Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
91
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cc2a24caf7e93131f23b722/menikmati-senja-bersamamu-kumpulan-cerpen
Menikmati Senja Bersamamu Pict by Khadafi05 Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu rama
Lapor Hansip
26-04-2019 13:16

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]

icon-verified-thread
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]


Pict by @Khadafi05





Kekasihku Ternyata Milik Orang Lain




Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]





Sabtu sore, semburat senja tampak menguning keemasan. Matahari bergeser tempat ke ufuk barat, tenggelam bersama keramaian alam. Alam menjadi sunyi dan sepi, tapi tidak dengan bangunan megah di depanku. Janur kuning terhias sepanjang pintu masuk dan di sebelah kanan terdapat foto preweding sepasang mempelai. Begitu ramai orang hilir mudik mengenakan riasan dan busana yang sangat mewah. Sedangkan aku dan kedua orang tuaku hanya sederhana. Kami datang disambut senyum manis gadis pagar ayu dan buku tamu. Yah, aku sebagai tamu bukan mempelai di atas pelaminan.


Tidak lupa nama Zhe kusematkan di atas kertas, pertanda bahwa diriku benar-benar seorang tamu.



"Terima kasih, Mba." Senyum sang pagar ayu dan kubalas dengan senyum termanisku.



Sesak, rasanya hatiku terasa perih kembali. Aku mencoba tegar dan menghela nafas beberapa kali sampai merasa tenang. Bunda tersenyum melihatku dan memeluk erat tubuh mungilku.



"Kuat, Sayang. Bunda yakin kamu sanggup," ucap Bunda memegang erat tangan dan menuntunku masuk ke dalam.



Akhirnya aku masuk dan terlihat sepasang mempelai raja dan ratu sehari. Senyum mereka sangat menawan meski harus berdiri untuk bersalaman dengan ribuan tamu. Sekali lagi, Bunda menggenggam erat tanganku dan Ayah hanya tersenyum.


Alunan musik menemani setiap kaki melangkah, memasuki ruangan yang penuh hiasan indah. Suara merdu biduan wanita terdengar syahdu dengan irama khas mendayu-dayu, tapi tetap khidmat. Mengiringi sepasang pengantin yang duduk di atas singasana. Cantik nan gagah bersanding bersama dan tidak lupa mereka tersenyum bahagia. Tidak ada sedikit pun raut kecewa apalagi kesedihan.



Ribuan bunga menghiasi di sana-sini. Perpaduan warna biru dan hijau tosca tersebar sampai sudut gedung. Ornamen ukiran pelaminan tidak kalah megah dan mewah. Deretan kursi para tamu pun mulai sesak dan penuh. Aku datang bersama kedua orang tuaku dari sekian ribu tamu undangan.




"Sayang, kamu yakin mau ngantri bareng kami? Sudah siap ketemu sama pengantinnya?" tanya Bunda untuk meyakinkanku lagi, entah kali keberapa bunda bertanya seperti itu.



"Iya, Bunda" jawab singkatku penuh keyakinan.



"Ya sudah, sini samping Bunda. Biar ayahmu di belakang kita."




Barisan para tamu menganti panjang dan sangat melelahkan. Kemudian tiba saatnya pertemuan dengannya. Sekali lagi, rasa sakit kembali menyerang hatiku, tapi kutekan sedalam mungkin. Berusaha tidak menunjukan betapa lemahnya diriku.



"Selamat menempuh hidup baru, Raka. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah." Kuulurkan tangan, lalu gayung bersambut uluran tangannya.



"Terima kasih atas do'amu, Zhe." Mencoba membalas sapanya dengan senyum, walaupun sulit tetap harus aku lakukan. Perih memang, tapi sudahlah. Mungkin nasib cintaku harus berakhir tragis seperti sekarang.




Entah, kekuatan apa yang mampu mendorongku untuk bertemu dengannya. Sungguh kekuatan besar yang mampu membuatku berdiri dan menyapa, menghadapi seseorang yang sekian lama mengisi hatiku. Namun harus menikah dengan orang lain. Kami pun turun dan pergi dari pelaminan untuk menikmati sajian yang ada.



Aku memilih duduk terpisah dari kedua orang tuaku, menikmati sajian yang sejujurnya tidak membuatku nafsu. Aku ingin langsung pulang, tapi Bunda melarang. Mataku memandang ke pelaminan, tidak terasa kilas balik kejadian itu melintas dipandangan.




Jika mengingat senja hari itu, mungkin tidak akan setegar hari ini. Senja yang menciptakan badai begitu dahsyat dan memorak-porandakan dinding hatiku atas nama cinta.






***********





Semilir angin menerpa di senjaku. Duduk di taman indah bertaburan bunga. Anganku melayang di sore itu. Dimana bertemu dengan seseorang yang lama telah kutunggu. Menemani detik demi detik melewati setiap waktu yang berlalu.



Rasanya aku tidak ingin pergi dari tempatku. Tempat yang selalu ku rindukan saat bersamanya, berbagi senyum dan tawa. Tempat yang terlukis kisahku bersamanya.



"Hay, Sayang. Sudah lama nunggu di sini?" Aku menoleh kemudian dia duduk di sampingku.


"Iya, lumayan nunggu daritadi. Lihat jam berapa sekarang?" Wajahku cemberut sambil melihat jam pukul 5 sore di pergelangan tangan.



"Maaf, Sayang. Hari ini pulang kerja kesorean. Dikejar deadline akhir bulan." Wajahnya penuh penyesalan dan lelah, sepertinya benar-benar sibuk.



"Iya, nggak apa-apa." Aku pun tersenyum semanis mungkin. "Kamu ngapain ngajak ketemu di sini? Nggak seperti biasa sore-sore ngajak ketemu." Masih dengan senyuman yang sama.




Dia terdiam, manik-manik mata indahnya menerawang jauh ke depan. Dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, lalu menghembuskan nafas kasar beberapa kali sebelum melanjutkan kalimat.



"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Sayang." Ia tampak gusar dan sedih, beberapa kali mengepalkan tangan.



"Ada apa sih? Kayaknya serius banget. Wajah kamu kelihatan berat gitu." Aku berusaha menenangkan kekasihku dengan mengelus punggung dan menggenggam jemari miliknya.



"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Sayang." Ia berkali-kali mengucapkan kalimat maaf dan memegang erat tanganku, seperti tidak ingin melepaskan.



"Sebenernya ada apa? Kenapa?" Aku sungguh bingung dibuatnya.
Sebenarnya ada apa dengannya? Tidak biasanya seperti ini, apakah ada masalah serius yang kekasihku hadapi?



"Ini tentang hubungan kita, Sayang. Tentang masa depan dan mimpi-mimpi indah kita berdua, Sayang." Ia kembali menerawang ke depan dengan tatapan kosong dan membuatku semakin bingung. Hatiku mulai gusar, sepertinya ada sesuatu yang berat akan terjadi pada kami.



"Bukankah kita sudah punya banyak rencana tentang masa depan? Toh tinggal datang ke orang tuaku untuk melamar dan menikahiku. Apa yang membuatmu risau?" Aku masih tetap berusaha tenang, jangan sampai kekasihku melihatku yang mulai gelisah.



Setelah mendengar ucapanku, dia terlihat semakin gelisah, raut wajahnya seperti bingung ingin menjelaskan sesuatu. Aku sendiri semakin tidak nyaman dan penasaran. Namun tetap diam dan menunggu penjelasan darinya.




"Bukan, bukan itu masalahnya. Ada hal yang sangat berat untuk menjelaskannya padamu, Sayang." Muka sendunya terlihat lagi olehku, matanya mulai berkaca-kaca.



Kami saling diam beberapa menit untuk menenangkan pikiran masing-masing.
Aku dengan sejuta pertanyaan dalam pikiranku dan dia dengan kegundahan hatinya. Bagaimana ia harus menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi.



"Aku ... aku telah dijodohkan, Sayang. Orang tuaku memaksaku untuk menerima perjodohan ini." Wajah tampannya berubah sedih dan tak bisa lagi ku artikan.



Deg'



Jantungku berhenti sepersekian detik.






"Aku sudah menolak karena telah memilikimu, Sayang. Bahkan orang tuaku pun tahu bahwa kita saling mencintai. Namun, tetap saja mereka memaksaku dengan alasan demi bisnis keluarga. Gadis yang orang tuaku jodohkan, anak dari rekan bisnis Papa," imbuhnya.



Speechless, tubuhku melemas dan tidak memiliki tenaga untuk sekedar duduk dengan tenang. Seperti ada ribuan anak panah yang menghujam ulu jantungku, dengan serangan secara tiba-tiba, tapi mematikan. Sakit, sungguh sangat menyakitkan sekali.



Apakah ini nyata, Tuhan? Semoga mimpi, semoga mimpi.



Tidak terasa ada butiran hangat mulai menetes di ujung kelopak mataku. Bendungan yang sedari tadi ku coba cegah, akhir'y roboh tidak tersisa. Air mataku deras mengalir seperti hujan di tengah badai. Hancur, hatiku begitu hancur mendengar penjelasan yang ia katakan.



Apakah kisah cintaku yang bertahun-tahun kami jalani, harus kandas dan terputus begitu saja? Ini tidak adil, Tuhan. Sangat tidak adil!! Jeritku dalam diam.



"Haruskah berakhir kisah kita, Raka? Lalu, apa arti semua kebersamaan kita? Jika akhirnya aku harus mengalah, pergi dan terluka. Dari awal kita memang berbeda, tapi perjuanganmu yang membuatku luluh. Nyatanya, sekarang kamu menyerah begitu saja? Apa arti kebersamaan kita selama 5 tahun ini?" Aku mulai menangis disaksikan oleh senja dan ribuan bunga di taman ini. Ia mendekap dan memelukku dengan erat. Mungkin ini pelukannya yang terakhir, sebelum kami benar-benar berpisah.






**********







Ingatanku menerawang jauh ke atas langit. Tidak terasa hari pernikahanya telah datang dan di tanganku ada secarik kertas undangan. Nama yang dulu pernah terukir indah di hatiku, kini milik orang lain.




Raka Prasetyo Atmajaya
Siska Dwiningsih Suryaningrat






Melihat nama yang selalu menemani 5 tahunku kemarin. Sebelum ia benar-benar menjadi milik orang lain. Notif nada ponselku lama berdering, ada panggilan telfon dari ujung sana.



"Assalamualaikum, Bunda," jawabku.



"Waalaikumsalam, Nak. Dimana kamu sekarang? Besok kita akan pergi menghadiri undangan Raka." Sejenak Bunda terdiam, lalu ia melanjutkan lagi. "Kamu di rumah saja, yah?" pinta Bunda.



"Tidak, Bunda. Zhe akan ikut Bunda pergi ke sana. Sebentar lagi Zhe akan pulang." Mencoba berbicara sebaik mungkin, agar Bunda tidak khawatir. Bunda tahu kisah kami. Namun sekali lagi, takdir hanya Tuhan yang tahu dan menentukan.


"Baiklah, Nak. Bunda akan menunggumu pulang. Jika kamu belum siap, Bunda tidak akan memaksa. Bunda mengerti." Bunda seolah mengerti apa yang aku rasakan. Jujur saja aku tidak ingin datang dan memilih pergi untuk selamanya. Namun, di satu sisi hatiku merindukan dirinya.



"Iya, Bunda," jawabku dan mematikan ponsel.


Obrolan kami berakhir dan ponsel kembali kumasukan ke dalam tas. Bunda tahu bahwa putrinya tidak sedang baik-baik saja. Namun, Bunda percaya bahwa putrinya mampu melewati semua badai dengan baik.



Mengbuskan nafas kasar, berdiri dan pergi meninggalkan bangku kosong taman ini. Entah, sejak kapan mulai senang dengan kesendirian. Tepat sebulan setelah perbincangan di senja itu, undangan telah sampai di tanganku dan esok adalah hari pernikahan kekasihku yang ternyata milik orang lain.



Siapa yang tahu takdir dan jodoh seseorang. Manusia hanya mampu berencana dan Tuhan yang menentukan. Nyatanya sekuat apapun cinta kita, tetap saja harus terpisah.






Quote:
Aku dan kamu menjadi bagian masa lalu yang tak pernah ada di kehidupan esok. Biarkan lukaku mengering dengan sendirinya dan waktu yang mengobati. Walaupun berat melihatmu hidup bersama orang lain. Namun, aku cukup bahagia karena pernah menjadi bagian dari hidupmu meskipun hanya masa lalu.




Untukmu yang pernah menjadi bagian hidupku, terima kasih telah menemani dan mengukir kisah kita berdua. Semoga engkau bahagia bersama cinta yang lain.










---TAMAT---







Harusnya aku
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 5
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
06-05-2019 22:56
Quote:
Raka Prasetyo Atmajaya
Siska Dwiningsih Suryaningrat



Gak kurang panjang namanya? Hə he
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan indahmami memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
06-05-2019 22:57
Miris bener
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
06-05-2019 23:29
Hiks ... Hiks ... Hiks
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
07-05-2019 03:44
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Gak kurang panjang namanya? Hə he


Wkwkwk...
Itu juga bingung cari nama'y.
emoticon-Leh Uga


Quote:Original Posted By masnukho
Miris bener


Iya..
emoticon-Mewek

Quote:Original Posted By istijabah
Hiks ... Hiks ... Hiks


emoticon-Frown emoticon-Frown
profile-picture
profile-picture
IndahAssegaf dan istijabah memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
07-05-2019 04:21
Hadir dulu
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
07-05-2019 05:10
TT hay..pa kabar niih
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
07-05-2019 09:18
Quote:Original Posted By trifatoyah
Hadir dulu


Silahkenn..
emoticon-Maaf Aganwati

Quote:Original Posted By aniesday
TT hay..pa kabar niih


Kabar'y baik mba'e..
Mba'e sendiri?
emoticon-cystg
profile-picture
IndahAssegaf memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
07-05-2019 21:09
Nama Raka kayak anak orang dalem kraton alias ningrat
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
08-05-2019 04:08
Quote:Original Posted By janeeta97
Nama Raka kayak anak orang dalem kraton alias ningrat


Nah..
Itu kan nama diundangan ningrat semua.
emoticon-Jempol
profile-picture
IndahAssegaf memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
11-05-2019 23:23
Quote:Original Posted By indahmami
Sakit banget ya bang..
emoticon-Big Grin


Comewell

Eh ke puskesmas gih
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
18-05-2019 16:45

Takdir Cinta Sang Alaska

[Part 1]



Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]






Quote:
Dulu sangat membenci hujan, membuat sekujur tubuh menggigil kedinginan. Namun, kini aku sangat menyukai hujan. Hujan yang selalu ku rindukan. Karena melihat hujan sama dengan melihatmu dari kejauhan, merindukan hujan sama dengan merindukanmu di balik jendela malam.


Waktu begitu cepat berlalu, dan kini aku duduk bersamamu. Menceritakan semua kisah cinta yang kita lalui berdua. Biarkan masa menghilang, matahari terbenam meninggalkan senja. Bintang-bintang redup tak lagi bersinar. Namun kita tetap bersama dalam indahnya kisah cinta. Kisah kita akan abadi terlukis dalam bait aksara membentuk kalimat tak bertepi.





Pagi indah langit berwarna cerah biru menawan. Matahari berjalan menyusuri luasnya awan-awan. Udara dingin masih menyelimuti, kabut dan asap keluar dari pembakaran bagian dapur-dapur di setiap rumah warga.


Tubuh mungil berbalut selimut nan indah. Bertemankan bau khas bantal dan guling. Menggeliat kanan dan kiri. Mengukir indah dalam mimpi, namun semua itu buyar ketika Maya datang. Suara ketukan pintu terdengar diujung kamar.



"Airys, bangun, Nak. Hari sudah pagi." Suara nyaring cumiakan telinga.

"Iya, Ma. Airys udah bangun," jawab Airys dengan suara lembut khas bangun tidur. "Ish, Mama ganggu orang tidur aja," gerutu Airys.



Airys bergegas turun dari tempat tidur dan tak lupa mandi. Hari ini pertama masuk Sekolah Menengah Atas alias SMA. Airys baru saja menamatkan jenjang SMPnya. Setelah selesai menyiapkan perlengkapan sekolah, Airys bergegas untuk makan bersama keluarga kecilnya. Siapa lagi kalau bukan Maya dan Hutuomo, mereka adalah kedua orang tua Airys. Sayangnya Airys anak tunggal, tidak memiliki adik apalagi kakak.



"Gimana persiapan hari ini? Udah siap semua dan yakin nggak ada yang ketinggalan?" tanya Mama.


"Nyantai aja, Ma. Airys udah siapin semuanya jauh-jauh hari. Jadi jangan khawatir," jawab Airys.


"Ya udah, sarapannya dihabiskan dulu. Terus bareng Ayah berangkatnya," ucap Ayah.


"Siap, laksanakan."



Setengah jam perjalanan untuk sampai di sekolah, lumayan jauh jika jalan kaki atau pun naik angkot. Kalian tahu sendiri kan, angkot terlalu lama ngetem nungguin penumpang yang nggak pasti.



"Belajar yang rajin, ya. Ayah berangkat kerja dulu," pamit Ayah.



"Iya, hati-hati di jalan." Airys mencium tangan Ayahnya dan masuk ke sekolah.



Hutomo Mandala yang tidak lain Ayah Airys adalah seorang montir di bengkel miliknya sendiri. Hutomo membuka bengkel kecil-kecilan untuk menghidupi istri dan anaknya. Sedangkan Maya sang istri hanyalah ibu rumah tangga biasa, keluarga sederhana nan harmonis.





*********






Airys masuk ke dalam sekolah, melewati pintu gerbang yang menjulang tinggi. Rasa syukur selalu terucap di bibir Airys, ia yang notabene anak dari seorang montir bengkel kecil-kecilan, bisa diterima di sekolah favorite dan elite. Semua berkat otak jenius yang memudahkan Airys mendapatkan beasiswa dan masuk ke sekolah ini.



"Maaf, Mba. Mau tanya kelas 1A dimana?" tanya Airys dengan sopan layaknya murid baru.



"Di sana, Dek. Tinggal lurus saja."


"Oke, makasih ya, Mba."



"Iya, sama-sama."




Airys melanjutkan jalan menuju kelasnya dan ternyata di dalam kelas masih kosong, belum banyak yang datang. Airys masuk dan duduk di barisan meja nomor dua dari depan, seperti biasa Airys duduk di samping jendela.




*********





Tidak terasa bel berdering, waktunya murid dan semua penghuni sekolah untuk pulang. Semua berhamburan keluar kelas menuju gerbang sekolah.



"Kamu naik angkot atau ada yang jemput, Rys?" tanya Dewi teman sebangku Airys, tadi pagi baru saja mereka saling berkenalan.


"Naik angkot, Wi. Ayah masih di bengkel dan nggak mungkin suruh jemput."

"Oh, ya sudah bareng sama aku. Kebetulan naik angkot juga."

"Baiklah, yuk!"




Airys dan Dewi menunggu angkot di depan gerbang sekolah. Tidak banyak yang menunggu di sini, karena ini sekolah elite. Pemandangan antar jemput mobil mewah menjadi hal lumrah, belum lagi yang bawa kendaraan sendiri membuat hati iri.



"Wi, apa kita pantas sekolah di sini? Lihat mereka semua anak orang kaya."



"Sssttt ... Kita di sini untuk sekolah bukan pamer kekayaan. Lebih baik fokus ke prestasi, biar beasiswa kita aman sampai lulus nanti."



Dewi dan Airys adalah salah satu diantara beberapa murid yang cerdas dan mendapat beasiswa.


"Angkotnya udah datang, Wi."


Setelah 30 menit, Airys sampai di rumah dan berpisah dengan Dewi di persimpangan jalan. Ternyata rumah mereka hanya berbeda beberapa gang.



"Assalamualaikum, Ma."



"Waalaikumsalam." Airys mencium tangan Mamanya dan berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.







********







Semua hajat telah ditunaikan, akhirnya bisa berbaring dengan nyenyak di tempat tidur. Mata Airys berat dan dalam sekejap semua gelap, Airys terlelap dalam mimpi indah.





Quote:
"Perhatian-perhatian, penerbangan jurusan surabaya akan segera berangkat." Suara mikropon terdengar dari ujung sana.



Airys bangkit dari tempat duduk dan mulai masuk ke dalam, sangat rindu ingin bertemu dengan Ayah dan Mamanya.



Airys duduk di samping jendela pesawat, hingga 30 menit penerbangan pesawat mengalami trouble.



Kian lama terjadi guncangan dan ada ledakan di bagian mesin. Semua panik dan Airys memilih diam dalam do'a.




"Aaaaaaaaa .... "




Semua saling menjerit panik ketakutan, diam, lalu menangis. Nyawa benar-benar berada di ujung tanduk, sekali meledak semua akan mati dan hilang di tengah lautan.



"Tidak! Semoga mimpi, semoga ini hanya mimpi, ya Allah," Airys berdo'a dalam hati.





"Aaaaa ...." Airys menjerit dan nafasnya memburu cepat.

"Ya Allah, tadi itu mimpi apa? Apa tadi aku belum berdo'a? Sampai bisa bermimpi buruk." Airys cemas dan takut dengan mimpi yang baru saja.




Ternyata jam menunjukan pukul 2 dini , Airys bangun dan bergegas sholat tahajud.



"Jauhkan hamba dari semua mara bahaya, ya Allah. Lindungi agar hamba selalu aman dan selamat dimana pun berada. Aamiiinnn ...." Airys melanjutkan tidurnya lagi.





***********







Hari ini adalah pembagian raport, tidak terasa 2 minggu lagi Airys kelas 11. Sungguh waktu cepat berlalu.



"Alhamdulillah, Nak. Kamu juara satu lagi," ucap Mama bangga.



"Alhamdulillah, berkat do'a Mama juga."




Airys menghabiskan masa liburan hanya berdiam diri di rumah. Sesekali ia pergi bermain ke rumah Dewi atau pun membantu Ayahnya di bengkel. Airys sedikit demi sedikit mulai banyak mempelajari bagaimana service kendaraan. Masa liburan pun sudah habis, waktunya untuk kembali ke sekolah.




"Besok udah masuk, peralatan sekolah udah kamu siapin semua?" tanya Mama.



"Udah, Ma. Semua sudah Airys masukin ke tas."



"Ya udah, cepetan tidur. Besok masuk sekolah." Maya mencium kening Airys. Airys pun tidur memejamkan mata.







***********






"Ma, Airys berangkat bareng Ayah dulu." Airys mencium tangan Maya.



"Hati-hati di jalan."



"Iya," jawab Ayah dan Airys serempak.



Setelah dua minggu libur panjang, akhirnya Airys lega bisa masuk sekolah lagi. Rasanya rindu dengan bangunan megah ini, terutama pada Dewi temannya.



"Hay, Wi. Gimana liburan kamu kemarin?"



"Hanya seperti biasa, membantu ortu di rumah. Kalau kamu, Rys?"



"Sama kalau gitu."



Terdengar bisik-bisik teman Airys yang lain.



"Eh, denger-denger bakalan ada murid baru."



"Masa sih?"


"Iya, pindahan dari jakarta lagi. Cowok dan cakep."


"Nah, itu dia." Tunjuk salah satu teman Airys, semua mata menuju satu titik yaitu pintu masuk kelas.



Tiba-tiba ada cowok tampan bertubuh atletis, berkulit putih masuk ke dalam kelas.



"Anak-anak, kalian kedatangan teman baru. Silahkan memperkenalkan diri, Nak."



"Baik, Bu."



"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Arjun, siswa pindahan dari jakarta."




"Silahkan Anak-anak kalau ada yang mau bertanya."



"No hp"



"Alamat"



"Dah punya pacar belum?"



"Wuuuuuu ...." Riuh sorak kelas 2 IPA 1.



"Sudah, sudah, diam semua. Silahkan dilanjutkan, Jun," perintah Bu guru dan Arjun membalaa dengan anggukan.



"Alamat di jalan cempaka putih no 24, belum punya pacar, no hp rahasia," Arjun tersenyum memperlihatkan lesung pipi. Membuatnya semakin terkihat tampan.



"Wuuuuuu ...." Kelas kembali riuh.


"Sudah-sudah, silahkan duduk di meja nomor 3 dekat jendela."




"Makasih, Bu."


Arjun berjalan melewati dan duduk di belakang meja Airys.








To be continue.....
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
19-05-2019 18:54
Kekasihku ternyata anak dari bosku yang juga anak dari nenekku😆😆
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
19-05-2019 20:26
Quote:Original Posted By mbakendut
Kekasihku ternyata anak dari bosku yang juga anak dari nenekku😆😆


Hahaha..
Sinetron banget itu.
emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
IndahAssegaf dan d.l.may memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
19-05-2019 23:22
Anak barunya cakep🤓
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
20-05-2019 08:34
Quote:Original Posted By nana81280
Anak barunya cakep🤓


Yang mana?
emoticon-Wowcantik


Quote:Original Posted By istijabah
Ini cerbung apa cerpen?



Cerpen,
Cuma yg ke dua dibikin 2 atw 3 part aja..
emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
IndahAssegaf dan istijabah memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
20-05-2019 08:36
emoticon-Paw
profile-picture
profile-picture
istijabah dan indahmami memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
24-05-2019 14:24
Jejak ahh di cerita putih abu-abu emoticon-Paw
Nostalgia paling indah masa di SMA emoticon-Belo
Diubah oleh d.l.may
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
24-05-2019 15:06
Quote:Original Posted By d.l.may
Jejak ahh di cerita putih abu-abu emoticon-Paw
Nostalgia paling indah masa di SMA emoticon-Belo


Silahken..
Makasih dach mampir..
emoticon-Monggo
profile-picture
profile-picture
IndahAssegaf dan d.l.may memberi reputasi
2 0
2
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
26-05-2019 18:43

Takdir Cinta Sang Alaska

[Part 2]



Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]






Awan putih terlihat cerah, sinar matahari menerobos jendela rumah. Tidak terasa sudah setahun sejak perkenalan dan kedatangan Arjun, hari-hari Airys penuh dengan kebahagiaan. Yah, kini sudah memasuki tahun ke-3, bukan waktu yang cukup lama karena semua terasa begitu cepat berlalu. Airys memasuki tingkatan kelas paling akhir dan harus menghadapi ujian kelulusan.



Ujian menjadi momok menakutkan untuk semua siswa kelas 3. Bayangkan, mereka harus belajar selama 3 tahun, tapi babak penentuan hanya selama 4 hari. Tentu harus belajar lebih giat dan mempersungguh lagi, agar mendapatkan nilai dan lulus dengan nilai yanh baik. Airys semakin rajin belajar, ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Meskipun selalu mendapatkan juara satu terus di kelas. Namun bukan berarti ia sombong dan tidak belajar lagi.




"Airys berangkat sekolah dulu, Ma." Salim dan mencium tangan Mama.


"Hati-hati dan belajar yang rajin."


"Iya, Ma. Ayah kemana?" Airys melihat ke seluruh ruangan.



"Ayah ada di depan, benerin motor tuanya."



"Oh, ya sudah. Nanti Airys pamit di depan saja. Airys berangkat dulu, Ma. Assalamualaikum...."



"Waalaikumsalam...."




Di teras Ayah sedang mengotak atik motor tuanya. Ayah Airys sangat menyayangi si hitam, motor klasik yang menjadi teman sekaligus saksi perjuangan hidupnya.



"Airys berangkat sekolah dulu, Yah."


"Iya, hati-hati di jalan. Maaf, a
Ayah nggak nganter kamu. Si hitam lagi mogok nih."


"Gak apa-apa, Yah. Assalamualaikum...."



"Waalaikumsalam...."




Airys berangkat sekolah dengan naik angkot, walaupun lama dan melelahkan. Airys tiba di sekolah dan berjalan menyusuri koridor yang masih sepi. Karena sekarang kelas 3, setiap pagi selalu ada jadwal tambahan pelajaran. Mungkin untuk siswa yang lain, rasanya malas sekali berangkat sepagi ini. Namun, Airys berbeda dan ia sangat semangat. Sedikit bernyanyi untuk mengusir sepi.



"Hay, Wi. Gimana tugas udah selesai?" tanya Airys setelah tiba di kelas.



"Udah dong, nih lihat aja," jawab Dewi menunjukan PRnya.



"Kelas masih sepi, yah." Mata Airys menyusuri setiap sudut ruang kelas.


"Sepilah, kan masuk masih setengah 7. Baru beberapa aja yang datang."



"Kita kepagian kayanya," kata Airys sambil meletakan tas di kursi.



"Udah, jangan ngeluh gitu. Mending pelajari lagi materi yang sekarang."



"Okelah, siap bos!"



Tiba-tiba di ujung pintu Arjun masuk, duduk di barisan nomor 3, tepatnya di belakang Airys.


"Lihat tuh, Arjun aja rajin udah dateng," bisik dewi

"Iyalah, udah cakep, pinter, rajin, dan famous lagi," imbuh Airys lirih.


"Kamu suka ma dia?"


"Ish, udah jangan bahas lagi."



"Aku tahu, Rys. Harus sabar suka sama dia. Soalnya banyak saingan," goda Dewi.



"Iya deh, lagian gak mungkin kan dia suka ma aku," ucap Airys santai.



"Kata siapa, cinta itu buta dan nggak mandang apapun dari kita."


"Apa bisa gitu, Wi? Secara...."



"Udah, udah. Malah bahas si Arjun terus."


"Ups, cory. Kan kamu duluan, Wi," elak Airys mengangkat jari tangan membentuk v





**********




Pelajaran dari pagi sampai bel berbunyi terasa membosankan. Beruntung istirahat datang, mereka bisa mengusir penat dan kebosanan.

"Kamu ke kantin atau di sini, Wi?"

"Kantin aja, laper habis belajar dari pagi."

"Oke, lets go now!"


Arjun and the geng sedang bermain basket di lapangan. Sorak suara fans menambah riuh latihan mereka. Arjun selain tampan, Ia pun jago main basket. Bahkan jadi kapten basket dan digilai banyak siswi cewek.




"Lihat tuh, banyak banget kan saingan kamu." Dewi nunjuk ke arah lapangan.



"Iya, Wi. Nggak apa-apa deh, dah biasa mengagumi dam diam."



"Betah amat kamu mendem perasaan dari kelas 2 sampai sekarang. Kalau aku sih, mending pindah ke lain hati."




Airys mengingat 1 tahun yang lalu sampai saat ini, menjadi pengagum sosok Arjun yang famous memang sulit. Ingin mendekat takut diacuhkan, menjauh hati terlanjur sayang. Melihat Arjun bermain basket adalah kebahagiaan baginya. Meskipun harus sembunyi di balik pohon. Airys tidak masalah melakukan itu, ia malu terlihat oleh teman-teman yang lain. Dewi, sahabatnya sangat mengerti dan hapal kelakuan Airys.



"Itu kan kamu, Wi. Beda dong sama aku," elak Airys.

"Iya deh iya, cinta emang buta."


"Ish, kamu gitu terus kalau ngomong. Sampe bosen aku yang dengerin."



"Hahaha...."



"Diem, ketawa mulu. Udah sampe kantin nih. Mau makan atau mau ketawa terus?"


"Ciyeee ... yang merajuk ngambek." Dewi mencubitpipi Airys.


"Ish, kamu mau pesen apa?"


"Seperti biasa."


Airys meninggalkan d
Dewi dan berjalan ke arah tukang mie ayam. Hal yang paling nikmat adalah bisa duduk sambil makan di sela-sela tugas menumpuk. Rasanya energi terisi full kembali.




Tetttt Teettt Teeetttttt






Bel masuk bunyi, Airys dan Dewi masuk ke kelas melanjutkan pelajaran sampai usai. Tidak terasa sebulan lagi ujian nasional, membuat gelisah dan lelah karena harus melakukan banyak tes praktek dan ujian sekolah. Belum lagi tambahan jam pelajaran, beban anak kelas 3 memang berat.


Tiba di jam terakhir, semua siswa menjadi lesuh dan malas. Ada yang mengantuk bahkan tidur di kelas. Bel pulang sekolah pun berdering, semua siswa berhamburan keluar kelas.



"Rys, pulang bareng aku yah! Kebetulan naik motor nih, lumayan meski jelek kek gini, penting bisa jalan."


"Iya, Wi. Kita ketemu di gerbang sekolah. Aku tunggu di sana."


Airys berjalan menuju gerbang sekolah dan ternyata sebagian dari mereka sudah pulang.


"Duhh, sepi gini. Berangkat udah sepi, pulang juga sepi," gerutu Airys.


"Airys?" tanya seseorang.


"Eh, iya. Emang kenapa?"



"Di tunggu Arjun di depan lapangan basket."



"Arjun? Emang ada apa? Perasaan nggak pernah bermasalah aku sama dia."



"Aku cuma nyampein pesan aja. Cepetan ke sana, udah dari tadi soalnya."



"Iya deh iya."



"Dasar cowok aneh, ngomong ko' mendadak."



Tiba-tiba Dewi datang menghampiri Airys.


"Siapa cowok tadi? Kayaknya bukan dari kelas kita."




"Iya, aku gak kenal sih, tapi dia kasih pesan kalau aku ditunggu Arjun di depan lapangan basket."




"Ciyeee, akhirnya ...."



"Ish, kamu apaan sih!"


"Ya udah, cepetan ke sana. Udah ditungguin juga."


"Oke."


Airys berjalan kembali masuk ke sekolah, benar saja Arjun telah menunggunya di sana.


"Hay, Jun. Katanya kamu mau ngomong sama aku, yah?"

"Iya."


"Ish, singkat amat jawabannya." Batin Airys.



"Ada apa? Kalau nggak ada hal penting, aku mau pulang nih. Temenku udah nunggu, kan kasihan."


"Udah aku suruh pulang, kamu aku anterin nanti." Seperti tahu apa yang Airys pikirkan.



"Ya udah, cepetan ngomongnya."



"Aku suka kamu."



"Apa?" jerit Airys kaget.



"Kamu mau jadi pacarku?"



Duarrrrrr!!



Airys terkejut, ia tidak bisa berpikir lagi. Tubuhnya diam mematung sedangkan hatinya begitu bahagia. Mimpi apa semalam bisa-bisanya Arjun nembak.



"Aku mimpi, pasti mimpi," batin Airys.



"Kamu nggak mimpi, jadi apa jawabanmu?"



"Ko' dia tau apa yang aku pikirin?" batin Airys.


"Hmm... Hmmm..." Airys memutar bola mata.



"Aku anggap iya."



"Ehh ... ehh ... nganu."



"Mau berubah pikiran aku?" Arjun tersenyum miring.



"Eh, nggak-gak. Aku mau ko', iya mau."



"Nah, gitu dong. Mulai sekarang kita jadian."



"Emangnya kamu suka aku, secara kamu kan...."



"Aku suka kamu udah lama, tapi ragu buat ngungkapin sampai sahabatmu ngasih tau."



"Dewi maksudmu?"



"Yup, kita harus berterima kasih sama dia. Setidaknya hari ini kita bisa jadian."



"Jadi ...."


"Aku antar pulang atau mau nginep di sekolah?"


"Pulang dong, ya kali mau nginep." Memutar bola mata dengan malas.



"Nggak usah ngambek gitu, baru jadian udah ngambekan. Jangan-jangan kamu sensian."


"Ya enggaklah."


"Mau ngobrol aja atau pulang." Berjalan meninggalkan Airys yang ngambek.


"Eh, tungguin dong. Ish, ninggalin aja!"



Motor sport merah milik Arjun keluar gerbang sekolah, dengan kecepatan tinggi memacu motor miliknya.



"Pegangan atau mau jatuh." Senyum Arjun di balik helm.



Airys pun terpaksa memeluk Arjun, antara jengkel dan bahagia. Entah perasaan macam apa ini dan sulit untuk dijelaskan.


"pasti kalian heran, aku aja heran," batin Airys.


Motor sport merah terpakir di depan rumah Airys. Mama Airys duduk santai dengan buku di tangan kanan dan segelas teh panas di atas meja.



"Assalamualaikum, Mah." Airys mencium tangan Mamanya.


"Waalaikumsalam, baru dateng. Kenapa sore? Emang jam belajarnya nambah?" tanya Mama.

"Nggak sih, ada keperluan mendadak tadi."


"Terus itu siapa? Suruh masuk ke sini."



"Teman Airys, Ma."



"Teman atau teman," goda Mama.



"Mama mulai deh, Ayah belum pulang?" Pipi airys terasa matang dan panas.



"Belum, masih banyak kerjaan."



"Oh, ya udah. Airys manggil Arjun ke sini." Airys berjalan ke arah Arjun.

"Jun, turun dulu, Mama nyuruh mampir masuk."


"Oke, aku masuk. Tunggu, ayahmu juga ada?



"Ayah masih di bengkel. Jadi tenang aja, nggak usah takut."


"Siapa juga takut, aku kan mau sekalian izin buat macarin kamu."


"Kamu serius?"


"2 rius malahan."


"Ya udah, masuk aja dulu." Arjun mengekor Airys dari belakang.


"Sore tante, kenalkan nama saya Arjun. Pacarnya Airys," ucap Arjun dan memcium tangan Mamanya Airys.



"Ehh ... ehh ...." Sela Airys.



"Oh, jadi Airys udah punya pacar nih? Ya udah, duduk dulu sini. Rys ambilin minum buat Arjun."



"Iya, Ma."



"Sebelumnya saya minta maaf karena terlalu sore sampai rumah, sekalian minta izin buat pacara sama Airys."



"Kalau Tante sih terserah Airys saja, yang penting Airys bahagia."



"Tentu, Tante. Makasih atas persetujuannya."



"Nih tehnya, diminum mumpung panas." Airys datang membawa secangkir teh dari dapur.



"Makasih yah."


"Iya, sama-sama."



"Oh ya, Tante saya pamit dulu. Hari mulai gelap, nggak enak belum ganti baju juga."



"Ya sudah, makasih dan hati-hati di jalan." Arjun mencium tangan Mamanya Airys dan berpamitan.



"Hati-hati, Jun. Jangan ngebut!"


"Baru di boncengin sekali aja udah gitu. Besok aku jemput, jangan berangkat duluan."


"Kamu yakin mau jemput?"


"Jemput pacar sendiri harus yakin dong."


"Iya deh, ya udah buruan pergi, udah mau gelap."



"Ceritanya ngusir nih?"


"Enggak ko' enggak."


"Canda Sayang."


"Kamu ngomong apa barusan."



"Sayang," tiba-tiba pipi Airys terasa panas. "Kalau malu-malu gitu tambah cantik deh," goda Arjun.


"Ish, udah sana pergi!" Airys memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipi merahnya.



"Ya udah, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."




****




Sejak hari hari itu, kini Airys dan Arjun kemanapun bersama. Tentu mereka menjadi bahan gosip seantero sekolah. Ada yang suka, ada yang gak suka, dan masih banyak lagi tanggapan dari orang satu sekolah.



"Gak terasa ya Sayang, besok kita udah ujian," ucap Arjun sambil makan di kantin

"Iya, cepet banget," jawab Airys

"Ciyeee ... yang lagi pacaran, aku sampe dilupain." Tiba-tiba dewi datang dan duduk disamping Airys.

"Maaf Wi, kamu tadi gak ada sih. Akhirnya kita duluan."

"Iya, enggak apa-apa, ke toilet bentaran."

"Btw mau lanjut kemana Wi?" tanya Arjun

"Aku mau kerja aja Jun."

"Lho, kenapa? Sayang otak pintar tapi gak lanjut."

"Biasalah Jun, biaya masalah utama. Kan kamu tau sendiri aku anak orang gak punya."

"Oke, kalau kamu, Sayang?"

"Aku sich rencananya mau ambil kedokteran jalur beasiswa. Kalau kamu?"

"Entah, belum punya rencana."

"Kamu enak Jun, anak orang kaya mah bisa kemana aja," jelas Dewi.

"Perasaan kamu aja."



*****



Ujian nasional pun akhirnya tiba, semua siswa siswi kelas 3 tengah melaksanakan ujian nasional. Sudah beberapa hari yang lalu, Airys sibuk belajar mempersiapkan materi dan mental.


"Semoga hari ini lancar. Aamiinnn ...." do'a Airys sebelum mengerjakan soal.


Hari ini terakhir tes mengerjakan soal ujian nasional, 3 tahun begitu cepat rasanya.

Bel berdering, dan semua jawaban harus ditinggalkan.


"Sayang, gimana hari terakhir ujiannya? Mudah dan lancar."

"Iya,"

"Malam minggu besok, kamu ikutan acara perpisahan?"

"Ikut, kenapa?"

"Gak apa-apa, aku anter pulang sekarang yah."

"Ya udah, ayo.."

"Besok kamu juga ikut kan?" tanya Airys.

"Insya Allah ikut, tapi gak bisa jemput kamu. Berangkat sendiri gak apa-apa?"

"Gak apa-apa kok, ada Ayah yang anter."

"Alhamdulillah,,, udah sampai rumah nih. Aku langsung pulang aja yah, mau latihan futsal."

"Makasih yah, hati-hati di jalan."

"Sama-sama, tunggu bentar." Pengang tangan Airys lalu mencium kening. Pipi Airys merah merona.

"Ya udah cepetan masuk. Assalamualaikum ...."

"Waalaikumsalam."



*******



"Mah, Ayah kemana? Katanya mau anter Airys ke acara perpisahan."

"Ayah udah di depan, nungguin kamu tuh. Lama amat anak gadis Mama dandan. Hayoo ... mau genit yah," goda Maya

"Ish, gak lah Mah."

"Yaudah cepetan berangkat, udah ditungguin Ayah."

"Iya Mah, assalamualaikum." cium tangan Maya.

"Yah, berangkat sekarang."

"Ayo berangkat, Ayah udah nungguin dari tadi."

Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya sampai juga.

"Airys masuk dulu, assalamualaikum." Mencium tangan Hutomo.

"Waalaikumsalam."



Ruangan sangat ramai, semua berpakaiam mewah nan anggun dan gagah. Jujur Airys minder, tapi Airys bersyukur karena lulus menjadi juara umum di sekolah nan elit ini.



"Hay Wi, udah dari tadi?"

"Baru aja, kok sendirian. Kemana Arjun?"

"Emang belum datang?"

"Belum, kirain kalian bareng."

"Enggak kok, kemarin udah bilang gak bisa jemput."

"Mungkin lagi perjalan kali Rys."

"Ke sana yuk, bareng ma temen yang lain."

"Oke, lets go now."



Sampai acara mau selesai Arjun tak muncul juga, padahal the genk Arjun semua lengkap, kecuali Arjun tentunya. Airys menghampiri mereka, rasa penasaran sangat besar, mengingat kekasih hati tak terlihat bahkan memberi kabar sekalipun.



"Ren, Arjun kemana? Kok gak ada."

"Lho, Rys emangnya kamu gak tau?"

"Gak tau apa?"

"Malam ini Arjun terbang ke belanda buat ambil studynya. Kuliah di sana, emang gak pamit ma kamu?"

"Enggak, makasih ya Ren."

"Oke, sama-sama."



Hati Airys bergetar hebat, tersayat-sayat pisau terasa sangat perih.

"Ya tuhan, ujian cinta macam apalagi ini? Apakah aku tak berharga untukmu Jun? Lalu, kebersamaaan kita selama ini,, apakah hanya mempermainkan perasaanku saja? Oh shit!! Kau bodoh Airys, bodoh percaya pada dia. Kamu jahat Jun, jahat!" Tangis Airys pun pecah, menangis di bawah sinar rembulan malam. Malam ini tak seindah kilauan bintang di atas langit.


"Kenapa kamu Rys?" tanya Dewi menghampiri Airys.

"Arjun Wi,, Arjun ...."

"Kenapa Arjun?" Dewi khawatir melihat sahabatnya dalam keadaan kacau seperti ini, mata sembab, hidung merah, rambut tak terlihat rapih lagi.

"Arjun pergi Wi, tanpa pamit aku. Lalu, aku ini siapa Wi? Apakah gak penting buat dia? Jadi, rasa yang selama ini apa artinya buat dia Wi?" Sesak hati Airys malam ini, benar-benar malam perpisahan. Bukan hanya untuk sekolahnya, tapi untuk cintanya juga.

"Arjun pergi? Ya Tuhan, dia jahat banget sih. Sabar Rys, kamu harus tegar. Ingat, besok harus daftar kampus. Belajar yang rajin, kejar cita-citamu. Jika jodoh, kelak akan bertemu." Memeluk Airys, Dewi tak sanggup melihat sahabatnya seperti ini. Hanya ini yang bisa Dewi lakukan, memberi suport dan menguatkan.

"Makasih ya Wi, aku pulang dulu. Udah ditungguin Ayah di depan."

"Oke, tetep semangat. Jodoh tak akan kemana."

"Hu'umm ... makasih." Berjalan keluar gerbang, seketika berhenti ketika mendengar suara yang tak asing.


"Sayang, kamu udah sampai."

"Iya sudah, baru berangkat"

"Suara itu, tak salah lagi suara milik Arjun. Lalu, siapa cewek yang berdiri di depan sambil telfon? Mesra manggil sayang, atau jangan-jangan ...." batin Airys.








To be continue....
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]
27-05-2019 18:50

Si Jemari Mungil

Menikmati Senja Bersamamu [Kumpulan Cerpen]




Gemuruh guntur memecah keheningan malam. Kerlap kerlip kilat menghiasi awan hitam. Hujan deras membasahi bumi nan gersang. Tertunduk diri di bawah pohon rindang.


Air mata ini menetes sederas hujan yang tengah mengguyur, deras sangat deras. Bagai aliran ombak mengobrak-abrik batu karang. Perasaan berkecamuk tak karuan. Sedih, pilu, tangis, dan entah bahagia.



"Sabar sayang, mungkin Allah lebih mencintainya dari pada kita. Bukan salahmu dan berhentilah menyalahkan dirimu." Kalimat indah nan menguatkan hatiku, agar hatiku tetap tegar dan kuat menghadapi kenyataan.


"Mengapa harus dia, Hans? Apakah aku terlalu buruk untuk bisa menjaganya? Sehingga Allah lebih menyayanginya dari pada kita?" protes Zhe.


"Ssstttt... jangan ngomong seperti itu. Allah lebih tahu apa yang kita tak tahu," jelasnya lagi.


'Yah, memang benar Allah yang Maha Tahu segalanya yang ada di langit dan bumi. Tak sepantasnya aku mengeluh dan protes atas takdir yang terjadi. Semua sudah terjadi, tak akan ada yang mampu mengetahui, bahkan untuk sekedar mencegah agar tak terjadi,' batin Zhe.



Sekali lagi aku mengingat hari itu, hari dimana semua telah terjadi. Betapa bodohnya aku sehingga tak mampu menjaga apa yang sudah diberi.



"Paling penting sekarang kita berdo'a, semoga Allah selalu menjaga dan memberi tempat yang indah," kata Hans.

"Kau benar Hans, aku harus berdo'a bukan malah menggerutu dan mengeluh menyalahkan takdir."

"Kita sholat tahajud dulu, agar hati kembali tenang dan mohon ampun atas semua yang telah terjadi."



Aku dan Hans bergantian ke kamar mandi untuk berwudhu dan bersama-sama melaksanakan sholat tahajud.
Berdo'a untuk kesayangan kami.






*********





"Met pagi sayang, gimana hatinya udah tenang?" tanya Hans.

"Alhamdulillah Hans, makasih selalu mensuportku."

"Sama-sama, ya sudah aku mau berangkat. Assalamualaikum ...." Mencium kening Zhe dan berlalu menghilang dibalik pintu.

"Waalaikumsalam ...."



Melakukan kegiatan sehari-hari kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Yah, aku seorang istri dan ibu dari anak-anaku. Setelah tugas selesai, akhirnya aku berbaring sambil menonton tv.




Tiba-tiba ....




"Bunda ... Bunda ... bangun Bunda, lihat aku tampan bukan?" tanyanya manja.

Sedikit kubuka mata, melihat inci demi inci paras bocah tengil nan tampan di depanku.

"Iya, tampan sekali Jagoan Bunda. Mau kemana? Ko' udah rapih dan wangi gini." Mencium pipi jagoan kecilku ini.

"Mau jalan-jalan ke taman yang indah Bunda, melihat bunga dan gemercik air sungai di sana," jelas jagoanku dengan antusias.


Melihat jauh ke dalam manik-manik retina indahnya, betapa polos dan menggemaskan jagoanku ini. Wajah nan menggemaskan dengan ucapan yg mulai faseh.



"Baik, hati-hati di sana. Jangan lupa ajak Mba Bilqis yah, pulang secepatnya, jangan mampir kemana-mana."

"Iya Bunda, tapi maafkan aku Bunda."

"Lho, kenapa harus minta maaf? Kamu gak salah ko' sayang. Bunda gak melarang." Mengelus ubun-ubun Jagoan kecilku.

"Aku gak akan kembali lagi Bunda," jawabnya lirih dan sendu.

"Lho, kenapa? Kan bareng Mba Bilqis mainnya," jawabku heran.

'Ada apa dengan Jagoanku. Kenapa ko' anak sekecil itu, mampu berkata seperti itu?' batinku.


"Bunda jangan sedih yah, mainnya gak lama ko'. Kalau waktunya tiba, aku akan jemput Bunda."

Dahiku mengernyit, apa yang sebenernya dia ucapkan. Sungguh aneh memang.

"Sudah, nanti Bunda susul kalau mainnya udahan yah."

"Bunda jangan nangis lagi yah, aku sedih lihat bunda selalu nangis."

"Bunda gak nangis ko'." Aku tersenyum.

"Janji Bunda?" Menyodorkan jari kelingking.

"Bunda janji sayang."

"Bunda ... Bunda ... Bunda ..." Berlarian menjauh.

"Kemana kamu? Pintunya di sebelah sana," teriakku.

"Bunda ... tetap tersenyum, aku pergi dulu."

"Kemana Nak? Jangan pergi ... jangan pergi ....!"



"Hah hah hah hah ... Ya Allah, mimpi apalagi barusan. Sungguh, aku benar-benar telah ikhlas melepasnya pergi. Jangan kau ingatkan lagi atas rasa sakit kehilangan ini." Genangan air mataku seketika deras mengalir tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dada, sesak dan menyakitkan.

"Apakah kau rindu pada bunda, Nak? Baiklah, sore nanti Bunda bersama Ayah akan menengokmu. Maafkan Bunda yang sok sibuk ini, hingga menengokmu pun tak sempat." Kubasuh air mata dan kembali ke kamar.


Tak terasa adzan ashar berkumandang, saatnya Aku menuntaskan kewajiban.



"Ya Allah, ampunilah hambamu yang penuh dosa ini. Sungguh aku telah ikhlas menerima semua yang telah terjadi."


Setelah selesai, Aku ke depan guna menunggu Hans.


"Assalamualaikum ...."

"Waalaikumsalam, langsung mandi saja Hans, Aku rindu pada anak kita, lama kita tak menengok ke sana. Setelah ini, kita ke sana yah?"

"Yakin kamu udah siap? Kalau emang siap, pasti akan kutemani."

"Makasih Hans, makasih ...." Betapa beruntungnya aku memiliki seorang suami sepertinya, sabar dan lemah lembut membimbingku.

"Bilqis di ajak atau gak?"

"Bilqis titipin ke eyang saja. Cukup kita berdua."

"Baiklah, aku mandi dulu. Badan rasanya lengket dan lelah, tapi kalau kamu betah, gini juga gak apa-apa," goda Hans

"Ihh ... gak-gak, mandi sana."

"Hahahaha...."



*****



15 menit perjalanan menuju tempat jagoan kecilku. Rasanya aku sangat rindu sekali padanya.


'Maafkan bunda, Nak. Baru bisa menengokmu lagi setelah hari itu,' batinku.


Hans memegang erat tanganku dan tersenyum. Seolah tahu apa yang sedang ku pikirkan dan mengaliri energi ke tubuhku.

Akhirnya kami tiba di tempat anakku, pohon-pohon masih rindang teduh di sana-sini, meski senja tetap indah. Aku dan Hans pun masuk, tapak demi setapak tapi pasti hingga tiba di tempat tidurnya.


"Selamat sore anak bunda, bagaimana hari-harimu di sini? Pasti kau sangat nyaman bukan? Bunda selalu berdo'a untuk tempat indahmu ini. Agar tidurmu selalu nyaman dan pulas." Tak terasa butiran air hangat menetes dari ujung kelopak mataku. Sekali lagi aku rapuh dan tumbang melihatnya seperti ini. "Maafkan bunda, Nak. Bukannya kami tak menyayangimu, tapi Bunda takut tak kuasa menahan diri atas kehilanganmu. Sore ini, Ayah dan Bunda datang menjengukmu. Maafkan kami sekali lagi, kami tak membawa bunga untuk menyekarmu. Kami hanya membawa do'a untuk tidur nyenyakmu di sana. Jangan nakal, suatu hari kita akan bertemu. Sampai jumpa sayang, semoga Ayah dan Bunda bisa terus datang untuk mengunjungimu. Kami mencintaimu, Nak."


"Sabar sayang, yang kuat. Aku dan Bilqis selalu ada di sampingmu." Hans memeluk dan membiarkan tangisanku pecah begitu saja. Aku tak tega melihat anakku seperti ini.



'Ibu macam apa aku ini?' batinku.




Beberapa do'a kupanjatkan untuk anakku, berharap agar bisa menjadi obat penyejuk untuknya. Setidaknya hanya itu yang kini bisa kulakukan.


"Yuk pulang, hari semakin gelap sayang." Aku mengangguk lalu beranjak pergi dari sini.


"Bunda akan selalu merindukanmu, Nak. Jangan pernah membenci bunda yang gagal menjagamu." Kalimat terakhirku sebelum meninggalkannya lagi.



Selama perjalanan pulang, kuhabiskan dengan berdiam diri. Meski Hans sesekali melihatku untuk memastikan, apakah aku baik-baik saja.



"Aku gak apa-apa ko' Hans." Kupegang jemarinya yang kosong tak menyetir.

"Sabar dan kuat sayang, kita sama-sama ikhlas dan berjuang." Kalimat Hans sangat teduh, hatiku sedikit tenang.



Dalam hening, anganku diam-diam pergi melayang di hari itu, hari yang tak ingin kuingat kembali. Karena hanya akan menyesakan dada.




******



"Hans ... Hans .... Kemana perginya suamiku?" Aku sudah berputar mengelilingi sesisi sudut rumah, tapi tetap saja dia tak terlihat. Kesal dan keluar untuk melihat di halaman, mungkin saja dia ada.

"Nah, itu dia," gumamku

"Hans, aku cariin dari tadi juga. Kemana aja sih kamu?"

"Kan kamu lihat, aku nemenin Bilqis main di sini. Lihat putrimu yang menggemaskam itu."

Menengok sejenak putri kecilku nan manis, ternyata sedang bermain dengan tanaman bunganya.

"Hans, ada yang mau aku omongin."

"Ya udah, ngomong aja." Tetap fokus pada Bilqis.

"Hans, serius nih aku," aku merajuk, entah kenapa akhir-akhir ini hormonku begitu sensitif.

"Ada apa sayang? Tumben-tumbenan nih ngambekan gini. Coba ceritain pelan-pelan," pinta Hans.

"Lihat nih." Ku sodorkan test pack bergaris 2 setrip merah.

"Ini ...."

"Aku hamil lagi Hans."

"Sungguh?"

"Iyah."

"Alhamdulillah...."

Hans begitu gembira, tak menyangka ternyata kehamilan kedua ini terjadi.

"Ya sudah, duduk sini jangan capek-capek."

"Iya."


Setiap hari kegiatanku hanya berbaring dan muntah-muntah. Maklum orang hamil dan ngidam bawaanya serba gak enak. Makan dikit muntah, minum dikit muntah, minta ini dan itu. Beruntung Hans sabar menemani dan mengganti peranku mengurus Bilqis serta rumah.



Kandunganku memasuki 3 bulan dan memang lemah, kata dokter sih harus banyak istirahat. Jangan banyak kegiatan dan angkat berat-berat.
Hingga suatu hari, kejadian naas itu terjadi.



Hans dan Bilqis tak ada di rumah, mereka pergi belanja sebentar.
Kemudian aku pergi ke kamar mandi, entah mengapa lantai begitu licin. Sebelum masuk kamar mandi, tiba-tiba kaki terpeleset dan....



Duaaggggggg....



Ngilu, rasa itu yang pertama kali terdeteksi. Berusaha bangkit meski tertatih seorang diri. Badan rasanya begitu berat.


"Aduuhh... ko' sakit banget nih badan. Ngilu-ngilu begini."


Berjalan menuju tempat tidur, sejenak membaringkan tubuh. Sedikit memijat dan mengoleskan minyak, agar sedikit berkurang rasa sakitnya.



"Assalamualaikum .... sayang, kamu kenapa?" Tersirat ke khawatiran dari wajahnya.

"Waalaikumsalam, jatuh di kamar mandi Hans."

"Innalillahi, kenapa bisa sampai jatuh? Terus dimana yang sakit? Kita periksa ke dokter yah."

"Aku gak apa-apa, cuma ngilu dan pegel aja."

"Ya udah, aku pijitin pelan-pelan."

"Aww... sakit Hans," rintihku.

"Sekarang istirahat yah, hari udah malam. Bilqis juga udah tidur di kamarnya."

"Iya."



Dua hari setelah kejadian itu, perut terasa sakit dan mules.


"Hans ... Hans ...." Hanspun berlari.

"Ada apa sayang? Ko' teriak gitu manggilnya."

"Hans, lihat kakiku keluar darah," pekikku ketakutan dan kaget.

"Astagfirullah, ya udah kita langsung ke rumah sakit."



Hans membopongku masuk ke mobil bersama Bilqis putri kecil kami. Selama perjalanan perutku kram seolah ingin melahirkan. Sakit sekali, benar-benar rasa sakit yang luar biasa.


"Sabar sayang, bentar lagi sampai."



Tibalah di rumah sakit dan Hans membawaku langsung ke UGD. 30 menit berlalu, akhirnya aku dipindahkan ke kamar biasa. Melihat wajah Hans yang sayu dan sedih.



"Kenapa Hans, ada apa? Mengapa wajahmu begitu sedih. Oh ya, bagaimana keadaan kandunganku?" Hans bukannya menjawab malah memeluk erat.


"Sabar dan kuat sayang, Allah lebih mencintai bayi kita." Ada butiran hangat yang menetes pada pundakku.

'Apakah Hans menangis? Lalu apa yang terjadi pada bayiku?' batinku

"Maksudmu apa Hans? Aku kurang mengerti."

"Kau mengalami keguguran sayang."



Duuaaarrrrr...


Seperti ribuan petir menyambar tubuhku, gemetar, limbung, dan lemas. Tak mampu lagi berkata, syok dan terpukul berat.
Benar-benar ujian yang sangat berat, secepat itukah tuhan memberi lalu mengambil apa yang menjadi miliknya.



Quote:
Malam ini seperti malam tanpa bintang dan rembulan.
Redup tertutup awan menendung mega hitam.
Belahan jiwa yang selalu ku jaga sepenuh raga.
Harus hilang terpisahkan dimensi ruang dan waktu yang berbeda.

Nak, kini kau telah tenang dan bahagia di tempat terindahmu.
Bunda tak akan sedih apalagi menyalahkan waktu.
Bunda akan selalu tersenyum berdo'a untukmu.
Semoga jika suatu hari bunda menyusulmu, bisa bertemu dan berkumpul bercengkrama denganmu.

Kau anakku, belahan jiwaku, bagian indah yang pernah terukir dalam hidupku.
Apakah kau merindukanku?
Merindukan Bunda yang selalu merindukanmu.
Selamat malam sayang, semoga tidurmu nyenyak di sana.






------TAMAT------
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 2 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
teman-dua-dunia
Stories from the Heart
bab-26--saran
Stories from the Heart
api-dendam-di-tanah-pringgading
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia