Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
125
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d1dcdf9d439721c624ce2df/langkah-kecil-kecil
Gue dan Mafaza sebetulnya sudah paham akan peraturan ini (bahwa kami cuma punya waktu 1 bulan untuk tinggal di panti setelah lulus kuliah), dan kami diam-diam sudah menyiapkan banyak rencana jauh sebelum lulus. Gue bakal lanjut studi ke luar negeri dibiayai oleh salah satu donatur di kampus. Sedangkan Mafaza ikut program relawan sekaligus KOAS di daerah perbatasan.
Lapor Hansip
04-07-2019 16:59

Langkah Kecil-Kecil

Past Hot Thread
icon-verified-thread
**

Langkah Kecil-Kecil



**

PROLOG

Halo guys, nama gue Arka Aria, hari ini adalah hari ulang tahun gue yang ke-21! Yang mana kebetulan juga merupakan hari wisuda gue, jadi secara gak langsung semua orang di kampus ngerayain hari ulang tahun gue dengan mewah dan meriah.

Eh by the way, kenalin nih sahabat gue dari jaman masih bocil (bocah cilik).

"Sebutin dong nama lu!" pinta gue sembari mengarahkan kamera ke cewek yang daritadi cemburut disebelah gue.

"apa sih Arka!" sahutnya sambil menutupi kamera kemudian wajahnya.

"Mafaza, namanya mafaza." lanjut gue sembari meringis dicubit Mafaza.

Iya, cewek yang mungkin lagi PMS ini namanya Mafaza, sahabat gue sedari kecil.

"Maf, tungguin!" teriak gue yang ditinggal lari oleh Mafaza.


Guys, udahan dulu vlognya, gue kejer si cewek yang kayanya beneran lagi PMS.
Tuut. 

"Maf, kayanya kamu punya kekuatan super deh. Ngilangnya cepat amat." Cerocos gue setengah terengah-engah setelah ketemu Mafaza diantara kerumunan wisudawan.

"Lagian, kamu daritadi nge-vlog mulu. Udahan juga gue-elu nya? Sok asik" Tukas Mafaza.

"Siapa tau kan videonya trending terus kita dapet duit dari YouTube kayak vlogger-vlogger itu, keluar dari Aula ini kita resmi jadi pengangguran Maf hahaha tapi karena aku nge-vlog maka aku bukan pengangguran." jawab gue masih ngos-ngosan.

"serah!" keluar sudah jurus maut andalan khas perempuan.

Kembali ke perkenalan, jadi gue ama Mafaza ini udah kayak kakak-adik guys. Kami berdua anak yatim piatu di panti asuhan yang sama. Kami berdua seumuran, awalnya satu SD, lalu satu SMP, tapi SMA nggak satu sekolah, eh kuliahnya satu kampus lagi meski beda jurusan. Gue jurusan hukum, Mafaza kedokteran. Kami berdua sama-sama dikuliahi (biaya) oleh Negara.

Dan guys, kata-kata gue ke Mafaza beneran terjadi, meski udah gue perhitungkan rupanya menjadi pengangguran sangat tidak menyenangkan. Gue ulangi, tidak menyenangkan.


**

Panti Asuhan Al-Ikhlas

"Kak Aria dipanggil ama Ibu diatas!" seru mantan adik bungsu gue di panti ini dengan muka sok serius.

"Kok kakak dipanggil Can? kakak mau diapain Ibu?" jawab gue memasang muka pura-pura cemas ke adik gue.

"Canda gak tau kak, tapi dari wajahnya sih keliatan mau marah." jawabnya lagi.

"Tau gak Can? tiap kamu bohong, telunjuk kananmu pasti ngegaruk-garuk si ibu jari, gagal bohong huuuu." ledek gue ke Canda yang kemudian dibalasnya dengan tawa.

Wah nih bocil, ketauan bohong malah ketawa nanti gue ruqiyah. Gumam gue dalem hati guys.


Ntar kapan-kapan gue kenalin ke Canda ya, sekarang gue mesti naik dulu menghadap Ibu Ratu. Wanita yang gak mungkin gue suruh menunggu lama-lama.

"Assalamualaikum mom, what this man can do for you?" Celetuk gue kepada kanjeng ratu.

"Arka! sini duduk bener-bener! Lagi ngobrol serius ini ama Ibu." sahut cewek PMS yang tadi ninggalin gue di Aula Wisuda guys.

Rupanya doi udah duduk manis disini.

"Waalaikumsalam Aria, duduk sini disebelah Mafaza. Mafaza lain kali kalo orang salam dijawab dulu salamnya nduk" jawab Ibu panti dengan anggun dan bersahaja seperti biasa.

Gini nih seharusnya wanita sesungguhnya ngerespon, beda banget ama cewek sableng satunya, gumam gue dalam hati.


Gue pun duduk disebelah Mafaza.

"Iya bu, tumben nih panggil Aria bareng Mafaza. Kami bukan mau dinikahin kan bu?" tebak gue bercanda, dan gak ketinggalan adegan cubit (lagi) dari Mafaza. Nih badan gue pasti biru-biru nih.

"Kalo Mafaza nya mau, ya gapapa, Ibu restui" jawab Ibu tersenyum lagi menoleh ke Mafaza.

"Ibuu" rengek manja Mafaza ke Ibu yang sukses bikin gue geli.

"Arka Aria, Mafaza" Ibu menyebut nama kami lengkap-lengkap sambil menatap kami satu-satu.


"Kalian berdua anak kebanggaan Ibu, sekarang kalian udah dewasa Ibu harap kalian berdua bisa jadi orang berguna ya bagi banyak orang. Seperti kakak-kakak kalian sebelumnya, sudah menjadi sebuah aturan yang harus kita ikuti bersama, bahwa setiap anak-anak yang sudah berumur 21tahun atau selesai sekolahnya dengan berat hati harus meninggalkan panti ini. Kalian boleh mampir tapi tidak boleh tinggal. Ibu yakin kalian berdua bakal jadi orang yang amat sukses diluar sana. Ibu sangat bangga nak" Jelas Ibu dengan cermat, pelan-pelan dan sedikit tercekat. Menahan tangis, namun senyumnya tak hilang.

"Mulai bulan depan, ibu bakal rindu kalian. Sering-sering berkunjung ya" lanjut ibu menyelesaikan penjelasannya.

Gue dan Mafaza sebetulnya sudah paham akan peraturan ini (bahwa kami cuma punya waktu 1 bulan untuk tinggal di panti setelah lulus kuliah), dan kami diam-diam sudah menyiapkan banyak rencana jauh sebelum lulus. Gue bakal lanjut studi ke luar negeri dibiayai oleh salah satu donatur di kampus. Sedangkan Mafaza ikut program relawan sekaligus KOAS di daerah perbatasan.

"Sampai jumpa 2 tahun lagi Maf, jaga diri baik-baik jangan galak-galak nanti gak ada yang mau deketin loh"  Ucap gue ke Mafaza sembari berjalan menuju kamar masing-masing.

"Sering-sering cek email, ntar aku spam email ke kamu, biar gak kangen ama abang ini ya" lanjut gue lagi. Mafaza benar-benar pendiam hari ini. 

"Kamu kalo lagi diem terus gini pasti mau ada yang diomongin tapi berat. Ngomong aja kali Maf, sisa 1 bulan lagi loh" lanjutku kali ini serius ke Mafaza. 
"Iya masih 1 bulan lagi" jawabnya lesu sembari berlalu ke kamarnya.

Gue ditinggal lagi. gue ulangi, ditinggal lagi guys.






Quote:Original Posted By agungdar2494
INDEKS

Chapter 1 : Perkenalan, AWAL
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4 .
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8


Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 53 lainnya memberi reputasi
54
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Langkah Kecil-Kecil
05-07-2019 17:33

Langkah Kecil-Kecil

Part 2


**
Sehari Setelah Wisuda


A R K A - A R I A

Halo guys ketemu lagi ama Gue, Arka Aria. Hari ini adalah hari pertama gue resmi jadi pengangguran oleh sebab itu gue butuh dukungan kalian buat subscr---------

"Kak, lagi ngapain?" Potong Canda dengan suara cemprengnya.

Sambil masuk ke kamar, sebelum gue kelar buat opening vlog gue.

"Kakak lagi mau belajar jadi YouTuber Can" Jawab gue ke Canda masih sambil merekam video.

Guys kenalin, ini adek gue namanya Berlian Canda. Tahun ini baru masuk SMP, baru sembuh abis sunatan. Cemen ya kelas 6 SD baru sunat. (ledek gue ke Canda yang dibalesnya ama cubitan). Guys keluarga kami penuh dengan cubitan.

"Can ngomong dong, kok jadi diem?" ledek gue lagi ke Canda.

"Kak dicari ama Kak Mafaza" jawabnya lesu, mungkin tersinggung ama ledekan gue barusan.

"Wah ada angin apa tumben kakak dicariin pagi-pagi" jawab gue sambil mematikan kamera.

"Gak tau" jawabnya pendek, sambil melenggang naik ke kasur atas lanjut membaca komik (jadi kamar kami ini punya kasur tingkat guys, Canda diatas gue dibawah).

"Oke deh, kakak keluar. Anak cowok jangan sering ngambek. Kakak bercanda tadi. Maaf ya, kelewatan hehehe" Jelas gue ke Canda sebelum keluar kamar.

Panti Asuhan ini cukup luas guys, dua lantai dengan 3 kamar di lantai pertama, dan 4 kamar di lantai kedua. Cowok dilantai pertama semua, total ada 7 orang., sedangkan cewek (termasuk Mafaza dan Ibu Panti) ada 10 orang. dengan rata-rata umur 5-17 tahun (tidak termasuk Gue, Mafaza dan Ibu Panti).

Jadi di Panti yang luas ini gue mesti nemuin Mafaza dimana? Peraturannya adalah cowok gak boleh naik ke lantai dua. Oke gue ke teras aja, mungkin Mafaza disana.

Binggo orangnya emang lagi duduk-duduk di teras.

"Assalamualaikum ukhti, ukhti panggil akhi?" (ukhti = panggilan untuk perempuan, akhi = panggilan untuk laki-laki). Sapa gue ke Mafaza dengan nada yang gue lembut-lembutin.

"Waalaikumsalam, kemaren elu-gue hari ini udah ukhti akhi? lagi pencarian jati diri ya Ka?" jawabnya datar setengah meledek.

"Iya nih, kamu mau bantu aku kan? di perjalanan panjang mencari jati diri" Jawab gue sambil terkekeh bercanda.

"Becanda mulu dari kemaren. Lagian gimana mau dibantu wong kamu kan nanti di benua lain, sedangkan aku dipelosok negeri, 2 tahun atau mungkin lebih"

"Hehehe, kan masih ada waktu 1 bulan ini? lagian kita bisa telponan, SMS-an, email-an Whatsapp atau surat-suratan kalo mau. Santai aja kali Maf." Jadi Mafaza bertingkah aneh belakangan ini karena mau pisah. Lebay amat ini anak, gumam gue dalam hati.

"Jangan bilang kamu takut jauh ama Aku ya Maf? takut gak bisa liat muka menyenangkan ini lagi?" Ledek gue yang disambut dengan cubitan tapi kali ini gue tahan tangannya.

"Hei, dengerin. Kita ini dua bersaudara tumbuh dari kecil sama-sama. Raga kita mungkin berpisah, tapi hati kita gak bakal jauh, kamu adikku dimanapun kamu berada." Jelasku pelan mulai paham bahwa sikap Mafaza ini adalah efek karena sebentar lagi akan berpisah sementara.

"Tumben ngomong serius, yaudah oke. Lepasin tanganku" Jawabnya kali ini pelan, sedikit tersenyum.

**

M A F A Z A

Dear Diary, hari ini adalah hari pertama setelah kami resmi wisuda. Aku sebentar lagi melanjutkan KOAS ke daerah perbatasan. Sedangkan Arka ke Luar Negeri. Aku belum pergi, tapi aku mulai Rindu. Aku paham bahwa lambat laun kami harus meneruskan hidup kami masing-masing.

Ku bocorkan sedikit rahasiaku dalam Diary ini, aku memiliki kemampuan memproses informasi yang terdapat dari tubuh manusia. Jika kulihat bagian kepala, maka akan kudapatkan informasi pikirannya saat ini, bahkan aku juga bisa memroses pikirannya di masa lalu dengan catatan si manusia masih ingat. Jika kulihat bagian jantung, aku bisa melihat umur jantungnya, umur jantung manusia naik dan turun, tergantung pola hidup, namun cenderung turun dikarenakan usia.

Banyak hal yang kurahasiakan hingga hari ini, intinya aku tau apa yang dipikirkan Arka Aria dan aku tidak menyukai sebagian pikirannya, terutama jika pikiran itu tentangku. Sudah dulu, lanjut lagi kapan-kapan. - Mafaza



Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Langkah Kecil-Kecil
08-07-2019 13:06
Part 3

**

H-28 Sebelum ke Perbatasan Negeri

M A F A Z A

Hari ini cuacanya ganjil,
Pagi tadi langit begitu mendung, abu-abu gelap namun tidak hujan-hujan hingga siang, terang sebentar, lalu tiba-tiba hujan deras dan baru berhenti sore ini.

Tidak ada pelangi setelah hujan, hanya genangan air yang tersisa di aspal dan tanah, berbeda denganku, rumput-rumput di halaman tampaknya bahagia menyambut hujan pertama di bulan ini, 15 Juni 2014.


Quote:"Canda darimana basah kuyup, dan penuh lumpur begitu?" Tegurku yang duduk di teras basa-basi kepada Canda. Sebetulnya aku tak perlu menanyainya, jawabannya dapat dengan mudah kubaca dari pikirannya. Dia baru selesai main bola.

"Kak? Kok diem aja? Kak Mafaza suka aneh, orang jawab panjang ditinggal melamun. Aku masuk ya kak mau mandi." Jelas Canda pura-pura sebal demi menghindari omelanku yang ia tau akan panjang.



Memiliki kemampuan memproses informasi dari tubuh manusia membuatku terkadang terlihat seperti tengah melamun. Padahal aku lebih suka mengakses langsung sumbernya daripada mendengar apa yang mulut katakan, kata-kata dari mulut bisa bohong, tapi rangkaian informasi yang kulihat langsung tidak mungkin berbohong, valid.

Lagipula Canda salah, aku tidak akan marah padanya karena aku tau, awalnya ia mengurungkan niat untuk bermain, hingga ia mendengar suara anak kucing yang rupanya terjebak di selokan, "sudah kepalang basah" pikirnya lalu kembali ke lapangan bersama teman-temannya yang lain.


Quote:"Tumben gak ngomel ke Canda?" Tanya Arka mengagetkanku dari dalam.

"Emang Canda anak kecil harus diomelin?" Jawabku sewot. Akhir-akhir ini moodku kurang baik setiap ngobrol ama Arka.

"Dia kan emang anak kecil, hahaha. Temenin aku ke pasar mau? kamu kan pinter nawar, mau beli beberapa barang, lebih enak beli sekarang supaya nanti gak buru-buru waktu mau pergi."

"Yaudah ayok" jawabku singkat.


**

Langit hari ini tidak ganjil lagi, semburat warna antara oranye dan biru tua khas langit cerah hari ini menemani perjalanan kami menuju pasar. Jarak antara pasar dan panti kami tidaklah jauh oleh sebab itu kami memilih untuk berjalan kaki.

Sesekali aku iseng membaca pikiran banyak orang lalu-lalang, kebanyakan pikirannya adalah tentang uang, cinta, game, film, dan banyak hal lainnya. Namun tidak Arka, pikirannya selalu fokus ke tujuannya mempelajari ilmu hukum sedalam mungkin, bahkan tak ragu ia sebentar lagi pergi ke universitas dengan predikat terbaik khususnya dibidang hukum di dunia, ada sesekali ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya ke hal lain seperti YouTube.

Arka bisa membohongi dunia tapi tidak aku. Dia bisa bersikap ceria dan periang dihadapan orang lain tapi tidak aku. Aku selalu tau apa yang ia pikirkan, dan pikirannya sudah begitu teguh dan bulat adalah untuk mengungkap tragedi yang menimpa keluarganya pada penutup tahun 1998.

Kala itu umurnya masih 4 nyaris 5 tahun, di perjalanan liburan tahunan keluarga tiba-tiba mobil yang dikendalikan oleh Ayah Arya tidak bisa di-rem, blong. Dalam keadaan panik namun berusaha tenang Ayah Arka meminta istrinya untuk mencoba menelpon ke 110 (Polisi) hingga 115 (SAR and Rescue). Seorang Arka yang belum genap 5 tahun hanya mengamati percakapan antara kedua orangtuanya, sayang ia tidak begitu mengerti dan tidak mampu lagi mengingat selain Ayahnya yang tidak bisa menghentikan mobil, dan ibunya yang terus mengenggam telepon sambil menangis. Sayangnya ingatan Arka hingga sampai disitu.

Quote:"Maf, menurutmu bagus yang mana? Hitam atau Biru Gelap?" Tanya Arka memotong lamunanku.3

"perasaan itu sama aja deh, sama-sama travelbag. lagian pergi jauh mending pakai koper Ka" jawabku padanya.

"Sama ya? yaudah aku ambil yang ini deh" Pilihnya yang warna hitam.

"Lebih murah dan enak travelbag, nanti aku kan mau keliling-keliling eropa pakai kereta disana. Kaku amat pake koper kemana-mana" Lanjutnya sambil membayar travelbag pilihannya, kebetulan ini toko yang mencantumkan harga pas pada barang jualannya. Laki-laki memang mudah ya memilih barang? belum berapa menit sudah ketemu yang dibeli. Gumamku dalam hati.

Hiruk pikuk khas pasar yang biasanya menyebar di berbagai penjuru tiba-tiba mengerucut pada satu arah, dan Arka yang tadi disebelahku tiba-tiba menghilang. Ada apa?



Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Langkah Kecil-Kecil
10-07-2019 15:56
Part 4

**
A R K A - A R I A

Hembusan angin menebarkan bau rumput basah setelah hujan. Entah menurut orang lain tapi bagi gue bau rumput yang basah itu nyaman banget. Gue lihat sebentar ke arah pintu keluar tampaknya Mafaza dan Canda sedang terlibat dalam suatu obrolan. Obrolan yang bisa gue tebak tentang apa, Canda yang kena marah pulang kesorean, basah kuyup, dan berhias lumpur di kaki hingga badannya. Nampaknya ini akan jadi dialog panjang satu pihak, "yang tabah dan kuat dek" doaku untuk Canda.

Rupanya gue keliru, malah sebaliknya Canda menjelaskan sedangkan Mafaza mendengar diam. Canda yang sadar akan kesempatan jarang ini, jelas dengan cepat kabur masuk ke dalam.

Melihat Mafaza yang moodnya tidak begitu buruk, dengan percaya diri gue ajak aja ke pasar, semoga moodnya membaik.

Tak perlu lama bagi gue untuk memilih apa yang gue emang perlukan. Sebuah travelbag simpel sederhana. Mood Mafaza masih belum juga baik, dia seperti memikirkan sesuatu yang gue gak tau tentang apa.

Persis setelah gue membayar travelbag, gue melihat seorang ibu-ibu yang sedang tarik menarik tas dengan seorang laki-laki. Gue melangkah dengan cepat setengah berlari.

Dengan sigap gue mengambil tangan si laki-laki, menariknya kebawah dan membenturkan wajahnya ke lutut kanan, setelah itu langsung ku kunci tangannya ke belakang.

Tepuk tangan bergemuruh seketika, aku benci suasana ini. Lagipula, darimana saja mereka tiba-tiba hadir dan tepuk tangan?

"Arka Aria" teriak seorang perempuan yang kuhapal suaranya mengintip dan menyerobot dari balik kerumunan.

"Ibu gak kenapa-kenapa bu?" Tanyanya ke ibu memastikan. Matanya tajam mengitari seluruh badan sang ibu, seperti detector yang memerika setiap jengkal tubuh

"Aku gak kenapa-napa, maf" gue yang menjawab meski bukan gue yang ditanya.

"Kamu bantu tenangin ibunya ya, aku nganter cowok ini ke kantor polisi" pintaku ke Mafaza, yang dijawabnya dengan anggukan.



Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Langkah Kecil-Kecil
11-07-2019 16:08
Part 5

**
M A F A Z A

Mencari seorang Arka semestinya tidak cukup sulit, seorang laki-laki dengan tinggi 180 cm, berat ideal, kulit putih bersinar. Namun untuk menerobos kerumunan ini dengan badan mungil sepertiku, beda kasus lagi.

Aku menemukannya persis ditengah keramaian, terlibat aksi dengan seorang ibu dan seseorang yang sedang menunduk kesakitan. Setelah berhasil menyelinap diantara banyak orang yang sedang menonton, aku langsung mengamati Arka, tidak ada apa-apa kecuali bercak darah dilutut kanannya. Kuamati seorang ibu yang kulitnya pucat pasi. Tidak terdapat luka fisik apapun, namun ibu tersebut sedang terkena trauma dan panik ringan, aku harus segera membawanya keluar dari kerumunan ini atau dia akan sesak napas dan bisa berakibat fatal.

Seperti yang kuharapkan, Arka berinisiatif untuk membawa pelaku ke kantor polisi diiringi dengan orang-orang yang mulai mencoba main hakim namun selalu berhasil dihalau oleh Arka (Sepertinya dia lebih cocok jadi polisi ketimbang pengacara). Kerumunanpun berangsur sepi, orang-orang lebih tertarik terhadap pelaku ketimbang korban. Syukurlah.

Quote:"Tenang ya bu, sekarang udah aman. Ibu pulang kemana? biar saya antar kalau dekat." Tanyaku berusaha sehalus mungkin sembari mengenggam tangannya yang dingin.
"Iya nak makasih ya, ibu telpon anak ibu aja ya, nanti dia kesini, jemput" jawab ibu tersebut mulai beraturan.
"Baik bu, ini tangannya saya urut ya supaya gak kaku. Saya Mafaza, kebetulan baru lulus dari kuliah kedokteran." Ibu tersebut hanya mengangguk tersenyum, wajahnya syahdu sekali khas ke-ibu-an usia tak mampu menutupi kecantikannya, bibir tipis merahh muda, alis yang hitam rapi seperti dibentuk tapi ini natural, dan hidungnya yang melengkung pas (tidak terlalu tajam).


Langit sudah sepenuhnya jingga, sebentar lagi malam. Seorang pemuda mendekati kami perawakan dan wajahnya mirip sekali dengan Arka, sepintas aku kira ia Arka. Untuk sekedar jaga-jaga ku proses sedikit informasi singkat dari kepalanya. Namanya Atmaja Bagaskara yang kalau diartikan adalah Putera Matahari. Arka juga artinya matahari, apa mereka mirip karena namanya sama? Nama panggilannya Maja, seorang arsitek berusia 25tahun. Rupanya Maja adalah putra dari Ibu yang sedang disampingku ini. Pantas saja mukanya mirip.

Quote:"Assalamualaikum ibu, mbak" tegurnya ke Aku dan Ibu disebelahku ini yang spontan kami jawab bersamaan, namun suara ibu masih sedikit lesu.
"Mbak makasih ya udah jagain ibu saya" Sapanya padaku
"Bu kita pulang ya, Maja rangkul. Mobil kita didepan gak jauh" lanjut Maja tanpa merasa perlu mendengar responku.
"Iya, nak Mafaza kami duluan ya. Terima kasih sudah dibantu. Salam juga tadi ama pacarnya, terima kasih udah nyelametin ibu, nama Ibu Anggrek"
"Baik bu, sama-sama" jawabku sopan ke ibu tersebut sembari ikut beranjak pulang juga, ke panti.


Berbeda dengan Arka, aku dititipkan ke panti sedari bayi, aku tak sempat mengenal ibu atau ayahku. Ceritaku kosong, dan singkat. Seorang bayi yang mungkin belum genap 40 hari, dititipkan ke depan pintu panti asuhan. Sejak itu aku dirawat oleh Ibu panti, yang kuanggap ibuku sendiri. Ibu Rahma.




Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Langkah Kecil-Kecil
17-07-2019 14:40
Part 8

**

M A F A Z A

Dua puluh satu tahun, gumamku. Begitu tak terasa, rupanya aku sudah dua puluh satu tahun berada di panti ini. Aku masih ingat sewaktu Arka pertama kali datang ke panti asuhan. Umur kami waktu itu antara empat hingga lima tahun.

Quote:"Assalamualaikum anak-anak, kenalin ini temen dan adik baru kalian. Namanya Arka Aria. Seumuran ini ama Mafaza, Mafa temenin Arka ya nduk." Tutur bu Rahma mengenalkan Arka saat itu, Arka hanya menunduk dan diam, tidak senyum tidak pula menatap kami.

"Arka satu kamar ama Bang Sultan ya, Sultan temenin adikmu ya, dia agak pemalu dan pendiam". Pinta bu Rahma ke Bang Sultan. Bang Sultan adalah salah satu abangku di panti, umurnya saat itu 17 tahun. Terpaut 12tahun diatasku, artinya saat ini umurnya mungkin 33tahun. Sampai hari ini bang Sultan aktif datang ke panti, minimal 1 kali setiap bulan. Beliau sudah menjadi Auditor handal di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) ternama di Ibukota.

"Dengan senang hati bu, mari dek" jawab bang Sultan kala itu.



Hari berganti hari hingga menjadi bulan, Arka masih saja pendiam. Sesekali aku yang masih kecil berusaha untuk mencoba akrab dengannya.

Peluang untuk menjadi akrab terbuka ketika kami mulai sekolah taman kanak-kanak. Pergi bersama setiap hari dengan berjalan kaki mungkin membuat Arka terbiasa dengan keberadaanku, dan sedikit-sedikit ia mulai mau untuk diajak berbicara. Semakin lama kami semakin akrab, bisa dibilang terlalu akrab malah. Arka yang awalnya diam seperti batu, menjadi berisik dan tidak berhenti bersuara seperti kereta api, kecuali tidur.

Hari ini adalah hari kepulangan Arka dari kota, seminggu sudah berlalu yang mana artinya waktu kami berada dipanti kurang dari 3 minggu lagi.

Mengenai kelebihanku bisa memroses informasi orang lain tidak pernah kuceritakan pada siapapun, bahkan tidak pada Arka. Aku takut dianggap aneh, dan aku takut orang takut denganku yang aneh. Hingga hari ini aku belum tahu maksud Tuhan memberikanku kekuatan ini untuk apa? sering aku bertanya, apa cuma aku sendiri? atau ada orang yang bernasib sama?

**

A R K A - A R I A

"Assalamualaikum, is there anybody home?" teriak gue setelah mengetuk pintu panti yang sedang tertutup. Tas travelbag yang awalnya cuma berisi beberapa baju sekarang penuh oleh buku dari Prof. Adimulya yang belum tuntas gue baca. Berat.


Quote:"Waalaikumsalam" Terdengar suara Canda menjawab dari dalam setengah malas, sepertinya baru bangun tidur.

"Tumben Can jam segini tidur? puber ya? yang lain pada kemana?" Tanya gue lagi sembari meletakkan tas hitam berat ini ke kamar.

"Iya ada kegiatan diluar, diundang ama Bu Anggrek ada makan-makan di rumah beliau. Canda gak ikut, gak enak badan. Kak Mafaza juga gak ikut, ngejagain Canda. Mungkin sekarang tidur di atas". Jawabnya sambil masih mengucek mata. Setelah diperhatikan memang tampilan Canda seperti seseorang yang sedang sakit, bibirnya yang biasa merah agak pucat, pipinya yang tembam pun sekarang jadi tirus. Kulitnya? mungkin karena agak gelap, jadi tidak terlalu keliatan pucatnya.

"Baru ditinggal kakak seminggu udah sakit Can? gimana kalo kakak tinggal 2tahun? hahaha" ledek gue ke Canda sambil mengacak-acak rambutnya, keningnya panas.

"Nanti sore kalo masih panas kakak antar ke Puskes ya Can, sekarang lanjut istirahat dulu ya". Tutur gue ke Canda, karena lesu ia tidur di kasur bawah, gue yang keatas. Wah nih anak lebih kutu buku dari gue, kapan-kapan kenalin ke Prof. Adimulya ah, gumam gue dalam hati setelah melihat kasur Canda yang dihuni beberapa buku.



M A F A Z A

Aku terbangun, tanpa sadar aku tertidur. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 14:00 Wib, jam 2 siang. Aku tertidur satu setengah jam, setelah makan siang dan memastikan Canda minum obat pereda demam. Setelah membasuh muka, dan mengenakan kerudung aku turun, menuju kamar Canda.

Terlihat ia sedang tidur, kuperiksa keningnya "Panas nya udah turun, alhamdulillah".

Quote:"Masih suka ngomong sendiri rupanya?" Ucap Arka mengagetkanku dari kasur atas. Udah pulang rupanya makhluk satu ini.

"Oh udah pulang rupanya, yaudah gantian jagain Canda ya, ini hari ketiga ia demam." sahutku kemudian langsung berpaling hendak keluar dari kamar Canda dan Arka. Tadinya aku asal masuk karena ku kira di dalam cuma ada Canda.


Sejujurnya aku bingung dengan moodku belakangan ini. Setiap melihat muka atau mendengar suara Arka aku mendadak kesal. Ia tak punya salah apa-apa kepadaku, lantas kenapa aku begini?



Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Langkah Kecil-Kecil
12-07-2019 19:46
Part 6

**

A R K A - A R I A

Kantor polisi

Suara mesin tik memenuhi ruangan, ada seorang ibu muda sekitar pertengahan 30 sedang melaporkan anaknya yang hilang. Selalu ada kejahatan setiap hari.

"Sesungguhnya hati juga butuh makanan, menu-nya adalah perbuatan baik, buruk, dengki, sombong, syukur, ikhlas dan banyak lagi. Kamu mau kasih makan hatimu apa, nak?" Ceramah bu Rahma tiba-tiba menggema di pikiran gue.

Semua orang mungkin ingin menjadi orang baik, tapi tidak semua orang hanya melakukan hal-hal yang baik, sebagian atau malah kebanyakan mementingkan terpenuhnya keinginan pribadi, parahnya dengan segala cara meskipun merugikan orang lain.

"Rajin banget kesini bang, udah jadi Polisi aja." Tegur Anton mengagetkanku keluar dari ruangan kepala kepolisian.

"Iya nih, kejahatan gak ada habisnya" jawab gue lesu dan sebal tanpa sengaja mengeraskan cengkeraman ke jambret amatir ini.

"Andai gak ada lagi kejahatan, bisa santai gue ya bang" jawab Anton terkekeh sembari mengamankan si penjambret.

"Ayo bang saya temenin bikin laporan" lanjutnya lagi.

Anton adalah seorang polisi yang cukup muda, lebih muda setahun dari gue. Lulus SMA ia langsung daftar dan menjadi polisi. Ikut jejak sang ayah, katanya.

Seusai menceritakan kronologis secara lengkap ke polisi, gue langsung bergegas ingin pamit, namun ditahan oleh Pak Lukman. Pak Kapolda daerah kami.

"Wah lagi-lagi Arka. Bawa apa lagi hari ini? Kamu jadi anggota kita aja lah sekalian." pintanya seru kemudian tertawa berat khas bapak-bapak seram.

"Arka mau sekolah dulu pak, sekali lagi. Ini pamit ya sekalian, bulan depan Arka cabut. Jauh pak, jangan kangen" jawab gue ke Pak Lukman.

Gue dan Pak Lukman akrab, bermula dari penjambret yang gue tangkep pertama kali. Waktu itu gue masih semester satu kalo gak salah, sekitar 3tahun yang lalu.

Pak Lukman kaget lihat gue yang menurut beliau mirip anaknya tapi lebih muda 4 tahunan bisa nangkep dan bawa pelaku seorang diri tanpa terluka.

"Mana korbannya?" Tanya Pak Lukman waktu itu.
"Korbannya aman pak, ama temen saya ditenangin ke panti." Jelas gue
"Korban harus dibawa kesini, supaya kronologisnya jelas, kita perlu keterangan dari korban." Jelas Pak Lukman galak.
"Santai aja kali pak, korbannya di panti, bapak urusin dulu penjahat ini. Korbannya tenang gue bawa kesini. Kalo gue bawa kesini sekarang bareng si pelaku, menurut bapak apa bijak?" Jelas gue tak kalah galak membuat mesin tik yang tadinya bernyanyi tiba-tiba hening.

Kira-kira begitulah keakraban gue ama Pak Lukman dimulai haha. Beliau bilang muka gue mirip anaknya, tapi sifat nggak sama sekali.

"Arka, ini korbannya dimana?" Tanya Pak Lukman setengah bercanda.

"Ada ama temen Arka pak, aman." Jawab gue, ngeh bahwa Pak Lukman juga sedang mengenang masa pertama bertemu.

"Jadi tahun berapa kira-kira temen Arka ini jadi istri Arka?" Ledek Pak Lukman yang kemudian diikuti tawa Anton yang terbahak.

"Adik pak, adik." Jawab gue, kali ini langsung kabur.

**

Di Panti

"Assalamualaikum" salam gue sembari masuk ke rumah, tidak ada jawaban. Rupanya anak-anak sedang sholat berjamaah. Ahmad yang mengimami kali ini, adik gue yang sebentar lagi jadi anak sulung di panti ini ngegantiin gue ama Mafaza. Dengan sigap gue ambil wudhu kemudian menyusul, masbuk.



Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Langkah Kecil-Kecil
14-07-2019 15:40
Part 7

M A F A Z A

Langit malam ini begitu meriah, bintang kelap kelip, sebagian membentuk rasi. Langit kanan seperti Orion, dan langit kiri Ursa Mayor. Aku amat menyukai langit di setiap warna dan kondisinya. Mengagumi langit, bagiku tak akan ada habisnya.

Quote:"Mafaza, makasih ya udah bawain travelbag gue" ucap Arka yang tiba-tiba berdiri disampingku.

"Iye sama-sama, tadi pelakunya langsung ditahan? Kayanya seumuran kita ya? Aku gak sempet liat tadi." Jawabku masih menengadah ke langit.

"Mungkin lebih tua, atau mungkin lebih muda. Aku gak kenalan tadi haha. Lagian mau kamu liatin biar apa?" Tanyanya lagi kepadaku, sambil ikut menengadah ke langit.

"Gapapa, random aja." Jawabku sekenanya. Sejujurnya aku penasaran dengan motif si penjambret, aku sempat melihat hatinya walau sekilas. Ada penyesalan yang cukup mendalam, bukan menyesal karena gagal dan ketangkap menjambret. Namun lebih ke penyesalan yang mengandung kesedihan.

"Ini ngeliatin bintang juga random aja?"

"Iya random" jawabku, kali ini kutoleh arka sebentar dan kutinggal. Duduk di teras depan panti, kursi favorit yang sebentar lagi ku tinggalkan.

"Maf, tadi ibunya gimana? Kamu anter atau dijemput apa gimana?" Kali ini Arka ikut duduk di kursi disebelahku.

"Dijemput putranya. Dapat salam juga tadi buat kamu."

"Salam diterima" sahutnya kemudian kembali masuk ke dalam.

**

Keesokan harinya

Quote:"Assalamualaikum" salam seorang ibu-ibu dari luar, terdengar dari luar.

"Waalaikumsalam" jawabku langsung menghampiri. Rupanya ibu Rahma, Maja dan Pak Lukman. Wah dunia terasa sempit sekali, jika Pak Lukman secara kebetulan adalah suaminya ibu Rahma.

Singkat cerita semalam sepulang Pak Lukman dari kantor, Bu Rahma menceritakan tentang kejadian kemarin sore. Bu Rahma ingin berterimakasih padaku dan Arka karena telah menolong kemarin sore, namun Bu Rahma tak tau siapa kami dan dimana kami tinggal. Beda cerita dengan Pak Lukman, yang sudah berapa tahun ini menjalin silaturahmi baik denganku, Arka, dan anak panti lainnya. Ceritanya terhubung, dan kami bertemu.

Quote:"Arka nya mana Maf?" Tanya Pak Lukman sambil menyeruput kopi yang baru saja kuhidangkan.

"Pergi Pak, rencananya akan menetap di tempat pembimbingnya seminggu di kota. Ada yang mau dipersiapkan katanya."

"Begitu. Sampaikan terima kasih saya ke Arka ya. Kalau dia pergi, mungkin saya beneran bakal kangen hahahaha"

Keluarga mereka terlihat amat harmonis.
Meskipun pendiam, aku tau bahwa Maja begitu nyaman dalam keluarganya. Rasanya aku ingin sedikit membaca pikirannya, aku selalu penasaran dengan pikiran orang-orang pendiam. Niat itu kuurungkan, rasanya kurang sopan membacanya sekarang, mungkin nanti lain waktu.

**

A R K A - A R I A

Bau buku adalah aroma favorit bagi gue, oleh sebab itu rumah Prof. Adimulya berhasil menjadi tempat kedua ternyaman setelah panti. Rumah yang lebih mirip perpustakaan ini ditinggali seorang diri oleh Prof. Adimulya, ialah seorang profesor yang tergolong cukup muda mungkin antara 37-38 tahun, belum menikah, terlalu asik kedalam dunia akademis dan literasi.

Prof. Adimulya juga merupakan seorang penulis, penulis favorit gue. Buku-bukunya banyak menjadi acuan mata kuliah di berbagai kampus, namun buku yang paling menarik minat gue adalah buku-bukunya terkait sejarah, kasus-kasus masa lalu, dan opini-opini terkait hukum.

Beliau pernah mengeluarkan statement yang bagi gue, seorang aktivis dan orator di kampus menampar sekali.

Quote:"Sudahlah, hari ini kalian teriak koruptor-koruptor besok bisa jadi kalianlah koruptornya. Koruptor-koruptor hari ini sangat mungkin juga para orator pada masanya dulu. Daripada sibuk koar-koar kalian mending fokus belajar. Buat sistem tanpa celah." Paparnya saat itu.

Gue tidak sepenuhnya setuju, namun apa yang beliau tidak bisa dikatakan salah. Namun, gue yang keras kepala dan cenderung optimistic ini berpikiran bahwa "kalau bisa keduanya kenapa fokus satu saja?" Demo sambil belajar lebih menarik daripada belajar diam kampus-kos-kampus.

Quote:"Prof, ini buku-bukunya buat gue ya. Gue bawa kesana daripada berdebu disini."

"Iya bawa aja, baru kali ini juga saya ketemu dengan kutu buku yang berisik. Para kutu buku biasanya cenderung pendiam, mereka lebih aktif berbahasa melalui tulisan." Jawabnya tanpa menoleh gue, beliau sibuk menulis sesuatu.

Anyway, Prof. Adi merupakan seseorang yang ngebuka jalan gue buat lanjut S2 di luar negeri, bahkan beliau ngebantu ngenalin gue ke Prof. Hedwick, Profesor di tempat gue nanti lanjut mengemban ilmu.

Quote:"Kartu nama Prof. Hedwick jangan sampai ketinggalan ya, langsung temui beliau disana. Beliau pasti suka ama kamu, beliau juga merupakan guru saya dulu." Sambungnya, masih sambil menulis.




Diubah oleh agungdar2494
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Langkah Kecil-Kecil
09-08-2019 21:48
Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Hai, Brada. Ku mampir lagi ke mari, tapi malah kepo sama para komentator wkwkwkwk


Wkwkwk mampir di yg 1 nya dong brada.. judulnya Aku Jatuh Cinta Untuk Kali Terakhir
profile-picture
profile-picture
panci.gosong dan hitampekat007 memberi reputasi
2 0
2
Langkah Kecil-Kecil
29-07-2019 12:50
Kok saya suka ya sama gaya bahasa dan cara bercanda tokoh Arka Aria ini. Tengil-tengil gemesin gimana gitu. Sedikit terganggu dengan kurangnya tanda baca seperti titik pada beberapa kalimat. Selebihnya ok.
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan agungdar2494 memberi reputasi
2 0
2
Langkah Kecil-Kecil
26-07-2019 15:39
Quote:Original Posted By Richy211
wuih aye udah komentar belom ya 😁 tinggalin jejak sukses terus


Udah pernah sblmnya kayanya hhe

Quote:Original Posted By IztaLorie
Cerita yang menarik emoticon-Jempol


sipp

Quote:Original Posted By DeYudi69
udah pernah mampir keknya aku dimari ...

lanjutkan Gan ...


Siap bang


Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
True story bukan?


Fiksi Rapunzel

Quote:Original Posted By mamaproduktif
Mafaza.. jadi inget nama kostan gue di Semarang bre 🤣


ahahaha Mafaza? mantap
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan mamaproduktif memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sfth-hitam-season-2
Stories from the Heart
misteri-gunung-kemukus
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia