alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.94 stars - based on 31 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5cae1d5e337f932860218112/guru-pakde-dari-alam-ghaib
Lapor Hansip
10-04-2019 23:44
Guru Pakde, Dari Alam Ghaib
Past Hot Thread
Episode 1


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib
sumber gambar


Pakde, kakak tertuaku. Terpisah dengan kami semua 30 tahun lamanya. Semua orang memanggilnya begitu. Ketika kecil, pakde ikut dengan kakak ibuku.

Pada suatu malam, seluruh keluarga berkumpul dalam acara selamatan haul tahunan mbah Sairah --Mbokde yang membesarkan kakak tertuaku --pakde. Selesai acara, semua tamu sudah pulang.

"Jangan pulang dulu ya. Kita ada acara spesial malam ini. Buk, buatkan kopi ya!" perintahnya pada isterinya. Rimah, isteri Pakde tercinta. Dua orang anak mereka ada di pulau jawa. Kami di kalimantan.

Sambail mengisap rokok merahnya Pakde bercerita, "Dulu guruku itu dari Banten. Punya anak tunggal lagi rebutan. Saat itu ada acara membuka tutup guci untuk meminta ilmu."

Berhenti sebentar menarik napas dalam, kemudian melanjutkan, "Saat itu aku hanya menemani dia di depan pintu masjid. Malu. Mereka semua memakai sarung dan baju koko. Sementara aku hanya celana jeans dan kaos oblong."

Tiba-tiba! Gublak.... pakde roboh ke belakang. Rimah, isteri Pakde sudah paham ternyata. Segera mendekat dan mengangkat pelan tubuh Pakde didudukkan. Meski terlihat wajah ketakutan.

Kami yang hadir di hadapan Pakde seperti terhipnotis. Dadaku berdegup kencang. Tak sempat toleh kiri kanan. Sebenarnnya ingin membantu membangunkan. Kami semua diam seribu bahasa. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Sudah biasa Pakde begini. Sejak di Jawa dulu." Rimah menenangkan.

Tak tahu apa yang akan dilakukan. Kami semua diam mematung. Mencekam. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Hmmm.... Assalamu'alaikum. Cucuku sekalian," tiba-tiba suara pelan keluar dari mulut Pakde.

Jelas bukan suara Pakde yang biasanya. Suaranya berat. Serak. Berwibawa. Dengan beberapa kali mengecap sebelum seluruh kalimat disampaikan semua.

Masing-masing kami kaget. Hanya bergumam menjawab salam. Saling lihat sesama kami. Seperti memberikan kode. Mengerti tidak mengerti harus tetap dihadapi.

"Aku gurunya, mau ngasih wejangan. Tolong disimak ya...," berkecap beberapa kali.

"Mulai malam ini, kalian semua sudah kuangkat jadi cucuku semuanya. Jangan ceritakan dengan orang lain...," lanjutnya.

Tak ada sahutan. Semua khusyuk menyimak wejangan. Sambil manggut-manggut tanda mengerti yang disampaikan. Walau menahan ketakutan.

Betapa tidak. Seumur hidup baru kali ini mendengar ada mahluk ghaib yang mengajak berbicara secara langsung. Biasanya hanya berhadapan dengan orang yang kerasukan. Dengan ucapan yang ngawur tak tentu arahnya.

Pernah juga menghadapi anak-anak yang kerasukan. Lama diajak ngobrol juga. Akhirnya macam-macam permintaan diutarakan. Dasar bangsa lelembut. Di luar logika sama sekali.

"Mbah, njenengan datang ada perlu apa?" Rimah memecah kesunyian.

"Itu...," Kakek anggaplah begitu namanya. Menunjuk ke arahku. Kaget aku.

"Awas. Jangan terlalu baik sama orang-orang. Suatu saat pasti merepotkan dirimu sendiri." melanjutkan ucapannya perlahan.

"Ingat-ingat ya...," lirih suara kakek hampir tak terdengar.

"Nduk. Sampaikan suamimu. Ajari mereka semua mengenal Tuhannya lagi ya...," terbata-bata sambil kecap-kecap berkali-kali.

"Nggih, Mbah." Manggut-manggut Rimah.

"Assalamu 'alaikum," suara perlahan hilang.

Kemudian lemes badan Pakde.

"Minum-minum. Haus-haus," suara Pakde lantang. Seperti orang yang sangat kehausan.

Disuguhkan gelas besar berisi air putih penuh. Sekali tenggak. Habis. Mustahil, minum air segelas besar habis dalam sekali tenggak.

Kami semua tertawa. Takut hilang. Melihat Pakde sadar seperti biasa.

(Bersambung)


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib

Episode 1 Klik di sini
Episode 2 Klik di sini
Episode 3 Klik di sini
Episode 4 Klik di sini
Episode 5 Klik di sini
Episode 6 Klik di sini
Episode 7 Klik di sini
Episode 8 Klik di sini
Episode 9 klik di sini
Episode 10 klik di sini
Episode 11 klik di sini
Episode 12 klik di sini
Episode 13 klik di sini
Episode 14 klik di sini
Episode 15 klik di sini
Episode 16 klik di sini
Episode 17 klik di sini
Episode 18 klik di sini
Episode 19 klik di sini
Episode 20 klik di sini
Episode 21 klik di sini
Episode 22 klik di sini
Episode 23 klik di sini
Epidose 24 klik di sini
Episode 25 klik di sini
Episode 26 klik di sini
Episode 27 klik di sini

Bersambung
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamaproduktif dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 48
10-04-2019 23:49
Episode 2


TIANG ISTANA TERCURI TAK SENGAJA


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib

sumber gambar


Selepas maghrib beberapa hari berikutnya.

" Abah Adek! Abah Adek!" teriakan dari luar.

Suara yang sudah aku kenal. Suara Mirah, isterinya Pakde. Belum selesai wirid maghrib aku bacakan. Segera keluar.

"Gimana, Mbak!? Ada apa?" tanyaku khawatir.

"Itu, Pakde. Aku gak ngerti. Cepat ke sana ya." jawabnya sambil balik badan pulang naik kendaraan.

Malam itu hujan gerimis. Langit sangat gelap pertanda hujan lebat akan datang. Angin berhembus sangat kencang.

Rumah kami memang sedikit berjauhan. Lima belas menit perjalanan. Masih dalam satu desa. Hanya beda RT saja.

Bergegas kuambil kunci kendaraan berangkat ke rumah Pakde. Dalam hati bertanya-tanya. Sedang terjadi apa? Siapa tau habis kecelakaan. Atau jatuh dari kendaraan. Atau musibah lainnya.

Pakde bekerja sebagai tukang servis elektronik. Dulu waktu di Jakarta pernah bekerja pada perusahaan perlistrikan. Termasuk yang bonafit, karena lift gedung DPR RI dikerjakan Pakde dan teman-teman tahun 2008.

Pernah suatu ketika, sambungan jaringan listrik di rumah kami ada yang bermasalah. Tak ada lampu yang menyala. Pakde yang menyambung jaringan semuanya. Padahal aliran listrik semua masih jalan.

Yang mengherankan adalah ketika bola lampu dipegang menyala. Padahal tidak ada kabel tersambung. Kalau cuma menyambung kabel putus, bisa dilakukan dan tak kesetrum. Itulah Pakde. Selalu penuh misteri.

Beberapa saat akhirnya aku sampai di rumah Pakde. Dada masih gemuruh. Gerangan apa yang terjadi. Bergegas turun dari kendaraan. Pintu aku ketuk.

"Assalamu 'alaikum ...," salamku dari luar.

Pintu tak terkunci kubuka. Dan masuk seraya duduk di dekat Pakde yang lagi duduk sambil mengisap rokoknya. Tak ada respon atas kedatanganku. Matanya menunduk ke lantai seperti mencari sesuatu.

Kupegang tangan Pakde. Normal. Tidak ada tanda-tanda kesakitan. Tidak ada juga tanda-tanda lagi deman. Pakde tetap diam.

"Gimana asal muasalnya, Mbak?" Tanyaku pada Rimah. Isteri pakde.

"Sore tadi selepas pulang dari tempat Abah Adek kan mandi. Terus salat ashar. Biasanya sehabis salat ashar Pakde kalau wiridan lama. Hampir maghrib baru selesai. Dan tak pernah ada yang berani ganggu. Meskipun ada tamu, biasanya aku suruh nunggu. Hingga Pakde berbalik dan menyapa tamunya," jawab Rimah menjelaskan.

"Terus ini tadi gimana?" tanyaku kemudian.

"Nah, ini tadi juga begitu. Setelah salat ashar dan wirid yang lama Pakde tidak bergerak-gerak. Tetap duduk di sejadahnya. Karena aku sibuk memasak di dapur tidak sempat perhatikan Pakde. Lalu, Pakde teriak-teriak seperti orang ketakutan. Katanya, ada rombongan kerajaan yang istananya telah diruntuhkan," lanjut Rimah.

Deb ... berdebar dadaku. Benar saja. Tadi sore aku dan Pakde menjala ikan di sungai belakang rumah. Aku bawa jala dan ikan dalam bakul. Sementara Pakde membawa kayu balokan yang nyangkut di jala. Dibawa pulang. Katanya buat tiang untuk dipan. Jangan-jangan kayu itu yang dimaksudkan.

Berarti kayu yang berada dalam sungai sudah dipenuhi lumut itu adalah tiang istana alam ghaib.

Takutnya aku tidak terkira, ketika tiba-tiba Pakde menatapku tajam.

"Itu ... itu ...," keluar suara Pakde sambil menunjuk ke arah dapur.

Suara pakde sesungguhnya. Bukan suara orang yang merasukinya. Seperti yang terjadi beberapa malam lalu.

"Mereka, pasukan mereka sedang menghadangku. Meskipun aku kuat. Pasti aku kalah banyak. Tadi selepas ashar aku sudah coba negosiasi dengan mereka. Nih, lihat bahuku berdarah. Kena tombak. --padahal tak ada tandan-tanda terluka. Tak berhasil. Intinya tiang istana mereka harus di kembalikan ke tempat semula. Malam ini juha selepas tengah malam. Kalau tidak, aku akan di sandera mereka," lanjut Pakde menjelaskan.

Seperti orang normal dalam menjawab pertanyaan. Padahal mata Pakde terpejam.

"Ya, esok pagi kita kembalikan. Sambil menjala ikan lagi. Di tempat tadi banyak ikan besar," jawabku enteng.

Tiba-tiba Pakde berdiri ke arah dapur. Seperti mengejar sesuatu. Tatapannya tertuju pada sesuatu. Aku ikut menjelajah ada apa gerangan. Tak ada apa-apa.

Pakde muntah-muntah. Sambil menutup hidung mencium ada bangkai binantang sangat menyengat. Aku dan Rimah tak mencium apa-apa. Hanya Pakde saja. Entah apa sebabnya.

"Itu tadi, pengawal istana. Baunya aku gak tahan. Tapi sudah menjauh sekarang." ucap Pakde ketika kembali ke tempat duduk semula.

Aku ikuti di belakangnya. Bulu kudukku berdiri. Rimaah, isteri pakde tak bergerak. Wajahnya pucat pasi. Saking takutnya. Tak tau harus minta tolong pada siapa. Aku juga takut.

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
11-04-2019 00:47
Episode (3)


PENGEMBALIAN BARANG CURIAN

Guru Pakde, Dari Alam Ghaib

sumber gambar

Malam terus berlanjut. Menunggu tengah malam terasa sangat lama. Malam benar-benar mencekam. Suara angin sebentar-sebentar terdengar menerpa jemuran pakaian yang tak kering di susun di pelataran.

Masih 5 jam. Apa yang harus aku lakukan? Rimah diam sambil menarik-narik ujung tikar. Risau Mirah tak terkirakan. Sebentar-sebentar menoleh ke arah Pakde. Aku juga seperti itu.

Demi menahan takut yang tak terkirakan. Kucoba mengingat-ingat ayat-ayat pengusir roh halus. Berharap roh lelembut yang merasuki Pakde akan pergi mendengar ayat suci. Kucoba baca ayat kursi dengan khusyuk. Rimah juga komat-kamit baca sesuatu.

Sementara Pakde sebentar-sebentar menatap ke arah ujung kamar. Ke arah dapur. Sambil seperti ngobrol dengan seseorang. Kadang tertawa sendiri. Kadang serius seperti orang negosiasi.

Aku kehabisan akal. Kubaca yasin berulang-ulang. Lelembut di tubuh Pakde tak juga hilang.

Malam kian larut, sementara gerimis tambah lebat. Hujan deras. Dengan angin. Kadang- kadang cahaya kilat masuk ladi angin-angin jendela. Masuk lewat jendela kaca. Disambung dengan petir silih berganti.

Tiba-tiba listrik padam. Gelap gulita. Beregegas korek api kunyalakan. Meminta Rimah memgambil lampu minyak.

"Gimana ini, Abah adek?" tanya Rimah kepadaku.

"Kita tunggu saja. Tengah malam tiba. Semoga tidak terjadi apa-apa," jawabku singkat.

Tetap fokus terhadap apa yang dilakukan Pakde. Khawatir jika tiba-tiba lari ke luar rumah. Atau melakukan sesuatu yang berakibat fisik.

Sekitar pukul 00.00 Pakde berdiri dari tempat duduknya. Padahal tak ada jam dinding. Pakde juga tak memperhatikan jam meja. Seperti sudah ada yang memberi komando. Aku dan Rimah saling pandang.


Karena mata Pakde seperti terpejam tak tahu arah ke luar ruangan. Aku dan Rimah memegang tangan kiri dan kanan. Mengambil balokan kayu di teras. Dipikul dengan semangat. Berlajan setengah berlari menuju arah sungai di belakang rumah.

Jarak dari rumah ke sungai sekitar 700 meter. Lumayan jauh untul ukuran berjalan kaki. Malam-malam. Di tengah hujan. Kilat dan petir kadang menyambar.

Dengan senter kecil dari ujung korek api kami berjalan menyusuri jalan gelap. Tak ada suara. Kami tak saling berkata-kata. Pakde menggerutu sesuatu yang kami tidak mendengar persis apa yang diutarakannya. Seperti berbicara dengan seseorang.

Di belokan jalan, tiba-tiba Pakde berhenti. Menatap jauh pada lolongan beberapa anjing sedang berteduh dari hujan.

"Itu dengar tidak!" suara Pakde membentak.

Seluruh bulu di tubuhku berdiri. Aku tak melihat apa pun. Hanya suara lolongan anjing yang bersautan. Seperti ketakutan.

"Ayo, Mas. Cepat jalan lagi. Supaya segera sampai dan segera pulang. Sudah dingin ini. Lihat. Baju basah semua," bujuk Rimah.

Pakde tak mau melangkah. Meskipun setengah kami seret. Kalah kuat.

"Rombongan pasukan dari negeri seberang sudah datang," Pakde menerangkan.

"Makanya, ayo cepat!" bujuk Rimah tak lelah-lelahnya.

Di tengah hujan lebat. Baju basah kuyup. Lapar. Belum sempat makan. Menggigil.

Setelah lolongan anjing lenyap beberapa saat, Pakde mau berjalan lagi. Kali ini setengah berlari. Pegangan tangan kami terlepas. Mengikuti laju langkah Pakde dari belakang.

Akhirnya sampai di tepian sungai. Pakde duduk bersila. Komat kamit seperti membaca mantera. Kemudian balokan kayu dilemparkan ke sungai.

Beberapa detik setelah kayu masuk ke dalam sungai, Pakde membalikkan badan.

"Yuk, pulang." ucap Pakde seperti tak terjadi apa-apa.

Tangan isterinya diraihnya. Aku ikuti dari belakang. Mengarahkan senter ke arah jalan di depan kami.

"Ada apa tadi?" Rimah menanyakan.

Aku dengar samar-samar dari belakang. Menggigil kedinginan. Baju sarung dan kopiyah basah kuyup.

"Aku lapar. Sudah masak belum?" jawab Pakde tidak nyambung.

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pinknam00 dan 12 lainnya memberi reputasi
9
Lihat 1 balasan
11-04-2019 00:48
Episode 4

PENCERAHAN YANG MEMBINGUNGKAN


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib

sumber gambar

Dasar, Pakde. Dalam hatiku mengutuk. Sudah basah kuyup. Dingin menggigil. Berjalan gontai.

Lampu listrik di jalan sudah menyala. Hujan juga mulai reda. Tiba di tikungan tempat di mana terdengar lolongan anjing tadi aku tanyakan Pakde, "Apa yang terjadi?"

Pakde cuma berhenti melihat jauh ke arah datangnya suara anjing. Mengatakan, bahwa kawanan anjing tadi sudah pergi.

"Nanti tidur di rumahku saja ya. Aku mau bercerita," kata Pakde sambil menoleh ke arahku.

Sesampai di rumah Pakde masing-masing kami ganti pakaian. Aku memakai pakaian punya Pakde.

"Kita salat isya dulu ya. Baru makan," ucap Pakde sambil menggelar sejadah.

Aku mengikuti apa yang diperintahkan tanpa menyahut sedikit pun. Hatiku masih gamang. Peristiwa yang baru saja terjadi masih belum sempat diterima logika. Sudah akan mendengarkan cerita yang lain lagi. Pakde seperti tidak peduli. Sebenarnya apa yang terjadi?

Pakde jadi imam. Aku jadi makmum di belakang. Rimah berada di shaf paling belakang. Ikut dalam jamaah salat isya.

Berbeda dari biasanya. Salat kali ini merupakan salat yang paling istimewa. Rakaat pertama. Ayat yang dibaca surah Yasin dari awal hingga akhirnya. Disambung surah al Waqiah. Belum kelar juga. Ditambah surah al Mulk. Baru rukuk. Pada rakaat ke dua yang dibaca surah al Kahfi hingga akhirnya. Kemudian surah al Jin. Baru rukuk.

Aku sama sekali tidak khusyuk. Perut lapar. Kedinginan pula. Berbeda dengan Pakde, sangat menikmati kekhusyukannya.

Selesai melakukan wirid seperti yang biasa dilakukan. Kemudian Pakde membacakan doa. Dalam bahasa arab. Aku tidak mengerti maknanya. Juga sangat panjang.

Selesai berdoa, Pakde membalikkan badannya.

"Kamu ulangi lagi salat isyanya. Tidak khusyuk sama sekali," perintah Pakde berwibawa.

Aku berdiri dan salat isya sendiri sebisa-bisanya. Pakde menanti sambil memegang tasbih dan melakukan wiridan. Aku tidak memperhatikan apa yang dibaca.

Selesai salat isya, lalu Pakde menghadap kiblat lagi. Mengangkat tangan berdoa. Aku dan Rimah ikut saja. Dari tadi Rimah tidak bergerak dari tempat salatnya. Mengikuti apa yang dibaca Pakde.

Lalu Pakde berdoa dengan suara pelan penuh penghayatan, "... ya Rab, ampuni kami. Ampuni ibu bapak kami. Ampuni guru-guru kami. Selama ini kami sudah lupa menyembahmu dengan benar."

Pakde sambil menangis sesenggukan. Aku dan Rimah ikut tersadar dan hanyut dalam doa. Ikut menangis juga.

Selanjutnya,"Ya Rab, jangan biarkan kami hanyut dalam dosa. Berbuat syirik atas segalanya. Jika selama ini kamu jauh dari-Mu jangan hukum kami dengan kesengsaraan yang berkepanjangan. Ya Rab. Perkenankan permohonan kami ...."

Pakde menutup doa dengan bahasa arab yang aku tak tau maknanya.

Sudah menjelang pagi. Jam dinding menunjukkan pukul 03.24 salat isya serta wirid dan doa selesai. Rimah beranjak ke dapur. Akan mempersiapkan makan malam yang tertunda.

"Sudah, kamu duduk saja. Ikut dengarkan di sini. Tak usah ke mana-mana." setengah membentak Pakde.

Rimah beringsut dan kembali duduk di hamparan sejadahnya.

Kemudian Pakde bercerita.

"Hampir 20 tahun guruku tak pernah datang seperti ini. Apa yang sudah terjadi padaku dan kalian adalah peringatan. Kita sudah dan masyarakat sudah jauh tersesat. Syirik telah terjadi di mana-mana. Dan dosa syirik tidak akan terampuni. Tempatnya dalam api neraka."

"Syirik seperti apa, Pakde," celutukku tak paham maksud ucapan Pakde.

Pakde menarik napas dalam-dalam. Kemudian katanya, "Dalam Al Quran sudah jelas-jelas diterangkan, bahwa alam kubur itu rapat terkunci. Tidak mungkin ada yang bisa keluar lagi. Yang sekarang diyakini adalah ada ruh mayat-mayat yang ngelayap. Gentayangan. Menjelma dalam wujud penampakan. Kadang diberi nama hantu, genderuwo, kuntilanak, dan sebagainya. Lucunya hampir semua orang mempercayainya. Itu syirik namanya."

"Lalu yang berwujud itu apa, Pakde?" tanyaku tak puas dengan penjelasan Pakde.

"Ada lima alam yang dilewati oleh setiap mahluk. Tidak akan bisa terbuka atau ditembus siapa saja. Kecuali baginda Rasulullah SAW. Alam malakut. Dimana ruh sebelum ditiupkan dalam perut ibu. Alam janin. Yaitu ketika berada dalam janin ibu. Alam dunia. Tempat kita sekarang berada. Alam kubur, ketika kita telah meninggal dunia. Dan alam akhirat. Alam yang tiada akhirnya," lanjut Pakde.

"Lantas mereka yang disebut hantu dan sejenisnya itu siapa, Pakde?" tanyaku makin tidak mengerti.

"Mereka adalah bangsa jin yang menyerupai arwah-arwah yang telah meninggal. Tugasnya adalah menggoda manusia dengan tipu dayanya agar tergelincir. Dan percaya serta takut kepada mereka. Seperti itulah asal mula syirik ditebarkan," jawab Pakde selanjutnya.

Otakku berputar keras mencerna apa yang disampaikan Pakde. Aku masih belum mengerti sama sekali. Barangkali karena perut lapar dan kantuk yang tak terkira hingga otak tak lagi mampu berpikir.

"Yuk. Sudah subuh. Kita salat subuh dulu baru makan," ucap Pakde sambil berdiri mengambil air wudlu.

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pinknam00 dan 10 lainnya memberi reputasi
9
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
12-04-2019 10:35
Episode 5

MALIH RAGA


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib


Pakde memanglah Pakde. Kakak tertuaku. Tugasku hanya taat dan ikuti apa maunya.

Suatu ketika. Pada saat itu hari minggu. Selepas banjir, di desa kami biasanya sungai debit airnya turun. Pada saat itu ikan hampala juga banyak yang turun ke hilir. Gemuk-gemuk.

Aku jemput ke rumah Pakde. Mancing ikan hampala. Berapa kilometer dari rumah. Menggunakan kendaraanku. Berangkat sekitar pukul 7 pagi. Tak ada protes sedikit pun. Pakde manut saja. Ganti baju. Naik ke kendaraanku. Tak bersuara apa-apa.

Sesampai di pinggir sungai peralatan pancing kuberikan. Ikuti semua arahanku tanpa berkata sesuatu. Sambil mengisap rokok duduk manis. Menggoyangkan pancing sesuai instruksi.

Merasa sudah sesuai arahan memancing yang aku harapkan. Aku menjauh mencari posisi pancingan yang lain. Sangat mengasyikkan. Banyak ikan hampala besar yang aku dapat.

Sekitar pukul 12 siang kami pulang. Pakde tak dapat seekor pun ikan. Ketika diajak pulang, Pakde diam saja. Ikuti langkahku dari belakang.

Singkat cerita. Aku sampai di rumah Pakde. Memisah ikan untuk diberikan. Pakde masuk rumah lebih dahulu. Rimah keluar dari pintu depan. Pakde dari pintu belakang.

"Dari mana tadi? Apa itu?" tanya Rimah padaku.

"Mancing. Sama Pakde tadi. Ini ikannya. Ambil ember ya," jawabku bingung.

Seingatku. Saat berangkat mancing tadi Rimah ada di dalam rumah. Benar. Aku tidak pamit. Karena Rimah tidak menyambut di depan pintu. Hanya ada Pakde keluar dari rumah.

"Pakde? Pakde gak kemana-mana. Tadi ada kepada desa yang datang. Minta wejangan. Sudah pulang sekarang. Itu gelas kopi masih belum aku bereskan. Lihat saja!" Rimah menjelaskan setengah ngotot.

Lalu, yang aku ajak mancing tadi siapa? Aku yakin banget. Pakde sedang bersamaku. Ikut mancing ikan hampala di sungai setengah hari. Tengah hari, bulu kuduk berdiri. Kok bisa? Begitulah kenyataannya. Pakde jadi dua raga. Mustahil! Tapi nyata.

Tidak percaya. Naik ke teras. Melongo di depan pintu. Benar. Ada kopi sisa separo. Puntung rokok pakde banyak di asbak.

Saking kagetnya aku atas apa yang terjadi. Kukejar Pakde ke pintu belakang. Benar. Pakde sedang di kamar mandi. Terdengar suara orang mandi. Bau sabun juga dari dalam.

Dalam hati, nanti pasti aku tanyakan. Apa gerangan sebenarnya yang terjadi? Bagaimana bisa berubah jadi dua raga.

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
pinknam00 dan sriwijayapuisis memberi reputasi
8
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support17
12-04-2019 12:55
Episode 6

PAKDE BISA SEMBUHKAN


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib


Untuk mengobati kebingunganku. Menunggu malam sangat lambat. Banyak pertanyaan yang akan aku sampaikan. Mulai dari kejadian ketika Pakde tiba-tiba tidak sadar terus ada suara kakek tua keluar dari mulut Pakde dengan nasihat singkat yang sulit dicerna.

Kejadian tentang makhluk ghaib yang tiba-tiba datang dalam rombongan yang besar mengaku soko guru tiang istananya dibawa pulang. Padahal hanya balokan yang terendam. Juga tentang Pakde yang kemudian berubah menjadi dua raga.

Salah satunya terpaksa menemani aku mancing ikan hampala di sungai dan di raga yang lain menerima kepala desa yang datang ke rumahnya dalam waktu yang bersamaan.

Siapa gerangan Pakde? Walaupun dulu saat aku di pesantren ketika kecil sering mendengar istilah tentang para wali yang mampu berbicara bahasa bathin dengan orang yang sangat jauh. Sesama wali. Ustadku bercerita menjelang tidur kami.

Masih lekat dalam ingatanku, wali yang bisa seperti itu adalah Kanjeng Sunan Kalijaga. Adakah yang terjadi pada Pakde berhubungan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Atau hanya kebetulan saja.

Aku harus bertanya secara lengkap. Tentang guru Pakde, siapa dia? Pakde belajar itu dari mana? Kenudian kesaktian semacam itu apakah dibenarkan dalam agama? Jika aku mampu belajar seperti itu, aku bisa apa saja?

Berkecamuk seluruh pertanyaan, namun harus aku tanyakan. Apa pun konsekuensi yang aku terima. Yang jelas, aku mengetahui seluruh detail dari kejadian yang aku alami bersama Pakde.

Senja pun tiba. Selepas maghrib aku bersiap-siap berangkat ke rumah Pakde. Sebelumnya aku telpon. Dan ternyata Pakde tidak ada di rumah. Pakde ke desa sebelah, beberapa Km dari rumah Pakde.

Kata Rimah, sebelum maghrib Pakde disuruh datang untun mengobati anak perempuan yang kesurupan.

Katanya, pacar anak itu mau mengajak nikah. Orang tua perempuan itu tidak mau. Pacaran pun terpaksa putus. Nikah batal. Pihak laki-laki jadi gelap mata. Menyuruh seorang dukun untuk mencelakai anak perempuan itu.

Biasanya setelah Pakde datang ke pasien. Beberapa hari berikutnya pasien sembuh.

Pernah juga dulu, cerita Rimah. Ketika ada isteri yang sudah tidak cinta dengan suaminya, nikah karena dijodohkan orang tuanya. Suaminya datang, Pakde salat dua rekaat kemudian berdoa. Dan beberapa hari berikutnya suami isteri itu akur. Datang ke rumah Pakde sama-sama. Terlihat gembira.

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
pinknam00 dan sriwijayapuisis memberi reputasi
6
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
12-04-2019 14:02
Episode 7

SUNAN KALI JAGA


Guru Pakde, Dari Alam Ghaib


Akhirnya Pakde datang. Aku sudah bersila dengan tenang sambil menghabiskan kopi seduhan Rimah.

Ketika aku menceritakan seluruh pertanyaan yang ada dalam benakku. Pakde hanya tersenyum.

"Sudah, sekarang dengarkan ceritaku. Jangan dipotong. Supaya mengerti makna dan maksud dari semua ceritaku," ucap Pakde membetulkan duduk bersilanya.

Aku hanya melongo. Siap-siap mendengarkan cerita Pakde.

"Nama kecil sunan Kalijaga menurut sejarah adalah Raden mas Syahid atau Raden Said. Beliau merupakan putra dari seorang adipati Tuban yang bernama Ki Tumenggung Wilatikta, namun ada juga mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Nama lain dari sunan Kalijaga adalah Lokajaya, Syekh Malaya dan Pangeran Tuban.

Pada masa mudanya beliau merupakan seorang yang giat belajar dalam mencari ilmu, terutama ilmu agama Islam. Beliau juga pernah berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel. Menurut cerita sejarah sunan Kalijaga memiliki usia hingga 100 tahun, dengan begitu berarti beliau mengalami berakhirnya kekuasaan kerajaan Majapahit.

Selain itu beliau juga mengalami masa kesultanana Demak, Cirebon dan Banten. Bahkan juag merasakan kerajaan Pajang yang berdiri pada tahun 1546 Masehi, dan juga kerajaan Mataram yang di pimpin oleh senopati. Beliau juga di ceritakan ikut serta dalam merancang pembangunan masjid Agung Demak dan masjid Agung Cirebon.

Raden Said merupakan putra dari adipati Tuban yang sangat dekat dengan rakyat jelata atau miskin. Pada saat itu terjadi musim kemarau sangat panjang yang membuat masyarakat gaga panen, namun dalam waktu yang bersamaan pemerintah pusat memerlukan dana besar untuk mengatasi pembangunan, dan mau tidak mau rakyat miskin harus membayar pajak yang tinggi.

Melihat adanya keadaan yang kontradiksi antara pemerintah dan rakyat jelata, Raden Said yang merasa dekat dengan rakyat jelata, beliau bergerak tanpa pikir panjang untuk membantu rakyat tersebut. Beliau mencuri hasil bumi untuk di bagikan kepada rakyat yang tidak mampu tersebut di gudang penyimpanan ayahnya.

Hasil bumi tersebut merupakan upeti dari masyarakat yang akan di setorkan kepada pemerintah pusat. Biasanya pada malam hari Raden Said bergerak untuk melakukan aksinya dan hasilnya di bagikan langsung kepada rakyat jelata secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengatahuan rakyat sekalipun.

Seiring berjalannya waktu, penjaga gudang merasa curiga, karena upeti yang ada di gudang mulai berkurang. Karena penasaran, si penjaga gudang dengan sengaja meninggalkan gudang dan mengintip dari kejauhan, namun ternayata penjaga gudang berhasil memergoki aksi Raden Said tersebut, dan kemudian Raden Said di bawa kapada ayahandanya.

Raden Said di marahi habis-habisan oleh ayahandanya, dan beliau mendapatkan hukuman tidak boleh keluar rumah. Setelah lepas sepekan, Raden Said tidak merasakan jera atas hukumannya tersebut. Beliau tetap melakukan aksinya di luar istana, yang targetnya adalah orang-orang kaya dan pelit.

Setelah di usir oleh ayahnya, Raden Said tinggal di hutan Jatiwangi, lagi-lagi beliau melakukan askisnya untuk menolong rakyat jelata. Namun, saat itu itu beliau tidak menggunakan nama aslinya, melainkan menggunakan nama Brandal Lokajaya selama tinggal di hutan Jatiwangi tersebut.

Dan suatu ketika lewatlah seseorang yang berpakain serba putih dengan membawa tongkat yang gagangnya seperti emas yang berkilauan. Raden Said merebut tongkat dari orang berbaju putih tersebut secara paksa hingga menyebabkan orang yang berbaju serba putih tersebut tersungkur jatuh. Sambil mengelaurkan air mata orang tersebut bangun.

Ketika tongkat telah berada di tangannya, Raden Said mengamatinya, ternyata tongkat tersebut tidak terbuat dari emas. Karena heran melihat orang yang berbaju serba putih tersebut menangis, Raden Said pun mengembalkan tongkatnya.

Dan kemudian orang tersebut berkata, “Bukan tongkat itu yang aku tangisi,” sambil menunjukkan rumput di telapak tangannya.

Sambil menunjukkan rumput di telapak tangannya orang tersebut berkata, “Perhatikanlah aku sudah berbuat dosa, melakukan perbuatan sia-sia, karena rumput itu tercabut karena saat aku jatuh tadi”.

Kemudian Raden Said menimpali, “Cuma beberapa helai rumput saja kamu merasa berdosa?” tanya Raden Said dengan heran.

Orang tersebut kembali menjawab, “Ya, memang berdosa ! karena kamu mencabutnya tanpa sebuah kebutuhan, apabila untuk makanan ternak tidak apa, namun jika untuk sebuah kesia-siaan sungguh sebuah dosa!”

Setelah mengetahui perbuatan Raden Said, orang tersebut mengatakan sebuah perumpaan terhadap perbuatan Raden Said tersebut.

Bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Said itu ibarat mencuci pakaian yang kotor dengan menggunakan air kencing yang hanya akan menambah kotor dan bau pakaian tersebut. Raden said pun termenung dengan pernyataan tersebut. Raden Said pun di buat takjub dengan keajaiban yang di tunjukkan mengubah pohon aren menjadi emas.

Karena penasaran beliau memanjatnya, namun ketiak hendak mengambil buahnya, tiba-tiba pohon tersebut rontok dan mengenai kepalanya, hingga akhirnya belaiu terjatuh dan pingsan. Setelah Raden Said tersadar bahwa orang tersebut bukanlah merupakan orang biasa. Sehingga timbul rasa ingin belajar kepadanya.

Akhirnya di kejarlah orang yang berbaju putih tersebut, setelah berhasil di kejarnya belaiu menyampaikan keinginannya untuk berguru kepadanya. Kemudian Raden Said di beri sebuah syarat yaitu Raden Said di perintahkan untuk menjaga tongkat dan tidak boleh beranjak sebelum orang itu kembali.

Setelah tiga tahun kemudian datanglah orang berbaju putih tersebut menemui Raden Said yang ternyata masih menjaga tongkat yang di tancapkan di pinggir kali (sungai). Orang berbaju putih tersebut merupakan sunan Bonang, dan kemudian Raden said di ajaknya ke Tuban untuk di beri pelajaran agama.

Oleh karena itu nama Kalijaga beliau dapat dari kata kata kali yang artinya sungai dan Jaga yang artinya menjaga. Meski sebelumnya Raden Said pernah mencuri untuk menolong orang, perbuatan tersebut terlihat mulia, namun tetap merupakan jalan yang salah.

Setelah bertahun-tahun kedua orang tuanya di tinggalkan oleh kedua anaknya, permaisuri adipati wilaktikta seperti kehilangan gairah hidup, terlebih lagi setelah adipati Tuban mengangkap perampok aslinya. Ketika itu Raden Said menangis sejadi-jadinya, dan benar-benar menyesal telah mengusir anak kesayangannya.

Sang ibu tak pernah tahu bahwa anak kesayangannya telah kembali ke Tuban. Hanya saja beliau tidak kembali ke Istana kadipaten Tuban secara langsung, melainkan singgah terlebih dahulu ke tempat sunan Bonang. Untuk mengobati kerinduan dengan ibunya Raden Said tidak jarang mengarahkan ilmunya yang tinggi.

Belaiu mengarahkan ilmunya yang tinggi dengan membaca al-Qur’an jarak jauh yang kemudian di kirimkan ke istana Tuban. Suara lantunan ayat al-Qur’an Raden Said sangat merdu benar-benar menggetarkan dinding istana kadipaten. Bahkan mengguncangkan isi hati kadipaten tuban dan istrinya.

Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya, karena tidak mau kedudukan adipati Tuban di berikan kepada cucunya yaitu Dewi Raswulan dan Empu Supa. Kemudian Raden Said melanjutkan perjalanan dakwahnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat di terima oleh masyarakat.

Dalam melakukan perjalanan syi’ar Islam, di pinggiran sebuah hutan yang lebat, beliau di cegat oleh segerombolan perampok yang terkenal kekajamannya. Dengan polos wali yang dikenal dengan sebuatan sunan Malaya ini mengatakan bahwa beliau tdak memiliki harta yang banyak. Namun para perampok tersebt tidak mempercayainya.

Kemudian para perampok tersebut memeriksa sunan Kalijaga, dan beliau hanya tersenyum saja. beliau bertekad untuk memberi palajaran kepada perampok agar kembali kepada jalan yang benar. ketika mereka semua mulai menyerang dengan tenang sunan Kalijaga mengibaskan kain panjang yang tersampir di pundaknya dan para perampok tersebut terpental karenanya.

Melihat hal tersebut, pimpinan perampok semakin nekad untuk menyarang sunan Kalijaga. Saat pimpinan perampok mendekati sunan Kalijaga, beliau menggunakan ilmu malih rupa. Saat itu, pimipinan perapok ingin menyabetkan pedang kepada sunan Kalijaga, dengan sunan Kalijaga tidak menghindar, ia membiarkan pedang menancap ke tubuhnya.

Melihat kejadian tersebut beberapa anak buah pimpinan perampok ingin melabraknya, begitu ia melompat sebuah tangan halus menahan gerakannya.

Belum sempat beliau membuka mulut, dengan penuh wibawa sunan Kalijaga berkata, ” Jangan panik, yang di serang hanyalah pohon asam, bukan aku !”

Ketika anak buah perampok tersebut, terdegar suara lembut sunan Kalijaga menambahkan, “Jika ingin tahu pejamkan matamu, lihatlah dengan mata batinmu, maka kamu akan tahu apa yang terjadi.”

Beberapa anak buah perampok tersebut melakukan apa yang di katakan oleh sunan Kalijaga. Karena hal tersebut kemudian para perampok bertaubat dan kemudian masuk Islam.

Menurut beberapa cerita yang ada sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh yang merupakan putri dari Maulana Ishaq dan mempunyai putra dan puteri Raden Umar Said (sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah," cerita Pakde panjang.

Aku menyimak dengan tekun. Apa kaitannya dengan Pakde cerita tersebut?

(Bersambung)


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pinknam00 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
Halaman 1 dari 48
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
senandung-black-n-blue
Stories from the Heart
misteri-jodoh
Stories from the Heart
serenade-senja
Stories from the Heart
mencari-yang-tak-kembali
Stories from the Heart
cerpen---kamu
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.