Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
31
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c94c7d57e3a72388270c0d3/hello-good-bye-baea-novel-by-puputhw
Karif dan Dias tidak berteman, bukan juga mantan pacar, mantan gebetan apalagi pacaran. Mereka hanya dua orang yang terpaksa saling mengenal karena rumah mereka berseberangan dan orang tua mereka berteman. Lalu, apakah mereka saling membenci? Sepertinya tidak. Karena kata orang, benci bisa jadi cinta. Baik Dias maupun Karif tidak ingin itu terjadi, cukup hubungannya seperti ini. Pura-p
Lapor Hansip
22-03-2019 18:32

Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw


Blurb:

Karif dan Dias tidak berteman, bukan juga mantan pacar, mantan gebetan apalagi pacaran. Mereka hanya dua orang yang terpaksa saling mengenal karena rumah mereka berseberangan dan orang tua mereka berteman.

Lalu, apakah mereka saling membenci? Sepertinya tidak.

Karena kata orang, benci bisa jadi cinta. Baik Dias maupun Karif tidak ingin itu terjadi, cukup hubungannya seperti ini. Pura-pura akur di depan orang tua mereka, dan kembali ke sikap yang seharusnya setelah itu.

Percaya atau tidak Dias itu paling muak dengan sifat Karif yang suka gonta ganti cewek. Mungkin hampir sebagian cewek di sekolahnya adalah mantan Karif. Cowok itu juga paling bisa memancing emosi Dias, ikut campur urusannya, dan sok tahu tentang kehidupannya.

Dan menurut Karif, Dias itu munafik. Bilangnya sudah move on tapi kalau lihat mantan udah kayak lihat setan. Juteknya kebangetan dan emosinya suka keterlaluan.

Tapi biar bagaimanapun sebagai tetangga mereka tidak bisa untuk tidak saling peduli ketika salah satu sedang terluka. Sekarang mungkin mereka hanya sebatas kepedulian tetangga entah nantinya.
Diubah oleh Puputhw199
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Lelo11 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
22-03-2019 18:49
ya ampun sista, cakep-cakep kali ceritamu emoticon-Matabelo
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
22-03-2019 22:45

1. Hello Satu

HELLO #1 | Jadian?

“Bahagia itu sederhana, chat gue lo balas cepat misalnya.”

-Hello, Good Bye Bae-



Karif : Di

Karif : Yas

Karif : Di

Karif : Yas

Karif : Dias ga pake Y

Karif : dada rata

Karif : p

Karif : p

Karif : oy

Dias Maharata : Ap

“Anjay!” seru Karif sambil geleng-geleng kepala membaca balasan dari seseorang yang ia beri nama contact Dias Maharata. “Salah satu orang gak kreatif dengan kearifan lokal, balasnya cuma apa itupun hurufnya gak lengkap.”

Karif : gue chat panjang-panjang cuma dibalas ap, emang keyboard lo gak lengkap, Rata?

Read

Karif : jahat amat sih, chatnya worang ganteng di read doang

Read

Karif : heh! Dias gak pake Y lo kira lagi baca koran apa

Read

Karif : Sekali lagi chat gue cuma di R doang, gue samperin kamar lo sekarang juga!

Dias Maharata : apa?

Karif : hehe gitu dong

Karif : takut ya gue beneran nyamperin ke kamar lo?

Karif : Hayo ngaku

Dias Maharata : dih najis!

Dias Maharata : sudah cepat, lo mau apa?

Karif : cieee Rata, kepo yaa

Karif : harusnya tuh lo senang Rata dichat duluan sama orang ganteng kuadrat, asal lo tahu diluar sama banyak cewek yang ngarep chatting sama gue

Dias Maharata : nama gue Dias Maharani, bukan Rata!

Karif : wkwk abis lo punya muka ekspresinya rata, badan juga rata. Depan belakang body talenan.

Dias Maharata : bacot!!

Dias Maharata : to the point aja mau ngomong apa gak perlu basa-basi, bacot lo udah basi

Karif : yee marah

Karif : bentar gue persiapan lahir batin dulu buat ngomong, soalnya gue malu bilangnya

Dias Maharata : BODOAMAT!!! Gue mau lanjut tidur

Karif : yaelah baru juga jam 2 pagi

Dias Maharata : Nah itu, kurang sinting apa coba orang spam chat gue jam segini

Karif terkekeh. “Iya ya, kalau dipikir-pikir gue sinting amat chat si Rata jam segini.”

Karif : salah sendiri nggak di sclient

Karif : Gue mau curhat

Read

Karif : gue

Karif : mau

Karif : curhat

Karif : Dias Maharani

Karif : eh tidur nih bocah

Karif : Yas

Karif : Dias gak pake Y

Dias Maharata : 5 menit

Karif : kayak presenter sekilas info aja dikasih durasi 5 menit

Dias Maharata : mau apa nggak? Kalo nggak mau yaudah gue off

Karif : mainnya ngancem, gak asik nih Rata

Dias Maharata : sabodo

Karif mengubah posisi tidur berbaringnya menjadi duduk bersila sambil menatap jendela rumah seberang jalan yang masih terang.

Dias Maharata : BURUAN, DAN JANGAN SEPOTONG-SEPOTONG!

Karif : Jebol capslocknya neng

Dias Maharata : buru

Karif : Zzzzz iya-iya

Karif : Jadi gini, tadi gue mimpi kalo kita jadian, nikah, punya anak yang lucu-lucu, dan langgeng sampai tua

Dias Maharata : terus?

Karif : gue seneng banget

Dias Maharata : terus?

Karif : nabrak!

Dias Maharata : gue juga senang kok

“Eh, serius?” Karif membaca ulang balasan dari Dias, siapa tau ia masih di alam bawah sadar. Tapi tidak, Karif sudah sepenuhnya sadar. “Gue kan cuma iseng, kok dia baper sih.”

Karif : lo senang juga?

Dias Maharata is typing...

Karif menggigit ujung bantal yang berada di atas pangkuannya. Karif jadi kepo tingkat dewa, kira-kira Dias sedang mengetik apa. Tak sampai satu menit pesan tersebut dibalas.

Dias Maharata : iya gue senang karena itu semua cuma mimpi. BYE!

Karif melongo, ia menatap secara bergantian layar ponselnya dan jendela kamar seberang rumahnya yang baru saja gelap. Kemudian, seringaian kecil mencuat dari bibirnya.

Karif : Good morning Dias, mimpiin gue juga yahhh

Karif : nanti gue jemput jam setengah 7, kita berangkat sekolah bareng

Setelah mengirim chat terakhirnya yang hanya menunjukkan centang satu, yang artinya perempuan itu beneran offline. Karif tidak melanjutkan tidur, ia bangkit berdiri menuju kamar mandi. Sepertinya akan ada kejutan di pagi ini.


BERSAMBUNG...
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan puputhw memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
23-03-2019 01:26
cakep
profile-picture
profile-picture
Alifahnh26 dan Asyila35 memberi reputasi
3 0
3
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
23-03-2019 08:44

2. Hello Dua

HELLO #2 | Cowok Kardus

“Mending lo ngaca dulu sana, supaya lo sadar diri gimana buruk rupanya laki-laki yang suka mainin hati perempuan.”

-Hello, Good Bye Bae-


“Proposalnya sudah di acc Kepsek, paling lambat seminggu lagi anggarannya cair, izin tempat juga sudah disetujui,” ungkap perempuan tersebut sembari menyerahkan beberapa stopmap berbeda warna kepada perempuan dengan rambut dicepol asal-asalan. “Tapi suratnya belum gue bagi, Yas,” tambahnya.

“Loh kenapa, ada masalah?” tanya Dias, mengalihkan sebentar pandangannya dari map-map tersebut kepada Linda—sekretaris OSIS SMA Belia.

Linda menarik napas dalam-dalam. “Hamka gak mau tanda tangan kalau bukan lo yang minta ke dia,” jelasnya.

Dias terhenyak, namun detik berikutnya perempuan itu bisa menetralkan raut wajahnya lagi. “Apaan sih itu orang bikin ribet, tinggal tanda tangan doang,” Dias jadi sensi. Linda mengangguk mengiyakan. “Kira-kira lo tau alasannya?” tanya Linda hati-hati. Ia tidak mau Dias merasa wajib menjawab pertanyaannya, Linda hanya penasaran ada apa antara Hamka dan Dias. Di jawab ya alhamdulillah, tidak juga tidak apa-apa.
Dan sepertinya memang Dias tidak mau menjawabnya.

“Lo coba sekali lagi, kalau dia gak mau juga, baru gue yang turun tangan,” kata Dias menyerahkan lagi stopmap tersebut kepada Linda.

“Gimana ya, bukannya gue gak mau, tapi kan...”

“Please, gue mohon,” pinta Dias.

Linda tampak ragu. “Yaudah gue coba sekali lagi.”

“Maaf ya Lin, ngrepotin lo dua kali,” Dias merasa tidak enak. Linda menggeleng, “woles aja.”

Dias menepuk lembut bahu Linda sambil menyunggingkan senyum manisnya. “Makasih Linda.”

“Sama-sama, Yas, lo kayak sama siapa aja,” Linda balas tersenyum. “Ini pembagian tugasnya lo baca-baca lagi siapa tau ada yang kurang atau mau diganti.” Dias menerima map berwarna biru yang disodorkan Linda. “Gue konfirmasi ke bagian kesehatan sama penanggung jawab konsumsi dulu, Yas,” pamit Linda.

“Oke.”

Setelah Linda berlalu pergi, Dias berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju koridor loker. Sambil berjalan, mata Dias begerak ke kanan, kembali ke kiri lalu ke kanan lagi, mengikuti deretan huruf yang dibacanya. Muncul kerutan di kening Dias ketika ia membaca deretan terakhir. “Koordinator lapangan, gue, Iel, Anaya, Hamka, dan...” Dias menggantungkan ucapannya selama seberapa detik. “Karif?” ujarnya tak percaya dengan apa yang barusan diucapkannya sendiri.

Dias mengucek matanya, memastikan penglihatannya salah. Bukan apa-apa, iya sih benar Karif itu pengurus OSIS juga, tapi laki-laki itu mana pernah datang rapat setidaknya barang sekali saja pasca reorganisasi pengurus sebelumnya yang sudah lengser karena naik kelas duabelas.
Barulah, ketika Dias merasa ada suara-suara orang bertengkar. Ia menoleh. Untuk beberapa saat, Dias cukup kaget saat melihat dua manusia yang tengah terlibat adu mulut.

“Rif, aku salah apa sama kamu sampai-sampai kamu mendadak putusin aku kayak gini?” tanya perempuan berambut ombre itu menyeka air matanya perlahan.

Dengan raut wajah yang dibuat semenyesal mungkin, pura-pura menyesal lebih tepatnya. Laki-laki yang menjadi lawan bicaranya menepuk bahu perempuan itu. “Lo nggak salah Cecil, tapi sorry gue mau fokus belajar,” balasnya santai.

Panu ayam receh anjir ngibulnya, kata Dias seolah menyahut pembicaraan keduanya.

Perempuan bernama Cecil itu meraih tangan laki-laki yang kini menjadi mantan pacarnya. “Aku nggak percaya, kamu sekolah aja gak pernah bawa buku mana mungkin mau belajar, pokoknya aku nggak mau putus dari kamu, Karif!” tandas Cecil membentak Karif.

Lantas Karif memutar bola matanya jengah, entah harus dengan cara apa ia terbebas dari perempuan yang dulu entah kesambet apa ia jadikan pacar. Saat itulah, manik mata Karif bersibobok dengan manik mata Dias.

Dias menaikkan alisnya saat senyum segaris Karif terbit. Ia membuang muka dan meneruskan membaca laporannya.

“Cecil,” Karif memanggil Cecil. Kedua sudut bibir Cecil tertarik ke atas, pikirnya mungkin Karif tidak jadi memutuskannya. “Iya Rif, kamu pasti mau bilang kalau kamu cuma ngeprank aku kan?”

“Sebenarnya, gue sudah nggak cinta sama lo karena gue jatuh cinta sama cewek lain,” balas Karif. Bagai tersambar petir di siang bolong, senyum Cecil luntur, bibir mungilnya bergetar menahan isakan.

Dias melirik sedikit, Cecil mulai menangis brutal sambil menarik-narik tangan Karif. Cih, sia-sia itu air mata nangisin cowok kardus, hina Dias di dalam hati. Namun, Dias kaget, saat Karif tiba-tiba berjalan ke arahnya. Tambah kaget lagi, saat Karif menariknya ke dalam pelukannya.

“Karif kamu...” ucap Cecil seraya membekap mulutnya.

Saat sudah berada di hadapan Dias dan Karif, Cecil memandang dua manusia yang tengah berpelukan itu secara bergantian. Saat itu Dias sedang berusaha kuat untuk lepas dari dekapan Karif.

“Nggak mungkin kamu suka sama dia!” sentak Cecil. “Aku tahu kamu bohong.”

Karif melepas pelukannya, tangannya berganti merangkul bahu Dias. “Terserah lo mau percaya atau nggak, mulai detik ini kita putus,” peringat Karif, tangannya posesif menekan bahu Dias merapat dengan tubuhnya.

Sementara Dias, perempuan itu melotot ke arah Karif. “Sudah deh jangan ganggu gue lagi, gue alergi dekat-dekat mantan. Yuk sayang kita pergi,” lalu, Karif langsung menarik tangan Dias tanpa sedikitpun menggubris teriakan Cecil yang membuat beberapa siswa yang ada di sana tambah antusias menonton kejadian itu.

Karif melangkah lebar dengan tangannya terus mencengkeram pergelangan tangan Dias. Berulang kali Dias meminta dilepaskan namun Karif tak kunjung melepaskan.

“LEPASIN!” Dias berusaha memberontak, tetapi Karif terus saja menarik Dias untuk semakin melangkah. Sampai akhirnya Dias menggigit tangan Karif yang mencengkeram tangannya setelah melihat ia ada peluang.

Gigitannya ampuh, tangan Karif terlepas dengan cepat. Cowok itu mengaduh. “Aw! Gila lo, Yas!”

“Lo yang gila!! Selama ini gue masih bisa sabar, tapi nggak untuk kali ini. Kurang ajar banget lo buat gue masuk dalam drama sialan lo itu.”

Karif terdiam lalu ia tertawa di detik selanjutnya. “Lebay deh, gue akting aja gak bisa gimana mau main drama. Dias Dias bercanda lo gak lucu tau.”

“Gue serius!” tandas Dias.

“Oh jadi lo maunya diseriusin, ya udah yuk ke pelaminan,” Karif hendak meraih tangan Dias lagi namun kalah cepat dengan gerakan Dias melayangkan tamparan ke pipi kanan Karif.

Karif terdiam, ia bisa merasakan panas dipipinya.

“Cara lo nyakitin perempuan sudah membuat seharga-harga diri lo sebagai cowok anjlok. Emang gak ada istilah cowok murahan, tapi banyak cowok yang omongannya bullshit-an, lo salah satunya,” telunjuk Dias terulur untuk menunjuk wajah Karif.

“Baik fisik maupun hati, kodrat wanita untuk dilindungi bukan disakiti,” ucap Dias. Tanpa mau mendengarkan tanggapan Karif, Dias meninggalkan Karif begitu saja.

Karif memandang punggung Dias dengan tangan terkepal. “Gue juga gak bakal melakukan hal rendah dengan nyakitin perempuan. Tapi sayang, gue terluka karena perempuan.”


BERSAMBUNG...
profile-picture
puputhw memberi reputasi
5 0
5
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
29-03-2019 23:12

3. Hello Tiga

BAGIAN #3 | Pesona Mantan

“Pelan-pelan tapi terus melupakan lebih baik daripada terburu-buru tapi banyak berhenti.”

-Hello, Good Bye Bae-


Pagi ini, selasa minggu pertama dibulan Februari matahari bersinar cerah di atas sana. Mungkin hampir semua orang tahu bahwa sinar matahari pagi sangat baik untuk kesehatan karena mengandung vitamin D yang sangat penting untuk penyerapan kalsium dan fosfor, membantu pertumbuhan tulang dan gigi, serta membuat tubuh tahan terhadap penyakit tertentu.

Iya Dias juga sangat tahu akan hal itu, tapi tetap saja menurut perempuan memakai seragam olah raga itu sinar matahari yang bertengger sangat cerah pagi ini seolah mengejek Dias yang tidak suka panas-panasan. Selain itu, Dias juga tidak menyukai mata pelajaran olah raga.

Entahlah, kenapa Dias tidak menyukai mata pelajaran olah raga, mungkin karena ia tidak ada bakat dibidang itu. Olah raga lari, setengah putaran saja sudah ngos-ngosan. Senam lantai, Dias punya kenangan buruk sejak sekolah dasar dengan roll depan, roll belakang, kayang dan kawan-kawan, hampir saja tulangnya patah karena salah gerakan. Olah raga dengan bola, Dias sudah panik duluan kena lemparan bola. Satu-satunya olah raga yang Dias bisa adalah renang, ya meskipun tidak jago-jago sekali tapi paling tidak ada yang ia bisa.

Alhasil disaat teman-teman sekelasnya begitu antusias mencoba mempraktekkan cara servis bola voli yang benar sesuai dengan apa yang didemokan Pak Alan—guru olah raga. Dias memilih duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga dekat pinggir lapangan. Menonton teman sebangkunya yang kelihatan begitu semangat mencoba servis atas dan servis bawah berkali-kali, sebanyak berkali-kali pula perempuan itu melakukan gerakan yang salah.

“Sya, ya ampun, bukan gitu caranya,” greget Renald mengacak rambutnya, laki-laki itu menyesal mengiyakan saat Tisya meminta bantuannya untuk mengajarinya.

Disisi lain, Dias memutar bola matanya melihat Tisya yang diam-diam tergigik geli, you know lah the power of modus. Kapan lagi bisa sedekat itu dengan ketua pramuka yang kalau senyum kelewatan manisnya. Renald kembali berbicara sembari membenarkan posisi badan dan cara Tisya memegang bola. “Lo perhatikan baik-baik, ini terakhir dan gue nggak mau lagi ngulangin.”

“Iya Ren, gue perhatiin,” balas Tisya tersenyum—senyum puas.

“Kaki kiri maju selangkah, bola lo pegang ditangan kiri terus arahkan ke depan. Tangan kanan mengepal, kemudia ayun ke belakang. Terus setelah itu, lambungkan bola ke atas dan tangan kanan lo ayunkan ke depan. Pukul tepat pada bagian bawah bola. Keluarin semua tenaga lo, supaya pukulan lo keras. Paham?”

“Paham dong.”

“Yaudah coba.”

Ketika sudah siap pada posisinya. Tisya... “Eh tapi kalau boleh tahu, ini servis atas apa bawah?”

“Ya Tuhan! Tadi lo bilang paham,” Renald benar-benar sudah habis kesabaran. “Bodoamat! Serah lu mau servis atas, servis bawah apa servis motor sekalian, gue mau ke kantin,” katanya sebelum benar-benar pergi meninggalkan lapangan.

Tisya tergelak, perempuan itu sukses mengerjai ketua pramuka yang katanya hampir diidolakan sebagian siswi perempuan di SMA Belia. Walaupun pesonanya masih di bawah Galaxy, anak XI IPA-1 yang gantengnya nggak bisa dijabarkan tapi sifatnya bikin cewek-cewek mikir jutaan kali untuk menarik perhatian laki-laki itu. Dan ya, tentu saja sifat dan pembawaan Renal menjadi point plus.

Tak berapa lama, Tisya ikut menyingkir dari lapangan dan menemukan Dias yang tengah duduk melamun menatap satu titik di lapangan futsal sana. Kebetulan jadwal olah raga XI-IPS 2 berbarengan dengan XI-IPA 5, tentu saja dengan guru olah raga yang berbeda. Tisya mendengus kesal, lalu dengan entengnya perempuan berkuncir satu itu melempar bola voli di tangannya ke arah Dias. Dan...

Bugh! Tepat mengenai kaki Dias. Lemparan Tisya tidak kencang, namun cukup membuat Dias terkejut dan mengaduh. “Eh, Tisna! Ngeselin banget, sih, lo?!”

“Ya abisnya ngeliatin mantan gitu amat, untung nggak sampai ngeces,” balas Tisya sambil mengibaskan rambut kuncir kudanya. “Emang benar, ya, kata orang. Kalau sudah jadi mantan pesonanya lebih keluar ketimbang pas masih jadian.”

Dias berdecak, selain tidak suka panas-panasan dan mata pelajaran olah raga, ia juga tidak suka dengan pembahasan yang satu ini. “Delapan planet, dua ratus lebih negara, tujuh milyar lebih manusia dan lo masih belum bisa move on dari satu manusia yang ninggalin lo demi cewek lain?” ujar Tisya setelah ikut duduk di samping Dias.

Tampaknya Dias memang benar-benar tidak mau lebih jauh membahas hal itu. Tampak dari perempuan itu yang memilih diam dan enggan menjawab. Handphone disaku celana Tisya bergetar, tanda ada pesan masuk. Ternyata ada notifikasi dari grup chat sekolahnya. Tisnya membukanya.

“Yas,” panggil Tisya.

“Apa?” Dias menjawab dengan kearifan muka datar tanpa ekspresi. Dan kata keramat ‘apa’ tiap kali orang yang masuk kategori tidak bisa serius menurut Dias.

“Lo tahu nggak?”

“Gak.”

“Ish, dengerin dulu,” Tisya memastikan posisi duduknya sudah sangat dengat dengan Dias.

“Harus banget nempel-nempel begini?” Dias hendak menggeser pantatnya, namun kalah cepat dengan Tisya yang sigap menahan lengan Dias.

“Urgent!”

“Jangan bilang ini tentang kura-kura piaraan lo? Bodoamat Sya mau itu kura-kura mencret-mencret lagi atau mau mati sekalian, bodoamat!”

“Nauzubillah, amit-amit!” Tisya mengetuk-ketukkan tangannya ke bangku. “Bukan itu.”

“Terus?”

Tisya menyodorkan handphone-nya ke hadapan Dias. “Nih, lihat.”

“Apaan, Sya? Oppa-oppa Korea?”

“Ya Allah, Yas, diliat dulu napa.”

Akhirnya, Dias menuruti perintah Tisya, atau jika tidak maka selama seharian ini Dias bisa memastikan harinya suram.

Setelah melihat sekilas, Dias menaikkan sebelah alisnya. “Terus?”

“Lo masih tanya ‘terus’?” Tisya memutar bola matanya malas. Memang susah punya teman yang hatinya flat. “Gini, ya, Dias Maharani—Ibu Waketos SMA Belia yang cantik tapi ngeselin. Lo sudah lihat, kan, itu screenshoot-an yang dishare di grup?”

“Udah. Terus?”

“Lo ngomong ‘terus’ sekali lagi dapat hadiah piring nih.” Tisya mengacak-acak rambutnya gemas. “Ya, itu, Karif jadian sama Megan, adiknya Galaxy. Bukannya teras terus teras terus.”

“Hubungannya sama gue apa?”

“Ya, gak ada hubungannya sama lo, gue cuma kasih tahu aja berita yang lagi hot banget dibicarain digrup.”

Dias menyentil dahi Tisya. “Mau dia pacaran sama Megan kek, pelepah pisang atau anak musang sekalipun. Gue gak PE-DU-LI!”

Tisya memanyunkan bibirnya seperti bebek. “Iya lah, lo mana peduli sama cowok lain. Orang yang lo tatap cuma mantan lo itu.” Kata Tisya menunjuk laki-laki yang saat itu sedang bertos ria karena berhasil mencetak point, dan memenangkan pertandingan. “Yas, mantan itu kayak micin, kenangannya bikin gak sehat. Jadi jangan terlalu berlarut-larut, move on dong.”

Dias bangkit berdiri, berjalan memunggungi Tisya.

“Eh, lo mau ke mana?”

“Kemana aja asal gak ada lo.”

“Yah, kok gitu sih, terus Karif gimana?”

“Paling juga besok putus,” gumam Dias pelan hampir seperti bisikan.

“Hah! Apa Yas?” Tanpa menjawab pertanyaan Tisya, Dias terus melangkah sampai punggungnya tidak terlihat lagi di belokan koridor loker. Tisya mengelus-elus dagunya sok serius. “Yakali Karif berani mainin hatinya Megan, bisa dikulitin hidup-hidup sama Galaxy.”


BERSAMBUNG...



emoticon-Toast emoticon-Toast emoticon-Toast
profile-picture
puputhw memberi reputasi
6 0
6
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
03-04-2019 08:15

4. Hello Empat

HELLO #4 | Dipaksa Keadaan

“Hidup itu berputar. Kadang ketawa kegirangan, kadang nangis gak karuan. Kadang mencintai, kadang diputusi. Kadang ngasih harapan, kadang korban perasaan.”

-Hello, Good Bye Bae-


“Coba deh lo ngaca,” perintah laki-laki blasteran Spanyol-Indonesia itu.

Karif menoleh ke arah kaca gerobak sop buah yang berada di samping kanan kursinya. Selanjutnya tangannya bergerak membenarkan tatanan poninya yang agak berantakan. “Ganteng, seperti biasa.”

Januar mendengus lalu memakan potongan nanas dari sop buahnya yang dibelinya memakai uang Karif. Katanya sih si bule kampung itu lupa tidak membawa uang, tapi Karif paham betul tabiat Januar. Jangankan dengan teman, makan dengan pacar sendiri saja yang tekor si cewek. Januar emang gitu kok orangnya.

Sifatnya beda tipis dengan Karif, pecicilan, jahilnya kebangetan, pemikiran kreatif di atas normal, tapi bedanya Januar setia dengan satu perempuan. Dari jaman pertama masuk SMA sampai sekarang Januar masih langgeng dengan pacarnya. Tidak seperti Karif yang mantannya sudah tidak terhitung.

Dan karena persamaan sifat keduanya, Januar dan Karif kini sedang makan berdua di warung tenda depan sekolah. Padahal saat ini masih jam masuk, tapi karena mereka kompak tidak mengerjakan PR matematika alhasil mereka berdua dikeluarkan dari kelas.

Sambil mengunyah, Januar berkata. “Lo nggak pernah sadar apa kalo lo itu goblok. Macarin Megan sama aja masuk kandang macan.”

“Maksud lo keluarganya Megan keturunan tujuh manusia harimau?”

“Aishh! Bego sampe ketulang-tulang,” dengus Januar sebal.

Karif tergelak mendengarnya. “Tadi lo kata kandang macan.”

Januar kembali berbicara. “Abangnya Megan, Galaxy dan Angkasa. Bisa abis lo sama mereka kalo sampai lo nyakitin Megan.”

“Gak bakal lah gue nyakitin Megan, orang gue sayang kok sama dia. Dia juga sayang sama gue,” sahut Karif. Ia menyendok potongan buah di dalam mangkuk sop buahnya lalu memasukan potongan buah itu ke dalam mulut.

“Sayang?”

“Iya.”

“Mana mungkin, gue tau banget Megan gimana, sekalipun stok cowok di dunia ini tinggal lo, dia nggak bakal suka sama lo,” balas Januar bersamaan dengan tawanya yang meledak. “Ada perjanjian apa sama Megan?”

Karif lalu mendesah pelan sembari menyeruput sop buah miliknya. Susah ternyata membohongi orang yang sudah mengetahui diri kita luar dan dalam. “Biar si Cecil nggak ganguin gue lagi makanya gue minta bantuan Megan. Kebetulan juga dia pengen ngetes gimana reaksi Mars, cemburu atau nggak. Jadi ya begitulah, simbiosis mutualisme.”

Januar mengangguk paham. “Kenapa gak minta tolong sama yang deket aja?”

“Siapa?”

“Tetangga kita lah, Dias.”

“Males banget aing minta tolong sama cewek emosian kayak dia,” sahut Karif.

“Jangan gitu, entar naksir kemakan omongan, kenyang sukurin lo.”

Karif memutar bola matanya untuk melirik Januar saat itu. “Nggak mungkin lah, itu salah satu kemustahilan dalam kamus hidup gue.”

“Gue sih cuma mau bilang hati-hati sama omongan lo, suka bisa dateng sama siapa aja dan tanpa diduga. Bisa jadi orang yang nggak akur sama lo, yang tiap hari berantem sama lo itu adalah jodoh lo,” peringat Januar.

“Ngomongin berantem gue jadi inget, gue masih punya utang bales perlakuan Dias sama gue.”

“Nih anak baru juga dikasih tau,” dengus Januar.

“Abisnya gue gedeg banget, Jan. Kemarin waktu gue mutusin Cecil, gue bingung tuh gimana caranya lepas dari itu cewek. Nah, kebetulan ada Dias di sana, ya udah gue peluk aja tuh cewek rata, biar Cecil percaya kalau gue sudah nggak cinta. Eh malah gue ditampar, ngeselin kan?”

Balasannya adalah Januar menonyor kepala Karif. “Ya iyalah bego, kalau gue jadi Dias gue sunat lo dua kali. Seenak jidat lo peluk anak orang sembarangan.”

Tak nampak raut wajah bersalah, yang ada malah Karif terlihat tidak mendengarkan.

“Jangan pukul sama rata semua sifat cewek, nggak semua cewek sama seperti mantan-mantan lo yang matre, egois, selingkuh. Ada saatnya lo akan menemukan seseorang yang benar-benar ada untuk lo saat lo dalam kondisi bahagia atau dalam kondisi terpuruk sekalipun. Cuma tinggal tunggu waktunya aja, dan lo nggak bakal ngelak kalo misal orang itu adalah Dias. Lo—”

Januar terkesirap dan hampir saja tersedak saat tiba-tiba Karif menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya. “Sudah diam, jangan banyak bacot, gue jadi kebelet boker.”

Setelah itu mereka tidak berbicara lagi, Januar kembali memakan sop buahnya dengan tenang, sementara Karif memilih mengambil handphone-nya yang berada dalam saku celama. Beberapa notifikasi masuk saat ia menghidupkan data selulernya.

Karif mengabaikan chat yang kebanyakan basa-basi untuk memulai obrolan dengannya. Karif mengakui dia suka gonta ganti cewek, namun ia paling tidak respect pada cewek yang terlalu agresif. Ia lebih tertantang pada cewek yang susah untuk didapatkan.

Handphonnya bergetar, muncul notifikasi baru. Panjang umur perempuan emosian itu, rupanya chat dari Dias.

Dias Maharata : terserah lo mau datang atau nggak, sabtu besok OSIS ada rapat setelah pulang sekolah, di ruang serba guna.

Karif segera mengetikkan balasan.

Karif : Wa’alaikumsalam, mungkin lo typo kurang salam wahai ibu wakil yang terhormat.

Beberapa menit Karif menunggu, chatnya masih belum terkirim juga. Karif mengecek handphone-nya lagi saat sebuah pesan baru saja diterimanya.

3636 : Paket Internet 1GB/day (200 MB all network + 800 Mb IG access)/30 hari telah habis, selanjutnya akan dikenakan tarif normal.

“Kenapa harus kuota yang sekarat. Kenapa bukan mantan aja,” gerutu Karif, ia melirik Januar. “Jan, tethring.”

Januar mengangguk ditengah-tengah ia menyeruput sop buahnya dari mangkoknya langsung sampai benar-benar bersih. Tiba-tiba saja handphone yang berada di saku celana Januar bergetar membuatnya segera mengambil handphone miliknya itu. “Bentar, Rif.”

“Iya hallo sayang, kenapa? Jemput. Ooh oke-oke.” Januar menyengir ke arah Karif setelah ia menyelesaikan percakapannya dengan seseorang di seberang telepon sana. “Duh sorry sorry nih Rif tethringnya pending besok yah, Joanna minta jemput.

Untuk kesekain kalinya, Karif mendengus sebal.

Januar kembali berbicara. “Btw utangnya gue bayar besok, ya. Kalo inget, HAHAHHA.”

Karif segera menghujami Januar dengan potongan semangka yang ada di sop buahnya. “Babi ah.”

“Sesama babi nggak boleh saling ngatain,” kata Januar terkekeh, sejurus kemudian laki-laki itu melesat pergi.

BERSAMBUNG...
profile-picture
puputhw memberi reputasi
5 0
5
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
07-04-2019 21:29
Januar ini namanya sama ya kayak yang Januar dan Joana. Apa emang satu tokoh sista?

Quote:Original Posted By Puputhw199
HELLO #4 | Dipaksa Keadaan

“Hidup itu berputar. Kadang ketawa kegirangan, kadang nangis gak karuan. Kadang mencintai, kadang diputusi. Kadang ngasih harapan, kadang korban perasaan.”

-Hello, Good Bye Bae-


“Coba deh lo ngaca,” perintah laki-laki blasteran Spanyol-Indonesia itu.

Karif menoleh ke arah kaca gerobak sop buah yang berada di samping kanan kursinya. Selanjutnya tangannya bergerak membenarkan tatanan poninya yang agak berantakan. “Ganteng, seperti biasa.”

Januar mendengus lalu memakan potongan nanas dari sop buahnya yang dibelinya memakai uang Karif. Katanya sih si bule kampung itu lupa tidak membawa uang, tapi Karif paham betul tabiat Januar. Jangankan dengan teman, makan dengan pacar sendiri saja yang tekor si cewek. Januar emang gitu kok orangnya.

Sifatnya beda tipis dengan Karif, pecicilan, jahilnya kebangetan, pemikiran kreatif di atas normal, tapi bedanya Januar setia dengan satu perempuan. Dari jaman pertama masuk SMA sampai sekarang Januar masih langgeng dengan pacarnya. Tidak seperti Karif yang mantannya sudah tidak terhitung.

Dan karena persamaan sifat keduanya, Januar dan Karif kini sedang makan berdua di warung tenda depan sekolah. Padahal saat ini masih jam masuk, tapi karena mereka kompak tidak mengerjakan PR matematika alhasil mereka berdua dikeluarkan dari kelas.

Sambil mengunyah, Januar berkata. “Lo nggak pernah sadar apa kalo lo itu goblok. Macarin Megan sama aja masuk kandang macan.”

“Maksud lo keluarganya Megan keturunan tujuh manusia harimau?”

“Aishh! Bego sampe ketulang-tulang,” dengus Januar sebal.

Karif tergelak mendengarnya. “Tadi lo kata kandang macan.”

Januar kembali berbicara. “Abangnya Megan, Galaxy dan Angkasa. Bisa abis lo sama mereka kalo sampai lo nyakitin Megan.”

“Gak bakal lah gue nyakitin Megan, orang gue sayang kok sama dia. Dia juga sayang sama gue,” sahut Karif. Ia menyendok potongan buah di dalam mangkuk sop buahnya lalu memasukan potongan buah itu ke dalam mulut.

“Sayang?”

“Iya.”

“Mana mungkin, gue tau banget Megan gimana, sekalipun stok cowok di dunia ini tinggal lo, dia nggak bakal suka sama lo,” balas Januar bersamaan dengan tawanya yang meledak. “Ada perjanjian apa sama Megan?”

Karif lalu mendesah pelan sembari menyeruput sop buah miliknya. Susah ternyata membohongi orang yang sudah mengetahui diri kita luar dan dalam. “Biar si Cecil nggak ganguin gue lagi makanya gue minta bantuan Megan. Kebetulan juga dia pengen ngetes gimana reaksi Mars, cemburu atau nggak. Jadi ya begitulah, simbiosis mutualisme.”

Januar mengangguk paham. “Kenapa gak minta tolong sama yang deket aja?”

“Siapa?”

“Tetangga kita lah, Dias.”

“Males banget aing minta tolong sama cewek emosian kayak dia,” sahut Karif.

“Jangan gitu, entar naksir kemakan omongan, kenyang sukurin lo.”

Karif memutar bola matanya untuk melirik Januar saat itu. “Nggak mungkin lah, itu salah satu kemustahilan dalam kamus hidup gue.”

“Gue sih cuma mau bilang hati-hati sama omongan lo, suka bisa dateng sama siapa aja dan tanpa diduga. Bisa jadi orang yang nggak akur sama lo, yang tiap hari berantem sama lo itu adalah jodoh lo,” peringat Januar.

“Ngomongin berantem gue jadi inget, gue masih punya utang bales perlakuan Dias sama gue.”

“Nih anak baru juga dikasih tau,” dengus Januar.

“Abisnya gue gedeg banget, Jan. Kemarin waktu gue mutusin Cecil, gue bingung tuh gimana caranya lepas dari itu cewek. Nah, kebetulan ada Dias di sana, ya udah gue peluk aja tuh cewek rata, biar Cecil percaya kalau gue sudah nggak cinta. Eh malah gue ditampar, ngeselin kan?”

Balasannya adalah Januar menonyor kepala Karif. “Ya iyalah bego, kalau gue jadi Dias gue sunat lo dua kali. Seenak jidat lo peluk anak orang sembarangan.”

Tak nampak raut wajah bersalah, yang ada malah Karif terlihat tidak mendengarkan.

“Jangan pukul sama rata semua sifat cewek, nggak semua cewek sama seperti mantan-mantan lo yang matre, egois, selingkuh. Ada saatnya lo akan menemukan seseorang yang benar-benar ada untuk lo saat lo dalam kondisi bahagia atau dalam kondisi terpuruk sekalipun. Cuma tinggal tunggu waktunya aja, dan lo nggak bakal ngelak kalo misal orang itu adalah Dias. Lo—”

Januar terkesirap dan hampir saja tersedak saat tiba-tiba Karif menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya. “Sudah diam, jangan banyak bacot, gue jadi kebelet boker.”

Setelah itu mereka tidak berbicara lagi, Januar kembali memakan sop buahnya dengan tenang, sementara Karif memilih mengambil handphone-nya yang berada dalam saku celama. Beberapa notifikasi masuk saat ia menghidupkan data selulernya.

Karif mengabaikan chat yang kebanyakan basa-basi untuk memulai obrolan dengannya. Karif mengakui dia suka gonta ganti cewek, namun ia paling tidak respect pada cewek yang terlalu agresif. Ia lebih tertantang pada cewek yang susah untuk didapatkan.

Handphonnya bergetar, muncul notifikasi baru. Panjang umur perempuan emosian itu, rupanya chat dari Dias.

Dias Maharata : terserah lo mau datang atau nggak, sabtu besok OSIS ada rapat setelah pulang sekolah, di ruang serba guna.

Karif segera mengetikkan balasan.

Karif : Wa’alaikumsalam, mungkin lo typo kurang salam wahai ibu wakil yang terhormat.

Beberapa menit Karif menunggu, chatnya masih belum terkirim juga. Karif mengecek handphone-nya lagi saat sebuah pesan baru saja diterimanya.

3636 : Paket Internet 1GB/day (200 MB all network + 800 Mb IG access)/30 hari telah habis, selanjutnya akan dikenakan tarif normal.

“Kenapa harus kuota yang sekarat. Kenapa bukan mantan aja,” gerutu Karif, ia melirik Januar. “Jan, tethring.”

Januar mengangguk ditengah-tengah ia menyeruput sop buahnya dari mangkoknya langsung sampai benar-benar bersih. Tiba-tiba saja handphone yang berada di saku celana Januar bergetar membuatnya segera mengambil handphone miliknya itu. “Bentar, Rif.”

“Iya hallo sayang, kenapa? Jemput. Ooh oke-oke.” Januar menyengir ke arah Karif setelah ia menyelesaikan percakapannya dengan seseorang di seberang telepon sana. “Duh sorry sorry nih Rif tethringnya pending besok yah, Joanna minta jemput.

Untuk kesekain kalinya, Karif mendengus sebal.

Januar kembali berbicara. “Btw utangnya gue bayar besok, ya. Kalo inget, HAHAHHA.”

Karif segera menghujami Januar dengan potongan semangka yang ada di sop buahnya. “Babi ah.”

“Sesama babi nggak boleh saling ngatain,” kata Januar terkekeh, sejurus kemudian laki-laki itu melesat pergi.

BERSAMBUNG...


profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
07-04-2019 21:30
Update dong sista emoticon-Jempol
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
3 0
3
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
08-04-2019 20:17

5. Hello Lima

HELLO #5 | Putus

“Ya memang susah jika pada dasarnya ia tak memiliki perasaan yang sama denganmu.”

-Hello, Good Bye Bae-


“Astaga, sabar.”

“...”

“Iya iya, ini gue sudah sampai.”

Klik!

Karif mematikan sepihak sambungan telponnya saat ia memasuki cafe tempat ia berjanjian dengan seseorang. Aroma vanila menyeruak indra penciumannya saat ia mendorong masuk pintu cafe.

Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe, dan berhenti pada perempuan memakai baju tidur bergambar Hello Kitty yang duduk di pojok ruangan dekat jendela. Entah Karif harus berkomentar apa untuk kelakuan perempuan yang satu itu. Baju tidur berwarna pink yang dipakainya cukup membuat perempuan tersebut menjadi bahan lirikan pengunjung cafe.

Karif melangkah mendekat, kemudian duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan perempuan itu, yang dari jauh dilihatnya memasang tampang cemberut sembari menghembuskan napas berulang kali.

Belum sepatah kata keluar dari mulut keduanya, seorang waitress datang untuk mencatat pesanan mereka. Dan itu artinya, Karif tidak telat datang karena waitress saja baru mendatangi meja mereka. Ah dasar, padahal saat perempuan di hadapannya itu menelpon agar Karif datang, ia sudah seperti orang kesetanan saat mengemudikan mobil.

“Mbak catet ya,” kata perempuan itu setelah menerima daftar menu. Waitress itu mengangguk. “Roti bakar satu, bakarnya sampe agak gosong, kasih topping coklat, keju, stroberi. Terus, chicken fingers satu, nggak mau tau pokoknya harus yang bagian paha. Terus, jamur enoki gorengnya satu, campur yang rasa BBQ, keju, sama spicy. Terus, onion ring-nya satu. Minumnya strawberry smootie satu, hot chocolate satu dikasih es yang banyak. Terus—”

“Umm mbak...” sela waitress. “Hot chocolate itu minuman panas, kalau misal mbaknya mau yang dingin bisa pesan ice chocolate.”
Perempuan itu mendongak, wajah kesalnya tercetak. “Mulut, mulut siapa? Yang mau minum siapa? Terserah gue lah mau nyebutnya apa.”

“Bukan begitu mbak tapi—”

“Bawel deh, tinggal dicatet juga,” decaknya. “Oiya mbak satu lagi, air putih dinginnya dua gelas.”

Waitress itu menurut saja dan tanpa banyak bertanya mencatat semua pesanan. “Masnya mau pesan apa?” tanya waitress itu. Karif masih diam, tidak bergeming.

“Rif,” panggil perempuan di hadapan Karif. “Karif!”

Ia melambaikan tangannya di depan wajah Karif. Namun, laki-laki itu masih melamun. Lalu... “Woyyy.”

“Hah,” Karif mengerjap karena perempuan itu menepuk bahunya.

“Lo mau pesan apa?”

“Air putih aja mbak.”

Setelah mencatat pesanan mereka, waitress tersebut berlalu.

“Gue gak minta dibayarin, kenapa lo pesan air putih doang?”

“Gue kenyang setan dengar pesanan lo barusan.”

“Setan-setan ini lo pacarin juga,” balasnya mencibir.

Venus Megan, perempuan yang beberapa hari ini menyandang status sebagai pacar Karif. Perempuan berkulit putih bersih itu meletakan kepalanya di atas meja. Kakinya tidak tinggal diam, menendang-nendang kaki meja menciptakan keributan kecil. Beberapa pengunjung menatap kesal ke arah meja mereka, dan Karif hanya memperhatikan saja tidak berkomentar ataupun menegur.

Buk.

Buk.

Buk.

“Arghh! Gue kesel,” kata Megan mengangkat kepalanya

“Bumi?” tebak Karif.

“Kenapa jadi Bumi, Mars lah. Emang ada selain dia.”

Karif mengangguk, tidak menunjukan ekspresi apapun. Kontan saja, Megan menjadi tambah badmood karena tanggapan laki-laki itu. “Kok lo biasa aja?” sungut Megan.

“Ya terus gue harus gimana, teriak-teriak gitu?”

“Kasih saran kek.”

“Permisi,” sela waitress tadi, datang membawa pesanan Megan plus segelas air putih pesanan Karif. “Ini pesanannya,” katanya lagi sambil menyuguhkan pesanan mereka.

Karif menggumamkan terima kasih sebelum wanita yang mungkin lima tahun lebih tua darinya itu hendak pergi.

“Mbak,” panggil Megan.

Sepertinya, dengan berat hati waitress itu kembali membalikan badan. “Ada yang mau dipesan lagi?” tanyanya dengan sisa-sisa kesabarannya menghadapi pelanggan seperti Megan.

“Minta kecap.” Waitress itu menangguk, kemudian pergi.

Karif menopang pipi memperhatikan pacarnya yang makan seperti orang yang tidak makan selama sebulan. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Megan, tidak peduli jika mulutnya masih penuh makanan dan belum tertelan, perempuan itu terus menyendok lagi dan lagi.

“Lo lapar apa doyan?” tanya Karif.

Megan tidak langsung menjawab, ia menunggu waktu sampai makanannya tertelan.

“Lapar,” jawab Megan sambil mengunyah. “Pengen makan orang,” sambungnya.

Karif menggelengkan kepala, adik kembaran dari sahabatnya ini memang sangat meledak-ledak emosinya, apalagi kalau sudah menyangkut seseorang yang dia suka.

“Rif.”

“Hm,” Karif melirik Megan disela-sela ia minum.

“Kita putus aja,” setelah mengatakan itu, Megan menyuapkan lagi makanannya ke dalam mulut.

“Putus?” mata Karif terbelalak. “Kenapa?”

Megan menggeram, lalu menatap lekat Karif. “Satu, lo jadiin gue pacar supaya lo gak dikejar-kejar sama mantan lo yang siapa itulah namanya gue lupa. Dua, gue menerima tawaran lo cuma karena mau panas-panasin Mars, apa dia cemburu atau nggak, dan nyatanya nggak. Tiga, karena misi gue gagal, yaudah kesepakatan kita selesai. Putus lah.”

“Seenak jidat, terus nasib gue gimana?

Nah kan benar, dari rumah tadi ketika Megan meminta bertemu, perasaan Karif jadi mendadak tidak enak. Dan ternyata, perempuan itu minta putus. Karif tidak masalah putus dari Megan, toh mereka tidak saling cinta dan Karif sudah menganggap Megan seperti adiknya. Tapi masalahnya, Karif belum menemukan pengganti supaya Cecil tidak mengganggunya lagi.

Megan memandang lurus ke depan. “Setelah gue pikir-pikir, cara yang gue lakuin ini salah, gue nggak boleh lari dari masalah apalagi sekadar bikin Mars cemburu. Dengan gue begini semakin menciptakan jarak yang jauh dengan Mars,” ada jeda Megan mengambil napas. “Lo tau gak sih, semenjak Mars tahu gue jadian sama lo dia malah menghindari gue, sering jalan sama cewek lain...” dan bla bla bla.

Megan terus mengungkapkan kekesalannya, mungkin perempuan itu sampai lupa menghirup oksigen. Karif mendengarkan namun tidak memperhatikan, pandangannya justru beralih menatap ke arah jendela. Ada lima detik Karif habiskan bahwa penglihatannya tidak salah.
Karif mengucek matanya untuk memastikan pandangannya dari seseorang yang sedang berdiri di seberang jalan tepatnya di depan apotek yang sudah tutup. Sosok itu, perempuan jutek yang selalu marah-marah dimanapun kapanpun ketika bertemu Karif

“Megan,” panggil Karif. Bukannya tidak mendengar, tapi Megan tidak suka kalau ada yang menyela ketika ia sedang berbicara.

“Gue masih bisa B aja kalau Mars kadang cuek sama gue, tapi ini sudah diluar yang gue rencanakan, dia—”

“Megan!”

“Apa sih Karif, gue belum selesai curhatnya.”

“Bersambung dulu ya, gue ada urusan.”

Lalu, tanpa menunggu tanggapan dari Megan, laki-laki itu bergegas pergi.

“Karif!”

“KARIF!!”

“Asshhh mantan sialan, awas aja gue aduin bang Galaxy sama bang Angkasa.”


BERSAMBUNG...
profile-picture
puputhw memberi reputasi
5 0
5
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
08-04-2019 20:58
emoticon-Big Kiss

Quote:Original Posted By Puputhw199
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw


Blurb:

Karif dan Dias tidak berteman, bukan juga mantan pacar, mantan gebetan apalagi pacaran. Mereka hanya dua orang yang terpaksa saling mengenal karena rumah mereka berseberangan dan orang tua mereka berteman.

Lalu, apakah mereka saling membenci? Sepertinya tidak.

Karena kata orang, benci bisa jadi cinta. Baik Dias maupun Karif tidak ingin itu terjadi, cukup hubungannya seperti ini. Pura-pura akur di depan orang tua mereka, dan kembali ke sikap yang seharusnya setelah itu.

Percaya atau tidak Dias itu paling muak dengan sifat Karif yang suka gonta ganti cewek. Mungkin hampir sebagian cewek di sekolahnya adalah mantan Karif. Cowok itu juga paling bisa memancing emosi Dias, ikut campur urusannya, dan sok tahu tentang kehidupannya.

Dan menurut Karif, Dias itu munafik. Bilangnya sudah move on tapi kalau lihat mantan udah kayak lihat setan. Juteknya kebangetan dan emosinya suka keterlaluan.

Tapi biar bagaimanapun sebagai tetangga mereka tidak bisa untuk tidak saling peduli ketika salah satu sedang terluka. Sekarang mungkin mereka hanya sebatas kepedulian tetangga entah nantinya.


4 0
4
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
08-04-2019 21:43

Behind The Scene "Hello, Good Bye Bae"

Karif - Dias versi akur


Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw

Quote:Jangan baper ya gais emoticon-Big Grin


Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw

Quote:Idihhhh sok sokan cute-cute jijik begitu ya, kalau di dalam cerita Dias sudah muntah pelangi wkwk emoticon-Amazed
emoticon-Shutupemoticon-rainbow



4 1
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
10-04-2019 18:45
Nantinya akan bertambah menjadi kepedulian hati
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
2 0
2
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
10-04-2019 20:34
Keren, Mbak🙂🙂
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
2 0
2
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
10-04-2019 22:52
Cakep
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
2 0
2
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
11-04-2019 09:57
Hello
profile-picture
Alifahnh26 memberi reputasi
2 0
2
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
12-04-2019 15:59
wah nice thread, ini yang aku tunggu, sangat menginspirasi banget.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
puputhw dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
12-04-2019 20:46
hahah keŕen
profile-picture
profile-picture
Alifahnh26 dan Asyila35 memberi reputasi
3 0
3
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
26-04-2019 18:43
Hai agan dan sista pembaca setia Hello, Good Bye Bae emoticon-Belo
setelah sekian lama ya, aku ngga update chapter baru (*ya elah baru dua mingguemoticon-angry ) wkwk. Kalian kangen nggak sama Dias - Karif? Kangen kan? udah iyain aja biar authornya bahagia ...

Udahlah ya, nggak guna juga aku ngebacot banyak-banyak, otw nex part emoticon-surprised
emoticon-excited


profile-picture
profile-picture
profile-picture
puputhw dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
08-02-2020 01:37
Move ke versi yang baru skuy https://kask.us/iEOfK emoticon-Sundul Up
0 0
0
Hello, Good Bye Bae___a novel by Puputhw
08-02-2020 01:48
Tapi emoticon-Frown ternyata thread yang ini sayang aja kalo di hapus emoticon-Mewek
kasihan juga kalau dianggurin huhuu, menurut kalian mending thread ini nasibnya gimana?
Diubah oleh Puputhw199
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
seorang-ayah-yang-jauh
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
Stories from the Heart
surat-surat-lovembers
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
ketakutan
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia