Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
192
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c7a4951f4d69563a763160f/pertarungan-melawan-tulisan
Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai to
Lapor Hansip
02-03-2019 16:13

Pertarungan Melawan Tulisan

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?
Diubah oleh aniesday
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 10
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 16:22

Cukup itu lebih dari cukup

Quote:Original Posted By aniesday

Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?







Di


1 0
1
Lihat 15 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 16:33
Bagus diancam nih penulis pujaannnya
2 0
2
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
02-03-2019 16:44
Balasan post Surobledhek746

Babak Awal Pertarungan Melawan Tulisan

Lelaki penulis fiksi itu mulai menggumuli berbagai buku sastra. Dulibasnya novel novel dari Zaman Hamka, Motinggo Busye, Mira W, Tere Liye, hingga novel penulis online Anis Hidayatie dan kawan kawan. "Salikah" satu judul novel yang dia sangat suka berulang membaca. Tokohnya mirip perempuan bercadar yang sedang dia jatuhi cinta.

Demi perempuan bercadar itu dia lupakan sejenak passionnya menulis sains fiksi yang membutuhkan banyak literatur ilmu pengetahuan untuk penguat cerita. Sungguh, saat ini dia seperti sedang tergila-gila dengan karya sastra. Maka jemarinya mulai terseret mengikuti irama.

Sebuah tulisan yang mengungkapkan perasaan dia hasilkan, inikah yang dinamakan puisi dia tak mengerti, yang dia tahu dia hanya ingin menuliskan rasa cintanya saja. Rasa ingin memiliki, melalui rangkaian kata bermajas dan bediksi. Untuk perempuan bercadar itu dia menuliskan,

Pada hangat matahari kutuliskan salam hormat, untukmu perempuan yang begitu menjaga martabat, pada embun pagi kutiupkan hawa sejuk cinta, untukmu perempuan yang tak jauh dari derita.

Hasrat ini terkembang hanya untukmu, gelegar rindu meletup letup menyusup dalam kalbu,tak bisa ku sembunyikan itu, kutawarkan istana untuk cinta kita memadu

Jangan jawab sekarang duhai perempuanku, takut tertolak sedang merasuki hatiku, biarkan aku mengembarakan anganku, dalam nikmat indah mencintaimu

Nantilah bila-bila, jawaban ya akan kau sampaikan padaku, sapa aku dengan binar matamu, bahwa kau bersedia jadi permaisuriku

Lelaki penulis fiksi itu menyampaikan perasaannya dalam kata-kata yang jauh dari kesan vulgar. Dikirimkan lewat email, pagi sebelum ia berangkat ke kantor, tempatnya bekerja. Tak dilihat lagi e mailnya, apakah sudah dibalas atau belum. Baginya asal rasa sudah diungkapkan, cukuplah sudah. Dia tahu pagi adalah jam sibuk bagi wanita bercadar yang juga guru di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu itu. Tiap hari dia berangkat sekitar jam 6 pagi hingga pulang ke rumah sore hari jepang senja tiba. Begitupun dirinya, jam kerjanya hampir sama. Tak berani dia mengganggu. Bahkan saat istirahat pun dia takut menyapa, khawatir merusak suasana kerja.

Sore hari tepat jam 5 lelaki penulis fiksi itu memberanikan diri menyapa via chat WA.
" Apa kabarmu, sudah makan?"
Sekira 10 menit chat itu sudah menerima balasan.
" Oh, sudah. Tadi siang di sekolah."
" Aku telah mengirim e mail untukmu, tengoklah." Lelaki penulis fiksi itu memberitahu. Debar di dada menanti reaksi perempuan bercadar itu. Terus di lihat e mail balasan. 1 jam, 2 jam, baru 3 jam lewat ada notifikasi e mail balasan. Gugup, tak sabar, dia segera membuka pesan yang tertulis di e mail.

Matanya menatap tajam layar laptop, diulang ulang membaca balasan dari perempuan bercadar itu. Terperangah, tak percaya, sedikit senyum tersungging. Ini pertanda apa?

Diubah oleh aniesday
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan ningdidien memberi reputasi
4 0
4
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
02-03-2019 16:45
Balasan post aniesday
😂😂😂😂😂😂
profile-picture
aniesday memberi reputasi
1 0
1
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 16:46
Quote:Original Posted By alizazet
Bagus diancam nih penulis pujaannnya


Quote:Original Posted By aniesday
Terimakasih kakakkuuuh


Quote:Original Posted By Surobledhek746
😂😂😂😂😂😂


emoticon-Cendol Gan

emoticon-Christmas
0 0
0
Lihat 2 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 16:48
Quote:Original Posted By alizazet
Bagus diancam nih penulis pujaannnya


Quote:Original Posted By Surobledhek746
😂😂😂😂😂😂


Quote:Original Posted By Surobledhek746






emoticon-Cendol Gan

emoticon-Christmas


0 0
0
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 16:49
Quote:Original Posted By alizazet
Bagus diancam nih penulis pujaannnya


Quote:Original Posted By aniesday
Terimakasih kakakkuuuh


0 0
0
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
02-03-2019 17:01
Balasan post Surobledhek746
Ha ha ha Desember masih jauh bang Surobledhek
2 0
2
Pertarungan Melawan Tulisan
02-03-2019 20:54
Quote:Original Posted By aniesday
Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?







Di


Wah maby mba Azet
0 0
0
Lihat 1 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
03-03-2019 06:49
Quote:Original Posted By aniesday
Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?







Di


Wah mantap nih mbaemoticon-Cendol Gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
03-03-2019 22:30
Mungkin aku nggak bakal setenang itu kalau dapat kiriman cerpen seperti perempuan bercadar ini 😊
profile-picture
ningdidien memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
05-03-2019 13:41
Quote:Original Posted By aniesday
Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?







Di


Ea selalu bagus
profile-picture
jonyjo memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
05-03-2019 16:38
Balasan post delia.adel
Kaupun rin...pengen sebagus dirimu
profile-picture
ningdidien memberi reputasi
2 0
2
Pertarungan Melawan Tulisan
05-03-2019 16:46
Keren! Itu saja, dah
emoticon-Cendol Ganemoticon-Big Kissemoticon-Cendol Gan
2 0
2
Lihat 1 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
05-03-2019 16:52
[quote=aniesday;5c7a4951f4d69563a7631610]

Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main. [quote]

:nulisah:nulisah:nulisah:nulisah

Kereen pokoknya dah, mantaf ini
Diubah oleh bekticahyopurno
profile-picture
ningdidien memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
05-03-2019 18:35
Quote:Original Posted By aniesday

Mestinya, perempuan bercadar itu marah besar ketika didapatinya lelaki yang dikagumi lewat cerpen-cerpen bernuansa sains fiksi itu mengiriminya sebuah cerpen dengan kata-kata vulgar. Cerpen yang mengisahkan betapa ada sesosok wanita dengan gempita menyambut kedatangan lelaki muda yang belum lama dikenal berhasil membuat lepas helai demi helai penutup raganya. Cerpen yang memuat dirinya sebagai tokoh sentral dan penulis lelaki itu menjadi lawan main.

Dengan kata-kata vulgar lelaki itu menggambarkan tiap scend pelucutan. Tiap adegan pemaksaan dengan ujung kepasrahan dalam kepedihan bagi wanita bercadar itu.

Muak, marah menjadi sebuah perasaan bercampur aduk yang tak dapat digambarkan pada perempuan bercadar itu. Serasa dirudapaksa, seperti dilecehkan kehormatannya. Padahal sungguh dia begitu hormat pada lelaki penulis itu.

Baginya lelaki itu adalah guru dalam ranah penulisan. Setiap kata yang dituliskan mengalun indah pada alur dan penceritaan. Kalimat yang dirangkai menjadi paragraf tanpa cela. Kisah dan ilmu pengetahuan mampu dirangkum lelaki penulis itu menjadi sebuah fiksi berbobot. Tak hanya menyajikan cerita biasa dengan konflik manusia namun juga bisa membuat otak berpikir. Ada hal baru yang bisa dipetik dari tiap torehan sains fiksinya.

Membuat cerita kacangan, apalagi berhias kata kata vulgar bukanlah hal yang mungkin dia lakukan. Perempuan bercadar itu termangu, ada apa dengan lelaki penulis itu?

Waktu itu ingin dia ungkapkan kemarahan dalam sebuah makian, dengan memblok nomor WA nya. Dengan memutuskan seluruh hubungan dengannya. Menghindarinya. Namun seperti ada yang menghadang tangannya melakukan itu semua. Satu pemikiran ditawarkan otaknya. Apa kalau hubungan telah diputuskan usai sudah keterikatan pertemanan? Bukankah sebaiknya didiskusikan alasan dibalik penulisan cerpen 'rudapaksa' itu?

Maka dibiarkan sebentar hubungan itu senyap. Perempuan bercadar itu mematut diri di depan cermin. Tak pernah muka dan badannya dia tunjukkan kepada lelaki manapun yang bukan muhrim, termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu. Bagaimana bisa dirinya bisa menimbulkan imaji sahwat begitu rupa, hingga terbersit cerita dewasa begitu?

Hubungannya dengan lelaki dengan kata-kata vulgar itu murni berdasarkan tulisan. Keinginan lelaki itu membukukan karyanya, meminta perempuan bercadar itu memilah, mengediting, menyusun dan mengumpulkan semua tulisan fiksi yang telah tayang di Beyond Blogging nasional menjadi muasal kedekatan ini. Tiap malam ada diskusi. Tiap hari ada tanya kegiatan apa. Seperti saudara kakak adik laiknya. Sedikit demi sedikit terbuka keseharian keduanya.

" Aku ingin melakukan itu denganmu. Izinkan aku menikahimu." Begitu chat yang didapat perempuan bercadar itu saat membuka androidnya. Mengiringi cerpen dalam bentuk words yang ditulisnya dengan tajuk 'Panggil Aku Mas'.

Chat yang ditulis oleh lelaki dengan kata-kata vulgar itu singkat, tapi mampu membuat tetes air mata menderas di pipi wanita bercadar itu. Sekelebat potongan adegan demi adegan seperti yang tertuang dalam cerpen kiriman lelaki dengan kata kata vulgar itu muncul. Bayangan wajah belahan jiwanya yang tlah hilang nyata dihadapannya, memerankan semua yang pernah dia lakukan bersama saat masih bernafas dahulu. Intim. Menderaskan buliran di pipi tak henti.

Kerinduan tak tertahan menimpa wanita bercadar pada belahan sukmanya. Tak mungkin bisa dia melakukan dengan lain orang. Maka dibalasnya cerpen lelaki itu dengan sebuah cerita percintaan dengan tokoh dirinya dan suaminya. Tanpa sedikitpun kata-kata vulgar. Ada romantisme dalam majas, dalam prosa, dalam sajak berima. Dia ingin berikan gambaran bahwa dirinya tak lagi menginginkan sentuhan dari lelaki manapun. Karena dia hanya ingin satu saja pelaku dalam hidupnya.

Cerita fiksi itu dikirimkan pada lelaki dengan kata-kata vulgar yang cerpennya juga di-posting dalam satu media sosial. Penggunaan majas metafora yang dipakai lelaki dengan kata kata vulgar untuk menulis itu membuat cerpennya aman, lolos sensor. Ditayangkan. Namun bagi perempuan bercadar , cerpen itu tetaplah tak layak baca. Ada rate XXX seharusnya. Agar pembaca tak ikut berimajinasi nakal seperti gambaran cerita.

" Tak ada pernikahan lagi dalam hidupku. Maafkan." Begitu balasan perempuan bercadar pada lelaki dengan kata kata vulgarnya.

Diiringi satu karya fiksi kirimannya yang juga di posting di platform blog. Menuai trending viewer malah. Sungguh mencengangkan. Torehan kata yang ditulis saat jiwanya tercabik antara marah pada lelaki dengan kata-kata vulgar dan kerinduanku pada usapan separuh nyawa membuat karya fiksi yang dihasilkan sarat emosi. Tak hanya viewer yang suka. Lebih dari itu, tujuannya menyampaikan pesan pada lelaki itu tersampaikan.

" Baiklah aku tak akan memaksa, tapi aku tertarik menulis sepertimu. Ajari aku bersajak, menulis kata kata puitis nan romantis. Hingga suatu saat kau akan tunduk dengan tulisanku."

Perempuan bercadar itu tercenung, tak mungkin dia menolak orang yang akan mempersembahkan tulisa padanya meski dengan alasan belajar. Bagaimanapun dia masih sangat suka membaca karyanya. Namun bila lelaki penulis itu tetiba bisa menulis indah, karya sastra yang mampu menggugah hatinya. Sungguh itu yang membuatnya khawatir tak terkira.

Perempuan bercadar itu penyuka sastra, tlah ribuan judul karya dia baca dari e book, dari media sosial, dari buku buku, bahkan dari koran koran. Semua mampu menghadirkan inspirasi menulis yang tak ada habisnya. Dia menuliskan dalam prosa dan puisi kesukaannya. Indah banyak yang suka. Termasuk lelaki dengan kata kata vulgar itu.

Maka untuk lelaki dengan kata-kata vulgar itu dituliskan pesan." Menulislah terus, untukku, untuk pembaca, jangan lagi ada kata-Pertarungan Melawan Tulisankata tak senonoh di dalamnya. Dan bila ada satu tulisan saja mampu menggetarkan hatiku, bukan berjanji, mungkin aku akan memikirkan pinanganmu."

Seperti menantang, perempuan bercadar itu menuliskan pesan. Padahal dalam hatinya benteng pertahanan sedang dibangun, agar tahan guncangan, tahan getaran. Pertarungan tulisan sepertinya segera dimulai. Siapa pemenangnya baru akan ketahuan sesudah tulisan-tulisan itu dihasilkan. Apakah ada yang akan mampu menggetarkan?







Di


selamat sore, selamat beraktifitas. Sebarin cendol dulu 😉😉
2 0
2
Lihat 12 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
05-03-2019 18:43
Balasan post YenieSue0101
Aaeeek terima kasih ya cantik
2 0
2
Pertarungan Melawan Tulisan
05-03-2019 18:48
Quote:Original Posted By aniesday
Aaeeek terima kasih ya cantik


Sama2 kakak cantik. Jangan lupa mampir ya emoticon-Big Kiss
1 0
1
Lihat 6 balasan
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
06-03-2019 07:11
Balasan post aniesday
hayuk, aku mampir
1 0
1
Pertarungan Melawan Tulisan
Lapor Hansip
06-03-2019 07:11
Balasan post YenieSue0101
nih aku mapir di sini aja yaaa
1 0
1
Halaman 1 dari 10
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mean-it-part-2
Stories from the Heart
cerbung-oooh-suamiku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia