Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
507
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak
Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.   Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Hari Kesembilan Belas-Part III
Hari Kedua Puluh
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ClipTep dan 63 lainnya memberi reputasi
62
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 24 dari 24
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-06-2020 17:47
lanjut gan nnti gw kasih yg seger2 dan manis2 emoticon-Toast
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
25-06-2020 01:03
makin seru ceritanya, bikin penasaran
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
28-06-2020 12:56
Hari Kesembilan Belas - Part II

Aku masih tidak percaya, kehidupan Pak Agus berbalik seratus delapan puluh derajat dari pertama kali berjumpa dengan dia. Rumahnya tampak begitu rapuh, tidak ada meja-kursi untuk tamu bersandar. Ditambah, pekerjaannya yang sekarang mungkin karena keterpaksaan, ada apa sebenarnya dengan nasib kehidupan Pak Agus.

"Assalamualaikum", suara seorang laki-laki dari luar rumah, tidak berselang lama, sosoknya sudah berada di hadapanku dan Kirana. "Lho, Mas Burhan, kok ada disini ?".

"Iya pak, saya dapat alamat panjenengan dari pedagang di pasar".

"Memang ada apa ini mas ? tumben, saya dicari-cari lho ini," sebuah plastik di taruh Pak Agus di sebuah sudut rumah, terlihat disana ada sebuah cap yang kemungkinan adalah sebuah resep obat yang baru saja dibeli di Apotik.

"Saya ini sudah beberapa hari mencari bapak, tapi Pak Agus malah seperti ingin menghindar dari saya,".

"Lho kapan mas ? saya kok malah tidak tahu menahu ya ?".

"Dulu pak, sewaktu berjumpa di pasar".

"Tunggu dulu mas, saya jujur tidak pernah ketemu sampeyan, mungkin pas waktu itu, saya sedang terburu-buru mau membelikan obat buat anak saya".

"Saya kira panjenengan menghindar pak, saya sampai berpikir salah apa yang membuat Pak Agus tidak mau bertemu".

"Tidak mas, salah sangka itu mungkin".

"Maaf ya pak, kalau boleh tahu, putrinya sakit apa ?".

"Kata dokter sakit demam, tapi sudah seminggu ini keadaannya belum membaik. Saya bingung karena keuangan keluarga juga rada kacau".

Obrolan kami terhenti setelah istri dari Pak Agus menyela untuk memberikan suguhan minuman dan beberapa jajanan, "Terima kasih bu," ujar Kirana sopan, sekarang obrolan semakin ramai setelah Bu Agus ikut bergabung.

"Semoga segera sembuh pak, saya itu sebenarnya ingin memberikan sebuah informasi kepada jenengan, terkait dengan usaha yang dulu pernah dikerjakan oleh bapak saya, dan Pak Joni serta satu lagi bernama Ghani Bustami".

"Informasi apa itu mas ?".

"Saya sudah menemukan kejanggalan dari Ghani Bustami pak, karena sejujurnya, saya adalah ahli waris dari bapak untuk perusahaan tersebut. Dan dia tidak pernah mencari, dan menghubungi saya, melenyapkan posisi bapak serta Pak Joni begitu saja,".

Pak Agus menghela nafas panjang, ingin sebuah kalimat panjang terlontar darinya, namun tampak ditahan. Kirana sepertinya menyadari hal tersebut, "Bapak jangan sungkan atau takut untuk bercerita pak, kami disini datang untuk mendapatkan saran dari Pak Agus".

"Saya itu bukannya sungkan atau takut mbak, hanya ada ganjalan untuk berbicara soal Mas Joni, dia sebetulnya sudah mencurigai gerakan salah satu rekan kerjanya. Hanya Mas Joni tidak bilang namanya, saya malah berpikir bahwa semua ini ulah dari Ghani Bustami".

Apakah sebenarnya bapak dan Pak Joni sudah tahu kebusukan dari Ghani Bustami, tapi kenapa mereka diam saja. Sebuah pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa terjawab, namun disisi lain, Ghani Bustami mengatakan bahwa pelaku sebenarnya adalah Pak Joni. Siapa yang sedang berbohong disini.

"Mungkin kah Pak Joni sudah tahu kejahatan Ghani Bustami," tanya Kirana kepada Pak Agus, hanya gelengan kepala yang diberikan Pak Agus sebagai jawaban atas pertanyaan Kirana.

***

"Kalau menurutmu bagaimana Ran ? siapa yang sebetulnya sedang berdusta ?," aku dan Kiran memutukan untuk mampir ke sebuah Warung Mie Ayam setelah berkunjung ke Rumah Pak Agus.

"Disini posisinya masih belum jelas Han, kalau kamu percaya sama Ghani Bustami kamu tidak bisa, tapi kalau kamu percaya sama Pak Agus pun juga belum bisa, harus ada bukti penguat disini".

Aku mencoba mencerna perkataan dari Kirana, ada benar juga kata-kata darinya. Disini Ghani Bustami tidak dapat serta-merta disalahkan, toh, bisa jadi dia jujur dengan kata-katanya, dan Pak Agus yang malah sedang berdusta.

"Lalu menurutmu, aku harus bagaimana ?".

"Kamu lawan Ghani Bustami di hukum, sembari mencari informasi-informasi lain yang bisa dijadikan refrensimu Han".

"Pandanganku sebenarnya hanya Pak Agus sih Ran, tapi tadi gaya bicaranya benar-benar berubah, ada rasa-rasa yang ditutupi oleh dirinya".

Kirana tidak segera menjawab, jari-jemarinya masih lihai memainkan ponsel miliknya. Entah siapa yang sedang berbalas pesan dengan dirinya. "Kita selesaikan makan dulu Han, keburu dingin, jadi tidak enak".

"Kamu berbalas pesan dengan siapa Ran ? seperti seseorang yang menarik,".

"Kenapa ? cemburu ya, bukan siapa-siapa Han, ini aku masih berbalas pesan dengan mamah, kan aku sudah lama di Solo,".

"Ihhhh...siapa yang cemburu, pedeee banget sih kamu,".

"Cemburu itu tanda sayang, jadi kamu tidak sayang dong sama aku".

"Tidak,".

"Haaaa".

"Tidak hanya sayang, tapi cinta juga," disini aku melihat wajah memerah Kirana, karena kulitnya yang putih, tampak jelas pipi tomat Kirana.

Temen-temen bisa mendukung saya melalui :

https://trakteer.id/bimo-kuskus
profile-picture
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
28-06-2020 17:48
semakin menuju titik terang..
lanjut gan..
emoticon-Keep Posting Gan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-07-2020 18:12

Hari Kesembilan Belas - Part III

"Bapak, ibu, mbak Lestari, aku kangen sama kalian," foto album keluarga membawaku bernostalgia, melihat kami berempat yang masih utuh. Senyum dari ibu, bapak dan mbak Lestari memberikan sebuah rasa rindu kepada mereka.

"La—le—lo—le—lo—le—lo—le—dung, cah ganteng ojo nangis wae," suara lagu jawa yang sering dinyanyikan ibu kembali terdengar. Rasanya senang karena ibu mendengar kerinduanku, namun disisi lain, aku juga merinding, mengetahui fakta bahwa ibu sudah dialam yang lain.

Bulu kuduk tanpa diperintah langsung meninggi, suara langgam jawa benar-benar mengerutkan nyali untuk tetap membuka mata. Aku tahu, ibu tidak mungkin menyakiti anaknya. Namun, semua seakan sirna...

Sosoknya tidak dapat ku sentuh, senyumnya mungkin tidak seperti ketika ibu masih utuh raganya. "Ibu, tolong..Burhan takut, jangan nyanyikan lagu itu lagi".

***

Sekumpulan berkas-berkas di kantor sengaja aku pilah-pilah, harus menang di hadapan hukum sudah menjadi semangat membara. Aku tahu perjuangan bapak untuk membesarkan perusahaanya, namun sekarang diambil alih tanpa izin pewarisnya.

"Diary milik bapak ?," sebuah buku catatan kecil tergeletak di laci paling bawah, kalau di ingat-ingat, bapak sepertinya tidak terlalu suka untuk menulis. Tapi kalau ini tidak memiliki bapak, lalu punya siapa ?.

"Ada Khianat, Bungkamlah mulut ini. Hari ini, rasa-rasanya malas untuk pergi ke kantor, banyak aura penghianatan yang terasa. Entah kenapa, perusahaan ini bakal dihancurkan oleh si pembangun itu sendiri. Namun, anak-anak dan istri masih membutuhkanku untuk bertahan disana, meskipun resiko bakal segera terjadi".

"Aku masih bersabar, karena Tuhan bakal memberikan jawaban, sebuah rasa adalah angan, mimpi itu kini telah perlahan pudar. Kau memberiku sebuah pilihan yang sukar untuk dijalankan, kapan dan siapa, waktu dan Tuhan yang akan menjawabnya".

Ada apa sebenarnya dengan bapak, setiap halaman demi halaman di diarinya selalu tidak memberikan sebuah jawaban yang bisa mudah untuk dicerna. Lalu siapa yang dimaksud bapak sedang berkhianat disini, mungkinkah Pak Joni ?.

"Aku hanya sebuah lembar kertas putih, dunia itu hitam, bukan sesuatu yang kami semua janjikan. Bukankah harusnya dia ingat tentang misi abadi perusahaan. Lalu kemana misi suci tersebut, aku hanya sebuah lembar kertas putih yang patuh untuk tetap mengabdi".

"Kau siksa anak tak bersalah, dia putri tersayang, terbaring lemah beberapa waktu belakang, tidak ada angin yang bisa menjawab pertanyaanku mengenai apa yang terjadi padanya. Rembulan pun enggan berucap, namun ku tahu ada Bala Kurawa yang menghancurkan keluarga tercinta ini".

Tunggu, diary ini sepertinya mengingatkanku pada sebuah surat yang pernah aku temukan saat pertama kali di rumah ini. Apa ini tanda kalau Mbak Lestari pernah sakit keras ? lalu kenapa tidak ada yang memberitahu hal tersebut, sebenarnya apa yang tengah dirahasiakan oleh bapak dan ibu.

Kalau tidak salah, aku pernah mendapatkan sebuah surat bertuliskan "Andai saja aku tidak sakit". Apakah ini yang membuat bapak bertahan di perusahaan yang sudah berbau kotor tersebut, diary ini mungkin bisa menjadi bukti penguat. Namun tetap saja, itu belum cukup kalau harus dijadikan barang bukti dihadapan hukum.

"Guuubbbbbrrrraaaaak".

Suara seperti barang jatuh cukup keras terdengar dari arah ruang keluarga, sekali lagi, tubuhku dibuat lemas seketika. Rasanya ingin menidurkan diri ini, namun tetap sukar dilakukan.

Aku memberanikan diri untuk melihat sebenarnya apa yang terjadi, kaki rasanya gemetar hebat. Keringat sudah tidak terhitung berapa yang menetes, namun tekad tetap terus aku kuatkan. "Kriiikkk", ah sialan memang, suara pintu kenapa harus seperti itu juga sih, rasanya ingin balik kanan bubar jalan.

"Gleek...gleeekk..gleeek".

Langkah besar terdengar tepat di sebelah ruangan kerja bapak, sebuah langkah yang tidak mungkin kalau itu manusia. Seperti raksasa dengan ukuran kaki super besar, dalam posisi yang benar-benar mencekam, langkah ini seakan tidak dapat lagi dilanjutkan.

"Ya Tuhan, aku mohon tolong tenangkan hati ini".

***

Setelah bercucuran keringat, dan bergetar kaki hampir dua puluh menit. Akhirnya, aku mampu menuju ruangan keluarga. Sebuah album foto terjatuh di lantai, cukup asing atau bahkan aku selama ini belum pernah melihatnya.

"Foto bapak, Pak Joni dan Ghani Bustami, apa maksudnya ?".

Lembar demi lembar halaman album foto ku buka, semua isinya adalah ketiga orang yang seperti menggambarkan sosok para pemuda yang sama-sama berjuang hingga sukses. Hobi bapak memang gemar mengabadikan setiap momen dalam lensa kamera jadulnya.

"Sebuah surat," kertas kecil dihalaman terakhir album, seperti sebuah pesan yang mungkin ingin disampaikan oleh bapak kepada orang yang membuka album ini. Tanpa pikir panjang, segera ku buka isi surat tersebut.

"Teliti lan Ati-ati adalah kunci kehidupan, jangan ceroboh mengambil keputusan agar kamu tidak tersesat dalam sebuah pilihan yang salah dan mencelakakan pemikiranmu".


profile-picture
profile-picture
profile-picture
gale81 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-07-2020 21:21
mantep iih marathon

lanjut gaan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
06-07-2020 07:21
Ini beneran kisah nyata gan?
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
12-07-2020 07:13
Hari Kedua Puluh

Sinar Mentari Pagi menembus sekat gorden kamar, agar tidak terlalu silau, aku menarik gorden untuk meninggalkan celah. Hari ini, bakal menjadi sebuah hari yang sukar, banyak misteri yang ku temukan kemarin, dan masih belum ada satupun rahasia yang dapat terbongkar.

Meskipun menyelesaikan misteri ini adalah kewajiban, namun ada kewajiban lain yang tidak dapat aku lupakan begitu saja. Apalagi kalau bukan soal pekerjaan, dari sinilah kehidupan ini ditopang, tidak mungkin aku bisa hidup mandiri jika tidak berawal dari pekerjaan yang seringkali aku duakan.

"Mungkinkah kau tahu, rasa cinta yang kini membara," dering ponsel memecah hening pagi, sudah tertebak siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini.

"Halo Han, sudah bangun kan kamu ?," suara nyaring itu pasti sangat mudah untuk ditebak.

"Hallo Ran, sudah ini baru bangun,".

"Yaudah kalau begitu, segera mandi ya, hari ini kan kerja,".

"Oke siap, nanti kita lanjut lagi ya,". Setelah mendapatkan persetujuan mematikan sambungan telpon dari Kirana, aku segera menekan sebuah tombol telpon merah. Segera ku ambil celana dalam dan kolor serta handuk untuk menjadi teman di kamar mandi.

***

"Pagi mbak," sapaku kepada Mbak Ambar yang sudah tiba di kantor, perempuan yang sebelumnya tidak mengetahui kedatanganku ini langsung melemparkan senyum, dan membalas salam yang aku tujukan kepada dirinya.

Setumpuk tugas sudah menyapa pagiku, beberapa hari kebelakang, kantor ini memang begitu liar melantai di bursa saham. Dan benar saja, banyak project yang akhirnya masuk, seiring dengan meningginya nilai saham dari perusahaan.

Semua tampak begitu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan untuk sekadar menikmati kopi pada pagi hari saja rasanya sukar untuk dilakukan. "Mas, perusahaan benar-benar harus menambah pegawai sih kalau ini", ujar seorang karyawan di samping meja kerjaku.

"Mungkin setelah ini mas, sabar dulu saja".

Aku sudah tidak sabar ingin segera menceritakan penemuanku kemarin malam dengan Mbak Ambar, mungkin selepas makan siang bisa menjadi waktu yang tepat. Tapi, selesaikan dulu semua tumpukan pekerjaan yang sudah menggunung.

***

"Mbak, kamu sibuk tidak ?,".

"Tidak mas, memang ada apa ?," tangan Mbak Ambar masih sibuk memasuk-masukan barangnya kedalam tas, mumpung tidak ada Mbak Sulis, jadi kesempatan untuk cerita panjang lebar soal tadi malam bisa lebih khusyuk.

"Aku mau cerita mbak, tapi jangan disini, di kantin saja".

"Emm, baiklah, mumpung istirahat juga," tanpa komando lagi, aku dan Mbak Ambar bergegas pergi ke kantin bersama, rasanya sudah tidak sabar, apalagi beberapa bukti kemarin malam bisa menjadi bukti kuat untuk menuntut Ghani Bustami ke hukum.

Posisi kantin benar-benar lengang, memang tidak semua karyawan di kantor memfavoritkan tempat ini untuk urusan mengisi perut. Ada beberapa warung di luar yang kabarnya memiliki rasa lebih enak sekaligus harganya murah.

Sebelum duduk ke tempat yang disediakan, aku dan Mbak Ambar menghampiri Bu Idah, salah seorang penjual di kantin yang menjadi langganan sejak pertama kali kerja disini. "Bu, saya pesen bakso dan Es Teh ya, kalau Mbak Ambar pesan apa ?".

"Aku pesen..." wajah Mbak Ambar mondar-mandir melirik menu makanan yang terpajang di etalase, momen ini benar-benar bakal membosankan, dan ketimbang menunggu pilihan menu makanan Mbak Ambar yang terkenal lama, mending aku izin untuk mencari tempat terlebih dahulu dengan alasan agar tidak ditempati orang.

Sepuluh menit berselang, Mbak Ambar tampak berjalan menuju ke arah meja yang berada ditepi ruangan dengan pemandangan kesibukan jalan Kota Solo. "Sudah selesai mbak memesannya ?", tanyaku kepada Mbak Ambar yang sekarang sudah duduk di depanku.

"Sudah dong".

Dan cerita-cerita apa saja yang aku alami, ku curahkan semua kepada Mbak Ambar, dirinya tampak mendengarkan setiap cerita yang aku bagikan dengan khusyuk. "Bagaimana menurut kamu ?", sebuah pertanyaan meminta pendapat terlontar dariku setelah semua yang ingin tersampaikan dalam hati akhirnya tercurahkan.

Obrolan kami berdua sejenak terhenti setelah Ibu Idah sudah selesai menyiapkan menu yang kami pesan, dengan sopan dan ramah, menu-menu mulai di tata diatas meja bernomor 10 ini, "Matursuwun ya bu".

"Enggih mas".

Setelah beberapa langkah Ibu Idah berlalu dari pandangan, aku mencoba menikmati terlebih dahulu bakso yang ada dihadapan mata. Daging bulat yang penuh nikmat disetiap cokotan. Disisi lain, aku juga penasaran dengan menu yang dipesan oleh Mbak Ambar, "Pesan apa mbak tadi ?".

"Nasi Rames sama Teh Hangat mas", jari perempuan tersebut menunjuk ke arah piring dan gelas yang ada dihadapannya.

"Oh ya, menurutku soal cerita kamu tadi malam, mending kita konsultasi kepada kuasa hukum terlebih dahulu deh mas. Nanti malam, kalau mau, kita ketemu sama kuasa hukum kenalan Intan," wajah Mbak Ambar tampak mengatur diri untuk membagi kondisi makan dan bicara.

"Aku pasti bisa mbak, jadi nanti pulang kantor kita langsung meluncur ke Rumah Mbak Intan ?".

"Iya, tapi apa tidak sebaiknya mandi dulu, memang kamu tidak malu datang ke rumah perempuan dan belum mandi," sambil tertawa ringan, Mbak Ambar mencapit kedua hidungnya yang pasti ditunjukan untukku.

"Aku wangi, okelah berarti naik aku mandi dulu di rumah".

"Kejauhan to mas," sekali lagi, jidat perempuan didepanku ditepuk dengan tangan kirinya, tapi pastilah tepukan tersebut tidak keras.

"Lha terus dimana kalau tidak dirumahku ?," tangan ini masih sibuk memotong-motong bakso terbesar yang ada di mangkok.

"Dirumahku saja, nanti kamu bisa pakai baju milik bapak, kan searah kalau ke Rumah Intan". Sebuah ide yang tidak bisa ku tolak, karena memang arah rumah Intan bertentangan dengan rumahku.

***

Sampai di part yang ke sekian ini, siapa tokoh yang menurut kamu paling menarik ? monggo, tuliskan opininya di kolom komentar, saya suka berdiskusi soalnya hehe


profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
12-07-2020 08:48
makasih gan atas updatenya...
masih sempet2in di tengah pandemi....

buat ane, gada tokoh favorit, semuanya punya porsi yg lumayan pas...
ya pastinya tokoh utama yg terbanyak dapet panggung..
sehat terus gannn
profile-picture
seterahgue memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
12-07-2020 12:30
ceritanya bagus banget gan, saya harap agan bisa melanjutkan cerita ini sampai tamat.

keep update ku kasih cendol selalu
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
15-07-2020 16:54
Kangen updatenya .... ☺☺
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
16-07-2020 16:05
jejak dulu, masih penasaran ini
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
17-07-2020 22:56
Saya usahakan update setiap hari Minggu
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
19-07-2020 23:30
Hari Kedua Puluh - Part II


"Akhirnya sampai juga mas," tiba di rumah yang sebenarnya berukuran cukup besar, namun dengan penampilan ala-ala rumah jaman dulu. Mbak Ambar mengambil posisi di depan, dan segera mengetukan pintu rumah.

"Assalamualaikum.." dengan suara yang tidak terlalu nyaring namun tetap terdengar, belum ada jawaban saat dua kali Mbak Ambar mengucapkan salam. Rasa ragu datang, mungkin saja, hubungan antara Mbak Ambar dan ibunya belum membaik setelah kejadian kemarin.

"Walaikum sallam", akhirnya setelah ucapan salam ketiga, ada balasan salam dari dalam rumah. Suara seorang perempuan, yang sudah tahu itu suara siapa.

Sosok Ibu Mbak Ambar terlihat setelah daun pintu mulai dibuka, menyapa dengan kehangatan dan seperti tidak ada masalah yang terjadi sebelumnya. Saling rangkul, dan begitu dekat, syukurlah, tidak ada yang perlu ku risaukan dengan kondisi hubungan ibu dan anak ini.

"Silahkan masuk mas, sudah makan belum nih ?,".

"Sudah bu, tadi di kantin".

"Belum ding bu, wong, makannya tadi siang. Ini sudah malam," Mbak Ambar memeluk ibu angkatnya, dan seperti seseorang yang tengah mengadu kepada ibunya bahwa aku sedang berbohong.

"Kalau begitu, habis ini akan ibu siapkan masakan terenak buat kalian berdua, tapi mandi dulu ya, sudah pada bau-bau gitu".

"Oh ya bu," Mbak Ambar membisikan sesuatu kepada ibunya, entah apa yang mereka bicarakan, tidak terdengar satupun kata. Aku hanya diam seribu bahasa, melihat kelakuan tidak jelas ibu dan anak ini.

"Oke deh, siap...," tatapanku curiga kepada dua orang dihadapanku, apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan.

***

Disuasana makan malam, Mbak Ambar menceritakan tentang kondisinya setelah kejadian tersebut, sebetulnya dirinya tidak tega menjebloskan bapak angkatnya ke penjara. Namun, hal tersebut malah disetujui oleh ibunya, dan sang bapak sendiri. Menurut mereka berdua, masalah ini memang perlu diselesaikan dengan jalur hukum.

"Lalu, bagaimana ceritanya Mbak Ambar bisa kembali bekerja ?," tanyaku dengan kondisi masih mencoba meraih jagung yang ada diantara beberapa bayam.

"Waktu itu, aku meminta tolong kepada Sulis untuk memberikan alasan kepada bos agar mau menerimaku lagi. Dan akhirnya, aku bisa bekerja lagi disana".

"Ambar ini mungkin waktu itu sedang banyak pikiran, dirinya akhirnya memutuskan untuk melepas pekerjaan yang sejatinya adalah passionnya," setelah sedari tadi diam, dan hanya menjadi pendengar antara aku dan Mbak Ambar, akhirnya Ibu Mbak Ambar pun ikut dalam obrolan tiga orang tersebut.

Lega rasanya, tidak ada masalah yang terjadi di keluarga Mbak Ambar, semua terlihat biasa-biasa saja. Meskipun, anak kecil tersebut masih terus berada di rumah itu, menatap dengan pandangan kosong ke arah kami bertiga.

"Kamu mau menginap disini mas ?," tanya Ibu Mbak Ambar, yang ku jawab dengan gelengan kepala, di mulutku masih ada makanan yang perlu ku kunyah, tidak mungkin untuk mengeluarkan kata.

"Aku dan Mas Burhan mau ke rumah temen bu habis ini, ada sesuatu yang perlu kami selesaikan".

"Owallah begitu, tapi kamu jangan malem-malem lho pulangnya, kalau sudah selesai harus segera pulang".

"Iya bu, pasti Ambar langsung pulang".

***

Tepat di depan rumah milik Intan, sekali lagi aku dan Mbak Ambar disambut oleh petugas keamanan disana. Namun kali ini berbeda, setelah melihat sosok kami, dia langsung menyuruh untuk masuk kedalam. Tanpa perlu izin dari Intan terlebih dahulu.

"Silahkan masuk, sudah ditunggu oleh Bu Intan," bapak satpam dengan sopan mempersilahkan kami berdua masuk, setelah motor diparkirkan di halaman tempat parkir yang terletak di belakang pos satpam. Mbak Ambar memulai langkah untuk didepan, meskipun sudah kenal dengan sosok Intan, masih saja merasa tidak sopan kalau aku berada didepan.

Intan ternyata benar-benar sudah menunggu di teras rumah, dengan baju tidurnya, ia tampak anggun dan sosok perempuan dengan tingkat menarik hampir sembilan puluh sembilan persen. Ah sadar Han, kamu sudah memiliki Kirana yang sudah setia menemani sejak pertama kali ke Bandung.

"Hallo semuanya," sapa perempuan cantik itu setelah melihat aku dan Mbak Ambar, seperti biasa ciuman pipi kanan dan kiri menjadi tradisi antara Intan dan Mbak Ambar setiap kali berjumpa. Setelah selesai dengan ritualnya, Intan mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam.

"Kamu sudah lama nunggu ya ?," ujar Mbak Ambar sambil memasuki rumah yang sangat besar menurutku ini, Intan hanya menggelengkan kepala, tanda tidak setuju, meskipun sebenarnya dia benar-benar telah menunggu lama. Terlihat dari gelas teh di depan yang sudah tersisa sedikit.

"Oke silahkan duduk, biar aku suruh pembantu untuk menyiapkan makanan dan minuman kepada kalian".

"Tidak perlu repot-repot mbak," perkataanku tidak didengar oleh Intan, dengan terus berjalan, Intan menghempaskan tangan kirinya tanda tidak mau mendengar basa-basiku.

Sebuah buku menarik perhatian mata yang sedari tadi tidak tahu mau berbuat apa, "Filosofi Kematian : Arwah Gentayangan". Sebuah judul yang benar-benar berbau mistis, namun siapa tahu isinya ada sangkut pautnya dengan cerita misteri di rumah peninggalan bapak. Satu demi satu halaman mulai ku baca sembari menunggu Intan kembali dari dapurnya.

Kalian bisa mendukung saya melalui :

https://trakteer.id/bimo-kuskus
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gale81 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
20-07-2020 22:57
Mantap gan ditunggu update selanjutnya...😀😀
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
26-07-2020 17:22
Menunggu lanjutannya
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
Kemarin 12:00
Real kah ?
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
Kemarin 13:42
Jejak duluu tar malem baca
0 0
0
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
Hari ini 02:12
Aroma kentangnya semakin menguat ya gaaannn
profile-picture
gestan memberi reputasi
1 0
1
Halaman 24 dari 24
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
menjadi-jomo
Stories from the Heart
bukan-korban-perceraian-biasa
Stories from the Heart
seorang-ayah-yang-jauh
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
the-piece-of-cake
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia