Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
63
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d0d252b7e3a726ea924371e/cerita-kepala-kedua-20
Buat orang-orang berumur dua puluhan yang mungkin lagi meragukan banyak kenyataan, tulisan ini aku persembahakan. 00: Dari Nol Ya! Quote:Di kamar kos yang minim fasilitas, aku duduk-duduk di kasur sambil baca buku paling menyedihkan di dunia; buku tabungan. Apa yang diceritakan di sana bikin aku menjerit, "YASALAA
Lapor Hansip
22-06-2019 01:42

Cerita Kepala Kedua: Misi Meralat Mimpi [20++]

Past Hot Thread
Quote:Buat orang-orang berumur dua puluhan yang mungkin lagi meragukan banyak kenyataan, tulisan ini aku persembahakan.


Cover

00: Dari Nol Ya!
Quote:
Di kamar kos yang minim fasilitas, aku duduk-duduk di kasur sambil baca buku paling menyedihkan di dunia; buku tabungan. Apa yang diceritakan di sana bikin aku menjerit, "YASALAAAM INI SALDO APA KODE POS?" Begitulah rasanya bangun tidur waktu hidup lagi tokai-tokainya. Dan itulah, satu dari sekian risiko mengejar passion dan mengikuti kata hati yang jarang diceritakan orang. Kata hati nggak pernah salah, cuma ya... sering juga bikin masalah.

Gimana caranya bayar kosan bulan depan?
Bakal cukup nggak ya buat makan?
Aing udah seperempat abad anjir masa gini-gini aja!


Aku mengangkat diri terus diam di depan lemari baju yang ada kacanya. Lumayan lama juga ya nggak melihat diri sendiri. Aku jadi pangling sama dia yang aku lihat di kaca. "Hei bro! Gagal lagi bro? Udah kerasa belum sakitnya? Hehe." Itu senyuman penuh ejekan, "kalem dulu, kalem."
Aku nunduk terus usap-usap wajah yang nggak seberapa indah, "capek juga ya ngejar-ngejar yang terbang." Keluhku.
"Kamu mah cuma denger kata orang sih, bermimpilah setinggi-tingginya. Giliran aing yang bilang kalau mau setinggi itu harus siap jatuh sesakit itu juga... nggak mau dengar." Suaranya meninggi.
"Maaf atuh anjir..." Balasku.
Demi mencari hiburan, aku membuka ponsel. Biasanya aku lihat-lihat Instagram. Aku suka Instagram, satu orang yang sama mukanya bisa beda-beda. Keren banget nggak sih...
Hari itu rasanya lain, nggak ada kesenangan kayak biasanya. Buka-buka dunia sosial maya bikin aku merasa semakin buruk. Aku berasumsi kalau semua orang punya hidup yang oke kecuali aku.
"Nggak gitu atuh anjir!" Dia bersuara agak keras. "Kamu nggak bisa megang kendali sama apa yang terjadi di luar sana. Kamu cuma bisa megang kendali sama apa yang di dalam situ." Dia menunjuk dadaku.
"Tapi..."
"Jangan lihat ke luar terus! Lihat ke dalam... ada aku."

***

Daripada tambah pusing, mending aku mandi aja. Terus ke luar cari udara segar yang sebenarnya nggak segar-segar amat. Mana ada udara segar di tengah kota Bandung yang lagi macet-macetnya. Di Lembang sana baru ada. Aku makan siang terus nongkrong di pinggir jalan Cihampelas. Banyak orang lalu lalang. Wajar, hari minggu waktunya orang-orang pada bersosialisasi. Jadi pada keluar rumah, biar kelihatan punya teman.

Duduk sendiri, mengamati orang-orang sekitar sini. Kalau diamati, rasa di wajahnya beda-beda. Aku jadi bertanya-tanya, mereka pada ngapain sih di sini? Pada bahagia nggak sih mereka itu? Lihat bapak-bapak tukang parkir itu? Iya, yang lagi ketawa lepas sama rekan sejawatnya. Mereka hore-hore di pinggir jalan, bukan tempat ngopi estetik.

Dia punya mimpi nggak sih? Coba samperin terus tanya baik-baik, "Jadi tukang parkir itu cita-cita Pak? Ini ngejar passion ya Pak?"
Nggak, kemungkinan dia cuma bertahan hidup aja dan terlihat baik-baik aja. Aku penasaran bagaimana cara dia memaknai hidup, ya? Aku mau tahu cara dia menambal segala kekurangan di hidupnya dan mengisi segala kekosongan di hatinya.
Dia nggak nongkrong di cafe kekinian.
Dia nggak sibuk mikirin gaya berpakaian.
Dia nggak peduli sama drama di dunia maya.
Di sini, dia bercanda sama teman-temannya. Menikmati yang seadanya, terus tertawa selepas-lepasnya. Keren ya, ringan dan menyenangkan. Lukanya tertutup rapi, tapi ketegarannya telanjang.

Pernyataan:
Aku yang lagi sejatuh ini masih punya banyak hal yang lebih baik dari dia.
Pertanyaan:
Apa itu berarti seharusnya aku punya banyak alasan buat lebih bahagia?

Aku penasaran bapak-bapak itu waktu masih muda mimpinya apa? Waktu remaja, aku punya mimpi mau bangun rumah sebelum umur 25. Sekarang udah lewat, "Udah 25 lebih kenapa belum punya rumah?"
"Hei!" Dia bersuara lagi, "itu harapan mulai berubah jadi tuntutan anjir! Jangan gitu!"
"Tapi..."
"Dengar!" Dia bersuara lebih keras, "kamu itu masih mampu bayar kos setiap bulan dan sama sekali nggak ada yang salah dengan itu. Emang belum ada rumah kayak yang kamu mimpikan, tapi... itu nggak apa-apa!"
"Nggak apa-apa ya?"
"Iyalah nggak apa-apa. Jangan sampai apa yang kamu harapkan bikin kamu benci sama apa yang jadi kenyataan."
"Emang aing seburuk itu ya? Sampai harus segagal ini?"
"Nggak buruk dan nggak gagal juga sih sebenarnya." Suaranya melunak, "yang bikin rasanya nggak enak itu karena kamu menggantungkan harapan dan kebahagiaan ke sesuatu di luar kendali."
"Masa sih?"
"Nggak sadar? Kan aing udah bilang berkali-kali anjir!" Suaranya meninggi lagi, "kamu berharap produk yang kamu jual laku keras karena kamu bakal bahagia karena itu. Padahal, semua itu di luar kendali kamu."
"..."
"Apa yang ada di dalam kendali? Segala hal yang kamu usahakan, sekecil-kecilnya. "
"...tapi nggak ada hasilnya." Aku menyimpulkan.
"Nggak apa-apa, nggak semuanya harus berhasil. Nggak semuanya harus menang, nggak semuanya harus sekarang. Seharusnya kamu cukup berharap jadi orang yang selalu mau berusaha apapun yang terjadi dan bahagia karena kamu mau menerima lelahnya."
"Iya, aku cuma agak malu. Aku pernah memimpikan sosok aku seindah-indahnya, ternyata aku belum seindah itu. Beda sama merek—"
"Hei." Dia menyanggah, "hidup itu bukan kompetisi, tapi dokumentasi. Semua yang indah nggak datang secepatnya, tapi setepatnya. Kamu mau orang yang cepat atau orang yang tepat?"
Hehe.
Aku agak senang menyadari itu. Kayak disiram air dingin pas cuaca lagi panas-panasnya.
"Aku nggak tahu harus ngapain lagi." Aku berterus terang.
"Kamu itu punya selalu punya tugas besar loh!"
"Apa?"
"Bikin kenangan."
"..."
"Hayu anjir bikin kenangan, biar nggak malu-maluin anak cucu."
"Oke hayu."

Matahari udah mau pamit, sebaiknya aku pulang ke kosan. Rasanya jadi agak ringan. Mungkin benar, ada yang salah. Ada yang belum baik dan harus diperbaiki. Aku mau menguasai dunia, tapi cukup duniaku aja. Bukan lagi dunia mereka, kegedean.
"Hei, terima kasih buat hari ini." Suara itu menenangkan, suara yang selama ini dengan sengaja aku abaikan. Suara kepala kedua yang aku yakin semua orang punya. "Besok coba lagi. Masih bisa jatuh dan bangkit lagi."
"..."
"Kalau hari ini belum jadi apa-apa, nggak apa-apa."

Baru mau tidur, ponsel bunyi. Ada chat dari seseorang.
'Aa apa kabar? emoticon-Smilie'
Anjir, pakai nanya kabar segala. Terus kalau aku bilang kabarku buruk dia mau apa?
'Kabarnya buruk, Neng. Keputusan yang aku anggap benar ternyata salah anjir. Kamu mau peluk aku nggak, Neng? Kayak dulu...'
Hapus... hapus... jangan gini balasnya!
'Baik, Neng.'
Bohong kecil gini nggak apa-apa kan? Semua orang pernah kan?
'Minggu depan aku ke Bandung ketemuan boleh nggak?'

Seandainya aku lagi punya sesuatu buat dibanggakan, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya aku udah jauh lebih baik dari kali terakhir kita ketemu, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya... ah nanti ajalah balasnya, tidur dulu aja.

Hei
Manusia,
Yang ada apa-apa
Yang bukan siapa-siapa
Yang belum ke mana-mana
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa.






Quote:
Halo Masgan dan Mbaksis sekalian
emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment emoticon-Embarrassment

Mau numpang nulis cerita di sini ya
Kalau boleh, tinggalin jejaknya ya
Biar saya kenal masnya dan mbaknya sebagai manusia bukan cuma data hehe

Selamat menikmati! Maaf versi yang kemarin direvisi, yang ini lebih enak dibaca soalnya.
Diubah oleh Kepalakedua
profile-picture
profile-picture
profile-picture
khoirul48 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 4
Cerita Kepala Kedua [20++]
22-06-2019 01:49
Ditunggu ceritanya bre , jangan lupa kentangnya ya emoticon-Big Grin
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Kepala Kedua [20++]
22-06-2019 10:57
mana ceritanya?? hahaha
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Cerita Kepala Kedua [20++]
22-06-2019 20:00
Quote:Original Posted By ombilista
mana ceritanya?? hahaha


Nanti agak malem masbro, biar kelihatan kayak abis malem mingguan...

Quote:Original Posted By doctorkelinci



Sama-sama akun 'kepala' harus saling rukun ya, gan. emoticon-Hammer













emoticon-Paw


Kita jalanin aja dulu ya emoticon-Embarrassment
0 0
0
Cerita Kepala Kedua [20++]
23-06-2019 02:13

01: Inovasi Dari Sini

01: Inovasi Dari Sini
Quote:Tahu bagian paling susah dari kegagalan? Menerimanya. Susah banget anjir aslinya! Mengakui kalau aku ini ternyata nggak sehebat itu. Tapi, itu hal pertama yang harus aku lakukan. Supaya aku bisa berbenah, cari tahu apa yang salah. Aku buka ponsel, buka instagram. Dengan berat hati, aku unfollow akun-akun yang nggak terlalu berguna. Terus aku follow akun-akun yang sekiranya bakal kasih sesuatu buat aku.

Waktu lagi rapi-rapi instagram, aku nggak sengaja lihat sebuah poster. Acara kumpul-kumpul yang bahas dunia digital. Aku belum pernah ikut acara kayak begitu sebelumnya. Paling cuma cari bahan secara online kalau mau tahu sesuatu.
"Udah coba ajalah, emang apa ruginya sih? Nggak mahal kok!"
"Malu anjir, nanti di sana aku nggak kenal siapa-siapa."
"YA MAKANYA KENALAN!"
Ah iya, apa yang harus ditakutkan?

***

Di sinilah aku berada, sebuah tempat kekinian daerah Dago. Waktu aku datang, udah lumayan ramai. Jadi, aku antri buat daftar ulang. Di depanku ada satu cewek yang kayaknya seumuran.
"Atas nama Mbak Payung, ya?" Ini nama samaran buat dia, orangnya agak cantik soalnya.
"Ini atas nama Mas Elegan?" Ini nama samaran buat aku, nggak ada alasan khusus.
Kami diminta langsung masuk ke tempat acara. Aku jalan samping-sampingan sama Mbak Payung.
"Kenalan euy, kenalan!"
Anjir! Okelah, aku akan melakukan sesuatu yang nggak pernah aku lakukan sebelumnya. Mumpung kami duduk sebelahan, aku memberanikan diri mengulurkan tangan.
"Saya Adit, Mbak."
"Oh, halo... gue Payung. Nggak usah formal gitu kali."
"Oke Payung!" Aku mengangguk.
Anjir, aku kenalan sama cewek! Sebuah prestasi! Ternyata nggak semenakutkan itu. Dulu aku selalu takut kenalan sama cewek. Makanya, meskipun sering ketemu cewek-cewek yang menarik... mereka tetap jadi orang asing.
"Lo sering ikut beginian?" Tanya dia, ya ampun suara merdu banget. Padahal, dia nggak nyanyi!
"Ini kali pertama sih."
"Sama."

Obrolan berhenti karena acara mau mulai. Setelah acara dibuka, narasumber pertama langsung naik. Mas-mas keren yang berjasa bikin hidup banyak orang jadi lebih mudah karena aplikasi yang dia bikin. Dia cerita soal inovasi. Dia juga menekankan betapa pentingnya sebuah perubahan supaya tahan menghadapi perkembangan jaman.

Di akhir sesi, dia membuka sebuah diskusi. Dia minta beberapa peserta yang ditunjuk buat bicara soal inovasi dan perubahan. Peserta pertama yang ditunjuk bilang kalau dia kalau dia lagi berusaha berinovasi dalam bidang pertanian karena Bapaknya petani. Peserta kedua bercerita kalau dia juga lagi berusaha berinovasi di bidang pendidikan. Dia mau bikin metode belajar yang menyenangkan buat anak-anak sekolah. Keduanya dapat tepuk tangan dan masukan.
"Coba Mas yang pakai kemeja abu-abu!" Kata narasumber.
Oh, itu aku
"Mas mau berinovasi dalam bidang apa, Mas?"
"Inovasi itu berarti melakukan sesuatu yang berbeda, demi sebuah perubahan, yang mengarah pada kebaikan. Gitu bukan sih mas?" Aku malah balik bertanya dulu.
"Ya, bisa diartikan seperti itu." Dia mengangguk sambil tersenyum bijak.
"Berinovasi ya..."
"Iya Mas."
Hening, seisi ruangan menunggu jawabanku.
"Saya mau berinovasi dalam bidang... bilang kangen."
Mendadak ruangan itu riuh oleh tawa, termasuk narasumbernya, dan mbak Payung yang duduk di sebelah.
"Kenapa Mas?" Dia bertanya sambil agak senyum-senyum menahan tawa.
"Ya, karena sebelumnya saya nggak berani bilang kangen. Saya kira inovasi harus dimulai dari sini, dari dalam diri sendiri. Jadi, ke depannya... kalau kangen saya akan bilang terus terang."
Ruangan itu riuh lagi, tepuk tangan dan tawa campur jadi satu.
"Terima kasih jawabannya, Mas." Dia kasih aku acungan jempol, entah apa artinya.

***

Acara selesai, ternyata seru juga. Kenapa sebelumnya aku males datang ke acara kayak begini ya? Aku dapat banyak kenalan baru, ilmu baru, dan... Payung baru, ehm. Apa yang spesial dari acaranya? Pulangnya, aku nggak langsung pulang. Aku melipir ke cafe dekat situ... sama Mbak Payung.
"Lo dari Jakarta sendirian?" Aku berbasa-basi waktu kami baru duduk dan baca menu, "biasanya cewek bergerombol!"
"Temen-temen gue udah jadi mamah muda semua." Dia jawab sambil baca-baca menu, "mereka bergerombol ke acara yang temanya ibu dan anak, gue nggak bisa ikutan."
Dia masih sibuk baca menu, tapi kerasa nggak sih? Kayak ada sakit-sakitnya. Nggak sengaja, aku lihat jari manisnya. Ada segaris putih bekas cincin. Tahu kan kalau lama pakai cincin suka ada bekasnya? Nah, itu.

Kami makan malam dengan sunyi. Selama itu aku berusaha mikirin topik obrolan. Bagaimanapun dia orang asing, nggak lucu juga kalau aku langsung melempar topik yang serius. Kami pesan kopi, ice americano buat dia dan aku... lupa namanya apa. Espresso pakai gula cair, terus dikasih perasan lemon. Enak, loh!
"Lo pernah nggak sih ngerasa optimis, punya keyakinan kalau jalan yang lagi lewatin sekarang bakal bawa lo menuju kebahagiaan yang lo mimpikan?" Dia bertanya sambil mengaduk kopinya sebelum menyesapnya.
"Lo abis batal nikah ya?"
"UHUK! UHUK!" Dia menyeka mulutnya pakai tisu, "anjrit lo kok langsung tembak gitu sih? Hahaha suka bener ya orangnya."
"Jari manis lo cerita cukup banyak."
Dia melirik jari manisnya sambil tersenyum... ah anjir, perih kalau ingat senyumnya yang ini. Asli kayak orang yang udah diserang abis-abisan sampai nggak bisa berbuat apa-apa... dan cuma bisa senyum pasrah.
"Cowok ini..." Dia masih menatap jari manisnya, "masa-masa paling indah di hidup gue itu masa-masa gue sama dia. Makanya gue rela kasih seluruh bagian terbaik diri gue buat dia."
"..." Aku nggak jawab, biar dia cerita dulu.
"...tapi luka paling dalam yang gue punya sekarang, luka dari dia."
"Kayaknya dari dulu ada bagian diri lo yang merasa kalau suatu saat, ada kemungkinan cowok itu bakal melukai lo... tapi lo nggak mau dengar."
"..."
"Gue juga sama, gue orang yang nggak mau dengar kemungkinan itu. Karena itu buruk dan gue nggak suka. Tapi sekarang, nggak lagi. Gue akan membiarkan kepala kedua gue bersuara."
Dia menatap aku sambil tersenyum, "kepala kedua? gue suka itu."
"Asal nyebut aja sih gue." Aku garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
"Gue suka sama jawaban lo soal inovasi."
"Sorry, gue emang sebodoh dan secemen itu."
"Hei, gue serius. Itu bukan sarkasme kali." Dia tersenyum jahil, "gue kayak dapat aha moment pas dengar jawaban lo. Lo udah sering berinovasi dong kalau gitu?"
"Nggak sering sih, akhir-akhir ini aja." Aku berterus terang, "mau gue kasih lihat sekarang?"
"Bisa? Gimana caranya?"
"Lo itu tipe gue banget, dan kenalan sama lo itu pencapaian baru buat gue."
"Wow."
Aku menatap lurus ke matanya. Perasaanku berantakan nggak karuan, ini terlalu di luar kebiasaan. Nggak apa-apa, aku harus mecobanya. Apa sih kemungkinan terburuknya? Disiram ice americano. Aku siap menerima itu kalau seandainya terjadi.
"Kalau yang tadi itu inovasi, emang sebelumnya kayak gimana?"
"Ya, mau chat aja gue bakal mikir ratusan kali. Satu pesan yang dia baca itu hasil revisi belasan kali. Kelamaan, ditikung deh akhirnya. Itu sering terjadi. Makanya mantan gue itu-itu aja, nggak nambah."
Dia tertawa renyah.
"Gue juga mau berinovasi ah sekarang." Katanya, terdengar antusias. "Kita tukeran kontak yuk?"
Wow, aku tertawa kecil, nggak nyangka diserang setelak itu. Cewek seindah dia mana mungkin pernah minta kontak duluan sama cowok. Aku percaya itu inovasi, dan dia harus menekan gengsi.
"Nggak mau ah." Aku menjawab tanpa ragu, "gue nggak mau kita cuma jadi sebatas teman biasa. Sekarang, gue belum siap buat hubungan yang lebih serius. Jadi, sebaiknya gue nggak memulai apa-apa dulu."
"Sial, pertama nyoba langsung ditolak!"
Kami tertawa berdua.
"Gue mau selesai dengan diri sendiri dulu" Aku menjelaskan apa adanya.
"Iya sih, luka gue juga belum kering semua." Balasnya, "nanti kalau kita ketemu lagi dengan keadaan yang jauh lebih baik dari hari ini..."
"Gue bakal cari lo, terus nyoba deketin lo sebaik-baiknya." Aku memotong ucapannya.
Dia tersenyum... indah. Itu adalah senejis senyuman yang merepotkan; Gampang diingat, susah dilupakan.

Waktu sampai di kosan, perasaanku jadi jauh lebih baik. Hari ini, aku berani keluar dari kebiasaan. Semua yang aku takutkan sebelumnya bisa aku lawan pelan-pelan. Rasanya... aneh, tapi menyenangkan. Sebelumnya aku nggak suka acara kayak gitu, ngapain? Kan bisa google kalau mau belajar. Ternyata sesuatu yang nggak aku sukai itu belum tentu buruk. Buat orang kenalan sama cewek mungkin terkesan biasa. Buat aku, nyamperin cewek terus kenalan itu... mengerikan. Perubahan kecil ini...
"Hei, sekecil-kecilnya... ada baiknya. Jangan menyepelekan diri sendiri gitu! Besok lagi, ya."
"Oke siap!"
"Ini kenangan yang bagus, ingat kan... setiap hari, kita harus bikin kenangan?"
Hehe.


Tantangan



Diubah oleh Kepalakedua
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Cerita Kepala Kedua [20++]
23-06-2019 21:15
Lama nggak nulis di kaskus, jadi agak kagok gini euy.
Butuh waktu buat otak-atik, tampilannya beda banget sama dulu hehe.
Mau berapapun yang baca, tritnya bakal tetep update kok emoticon-Big Grin
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
23-06-2019 21:18
Quote:Original Posted By doctorkelinci


Yup, you got the point. ^^

Hampir kebanyakan pembaca Kaskus lebih suka judul yang 'eksplisit' dan memberikan kesan 'first look' yang mantap, ketimbang isi cerita itu sendiri.

Example:

-Catatan Seorang Gigolo
-Pengalamanku Menjadi PSK
-Kisah Nyata Rumah Angker


Dengan iming-iming seperti itu, biasanya thread tersebut akan lebih ramai dikunjungi oleh para pembaca. Atau pendeknya 'penasaran' karena clik-bait yang diberikan. emoticon-siul

Yasud lah, tidak apa-apa. Kamu tetap pada sekenario yang akan kamu buat aja. Nggak usah ngikut-ngikutin arus. emoticon-Matahari



Suka sama quote ini, terasa goosebumps banget. emoticon-Malu

Lanjut ah, jangan sampai ada kentang goreng rasa patah hati. Karena mbak Payung sepertinya harus cepat-cepat mendapat sang pengganti. emoticon-Ngacir



emoticon-Paw


Nuhun pisan agan udah luangin waktu balas trit ini.
Siap gan the show must go on, tapi cerita mbak payung saya revisi dulu.
Ada bagian yang terlewat hehe.
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
24-06-2019 00:08

02: Pesan Dari Hujan

02: Pesan Dari Hujan
Quote:Jalan Jakarta, di Bandung, macetnya udah kayak Jakarta. Mungkin ini karena nama adalah doa. Coba namanya diganti jadi jalan kebenaran, pasti... banyak yang tersesat. Aku lewat sini hampir setiap hari, dan emang semacet ini setiap hari. Selain karena nggak ada jalan lain, kebetulan aku nggak bisa terbang. Tetes-tetes air mulai turun dari langit. Mantap, aku menepikan motor menuju warung yang ada di sekitar sana. Perasaanku mulai nggak karuan, kayak... jengkel gitu.

"Hei, ini di luar kendali! Jangan buang-buang energi!"
"MACET AJA NGGAK CUKUP GITU? DITAMBAH HUJAN LAGI!"
"Kalem, kalem, nggak ada yang harus disalahkan. Jengkelnya kamu nggak mengubah apa-apa."
Gerimis-gerimis lucu itu berubah jadi deras. Aku melihat para pengendara motor terburu-buru menepi. Ada yang cuma mau pakai jas hujan, ada yang memilih buat menunggu hujan agak reda.
"Lihat kan? Bukan kamu doang yang jengkel, orang lain juga sama."

Kayaknya bakal lama, jadi aku pesan kopi seduh sambil nunggu. Di depanku ada bapak-bapak yang lagi neduh juga. Dari pakaiannya, aku yakin dia baru pulang kerja. Muka lelahnya kelihatan jelas. Selain bapak-bapak itu, masih banyak orang lain. Mereka punya lelah yang sama, dan kita sama-sama nggak bisa apa-apa. Nggak ada yang bisa sulap terus bikin hujan tiba-tiba berhenti dan jalan kosong seketika. Hujan turun, nggak peduli disambut atau dimaki. Hujan tetap turun seolah nggak peduli manusia akan suka atau benci.

Ada ibu-ibu yang langsung teriak, "GUSTI CUCIANKU!!!"
Ada anak-anak remaja yang pandai cari peluang, mereka pulang bawa payung, terus berdiri di tempat-tempat ramai.
Ada petani yang berbahagia ladangnya dibasahi.

Hujan turun membasahi semuanya, tanpa kecuali. Dibenci atau disyukuri. Nggak seharusnya aku merasa jengkel buat sesuatu yang adanya di luar kendali kayak sore ini. Hujan mulai reda, macetnya masih sama. Jauh lebih parah dari sebelumnya, ditambah becek di mana-mana. Aku jadi satu dari sekian ratus pengendara motor yang sama-sama mau cepat sampai tujuan. Bunyi-bunyi klakson saling bersahutan, nggak ada yang berubah. Jempolku gatal mau ikut-ikutan.

"Nggak perlu, ini di luar kendali kamu."
Oke, aku tahan. Aku maju pelan-pelan sampai tiba aku belok melepaskan diri dari kemcetan. Kalau udah belok biasanya lancar-lancar aja kok, paling cuma becek karena habis hujan.

BYURRR...
Ada motor ngebut di jalan yang penuh genangan. Waktu kayak berhenti, ada keinginan kuat buat maki-maki. Biasanya, aku bakal langsung memaki, 'SI TOLOL! SING NABRAK!"
"Tahan, mungkin dia emang salah tapi maki-maki gitu nggak ada gunanya."
Iya, aku akan terkesan jahat kalau mengumpat. Bahkan meskipun dia benar-benar tolol. Aku nggak harus berteriak demi melampiaskan emosi semata. Itu anak orang! Mungkin di rumah dia disayang-sayang. Bisa jadi dia juga kepala keluarga.
Aku tetap teriak, tapi makiannya berubah. "HATI-HATI A! ORANG RUMAH NGGAK MAU AA MASUK KORAN!"
Dia pasti nggak dengar, tapi perasaanku jadi agak lega.
Aku sampai di kosan, basah kuyup. Terjebak macet kayak biasa. Lelahnya juga sama kayak biasa. Aku berdiri di depan kaca, wajahku lebih cerah dari biasanya. Perasaanku juga lebih baik dari biasanya.
"Terima kasih udah berusaha hari ini."

Aku bersih-bersih dengan hati ringan. Biasanya sih, aku bersih-besih dengan muka kusut. Terus aku nongkrong di balkon kamar, lihat-lihat langit yang cerah. Sambil cek ponsel kesayangan.
'Aa gimana besok loh aku ke Bandungnya, bisa ketemu nggak?'
Anjir dia pikir aku cowok apapun? Dia pikir aku rela kasih waktuku yang begitu berharga cuma buat ketemu dia? Dan kenapa dia pikir kalau dia layak dikasih waktu? Aku kan pernah kasih seluruh waktuku dulu... dianya nggak mau.
"Udah ketemu temuin aja."
"Ngapain anjir!"
"Katanya mau terus terang kalau kangen."
"Iya tapi kalau ada sakit-sakitnya gimana?"
"TEMUIN AJA DULU KENAPA SIH! KALAU SAKIT TELEN AJA! GAK USAH CEMEN!"
Cih, aku nggak mau jadi cowok cemen lagi. Baiklah, aku mau ketemu dia. Apapun yang terjadi nantinya.
'Hayu sok, mumpung besok Sabtu.'
'Asyik! Aku kangen Aa udah lama nggak ketemu hehe.'
'Waktu aku jatuh cinta sama kamu, kamu jadi segala yang selamanya. Kamu jadi bagian terbaik dari seburuk-buruknya hidupku. Ada bagian diriku yang bilang kalau kamu juga yang akan melukaiku paling dalam. Aku menolak percaya, gagasan itu terasa nggak masuk akal.
...tapi itulah yang terjadi.
Aku sepenuhnya buat kamu, dan kamu... cuma seadanya.'

HAPUS ANJIR HAPUS! JANGAN JADI CURHAT GINI!
'Ok.'
Kirim.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Cerita Kepala Kedua [20++]
24-06-2019 10:14
Cerita nya oke tapi kentangnya jgn kelamaan ya gan emoticon-Shakehand2 emoticon-Request
profile-picture
profile-picture
kers88 dan Kepalakedua memberi reputasi
2 0
2
Cerita Kepala Kedua [20++]
24-06-2019 15:45
Quote:Original Posted By firman0723
Cerita nya oke tapi kentangnya jgn kelamaan ya gan emoticon-Shakehand2 emoticon-Request


Nuhun, agan.
Siap... nanti malem update lagi kok.
profile-picture
firman0723 memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
25-06-2019 15:18
Ijin baca karena keliatannya menarik ceritanya...lain gaya bahasanya
profile-picture
Kepalakedua memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
25-06-2019 19:56

03: Mimpiku yang Ada Kamunya

Quote:Sekali lagi, aku kasih waktu aku buat kamu. Di sini, di tempat kesukaan kamu. Dulu kita sering ke sini, padahal aku nggak suka-suka amat. Aku cuma suka bagian kita berduaan di sini. Sekarang, kamu datang lagi. Minta ketemu di sini lagi. Kamu ingat waktu kamu minta aku ajak ke sini?
"Aa pengen ke bukit bintang ih."
"Mau ngapain ke sana? Tiris anjir aslina."
"Aku belum pernah."
"Aku mah udah dan tiris banget."
"Atuh masa aku sendiri?"
"Ya nggak usah kan nggak apa-apa. Nggak bakal ditanya ini kalau UAS."
"Ih Aa mah, gak tahu ah mau nangis aja aku mah."
Oke, kamu sudah merajuk seperti itu. Artinya, keinginan akan segera terkabulkan. Bahkan meskipun aku tahu kalau di sana itu sangat tiris. Aku nggak tahu kenapa kamu nggak pakai jaket, dan aku juga nggak tahu kenapa aku kasih jaket yang aku pakai buat kamu. Di sana, kamu cerita soal kamu yang perfeksionis banget itu.
Kamu cerita soal tugas kelompok dan kamu dapat kelompok yang berisi orang-orang payah. Kamu sebal karena mereka terkesan asal-asalan kalau ngerjain tugas. Kamu nggak bisa, karena kamu mau tugas apapun yang kamu kerjakan harus sempurna. Kamu nggak mau ada kesalahan sekecil apapun, karena buat kamu kesalahan sekecil itu cukup buat ngerusak semuanya.
"Kayak kata pepatah, karena cupang setitik rusak susu sebelanga."
"Aa..."
"Ya?"
"ITU NILA AA! KENAPA JADI CUPANG!"
"YAUDAH ATUH KAN SAMA-SAMA IKAN!"
"AA MAH PORNO IH ANJIR! MENTANG-MENTANG ADA SUSU INGETNYA SAMA CUPANG! HAHAHA!"
Kamu ketawa sampai keluar airmata. Orang-orang mungkin ngiranya aku bikin kamu nangis. Apalagi yang kita bahas adalah susu dan cupang. Padahal, ini bukan soal gairah, cuma pepatah. Kami beda sama mereka. Kami pasangan intelek dan filosofis, bahasnya pepatah.
Itu salah satu keputusan yang aku sesali, karena kamu sering minta ke sana lagi.
"Ke bukit bintang, A!"
"Kamu kenapa sih suka banget ke sana? Lagian itu bukan bintang, tapi bohlam!"
"Ya aku suka liat lampu-lampu itu."
Selera kamu payah anjir, manusia macam apa yang suka liatin lampu? Di kosan juga ada kalau cuma lampu. Dan aku nggak tahu kenapa kamu sukanya pakai baju tipis kalau ke sana. Jadi, aku yang kudu bawa jaket dua. Kamu bloon ih anjir aslinya. Minta pergi ke tempat yang tiris tapi nggak pernah bawa jaket tebel. Percuma IPK kamu bagus kalau hidupnya nggak efisien.

Oh, maaf. Ini kepala aku mikir sendiri. Semua orang gitu, nggak bisa atur mau mikirin apa. Jadi, ini aku bukan sengaja mikirin kamu. Kalau aku bisa atur, aku nggak akan pernah mau mikirin kamu lagi.
Ya, kamu datang, senyumnya masih sama.
Senyum yang selalu bisa bikin aku baik-baik aja.
Nggak banyak yang berubah dari kamu selain terlihat lebih dewasa... dan lebih baik. Punya karir yang cemerlang, pergaulan yang luas, dan kisah asmara yang kayaknya lebih menjanjikan. Aku tahu kamu selalu visioner, karena itulah kamu milih buat nggak bareng sama aku lagi. Hehe.

"Ini..." dia menyodorkan sebuah brosur yang langsung bikin aku berburuk sangka... INI PASTI MAU NAWARIN MLM! MANTAN SIALAN! UDAH NYAKITIN SEKARANG NGEREPOTIN!
...
...
...
Eh bukan brosur, undangan pernikahan anjir ternyata.
"Aa mau datang kan ke nikahan aku?"
"Nggak ah, kamu kan tahu aku paling malas datang ke pernikahan." Kamu agak merengut tapi langsung memaklumi. 'Aku datangnya nanti aja kalau kamu cerai.' Aku melanjutkan, di dalam hati.
Aku nggak tahu ya, kenapa kamu merasa harus undang aku. Kenapa juga kamu berpikiran kalau aku bakal datang. Kita memang pernah pacaran, tapi kita nggak pernah berteman. Aku bukan orang yang harus dikasih undangan pernikahan sama kamu. Kita pernah punya hubungan apa-apa, tapi sekarang nggak lagi. Kamu pikir aku mau berteman sama kamu? Ih, nggak ya...
Sempat-sempatnya kamu nunjukin calon suami kamu ke aku. Dikiranya itu informasi penting gitu? Yaelah, paling juga mas-mas yang suka masukin struk belanja ke kotak amal depan mini market. Geuleuh anjir ternyata calon suaminya. Tapi dia cinta, nggak apa-apalah. Dia mah emang sukanya cowok yang geuleuh. Makanya dia pernah suka aku. Suka banget-banget malah, tapi dulu.
"Kapan nyusul? Jangan kelamaan jadi bujangan loh!" Katamu, sebelum pamit pulang.
Aku nggak mau menikah secepatnya, tapi setepatnya.
Rasanya agak lucu ya. Dulu aku pernah punya mimpi yang ada kamunya. Sekarang, aku sudah bangun. Aku mau punya mimpi lagi, tapi kamunya bukan kamu lagi.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Kepala Kedua [20++]
25-06-2019 20:00
Quote:Original Posted By Qeyfa
Ijin baca karena keliatannya menarik ceritanya...lain gaya bahasanya


Silakan, Teteh. Makasih udah luangin waktu buat baca tulisan ini.
Selamat menikmati emoticon-rose
profile-picture
kers88 memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
25-06-2019 21:43
gile mantep bgt ceritanya bray. nenda dimarih
profile-picture
Kepalakedua memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
26-06-2019 06:00
Quote:Original Posted By slarkkk
gile mantep bgt ceritanya bray. nenda dimarih


Mangga Gan, semoga betah yes emoticon-Embarrassment
0 0
0
Cerita Kepala Kedua [20++]
26-06-2019 10:10
ini trit terbaik dari ratusan trit yg ada di sfth, kata2nya cerdas bet, nyeni, puitis
ada satu trit cerita di mari yg kata2 nya sepuitis trit ini, cuma masih di bawah ini, trit nya om pujangga

gan ts seriusan lo bener2 berbakat, gak pantes cerita ini ada disini, ini lebih pantas langsung di bikin buku gan
seriusan...
Diubah oleh sudarmadji-oye
profile-picture
profile-picture
lianalivy dan Kepalakedua memberi reputasi
2 0
2
Cerita Kepala Kedua [20++]
26-06-2019 10:28
wah mantap bray ceritanya,kata2 nya bagus cuy
profile-picture
Kepalakedua memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
26-06-2019 10:44
izin nenda gan, cerita nya asik tpi kadang masih ribet pahamin dialog antara ente dan si kepala dua kwkwkw. lanjut terus gaan
profile-picture
Kepalakedua memberi reputasi
1 0
1
Cerita Kepala Kedua [20++]
26-06-2019 12:01
ninggalin jejak dulu lah... cerita nya santai tapi ngena banget gan... ane suka kata2 terakhir yang lu sisipin di akhir2 nya gan...keren keren ayoo lanjut gannnn... kentang nie wkwkwkwkwk emoticon-Wakaka
profile-picture
Kepalakedua memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sang-pemburu
Stories from the Heart
my-heart-always-belongs-to-you
Stories from the Heart
misteri-kepergian-rio
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
sang-pelahap-sukma
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia