Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Yuk Gan / Sis, Saatnya Ikutan Survey di Forum Stories Form The Heart
54
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d19d1162f568d71e2427eb8/misteri-di-balik-tembikar
Dari pintu inilah kegiatanku dimulai. Sebagai pengrajin tembikar, dalam ruangan bawah tanah peninggalan Kakek. Darah seni mengalir darinya, terbiasa sejak kecil melihat Kakek sedang mengolah tanah liat menjadi karya seni menakjubkan. Karyanya tak hanya tersebar di negeri sendiri tapi juga sampai ke mancanegara. Sayangnya hidupku t
Lapor Hansip
01-07-2019 16:23

MISTERI DI BALIK TEMBIKAR ( Kisah-kisah Misteri & Creepypasta)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
Pict by google

(Cerita ini bergenre Creepypasta )

-Chepter 1-

Dari pintu inilah kegiatanku dimulai. Sebagai pengrajin tembikar, dalam ruangan bawah tanah peninggalan Kakek. Darah seni mengalir darinya, terbiasa sejak kecil melihat Kakek sedang mengolah tanah liat menjadi karya seni menakjubkan. Karyanya tak hanya tersebar di negeri sendiri tapi juga sampai ke mancanegara.

Sayangnya hidupku tak seindah tembikar Kakek, meski aku tumbuh di tangan yang sama, ditempa oleh orang yang sama. Aku tumbuh menjadi anak yang tertutup, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah daripada main dengan teman sebayaku. Akhirnya, aku tak punya banyak teman.

Rahasia tentang orang tuaku berhasil Kakek tutupi tanpa celah sedikit pun. Hingga umurku genap tujuh belas tahun. Aku tak meminta kado istimewa dari lelaki yang terlihat semakin renta itu, hanya memohon agar tabir rahasia di balik kehidupanku tersingkap. Aku berhak tau siapa dan di mana orang tuaku.

Kemudian mengalirlah kisah diriku, mengobrak-abrik rasa dalam dada. Lebih banyak sayatan dan tikaman menembus hatiku, tak secuilpun terukir kisah bahagia di sana. Lalu kami berdua tenggelam dalam kubangan air mata.

Ibuku bernama Puspa, wanita muda, cantik, sedikit pendiam. Kakek teramat menyayanginya, karena hanya dia putri semata wayang, peninggalan nenek yang meninggal saat Ibu berumur lima belas tahun.

Hubungan Ibu dan Ayah tak dapat restu kakek, menurutnya Ayahku sosok yang tidak bertanggung jawab, terkenal suka gonta-ganti perempuan. Namun, Ibu telah dibutakan cinta, menenggelamkan diri dalam buaian dan rayuan lelaki yang dia sebut kekasih. Pada akhirnya Kakek mengalah, tak sanggup kehilangan permata dalam hidupnya.

Saat memasuki pernikahan yang baru seumur jagung, pasangan muda suami-istri itu terdengar bertengkar hebat, suara benda pecah saling bersahutan, tak lama Ayah keluar kamar dengan tas ransel menempel di punggungnya. Sejak saat itu, tak pernah sekali pun ia kembali menginjakkan kakinya di sini. Lupa bahwa telah ada benih dalam perut istrinya, aku.

Puspa–Ibuku– depresi sepeninggal Ayah. Cinta yang terlampau besar berbalas pengkhianatan. Hatinya terkoyak kala melihat foto lelaki pujaannya tengah bersama wanita jalang dalam satu selimut, terlihat mereka sudah bergumul dalam gelora nafsu, bermandikan peluh. Ternyata luka itu tak hanya merenggut cintanya, tapi juga nyawanya.

Usiaku belum genap dua bulan ketika Ibu mati bunuh diri. Depresi mengakibatkan goncangan jiwa, hingga ia memutuskan menggantung dirinya sampai jiwa terlepas dari raga. Kehadiranku tak cukup mampu mengobati luka hatinya. Kekecewaan telah melenyapkan kewarasannya. Hingga tega meninggalkan darah daging yang baru saja ia lahirkan.

Kakek tak ingin aku hidup dalam bayang-bayang kelam mereka, itulah alasannya menutup rapat masa laluku.

***

“Keluar kau dari rumahku!” Kudengar suara gaduh di teras rumah, tak biasanya Kakek berbicara setinggi itu. Penasaran, kulangkahkan kaki menghampirinya.

“Tolong, Pah. Maafkan saya, kasih kesempatan agar bisa jumpa dengan anak saya. Sekali ini saja, saya mohon.” Terdengar suara asing seorang pria yang sedang bersimpuh di bawah kaki kakek. Matanya memindai setiap inci tubuhku ketika aku mendekati Kakek.

Wajah itu seperti tak asing. Aku bergeming, menyadari sosok di hadapanku adalah lelaki penyebab semua aib kehidupanku. Foto pernikahan kedua orang tuaku, satu-satunya benda yang mengenalkan rupa mereka.

Gejolak darahku membuncah, ke dua tangan mengepal sedetik kemudian mendarat bertubi-tubi pada tubuh lelaki yang seharusnya ku panggil Ayah. Tubuh ringkih Kakek menghentikanku, membawaku masuk ke dalam rumah. Kami sudah tak lagi menghiraukan suara gedoran pintu dan teriakan orang yang sedari dulu kami anggap sudah mati.

***
Di atas pusara yang masih basah, dengan taburan bunga segar aku kembali ditinggalkan. Oleh manusia yang seperti malaikat bagiku. Bersamanya aku tumbuh, dengannya aku hidup, ditempa agar menjadi lelaki kuat penuh harga diri.

"Kakek menamaimu Bima, agar kamu kuat seperti Bima dalam tokoh pewayangan," ucapnya suatu hari.

Usai keributan tempo hari, Kakek mengeluh sakit dada, tensi darahnya langsung tinggi. Baru kali ini melihat ia begitu rapuh, hampir setiap hari terisak, memeluk foto anak kesayangannya. Kedatangan lelaki yang bahkan aku pun tak sudi mengakuinya sebagai Ayah hanya membawa kepedihan dalam hidupku. Membuatku kembali kehilangan dan kesepian.

“Bima, aku ini ayahmu, Nak. Maafkan ayah,” ucap pria itu yang kembali ke rumah ini, entah untuk apalagi.

“Simpan semua omong kosongmu, Tuan. Brengsek! Sialan! Ayahku sudah lama mati.”

Hatiku sudah beku, di sana hanya ada benci dan dendam. Aku berjalan membelakanginya kemudian mengangkat guci keramik seukuran pinggang, kuhantamkan tepat di pundak bajingan itu. Harga mahal guci itu terbayar dengan cucuran darah dari kepala lelaki sialan itu. Tawa menyeringai membentuk bibirku, sengaja tak kuarahkan langsung ke kepala, tak ingin si brengsek menemui ajal dengan begitu mudah. Semua kesakitan harus dibalas kesakitan. Luka dibalas dengan luka.

Kuseret tubuh yang terkulai bersimbah darah, meninggalkan jejak merah di lantai menuju ruang bawah tanah. Tawaku menggema, bersamaan dengan ide-ide baru yang akan kumulai malam ini. Lihatlah, akan kubuat karya seni paling indah, kupersembahkan khusus untuk Kakek dan Ibuku, agar mereka hidup tenang di sana.


-Bersambung-

Black Rose
01.07.19
---@@@---

Rekomendasi Thread Ane yang lain:

Kumpulan Cerpen Horor

Kumpulan Kisah Urband Legend & Scary Game

---***---
Kumpulan Indeks

Misteri Di Balik Tembikar Part 2

Kutukan Mickey Mouse : Part 1

Kutukan Mickey Mouse : Part 2

Kutukan Mickey Mouse: Part 3


Kutukan Mickey Mouse : End

Andien Si Gadis Cupu : Chapter 1


Andien Si Gadis Cupu : Chapter 2
Diubah oleh blackrosest
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prayformysky dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
01-07-2019 20:46
wih ... ntapz sista ... langsung aja jadiin patung tembikar hidup2 😂
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 06:58
wah, pas baca untuk 17+... nyerah, meskipun udah umur lebih dari itu, hhee
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 08:44
siiiip. lanjuuut...
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 08:51
Quote:Original Posted By Raeinn
wah, pas baca untuk 17+... nyerah, meskipun udah umur lebih dari itu, hhee


Sebetulnya tidak ada "adegan dewasa" hanya saja cerita creepypasta identik dengan kekerasan dan penyiksaan. I am sorry, Dear emoticon-Big Kiss
0 0
0
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 08:51
Quote:Original Posted By DeYudi69
wih ... ntapz sista ... langsung aja jadiin patung tembikar hidup2 😂


Asiyaaappp 😁
profile-picture
DeYudi69 memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 08:52
Quote:Original Posted By kelayan00
siiiip. lanjuuut...


Next lah 😆. Makasih sudah mampir
0 0
0
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 08:56
Quote:Original Posted By blackrosest
Sebetulnya tidak ada "adegan dewasa" hanya saja cerita creepypasta identik dengan kekerasan dan penyiksaan. I am sorry, Dear emoticon-Big Kiss


Hihi, iyes... Dah baca, dilanjut...
profile-picture
profile-picture
AntiMAHOgan dan blackrosest memberi reputasi
2 0
2
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
02-07-2019 09:03
Quote:Original Posted By blackrosest
Asiyaaappp 😁


Wkwkwkwkw ... suka beud ma cerita kek gini dirimu Sist ...
Lanjutkan!
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
03-07-2019 23:03

MISTERI DI BALIK TEMBIKAR

--Chapter 2 --

Di ruangan bawah tanah ini aku kembali bekerja, mengerahkan segenap konsentrasi, tak ingin melewati setiap detailnya. Cetakan demi cetakan hampir separuhnya kuselesaikan.

“Hm ... hm ....”

Di ruangan sebelah terdengar erangan kesakitan, rintihannya berdengung mengalun bagai melodi pengganti musik yang biasa kuputar.
Setelah cetakan terakhir selesai, aku menghampiri asal suara itu.

“Heh, baik! Teruslah mengerang, manjakan telingaku dengan suaramu.” Lelaki berkulit kecoklatan tergeletak di atas dipan, tubuh tanpa sehelai benang pun terkulai dengan tangan dan kaki terikat serta mulut tertutup rapat oleh lem Alteco yang aku oleskan pada bibirnya. Noda darah di kepala sudah mengering menutupi sebagian wajahnya.

“Kenapa kau diam, Tuan?” hardikku.
Krak! Terdengar suara patahan tulang saat sekuat tenaga kakiku menginjak pergelangan tangannya. Jari jemari sudah remuk tak berbentuk saat palu di tangan menghantamnya satu persatu.

“Kaki ini yang melangkah pergi dari hidup kami, membuatku kehilangan kasih sayang ibu!”

Krak! Kupatahkan kaki kanan lelaki sialan ini, bahkan aku tak sudi mengotori mulutku dengan menyebut namanya. Suara jeritan terdengar bagai gumaman. Sayangnya, air mata yang kulihat darinya bukanlah air mata penyesalan.

“Lalu kenapa kau bawa kembali kakimu ke sini hingga aku kehilangan kakekku, hah?!”

Prank! Sebuah kendi berukuran kepala berhasil mendarat tepat di lututnya. Cairan merah mulai mengalir dari celah-celah kulit yang terkoyak.

“Arghhh!” Jeritan Si baik itu menggema, mulutnya terbuka mengeluarkan darah dari kulit bibirnya yang terkelupas. Kuakhiri hiburanku hari ini saat melihat matanya terpejam tak sadarkan diri. Masa bodoh! Persetan!

Matahari sudah tertidur di peraduannya, berganti dengan gemerlap bintang. Malam ini, rembulan tak menampakan wajahnya, bersembunyi di balik awan seolah takut melihat seringai yang tercipta di wajahku. Puas telah menyiksa bajingan itu, saat ini hawa dingin tengah membelai tiap inci tubuhnya yang penuh luka. Sakitnya tak seberapa di banding penderitaan Kakek, juga hidupku.

***

Cuaca siang ini seolah ingin membuatku bahagia, teriknya terasa membakar kulit. Waktu yang sempurna untuk menjemur hasil cetakan kemarin. Seluruh tubuh lelaki itu sudah tertutupi tanah liat, hanya mata dan bagian lubang hidung sengaja kubuka karena belum saatnya dia mati.

Sebelum dipanggang di bawah matahari, patung berisi manusia itu sudah terlebih dahulu dihaluskan dengan air dan lap kecil, lalu diukir menggunakan batu api.

Aku berdiri di tengah taman, pekarangan belakang rumahku, tempat biasa Kakek menjemur gerabah ciptaannya. Kupandangi raga berbalut tanah liat dengan bola mata masih mendelik, patung manusia sedang mengalami proses penjemuran. Matanya kian melotot menikmati belaian Si Raja siang, sedangkan tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Bukan hanya karena lemas tak kuberi makan, terlebih sudah banyak tulang yang hancur dan kulit penuh sayatan.

***

Setelah kemarin patung manusia itu mengalami proses penjemuran, teksturnya sudah kering dan siap menjalani proses selanjutnya.

Beruntung, Kakek memiliki tanah luas di rumah ini. Hampir separuh lahan kakek pergunakan untuk proses pembuatan tembikar. Dengan sepuluh orang karyawan tetap di sini. Sepeninggal Kakek, seluruh karyawan aku liburkan sampai betul-betul siap memulai kembali usaha ini.

Tungku pembakaran telah siap, ukurannya yang lumayan besar muat meski dimasukan lima patung berukuran dewasa sekaligus.
Terakhir kali kuliat mata yang mulai sayu berwarna kemerehan.

“Ibu, kakek, lihatlah! Meski waktu tak dapat diputar kembali, setidaknya waktu memberikanku kesempatan membalas perbuatan manusia ini. Lelaki baik yang telah merebut segalanya dariku. Sebelum dia dibakar di neraka, aku dulu yang akan menghanguskannya di sini."

Api tengah berkobar di bawah tungku yang siap melahap mangsanya. Kembali netra kami saling bertatap, tak ada sedikitpun rasa iba di hatiku. Jiwa manusiaku seolah lenyap di makan dendam.

Perlahan, tubuh berselimut tanah itu mulai memasuki tungku. Terpanggang dalam suhu 450 derajat Celsius selama dua belas jam. Terdengar jeritan maha dahsyat, kunikmati setiap lantunan kematiannya sampai benar-benar menghilang.

Lebur sudah, nyawa telah meninggalkan raga. Manusia yang dulu kami anggap mati sekarang telah kubuat mati sungguhan. Biarkan mereka berkumpul di alam baka, menuntaskan persoalan yang masih tersisa.

***

Nama besar Kakek sebagai pengrajin tembikar ikut mendongkrak popularitasku di dunia seni ini. “Bima Anggara Putra.” Siapa tak kenal nama itu, berbagai pameran dan galeri tersebar di berbagai penjuru negeri.

Di salah satu sudut ruangan, terpajang patung manusia dengan wajah tersenyum, kumis dan jambang tipis menghiasi wajah bahagia itu. Sengaja saat finishing aku sematkan bulu menghias wajahnya, menyamarkan rupa asli lelaki yang tak pernah sekalipun kupanggil Ayah.

Tak terhitung sudah berapa kolektor menawar dengan harga tinggi, tapi maha karyaku akan abadi di tempat ini. Karena dia yang akan menemaniku di sini, mengganti waktu yang telah dia lewatkan.

-END-

Black Rose
03.07.19
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
04-07-2019 05:26
Mantap! Baru kali ini baca cerita ane nyimak alurnya baik-baik. Sayangnya kisahnya udah tamat.

Semoga sukses dengan jalur sfth ya emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
blackrosest dan kelayan00 memberi reputasi
2 0
2
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
04-07-2019 17:31
selalu keren ceritanya Sista ...
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
08-07-2019 12:13
Quote:Original Posted By evywahyuni
Mantap! Baru kali ini baca cerita ane nyimak alurnya baik-baik. Sayangnya kisahnya udah tamat.

Semoga sukses dengan jalur sfth ya emoticon-Shakehand2


Makasih, Kak emoticon-Big Kiss.
Aku kurang suka bikin cerbung yg panjang2. Mungkin lain kali. Insya Allah. Terima kasih supportnya.
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
08-07-2019 12:14
Quote:Original Posted By DeYudi69
selalu keren ceritanya Sista ...


Makasih, Gan. 😁
0 0
0
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
08-07-2019 13:27
Quote:Original Posted By blackrosest
Makasih, Kak emoticon-Big Kiss.
Aku kurang suka bikin cerbung yg panjang2. Mungkin lain kali. Insya Allah. Terima kasih supportnya.

Ahhaay ... mending cerpen aja kalo gitu, biar pembaca gak dibuat penasaran. Ma sama yaakemoticon-Shakehand2 tetap support kokemoticon-Jempol
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
08-07-2019 15:41
sereeem
0 0
0
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
08-07-2019 21:43

KUTUKAN MICKEY MOUSE

MISTERI DI BALIK TEMBIKAR

Quote:Ini adalah Cerita creepypasta yang terinspirasi dari salah satu kisah urban legend.
Terima kasih bagi yabg sudah mampir. Bila berkenan silakan kasih tanda bintang juga cendolnya emoticon-Cendol Gan. Atau jika suka dengan ceritanya, bisa di subscribe emoticon-Big Kiss



KUTUKAN MICKEY MOUSE

~ part 1 ~



Akhir-akhir ini aku mulai asyik dengan aktifitas baruku. Waktu libur semester kuhabiskan dengan surfing di dunia maya. Semua hal unik dan menarik aku jelajahi tanpa batas. Tentu hanya hal-hal positif saja.

Pagi ini, setelah mengisi perut dengan nasi goreng buatan ibu, aku mulai menyalakan laptop. Hal pertama yang aku buka adalah email. Satu pesan masuk dalam inbox, dari akun baru yang asing. Aneh, nama akunnya ‘Mickey Mouse’. Aku tertawa geli, penasaran siapa dibalik akun lucu tersebut. Namun, tawaku perlahan sirna saat kubuka pesan darinya.
“Hai ... Aku Mickey Mouse. Ada sisi gelap dari diriku yang haus akan darah. Apa kau berminat menjadi salah satu korbanku? Jika tidak, kirimkan pesan ini ke lima temanmu. Aku beri kau waktu sampai malam ini! Jangan coba-coba menghapusnya jika tak ingin malapetaka menghampirimu.”
Apakah ini sebuah lelucon? Sungguh tak lucu, ini kali pertama aku dihadapkan dengan hal se-absurd ini. Aku termasuk orang yang tidak tertarik dengan tantangan. Aku benci hal-hal berbau misteri. Penakut? Terserah kalian mau menyebutku apa.

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya kuputuskan membagikan email ini ke beberapa temanku. Ah, mungkin tiga saja cukup, aku tak ingin mereka menertawakanku dengan mengirim ‘spam’ konyol seperti ini.

“Hai, Bro! Kamvrett! Lu kirim beginian ke gue.” Pesan dari Radit. Aku hanya membalas dengan emot tertawa. Entah apa yang akan dia lakukan setelah menerima pesan dari si kartun itu.

“Njiiir ... Rinooo! Iseng banget sih Lu kirim spam ke gue!” Kembali aku dapat teriakan via chat dari Vera, sahabatku yang paling cerewet.
Sedangkan orang terakhir yang aku kirim adalah Alfian. Dia tak merespon apa pun.

Sejenak aku abaikan masalah si Mickey Mouse dengan bermain game online. Berselancar di facebook, sedikit berbalas komen dengan teman-teman satu grup. Tak kupedulikan lagi email aneh itu.

***
Jenuh dengan kegiatan di rumah, aku menghabiskan waktu pergi ke Gramedia. Membeli beberapa buku untuk kubaca di waktu senggangku.

Panas mulai menyengat, di lampu merah kulihat ada beberapa badut tengah beraksi. Berjoget sambil menyodorkan kotak untuk menampung uang dari para pengendara.

Sejenak tertegun melihat badut berbentuk tikus berkaki dua. Teringat kembali email misterius dua hari yang lalu. Syukurlah, tak terjadi apapun. Kurasa, itu hanya perbuatan orang iseng semata.
Motor yang kukendarai baru memasuki halaman, terlihat ibu tergopoh-gopoh berlari menghampiriku. Napasnya terengah, wajahnya sedikit pucat.

“Ibu, kenapa? Ada apa? Kelihatan panik dan takut begitu?” Aku bertanya sambil mencopot helm.

“Rinooo! Ibu telpon dari tadi gak diangkat-angkat. Itu lho, temenmu si Radit katanya meninggal semalam.”

Helm di tangan hampir terlepas. Jantungku seolah lupa berdetak, syok. Tanpa berkata apa pun, langsung kunyalakan kembali motor, meninggalkan Ibu yang masih terbengong.

Rumah Radit sudah dipenuhi warga juga sanak saudaranya. Sahabatku sudah berbalut kain putih menunggu untuk dimakamkan.
Dari sekian banyak para pelayat, ada sekelompok polisi seperti tengah menyelidiki sesuatu. Aku memberanikan diri menghampiri Rania, adik satu-satunya yang dimiliki Radit.

“Rania, sebetulnya apa yang terjadi dengan Kak Radit?” Kematian Radit sungguh menyimpan banyak pertanyaan.

“Entahlah, Kak. Pagi tadi ibu menemukan Kak Radit di bawah tempat tidur dengan keadaan yang mengerikan.” Rania kembali terisak.

“Mengerikan? Maksudnya?” Aku sama sekali tak mengerti.

“Kak Radit sudah menjadi mayat, kepalanya hampir terputus dan kedua bola matanya hilang.”
Degh! Dadaku bagai dihantam ratusan palu, sesak dan nyeri. Ya Tuhan, apa ini ada hubungannya dengan email misterius itu? Tidak! Ini tidak mungkin gara-gara boneka kartun sialan itu. Bulir air mata mulai membanjir, sedih dan rasa bersalah bercampur menggerogoti hati.

***
Jam delapan malam aku baru sampai rumah. Ibu yang sepertinya masih ingin bertanya perihal kematian Radit urung saat melihat aku sudah kelelahan. Beranjak ke kamar, mandi, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Pikiran terus menerawang tentang misteri dibalik kematian Radit. Mungkin karena lelah, akhirnya aku pun terlelap.

Sayup kudengar nada dering ponsel, mata yang masih lengket karena ngantuk kupaksa melihat layar, ada nama Vera tertera di sana. Jam dua belas malam, tak biasanya dia menghubungiku di jam selarut ini.

“Rinooo! Tolong aku. Aku sendirian di rumah.”

“Halo ...! Veer! Vera ... Lu kenapa? Halo?”



Bersambung

Black Rose
08 07.19
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
16-07-2019 15:21

KUTUKAN MICKEY MOUSE

~Part 2~

Aku terduduk di atas kasur, dengan tubuh kaku saat di seberang sana terdengar jerit kesakitan Vera. Keringat dingin menetes dari dahiku, jeritan kedua begitu pilu. Seperti nyawa dipaksa berpisah dari raga secara perlahan. Tubuhku seketika lunglai, menggigil di bawah selimut. Tak bisa membayangkan apa sesungguhnya yang sedang Vera alami.

Keesokan paginya aku mendapat kabar jika Vera ditemukan tewas mengenaskan. Jasadnya tergantung dalam lemari. Kedua bola matanya hilang. Tubuhnya dipenuhi oleh darah. Terutama bagian wajah, merembes dari kelopak matanya yang kosong.
Oh, Tuhan. Terbayang kembali jeritan semalam. Mungkin saat sosok kartun sialan itu mencongkel bola mata gadis itu.

Email kutukan! Sial! Mungkin karena diantara kami tak ada yang menghiraukan peringatannya. Menganggapnya hanya pesan sampah.

Aku teringat Alfian, teman terakhir yang aku kirimkan pesan terkutuk itu. Apakah mungkin malam ini adalah gilirannya? Aku harus mencegahnya. Tak ingin kehilangan sahabat lagi.
Beberapa kali menghubungi nomor ponselnya. Nihil! Aku dibalas oleh pesan suara. Akhirnya kuputuskan langsung mendatanginya ke rumah.

“Bu, malam ini aku nginep di rumah Alfian, ya. Mau ngerjain tugas kampus” Aku pamit sama ibu dan ayah.
“Hati-hati, Rino,” jawab ibu.

***

Malam ini kami berdua hampir tak bisa terpejam. Detik jarum jam menyatu dengan detak jantung kami. Tak ada percakapan berarti, seolah sedang berusaha mengendalikan ras takut. Tubuh kami gemetar, bukan karena hawa dingin. Lebih dari itu, seolah sedang menanti malaikat maut datang menjemput.

***

Aku mengerjap menyadari jika barusan aku tertidur. Sialan! Aku kecolongan. Jam menunjukan angka satu dini hari. Panik, aku tak menemukan Alfian. Saat hendak turun dari ranjang, kakiku menginjak sesuatu yang basah dan sedikit lengket.
Ah, ini darah! dan Alfian tergeletak di lantai. Darah itu berasal dari kedua tangannya.
“Alfiaaannn!” Aku berteriak panik.

Bersambung
0 0
0
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
17-07-2019 01:15
ok lanjut bro
profile-picture
blackrosest memberi reputasi
1 0
1
MISTERI DI BALIK TEMBIKAR
17-07-2019 14:25
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
ok lanjut bro


Asiyaappp.
Terima kasih sudah mampir.
Silakan jika berkenan di subscribe agar dpt notif saat update. He he emoticon-Recommended Seller
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
wayah-surup
Stories from the Heart
back-to-black
Stories from the Heart
langkah-kecil-kecil
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
journey-of-decision
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia