Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
489
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak
Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.   Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayahnyabinbun dan 59 lainnya memberi reputasi
58
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 16 dari 24
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
21-01-2020 10:22
Lanjutkan gan udh kentang lama
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
21-01-2020 12:18
mulai dari awal ? tapi sekali update dua episode biar cepet😁besok saya usahakan untuk update gan, maaf kurang konsisten
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan wikipedea memberi reputasi
2 0
2
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
22-01-2020 05:21
Sebelum Hari Pertama

Perkenalkan namaku Burhan Supriyanto, dua tahun yang lalu peristiwa kurang mengenakkan terjadi pada keluargaku di Solo. Entah mimpi buruk apa, namun tiba-tiba pagi hari dapat kabar kalau bapak, ibu dan Mbak Lestari ditemukan tewas di rumah.

Kematian ketiganya begitu janggal, kepolisian setempat memperkirakan mereka dibunuh oleh seseorang dengan alasan yang belum diketahui. Namun setelah dua tahun setelah kejadian mengerikan itu, belum juga ada kabar siapa pembunuh ketiganya.

Seorang Pak Pos atau sekarang lebih sering disebut sebagai Pos Man datang ke kos-kossanku di Kota Bandung. Tampaknya, ada juga balasan dari lamaran pekerjaanku yang kemarin memang sengaja disebar di Job Fair.

“Dengan Kang Burhan ?” tanya Pak Pos yang sudah lumayan tua dengan baju andalannya yang serba oranye.

“Iya pak, saya sendiri Burhan”.

“Ini kang, ada surat untuk akang”.

“Terima kasih pak”.

Dalam kop surat yang biasanya terlihat dari sudut amplop, tampak tulisan dari sebuah perusahaan media massa yang berasal dari Kota Solo. Setelah merobek bagian samping biar lebih simpel, aku mulai membaca paragraf demi paragraf isi surat.

Tiba-tiba hati ini langsung menolak, kembali ke Solo sepertinya bukanlah pilihan yang bagus, apalagi peristiwa dua tahun lalu masih menjadi misteri siapa pembunuhnya. Aku memilih memikirkannya di kampus, karena disana ada Wifi Gratis yang bisa buat aku streaming video di Youtube.

Bangku panjang di taman kampus sering menjadi tempat yang nyaman dan menjadi favorit untuk menghabiskan waktu. Meskipun kali ini, mata ini tidak bisa beralih dari surat yang isinya sudah aku baca beberapa kali.

“Woooyyy...baca apa ? sampai segitunya” suara Kirana yang dibarengi dengan pukulan tangan dipundakku.

“Haduuuh...tidak bisa ya, datang tanpa harus menganggetkan ?” tanyaku yang memang langsung merespon karena kedatangannya yang tanpa diundang dan dijanjikan.

“Maaf...maaf, lagi baca apa sih ?”.

Aku mencoba menceritakan surat yang sebenarnya bisa membuat penantianku untuk bisa bekerja setelah lulus kuliah bisa segera berakhir, namun disisi lain. Penempattan di Kota Solo bisa menjadi sebuah batu ganjalan yang cukup membuat niatku ciut.

“Sudahlah, kamu coba dulu pekerjaan itu. Toh, itu juga kan pekerjaan yang kamu idam-idamkan ?” tanya Kirana yang sekarang sudah duduk disampingku.

“Kalau aku menyewa rumah gimana ya ?” ujarku meminta saran kepada Kirana.

“Kamu kan baru aja diterima, dan mungkin gajimu tidak akan cukup untuk menyewa rumah sekaligus mencukupi kebutuhanmu”.

Saran Kirana kali ini memang ada benarnya, tidak mungkin gajiku bisa mencukupi segala kebutuhan selama di Solo kalau harus juga menyewa tempat tinggal. Namun untuk kembali ke rumah itu juga bukan pilihan yang benar-benar ingin aku lakukan.

“Sudahlah, tidak perlu ragu. Siapa tahu kalau kamu tinggal disana, motif pembunuhan bisa terlihat”.

Kirana memang tidak salah aku pilih jadi kekasih hati, dia selalu bisa membuat perasaan ini jadi lebih nyaman dan tenang. Aku tidak boleh gentar, karena itu adalah rumahku sendiri. Tidak mungkin bapak, ibu dan Mbak Lestari bakal mengganggu.

Hari Pertama

Keputusan telah aku ambil, hari ini kaki sudah menapak di tanah Kota Solo. Sebuah kota yang memiliki kenangan indah sekaligus buruk. Cukup banyak perubahan yang terjadi disini, sepertinya sudah memasuki era modern dan mulai meninggalkan kultur tradisional.

Sebelum kembali ke rumah, aku ingin menghabiskan waktu siang sampai sore hari untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan tradisional seperti Pasar Klewer. Siapa tahu, dapat pakaian yang murah dan berkualitas.

“Bukan orang Solo ya mas ?” tanya Supir Taxi yang aku sewa dari Terminal Tirtonadi sampai ke Pasar Klewer.

“Saya asli Solo, tapi kemarin sudah empat tahun lebih kuliah di ITB Bandung” jawabku sambil melihat kaca spion diatas supir yang terlihat mata dari bapak tersebut.

“Hebat dong mas ? bisa kuliah di kampus favorit seperti ITB”.

“Tidak kok pak, semua orang juga bisa. Saya Cuma beruntung saja”.

Tidak terasa obrolanku dengan supir Taxi yang bernama Pak Galuh membuat perjalan seakan lebih cepat. Target pertama adalah mendapatkan baju kantor dan juga beberapa baju untuk harian, karena mungkin pakaian di rumah sudah tidak ada yang muat di tubuh.

Dering ponsel menggetarkan saku celana, ternyata ada satu pesan dari Kirana

From : Kirana
Kamu sudah sampai Solo ?

Sudah, ini baru mau cari baju di Klewer



Setelah mengembalikan ponsel ke saku celana, aku melanjutkan perjalanan untuk mencari perburuan barang-barang yang dibutuhkan selama di Solo. Para penjual menyambut kedatangan setiap pembeli dengan vocalnya yang lumayan keras.

“Monggo mas, mau cari apa ? baju batik disini murah-murah”

“Meriki mawon mas, ada baju dengan bahan sutra. Dijamin dingin kalau dipakai”.

“Monggo mas, baju koko-nya bagus-bagus dan murah meriah, ambil selusin saya berikan separuh harga”.

Kalau di pasar tradisional seperti ini, memang pembeli haruslah cermat dan tidak terburu-buru memilih barang. Karena semua pedagang pasti akan menawarkan dengan penawaran yang menarik. Jangan sampai, menyesal karena terlalu cepat berhenti disalah satu toko tanpa mengelilingi seluruh toko di pasar.

Setelah berputar-putar selama dua jam lebih, akhirnya seluruh barang yang sudah aku list saat masih di Bandung sudah ada ditangan semua. Kini saatnya untuk pulang ke rumah, yang entah sudah seperti apa bentuk dan rupanya karena sudah lama tidak dihuni.

Perjalanan dari Pasar Klewer ke rumah sekitar dua puluh menit menggunakan ojek online, maklum rumah pinggiran jadi jauh darimana-mana. Namun tetap saja disyukuri karena rumah tersebut menjadi bukti kehebatan bapak dan ibu bisa hidup mapan ditengah persaingan sengiti di Solo.

“Terima kasih mas” ujarku kepada Mas-Mas Ojol.

“Sama-sama mas”.

Pohon Mangga besar menyambut kedatanganku dengan sayup-sayup angin yang lumayan membuat bulu kudukku berdiri. Meskipun ragu-ragu tapi tetap kaki ini aku paksa untuk terus melangkah maju. Apapun yang terjadi, tetap aku harus berani.

Suara tangisan tiba-tiba menyambutku setelah membuka pintu pagar, kembali lagi langkah ini secara otomatis berhenti sejenak. Rasanya ingin balik badan dan mengurungkan niat untuk menempati rumah ini kembali. Namun sosok Kirana kembali membangkitkan niat awalku.
Langkah ini dengan berani atau tepatnya sok diberanikan mulai mendekati daun pintu rumah, baru saja beberapa langkah. Suara tangisan perempuan kembali terdengar, kali ini badanku tidak berani untuk berbalik. Semakin lama, suara tangisan semakin kencang saja.

Sebuah keputusan cepat pun aku ambil, yakni segera masuk ke rumah dan menguncinya dari dalam. Meskipun sebenarnya makhluk tetap saja bisa menebus pintu, setidaknya tidak ada angin malam yang lumayan kencang karena Pohon Mangga di halaman rumah.

Memang salahku juga, kenapa tiba di rumah dengan kondisi yang masih mencekam malam hari. Dan menghabiskan waktu untuk berbelanja. Karena tenaga juga sudah dihabiskan dijalan, mungkin malam ini aku memilih untuk membersihkan kamar dulu saja buat tempat istirahat malam ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-01-2020 00:29
Tandain dulu ya ganemoticon-Shakehand2
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-01-2020 00:50
Jejax
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-01-2020 04:42
Quote:Original Posted By Sahier34173
Kemana aja selama ini gan 😁😁😁


Nyelesaiin cerita ini gan,😁
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-01-2020 04:58
Hari Kedua

Tidak terasa matahari sudah saja menyambut hari ini, mungkin kemarin badan ini memang benar-benar lelah karena terlalu dipaksakan. Menengok jam tangan yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi, membuat waktu untuk hari benar-benar akan berjalan begitu cepat jika dihabiskan untuk bersih-bersih rumah.


From : Kirana
"Gimana keadaanmu disana ?"

"Berjalan begitu mengerikan, belum saja masuk sudah ada sambuttan yang datang" balasku melalui pesan singkat.



Ponsel kembali aku letakan diatas meja, rasanya badan ini benar-benar gatal semua. Sepertinya, efek kemarin tidak membersihkan badan setelah seharian berjalan-jalan. Setelah membongkar seluruh isi koper, aku bergegas menuju kamar mandi yang benar-benar memiliki aura mengerikan.

Setelah membuka pintu kamar, sebuah kejuttan lagi-lagi terpampang didepan mataku. Bercak darah menempel di dinding. Cukup banyak dan panjang, mungkin bercak darah ini adalah salah satu bukti bahwa keluargaku merupakan korban pembunuhan.

Mungkin semalam karena badan memang sudah sangat lelah. Membuat bercak darah ini sama sekali tidak terlihat, tanpa terasa air mata menetes dan membasahi wajahku. Entah kenapa, aku kembali teringat bapak, ibu dan Mbak Lestari yang saat ini sudah ada dialam yang berbeda dengan cara yang tragis.

Terbata-bata aku menyusuri lorong menuju kamar mandi, semua kenangan dalam bentuk foto terpajang di tembok menimbulkan suatu rasa yang benar-benar menyesakkan. Tibalah aku didepan pintu kamar mandi yang terlihat cukup usang.

Suara tangisanku kini beralih menjadi ketakuttan, suara tangissan terdengar dibalik pintu kamar mandi. Benar, rumah ini tidak mungkin ada orang selain aku. Lalu siapa yang menangis tersedu di kamar mandi.

“A...dddd...aaa...orrrr...aaanggg...diiiii...ddalllaaaaaam” ujarku dengan nada yang benar-benar sudah seperti orang menahan kencing.

Tiba-tiba suara tangisan itu pun menghilang. Jujur saja, momen ini bukan malah membuatku senang. Tetapi malah sebaliknya, jangan-jangan dia mau keluar dan mencekikku atau ternyata dia ingin menunjukkan sosoknya.

Dengan keberanian yang tersisa, aku mencoba secara perlahan membuka pintu kamar mandi yang memberikan efek horor lebih setelah terdengar suara berdecit. “Ciiiiiittt” setiap kali pintu ini didorong, maka suara itu juga semakin terdengar.

Aku tidak berani membuka pintu lebar-lebar takutnya ada jumpscare. Secara perlahan-lahan aku mengintip kedalam kamar mandi, sambil kaki ini siap-siap untuk lari kapan saja dibutuhkan. Semakin lama semakin masuk kepala ini kedalam kamar mandi.

Ternyata tidak ada apapun selain boneka yang ditengahnya terdapat kertas putih diatas closet kamar mandi. Meskipun ragu-ragu mengambilnya, namun tetap saja aku memberanikan diri untuk mengambil boneka dan juga kertas tersebut.

“Kalau saja waktu itu aku tidak sakit” sebuah kata-kata tertulis didalam kertas tersebut, aku tidak begitu paham maksudnya apa. Tapi firasatku ini adalah salah satu petunjuk yang mungkin ingin disampaikan bapak, ibu atau Mbak Lestari kepadaku.

Setelah mulai merasa nyaman dengan rumah ini, aku bergegas mandi untuk membersihkan badan yang memang sudah mulai terasa gatal-gatal. Untung saja, meskipun sudah lama tidak ditinggali. Aku tetap rutin membayar iuran air ledeng dan juga listrik.

Hari ini tampaknya, akan aku habiskan untuk membersihkan beberapa bagian yang mungkin bisa dibersihkan dengan kemoceng dan sapu saja. Juga tidak lupa untuk mengecat tembok yang terdapat bercak darah yang sering membuat kejadian dua tahun lalu selalu membuatku berimajinasi liar. Untung saja, toko bangunan hanya beberapa langkah dari rumah. Untuk sisanya besok, setelah semua peralatan rumah sudah aku beli.
Rumah ini memang angker, namun tetap saja. Ada kenangan didalamnya dan itu benar-benar membuat motivasiku untuk tetap tinggal di rumah peninggalan bapak semakin tinggi. Dan aku yakin, mereka tidak akan menyakitiku.

Hari Ketiga

Karena kemarin memang tidak terlalu lelah, pagi ini aku bangun tidak lagi kesiangan. Beberapa kegiatan harian sudah siap menanti untuk dikerjakan. Kali ini, benar-benar sepi karena sudah tidak ada lagi teriakan ibu yang setiap pagi selalu mencoba membangunkan seluruh anggota keluarga yang memang terkenal kebo kalau sudah tidur.

“Aku rindu kalian, bapak, ibu dan Mbak Lestari” ujarku lirih sambil melihat foto kecil yang memang sengaja aku taruh di meja kamar.

From : Kirana
"Gimana kabarmu Han ?"



Dering ponsel di meja membuyarkan lamunanku yang masih memandang foto. Terlihat notifikasi WA dari Kirana, dia memang begitu peduli kepadaku. Satu hari saja, tidak bisa dia tidak menanyakan kabar.




"Aku menemukan sebuah surat dan juga boneka"

From : Kirana
"Isi suratnya apa Han ?"

"Kalau saja waktu itu aku tidak sakit"

From : Kirana
"Coba kamu inget, dulu ada tidak keluargamu yang mengeluh sakit ?"



Pesan Kirana kali ini tidak aku balas lagi, pikiranku dibuat untuk flash back dengan kejadian sebelum pembunuhan itu. Seingatku, tidak ada satupun kabar yang menyebutkan kalau bapak, ibu ataupun Mbak Lestari sedang sakit. Lalu siapa sebenarnya yang menulis surat ini ?.

Belum juga pikiranku kembali, tiba-tiba suara lantunan lagu jawa terdengar dari luar kamar “La-le-lo-le-lo-le-lo-le-dung, Anakku sing ganteng dewe”. Suara ini benar-benar tidak asing bagiku. Benar, ini suara ibu yang dulu selalu aku dengar sebelum tidur.

Rasa rindu campur dengan keringat dingin, aku tahu ini suara ibu. Namun, dalam dua dunia yang sudah berbeda. Rindu sekali ingin melihat sosoknya, dengan memberanikan diri aku mulai membuka pintu kamar secara perlahan-lahan.

Suara mendecit pintu kamar yang memang sudah berusia tua memberikan kesan mencekam yang bertambah. Belum saja hati ini terkuatkan, bercak-bercak darah kembali menyambutku di depan kamar. Aku benar-benar yakin, kalau tembok itu sudah terlapisi dengan cat baru kemarin, tapi....

“Ibu..itu suaramu bukan ? dimana kamu bu ?” suara lirihku mencoba mencari sosok ibu yang barusan menyanyikan sebuah lenggam jawa. Aku mencoba mengelilingi rumah setapak demi setapak, mencari sosok ibu sekaligus memastikan apakah aku lupa mengecat tembok depan kamar.

Setiap langkah ini terasa begitu berat, sangat berbeda dengan keadaan saat mereka masih ada di alam yang sama. Kini melihat foto keluarga yang terpasang di ruang tengah saja rasanya sudah merontokan lututku.

Ditambah beberapa bercak darah kembali lagi menempel di dinding, rasanya ingin sekali aku meninggalkan rumah ini dan memulai hidup baru di rumah baru. Baru saja perasaan ini muncul, suara gelas pecah terdengar dari arah dapur.

“Piiiiiiaaaaaaarrrrr”....seketika badanku otomatis meloncat dibalik sofa yang memang menghadap ke arah dapur. “Ibu, aku mohon jangan ganggu Burhan...”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-01-2020 21:42
Semagaaat gaaan
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
28-01-2020 22:56
Akhirnya dilanjutkan.. mantap
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
31-01-2020 05:37

BERSAMBUNG..

Hari Keempat- Part 1

Rasa ketakuttan kemarin benar-benar membuat badan ini pegal-pegal, tidur selalu saja terganggu karena samar kalau saja ada jumpscare yang tiba-tiba menyapaku dipagi hari. Kan tidak lucu juga, kalau ada berita seorang laki-laki muda ditemukan tewas karena di jumpscare oleh hantu dirumahnya saat masih enak-enak tidur.

Untuk menghilangkan rasa takut, aku mencoba menelpon Kirana. Siapa tahu dia bisa menjadi tempat yang tepat untuk berbagi pengalamanku kemarin.

“Hallo Han, ada apa ?” ujar Kirana disambungan sebrang, seperti biasa perempuan satu ini selalu saja nerocos sebelum orang lain berkata satu patah katapun.

“Kamu percaya hantu Ran ?”.

“Percaya tidak percaya sih, memang ada apa Han ?”.

“Kemarin, aku sudah membersihkan segala bercak darah di tembok rumah ini. Dan pagi tadi, aku melihatnya lagi. Bercak darah itu kembali lagi ada ditembok Ran”.

Suara Kirana tiba-tiba tidak terdengar di sambungan, “Ran..kamu masih tersambungkan ?”. Belum juga ada respon dari Kirana di sambungan, jari ini sudah gatal untuk mematikan sambungan telpon.

“Kalau menurutku, mending kamu coba ikutti kemana ujung bercak darah itu. Kali aja ada pesan yang ingin disampaikan oleh keluargamu” ujar Kirana yang tiba-tiba kembali bersuara setelah hening beberapa saat.

“Benar juga katamu Ran, yaudah aku tutup telponnya dulu ya. Kamu jaga hati disana, jangan lupa juga harus segera lulus”.

“Iyaya bawel, kamu hati-hati ya disana. Aku enggak mau kamu kenapa-napa”.

Setelah mematikan sambungan telepon, hal pertama yang ingin aku lakukan saat ini adalah mandi. Rumah ini masih banyak debu, dari kemarin tidak sempat membersihkannya karena jantung sudah dibuat senam jantung terus. Ketimbang terkena penyakit kulit karena efek debu, mending membiasakan diri untuk mandi lebih dari dua kali dalam sehari.

Air keran menemani heningnya pagi ini, kamar mandi yang dulu terlihat begitu biasa kini sudah berubah aura setelah kejadian dua tahun lalu. Entah kenapa, segala yang ada di kamar mandi ini seakan memiliki aura mistis.

Dan benar saja, baru saja dapat beberapa kali gayungan air. Tiba-tiba lampu kamar mandi mati dengan sendirinya, secara otomatis tangan ini bergerak cepat untuk menyelesaikan prosesi mandi. Dan dengan segera langsung keluar dari kamar mandi.

Baru saja keluar, lampu kamar mandi malah kembali menyala. Momen ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri dengan otomatis tanpa perintah, aku terus berpikiran positif. Mungkin saja ini hanyalah sebuah kebetulan semata.

Namun anggapanku sepertinya tidak seratus persen benar juga, setelah menengok kembali kondisi kamar mandi. Aku melihat ada sebilah pisau dengan darah terletak di atas closet, kejadian ini sama seperti saat aku menemukan boneka dengan kertas yang ternyata berisi sebuah pesan tersembunyi.

Ada apa ini ? apakah pisau ini yang sudah membunuh semua keluargaku ? tanpa sadar air mataku menetes, bayangan pembunuhan yang keji dan bengis menghinggapi pikiranku. Rasanya tidak rela, jika pembunuh itu kini masih bebas diluar sana.

Dengan hati-hati, aku membungkus pisau berlumuran darah tersebut di plastik. Setelah meletakannya di tempat yang aman, rasanya raga dan pikiran ini sudah begitu lelah. Jalan-jalan dekat rumah sekalian mencari perlengkapan kebersihan rumah sepertinya bisa menenangkan pikiran ini.

Aku akan segera menemukan pembunuh itu, aku janji kepadamu bapak, ibu dan Mbak Lestari.

Hari Keempat-Part 2


Langkah ini berjalan menyusuri pasar untuk mencari kebutuhan hidup yang sudah mulai menipis, sekaligus mencari beberapa perkakas untuk membersihkan rumah. Setelah sekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu, seluruh kebutuhan sudah ada di tangan. Agar tidak terlalu kesorean, lebih baik segera pulang.

“Permisi mas, njenengan kan ?” ujar seorang laki-laki yang tiba-tiba saya menghalangi langkahku di depan pintu pagar rumah.

Setelah meletakan barang bawaan di tanah, aku mencoba menanyakan siapa laki-laki paruh baya ini. Dan kenapa dia menghalangi langkahku, samar-samar sih aku mengenali wajahnya. Namun tidak tahu kenapa, mulut ini susah untuk mengucapkan namanya.

“Saya Pak Joni, tetangga sebelah njenengan” ujar laki-laki yang kali ini langsung aku kenali. Aku sampai lupa, kalau ada beberapa tetangga yang belum dijumpai.

“Lho iya Pak Joni, waduh maaf banget nih pak. Kemarin belum sempat datang ke rumah-rumah tetangga”.

“Iya tidak masalah kok mas, saya tuh sebenernya mau mengajak njenengan ke rumah saya sebentar. Ada yang ingin dibicarakan”.

“Boleh pak, tapi nanti bakda Isya ya pak, soalnya saya mau bersih-bersih rumah sebentar”.

“Iya mas ndak papa, nanti saya tunggu kedatangannya di gubuk saya”.

Membersihkan rumah sebesar ini dan hanya diberi waktu selama empat jam, itu pun belum dikurangi untuk masak dan membersihkan diri. Haduh, bodohnya diriku membuat janji yang malah menyiksa tubuh sendiri.

Saat bersih-bersih rumah, aku baru sadar kalau bercak-bercak darah yang sebelumnya menghiasi tembok rumah sudah pada menghilang. Tidak perlu dikomando, bulu kudukku kembali berdiri. Butiran keringan sudah membasahi seluruh badan, belum juga rasa takut ini hilang. Sebuah suara nyaring terdengar dari dapur , “Piiiaaaarrrr”, lagi-lagi tubuh ini dibuat tergoncang dengan hebatnya.

Bersih-bersih rumah kali ini aku sudahi, badan sudah tidak dapat dikondisikan. Seluruh kejuttan sepertinya memberikan tanda kalau rumah ini tidak mau untuk dibersihkan. Entahlah namun itu yang aku rasakan.

Setelah beristirahat sejenak, aku menuju ke dapur berniat untuk membersihkan bekas pecahan agar tidak tambah berserakan. Dan lagi-lagi, sebuah sambuttan kepadaku yang belum satu pekan di rumah ini. Tidak ada satupun bekas pecahan didalam dapur, aku hanya bisa mengusap-usap wajahku dan tidak tahu mau melakukan apalagi.

Rasanya ingin sekali tidur dan beristirahat, tetapi janji dengan Pak Joni tidak mungkin aku ingkari. Apalagi firasatku mengatakan kalau Pak Joni memiliki informasi lebih tentang kematian bapak, ibu dan Mbak Lestari.

Setelah mencoba menenangkan diri dengan solat, setelah solat isya aku sengaja langsung mampir ke Pak Joni. Suana rumah itu sedikit membuat jantung berdetak lebih kencang, setelah menekan tombol bel di pintu pagar. Beberapa menit kemudian Pak Joni keluar dengan tergesa-gesa.

“Silahkan mas, maaf lho. Agak lama tadi saya membukakan pintunya” ujar Pak Joni sembari menutup kembali pintu pagar.

Mataku mencoba mengawasi setiap sisi rumah Pak Joni, memang terasa rumah ini seperti sudah lama tidak dihuni oleh seseorang. Padahal, disini ada sosok Pak Joni dan keluarganya, entahlah. Biarkan waktu saja yang menjawab rasa penasaranku.

Setelah dipersilahkan duduk, Pak Joni kemudian meninggalkanku lagi di ruang tamu untuk menuju ke dapur. Seperti budaya yang mengakar di orang Jawa, tidak akan lengkap kalau bertamu tidak disuguhi minuman seperti teh atau kopi.

Sekitar lima menit, Pak Joni kembali dengan membawa dua gelas teh diatas nampan. Setelah meletakan gelas-gelas di meja, aku dipersilahkan untuk meminum teh yang sudah disajikan itu.

Sambil meneguk teh hangat yang rasanya sangat pas dilidah, mataku memandang setiap sudut rumah Pak Joni. Ada yang aneh memang di rumah ini, terutama keberadaan istri dan dua orang anak dari Pak Joni.

“Ada apa mas ? “ ujar Pak Joni yang ternyata sedaritadi mengamatti gerak-gerik mataku. Sedikit kaget, aku meletakan kembali gelas ke tempat semula.

“Dimana Bu Joni dan dua putri bapak ?”.

“Itulah yang ingin bapak ceritakan ke Mas Burhan”.

Ternyata, istri dan kedua anak Pak Joni meninggal tidak lama setelah keluargaku ditemukan tewas dua tahun yang lalu. Istri Pak Joni mengaku sering sekali dihantui keluargaku, hingga akhirnya stress dan memutuskan untuk bunuh diri. Tidak hanya itu, kedua anak Pak Joni juga ikut diberikan racun sehingga mereka bertiga meninggal hampir bersamaan.

Inilah alasan kenapa rumah milik Pak Joni terlihat begitu sepi dan kumuh, namun mulut ini seakan tidak mampu untuk berkata apa-apa. Tidak tega rasanya melihat Pak Joni yang meneteskan air mata, aku tahu benar bagaimana rasanya kehilangan keluarga.

“Mas, tolong temukan siapa pelaku pembunuhan itu, saya mohon” ujar Pak Joni yang hanya aku balas dengan anggukan saja. Tidak perlu diminta pun aku inginnya juga mengetahui siapa pembunuh itu, tapi tentu ini bukan hal yang mudah.

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah, meskipun sudah mengetahui alasan kenapa rumah Pak Joni terlihat kumuh dan berantakan. Namun aku masih memiliki kecurigaan dirumah itu, entahlah biarkan waktu akan membantuku.

Setibanya di rumah, aku menuju ke dapur untuk meminum segelas air putih sebelum tidur. Baru saja satu tegukan air masuk ke tenggorokan, suara lantunan lagu jawa terdengar dibelakangku.

“La—le-lo—le-lo—le—dung, anakku wes tambah gedhe” nyanyian itu benar-benar terdengar jelas bersumber dari kursi goyang dibelakangku. Tubuh ini benar-benar terasa kaku, ingin rasanya berbalik badan tetapi seperti tidak kuat.

Sedikit demi sedikit aku memaksakan untuk berbalik badan, dan benar saja. Aku melihat kursi itu bergoyang-goyang, semakin membalikkan badan. Aku melihat ada secarik surat diatas kursi tersebut.

Keringat sudah membasahi seluruh badan, jantung pun berdetak lumayan cepat. Aku memberanikan diri untuk mengambil surat itu, dan tertulis disana sebuah kata-kata “Aku akan selalu menyayangimu”.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
03-02-2020 18:52
numpang nenda dimari gan
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
03-02-2020 20:24
cerita e apik mas,,, menurut kulo... tulisanne lebih apik yang kemarin mas sebelum d remake
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
04-02-2020 05:28
Padahal.. Lanjut dulu aja Gan.. Nah lanjutannya baru di remark.. Atau Remark nya di edit dicerita aslinya.. Tapi its ok ane nikmati.. Lanjutkan..
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-02-2020 06:00
Hari Kelima-Part 1

Tidak terasa, hari ini sudah masuk hari pertama kerja. Persiapan sengaja aku siapkan lebih awal, baru saja ingin mengganti pakaian. Ponsel diatas meja tiba-tiba berdering, seperti sebuah pesan yang sudah aku tahu darimana sumbernya.

“Iya hallo Ran” ujarku setelah menekan tombol telpon hijau.

“Gimana kabarmu Han ? baik-baik saja kan ?”.

“Alhamdullilah baik Ran, ini masih siap-siap mau berangkat kerja”.

“Loh sudah kerja to ? yaudah semangat ya”.

“Siiap pacar, udah dulu ya”.

“Iya, awas jangan main hati lho !” ujar Kirana dengan nada yang tegas dan tidak sedang main-main.

“Main hati ? berpisah denganmu saja aku tak sanggup”.

“Gombal, yaudah sana siap-siap. Aku matikan telponnya ya”.

“Tut—tut—tut “ belum saja sempat menjawab, sambungan telpon sudah diputuskan secara pihak begitu saja.

Hari pertama aku meninggalkan rumah untuk seharian, rasanya sedikit tenang karena di tempat kerja sepertinya aku tidak mendapatkan gangguan apapun. Apalagi sebagai karyawan baru, aku memerlukan adaptasi yang cepat agar bisa segera maksimal.

Beberapa tugas sudah begitu saja menumpuk di meja kerja, memang tidak ada yang namanya waktu untuk pengenalan yang terlalu lama. Meskipun masih diberi satu mentor yakni Mbak Ambar yang merupakan karyawan lawas di kantor.

“Kamu to mas, kalau belum paham tanya aja sama aku. Tidak perlu sungkan, toh nantinya kita kan bakal jadi teman sekantor” ujar Mbak Ambar yang memang begitu ramah dan welcome denganku.

“Iya mbak, terima kasih”.

Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Mungkin karena memang sudah dihadapkan dengan beberapa pekerjaan kantor, sehingga waktu seakan cepat berlalu begitu saja. Ojek online yang aku pesan juga sudah tiba didepan kantor.

Segera aku bergegas menuju rumah, mengingat Kota Solo bakal ramai sesak dengan laju kendaraan saat waktu-waktu pulang kerja seperti ini. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan antara aku dan pengemudi ojek online, mungkin memang si pengemudi bukan orang yang pandai bicara.

Jalanan Kota Solo menjadi penghilang penatku sepanjang perjalanan, setidaknya memberikan amnesia sejenak terhadap Rumah Peninggalan Bapak. Tanpa terasa, laju kendaraan sudah berhenti didepan rumah.

Adzan Maghrib mengiringi langkahku masuk menuju rumah, berat rasanya kaki ini melangkah. Namun rasa lelah lebih kuat mendorongku untuk segera merebahkan badan sejenak sebelum beraktifitas malam lagi.

Sepuluh menit berlalu, rasa lelah sudah sedikit hilang setelah badan ini aku basuh dengan dinginnya air. Tanpa membuang waktu, selepas menunaikan Sholat Maghrib segera ku ambil sapu di dapur untuk membersihkan rumah yang memang masih terlihat begitu kotor.

Setelah semua sudut rumah bersih, aku berlanjut ke teras rumah. Pandangan mata yang sebelumnya mengarah ke lantai, beralih setelah melihat ada yang janggal dengan keadaan Rumah Pak Joni.

Sudah malam namun kondisi rumah masih tetap gelap, tidak pencahayaan sama sekali di rumah tersebut. Atau jangan-jangan ada masalah dengan Pak Joni, di usianya yang sudah sepuh dan tinggal sendiri, pastinya kondisi yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.

Tanpa pikir panjang, setelah mengunci rumah. Aku segera bergegas menuju ke Rumah Pak Joni, namun langkahku yang cepat tiba-tiba melamban seiring bau wewangian yang aku cium ketika langkah ini semakin mendekat ke Rumah Pak Joni.

Hari Kelima-Part II

“Assalamualaikum” seruku dari luar pagar Rumah Pak Joni, belum sempat mulut ini mengucapkan salam yang kedua. Suara balasan dari dalam rumah terdengar diiringi dengan nyalanya lampu rumah.

“Walaikum sallam” sosok Pak Joni keluar dengan mengenakan baju polos dan juga sarung.

Seperti budaya Orang Jawa lainnya, setiap tamu yang datang baik itu dekat maupun jauh akan dipersilahkan untuk duduk dulu di ruang tamu. Sementara pemilik rumah akan menyiapkan minuman seperti teh atau kopi dan beberapa makanan kecil jika ada.

“Ini mas, silahkan diminum dulu” ujar Pak Joni menawarkan secangkir kopi yang sudah tersuguhkan di atas meja. Meskipun tidak begitu haus, namun basa-basi untuk meminum meskipun Cuma satu seduhan adalah hal yang wajib.

“Oh iya pak, kenapa kok tadi rumah gelap semuanya ya ? jenengan kemana pak ?” tanyaku yang memang masih penasaran dengan kehidupan Pak Joni yang tampak tidak wajar ini.

“Tadi saya ketiduran sebelum Maghrib mas, saya lupa menghidupkan lampu rumah sebelum tidur”. Jawaban Pak Joni memang masuk akal, namun yang menjadi pertanyaan adalah jika suara adzan yang cukup keras saja tidak dia dengar. Kenapa suaraku yang tidak terlalu keras malah dia dengar ?.

Ah sudahlah !!! daripada pikiran ini kemana-mana, mumpung ingat mending aku bercerita tentang maksud surat yang ku dapatkan kemarin. Mungkin saja, Pak Joni lebih paham tentang arti surat tersebut.

“Ternyata ketiduran to pak, saya kira ada apa-apa tadi. Sebenarnya saya kesini ingin tanya sesuatu kepada Pak Joni”.

“Tanya tentang apa mas ?”.

Aku pun memulai cerita tentang kronologis menemukan surat misterius yang kemungkinan besar dari Almarhumah Ibu. Aku beberapa kali melihat ekspresi Pak Joni sambil terus bercerita, pandangannya selalu mengarah kebawah dan seperti khusyuk mendengarkan ceritaku yang cukup menyita waktu itu.

“Kalau menurut saya, surat tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan meninggalnya keluarga Mas Burhan dua tahun yang lalu. Dan surat tersebut, mungkin menggambarkan perasaan ibu Mas Burhan sebelum kejadian” jawaban Pak Joni benar-benar sesuai dengan apa yang aku bayangkan sebelumnya.

Aku melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sepertinya, ceritaku tadi cukup banyak menyita waktu. Karena sudah tidak enak dengan Pak Joni yang juga sudah terlihat pucat, aku segera berpamittan.

Baru saja tangan ini menyentuh daun pintu halaman rumah, suara tangisan terdengar dari atas Pohon Mangga. Reflek mata melihat dan mencari sumber tangisan tersebut, terlihat sosok berbaju putih dengan rambut panjang membelakangiku.

Tanpa perintah, keringat mulai membasahi seluruh badanku dan tidak ketinggalan pula kaki ku mulai bergetar hebat. Kalau aku tetap berdiri di depan pintu, mungkin saja aku bisa pingsan dengan celana basah, karena aku merasakan ada yang akan menyembur dari balik celana.

Dengan langkah yang tidak pasti, kaki ini mulai memberanikan melangkah satu demi satu langkah dengan mulut yang terus mendengungkan Ayat Kursi. Sepanjang langkah menuju rumah, mata ku tidak terbuka sama sekali.

“Alhamdullilah, sampai juga. Lho kok basah celanaku ?, aduuuh kecolongan” ujarku sembari memeriksa celana yang sudah basah kuyup. Untung saja tidak ada Kirana disini, bisa-bisa aku ditertawakan dia semalaman.


bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-02-2020 11:15
titip jejak, antara sedih dan horor emoticon-Frown
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
05-02-2020 13:59

Ijin nenda mas gan

#Jejak
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
07-02-2020 07:02
ayoo gan, up lagi, masa mandegnya sama aja spt wkt sblm diremake?
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
07-02-2020 08:00
Quote:Original Posted By kokisyantik
ayoo gan, up lagi, masa mandegnya sama aja spt wkt sblm diremake?


Mungkin hari ini mulai gass lagi, kemarin sempat drop badanny😁
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan monstrologist memberi reputasi
2 0
2
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
07-02-2020 08:56
Semangat ya Gan....
Sukses selalu buat Agannya.
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
07-02-2020 09:18
Di lanjut mawon mas ceritane, semoga di parinhi sehat emoticon-Shakehand2
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 16 dari 24
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerpen-lukisan
Stories from the Heart
post-mortem-love
Stories from the Heart
karena-aku-tulus-mencintai-mu
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia