Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
45
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca397920577a95eb81913fe/nirmana-tentang-cinta-terpendam-dan-warna-warni-kehidupan
Cerita ini merupakan cerita kedua yang ane tulis di SFTH Kaskus. Cerita ini ane tulis sekitar empat tahun yang lalu ketika ane masih kelas 2 SMA dan tetap menjadi draf di lapton ane. Setelah ane pikir-pikir, ane pengen berbagi cerita ini ke kalian dan mohon maaf jika ceritanya acak adul karena berbentuk diary masa SMA (tentang teman
Lapor Hansip
03-04-2019 00:10

Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)

Past Hot Thread
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)



Sinopsis

   


Curhat Sejenak

Di semasa SMA ini banyak banget hal yang belum pernah gue temuin sewaktu masih di SMP. Hal-hal baru mulai berdatangan, seiring dengan usia gue yang mulai dewasa. Walaupun hal itu begitu asing bagiku, namun gue mencoba untuk memilih segala hal yang baik untuk gue.

Di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, rasanya sulit banget untuk menutup diri agar tidak terpengaruh oleh kemajuan teknologi. Budaya-budaya asing yang saat ini terdapat dilingkungan sekitar kita, tak dapat kita pungkiri kalau itu sudah melebur didalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Sehingga membuat budaya-budaya asli negeri ini terabaikan, jujur saja gue juga kadang lupa sama budaya negeri sendiri.

Handphone, android , laptop atau gadget apalah kini dapat kita jumpai dimana-mana, sedangkan mainan tradisional malah jarang sekali kita temukan karena semuanya serba modernisasi. Orang Indonesia itu aneh, dengan budaya sendiri masa bodoh namun waktu bangsa lain mengklaim budaya negeri baru marah-marah. Itu akibatnya kalau menyia-nyiakan budaya negeri sendiri, sama halnya kayak kita punya pacar namun pacar kita pergi dengan orang lain yang lebih perduli dengannya karena tlah kita abaikan lalu kita marah-marah, siapa yang harus disalahin ? diri sendiri kan.

Indonesia adalah sebuah negara yang sangat kaya raya akan budayanya, hasil lautnya, hasil buminya, bahan tambang pula, hutan dan tanah yang subur. Kita lahir disana, besar disana, hidup disana, makan disana, tidur disana, sekolah disana, maaf pub disana juga, seharusnya kita cinta  dan bangga akan negeri ini.

Jujur gue adalah asli orang Jawa, Jawa itu terkenal orangnya halus dalam berbahasa, lembut ucapanya, baik tata kramanya namun aku sudah mulai enggan berbahasa jawa yang baik dan halus, itu merupakan salah satu bukti kalau nilai-nilai bangsa ini sudah mulai memudar. Pendidikan karakter disekolah sudah mulai melemah, sebagai para penerus bangsa kita harus berkarya untuk Indonesia serta mengajarkan nilai-nilai yang baik bagi masyarakat terutama anak-anak lewat karya kita. Pidato sejenak, karena gue tuh orangnya suka berpidato sendiri atau paling enggak di depan salah satu teman gue, kadang di kantin atau di kelas lebih-lebih di kamar mandi. Selain untuk memberikan nasihat untuk orang lain juga untuk menasihati diri gue sendiri.

Malam ini gue pusing, mikir pelajaran banyak banget. Kepala penuh, gak ada ruang yang tersisa untuk bersantai sejenak. Jadi pelajar ada susah ada senangnya juga apalagi harus membagi waktu. Daripada nanti tambah stress berhenti sejenak aja, gue ambil hp disamping gue lalu  gue putar sebuah lagu untuk mengistirahatkan otak atau bahasa inteleknya cooling down. Bersamaan dengan alunan lagu yang menuju ke saraf-saraf telingaku, gue pergi kedapur untuk membuat secangkir kopi, lumayanlah buat cuci mulut yang udah gak sabar ingin menikmati sensasi dan kenikmatan dari secangkir kopi. Gue buka laptop, gue coba untuk menulis beberapa kalimat meski hanya sedikit untuk melepas penat dalam pikiran gue. Sendiri dikamar gue tengkurap menindihi guling yang sehari-hari menemani gue saat tidur.

Saat ini gue belajar mengetik tanpa melihat keyboard, kaku banget tangan gue, gue mencoba sabar dan terus sabar. Dalam hati gue berkata kok gak bisa-bisa ya, apa gue yang gak bakat atau memang gak cocok. Meski begitu gue tetap berusaha lanjut, namun pada kalimat ke sembilan gue nyerah. Gue akan mencobanya kembali besok dan seterusnya, ya udah pada akhirnya gue nulis ini sambil liat keyboard sesekali.

Jam menunjukkan pukul 19.21, jam segini kalau dibuat tidur kagak seru juga, mau belajar masih pusing, padahal masih banyak tugas yang belum gue kerjain. Pulang sekolah pukul 14.30, jarak antara rumah sama sekolah 15 km, waktu yang di tempuh kurang lebih 25 menit. Sampai rumah udah loyo, habis makan buka laptop liat film kemudian mandi sholat mau tidur udah gak ngantuk jam segitu. Malemnya mungkin buka facebook, lihat pemberitahuan, buat status, trus comment, kalau gak gitu main game online. Biasanya cuman dua jam gue internetan lalu pulang, dirumah coba buka buku pelajaran barangkali ada tugas dari guru.

Gue juga jarang banget nonton TV semenjak SMA ini, jadi habis belajar tidur deh. Bangun-bangun jam setengah 6 pagi, sebenernya jam 5 pagi tapi gara-gara males jadi molor sampai jam segitu. Habis bangun kuterus mandi tak lupa kugosok gigi, kayak lagu aja. Kupakai seragam sekolah gue dengan rapi, gue ambil deodoran dari rak belajar gue lalu gue poleskan disela kedua ketiak gue, bulu-bulu yang tadinya kisut seakan segar kembali bersama harumnya bau deodoran. Tak lupa pula gue semprotkan minyak wangi ke sekujur tubuh, sentuhan terakhir kusisir rambutku dengan sebuah sisir yang berbalut minyak rambut sehingga diri ini nampak rapi dan juga klemis.

Banyak yang bilang gue gak pantes kayak gitu, katanya culun, gak gaul, gak keren, tak apalah karena keren menurut gue ama menurut mereka mungkin beda jadi gue PD aja. Setelah penampilan gue rasa oke, gue ambil helm gue yang biasa kupakai sehari-hari, INK warna merah standart SNI, beserta kunci motor gue, sebelum berangkat gue pamit ama orang tua gue, sehabis itu kunyalakan mesinnya sambil kumasukkan geriginya, , langsung kutancap gas ngeeeeeeeeeeeeeng cukup 60km/jam gak lebih, kalau lebih cuma dikit. Gue pun berangkat sekolah dengan senyuman bak mentari pertanda dimulainya hari beserta doa dengan harapan semoga diberi keselamatan diperjalanan, dan juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri, bangsa , dan negara.

Begitulah keseharian gue seakan menjadi sebuah siklus yang tak pernah ada habisnya, udah dua bulan ini gue dikelas 2 SMA tapi rasanya masih belum ada yang spesial. Kenangan dari temen-temen gue dikelas 1 SMA waktu itu masih tampak jelas di dalam fikiran gue, detik ini ditemani suara ketikan dari kedua jari jemariku, gue ingin mengenang kembali segala kenangan dari temen-temen gue dari awal bertemu. Mereka adalah sumber dari segala inspirasi dan pelajaran yang membuatku bisa menjadi seseorang yang berarti, gue tertawa dan sedih juga bersama mereka, bagiku tiada hari yang paling indah selain dapat berkumpul bersama bareng mereka.
 


Diubah oleh sandriaflow
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wanitatangguh93 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
05-04-2019 11:23
Sekolah Baru Kawan Baru

Juli 2013, bulan itu adalah bulan dimana musimnya para peserta didik baru yang melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu gue baru saja lulus dari SMP, dan kini gue sudah diterima di sebuah sekolah yang bernuansakan islami yang biasa disebut madrasah yang otomatis cewek pakai kerudung dan cowok pakai pakaian biasa ( tapi disini gue sebutnya SMA aja biar mudah).

Hari pertama gue masuk ke sekolah itu yaitu disaat pihak sekolah mengadakan sosialisasi tentang pendataan kelas, pagi-pagi gue berangkat untuk menjemput temen gue yang sama-sama mendaftar disekolah tersebut. Namanya Badaru, orangnya kurus, putih, wajah jerawatan, rambut acak-acakan, humoris, pinter dan baik hati.

“Ayo berangkat bro, loe yang nyetir gimana ?” sahut gue

“Gimana ya ? oke deh pamit dulu” dengan nada sungkan ia jawab pertanyaan gue.

Soalnya beberapa minggu yang lalu motor gue bagian belakang lecet karena disenggol motor dari belakang dan pada waktu itu dia yang nyetir jadi saat ini dia agak canggung dengan gue. Namun rasa canggung itu kini sudah gak ada lagi, sesampainya diparkiran sekolah gue langsung cari temen-temen gue dari SMP yang juga sekolah disitu sambil melepas rindu karena beberapa hari tak ketemu.

Selang beberapa waktu, bel berbunyi dilanjutkan oleh pengumuman dari panitia penerimaan peserta didik baru yang ditujukan untuk calon peserta didik untuk segera memasuki aula. Didalam aula suasana tampak asing bagi gue, karena dari sekian banyak orang hanya beberapa saja yang mungkin gue kenal. Daripada pusing memikirkan hal tersebut, lebih baik santai aja. Didepan gue ada pria kriting, putih, sedang asyik ngobrol sama Badaru. Namanya Bahrul, orang pertama yang gue kenal di SMA ini sekaligus kini mejadi teman akrab gue. Badaru dan Bahrul pernah kenal satu sama lain di sebuah acara antar sekolah, gue yang tadinya diem kini gabung ngobrol sama mereka.

Tiba-tiba dari depan seorang guru datang, yang kini sering disapa Bu Srinatun. Beliau adalah bagian dari petugas ketertiban yang tugasnya menertibkan anak-anak bandel yang gak tau aturan, sorry gue enggak termasuk yang begituan. Dengan ucapan salam beliau membuka acara pada pagi hari itu, lalu memberikan sepatah atau dua patah kata sebagai sapaan bagi anak-anak yang mungkin masih belum terbiasa dengan SMA ini. Beliau orangnya lucu, tapi kebanyakan temen-temen nganggepnya serem, ya memang bener kalau beliau serem kalau gak serem mungkin banyak muridnya yang gak tertib. Ditengah-tengah acara, dengan suara lantang

“SMA Green !!” teriak beliau
“................” semua pada diem, mungkin pada bingung gak bisa jawab, karena hal tersebut suasana aula menjadi hening. Melihat kejadian itu beliau paham kalau kita pada gak tau apa maksudnya.
“Anak-anak kalau saya bilang SMA Green, jawabnya cerdas, terampil, berakhlakul kharimah, dengan penuh semangat semua mengepalkan tangan lalu diangkat semua. Baik sekali lagi SMA Green !!” sambung beliau.
“CERDAS, TERAMPIL, BERAKHLAKUL KARIMAH” teriak kami dengan kompak.
Tiga kata itulah yang menjadi dasar dan menjadi semboyan SMA ini, singkat namun mengandung makna yang sangat mulia.

Setelah segala informasi disampaikan, anak-anak disuruh untuk masuk ke ruangnya masing-masing. Habis itu gue cari dimana kelas gue berada, alhasil ketemu juga tepatnya diruang lima. Hari itu gue duduk dengan temen gue yang bernama Wahyu salah satu teman gue dari SMP, gue dari dulu jarang banget komunikasi sama dia dan disaat inilah gue jadi sering ngobrol sama dia. Entah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan , Bahrul sekelas dengan gue. Awalnya gue juga tak menyangka sama sekali, tapi gue seneng kalau bisa sekelas denganya karena dari awal kenal sama dia udah ada rasa kecocokan dalam diri gue, soalnya gak mudah bagi gue untuk bisa bergaul dengan seseorang.

Hal yang pertama dilakukan dikelas baru yaitu pemilihan pengurus kelas, gue jadi deg degan. Saat itu perasaan campur aduk bagaimana kalau gue yang jadi ketua kelas, apa kata adek gue (bukan adek kandung). Untung kakak OSIS yang mendampingi dikelas tidak menunjuk seseorang untuk menjadi ketua kelas, namun ia mempersilahkan temen-temen gue yang ingin menjadi ketua kelas untuk maju ke depan dan mempromosikan dirinya. Setelah pemungutan suara dilakukan akhirnya dari ketiga calon yang maju kedepan, Bahrul lah yang terpilih untuk memimpin kelas ini. Tugas pertama bagi ketua kelas yang baru yaitu memilih rekan-rekannya sebagai pengurus kelas yang lain.

Ditengah suasana kelas yang masih asing itu, panitia datang kekelas gue untuk memberitahukan beberapa informasi seputar kegiatan MOS yang akan dilakukan besok lusa. Masing-masing kelas, diharapkan untuk membuat yel-yel, hasta karya, serta papan nama berisikan biografi diri masing-masing. Kemudian kakak OSIS menyuruh Bahrul untuk mempersiapkan ketiga hal tersebut. Pertama kali yang dipersiapkan adalah yel-yel, kalau gak salah ada dua yel-yel yang dibuat oleh kelas gue. Namun hanya satu yel-yel yang gue inget yaitu lagu dari salah satu acara di televisi yang lagi booming waktu itu kemudian diganti kata-katanya.

“Kami datang membawa cinta, kami datang membawa ceria......bersama diiiiiiiiiiiiiiivisi lima, asik” begitulah yel-yelnya.
Setelah yel-yel jadi, ganti mempersiapkan apa yang akan dibuat untuk hasta karya. Teman-teman pun memutuskan untuk menyerahkan tugas hasta karya kepada gue dan ketiga temen gue yang rumahnya berdekatan, yaitu Badaru, Hamdan, Winda, kamipun memutuskan untuk membuatnya besok di rumah Winda.

Mereka bertiga merupakan temen sekelas gue sewaktu SMP, si Hamdan orangnya tuh hitam, manis, mentalnya tinggi, suka ngeband, si Winda orangnya cantik,pinter,baik, manis gitu deh. Dan untuk persiapan terakhir yaitu papan nama, rasanya adalah persiapan yang paling sulit. Kenapa? Karena konsep yang diajukan terlalu ribet padahal bisa dibuat simple. Awalnya kita pengen buat papan nama dengan bingkai batik supaya kesannya cinta Indonesia serta seluruh kelas dapat seragam, namun ditengah-tengah musyawarah konsepnya diganti lagi dengan menggunakan bingkai warna hijau dan pink wah tambah kacau lagi kelas.

Yang tadinya suasana hening menjadi pecah karena banyak tidak setuju dengan rencana tersebut. Jujur waktu itu gue panas banget hati sudah meluap-luap serta tenggorokan sudah mulai mengering karena kehausan ditambah atmosfir dalam kelas yang begitu pengap. Gue tuh orangnya kreatif jadi gue berpendapat agar masing-masing membuat papan nama sesuai dengan kreatifitasnya sendiri. Namun usul gue masih gagal dengan alasan bahwa kelas seharusnya kompak tidak berdiri sendiri-sendiri. Melihat hal itu kakak OSIS pun angkat bicara.

“Dek, kenapa harus ribet kayak gitu sih... pake kertas manila aja lalu dikasih mika gak repot-repot, lalu untuk talinya bisa beli perwakilan. Udah sore nih sebaiknya kita pulang” dengan nada marah disertai muka merah meredam amarah beserta keringat yang menyelimuti wajahnya.
Akhirnya semuanya sepakat dengan saran yang disampaikan oleh kakak OSIS tadi. Kini hati gue mulai lega, sehingga gue bisa bernafas dengan leluasa diperjalanan pulang tanpa ada hal yang mengganjal di fikiran gue.

*****

Mentari pagi telah menampakkan sinarnya yang penuh berkah kepada seluruh manusia yang ada dimuka bumi ini. Semangatnya yang tiada henti untuk menyinari alam ini hingga nanti waktu berhenti berputar, seakan menggerakkan hati serta menggerakkan sekujur tubuh ini untuk bangkit dan beraktivitas.

Hari ini gue ada janji untuk berkumpul di rumahnya Winda guna membuat hasta karya untuk persiapan MOS, gue harus tampil bagus hari ini, apalagi kalau ketemu orangtuanya, gak enak kan kalau hanya berpakaian seadanya, gue berpikir kesan pertama main ke rumahnya harus WOW. Setelah gue rasa penampilan udah oke, oh sial motor gue dipakai sama nyokap gue (biar keren, gue biasa manggil ibu gue emak). Berfikir dua kali deh, ya udah gue putusin untuk pinjem sepeda motornya paman gue meski dengan berat hati dipaksain deh. Motor Supra model lama, knalpot brut brut kayak motor balap , dengan itu gue berangkat. Perasaan percaya diri gue yang begitu besar tadi seakan musnah sekejap saja, hemmmm nasib.

Ditengah perjalanan, dari kejauhan gue lihat-lihat kayak kenal, gue perhatikan lebih detail, eh ternyata Hamdan. Gue heran rumahnya Winda kan arahnya ke barat tapi dia kok ke arah timur
“Bro (bahasa keseharianku kalau ketemu temen, gini gini gaul juga gue) mau kemana loe ?” tanyaku penasaran.
“kril...krik....krik” gak ada respon, soalnya dia lagi asik-asik telponan sama....? sama siapa ya gak tau aku.
“ Hoiiiiiiiiiii !!!!“ bentak gue
“Sorry bro, aku mau ke rumahnya Putri.... duluan aja loe ke rumahnya Winda ?” jawabnya dengan muka keburu-buru.
“Ya udah kalau gitu bro, semangat !!”

Lanjut lagi nih cerita, perjalanan gue terusin sambil gue coba cari-cari belokan ke arah kanan. Beberapa menit kemudian , ketemu juga belokan ke rumahnya Winda. Dari situ kebingungan gue belum hilang, katanya rumahnya dikiri jalan ada mebel tapi gue cari-cari kok gak ketemu. Tiba-tiba ada sosok lelaki dengan rambut kisut, wajah memelas, bersandingkan koran bekas duduk diteras rumah seseorang lalu gue samperin dia. Eeeeeh, ternyata Badaru
“Untung lo ada disini, kalau gak ada lo gue pasti bingung cari nih rumah !!!”
“Hahahahaha, keterusan lo ya. ...?” jawabnya ngeledek.

Sambil nunggu Hamdan, gue ngobrol sama dia tentang konsep hasta karya yang akan dibuat nanti. Lalu Winda dateng dengan menawarkan beberapa konsep hasta karya yang akan dibuat nanti.
Tak berapa lama kemudian pun Hamdan datang, kami berempat akhirnya memutuskan untuk membuat tempat tisu dari kardus dan koran bekas, awalnya gue loading, gue kira itu tempat buat nabung soalnya ada lubang ditengahnya buat masukin koin, hampir gak ada bedanya. Bayangin aja bentuk kotak tengah ada lubangnya kalau gak tempat tisu ya celengan.
Yah karena kebloonan gue tadi temen-temen pada nertawain gue. Kemudian kami bagi tugas ada yang buat kotaknya dulu lalu membuat ornamennya dengan koran yang di gunting lalu digulung-gulung. Setelah 2 jam membuatnya tinggal sentuhan akhir yaitu melekatkan gulungan koran ke kardus yang dibuat tempat tisu tadi. Karena sudah siang kami bertiga pamit pulang, semua urusan sudah dipasrahkan kepada Winda. Gue udah gak sabar untuk besok hari pertama MOS.

Hari Ke-1

Sial , hari ini gue bangun telat gara-gara semalem main GTA san Andreas sampai larut malem jadi gini deh kesiangan. Langsung cepat-cepat mandi gue, seadanya aja gak pikir bersih atau enggak yang jelas gue ingin sampai tepat waktu disekolah. Kalau hari pertama gue telat APA NANTI KATA DUNIA ? setelah keperluan sudah lengkap, gue berangkat sekolah dengan rasa tergesa-gesa. Jujur gue takut banget kalau nyetir sambil tergesa-gesa bahaya banget soalnya, apalagi kalau agak siang jalannya padat tambah molor lagi sampai disekolah. Gue pasrah aja dan berdoa moga-moga gue gak telat. Doa gue terkabul, dari belakang ada siswa baru yang sekolahnya juga sama dengan gue. Rasanya mulai tenang, toh kalau terlambat ada temennya, beberapa menit kemudian akhirnya gue sampai tepat waktu disekolah.

Acara pertama di hari ini yaitu upacara pembukaan MOS, anak-anak disuruh berkumpul dihalaman sambil mamakai papan nama masing-masing lalu bareng-bareng menuju lapangan. Di belakang gue ada sosok pria berambut rapi, gaya gaul dengan gelang karet tangan ditanganya.
“Namamu bagus bro, Alfian kayak nama cat aja !!” ucap gue
“Heehheeee, iya bro “ jawabnya sambil senyum.

Setelah beberapa lama ngobrol akhirnya kita makin akrab aja, kemudian panitia menyuruh seluruh siswa agar secepatnya menuju ke lapangan. Tik tik tik, lama-lama makin deras hujan mengguyur tempat ini, Alhamdulillah itu hanya sebentar saja.

Acaranya tetap berlanjut, hal-hal yang menarik sewaktu upacara pembukaan MOS adalah pengenalan-pengenalan ekstra disekolah ini dengan cara dan gaya masing-masing ekstra. Bagi anak karate caranya mempromosikan grupnya dengan memecah es batu dengan kepala, bagi anak paskib dengan cara baris kreasi, serta masih ada banyak lagi. Selain hal itu yang membuatku tertarik adalah sambutan dari kepala sekolah yang sangat ramah sama siswa-siswanya, kakak kelas biasa memanggil beliau Bunda.

Beliau senantiasa berpesan baik kepada kelas satu,dua,atau tiga bahwa jika kita ingin sukses ada lima cara yang dapat ditempuh: Melihat dan membaca yang baik, sering beristighfar kalau berbuat salah, jangan lupakan masjid, makanan dan minuman yang baik, cari teman yang baik. Kelima cara itulah kunci menuju kesuksesan.

Upacara telah usai, kini semua peserta MOS diperkenankan kembali keruangannya masing-masing. Didalam kelas pelajaran yang pertama adalah menyanyikan lagu Mars SMA, ini nih yang paling gue senengin, pelajaran menyanyi soalnya gue tuh demen banget sama yang namanya nyanyi, dari kecil hingga kini , mau susah atau sedih eh maksud gue seneng. Dari pagi sampai malem , pokoknya gue selalu bernyanyi...always gitu loh. Gue sadar suara gue tak sebagus penyanyi di TV, banyak juga orang yang gak seneng kalau gue nyanyi, tapi gue cuek aja bro. Yah jadi curcol, balik lagi ke cerita pertama kakak OSIS menulis liriknya dipapan tulis bukan di dinding kelas, nanti kena marah sama Bu Srinatun lho kena poin lagi hehehehe.

Setelah selesai menulis, kakak OSIS menyanyikan lagu tersebut dan ditirukan oleh semuanya. Dengan penuh semangat kami pun menyanyikannya namun gagal, semua nada kacau gak ada yang duduk atau biasa dibilang fals. Jadi ketawa sendiri deh, setelah di ulang beberapa akhirnya kami lumayanlah bisa menyanyikannya dengan benar.

Teeeeeeeeeet, bel istirahat telah berbunyi gue rileks sejenak sambil mencoba kenalan sama temen-temen yang lain.
“Bro, nama lo siapa ?” Tanya gue
“Hilmi Pak”
“Kalau Lo ?”
“Gue Angga”

Hilmi orangnya gendut, item gue gak terlalu deket sama dia, sedang Angga item, kalem, agak loading kalau diajak bicara aku dan dia kini kayak BFF (Best Friend Forever). Awal kenal si Angga nih agak aneh, gue ngerasa kasihan sama dia soalnya wajahnya itu loh yang penuh iba tapi lama kelamaan biasa, malah gue yang jadi iba sama diri gue sendiri karena gak bisa ngebedain muka iba sama yang biasa.
15 menit kemudian bel tanda masuk berbunyi, acara selanjutnya yaitu pengenalan sekolah, semuanya berkeliling sekolah sambil mencatat letak ruang-ruang yang ada disekolah. Serangkaian kegiatan telah terlewati, jam telah menunjuk pukul 13.00 waktunya pulang.

Hari ke-2

Hari ini biasa-biasa gak terlalu spesial beda ama kemaren. Yang paling berkesan di hari ini adalah diskusi kelompok membicarakan tentang fenomena sosial. Kami dibagi menjadi 8 kelompok, aku tergabung dalam kelompoknya Reyna dan Hanis. Reyna orangnya pinter dan jenius, sedang Hanis pendiem, putih , serta agak gendut. Kami kebagian tentang masalah facebook, kamipun berdiskusi seputar bahaya dan manfaat fecebook. Disaat kami sedang berdiskusi, kakak OSIS menyuruh temen-temen yang sudah siap dengan materinya disuruh maju ke depan.
Yang maju pertama kelompoknya Hamdan, dia bahas tentang fashion jaman sekarang seinget gue yang satu grup sama dia yaitu Adina, cewek kecil, cantik, putih, agak menyebalkan juga menurut gue. Hasil diskusi selesai disampaikan dan tiba saatnya sesi tanya jawab,

“Saya mau tanya”
“Ya silahkan” jawab mereka
“Nama saya Mochamad Ogi Sandria, saya ingin bertanya bagaimanakah pandangan kalian bagi orang-orang yang berjilbab namun pakaiannya tidak sopan atau bisa dibilang ketat?” dengan tempo cepat karena deg degan
“Maaf bisa diulangi”
“Nama saya Mochamad Ogi Sandria” jawabku kebingungan karena gue kira dia tanya nama gue bukan pertanyaan gue
“YA SUDAH TAHU” jawab semua orang yang ada didalam kelas, semua tatapan tertuju ke arah gue.
Dengan rasa malu gue menutup mata gue eh sorry wajah gue, namun gue gak perduli dengan semua itu lalu gue pun tertawa terbahak-bahak menertawai diri sendiri. Beberapa kelompok telah maju dengan materinya masing-masing, giliran kami maju pun tiba, dengan harapan agar bisa disambut baik oleh teman-teman kami pun maju.

Namun apa yang terjadi ? Oh no, perasaan gue kecewa sekali lagi AKU KECEWA !!! semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing gak ada satupun pandangan yang tertuju kepada kami, akhir kata kamipun langsung mengakhiri diskusi ini. Sedih banget hari ini, karena tak dianggap oleh orang lain.

Hari ke-3

Hari terakhir MOS adalah hari yang paling berkesan, kayak di film-film atau dalam kisah apapun pasti hal yang paling berkesan letaknya dipart akhir. Maaf sebelum dibantah, maksud gue tadi kebanyakan kayak gitu, soalnya ada juga yang paling berkesan itu di bagian awal.

Acara pagi ini yaitu pensi, semua siswa disuruh berkumpul diaula. Setelah semua berkumpul, pensi dibuka dengan lagu “Demi Cinta” yang dibawakan oleh seorang vokalis yang keren di SMA itu, diiringi dengan denting suara piano yang mengalir lembut beserta petikan gitar yang begitu indah. Terbayang jika saja gue yang membawakan lagu tersebut, pasti Pecah....Pecah......Pecah , semua tutup kuping karena suara gue yang begitu merdu memecahkan dunia cetar dan membahana. Hemmmmm gak gitu juga keles, nada terakhir tlah dimainkan pertanda habisnya sebuah lagu, gak tau kenapa hati ini seakan ingin menangis saat gue memahami apa isi lagu tersebut yaitu ketika seseorang harus merelakan kekasihnya pergi, gue yakin semua yang mendengarkan lagu itu berfikiran sama kayak gue.

Acara dilanjutkan dengan penampilan teater yang dibawakan oleh grup drama yang bernama “LEINTERA” , cerita yang dibawakan juga cukup menarik lumayanlah buat ngocok perut, temen-temen yang tadinya galau jadi ceria lagi. Ceritanya itu tentang sembilan bidadari yang turun dari kahyangan dan seorang pemuda miskin. Sewaktu mereka mandi di sungai pemuda itu mengambil salah satu selendang bidadari tersebut. Namun apa yang terjadi ? yang diambil adalah selendang dari bidadari yang begitu buruk rupanya sehingga pemuda tersebut menyesal karena telah mengambil selendang yang salah.

Sewaktu temen-temen asyik menikmati penampilan-demi penampilan, tiba-tiba seluruh tirai jendela ditutup oleh kakak OSIS serta pintu yang dikunci rapat, aula menjadi redup. Lalu, kami disuruh menunduk, serta merenungi segala kesalahan-kesalahan yang telah kami perbuat. Kami bingung dan hanya menuruti ucapan kakak OSIS, tak berapa lama suara tangis kemudian terdengar satu persatu, hati ini yang tadinya beku kini ikut menangis karena terbawa suasana. Perlahan kami semua sadar dan berkeyakinan bahwa kami akan menjadi orang yang lebih baik kedepannya.

Sebagai puncak acara adalah pemilihan Mas MOS Miss MOS , jadi beberapa peserta MOS yang terbaik dikumpulkan dan di seleksi untuk dicari yang terbaik. Namun sayang gue gak kepilih, ya mungkin karena gue gak terlalu menonjol, jadi ya gak papa.
Tiba saatnya puncak acara yaitu penutupan kegiatan MOS yang dipimpin langsung oleh ibu kepala madrasah dengan mengucapkan semboyan SMA Green yaitu CERDAS,TERAMPIL,BERAKHLAKUL KARIMAH pertanda kegiatan MOS usai. Gue dan semuanya akhirnya resmi menjadi siswa di sekolah tersebut.
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
05-04-2019 15:39
tumben ga ada cerita pendamping dari kakak kelas yang lucu, cakep dan imut... emoticon-Embarrassment
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
06-04-2019 22:47
Quote:Original Posted By shafanya
tumben ga ada cerita pendamping dari kakak kelas yang lucu, cakep dan imut... emoticon-Embarrassment


Hehe, ane cerita real gan. Gak ada kakak kelas di sini wkwkwk
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
12-04-2019 21:54

Ikatan Dalam Sebuah Drama

Setelah kegiatan MOS selesai, ruang yang tadinya kami tempati kini telah berganti kepemilikan. Kami menempati ruangan lain yang kini kerap disebut kelas XB, disinilah awal mula gue bertemu orang-orang spesial dengan latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda pula , yang memberikan segala motivasi didalam hidup gue untuk senantiasa berjuang sampai akhir.

Pelajaran pertama yang gue terima hari ini yaitu Biologi, gurunya asik dan enak kalau ngajar, beliau biasa di sapa bu Maya namun jangan di plesetin jadi buaya, hahaha mentang-mentang guru Biologi yang erat kaitannya dengan hewan lalu seenaknya saja dipanggil buaya.

Diawal pertemuan beliau hanya berkenalan saja dengan kami serta memberikan gambaran bagaimana cara beliau mengajar. Guru-guru disini lumayan asik ya, kalau gue sebutin satu persatu mungkin terlalu panjang nanti, jadi hanya beberapa yang gue ceritain nanti. Pertemuan pertama dengan bu Maya begitu singkat hanya satu jam pelajaran, lalu dilanjutkan pelajaran yang lain.

Gue kini juga udah mulai akrab sama bangku samping kanan gue yang sebangku sama Alfian namanya Piter, saat pertama kali gue liat dia kukira dia orangnya nakal, playboy soalnya gantengnya lumayanlah, hiks hiks lebih ganteng dari gue. Tapi pandangan gue berubah 180 derajat setelah gue kenal baik sama dia, ternyata orangnya baik kok, tapi dugaan kedua gue memang bener dia agak playboy namun kelasnya masih rendah dalam tingkatan keplayboyan.

Sekarang gue sudah kenal sama semua cowok dikelas gue termasuk Tadin dan Malik temen sekelas gue dulu. Maaf nyebutinnya belakangan karena belum ada waktu yang pas untuk nyebutin mereka berdua, gue hanya dekat dengan Malik, cowok kecil dan unik.

Namun ada satu orang cowok yang menurut gue paling menyebalkan dan susah untuk diajak bergaul namanya Aris, memang dia itu lucu dimata temen-temen yang lain tapi bagi gue enggak banget, leluconnya itu terlalu berlebihan. Sifatnya itu masih dapat gue maklumi namun hal yang paling gue benci darinya yaitu ia tidak punya sopan santun serta tak bisa menghargai orang lain. Jam demi jam telah terlewati, bel pulang pun telah berbunyi saatnya gue mengemas barang-barang gue.

Ketika kaki ini hendak melangkah keluar, sosok misterius datang menghampiri kelas gue. Dengan memberi kabar bahwa , akan dilaksanakan MOGD dan perlengkapan yang harus dibawa ini itu serta masing-masing kelas harus membuat drama berdasarkan nama pahlawan yang telah ditentukan. Kelas kami kebagian Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tokoh yang menjadi pelopor berdirinya organisasi yang bernama pramuka.

Kami pun sepakat untuk memulai latihannya besok, untuk skenario dari cerita dipasrahkan kepada Adina. Keesokan harinya setelah skenario jadi, kami membagi peran tokoh dalam cerita. Pembagian peran ini pada awalnya sedikit rancu karena banyak yang berganti-ganti peran, namun pada akhirnya peran telah ditetapkan secara mutlak tanpa ada perubahan lagi.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX diperankan oleh Hamdan, Winda sebagai istrinya, Badaru sebagai ajudannya , Hilmi sebagai Bung Karno. Malik, Piter , dan Aris menjadi Menir Belanda, dan gue yang dulunya tak punya peran kini menjadi Ir.Juanda (gue merasa tak pantas). Sedangkan beberapa temenku yang lain berperan sebagai rakyat jelata, sisanya jadi suporter.

Langkah pertama yang dilakukan adalah memahami peran masing-masing dipahami dan dihayati dalam-dalam supaya bisa masuk dalam cerita. Seusai mendalami perannya masing-masing, kini tiba saatnya untuk mencoba mempraktekkanya secara langsung. Beberapa hari latihan,hubungan kami makin kompak dan erat.

Seminggu sebelum hari pementasan, ada yang usul kalau seandainya drama ini dibuat lipsynk supaya lebih mudah dan praktis. Usulan tersebut diterima oleh semuanya, kami pun memulai sesi rekaman. Karena terbatasnya alat dan biaya, kami memilih merekam suara menggunakan HP, biaya rekaman di studio begitu mahal sedang uang kelas cukup untuk pendanaan persiapan MOGD. Meskipun begitu, kami tetap optimis untuk dapat menampilkan yang terbaik. Butuh waktu sehari untuk membuat rekaman dari keseluruhan peran, ketika rekaman jadi, butuh sehari lagi untuk mengeditnya serta menambahkan beberapa unsur sebagai pemanis cerita. Setelah semuanya siap kami hanya tinggal mencari kostum yang tepat untuk masing-masing peran.

Sehari sebelum pementasan kami latihan sekali lagi untuk memantapkan latihan-latihan sebelumnya. Untungnya kami tampil di urutan kedua setelah diadakan undian yang diwakili masing-masing ketua kelas. Pentas drama dimulai setelah pembakaran api unggun, saat penampilan pertama selesai tiba juga moment dimana kami harus tampil dengan maksimal didepan panggung ditonton oleh banyak orang.

Jujur gue merasa deg-degan banget, hal itu juga dirasakan oleh semua teman-temanku yang akan tampil. Dengan penuh percaya diri kami semua naik kepanggung, Sri Sultan Hamengkubuwana IX dengan pakaian batik khas Jawa serta keris yang diselipkan dibawah pinggang, ditemani istrinya memakai kebaya, lalu ajudanya memakai kaos kusut dibagian dalam ditambah kemeja orange dibagian luar, Bung Karno dengan ciri khasnya kopyah hitam agak miring, lalu para menir Belanda dengan pakaian nyentrik pinjaman dari salah satu grup drum band, ditambah para rakyat jelata dengan kaos oblong berkalungkan sarung ala hansip yang sedang berjaga malam hari, yang terakhir gue Ir.Juanda yang tak tahu harus memakai kostum apa karena tak ada kostum yang tersedia untuk gue, dengan berat hati gue hanya memakai pakaian pramuka rapi, itupun masih lebih baik daripada harus tampil tanpa busana bisa-bisa gue nanti dikira orang yang kabur dari rumah sakit jiwa. Oh ya satu lagi gue lupa, ada seorang narator yang memimpin jalannya drama ini itu adalah tugasnya Fitria. Tanda sudah diberikan dari operator belakang, menunjukkan drama sudah dimulai,

“Perkenalkan kami dari kelas X akan menampilkan sebuah drama yang berjudul Sri Sultan Hamengkubuwana IX, selamat menimati” seru kami bersama-sama

*Drama Kelas X-B*
Suatu hari dikediaman Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang sebelumnya bersuasana damai dan nyaman, tapi tiba-tiba digemparkan oleh kedatangan ajudan dengan berlari tergesa-gesa menghampiri sultan sambil membawa kabar buruk.
“Tuaaaan.....Tuaaaaaaan” teriak ajudan
“Ada apa ajudan?” tanya heran Sri Sultan Hamengkubuwono IX
“Mangap tuan, eh mangan punten tuan eh..” dengan terengah-engah ia menjawab
“Tenangkanlah dirimu ajudan, bicaralah pelan-pelan?”
“Begini tuan, uang khas negara kita sudah habis untuk membiayai pasukan gerilya, sedangkan keadaan diluar sana begitu kacau. Bagaimana ini tuan?” sambil menghela nafas.
“Apa ? ini tidak bisa dibiarkan” dengan raut wajahnya yang menampakkan kekejutannya terhadap situasi kondisi negeri pada saat itu.
“Bagaimana kalau kita sumbangkan sebagian harta kita untuk kepentingan mereka kangmas?” sahut istri Hamengkubuwono IX.
“Pendapat yang tepat diajeng, ajudan ambilkan amplop dimejaku sekarang ?”
“Baik tuan” dengan sigapnya ia mengambil map kosong disebuah meja yang telah disiapkan dipanggung sebagai properti. Map itu diumpamakan sebagai amplop yang berisi uang, hehehehe jangan salah paham ya
“Ini tuan, apa tuan yakin”
“Tentu ajudan, aku tidak ingin rakyat Indonesia diremehkan oleh Belanda. Dan sekarang antarkan aku ke kediaman Bung Karno” jawab beliau dengan bijaksana
“Baik tuan”
“Aku berangkat dulu diajeng”
“Tapi kangmas, keadaan diluar sana sedang kacau” dengan nada khawatir
“Sudahlah diajeng, akupun berangkat bersama ajudan dan insyaallah aku aman. Jangan khawatirkan aku, assalamualaikum” jawab beliau menyakinkan istrinya.
“Waalaikumsalam, hati-hati kangmas”
Beberapa saat kemudian sesampainya dikediaman Bung Karno.
“Assalamu’alaikum ya ahli kubur, eh salah assalamualakum” teriak ajudan sambil menggedor-gedor pintu.
“Waalaikumsalam, ada apa gerangan sampai sultan mau datang ke gubuk kecilku ini?” dengan nada kalem serta terdengar seperti anak SD sedang belajar membaca, hahaha maklum baru belajar akting pemerannya.
“Begini Bung Karno, aku mau memberikanmu ini?” jawab sultan sambil mengulurkan tangannya
“Apa ini sultan?” Bung Karno kebingungan
“Ini sebagian hartaku, sebagai ganti uang khas negara yang sudah habis”
“Oh iya terimakasih sultan, dan untuk membalas kebaikanmu, trimalah amanat dariku untuk membantu rakyat Indonesia yang mempertahankan bangsa kita ini”
“Pasti bung Karno, pasti”
“Merdeka!!” teriak Bung Karno
“Merdeka” balas sultan
Sepulangnya sultan bersama ajudan dari kediaman Bung Karno, sultan pun mengutus ajudan untuk mengumpulkan rakyat dilapangan.
“Woro-woro...woro-woro...woro-woro” teriak ajudan
“Ayo satukan tekad, untuk mempertahankan keadaan bangsa kita”sambung sultan
“Merdeka” teriak ajudan
“Merdeka” seru kekompakan dari para rakyat
“Tunjukkan jiwa patriotisme kalian” bentak sultan dengan berkobar-kobar penuh semangat.
“Merdeka” teriak ajudan menyambung kalimat terakhir sultan
“Merdeka” diikuti oleh rakyat secara serempak
“Jangan menyerah melawan Belanda” dengan tegas sultan berkata untuk memberikan keyakinan agar pantang menyerah.
“Merdeka” teriak ajudan lagi
“Merdeka” diikuti oleh rakyat sekali lagi
“Ini negara milik kita, rebut hak kalian untuk merdeka” kata-kata sultan kepada rakyat Indonesia agar mengambil apa yang telah diambil.
“Merdeka” teriak sultan keberapa kali ya..... oh empat kali
“Merdeka” diikuti oleh semua hadirin dan hadirat untuk keempat kalinya juga
Lalu terdengar perbincangan antara dua orang rakyat yang mendengarkan pidato sultan tadi,
“Eh sini sini sini, bener ya kata sultan ayo semangat” yang bicara saat ini Lia, penghayatannya cukup bagus.
“Iya benar” jawab si Angga, yang cuma kebagian dua kata iya dan benar kagak ada salahnya, toh kalau ada dimana letak kesalahannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari kerumunan ibu-ibu
“Eh, coba lihat disana !!”
“Eh itu kan anakmu mau diapakan mereka” dengan nada yang sedikit melengking dibagian akhirnya kira kira 8 oktaf kali, hahaha.
“Iya buk’e itu anak kita” sahut seorang bapak yang diperankan oleh Alfian
“Iya pak’e itu kan anak kita, ayo pak’e kita selamatkan mereka pak’e” ucap Tika sebagai seorang ibu dengan nada sedikit merengek namun terkesan tidak serius yang membuat suasana tegang menjadi lebih tegang lagi malah, hahahaha maaf ya.
“Tenanglah buk’e sultan pasti akan menolong anak kita” jawab si bapak
Melihat kejadian itu, sultan dan warga menyusun strategi untuk menyelamatkan mereka. Mereka bersembunyi mengendap-endap dibalik semak-semak.
“Ee kamu ee kamu, sekarang hari ini kita latian baris-berbaris. Kamu ikut saya sekarang, ayo” dengan logat ala menir Belanda , Qoisum memimpin antek-anteknya untuk mengikutinya
“Siap” jawab kedua bawahannya
Kamu.......buat aku tersipu , jeda sejenak sambil mendengarkan lagu dari cowboy junior. Saat lagu dimainkan, datang dua orang cewek yang lewat didepan ketiga antek Belanda tadi, melihat hal itu para antek Belanda terpesona melihat kedua wanita tersebut.
“kalian ini siapa?” tanya cewek tadi yang merupakan anak dari bapak dan ibu’e tadi
“Huzzz...Perkenalkan” Ucap Qoisum
“Kami...” sambung Malik
“Adalah...” sambung Piter
“Trio...” lanjut Qoisum
“Mas...” lanjut Malik
“Kentiiiiiir....lho kok aku yang kentir” dengan wajah sedikit kayak gitu juga sih waktu itu.
“Emang kamu yang kentir, goblok” ejek Qoisum
“Pergi sana” usir cewek tadi kepada para antek Belanda
“Haiiiiiiiiii” sapa Malik dengan nada lembut sedikit genit
“Iiih mau apa kamu, pergi sana?”
“Kalian tidak bisa kabuuuuuuur” sahut Belanda membalas perlakuan kasar cewek tadi
“Pak’eeeeee....Bu’eeeeee, toloooong-toloooong” teriak kedua cewek tadi
“###%%^$%#$%$#$#$@#$@#%$$$$#%%$#@$#@#@” bingung nulisnya gimana yang jelas bagian ini adalah bagian yang paling kocak menurut gue, dimana Malik tertawa terpingkal-pingkal dengan suara yang aneh ditambah ekspresinya yang membuat setiap orang yang melihatnya tertawa.
“Hei...siapa yang berani membuat temanku tersedak. keluar kau come here please!!” ucap Belanda keheranan
“Aku” jawab sultan
“Kau, emang kau berani denganku ?” tanya Belanda
“Are you ready?” tanda dari pemimpin Belanda untuk menyerang
“Yes captain..”
“Seraaaaaaang” teriak sultan

Mereka pun berperang antara sultan dan ajudan melawan tiga antek Belanda, tapi cuma boongan nanti dikira beneran bisa rumit nih urusannya.Dengan backsound dari Linkin Park – New Divide menambah suasana peperangan terlihat seperti menegangkan. Setelah lagu habis, yang tersisa hanyalah sultan yang lain udah diangap gugur dari medan tempur. Kemudian si ajudan alias Badaru bangun setelah dikalahkan dan mengambil sebuah sapu lalu dimainkannya layaknya sebuah gitar diiringi lagu dari Padi – Sang Penghibur namun intronya saja, tanpa pikir panjang ia bertingkah seolah ia adalah gitaris yang profesional memainkan jari-jarinya menjadi sebuah melodi-melodi yang rumit menurutku tapi enak didengar.

Tawa terus berdatangan dari penonton satu sampai ke dewan juri juga ikut tertawa. Gue pun ikut tertawa tapi tidak tertawa terbahak-bahak karena gue juga akan tampil, gue bingung apa yang dirasakannya sekarang ya malu atau senang atau bangga hah gak peduli gue. Setelah lagu habis kini saatnya gue tampil,
Setelah beberapa hari peperangan, sultan pun kembali kerumah dan tanpa ia sadari Ir.Juanda telah berada dirumahnya
“Assalamu’alaikum diajeng”
“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah kangmas baik-baik saja”
“Iya diajeng ini semua berkat doamu”
“Merdeka” ucap gue tegas
“Merdeka”
“Selamat Sultan anda berhasil menyatukan dan mengobarkan semangat rakyat Indonesia. Terimakasih atas tanggungjawabmu melaksanakan amanat dari Bung Karno, silahkan anda tandatangani surat keputusan ini” Dengan nada keras dan tempo sesingkat-singkatnya
“Apa ini dan siapa gerangan engkau?”
“Kangmas beliau adalah pejabat presiden republik Indonesia, beliau adalah insinyur Juanda”
“Benar dan ini adalah surat keputusan dari presiden No.238 tentang penetapan pramukan sebagai satu-satunya wadah kepanduan nasional, dan Bung Karno mengangkat jabatan anda sebagai ketua majelis pimpinan gerakan pramuka anda layak menerimanya” tutur gue panjang lebar
“Terimakasih Juanda, ini penghargaan yang sangat istimewa dalam sejarah hidupku,akan kulaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Semoga dengan adanya organisasi ini para pemuda Indonesia bukan hanya menjadi warga yang baik, tapi juga menjadi manusia yang berdaya, terdidikdan berbudaya merdeka” kata-kata bijak dari sultan
“Merdeka” balasku

Dan inilah cerita dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang berhasil membebbaskan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda. Untuk persembahan terakhir kami semua berjoget Harleem Shake, udah tau kan kayak gimana tariannya pokoknya kagak jelas gitu deh, suasana panggung jadi gak karuan deh gokil-gokil gaya temenku waktu joget Harleem Shake. Ketika musik tlah berhenti disusul jogetan kami yang juga berhenti, dari bawah panggung terdengar sorakan tepuk tangan dari penonton yang membuat kami merasa bangga lalu terdengar teriakan
“TBC.....Ten B Class yeeeeeeeeee”suara dari temen-temenku yang tidak ikut drama

Keesokan harinya, tiba juga pengumuman siapa yang jadi juara drama tadi malam. Kami mendapatkan juara pertama, rasanya dalam hati senang sekali karena jerih payah dan usaha yang telah dilakukan selama ini membuahkan hasil. Sebagai hadiahnya yaitu piagam untuk kelas serta snack kecil yang cukup dibagi untuk satu kelas. Dari situlah awal persahabatan kami dimulai, kami yang tadinya tidak mengenal satu sama lain kini kami sudah terlihat akrab. Tanpa kita sadari, ada sebuah tali yang saling terhubung satu sama lain sehingga membentuk sebuah ikatan yang tak dapat dilihat namun dapat dirasakan yaitu persahabatan.
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
16-04-2019 20:44

Skakmate

Papan hitam putih, disertai deretan bidak-bidak, dua benteng, dua kuda, dua menteri, satu ratu, serta satu raja yang bergerak dibawah komando sang pemain untuk mempertahankan kekuasaan. Ya itulah catur, olahraga yang mengandalkan taktik, pikiran, serta kesabaran yang cukup tinggi. Ketiga hal itulah yang menjadi kunci kemenangan dalam permainan ini. Awalnya sih gue berinisiatif untuk membawa catur dari rumah, lumayanlah buat dimainkan saat senggang atau jam kosong, itu juga saran dari Badaru. Lama-kelamaan banyak juga yang tertarik, sehingga hampir semua cowok dikelasku bermain catur jadi terpaksa harus ganti-gantian.

Dikelas gue ada satu orang yang menurut gue paling hebat dalam bermain catur, dia adalah Wahyu. Suatu hari, ada sebuah kabar tentang seleksi catur yang diadakan oleh pihak sekolah, lalu masing-masing kelas harus memberikan perwakilannya saat itu dan gue yang terpilih, soalnya pada saat itu si Wahyu belum menampakkan kebolehannya dalam bermain catur.

Peserta seleksi hanya sedikit, kira-kira hanya ada 10 orang. Dengan PD’nya gue ngira kalo gue yang paling hebat dari para peserta yang lainnya, sebelum permainan dimulai dewan juri memberikan beberapa peraturan yang harus dipahami oleh masing-masing pemain. Kebetulan pada saat itu Wahyu hadir untuk menyaksikan pertandingan berlangsung, lalu dewan juri dengan senang hati mempersilahkannya untuk gabung sama peserta yang lain. Wah, gue seneng ada temennya

“Yu, loe ikut juga ternyata ?” gue agak ngremehin dia
“Heeehehehe, iya” tersenyum kecil

Musuh pertama yang gue hadapi yaitu Wijil, anak kelas sebelah. Orangnya gendut, item, wajahnya gak terlalu menyakinkan. Gue jadi kepedean nih, keyakinan gue untuk menang cukup tinggi, gak terukur tingginya. Dia mainnya kalem beda banget ama gue yang gak sabaran dan gak berfikir panjang sehingga banyak sekali titik lemah dalam pergerakan gue. Beberapa menit kemudian, pertandingan masih normal, sejenak tanpa gue sadari uch raja gue ke skak mate ama dia, dalam hati gue bilang (Antiiiiiiiiit). Dia dapet poin sedang gue enggak dapet apa-apa. Kepercayaan gue down banget, wuih gue jadi gak berani lagi nie ngremehin musuh-musuh gue.

Setelah dioper sama peserta lain lawan gue sekarang Deri, cowok tinggi, putih anak sebelah juga. Gaya mainnya threesome ups sorry maksud gue tiga kali lipat lebih cepat dari gue. Gue waktu itu masih santae aja mainnya, tapi ditengah permainan yang mulai memanas gue terbawa suasana permainannya jadi gue agak emosi, untung papan catur gak gue lemparin kemukanya si Deri, jadi tanpa pikir panjang gue ambil langkah sigap cepat namun tidak pasti, ya akhirnya kalah lagi. Peserta-peserta lain semua dapat poin sedang gue, satu biji aja gue gak dapat, nasib-nasib.

Kompetisi masih berlanjut, yang ketiga nih gue ngelawan musuh yang gak terlalu kuat menurut gue, tapi juga gak terlalu lemah. Kita seimbang, sampai-sampai gak ada yang mau mengalah antara gue sama lawan gue, setelah para prajurit gue korbanin buat mancing mangsa yang lebih besar, wadau ternyata zonk, its nothing for me. Tapi gue tetep yakin bakalan menang, beberapa menit kemudian ia nyerah, katanya udah gak kuat buat mikir. Dalam hati gue (ini dia dapet poin juga, lumayan walaupun 1 poin).

Ini saatnya ronde keempat, jujur gue takut sampai-sampai kaki gue tetep nyentuh lantai cuman gue tetep pakai sepatu gak mungkin kan kalau sepatu gue taruh diatas papan catur bisa-bisa didiskualifikasi gue, tangan gue juga mulai gemeteran karena berhadapan sama musuh yang cukup tangguh, bukan cukup tapi emang beneran tangguh.

Entah ada angin apa yang bertiup kearah gue, gak ada lima menit dia langsung skakmate, sepele sih gara-gara pertahanannya kebuka dan dia gak sadar, langsung aja gue akhiri permainan ini, melihat kejadian itu gue jadi inget kata-kata “Orang pinter kalah sama orang yang beruntung”. Tambah lagi poin gue sekarang jadi 2 poin. Kalau di jadikan peringkat, mungkin gue urutan terbawah ya, tapi sewaktu gue lihat di papan skor (waktu itu nyatetnya pake buku tulis biar rada keren pake papan skor aja) astaga gue ada dibawahnya Wahyu, detik itu gue nyadar kalau selama ini ia jago main catur. Di permainan terakhir ini gue juga kalah, pupus sudah harapan gue buat jadi pemenang di seleksi catur kali ini.

Lain hari, demam catur mulai menggila dikelas gue. Semuanya pada kecanduan, dari muda sampai tua, eh sorry gak ada yang tua dikelas gue. Rasanya pelajaran udah gak diperdulikan lagi waktu kita udah main catur. Sampai ada temen gue yang rada sinis ama tingah laku kita, dia bilang kayu kok dipikir. Merenung sejenak, ada benernya juga sih hah masa bodoh kita tetep lanjut aja.

Gue coba nantangin seluruh temen cowok gue yang bisa main catur tapi tetep aja gue belum bisa menang dari Wahyu. Hanya dua orang yang berhasil setara lawan gue yaitu Badaru dan Angga, nah yang kedua ini gue gak habis pikir si Angga yang keliatannya agak bloon ternyata bisa juga menang lawan gue.

Hari demi hari kita terus bermain catur, kadang aku lawan Angga, Wahyu atau Badaru. Kalau aku lawan Badaru dan Angga hasilnya tidak menentu, kadang aku menang kadang aku juga yang kalah. Tapi kalau lawan Wahyu udah gue beritau tadi, gue kalah telak. Berkali-kali gue nantang, peluang gue menang 1 banding 20. Semenjak itu, gak berani lagi gue nantangin dia, lelah terus-terusan kalah. Meski begitu gue seneng kok, sportif men toh cuman permainan.

Ada beberapa hal yang gue pahami sewaktu gue bermain catur, yaitu hitam dan putih. Gue berfikir kenapa mesti ada hitam kalau sudah ada putih, gue tau didunia ini pasti ada hal-hal yang berlawanan, negatif melawan positif. Kedua sisi itu melekat dalam diri masing-masing orang, tinggal bagaimana orang tersebut menyikapinya kalau seseorang condong kearah yang positif maka dia akan jadi orang yang baik, begitu pula sebaliknya kalau dia condong ke hal-hal yang negatif maka dia akan menjadi orang yang buruk. Hal lain yang gue pelajarin yaitu hidup itu seperti bermain catur, butuh taktik dan juga kesabaran untuk mencapai tujuan hidup.

Dalam hal apapun, gue harus berpikir agar semuanya sesuai dengan apa yang gue inginkan. Mana mungkin gue mendapatkan sesuatu apabila gue tidak tahu apa yang harus gue perbuat demi memperoleh sesuatu itu, seperti gue menjalankan bidak-bidak permainan catur, kalau gue gak punya taktik atau cara mana mungkin gue bisa menang, jadi gue harus berfikir langkah-langkah apa yang semestinya gue lakuin.

Contoh lain yaitu kalau ingin pintar, belajar. Gak ada orang yang pintar kalau gak belajar, pasti bodoh dia. Belajar itu taktik untuk menjadi pintar.
Hal yang kedua yaitu kesabaran, penting dalam hidup untuk bersabar. Sabar itu memang sulit, gak mudah untuk bersabar, kalau sabar itu mudah gue yakin gak bakalan ada koruptor di Indonesia, karena mereka dengan mudahnya bisa sabar dalam menahan godaan dari sogokan beserta suapan, bedanya apa ya ? au ah gelap. Seperti halnya bermain catur kalau kita gak sabar, kita akan kalah entah karena terjebak oleh perangkap musuh atau salah langkah, ya segala hal mungkin terjadi dalam catur kalau kita terburu-buru mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, untuk memutuskan sesuatu kita juga harus bersabar dan tidak terburu-buru agar keputusan yang kita ambil itu benar benar tepat.

Jadi disaat kita memiliki target untuk kita capai, gue yakin target tersebut gak akan bisa kemana-mana alias skakmate apabila kita mempunyai taktik dan kesabaran untuk mencapai target tersebut.

Catatan: “Semakin tinggi target yang akan dicapai semakin besar pula taktik dan kesabaran yang harus dimiliki, sebaliknya semakin rendah target yang akan dicapai semakin kecil pula taktik dan dan kesabaran yang harus dimiliki”

emoticon-Ultah
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
23-04-2019 20:26
hmmm next ya
Diubah oleh sandriaflow
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
23-04-2019 20:37

Kontes Yang Gagal

Seperti biasa, suasana kelas yang tak begitu ramai tapi teriakan-teriakan dari depan, kanan, samping , belakang terdengar campur aduk dikepala gue, hahaha bercanda. Untung saat ini jam kosong, gue ngobrol-ngobrol sama temen gue, banyak hal yang gue omongin sebagian gue lupa. Ditengah asyiknya ngobrol, salah satu temen gue bilang kalau akan ada audisi nyanyi semacam Idol di sebuah cafe tapi hanya diperuntukkan bagi orang-orang asli kota Tulungagung. Temen gue nawarin gue buat ikut, sewaktu ngerti kalau gue suka nyanyi sendiri dalam kelas, banyak yang dukung tapi lebih banyak yang mencegah, hahaha. Mungkin bagi yang ngedukung gue, udah lima bulan ini kayaknya gak membersihkan telinga. Mereka tahunya kalau suara gue enak didenger padahal pas-pasan, dan juga banyak dari mereka yang gak ngerti nada. Kalau gue sih, dikit banyak ngerti walaupun belum sepenuhnya ahli soal nada.

Hati gue bimbang, ikut gak ya, gak ya ikut. Pilihan yang begitu sulit, terlalu banyak pertimbangan yang gue pikir, kalau gue ikut gue yakin belum nyanyi satu menit gue udah disuruh turun gara-gara seluruh sound system eror, shock mendengar suara gue yang jarang sekali orang punya. Kemungkinan terburuk yang gue pikirin, kalau nanti habis gue nyanyi dikomentari jelek sama dewan juri, mungkin kayak gini

“Kamu ini, tak tahu diri. Sudah tau gak bisa nyanyi masih aja nyanyi”
“Pak, interupsi. Saya sebelumnya belum tahu kalau saya ini bisa nyanyi atau tidak, makanya saya ikut acara ini. Barangkali saya bisa tahu kebenarannya”
“Ya itu, kamu gak bisa nyanyi, lebih baik kamu pulang gak ada gunanya kamu ada disini”

Gledek menyambar, duaaaarr. Gue terbangun dari lamunan gue, mungkin kalau komentarnya kayak gitu, gue gak bakalan pikir panjang, daripada harus pulang tanpa membawa apa-apa, lebih baik aku ke operator pinjem kabel yang udah terhubung sama listrik, langsung deh gue setrumin ke tubuh gue, tapi kata guru ngaji gue bunuh diri itu dosa. Gue urungin niat gue, terlintas dipikiran gue, lebih baik disetrumin aja ke komentator tadi, lumayan pulang bawa kabar menarik kalu gue jadi tersangka tersetrumnya dewan juri kontes idol di tulungagung.

Hah, cethek banget sih pikiran gue, sebisa mungkin gue tepis pikiran negatif itu. Mempertimbangkan pilihan yang kedua, kalau gue gak ikut mana mungkin gue bisa disebut lelaki, padahal emang gue udah laki-laki dari dulu ngapain juga harus disebut lelaki. Gue berfikir, ini saatnya menunjukkan siapa gue sebenarnya, barangkali setelah ikut acara ini ada produser yang tertarik ama suara gue dan ngasih tawaran buat rekaman lalu gue jadi terkenal.

Hmmmm mimpi. Oke, gak pa pa mimpi dikit, walaupun gak ada produser yang tertarik sama gue, paling enggak ada tukang angkot yang lagi lihat perform gue, dia inget kalau dia butuh kernet lalu dia ngasih tawaran ke gue buat jadi kernetnya, lumayan buat tambah-tambah penghasilan.

Daripada bingung-bingung milih ikut atau enggak, gue lebih milih untuk minta pendapat dari temen-temen gue. Mereka bilang gue harusnya ikut, kata mereka suara gue lumayan cuma tinggal nglatihnya aja supaya bisa bagus nanti tampilnya. Ya mendengar pendapat mereka, gue mutusin buat ikut.

Dari situ gue bingung lagi, pendaftarannya dimana gue enggak tahu, langsung gue cari info di mading sekolah seumpama disana terpampang poster tentang kontes tersebut. Alamatnya udah dapet, gue bingung lagi. Jujur gue anak desa, tau kan kalau anak desa katrok-katrok kalau udah dikota. Gue tanya temen gue

“Eh loe tau gak D’green itu tempatnya dimana ?” tanya gue
“Entah, yang jelas perempatan situ lurus aja” jawaban pertama gue gak yakin, nanti malah tersesat . Gue tanya lagi temen gue yang lain yaitu Angga.
“Loe tau gak Belga itu dimana?” gue perjelas D’green itu letaknya deket Belga toko macem-macem
“Oh ya, gue tau” dengan lamanya dia menjawab
“Dimana?”
“Dari sini, loe belok situ, ada itu belok sini, ada itu lagi belok, belok nanti ketemu sendiri” perjelasnya walaupun gue kagak ngerti sepenuhnya sama apa yang dia ucapin, soalnya dia gak tau arah, Timur aja dibilangnya Selatan.
“Oke oke, loe mau gak nganterin gue?” dengan penuh harap
“Ya udah oke, nanti gue temenin”

Perasaan kini udah lega, sehabis pulang sekolah. Gue sama dia langsung cabut, ternyata tempatnya lumayan jauh mana bensin gue masih penuh lagi, pesen dari orang tua disuruh hemat, gara-gara BBM naik sekarang. Sampai juga akhirnya ditempat pendaftaran, gue cari-cari kok gak ada orang yang bertingkah layaknya panitia, malah ada mbak mbak yang nyamperin,

“Mau pesen apa mas?” tanya mbak itu
“Oh nggak, saya mau daftar Indonesian Idol, eh sorry Tulungagung Idol” jawab gue
“Baik mas, saya panggilkan orangnya kalau mau daftar”
Kemudian mbak itu pergi, gue sama Angga duduk dikursi, berdua kayak orang lagi kencan, mungkin orang-orang yang ngeliat gue mengira kalau kami homo, ya semoga dugaan itu gak kebukti. Masnya yang mendata peserta lalu dateng,
“Tulungagung Idol?” sambil menyodorkan formulir untuk diisi
“Iya mas” jawab gue

Selanjutnya ia bertanya seputar kehidupan pribadi gue, ah gak gitu kejadiannya. Dia hanya tanya identitas, lalu gue kasih uang dua puluh lima ribu rupiah buat biaya pendaftaran, dan terakhir gue tanda tangan.

Kwitansi diberikan ke gue, gue lihat nomornya....026 , hah dalam hati gue berfikir, dikit amat yang daftar, padahal diposter juara pertama hadiahnya sepeda motor. Otak gue main nih, gue kalkulasikan total biaya masuk sama biaya yang akan dikeluarkan nanti.
*Biaya masuk=25,000 x 25= 625,000*

Harga segitu buat beli motor apaan ? bingung ni gue, apalagi panitianya . dah pulang aja daripada pusing-pusing.
Keesokan harinya, pagi-pagi suasana belajar yang tenang seperti biasa berubah jadi heboh sewaktu temen-temen gue tau kalau kemaren gue daftar Idol. Waktu itu yang ngajar Bu Maya, guru biologi. Wuih beliau serasa dicuekin, semua pandangan tertuju pada gue. Jadi malu ah, lalu temen gue si Bahrul tanya ke gue dengan nada kagak yakin

“Eh gi, kalau loe nanti dibilang jelek gimana sama dewan jurinya?”
“Ya gak papa” dalam hati gue radak sakit waktu dia bilang gitu, tapi tak apalah.

Di kelas gue ada juga seorang cewek yang jago nyanyi, lebih ahli malahan dari gue. Setiatin namanya,orangnya gendut, kulitnya kecoklatan, suaranya nyaring timbrenya agak kasar namun enak didenger. Sebenernya dia juga pengen ikut kontes tersebut tapi masih ragu. Gue sebagai cowok harus tegas dong menghadapi keraguan si cewek. Gue coba bicara sama dia, kupegang pundaknya, gak gitu juga kali. Intinya gue bilang, kalau dia gak usah ragu. Aku yakinin dia kalau dia pasti bisa, gue bilang kalau dia lebih baik dari gue dalam hal bernyanyi. Setelah bujukan demi bujukan gue tujukan padanya hatinya pun luluh dan dia memutuskan untuk ikut. Mission Completed

Siang itu, gak sengaja gue nyanyi lagu dari Bruno Mars “Just The Way You Are”. Tanpa gue sadari disamping gue ada seorang cewek, cantik , imut, manis duduk dibangku sebelah gue namanya Tika, gue agak grogi diliatin tapi gue pede-pedein aja, lagu udah habis gue nyanyikan,
“Yeeeee, gue bakal liat lo tampil nanti” dengan senyuman dia bilang itu ke gue
“Makasih ya” jawab gue, ini pertama kalinya gue ngobrol ama dia.

Tiap hari gue latihan, latihan, dan latihan sampai-sampai gue jenuh. Cara latihan gue, pertama siapin MP3, dari mana aja boleh asal jangan nyolong dari tetangga sebelah. Lalu gue sambungin ke sound system, habis itu gue atur volumenya. Kira-kira jarak 10 meter kedengaran kali , sekiranya semua gue rasa oke, kuambil HP bapak gue buat ngrekam suara gue. Lagu gue play, kira-kira ada 5 lagu yang gue puter, gue nyanyi sambil gue rekam didepan kaca sambil narsis-narsis gitu, cari gaya yang oke waktu di panggung nanti.

Setelah gue rasa lelah, gue berhenti dan rekaman itu gue puter dan hasilnya, Hancuuuuuuuuuuuuurrr. Oh, mana mungkin maju kalau kayak gini. Oke gak pa pa, gue nanti bakalan cari alasan yang tepat kalau nanti gue gak jadi tampil, pura-pura aja kwitansi gue ilang jadi didiskualifikasi atau bilang nenek gue ngelahirin, ah itu terlalu biasa bapak gua ngelahirin. Gue ngebayangin kalau gue bilang gitu, temen-temen shock sambil menahan tawa.

Esok hari, gue langsung konsultasi masalah gue ke temen gue Irfa’, dia orangnya pinter, baik , radak sombong menurut gue.
“Fa’, gimana nih enaknya nyanyi lagu apa gue?” tanya gue bingung
“Udah seenak lo aja” jawabnya cuek
“Enaknya apa? Lyla cocok gak, apa Shandy sandoro ?” tanya gue, kalian bingung kenapa harus Lyla atau shandy kok gak mulan Jamelaa, haha suara gue murni kagak ada unsur feminimnya. Alasan gue bilang Lyla atu Shandy ya kerena kalau gue denger-denger waktu gue nyanyi suara gue lebih dominan kesana.
“ Ya pokoknya yang kamu nyaman aja, pasti lebih baik” jawabnya.
Oke , gue menghela nafas. Gue ganti tanya Setiatin,
“Tin, enaknya nyanyi apaan gue”
“Coba Afgan-Terimakasih Cinta, loe nyanyi itu aja ” jawabnya
Gue coba nyanyi di depan dia...na na na na na na naaaaaa,
“Oke gimana?” tanya gue penasaran
“Nah siip, nyanyi itu aja lo.” Jawabnya sewaktu gue minta pendapat.

Keyakinan gue balik lagi, setiap hari aku bawain lagu itu. Namun di hari terakhir sebelum audisi, suara gue serak dan penampilan gue gak jauh beda ama sebelum-sebelumnya, dengan berat hati gue pengen ngundurin diri aja. Gak gue sangka ternyata ada kabar kalau audisinya diundur, kira-kira tiga bulan. What ? gue langsung berfikir, kalau panitia kekurangan dana, jadinya diundur begitu lama menunggu pendaftarnya semakin banyak.

Hah gue langsung lesu, semangat gue hilang. Setiatin kayaknya juga gitu, kami berdua gak jadi lanjut. udah males melihat kebijakan panitia kayak gitu.

Malu juga kalau ditanya temen-temen kenapa gue dan dia gak jadi ikut. Beribu-ribu alasan gue buat padahal waktu itu gue gak ada ide buat bilang apa ke temen-temen gue. Ya udah dengan muka iba gue bilang ke mereka,

“Panitia nya bikin bingung, dihubungin kagak bisa. Di’sms kagak mau bales, gue mundur aja mungkin itu lebih baik” dengan nada gak enak gue bilang ke mereka.

Dalam hati gue juga gak pengen ngecewain para fans-fans ku hahaha, fans darimana terkenal aja belom. Tapi semenjak kejadian itu, gue nggak pernah denger lagi tentang Tulungagung Idol. Perkembangannya gimana, pemenangnya siapa, gak ada yang tahu. Gue coba liat di facebook gak ada informasinya, jadi gue berkesimpulan kalau kontes tersebut gagal, panitianya entah kemana perginya, gue gak pengen mikirin itu lagi mikir hal lain aja yang lebih bermanfaat.
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
27-04-2019 21:39

Ada Cinta Disini

Kisah ini berawal disaat Tika tersenyum menatap gue, gue biasa-biasa aja gak ada yang spesial dalam hati. Entah kenapa gue jadi teringat mantan gue yang kelima saat liat Tika. Sekilas dia mirip banget sama mantan gue, jujur gue masih suka ama mantan gue jadi kalau gue lihat Tika rasanya gue teringat masa lalu sewaktu gue masih punya ikatan sama mantan gue.

Dari situ perasaan gue sama Tika jadi agak beda, gue jadi sering mikirin dia mungkin ini yang dinamakan fallin love. Gue masih malu buat bilang kalau gue suka ama dia, gak mungkin juga kan kalau langsung diungkapin. Terlalu cepat bagi gue, apalagi di kelas ada seorang cowok yang lumayan deket sama dia yaitu Piter.

Seringkali ia duduk dekat Tika, kadang juga dia iseng sama Tika entah cubit pipinya atau apalah. Hati gue rada sakit atau beneran sakit gue enggak tau yang jelas gak enak aja gue ngeliat mereka. Saat istirahat pertama gue coba ngobrol sama dia, gue spontan bilang

“Eh tik, lo tu mirip banget deh sama mantan gue ?” entah setan apa yang merasuk kepikiran gue sampai gue berani bilang gitu. Dia bingung mau jawab apa, yang jelas dia kaget aja. Temen disampingnya cuma dehem-dehem aja, karena jam istirahat gak begitu lama ya gue gak lama ngobrol sama dia.

Malemnya gue tanya Setiatin, soalnya mereka sahabatan. Gue coba minta nomer hpnya Tika. Untung dia mau kasih, kalau gak dikasih gue pengen bilang ke mamanya ‘Setiatin Pelit’, lalu gue sms Tika ternyata asyik juga sms’an sama dia, gue ngerasa hubungan kita jadi lebih akrab walaupun hanya lewat sms.

Suatu hari sewaktu gue balik dari lapangan olah raga, gue lihat si Tika jalan sendiri lalu gue samperin dia.

“Hey tik , sendiri aja” sahutku
“Eh Ogi, iya nih” jawabnya agak kaget

Huh, bingung, mau bilang apa lagi setelah ini. Ayo berfikir-berfikir, ketemu juga
“Udah ngerjain PR bahasa Indonesia belum” tanya gue basa-basi
“Kayaknya belum, ada PR ya?” balik nanya
“Ada, eh gue boleh tanya gak?”
“Apa ?” dengan muka heran dia balik tanya
“Lo sama Piter itu ada hubungan apa ya ? keliatannya deket banget.”
“Gimana ya jawabnya ? aku tuh gak ada apa-apa sama Piter, kita cuman temenan biasa kok. Emang sifatnya aja yang gitu, suka deket-deket sama aku” jelasnya
“Oh gitu, gak papa tanya aja gue”
“Hemmmm,,,,” mungkin dia bingung waktu itu mau bales apa

Gue maklumin itu, hati gue deg-degan banget waktu deket dia, nafas gue terengah-engah. Gue gak tahan sama pesonanya yang begitu luar biasa, lama-kelamaan gue jadi salting.

“Ya udah ea, gue cabut dulu” ucap gue ama dia
“Okey” jawabnya

Ada tiga kemungkinan dalam benak gue tentang dia sewaktu dia gue tinggalin. Pertama, dia seneng karena parasit udah cabut (gila, gue disangkain parasit), tapi kemungkinan pertama kira-kira dibawah 50%. Kedua, dia biasa aja, dia nganggep gue temen biasa (dalam hati gue menolak kebenaran tersebut berharap lebih dari temen), kemungkinannya 50%. Ketiga, dia kecewa gue pergi duluan, gue berfikir demikian karena gue yakin dia juga punya rasa ama gue, dia mungkin ngerasa nyaman deket gue tapi karena gue tinggalin jadinya dia kecewa, kemungkinannya diatas 50% (bisa aja 51%, dikit amat).

Gak tau kenapa gue senyum-senyum sendiri aja dikelas, keingetan terus waktu jalan bareng Tika. Pengennya gue pegang tangannya, namun itu dosa bukan muhrim. Gak pa pa, walaupun gak bisa pegang tangannya yang penting gue bisa deket ama dia. Malemnya gue sms dia,

Gw: Malem
Tika:Jg
Gw:Lagi apa? (gue berharapnya dia mikirin gue)
Tika: Nyantae aja, lha kamu ?
Gw: Nih, lagi liat video (gue nonton anime, jangan lu kira gue nonton bokep)
Tika: Oh....
Gw: Iya, gak belajar to?
Tika: Enggak
Gw: Kenapa ?
Tika: Masih males, entar aja
Gw: Oh, gue denger-denger lo mau pindah ke Aceh ya? (gue berharap dia pindah ke hati gue)
Tika: Iya , sedih gue
Gw : Kenapa mesti sedih ?
Tika: Ya gimana, dari kecil gue udah tinggal disini. Banyak banget kenangan yang udah gue lewatin. Banyak juga temen-temen baik gue disini, gak tega ninggalin mereka
Gw: Oh gitu, yang sabar aja ya
Tika: Iya
Gw: Smile (gue tujuin buat dia)
Malam itu sedih juga sewaktu gue tahu kalau dia beneran mau pindah. Gue terus kepikiran sampai-sampai terbawa dalam mimpi.

****

Hari ini, sekolahan gue ada kegiatan ulangan tengah semester. Gue seruang sama Tika, cuman gue didepan dia dibelakang. Sebisa mungkin sewaktu ulangan, gue ngadep belakang sambil memperhatikan dia. Barangkali dia kesulitan, mungkin bisa gue bantu. Tapi kayaknya dia sungkan deh bertanya sama gue, jadinya dia tanya sama temen samping tempat duduknya. Seminggu tlah terlewati, lepas juga akhirnya penderitaan gue harus berfikir keras untuk mendapat nilai yang maksimal.

Keesokan harinya wali kelas gue dateng, kita biasa manggil beliau Pak Topo, orangnya suka pergi ke goa deket hutan buat bertapa, hahaahah sorry gak kayak gitu. Beliau ramah, enak ngajarnya saat itu pelajaran yang ia ajarkan adalah geografi.

Beliau datang ke kelas gue dengan membawa segenap informasi, yang paling utama tentang peringkat kelas. Urutan pertama jatuh pada Winda, pinter tuh orangnya, dia pake kacamata tambah keliatan kalau dia memang jenius. Urutan kedua dipegang oleh Irfa’, ketiga Badaru ( jangkrik nih orang biasanya dia selalu dibelakang gue kenapa jadi diatas gue), keempat Bahrul, nah yang kelima nih baru gue. Untuk keenam dan seterusnya kagak perlu dibahas makan tempat nanti.

Oke, kami yang dapet peringkat teratas disuruh maju kedepan kelas, ya walaupun gak dapet apa-apa lumayanlah buat pencitraan gue didepan temen-temen, jadi mereka nganggep gue tuh pinter (walau pinter gue urutan ke lima). Tapi itu masih peringkat sementara toh masih dipertengahan semester, suatu saat bisa mengalami perubahan.

Sehabis Pak Topo keluar kelas, gue berjalan keluar pengen ke kantin laper. Tiba-tiba dari samping gue terdengar suara, agak cempreng namun serasa seperti nada-nada merdu yang mengalun ditelinga gue

“Ogi...selamet ya dapet peringkat lima, traktiran nih” ucapan selamat Tika kepadaku
“(Haaaaa Tika).....eh eh, makasih ya biasa aja kok. Sorry, kapan-kapan aja ya” jawaban gue yang lagi grogi deket dia, salting banget gue waktu itu, saking groginya gue bablas aja ninggalin dia lagi.

Gue sadar itu bukan hal yang tepat untuk dilakukan oleh seorang lelaki apabila ada perempuan yang bener-bener tulus ngucapin kata selamat untuk seseorang. Dalam benak gue, terlintas dipikiran kalau dia mungkin suka sama gue walaupun gak terlalu besar perasaannya terhadap gue.

Gue punya trauma terhadap cewek sewaktu SMP dulu, jadi gue lebih milih sendiri terlebih dahulu walaupun nurani gue pengen banget ngerasain lagi yang namanya pacaran. Oleh sebab itu gue tetep simpen perasaan gue sama Tika. Gue takut kalau gue hanya salah menafsirkannya, malahan nanti gue yang sakit hati saat dia bilang “Sorry aku gak bisa sama kamu” Duaarrrrr, hatiku hancur kalau emang dia bilang gitu. Balik ke rencana awal, tetep gue simpan perasaan gue, menunggu waktu yang tepat untuk diungkapin.

Hingga suatu hari gue jalan lewat didepan Setiatin dan diwaktu yang bersamaan ada Tika disitu.
“eh Tik, Ogi lewat tuh” ucapnya, telinga gue menangkap tuh gelombang suara, tersimpan beberapa pertanyaan dalam fikiran gue, apa maksud dia bilang kayak gitu
“Apaan sih ?” kata Tika, dengan nada agak malu gitu.

Ya seperti biasanya, kalau deket Tika jantung gue deg-degan, yang jelas salting lah. Gue langsung bablas aja, ninggalin dia lagi. Bener-bener bego gue, sama cewek aja kayak gitu, gue gak pernah mikir gimana perasaan Tika kalau dia memang suka sama gue saat sikap gue ke dia kayak gitu. Gak berapa lama, gue samperin Setiatin (Tika gak ada disitu)
“Eh, maksud kamu apaan sih?” Tanya gue heran
“Bukan apa-apa kok, udah lupain aja” jawabnya mencoba mengalihkan perhatian gue
“Bener, boleh tanya lagi gak?” pertanyaan penentuan dari gue
“Oke, apa?”
“Siapa sih pacarnya Tika?”
“Bukan siapa-siapa kok” jawabnya bimbang kayak cari-cari alasan gitu.

Ya udah gue pergi aja, gak ada gunanya juga gue terusin perbincangan ini yang makin lama bakalan rumit nantinya. Kenapa jadi rumit? Ini karena pacar adalah masalah pribadi bagi perempuan, jika perempuan curhat tentang pacar sama perempuan juga ini akan menjadi rahasia antar perempuan. Gak enak kan kalau kita mencari tau rahasia perempuan, bisa-bisa digampar nanti.

Meski begitu, gue tetep mencari informan yang lebih terpercaya namun masih belum gue temuin. Lalu gue inget Hamdan, temen gue yang jago banget soal menjalin hubungan. Pengalamannya tuh udah tinggi, pernah pacaran beberapa kali walaupun putus berkali-kali juga. Dari pengalamannya berpacaran dia mengambil banyak banget pelajaran, sehingga dia seringkali jadi tempat curhat yang tepat bagi orang bermasalah soal cewek kayak gue. Perlu diketahui juga, banyak juga yang naksir sama dia ya semoga Tika enggak. Bayangin aja kalau Tika suka sama Hamdan, dia temen gue dari SMP buat ngerelain pastinya susah. Gak semudah membalikkan pesawat, emang pesawat mudah dibalikkan ya, ah masa bodoh. Oke bali ke inti cerita

“Eh bro, gue pengen curhat nih” nada gue radak melas
“Oke men, silahkan” jawabnya, kadang gue mikir kenapa waktu gue bilang bro dia bilangnya men, apa men beda sama bro atau kitanya aja yang gak cocok kalau ngobrol bareng. Apa gak lebih baik pake asas black aja Q.masuk=Q.terima, kalau gue bilang bro, harusnya dia bilang ke gue bro juga, jadi pusing

“Gini bro, ada cewek yang gue suka dikelas ni. Tapi gue bingung harus gimana, lo tau kan gue dulu kayak gimana?” jawab gue, sekilas tentang gue. Gue pernah pacaran tujuh kali saat SMP, putus pacaran lalu putus pacaran lagi, paling lama tiga bulan paling dikit enam hari.
“Gini men, gue kasih saran sebaiknya lo cari tahu lebih dalem tentang dia, kelebihannya, kekurangannya, dia tinggal dimana, sifatnya kayak apa, keluarganya gimana. Baru lo lihat diri lo, cocok gak sama dia, pertimbangin segala hal yang bakal terjadi suatu saat nanti kalau lo jadian sama dia.” tutur dia

“Oh gitu ya, makasih bro sarannya”
“Sama-sama men, by the way capa sih yang lo suka?” tanyanya
“Tika bro, gue gak tau kenapa, kayaknya gara-gara dia mirip banget sama mantan gue dulu. Lo inget kan Shela?”
“Hahahaha, iya men semangat!”

Perkataannya terus terngiang didalam kepalaku, kebanyakan dari apa yang diucapkanya benar semua. Gue jadi tahu kenapa gue dulu sering banget putus, ya gara-gara gue belum siap menjalin hubungan. Gue pikir-pikir lagi mengenai hubungan gue sama Tika nanti kedepannya gimana.

Gue akhir-akhir ini jarang banget sms-an sama Tika. Sungkan jadinya, gue kira dia juga udah bosen sms’an sama gue. Dikelas kita juga diem-dieman gak banyak ngobrol, beda sama dulu. Kita sekarang kayak pertama kali masuk kelas baru gak kenal satu sama lain. Tapi gak mungkin juga gue diem-dieman terus, gue coba tanya dia sesekali

“Eh tik, loe punya pulpen gak, gue pinjem dong?”
“Enggak pulpen gue cuma satu”
“Oh , ya udah makasih”
“Iya”

Gue lihat dari ekspresinya kayaknya biasa aja gak ada apa apa. darisitu gue berkesimpulan bahwa dia gak bakalan ngomong kalau gue gak ngomong duluan. Ternyata hal tersebut terbukti, dan terus berlanjut seterusnya.

Jujur hati gue gimana gitu, melihat pertemanan kita berdua jadi kayak gini cuman gara-gara perasaan yang gak jelas itu. Gue lebih seneng waktu dia bersikap biasa sama gue kayak waktu itu, bukan jadi begini. Memang sebagian gue yang salah, tapi mau gimana lagi dia udah beda. Persepsi gue kini berubah, yang tadinya gue berasumsi kalau Tika suka sama gue sekarang gue jadi berfikir kalau Tika memang gak suka sama gue

Gue sering banget ngelamun sendiri, gak tau harus ngapain. Tiap hari gue dengerin lagu-lagu galau dari Hp gue. Lagunya pupus, kasih tak sampai, pokoknya yang melow-melow banget. Namun yang paling berkesan dalam hati gue yaitu lagunya Afgan - Jodoh Pasti Bertemu. Hati kecil gue bilang, udah relain aja Tika kalau memang dia gak suka sama kamu. Kalau nanti dia memang jodohmu, gak bakalan bisa disangkal lagi. Tuhan sudah menentukan siapa pasanganmu kelak, jadi gak usah bersedih kalau cintamu tak sampai.

Emang bener lagu dari Afgan itu, sekarang gue udah agak mendingan. Tetep, gue masih pengen nyimpen perasaan gue buat dia, gue belum rela buat ngebuang perasaan ini.
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
05-05-2019 21:08

Sapi Galau

Salah satu yang paling terkenal dari SMA gue selain dari kedisiplinannya yaitu letaknya yang gampang banget dihafal. Kalau orang nanya ke gue tentang sekolah gue mudah jawabnya dan orang itu pasti tau dimana lokasinya

“Eh, kamu sekolah dimana sekarang ?”
“Di SMA 1 Green pak” jawab gue
“Dimana itu?”
“Baratnya pasar sapi pak” jawab gue singkat
“Oh yang itu, ya ya ya”

Bukan hanya satu atau dua orang yang tahu sekolah gue, tapi seluruh warga kawasan gue pasti tau sekolah gue. Pasar Sapi termasuk pasar yang cukup besar didaerah gue, letaknya deket perbatasan desa sama kota. Bukanya cuma saat pahing aja, selain itu libur.

Jadi bagi temen-temen yang pengen beli sapi silahkan datang kesekolahan gue, kenapa gue malah promosi. Oke lupain itu, gue sering takut juga sewaktu berangkat sekolah ketika berpapasan sama kawanan sapi yang diangkut oleh mobil pick-up atau kadang sama truk. Di jalan pas kondisi ramai, gak mungkin juga kalau nanti nyalip mobil pembawa sapi tersebut, terpaksa gue berkendara dibelakangnya. Wuih tau gak ? gak bisa nahan gue, bodinya aduhai, putih, mulus , gak pake baju lagi. Sayang dia hewan, kalau enggak.......tunggu serial berikutnya, maaf itu tadi kesalahan nulis. Yang bener gue gak tahan sama baunya, walaupun udah dimandikan berulang kali sampai bersih dan wangi, ya tetep aja bau khas dari kehewanannya tetep tercium di hidung gue.

Sangar, pas banget waktu itu gue gak pake masker, baunya tambah semerbak busuk. Untung kalau itu cuman baunya aja, bukan itu yang gue takutin. Bayangin pas gue asik-asik naik motor dibelakang mobil pengangkut sapi, kalau sapinya kebelet pipis dan gak mungkin lagi buat ditahan, langsung tuh air seninya berceceran dijalanan. Parfum gue yang gak begitu mahal namun gak begitu wangi juga, pudar seketika kalah sama parfum alami dari perut si sapi. Lebih-lebih kalau yang dikeluarkan itu sisa-sisa pembusukan yang ada di anusnya si sapi, pikiran gue udah gelap gak tau harus ngapain kalau kena kotorannya di muka gue.

Temen gue pernah bilang, sewaktu dia di jalan dia lihat orang yang naik motor didekat angkutan sapi, dia terkena air seninya. Wih, rasanya gimana ya? Enak kagak mungkin, yang jelas hangat pokoknya.

Jadi sapi itu enak banget, lebih enak dari binatang lainnya, sorry gue gak iri. Ya makan tercukupi, kalau laper tinggal bilang “Uooooooooo” pemiliknya paham langsung kasih makan. Bayangin aja tikus, bilang cit cit kagak ada yang tahu kalau dia laper, makanya dia usaha sendiri, sayang tikus itu binatang yang rakus gak bisa ngebedain makanan ama bukan, jadinya apa-apa dimakan. Sapi kalau pagi kerjaanya berjemur dibawah terik matahari sambil dimandiin sama pemiliknya, enak to. Siang tidur, sore makan lagi, malem tidur lagi. Tapi sapi dalam kandang bagai burung dalam sangkar. Sendiri, kesepian, paling-paling hanya ada dua temen sekandang, sesama sapi tentunya.

Gue ngebayangin kalau sekandang ada tiga ekor sapi, satu cewek dua cowok. Tau bedanya kan sapi jantan ama betina. Kalau gak tau bisa browsing sendiri. Misal ni kalau kedua sapi jantan suka sama sapi betina, trus tiap hari berantem mulu kagak ada habisnya. Gue kasihan jadinya, kita aja kalau berantem ngerebutin pacar, panas banget harus seruang sama musuh kita. Apalagi si sapi yang harus sekandang dan tiap hari ketemu, oh Tuhan datangkan satu sapi lagi agar mereka lengkap berpasangan.

Ada satu fakta menarik lagi tentang sapi betina. Menurut analisa gue, sapi betina itu mudah dikibulin atau dibohongin. Sewaktu sapi betina mbah gue lagi pengen kimpoi, solusinya mudah tinggal hubungin dokter hewan ternak nomer sekian. Lalu beliau datang, bukan sapi jantan yang dibawa malah suntik sama obat. Caranya mudah, suntik yang sudah terisi obat disuntikkan ke bagian tertentunya sapi betina, habis itu beres. Sapinya udah gak minta kimpoi lagi, udah anteng dia sekarang.

Normalnya kalau sapi itu pinter, dia bisa ngebedain setruman asli dari sapi jantan atau setruman gak asli. Emang sapi punya otak ya buat ngebedain. Tapi berhubung sapi itu bego, dia habis disuntik berasanya habis digituin. Lalu gue sadar, ternyata gue sendiri yang bego. Itu termasuk kemajuan dalam bidang medis.

Bicara soal pasar sapi, disitu tempat para sapi dari seluruh wilayah berkumpul. Namun disitu juga tempat perpisahan para sapi, seumpama salah satu dari puluhan ekor sapi dibeli oleh para pencari sapi.

Hati gue tersentuh, misalkan gue yang berada diposisi mereka, sedih pastinya harus ditinggalkan oleh kerabat sesama sapi. Mungkin bakat gue yang lain mulai muncul, jadi psikolog para sapi. Hal lain yang juga berkaitan erat dengan sapi ialah kambing. Kurang lebih juga sama mereka, cuman saudara yang jauh aja. Perbedaannya hanya terdapat diukuran tubuhnya aja.

Histerisnya lagi kalau di pasar sapi terdapat cinta lokasi, andaikata disitu ada sapi jantan muda yang baru pertama kali dibawa ke tempat itu, disitu ia melihat sosok sapi betina yang cantik jelita, meluluhkan setiap sapi jantan yang memandangnya. Dan mereka lalu jatuh cinta, tiba-tiba petir menyambar, si sapi betina harus pergi meninggalkan sapi jantan karena ia sudah dibeli oleh pemiliknya yang baru. Bayangkan gimana rasanya ? cinta mereka hanya bertahan gak lebih dari tiga jam.

Sehabis pulang dari pasar sapi, si sapi jantan hanya bisa bengong gak mau makan. Si pemilik bingung ada apa sih dengan si sapi ini, kok tiba-tiba aneh.

“Kamu kenapa sih meh, kok jadi aneh gini?” tanya pemilik
“............” diem tanpa balasan
“Jawab dong” dengan nada kesal
“Uoooooooh...uooooooh” teriak sapi
“Oh jadi gitu permasalahanya” berlagak paham, padahal dia gak ngerti bahasa sapi
“Uuuuuuoh” dengan nada agak kalem si sapi menjawab
“Tapi kamu harus makan dong, nanti sakit”
“Oooohh... Ooooh” jawab si sapi pertanda ia tak mau makan

Melihat kejadian itu si pemilik bingung, lalu dia panggil dokter hewan.
“Gimana dok?” tanya pemilik panik
“Ehm, hal ini belum pernah saya temuin sepanjang karir saya menjadi dokter hewan” ungkap dokter
“Trus gimana nih?”
“Anda jangan kuatir, saya punya kenalan. Hebat banget dia, yaitu dukun hewan”
Oke, lalu dipanggillah dukun hewan.
“Gimana mbah, ada apa gerangan dengan sapi saya?”
“Oh, ini hal yang sangat rumit, ilmu mbah belum sampai segitunya. Sapi bapak keliatannya tersiksa sekali, saya gak sanggup menanganinya” jawab mbah

Stop!!! Mungkin kalian befikir tulisan apa nih, oke langsung bab selanjutnya aja kalau begitu, jika kalian tidak ingin membacanya.

Lanjut lagi, pemilik akhirnya memanggil psikolog hewan, disinilah psikolog hewan berperan. Solusi terakhir bagi permasalahan sapi galau
“Mas, saya udah tanya dua orang ahli tentang keluhan sapi saya, tapi mereka gak bisa jawab.”
“Tenang pak, saya sudah seringkali menemui masalah kayak gini. Sapi bapak tidak mengidap penyakit apa-apa, dia hanya sedih karena berpisah sama sapi yang dicintainya. Dia kayaknya bertemu dengan kekasihnya di suatu tempat, mungkin bapak ingat pernah membawanya ke suatu tempat atau apa ?” tanya psikolog hewan
“Oh iya ke pasar sapi” jawab bapak

Tanpa pikir panjang ia, psikolog beserta sapinya langsung menuju ke pasar sapi untuk mencari siapa sebenarnya sapi betina yang dicintai oleh sapinya. Disana ia bertanya kepada petugas tentang sapi-sapi betina yang datang ke pasar sapi.

Datanya sudah terkumpul, lalu ia mendatangi satu persatu pemilik sapi betina. Dari satu tempat ke tempat lain ia mencari, kemudian ketemu juga. Disebuah kandang yang kumuh, terlihat sapi betina yang sedang duduk termenung sendiri. Sapi jantan yang tadinya lesu kini ceria kembali karena telah menemukan cintanya kembali, hal yang sama juga dirasakan oleh sapi betina ketika melihat sapi jantan datang menghamprinya.

Akhir kata, sapi jantan tadi dibeli oleh si pemilik sapi betina dan ditempatkan satu kandang bersama dengan sapi betina.

Quote:“Cerita diatas hanya fiktif belaka, apabila ada sapi-sapi yang tersinggung saya minta maaf. belakangan gue denger kalau si sapi jantan disembelih buat kurban, si pemilik baru ini gak perduli sama urusan cinta antara kedua sapi.”
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
11-05-2019 21:22

Cowok Keren Masa Kini

Sekarang zaman udah maju, gak kayak dulu mundur. Bener kan kalau sekarang maju dulu pasti kebalikan dari maju yaitu mundur (dalam artian belum maju). Segalanya sudah berubah dari gaya rambut, gaya fashion , gaya sepatu , accecories, macem-macem.

Hal-hal yang berkaitan dengan zaman dulu itu udah ditinggalin, takut dibilang kuper lah, culun lah, gak modis lah, jelek lah, emang bener juga sih menurut gue. Tapi model-model gitu harganya mahal lho, percaya atau tidak banyak banget kok buktinya. Sepeda ontel zaman dulu bandingkan sama sepeda keren zaman sekarang, bandingkan harganya tentu sepeda ontel lebih mahal harganya, cukup satu alasan yang bisa membuat hal tersebut bisa begitu “langka”.

Contoh lain, yang terdapat di museum-museum, artefak atau alat-alat zaman dahulu harganya juga cukup mahal kalau di jual, banyak kolektor yang tertarik dengan hal itu. Makanya bagi cowok-cowok yang pengen dapet pacar dalam waktu singkat, berpenampilanlah selayaknya orang zaman dahulu. Sekarang udah langka tau, gak ada lagi yang tersisa. Dan yang paling mencengangkan, dari kebanyakan orang yang mempraktekkan hal tersebut, 100% berhasil, tapi mereka kapok melakukan hal tersebut dan gak mau lagi kayak gitu. Alesannya simple, kalau gak dapet tante-tente buruk rupa ya dapet pacar seadanya atau jelek. Karena, dari hasil analisa gue 80% cewek zaman sekarang, oh salah ternyata 99% itu lebih tertarik sama cowok yang keren. 1% dia masih ragu-ragu, karena menunggu keputusan bapaknya, hahahaha.

Memang keren itu gue akui sebagai salah satu cara jitu untuk mendapatkan pacar yang paling utama. Ganteng kalau gak keren gak ada apa-apanya, jelek kalau keren masih ada nilainya walau sedikit, jelek gak keren amit-amit. Dan orang selalu berpikiran kalau keren itu identik dengan terkenal, dan terkenal itu udah mesti disukai banyak orang. Makanya timbul pemikiran kalau terkenal itu sudah pasti keren dan gampang dapet pacar sehingga banyak orang yang pengen terkenal supaya dapet pacar walau tampangnya pas-pasan, sorry gue bantah bagi yang berpendapat demikian.

Ada satu temen gue yang cukup terkenal di sekolahan gue, dia pas-pasan gak ganteng malah condong ke jelek. Berulang kali dia tebar pesona ke cewek-cewek, masih saja belum ada yang mau sama dia. Palingan ada, tapi juga samalah kayak dia, pas-pasan gak cantik malah condong ke jelek.

Terkenal bukanlah jaminan seseorang buat gampang cari pacar. Penekanannya disini ada di keren. Permasalahannya sekarang, gimana sih keren itu? Apa harus beli celana baru yang mahal lalu dilutut ada lubang gak jelas, lalu beli baju ketat super agar bodi terlihat wow gitu, lalu pake make-up wajah yang paling berkualitas, parfum dari luar negeri sambil pake minyak rambut khas, dijamin bisa memikat hati wanita tapi harga diluar jangkauan sambil memakai accecories sebagai pelengkap. Itu bisa dibilang keren malah keren banget, namun hanya bagi orang yang kantongnya banyak bro yang bisa kayak gitu.

Yang belum mampu atau kantong pas-pasan, jangan maksa buat seperti itu entar jadinya malah kelilit utang lagi hanya untuk tampil keren. Tenang aja, masih ada jalan lain yang ngebuat tampilan kalian menjadi keren. Gak usah bingung, harganya murah kok gak lebih dari 20 ribu rupiah anda bisa menjadi perhatian seluruh wanita yang melihat kalian.

Pertama, cari sebuah celana yang menurut anda paling cocok buat anda, cewek suka cowok yang pakaiannya pensil. Oleh sebab itu, jika celana kalian belum pensil, daripada harus beli menguras uang anda, cukup pergi ke penjahit terdekat. Suruh si penjahit untuk mengecilkan ujungnya biar seperti pensil. Setelah jadi coba yakinkan pada diri anda sendiri kalau itu memang pantas disebut celana pensil. Biar tambah keren lagi, carilah sebuah gunting lalu robek bagian yang sekiranya perlu untuk dilubangi.

Kedua, untuk pakaian. Gak perlu bingung, jika anda memiliki pakaian anda dulu yang sudah tak terpakai, dan anda simpan sekitar 5 tahun yang lalu. Geledah kembali barangkali masih bagus. Setelah ketemu, coba dipakai ditubuh anda, jika terlihat ketat maka anda sudah terlihat lebih keren dibanding sebelumnya, jika pakaian terlalu ketat saya sarankan untuk segera melepasnya, takut mengganggu pernafasan. Kalau belum puas kerennya, coba pinjem jaket milik tetangga biar tambah keren. Kalau punya sendiri lebih bagus itu.

Ketiga, untuk make up beserta rambut gak perlu kuatir, yang ini gratis gak perlu ribet-ribet carinya, didapur banyak. Minyak rambut dari minyak bekas penggorengan, oleskan ke seluruh permukaan rambut anda. Jika anda ingin wajah putih bersih, ambil tepung di rak dapur kemudian bedakkan di seluruh wajah anda, pengen memakai celak atau penghitam alis lihat bagian bawah panci yang gosong, ambil sedikit abunya dan oleskan ke alis anda. Bibir biar lebih seksi dan kemerah-merahan, haluskan 5 butir cabe merah, kasih air dikit lalu ratakan diseluruh permukaan bibir, tunggu lima menit dan saya yakin baru 30 detik anda sudah kepanasan. Tapi jangan mengeluh dengan hal itu, saya yakin kalau hasilnya akan memuaskan, bibir anda terlihat merah alami karena kepedesan.

Terakhir, parfum dan accecories lain. Untuk parfum jika anda tidak punya uang untuk membelinya maka saya sarankan anda memakai daun kemangi lalu gosok-gosok kebaju anda. Sekarang anda sudah berbeda dengan anda yang sebelumnya, hal terakhir accecories sebagai pemanisnya, jika kebanyakan orang memakai jam tangan dari swedia atau dari Indonesia lebih murah atau kadang gelang trendy, anda jangan takut tersaingi sebab apa yang akan saya sarankan kepada anda adalah sesuatu yang tidak akan dipraktekkan oleh orang lain karena hanya orang yang berani saja yang bisa mempraktekkanya yaitu pakailah gelang karet warna-warni sepuluh biji.

Baik dari beberapa tips yang sudah gue berikan tadi, semoga memberikan inspirasi untuk menjadi keren, murah dan praktis. Dari beberapa temen gue yang sudah mencoba tips ini ternyata dia berhasil menarik perhatian banyak orang dari anak kecil hingga bapak-bapak.
Hebat bukan, kalian tau apa yang ada difikiran setiap orang, udah bisa ditebak jadi gue gak usah ngejelasin panjang lebar, pokoknya empat huruf. Semenjak itu temen gue jadi terkenal dikalangan banyak orang, setiap dia lewat orang-orang selalu bilang

“Eh itu gelandangan yang kemarin itu ya ?”
“Bukan, dia kayaknya bukan sekedar gelandangan tapi kagak waras”
Walaupun dia sekarang sangat terkenal, tapi dia juga tetep aja gak punya pacar, jadi ngerasa bersalah gue, ngasih tips yang ngelantur gak bermanfaat kayak gitu.

Oke, intinya gak disitu, yang jelas kita harus menjadi diri kita sendiri gak perlu meniru orang lain atau apalah. Yang penting ini lo gue, gitu. Jika memang seseorang itu sayang sama kita, tentunya dia gak minta apa-apa dong sama kita. Kalau kita menjadi keren cuma karena kita menyukai seseorang, itu adalah persepsi yang keliru menurut gue. Harusnya, kita bertingkah layaknya kita yang biasa, berpenampilan sederhana, bersikap yang baik dan punya sopan santun, lalu orang lain akan bilang “Wah dia tuh , sudah baik, sopan, pinter, keren deh pokoknya”. Dengan berbudi pekerti yang baik, itu adalah hal yang paling terkeren menurut gue, bukan dari tampilan atau semacamnya. Kalau ada cowok keren dari fisiknya dan penampilannya tapi urak-urakan, berandalan, tak karuan, playboy. Apa masih kalian anggap keren ? think again.

Quote:“Jangan memaksa orang untuk bilang kamu itu keren dengan penampilan yang bukan kamu yang asli, tapi biarkanlah mereka dengan sendirinya bilang kamu itu keren karena kekaguman mereka terhadapmu dengan segala kesederhanaan dan sifat baik dari dirimu”
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh radheka
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
18-05-2019 12:00
Lanjutkan bruh. Kan selalu kutunggu karya-karyamu. Salam green
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
18-05-2019 18:28
langsung jadi HT aja nih gan. lanjut lagi dong.
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
18-05-2019 20:08

Berhenti Sementara

Pahit hati ini, namun selalu gue tutupin dengan senyuman biasa yang aku tujukan kepada setiap orang. Sehingga mereka mengira gue bahagia, padahal gak sepenuhnya begitu. Dalam diri gue, terdapat rasa kecewa, kesedihan, derita, yang tiada seorangpun mengetahuinya. Pahit itu semakin pahit sewaktu gue denger kabar kalau si Tika udah punya gandengan. Kabar itu seakan meruntuhkan segala keyakinan gue dan segenap perasaan gue terhadap Tika, menjadi kepingan-kepingan kecil seperti debu atau bahkan lebih kecil lagi seperti atom yang tak dapat teruari lagi.

Kadang aku duduk sendiri, termenung sendiri, memikirkan kenapa semua seperti ini. Kenapa harus Tika ? padahal masih ada perempuan lain di kelas gue. Semakin gue mencari jawaban tersebut gue gak pernah bisa menemukannya.

Hubungan gue sama dia semakin renggang, renggang, dan terus merenggang. Gue sekarang hanya bisa memandangnya tanpa bisa mengucap ssepatah kata pun yang bisa mewakili perasaan gue saat ini kepadanya. Gue hanya bisa memaksakan hati gue untuk tersenyum agar bisa bahagia melihat dia udah dapet pacar yang mungkin jauh lebih baik dari gue.

Dia biasa aja ke gue, tanpa tahu apa sebenarnya yang gue rasain. Gue balesnya ke dia juga biasa aja, gak perlu juga gue menangis meronta-ronta di depan dia. Gue masih bisa nahan kok rasa sakit ini.

Walaupun di sekitar gue ada orang yang suka sama gue, tapi gue gak pernah sekalipun mencoba menghargainya. Gue terlalu fokus ke Tika bukan orang lain, gue jadinya gak enak aja waktu deket sama orang yang gak bisa gue bales perasaanya.

Ada tiga cewek dikelasku yang menurut gue suka sama gue. Mungkin gak semuanya beneran suka atau gue aja yang kepedean.
Orang pertama yang keliatannya suka sama gue, namanya Erika. Tiap kali gue sedang duduk biasa kadang dia nyamperin, dengan alasan bahwa ia minta diajarin PR lah, ini lah itulah. Gue nanggepinnya biasa, maklumlah niatnya kan baik buat belajar. Kok kelamaan jadi aneh gini, gue jadi ngerasain kalau ada sesuatu dibalik kelakuannya tersebut. Gue jadinya risih setiap kali dia begitu, apalagi tatapan matanya yang tajem tiap kali ngelihat gue. Lalu gue palingkan muka gue tiap kali dia kayak gitu, gak enak juga kalau gue bales dia dengan hal yang sama. Ya udah dia gue diemin, dan gue berharap dia bisa memahami dan mengerti kalau gue memang gak suka atau malah gak nyaman sama dia.

Lalu ada cewek, wajahnya lumayan, dia baik, pinter, rendah hati, namanya Stefi. Sifatnya beda sama Erika, hal yang paling sering ia lakukan adalah tersenyum ketika dia lihat gue, tentu dengan tatapan yang gak biasa juga. Didalam tatapannya tersebut, terdapat sebuah arti yang mendalam. Tatapan orang yang kagum, entah karena apa gue juga gak tahu. Tanpa gue sadari dia juga sering ngeliatin gue, pas lagi duduk atau ngelakuin hal yang lain, gak sengaja gue nengok ke arahnya, dia tersipu malu sendiri.
Contoh lain yaitu sewaktu gue ngobrol sama dia

“Eh, kamu sudah maju hafalan tadi” tanya gue, di depan kelas saat gue mau hafalan bahasa inggris
“Ehm belum, kamu duluan aja deh, aku entar aja sesudah kamu” jawabnya dengan senyuman yang begitu ikhlas kepadaku, oh gue jadi luluh.
“Beneran ? kamu aja deh yang duluan maju, gak enak dong” tanyaku
“Udah gak pa pa, gak usah sungkan” jawabnya dengan halus, dan rada terbata-bata. Gue paham kalau dia salah tingkah deket gue
“Makasih kalau gitu” sahut gue, hal itu cukup membuktikan kalau dia beneran suka sama gue.
Satu lagi yaitu Anisa, dia lebih cantik menurut gue dari kedua temen gue yang gue jelasin tadi. Waktu itu dia dan temennya lagi presentasi di depan kelas, lalu gue tanya ke mereka tentang apa yang sudah disampaikan dan radak lupa sih pertanyaanya, Kalau gak salah tentang fungsi tanah. Yang menjawab saat itu adalah Anisa, gue masih inget jawabanya ke gue saat itu
“Bla...bla....bla....gimana sudah puas Ogi? “ dengan cetarnya dia bilang gitu
Haaa, gue kaget serontak bilang ‘ini beneran gak oh Tuhan atau hanya mimpi’ tapi cukup didalam hati gue bilang gitu, bisa diketawain seluruh orang kalau gue bilangnya didepan mimbar pembina upacara. Mendengar jawaban dari Anisa temen-temen gue langsung ketawa-ketawa sendiri karena pikirannya pada kemana-mana. Gue ya tersenyum sendiri aja, dengan pelan gue jawab
“Ya udah puas”

Mungkin ini sepele atau dianggap khayalan belaka, atau gue aja yang terlalu pede. Tapi kenapa harus dia yang menjawab pertanyaan gue saat itu? sedangkan banyak temen-temennya yang juga mampu menjawab pertanyaan tersebut. Apa hanya sebuah kebetulan dia yang jawab atau memang dia sengaja jawab pertanyaan gue agar gue nanti bisa lebih perhatian sama dia. Gue juga gak paham, yang jelas dia sendiri yang tahu.

Perasaan gue jadi sedih kalau inget gue gak bisa ngebales perasaan mereka yang jelas-jelas punya harapan ke gue. Sekali lagi gue bertanya ‘ Oh tuhan, kenapa harus Tika ? kenapa kau berikan aku rasa cinta ini kepada dia, sedangkan ada orang lain yang lebih perhatian kepadaku’

Berhari-hari gue bingung, gue bener-bener belum mampu untuk menghapus perasaan tersebut, gue cuma mampu untuk menyimpan dan menjaganya dilubuk hati gue yang paling dalam. Dan gue mencoba menahan agar perasaan itu tak akan tumbuh lebih besar lagi.
Gue sadar kalau hati ini berhenti untuk sementara kepada Tika. Hati ini belum bisa berjalan lebih jauh lagi untuk menemukan seseorang yang lain. Semakin gue mencari semakin tak dapat gue temui, karena memang hati gue bilang ‘Tika’ bukan orang lain.

Banyak yang beranggapan kalau gue bodoh, pengecut, penakut. Gue akuin itu, memang saat ini gue belum mampu mengutarakan perasaan yang sebenarnya gue rasain. Gue merasa belum ada waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Kapan waktu yang tepat untuk mengutarakanya ? gue gak tau. Yang gue tau cuma saat ini gue memang gak tau.

Sedih, manis, bercampur dalam kehidupan gue sehari-hari. Gue bahagia liat Tika bahagia, lihat dia tersenyum, lihat dia ceria. Namun gue sedih saat gue tahu kalau dia gak bahagia bersama gue, ya semoga aja dia bener-bener sayang sama cowoknya dan hubungannya bisa bertahan lama. Mungkin itu yang terbaik, belum tentu juga dia bakalan bahagia saat bersamaku, gue tabah aja.

Terlintas dalam benak gue kalau memang lebih baik gak pacaran dulu, gue gak punya apa-apa buat bisa gue banggain saat ini. Biarlah rasa cinta ini tetap mengalir disepanjang aliran darahku, dan disetiap nafasku berhembus, hingga nanti jika Tuhan mengizinkan gue dan Tika bersatu. Jika memang Tuhan tak menakdirkan gue sama Tika, pasti ada jalan lain yang lebih baik yang Tuhan kasih ke gue dan dia.
Tuhan sudah menggariskan segala hal yang ada didunia ini, manusia hanya mampu menerimanya. Gue yakin bakal ada hal yang jauh membahagiakan untukku suatu saat nanti, meski bukan sekarang waktunya. Hal lain yang membuat gue bersyukur ialah gue dapat bertemu dengan temen-temen gue yang cukup aneh juga menurutku, yang membuat hidupku lebih berarti dan bermakna. Sehingga gue menerima keadaan gue saat ini, dan sendiri mungkin adalah cara terbaik untuk bisa lepas dari segala kesakitan atas semua kekecewaan yang telah gue dapet dari cinta yang tak pernah bisa terungkapkan.

Quote:“Hati ini telah pasrah, hingga kini memilih untuk sendiri dahulu”

profile-picture
profile-picture
coxi98 dan thdp38 memberi reputasi
2 0
2
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
20-05-2019 13:01
Quote:Original Posted By sandriaflow
Sinopsis

   


Curhat Sejenak

Di semasa SMA ini banyak banget hal yang belum pernah gue temuin sewaktu masih di SMP. Hal-hal baru mulai berdatangan, seiring dengan usia gue yang mulai dewasa. Walaupun hal itu begitu asing bagiku, namun gue mencoba untuk memilih segala hal yang baik untuk gue.

Di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, rasanya sulit banget untuk menutup diri agar tidak terpengaruh oleh kemajuan teknologi. Budaya-budaya asing yang saat ini terdapat dilingkungan sekitar kita, tak dapat kita pungkiri kalau itu sudah melebur didalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Sehingga membuat budaya-budaya asli negeri ini terabaikan, jujur saja gue juga kadang lupa sama budaya negeri sendiri.

Handphone, android , laptop atau gadget apalah kini dapat kita jumpai dimana-mana, sedangkan mainan tradisional malah jarang sekali kita temukan karena semuanya serba modernisasi. Orang Indonesia itu aneh, dengan budaya sendiri masa bodoh namun waktu bangsa lain mengklaim budaya negeri baru marah-marah. Itu akibatnya kalau menyia-nyiakan budaya negeri sendiri, sama halnya kayak kita punya pacar namun pacar kita pergi dengan orang lain yang lebih perduli dengannya karena tlah kita abaikan lalu kita marah-marah, siapa yang harus disalahin ? diri sendiri kan.

Indonesia adalah sebuah negara yang sangat kaya raya akan budayanya, hasil lautnya, hasil buminya, bahan tambang pula, hutan dan tanah yang subur. Kita lahir disana, besar disana, hidup disana, makan disana, tidur disana, sekolah disana, maaf pub disana juga, seharusnya kita cinta  dan bangga akan negeri ini.

Jujur gue adalah asli orang Jawa, Jawa itu terkenal orangnya halus dalam berbahasa, lembut ucapanya, baik tata kramanya namun aku sudah mulai enggan berbahasa jawa yang baik dan halus, itu merupakan salah satu bukti kalau nilai-nilai bangsa ini sudah mulai memudar. Pendidikan karakter disekolah sudah mulai melemah, sebagai para penerus bangsa kita harus berkarya untuk Indonesia serta mengajarkan nilai-nilai yang baik bagi masyarakat terutama anak-anak lewat karya kita. Pidato sejenak, karena gue tuh orangnya suka berpidato sendiri atau paling enggak di depan salah satu teman gue, kadang di kantin atau di kelas lebih-lebih di kamar mandi. Selain untuk memberikan nasihat untuk orang lain juga untuk menasihati diri gue sendiri.

Malam ini gue pusing, mikir pelajaran banyak banget. Kepala penuh, gak ada ruang yang tersisa untuk bersantai sejenak. Jadi pelajar ada susah ada senangnya juga apalagi harus membagi waktu. Daripada nanti tambah stress berhenti sejenak aja, gue ambil hp disamping gue lalu  gue putar sebuah lagu untuk mengistirahatkan otak atau bahasa inteleknya cooling down. Bersamaan dengan alunan lagu yang menuju ke saraf-saraf telingaku, gue pergi kedapur untuk membuat secangkir kopi, lumayanlah buat cuci mulut yang udah gak sabar ingin menikmati sensasi dan kenikmatan dari secangkir kopi. Gue buka laptop, gue coba untuk menulis beberapa kalimat meski hanya sedikit untuk melepas penat dalam pikiran gue. Sendiri dikamar gue tengkurap menindihi guling yang sehari-hari menemani gue saat tidur.

Saat ini gue belajar mengetik tanpa melihat keyboard, kaku banget tangan gue, gue mencoba sabar dan terus sabar. Dalam hati gue berkata kok gak bisa-bisa ya, apa gue yang gak bakat atau memang gak cocok. Meski begitu gue tetap berusaha lanjut, namun pada kalimat ke sembilan gue nyerah. Gue akan mencobanya kembali besok dan seterusnya, ya udah pada akhirnya gue nulis ini sambil liat keyboard sesekali.

Jam menunjukkan pukul 19.21, jam segini kalau dibuat tidur kagak seru juga, mau belajar masih pusing, padahal masih banyak tugas yang belum gue kerjain. Pulang sekolah pukul 14.30, jarak antara rumah sama sekolah 15 km, waktu yang di tempuh kurang lebih 25 menit. Sampai rumah udah loyo, habis makan buka laptop liat film kemudian mandi sholat mau tidur udah gak ngantuk jam segitu. Malemnya mungkin buka facebook, lihat pemberitahuan, buat status, trus comment, kalau gak gitu main game online. Biasanya cuman dua jam gue internetan lalu pulang, dirumah coba buka buku pelajaran barangkali ada tugas dari guru.

Gue juga jarang banget nonton TV semenjak SMA ini, jadi habis belajar tidur deh. Bangun-bangun jam setengah 6 pagi, sebenernya jam 5 pagi tapi gara-gara males jadi molor sampai jam segitu. Habis bangun kuterus mandi tak lupa kugosok gigi, kayak lagu aja. Kupakai seragam sekolah gue dengan rapi, gue ambil deodoran dari rak belajar gue lalu gue poleskan disela kedua ketiak gue, bulu-bulu yang tadinya kisut seakan segar kembali bersama harumnya bau deodoran. Tak lupa pula gue semprotkan minyak wangi ke sekujur tubuh, sentuhan terakhir kusisir rambutku dengan sebuah sisir yang berbalut minyak rambut sehingga diri ini nampak rapi dan juga klemis.

Banyak yang bilang gue gak pantes kayak gitu, katanya culun, gak gaul, gak keren, tak apalah karena keren menurut gue ama menurut mereka mungkin beda jadi gue PD aja. Setelah penampilan gue rasa oke, gue ambil helm gue yang biasa kupakai sehari-hari, INK warna merah standart SNI, beserta kunci motor gue, sebelum berangkat gue pamit ama orang tua gue, sehabis itu kunyalakan mesinnya sambil kumasukkan geriginya, , langsung kutancap gas ngeeeeeeeeeeeeeng cukup 60km/jam gak lebih, kalau lebih cuma dikit. Gue pun berangkat sekolah dengan senyuman bak mentari pertanda dimulainya hari beserta doa dengan harapan semoga diberi keselamatan diperjalanan, dan juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri, bangsa , dan negara.

Begitulah keseharian gue seakan menjadi sebuah siklus yang tak pernah ada habisnya, udah dua bulan ini gue dikelas 2 SMA tapi rasanya masih belum ada yang spesial. Kenangan dari temen-temen gue dikelas 1 SMA waktu itu masih tampak jelas di dalam fikiran gue, detik ini ditemani suara ketikan dari kedua jari jemariku, gue ingin mengenang kembali segala kenangan dari temen-temen gue dari awal bertemu. Mereka adalah sumber dari segala inspirasi dan pelajaran yang membuatku bisa menjadi seseorang yang berarti, gue tertawa dan sedih juga bersama mereka, bagiku tiada hari yang paling indah selain dapat berkumpul bersama bareng mereka.
 


Masa SMA adalah masa paling indah. Udah gede tapi belon ada kewajiban orang dewasa. 😍😍😍
profile-picture
coxi98 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
21-05-2019 06:03
yah Tika nya udah punya cowok ain gan ..... emoticon-Mewek
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
21-05-2019 10:43
Quote:Original Posted By Alea2212
yah Tika nya udah punya cowok ain gan ..... emoticon-Mewek



Tenang gan, masih ada kelanjutannya hehe
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
21-05-2019 13:47
Quote:Original Posted By Alea2212
yah Tika nya udah punya cowok ain gan ..... emoticon-Mewek


Cerita masih terus berlanjut gan
0 0
0
Nirmana (Tentang Cinta Terpendam dan Warna-Warni Kehidupan)
21-05-2019 14:56
Quote:Original Posted By sandriaflow
Cerita masih terus berlanjut gan


Lanjutin lagi dong gan.
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
aku-mencintai-bandot-tua
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia