Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
104
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca3395af0bdb22fbb062653/cerbung-horor-topi-saya-bundar
Sekuat tenaga gadis itu berusaha merayap di antara puing yang berserakan. Dengan pandangan yang sedikit kabur, sebab ada darah yang menetes lalu menggenangi satu matanya.
Lapor Hansip
02-04-2019 17:28

(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR

Past Hot Thread
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR

BAB I: KECELAKAAN MAUT

"Mama ...," lirih suara remaja putri usia tujuh belas tahunan. Tubuhnya lunglai di atas aspal setelah terlempar keluar dari pintu mobil yang terlepas akibat benturan yang begitu keras.

Sekuat tenaga gadis itu berusaha merayap di antara puing yang berserakan. Dengan pandangan yang sedikit kabur, sebab ada darah yang menetes lalu menggenangi satu matanya.

"Ranum ... Ranum, kamu nggak apa-apa, Sayang?" Dari dalam mobil yang ringsek dengan posisi terbalik, seorang wanita dengan kondisi yang tak kalah memprihatinkan terduduk di belakang kemudi. Tubuhnya lekat menempel di kursi dengan posisi kepala di bawah, menyentuh atap mobil.

"Mama ... sakit," erang gadis itu memegangi rambutnya yang basah oleh darah, yang berasal dari luka di kepalanya.

"Sabar, Sayang. Tunggu Mama ... menepi dulu, Ranum." Wanita di dalam mobil tampak berusaha melepaskan diri dari jerat sabuk pengaman yang terkunci.

Menuruti titah sang ibu, gadis berambut panjang itu merayap menepi. Bersandar ia pada trotoar jalan seraya menahan nyeri di sekujur tubuh.

Jalanan jam delapan malam kala itu sangat sepi. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan. Satu-satunya kendaraan lain yang mereka lihat adalah sebuah minibus bercat hitam yang telah menabrak mobil sedan yang mereka kendarai hingga tergelincir dan terbalik seperti sekarang.

Tak lama kemudian tiba-tiba asap mengepul dari mesin mobil.

"Mama ... Mama, ada asap. Cepat keluar, cepat," teriak Ranum pada ibunya yang kian panik.

Hitungan detik kemudian ....

Mobil meledak ciptakan suara gaduh. Asap dan api membumbung tinggi

"Mamaaa," pekik Ranum, pantulan kobaran api menyala-nyala di matanya yang basah. Mulut gadis itu ternganga melihat ibundanya terpanggang hidup-hidup, tak terselamatkan. Lalu gelap.

...

Hari keempat puluh. Namun, nyeri di ceruk hati mereka yang kehilangan seolah masih saja basah berdarah. Menjelma bening air mata yang menetes tiada henti, tumpah tak berpenghalang.

"Mama ... Mama ... Mama!" jerit Ranum dalam tidurnya. Mata gadis itu terpejam, sementara kedua tangannya menggapai-gapai seolah ingin meraih sesuatu.

Wandi, sang ayah yang tertidur di atas sofa ruang tengah rumah mereka, terbangun saat mendengar suara jeritan dari arah kamar sang anak. Bergegas lelaki itu berlari menujunya.

"Ranum, Sayang. Ranum." Wandi menggoyang-goyang tubuh gadis itu agar terbangun.

Seketika Ranum Cumiik seraya membuka mata. Wajahnya pucat dengan retina yang memerah, barangkali lelah terus menumpahkan airnya. Wandi segera meraih tubuh putrinya dengan sesak perasaan iba.

"Yah, Mama ... tadi ... Ranum." Meracau tak jelas gadis itu dengan bibir dan tangan bergetar.

Wandi mendengkus. "Sayang, Mama udah sama Tuhan."

Kembali tersedu Ranum dalam pelukan sang ayah, satu-satunya orang tua yang ia miliki kini. Wandi membelai lembut rambut panjang anaknya yang berantakan. Pedih hati, getir menghadapi gadis semata wayangnya yang masih kerap histeris karena trauma setelah wafatnya sang istri dengan cara yang amat tragis.

“Sayang, Ayah yakin kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa seperti halnya kelahiran, kematian juga takdir Tuhan yang nggak mungkin kita hindari.” Wandi memberi jeda. “Kita semua sedih, tapi Ayah juga nggak mau kita terus begini.”

“Harusnya Ranum bisa tolong mama waktu itu, Yah,” isak gadis itu.

Wandi membawa tubuh gadisnya kian lekat dalam dekapan. “Tuhan punya rencana, Sayang. Jika sampai pada hari ini Ayah masih kuat berdiri, itu hanya karena kamu, demi kamu. Seandainya kamu pun tak ada … Ayah mungkin sudah gila.”

Ranum menatap wajah lelaki dalam pelukannya. Ada gurat kesedihan yang tersembunyi pada garis-garis halus yang tergambar di kedua kelopak matanya. Bukan hanya sekali gadis itu tanpa sengaja melihat Wandi terisak sambil mendekap potret mendiang sang istri di dalam kamar mereka. Akan tetapi, air mata itu tak pernah sekali pun jatuh di hadapannya. Seketika Ranum disesaki rasa bersalah. Betapa ia terus menambah beban kesedihan, kian menumpuk di dada sang ayah yang bidang.

“Ayah … jangan tinggalin Ranum,” lirih gadis itu.

“Nggak, Sayang. Ayah akan selalu ada buat kamu.”

“Janji.”

Wandi mengecup pucuk dahi putrinya. “Ayah, janji.”

...

Pagi datang tanpa sempat lagi anak dan ayah itu terlelap. Mereka terus terjaga hingga waktu mengharuskan keduanya beranjak dari perenungan panjang. Menggantikan peranan sang istri yang telah tiada, pagi itu dengan telaten Wandi mempersiapkan sesuatu untuk mereka makan. Walau hanya berupa nasi goreng ala kadarnya.

"Sayang, kalau kamu mau Ayah bisa ambil libur hari ini," ucap Wandi sambil menikmati sarapannya di meja makan.

Sementara nasi goreng di piring Ranum masih utuh. Gadis itu hanya mengaduk-aduknya dengan sendok dan garpu. Tak berselera, walau perih perutnya menuntut untuk diisi segera.

"Ayah kerja aja, Ranum nggak apa-apa."

"Kamu yakin, Sayang?"

"Hmm,” gumam Ranum. Pada akhirnya, satu suapan nasi goreng buatan sang ayah memenuhi rongga mulut gadis itu.

"Ya udah. Nanti Ayah telepon Yessi buat menemani kamu ya."

Ranum menganggukkan kepalanya.

Lekat Wandi menatap gadis belia di hadapannya. Seperti pun luka-luka yang hampir mengering sempurna di beberapa bagian tubuhnya, lelaki itu berharap kesedihan dan duka di hati Ranum bisa lekas sembuh. Walau tak mungkin bisa hilang sepenuhnya.

...

Setelah selesai dengan sarapannya Wandi pamit umtuk pergi bekerja. Ranum mengantarkan sang ayah hingga ke pagar rumah, lalu menutup pintu besi itu kembali setelah mobil yang dikendarai lelaki itu berlalu.

Bukan pilihan yang menyenangkan bagi Wandi, setiap kali harus meninggalkan Ranum seorang diri di rumah dengan kabut duka masih membayangi kehidupan mereka. Namun, hidup harus terus berjalan. Ada banyak tanggung jawab yang masih harus lelaki berperawakan jangkung itu kerjakan. Terlebih lagi, ia tak ingin tampak lemah di hadapan sang anak. Atas tragedi yang telah mematahkan hati dan merenggut nyawa wanita yang amat dicintai.

...

Ranum menjatuhkan dirinya ke atas sofa empuk di ruang televisi. Kedua matanya menyapu setiap sudut rumah yang sepi. Berbagai perabot rapi tertata di tempatnya masing-masing, tak ada yang berubah. Termasuk sebuah bingkai besar yang tertempel pada dinding di hadapannya. Berisikan potret keluarganya saat masih lengkap, mereka tampak bahagia. Untuk beberapa saat gadis itu terdiam, kembali larut dalam renungan. Bahwa semenyakitkan apa pun yang terjadi adalah takdir Tuhan. Sang ibunda telah tenang di sisi-Nya, tak sepatutnya lagi ditangisi walau tak pernah mudah untuk dihadapi. Ranum menghirup napas dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru, kemudian berandai-andai seolah segala kesedihan akan ikut terbawa karbon dioksida yang ia embuskan ke udara. Lepas … ikhlas, sesuatu yang terus ia coba sejak hari pertama kejadian nahas itu menimpa.

Ranum mencoba mengalihkan diri dengan menonton  televisi. Berkali-kalil gadis itu menekan remote, mengganti tayangan pada layar datar di hadapannya. Tak ada yang menarik.

Sesaat kemudian gadis itu terusik suara gagang pintu yang bergerak, seolah ada yang sedang berusaha membukanya. Tanpa berpikir macam-macam ia bangkit dari duduknya untuk memastikan apa yang ia dengar.

"Ayah … Ayah pulang lagi?" seru Ranum seraya melangkah menuju pintu.

Nihil, tak ada jawaban atau siapa pun ia dapati di sana. Gadis itu teringat bahwa sang ayah memanggil sepupunya untuk datang. Mungkin itu Yessi, pikirnya.

"Yessi ... Yess," panggil Ranum lagi.

Hening, tetap tak ada jawaban. Akhirnya Ranum memutuskan kembali ke tempatnya semula. Namun, tiba-tiba setelah ia berjalan beberapa langkah seperti ada yang berlari dengan cepat di belakangnya. Ranum terkesiap.

"Yess, itu lu 'kan? Jangan bikin gue kaget," ucap Ranum dengan setengah berteriak.

Karena tak juga ada jawaban, Ranum memeriksa ke seluruh ruangan di rumahnya. Melangkah pelan ia dengan dada berdebar. Gadis itu mulai takut jika ada orang asing yang telah memasuki rumahnya, sedangkan ia hanya seorang diri di sana.

Ruang tamu, kamar kedua orang tua, hingga kamarnya sendiri pun telah ia periksa. Bergantian pintu dibuka, tak ada siapa pun juga.

Ranum menghela napas, mencoba menenangkan diri. Mungkin yang tadi itu hanya perasaannya saja. Gadis itu lantas memutuskan untuk kembali ke ruang televisi, sambil menunggu Yessi datang.

Akan tetapi, langkahnya kembali harus terhenti. Samar-samar dari dapur terdengar suara gaduh. Jelas terdengar suara ketukan pisau beradu dengan talenan kayu, sama seperti saat mendiang ibundanya memotong sayur dulu.

"Mama," suara Ranum bergetar. Perlahan gadis itu melangkah mendekati pintu dapur yang sedikit terbuka.

Semakin dekat, semakin keras pula suara itu terdengar. Degup jantung gadis itu semakin tak keruan. Ranum menelan ludah sambil merapatkan punggungnya ke tembok. Kemudian setelah mengumpulkan segenap keberanian, Ranum bermaksud memasuki dapur. Namun, kali ini ia dikejutkan oleh tangan yang tiba-tiba mendarat di pundaknya. Mata Ranum nanap, mulutnya terkunci. Napas gadis itu memburu tak teratur, dengan buliran keringat dingin deras mengucur di dahi.

"Num, lu kenapa?"

Ranum mendengkus kesal, mendapati sepupunya Yessi yang ternyata tengah memegangi pundaknya. “Yessi, ngagetin tau nggak.”

“Apa sih? Orang dari tadi gue manggil-manggil di pintu, nggak ada yang nyaut. Ya udah aja gue masuk.”

"Pssst!" Ranum meletakkan telunjuknya di bibir, "Ada orang di dalam."

"Siapa?" tanya Yessi, memelankan suaranya.

Ranum mengangkat kedua bahunya.

Tanpa pikir panjang Yessi segera memasuki dapur. Namun, lalu dahi gadis itu berkerut. "Mana? Nggak ada siapa-siapa juga."

"Tapi … tadi kayak ada orang di sini," kata Ranum yang segera menyusul.

"Perasaan lu aja kali, Num." Yessi melangkah keluar dari dapur dengan santainya.

Sementara Ranum masih bertahan di sana, memeriksa seluruh sudut ruangan. Masih dengan keyakinannya bahwa dia merasa tadi ada seseorang di dalam sana.

"Hey," sahut Yessi, membuat Ranum kembali terkejut.

"Astaga, Yessi," keluh Ranum.

“Lagian, ngapain bengong di dapur? Awas, kesurupan siluman talenan lu nanti,” celoteh Yessi.

“Ngaco!”

Sambil gaduh berseloroh, kedua gadis itu beranjak dari dapur.

Bersambung.

Bab selanjutnya
Diubah oleh rinnopiant
profile-picture
profile-picture
profile-picture
au07lia dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 4
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
02-04-2019 17:52
Quote:Original Posted By rinnopiant
BAB I: KECELAKAAN MAUT

"Mama ...," lirih suara remaja putri usia tujuh belas tahunan. Tubuhnya lunglai di atas aspal setelah terlempar keluar dari pintu mobil yang terlepas akibat benturan yang begitu keras.

Sekuat tenaga gadis itu berusaha merayap di antara puing yang berserakan. Dengan pandangan yang sedikit kabur, sebab ada darah yang menetes lalu menggenangi satu matanya.

"Ranum ... Ranum, kamu nggak apa-apa, Sayang?" Dari dalam mobil yang ringsek dengan posisi terbalik, seorang wanita dengan kondisi yang tak kalah memprihatinkan terduduk di belakang kemudi. Tubuhnya lekat menempel di kursi dengan posisi kepala di bawah, menyentuh atap mobil.

"Mama ... sakit," erang gadis itu memegangi rambutnya yang basah oleh darah, yang berasal dari luka di kepalanya.

"Sabar, Sayang. Tunggu Mama ... menepi dulu, Ranum." Wanita di dalam mobil tampak berusaha melepaskan diri dari jerat sabuk pengaman yang terkunci.

Menuruti titah sang ibu, gadis berambut panjang itu merayap menepi. Bersandar ia pada trotoar jalan seraya menahan nyeri di sekujur tubuh.

Jalanan jam delapan malam kala itu sangat sepi. Tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan. Satu-satunya kendaraan lain yang mereka lihat adalah sebuah minibus bercat hitam yang telah menabrak mobil sedan yang mereka kendarai hingga tergelincir dan terbalik seperti sekarang.

Tak lama kemudian tiba-tiba asap mengepul dari mesin mobil.

"Mama ... Mama, ada asap. Cepat keluar, cepat," teriak Ranum pada ibunya yang kian panik.

Hitungan detik kemudian ....

Mobil meledak ciptakan suara gaduh. Asap dan api membumbung tinggi.

"Mamaaa," pekik Ranum, pantulan kobaran api menyala-nyala di matanya yang basah. Mulut gadis itu ternganga melihat ibundanya terpanggang hidup-hidup, tak terselamatkan. Lalu gelap.

...

Hari keempat puluh. Namun, nyeri di ceruk hati mereka yang kehilangan seolah masih saja basah berdarah. Menjelma bening air mata yang menetes tiada henti, tumpah tak berpenghalang.

"Mama ... Mama ... Mama!" jerit Ranum dalam tidurnya. Mata gadis itu terpejam, sementara kedua tangannya menggapai-gapai seolah ingin meraih sesuatu.

Wandi, sang ayah yang tertidur di atas sofa ruang tengah rumah mereka, terbangun saat mendengar suara jeritan dari arah kamar sang anak. Bergegas lelaki itu berlari menujunya.

"Ranum, Sayang. Ranum." Wandi menggoyang-goyang tubuh gadis itu agar terbangun.

Seketika Ranum Cumiik seraya membuka mata. Wajahnya pucat dengan retina yang memerah, barangkali lelah terus menumpahkan airnya. Wandi segera meraih tubuh putrinya dengan sesak perasaan iba.

"Yah, Mama ... tadi ... Ranum." Meracau tak jelas gadis itu dengan bibir dan tangan bergetar.

Wandi mendengkus. "Sayang, Mama udah sama Tuhan."

Kembali tersedu Ranum dalam pelukan sang ayah, satu-satunya orang tua yang ia miliki kini. Wandi membelai lembut rambut panjang anaknya yang berantakan. Pedih hati, getir menghadapi gadis semata wayangnya yang masih kerap histeris karena trauma setelah wafatnya sang istri dengan cara yang amat tragis.

“Sayang, Ayah yakin kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa seperti halnya kelahiran, kematian juga takdir Tuhan yang nggak mungkin kita hindari.” Wandi memberi jeda. “Kita semua sedih, tapi Ayah juga nggak mau kita terus begini.”

“Harusnya Ranum bisa tolong mama waktu itu, Yah,” isak gadis itu.

Wandi membawa tubuh gadisnya kian lekat dalam dekapan. “Tuhan punya rencana, Sayang. Jika sampai pada hari ini Ayah masih kuat berdiri, itu hanya karena kamu, demi kamu. Seandainya kamu pun tak ada … Ayah mungkin sudah gila.”

Ranum menatap wajah lelaki dalam pelukannya. Ada gurat kesedihan yang tersembunyi pada garis-garis halus yang tergambar di kedua kelopak matanya. Bukan hanya sekali gadis itu tanpa sengaja melihat Wandi terisak sambil mendekap potret mendiang sang istri di dalam kamar mereka. Akan tetapi, air mata itu tak pernah sekali pun jatuh di hadapannya. Seketika Ranum disesaki rasa bersalah. Betapa ia terus menambah beban kesedihan, kian menumpuk di dada sang ayah yang bidang.

“Ayah … jangan tinggalin Ranum,” lirih gadis itu.

“Nggak, Sayang. Ayah akan selalu ada buat kamu.”

“Janji.”

Wandi mengecup pucuk dahi putrinya. “Ayah, janji.”

...

Pagi datang tanpa sempat lagi anak dan ayah itu terlelap. Mereka terus terjaga hingga waktu mengharuskan keduanya beranjak dari perenungan panjang. Menggantikan peranan sang istri yang telah tiada, pagi itu dengan telaten Wandi mempersiapkan sesuatu untuk mereka makan. Walau hanya berupa nasi goreng ala kadarnya.

"Sayang, kalau kamu mau Ayah bisa ambil libur hari ini," ucap Wandi sambil menikmati sarapannya di meja makan.

Sementara nasi goreng di piring Ranum masih utuh. Gadis itu hanya mengaduk-aduknya dengan sendok dan garpu. Tak berselera, walau perih perutnya menuntut untuk diisi segera.

"Ayah kerja aja, Ranum nggak apa-apa."

"Kamu yakin, Sayang?"

"Hmm,” gumam Ranum. Pada akhirnya, satu suapan nasi goreng buatan sang ayah memenuhi rongga mulut gadis itu.

"Ya udah. Nanti Ayah telepon Yessi buat menemani kamu ya."

Ranum menganggukkan kepalanya.

Lekat Wandi menatap gadis belia di hadapannya. Seperti pun luka-luka yang hampir mengering sempurna di beberapa bagian tubuhnya, lelaki itu berharap kesedihan dan duka di hati Ranum bisa lekas sembuh. Walau tak mungkin bisa hilang sepenuhnya.

...

Setelah selesai dengan sarapannya Wandi pamit umtuk pergi bekerja. Ranum mengantarkan sang ayah hingga ke pagar rumah, lalu menutup pintu besi itu kembali setelah mobil yang dikendarai lelaki itu berlalu.

Bukan pilihan yang menyenangkan bagi Wandi, setiap kali harus meninggalkan Ranum seorang diri di rumah dengan kabut duka masih membayangi kehidupan mereka. Namun, hidup harus terus berjalan. Ada banyak tanggung jawab yang masih harus lelaki berperawakan jangkung itu kerjakan. Terlebih lagi, ia tak ingin tampak lemah di hadapan sang anak. Atas tragedi yang telah mematahkan hati dan merenggut nyawa wanita yang amat dicintai.

...

Ranum menjatuhkan dirinya ke atas sofa empuk di ruang televisi. Kedua matanya menyapu setiap sudut rumah yang sepi. Berbagai perabot rapi tertata di tempatnya masing-masing, tak ada yang berubah. Termasuk sebuah bingkai besar yang tertempel pada dinding di hadapannya. Berisikan potret keluarganya saat masih lengkap, mereka tampak bahagia. Untuk beberapa saat gadis itu terdiam, kembali larut dalam renungan. Bahwa semenyakitkan apa pun yang terjadi adalah takdir Tuhan. Sang ibunda telah tenang di sisi-Nya, tak sepatutnya lagi ditangisi walau tak pernah mudah untuk dihadapi. Ranum menghirup napas dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru, kemudian berandai-andai seolah segala kesedihan akan ikut terbawa karbon dioksida yang ia embuskan ke udara. Lepas … ikhlas, sesuatu yang terus ia coba sejak hari pertama kejadian nahas itu menimpa.

Ranum mencoba mengalihkan diri dengan menonton  televisi. Berkali-kalil gadis itu menekan remote, mengganti tayangan pada layar datar di hadapannya. Tak ada yang menarik.

Sesaat kemudian gadis itu terusik suara gagang pintu yang bergerak, seolah ada yang sedang berusaha membukanya. Tanpa berpikir macam-macam ia bangkit dari duduknya untuk memastikan apa yang ia dengar.

"Ayah … Ayah pulang lagi?" seru Ranum seraya melangkah menuju pintu.

Nihil, tak ada jawaban atau siapa pun ia dapati di sana. Gadis itu teringat bahwa sang ayah memanggil sepupunya untuk datang. Mungkin itu Yessi, pikirnya.

"Yessi ... Yess," panggil Ranum lagi.

Hening, tetap tak ada jawaban. Akhirnya Ranum memutuskan kembali ke tempatnya semula. Namun, tiba-tiba setelah ia berjalan beberapa langkah seperti ada yang berlari dengan cepat di belakangnya. Ranum terkesiap.

"Yess, itu lu 'kan? Jangan bikin gue kaget," ucap Ranum dengan setengah berteriak.

Karena tak juga ada jawaban, Ranum memeriksa ke seluruh ruangan di rumahnya. Melangkah pelan ia dengan dada berdebar. Gadis itu mulai takut jika ada orang asing yang telah memasuki rumahnya, sedangkan ia hanya seorang diri di sana.

Ruang tamu, kamar kedua orang tua, hingga kamarnya sendiri pun telah ia periksa. Bergantian pintu dibuka, tak ada siapa pun juga.

Ranum menghela napas, mencoba menenangkan diri. Mungkin yang tadi itu hanya perasaannya saja. Gadis itu lantas memutuskan untuk kembali ke ruang televisi, sambil menunggu Yessi datang.

Akan tetapi, langkahnya kembali harus terhenti. Samar-samar dari dapur terdengar suara gaduh. Jelas terdengar suara ketukan pisau beradu dengan talenan kayu, sama seperti saat mendiang ibundanya memotong sayur dulu.

"Mama," suara Ranum bergetar. Perlahan gadis itu melangkah mendekati pintu dapur yang sedikit terbuka.

Semakin dekat, semakin keras pula suara itu terdengar. Degup jantung gadis itu semakin tak keruan. Ranum menelan ludah sambil merapatkan punggungnya ke tembok. Kemudian setelah mengumpulkan segenap keberanian, Ranum bermaksud memasuki dapur. Namun, kali ini ia dikejutkan oleh tangan yang tiba-tiba mendarat di pundaknya. Mata Ranum nanap, mulutnya terkunci. Napas gadis itu memburu tak teratur, dengan buliran keringat dingin deras mengucur di dahi.

"Num, lu kenapa?"

Ranum mendengkus kesal, mendapati sepupunya Yessi yang ternyata tengah memegangi pundaknya. “Yessi, ngagetin tau nggak.”

“Apa sih? Orang dari tadi gue manggil-manggil di pintu, nggak ada yang nyaut. Ya udah aja gue masuk.”

"Pssst!" Ranum meletakkan telunjuknya di bibir, "Ada orang di dalam."

"Siapa?" tanya Yessi, memelankan suaranya.

Ranum mengangkat kedua bahunya.

Tanpa pikir panjang Yessi segera memasuki dapur. Namun, lalu dahi gadis itu berkerut. "Mana? Nggak ada siapa-siapa juga."

"Tapi … tadi kayak ada orang di sini," kata Ranum yang segera menyusul.

"Perasaan lu aja kali, Num." Yessi melangkah keluar dari dapur dengan santainya.

Sementara Ranum masih bertahan di sana, memeriksa seluruh sudut ruangan. Masih dengan keyakinannya bahwa dia merasa tadi ada seseorang di dalam sana.

"Hey," sahut Yessi, membuat Ranum kembali terkejut.

"Astaga, Yessi," keluh Ranum.

“Lagian, ngapain bengong di dapur? Awas, kesurupan siluman talenan lu nanti,” celoteh Yessi.

“Ngaco!”

Sambil gaduh berseloroh, kedua gadis itu beranjak dari dapur.



Bersambung.


Wahh... siapa dong yang tadi di dapur🤔🤔🤔
profile-picture
dupa.fair memberi reputasi
2 1
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
03-04-2019 09:34
lumayan... ayo lanjut
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
03-04-2019 14:23
lanjutannya sis?
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
03-04-2019 20:17
kayaknya bagus ceritanya..
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
04-04-2019 15:30
lanjutannya mana
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
06-04-2019 11:15
diliat-liat kayanya bakalan seru ini cerita, ditunggu lanjutannya.
2 0
2
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
18-04-2019 19:52
ijin pasang tenda disini ya, kalo berkenan boleh timpukin bata yang banyak
profile-picture
linda.sinatra memberi reputasi
0 3
-3
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
19-04-2019 01:09
"Kalau tidak bundar, bukan topi saya, hihihihihi..." Bikin penasaran. Trims dah berbagi. Lanjut...
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
19-04-2019 06:05
lanjut Kakak
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 11:51

(Cerbung Horor: TOPI SAYA BUNDAR) Bab 2: Villa Rahasia.

"Gimana kondisi lu sekarang, Num?" tanya Yessi.

Menjelang sore, setelah bosan melakukan begitu banyak hal di dalam rumah. Kedua gadis itu duduk bersebelahan di teras belakang. Menikmati sejuk semilir angin yang menerpa lembut, sambil memandang cakrawala yang mulai meredup.

"Eum ... baik. Seperti yang bisa lu liat," jawab Ranum.

"Gue juga terpukul banget waktu tante Yuni meninggal. Lu tau 'kan? Kita sama orang tua satu sama lain, udah kayak orang tua sendiri." Yessi menyentuh bahu saudari sepupunya. "Gue nggak bisa bayangin kalau jadi lu, Num."

Ranum tersenyum. Hatinya mulai lapang. "Nggak usah dibayangin, Yess. Berat, lu atau bahkan Dilan sekali pun nggak akan kuat."

"Yaelah, Num. Dilan udah basi, udah nggak bisa diangetin lagi."

Ranum terkekeh.

"Nah, gitu dong ketawa, sedihnya jangan lama-lama. Balik lagi kayak Ranum yang dulu, biar tante Yuni tenang di sana," tutur Yessi.

"Iya, bawel," seloroh Ranum.

"Eh, jangan salah, Nisanak. Bawel-bawel gini juga gue sayang sama Anda," timpal Yessi.

Di antara semua saudara yang dimilikinya, bisa dikatakan Ranum memang paling dekat dengan Yessi. Selain karena mereka sebaya sehingga bisa "nyambung" dalam berbagai hal, keduanya juga tumbuh bersama melewati masa kanak-kanak hingga remaja. Di masa dukanya, gadis berambut coklat itu pula yang selalu ada mendampingi Ranum. Walau sekadar untuk menyediakan dekap paling hangat, saat kesedihan itu kembali teringat.

"Num. Sekolah kita 'kan udah beres, sebelum sibuk kuliah gimana kalau kita liburan dulu. Refreshing," usul Yessi.

"Boleh juga. Tapi ke mana?"

"Ayah punya villa di Kuningan, Jawa barat," ucap Wandi yang tiba-tiba sudah berada di belakang kedua gadis itu.

Ranum dan Yessi terperanjat, kaget.

"Ayah, udah pulang? Kok nggak kedengaran suara mobilnya?" Ranum mencium tangan sang ayah. Diikuti oleh Yessi.

"Boleh juga tuh, Num. Kuningan itu berarti daerah pegunungan 'kan Om?" tanya Yessi.

Wandi menjawab dengan anggukan kepala.

"Nah, enak dong suasananya tenang, adem, sejuk."

"Ya udah, kita ke sana aja. Ayah kok nggak pernah cerita punya villa di luar kota. Tau gitu 'kan dari dulu kalau libur kita ke sana," keluh Ranum.

"Sekarang udah saatnya," jawab Wandi dengan wajah datar.

Kedua gadis itu saling melirik heran. Mereka seolah merasa ada yang aneh, tetapi entah apa.

"Ya udah, yuk. Kita siap-siap," sorak Yessi seraya menarik tangan Ranum ke dalam rumah.

Saat akan memasuki kamar Ranum, keduanya mendengar suara pintu diketuk.

"Kayaknya ada tamu, Num," ucap Yessi.

"Ke kamar duluan aja, Yess. Gue buka pintu dulu ya," kata Ranum seraya berlalu.

Namun, alangkah terkejutnya Ranum saat pintu dibuka, gadis itu mendapati sang ayah yang tengah berdiri di sana. Padahal baru saja sesaat tadi mereka bertemu di teras belakang rumah.

"Loh, Ayah. Kok ... Ayah, bukannya tadi ...," ucap gadis itu terbata sambil menunjuk arah belakang rumah.

"Lama sekali buka pintunya, Sayang. Kalian lagi apa sih di dalam," protes Wandi seraya melangkah memasuki rumah.

Ranum yang masih diliputi kebingungan mematung di ambang pintu.

"Om Wandi? Kok Om ... muncul lagi dari depan?" tanya Yessi saat keluar dari kamar, gadis itu tak kalah bingungnya.

"Memangnya Om mau masuk dari mana lagi, Yess? Kamu ini ada-ada aja," jawab Wandi setelah menjatuhkan dirinya ke atas sofa ruang tengah rumah mereka.

"Tapi tadi ... tapi ...." Yessi tergagap, lantas siapa tadi yang bersama mereka di teras belakang, pikirnya.

"Kalian kenapa sih? Kok liat Ayah kayak liat hantu gitu."

"Eum, nggak, Yah. Nggak ada apa-apa," kilah Ranum. Ia berusaha tampak biasa saja.

"Tapi, Num. Tadi yang di sana ...-"

"Eum, Ayah kan katanya punya villa di Kuningan." Ranum sengaja menyela pembicaraan Yessi.

Wandi bangkit dari duduk, lelaki itu tampak terkejut mendengar ucap putrinya. "Ka-kamu ... tahu dari mana Ayah punya villa di sana?"

"Loh, tadi 'kan Om yang-"

"Dulu ... dulu 'kan Ayah pernah cerita, masa lupa." Lagi-lagi Ranum tak membiarkan Yessi bicara.

Wandi terdiam, lelaki itu tampak berpikir.

"Ayah," panggil Ranum, melihat sang Ayah terus diam sambil mondar mandir di hadapannya.

"Eum, i-iya, Sayang. Ayah ada villa di Kuningan. Kenapa memangnya?"

"Kita ke sana yuk, Yah. Setelah kelulusan 'kan Ranum belum sempat liburan. Lagipula, di sana Ranum bisa menenangkan diri," kata Ranum.

Wandi melangkah lalu mengusap rambut panjang putrinya penuh kasih. Apa yang dikatakan Ranum ada benarnya. Mungkin suasana pedesaan yang tenang bisa membantu sang anak menghilangkan trauma dan kesedihan dari kecelakaan yang pernah dialaminya.

"Iya, boleh. Nanti Ayah telepon orang yang biasa bantu-bantu di sana, buat beres-beres. Tapi ... Ayah mau kamu janji satu hal."

"Apa?"

Wandi menangkup wajah sang putri dengan kedua tangannya. "Sepulangnya dari sana, kamu nggak boleh sedih lagi."

Ranum mengangguk pelan, lalu didekapnya tubuh Wandi dengan erat.

...

Di dalam kamar Ranum, kedua gadis itu tengah sibuk mempersiapkan kepergian mereka esok hari.

"Nggak masuk akal, Num. Lu lihat sendiri 'kan om Wandi tadi lagi sama kita di teras belakang. Terus ... kok, tiba-tiba ada di pintu depan," ucap Yessi, masih dengan keheranannya atas apa yang terjadi. "Om Wandi kan bukan amuba yang bisa membelah diri."

"Gue juga nggak ngerti. Tapi ya udahlah, yang penting besok kita liburan."

"Jangan-jangan, tadi yang barengan sama kita-"

"Jangan ngomong terus. Bantuin gue berkemas," protes Ranum sambil memasukkan satu per satu perlengkapan yang akan mereka bawa ke dalam koper.

...

"Maaf ya, Sayang. Ayah nggak dapat izin dari kantor. Jadi nggak bisa ikut kalian," ucap Wandi di depan pintu. Sebelum kembali pada rutinitas kerjanya.

Ranum mendengkus meredam kecewa, sebab sang ayah urung pergi berlibur bersama mereka. "Iya, nggak apa-apa, Yah."

"Hei, jangan cemberut dong anak cantik Ayah. Happy ya nanti di sana, ingat sana janjinya."

Ranum tersenyum. "Iya, Yah."

"Nanti ada Pak Kasim ke sini. Dia yang akan antar kalian sampai Kuningan."

Ranum menganggukkan kepala.

"Ya udah, Ayah berangkat dulu ya. Hati-hati nanti di sana. Kalau udah sampai cepat kirim kabar."

"Iya. Ayah juga hati-hati." Ranum mencium tangan ayahnya. Lalu menutup pintu setelah lelaki itu pergi.

...

Sementara Yessi tengah asyik melakukan swafoto di kamar sepupunya, mengabadikan momen sebelum mereka pergi berlibur. Dengan mengenakan topi pantai warna biru tua yang melingkar di kepalanya, gadis itu menebar senyum, bergaya di depan lensa.

Satu tangan Yessi terangkat ke atas, membidikkan kamera ke arahnya. Senyumnya merekah, serekah cuaca siang yang cerah. Namun, ada yang aneh ditampilkan layar gawai. Sekilas seperti ada sosok wanita berambut panjang hingga menutupi wajah, berdiri tepat di belakangnya. Seketika Yessi menoleh, tetapi tak ada siapa pun di sana. Ia hanya seorang diri di dalam ruangan itu. Yessi menggenggam erat gawai dengan kedua tangan yang gemetar di dadanya. Wajah gadis itu memucat, bulu tengkuknya meremang. Bulir keringat mulai bermunculan di dahi. Yessi tersentak saat tiba-tiba sebuah sentuhan mendarat di lengannya, ia menjerit ketakutan.

"Yessi ... Yes, eh, lu kenapa?" tanya Ranum, heran melihat sang sepupu histeris akan kedatangannya.

Yessi memeluk Ranum sambil menangis. "Num, tadi ... tadi gue ...-"

"Kenapa sih, nggak jelas banget. Duduk dulu deh, yuk." Ranum menuntun sepupunya ke tempat tidur. "Tarik napas. Calm down."

"Tadi ada orang di sini, Num. Cewek, rambutnya panjang banget. Dia berdiri di belakang gue," ungkap Yessi, gelagapan.

Kedua alis Ranum bertaut. "Cewek siapa? Di rumah ini kan cuma ada kita berdua."

"Iya, gue tahu. Makanya, itu cewek siapa, Num. Jangan-jangan ... hantu."

"Duh, ngaco deh ini anak. Kebanyakan nonton film horor. Ini lagi, ngapain pakai topi pantai?" Ranum melepas topi yang Yessi kenakan. "Kita kan liburannya ke pegunungan."

"Sumpah tadi gue liat jelas di layar hape waktu selfie, ada cewek di sini, Num." Yessi bersikeras.

"Iya, azab orang yang hobi selfie melihat muka sendiri seperti setan," kelakar Ranum.

"Ish, Gue serius, Num."

Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk. Yessi merapatkan tubuh pada Ranum yang duduk di sampingnya.

"Ini apaan sih, ya ampun."

"Gue takut," bisik Yessi.

"Gue mau buka pintu, ada tamu." Ranum beranjak.

"Gue ikut," seru Yessi, bergegas menyusul Ranum.

...

"Maaf, cari siapa, Pak?" tanya Ranum setelah membuka pintu.

"Selamat siang, Neng. Saya Kasim, Pak Wandi meminta saya ke sini," jawab lelaki tambun berpakaian rapi yang berdiri di depannya.

"Oh, Pak Kasim. Bapak yang akan antarkan kami ke Kuningan, ya?"

"Iya, betul, Neng."

"Kita berangkatnya agak sore biar adem di perjalanan. Silakan masuk dulu, Pak," ajak Ranum.

"Baik, terima kasih, Neng."



bersambung.

Bab selanjutnya
Diubah oleh rinnopiant
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hernawan911 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 15:02
Quote:Original Posted By poccary
lanjutannya mana


Klik selanjutnya ya kak
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 15:03
Quote:Original Posted By lukakelana
"Kalau tidak bundar, bukan topi saya, hihihihihi..." Bikin penasaran. Trims dah berbagi. Lanjut...


Klik selanjutnya kak 🤭
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 17:45
Azab orang yg hobi selfie. Haha.. bisa aja.
Lanjutkan emoticon-Big Grin
0 0
0
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 17:53
Quote:Original Posted By leon4202
Azab orang yg hobi selfie. Haha.. bisa aja.
Lanjutkan emoticon-Big Grin


Asiyap 🤭
2 0
2
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 18:04

(Cerbung Horor: TOPI SAYA BUNDAR) Bab 3: Keanehan Dalam Perjalanan.

Waktu merangkak berlalu. Jarum jam telah menunjuk pukul lima sore. Langit mulai gelap dengan semburat jingga menyembur di ufuk barat. Seluruh barang bawaan mereka telah rampung diangkut ke bagasi. Lalu melaju mobil yang mereka kendarai menerobos jalanan ibu kota yang padat merayap. Ranum dan Yessi duduk di bangku belakang. Ceria, bersuka cita saling melempar canda, sementara Pak Kasim berkonsentrasi di belakang kemudi memandu perjalanan mereka.

"Biasanya berapa jam, Pak, perjalanan Jakarta ke Kuningan?" tanya Ranum.

"Nggak lama sekarang mah, Neng. Semenjak ada tol Cipali, paling cuma sekitar tiga setengah sampai empat jam," jawab Pak Kasim.

"Bapak orang sana juga?" tambah Yessi.

"Iya, Neng. Cuma saya udah lama kerjanya di Jakarta. Jadi sopir di kantor Pak Wandi."

"Di sana suasananya gimana, Pak?" tanya Yessi lagi.

"Ya, seperti pada umumnya suasana desa, Neng. Banyak sawah, di sana sejuk, tenang, nggak bising seperti di sini. Paling berisiknya sama suara kodok dan jangkrik," ungkap Pak Wandi.

"Maaf ya, Pak. Bawel emang dia mah," seloroh Ranum.

"Ish, lu mah. Gue kan kepo."

"Gue mau tidur, bangunin kalau udah nyampe." Ranum merendahkan sandaran kursi lantas memejamkan matanya.

...

Samar indera pendengar Ranum menangkap suara yang memanggil-manggil namanya. Kedua netra gadis itu mengerjap, perlahan terbuka. Suasana di luar telah semakin gelap, tampaknya hari mulai malam. Sementara di samping kirinya, Yessi tengah terlelap.

Ranum terkesiap saat seperti melihat wajah mendiang sang ibunda membayang di kaca depan mobil. Beberapa kali gadis itu mengedipkan mata, untuk memastikan yang dilihatnya. Namun, wajah perempuan itu tetap ada di sana. Wajah sang Mama pucat, matanya sendu menatap. Melambaikan tangan, lalu hilang.

"Mama," lirih Ranum.

Tiba-tiba Ranum dikejutkan sesuatu yang menghantam kaca pintu di sisi kanannya. Mata gadis itu membulat melihat entah bagaimana sang Mama tengah menempel di kaca. Kali ini dengan wujud yang menyeramkan baginya. Hampir seluruh wajahnya dipenuhi luka bakar, menghitam. Kuku-kuku panjang nan tajam di ujung jarinya tengah menggores-gores kaca.

"Pulang ... pulang." Begitu keras suara sosok itu seolah akan memecah gendang telinga.

Ranum menutup telinga dengan kedua tangannya, "Mamaaa ...."

"Num ... Ranum, Ranum," panggil Yessi seraya mengguncang bahu sepupunya.

Ranum terbangun dengan keringat membasahi wajahnya. Napas gadis itu memburu seperti telah berkejaran dengan sesuatu.

"Abis mimpi apa sih? Susah banget dibangunin," tanya Yessi.

Ranum menghela napas panjang. "Kita udah sampai mana?"

"Baru sampai Cirebon, Neng. Sekitar satu jam lagi kita sampai," jawab Pak Kasim.

"Jam berapa sekarang, Yess?"

Yessi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam setengah delapan malam."

"Neng, nanti di depan saya permisi menepi dulu ya. Ada titipan teman yang harus saya berikan pada keluarganya, kalau Neng nggak keberatan," ucap Pak Kasim.

"Iya, Pak. Silakan," jawab Ranum.

...

Setelah menepikan mobil, Pak Kasim permisi pergi meninggalkan kedua gadis itu di dalam mobil. Jalanan di sana sangat sepi, hampir tak ada kendaraan lain yang melintas. Penerangan pun terbatas, hanya beberapa lampu pijar berwarna jingga yang menyala di teras rumah warga di sepanjang jalan.

"Ini kampung ada orangnya nggak sih. Sepi banget," celoteh Yessi.

Ranum bergeming, ia masih terpikirkan dengan mimpi anehnya tadi.

Suasana kian mencekam saat angin berhembus cukup kencang, menciptakan suara kerosak daun dan batang bambu yang saling bergesekan.

"Kok ... serem ya, Num," bisik Yessi. Ia beringsut kian mendekat dengan posisi duduk Ranum.

Tiba-tiba seperti ada yang melempar kerikil dan pasir ke arah mobil mereka. Kedua gadis itu menjerit seraya saling mendekap satu sama lain.

"Ya Tuhan, Num. Siapa yang ngelemparin mobil?" tanya Yessi tergagap ketakutan.

"Gue nggak tau," bisik Ranum. Pun ia sama takutnya.

"Di sebelah kita rumpun bambu, Num. Gelap banget. Kata orang, rumpun bambu itu ...."

"Jangan ngomong aneh-aneh."

Sekali lagi kedua gadis itu terpekik saat mendengar suara pintu mobil dibuka.

"Kenapa, Neng?" tanya Pak Kasim, lelaki itu menatap heran.

Yessi mendengkus. "Pak Kasim."

"Eum, nggak ada apa-apa, Pak. Kita langsung jalan aja ya," kata Ranum seraya mengatur degup jantung dan membetulkan posisi duduknya.

"Baik, Neng."

Bersambung.

Bab selanjutnya
Diubah oleh rinnopiant
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redza8 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 19:51
Gercep euy, langsung update. Habis mimpi buruk, terus berhenti dekat pohon bambu.
Jiahhh... emoticon-Takut (S) ... emoticon-Ngacir
Diubah oleh leon4202
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 20:05
Yo'i. Apalagi kalo dekat pohon bambu ada rumah kosong, terus dekat rumah kosong ada kuburan.
Lengkap sudah deritamu emoticon-Mewekemoticon-DP
profile-picture
husnamutia memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 20:34
sudah update, nih tak kasih yang seger-segeremoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
(Cerbung Horor) TOPI SAYA BUNDAR
20-04-2019 20:46
Quote:Original Posted By rinnopiant
Makasih kak 😆 bala2nya ada?


Ada nih sisemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
Lempar bata saja sis jangan cendol, saya suka bataemoticon-Ngakak
0 1
-1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
natsu-no-hanami-n2h---fiksi
Stories from the Heart
you
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia