Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
104
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d204538d43972091c5caa84/back-to-black
Kapan saat lo merasa paling bahagia? Saat lo ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat lo berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat lo hanya ingin bilang: gue ingin hidup di saat ini saja.
Lapor Hansip
06-07-2019 13:52

BACK TO BLACK

Past Hot Thread
Welcoming Party!

Party krackers!






Bagian 1: Hitam


Panggil dia El.

Siapa dia? Apa artinya perkenalan sekarang jika kalian akan membaca kisah ini? Kalian akan kenal dia dari setiap titian kisah yang akan dia tulis. Mungkin kalian akan membenci karena kenal dia, mungkin juga sebaliknya. Tapi selama kalian masih hidup, dia akan menjadi bagian dari diri kalian.

Satu hal yang pasti: She is not a nice person.

Kapan saat kalian merasa paling bahagia? Saat kalian ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat kalian berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat kalian hanya ingin bilang: dia ingin hidup di saat ini saja.

Karena kalian sudah merasakan bahwa kemarin kalian berhasil bertahan dari setumpuk kegagalan dan esok...kalian tidak ingin bertahan dari hal yang sama lagi dan lagi. Tapi hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi dan sesuatu itu membuat kalian happy dan akhirnya kalian ingin tinggal disini, di hari ini, karena yang terjadi hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, atau hari setelah esok hari, atau hari-hari yang lain lagi.

Buat El, hari itu adalah saat El kecil melihat Bapaknya mengayuh sepeda dan membawa kresek putih di boncengan. El kecil tau apa isi dalam kreseknya sehingga:

“Cepet buka Pak, cepet buka!” teriak El girang. Pria paruh baya yang kulitnya legam terpanggang sinar matahari setiap hari tertawa lebar melihat tingkah anaknya yang melompat-lompat kegirangan.

Beng-beng satu kotak,
wafer Selamat satu bungkus,
wafer Tango satu bungkus,
nugget ayam yang tidak beku tapi masih dingin satu bungkus,
es krim Campina satu kotak.

Semua makanan yang El kecil sukai. Tak sabar El segera menarik tutup beng-beng hingga sobek dan membuka satu bungkus wafer berlapis karamel, butiran krispi dan coklat yang sudah meleleh lantaran panas yang tedeng aling-aling.

“Pelan-pelan, Nak!” Bapak tertawa melihat tingkah gadis kecilnya. Dengan mulut belepotan coklat, El kecil lari ke kulkas dan memasukkan nugget ayam dan eskrim ke dalam pendingin yang pintunya sudah karatan dan penyok di beberapa bagian.

Mereka berdua duduk di teras semen yang beratap asbes. Tak hanya matahari, namun angin yang turut mengalir panas membuat udara terasa engap di perumahan yang berjejer lima pintu dalam satu atap.

Mereka tak peduli.

Sang Bapak yang lelah namun sumringah melihat anaknya makan jajan demi jajan dan selalu menggeleng saat anaknya menawarkan bungkusan demi bungkusan.

Hingga sang Bapak berbaring di lantai melepas lelah dan kantuk, El kecil masih terus ngganyang. Suara radio milik tetangga terputar pelan melantunkan campursari yang El kecil bisa pahami artinya namun tak pernah bisa ia ucapkan lafalnya. Enam bungkus beng-beng berserakan di lantai, wafer tango sudah terbuka dan habis setengah baris, sendok eskrim yang lengket dan gelas air minum yang kosong tergeletak di lantai.

El kecil kekenyangan.
El kecil bahagia.
El kecil menyusul Bapaknya tidur dengan senyum lebar di bibir yang masih belepotan coklat dan remah-remah wafer.

Kenapa dia ingin mengisolasi diri dia di saat singkat itu?

Karena:

“BRAKKK!!”

El kecil dikejutkan dengan bantingan pintu kamar bedeng. Bapaknya sudah tidak ada di sampingnya, bungkus kosong beng-beng juga sudah tidak ada, sendok bekas eskrim juga sudah tidak ada, gelas berikut sisa beng-beng yang masih ada di dalam kotak dan jajan-janan lainnya juga sudah tidak ada.

“GAJI LEMBUR BUKANNYA DIPAKE BAYAR UTANG MALAH DIPAKE BELI JAJAN!” Teriakan yang tak asing lagi dari siapa asalnya.

Diam.

El kecil duduk lesu mengamati selokan yang airnya hampir setengahnya dan tak mengalir. Matahari mulai hijrah meninggalkan jejak abu-abu dengan liris jingga yang menirai langit. Sebentar lagi maghrib.

“GA USAH MIKIRIN MAUNYA ANAK KECIL KALO BERAS AJA MASIH NGUTANG! AKU MALU DITAGIH TERUS SAMA WARUNG, PAK!”

“Iya Bu, besok aku yang bilang ke Mbak Yana soal utang kita.”

“KAMU JADI LAKI-LAKI GA BECUS! GA BECUS MIKIR! GA BECUS AMBIL TINDAKAN! KALO HIDUP CUMA MAU SIA-SIA KAYAK GINI, AKU MENDING JADI TKW AJA, NGIKUT BOSKU! LIAT AJA UDAH PADA KAYA TEMEN-TEMENKU, GA KERE TINGGAL DI PETAKAN DAN NABUNG UTANG!”

“Maafin aku, Bu. Ayo sama-sama sing sabar.”

Mata Ibu nanar melihat El kecil yang mengintip lewat celah pintu. Ibu berdiri, menghampiri El kecil, lalu tamparan, jeweran, dan jambakan bergantian mendarat di tubuh El kecil.

Bapak berteriak. Ibu berteriak.

El kecil menangis tak berani bersuara, karena semakin ia bersuara maka akan semakin banyak jumlah hantaman yang ia tanggung.

Bapak dan Ibu bersuara keras.

Kepala-kepala terlongok dari pintu-pintu bedeng. Ibu masuk bedeng lagi. Bapak memeluk El kecil. Ibu keluar bedeng. El masih meringkuk. Bapak berdiri.

Lalu semuanya berteriak dan berlari ke bedeng keluarga El.

Tubuh Bapak terkapar dengan pisau dapur yang tertancap di perutnya.

Tamparan, jambakan, tendangan, pukulan. El kecil tau caranya menangis tanpa suara, El tau caranya tidak menangis, El tau caranya melindungi diri agar tidak menerima lebih banyak lagi hantaman dari Ibunya.

Tapi melihat tubuh Bapaknya kejang dengan darah mengalir dari tempat pisau itu bersarang, El kecil mengeluarkan semua udara dalam paru-parunya, berteriak memanggil Bapaknya…

Apakah cerita ini nyata? Entahlah, dia juga kehilangan batas nyata dan tidak nyata saat dia banyak menyaksikan kekejian prilaku yang bisa dilakukan oleh manusia ke manusia lainnya.

Apakah ini mimpi? Dia juga tidak bisa membedakan apakah dia terbangun atau tertidur karena tak jarang tidur dengan mimpi indah adalah satu-satunya salvation/penyelamat namun selalu terjaga saat dia masih ingin diayun dalam tilam, dan tak sedikit mimpi buruk yang justru tak kunjung membuat diri terbangun.

What’s the point of being real or not when the only sure thing is being alive? Sadness and happiness are two fragilest interchangeable things.

Bukankah bertahan adalah satu-satunya hal yang makhluk hidup lakukan setiap hari sejak jaman purba hingga kini?

This is El’s survival story.

I know you will love her,
I know you will hate her,
I know you will kiss her,
I know you will kill her,

I know she will make you feel nothing.

This is Back To Black.

Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Masuk untuk memberikan balasan
BACK TO BLACK
07-07-2019 17:38

Bagian 3: Raih Pasi

“Siap grakk!”
“Lencang depan grak!”
“Tegak grak!”
“Dua langkah ke kiri, jalan!”
“Istirahat di tempat grak!”

Hampir tiga jam murid-murid berseragam putih biru itu dibiarkan terpanggang sinar matahari. Pak Lukas, guru olahraga, beserta Pak Remo, guru BK, berdiri di sisi kanan barisan, mengamati para siswa dalam barisan satu persatu. Zen berperan sebagai ketua kelas yang memberi instruksi kepada teman-temannya. Sepoi angin siang timbul tenggelam terasa menyegarkan, namun timbul dalam waktu singkat dan tenggelam dalam waktu lama.

El berdiri di bagian paling kanan barisan. Di antara para siswi, El merupakan salah satu siswi yang memiliki postur tinggi sehingga ditempatkan di sisi kiri, tepat di belakang Gema. Tatapan yang diperintahkan untuk mengarah lurus sejajar membuat mata El terus terpaku pada tengkuk Gema meskipun sesekali melirik ke arah Pak Lukas dan Pak Remo atau ke sudut lapangan tempat anak-anak baru di orientasi.

Keluhan panas dan lelah mengisi gumam saat istirahat tiba. Pelatihan paskibra membuat pelajaran kelas dikorbankan beberapa jam, termasuk pelajaran Matematika yang sebenarnya El tunggu-tunggu untuk melihat Pak Damian lagi. Mereka belum merasakan cara Pak Damian mengajar sejak hari perkenalan waktu itu. El melihatnya beberapa kali lewat di depan kelas, terkadang dia juga mengobrol dengan beberapa siswa atau siswi dan tampak sangat akrab bahkan beberapa siswa berani toss dengannya.

El merasa cukup menjadi pengagum dari kejauhan.

El selalu menyimpan rasa iri untuk bisa menjadi bagian dari pertemanan, berjalan di lorong kelas dengan tawa tanpa peduli pada gugup akan kemungkinan penilaian orang lain. Sekarang, bertambah lagi daftar keirian El: El juga ingin berani menyapa Pak Damian, sama seperti halnya El ingin menyapa Zen atau Pras atau Nanda atau bahkan kakak kelas, sang pemegang strata pergaulan tertinggi di sekolah ini.

“Mbak El?”

El tersentak dari lamunan El yang terpaku pada lapangan berumput hijau yang tadi mereka hinggapi berjam-jam. Abimanyu memiringkan badannya, menjauh dari lingkarannya yang berisi para siswa penyuka manga. Setidaknya itu yang El kenal dari Abimanyu sejak kelas satu dulu, dia menyukai gundam dan komik Jepang yang disebut manga dan teman-teman dekatnya pun demikian. Obrolan mereka tidak pernah jauh dari Dragon Ball, One Piece dan sederet nama yang berkaitan dengan manga atau gundam.

“Boleh minta minum ga Mbak?” Abi melihat botol El yang masih tiga perempat isinya. El berikan botol minum padanya dan Abi meminum hampir setengahnya. Jakunnya naik turun saat air mengucur dari bibir botol ke dalam kerongkongannya.

“Aku boleh minta juga ga Mbak?” Rasyid, teman Abi menoleh ke El. El mengangguk.

Mereka kembali ke kelas setelah menambah satu sesi latihan lagi. Kepala El terasa cenat-cenut karena panas yang terik. Jam di atas papan tulis menunjukkan pukul 12:30. Bunyi kepakan buku tulis bersautan berlomba menghantarkan angin ke wajah dan leher para siswa yang terkapar diam di kursi masing-masing. Beberapa mulai ada yang meletakkan kepala di meja dan tidur.

“Pak Lukas udah ngasih tau siapa yang kepilih dari kelas kita nih!” Zen membuat semua kepala yang lesu mendongak ke arahnya.
“Dari kelas kita Gema sama Mbak El.” sambung Zen.

El melihat Gema mengepalkan tangannya bangga. Lalu ia toss dan adu kepal dengan teman-teman di sekitarnya.

Tidak ada yang mengajak El toss. Abimanyu dan beberapa orang lainnya melihat El canggung dengan senyum dan acungan jempol.

Sudah cukup buat El. Sudah biasa.

“Mbak El sama Gema disuruh ke kantor Pak Lukas pas pulang ya. Jangan lupa.” Tambah Zen. El mengangguk dan segera menunduk saat tatapan mata mereka bertemu.

Tak ada kegiatan yang mengisi kelas hingga lonceng berbunyi empat kali. El melihat Gema berjalan keluar kelas tanpa melihat El. El sempat mengira dengan ditunjuknya Gema dan dirinya sebagai perwakilan kelas, setidaknya Gema akan sama berharapnya seperti El: memiliki keterikatan kerja sama. El mengemasi buku dengan helaan nafas lesu. El terlalu berharap.

Gema sudah duduk di hadapan meja Pak Lukas saat El memasuki ruang guru. Para guru juga berdatangan masuk ruangan setelah mengajar, beberapa berkemas pulang. Ingin terucap “selamat siang, Pak, Bu,” tapi debar dalam dada El sudah tidak karuan.

El tidak pernah berada di dalam ruangan guru selain saat pendaftaran sekolah dulu. Melihat guru-guru di habitat mereka terasa seperti masuk ke dalam perkumpulan algojo. El berusaha berjalan dengan benar dan memaku tatapan ke lantai saat melewati meja demi meja menuju meja Pak Lukas di sisi ujung ruangan.

El melewati meja Pak Hamdan, guru Fisika. Beliau melihat El saat melewati depan mejanya, sorot matanya selalu tajam dan tidak pernah bercanda, membuat El semakin tegang karena tidak bersama teman-teman sekelas kali ini. Kali ini tatapannya hanya untuk El. El melewati meja Bu Siti, guru Biologi. Sama seperti Pak Hamdan, ia juga melihat El sambil memberesi kertas-kertas di mejanya.

Semua mata yang berhasil dia tangkap sorotnya lewat lirikan dan gelak tawa tiba-tiba di meja lainnya membuat ruang ini terasa sempit dan dia merasa menjadi satu-satunya pusat perhatian untuk dipanggil, mungkin diledek, atau ditanya sesuatu yang tidak ia ketahui jawabannya.

Perjalanan ke meja Pak Lukas terasa seperti mengitari lapangan sepak bola, dari ujung gawang ke ujung gawang, lengkap dengan fatamorgana di antaranya.

Akhirnya El tiba juga. Hanya ada satu kursi dan sudah diduduki Gema.

“Nah El datang juga!” Pak Lukas membuka laci dan membuka-buka lembaran kertas yang ada disana. Gema tidak menoleh ke El, dia melihat Pak Lukas yang sibuk mencari-cari yang dia cari.

El tersentak kaget saat ada yang menyentuh tengkuk lututnya.

“Silakan duduk, Mbak Hanum!” Pak Damian mendorong kursi untuknya. Dia ingin bilang terima kasih tapi hanya senyum yang dia yakini tampak gugup dan jelek di bibirnya. Bisa El lihat anggukan kecil Pak Damian. El ingin melihat matanya, tapi keberanian El hanya mempu melihat ke kerah kemeja, bibir, rambut, telinga, lengan, manapun kecuali matanya. Aroma wangi tubuhnya menyapa hidung El, terasa menyegarkan dan menenangkan di antara kalutnya rasa gugup.

“Kalian akan mulai latihan bersama hari Sabtu ini. Semua kelas sudah ada perwakilan dan latihan dilaksanakan di lapangan kantor Kecamatan karena nanti kalian upacaranya di lapangan Kecamatan. Totalnya ada 70 siswa dari sekolah-sekolah yang lain juga. Dari sekolah kita ada--” Pak Lukas menghitung nama-nama di catatannya,

“Dua belas orang. Nanti ada guru pendamping juga, belum saya tentukan karena harus diskusi dengan Pak Ardi dulu. Tolong jaga nama baik sekolah ya! Ini tolong diisi formulirnya sekarang.”

El menerima kertas dari Pak Lukas. Formulir data diri yang berisi nama, tanggal lahir dan sejenisnya.

El tidak menyukai mengisi formulir sejenis ini. Setiap baris yang harus dia isi terasa seperti melucuti informasi diri yang selalu ingin dia jaga rapat-rapat. Memberikannya lagi dan lagi membuat El merasa terpapar terhadap publik karena mengingatkan orang yang sudah tau dia tentang dia lagi, dan membuat mereka yang tidak mengenalnya menjadi kenal dan menambah daftar orang yang akan menganggapnya orang aneh. Keadaan seperti ini membuat ruang gerak El terasa semakin sempit.

Gema selesai lebih dahulu dan pamit kepada Pak Lukas untuk segera pulang karena ada latihan sepak bola, katanya. El tau dia tidak berbohong karena El ingat hari ini adalah hari Rabu dan Gema memang selalu latihan sepak bola di lapangan yang selalu dia lewati setiap hari Rabu.

El menyerahkan lembaran yang sudah diisi ke Pak Lukas. Pak Damian masih duduk dan menulis di beberapa lembar kertas kosong, ada angka-angka, kalimat dan garis-garis grafik. Matanya menatap tajam ke gerakan tangannya. Ada kerut tipis di dahinya yang tidak tampak saat dia berdiri di depan kelas. El ingin berpamitan tapi Pak Lukas tampak sibuk, Pak Damian juga. El takut suaranya akan mengganggu konsentrasi mereka.

El takut, suaranya tidak didengarkan dan dia akan kecewa saat tak ada tanggapan, terutama dari Pak Damian.

El memilih pergi tanpa bersuara.

Apakah ini sebuah pencapaian untuk El?

El tidak pernah mencapai apapun di sekolah, apalagi di luar sekolah, selain tentu saja usia yang bertambah, kelas yang bertambah. El sudah biasa dengan menjadi biasa.

Teman-teman seusia El sudah duduk di bangku SMA, sementara El masih di kelas dua SMP akibat hempasan dalam bahtera hidup. Tak sedikit teman-teman sekelas El saat ini adalah adik kelas semasa SD. Gema, Abimanyu, Nanda, Ratika, adalah beberapa yang mampu El ingat pernah satu sekolah.

Kini El berada di kelas yang hampir semuanya memanggilnya Mbak, bahkan siswa kelas tiga juga memanggilnya Mbak. Kecuali Jojo dan Gema, mereka tidak memanggilnya Mbak. Gema, Jojo dan El hidup di lingkungan perumahan yang sama. Mereka tidak pernah saling bersinggungan apalagi saling sapa, namun mereka saling tau kehidupan masing-masing.

Gema dan Jojo, El bisa melihat mereka selalu menatap El dengan tatapan tidak suka. Mungkin banyak alasan yang bisa mereka jabarkan jika ada yang bertanya “kenapa lo ga suka El?”
Tapi apa pentingnya bagi El untuk tau? Apakah El akan merubah diri agar mereka sukai? Apakah El akan merubah masa lalu untuk bisa diterima? Seandainya El bisa, akan El ubah.

Terpilih menjadi anggota paskibra tidak pernah dia impikan apalagi dia inginkan. Ini adalah pertama kalinya ada seleksi seperti ini dan entah mengapa dia terpilih, sebenarnya dia tak ingin, tapi dia terlalu takut dan tak akan ada gunanya juga menolak. Tak ada perasaan selain khawatir akan seperti apa latihan hari Sabtu nanti, bersama orang-orang yang mungkin dia kenal, yang mungkin kenal dia, atau benar-benar baru. Semua kemungkinannya membuat perutnya mulas karena gugup.

El tiba di rumah. Plastik-plastik dan daun pisang sisa membuat tempe semalam berserakan di teras depan. Pasti ulah angin. El bereskan dan dia timpa dengan bata yang biasa digunakan untuk membuat pawon (tempat memasak dengan kayu sebagai bahan bakar).

“Mainannya diberesin lagi dong Yasa kalo habis mainan.”

Gadis kecil berambut keriting terkucir dua meringis saat melihat El datang memamerkan empat gigi geripisnya di jajaran depan atas. Di tangannya ada sebatang coklat yang—mungkin hanya sedikit yang masuk ke mulut—sisanya teroles di pipi, perut dan lehernya.

Seragam kotak-kotaknya masih belum ganti tapi sudah mustahil untuk bisa dipakai esok pagi. Ini adalah satu-satunya seragam yang Yasa punya. El segera menariknya berdiri dan lucuti pakaiannya untuk direndam di ember.

“Nanti malem tolong ambilin dele (kedelai) di rumah Mbak Farah ya El!” perintah Mbak Diana dari dapur.
“Iya.” Jawab El singkat sambil menggiring Yasa ke kamar mandi. Setengah jam kemudian Yasa sudah tampil manis dengan badan bersih, pakaian bersih, bedak putih tebal di wajah polosnya, serta rambut basah hasil keramas.

El tertawa melihat Yasa menarik-narik kursi di dapur, teringat pada Pak Damian yang menggeser kursi untuk El tadi siang.

Dimana Pak Damian tinggal ya?

Kota tempatnya tinggal bukanlah kota yang besar. Tidak layak pula disebut kota, pinggiran kota yang sedang berusaha berkembang menjadi kota tepatnya. Apakah Pak Damian sudah punya istri dan anak? Seperti apa rumahnya? Seperti apa rumah tangganya?

Ada bersit cemburu yang lancang saat membayangkan wanita pendamping Pak Damian, namun segera El tepis dengan mengangkat Yasa ke atas kursi dan menghidangkan nasi beserta sayur bayam ke piringnya.

Lepas petang El melaksanakan perintah Mbak Diana untuk mengambil kedelai. Mbak Diana dan suaminya memiliki usaha membuat tempe. El kadang membantu mereka membuat tempe jika tidak banyak tugas, tapi El pasti membantu Mas Langit mengantarkan tempe-tempe yang sudah jadi ke pelanggan-pelanggan tetap mereka di pasar setiap pagi.

Rumah Mbak Farah tidak terlalu jauh dari rumah dan kedelai yang harus El ambil juga tidak terlampau banyak malam ini, hanya dua kilogram, sehingga El putuskan untuk berjalan kaki. Lapangan tempat Gema latihan sore tadi ramai dengan mereka yang membutuhkan privasi gratis bersama pacar-pacarnya. Beberapa motor terparkir di sudut gelap lapangan. Beberapa pasang insan manusia duduk di atas motor berdekapan, ada juga yang membawa gitar dengan genjrengan sayup. Suara cekikikan, tawa dan obrolan pelan juga bisa El dengar di sepanjang jalan sisi lapangan.

El membopong kresek kedelai dengan dua tangan, dengan begini dia tidak merasakan berat sebelah. Belok kanan, menyebrangi jalan, dan...

...matanya terhenti pada toko Bu Salma, salah satu toko bermodel swalayan di kota ini. El juga sering belanja di tokonya untuk mencari barang-barang yang tidak ada di warung dekat rumah.

Dari luar kaca toko, dia bisa melihat Pak Damian sedang mengamati barang di rak. El hafal itu rak jajanan. Dari tempat El berdiri El bisa melihat setengah badan pak Damian secara utuh. Dia benar-benar tampan. Warna kulitnya, hidungnya, keningnya, bentuk bibirnya, posturnya.

Pak Damian membereskan urusannya di kasir dekat pintu lalu keluar toko dengan kresek penuh belanjaan. El masih bergeming di seberang jalan yang tak cukup besar. Namun lampu jalan yang terhalang pohon mangga membuat El tersembunyi. Pak Damian menyangkutkan kresek belanjaan di motornya lalu meninggalkan toko. Kedua lutut El terasa lemas melihat Pak Damian bisa menjadi manusia biasa juga, manusia dalam balutan kaos berkerah, bukan batik seragam guru, bercelana pendek selutut, bukan celana panjang bahan untuk ke kantor.

“Namanya bagus sekali, saya harus panggil siapa?”
“Silakan duduk, Mbak Hanum!”


El dekap erat kresek kedelai untuk meredam debar, meresapi kedekatan kalimat sapa Pak Damian dan imajinasi El.

Aku akan ingat Pak Damian seumur hidupku...gumamnya.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
BACK TO BLACK
07-07-2019 06:49

Bagian 2: Satu Enam

“Lo tau bedanya monyet sama gorila?”
“Gorila gedean, kalo monyet kecilan.”
“Lo emaknya monyet apa emaknya gorila? Tau amat!”

Selamat datang belia! Usia satu enam yang serba tanggung dan serba canggung. Usia satu tiga hingga satu enam masuk ke dalam kategori usia Purgatory, tidak diinginkan di bagian terbaik atau terburuk, alhasil usia ini sibuk sendiri dengan peperangan antara moral dan kemauan. Depresif. Maniak. Rebel.

Usia super sensitif karena mudah jatuh cinta pada paras, misalnya jatuh cinta ke cowok paling ganteng di sekolah dan sembunyi di balik tiang bendera saat berpapasan dengan idola.

Usia yang dinilai terlalu bocah untuk sekedar menyebut kata cinta tapi halaman belakang buku, laci meja hingga permukaan meja, sudah penuh dengan gambar hati, panah dan ukiran nama gebetan.

Usia dimana ingin dianggap penting tapi selalu ditimpali “anak bau kencur ga usah ditanggepin”.

Usia yang ingin menjadi bagian dari sistem pergaulan komunitas besar sekaligus usia yang paling sering disingkirkan.

Usia yang terlalu muda untuk disebut gadis, tapi terlalu tua untuk disebut arek cilik.
Usia yang terlalu muda untuk disebut bujang, tapi kencing sudah pasti bisa lurus untuk tetap ada dalam kategori tole.

El mengamati Zen yang sedang berbicara dengan guru BK lewat jendela kelas. Zen adalah Ketua OSIS yang baru dilantik seminggu lalu.

Ketua OSIS. Siapapun yang dekat dengannya dijamin menjadi orang penting secara otomatis di sekolah.

Orang penting menurut El adalah yang selalu disapa oleh siapapun karena mereka dikenal oleh semua orang bahkan mungkin semut-semut di sekolah juga kenal mereka.

Mereka mudah bergaul dengan siapa saja dan memperbesar lingkaran mereka tanpa usaha karena teman baru yang mencari mereka, bukan mereka yang mencari teman baru.

Tidak ada ceritanya jalan ke kantin sekolah sendirian. Tidak ada ceritanya gugup mencari teman saat guru menginstruksikan membentuk kerja kelompok.

Tidak ada ceritanya pergi ke toilet sendirian.

Dan mereka selalu berjalan sambil mengantongi tangan di dalam celana. Para siswinya selalu berjalan berkelompok dengan kode rahasia yang hanya dipahami oleh golongan mereka. Kadang tak ada pembicaraan apapun namun tatap mata bisa membuat mereka tertawa serempak.

El?

El adalah:
Murid yang selalu masuk ke dalam kelompok terakhir saat ada pembentukan kelompok kelas.
Murid yang pergi ke toilet sedirian.
Murid yang selalu duduk sendirian di setiap kenaikan kelas.
Murid yang akan selalu makan di belakang sekolah karena gue gugup duduk sendirian di kantin yang selalu ramai.

Murid yang selalu berjalan dengan menunduk.

El kembali menguping obrolan Ratika dan Wanda, tadi mereka membahas tentang monyet dan gorila, kini mereka membicarakan Pras, anak basket kelas sebelah yang juga dalam lingkaran Zen: populer dan diidolakan banyak siswi.

“Pras nanti main loh lawan SMP 2! Nonton yuk pulang sekolah!”
“Ayuk! Gue bawa kamera Kakak gue nih!”

Wanda mengeluarkan kamera Fujifilm lengkap dengan satu rol film kemudian memasangnya.

Lonceng berbunyi tiga kali. Zen masuk ke kelas. Pensil berwarna biru terselip di telinga dan matanya sibuk membaca kertas di tangannya.

"Lo ngomongin apaan Zen sama Pak Deni?" Tanya Remo, teman sebangku Zen.
"Mau ada pelatihan paskibra mulai minggu depan, tiap kelas diambil dua orang buat jadi tim paskibra sama sekolah lain. Tapi kita bakal diseleksi dulu perkelas."

Obrolan kelas seketika terhenti saat Pak Ardi, kepala sekolah, masuk kelas bersama seseorang berwajah baru.

"Selamat pagi anak-anak!"
"Selamat siang Pak!"
"Selalu selamat pagi agar kalian selalu membawa semangat pagi!" Tegas Pak Ardi dengan canda.
"Kalian pasti sudah dengar kabar tentang Bu Tami yang mengundurkan diri karena mau melahirkan. Ini adalah Pak Damian, guru Matematika kalian yang baru! Beliau orang yang sangat cerdas, lulusan dari luar negeri kembali ke tanah air untuk meningkatkan pendidikan anak bangsa!"

Zen bertepuk tangan sambil mengangkat kedua tangannya, diikuti oleh Remo, lalu lainnya, lalu gue juga.

Pak Damian menyapu kelas dengan tatapannya. Wajahnya masih tampak muda. Rambutnya tercukur rapi dengan belahan tegas di bagian kanan, sosoknya mengingatkan pada pemain film Andy Lau yang beberapa kali muncul di TV. Matanya cekung lantaran dahinya yang terbilang lebar, hidungnya yang sangat mancung dan alisnya yang tebal.

Kedua tangannya tergamit di belakang tubuhnya seperti sikap istirahat di tempat. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum sepanjang Pak Ardi berbicara.

Wanda dan Ratika berbisik lalu tertawa pelan. Siswi yang lain juga sama.

El juga mengerti keadaan seperti ini, Pak Damian memang tampan. Muda dan sangat tampan. El juga bisa merasakan desir yang tak asing lagi setiap melihat lawan jenis yang menarik seperti Zen dan Pras, termasuk saat melihat Pak Damian.

Pak Ardi meninggalkan Pak Damian bersama murid kelas 2B. Minggu ini adalah minggu bebas, kelas masih mengatur jadwal dan peraturan dalam tahun ajaran baru. Perkenalan dengan guru wali kelas, pembagian jadwal dan urusan administrasi sudah berlangsung sejak dua hari yang lalu.

"Kalian sudah kenal nama saya, gantian saya yang kenalan dengan kalian ya!" Pak Damian membuka buku absen dengan senyum yang membuatnya semakin tampan. Dia lebih tampan dari Pras, dari Zen, dari semua siswa idola di sekolah ini.

"Bapak kok ganteng banget sih!" Celetuk Nanda berani. Nanda memang siswi pemberani, lucu, dan banyak teman. Semua siswa tertawa, Pak Damian semakin tertawa lebar.

"Kamu orang pertama yang bilang begitu ke saya deh, siapa nama kamu?" Pak Damian duduk di sudut meja. Semua gestur tubuhnya tampak keren, pantas dan tanpa rikuh. El menjepit erat kedua tangannya diantara kedua lutut karena debar jantung terasa semakin kencang melihat setiap pergerakan Pak Damian. Dia hanya berharap jantungnya tidak loncat dari dalam mulut dan menggelinding di meja.

“Nanda, Bapak!” Nanda tersipu malu saat pak Damian menatapnya dengan senyuman yang memamerkan gingsul di bagian kanan. Giginya putih dan bersih.

El juga ingin dilihat dengan tatapan Pak Damian, tajam tapi hangat dan lembut. Namun El tidak melakukan apa-apa untuk menarik perhatian Pak Damian padanya.

“Mbak Nanda, kamu juga sangat cantik dan saya akan ingat kamu seumur hidup saya karena pujian kamu membuat saya percaya diri sekali!” Timpal Pak Damian disertai gelak tawanya dan gelak tawa sekelas.

“Bapak pernah ke luar negeri mana aja Pak?” Tanya Ibas lantang.

“Singaparna, Perempatan Ciamis--”

Seisi kelas tertawa lagi dengan candaan Pak Damian. Pak Damian adalah guru yang cool, semua murid seketika menyukai dia. El juga.

“Saya jadi ga kenal-kenal ini sama kalian! Gara-gara Mbak Nanda saya jadi kehilangan fokus.” Pak Damian menatap Nanda lagi dengan tatapan manis.

“Oke, absen pertama: Abimanyu?”

Abi mengangkat tangan kanannya, Pak Damian tersenyum dan mengamatinya sejenak, mungkin untuk mengingat wajahnya. Satu persatu ia panggil nama kami dan mengamati sejenak wajah kami.

“Hanum Alika Manda?”

Sepi.

“Hanum Alika Manda?”

“Saya Pak.”

Suara itu keluar dengan serak yang memutus sa pada saya.

“Oh kurang tinggi angkat tangannya, Mbak!”

Mungkin Pak Damian juga mengamati sejenak wajah pemilik nama itu sebelum pindah ke nama berikutnya.

“Namanya bagus sekali, saya harus panggil siapa? Hanum-kah?”

“Um...” El mulai panik saat semua mata melihat padanya.

“El, Pak. Dia biasa dipanggil El.” Teriak salah satu siswa.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anonymcoy02 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
BACK TO BLACK
25-07-2019 13:02

Bagian C: Vacker's Buddy

"Woy melek!" Bagas menggetok kepala gue pelan dengan map di tangannya.
"Nidurin siapa lagi lo Les?" Bagas duduk di atas meja gue dan menunggu cerita dengan muka sumringah.

"Nad, lo mau bikinin gue kopi ga?" Gue melongok ke cubicle sebelah kanan gue. Nadia menjulurkan lidahnya sambil menyatukan kedua bola matanya di dekat hidung.
"Ntar gue traktir makan siang dah, dimanapun lo mau! Plis Nad, gue ngantuk banget nih!"

"Gue mau bikinin lo kopi!" Bagas langsung memotong setelah mendengar tawaran gue.

"Cuma buat cewek! Lagian tangannya si Nadia jago banget bikin kopi!"

"Ogah!" Jawab Nadia ketus.

"Yaahh pliss Naad!"

"Kerjain laporan gue, baru gue mau!"

Gue bangkit dari kursi dengan kesal. Bagas mengikuti gue ke dapur.

"Ngopi, Win!" Ajak gue saat melewati meja Wintang.

"Boleelaaahh kalo Pak Bos yang ngajak!"

Kami bertiga duduk mengelilingi meja dapur dengan obrolan seputar urusan kantor.

"Lo pernah tidurin si Nadia ga Les?" Bagas memotong topik pembicaraan kami.

"Ah elah! Mesum mulu lo!" Seloroh Wintang.

"Kalo gue pake ilmu gue di kantor ini, ntar yang ada lo pada kebagian bekasan gue semua!" Jawab gue sombong. Wintang terbahak.

"Serius?"

"Lo kenapa sih, kek ga ada bokep aja nyari bacolan dari ceritanya si Lesmana! OOHHH ataaaauuuuuu.....loo suka sama si Nadia??" selidik Wintang.

"Ada deh!" Bagas tampak gugup dan segera menghindar dari topik yang dia buat sendiri.

Gue dan Wintang saling bertatap mata nakal dan mengulum tawa masing-masing.

Gue memang tidak pernah meniduri teman sekantor, namun Wintang SERING. Gue tidak bisa menjaga rahasia serapi Wintang. Gue tidak bisa menjaga peran di depan orang lain sejago Wintang.

Perselingkuhan bukan hal biasa di lingkungan kerja, begitupula cinta lokasi. Kedua hubungan ini sensitifnya melebihi cewek PMS jika pelakunya pernah beririsan di keduanya.

Gue tidak menyukai hal-hal seperti:

Harus mencari hotel dengan kemungkinan yang paling kecil akan ketauan teman sekantor.

Harus pergi diam-diam dengan alasan menjaga nama dan perasaan orang lain.

Harus merasa wanita yang gue tiduri juga ditiduri oleh kolega yang lain.

Harus merasa risih saat berselisih paham masalah pekerjaan dengan kolega hingga terbawa personal hanya karena wanita.


Wintang sanggup bermain dalam zona itu. Endurance nya untuk menghindari masalah tanpa masalah karena masalah yang akan datang tidak akan menjadi masalah jika sama-sama bisa menyembunyikan masalah sangat kuat, harus gue akui itu. Tidak sedikit wanita bersuami yang sudah ditiduri oleh Wintang.

Wanita yang suaminya juga kerja di kantor ini.
Wanita yang suaminya sering ngegym bersama kami.
Wanita yang suaminya kerja di kantor sebelah.
Wanita yang suaminya teman party kami.
Wanita yang suaminya teman kami sendiri.


Kebusukan kami berdua hanya kami yang tau. Jika ada orang lain yang tau, maka itu pasti bukan dari mulut kami berdua. Brocode.

Kecurigaan Bagas terhadap gue bukan tanpa alasan. Gue memang lebih sering terlihat jalan bersama teman-teman wanita sekantor atau wanita bukan sekantor yang menjemput gue di tempat kerja. Tau kan mukjizat orang ganteng? Dikelilingi wanita. Bersama teman-teman sekantor, gue hanya sekedar pergi makan, nonton, atau party. Jadi, hanya sekedar jalan saja sudah menimbulkan kecurigaan seperti Bagas: gue playboy kantor. Padahal playboy kantor kelas kakap justru Wintang!

Backing up my Bro, I'll absolutely do it!

"Nih! Met ultah!" Gue keluarkan Rolex Submariner dari dalam tas. Masih dalam kotak kayunya yang berwarna hijau dengan pad krem di bagian dalamnya. Mata Wintang terbelalak saat melihat jam berantai silver dengan background biru tua.

"Anjing! Serius lo??"

"Awas kalo lo jual ya! Gue penggal kepala lo, gue pajang di kamar gue! Ga becanda gue Win!"

"Anjing, serius?? Serius ini buat gue??"

"Lo ga mau, yaudah gue balikin!"

"Bangke lo Les! Bangkeeeee!!" Teriakan Wintang mengundang tatap mata orang-orang yang masih tersisa di ruangan malam itu. Sebagian besar sudah pulang sejak tiga jam yang lalu. Wintang berdiri memeluk gue erat.

"Udah jangan lama-lama! Ntar lo keterusan nyium gue!"

Mata Wintang berkaca saat melepaskan pelukannya.

"Gila lo Les, gila!" Wintang masih tak percaya dengan jam di tangannya.

"Party kemana kita malem ini?" Ajak gue.

"Terserah!"

"Terserah?"

"Terseraaahh hahaha! Dengan ini hamba pasrah, Paduka Raja!" Wintang melepas jam tangannya dan mengganti dengan Rolex.

"Lo tidurin gue juga gue mau, Les!"

"Najis lo Win! Yuklah!"

"Bye bye Ladies, bye bye Bros! Kita balik duluan ya!" Wintang melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi ke teman-teman yang masih di kantor, sengaja memamerkan jam tangan barunya.

Gue mengajak Wintang ke klab tempat biasa kami nongkrong. Gue belum kepikiran akan kemana, namun gue tau hadiah lain untuk Wintang malam ini.

"Kemarin gue ketemu Nyokap lo." Wintang meneguk bir dari botolnya. Mata kami tertuju ke lantai diskotik di bawah yang belum ramai.
"Ga ngomong apa-apa. Senyum doang waktu gue sapa."

Gue tidak berkomentar.

Oh! Gue bilang gue dan Wintang jauh dari sanak keluarga ya? Memang. Dekat secara raga bukan berarti dekat secara hati kan? Gue dan Nyokap gue seperti zat radioaktif, sedikit saja bersentuhan maka akan terjadi reaksi yang menimbulkan Chemical War!

Dia, wanita yang gue datangi rumahnya malam itu.

"Lo beli ini pake duit Nyokap lo kan?" Wintang mengamati jam di tangannya.

"Duit yang ada di rekening gue artinya duit gue, ga peduli darimana datengnya!"

Wintang tertawa dan meneguk lagi birnya hingga habis.

Gue melihat Cecil menaiki tangga. Dia mengenakan tanktop berwarna merah, jeans pendek yang bahkan tidak menutupi bokongnya dengan sempurna, beret berwarna merah dan boots hitam berheels tinggi. Sebuah choker berwarna hitam menghiasi lehernya yang dari kejauahan pun tampak putihnya.

"Hey, Boys!" Cecil mencium bibir gue, mengulum dan meremas selangkangan gue.

"Cecil, Wintang. Wintang, Cecil."

"Hai!" Wintang mengulurkan tangannya namun tidak disambut oleh Cecil. Dia mengamati Wintang dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"At least he's wearing Rolex!"

"Yeah, Rolex!" Wintang menunjukkan lengan kanannya. Gue tarik pinggang Cecil untuk mendekat ke tubuh gue.

"Take care of him!" Bisik gue. Cecil menatap gue sayu.

"Aku maunya kamu."

"Weekend ini, aku punya kamu."

"Can't wait for that."

Cecil menarik kerah kemeja gue dan kami kembali berciuman.

"Inggrid mau merit bulan depan. Lo udah tau?" Wintang bergeser mendekati gue setelah Cecil pamit menemui temannya di lantai bawah. Wintang menunggu jawaban gue sambil terus melihat wajah gue yang masih menatap kosong ke depan.

"Les?"

Gue tetap diam. Gue teguk bir gue namun habis. Gue acungkan botol ke bartender di belakang kami dan dengan sigap dia berikan sebotol Corona Extra dingin ke gue. Botol ketiga.

"Dia nelepon gue semalem. Ngucapin selamat ulang taun DAN bilang itu."

Gue tetap diam mendengarkan Wintang lebih seksama kali ini, meskipun mata gue mengarah kosong ke depan.

"Dia ngundang gue."

Gue tetap diam.

Cecil kembali menaiki tangga. Gue mengangguk dan menepuk bahu Wintang saat Cecil mengajaknya meninggalkan diskotik. Kode yang sudah Wintang pahami maksudnya. Gue duduk di atas kursi tinggi, menatap Wintang dan Cecil yang berjalan menuruni tangga.

Lalu gelombang kesepian menerpa gue.

Inggrid...sebuah nama yang lama tidak pernah tersebut namun efeknya seperti kryptonite bagi Superman.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
24-07-2019 00:17

Bagian B: Vacker

Santika menyalakan korek untuk menyulut rokok yang sedari tadi terjepit di bibir gue, namun tangan gue sibuk mengetik balasan SMS untuk Wintang.

"Thanks."

Kilatan sisa keringat di tubuhnya masih nampak dibawah remang lampu yang menyala dari kamar mandi.

"Sama-sama" balasnya sambil menumpuk bantal di bedhead untuk bersandar. Gue letakkan hape di meja lampu lalu menyusulnya bersandar. Dia nyalakan TV dengan suara pelan. Gue tarik kepalanya ke bahu gue dan gue elus-elus lengannya. Kami saling diam melihat TV yang menyala. Mata ke TV, pikiran tak kesana.

"Aku bisa muasin kamu kan?"

"Puas buat cowok pasti gampang ketauannya kok. Asal udah keluar, ya puas." Gue hisap rokok sedalam yang gue mampu dan menghembuskan asapnya perlahan.

"Kamu puas?" 

Pertanyaan balasan ini gue lontarkan sebagai kesopanan atas servis yang sudah Santika lakukan tadi. Gue rasakan anggukan Santika di dada gue.

"Speechless. Kamu bisa buat aku teriak-teriak kayak tadi." Ada tawa malu diujung pernyataannya.
"Apa kerjaan kamu, Les?" Sambungnya.

"Teller."

"Dimana?"

"BCA."

"Kamu udah punya pacar?"

"Enggak."

Santika beringsut menatap wajah gue, menyentuh rahang gue dengan ujung jemarinya, menelusuri pelan dari telinga hingga dagu.

"Aku suka sama cara main kamu: kasar." Bisiknya sambil menjilat telinga gue, nafasnya terdengar berat dengan desahannya.

"No pleasure without pain." Jawab gue. Mata gue masih mengarah ke TV. Tangan Santika mulai mengelus selangkangan gue lagi.

"Aku harus balik ke rumah sakit San. Wintang laper." Gue alihkan tangan Santika dan beranjak dari kasur ke kamar mandi.

Santika mengambil hapenya dan melihat jam, 2:30 pagi. Lalu dia melihat gue sinis. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik selimutnya dan memunggungi gue. Gue kenakan pakaian gue yang tercecer di lantai bersama pakaian Santika.

"Kamu mau ngasih nomer kamu ke aku?" Tanya gue sambil menatap punggungnya yang tak tertutup selimut.

"Enggak!"

"Oke, makasih Santika. Bye."

Gue tinggalkan dia sendirian di kamar hotel.

HEEEYYY!! Kutukan orang ganteng! Ganteng, badan OK, dompet tebel, apalagi yang wanita inginkan? Gue memiliki semua itu.

Sembilan puluh persen perkenalan acak dengan wanita di tempat umum akan berujung di ranjang, yaaa, kasih waktu dua-tiga hari paling lama.

Itulah gue.

Gue tau Santika tau kalau gue bohong tentang Wintang yang minta dibelikan makan. Gue tau Santika kecewa dengan cara gue meninggalkan dia bahkan gue tidak memuji apapun yang dia lakukan kepada gue, di satu sisi dia sangat puas dengan cara gue yang membuatnya multiple orgasm dan minta nambah.

Gue dapatkan dia secara gratis.

Ga gratis juga sih, gue bayar kopi dan hotel tempat kita bersilaturahmi alat kelamin. Hotel Ibis. Gue rasa gue tidak murahan dan gue tidak ingin drama lebih banyak dengan senangnya Santika atas servis gue. Sekali sudah cukup.

Karena biasanya---

tunggu:

Teng....teng teng teng...teng....

Intro Soldier Side milik SOAD melantun dari hape gue. Cecillia baca Sesillia, panggilannya Cecil alias Sesil, memanggil di layar hape.

Quote:Gue: Warna apa kali ini Cil?

Cecil: Nude. Nude heels, nude undies hihih!

Gue: Wow! So hot Cil! Poto dulu dong, Baby!

Jeda. MMS diterima: Cecil dengan rambut sebahunya yang berwarna hitam dan maroon gelap, kulit putih, bahkan lebih putih dari bra, thong dan heelsnya yang sudah berwarna nude.

Cecil: Suka?

Gue: Suka banget Baby!

Cecil: Ke apartemen Cecil doong! Kesepian nih butuh kamuu! Sekalian mau curhat!

Gue: Yah gabisa Cecil, aku kan lagi nemenin Wintang yang lagi sakit.

Cecil: Iiihhh aku udah beli undies sama heels ini spesial buat kamu loooh! Plissss!

Gue: Maaf Baby, lain kali yaa!


Segera gue tutup.

---ini salah satu alasannya. Gue terlalu sering menghabiskan waktu bersama Cecil sehingga ada ketergantungan dari Cecil yang tidak gue butuhkan dan lama-lama mengganggu.

Honka-honka satu jam, curhat sepanjang malam.

Alasan lain lagi adalah scene berikut:

Quote:"Ven, main yuk!"
"Ogah ah, kamu maunya pake aku terus, tapi ga pernah diseriusin! Nikahin dulu baru bisa pake tiap hari!"

Venda tidak semulus Cecil. Tidak semontok Santika. Dia gadis bertubuh biasa saja, tapi mata dan suara desahannyaa! Gue bisa otomatis ON hanya dengan melihat caranya menatap atau mendengar suaranya di telepon. Tapi permintaannya untuk menikah membuat gue seketika OFF.


Yep yep yep. Itu gue.

Pria yang tidak sensitif.
Pria yang tidak romantis.
Pria yang mau enaknya tapi tidak mau repotnya.
Pria pengecut.
Pria yang takut berkomitmen.
Pria rapuh.

Mungkin masih banyak antrian sebutan, tepatnya makian, yang wanita-wanita sematkan ke gue. Whatever. Bitches keep whining. Life goes on.

Gue buka pintu rumah dengan slow motion. Semua lampu masih mati. Suara gemericik air dari pompa akuarium yang mengucur konstan terdengar keras saat dini hari.

"Lesmana?"

Bersamaan dengan tertutupnya pintu yang sudah gue usahakan tidak bersuara sedikitpun, tetap saja ketauan.

Dia sudah berdiri di depan ruang kerjanya. Meskipun hanya dengan cahaya lilin di tangannya, gue bisa mendeskripsikan semua yang menempel di dirinya.

Rambutnya tergelung berantakan dengan sebuah jepit berwarna merah, tubuhnya terbalut kimono tidur yang terbuat dari satin hitam mengkilat bercorak bunga sakura warna pink, kaki tanpa alas di atas lantai marmer berwarna hitam. Lilin di tangannya berwarna hitam legam dengan aroma elemi kesukaannya, oleoresin yang dihasilkan oleh pepohonan di pedalaman Filipina.

Dia juga nampak kaget menemui gue sedini ini.

Gue tidak berkata apa-apa dan langsung menuju kamar untuk mengambil beberapa barang yang gue butuhkan, lalu keluar rumah. Dia masih duduk di ruang tamu dengan lilin di meja. Hanya melihat gue berlalu tanpa bertanya atau mengatakan apa-apa.

Kantuk mulai terasa memberat di kelopak mata. Motor gue di rumah sakit karena tadi pergi bersama Santika menggunakan angkot. Beruntung masih ada dua orang di pangkalan ojek di dekat perumahan elite ini. Gue ingin tidur. Jelas tidak di rumah sakit. Jelas tidak di kosan karena kosan gue tidak pernah sepi dan disana juga ada Rere yang tidak akan mengijinkan gue tidur jika tau gue pulang. Terlalu beresiko untuk kantuk gue.

Gue hanya punya satu tempat untuk segera tidur pagi ini.

Santika sudah tidak ada di kamar saat gue kembali. Syukurlah!

Gue lepaskan semua pakaian kecuali celana dalam lalu menarik selimut dan terlelap.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
11-07-2019 07:39

Bagian 5: Tiang Bendera

Sudah ada beberapa orang di lapangan saat gue bergabung untuk latihan bersama siang itu. Kumpulan yang terdiri dari siswa kelas dua dan kelas tiga. Mereka mengobrol berkelompok dan saling sapa dengan yang baru datang bergabung, tidak dengan gue. Beberapa orang tersenyum ke gue namun tidak menunjukkan ketertarikan untuk mengobrol lebih.

“Mbak El kepilih juga? Sama siapa Mbak dari kelas 2 F?”

Sasi menghampiri gue. Dia siswi kelas 3 C.

“Sama Gema, Sas.”

“Zen ga kepilih?” Ada gurat kecewa dalam pertanyaannya.

“Zen kan ketua OSIS Sas, banyak yang harus dia kerjain kali.” Timpal Danes, teman akrab Sasi.

“Eh itukan guru baru itu ya??” Danes menarik lengan Sasi untuk melihat ke arah yang dia tunjuk.

“Ada Pak Ganteng! Ada Pak Ganteng!” Beberapa siswi berbisik gelisah.

Pak Damian berjalan bersama Kak Restu dan Zen menuju ke arah kami. Kak Restu adalah anggota keperwiraan yang bekerja di kantor kecamatan. Dia baru lulus pendidikan tahun lalu dan usianya yang masih muda sering menjadi bahan pembicaraan inspiratif dan kekaguman di antara orang-orang yang mengenalnya. Gue menguping pembicaraan beberapa murid tadi bahwa Kak Restu ditunjuk menjadi pelatih kami bersama dua orang temannya. Tapi hari ini hanya dia yang datang.

Zen segera membariskan kami bersama Kak Restu yang mengatur posisi tinggi badan. Kemudian Zen mengabsen kami satu persatu. Semuanya hadir.

“Selamat sore, Anak-Anak!” Pak Damian mengawali latihan perdana kami.

“Selamat pagi, Pak!” Jawab beberapa siswa laki-laki disertai cekikik pelan saat hampir sebagian besar menjawab dengan selamat sore.

“BUKAN WAKTUNYA BERCANDA! JAWAB DENGAN BENAR!” Bentak Kak Restu yang seketika membuat kami ciut dan diam. Kak Restu mengangguk ke arah Pak Damian.

“Selamat sore, Anak-Anak!” Ulang Pak Damian.

“Selamat sore, Pak!” Jawab kami serentak. Takut namun serentak.

“Saya ditugaskan oleh Pak Ardi untuk mendampingi sekolah kita selama latihan hari ini dan saat latihan bersama setiap akhir pekan di lapangan. Pak Lukas dan Pak Remo juga akan hadir, mungkin akan bergantian menyesuaikan jadwal kesibukan masing-masing juga. Saya harap kalian akan melaksanakan yang terbaik dan membawa nama baik sekolah kita. Di samping saya ini adalah Pak Restu, beliau yang akan melatih kalian bersama sekolah yang lain juga. Pak Restu juga akan dibantu oleh beberapa tim pelatih. Pesan Pak Ardi adalah satu: kalian harus disiplin dan mendengar instruksi pelatih. Mengerti?”

“Mengerti Pak!”

Pak Damian tersenyum singkat ke arah Kak Restu untuk mengambil alih pidato.

Kak Restu mengamati kami dari ujung barisan kiri ke ujung barisan kanan. Pakaian dinas berwarna hijau lumut yang agak pressed body membuat postur langsing, tegap dan tingginya semakin jelas.

“Beberapa dari kalian yang mengenal saya dengan panggilan Kak Restu WAJIB memanggil saya Pak Restu selama proses pelatihan berlangsung! Setelah upacara 17 Agustus selesai, kalian boleh menganggap saya teman kalian dan bercanda lagi, tapi selama proses ini berlangsung saya adalah pelatih kalian dan saya tidak akan ragu-ragu menghukum jika ada yang main-main! Paham?”

“Paham, Pak!”

Latihan pun dimulai. Kali ini lebih tegang karena langsung dibawahi Pak Restu. Gue tau rumahnya. Gue sering melihat dia bersama teman-temannya. Tapi melihatnya bertugas dalam keadaan seperti ini adalah pertama kalinya bagi gue. Hari ini kami hanya latihan di tempat, tidak berpindah tempat seperti jalan, geser, maju atau mundur. Kami hanya belajar hadap kanan-kiri, balik kanan, lencang kanan dan depan, dan berhitung dalam barisan. Namun begitu, rasa lelah yang sebenarnya didominasi rasa takut akan kelantangan suara Pak Restu sangat terasa saat matahari senja menukik di ufuk barat.

Sepanjang latihan Pak Damian berdiri melihat kami bersama Zen. Sesekali mereka mengobrol, namun tampak ikut hikmat mengamati latihan. Di belakang mereka tiang bendera dengan benderanya yang berkibar seakan menjadi gada-gada penunjuk rasa campur aduk dalam dada.

“Sas!” Panggil Zen ke Sasi saat barisan dibubarkan. Sasi menoleh ke arah Danes yang selalu bersamanya, Danes hanya melambaikan tangan dan menjauh dari Sasi dan Zen.

Beberapa siswa laki-laki dan perempuan menghampiri Pak Damian dan becanda sembari berjalan kembali ke kelas untuk mengambil tas masing-masing.

Di antara jingganya cahaya senja, gue mengamati senyum, binar mata dan tawa Pak Damian.

Jadi dia akan mendampingi selama latihan?

“Mbak El, aku dibilangin Zen, katanya kamu masuk divisiku ya?” Veda meraih pundak gue dan berjalan sejajar.
“Makasih ya Mbak!” Veda menambahkan lagi sebelum gue menjawab apapun.
“Kita juga udah dapet pembina OSIS, tadi aku sama Zen dipanggil Pak Ardi sebelum ke lapangan.”

“Siapa?” Tanya gue.

“Tuh Pak Ganteng!” Veda memanyunkan bibirnya ke arah Pak Damian.

Ada tawa yang tersenggal dari mulut gue. Untung gue segera sadari itu sehingga segera gue tarik kembali. Veda tampak tak tau atau tak peduli, ia sudah berlalu menghampiri teman-temannya di depan.

Beberapa jam lalu di dalam kelas:

“Gini Mbak, kami kan lagi membentuk kepengurusan baru, nah gue belum dapet temen yang mau nemenin Veda jadi divisi humas. Tenang-tenang, Mbak El ga akan banyak--"

Zen mungkin melihat kepanikan gue saat dia bilang humas, atau mungkin dia sudah mempersiapkan reaksinya karena semua orang juga tau El adalah orang yang tidak banyak bergaul. Dia memberi jeda bicaranya dan membuat bahasa dengan tangan.

"....ga akan banyak bicara dan berhubungan dengan orang-orang. Itu maksud gue. Veda udah sangat jago dalam hal itu, cuma kita kan punya program sekolah yang ngajar ke sekolah TK tiap akhir bulan, nah gue butuh orang yang--justru ga banyak omong tapi mau kerja. Review tahun lalu, programnya banyak ga kelaksana karena pada males Mbak."

Gue mendengarkan Zen, mendengarkan setiap kata-katanya. Sejak gue mengenal dia di kelas satu, gue bisa melihat kharismanya sebagai pemimpin dengan dia selalu tampil memimpin kelas, kapten di sepak bola, sabuk coklat di karate, memimpin kelompok kelas atau sekolah saat lomba di luar sekolah, dan pasti juara kelas setiap semester. Pembawaannya juga kalem, tak banyak bicara tapi tegas saat harus berbicara.

Gue juga memilih dia menjadi ketua OSIS saat kami voting.

"Gue--ga bisa."

Mungkin suara kodok terinjak masih lebih indah dibanding suara gue. Saking seringnya gue diam, gugup dan tak siap bicara, tenggorokan ini sering kering dan mungkin trakea gue juga karatan sehingga aliran udara yang tiba-tiba mengakibatkan pita suara meliuk ringsek. Kadang serak, kadang terbelok, kadang terputus.

Kali ini serak, hingga harus gue bangkitkan pita suara dengan berdehem dan mengulang jawaban yang semakin terdengar bodoh.

"Ga usah khawatir Mbak, kita semua juga ga bisa berorganisasi kok. Kita belajar bareng-bareng. Ya?"

Gue menggeleng.

"Tolong Mbak El. Gue bisa liat kok kemampuan Mbak El. Ga semua orang bisa liat itu dan gue rasa Mbak cuma butuh temen buat menyemangati itu."

Ini pertama kalinya gue berani menatap mata Zen, mencari kebenaran dari kalimatnya barusan. Akhirnya ada orang yang bisa melihat gue!

"Gue ga punya pengalaman apa-apa."

"Ga apa-apa Mbak, gue nyari orang yang mau belajar, punya pengalaman percuma kalo gabisa diajak kerja bareng."

Sumringah di wajah Zen berbarengan dengan anggukan gue. Gue senang ada yang bisa melihat diri gue....dan itu Zen. Pria yang pernah gue tulis namanya di halaman paling belakang buku-buku gue, pria yang pernah gue idamkan, pria yang pernah gue mimpikan, pria yang terletak dideret "pacar impian", tentu saja sebelum Pak Damian datang.

Apakah ini juga kesempatan gue untuk punya teman? Menjadi bagian dari organisasi yang anggotanya dikenal oleh penjuru kampus dan guru? Dengan begitu orang akan mengajak gue berteman tanpa gue perlu berandai-andai memiliki teman baru?


Tapi motivasi gue bertambah lagi, gue akan mempunyai waktu lebih yang lain untuk melihat Pak Damian.

Bendera masih berkibar di tiang bendera yang hanya setengahnya terkena rona senja.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
09-07-2019 18:49

Bagian 4: Kejutan

Kedua tangan itu masih menutup mata gue dari belakang. Tak ada suara, tapi gue rasa gue tau pemilik tangan ini. Dia tidak benar-benar merapatkan tangannya sehingga gue masih bisa melihat cahaya putih dan hangat menerobos masuk.

Gue tersenyum.

Bukan.

Gue tertawa.

Lalu dia tertawa. Bukan gelak seperti gue, tapi desah tawa. Bisa gue rasakan getar pelan tubuhnya di punggung. Lalu udara hangat menerpa pipi.....

....mendekati telinga...

Tawa gue terhenti, berganti dengan nafas yang hati-hati, menunggu apa yang akan dia lakukan...

"Hanum."

HAH!!

Gue tersentak bangun. Kesima, kejut dan gairah bercampur dalam senggal nafas yang perlahan teratur. Lalu berganti dengan rasa sipu malu.

Sial.

Sesederhana mimpi. Seperti itulah gue membuka hari ini.

Sekolah itu membosankan jika dilihat dari rutinitas belajar ilmu alam, matematika, sosial, dan bahasa. Tidak akan ada yang bisa bertahan tanpa motivasi pribadi. Ide pergi ke sekolah karena ingin meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua terdengar dusta saat ini berlangsung dalam waktu yang saklek dan terus-menerus. Manusia memiliki individualitas diri yang berisi keinginan untuk memilih dan hak untuk menjadi diri sendiri.

Buat mereka yang punya teman, bertemu dengan teman di sekolah menjadi penyemangat sendiri. Buat mereka yang punya pacar satu sekolah, ini lebih jadi motivasi lagi: pulang pergi bareng, di sekolah curi-curi kesempatan untuk sekedar lewat di depan kelas masing-masing, berpapasan, menyelinap ke perpustakaan untuk berdua di antara rak-rak buku, atau duduk berdua di kantin, menebalkan telinga dan rasa malu tapi mau atas ledekan teman-teman.

Atau seperti gue, yang pergi ke sekolah demi melihat siswa yang gue sukai? 

Dan kini, guru yang gue sukai.

Kaki ini ringan. Hati ini riang.

Wajah ini....siapa yang akan peduli jika wajah ini akan tertawa atau menangis?

Pelajaran pertama adalah Matematika.

Ummmm....

Oke, gue memimpikan guru baru gue. Pria yang baru gue lihat beberapa kali dan terakhir semalam sudah bisa membuat otak gue berimajinasi lancang hingga ke mimpi.

Kedekatan maya tadi malam membuat gue seketika tertunduk saat Pak Damian masuk kelas.

"Selamat pagi! Gimana tidur kalian semalam?"

Pak Damian belum mendapatkan seragam. Hari ini dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah marun dan celana panjang hitam. Ia letakkan bukunya di atas meja lalu duduk di sudutnya. Tampaknya itu posisi kesukaannya. Ia kantongi kedua tangannya di saku celana dan melihat ke semua murid.

Pertanyaannya membuat gue malu. Gue memilih menyibukkan mata menatap ke rambut Wanda yang hari ini dikepang dengan aksesoris buah ceri di karetnya. Sesekali gue melihat Pak Damian, namun dia tidak melihat gue.

"Mimpi enak, Pak!" Jawab Jojo disusul tawa sekelas.
"Makan di rumah makan mana Jo?" Pak Damian mengubah candaan Jojo.

Candaan yang menyambung ke candaan berikutnya dan berikutnya.

"Oke, hari ini kita serius belajar Matematika ya! Kalo ada yang mau belajar bilang cinta jangan ke saya tanyanya!"
"Eciee jomblo nih si Bapaaak!" Umpan Nanda. Pak Damian terkekeh sambil mengusap matanya yang berair akibat tawa.

Dia semakin tampan saat tertawa. Jantung gue berhenti sejenak untuk menunggu jawaban atas candaan Nanda, jawaban yang sangat ingin gue ketahui jika bagus, namun jangan dikatakan jika tidak bagus.

"Cukup Nanda! Nanti banyak yang daftar kalo saya bilang saya jomblo!"

Apa artinya? Dia memang single?

Ada buncah senang dalam hati. Tapi tergantung tanpa kepastian dari Pak Damian karena setelah itu dia langsung berbalik badan, mengambil kapur dan menulis di papan tulis.

“Mbak El!”

Zen menghampiri meja gue saat pelajaran Matematika selesai.

“Sore ini latian baris bareng sama temen-temen dari kelas lain Mbak, jam 3 di lapangan. Bisa kan?”

Gue mengangguk dan melanjutkan menyalin catatan di papan tulis yang belum selesai. Zen tidak beringsut, justru duduk di kursi kosong sebelah gue.

“Mbak El mau masuk kepengurusan di OSIS ga?”
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
21-07-2019 13:49

Bagian A: Suster Santika

Beberapa dari kita memiliki kisah yang menarik untuk diikuti. Perjalanan hidup seperti dalam layar kaca yang membuat pengamatnya ingin tau apa yang akan terjadi di episode-episode berikutnya. Mereka seperti aktor dalam skenario Sang Maha Pencipta, lengkap dengan protagonis, antagonis, figuran protagonis, figuran antagonis dan latar yang sempurna untuk sebuah film.

Lalu para penontonnya melihat kemudahan, keindahan, kesakitan, hingga pembandingan akan keadaan diri sendiri dengan mereka.

Mengapa hidup mereka lebih indah dari hidup gue?
Atau,
Gue harusnya bersyukur dengan keadaan ini karena hidupnya dia lebih tidak beruntung dari hidup gue.
Atau,
Mampus hidup lo susah!

Lalu kita membuat subgenre dari setiap fragmen-fragmen momen kehidupan: senang, sedih, liku-liku, romansa, yang berikutnya akan kita rangkum dalam satu genre utama: drama kehidupan. Senang atau tidak, hidup ini adalah drama. Sebuah kata yang sudah mengalami peyorasi atau penurunan makna sehingga penyandangnya akan dihindari, dilucuti dengan sebelah mata. Drama dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan demi sensasi. Naasnya, sesuatu yang berlebihan terkadang memang benar-benar terjadi di kehidupan. Sensasi juga mengikuti dalam bentuk reaksi yang tak bisa terelakkan dan mau tak mau dihadapi.

Gue bukan El. Tapi dalam perjalanan drama kehidupan, kami akan bertemu di suatu titik. Pertemuan yang tak pernah gue duga, namun sudah ia persiapkan sejak—hanya Tuhan dan dia yang tau.

Satu hal yang sama antara gue dan El adalah: kami bukan orang yang nice. Bukan orang yang baik. Kesamaan yang akan menjadi putting beliung bagi kami berdua.

Tapi kisah itu akan El ceritakan, bersama dengan yang lainnya.

Kisah gue akan gue buka dari sebuah latar tempat: warteg. Terletak di seberang rumah sakit tempat sahabat gue dirawat. Kami sama-sama pemuda rantau yang jauh dari orang tua sehingga siapa lagi yang diandalkan saat salah satu dari kami tumbang? Selain teman satu pekerjaan, yang kebetulan satu kosan, kebetulan juga satu daerah.

“Tambah tempe goreng dua, Mbak!”

Gue menoleh ke arah kanan. Tepat di sebelah gue, berdiri seorang perempuan berpakaian perawat putih-putih bergaris ungu di leher dan ujung lengannya. Tangannya yang menggapai ke atas etalase warteg membuat buah dadanya yang terbilang besar tepat berada di sebelah pipi gue, lalu di depan mata gue.

“Maaf!” katanya, saat dia menarik tangannya dan sikunya menabrak kening gue. Gue masih kesulitan untuk berpindah haluan pandangan dari dada ke matanya.

Santika P. Hendra

Setidaknya ada hal lain yang gue dapatkan dari dadanya selain ukurannya yang luar biasa. Gue hanya mengangguk dan terus mengunyah ikan kembung goreng sambil memilih-milih durinya di dalam mulut. Dia pergi.

“Santika. Familiar, Win?”
Gue berikan segelas jus jambu kepada Wintang. Wintang menggeleng, sedikit dengan rasa curiga.
“Siapa tuh?”
“Suster sini.”
“Seinget gue sih gue ga pernah dapet suster namanya Santika.”

Gue percaya Wintang. Kami berdua sama-sama—petualang wanita. Mengingat wajah dan nama bukanlah hal sulit buat kami berdua.

“Whoa!! Serius??
Wintang membelalakkan matanya saat gue membuat gerakan ukuran dada suster Santika yang diatas rata-rata. Gue mengangguk nakal.
“Mau gue dimandiin sama suster itu! Cariin dong! Dari gue masuk sini, yang bening cuma Suster Dina. Sampe hari ini masih belom keliatan lagi dia!”
“Makanya lo jangan sembuh-sembuh biar punya banyak koleksian kenalan suster semok!”
“Anjing lo! Lo berharap gue sakit mulu??”
Gue tertawa dan mengajak Wintang melanjutkan game online yang tadi tertunda makan siang.

Gue menuruti Wintang untuk mencari suster Santika. Bukan untuk dia, tapi untuk gue. Saat Wintang tidur, gue turun dari lantai ke lantai, berpapasan dengan satu suster dan suster lainnya hanya mencari pemilik dada yang membuat gue penasaran. Tak banyak yang gue ingat dari wajahnya, tapi banyak yang gue ingat dari tubuhnya, selain dadanya tentu saja. Dia tidak tinggi, badannya sekal dan berkulit putih. Rambutnya ikal berwarna coklat dengan beberapa highlights berwarna karamel.

Hingga saat gue meraih lobby utama, gue lihat dia berjalan menuju pintu keluar dengan tas di bahunya. Sweater berwarna coklat muda yang lengannya ia tarik setengah lengan menutupi atasan putihnya. Tanpa berpikir dua kali, gue sejajari langkahnya.

“Hai Sus! Boleh kenalan?”

Dia terkejut dengan sapaan gue yang tiba-tiba. Lalu senyum terkembang di bibirnya yang tak tipis, tapi juga tak tebal. Sebuah tai lalat kecil duduk manis di sudut kanan bawah bibirnya. Dia tarik nametagnya yang terselip di dalam sweaternya. Ah! Nametag yang untuk keluarnya saja terjepit diantara ketatnya sweater yang menggembung di dadanya.

“Santika.” Jawabnya dengan suara santai.
“Lesmana.” Gue ulurkan tangan dan Santika menjabat lembut, namun cukup mengalirkan sengatan listrik ke seluruh tubuh gue, terutama ke selangkangan gue.
“Kamu lagi nunggu pasien?”
Gue mengangguk. Lagi, mata gue berusaha untuk tetap melihat matanya meskipun dadanya melambai-lambai untuk gue sambangi.
“Temenku yang sakit. Sekarang lagi tidur. Kamu mau pulang?”

Santika mengangguk.

Gue tertawa dan memasukkan tangan ke dalam saku celana, cara gue untuk menenangkan diri. Gue sudah ahli dalam hal ini.

“Ngopi?” Gue menunjuk ke McCafe yang tak jauh dari rumah sakit. Santika tersenyum dengan senggalnya yang mencekat di tenggorokannya sendiri.
“Apa mau kamu?” Lirihnya.
“Mungkin akan ketauan setelah ngopi.”
Santika tertawa dan mengangkat bahunya.
“Oke.”

Kami berjalan menyusuri trotoar ke kafe yang berjarak sekitar 200 meter. Kami masih saling diam namun beberapa kali mata kami bertemu dan senyum terkulum di bibir masing-masing.
“Kenapa kamu mau?” Tanyaku.
“Mau apa?”
“Aku ajak kenalan, terus ngopi.”
“Kamu ga mau ngerampok aku kan?”

Aku tertawa dan menggeleng.

“Aku tau kamu nunggu pasien disitu. Kita udah ketemu saat temen kamu masuk emergency, mungkin kamu lupa. Aku duty di UGD.”

Oh. Gue hanya mengangguk-angguk.
“Karena itu kamu mau aku ajak ngopi?”

Santika tidak menjawab. Ia masih tersenyum.
“Aku ga punya acara apa-apa malem ini. Jadi kenapa enggak.”

Gue tidak mau bertanya lebih banyak dan memilih diam membangun suasana melalui senggolan lengan dan langkah kami yang seirama. Hingga kami duduk berhadapan dengan dua cangkir latte di hadapan kami.
“Ini udah hari kelima temen kamu dirawat ya?”
“Iya. Keadaannya udah baikan dan kemungkinan besok dia udah boleh pulang.”
“Beruntung dong malem ini ketemu aku?”

Gue menyipitkan mata ke arah Santika, mencoba menebak maksudnya. Sudah tau namun gue tidak ingin segera mencapai kesimpulan itu.

“Tergantung versi beruntung masing-masing.” balas gue lirih.

Santika memajukan tubuhnya hingga dadanya tergencet tepian meja.

“Kita punya pengertian beruntung yang sama, Lesmana.” Bisiknya dengan desahnya yang manja.

Tanpa berpikir dua kali, gue ulurkan tangan untuk mengajaknya meninggalkan tempat kafe dengan dua kopi yang belum tersentuh sama sekali.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anonymcoy02 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
BACK TO BLACK
14-07-2019 20:06

Bagian 5: Teman

Gue tidak sabar menunggu kapan akan kumpul perdana pengurus OSIS. Gue tidak sabar melihat Pak Damian dari dekat dan mengobrol tentang kegiatan OSIS. Gue tidak sabar pergi ke sekolah-sekolah TK sebagai kegiatan rutin kami bersama Pak Damian yang akan mendampingi kami. Gue hanya ingin melihat dia dari dekat dan mendengarkan dia bicara lebih lama dengan semua keindahan yang dia miliki di wajahnya.

Latihan paskibra benar-benar menguras energi. Seluruh latihan di dominasi oleh Pak Restu dan dua temannya, Pak Malik dan Pak Andi. Keduanya tidak semuda Pak Restu, tapi bisa kami lihat jabatan keduanya jauh lebih tinggi dibanding Pak Restu karena Pak Restu memanggil mereka dengan panggilan Ndan (Komandan). Di Sabtu pertama ini juga Pak Lukas, Pak Remo, Pak Ardi dan Pak Damian mendampingi kami. Pembukaan dan waktu istirahat diisi oleh Pak Ardi dan kepala sekolah yang lain, sementara guru-guru yang lain lebih sering mengobrol dengan pelatih dan sesama mereka.

“Gue tau lo.” Celetuk siswi yang duduk di sebelah gue. Dari logo lokasi di lengan bajunya, dia berasal dari SMP 3, tak jauh dari sekolah kami, namun memiliki akreditasi lebih tinggi.

“Lo yang sering nganterin tempe ke pasar kan kalo pagi?” Tanyanya meyakinkan.

Gue tidak keberatan dengan pekerjaan rutin itu setiap pagi, namun gue selalu mengenakan jaket diluar seragam. Pertama karena gue tidak ingin seragam gue kotor, kedua, gue berusaha meminimalisir kemungkinan orang lain melihat gue adalah siswi SMP dan mengenali lokasi sekolah gue. Karena seperti ini, saat dia mengenali gue dari pekerjaan gue setiap pagi, yang sudah berusaha gue sembunyikan, dia tetap tau. Intinya, yaa, gue sedikit malu dengan rutinitas gue. Tapi tanpa begitu, gue tidak akan mendapatkan uang jajan lebih.

Ada rasa yang seperti terjun dari jantung ke perut saat dia menegaskan itu, rasa yang merupa dalam rasa malu untuk sekedar mengangguk.

“Emak gue juga jualan di pasar! Kan ngambil tempenya ke Kakak lo juga! Lo ga pernah liat gue?”

“Enggak.”

“Iyalah lo jalan nunduk mulu sih! Nganter tempe juga kagak ngomong apa-apa! Padahal gue juga selalu nemenin Emak gue nyusun dagangan di pasar!”

“Gue Poppy! Lo El kan?”

Poppy mengulurkan tangannya menyalami gue.

“Itu guru lo ya?” Poppy menunjuk ke arah Pak Damian yang sedang mengobrol dengan Pak Ardi.

Gue mengangguk.

“Itu yang katanya ganteng banget? Sampe ke sekolah gue itu gosipnya guru ganteng!”

“Masa??” Jawaban gue lebih terdengar tak rela dibandingkan tak percaya.

“Iya! Banyak yang ngefans sama tuh guru, balik sekolah aja pada nungguin di deket tokonya Bu Salma, rumahnya kan deket situ katanya.”

Gue mengikuti arah mata Poppy yang masih memandang Pak Damian. Gue baru tau kalau rumah Pak Damian di dekat toko Bu Salma.

“Menurut gue biasa aja ah, ga ganteng-ganteng amat!” Kilah Poppy sambil mengelus-elus dagunya.

“Kenapa lo ketawa?” Poppy berpaling ke gue lagi. Gue langsung diam.

“Baru kali ini gue denger ada yang bilang Pak Damian ga ganteng.”

“Si Poppy kebanyakan gaul sama kuli di pasar!” Celetuk seorang siswi yang ditanggapi Poppy dengan lemparan sejumput rumput-rumput lapangan yang dia cabuti.

“Hari ini gue ga liat lo ke pasar, El?”

“Gue takut kesiangan kesini jadi gue ga nganter pagi ini.”

Pak Restu memanggil kami untuk berbaris lagi. Gue melihat Poppy menuju ke bagian ujung dari tempat gue berada. Dia berada di barisan dengan tinggi badan yang tidak setinggi gue. Deretan barisan yang didominasi oleh para siswi. Poppy tersenyum ke gue. Ada rasa girang yang menghinggapi hati gue, rasa yang selalu ingin melihatnya masih di barisannya atau tidak.

“Lo bekel apa?” Poppy membawa kotak bekalnya mendekati gue saat tatapan mata kami bertemu sama-sama mencari teman makan siang.

“Nasi goreng!” Gue buka tutup bekal gue.

“Eh sama!” Poppy juga membuka miliknya, dia dengan tempe dan telor dadar, gue dengan telor ceplok.

“Ini tempe bikinan Kakak lo loh, enak tau, ga kecut meskipun udah dari kemaren pagi! Lo pasti udah bosen makan tempe ya El hahaha!”

Kami mulai makan dan saling mencicipi masakan masing-masing. Nasi goreng Poppy ia bumbui kunyit dan terasi, itu baru bagi gue tapi rasanya sangat lezat. Sedangkan menurut Poppy, nasi goreng gue pedasnya pas. Kami pun berujung bertukar bekal.

“Lo ga punya temen ya El?” Poppy merangkul lengan gue setelah kami menyelesaikan rutinitas latihan pertama kami saat waktu sudah menjelang pukul lima sore.

Gue tau tidak adalah jawaban yang benar, tapi jawaban itu pasti terdengar menyedihkan sehingga gue memilih diam.

“Gue juga ga punya temen deket. Gue kenal sama banyak orang tapi mereka cuma kenal gue anak pasar, pacar gue kuli pasar, tambah aja banyak yang ngejekin gue.” Jelas Poppy enteng.

“Lo punya pacar?” Bagian itu membuat gue tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan, terutama bagian kuli pasar, sebenarnya.

“Iya gue udah enam bulan pacaran sama dia! Dia kerja di pasar situ, tukang ngangkutin sayuran kalo pagi. Tapi lo jangan bilang-bilang emak gue ya! Backstreet!” Bisik Poppy sambil melirik sekitarnya, lalu ia tambahi dengan tawanya yang lepas.

Gue mengangguk mantap dan menunjukkan dua jari membentuk V sebagai tanda gue akan jaga rahasianya.

“Besok-besok kita berangkat bareng aja ke sekolah dari pasar! Oke!”

Gue mengangguk berkali-kali sambil mengacungkan jempol. Poppy masih belum melepaskan rangkulan tangannya di lengan gue, namun gue menyukai kehangatan pertemanan yang baru ini. Ini adalah pertama kalinya ada yang sedekat ini dengan gue. Tanpa melihat gue dengan canggung dan rikuh. Tanpa memanggil gue Mbak. Orang pertama yang melihat gue seperti teman-teman sebayanya.

“Lo suka ya sama guru lo itu?”

Gue terkejut dengan pertanyaan Poppy dan segera mengalihkan pandangan gue yang memang sedari tadi mencuri pandang ke arah Pak Damian yang berjalan tak jauh dari kami.

“Kok—lo bisa bilang gitu?” Tanya gue gugup.

“Semua cewek suka sama dia! Kecuali gue. Gue sukanya sama pacar gue!” Poppy mencibir ke arah Pak Damian.

“Karena Pak Damian ga seganteng pacar lo?” Tanya gue berusaha guyon.

“YESS! Beneran! Kata emak gue kalo kita jatuh cinta ke seseorang, orang itu akan jadi yang paling ganteng atau yang paling cantik! Ga ada yang ngalahin wajah pasangan yang saling jatuh cinta!”

“Tapi tetep aja Nicholas Saputra paling ganteng diantara semua pria! Mutlak!” Celetuk seorang siswi, gue tidak tau namanya dan dia bukan dari sekolah gue.

“Eh lo jangan deket-deket dia, ntar lo dibawa gaul sama kuli pasar!” Tambahnya ke gue. Poppy mendaratkan tendangan ke betis siswi itu namun dia sudah lebih dulu berlari sambil menjulurkan lidahnya ke Poppy. Poppy hanya mendengus kesal dan mengepalkan tinjunya ke arah siswi yang hanya cekikikan melihatnya.

“Terserah lo mau temenan sama gue apa enggak, tapi emang temen-temen gue banyaknya orang-orang pasar yang pada ga sekolah.”

Ada nada kesal bercampur putus asa di pernyataan Poppy.

“Gue udah biasa diejekin begitu.” Poppy melihat ke arah siswi yang berjalan bersama teman-temannya jauh di depan kami.

“Gue ga punya temen dan selalu pengen punya temen. Gue ga akan milih-milih siapa yang akan dateng ke gue dan ngajak temenan, sekalipun sama temen-temen lo yang kuli pasar, kalo mereka mau temenan sama gue, kenapa enggak?”

Gue rangkul balik lengan Poppy dan kami tertawa bersama.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
BACK TO BLACK
07-07-2019 17:45
Quote:Original Posted By evywahyuni

Haii .... emoticon-Hai salam kenal juga yaa emoticon-Salam Kenal kok balik nanya sih? emoticon-Leh Uga

Ntar kalo d spoilerin ga baca lagi emoticon-Leh Uga

Quote:Original Posted By Cahayahalimah
El melihat kekerasan dlm keluarga, apakah menjadi trauma?

Halo Mbak Cahaya Halimah, namanya luar biasa bener emoticon-Belo
Kita lihat jawabannya nanti emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By doctorkelinci

Aink maho, anti peyuk-peyuk ladies.
Sekali peyuk, auto panuan.BACK TO BLACK

_

Saran aja teh, kalo ada iklan mending diemin aja. Nggak usah di-quote. Karena itu sama artinya kamu ikut mengiklankan. Dan lekas dibuat indeks, feeling ku berkata thread ini bakalan segera naik HT. Ntapsss~emoticon-coffee









emoticon-Paw


Weladalah maho! emoticon-Leh Uga

Oh gitu ya, gue terlalu baik komen apa aja gue bales emoticon-Ngakak
Tengkyu sarannya!

Indeks mah gampang, pejwan juga belum kelar emoticon-Big Grin

=====
makasih cindulnya semuanya, bisa kayak gini sekarang ya bagi2 cindulnya, sugoi!! Aing berasa baru keluar dari gua emoticon-Nohope
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
BACK TO BLACK
07-07-2019 06:55
Quote:Original Posted By doctorkelinci
Pertamax has been slained.BACK TO BLACK

Ngupi cans dulu, harus sedekep sama Tees kesayangan. emoticon-Peace





emoticon-Paw

Aaaaa halooo! Gue amnesia nih! Udah lama ga kesini, kalo dulu kita sering pelukan kasih tau gue doong, peluk gue lagi :'(
Hahaha emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By evywahyuni
El kecil yang malangemoticon-Turut Berduka apakah yang menikam bapak El adalah ibunya El?emoticon-Bingung


Hai Mbak Evy! Salam kenal!
Hmm, siapa ya yang nusuk Bapaknya El? emoticon-Gila

Quote:Original Posted By sambeltempe22
Artikel Yang Bagus Gan Mohon izin Comment nya ^_^ ,,,
Mari kita toton bersama Live Streaming Bola nya dan berita-berita terbaru seputar sepak bola
BACK TO BLACK
[sensor spam]

[sensor spam]
Bisa juga hubungi kami melalui LiveChat dan WhatsApp yang akan melayani Anda 24 jam nonstop.
♛ Group FB Prediksi Parlay = [url=https://www.facebook.com/[sensor spam]]Markas Prediksi[/url]
♛ Instagram = [url=https://www.instagram.com[sensor spam]][sensor spam][/url]
♛ Pinterest = [url=https://[sensor spam]][sensor spam][/url]
✆ Line = [sensor spam]
✆ WA 1 = +62[sensor spam]
✆ WA 2 = +62[sensor spam][/b]


Hahaha sip dah Bang! Di tempat ane tinggal, ane tinggal ke lapangannya Bang kalo mau nonton Premier League emoticon-Ngakak (S)

=======

Anjay, UInya kaskus sekarang bikin gue puyeng!
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia