Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
492
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cb932354601cf590024a84c/misteri-rumah-peninggalan-bapak
Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.   Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah
Lapor Hansip
19-04-2019 09:28

Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Misteri Rumah Peninggalan Bapak

Prolog

  Sudah dua tahun rumah peninggalan orang tua tidak pernah aku kunjungi, selain karena kesibukan kuliah yang tidak dapat ditinggalkan, cerita dibalik rumah itu kosong juga menjadi alasanku belum berani datang lagi.

  Rumah itu menjadi saksi bisu pembantaian bapak, ibu dan mbak Lestari. Dan sampai saat ini pelaku belum tertangkap oleh pihak yang berwajib, aku mendengar cerita bahwa rumah peninggalan bapak selalu mengeluarkan aura mistis.

  Namun mau tidak mau aku harus kembali, setelah mendapatkan sebuah pekerjaan yang ternyata lokasinya di Kota Solo, aku memiliki dua pilihan yang berat antara harus berhutang untuk menyewa rumah atau menempati rumah peninggalan dari bapak.

  Pilihan yang sama beratnya, namun Kirana memintaku untuk menempati kembali rumah yang sudah kosong selama dua tahun tersebut, selain menghemat biaya hidup juga membuat aku mungkin bisa mengetahui jawaban siapa pembunuh dari keluargaku.

  Semua tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, segala aura mistis mulai mengintaiku selama kembali menempati rumah masa kecil tersebut. Mulai dari nyanyian, penampakan, atau beberapa tangisan yang sering menemani hari-hariku selama disana.

Sebelum Hari Pertama

  Keraguan masih menghinggapi hatiku mau maju tapi takut dengan segala cerita masyarakat sekitar namun kalau tidak maju, aku berart melupakan segala kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari.

  “Gimana Han, jadi menempati rumah keluargamu besok ?” tanya Kirana yang memang menjadi kekasih hatiku sudah dua tahun belakangan.

  “Aku masih bimbang Ran, meskipun kangen dengan rumah itu tapi semua kejadian yang menimpa keluargaku dan segala cerita masyarakat sekitar masih terus menghambat” jawabku dengan rasa yang masih bimbang.

  Kirana tidak langsung menjawab diskusi kami, dia memilih untuk memesan makanan favorit kami yakni bakso di salah satu warung langganan.

  “Kamu harus buang rasa bimbangmu itu Han, bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranmu ?”.

  “Iya aku paham, Cuma kalau untuk kembali kerumah tersebut aku masih ragu dan ada sedikit rasa takut”.

  “Kamu itu lucu, itu rumah kamu kan ? tidak mungkin keluargamu akan membunuh kamu disana, mungkin saja malah kamu bakal mengungkap siapa pelaku pembunuhan berantai keluargamu”.

  “Masa iya sih Ran ? mereka akan bersahabat denganku begitu maksudmu ?”.

  “Bersahabat ? aneh-aneh saja kamu, mereka dan kamu sudah tidak satu alam, tapi kemungkinan mereka akan mencoba menyampaikan pesan kepadamu disana. Kamu adalah anggota keluarga yang masih tersisa”.

  “Kalau begitu, baiklah aku bakal mencoba menghidupkan kembali rumah yang sudah dua tahun tidak berpenghuni itu”.

  Setelah menghantarkan Kirana pulang kerumahnya, aku mencoba kembali mengingat kenangan bersama Bapak, Ibu dan Mbak Lestari. Semua seakan masih tidak bisa aku percaya, mereka pergi secara tragis dan secara bersamaan.

  Kejadian dua tahun lalu, mungkin kalau aku tidak melanjutkan study di Jakarta aku bisa mengetahui siapa pembunuhnya atau setidaknya aku bisa berkumpul bersama mereka dialam yang berbeda.

  Dering telpon sebelum ditemukannya jasad keluargaku, aku masih sempat menghubungi Ibu untuk menanyakan kabar mereka disana. Ada sebuah firasat yang mungkin baru aku bisa tangkap setelah kepergian mereka.

  “Dek, ibu kangen banget sama adek. Kalau bisa, besok datang ya” sebuah kata yang mengisyaratkan akan terjadi sebuah kejadian yang tidak pernah terbayangkan olehku.

  Semua masih seperti mimpi bagiku, semua seperti hanya cerita dongeng saja. Aku masih menilai mereka bertiga masih hidup, terutama ibu, aku rindu sekali padamu bu, nyanyian langgam jawamu selalu menemani tidurku.


Prolog
Sebelum Hari Pertama
Hari Pertama
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat – Part 1
Hari Keempat – Part 2
Hari Kelima – Part 1
Hari Kelima – Part 2
Hari Keenam
Hari Ketujuh – Part 1
Hari Ketujuh – Part 2
Hari Kedelapan
Hari Kesembilan
Hari Kesepuluh - Part 1
Hari Kesepuluh – PART II
HARI KESEBELAS PART I
HARI KESEBELAS PART II
Hari Kedua Belas-Part I
Hari Kedua Belas - Part II
Hari Kedua Belas - Part III
HARI KETIGA BELAS - PART I
Hari Ketiga Belas Part II
Hari Ketiga Belas Part III
Hari Keempat Belas
Hari Keempat Belas - Part II
Hari Kelima Belas
Hari Keenam Belas
Hari Keenambelas Part II
Hari Keenambelas Part III
Hari Keenam Belas - Part IV
Hari Keenam Belas - Part V
Hari Ketujuh Belas - Part I
Hari Ketujuh Belas - Part II
Hari Ketujuh Belas Part III
Hari Kedelapan Belas
Hari Kesembilan Belas-Part I
Hari Kesembilan Belas-Part II
Hari Kesembilan Belas-Part III
Diubah oleh bej0corner
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayahnyabinbun dan 59 lainnya memberi reputasi
58
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
27-04-2019 16:21
Hari Kedua

“Kling-Kling-Kling-Kling” suara dering telpon membangunkan tidurku, setidaknya aku sudah sukses tidur semalam di rumah ini.

“Hallo Burhan” kata dari sebrang jaringan telpon yang sangat aku kenal suaranya, siapa lagi kalau bukan pacar setiaku si Kirana.

“Iya Ran, ada apa pagi-pagi sudah nelpon ?”.

“Gimana kamu disana ? baik-baik aja kan ?”.

“Semalam ada sedikit suara misterius, tapi aku tidak berani menoleh”.

“Mungkin Cuma angin saja kok, kamu jangan lupa bersih-bersih rumah”.

“Iya habis ini mau keluar buat beli perlengkapan bersih-bersih soalnya besok lusa udah harus mulai kerja”.

“Iyaudah semangat ya pacar”.

“Siap delapan enam”.

Rasanya malas sekali untuk keluar dari kamar dan menuju kamar mandi, tahu sendirilah kamar mandi selalu menjadi tempat yang sangat disukai oleh makhluk halus.

Sisa darah yang kemungkinan berasal dari pembunuhan keluargaku masih membekas di tembok-tembok rumah, firasatku mungkin bapak, ibu dan Mbak Lestari mencoba untuk melarikan diri tapi tetap saja terbunuh oleh pelaku.

Namun ada sebuah kejanggalan saat pembunuhan, yakni tidak adanya barang yang hilang dirumah ini. Kalau pelaku sampai membunuh harusnya dia membawa satu atau dua barang berharga dirumah ini.

Aku berjanji akan segera mengungkap misteri pembunuhan keluargaku, siapapun pelakunya bakal aku kejar.

Dihadapanku sudah ada pintu kamar mandi, kumuh dan usang memberikan kesan mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Entah kenapa aura dikamar mandi sangat kuat akan kesan mistis.

“huk..huk..huk..huk” suara tangisan terdengar dari kamar mandi, cukup pelan namun tetap terdengar hingga ditempat aku berada.

“Apakah ada orang didalam” tanyaku mencoba memastikan, siapa tahun itu hanyalah suara manusia yang mungkin menginap dirumah ini karena dikira sudah tidak berpenghuni.

Tiba-tiba suara tangisan itu menghilang begitu saja, sambil bergetar aku mencoba membuka daun pintu secara perlahan. Suara mendecit dari daun pintu menambah rasa takut dalam batinku.

Setelah mencoba mengintip sedikit kedalam kamar mandi, tidak ada satupun orang didalam. Hanya sebuah boneka yang duduk diatas closet sambil membawa secarik kertas.

Perlahan aku mencoba memberanikan diri untuk mengambil kertas tersebut, meskipun seluruh badan sudah berkeringat dingin namun tetap aku harus memberanikan diri.

“Kalau saja waktu itu aku tidak sakit” tulisan didalam secarik kertas memberikan sebuah tanda tanya, apakah ini sebuah pesan dari salah satu almarhum keluargaku tentang kejadian pembantaian dua tahun lalu ?.

Entahlah, tapi yang pasti aku akan menyimpan kertas dan boneka ini untuk menjadi bukti siapa pelaku sebenarnya dibalik pembunuhan masal keluargaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
am3192 dan 21 lainnya memberi reputasi
22 0
22
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
03-05-2019 19:34
Hari Ketiga

Satu clue sudah aku temukan, meskipun sebenarnya clue tersebut masih sangat-sangat membingungkan. Siapa yang sakit ? kenapa aku tidak pernah mengetahui kabar keluargaku ada yang sakit.

“Kling-Kling-Kling-Kling” dering handpone membuyarkan lamunanku tentang surat yang aku temukan dikamar mandi kemarin.

“Gimana kabarmu Han ? ada hal baru yang kamu temukan ?” kebiasaan Kirana selalu saja nerocos tanpa basa-basi dulu.

“Ada, aku mendapatkan sebuah surat di dalam kamar mandi Ran”.

“Apa isi suratnya ?”.

“Kalau saja waktu itu aku tidak sakit”.

“Sebelum kejadian itu, kamu pernah denger kabar keluargamu ada yang sakit Han ?”.

“Itulah yang saat ini masih jadi problemku, karena tidak ada satupun kabar kalau anggota keluargaku ada yang sakit”.

“Kalau begitu misi kamu sekarang adalah mencoba mencari tahu siapa penulis surat tersebut”.

Kata yang mungkin mudah diucapkan namun bakal sangat susah untuk dilakukan karena aku bukanlah seorang Detektif Conan yang setiap kali ada kasus pembunuhan bisa dapat dengan cepat diselasaikan.

“La-le-lo-le-lo-le-lo tedung, anakku sing paling ganteng dewe” tiba-tiba nyanyian langgam jawa yang sangat aku kenal terdengar dibalik daun pintu kamarku.

“Bu, itu ibu kan ?” meskipun aku takut namun tetap saja, dia adalah ibuku dan aku yakin ibu tidak akan pernah menyakitiku, mungkin ibu rindu kepada anak ragilnya ini.

“Klik” aku mencoba membuka daun pintu kamar, secara perlhan pintu itu membuka, dan sebuah pemandangan yang benar-benar membuatku shock.

Bercak-bercak darah kembali terlihat ditembok depan kamar, aku tidak bermimpi kan ? dan aku tidak mungkin lupa, tempat ini sudah bersih dari bercak darah setelah kemarin aku sempat mengecat ulang sebagian ruangan termasuk lorong masuk kamarku.

Kembali lagi aku keluar dari kamar dengan kaki gemetar, mencoba memastikan mungkin saja aku lupa kalau tempat yang aku cat kemarin bukan disini.

Selangkah demi selangkah, kakiku begitu berat rasanya untuk memutari rumah ini, semua foto didinding seperti menatapku penuh amarah, bahkan foto masa kecilku sendiri pun terlihat menakutkan saat ini.

Semua ruangan sudah aku putari, dan aku benar bahwa ruangan yang berdecak darah itu sudah aku cat kemarin. Lalu darimana darah-darah ini muncul lagi ? tidak mungkin ada pembunuhan lagi dirumah ini, aku hanya hidup seorang diri.

“Ibu, aku mohon jangan buat Burhan ketakutan” pintaku didepan tembok dengan menutup mata dan rasa memohon.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
am3192 dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
22-04-2019 11:38
Hari Pertama

Dengan mengucap Bismillah aku memantabkan hati untuk pergi kerumah peninggalan bapak, aku yakin Bapak, Ibu dan juga Mbak Lestari tidak akan menyakitiku.

Tibalah aku didepan gerbang yang cukup panjang dengan pintu masuk yang hanya cukup untuk satu orang, terpampang jelas rumah tersebut. Kumuh, tidak terawat dan yang paling mengganggu jiwa adalah aura mistis yang sangat terasa.

Pohon mangga yang tegak berdiri dihalaman rumah menyapa siapapun yang berniat untuk masuk kerumah tua ini, aku masih ingat benar pohon tersebut ditanam oleh bapak saat aku masih berusia 5 tahun.

“Bapak pingin pohon ini menjadi saksi suka dan duka orang didalam rumah ini, dan semoga buahnya juga enak dan konsisten berbuah” begitulah doa bapak setelah menanam pohon Mangga yang benar-benar dibesarkan dari sebuah biji.

Langkah kaki ini terasa berat, pohon itu terus menyapukan angin yang lumayan membuat bulu kuduk meninggi. Entah kenapa aku berasa sedang dipantau oleh bapak diatas pohon, sepertinya rumah ini memang benar-benar harus aku tinggalkan saja.

“Kling-kling” suara hpku yang terletak dibalik kantong celana tiba-tiba berbunyi.

“I...yyyaaa...hallo” jawabku terbata-bata karena masih merasakan merinding yang cukup kuat.

“Loh kamu kenapa Han ? kok seperti orang ketakutan gitu ?” suara dari sisi lain jaringan yang sangat aku kenal.
“Aku tidak kuat Ran, sepertinya aku bakal meninggalkan rumah ini”.

“Loh kamu jadi bakal menyerah gitu aja ? percayalah sama aku, tidak akan ada yang terjadi” kembali lagi kata-kata Kirana selalu membuat komitmen untuk mengetahui siapa pembunuh keluargaku kembali meninggi.

“Baiklah, aku akan masuk Ran” jawabku sembari menutup telpon, dan sekarang melangkah lebih pasti mendekati pintu masuk halaman rumah.
Pura-pura berani memasuki halaman rumah dengan sapaan angin dari Pohon Mangga, kini aku sudah menginjakan kaki di lantai teras rumah.
Pintu rumah terlihat kusam, jaring laba-laba sudah mulai mengisi langit-langit rumah, meskipun terlihat menyeramkan namun aku tahu rumah ini adalah sebuah saksi kehidupan keluargaku.

"Gubraaaakk"

suara apa itu ? disini titik keberanianku diuji, ingin rasanya melihat apa yang jatuh dibelakangku tapi tetep saja ada juga rasa takut kalau-kalau ternyata ada salah satu dari keluargaku tiba-tiba menampakan diri.

“Dek Burhan” suara yang tiba-tiba muncul setelah suara misterius, aku tahu itu namaku tapi tidak mungkin juga kan pukul 10 malam ada yang bertamu dirumah ini ?.

Setelah berdiam sekitar 5 menit, aku tetep tidak berani melihat kebelakang dan satu-satunya jalan hanya satu yakni masuk kedalam rumah dan segera menidurkan badan yang lelah karena perjalanan jauh dari Bandung.

"Kriiiikikkk" bunyi pintu yang sepertinya sudah mulai lapuk karena dimakan usia, tapi itu bunyi yang sangat menakutkan bagiku.
Satu langkah sudah aku masuk kedalam rumah peninggalan bapak, semua prabottan masih sama, foto-foto keluarga masih menyapa siapa saja orang yang masuk kedalam rumah, dan yang paling menakutkan adalah lukisan ibu yang seperti memiliki nyawa didalamnya.

Malam ini, aku tidak akan melakukan apapun dulu bahkan untuk keliling rumah sebentar saja tidak akan, selain tubuh yang sudah lelah tentu suasana menyeramkan masih aku rasakan dan itu sudah cukup membuatku untuk tidak macam-macam pada hari ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
am3192 dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
03-06-2019 12:01

Hari Kesembilan



Layar ponsel tidak tampak ada tanda-tanda telpon dari Kirana, aku tahu kalau kemarin melakukan sebuah kesalahan besar. Namun itu juga tidak benar-benar ingin aku lakukan, semua hanya untuk membuang rasa takut tinggal dirumah ini.

Mungkin nanti sehabis pulang kerja, akan aku coba hubungi Kirana siapa tahu dia juga dalam kondisi sibuk.

Tepat pukul enam malam, aku sudah kembali didepan gerbang rumah yang semakin mengeluarkan aura mistisnya. Desiran angin dari Pohon Mangga depan rumah selalu menyapa siapapun yang datang.

Suara detikan jarum jam menyambut orang yang ingin mengetok pintu rumah, entah kenapa dulu bapak mau membeli jam klasik yang harganya tentu saja tidak murah ini.

Aku tahu ada orang yang mengikuti sedari tadi setelah memasuki gerbang, seperti biasa selalu saja berat untuk menghadap kebelakang bahkan hanya untuk memeriksa siapa sosok tersebut.

Sudah cukup kemarin saja aku dibuat pingsan berkali-kali, rasanya sosok itu kian mendekat selangkah demi selangkah dibelakang, aku sudah menyiapkan kuda-kuda kaki kalau saja dia akan mencoba memegang pundak atau apapun.

“Duarrrrr” suara kilat keras menyambar salah satu ranting pohon mangga depan rumah, secara refleks tubuhku meloncat sekaligus menutup pintu hanya dalam hitungan beberapa detik saja.

Bukaan korden membuat jiwa kepo dalam diriku kembali meninggi, kalau ditanya takut atau tidak ? sepertinya pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan, andai saja saat ini sudah pakai popok mungkin aliran air seniku bakal begitu saja mengalir.

Bekas sambaran itu mematahkan salah satu ranting, itu bukanlah sebuah pemandangan yang aneh karena mengingat kilat saat itu cukup besar, namun ada satu hal yang bikin aliran darah sudah hampir keluar dari ubun-ubun.

Sebuah sajen terletak dibawah pohon dekat dengan ranting pohon yang patah akibat sambaran petir, aku bukan orang yang terkena amnesia. Ingattan ini benar-benar masih berfungsi sedemikian baiknya.

“Tidak, sajen itu sebelumnya tidak ada di sana” ujarku sambil terus mengamati kearah pohon mangga.

Dan.....setelah beberapa saat aku menyadari adanya sajen dibawah pohon, listrik didalam rumah seketika padam, semua kampung padam namun ada satu rumah yang tidak padam saat yang lainnya padam yakni Rumah milik Pak Joni.

Benar-benar tidak beres, kalaupun rumah itu memiliki sebuah pembangkit listrik sementara. Tetap harusnya ada jarak beberapa menit lampu di rumah tersebut mati, kecurigaanku semakin menjadi-jadi sesaat setelah beberapa warga datang dan mulai berkerumun didepan Rumah Pak Joni.

Kaki tanpa perintah langsung saja keluar rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ada yang ganjal dalam hati ini setelah beberapa kali bertemu dengan sosok Pak Joni, dan sekarang semua warga malah berkerumun didepan rumahnya.

“Permisi pak ? kok pada kesini kenapa ya ?” tanyaku kepada salah satu warga yang memang berdiri dekat dengan rumah peninggalan bapak.

“Ini lho mas kok ada yang aneh, lampu di Rumah Pak Joni kok nyala”. Sebuah jawaban yang sama dengan pertanyaanku.

Memang ada yang aneh dengan rumah ini atau tepatnya si pemilik rumah ini yakni Pak Joni, saat rumah yang lainnya menghidupkan lampu, rumah ini malah padam dan seperti tidak memiliki kehidupan namun saat yang lainnya padam, rumah ini malah hidup seperti tidak singkron dengan kondisi rumah lainnya.


“Mungkin pakai genset kali pak” ujarku yang coba menjawab pertanyaan si bapak tadi.

“Ya enggak mungkinlah mas, lha wong itu rumah tidak ada yang tinggal kok. Pak Joni dan sekeluarga sudah lama meninggal sekitar dua tahun yang lalu”.

“Meninggaaaaaaaaalllllll, termasuk Pak Joni ?”.

“Iya mas, mereka meninggal bunuh diri secara bersama-sama”.

Ini orang bercanda atau tidak ? orang aku masih ingat benar kemarin Pak Joni masih memberiku segelas air putih, sedikit ngobrol tentang apa yang aku alami di rumah peninggalan bapak.

“Pak, jangan bercanda lah ! kemarin kulo masih ngobrol sama Pak Joni lho” tanyaku mencoba memastikan kepada bapak dihadapanku, namun sebuah hal janggal kembali terjadi. Tidak hanya bapak itu saja yang menatapku tajam, namun juga orang yang mendengar ceritaku.

“Mas, jenengan serius ? jenasah Pak Joni beserta keluarga dimakamkan di pemakaman umum deket sini, kalau jenengan tidak percaya besok saya hantarkan kesana”.

Hantu ??? benarkah ??? seseorang yang kemarin aku jumpai bukanlah manusia namun hantu, tidak mungkin. Lalu apa yang aku minum kemarin ? sebuah tanda tanya terus saja terlontar dalam hatiku.

Yang pasti, besok aku bakal ke makam untuk memastikan benar atau tidaknya Pak Joni sudah meninggal, dan aku juga sudah lama belum nyekar ke makam keluargaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
20-05-2019 08:49
Hari Keenam

Hampir semalaman tidurku terganggu, seperti ada yang mengawasiku dari atas pohon. Entah benar atau tidak, namun aku tahu dari suhu kamar yang tiba-tiba membuat bulu kuduk meninggi.

“Kling-Kling”.

“Iya Ran”.

“Gimana sudah tahu jawabannya ?”.

“Belum terlalu yakin, tapi kemarin malam aku seperti diawasi oleh sosok diatas pohon”.

“Kamu beneran itu ?”.

“Iya bener”.

“Ih kok malah tambah serem gitu sih, kamu mending pindah aja deh”.

“Nanggung Ran, aku yakin bisa menyelesaikan teka-teki pembunuhan keluargaku”.

“Yaudah kalau itu tekadmu, aku selalu berdoa semoga kamu selalu baik-baik saja”.

“Terima kasih Ran”.

Aku tidak tahu kenapa, tapi yang pasti ada tekad lebih dari diriku untuk menyelesaikan teka-teki ini. Aku tahu bapak, ibu dan Mbak Lestari tidak akan menyakitiku meskipun dunia kami sekarang berbeda.

Aku paham mereka hanya ingin aku bisa mengungkap siapa dalang pembunuhan keluargaku, namun semua tidak bisa mereka jelaskan secara terus terang, seperti ada sesuatu yang sedang bapak, ibu dan Mbak Lestari rahasiakan.

Dan ada yang aneh juga dengan sifat dan perilaku dari Pak Joni, meskipun aku sudah lama tidak berjumpa dengannya tapi aku yakin ini bukanlah sifat seorang Pak Joni yang aku kenal. Aku paham itu karena Rani yang merupakan anak pertamanya adalah teman masa kecilku.

Semua pertanyaan itu lebih baik aku simpan terlebih dahulu dan mulai fokus untuk bekerja, karena aku juga ingin mengejar impianku untuk menghalalkan Kirana yang sudah dua tahun menjadi kekasihku.

Setelah bekerja seharian, aku tidak memutuskan untuk cepat-cepat pulang dan memilih untuk menghabiskan waktu sejenak menikmati malam Kota Solo, apalagi besok hari libur nasional jadi bisa bangun agak siangan.

Aku seperti tidak sengaja menyusuri lokasi-lokasi yang dulu sering sekali menjadi tempat berkumpulnya aku bersama bapak, ibu dan Mbak Lestari. Semua ini, tempat ini benar-benar seperti sebuah kenangan yang bakal terus membuatku meneteskan air mata.

“Bapak, ibu dan Mbak Lestari...kenapa kalian pergi tanpaku, coba saja aku tahu bakal kejadian seperti ini, mungkin aku lebih baik mati bersama kali ketimbang harus hidup sendiri seperti ini” rintihku dalam hati mengingat mereka bertiga yang sekarang sudah berbeda alam dan mungkin sedang memperhatikanku.

Aku ingat benar warung susu segar pinggir jalan Pak Abdi ini, warung yang menjadi favorit keluargaku karena selain tempatnya yang agak luas, warung Pak Abdi memiliki susu yang begitu segar dan menggoda selera.

Bapak selalu bilang, kalau warung ini bakal menjadi warung susu segar yang besar. Dan benar saja, sekarang untuk mendapatkan tempat duduk saja harus menunggu konsumen lainnya selesai terlebih dahulu.

“Aaaa..., roti bakar coklat keju aja Pak”. Ya sebuah jajanan sederhana yang paling aku dan ibu sukai, bahkan kami berdua sering tambah satu porsi lagi karena tidak cukup hanya memesan satu, dan seringkali bapak selalu bilang kalimat pamungkasnya.

“Bapak pusing to le..le” sambil diiringi dengan senyuman di wajahnya, semua kenangan itu seperti hidup kembali.

Pukul 21.00, aku memutuskan untuk pulang karena memang badan juga sudah mulai benar-benar ingin ditidurkan ke tempat tidur empuk yang menjadi pembelian terakhir kedua orang tuaku sebelum pergi untuk selamanya.

Setiap kali aku melewati rumah Pak Joni, ada rasa yang mengganjal dalam hatiku. Entah itu apa, namun yang paling membuatku aneh adalah katanya Pak Joni hanya hidup seorang diri karena ditinggal mati oleh anggota keluarganya yang lain, kok ada sosok perempuan berambut panjang yang selalu berdiri diatas ball room lantai dua Rumah Pak Joni.

Hari Ketujuh – Part 1

Hari libur ini memang benar-benar ingin aku habiskan dirumah, entah kenapa rasanya super mager untuk sekedar keluar rumah saja. Padahal isi dapur juga sudah mulai habis, jadi mau tidak mau pagi ini sarapan dengan mie instan.

Sedang mencoba menikmati hari libur, keanehan rumah ini kembali terjadi dan sekarang sebuah dentingan piano yang mengingatkanku dengan sebuah nada paling sering dimainkan oleh Mbak Lestari.

Sebuah nada piano yang aku ketahui dari Ludwig Van Bethooven, lagu yang sebenarnya enak untuk didengarkan saat kumpul bersama keluarga, namun kali ini kesan itu berbeda. Aku malah merasa menyeramkan.

Aku mencoba memberanikan diri untuk mendekat ke Piano yang tidak jauh dari tempat aku duduk, piano hitam berukuran besar yang menjadi hadiah ulang tahun dari bapak untuk Mbak Lestari.

Suara dari piano itu tiba-tiba mulai memelan seiring langkahku untuk mendekatinya, dari nada berubah menjadi suara tangisan memelan seorang perempuan. Aku percaya dia adalah Mbak Lestari, meskipun aku tidak dapat melihatnya namun tangisan itu dan nada-nada piano yang dimainkan sangat erat dengan Mbak Lestari.

“Mbak, apa itu kamu” keberanianku sedikit diuji disini, kaki sudah mulai tidak terasa namun mau tidak mau aku harus mendapatkan informasi tambahan.

“Dong—Dong__Dong” tiba-tiba nada dari Piano langsung membuatku terjatuh karena kaget, dan seperti sebuah pesan atau peringatan ? entah aku tidak tahu pasti, namun setelah aku terbangun.

Aku melihat buku kumpulan nada diatas piano membuka, dan terlihat disana bukan sebuah halaman yang berisi nada-nada piano melainkan hanya sebuah tulisan berupa pesan diary yang mungkin selama ini tidak aku sadari.

“Kalau aku bisa melihat dunia ini dalam waktu yang lebih lama, mungkin aku tidak akan membuat mereka bersedih, namun Tuhan berkata lain. Apa yang aku impikan ternyata tidak baik, sehingga Tuhan membiarkanku terbaring, dan mulai menunggu waktu itu datang, dan hanya satu saja orang yang bikin aku merintih, itu dia. Seorang yang bikin aku tidak sepi lagi”.

Apa jangan-jangan Mbak Lestari mengalami sakit ? tapi kenapa ibu dan bapak tidak pernah memberitahuku sebelumnya ?.

Hari ini ada yang janggal, kenapa Kirana tidak biasanya menelponku ya ? coba deh aku ceritakan apa yang aku alami ini ke dia, siapa tahu Kirana bisa membantu.

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif” ha ? apa-apaan nih, kenapa disaat seperti ini malah Kirana tidak bisa dihubungi, padahal dia dulu yang janji bakal terus ada saat aku butuh temen curhat saat di Solo.

Ingin berkunjung dan menceritakan apa yang aku dapatkan ke Pak Joni, tapi kemarin aku melihat ada sosok yang misterius. Dan itu adalah teman kecilku, tidak mungkin aku bakal kesana juga. Bisa-bisa malah tambah repot, dan aku sendiri juga menaruh curiga dengan Pak Joni.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
09-05-2019 20:54

Hari Keempat – Part 2


Ada yang aneh setelah aku masuk kedalam perkarangan rumah Pak Joni, seperti tidak ada satu orang pun yang tinggal disini selain Pak Joni. Padahal seingatku, Pak Joni memiliki seorang istri dan dua orang anak.

“Silahkan duduk dulu mas, saya buatkan teh atau kopi ?”.

“Tidak perlu repot-repot pak, air putih saja cukup”.

“Baik, tunggu sebentar akan saya siapkan dulu”.

Benar-benar aneh, rumah ini seperti tidak memiliki kehidupan lagi meskipun Pak Joni masih menempati rumah yang lumayan besar ini.

“Ini mas, silahkan diminum dulu”.

“Terima kasih pak”.

“Ada apa mas, kok seperti orang bingung ?”.

“Tidak sih pak, Cuma saya mau tanya kemana Bu Joni dan dua anak bapak ya ? kok daritadi saya tidak melihatnya”.

“Itulah yang ingin saya bicarakan ke Mas Burhan”.

“Maksud bapak ?”.

Pak Joni pun mulai bercerita tentang keadaan keluarganya sesaat setelah seluruh anggota keluargaku ditemukan tewas, istri Pak Joni mengaku sering ketakuttan setelah kejadian itu dan memutuskan untuk bunuh diri.

Namun yang paling tragis adalah sang istri sebelum bunuh diri juga meracuni kedua anaknya hingga tewas, sebuah pukulan yang aku sendiri pasti tidak akan mungkin kuat kalau disuruh diposisinya Pak Joni.

“Maka dari itu Mas Burhan, bapak mohon kamu bisa segera mengetahui siapa pelaku yang ada dibalik kematian keluargamu”.

“Baik pak, saya juga inginnya seperti itu. Dan saat ini sedang mencoba melengkapi bukti-bukti yang menjurus ke peristiwa dua tahun yang lalu itu”.

Setelah mengobrol sebentar, aku memutuskan untuk kembali lagi kerumah. Mencoba menghilangkan rasa takut yang malah semakin menjadi setelah berkunjung kerumah Pak Joni dengan kisah keluarganya.

Tapi Rumah milik Pak Joni memang benar-benar mencurigakan bagiku, seperti ada yang janggal disana. Tapi sayangnya aku bukanlah seorang Detective Conan yang dalam hitungan jam sudah menemukan kunci jawaban dari sebuah peristiwa pembunuhan.

“La-le-lo-le-lo-le-lo-le-dung, anakku wes tambah gedhe”. Kembali nyanyian favorit ibu terdengar ditelingaku, sepertinya ibu sedang mengamatiku.

Nyanyian itu semakin mengeras dan mendekat, tubuhku tiba-tiba menjadi kaku seperti sudah tidak bisa lagi digerakan. Benar-benar inilah hari yang paling aku ingin cepat akhiri, ibu ada apa denganmu ?.

Tiba-tiba nyanyian itu berakhir begitu saja, namun aku mencurigai ibu sedang duduk dibangku kesayangannya yang ada dibelakang tubuhku.

Sedikit demi sedikit aku beranikan diri untuk membalikan badan dan melihat kursi yang sering sekali menjadi tempat meminuh teh ibu sewaktu pagi dan sore hari. Sambil kaki sedikit bergetar, aku melihat lagi-lagi sebuah surat yang tergeletak di kursi tersebut.

“Aku akan tetap menyayangimu...”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
am3192 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
15-06-2019 05:08

Hari Kesepuluh - Part 1

Hari ini aku sengaja izin kerja setengah hari untuk memastikan kalau Pak Joni memang benar-benar sudah meninggal, dan sejak kemarin rumahnya didatangi banyak warga. Sosok Pak Joni seperti menghilang.

Namun sosok perempuan yang selalu berdiri di ball room atas Rumah Keluarga Pak Joni masih saja setia disana. Langkah kaki ini berhenti tepat setelah menutup daun pintu rumah, dering handpone terdengar dari balik saku celana.

“Hallo” seruku setelah menekan tombol ijo pada keypad handpone.

“Kamu sudah tidak sayang sama aku ya Han ? tidak ada kabar, dan pergi sama perempuan lain di Solo, kamu serius tidak sih dengan hubungan kita ini ?” seperti biasanya Kirana selalu tidak bisa diputus pembicaraannya saat di telpon.

“Aku punya cerita yang mungkin tidak bakal kamu percaya Ran, nanti malam pokoknya kita harus telponan dan akan aku jelaskan semuanya”.

“Janji ya ? kalau kamu sampai tidak menepati janjimu, aku sudah tidak mau lagi berhubungan denganmu Han”.

“Aku janji Ran, yaudah. Nih aku masih ada urusan, dan sangat mungkin besar kemungkinannya kalau kasus pembunuhan keluargaku bisa segera terbongkar”.

Aku segera menutup sambungan telpon dari Kirana karena Pak Agus sudah menunggu didepan gerbang, seperti masih berasa dag-dig-dug dalam dada. Percaya tidak percaya, apakah benar-benar Pak Joni sudah meninggal.

Kalaupun semisal sudah meninggal lalu siapa yang kemarin menjadi sosok Pak Joni, jangan bilang kalau itu hantu.....dan kalaupun itu hantu, lalu air putih yang kemarin disuguhkan itu apa ? masak iya itu darah ? tapi warnanya kok putih...

“Maaf Pak Agus, agak lama” basa-basiku kepada Pak Agus yang baru kemarin aku kenal setelah kejadian yang benar-benar menampar akal sehatku.

“Tidak papa kok mas, saya juga baru sampai. Yaudah langsung saja ke lokasi”.

Lokasi TPU dengan rumah memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 500 meter saja, lumayan untuk mengeluarkan keringat dipagi hari. Apalagi suasana kampung yang lumayan rimbun membuat jalan menjadi sesuatu yang tidak terlalu melelahkan.

“Saya kemarin terkejut lho pak, sewaktu jenengan bilang kalau Pak Joni sudah meninggal dunia” ujarku untuk membuka obrolan yang mungkin akan mengurangi rasa suntuk dijalan.

“Jangankan jenengan mas, kula saja juga kaget kok sewaktu Mas Burhan bilang ketemu sama Mas Joni”.

“Jenengan adiknya Pak Joni ?”.

“Iya mas, kula adik kandung Mas Joni. Kaget juga sewaktu mendengar dua tahun yang lalu satu keluarganya meninggal dengan cara yang misterius”.

“Misterius gimana pak ?”.

“Mas Joni dan keluarga ditemukan dalam keadaan seperti orang bunuh diri, tetapi kula masih ragu dengan diagnosa tersebut. Setahu kula, keluarga Mas Joni orang yang taat dengan agama”.

Oborolan antara aku dan Pak Agus terus berlanjut, dan tanpa sadar kami berdua sudah berada tepat di gerbang TPU Lelayu, ingattanku kembali lagi berputar di dua tahun yang lalu. Benar-benar hancur saat itu, harus memakamkan ketiga orang yang benar-benar aku sayangi.

Tidak terasa, sudah dua tahun berlalu dan kejelasan tentang kematian mereka masih belum bisa terungkap oleh kepolisian. Dulu, sempat ingin meminta bantuan kepada dukun untuk membantu mencari tahu siapa pelakunya, namun imanku masih kuat dan menolak untuk melakukan perbuatan yang bisa mengakibatkan syrik ini.

Ternyata tangisanku tidak sendiri, disampingku Pak Agus meneteskan air mata. Mungkin dia teringat tentang kakak dan keponakannya yang ditemukan meninggal dengan cara bunuh diri.

Semua kesedihan itu, benar-benar harus aku dan Pak Agus lawan. Kini kaki kami sudah melangkah satu langkah masuk melewati gerbang TPU Lelayu, menengok orang-orang yang kami cintai meskipun hanya dalam bentuk batu nisan dan tanah yang menguruk mereka dibawah sana.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
23-05-2019 23:27
Hari Ketujuh – Part 2

“Kling-Kling”.

“Hallo Ran”.

“Kamu kemana aja sih Han, aku hubungin kok nomernya tidak aktif terus, kamu disana jangan macam-macam ya”.

“Macam-macam apanya coba ? kamu aja aku hubungin nomernya malah tidak aktif”.

“Hubungin aku ? orang tidak ada laporan telpon yang masuk ke nomerku”.

Sampai disini tiba-tiba bulu kudukku mulai berdiri, entah kenapa ini bukan hanya masalah jaringan biasa, mungkinkah ini gangguan dari arwah tidak tenang dari keluargaku ?.

“Yaudah Ran, mungkin masalah jaringan. Tapi yang pasti, aku tidak pernah macam-macam disini”. Jawabku sembari melihat sekeliling rumah, jangan sampai aku di jump scare seperti dua hari yang lalu.

Kalau memang gangguan jaringan, tidak mungkin aku bisa berselancar di internet dengan cepat dan seperti tidak mengalami gangguan apapun, tapi...

“Gubraaaaakkkk” tiba-tiba suara keras seperti barang jatuh terdengar dari arah dapur, astaga cobaan apalagi ini, jujur saja rasanya sudah lemas badan ini dibuat takut seharian dirumah yang dulu tidak menakutkan sama sekali.

Satu langkah demi satu langkah aku mulai mendekat kearah dapur, suara goresan kaca tiba-tiba mulai terdengar ditelinga, meskipun lemas namun aku tetap penasaran apa yang terjadi di dapur.

Dan...sebuah penampakan seorang laki-laki seperti sedang menuliskan sebuah pesan dikaca terlihat dari posisiku yang mulai mendekat, kaki sudah berasa mati rasa dan keringat sudah mengucur diseluruh badan.

Belum kelar rasa takutku yang sudah mulai menginjak titik nadir kesadaranku, tiba-tiba “wuss” penampakan itu mendekat dan menjatuhkanku hingga tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama aku pingsan, namun setelah membuka mata jam dinding sudah menunjukan pukul 12 malam, kepalaku rasanya sangat pusing mungkin karena terbentur lantai tadi.

Meskipun dengan susah payah, aku tetap mencoba memeriksa kaca jendela yang tadi digores oleh makhluk yang menyerangku. Dan terdapat tulisan “Maaf”, sebuah pesan yang mungkin ditujukan kepadaku setelah tadi dia menyerang ?.

“Aduuuuhhh...kepalaku” jeritku yang sudah tidak kuat dengan kondisi kepala yang memang harus segera disandarkan dan diistirahatkan.

Malam ini rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan investigasi, kepala sudah begitu berputar, tetapi saat mataku mulai tidak jelas aku melihat sosok seorang perempuan berkebaya sedang mendekat kepadaku, dan...aku pun tidak sadarkan diri setelahnyaa..


Hari Kedelapan

Entah berapa lama aku tertidur dilantai, adzan subuh membangunkanku dalam sebuah tanda tanya besar tentang apa yang terjadi kemarin malam. Seperti hanya ada ingattan tentang sosok bayangan sebelum aku tidak sadarkan diri.

Waktu seakan cepat berlalu dikantor, sepertinya hari ini bakal aku habiskan semalam lagi diluar rumah. Rumah tersebut benar-benar seakan ingin mengusirku secara perlahan.

“Mas, malam ini ada acara ?” tanya seorang teman kantor yang memang dekat denganku.

“Sepertinya tidak ada mbak, ada apa ?”.

“Ini lho, aku dapat undangan buat nonton kembang api di daerah Stadion Manahan. Tapi ada dua undangan, jadi kalau mau Mas Burhan temani saya kesana”.

“Boleh sih mbak, tapi saya enggak ada kendaraan”. Jelasku secara jujur, sebenarnya aku tidak mau menerima tawaran dari Mbak Ambar, karena aku tahu pasti Kirana bakal cemburu berat nantinya, tapi demi tidak segera pulang dirumah mau tidak mau tawaran itu aku terima.

“Santai saja mas, aku punya motor kok nanti kita boncengan saja kesananya”.

Aduuh...bisa gawat kalau Kirana tiba-tiba menelpon saat aku bersama Mbak Ambar, bisa kena omelannya berjam-jam.

Tiba di Stadion Manahan, para tamu undangan sudah mulai memadati stadion yang menjadi salah satu jantung Kota Solo ini, tidak tahu juga kenapa Mbak Ambar bisa mendapatkan undangan yang sepertinya terbatas ini.

“Kling-Kling” sedang asyik-asyiknya menikmati pesta kembang api yang begitu besar, dering telpon menggetarkan kantong saku bajuku.

“Hallo, Han kok rame banget sih” suara dari lawan telpon menganggetkanku. Cilaka ini suara Kirana, kenapa tadi tidak aku cek dulu siapa yang ada disambungan telpon sih.

“Eh...iya Ran, ini aku ada di pesta kembang api mumpung...” belum sempat melanjutkan pembicaraan, Mbak Ambar tiba-tiba memanggilku sembari menepuk-nepun lengan kiriku.

“Loh kok ada suara perempuan manggil kamu sih Han, kamu...” daripada menjadi masalah lebih baik aku matikan dulu sambungan telpon, dan mematikan handphone .

Maaf ya Ran, bukan maksud untuk membuatmu cemburu tapi aku Cuma enggak mau kamu berpikiran buruk, padahal aku disini tidak sedang mencoba menghianati cinta kita, aku tetap mencintaimu sampai kapanpun.

Puas dengan pesta kembang api yang ternyata sudah dua jam digelar, aku dan Mbak Ambar memutuskan untuk pulang. Mengingat jalan rumah kami searah jadi bisa nebeng bareng, meskipun tidak tega juga membiarkan seorang perempuan pulang sendirian malam-malam.

Disepanjang perjalanan yang lumayan macet karena faktor pesta kembang api tadi, Mbak Ambar ternyata orang yang begitu humble, tidak seperti dirinya sewaktu di kantor yang terkenal pendiam dan juga serius dalam pekerjaan apapun.

Karena selalu mengobrol tidak terasa sudah sampai saja dirumah peninggalan bapak yang lupa aku menyalakan lampunya sehingga begitu terlihat gelap dan tidak lupa begitu menyeramkan.

“Wah akhirnya sampai jumpa mbak, terima kasih banyak lho udah mau repot-repot” ujarku sembari melepaskan helm dan menyerah terimakan motor kembali ketangan Mbak Ambar.

“Iya tidak papa kok mas, eh mas katanya kamu tinggal sendirian ?”. tanya Mbak Ambar yang langsung menatap tajam kearah rumah seakan melihat seseorang dirumah.

“Iya kok mbak, aku tinggal sendirian. Memang ada apa ?”.

“Terus perempuan yang tertidur di kursi depan rumah kamu itu siapa ? aku sampai tidak enak hati lho, kamu ditunggu sampai ketiduran gitu”.

“Perempuan ? yang mana mbak ? aku tidak melihat apa-apa kok ?”.

“Itu lho pakai baju putih-putih seperti piyama”. Ujar Mbak Ambar sembari menunjuk kearah pintu rumah.

“Enggak ada kok mbak”.

“Mas Burhan jangan bercanda deh, lalu dia itu siapa ?”. tanya Mbak Ambar dengan wajah yang sudah mulai berubah dan mulai keluar keringat diwajahnya.

“Enggak ada kok mbak, mungkin salah lihat”.

“Yaudah sebaiknya aku pamit pulang aja mas”. Secara cepat Mbak Ambar memutar balik motornya dan menghilang dibawah lampu-lampu jalanan.

Sosok perempuan ? berbaju seperti piyama ? siapa maksud Mbak Ambar ? jelas-jelas dirumah ini tidak ada orang lain selain diriku, apalagi aku juga tidak melihat ada sosok perempuan seperti yang Mbak Ambar gambarkan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
14-05-2019 21:52

Hari Kelima – Part 1



“Kling-Kling-Kling”...

“Iya Hallo Ran”.

“Kemana aja sih, kok baru diangkat ?”.

“Aku habis mandi, hari ini kan hari pertama aku kerja”.

“Loh sudah mulai kerja ? semangat ya kalau gitu”.

“Iya dong, kan demi masa depan kita”.

“Pagi-pagi dah gombal, eh ya kamu nemukan sesuatu kemarin ?”.

“Iya, sebuah surat lagi Ran”.

“Apa isinya ?”.

“Aku akan tetap menyayangimu, dan itu setelah nyanyian dari ibu”.

“Jujur, aku belum menemukan kemungkinan dari surat itu”.

“Nanti coba aku pikirkan lagi, yaudah aku siap-siap dulu”.

Memang aneh isi surat tersebut, kalau ibu ingin menyampaikan salam kepadaku lalu apa hubunggannya dengan kejadian pada hari yang kelam tersebut. Tapi kalau bukan untukku terus buat siapa ?.

Hari ini aku akan menghabiskan waktu seharian dikantor, dan pastinya aku tidak mau kejadian selama dirumah menjadi pengganggu kerjaanku.

Setelah jam tangan menunjukan pukul 17.00, aku bergegas untuk pulang kerumah yang masih menjadi tanda tanya dari kemarin. Mengingat isi surat dari ibu tersebut cukup abu-abu seperti menyasar lebih dari dua orang.

“Ada apa mas ? kok dari tadi aku lihat melamun aja”. Seorang teman tiba-tiba membuyarkan lamunanku yang dari tadi menunggu jemputtan ojek online.

“Oh tidak papa mbak, eh itu sudah datang, aku duluan ya mbak”.

Pukul 18.00 atau tepat adzan maghrib, aku sudah menginjakan kaki dirumah peninggalan bapak, setelah bersih-bersih diri dan sembayang, bersantai di halaman rumah menjadi aktivitas yang paling pass sambil memikirkan arti dari surat tersebut.

Pikiranku kembali goyah setelah melihat kondisi rumah dari Pak Joni, kenapa masih gelap ? apa jangan-jangan ada masalah dirumahnya ?.

Tanpa pikir panjang aku segera bergegas menuju ke rumah Pak Joni, meskipun cukup misterius namun dialah satu-satunya tetangga terdekatku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
am3192 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Misteri Rumah Peninggalan Bapak
16-05-2019 23:27

Hari Kelima Part 2

“Assalamualaikum Pak Joni” seruku diluar pagar halaman untuk memastikan keadaan dari Pak Joni.

“Walaikum sallam, tunggu sebentar” balas Pak Joni yang langsung diiringi dengan hidupnya lampu rumah dan halaman.

“Loh Mas Bruhan, silahkan masuk mas”.

“Iya pak, maaf mengganggu waktu istirahatnya”.

Setelah duduk di sofa yang lumayan empuk, aku mencoba menjelaskan alasan kedatanganku kerumahnya.

“Oh iya mas, soalnya tadi bapak tadi ketiduran”.

Ada yang aneh memang dari jawaban Pak Joni, bukannya kalau ketiduran tidak seharusnya Pak Joni begitu mudah aku bangunkan dari luar ? padahal aku baru memanggilnya satu kali dan langsung direspon.

Tapi yasudahlah mungkin memang Pak Joni memiliki pendengaran yang sangat baik dan peka sehingga bisa langsung merespon panggilanku.

“Saya ingin sedikit bercerita dengan Pak Joni soal apa yang saya temukan kemarin dirumah”.

“Apa itu mas ? siapa tahu bapak bisa membantu”.

Aku pun menceritakan apa yang aku dapatkan kemarin, sebuah surat dari sosok yang kemungkinan adalah ibu, dengan isi suratnya yang bikin bingung. Entah kenapa, aku tidak merasa isi surat tersebut ditujukan untukku.

“Mungkin isi surat itu ada hubungannya dengan masalah pembunuhan keluarga Mas Burhan dua tahun yang lalu”.

Sebuah jawaban yang sesuai dengan firasatku kalau isinya bukan untukku, tapi seseorang yang dicintai oleh ibu. Atau mungkin sebuah ungkapan rasa sayang ibu kepada bapak atau Mbak Lestari ?.

Karena sudah mulai larut malam, aku izin ke Pak Joni untuk pamittan pulang. Mungkin harapanku besok akan ada informasi yang lebih jelas tentang si pembunuh sadis.

Belum sempat aku masuk kerumah, aku sudah dikejutkan dengan sebuah penampakan manusia berambut panjang dengan baju serba putih yang sedang menangis diatas pohon besar halaman rumah peninggalan bapak.

Pliss, tolong jangan ganggu aku, tolong pergi darisana siapapun kamu. Keringat kembali membasahi bajuku, kaki sudah mulai lemas, ingin rasanya maju tapi takut tiba-tiba dia turun dan menyapaku, tapi kalau disini terus bisa-bisa aku pingsan secara konyol.

Dengan iringan lantunan ayat Kursi, aku mencoba masuk dan menutup mata. Entah apa yang terjadi pokoknya jangan banyak melihat sekeliling, apalagi dibalik celanaku sudah seperti ada yang ingin keluar.

Jangan sampai deh Kirana tahu kalau aku hampir ngompol, bisa kena hinaannya seharian nanti.

Aman, semua aman sampai aku masuk rumah. Entah siapa sosok diatas pohon tersebut, yang penting aku selamat meskipun akhirnya celanaku basah juga karena sudah tidak tahan menahan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
death-among-us
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia