Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
32
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd23c909775134b8d12dc9a/senja-di-asakusa-tokyo
Indonesia tahun 2008, sekitar bulan Mei kami bertemu. Sebut saja namanya Yukata, cowok Jepang yang kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan temannya sekaligus melakukan penelitan untuk tugas akhirnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Keio, Jepang. Cuaca Jakarta sedang panas-panasnya siang itu sehingga aku malas keluar rumah. Aku sedang berada di rumah menonton televisi saat h
Lapor Hansip
08-05-2019 09:18

Senja di Asakusa, Tokyo

Past Hot Thread
Sore itu aku terburu-buru mengepak semua barangku ke dalam koper. Telponku pun terus berdering, teman-temanku terus mengingatkanku untuk segera berangkat ke bandara Soekarno-Hatta agar tidak terjebak macet sore itu. Aku bersikeras untuk ke salon dulu blow rambut!! Aku benar-benar sangat bahagia pada saat itu.

Aku berangkat ke Jepang di awal bulan Mei 2015. Sayang sekali saat aku tiba di sana, bunga sakura sudah tidak ada lagi. Tetapi aku masih bisa menikmati berbagai jenis bunga yang bermekaran dan udara yang sudah sejuk, tidak begitu dingin. Pas sekali dengan suasana hatiku yang seperti bunga sedang mekar-mekarnya. Aku begitu bahagia bahwa aku akan bertemu dengannya, pria yang ku kenal 8 tahun lalu.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Indonesia tahun 2008, sekitar bulan Mei kami bertemu. Sebut saja namanya Yukata, cowok Jepang yang kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan temannya sekaligus melakukan penelitan untuk tugas akhirnya sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Keio, Jepang.

Cuaca Jakarta sedang panas-panasnya siang itu sehingga aku malas keluar rumah. Aku sedang berada di rumah menonton televisi saat handphoneku berdering.


Quote:drrrrrttt....drrrrtttt....drrrtttt...
(Handphone motorolaku bergetar)

Ya halo...
(
saat ku lihat nama di layar handphoneku dari Zacky temanku yang baru saja kembali dari Amerika mengikuti pertukaran pelajar)

hey kamu lagi di mana? Rika mau minta tolong katanya, aku kasih nomormu ke dia ya biar ngobrol langsung?, jawab Zacky dengan rentetan kalimat panjang seolah tidak memberiku kesempatan menjawab pertanyaan pertamanya!!

Rika adalah teman yang dikenalnya saat mengikuti pertukaran pelajar. Mereka menjadi sangat dekat yang sempat membuatku merasa kehilangan teman...hahaha. Tapi Zacky memang teman yang baik, Ia justru mengenalkan kami, sehingga aku pun menjadi akrab dengan Rika.

Ah, okay deh!!!, jawabku.



Lima belas menit kemudian handphoneku kembali berdering, kali ini dari nomor yang tidak dikenal.

Quote:drrrtttt....drrrtt...drrtt
Halo...,
kataku menyapa

Hai, Laras, ini gue Rika, lagi sibuk gak?, tanya Rika. 

Oh, gak kok, lagi nonton aja di rumah. Gmana Rik? Tadi Zacky bilang kamu butuh bantuan,
tanyaku penasaran.

Zacky gak bilang apa-apa ya? Nih aku ada teman namanya Ayumi, anak Indonesia kok cuma lahir di Jepang. Dia mau nikah besok sore. Nah ada teman-teman kita juga dari negara lain yang datang. Terus dia minta tolong apa ada teman yang bisa antar mereka ke gedung. Boleh gak Ras minta tolong temenin ke pesta dan sekalian anter temen-temen, tanyanya dengan penuh harap.

Hmm...well, ya udah gak apa-apa deh! Jam berapa besok? Kita ketemuan di kampus UI Salemba aja ya?!, kuputuskan menerima untuk membantu tanpa pikir panjang. Lagipula aku suka membangun pertemanan dengan siapa pun.

Okay deh, jam 4 ketemu di UI ya say? jawan Rika terdengar sangat riang.

Sip, see yaa... 



Disitulah awal kisahku dan Yukata dimulai!!!
Senja di Asakusa, Tokyo
Diubah oleh goguma841
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Senja di Asakusa, Tokyo
08-05-2019 09:42
Ini salah room ke berapa emoticon-Matahari

Betul kok postingnya di Heart to Heart, tinggal satu belokan dikit untuk sampai di TKP.
Stories From The Heart

Ga usah nulis ulang, ane udah req buat pindahin trit ini.
Coba cek lagi nanti siang emoticon-Matahari
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
16-05-2019 00:29

Senja di Asakusa, Tokyo ~ #Pertemuan yang Awkward

Namaku Larasati Kinawa. Ayahku memberikanku nama Larasati yang diambil dari nama tokoh pewayangan Dewi Rarasati, berarti "pejuang yang kuat". Sementara, Kinawa merupakan kata sifat dalam bahasa Toraja yang berarti "baik". Karakterku sendiri pun kurang lebih cukup tersampaikan dari namaku. Entah nama tersebut telah memberikanku roh ataukah memang aku terlahir dan tumbuh menjadi wanita yang mandiri dan senang berkawan. Sejak aku berhasil masuk Fakultas Hukum Uniersitas Indonesia, duniaku semakin ceria dan aku begitu sibuk dengan seluruh kegiatan kemahasiswaan. Aku aktif dalam beberapa organisasi dan mengikuti konferensi internasional, bahkan mengikuti kompetisi ilmiah. Sejak saat itu, aku berkenalan dengan teman-teman dari berbagai pulau, bahkan lintas negara.

Kini, aku bekerja sebagai Head of Legal di salah satu perusahaan real estate terbesar di Jakarta. Kira-kira sudah sekitar sebelas tahun sejak aku menjadi seorang Sarjana Hukum. Baru-baru ini aku mendapatkan email dan pesan teks di semua media sosialku dari seorang pria Jepang yang sudah lama ku kenal. Ya dia adalah Yukata. Cerita ini adalah kisahku dengannya, mulai tentang pertemuanku dengannya saat aku masih menjadi seorang mahasiswi semester akhir di Universitas Indonesia dan dia pun seorang mahasiswa semester akhir di Keio University, Jepang.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sudah seminggu ini aku berada di rumah karena libur semester. Sebenarnya libur ataupun tidak, hal itu tidak jauh berbeda. Aku lebih sering di rumah menyelesaikan skripsiku karena aku sudah di semester akhir dan berharap aku dapat wisuda di akhir tahun 2008, sehingga aku ke Depok hanya jika ingin bertemu dengan dosen pembimbing.
Belakangan cuaca di Jakarta sangat panas. Biasanya saat berada di rumah aku hanya akan memakai hotpants dan tanktop. Pakaian yang sangat dibenci oleh abangku, Mitcel. Baginya, pakaian tersebut sangat tidak sopan dan elegan. Tentu hal itu tak pernah ku dengarkan apalagi di cuaca yang begitu panas. Pikirku busana tersebut sangat pantas kok untuk waktu santai apalagi dipakai saat berada di rumah.

Quote:“Hey, Ras, ngapain sih mondar-mandir kayak setrikaan, baju lo gitu lagi, ntar ada tamu kan gak sopan”, kata Bang Mitcel setengah berteriak karena kesal.
“Aku mo keluar ntar sore abang ganteng, jadi aku perlu nyetrika okay?”, jawabku menggodanya

“oh ya, lagian aku kepanasan di rumah, kan gak harus aku pakai daster kayak tante-tante dong”, tambahku sambil membalikka badanku padanya dan membuat mimik wajahku sedikit menyebalkan, lalu langsung berlari masuk kamar.

“Ihh, bandel banget sih kalo dibilangin, childish tau gak?”, kata bang Mitcel tersenyum dan berdiri berusaha mengejarku.
Begitulah abangku, Ia terkadang akan tersenyum atas sikapku yang selalu menggodanya. Tapi kalau mood dia sedang kesal aku akan diam saja.


Siang itu, Aku mempersiapkan baju yang akan ku pakai ke pernikahan Ayumi malam nanti. Aku mencoba tiga gaun secara bergantian dan memastikan gaun mana yang cocok denganku untuk nanti malam dengan terus berputar-putar di depan cermin. Ini sudah tentu kebiasaan yang dilakukan oleh semua kaum Hawa saat mencoba gaun mereka.
Quote:drrrttt...drrrttt...drrrttt...
“Yes, hadir”, sapaku
“Hai Ras, bentar lagi ketemu jam 4 ya di Kampus UI Salemba”, kata Rika
“Hah? Aku belom siap lagi. Ini udah jam berapa sih?”, aku kaget sambil melirik jam di meja belajarku
“Seriusan? Astaga, ini udah setengah tiga Ras, kan kita mesti jemputin teman-temanku dulu di tempat Ayumi”, jawab Rika kaget
“Haha, wo wo, slow, sorry, aku cepat aja deh dandan ala cowboy, aku deketlah ke salemba, semenit juga nyampe”, kataku bercanda
“ye ye ye, bener ya hahaha, jangan pakai jeans tapi”, kata Rika tertawa karena tahu aku suka lama kalau sudah ketemu cermin dan jika menyerah dandan, dia dan Zacky biasanya akan melihatku dengan dandanan yang super duper cuek memakai jeans saat menghadiri acara apapun.
“Ha ha ha, okelah mak cik, bye”, kataku dengan logat Melayu menggodanya.
“eih, beneran kamu dress-up ya Ras, ada cowok cakep temenku”, kata Rika menghentikanku untuk menutup telpon.
“Masa? Gak suka Nippon tapi, weekk. Udah ah biar aku siap-siap nih”
“Ha ha ha, oke deh. Bye”, jawab Rika lalu menutup telponnya.


Aku melihat dua gaun yang ada di atas tempat tidurku, lalu kembali melihat ke dalam cermin memperhatikan gaun yang sedang kupakai. Dahiku pun berkerut sambil menghela nafas karena aku seketika bingung menentukan gaun mana yang akan kupakai.
“Aha, kalau begini sebaiknya aku pakai cara cermat ala Larasati Kinawa”, dengan senyum yang mengembang aku pun memulai ritual memilih gaunku. Telunjukku pun mulai menunjuk gaun yang sedang aku pakai dan gaun lainnya secara bergantian. “Pakai, ngak, pakai, nggak, pakai, nggak, pakai,nggak,pakai”. Akhirnya pilihanku pun jatuh pada gaun berwarna pastel yag sedang kukenakan.
“Aduh kenapa harus gaun ini sih, ini kan terlalu biasa dibanding yang lainnya. Tapi ya udahlah, kelamaan deh Laras”, sambil ngedumel sama diri sendiri dan menyerah terhadap gaun pastel yang lebih terlihat seperti short dress yang manis untuk pesta cocktail ketimbang untuk acara malam. Aku pun bergegas menggunakan make-up yang seadanya. Lalu rambut aku.... Aku membuka gulungan rambutku satu demi satu dan hasilnya rambutku terlihat curly.
Hal yang selalu kulakukan pada saat itu adalah menggulung rambutku dengan kertas koran agar hasilnya curly. Rambutku yang panjang sebahu pun akan menjadi ikal dan curly-nya terlihat alami setelah aku membuka ikatan kertas koran satu demi satu. Ini menggelikan, Aku bahkan tidak pernah memberitahukan hal ini kepada siapa pun bagaimana aku membuat rambutku yang mereka kagumi itu bisa menjadi curly. Tentu saja aku malu, bahkan mengingatnya saja membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi aku sangat menyukai hasilnya, dibandingkan menyetrika rambutku seperti teman-teman yang lain pada saat itu.

Quote:Sekarang sudah pukul 16.10 WIB, aku sudah memarkir mobil selama 20 menit, namun Rika belum juga terlihat, Ia bahkan tidak mengangkat telponku.
drrrttt...drrrttt...drrrt...
“Ras, kamu di mana, sorry aku gak bisa angkat telpon tadi soalnya aku jadinya naik motor”, kata Rika dengan napas tersengal-sengal.
“Ah, pantesan. Aku ada di parkiran depan kok ini, pas dibawah pohon biar adem. Kamu di mana?
“Oh, keluar aja kalau gitu, aku di pintu keluar nih. Aku tunggu di sini ya.” Rika mengarahkanku keluar. Posisinya berdiri sudah terlihat dari kaca spion mobilku. Aku pun segera menuju pintu keluar kampus dan menghentikan mobilku tepat di depan Rika.
“Wuihhh, panas-panas jilbaban tapi tetep wangi ya jeng”, kataku sambil tertawa menyambutnya saat membuka pintu mobil.
“Ah iya nih, semprot dulu biar gak bau matahari. Sorry banget ya Ras, tadi agak padat depan rumah, untung ada ojek lagi markir”
“Santai aja. Sekarang ke mana nih kita?”, jawabku tersenyum dan mulai melajukan mobil ke jalan utama.
Rika pun membuka ponselnya mencoba mencari sesuatu di sana sambil bergumam.
“Aku juga belum pernah ke sana nih. Katanya rumahnya di Kemang. Alamatnya di sini nih, tau gak?” katanya sambil menunjukkan pesan yang berisi alamat tersebut.
“Oh oke, aku tau gak jauh dari ranchmarket nih”, kataku sambil kembali memperhatikan jalan.
“iya bener, kata Ayumi juga gitu. Katanya ada pizza marzano juga di dekatnya”, jawab Rika lega mendengarkan jawabanku tadi.
“Oh iya Ras, ngapain aja belakangan, Zacky ternyata lagi liburan ya?” kata Rika mengganti topik sambil menatapku.
“Hmm...Cuma sibuk sama skripsi aja nih. Iya Zacky gak lama sejak kalian balik dari Amrik langsung liburan gitu. Katanya mau cari inspirasi buat proposal judul penelitiannya. Dia nyuruh Aku tungguin biar wisuda bareng tapi aku bilang aja gak mau” ceritaku panjang dan kami pun tertawa.
“Oh ya, Rika, ini temanmu yang mau married orang Jepang ya?, tanyaku mengenai Ayumi yang sebenarnya tidak aku kenal.
“Oh iya, jadi Ayumi ini orang Indonesia kok”. Rika pun menggeser posisi duduknya agar cukup serong ke kanan dan bisa melihatku lalu meneruskan penjelasannya. “Jadi, Ayumi ini lahir dan hingga sd tuh di Tokyo. Papanya dosen di Fakultas Kedokteran UI. Dulu dia ke Jepang sekolah di sana. Mereka juga orang dari Makassar lho”.


Mendengar penjelasan Rika, aku langsung berpaling dengan antusias. “Masa? Kuliah di mana dia?”, tanyaku antusias. Aku selalu antusias apabila mengetahui ada teman-teman yang berasal dari Makassar, apalagi daerah Toraja. Aku, Zacky, dan Rika, secara kebetulan adalah orang-orang yang berasal dari Sulawesi Selatan. Kami bertiga juga saat SMU di kota Makassar. Aku suku Toraja, sementara Zacky dan Rika adalah orang suku Bugis-Makassar. Jadi, meskipun aku mengenal Rika belum begitu lama, namun kami bisa langsung akrab. Di samping itu, aku memang sangat terbuka dengan siapa pun untuk berteman. Aku juga tidak keberatan menemani Rika dan menolongnya meski Zacky sedang berlibur. Lagi pula, Rika anaknya smart dan baik. Selalu menyenangkan berbicara dengannya.

Quote:“Ayumi lagi ambil master degree di Jepang sekarang. Dulu S1-nya di ITB. Calon dia juga anak ITB”
“Wah, keren. Terus kamu kenalnya gimana?”, tanyaku lebih lanjut.
“Jadi, Aku dan Ayumi ketemunya lewat program magang FASID, foundation dari Jepang tahun lalu yang diadain di kabupaten Takalar di Sulawesi, Ras. Program magang itu diikuti oleh mahasiswa Jepang dan mahasiswa Indonesia. Kita buat program bantuan untuk masyarakat di desa sana, karena masih cukup tertinggal. Kita juga tinggal di sana selama dua bulan, dan tinggalnya di rumah penduduk. Masing-masing mahasiswa punya orang tua angkat gitu.”
“Ihh, gila keren banget, Kok aku gak tahu ya ada program itu. Kalau tahu aku juga ikut daftar. Banyak gak yang ikut?”, tanyaku terkagum dan antusias mendengarkan kisah magang Rika, karena Aku selalu tertarik dengan kegiatan akademis dan organisasi sosial.
“Iya, lumayan. Anak Jepangnya ada sepuluh orang dan Indonesia juga gitu. Nah ini mereka yang mau kita jemput nih Ras. Tapi aku belum pasti siapa aja yang datang. Katanya sih temanku yang namanya Yuki dan Yukata yang datang. Terus ada juga temen Ayumi yang bareng dia di AIESEC”.
“Oh gitu?? AIESEC apalagi tuh?”, tanyaku kebingungan. Lalu melanjutkan, “Jadi yang dijemputin banyak nih? Muat gak ya di mobil?”, tanyaku mulai panik. Mobil yang aku bawa adalah mobil jeep, Suzuki Vitara.

“Ha ha ha, tenang, harusnya sih muat, soalnya Ayumi minta tolong cuma satu mobil kok.” Kata Rika sambil menepuk pundakku mencoba menenagkanku. “Well, AIESEC tuh organisasi mahasiswa internasional, anak-anak muda gitu untuk pengembangan jaringan dan potensi leadership. Kemarin aku diajakin Ayumi juga buat perkenalkan organisasi ini di kota Makassar ke mahasiswa yang lain. Tapi temen-temen dia yang datang sih aku belum kenal juga”.

“Ckckckck, waduh, hebat euy Rika. Kyaknya Aku harus keluar Fakultas Hukum deh, gak berorganisasi di situ lingkunganku doang. Aku ikut organisasi internasional tapi khusus mahasiswa hukum aja”. Aku masih terkagum dengan cerita Rika. Aku bahkan tak habis pikir bisa melewatkan informasi kesempatan magang yang demikian, padahal selama ini aku selalu aktif mencari informasi-informasi kegiatan kemahasiswaan, bahkan ke rektorat pun aku update informasinya. Bener-bener bukan rejeki nih, kataku dalam hati sendiri.

“Eh kita udah di ranchmarket nih”, kata Rika kaget. Rika melihat ke sebelah kiri dan memintaku untuk berbelok sebelum pizza marzano.
“Wah bener, keasyikan cerita kita. Untung kamu lihat”, timpalku dengan tertawa.

Saat kami tiba di pos satpam kami sedikit ragu, karena rumahnya terlihat besar dan ada beberapa rumah bermodel cluster di dalamnya, seperti town house mini. Rika pun bertanya kepada satpam lalu menghubungi Ayumi. Rupanya semua itu adalah milik orang tua Ayumi. Tamu-tamunya yang berasal dari luar kota dan manca negara tinggal di enam rumah tersebut.

“Rika, duh gak bilang kalo si Ayumi ini gini amat. Kayaknya bakal rame nih dan baju aku teramat-sangat....phffff...”, aku tersenyum malu dan tidak melanjutkan perkataanku, lalu meneruskan masuk ke dalam kompleks tersebut dan memarkir mobil di depan rumah sebelah kiri dengan halaman luas yang ditunjukkan satpam.

“wa ha ha ha, makanya aku bilangin tadi jangan ampe pakai jeans ya. Untunglah gak pakai. Yang ini oke kok, Ras, cute”, kata Rika sambil membelai pundakku.
“Kok cute sih, kondangan harusnya anggun bukan. Tapi bener, oke sih, kalo aku pakai gaun yang sebelumnya, bisa disangka temen-temen Ayumi aku mau nyaingin pengantin dan gak menghormati yang punya hajatan. Secara banyakan tamu internesyenel ya jeng”, kataku sambil tertawa geli. Tiba-tiba, aku mendengar Rika memanggil sesorang, “Yuki-chan, it’s been so long”. Rika segera turun dari mobil dan berlari ke arah wanita yang juga berteriak histeris dari teras rumah.


Aku kemudian ikut turun dan melihat, wanita muda yang kira-kira sebaya denganku dan Rika, bertubuh tinggi, berkulit putih, dan mengenakan pakaian tradisional Jepang berwarna pastel dengan kembang-kembang yang hampir senada dengan gaunku, berdiri di teras sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Rika. Pakaian yang dipakainya aku tidak begitu mengerti terlihat seperti kimono tetapi lengannya menjuntai panjang, mungkin pakaian itulah yang dinamakan Furisode. Teman-teman Jepang-ku pernah menjelaskan beberapa busana tradisional Jepang saat malam cultural exchange pada konferensi mahasiswa hukum se-Asia Pasifik di Seoul, Korea, yang ku hadiri tahun lalu. Setiap malam cultural exchange yang diadakan tiap tahunnya pada konferensi internasional, mahasiswa hukum dari berbagai negara akan memakai baju tradisionalnya.

Quote:“Rika-chan, ooow, I miss you. Yes, It’s been a long time”, Katanya dengan logat Jepangnya dan gaya menggemaskan lalu langsung memeluk Rika erat, sepertinya kangen berat.


Melihat yang terjadi di depanku, aku langsung menyimpulkan, pasti wanita inilah yang bernama Yuki, teman FASID Rika dan Ayumi.

Quote:“Yuki, you look so beautiful. It’s my first time see you wearing this dress. When did you arrive?”, kata Rika sambil menggenggam tangan Yuki dan melihat pakaian yang dikenakannya.
“Thank you Rika. I arrived last night with Yukata. Ayumi, picked us up at the airport. Ow, I’m so happy to see you again”, katanya masih sangat gemas melihat Rika yang ada di hadapannya.
“Ow yeah, where is Yukata?”, tanya Rika setelah mendengar nama itu disebutkan Yuki. Lalu tersadar dan menoleh ke arah ku yang berada persis di belakangnya dan seperti terhilang beberapa menit sejak mereka berpelukan dan larut dalam suasana bahagia.
“Ow Yuki, this is my friend, Larasati Kinawa. Laras, this is Yuki Takahashi that I told you before”, kata Rika memperkenalkan kami berdua
“Hai, I’m Laras”, lalu aku menjabat tangannya dan ia pun menjabat tanganku dan memperkenalkan dirinya juga, “Hai, I’m Yuki. Oh your name sounds Japanese name, ne?”, katanya dengan suara melengking dan tatapa ramah sambil tersenyum lebar.
"Ow, Kinawa is Torajanese name", jawabku dengan bahagia saat ia menanggapi namaku.
"Oh, so you are torajanese? I want to go there this time", katanya bersemangat.

"Oh, really? well I can help you, if you need my help" jawabku antusias
"Oh thank you, Larasu", jawab Yuki senang


Lalu hampir di waktu yang bersamaan Rika pun ribut lagi sepertinya ada suara laki-laki yang menyapanya dan datang dari arah belakangku. Lalu aku pun segera berbalik ke arah datangnya suara itu.Tidak jauh di depanku, sekitar dua meter, ada pria berkulit putih yang berjalan dari tempatku memarkir mobil, kira-kira tingginya sekitar 170 cm, memakai kemeja kotak-kotak didominasi warna krem dan celana kain berwarna coklat. Rambutnya panjang hampir sebahu, wajahnya tirus, dan sedang memegang rokok. Ia berjalan ke arah kami berdiri dengan wajahnya yang datar dan serius dan melihat tepat ke mataku. Ia menghisap rokoknya sekali lalu membuang puntung rokoknya di tong sampah yang berada satu meter dari tempat kami berdiri. Saat ia berdiri tepat di depan Rika, ia langsung mengulurkan tangannya menjabat Rika dan berkata,”Hai Rika, long time no see”, suaranya terdengar ramah tapi serius.

Quote:Rika pun menjawab,”Hai, Yukata. Yes, long time no see”, balas Rika sambil menjabat tangannya. Lalu Rika melihat ke arahku, “this is my friend, Laras. We will use her car to the building, maybe Ayumi has told you about that”, kata Rika menjelaskan tentangku mengapa aku ada di sana.
“Hai, I’m Yukata, nice to meet you”, sapa Yukata dengan ramah, masih dengan wajahnya yang terkesan serius.
“Oh hai, I’m Laras, nice to meet you as well”, jawabku
“I think we should go now, because it’s already 6.00 pm now”, lanjutku mengajak mereka untuk beranjak.
“owh, yeah”, jawab mereka bertiga hampir bersamaan
“Yuki, only two of you? I thought there are other guess?”, tanya Rika
“Mmm, they already left. They went to the building with taxi. But I and Yukata decided to wait for you”, jelas Yuki ramah sambil meegang kepala Rika yang jauh lebih pendek darinya. Tinggi badan Yuki hampir sama dengan Yukata, kurang lbih mungkin saja tingginya 166 atau 167 cm. Sementara tinggi badan Rika kira-kira 156 cm dan aku sendiri 160 cm.
“Oke deh kalo gitu, jalan yuk Rik, takutnya macet ke Hotel Sultan”, kataku kepada Rika.
“Oke, let’s go guys!”, ajak Rika kepada Yuki dan Yukata.


Kami pun bergegas ke mobil dan meninggalkan rumah Ayumi menuju Hotel Sultan tempat resepsi berlangsung. Selama perjalanan Rika, Yuki, dan Yukata terus mengobrol. Sesekali mereka melibatkanku dalam obrolan. Sepanjang perjalanan aku bisa menilai bahwa Yuki seperti wanita-wanita Jepang yang umumnya ceria. Sementara Yukata, ia tidak begitu banyak bicara, terkesan serius, tetapi cukup mengikuti alur pembicaraan.

Quote:“Ups, ow, sorry, I’m really sorry”, kataku kepada Yukata yang duduk di sebelahku. Aku sangat kaget karena tanpa sengaja saat ingin ganti perseneling mobil, tanganku menyentuh pahanya yang tepat berada di sebelah tuas perseneling. Aku benar-benar bingung harus bersikap bagaimana.
“Oh, it’s oke, it’s oke”, jawabnya cepat dan juga sedikit kaget lalu memperbaiki posisi duduknya.
Kami pun melanjutkan cerita yang sempat terhenti karena insiden tuas perseneling mobil itu. Butuh waktu bagiku sekitar lima menit untuk kembali bisa terlibat dalam obrolan. Untungnya Yuki dan Rika tetap sibuk mengobrol saat kejadian itu sehingga tidak memperhatikan aku dan Yukata.

“O my God, sorry, I’m really sorry”. Aku kembali menyentuh paha Yukata saat menetralkan posisi perseneling karena harus berhenti di lampu merah. Aku benar-benar kaget dan rasanya pucat dan malu. Kali ini Yuki dan Rika sedang diam, sehingga suaraku sangat kencang terdengar.
“Oh, it’s oke, jawab Yukata lagi cepat dan kembali membenarkan posisinya.
“What’s wrong?” Kata Rika kepadaku dan Yukata
“Oh, nothing, it’s oke”, jawab Yukata dengan cepat.


Entah kenapa waktu itu kami berempat hanya diam untuk waktu yang lama. Aku dan Yukata pun semakin merasa canggung dan tak ada sepatah kata pun yang terucap selama lampu merah lalu lintas menyala. Seandainya aku bisa berteriak aku ingin, aku malu dan suasananya terasa jadi aneh. Kami menjadi awkward. Dan insiden tuas perseneling ini pun terjadi hingga tiga kali. Aku kesal pada diriku sendiri dan rasanya ingin turun saja dari mobil.
Diubah oleh goguma841
profile-picture
Kawata85 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
17-05-2019 13:50
Nansai dulu sis. ceritaya ada tentang jepangnnya. moga bisa nyusul kesana
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
17-05-2019 14:27
jepang selalu menarik
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
17-05-2019 16:06

Sekilas dari Author a.k.a Prolog Telat

Senja di Asakusa, Tokyo

HAI AGAN-AGAN SEKALIAN....

Maaf ini perkenalan dari Ane yang telat banget. Kalau PROLOG biasanya ada di awal cerita, kalau Ane setelah Part Pertama. Terus Yang awal banget kayak spoiler doang.
Selain itu, cerpen bersambung ane ini pakai salah forum segala di awal, yaa newbie buat share gini-ginian, jadi harap dimaklumi ya.

Sore ini Ane sengaja nyapa Agan-agan semua yang sudah mampir baca bahkan yang kasih cendol. Ini Cerpen pertama Ane dan baru kemarin lusa Ane update Part Pertama: Pertemuan yang Awkward, sudah langsung jadi Hot Thread saja dong siang tadi Pukul 12.00 WIB.
Thanks banget ya Agan-agan semua.

Cerpen ini adalah kisah tentang pertemuan Larasati Kinawa dengan cowok Jepang, bernama Yukata Watanabe, yang ditemuinya di tahun 2008 saat menjadi mahasiswa semester akhir. Yukata pernah kembali ke Jakarta. Laras pun mendapat surat penerimaan dari Professor di Jepang untuk melanjutkan studi masternya, namun batal berangkat ke Tokyo di tahun 2011. Laras pun akhirnya baru bisa mengunjungi Yukata di Tokyo di tahun 2015, mereka sepakat untuk bertemu di Asakusa, Tokyo.

Cerita ini mengisahkan tentang hubungan jarak jauh dengan perbedaan kebudayaan yang juga menjadi salah satu konflik yang umumnya dihadapi oleh pasangan-pasangan yang berbeda kebudayaan. Budaya timur yang masih konservatif oleh umumnya wanita Indonesia yang berbenturan dengan budaya pria Jepang.

Quote:
SEKILAS DARI ANE YANG MAU BACA LEBIH LANJUT CERPEN INI


  1. Alur dan plot Cerpen ini mungkin ada yang tahu karena beberapa poin dalam Cerpen ini 30% based on True Story. Selebihnya 70% adalah Fiksi, termasuk nama-nama tokohnya. Jadi please jangan memberi spoiler karena belum tentu juga bener dan kesamaan plot bisa saja suatu kebetulan saja

  1. Alur Cerpen yang dipakai ini maju mundur. Cerita akan rekonsiliasi masa lalu, sekarang, dan masa depan

  1. Buat yang mau komen di mari, monggo yang sopan ya Gan. Sekalian bisa tebak-tebak Part selanjutnya atau ngasih Ane masukan, biar Ane buat Ceritanya lebih seru hehe


THANKS GAN

emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh goguma841
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
18-05-2019 05:17
Keren nih
profile-picture
goguma841 memberi reputasi
1 0
1
Senja di Asakusa, Tokyo
18-05-2019 20:53
jejak ...
profile-picture
goguma841 memberi reputasi
1 0
1
Senja di Asakusa, Tokyo
22-05-2019 00:08

Senja di Asakusa, Tokyo ~ #Ternyata Ia Sangat Berbeda

Suasana di mobil sudah hening sekitar sepuluh menit, tak ada seorang pun yang bersuara saat mobil suzuki vitaraku melaju di jalanan Gatot Subroto, Jakarta. Aku melihat ke kaca spion tengah, Rika dan Yuki terlihat terdiam dan sedikit lelah. Mungkin Yuki masih lelah karena baru tiba pada pagi hari di Jakarta. Rika juga telihat lelah mungkin karena ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan ojek siang tadi. Lalu aku melirik ke sebelahku, Yukata yang duduk di sebelahku tampak biasa saja dan tetap terlihat begitu serius memandangi jalanan Jakarta di malam hari. Aku pun tersenyum kecil melihat setiap wajah di dalam mobilku seperti ponsel yang sudah mulai ngedrop batereinya. Kemudian aku menekan tombol power audio mobil, namun langsung ku matikan kembali saat menyadari mobil kami sudah mendekati The Sultan Hotel Jakarta.

Quote:Saat aku membelokkan mobil dan sampai di depan pintu masuk hotel, Yukata berkata dengan sedikit bergumam, “So this is the hotel!”, katanya membelah kesunyian di atas mobil. Ia menundukkan kepalanya sedikit untuk dapat melihat dengan jelas hotel yang ada di depan kami.

“eee? Sugoi. So this is the hotel? So many people come. Obviously, Ayumi and her husband are from a wealthy family”, kata Yuki dengan suara yang melengking khas wanita Jepang saat takjub ataupun kaget.

“Yes, this is the hotel”, jawabku tersenyum mendengar Yuki.

“Ras, udah nyampe nih? Sorry, aku lemes jadinya gak perhatiin. Kita langsung parkir mobil aja ya, gak usah kamu turunin di lobby”, kata Rika ketika tersadar sudah di depan pintu masuk.

“Oke deh”, jawabku


Saat melewati lobby, terlihat banyak karangan bunga yang mengucapkan turut berbahagia. Orang-orang juga cukup ramai yang datang dengan busana yang indah. Aku jadi tersadar dengan gaunku yang sederhana. Tapi sejak bertemu dengan Yuki, aku menjadi tenang dan cukup santai, karena Yuki pun cukup sederhana. Aku justru bersyukur karena memakai make-up yang minimalis sehingga Yuki dan mungkin teman-teman Ayumi nantinya tidak akan melihatku norak.

Saat memasuki ballroom hotel, mataku berpendar ke sekeliling ballroom yang luas itu dengan dekorasi bunga-bunga berwarna putih yang indah dan pelaminan pengantin yang begitu mewah. Ruangannya begitu penuh tapi tidak sampai sesak. Sambil berjalan memasuki ballroom, aku melihat gaya berbusana para undangan yang cukup mencolok perbedaannya. Beberapa tamu asing yang datang berpakaian sederhana tapi elegan dan make-up para wanita asing juga tidak mencolok dibanding tamu-tamu lokal yang datang. Malam itu benar-benar pesta pernikahan yang modern tapi seperti acara cultural exchange, karena beberapa tamu yang datang memakai gaun yang dibalut dengan nuansa etnis. Banyak tamu lokal yang datang memakai kebaya modern dan tak sedikit tamu asing yang memakai gaun dengan ciri khas negaranya.

Aku, Yuki dan Rika berjalan beriringan menuju meja yang berada di sudut ruangan sekitar tujuh meter dari pintu masuk ballroom, sementara Yukata berjalan mengikuti kami dari belakang. Di depan kami ada dua orang wanita yang memakai gaun yang indah dengan warna yang cerah sedang melihat ke arah Yuki dan tersenyum.

Quote:“Hi, Yuki”, sapa wanita yang memakai gaun shanghai cheongsam berwarna putih dengan corak bunga cherry berwarna pink muda. Rambutnya panjang sepunggung dibiarkan terurai. Kulitnya putih bersih dan wajahnya berbentuk oval kecil. Mungkin tinggi badannya sama denganku, tapi karena ia memakai sepatu berwarna gold dengan heels kira-kira sembilan sentimeter, ia dapat berdiri setinggi Yuki yang hanya menggunakan sendal kayu khas Jepang kira-kira setebal tiga sentimeter.

“Hi, Yue, Buom, only you two are here?”, balas Yuki pada kedua wanita yang ada di depan kami sambil mengelus lengan kiri wanita yang menggunakan gaun dengan kain yang penuh motif seperti kain motif aceh dengan bahan yang kaku. Gaunnya cukup unik, seperti hanya dililitkan saja pada tubuhnya lalu sisa kainnya dibirkan menjuntai ke belakang menutupi lengan kanannya, sehingga lengan kiri dan pundak kirinya dibiarkan terbuka. Sepintas aku bisa menebak dia berasal dari Thailand karena Yuki memanggilnya Buom.

“Hi, Yue, Buom?”, sapa Rika sambil memeluk mereka satu persatu. Rupanya mereka sudah saling mengenal.

“Hi, Rika”, balas keduanya hampir bersamaan.

“This is my friend Larasati Kinawa. Laras, this is Yue Xieu from Hongkong and this is Buomreuksa pavornpat from Bangkok. They both are Ayumi’s friends in AIESEC organisation”, lanjut Rika memperkenalkan kami.

“Hi, Laras, call me Yue”, sapa Yue menjabat tanganku.

“Hi, Laras, just call me Buom, nice to meet you”, sapa Buom juga dengan begitu ramah.

“Hi, Just call me Laras, nice to meet you both”, balasku tersenyum sambil menjabat tangan mereka bergantian.

“Oh ya, with whom did you guys come here?”, lanjut Rika ingin tahu.

“We came here with Atika, Felix and Alisann”, jawab Yue pada Rika. Ketiga nama yang disebutnya sama sekali tidak ku kenal.

“Ow, where are they?”, tanya Rika lagi sambil celingak-celinguk seperti mencari-cari nama tersebut.

“We were here together, but Felix and Alisann just left about ten minutes ago. They said they want to go to Bandung tomorrow, so they need to go back earlier. While, Atika, mm...maybe somewhere over there, I think she is so busy”, jelas Yue panjang lebar. Yue sangat komunikatif dan lancar berbahasa Inggris. Tentu saja karena dia berasal dari Hongkong.

“Ah, I see. What about if we go up to stage to congratulate Ayumi?”, ajak Rika pada kami lalu menoleh ke belakang. “Where is Yukata? Astaga Ras, dah hilang orangnya penyakit kita cewek kalau udah ketemuan pasti heboh, lupa ada dia tadi ha ha ha”, kata Rika yang tersadar melihat Yukata tidak lagi bersama kami. Kami semua pun melihat ke belakang.

“Ow, I think he is over there, he said he is hungry ha ha ha”, jelas Yuki terbahak kepada kami sambil menunjuk meja panjang yang penuh makanan di seberang kami.

Dari tempat kami berdiri terlihat Yukata sedang mengantri untuk mengambil makanan di meja yang dipenuhi menu masakan Jepang yang ada di sebelah kanan kami. “Kasian, laper dia ya? Gimana Ras anak orang ha ha ha”, kata Rika padaku sambil tertawa.

“Ha ha ha, ajak aja Rik, ntar turunnya kita makan. Mumpung lagi gak panjang antrian ke pelaminan nih”, jawabku sambil tertawa karena melihat Yukata yang sudah mengantri.


Quote:“Hey, Yu, do you want to eat now? What about if we go up stage now, after that we come back here?” tanya Rika saat kami menghampiri Yukata.

“Aaa, hai’, let’s go”, jawab Yukata tersenyum dan langsung keluar dari antrian.

“You’re already hungry, aren't you?”, tanya Rika tersenyum

“Aaa, hai’, I didn’t have lunch ha ha ha”, jawabnya pada Rika tertawa malu sambil memegang perutnya dan menundukkan kepala membenarkan kata-kata Rika. Aku melihat wajahnya untuk beberapa saat dan berpikir ternyata dia tidak sekaku yang ku sangka. Ia dapat tertawa lepas dan itu adalah tawanya yang pertama sejak beberapa jam kami bersama.


Buom, Yue, Rika, Aku, Yuki, dan Yukata berdiri antri di sudut pelaminan sebelah kiri untuk memberi selamat pada Ayumi. Sudah tidak banyak yang mengantri. Hanya ada sekitar sepuluh orang di depan kami sehingga Ayumi dengan mudah melihat dan mengenali rombongan kami. Ayumi dan suaminya, Yogi, melambaikan tangannya pada kami.

Saat kami semakin dekat untuk menyalami Ayumi, terdengar suara Buom yang sangat antusias dan gemas melihat Ayumi dalam balutan pakaian adat pengantin Aceh. Ia berbalik ke arah kami yang ada di belakangnya lalu berkata,”She is so gorgeous with that traditional clothes. I saw her this morning with different traditional clothes, but tonight she is so wonderful”. Ya, pengantin memakai pakaian adat Aceh karena kabarnya Yogi berasal dari Aceh.

Satu persatu menyalami Ayumi dan memeluknya. Ayumi sangat cantik dan anggun. Ia mengenakan baju pengantin berwarna merah. Saat aku akan menyalami Ayumi, Rika yang sudah akan menyalami Yogi kembali berbalik dan berkata pada Ayumi,”Yum, ini Laras temenku yang aku ceritakan. Yuki dan Yukata bareng kita tadi”, jelasnya.

Quote:“Hi, Ayumi, selamat yah, maaf aku baru bisa datang sekarang. Pagi tadi aku gak bisa”, kataku pada Ayumi yang langsung disambut dengan senyuman oleh Ayumi dan seolah menarikku ke arahnya dan mengecup kedua pipiku.

“Ah, gak apa-apa, salam kenal ya Laras, dan terima kasih banyak untuk semuanya. Besok ke rumah ya kita kumpul-kumpul”, kata Ayumi dengan sangat ramah memegangi kedua pundakku sambil tersenyum dan menatap mataku dalam. Dia benar-benar semakin cantik dengan sikapnya yang begitu hangat.

“Ow, tentu. Makasi undangannya”, jawabku tersenyum lebar terbawa sikapnya yang begitu ramah. Aku pun lanjut menyalami suaminya dan terdengar di belakangku suara Yuki dan Yukata yang juga begitu antusias menyalami Ayumi dan Yogi.


Setelah turun dari pelaminan, kami langsung berpencar mencari makanan. Sepertinya masing-masing sudah mengincar menu yang mereka mau. Aku langsung saja ke meja yang kira-kira lima meter dari sudut pelaminan, yang khusus menyajikan menu masakan Jepang tadi karena aku adalah penggemar sashimi dan sushi. Lagi pula, antrian sudah tidak begitu panjang di meja tersebut. Sementara Rika menemani Yue dan Buom yang ingin mencoba menu di meja seberang yang berada di tengah-tengah ballroom. Mejanya memang lebih besar dan terlihat banyak menu pilihan makanan khas Padang. Tentu menu ini sangat cocok dengan lidah orang Indonesia, juga banyak orang asing yang ingin mencoba menu khas Padang, sehingga antrian cukup panjang dibandingkan meja lainnya.

Quote:“Larass”, terdengar seseorang memanggil namaku dengan desis huruf s yang lebih panjang hampir memanggilku “Larassu” saat aku akan mengambil piring dan sendok. Aku menoleh ke arah suara itu datang. Terlihat Yukata dan Yuki ikut mengantri dari belakang di antrian sebelah kiriku.

“Ow, hi, guys. You are here”, jawabku ceria tanpa sadar mataku sepertinya sedikit belo saat melihat Yukata dan Yuki yang berjarak satu orang dari depan meja. Aku berhenti sejenak saat akan mengambil piring sehingga Yukata persis berada di depanku.

“Do you like Japanese food?”, tanya Yukata padaku.

“Yeah, very much. Sashimi o tabetai ha ha ha (saya mau makan sashimi)”, jawabku tertawa.

“Eee?”, kata Yukata sedikit kaget hampir bersamaan dengan Yuki yang ada di belakangnya. Terdengar Yuki berkata sesuatu dalam bahasa Jepang tapi tidak cukup jelas terdengar. Sepertinya Yuki senang mendengarku.

“Nihongo o nishimasuka? (kamu bisa berbahasa Jepang?)”, lanjut Yukata sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya dengan senyum yang mengembang menatapku dalam seolah tidak percaya apa yang didengarnya barusan.


Aku pikir mungkin Yukata yang kutemui sore tadi adalah pria Jepang yang sedang menahan lapar sehingga senyumnya pun terenggut oleh amukan perutnya yang belum diisi sejak siang hari. Aku sudah melihat dia tersenyum untuk yang kedua kalinya sejak kami berada di ballroom hotel ini. “Ā, iie iie, Watashi wa suu-go shika hanasenai (Saya hanya bisa mengatakan beberapa kata). Please, don’t speak Japanese in long sentence!”, kataku sambil mengernyitkan mataku pada mereka dan tertawa, membuat Yukata dan Yuki sedikit terbahak melihatku.


Quote:“Please, try this”, kata Yukata yang dengan cepat menaruh dua jenis sashimi di atas piringku dengan sumpitnya. Ada yang berwarna bening bersih dan ada yang sedikit coklat dan berukuran lebih kecil dari sashimi yang lainnya. “It’s Aji and that one is hotate”, lanjut Yukata ketika melihatku memperhatikan sashimi yang diberikannya.

“Mm Aji? Hotate?”, kataku bingung dan sedikit tidak yakin.

“eto...mm..mmm...”, kata Yukata yang bingung lalu melihat Yuki.

“Ow, this is horse mackerel and this is scallop”, jelas Yuki tersenyum. Sepertinya Yuki memiliki pelafalan yang lebih jelas dari Yukata dan perbendaharaan kata yang lebih banyak.

“Yes, please try. It’s also favorite sashimi in Japan. Don’t just try sake (salmon) and akami (tuna)”, katanya tersenyum melihat salmon dan tuna yang ada di piringku.

“Ah, okay. Arigatougozaimasu”, balasku.

Kami bertiga pun menikmati menu makanan Jepang bersama dan bercerita tentang kebudayaan Jepang dan Indonesia.


Tak lama Rika pun kembali bersama Yue dan Boum.
“Rika gak makan?”, tanyaku melihat Rika yang hanya membawa segelas juice jeruk.
“Ah, nggak, aku masih kenyang ini", kata Rika mengelus perutnya.

Kami berenam pun mengobrol sambil menghabiskan makanan kami. Namun, saat semua orang sudah selesai makan, aku masih berjuang untuk menghabiskan kerang yang ditaruh Yukata di piringku. Dagingnya kenyal dan aku tidak terbiasa dengan baunya. “Aduh, jangan sampai aku muntah nih. Kalau aku sisa pasti dibilang gak sopan”, kataku dalam hati.

Sementara itu, Yuki dan Boum sudah sibuk meladeni banyaknya permintaan foto bersama dari para tamu Ayumi malam itu. Yuki dan Boum memang cukup mendapatkan perhatian dari banyak tamu karena pakaian yang mereka pakai terlihat indah dan unik. Namun, saat itu tentu saja bukan hanya Yuki dan Boum yang berbusana unik, sebagian besar teman-teman Ayumi dari negara-negara Asia berpakaian tradisional sehingga para tamu sangat antusias mengajak mereka berfoto. Rika pun sedikit bergumam melihat situasi tersebut, karena Yuki dan Boum sepertinya tampak begitu lelah.

Tiba-tiba, MC acara mengajak semua teman-teman Ayumi untuk berkumpul di tengah karena Ayumi akan melemparkan bunga tangan. Rika, Yue, Boum, dan Yuki segera bergabung dengan teman-teman Ayumi lainnya di depan pelaminan untuk memperebutkan bunga yang akan dilemparkan Ayumi.

Quote:“Larass, you should hurry up so you can join”, Kata Yukata sambil menepuk tangannya menyemangatiku untuk segera menghabiskan makananku. “Ow, you don’t like the scallop?” tanyanya melihatku sedang menutup mulutku dengan tangan dan mata yang sedikit berkaca-kaca.

“Mmm?...emmm...”, jawabku bergumam sambil menggeleng.

“Is it taste bitter?”, tanya Yukata lagi melihatku dengan seksama.

“Mmm?..emmm..”, jawabku kembali menggeleng namun mencoba tersenyum.

Yukata pun tertawa melihatku yang berusaha tampak baik, namun sangat jelas kesulitan menelan kerang yang ada di mulutku. I lalu pergi begitu saja meninggalkank.


Quote:Tidak lama kemudian dia kembali membawa segelas ocha dingin dan memberikannya padaku. “Drink this! It tastes sweet after you drink”, katanya dengan menyodorkan gelas yang ada di tangannya.

Aku kaget dengan sikapnya dan untuk beberapa saat hanya melihat gelasnya. Cowok Jepang ini kok punya inisiatif juga mengambil air untukku, pikirku saat itu. Padahal teman-teman Jepang yang aku kenal, umumnya jarang yang bersikap hangat seperti itu apalagi untuk orang yang baru mereka temui. Namun, mereka akan sangat berinisiatif menuangkan minuman ke dalam gelas temannya, khususnya apabila orang tersebut lebih tua darinya saat sedang minum-minum bersama, meski itu baru bertemu. Budaya minum ini adalah cara mereka mendekatkan diri satu sama lain. Pada beberapa kali konferensi Internasional yang kuikuti, mahasiswa Jepang dan Korea akan lebih memilih untuk minum-minum bersama setelah konferensi selesai.

Akhirnya aku pun mengambilnya dan tersenyum, lalu meminum ocha yang diberikannya setelah menelan kerang yang ada di mulutku. “Mmm...”, aku bergumam dan mataku menjadi belo lalu menyunggingkan senyum karena takjub dengan rasa yang tertinggal di lidahku yang menjadi sedikit manis setelah meminum ocha. “Thank you”, kataku dengan lega. Dan dibalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Yukata pun tersenyum melihatku.

“Ah, don’t you want to join there?, kataku mengganti topik dan mempersilahkannya maju ke depan pelaminan untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.

“Ow no, ha ha ha, I think it’s for woman. You should be there. Maybe you can get the flower. It will bring a good luck, right?!”, kata Yukata memastikan agar aku saja yang maju ke depan.

“Ah, it’s okay. I’m still at my twenties hahaha.” Kami berdua pun tertawa bersama dan hanya berdiri melihat teman-teman yang memperebutkan bunga yang baru saja dilemparkan oleh Ayumi. Lalu tiba-tiba...”O gosh, yeeyyy....Yukiii”, aku langsung melompat bertepuk tangan saat bunga tersebut dengan mudahnya ditangkap oleh Yuki yang berdiri di tengah tepat di belakang Ayumi.


Aku melirik ke samping karena merasa ada yang memperhatikanku. Ternyata Yukata sedang memperhatikanku. Ia sudah memiringkan tubuhnya yang berdiri tegap, sehingga hampir menghadap tepat ke arahku. Matanya melirikku. Bibirnya menyunggingkan senyum yang mengembang. Alisnya sedikit terangkat dan menundukkan kepalanya, “wow, be careful of your heels”, lalu tertawa kecil. Ah tiba-tiba aku terdiam kaku melihat sikapnya karena merasa Yukata sangat cool seperti di iklan-iklan. Pipiku sepertinya jadi panas.

Itu adalah pertama kalinya aku melihat wajahnya begitu dekat. Lebih dekat dari saat kami berada di mobil karena aku hanya melihat wajahnya yang sebelah kanan saja. Wajahnya putih bersih, tapi tidak seputih pria Jepang pada umumnya. Bekas cukuran kumis dan jenggotnya terlihat tipis jelas. Aku pun segera tersadar saat mataku tepat melihat ke matanya yang sudah beberapa detik melihatku. Aku malu melihat wajahnya lagi. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum simpul dan ikut menganggukkan kepalaku mengiyakan perkataannya. Rasanya Ia sangat berbeda, seperti dua orang yang berkepribadian berbeda yang kutemui hari ini. Ia menjadi lebih sering tersenyum dan banyak bercerita seperti kami sudah saling mengenal lama. Mungkin karena perutnya sudah terisi pikirku, atau mungkin memang orang Jepang butuh waktu untuk dapat dengan nyaman mengobrol dengan orang yang baru ditemuinya.

Bersambung!!!


* * *


Diubah oleh goguma841
profile-picture
Kawata85 memberi reputasi
1 0
1
Senja di Asakusa, Tokyo
22-05-2019 00:14
etto
ano
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
22-05-2019 00:56
Quote:Original Posted By goguma841
emoticon-Ngakak


anata wa wibu desuka ? emoticon-Ngakak
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
08-06-2019 03:37
plisto updetto..
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
08-06-2019 04:04
Mantapo thredto lanjutoo yoo
profile-picture
goguma841 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
11-06-2019 11:03
pengennn lanjuttttannyaaaa,
ane juga ada temen (cewek) yang dari Keio,
doi exchange di kampus ane buat belajar budaya Indonesia.
Doi pendiem, mungkin karena pemalu, jadi temennya sedikit,
itu juga bisa kenalnya karena ane yang ngajak kenalan setelah di kasih tau sama temen kalo ada cewek Japan di kampus ane.
Karena doi pendiem dan sedikit temen, kemana-kemana hampir bareng sama ane terus, kalo udah kenal orang nya asyik juga, ga jaim, dan yang bikin beda, doi ga mau di traktir (haha).
Padahal niat nya emang pengen gw aja sihhh.
Sekarang doi udah balik ke japan dan udah lulus. wkwk

0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
11-06-2019 12:30

Minal Aidin Wal Faidzin Agan dan Aganwati

Minal Aidin Wal Faidzin Agan dan Aganwati
Selamat Hari Raya Idul Fitri ya untuk yang merayakan!!!

Mohon maaf banget untuk Cerpen "Senja di Asakusa, Tokyo" hiatus tanpa kabar. Ane bener-bener hectic beberapa waktu yang lalu, ampe tongkrongin internet pun ane sampai gak sempat. Maaf yaa


Terima kasih buat atensi Agan-agan.

Berikut, lanjutan cerpen bersambungnya.

emoticon-Sundul Up
Diubah oleh goguma841
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
11-06-2019 12:49

Senja di Asakusa, Tokyo ~ #Tak Ada yang Ku Pahami

“Okay everyone, we’ve arrived”, kataku kepada Yukata, Yuki, dan Rika ketika mobil tiba di depan halaman rumah Ayumi tempat Aku dan Rika menjemput Yuki. Sementara itu, Buom dan Yue memilih untuk pulang bersama salah satu mobil Ayumi yang mengantarkan beberapa barang ke rumah Ayumi, sehingga ketika kami sampai terlihat Buom yang baru saja akan masuk rumah mengangkat tangan ke arahku yang masih berada di atas mobil.

Yukata yang duduk di sampingku segera melepaskan sabuk pengamannya. “Thank you, Laras”, Ia menoleh ke arahku dan melihat lekat tepat ke mataku. Spertinya kulihat sudut kiri bibirnya tertarik senyum, saat kata-kata itu selesai meluncur dari bibirnya.
Aku sejenak terdiam ragu lalu hanya bisa menganggukkan kepala. Aku baru akan membuka mulutku untuk membalas ucapannya, Yukata sudah membuka pintu mobil dan segera turun. “Ck...”, tanpa sadar aku mengernyit dan berdecak melihatnya turun dari mobil. “Opo mene mas,mas”. Lanjutku sedikit bergumam. Benar-benar orang yang aneh pikirku.

Quote:“Oh, I was sleeping, Gomenne?”, kata Yuki setelah terbangun yang segera menyadarkanku lalu aku pun menoleh ke kursi belakang. Ia mengusap matanya yang mencoba beradaptasi dengan cahaya lalu melihatku dengan senyuman.
“Aa, daijoubu, Yuki-chan”, balasku dengan tersenyum. Entah bagaimana mereka semua ini dapat berteman dengan karakter yang benar-benar berbeda, pikirku yang masih teringat sikap Yukata beberapa detik yang lalu.
“Aduh akhirnya sampai juga. Maaf ya aku ngantuk banget Ras. Oh ya, kita masuk rumah bentar ya, katanya ada yang akan diberikan Yuki”, minta Rika padaku sambil menegakkan punggungnya yang mungkin terasa pegal.
“Okay deh, yuk”, ajakku mengiyakan permintaan Rika dan segera melepaskan seatbelt. Lalu kami bertiga menyusul Yukata yang telah turun dari mobil lebih dahulu. Namun, Yukata sudah berada di rumah seberang yang berhadapan dengan rumah tempat Yuki menginap.
“Ow, where is Yukata?”, kata Rika kepada Yuki menanyakan hal yang sama yang terlintas di benakku.
“Ah, Yukata stay there with Felix and other boys”, jelas Yuki sambil menunjuk rumah ke arah Yukata berada. Terlihat Yukata sedang duduk merokok di teras bersama pria kaukasia bertubuh tinggi, berambut pirang..
“Ah, I see”, jawab Rika singkat sambil mengikuti Yuki memasuki rumah.
“Aku tunggu di sini aja ya Rik”, kataku lalu segera duduk ke atas sofa berwarna coklat yang ada di ruang tamu. Kemudian aku memendarkan tatapanku ke sekeliling ruang tamu itu dengan punggung tetap bersandar.
“Oke, tunggu ya”, kata Rika menjawabku lalu berjalan mengikuti Yuki ke arah ruang tengah.
“Yes”, kataku dengan suara yang lelah dan hembusan nafas. Aku kemudian melihat foto keluarga Ayumi bersama kedua orangtuanya dan kedua adik perempuannya yang tergantung tepat di dinding berwarna krem di depanku. Hanya ada seorang lelaki dalam keluarga yang mewah dan bersahaja ini, juga terlihat hanya Ayumi yang tidak menggunakan jilbab dalam foto itu. Ayumi pun satu-satunya yang tidak berkuliah di fakultas kedokteran dari cerita Rika.


***

15 menit kemudian . . . .
Quote:“Hey, Ras”, sapa Rika menghampiriku yang setengah berselonjor di sofa, diikuti Yuki dari belakangnya yang kemudian duduk di sebelahku. “Sorry yah lama. Udah ngantuk ya?”.
“Iya nih, pulang yuk kalo udah gak ada lagi nih, takut terlalu ngantuk gak bisa nyetir”, ajakku. Lalu aku menoleh ke arah Yuki yang sudah berada di sampingku bermaksud pamit.
“Larass, this is for you, I hope you like it”, ucap Yuki tersenyum dan mata yang berbinar-binar, lalu menyodorkan plastik pink kecil, kira-kira berukuran 10 x 15 cm.


Aku pun mengambil plastik tersebut dan melihat ke dalam kantong itu. Aku menarik keluar sebuah benda kecil, lalu sadar bahwa itu adalah lip balm dengan tutup berkepala minnie mouse dengan gambar stroberi di cover depannya. Sebelum aku membukanya sudah bisa kupastikan dari cover-nya saja itu beraroma stroberi. Ia menatapku lekat seolah mencari sesuatu yang menyenangkan di wajahku yang pasti sudah terlihat lelah.

Quote:“Wow, kawai. Yuki-chan, thank you so so much”, kataku pada Yuki dan dengan cepat memeluknya. Yuki pun balas memelukku dengan gemas, seperti kami sudah lama mengenal. Tentu saja aku menyukai barang lucu tersebut. Selain karena lucu, itu karena hadiah dan produk lokal negara Jepang sehingga tidak akan kudapatkan di Jakarta.


Quote:“So, what are you going to do tomorrow, Yuki?”, tanyaku pada Yuki lalu memasukkan lipbalm pemberiannya ke dalam pouch yang ku bawa turun dari mobil, sembari kami bertiga keluar dari pintu yang terbuka lebar. Sesaat kami sudah berada di teras rumah saat Yuki memberitahukan padaku dan Rika bahwa Ia dan Yukata akan berangkat ke Makassar besok malam.


Quote:“Tomorrow night, I and Yukata will go to Makassar”. Tiba-tiba Ia seperti kaget teringat sesuatu, matanya yang sipit tiba-tiba membesar sehingga pupil matanya jelas terlihat olehku, lalu dengan cepat tangan kirinya meraih tangan kananku dan menggenggamnya. Aku pun tersentak dan mataku ikut belo mengikuti pupil matanya yang membesar dan bisa dipastikan wajahku pasti aneh. Ia tertawa geli lalu berkata, “Aa, Larassu, we plan to go to Toraja first from Makassaru, un..ato ni, we will go to Takara to visit our foster-parents.”, jelas Yuki padaku dengan aksen Jepangnya.


Aku sedikit bingung mendengarnya. “Takara?”, kataku tidak yakin lalu melihat ke arah Rika. Tentu Rika menangkap yang dikatakan Yuki.

Quote:“Ah, Takalar maksudnya Ras, tempat kami field trip kemarin”, dengan sedikit tergelak Rika menjelaskan padaku diikuti anggukan kepala Yuki berkali-kali dengan wajahnya yang tersenyum lebar. Sepertinya senyuman itu disebabkan Ia sulit menyebutkan daerah Takalar dengan benar. “So, how long you guys will stay in Toraja and Takalar?”, lanjut Rika


Quote:“Mm, we wiil stay in Toraja for 3 days, then I will stay in Takara for 1 day only. Mm, but maybe Yukata will stay more in Takara”, jelas Yuki sambil melihat ke arah Rika dan ke arahku secara bergantian.


Quote:“Do you already have the bus tickets to Toraja? if you guys need help, just tell me”. Aku menawarkan bantuan kepada Yuki, mencoba menangkap maksud perkataannya. Sepertinya mereka masih bingung bagaimana untuk sampai ke Toraja lalu berangkat lagi ke Takalar.


Quote:“Really?”, tanya Yuki memastikan.
“Sure!”, kataku meyakinkannya dengan berbalik menggenggam tangannya. Aku teringat cerita teman-teman yang mengikuti konferensi mengatakan bahwa orang Jepang pada dasarnya sangat sungkan. Jadi, apabila ada yang tidak mereka sukai atau ingin meminta sesuatu, mereka sangat berusaha sopan, sehingga mengatakan sesuatu secara blak-blakan dianggap kasar dan tidak sopan. “I can contact my friends in Makassar or my cousin to help you find the transportation and accomodation”, tambahku lagi.


Quote:“Aa, thank you, Larassu. I will talk to Yukata”, jawab Yuki ceria lalu memelukku. Sikapnya benar-benar hangat seperti teman-teman Jepangku yang lain. Aku pun merasa senang bila bisa menolongnya berjalan-jalan di kampung halamanku.
“Ah, It’s okay. Just let me know. I’d be happy to help”, jawabku saat membalas pelukannya.


Quote:“Okay, Yuki, see you tomorrow. I’ll be here tomorrow at 10.00 am”. Rika pun memeluk Yuki berpamitan dan dibalas Yuki dengan mengiyakan Rika. “I think it’s a great idea if Laras can help you guys to find the transportation and accomodation for your trip to Toraja”. Rika kembali menekankan hal itu kepada Yuki. Lalu, kami pun berjalan meninggalkan teras rumah menuju mobil.
Lalu Rika tiba-tiba sedikit berteriak saat berada di depan mobil. “Hai, Yu”.


Yukata yang sedang duduk mengepulkan asap rokoknya di teras rumah melihat ke arah kami dan berdiri mengangkat tangan kanannya, bersamaan dengan Rika yang berjalan menuju rumah tersebut. Aku dan Yuki pun mengikuti dari belakang.

Quote:“Rika, Are you going home?”, kata Yukata kepada Rika saat kami sudah berada di teras rumah.
“Yes, we need to leave now because my home is quite far from here”, jawab Rika kepada Yukata kemudian mengulurkan tangannya tapi tidak untuk bersalaman dengan Yukata, namun kepada seorang pria Kaukasia yang juga ikut berdiri di samping Yukata. “Hai, Felix, I didn’t see you and Alisann at the party”, sapa Rika menyalami pria yang disapanya dengan nama Felix itu. Rupanya mereka pun sudah saling mengenal.
“Hai Rika. Yeah, we left early because Alisann got stomachache. Besides, we will go to airport at 6.00 am, our flight scheduled to Jogjakarta at 9.30 am”. Kemudian ia sedikit maju mengulurkan tangannya bermaksud menyalamiku yang sudah berada di samping Rika. “Hai, I’m Felix”.
“Hai, I’m Laras, her friend”, kataku menunjuk Rika dan menyalami Felix.
“Laras, Felix and Alisan are also law students from German lho...”, jelas Rika berbahasa Inggris tapi dengan akses Jakarta sambil menatapku dengan membelokan matanya sehingga terlihat lucu. Sepertinya meyakini bahwa aku dan Felix senang akan fakta kecil tersebut. Tentu saja hal itu memang benar.
“Really?”, jawabku dan Felix bersamaan yang kembali memecah suasana dan mengundang tawa lepas semuanya.
“Nice to know you”, jawab Felix.
“Nice to know you too”, balasku tersenyum. “Do you join European Law Students’ Association? If yes, maybe we can meet later at some law students conferences?” tanyaku kembali.
“Owh, so you also actively attend the law students conference? Well, I don’t, but Alisonn is a member of ELSA”, katanya tertawa dengan sedikit mengangkat bahunya dan membuat gimmik wajah lucu. “Well, unfortunately, she is sleeping now so you can’t meet her”, tambahnya lagi memonyongkan bibirnya dan menepuk-nepuk bahuku. Kali ini membuat kami semua tertawa lebih keras karena gimmick muka konyol yang dibuatnya.
“How is she now?”, potong Rika ingin tahu keadaan Alisonn.
“She is fine after took a medicine that Atika gave her”.
“I hope she is getting better. Ow, Yue said that you are going to Bandung tomorrow.”
“Owh, we were planning to go to Bandung, but canceled. Atika helped us to get ticket to Jogjakarta tomorrow”, jelas Felix mengenai perubahan jadwalnya.
“Ah, I see. Have a nice trip to Jogja” Kata Rika tersenyum.


Quote:“Ow yeah, Yukata, Laras said that she can help you to get transportation and accomodation to Toraja if you need help”, tanya Rika yang mungkin baru mengingat tujuannya menemui Yukata, selain untuk berpamitan kepada Yukata dan Felix.
“Really? Owh, that’s great. Thank you so much Larass. I and Yuki are going to Makassar tomorrow night at 7”. Kata Yukata saat mendengar Rika. “Yuki-chan, etto...y don’t we go to Toraja?”, tanya Yukata sedikit terbata meminta pendapat Yuki yang berdiri di sebelah kananku, tepat di depan Yukata.
“Eee? Joodande wanai!!! (=jangan bercanda deh!!!)”, suara Yuki terdengar melengking dan matanya kembali belo karena bingung, seperti wanita Jepang pada umumnya, lalu tertawa. Tentu saja kami semua tertawa dan sepertinya semua bisa mengerti ucapan Yuki.
“Iie iie, tomorrow when arrived ne”, kata Yukata menggerak-gerakkan telapak tangannya berusaha menjelaskan.
“Aa, tomorrow?” kata Yuki tertawa geli.
“So so”, jawab Yukata ikut tertawa.
Tiba-tiba terdengar suara Felix dan Rika hampir bersamaan, “Heyyyyyy...”. Mereka lalu saling berpandangan dan tertawa lagi. Aku pun tertawa melihatnya.
“So so, I mean tomorrow ne when arrived”, jawab Yukata semakin terdengar berirama Jepang. Ia melihat tepat ke arahku yang sedang tertawa geli seperti halnya Yuki, Rika, dan Felix, yang sontak membuatku terdiam pelan.
“Hm ehm”, Yuki berusaha menghentikan tawanya dan mungkin untuk melegakan tenggorokannya. “Is it possible Larassu?”, tanya Yuki kepadaku.
Aku lalu menganggukkan kepala memberi isyarat bahwa aku paham maksudnya. “Mmm, as I know, the last bus to Toraja is around 11.00 pm, but I am afraid if there’s no more seats available for tomorrow night. But let me ask my cousin first. I hope she’s still awake”, jawabku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku pun mengambil ponsel dari dalam pouch yang ku bawa dan berjalan menjauh untuk menelepon sepupuku.
“Yukata, Yuki, she said she will check the tickets tomorrow morning because it’s already late night in Makassar right now. She is also going to Toraja tomorrow at 11.00 pm by bus, so if she can get tickets for you two, you’ll be safe on your trip to Toraja”, kataku dengan sedikit membuka kedua tanganku memberikan tanda aman. “Owh, yeah, I also asked her to find a hotel for you and she said okay”, tambahku lagi dengan tersenyum.
“Thank you so much”, jawab Yukata dan Yuki hampir bersamaan.
“Mmm, I will let you know tomorrow. I think I can see you again tomorrow noon here, I will explain to you more after I got information back from my cousin”.


Tiba-tiba Yukata menghadap lurus ke arahku. Tangan kirinya meraih lengan kananku. Tangannya dingin saat memegang lenganku. Kepala Yukata bergerak ke kiri dan kanan diikuti bola matanya yang juga ikut bergerak-gerak mencoba menyampaikan sesuatu. “Etto...un.., your - - - time - - - is okay?”. Mataku tiba-tiba belo, badanku seketika seperti menciut. Aku kaget dengan sikapnya.

***



Bersambung
Diubah oleh goguma841
profile-picture
Kawata85 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Senja di Asakusa, Tokyo
21-06-2019 18:28
Senja terossss emoticon-Blue Guy Bata (L)
btw nice story gan, ditunggu update'annya emoticon-Recommended Seller
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
21-06-2019 18:50
Artikel yang sangat membantu. Terima kasih atas Informasinya
BOLAPELANGI - BANDAR MIX PARLAY TERBESAR DI INDONESIA HANYA DENGAN 1 USER ID SUDAH BISA BERMAIN SEMUA GAME.
Prediksi Bola dan Togel
Bola Online
[URL="http://[sensor spam]/"]Mix Parlay[/URL]
[URL="http://[sensor spam]/"]Bola Jalan[/URL]
[URL="http://[sensor spam]/"]Bandar Bola[/URL]
profile-picture
blackpanda2711 memberi reputasi
0 1
-1
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Senja di Asakusa, Tokyo
22-06-2019 18:50
wihhhhh mantab nih ts nya, aku tunggu update threadnya. emoticon-Wink
0 0
0
Senja di Asakusa, Tokyo
25-01-2021 21:13
Senja tai anjing
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
catatan-yang-terbuka
Stories from the Heart
air-mata-hujan
Stories from the Heart
friend-ghost
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Collections
Stories from the Heart
permintaan-ibu
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia