Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
104
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d204538d43972091c5caa84/back-to-black
Kapan saat lo merasa paling bahagia? Saat lo ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat lo berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat lo hanya ingin bilang: gue ingin hidup di saat ini saja.
Lapor Hansip
06-07-2019 13:52

BACK TO BLACK

Past Hot Thread
Welcoming Party!

Party krackers!






Bagian 1: Hitam


Panggil dia El.

Siapa dia? Apa artinya perkenalan sekarang jika kalian akan membaca kisah ini? Kalian akan kenal dia dari setiap titian kisah yang akan dia tulis. Mungkin kalian akan membenci karena kenal dia, mungkin juga sebaliknya. Tapi selama kalian masih hidup, dia akan menjadi bagian dari diri kalian.

Satu hal yang pasti: She is not a nice person.

Kapan saat kalian merasa paling bahagia? Saat kalian ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat kalian berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat kalian hanya ingin bilang: dia ingin hidup di saat ini saja.

Karena kalian sudah merasakan bahwa kemarin kalian berhasil bertahan dari setumpuk kegagalan dan esok...kalian tidak ingin bertahan dari hal yang sama lagi dan lagi. Tapi hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi dan sesuatu itu membuat kalian happy dan akhirnya kalian ingin tinggal disini, di hari ini, karena yang terjadi hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, atau hari setelah esok hari, atau hari-hari yang lain lagi.

Buat El, hari itu adalah saat El kecil melihat Bapaknya mengayuh sepeda dan membawa kresek putih di boncengan. El kecil tau apa isi dalam kreseknya sehingga:

“Cepet buka Pak, cepet buka!” teriak El girang. Pria paruh baya yang kulitnya legam terpanggang sinar matahari setiap hari tertawa lebar melihat tingkah anaknya yang melompat-lompat kegirangan.

Beng-beng satu kotak,
wafer Selamat satu bungkus,
wafer Tango satu bungkus,
nugget ayam yang tidak beku tapi masih dingin satu bungkus,
es krim Campina satu kotak.

Semua makanan yang El kecil sukai. Tak sabar El segera menarik tutup beng-beng hingga sobek dan membuka satu bungkus wafer berlapis karamel, butiran krispi dan coklat yang sudah meleleh lantaran panas yang tedeng aling-aling.

“Pelan-pelan, Nak!” Bapak tertawa melihat tingkah gadis kecilnya. Dengan mulut belepotan coklat, El kecil lari ke kulkas dan memasukkan nugget ayam dan eskrim ke dalam pendingin yang pintunya sudah karatan dan penyok di beberapa bagian.

Mereka berdua duduk di teras semen yang beratap asbes. Tak hanya matahari, namun angin yang turut mengalir panas membuat udara terasa engap di perumahan yang berjejer lima pintu dalam satu atap.

Mereka tak peduli.

Sang Bapak yang lelah namun sumringah melihat anaknya makan jajan demi jajan dan selalu menggeleng saat anaknya menawarkan bungkusan demi bungkusan.

Hingga sang Bapak berbaring di lantai melepas lelah dan kantuk, El kecil masih terus ngganyang. Suara radio milik tetangga terputar pelan melantunkan campursari yang El kecil bisa pahami artinya namun tak pernah bisa ia ucapkan lafalnya. Enam bungkus beng-beng berserakan di lantai, wafer tango sudah terbuka dan habis setengah baris, sendok eskrim yang lengket dan gelas air minum yang kosong tergeletak di lantai.

El kecil kekenyangan.
El kecil bahagia.
El kecil menyusul Bapaknya tidur dengan senyum lebar di bibir yang masih belepotan coklat dan remah-remah wafer.

Kenapa dia ingin mengisolasi diri dia di saat singkat itu?

Karena:

“BRAKKK!!”

El kecil dikejutkan dengan bantingan pintu kamar bedeng. Bapaknya sudah tidak ada di sampingnya, bungkus kosong beng-beng juga sudah tidak ada, sendok bekas eskrim juga sudah tidak ada, gelas berikut sisa beng-beng yang masih ada di dalam kotak dan jajan-janan lainnya juga sudah tidak ada.

“GAJI LEMBUR BUKANNYA DIPAKE BAYAR UTANG MALAH DIPAKE BELI JAJAN!” Teriakan yang tak asing lagi dari siapa asalnya.

Diam.

El kecil duduk lesu mengamati selokan yang airnya hampir setengahnya dan tak mengalir. Matahari mulai hijrah meninggalkan jejak abu-abu dengan liris jingga yang menirai langit. Sebentar lagi maghrib.

“GA USAH MIKIRIN MAUNYA ANAK KECIL KALO BERAS AJA MASIH NGUTANG! AKU MALU DITAGIH TERUS SAMA WARUNG, PAK!”

“Iya Bu, besok aku yang bilang ke Mbak Yana soal utang kita.”

“KAMU JADI LAKI-LAKI GA BECUS! GA BECUS MIKIR! GA BECUS AMBIL TINDAKAN! KALO HIDUP CUMA MAU SIA-SIA KAYAK GINI, AKU MENDING JADI TKW AJA, NGIKUT BOSKU! LIAT AJA UDAH PADA KAYA TEMEN-TEMENKU, GA KERE TINGGAL DI PETAKAN DAN NABUNG UTANG!”

“Maafin aku, Bu. Ayo sama-sama sing sabar.”

Mata Ibu nanar melihat El kecil yang mengintip lewat celah pintu. Ibu berdiri, menghampiri El kecil, lalu tamparan, jeweran, dan jambakan bergantian mendarat di tubuh El kecil.

Bapak berteriak. Ibu berteriak.

El kecil menangis tak berani bersuara, karena semakin ia bersuara maka akan semakin banyak jumlah hantaman yang ia tanggung.

Bapak dan Ibu bersuara keras.

Kepala-kepala terlongok dari pintu-pintu bedeng. Ibu masuk bedeng lagi. Bapak memeluk El kecil. Ibu keluar bedeng. El masih meringkuk. Bapak berdiri.

Lalu semuanya berteriak dan berlari ke bedeng keluarga El.

Tubuh Bapak terkapar dengan pisau dapur yang tertancap di perutnya.

Tamparan, jambakan, tendangan, pukulan. El kecil tau caranya menangis tanpa suara, El tau caranya tidak menangis, El tau caranya melindungi diri agar tidak menerima lebih banyak lagi hantaman dari Ibunya.

Tapi melihat tubuh Bapaknya kejang dengan darah mengalir dari tempat pisau itu bersarang, El kecil mengeluarkan semua udara dalam paru-parunya, berteriak memanggil Bapaknya…

Apakah cerita ini nyata? Entahlah, dia juga kehilangan batas nyata dan tidak nyata saat dia banyak menyaksikan kekejian prilaku yang bisa dilakukan oleh manusia ke manusia lainnya.

Apakah ini mimpi? Dia juga tidak bisa membedakan apakah dia terbangun atau tertidur karena tak jarang tidur dengan mimpi indah adalah satu-satunya salvation/penyelamat namun selalu terjaga saat dia masih ingin diayun dalam tilam, dan tak sedikit mimpi buruk yang justru tak kunjung membuat diri terbangun.

What’s the point of being real or not when the only sure thing is being alive? Sadness and happiness are two fragilest interchangeable things.

Bukankah bertahan adalah satu-satunya hal yang makhluk hidup lakukan setiap hari sejak jaman purba hingga kini?

This is El’s survival story.

I know you will love her,
I know you will hate her,
I know you will kiss her,
I know you will kill her,

I know she will make you feel nothing.

This is Back To Black.

Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 6
BACK TO BLACK
20-10-2021 21:38
jadiin motivasi ane ni nih yang begini gan emoticon-Kroasia
0 0
0
Post ini telah dihapus
BACK TO BLACK
28-07-2021 09:13
Kutunggu ketikanmu kak nay
0 0
0
Post ini telah dihapus
BACK TO BLACK
25-07-2021 05:51
Pasti kembali
0 0
0
Post ini telah dihapus
BACK TO BLACK
25-10-2020 19:02
masih masih, update dong kak! haha
0 0
0
BACK TO BLACK
19-10-2020 08:39
Ajeeeeeennggggg, sehat?emoticon-Kiss
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
BACK TO BLACK
19-10-2020 07:49
I AM BACK!!! HOW ARE YOU VACKERSSSSS!!! I MISS YOU!! :KISS :KISS :KISS

Ummmmm, oke2, gue baca dulu sebelum update lagi humhumhum

Ummmmm.....ada yang inget gue? wkwkwkwk
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
BACK TO BLACK
30-11-2019 01:47
Akhirnya bisa ndeprok lagi lagi di thread nya Nayla..aku kira udh ngilang dari kaskua, setelah terakhir naca the end of the horizon..sampe akhirnya punya anak, namanya jg dpt inspirasi dr thread mu, dan beberapa bulan lalu pas ke aussie (kesampean juga nginjakin kaki di benua kangguru), ngayal nya jg bisa ketemu nayla disana..haha..
0 0
0
BACK TO BLACK
24-11-2019 18:10
wiih iseng² buka Kaskus, nemu update-an emoticon-Wow
0 0
0
BACK TO BLACK
24-11-2019 06:08

Bagian II: Datang dan Pergi

"Ecieee yang abis ketemu bojonya seger bener dah!" Tiara menabrak Widuri dengan pelukan.
"Masih kurang!" Rajuk Widuri manja, menggelayut manja di pelukan sahabatnya.
"Aku tambahin sini!" Saut suara yang sudah tak asing lagi.
"Sandi semangat banget kalo soal nambah! Tak bilangin Fanya loh!" Tiara meninju bahu Sandi.
"Hahaha kalo Widu mau kan rejeki, Ti! Ga boleh ditolak!"
"Dasar pria! Otaknya ditaro diselangkangan terus! Sini tak pegangin!" Goda Tiara genit. Sandi hanya cekikikan dibuatnya.
"Tapi yang di selangkangan emang enak sih Ra, enak dirasain dan enak dipikirin!" Timpal Widuri disambut tawa oleh teman-temannya.

Liburan dengan Mas Damian sudah kelar. Dua bulan tidak akan pernah cukup untuk melibas rindu setahun. Tidak juga akan cukup untuk menabung cadangan kepuasan ke pertemuan berikutnya. Cinta dan rindu bukan seperti gudang warehouse yang bisa di stock sesuai kebutuhan.

Sudah banyak map tertumpuk di hadapan Widuri, laporan yang terbengkalai selama dia tinggal cuti. Widuri mendesah pasrah tak bersemangat menghadapi mejanya sendiri. Dia terpekur melamun tanpa menyentuh satupun map yang menantinya. Alih-alih segera memulai pekerjaannya, Widuri malah mengambil hape dan mengetik chat ke suaminya.

Quote:Widuri: Masih rindu, Mas.
Mas Damian: Sama, Sayang. Masih ngilu ga?
Widuri: Kalo ngilu kayak gini tiap hari juga aku mau Mas! Kamu luar biasa!
Mas Damian: Iya, dengkulku juga lemes banget Sayang. Tapi pengen ngerasain lemes gini terus, gimana dong?
Widuri: Sepertinya kita harus segera kumpul deh Mas, aku ga kuat nahan kangen terus!
Mas Damian: Iya Sayang, harus kita pikirkan cara untuk segera bersama. Aku juga ga kuat jauhan dari kamu terus.


Widuri mengamati satu persatu foto pelamar kerja dan membaca setiap detail CV mereka. CV yang sudah tidak masuk kriteria langsung dimasukkan keranjang bawah meja. Map yang akan dia baca lagi dia letakkan di sisi kiri meja. Iyaaa kalian cerdas! Dia adalah seorang HRD.

Uuhh she knows yes she knows! Semua orang benci HRD! Itu justru tantangan menarik bagi Widuri!

Matanya tak bisa fokus antara foto Mas Damian di samping komputer dengan map-map berwarna hijau yang masih tersisa beberapa lagi. Banyak map yang menjadi korban tanpa dibaca karena Widuri kehilangan fokusnya.

"Kres, bisa ke ruangan sebentar?"
Widuri menekan interkom di telepon untuk memanggil Kresna, rekan HRDnya.
"Yes Wid?" Sapanya langsung duduk di depannya dan mengambil satu bungkus permen yang tersimpan di toples bening.
"Posisi Kacab Lodaya udah ada yang isi belum?"
"Setau gue sih belum Wid, tapi ga open loh statusnya. Save the best for the last kayaknya sih haha!"
"Heh kamu bisa aja! Jangan begitu! Bu Rahmi masih belum dateng dari Malaysia?"
"Belum, sekalian jemput sepupunya kali yang kabarnya beres kuliah taun ini! Kan udah tampak jelas posisi Kacab dikosongkan untuk sepupu tercinta!"
"Wes ah jangan nggosip! Nanti ada kuping yang denger!" Bisik Widuri. Kresna hanya cengengesan dan kembali ke ruangannya.

Pikirannya yang tadi enggan beranjak dari liburan, kini sudah kembali lagi ke tumpukan pekerjaan. Begitupula sang suami yang tadi gencar mengirim chat mesra kepadanya, sudah berhenti, sibuk dengan pekerjaannya juga.

Mata Widuri berhenti pada satu foto yang tersembul di antara map yang belum ia sentuh. Kebanyakan orang akan melakukan pasfoto dengan wajah kaku atau senyum kikuk, namun wajah di hadapannya tampak seperti fotogenik dengan senyum yang natural, terlepas dari wajahnya yang memang tampan.

Widuri membuka-buka CVnya. Belum banyak pengalaman, tapi sejarah pengalamannya selalu dengan pekerjaan yang penting; posisi terendah yang pernah ia tempati adalah Warehouse Supervisor di sebuah perusahaan Export Import. Widuri mengernyitkan alis, usianya masih muda namun pengalaman kerjanya menurutnya tidak masuk akal. Bukan hanya di Export Import, dia juga pernah menghabiskan dua tahun di kilang minyak lepas pantai.

Mungkin anak orang kaya yang ortunya punya banyak relasi dengan atasan-atasan perusahaan, Widuri menyingkirkan map itu, merasa tidak tertarik dengan pengalaman yang oke tapi tidak ada history perjalanannya.

Kring kring!

Quote:Widuri: Halo selamat sore? Oh halo Mbak Rahmi, apa kabar? Widuri bersandar di kursinya dan mendengarkan atasannya dengan seksama.
Rahmi: Tolong cariin orang yang bisa ngisi Kacab Lodaya ya Wid! Bulan depan ada audit di Lodaya, siapa aja deh yang menurut kamu kompeten! Kita ga butuh orang training lagi, sekalipun orang baru kalo emang dia siap dengan persiapan audit dalam waktu dekat ini ambil aja!
Widuri: Umm tapi Mbak,

Mata Widuri mendarat kembali di CV yang baru saja ia baca. Lesmana Prabu Hendratama, nama yang powerful, pikir Widuri.

Rahmi: Wid?
Widuri: Eh iya Mbak, nanti aku carikan orang!
Rahmi: Kabarin aku besok pagi ya Wid! Besok jam dua siang, suruh orangnya ke kantor, aku sendiri yang interview.

Widuri menarik nafas panjang setelah atasannya menutup telepon, cukup lama ia sembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya sebelum membuka lagi dan matanya tetap tertuju ke map milik Lesmana. Widuri menyingkirkan map Lesmana dan membuka-buka map yang lain. Beberapa kali juga matanya menyapu luar ruangan dari balik ruangan kacanya, menimbang kira-kira siapa karyawan lama yang bisa dipromosikan kesana.

Untuk yang mau pasti banyak, tapi Widuri memahami karakter karyawan-karyawan lama yang sudah ia daftar namanya di catatannya. Sambil menimbang pro dan kontra setiap orang, Widuri mencoret satu persatu nama-nama tersebut.

"Oke Lesmana, kita liat apa yang kamu punya!"

Widuri meraih gagang telepon kantornya, belum selesai ia tekan semua digit nomer Lesmana, hapenya berdering. Widuri letakkan lagi gagang teleponnya dan menjawab panggilan nomer yang tak ia kenal di hapenya.

Quote:Widuri: Halo, selamat sore?
Suara wanita: Halo, apakah ini Widuri Denadaru?
Widuri: Iya benar, ini saya sendiri.
Suara wanita: Saya Jena Susengko.

Widuri seketika panik dan meremas pinggiran mejanya.

Widuri: Apa kabar Ibu Jena? Saya sangat menunggu panggilan Ibu!
Suara yang berusaha ia buat sesantai mungkin tetap tidak bisa menyembunyikan kegirangannya.

Jena: Kabar saya baik. Saya harap kamu juga demikian. Panggilan says terkait dengan pendaftaran kamu untuk melanjutkan kuliah S2 kamu di bawah bimbingan saya, Widuri.

Widuri: Baik Bu, saya siap mendengarkan apa yang perlu saya ketahui.

Jena: Saya sudah baca essay dan hasil tulisan kamu, kamu bisa mulai masuk di Semester ini Wid?

Widuri membekap mulutnya dengan tangan kirinya. Air mata bahagia tak terbendung lagi. Masih berusaha mengatur nafas antara girang, panik dan terharu, Widuri tak segera menjawab pertanyaan Jena. Di seberang sana, Jena tampak mengerti euforia Widuri, dengan suara ringan yang disertai rasa haru, Jena menjawab:

Selamat ya Wid! Kamu bisa atur jadwal dan hubungi saya di email untuk detailnya.

Widuri: Ba--baik Bu! Maaf saya terlalu senang sampai tidak bisa berkata-kata! Akan saya hubungi Ibu melalui email dengan segera!

"Tiaaaraaaa!!" Widuri berlari di antara cubicle menuju meja Tiara.
"Aku keterima S2!!" Pekiknya girang.
"Haaahh!! Yaaahh!! Pisaaah doong!" Tiara justru menyambut kabar gembira itu dengan wajah muran dan sedih. Dia raih sahabatnya ke pelukannya.
"Tapi selamat yo! Akhirnya bisa kumpul sama Kang Masmu!"
"He eh! Jangan kasih tau Mas Damian ya! Aku yang akan kabari dia! Jangan sindir-sindir di fesbuk juga pokoknya! Diem aja!"
"Iyaaaa siap Jeng Widuriii!" Tiara mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir, antara haru dan pilu.
"Jangan sedih dong, nanti kan kamu bisa ke Jogja kapan aja Sayang! Aku juga akan main kesini sering-sering!" Widuri mengusap pipi Tiara.
"Bu Wid! Ada telepon private!" Panggil salah satu kolega Widuri dari ujung cubicle. Widuri meraih telepon Tiara dan menekan ekstensiennya.
Quote:Widuri: Selamat sore dengan Widuri Denadaru disini.
....: Selamat sore Ibu Widuri. Kami dari program Pascasarjana UGM, selamat atas diterimanya Ibu di jurusan Magister Psikologi ya Bu. Pasti sudah mendengar kabar baik tersebut dari Ibu Jena, bukan?
Widuri: Iya, Ibu Jena sudah menelepon saya tadi. Terima kasih atas konfirmasi resminya.
....: Iya Ibu, begini, jika Ibu berkenan, bisakah besok siang bertemu dengan salah satu staff administrasi kami? Kebetulan saat ini beliau sedang ada tugas di Jakarta. Dalam pertemuan besok rencananya ada sedikit interview Bu, karena berkenaan dengan beasiswa yang Ibu terima, kami perlu mengonfirmasi beberapa hal termasuk data-data pribadi. Jadi Ibu tidak perlu mengurus ke kampus sebelum memulai perkuliahan kalau bisa mengonfirmasi besok.
Widuri: Oh tentu tentu saya bisa! Jam berapa saya harus bertemu dengan beliau?
....: Namanya Pak Yusuf Bu, beliau akan menunggu di lobi Hotel Mulia pukul dua siang. Dokumen yang perlu Ibu bawa juga nomer kontak Pak Yusuf sudah saya sertakan di email Ibu.
Widuri: Baik, terima kasih!


Widuri mengepalkan tangannya dan yess di depan Tiara yang menguping pembicaraan teleponnya. Sepertinya, Tiara juga tersenyum-senyum, melupakan rasa sedihnya dan menikmati aliran bahagia atas kesuksesan sahabatnya.

“Besok aku ikut doong Wiid! Sekalian bolos makan-makan yuk!” Tiara berbisik girang pada Widuri dan Widuri sambut dengan anggukan senang, lalu mereka berdua cekikikan.

“Wid!” Kepala Kresna menyembul dari pintu ruangannya. Widuri pun melepaskan pelukan sahabatnya dan berlalu ke ruangan Kresna.

“Udah dapet kandidat buat Kacab Lodaya?”

Hati Widuri seakan jatuh dari kesenangannya. Kabar baik yang diterimanya hari ini membuatnya lupa akan permintaan Bu Rahmi. Bersegera ke ruangannya, Widuri mengambil map dan menyerahkan pada Kresna untuk menghubungi pemilik CV dan mengadakan pertemuan besok siang.

“Jadi gimana? Besok kamu ikut wawancara Kacab baru apa mau ke Mulia, Wid?” tanya Tiara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk basah. Tiara menatap Widuri dari cermin rias di hadapannya. Widuri sedang menatap layar laptop dengan dahi berkerut dan tangan yang menopang pipinya. Sejak pulang kerja tadi Widuri mampir ke kosannya namun tidak membicarakan apa-apa selain sibuk meresume pekerjaannya di kamar apartemen Tiara.

“Aku lupa banget loh Ra! Piye ini!”

“Emangnya yang dari UGM gabisa dimajuin atau dimundurin?”

“Gabisa, Pak Yusuf udah pesen kereta pulang jam 4 sore. Aku juga belum bilang Mbak Rahmi kalo aku gabisa ikut interview si Lesmana!”

“Lesmana?”

“Calon Kacab Lodaya yang baru.”

Widuri tampak berpikir keras.

“Tapi aku yakin sih dia bakal diterima dengan keadaan perusahaan yang sekarang. Setidaknya untuk audit bulan depan aku yakin dia bisa, tapi kalo untuk jangka panjang ga yakin.”

Tiara mendekati Widuri dengan penasaran. Dia ikut menghadap ke layar laptop Widuri yang menampilkan isi email balasan dari Lesmana kepada Kresna tadi sore yang isinya penjelasan singkat serta persetujuan menghadiri pertemuan wawancara besok siang. Lalu Widuri mengganti layar ke CV Lesmana. Matanya mengikuti patahan kata demi kata.

“Ganteng yo!” Cekat Tiara saat melihat foto yang tercantum di pojok kanan atas.

“Hissh!” Widuri mencibir ke sahabatnya dan Tiara hanya tertawa.

“Gitu dong Buketu HRD! Berilah kami-kami ini pemandangan yang menyegarkan mata! Yang muda-muda dan ganteng-ganteng! Biar makin semangat kerja!” Goda Tiara sambil menjiwit pinggang Widuri.

“Kalo aku besok ga dateng ke interview, Mbak Rahmi bakal marah banget pasti Ra, terus aku kejutkan dengan surat pengunduran diri, wes tambah marah aja!”

Tiara menatap Widuri yang masih memandang foto Lesmana.

“Ngundurin diri?”

Widuri mengangguk.

“Loh kamu ga cuti aja Wid? Cuti kuliah kan bisa, nanti kalo udah selesai kuliah kamu terusin kerja lagi.”

Widuri mendesah.

“Aku mikirnya gitu juga Ra, tapi...”

“Tapi opo?”

“Kayaknya aku pengen nerusin ke S3 juga kayak Mas Damian. Dan aku ga siap kalo harus jauhan lagi, dua tahun barengan ga taunya nanti mau pisahan lagi.”

Tiara manyun sambil mengangguk paksa.

“Yowes kalo kamu mikirnya begitu Wid, yang penting kamu juga tenang disana sama kang Masmu!”

Widuri masih menatap CV Lesmana namun pikirannya mengembara sehingga catatan kecil di tangannya yang seharusnya dia isi dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia serahkan untuk Kresna besok, menggantikannya bersama Bu Rahmi, tidak terisi satupun coretan.

Widuri datang lebih pagi ke kantor. Dia sudah menelepon Kresna untuk menggantikannya. Untuk Bu Rahmi, Widuri memutuskan menemuinya langsung di ruangannya pagi ini atas kelancangannya. Widuri tidak pernah berantakan dalam mengatur jadwal, namun urusan personalnya tempo hari telah membuat tidurnya semalam tak nyenyak dan paginya berantakan.

Map untuk interviewnya bersama staff UGM sudah siap di mejanya. Baginya itu adalah prioritas utama. Tidak ada lagi yang membuatnya ragu dan takut, namun dia juga sangat menjaga reputasinya sebagai atasan HRD yang sudah bekerja di perusahaan ini selama dua belas tahun terakhir. Jika ingin hengkang, Widuri hanya ingin hengkang dengan diingat sebagai seorang atasan yang disenangi oleh bosnya, bukan yang membuat bosnya kesal disaat-saat terakhir.

“Selamat pagi, Mbak Rahmi!” Widuri membuka pintu Bu Rahmi yang sudah tersenyum dan melambaikan tangan melihat Widuri melewati ruangannya.

“Pagi! Pucet amat Wid! Kurang tidur? Gimana kabar Damian?”

“Beginilah LDRan Mbak, semalaman teleponan sama Kang Mas! Mas Damian sehat dan titip salam untuk Mbak!” Terang Widuri bohong. Dia belum menelepon Damian sejak kemarin pagi. Pesan dari Sang Suami juga ia balas dengan “maaf ya Mas aku lagi sibuk banget. Love you.”

“Oya aku udah terima email dari Kresna perihal calon Kacab Lodaya!” Bu Rahmi membuka email, namun Widuri sudah menyerahkan map CV milik Lesmana. Bu Rahmi membuka-bukanya.

“Waduh, bisa minta gaji berapa ini orang?” Bu Rahmi mengerutkan dahinya saat melihat pengalaman kerjanya. Posisi yang ditawarkan di kantor Bu Rahmi jelas jauh ebrada di bawah apa yang pernah Lesmana dapatkan sebelumnya. Negoisasi gaji akan terasa a lot.

“Masih muda Mbak, pengalaman-pengalamannya batu loncatan aja. Ga perlu kuatir!”

Bu Rahmi tertawa pelan sambil memandang Widuri yang duduk santai di hadapannya, lalu mengangguk.

“Bener banget! Pinter kamu carinya! Nanti kamu yang jawab tentang semua pengalaman dan kualifikasi pekerjaan ya, aku cuma mau tanya-tanya tentang stateginya dia di kasus perusahaan kita!”

Widuri mulai tak nyaman harus memulai ijin darimana. Bu rahmi tampak menyadari kegelisahan Widuri.

“Ada apa, Wid?”

Widuri menarik nafasnya dan menegakkan duduknya.

“Nanti siang saya ga bisa nemenin Mbak.”

“Loh kenapa?”

“Aplikasi S2 saya sudah diterima dan saya harus ketemu sama pihak kampus siang ini Mbak.”

Bu Rahmi bersandar di kursinya dengan lunglai.

“Kamu ga pernah bilang kalo apply S2, Wid.”

Widuri lebih gelisah dan merasa bersalah.

“Karena waktu itu saya cuma coba-coba Mbak, tidak menyangka akan menjadi serius.”

Bu Rahmi tertawa. Tertawa menyindir akan kecerobohan Widuri.

“Sekarang kamu kira perusahaan saya yang hanya coba-coba?”

Widuri sudah menyangka feedback ini akan ia terima dari atasan seperti Bu Rahmi. Bu Rahmi adalah atasan yang sangat zero tolerance atas apapun.

“Maksud saya bukan demikian Mbak.”

“Saya ga akan nerima cuti kamu kalo kamu pikir mau cuti studi.”

Pernyataan Bu Rahmi seakan menusuk jantung Widuri, dia memang sudah berencana untuk mengundurkan diri namun penegasan Bu Rahmi terasa seperti pemecatan baginya. Widuri hanya memejamkan mata, berusaha menahan air matanya yang terasa mulai mengalir naik ke kelopak matanya.

“Baik, Mbak. Daftar pertanyaan interview siang nanti udah saya kasih ke Kresna, Mbak tidak perlu khawatir ada yang terlewat. Terima kasih.” Widuri pamit keluar dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak pernah ia bayangkan dalam perjalanan karirnya akan menjadi seperti ini.

“Kenapa ga kamu tunda aja Wid ketemu sama staff UGMnya? Kan itu pilihan, kamu bisa dateng sendiri ke kampusnya toh?” Tiara mengusap punggung sahabatnya yang masih bermuram dan menatap pintu masuk utama di lantai satu.

“Aku udah ngabisin cutiku Ra.”

“Kan kamu mau ngundurin diri, itukan bisa diurus kapan aja Wid!” Tiara mulai terdengar tidak sabar dengan keadaan Widuri.

Widuri mengangguk.

“Takdir.”

Widuri dan Taiara menuruni eskalator ke lantai satu saat istirahat makan siang. Perjalanan ke Hotel Mulia akan memakan waktu setidaknya satu jam lebih di siang hari begini.

"Ya udah yuk berangkat!" Widuri menggamit tangan sahabatnya.

“Wid? Itu calon Kacabnya kan?” Tiara menyenggol lengan Widuri yang membuat mata mereka sama-sama menuju ke seorang pemuda yang sedang mengobrol bersama Kresna di lobi depan.

“Wid! Ra!” Kresna melambaikan tangan kepada mereka.

Widuri dan Tiara juga melambaikan tangan tanpa menghampiri Kresna yang meneruskan ngobrol bersama Lesmana.

Selamat datang, Lesmana. Akhirnya hari ini datang juga.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan midim7407 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
BACK TO BLACK
20-11-2019 09:22
Quote:Original Posted By ladeedah
Point Of Viewnya saya rubah dulu ya jadi orang ketiga semua. Mbak Jenjong ngeyel sih pakai POV orang pertama semua dari awal, padahal sudah dibilang akan banyak kesulitannya. Maaf emoticon-Frown

-Y-


Aku mah manut saja sama mbak mbak semua yg penting ini cerita beres emoticon-Jempol
0 0
0
BACK TO BLACK
19-11-2019 18:33
Quote:Original Posted By ladeedah
Point Of Viewnya saya rubah dulu ya jadi orang ketiga semua. Mbak Jenjong ngeyel sih pakai POV orang pertama semua dari awal, padahal sudah dibilang akan banyak kesulitannya. Maaf emoticon-Frown

-Y-


Ngga apa apa mbak, aku manut aja. Gimana baiknya menurut mbak aku setuju 😁
0 0
0
BACK TO BLACK
19-11-2019 16:41
Point Of Viewnya saya rubah dulu ya jadi orang ketiga semua. Mbak Jenjong ngeyel sih pakai POV orang pertama semua dari awal, padahal sudah dibilang akan banyak kesulitannya. Maaf emoticon-Frown

-Y-
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan whtviam memberi reputasi
2 0
2
BACK TO BLACK
24-08-2019 16:58
keren kak.. meskipun masih belum mengerti 😅
0 0
0
BACK TO BLACK
24-08-2019 13:49
Ikut ngontrak boleh kak?

Btw, masih bingung hubungan ke 3 karakter ini. Penasaran juga...
0 0
0
BACK TO BLACK
24-08-2019 13:42
Djancuk kemana-mana pikiran gue bacanya ini kumaha alah siah
0 0
0
BACK TO BLACK
14-08-2019 12:46
yeaaaaa.. trit baruuu.. (baru gw bacaaaaa emoticon-Ngakak)

dah gak one liner kan..

hidup kejang² emoticon-Wakaka
0 0
0
BACK TO BLACK
08-08-2019 19:25
Suka dengan gaya berceritanya
0 0
0
Halaman 1 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
jumat-bukan-jimat
Stories from the Heart
harapan-cerpen
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia