alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma
Lapor Hansip
09-05-2019 19:02
[Prekuel] Sebelum Karma
Past Hot Thread
[Prekuel] Sebelum Karma


Quote:
Prolog


Pada suatu waktu, gue pernah bertanya pada diri gue sendiri; Bagaimana kelak keadaan disekitar gue ketika gue pergi? Ketika gue gak lagi bisa mengusahakan untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin udah terlanjur terjadi. Ketika kesalahan gue adalah satu-satunya kenangan yang sempat gue tinggalkan. Ketika gue gak lagi bisa membuka pintu yang telah gue tutup dengan membantingnya berulang kali.

Gue selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi dalam dunia yang kita tempati saat ini adalah sejalan dengan apa yang telah Dia tuliskan dalam buku 'skenario' -Nya.Tapi, sebagian kecil dalam hati gue berusaha mempertanyakan; Apakah segala kesalahan yang Lo, Gue dan Kita lakukan juga masih bagian dalam 'skenario' itu? Gue rasa gue bukan orang yang punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin akan menyulut sebuah perdebatan; bukan dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri. Soal layak atau tidaknya  Gue memperjuangkan kembali jalan yang telah jauh gue lalui. Soal sanggup atau tidaknya gue untuk terus melangkah dengan kepala tegap meski sesal yang berbalut benci masih tertanam di dasar hati.

Karna pada akhirnya, setiap langkah yang gue ambil selalu membawa gue pada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Pada cerita-cerita yang mungkin bisa saja terjadi, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Pada kejadian-kejadian yang kelak menjadi gumpalan kenangan, atau malah menjadi penyesalan yang sama sekali gak berarti. Atau pada kenyataan yang akhirnya harus gue hadapi –mungkin dengan meratapi, atau justru malah mensyukuri.

Dan gue tau, sebelum gue berada di titik dimana gue sangat amat bersyukur dengan segala yang gue terima dan miliki saat ini, Gue pernah terkapar di suatu malam meratapi apa yang telah gue lewatkan. Gue pernah menyesal sejadinya atas kesalahan yang telah gue lakukan. Gue pernah memaki dan mengutuk kebodohan yang dengan mudahnya gue lakukan untuk menangisinya kemudian. Hingga bagi gue, gak ada satu rangkai kata pun dapat gue tulis tanpa mengecap manis dan pahitnya jalan yang pernah gue tapaki langkah demi langkah, untuk menjadi seorang Bagus Mahendra seperti saat ini.


*****


“Itu lagu siapa deh? Kayanya gue pernah denger.” Tanya  dia setelah gue menyelesaikan lagu yang baru saja gue nyanyikan.

Gue meletakkan gitar bersandar di pinggiran tembok balkon yang tengah gue duduki, dan hanya menjawabnya dengan senyuman. Sengaja membuat dia penasaran. Karna anak ini kalo udah penasaran bakal setengah mati berusaha untuk mencari tahu.

“iish. Lagu siapa Gus?! Jangan resek aah. Gue beneran lupa. Liriknya juga tadi agak kurang jelas gue dengernya. Tapi gueyakin gue kenal nadanya.” Ucapnya dengan gemas sambil bangun dari kasurnya dan menghampiri gue.

Dia lalu menaiki tembok balkon depan kamarnya dan duduk disamping gue, kemudian menarik-narik rambut gue dengan sedikit kesal. Gue hanya tertawa meladeninya. Hingga akhirnya tarikannya terasa semakin sakit karna dia mulai beneran kesel.

“Iyaa.. Iyaa. Ampun. Lepas dulu.” Ucap gue menyerah karna dia semakin benar-benar keras menarik rambut gue.

“The second you sleep –nya Saybia.” Sambung gue cepat sambil mengusap-usap kepala yang kini beneran berasa sakit di kulitnya.

Dia yang gak merasa bersalah setelah menyiksa gue kemudian kembali berjalan kedalam kamarnya dan setengah melompat ke atas kasur lalu mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu yang gue duga dia lagi nyari lirik lagu yang tadi guesebut judulnya.

You close your eyes, and leave me naked by your side. You close the door so I can’t see, the love you keep inside, the love you keep for me..” Gue mengambil dan memetik gitar dengan perlahan sambil menyenandungkan lirik awal lagu yang tadi udah gue nyanyikan.

Dia mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk memperhatikan handphone ditangannya. Kedua bola matanya menatap tepat ke dalam mata gue. Bola mata yang dulu selalu gue puja warna dan keindahannya. Bola mata yang kemudian sempat gue benci setiap kali terbayang dengan mudahnya didalam kepala gue.

I stay to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. It gives me time to stay, to watch you fade away. I dream of you tonight. Tomorrow you`ll be gone. I wish by god you`d stay..”

Dia bersenandung pelan dengan irama yang sedikit berantakan. Meski sama sekali gak mengurangi keindahan senandungnya. Sebuah senandung yang entah bagaimana caranya membuat gue gak mampu mengalihkan pandangan dari wajahnya. Membuat gue mungkin harus berulang kali mengeja namanya untuk dapat sejenak menepikan nama wanita yang saat ini telah berhasil mengobati rasa kecewa saat gue dulu merasa di sia-siakan. Meski membutuhkan waktu cukup lama sejak dia memutuskan untuk mengikuti emosi sesaatnya kala itu.

Gue melihat jelas genangan air disudut matanya yang tengah ia pertahankan untuk gak menetes kepipinya.

I wish by god you`ll stay..”

Ia mengucapkannya sekali lagi dengan suara yang kini bergetar. Dan tetesan air yang akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Yang kemudian menyelimuti gue dalam sesaknya rasa sesal yang sempat mengucapkan bahwa gue gak akan pernah menetap disana. Di dalam hatinya yang juga basah meski tak terkena tumpahan air mata.





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjang.kaki dan 22 lainnya memberi reputasi
-15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 16
04-10-2019 18:57
Ijin nenda gan, gak bisa ngebut kayak baca "Karma" nih keliatanya emoticon-Peace
0
27-09-2019 18:08
Lama2! kok belum update juga nih
0
19-09-2019 12:25
Hmm mana nih si Bagus gak update lama bngt emoticon-No Hope
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
12-09-2019 17:58
Quote:Original Posted By ucln
Coba mention yang punya cerita gan. Ane aja udah lama ga kontakan sama orangnya emoticon-Big Grin


coba ntar mlm bakar menyan bor... kali aja tiba² muncul.. emoticon-Big Grin
0
12-09-2019 16:07
Quote:Original Posted By cakrawala.senja
lah kok belum update pagi mas?


Coba mention yang punya cerita gan. Ane aja udah lama ga kontakan sama orangnya emoticon-Big Grin
0
12-09-2019 11:53
lah kok belum update pagi mas?
0
30-08-2019 15:35
hahaha iseng juga si nia...kapokmu kapan
0
29-08-2019 12:27
niatnya bantuin, malah hampir tnggelam sndiri tuh si bags..

keknya bakalan ada ehem ehem nih..
emoticon-Leh Uga
0
22-08-2019 22:43
Yuhu pendekar slebor sang entut apdet. Om bags kesambet jin pantai tuh kek nya. emoticon-Leh Uga
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
22-08-2019 22:34
Part #28


Gue ga tau apa yang gue pikirkan saat melompat dari perahu untuk menghampiri Nia yang terpeleset dan tercebur kedalam laut. Karna gue sendiri sebenernya ga begitu bisa berenang. Apalagi tanpa bantuan baju pelampung yang belum sempat gue pakai. Namun karna panik dan merasa khawatir Nia tenggelam, gue ga berpikir panjang dan langsung melompat dari perahu.

Gue berenang lumayan jauh hingga gue melihat tangan Nia berusaha menggapai permukaan air. Gue agak menenggelamkan badan dan melihat dari bawah air ternyata baju pelampung yang Nia gunakan belum dikaitkan seluruhnya, hingga pembuat badannya tenggelam sebagian. Tambah lagi mungkin Nia juga panik hingga dia hanya bisa berusaha semampunya untuk menggapai permukaan meski badannya terus tertarik tenggelam kebawah air.

Gue berusaha mengaitkan pengait baju pelampung dari bawah air, tapi karna napas gue mulai habis dan Nia juga ga berhenti bergerak karna panik, membuat gue kesulitan untuk mengaitkannya. Saat gue dan Nia malah semakin tenggelam, gue berusaha untuk asal mengikat pengait tersebut ke bagian baju pelampung. Setelah terikat, badan Nia tertarik ke permukaan sementara gue malah makin tenggelam dengan sisa-sisa napas yang semakin mencekik paru-paru gue.

Gue tetap berusaha ga panik dan mendorong badan ke permukaan, sampai akhirnya gue meraih sebuah tangan di permukaan yang kemudian menarik badan gue hingga gue bisa segera menaikkan kepala gue dan menarik napas. Ternyata Tibo yang menarik tangan gue, dia kemudian mendorong gue menuju perahunya untuk berpegangan. Gue berhasil memegang perahu dan menghirup banyak udara sambil berkali-kali batuk karna menelan air laut. Setelah berhasil menguasai diri, gue melihat sekeliling mencari keberadaan Nia. Ternyata Nia masih sedang berenang perlahan menuju perahu sambil dibantu oleh Tibo yang berada disampingnya.

Dwi dari atas perahu memberikan tangannya menawarkan untuk menarik gue jika gue ingin naik. Gue menolaknya dan berusaha naik ke atas perahu dengan memanjatnya sendiri, kemudian beralih ke sisi seberang perahu untuk menarik Nia ke atas perahu.

Menurut gue, kejadian tadi seharusnya bisa saja membuat gue dan atau Nia mati tenggelam. Tapi sepertinya hal itu hanya lelucon bagi Nia. Dia naik keatas perahu dan cengengesan melihat ke arah gue. Dia ga menanyakan apakah gue baik-baik saja, atau hal-hal basa basi yang setidaknya membuat gue merasa lega bahwa kejadian tadi ga membuat kami luka atau cidera. Nia hanya tetap cengengesan sambil kini mengacak-acak rambut gue.

“Lo ngetawain apa? Ada yang lucu?” tanya gue ke Nia sambil menyingkirkan tangannya dari kepala gue.

“Apaan sih Gus. Kok malah marah-marah.” Ucap Nia dengan wajah memelas dan melepaskan pelampungnya.

“Ya lo pikir barusan kita ga hampir mampus tenggelem, hah? Malah ketawa-ketawa lagi lo kaya ada yang lucu aja.”

“Ya aku kan kepeleset.”

Dwi langsung menarik gue dan mengajak gue kembali duduk di bagian belakang kapal bersama Tibo. Nia duduk di tengah kapal dan ga lagi mencoba duduk di pinggir sisi kapal, sambil membuka ikatan yang tadi gue ikat dengan kencang di baju pelampungnya.

Gue yang harusnya bersyukur dan berterima kasih atas bantuan Tibo sampai lupa mengucapkan terima kasih karna saking kesalnya gue melihat Nia yang tadi malah cengengesan. Gue duduk disamping Tibo dan menyulut sebatang rokok.

“Tapi tadi emang lucu sih Gus. Gue aja tadi pengen ketawa.” Ucap Tibo sambil turut membakar rokok.

“Apaan yang lucu?”

“Ya Lo lagu-laguan maen lompat aja. Kaya nonton pilem baywatch gue tadi. Eh kagak taunya malah lo yang tenggelem.” Jawab Tibo sambil tertawa.

“Ya kalo gue ga lompat, anak orang mati tadi.”

“Kan dia pake pelampung. Pas gue samper tadi dia udah ngambang kok.”

“Kagak Bo, itu tadi dia ga dipasang kancing pelampungnya kayanya. Gue liat pas Bagus lompat itu tadi Nia emang tenggelem.” Potong Dwi.

“Masa sih? Tapi pas gue samper dia udah ngambang kepasang pelampung.”

“Itu lo kagak liat dia kesusahan lepas iketan talinya? Itu gue sempet iket tadi dibawah makanya dia langsung ngapung ketarik sama pelampungnya.” Jawab gue sambil mengarahkan pandangan ke Nia yang masih berusaha melepaskan ikatan baju pelampungnya.

“Ooh. Oke oke. Udah cocok kalo gitu lo jadi baywatch. Asal kagak pake tenggelem aja pas bantuin orang mau tenggelem.” Ucap Tibo sambil tertawa.

*****


Kami kembali ke pulau tempat kami memasang tenda lebih awal. Karna saat snorkeling tadi Dwi merasa ga seru karna gue dan Nia sama-sama ga mau nyebur ke laut. Gue emang ga begitu suka berenang atau snorkeling di laut dalam makanya gue ga mau ikut nyebur. Tapi kalo Nia sepertinya ga mau ikut nyebur karna lantaran ia kesal tadi atas omelan gue dengan nada yang sedikit membentaknya. Tibo juga tentu saja hanya berada diatas perahu bersama gue dan Nia. Menjadi penengah antara gue dan Nia, sekaligus memantau jika salah satu dari temen-temen gue ada yang berenang terlalu jauh dari perahu.

Saat kembali ke pulau. Nia, Sarah, dan Mei langsung menuju ke kamar mandi umum yang ga jauh dari tenda kami. Sedangkan gue, Dwi, dan Joe menunggu giliran gantian dari cewek-cewek itu. Tibo memilih ke rumah warga yang juga temannya untuk mengganti pakaiannya disana, lalu kembali dengan membawa ikan hasil tangkapan jaring perahunya tadi, untuk dibersihkan dan dibakar bersama kami.

“Ini kalian pada camping bawa minuman ga?” Tanya Tibo ke Dwi dan gue.

Gue yang emang ga biasa minum-minuman tentu saja menjawab dengan gelengan kepala.

“Kalo beli disini ada yang jual ga Bo?” Tanya Dwi.

“Ada itu di warung, tapi pasti lebih mahal dari harga lo biasa beli.”

“Aah, gapapa lah. Ayok kita beli. Lo mau ga Gus?”

“Mau apa?” Tiba-tiba Nia menyahut dan bertanya balik ke Dwi.

“Minuman? Emang kamu mau minum-minum?” tanya Nia kini ke Gue.

Gue yang masih merasa kesal malah tambah makin kesal dengan nada bicara Nia yang sok ngatur-ngatur gue. Namun karna emang gue ga suka dan ga biasa minum, gue pun ga menjawab pertanyaan Nia maupun Dwi. Dwi pun hanya tertawa bersama Tibo sambil kemudian berjalan ke warung untuk membeli entah minuman apa.

Setelah gue mandi dan berganti pakaian. Gue membantu Tibo menyalakan api ditumpukkan kayu yang telah kami susun. Dwi dan Joe menyalakan api juga di sisi lain yang telah gue buat sebagai tungku untuk kami memasak. Karna gue, Dwi, dan Joe sudah membawa perbekalan untuk masak dan makan. Dwi membawa satu set nesting yang ada panci serta penggorengan kecil, Joe membawa piring dan sendok plastik, sedangkan gue membawa mie instant, minyak goreng, beras, dan beberapa bahan makanan lain.

Setelah api di tungku sudah menyala, para cewek megambil alih untuk memasak sedangkan gue duduk di depan tenda bersama Joe dan Dwi. Tibo membantu membakar ikan yang tadi dia dapatkan.

Entah kenapa, gue masih merasa kesal atas tingkah Nia tadi. Namun sepertinya Nia sudah tidak lagi merasa kesal atas omelan gue yang tadi sedikit membentaknya. Sesekali dia menghampiri gue setelah ‘mencuri’ hasil ikan yang sudah dibakar oleh Tibo dan menawarkannya pada gue. Gue yang ga mungkin mengabaikannya pun hanya menerimanya sambil ikut mentertawai Tibo yang kesal karna ikannya dicuri.

“Udah Gus. Jangan dipikirin yang tadi di perahu. Toh yang penting semuanya kagak kenapa-kenapa.” Ucap Dwi saat Nia kembali ke depan tungku untuk lanjut menyiapkan makanan.

“Iya. Gue cuman kesel aja tadi. Tapi untung lah kagak ada yang kenapa-kenapa.” Ucap gue sambil bangun dari duduk dan menuju ke tenda barang untuk mengambil gitarnya Nia.

“Eeeh, tunggu, tunggu. Mau ngapain?” Ucap Nia saat gue menenteng gitarnya untuk dimainkan bersama Dwi dan Joe.

“Mau main gitar. Kenapa emang?”

“Izin dulu dong sama yang punya. Main ambil aja. Sini aku dulu yang mainin.” Ucap Nia sambil mengambil gitarnya.

“Halah, emang lo udah bisa maininnya?”

“Ga lancar sih, tapi sini duduk dulu dengerin.”

Gue duduk kembali disamping Dwi sementara Nia duduk berhadapan dengan gue sambil mempersiapkan posisi untuk memainkan gitarnya.

“Ehem.. dengerin ya..” Ucap Nia

Nia mulai memainkan gitarnya. Memang sangat belum lancar. Membutuhkan jeda beberapa detik untuk ia berpindah dari satu kunci ke kunci lainnya. Namun entah kenapa, hal itu sama sekali tidak mengurangi keindahan lagu yang ia bawakan dan nyanyikan dengan begitu sungguh-sungguh. Sebuah lagu yang ada dalam cd kompilasi lagu The Used yang pernah gue berikan padanya.

The singer finnished singing and he’s walking out
The singer sheds a tear fear of falling out..
And it’s hard to say how i feel today
For years gone by
And i cry..



Nia hanya menyanyikan sepenggal dari keseluruhan lagu Hard to say nya The Used. Salah satu lagu yang amat sangat gue kagumi dari band itu. Nia memang ga memainkannya dengan baik dan lancar. Namun lagu itu, setiap nada yang ia nyanyikan, mampu masuk dan menusuk-nusuk dinding hati gue yang dipenuhi dengan senyumnya sendiri. Seakan ia ga ingin keluar dari sana. Ga ingin tergantikan dan dirindukan.

“Maaf ya Gus, soal tadi, atau soal semua kelakuan aku yang udah pernah bikin kamu marah. Dan maaf lagunya Cuma segitu karna belum bisa mainin sampe habis.” Ucap Nia setelah merasa selesai memainkan lagu yang ingin ia mainkan.

Mata gue serasa ga ingin untuk memindahkan tatapan dari seoarang perempuan yang tengah memeluk gitarnya didepan gue. Entah seberentakan apa wajah gue saat ini, gue tetap merasa ga mampu untuk mengatakan apapun. Bahkan ketika Dwi menepuk pundak gue dan meledek dengan kata-kata yang ga bisa gue denger dengan jelas hingga dia dan Joe menjauh dari gue dan Nia. Gue masih tetap terpaku, menatap senyum yang sama sekali tidak semu. Senyum yang selalu gue bawa kemanapun tanpa ragu. Senyum yang membuat gue rela jatuh cinta berulang kali meski hanya pada satu nama.



Diubah oleh ucln
profile-picture
profile-picture
profile-picture
medi.guevera dan 2 lainnya memberi reputasi
3
22-08-2019 22:05
nyari cerita yg beginian dimana ya gan,ane newbie baru netas nihh
profile-picture
theowl01 memberi reputasi
-1
22-08-2019 15:00
Quote:Original Posted By dexarbuana
Om slebor @ucln , draft dari om bags belom mendarat kah?


Masih puny stok 1 part sih sebenernya, tapi blom datang lanjutannya.
0
22-08-2019 11:06
Om slebor @ucln , draft dari om bags belom mendarat kah?
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
22-08-2019 10:12
masih newbie njirr
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
22-08-2019 07:07
Quote:Original Posted By ucln
M U L U S T R A S I


Astrid dong emoticon-Leh Uga
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
21-08-2019 08:45
Quote:Original Posted By ucln
Nungguin yang punya kisah om, masih sibuk nyari janda kayaknya

emoticon-Leh Uga


Janda itu jgn dicari om. Tp di ciptakan hehe
profile-picture
ucln memberi reputasi
1
21-08-2019 08:37
Quote:Original Posted By tom122
Enthu ga update nih ? Hehe


Nungguin yang punya kisah om, masih sibuk nyari janda kayaknya

emoticon-Leh Uga
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
20-08-2019 23:21
Quote:Original Posted By ucln
Ga ngaruh sih kalo cuman ht di channel


Enthu ga update nih ? Hehe
0
Halaman 1 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
halte
Stories from the Heart
santri-be-happy
Stories from the Heart
sepenggal-kisah-tentang-menuk
Stories from the Heart
sampai-bila-kau-menjauhi-ku
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.