Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
626
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ccdaff4f4d695303672fb57/balada-kisah-remaja-genit-jurnal-komedi
gue ingin membagikan sedikit cerita perjuangan asmara atau cinta dan kehidupan gue semasa remaja dulu saat di perantauan... meskipun nggak seberapa rame nya, gue harap kisah yang gue tuliskan ini bisa menginspirasi kita semua... Nggak lupa, gue mohon izin dan mohon masukannya juga dari sepuh sepuh semua yang ada dis
Lapor Hansip
04-05-2019 22:29

BALADA KISAH REMAJA GENIT (JURNAL KOMEDI)

Past Hot Thread
Quote:
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)





Jurnal ini dapat membuat orang yang membacanya merasa BOSAN, tidak tertarik lebih lanjut dan kehilangan SELERA untuk membacanya, mereka akan merasa bahwa membaca jurnal serta kisah ini hanyalah membuang buang waktu mereka saja. Membencinya, mengkritiknya, membuangnya, dan melupakannya.

Tetapi bagi mereka yang bertahan, berjiwa santai dan pandai mencicil dalam membacanya.

Sebuah keajaiban akan terjadi.

Dan mereka akan mengingatnya.


..... Jurnal yang bakal saya bagikan ini mostly atau kebanyakan, bakalan bercerita tentang gimana cara untuk survive / bertahan di lingkungan sekolahan yang ekstrim dan berantakan, berandalan, dengan siswa cewek dan cowok yang nakal-nakal banget didalamnya, serta yang kebanyakan senang dan hobi banget mojok plus mesum di kantin belakang sekolah. Hehehe.

Dan nakal disini tuh sebutlah, pakai narkoba, nggak nurut sama guru, tawuran dan lain lain nya... betul betul nggak ada yang bisa dibanggain, apalagi kalau nakalnya masih dari duit orang tua. Tapi jangan emosi duluuu, karena ada pelajaran yang bisa diambil dari kenakalan-kenakalan itu.

* * *


PROLOG


"Bang, kau jangan lupa sama janjimu ya, kau kan anak lelaki, terus kau kan sudah lulus SD juga. Nah sekarang, merantau lah kau ke tempat orang."

Ucapan diatas adalah pesan dari bokap buat saya, karena ditagih janji, dan harus menepati janjinya, keputusan itu pun membuat saya harus memberanikan diri saya untuk pergi merantau ke tempat orang, sebuah tempat yang jauh dari kota kesayangan saya, kota yang saya tinggali.

..... nah waktu ituuu saya lagi ngobrol ngobrol santai sambil menikmati perjalanan sama sopir pesanan bokap di pertengahan malam, waktu itu kalau saya coba ingat ingat lagi secara persisnya..., perjalanan saya ini terjadi di bulan Februari, tahun 2007. Pak Amin namanya.

Sekitar jam setengah dua belas malam, dengan menaiki Range Rover Vogue warna hitam yang saya tumpangi, sopir pesanan bokap saya ini membawa kami melaju secara ekstra hati hati tepat didalam rerimbunan serta gelapnya taman hutan raya Bukit Soeharto.

Di Borneo, Kalimantan Timur.

Bukan karena apa apa, tapi karena kabarnya tempat ini adalah tempat yang super duper keramat.. jadi ya saya nggak bisa sembarangan bertingkah laku di tempat ini. Sompral atau belagu sedikit aja, saya yakin kalau saya bisa hilang di bukit yang menyeramkan ini.

.....

"Mas, kalau kita lagi lewat bukit Soeharto ini saya harap mas banyak banyak berdoa ya, jadi biar nanti kita bisa keluar dengan selamat." obrol si pak Amin kepada saya di saat itu, sambil dia tetap fokus dengan kendali setir yang berada didepannya.

Saya yang nggak tahu apa apa, cuma bisa merasakan bahwa bulu kuduk saya agak merinding. Sebab hanya ada kami berdua di tengah malam itu, dan persis seperti yang supir saya bilang, suasana di bukit Soeharto ini terkenal mencekam dan mengerikan.

Gosip gosipnya sih tempat ini adalah tempat rahasia, dulunya, yang dipakai untuk membuang mayat para preman yang dibunuh serta dikarungi selama pada masa pemerintahan yang terhormat... bapak presiden Soeharto. Tapi ini semua masih katanya ya...

Luar biasa...

Cuman, sebelum saya cerita lebih jauh lagi tentang kisah saya di tahun 2007 sampai dengan 2008 pertengahan itu.., saya pengen omongin satu hal yang bakalan bikin semuanya jadi jelas, bahwa, hidup saya nggak akan dimulai sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri dengan merantau seperti ini...

Ini adalah sebuah perjuangan yang sudah saya lewati di masa lalu saya, yang ternyata memberikan banyak kesan dan kenangan bahkan sampai hari ini.

Jadi waktu itu saya masih kelas 6 SD, baru lulus banget dari SD, kemudian merantau lah saya untuk cari sekolahan baru dan duduk di bangku SMP.

Hidup dan tinggal di keluarga Soematra memang begini, betul-betul keras didikan nya, meski saya tahu mungkin diluar sana ada yang sudah ditempa meski dari umur yang lebih muda, kayak waktu masih di bangku taman kanak kanak, mungkin? saya nggak hafal gimana persisnya.

Yang jelas waktu kelas dua SD saya pernah diguyur air dingin tepat tengah malam dan disuruh tidur di luar rumah, sama bokap saya, nyokap nangis-nangis dan nggak mampu ngelawan bokap, sampai akhirnya saya pun hampir kena hipotermia, dan kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Itu belum seberapa friends, waktu kelas lima SD saya pernah dijebloskan ke dalam penjara setempat sama bokap saya.

Penyebabnya?

Saya membuat skema ponzi (investasi bodong) di sekolah saya yang menyebabkan teman-teman saya kehilangan uang liburan mereka. Total dana yang saya gelapkan itu senilai puluhan juta rupiah. Under tiga puluh juta waktu itu kalau nggak salah.

Karena hal ini lah, saya dijebloskan kedalam sebuah tempat untuk menterapi anak-anak yang memiliki kecenderungan aneh aneh. Termasuk penjara itu tadi.

Seorang Philargyrist. Adalah orang yang suka dengan uang, bentuknya, gambarnya, teksturnya. Ngomong ngomong, under 30 juta, adalah nominal uang yang kecil dan sedikit sih memang, kalau bisa lebih banyak, saya pengen nya 50 juta atau lebih, tetapi untuk ukuran anak SD di tahun 2005, menurut orang-orang itu adalah hal yang agak tidak wajar.

Selain itu saya punya tendensi sebagai seseorang yang mengidap obssesive compulsive disorder, yang menyebabkan saya melakukan suatu kebiasaan secara repetitif, berulang ulang kali secara terus menerus, disini kasusnya saya punya kecenderungan untuk kembali menyedot uang uang itu lagi, buat saya, koin seratus perak yang sudah lecek dan kumal itu adalah sesuatu yang amat sangat mengundang.

Kalau buat kamu situasi seperti itu adalah angin selewat saja, ya mending buat saya aja duitnya, kenapa? karena setelahnya saya akan mencuci koin itu lalu memasukannya kedalam celengan saya.

Suara dentingan dari koin ituloh.... indah. Dan esensinya buat saya, every coins, matter.

Nah, jadi hukuman yang tepat bagi orang seperti saya adalah mencuci otak serta mental nya secara menyeluruh. Salah satunya adalah dengan men-terapi dan menjebloskan saya ke dalam penjara anak serta tempat praktik psikiater dan psikolog, untuk disatukan dengan kriminil-kriminil cilik atau anak-anak 'special needs' yang lainnya.

Hahahahaha, ya nggak sebegitu juga horornya, karena banyak kok yang pintar-pintar juga, di terapi disini, ada yang savant, ada yang synesthesia, ada yang prodigy, haha, mau apa lo? yang imbecile juga ada kok. Dan duit orang tua mereka nggak tanggung-tanggung kalau udah main ke psikiater dan psikolog. Hahahahaha.

Being a criminal mind, hukuman selanjutnya yang dilimpahkan kepada saya—masih yang kayak begitu juga, akhirnya saya pun pernah terpaksa ikutan tidur dirumah sebuah komunitas pemulung yang tinggal di sekitar komplek perumahan kami, ini waktu di Sumatra selatan kalau nggak salah, (saya kenal sama ketua komunitas pemulungnya, dan saya tidak membatasi diri sih.. asyik-asyik aja) Nah, disanalah saya belajar tentang gimana caranya jadi anak laki laki yang tahan banting. Itu semua belum termasuk bogem mentah dan ikat pinggang bokap.

Makanya saya sering ngebayangin, apa jadinya ya kalau teman teman saya yang dimanja itu, diperlakukan begitu sama Bapak mereka, wah sudah bunuh diri kali mereka. Walaupun anak aparat atau anak pejabat, tapi kalau pola asuh nya kayak pola asuh bokap saya, alamat selesai itu anak-anak manja.

.... juga kalau seandainya saya tidak memutuskan untuk merantau di tahun 2007 silam, saya bakalan tetap diusir juga sama bokap saya, nggak diakui sebagai anaknya, karena lembek, lemah, dan nggak mau berjuang. Bokap emang kejam kalau udah soal yang beginian.

Yang membuat saya mampu bertahan hingga hari ini ya adalah karena diri saya sendiri, karena nggak ada yang bisa menyemangati diri selain kita sendiri.

Alasan kedua, saya orangnya rasional, kalau dipukul itu artinya sakit, ya jangan suka mukul orang lain. Ketiga, saya orangnya senang gagal, karena dari gagal saya bisa belajar.

Keempat, saya anak bandel, nggak sempurna, dan suka belajar dari kesalahan yang dibuat oleh diri sendiri.

Kelima? nggak ada, jangan banyak banyak hehe, nanti pusing coy.

* * *

Dan juga... saya nggak akan tulis kisah saya ini kalau motivasinya kurang kuat.. saya sengaja tulis jurnal saya ini untuk mengingat masa masa itu, juga untuk mengenang perempuan terbaik, yang pernah hadir ke dalam hidup saya, selain nyokap saya sendiri tentunya...

Dan ini rasanya sungguh klise (biasa aja) memang... kalau dipikir pikir lagi, tapi ya, saya paham lah resikonya sedikit mengorek masa lalu itu kayak gimana. Makanya saya beranikan untuk menulis ini.

Jurnal dan kisah ini... juga saya tulis dan ceritakan ulang untuk menghormati orang orang didalam kehidupan saya. Harapan saya, semoga saya lancar menulisnya sampai akhir, karena ini bisa dibilang enggak banyak juga.

Jadi ya semoga saya bisa bawa alur cerita saya ini secara ringkas, padat dan jelas. Biar nggak ada yang pusing apalagi sampai sakit jiwa waktu ngebacanya.

So, nama saya Arang (Ara), sering dipanggil begitu karena kadangkala sifat saya yang menyengat kayak bau belerang, dan ini, adalah balada kisah hidup saya.

* * * * *


Indeks


Part 1 — Lagi enak-enaknya, saya ditendang.

Part 2 — Bokap saya yang kamu tidak sukai.

Part 3 — Life is normal.. kalau kamu lagi boker.

Part 4 — Seperti Arang, seperti belerang.

Part 5 — Jangan sampai, berpisah...

Part 6 — Saya yakin, diatas langit, masih ada langit.

Part 7 — Saya yang bawa pesta nya ke tempat kamu.

Part 8 — Masa lalu saya yang terancam punah.

Part 9 — We live in a world full of danger.

Part 10 — The GIANT remains incognito.

Part 11 — Shiz's Laik Dat Maighti Soerawizeza.

Part 12 — Teori sandal jepit Swallow hitam punya saya.

Part 12.2

Part 13 — Waktunya-kamu-ikut-saya-main.

Part 13.2

Part 14. — Mengupas tuntas, menyingkap tabir..

Part 15 — Kita tanding ulang, lo berani?

Part 15.2 — Every hotel is waving.

Part 16 — Saya harus mengingat kembali beberapa aturan lama...

Part 17. — One Level Above

Part 18. — Saya, Gog Magog, kamu, dan kabar yang mengejutkan.

Part 19. — Perdebatan diantara kamu dan saya. emoticon-exclamation

Part 20. — Saya kembali ke tahun 2006.

Part 21. — Jalan Van de Venter.

Part 22. — Saya, moving to Borneo.

Part 23. — Saya dalam dunia perantauan.

Part 24 — Saya, kehidupan baru, dan bencong di masa lalu.

Part 25 — Borneo, saya dan kehidupan yang gokil abis!


Quote:
House of the suspects.
Ilustrasi tokoh.


Quote:


Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Polling

Poll ini sudah ditutup - 0 Suara

Siapa tokoh yang paling kamu benci? 
0%
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wanbillion dan 48 lainnya memberi reputasi
47
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 31
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
04-05-2019 22:30

Part 1. — Lagi enak-enaknya, gue ditendang.

Quote:Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Sedikit mundur jauh dulu ke belakang...

Sebelum nanti akhirnya gue berhasil mendaratkan kedua kaki gue di pulau Kalimantan.


Bandung, November tahun 2006.

Berarti ini sekitar tiga bulanan sebelum bulan Februari tahun 2007 ya, waktu gue lagi naik mobil di pertengahan malam itu sama sopir pesanan bokap gue.

Sejujurnya, gue agak gugup juga sebetulnya mau memulai cerita gue ini dari titik yang mana, tapi gue coba dulu deh ya, mungkin kedepan nya gue akan mulai terbiasa. Karena ini kan bersifat anonim juga...

Bicara sedikit lebih jauh tentang hubungan gue sama bokap, hubungan gue sama dia... bisa dideksripsikan hanya dalam satu kata aja, yaitu 'tegang', well, harusnya sih sebagai seorang laki-laki hubungan tegang ini terjadi dengan perempuan kesayangan gue, karena tegang 'disini' mungkin artinya bisa lebih dinikmati. You semua pasti paham lah ya, heh heh heh...

Tapi ini enggak, karena sebagai anak lelaki pertamanya bokap, dan kakak dari beberapa adik gue, hubungan gue sama dia udah tegang dari sejak gue masih kecil, baru seumur jagung, atau apapun itu istilahnya. Dengan segala macam kejutan dari bokap yang nggak pernah bisa gue mengerti sama sekali... seperti contohnya dibawah ini..

....

Di siang hari itu... yang rasanya lumayan panas dan terik, cuacanya, di kota Bandung, di Bandung bagian Barat, karena disini lah sebagian besar kenyamanan bagi warga kota ini bisa didapatkan, karena gue jamin, Bandung bagian timur dan selatan nggak bisa ngasih kemewahan semewah regional Bandung barat.

Di siang itu, gue sedang hadir, ikut merusuh dan turut meramaikan pesta graduasi untuk merayakan keberhasilan kami semua para murid sekolah dasar negeri Suryakala 3, sebut saja begitu namanya.. karena kalau nama asli sekolahnya gue tulis disini, bisa dituntut dan diperkarakan lah cerita gue ini sama pihak yang merasa dirugikan... bisa berabe lah pokoknya.

Well, kami semua merayakannya di salah satu rumah teman cewek kami di sebuah perumahan yang letaknya nggak jauh dari kampus PT. Kirim Surat Indonesia, sobat cewek gue yang satu ini, Freya namanya, sebut saja demikian, karena nama aslinya jauh lebih susah untuk disebutkan.

Dan kenapa sobat cewek, bukannya cowok? sebenarnya gue ada kok sobat cowok gue yang bisa gue ceritakan, tapi kali ini gue akan mulai cerita gue dari rumah si Freya karena kejadian nya dimulai dari rumah dia.

Gue ingat, pas lagi enak enaknya berpesta dan memukuli boneka pinata di halaman depan rumahnya Freya—anyway, boneka pinata itu, adalah sebuah boneka yang suka digantung dibawah pohon, dan didalamnya berisi berbagai macam hadiah..., jadi kalau dipukul pakai tongkat kayu, tongkat bisbol, itu boneka bakalan hancur dan mengeluarkan berbagai macam hadiah yang tersimpan didalamnya.

Dan hadiahnya ya bisa macam macam, kayak coklat, permen lolipop, hiasan gelang, jam tangan, anting, atau apapun itulah yang berukuran kecil kecil dan bisa dinikmati. Gue ingat waktu itu lagi nge tren yang namanya sandal CROCS jadi semua orang berbondong bondong beli itu sandal ajaib yang berlogo dinosaurus, eh salah, berlogo biawak yang lagi cengengesan.

Meski gue tahu Freya sebenarnya membeli itu hanya karena dia ingin memeriahkan pesta kami semua, karena sesungguhnya Freya adalah pecinta Manolo Blahnik, persis seperti nyokapnya, yang sombong dan durjana. Maaf ya Frey *kasihsenyumcentil*.

***

Nah, pas lagi asyik asyiknya mukulin itu boneka pinata dalam bentuk Shrek, seingat gue, karena warnanya hijau dan besarnya hampir sama kayak mahluk tolol itu. Mirip kayak Hulk mungkin, kalau di The Avengers nya.

Pas lagi heboh hebohnya gue memukuli boneka pinata itu, gue, melihat bokap gue mampir dengan mobil nya tepat didepan carport rumahnya Freya, beliau kemudian turun dan datang berjalan menuju kearah kami semua yang sedang asyik berpesta di taman beranda rumahnya Freya ini...

Sampai bersambung lagi...


Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 05:21
Cerita ini panjannggg sekali, seperti berada dalam sebuah diorama. Jadi kalau cuma silent reading aja, sayang dong... say hi atau ask something, ya...
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 05:45

By the way.

By the way, kalau kita bicara tentang lokasi sekolahan gue semasa di perantauan ini, sekolah gue ini yang jelas... letaknya bukan di kota Jakarta, dan ini, menurut gue, adalah letak keseruannya. Karena kalau lokasi sekolahnya ada di Jakarta, semua ini bisa gue alami tanpa perlu merantau jauh-jauh seperti yang sudah gue lakukan di waktu itu.

Nah... karena lokasi sekolah gue ini ada di sebuah kota lain di Indonesia. Sebuah kota yang mengajarkan kepada gue bahwa hidup itu nggak melulu hanya tentang membangun gedung-gedung tinggi pencakar langit, punya aset triliunan rupiah, atau berhasil menikahi dokter gigi yang cantik dan seksi itu... alamak, langsung horny awak ngebayangin nya.

Atau mencapai berbagai macam prestasi dunia yang gitu-gitu aja sifatnya...

Tapi hidup ini lebih kepada tentang bagaimana cara kita dalam melestarikan nya, membangun tanpa merusaknya. Sehingga nanti anak cucu kita masih berkesempatan untuk menikmatinya, menikmati apa? mungkin kita bertanya tanya.

Misalnya... menikmati melihat satwa eksotis asli negeri Indonesia, seperti kakak tua raja, nggak punah, menikmati melihat burung unggang, yang juga sama... enggak punah, atau orang utan, enggak punah... menikmati keindahan keindahan alam yang sederhana dan tak ternilai harganya.

Nanti akan gue jelaskan alasan dari kenapa gue tertarik untuk membahas tentang satu ekor fauna asli Indonesia (terancam punah) yang kalau beredar di pasar gelap, harganya hampir menyentuh dua miliar rupiah. Jelas nominal yang sangat kecil kalau dibandingkan dengan hewan peliharaan nya sembilan naga yang harganya ratusan milliar itu. Kalau semua tiger warnanya kuning, nah, dia punya yang putih.. hahahahaha.

......

Kembali berbicara tentang sekolah gue di perantauan itu, meskipun edan, sekolah gue ini, dibalik semua kegilaan dan kehebohan nya, gue melihat bahwa masih ada, masih tersimpan, kebaikan kebaikan kecil di sekolah yang luarbiasa menguji mental gue di tahun tahun itu.

Meski gue nggak sempat sampai jadi alumni disini, gue merasa senang pernah punya kesempatan bisa bersekolah di sekolahan ini.

Menurut opini gue pribadi, sekolah ini adalah sekolahan yang sedikit lebih banyak mengubah cara pandang gue terhadap lingkungan sosial di masa masa itu, misalnya gimana cara menghadapi guru yang keparatnya setengah mati, atau gimana cara menghadapi kakak kelas yang sebetulnya kalau gue nggak pandai-pandai dalam menghadapinya...

NASIB gue udah tamat.

Termasuk gimana cara menghadapi kurikulum belajar di sekolah negeri kita ini, yang gue nggak ngerti lagi, bikin geleng geleng kepala aja bisanya, bikin sakit kepala dan menyita banyak waktu gue, yang sebenarnya bisa gue gunakan untuk hal yang lebih penting lagi.

....

Wah... capek juga euy ternyata. Oke deh, daripada kepanjangan, sekali lagi, gue mohon maaf banget nih kalau kisah gue ini terkesan agak agak gimanaaa gitu... emoticon-Wink semoga kamu-kamu pada suka sama kisahnya, kalau enggak suka juga ya nggak apa apa, intinya, silakan dinikmati aja gimanapun kisahnya.
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 06:33

Part 2. — Bokap gue yang elo tidak sukai.

Quote:Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Udah mirip banget kayak Arnold Schwarzenegger waktu dia lagi main di The Terminator 2; Judgment Day, bokap langsung jadi buah bibir diantara teman teman SD gue yang juga lagi samasama sibuk di acara itu, "Eh liat deh, itu siapa tuh, yang baru turun dari Ranger?" kata Lodya, sambil bisik bisik didekat kita semua.

Yang jelas, semua kayak di pause atau di jeda tepat di taman depan rumahnya Freya pada saat itu.

"Itu bukan Ranger, sayang, tapi Defender." timpal Ello mengoreksi Lody, pacarnya yang baru jadian sekitar 6 bulan yang lalu.

Gue ingat, bokap mengenakan kemeja Wrangler berwarna abu tua dan celana corduroy panjang berwarna hitam merek Levi's. Pakai kacamata Oakley warna hitam, rambut dicepak keras model artis kawakan jaman bahari, John Travolta. Sepatu boots dari Grenson, warna hitam juga, dan ikat pinggang yang sesungguhnya punya buckle / kepala ikat pinggang berwarna emas.

Norak, norak kelas berat.

"Siapalagi lah, bokapnya si ini," jawab si Freya, menunjuk cepat kearah gue sambil melipat kedua tangan didepan dadanya yang waktu itu baru aja mulai menyembul, raut wajahnya mengkerut. Kami udah mirip kayak anak anak yang lagi berpose di poster film Alien (attack) On The Blocks yang kaku itu, waktu bokap gue datang menghampiri kami semua.

Betul, Freya nggak suka sama bokap gue karena bokap gue selalu melarang gue kalau pergi main sama dia, atau.. main di tempat dia.., tanpa alasan yang jelas. Plus, bokap pernah bikin malu Freya di acara ulang tahun nya yang ke 11 tahun, dengan cara membawa-bawa pengeras suara hanya demi menarik dan mengusir gue dari acara ulang tahun nya Freya. Sungguh memalukan.

Dan mungkin saat ini adalah salah satu dari kesekian kalinya bagi bokap, harus menarik paksa gue untuk pergi dari acaranya Freya. Ketika gue tanya kenapa dia harus selalu berlaku begitu, alasannya karena, "Mami nya Freya itu dulu sudah mencampakkan salah satu sahabat dekat Bapak, jadi kamu kalau bisa nggak usah dekat dekat juga sama anaknya." begitu, kata bokap tegas kepada gue.

Disitu gue mencoba untuk mengerti.. dan juga nggak ada hak buat gue untuk membenci bokap... karena dalam pikiran gue, gue selalu berkata, 'Bapak kan memang begitu,' jadi ya, masa bodoh lah...' ucap gue menyepelekan.

Lanjut lagi.

Gue sebetulnya grogi berat nih kalau diminta untuk menceritakan tentang kisah gue, orang orang didalam kehidupan gue, kisah kasih mereka semua, atau pengalaman pengalaman yang pernah gue alami di masa lalu, kenapa? pertama karena gue tumbuh besar dalam asuhan keluarga yang feodal, feodal dan feodal. Tiga kali perlu gue ulang, feodal. Buat yang penasaran bisa langsung cek google mengenai apa itu feodal dan feodalisme.

Tumbuh besar dalam asuhan keluarga yang seperti ini, membuat gue nggak bisa sembarangan dalam hal bertingkah laku, karena gue selalu jadi sorotan dari orang orang yang kenal dengan nama belakang pada keluarga kami yang begitu menggaung itu di tanah Parahyangan, betul, di Jawa barat.

Meskipun sesekali selalu ada keinginan bagi gue untuk bisa berubah haluan, jadi bebas, menjadi tidak bisa ditebak. Tapi ini sifatnya relatif, karena yang jahat jahat dan bandel di keluarga gue pun masih bisa ditemukan. Jadi ya bertingkah adaptatif aja lah ya... menyesuaikan.

Yang jelas, keluarga besar tempat dimana gue tumbuh besar punya karakter yang luar biasa menguji mental dan kesabaran. Tapi tetap tidak bisa gue remehkan juga, karena sejujurnya, mereka semua adalah keluarga, mereka semua adalah orang-orang yang amat sangat berjasa didalam hidup gue.

* * *

Nah kan, jadi mulai berat deh kalau udah bahas bahas tentang keluarga, ha ha ha. Jadi ya daripada panas dan gosong gara-gara kebanyakan bahas soal keluarga, mending gue tarik cerita gue ini ke hari itu lagi aja. Hari dimana kami semua sedang asyik berpesta di rumahnya Freya.

Hari itu bukan hari Sabtu, apalagi hari Minggu, karena kami semua sudah resmi lulus dan didepak dari sekolahan kami semenjak bulan Oktober di tahun 2006, jadi sudah bisa libur dari sekolah. Proses pelepasan siswa pun berlangsung lancar dan penuh dengan air mata, apalagi yang anak cewek... waduh, basah ituu sampai ke susu susunya..

Hahaha.., bercanda.

Sekolah dasar Suryakala 3, sebuah sekolah dasar negeri yang isinya terdiri dari berbagai macam siswa. Gue bahas tentang sekolahan kami kapan hari aja ya. Nanti ya...

Nah setelah lulus, kita semua sepakat buat ngadain graduation party atau istilahnya pesta kelulusan dirumah nya primadona sekolah kami, si Freya, karena kalau pesta itu diadain dirumah gue yang horor nya setengah mati, teman teman gue sudah pasti bakalan kabur duluan sebelum gue sempat menyebar undangan pesta untuk mereka semua.

Karena rumah gue adalah rumah gedong.

Betul, semua ini gara gara rumah gue yang udah mirip sama rumah hantu yang terbengkalai dan enggak jelas macam dan bentuk arsitekturnya kayak gimana, mungkin kalau bisa gue gambarin, rumah gue itu adalah rumah vampir yang menjulang tinggi keatas awan dan punya aura rumah yang betul betul menyeramkan.

Apalagi ketika cuaca sedang mendung, pas, kira kira seperti itulah gambaran paling mengerikan dari rumah gue.



Gue juga ingat, di kala itu, kami sedang ada tugas kerja kelompok, dan semua kawan gue—termasuk gue juga yang mengundang mereka semua untuk mengerjakannya di rumah gue, harus kabur karena yang terjadi adalah... adik gue membeli mainan boneka bayi yang ada suaranya, nah boneka itu dia mainkan di terowongan yang ada pada rumah kami.

Dalam sekejap, semua teman gue kabur dari dalam rumah gue. Sialan banget memang.

Pagar besi yang tinggi dan berwarna hitam, ditumbuhi oleh tanaman rambat yang wanginya kayak bau melati dan brengsek nya, selalu menutup pemandangan indah ketika senja hari tiba.

Hampir lima lantai, dan lantai paling atas dipakai sebagai tempat mengembang biakkan burung merpati, cuma bercanda, lantai atas adalah fireside, perapian maksud gue, lalu ada personal office alias kantor pribadi punya bokap gue, dan tempat bersantai dia kalau dia mau minum teh dan menonton berita politik di televisi kuno kesayangan nya itu.

Kemudian di lantai paling bawah rumah gue dipakai jadi tempat potong hewan. Jadi banyak pisau dan darah di lantai itu, dan ada jungkat jungkit berkarat gitu buat menimba air dari kedalaman sekian puluh meter dibawah tanah.

Sedangkan gue tinggal di lantai tiga (empat dan seterusnya) yang jendela nya terbuat dari kayu semua, sehingga kalau pagi sudah tiba, cahaya matahari nggak bisa tembus, meski sudah dibuka, tetap aja gelap gulita, emang dasarnya rumah vampir sih!

Gue cuma bisa geleng geleng kepala melihat kesintingan yang dilakukan oleh bokap gue itu. Rumah macam apa ini... pikir gue dalam hati.

Rumah gue ini, terletak di daerah Bandung di bagian utara, yang dingin dan sepi, dan semua teman teman gue sampai hafal kalau gue adalah raja vampir dari kediaman milik gue sendiri, bayangin, rumah ini dibangun pada tahun 2004, selesai tahun 2006 awal, tapi 'tampilan' nya udah kayak berumur ribuan tahun.

Semua ini disebabkan karena bokap gue yang salah pilih arsitek, dan pada dasarnya ya selera rumah bokap gue yang enggak jelas mau nya kayak gimana. Jadilah karena itu, gue sering di bully habis habisan oleh semua teman sekelas gue karena rumah gue ini mirip banget sama mansion punya tuan Drakula.

Kalau kalian hafal daerah kota Bandung, rumah gue itu adanya di daerah Lembang, turun dikit dari situ, dekat terminal Ledeng, jalan terus sampai ke daerah Katumiri, pokoknya masih rural dan pedesaan banget itu, jadi waktu gue tinggal disana harga tanahnya masih berkisar 100 ribu per meter, tapi sekarang udah sekitar 25 juta per meternya.

Kenapa jadi mahal? karena ada pengembang dari gated community sebelah yang mau ekspansi daerah hunian mereka secara besar besaran.

.... Masih ngomongin soal rumah gue, coba kalian baca buku tentang Bram Stoker's Dracula, nah itu, kira kira 11-12 lah suasana rumahnya sama rumah gue. Horor abis, bikin jiper sampai ke ubun ubun.

* * *

Di saat rumah gue yang luasnya hampir satu hektar itu horor nya gila kayak begitu, plus taman belakang rumah yang nggak keurus karena terlalu luas... rumahnya Freya... di sisi lain, punya arsitektur yang lebih human-friendly, lebih bersahabat lah intinya buat orang orang untuk datang berkunjung kemudian santai santai di rumahnya.

Dan beginilah penampakan dari indahnya rumah si Freya.
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 10:57
Mmh, lamb belly alla piastra buat pagi ini maknyus sekaliii.
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 14:34
______
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 15:28
_____
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 16:15

Part 3. Life is normal.. kalau elo lagi boker.

Quote:Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Bagaimanakah penampakan dari rumah Freya dan keluarganya itu...?

Sebetulnya gue malasss banget nulis bagian ini, karena yang beginilah yang bikin hidung si Freya mengembang kayak adonan kue bolu. Tapi ya udah lah, nggak apa apa juga kalau cuma sekali kali doang.

***

Rumahnya Freya betul betul nggak pantas kalau dibilang sebagai rumah, karena rumahnya dia itu lebih mirip kayak tempat yang isinya diperuntukkan hanya untuk orang orang yang mau bersenang-senang dan ber ajojing ria aja didalamnya, gimana enggak?

Di lantai atas ada patio dengan living environment yang murni, alias suasana taman lantai atas yang bikin itu tempat jadi sedemikian nyamannya dan terasa lebih hidup. Di patio nya itu ada aviary (semacam kandang burung dalam ukuran super besar)


Masih di lantai atas, ada ruangan yang kalau malam hari tiba, fungsinya berubah jadi semacam planetarium. Ada greenhouse, tipe palram silverline, untuk menampung kantung semar kesukaan nyokapnya si Freya. Selain itu ada studio seni pribadi didalam rumahnya, bukan rumor lagi kalau keluarga besar nyonya Pandjaitan punya La Peinture nya Degas di rumah mereka.

Intinya, semua nyaris serba ada.

Masih di lantai atas, cuma agak turun dikit ke bawah, ada atrium untuk para tamu yang sedang berkunjung, tapi dengan gampangnya dia sebut itu sebagai tempat terbengkalai karena memang Freya jarang mampir kesitu, dengan hot pool indoor. Kolam renang panas dalam ruangan maksud gue...

Alasan dari kenapa Freya jarang sekali mampir kesitu, karena cuma kakaknya Freya aja, si Devo, yang suka merancap (onani) secara sembunyi-sembunyi di kolam renang rumah tersebut. Just kidding, Vo, tapi kalau emang kepepet ya Devo suka onani disitu, footage nya gue simpan di Mediafire.

Sejujurnya, gue bukanlah tipe orang yang mudah terlukai perasaan nya hanya karena ini atau itu, tetapi ketika gue menemukan bahwa Freya punya sebuah ruangan khusus yang dibuat untuk menaruh koleksi buku bukunya...

Tersusun begitu rapih di setiap sudut bookshelf / rak bukunya...

Ini kita lagi ngomongin tentang glass wall library ya... susah susah gue kasih gambarannya, intinya tempat ini adalah ruang perpustakaan pribadi di rumahnya Freya, yang khusus dibuat untuk Freya oleh Papi nya, dengan dinding kaca yang terpasang di perpustakaan nya ini dan flooring dari kayu mahoni... dimana disitu gue sudah mulai merasa terintimidasi...

Kemudian ada sofa berwarna putih, yang ketika gue melihat label 'Roche Bobois' tertulis begitu precise dan akurat pada sofa itu, nafas gue tercekat, hati gue terluka berat. Brengsek memang ini orang, gue yang kasih rekomendasi kemarin hari, besoknya dia yang langsung beli.

Kesimpulan nya bagi gue adalah, rumah Freya ini adalah definisi dari rumah yang menerapkan konsep arsitektur rumah modern masa kini.

Dan... selama tujuh generasi keluarga besar gue doyan sama nuansa rumah dengan stained glass / kaca bercorak, betul, di rumah gue ini ada lukisan YGGDRASIL nya, buat yang nggak tau apa itu YGGDRASIL, cek google aja, YGGDRASIL itu semacam pohon kehidupan, in English, it's the tree of life.

Rumah gue ini konsepnya mirip kayak gereja tabernakel yang nggak pernah ter urus, terabaikan, dan kini, secara mendadak, gue sebagai generasi kedelapan keluarga gue, jadi demen sama nuansa rumah yang warnanya putih dan bersifat terbuka seperti yang gue lihat dan dapati di rumah Freya.

It's like, the medieval age is over yo.. alias, jaman bahari mah udah lewat yo... hahahahaha.

***

Dan, sorry ya kalau ini semua masih terasa samar samar, masuk ke kisah intinya aja kita belum.. he he, sabar aja.

Okay kita lanjut, jadi, bokap gue pun masuk dan menaiki anak tangga kemudian berjalan kearah kami semua yang sedang berada tepat di bawah pohon betula yang ukuran nya belum seberapa besar pertumbuhannya itu, terakhir gue mampir ke rumahnya Freya, pohon betula ini udah jadi rumah buat keluarga hantu setempat.

Gue ingat, di saat itu bokap ngomong begini didepan kami semua, "Halo teman-teman nya Arang.. wah, lagi pada ngapain nih kalian?" ucap bokap gue yang berjarak hanya beberapa meter saja dari kami.

"Lagi ngerayain pesta kelulusan kami ommm," jawab si Bagas yang berdiri tepat dibelakang gue. Bagas ini seingat gue, dia pakai kacamata, model Harry Potter gitu, dan dia senang pakai kemeja dari Hugo Boss serta pakai suspender yang berwarna coklat.

Rambutnya selalu kriwil tapi tetap dipotong pendek, dia suka sekali dengan dunia astronomi, walaupun kami tahun lalu nggak ketemuan di reuni sekolah kami, si Bagas, karena anaknya nggak aneh aneh sama gue bakalan gue ingat dengan baik di dalam memori gue.

Kembali ke momen itu, bokap ngomong lagi, menyahuti si Bagas, "Ohhh, oke."
"Om mampir kesini mau jemput Arang nya, ya..." kata bokap lagi, lalu beranjak perlahan, semakin mendekat kearah kami, sambil memain mainkan kunci mobil di tangan nya.

Dan, nggak lama bagi seorang Freya untuk segera bertingkah galak terhadap bokap gue, karena di saat itu dia pun langsung ngomong begini ke arah bokap gue, "Om, Freya bisa minta Arang buat tetep stay disini dulu nggak? for the party, om?"

Jeng jeng jeng jeng...

***

P.S:

Life is normal.. kalau lo lagi boker.

Adalah kata kata yang Freya ucapin buat gue, karena gue selalu nanya, "Frey, momen apa yang bikin lo ngerasa bahwa hidup lo itu enak?"
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 16:33
bagus lanjutkan
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 17:13
Thanks, ok gan.
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 19:48
_____
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 20:12
.....
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 20:48

Part 4. — Seperti Arang, seperti belerang.

Quote:Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Sejujurnya, gue nggak akan pernah mau ungkit momen dari masa lalu gue ini kalau sifatnya nggak berkesan, nah karena berkesan lah, semuanya gue angkut, dan gue ungkit. He he.

* * *

Waktu itu bokap dengan gaya ala 'cowboy' nya sedang mencoba untuk menjemput gue, dan yang sebetulnya agak aneh ya ini, tapi inilah sosok bokap gue, untuk ukuran orang yang punya selera arsitektur cukup beringas, dia punya selera berpakaian yang malahan, bisa dibilang, lumayan rapi. Meskipun kepala ikat pinggangnya itu selalu berwarma emas. Norak.

Gue, di sisi lain, dalam urusan berpakaian dan berbusana, selalu bersifat konservatif, semua ini terjadi karena kebiasaan gue yang entah bagaimana nurun persis dari sosok mendiang kakek gue. Ini nanti bakalan gue bahas lebih rinci kedepannya, cuma ya nggak sekarang aja... nanti, kalau gue udah punya pacar, hehehe.

***

Cuma hari itu... nggak perlu lama buat gue untuk mengingat busana macam apa yang Freya kenakan di hari pesta kelulusan kami, karena dia biasa pakai hoodie warna gading dengan logo Yankee (sebuah tim bisbol di Amerika Serikat) dan celana katun panjang se mata kaki yang kalau nggak salah warnanya adalah putih juga, dengan sepatu Converse seri eighties berwarna beige yang menempel di kedua kakinya.

Gue, pakai apa di hari itu? gue lupa... ha ha. Seingat gue, gue pakai kaus henley berlengan panjang berwarna biru tua. Sama celana jeans biru tua panjang juga, itu kali ya.

Selanjutnya gue pun mulai mendengarkan bokap gue berbicara lagi di hadapan kami semua, "Freya, om boleh minta waktunya sebentar buat ngobrol didalam rumah kamu aja. Sama Arang ya, bertiga." begiti, kata bokap.

"Oh..." balas Freya datar kearah bokap gue.

"Gimana, kalau nggak, om mau mau langsung bawa anak om ini pulang sekarang ya?"

"JANGAN!" teriak Freya kasar.

"Yaudah.. kalau gitu bisa ngobrol dulu?" ucap bokap gue lagi.

"Ya udah," jawab Freya judes.

Lalu dari beranda depan rumah Freya, gue dan bokap gue pun berjalan mengekor mengikuti dia memandu kami menuju ke depan pintu masuk utama dari kediaman keluarganya. Yang nggak pernah gue lupa ya satu ini, Frey, pintu rumah lo yang tingginya kayak gerbang Minas Tirith yang super duper heroik itu.

Bagian paling gagal dari rumah elo tuh ya pintunya, Frey. Yang lain sih sempurna banget.

Di sela sela itu, bokap nanya sama Freya, "Mamih mu ada dirumah, Frey?"

"Nggak ada om, lagi ke Shanghai." jawab Freya.

"Sama Papih mu?"

"Nggak tau om, bukan urusan aku." jawab Freya setelah kami semua berhasil duduk di sofa dalam rumahnya.

Saat gue melihat elo judes ke bokap gue, dalam hati sih gue ngomong gini, 'Gila lo Frey, elo enak berani galak sama bokap gue, lo kan anak orang lain, gue kalo berani gitu sama dia bisa habis dicukur gue lusa hari, jalan telanjang telanjang gara-gara ngelawan sama orang tua, belum lagi budaya keras keluarga besar kami.' desir gue didalam hati gue sendiri.

Setelah kami bertiga duduk di dalam living room rumahnya sobat cewek gue yang satu ini, ada aura nyaman yang menyelimuti, setelah itu, bokap gue mulai kembali berbicara, jadi posisinya waktu itu tuh, gue disamping Freya, dan bokap di hadapan kami berdua. Tandem banget pokoknya gue sama dia, tegangnya juga sama sama lengkap.

Bokap ngomong gini, "Freya, om sebetulnya mau mau aja ngebolehin Arang buat main sama kamu lebih lama lagi di Bandung, cuma om kan sudah sepakat mau ngebawa dia untuk ikut merantau sama om sekalian om dines di Kalimantan." jelas bokap dalam posisi santainya.

"Iya om, Freya udah denger juga dari Arang." kata Freya.

"Om, mau minum apa? Shiraz?" tanya Freya ke bokap gue, menawarkan bokap untuk meminum minuman anggur yang di fermentasi.

"No, no, om nggak minum yang begitu." jawab bokap langsung menolak.

"Kamu Rang, mau minum apa? Mariachi aja ya? nanti biar aku panggilkan mbak Clarin." tanya Freya menoleh ke sebelah gue, matanya penuh intrik, gue tahu ini orang emang suka buka aib gue didepan bokap gue sendiri.

Disitu gue langsung mencubit betis si Freya, menyebabkan dia segera ngomong "AHHH omm bisa nggak, kalo Arang stay di Bandung sampai akhir tahunn aja, karena angkatan kita rencananya kan mau outing dulu ke daerah gunung Tangkuban Perahu, terus nanti ada rencana ngelihat peternakan dulu disana, om..."

"Om sih sebetulnya nggak bisa ngebolehin dia Frey, karena kan dia sudah janji dari jauh waktu sama omm,"

"Om, please om, plisssss!" mohon Freya.

"Tapi begini lah, kamu tau nggak apa yang si Arang ini korbankan di Bandung, sebelum dia nanti akhirnya sepakat untuk merantau ke Kalimantan."

"Apa om?" — "Apa Rang?"

"Kau jawab lah itu, Bang."

Gue: "........."

Seperti yang gue rencanakan, di bagian bagian ini gue rasa gue udah mulai bisa membahas lebih jauh dan lebih mendalam tentang diri gue sendiri. Diri gue yang karakternya nggak kasat mata.

Hantu, dong?

Iya, say.

***

Masih di living room atau ruang tamu nya rumah keluarga nya Freya, ketika ditanya sama bokap gue, gue pun akhirnya mikir buat ngejawab pertanyaan yang dilontarkan oleh bokap kepada gue pribadi.

Gue yang waktu itu masih berumur 11 tahun, dengan tinggi sekitar 135 sentimeter, dengan Freya yang tingginya satu tingkat diatas gue, 145 sentimenter dia soalnya. Karena cewek memang selalu menang dibanding cowok di fase-fase pubertas awal, gue ingat persis itu, disaat semua teman cewek di kelas gue ukurannya jadi pada jumbo jumbo nggak jelas...

Kami para cowok cowok, masih pada imut dan kalah jauh kalau dibandingkan dengan mereka para cewek cewek di awal masa pubertas. Meskipun setelah kami mulai menduduki bangku SMA, semua itu akan berubah menjadi.. "Eh, kok sekarang jadi gue yang lebih tinggi ya daripada elo? apa kabar nya elo yang suka ngejekin gue cebol waktu SD dulu? hahahahaha."

Berat badan gue waktu itu sekitar 36 kilogram, jadi ya badan gue proporsional aja, dengan garis rahang yang tegas, bentuk wajah kotak, alis yang super duper nyebelin, karena sering menyebabkan yang enggak enggak terhadap kaum perempuan, kulit berwarna kuning langsat, dan bibir yang bentuknya hampir mirip kayak bibir anak cewek.. maka mampuslah gue dibilang kucing garong sama teman cowok seisi kelas gue karena gue sering dicemburui sama mereka karena dengan begitu mudahnya bisa dekat dengan anak anak cewek...


Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 21:29
_____
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 22:13
.....
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
tatoc memberi reputasi
1 0
1
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
05-05-2019 23:07
_____
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
06-05-2019 04:06
Ceritanya keren Gan
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
06-05-2019 05:07

House of the Suspects. (Ilustrasi tersangka dalam cerita)

Quote:
Semua ini hanya ilustrasi... ketika saspek-saspek sudah beranjak dewasa.

Saspek 1.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 2.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 3.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 4.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 5.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 6.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Gue terpaksa pakai wajah orang diatas untuk menggambarkan tokoh yang ini, habis nggak ada lagi yang mirip, karena si orang inilah yang paling mirip dengan orang aslinya.

Saspek 7.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 8.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 9.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 10.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 11.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Saspek 12.

Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)

Foto saspek lainnya menyoesoel...
Diubah oleh tabernacle69
profile-picture
profile-picture
njek.leh dan yusufchauza memberi reputasi
2 0
2
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
06-05-2019 05:21
______
Diubah oleh tabernacle69
0 0
0
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
06-05-2019 07:57
Quote:Original Posted By AryaBumialk
Ceritanya keren Gan


Aw, makasih..
0 0
0
Halaman 1 dari 31
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lebih-dari-sekedar-no-absen
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia