:43
Mos apakah boleh ? Menurut ane sih fine ajah ... Asal gak perlu pakai kekerasan fisik ... Banyak cara yg baik dalem melakukan mos kok ...
0
17-07-2019 21:46
Guru dan kepala sekolahnya bakal kena karena lalai. Lagian bingung gua, mesti bgt sekolah ala2 militer gini?
profile-picture
profile-picture
dell656 dan anarchy0001 memberi reputasi
2
17-07-2019 21:54
sekolah ditutup saja dan kepsek harus brrtanggung jawab
0
17-07-2019 21:56
Serahkan sama polisi, masih didalami
0
17-07-2019 22:05
Quote:Original Posted By fienka
Guru dan kepala sekolahnya bakal kena karena lalai. Lagian bingung gua, mesti bgt sekolah ala2 militer gini?


tradisi gan... supaya memutus tradisi MOS yg gak jelas

paling gak selama 2 s/d 3 thn,, ni sekolah tidak boleh menerima siswa baru...

supaya generasi baru,, yg masuk ke sekolah ini,, tidak terdoktrin faham MOS yg selalu di sertai kekerasan fisik secara berlebihan..

klo kegiatan MOS nya resmi dari pihak sekolahan..

guru penanggung jawab kegiatan MOS dan kepala sekolah,, pasti masuk bui..

emoticon-Cool
Diubah oleh mckagan07
0
17-07-2019 22:25
Setuju gan, bedalah perlakuan anak sama dewasa yang memang niat jadi militer, kalaupun mereka bibit untuk masuk militer, tetep mereka dididik sebagai anak, ini sama aja kayak negara2 komunis jaman dulu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
smersh64 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Lapor Hansip
17-07-2019 22:32
Balasan post gledexzz
Quote:Original Posted By gledexzz
ane rasa usia segitu belum siap ya untuk pendidikan seperti itu, kalaupun mau masuk sebaiknya dilakukan test fisik tertentu yang bisa jadi indikator bahwa calon anak didik memiliki fisik kuat dan mental yang hebat.
kayak ane dulu seleksi minimal 6x putaran selama 12 menit muter lapangan bola.
yg gg kuat tentu. muntah muntah dah.


dibawah 6 bukan laki emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
0
17-07-2019 22:53
gimana sih ini, pembina dan pengawas kok ikutan alay nganiaya? emoticon-Mad


please lah buat pemerintah bikin aturan dengan ancaman hukuman yang berat buat segala sekolah ga peduli mau tingkat apapun yang melakukan tindakan penganiayaan. Hapusin lah oospekan, ga guna! emoticon-Marah

alay anjiiiiir, kadang ane malu jadi orang sini emoticon-Hammer2"
orang luar mah bully2an juga kaga sampe mati, dan terjadi ga pas orientasi siswa. Rata2 kalau ada yg mati pun itu karena si anak bunuh diri ga kuat secara mental dibulky terus. Lah ini mah pembunuhan.


emoticon-Request

Quote:


Quote:
Yang demen Stranger Things, It dan Shawshank Redemption yuk mampir!
Top 3 Lagu Tersedih SeDunia One Piece emoticon-Frown((((
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.