Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
251
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c6a9cf3f4ae2f208c68c243/tak-punya-hati
Pernah nggak kamu bertanya, kenapa sampai dilahirkan! kan di dalam perut lebih enak!, kan di alam surga lebih enak?. Kamu tau, gw insomnia gara-gara pertanyaan itu dan baru paginya gw dapet jawaban. Kata otak gw, biar kamu-kamu yang masih berbentuk lendir nggak dibuang di sembarang tempat. Tapi faktanya, kamu-kamu yang belum berbentuk itu juga ngeyel, mereka bilang! Bodo amat, yang penting kelu
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 10
Tak Punya Hati ?
18-02-2019 19:01
emoticon-Sundul
0 0
0
Tak Punya Hati ?
18-02-2019 19:03
seterah lu dah
1 2
-1
Tak Punya Hati ?
18-02-2019 19:04
Hari itu sedang cerah, secerah perasan gw. Gimana nggak cerah coba, di depan gw ada cewek cantik, semeja dengan gw dan sudah akrab. Entah namanya siapa, gw lupa. Yang jelas, tubuhnya porposional, apalagi buah encutnya, pas kalau di raba. Dia jenis cewek casual, simple, elegan, ditambah potongan pendek, semakin menampakkan keihiranya. Amazing..

Tapi sayang, moncongnya rada maju sedikit.

Kita ngobrol dari barat ke timur, ujungnya sampai papua sana. Endingnya nggak jelas.

Dan lapp…

Ternyata Cuma mimpi.

Gw mimpi pas lagi ketiduran di kantor, pas gw bangun! Ternaya memang sebatas mimpi.

Tapi, ada satu yang perlu kamu ketauhi, yaitu tentang kriteria cewek gw, meski di mimpi moncongnya agak surplus, semoga di alam nyata nggak ngalahin eli su gigi. Amin.

Pas gw masih berwajah bego, temen gw nyamperin, seperti biasa—sebatas ngasih draf system yang harus gw aplikasikan ke website atau android. Tau kan, kira-kira gw kerja apa. Pekerjaan gw nggak butuh orang banyak cing-cong, butuhnya selesai. Selesai deal sama customer terbitlah revisi, kurang ini kurang itu, oke-in saja, toh.. ongkosnya nambah.

“Bos.., anak-anak ntar malem ngopi di panji, datang ya.. sekalian makan-makan, katanya.. lola ultah”

“Emm..” jawab gw nggak jelas.

“Ayolah bos, peka dikit lah!” ujarnya dengan wajah tengil.

Gw Cuma melihat sekilas, mau jawab! lagi nggak ada alasan mau jawab apa. Lalu, makhluk yang namanya Sandi itu pergi dengan senyum bugil. Btw, lola itu karyawan sini juga, Cuma beda divisi. Kata orang-orang, dia menyukai gw. Gw? Masih belum sreg, tandanya si joni nggak hormat kalau ada dia. Karena gw orang baik, keputusan si joni adalah prioritas kelas wahid. Lagian, kalau gw nekat tapi joni nggak mau, gw bisa apa. Ya nggak jon.

***
Malamnya gw hadir, entah dengan alasan apa gw kok tumben hadir, biasanya gw nyingkir.

Karena gw hadir, sudah pasti pipi putih itu jadi bakpau rebus. Apalagi pas dia nyambut gw di pintu masuk, pake acara gandeng tangan segala. Gw, biasa aja!. Lagian, gw lupa nggak bawa kado, itung-itung itu dulu kadonya.

Pas acara sudah rame, banyak juga yang teller, termasuk dia, gw mendadak bingung. Lantas, sebuah pertanyaan masuk di benak gw, kenapa ya.. di tempat yang ramai seperti ini, gw merasa kesepian?
Belum sempet nemu jawaban, lola sudah roboh di pangkuan gw, dia masih dengan pipi yang merah, bibir apalagi dan satu yang umum, dari bibirnya merancau kata nggak jelas. Gw, jadi kasihan. Entahlah, sebejat-bejatnya gw, gw kok masih bisa merasa kasihan.

Acara masih terus berlanjut, sebagian sudah tepar, sebagian masih heboh dengan gaple dan sebagian lagi asik dengan curhatan nggak jelas, mungkin—sedikit melepas kejenuhan hidup. Sedangkan lola, bubuk dengan pulas di pangkuan gw.

Sebenarnya gw mau pulang duluan, tapi nggak enak sama lola, apalagi dia KO beneran. Sebajingan-bajinganya gw, gw masih berperikemanusiaan, apalagi dia sedang ulang tahun. Anggap saja, ini kado buat dia. Mungkin!, bagi gw biasa saja, tapi bagi lola? Bisa jadi luar biasa, mengingat, dia menyukai gw, sedangkan gw!, biasa aja.

Sekitar jam dua pagi, gw balik..

Sama lola.

Lebih tepatnya, lola bakalan nginep di apartemen gw. Katanya sudah kemalaman, mau pulang takut sama bokapnya, sekalian nggak pulang katanya, besok tinggal bilang—nginep di rumahnya Sella, beres.

Gw, bilang ke lola.

Seperma gw, cukup kalau bikin dia bunting..

Lalu dia jawab apa, BODO AMAT. Oke, kita balik. Mobilnya dia titipin, jadi dia semobil sama gw.

Selama perjalanan, dia Cuma merem, diem dan nggak tau dia hidup apa tidur. Sesampainya di besmen, dia bangun. Mungkin, selama perjalanan dia tidur nggak tidur, lebih tepatnya bahagia, apalagi sama gw. Gw bisa berkata demikian, gw yang horror ini kadang nonton drama korea.

Kita keluar mobil Cuma diem-dieman. Pun kita jalan ke lift, di dalam lif dia Cuma diem, gw! Biasa aja. Anggap saja sedang nonton drama korea. Simple kan.

CLING..

Kita sampai di lantai sepuluh, keluar lif, jalan lurus, mentok, hadap kanan—itu pintu apartemen gw.

Berbekal eyescaner, pintu sudah terbuka dengan otomatis, disusul lampu led menyala bergantian. Mulai dari ruang tamu, dapur dan kamar. Gw masuk seperti biasanya, tapi tidak dengan lola. Dia masih mematung di depan puntu. Mungkin dia sudah sadar, kalau di depan sana ada seperma nakal.

“Masuklah, nggak enak sama tetangga..” sahut gw datar.

Dia berbisik assalamualaikum.. lanjut melangkahkan kaki masuk kedalam. Gw masih bisa mendengar meski lirih. Gw jadi inget kata Eyang, kalau kita hidup di dunia ini nggak sendirian, meski mata kita nggak bisa melihat, di samping kita—di sekitar kita ada makhluk lain yang sama-sama menghuni alam belantara, so—kata Eyang, kalau mau masuk terlebih itu ada pintu, paling nggak harus salam. Salam ke yang punya rumah atau salam kepada yang punya tempat namun kasat mata.

Gw, tiba-tiba tersenyum.

Meski dia sudah masuk tapi dia masih berdiri seolah sedang dalam acara formal, belum duduk kalau belum dipersilahkan duduk.

“Nggak usah sungkan, biasa aja.. anggap rumah sendiri, kalau mau minum, kulkas di belakang. Meski kamu tamuku, gw bukan tuan rumah yang baik, kalau mau apa-apa ambil sendiri, oke”

Dia hanya senyum kecil, lantas ke belakang, bisa ke dapur bisa ke toilet. Gw, mlipir ke meja kerja. Meski besok weakend, kalau ada kerjaan yang belum selesai, rasa-rasanya seperti ampas. Dimakan nggak enak, ngak dimakan juga nggak enak.

Kadang gw juga berfikir, apakah kehidupan memang seperti ini. Meski seperti ini yang seperti apa gw juga gagal paham. Mungkin, hidupku terlalu lurus, pun kalau ada percabangan—itu tak lebih dari variable-variabel sebalum sampai ke output kehiduapn itu sendiri.
Lantas, kehidpan macam apa yang gw inginkan sebenarnya?

Pekerjaan bagus, sudah..
Rumah, sudah..
Tempat kimpoi, kalau gw mau—tinggal calling..
Lalu, apa yang gw inginkan?
Apa yang sebenarnya gw piukirkan?

Meski otak ini terfokus ke data-data, kadang iklan-iklan macam itu sering muncul tanpa permisi, kalau sudah akut—gw bisa seperti zombie. Mangkanya gw tadi bilang, pagi kerja, malam ngopi, tengah malam coli. Lebih tepatnya bukan coli recehan, tapi coli pikiran yang butuh tempat untuk menyalurkan hasrat nan sekarat. Kamu tau, di balaik manusia pendiam, ada dunia yang teramat bising di kepalanya. Dan aku sedang mengalaminya.

Pas otak gw masih berkutat dengan dunianya, seseorang mengacaukan tanpa permisi.

“Kopi..” sapanya sembari meletakkan cagkir di meja kerja gw.

“Thanks..” jawabku datar.

Lantas dia pergi ke balkon dengan cangkir yang sama dengan yang dia letakkan di meja gw. Mungkin dia lagi suntuk? Mungkin juga lagi happy? Siapa peduli. Gw, lanjut ke draf-draf yang masih bertebaran di banyak folder.

kira-kira jam lima pagi, gw istirahat. Mungkin karena kopi, gw bisa on sampai jam segini. Pas gw jalan ke ruang tamu, lola sudah pulas di sofa. Berbekal selimut, gw selimutin dia. Gw, otw kamar dengan pikiran nggak jelas, sumpah—gw capek dengan kepala macam pc pabrik. Kapan diamnya ini otak.

Gw sudah berbaring di ranjang, empuk, putih dan bersih. Mulai memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, hembuskan! Konsentrasi, hitung domba satu-satu.

Tidur…
profile-picture
profile-picture
ariid dan yusufchauza memberi reputasi
6 0
6
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Tak Punya Hati ?
18-02-2019 21:39
Yak... Lanjut emoticon-Ngacir
0 0
0
Tak Punya Hati ?
19-02-2019 00:05
Tuhan maha maklum..!? emoticon-Ngakak (S) Asli simpel banget..! emoticon-Ngakak (S)

Okelah.. lanjutkan... emoticon-thumbsup
1 0
1
Tak Punya Hati ?
20-02-2019 20:57
Kasihan lola udah beli balon gak ditiup
0 0
0
Tak Punya Hati ?
20-02-2019 21:44
Kamu... Siapa?
Aku... Siapa?
emoticon-Ngacir
0 0
0
Tak Punya Hati ?
23-02-2019 16:00
"Kamu.. apa kabar?"

Sebuah suara yang sangat sederhana, suara yang dulu membuat gw hidup dan menjadi manusia selayaknya manusia hidup lainya. Namun, cerita kehidupan siapa pernah tau akan bermuara kemana. Gw seperti sekarang ini, juga karena dia.. meski gw tak pernah berkata. Karena gw pernah bilang, asal dia bahagia.. aku pasti akan sangat bahagia. Tapi faktanya, pait pak.

"Baik.. kamu kapan balik," jawab gw cangung. Kaget juga.

"Kemarin, tapi.. aku nggak lama disini"

"Oh.."

"Maaf nggak wa kamu duluan, ponselku ilang, karena aku nggak ada tujuan.. aku langsung kesini, siapa tau kamu masih disini, eh.. second key tempatmu masih bisa.. emm.."

"Aha.. hahaha.. iya, kapan kamu fik balik.." entahlah, gw tiba-tiba pengen ramah. Nggak enek juga sama dia, dikira gw nggak bisa tegar apa.. kalau nggak sama dia?.

"Monggo duduk, biasa ae disini" lanjut gw ramah.. mah.. mah.

"Kak, bisa bicara sebentar.." sahutnya serius.

"Eh.. ya, apa.." gw cengar-cengir, gak tau mau bersikap gimana.

"Maaf, adek nggak bisa jadi adek yang baik buat kakak.. mungkin, kelak dikehidupan yang akan datang, adek akan balas semua kebaikan kakak.. dan satu lagi, adek tau siapa kakak.. dan! Semua ketegaran, basa-basi ramah.. hari ini, adek anggap nggak ada, karena faktanya.. kakak luka. Maaf kak. Adek berat buat lugas, tapi.. bukankah ini yang kaka ajarkan ke adek, lugas.. meski sakit."

"Hahaha.. sudahlah, aku akan baik seperti yang kamu lihat.."

Dia hanya senyum, selebihnya hanya diam.. melihat gw erat, dan.. sebuah kecupan.. mendarat di pipi gw. Pun, tanpa sepatah kata.. dia pergi, lantas hilang setelah pintu tertutup.

Gw.. mendadak bego. Tuhan, kenapa picik sekali karuniamu.. atas rasa yang tak pernah bermuara, rasa yang tak pernah tergenggam dan rasa yang tak pernah menuai terima.

Dia..

Dia adalah Rania, kekasih gw no dua, yang belum pernah gw apa-apain. Karena gw sudah berjanji, suatu saat nanti buat nikahin dia. Tapi.. takdir berkata lain, dia.. memilih hidup dengan yang lain. Lebih tepatnya, dia adalah tipe cewe nggak bisa ditinggal, sedangkan gw.. orang lapangan, beda kota. Dulu. Jadi.. bisa kamu bayangkan, kita seperti apa. Kita, menjalin hubungan sejak 2011 sampai pertengahan 2015, dan kamu tau.. 2015 adalah tahun kita mau nikah. Tapi apa, Tuhan memang nggak sip. Kita.. dipisahin. Sakit?

BANGET...

Dan sampai detik ini #2019, gw jadi jomblo abadi. Entahlah, gw masih belum bisa menerima keadaan. Atau.. gw masih belum yakin buat membuka hati. Macam.. menerima kehadiran Lola. Gw belum bisa.

Pernah juga, suatu saat gw berandai.. kalau gw nggak akan nikah. Bodo amat juga. Lagian.. gw nggak ada waktu buat menye.. menye.. sok kenal, sok pendekatan, sok basabasi. Apa itu! Nggak masuk sama isme gw. Pun, kalau gw nggak nikah, seenggaknya.. gw bisa mengurangi populasi bumi. Kan keren.

Sanpai malem, gw masih bego di ruang tamu.. lupa makan dan lupa buat nyiapin materi buat proyek besok.

Itulah gw, manusia bebas dengan hati lakban-an dimana-mana. Lagipula, gw nggak bisa kerja, nggak bisa mikir kalau hati sedang kalut. Mangkanya, gw memilih kehidupan dan pekerjaan lepas.

Teruntuk malam itu, gw cuma pegen ndiginin hati. Lagipula, gw bingung harus mengeja kata sepertti apa buat merepresentasikan nada-nada kesakitan seperti itu.

Namun, setelah kopi.. rokok.. angur cap orang tua gw teguk. Gw pun bobo dengan damai. Satu doa ku, semoga.. esok masih ada mentari yang setia membangunkanku, menghangatkanku dan menyapaku dengan tulus.

Jujur nggak jujur, kesakitan untuk kebahagiaan orang lain itu.. memang tetap sakit.

Dan malampun.. bergerak dwngan sangat lambat. Gw, lelap.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tikusil dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tak Punya Hati ?
23-02-2019 16:44
Semburat cahaya terang, menyapa wajahku yang masih redup redam. Dan..

Dan aku nggak ada kegiatan, mungkin.. aku nggak masuk hari ini. Lagipula, jurnalku hari ini apa.. aku nggak tau.

Yaps, karena gw orangnya teramat bebas, untuk mengikat sayap gw yang teramat liberal, malamnya.. sebelum lelap, gw sudah list.. apa-apa yang akan gw lakukan esok hari. Jadi, bisa dibayangkan.. gw ini manusia macam apa. Soalnya, kalau nggak gw tulis.. gw bakalan nyasar kemana-mana, jadi zombie dan berantakan.

Meski hidup gw ancur, tapi gw nggak mau mati kere. Mangkanya, gw ketatin jadwal gw, setidaknya.. esok hari ada yang bakalan gw lakukan. Teruntuk hari ini, biarkan gw blank sejenak. Tak apa, gw masaih bisa menikmati sensasi kengeblankan hidup.

KLING..

KLING..

Entah sudah berapa kali ponsel gw bunyi, gw.. masih malas-malasan di bak mandi. Ah, lucu juga pikir gw.. tiba-tiba gw tersenyum jahil. Lantas, gw berfikir lagi.. 'kenapa.. gw nggak keluar saja, toh sudah mandi'.

Yo..

Gw loncat dari bak mandi dengan busa dimana-mana.

Ambil shower, keramas dan cus dandan. Bodo ah masalah kemarin, hari ini gw mau nge-Mall. Cari sempak yang ada gambar Rilakumanya.

Itu tujuan gw hari ini, pertanyaanya, 'Mau ke Mall mana?"

Bodo amat, yang penting jalan dulu.

Itulah gw, kalau nggak ada jurnal. Apa yang sekiranya gw ingin, detik itu juga harus.

Dan ternyata, bomber gw ngarah ke PTC. Jauh.. tapi tak apalah, sekali-sekali. Disana gw muter-muter, bodo amat pake kolor sponsbob, sendal swalooh, yang penting.. gw pake batik sekarang. Indonesiais banget lah.

Satu yang nggak gw suka sama Mall, embak.. embaknya sok perhatian, orang.. cewek gw ae nggak pernah perhatian?.

"Mas.. diskon dua puluh persen mas.."

"Mas.. baru mas.."

"Mas, liat.. liat dulu mas.."

Dan a i u e o, entahlah.. gw risih aja. Mending, sentum aja yang ramah, baru.. kalau gw masuk di persilahkan, tapi ya jangan kepo, sumah ilfil banget gw. Apalagi di kuntitin, a sialll.. nggak-nggak kalau gw nyolong.

Yo..

Gw sudah dapet store cangcut, dalam ati gw bertanya-tanya, masuk.. nggak. Masuk.. nggak. Lah, yang jaga cewe semua?.

Hhhhhh.., gw ketawa. Tapi dalem ati.

"Mbak, ada yang ukuran M?"

"Ada kak, sebelah sini.."

Gw ngikut mbaknya,

"Yang ada gambarnya ada mbak"

"Gambar apa kak?"

"Rilakuma.."

Dia ketawa, tapi di empet.

"Kayak e nggak ada kak, ini ada panda, sama singa"

Gw tau kalau dia ngakak, tapi jaim si embaknya.

Karena lucu-lucu, gw ambil yang siput, motifnya hampir kayak bunderan di pungungnya Naruto. Cuma, ada kepala siputnya. Atau.. serupa sama serial anime siput balapan, apa itu lupa. Yang jelas, motifnya siput. Siput ambil satu, panda? Ambil satu, eh.. bukan panda deh. Semacam Koala.

Sialnya, gw nggak dapet yang motif Rilakuma.

Dan sorenya, gw mojok di cofee store, ambil Late semabari ngisis. Cuci mata plus nikmatin aura manusia-manusia curah di luar sana.

Sedangkan gw, entahlah.

But, gw sudah bisa bahagia dengan keadaan yang serba sederhana.

Satu lagi, gw juga cukup bahagia dengan tidak pegang ponsel untuk satu hari. Rasa-rasanya, gw kembali menjadi manusia normal. Sialnya, otak gw yang riuh.. apalagi banyak inputan dari aura-aura manusia baru.

Stop..

Gw nggak mau membahas. Gw cuma mau merelaksasikan segala yang ada di tubuh gw.

Relak..

Relak..

Dan fokus. Fokus ke musik klasik era 90-an. Gw diam, tapi.. kaki kanan gw gerak-gerak.

.. mudah-mudahan..
Diberi umur panjang..
Sehat selama.. lamanya..

Selamat ulang tahun...

Selamat ulang tahun...


Ye..., tahun ini gw nggak ngerayain ulang tahun. Karena, bulan februari tahun ini nggak ada tangal 29 february.

Tapi, Bunda gw pasti ngucapin..

Beliau lah, satu-satunya orang yang selalu mengucapkan selama ulang tahun ke gw. Meski tangal 29 kadang nggak muncul.

Bunda, maaf kalau putramu belum bisa ngasi cucu?

Apa sih.

Malamnya gw nonton. Nonton sepasang muda-mudi emut-emutan di depan gw.

Ah elah.. mereka ini goblok apa bodoh yak. Rugi gw nonton bioskop.

Moga aja, 28 februari nanti nggak ada iklan macam mereka.

Dilan 1991.

Rindu itu berat.. biar aku saja.

Serah lah Lan, gw mau rindu dan sok bilang berat.. nyatanya, gw jomblo kok.

***

Sekitar jam 00.01, gw nyampe apartemen.

Dan..

Lola tidur di depan pintu..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Tak Punya Hati ?
23-02-2019 17:24
Mungkin..

Ini agak mendramatisir, Lola.. mabuk.

Mau nggak mau, gw membopong dia ke sofa ruang tamu. Entah, ini orang otaknya dimana, masih.. pake baju formal, mabuk. Nggak baju nggak sepan-nya, kemana-mana.

Karena gw nggak ngerti harus gimana, gw cuma ambil lap yang gw rendem pake air anget, lalu.. gw lap itu muka sampe leher. Kaos kaki gw lepas, baru gw selimutin.

Ah entahlah, meski dia bukan siapa-siapa gw, setidaknya.. kitas masih manusia, yang manusiawi dan harus tolong-menolong.

Kira-kira jam 02.03 pagi, gw baru istirahat. Setelah ngelis jurnal buat besok plus ngecek wa satu persatu, tapi.. kebanyakan wa dari lola. Selebihnya cuma wa dari kantor dan masalah proyek.

Akhirnya.. gw bisa istirahat, setelah lihat Lola pulas dengan wajah tanpa dosa. Sangat-sangat beda jauh sama Lola pas manja, merengek dan sok yes. Dia, saat tidur terlihat lebih damai. Kalem.. dan..

Ah..

Sudahlah. Gw mau tidur.

***

Sayup-sayup, telinga gw bisa mendengar musik?

Dan hidung gw, mencium aroma yang bikin perut gw demo.

LOLA..

Gw baru ngeh, kalau lola semalem nginep di tempat gw. Dikarenakan alaram belum bunyi, gw ngumpet lagi di bawah selimut.

Belum sempet ketutup semua, ..Wusss.. selimut gw terbang.

"Bangun WOE..." sapa Lola sembari ketawa lebar.

"Apa sih," haiya.. beginilah yang nggak gw sukai kalau hidup sama orang lain. Resek..

"Aku masak krengsengan, spesial oo.."

"Ayolah.. bagun gih, tega bener.. ih.." lanjutnya. Itupun sudah kata-kata yang kesekian kalinya, kata yang lain nggak lagi gw inget. Yang jelas, dia lebih dari Bunda gw pas mbagunin gw saat di rumah.

Gw pun bangun, duduk dan melihat dia dengan sinis, biar dia merasa bersalah.

Tapi gw salah, dia Lola.. makhluk dewasa, cantik dan sudah wangi, mungkin dia sudah mandi. Dan satu lagi, dia adalah salah satu pemilik senyum paling ramah di negeri ini, tanpa basabasi dan tanpa intrik.

Dia ngulurin tangan, dikira gw mau dibangunin pake cara Bayi apa. Gw bangun, nyelonong dan abai atas tanganya yang menjulur. Emang, gw apaan..

Gw sudah siap makan pagi, piring.. sendok dan sendok besar buat ambil nasi.

"Wooe.. MANDI DULU !!!"

Apakah gw nggak salah denger, gw diteriakin macam maling, Bunda gw aja nggak pernah bentak.

"Maumu apa sih," jawab gw dongkol.

"Hehehe, semalem kamu megang apa?"

Entah karena nyawa gw belum penuh atau apa, gw ngelihat Joni gw. Sontak gw berdiri, dan kamar mandi adalah tujuan gw. Lola..

Lola hanya ngikik. 1-0, pikir dia.

***

..ingin ku teriak..

Lamat-lamat, lagu dewi persik mengalun dari ruang tamu. Mau gw jawab sebenarnya, tapi sungkan.

Tapi, hati gw loss..

Gw jawab saja, tepat saat reff..

"..ingin ku teriak.."

JANCOK...

Tapi di hati.

***

Kisaran jam 07.04, kita sarapan bareng. Menunya keren, tapi gw nggak ngerti apa namanya, emm.. lumayan enak. Yang jadi pertanyaan, darimana Lola dapet ini bahan-bahan, lagian.. di kulkas gw nggak ada tumbuhan-tumbuhan yang bisa di masak?.

Bodo lah, sook kepo.. dikira perhatian ntar. Tinggal makan saja apa susahnya.

Gw, biasa saja. Lola yang nggak biasa, aura dia bahagia banget.

Yes.. gw dapet pahala.

"Semalem, kamu nggak macem-macem kan," ujarnya.

Sendok sama garpu gw berhenti. Lalu, kejahilan gw muncul.

"Percuma macem-macem sama kamu, dadamu datar gitu.." jawab gw tanpa rasa bersalah. Fakta pak.

"W H A T.."

Dia pun ngakak, nggak marah dan nggak apa. Karena, dialah Lola.. makhluk liberal yang pernah gw temui. Tapi, kemanusiaanya.. jangan pernah ditanya.

Awalnya gw jaim, tapi.. lama-lama, keadaan itu mencair di meja makan.

Sampai, waktu itu berlalu saat kita berangkat ngantor bareng. Untuk masalah gosip dan apapun itu, telinga kita sudah terlalu tebal.

Kalau gw, bodo amat. Yang cari kesempatan lola, sudah bawain tas gw, pake tebar senyum dan sapa ramah sana-sini.

Yah.. anggap saja itu bunga-bunga yang bermekaran di kantor. Siapa tau, energi positifnya.. mempengaruhi suasana.

Yo..

Waktunya serius..

Kerja.. kerja.. kerja..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tikusil dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tak Punya Hati ?
23-02-2019 18:03
wkwk sejenis makhluk ga suka basa basi , sedikit masukan beberapa ada typo gan , weekend != weakend lmao , btw keep zombie update emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Tak Punya Hati ?
23-02-2019 18:15
Lama gak apdet nih, tapi sekalinya apdet lsg banyak emoticon-Big Grin
Yak, lanjooott emoticon-Ngacir
profile-picture
bujangko memberi reputasi
0 1
-1
Tak Punya Hati ?
24-02-2019 01:59
Kerja..

Kerja..

Kerja..

Entah sampai kapan gw bakalan jadi manusia pekerja, sebenarnya gw sendiri juga gagal paham. Esensi dari kerjaan dan pekerja itu sendiri apa. Apakah sebatas manusia pencari cari duit!, kepepet, tangungan, menghabiskan waktu!, atau.. karena nggak ada yang mau di lakukan jadi ikut-ikut manusia curah buat sok menyibukkan diri, meski.. apa yang ia lakukan tak sesuai dengan apa yang ia sukai. Untuk skil, harap jangan di mix sama kesukaan, atau hobi. Kalaupun ada yang linier, anggap saja itu bonus.

Dan sialnya, gw yang nggak linier. Okelah, gw emang punya skil di bidang it, meski begitu.. jiwa gw bukan pure mati urep nek dunia it. Sebenarnya gw pribadi sosialis, liberal, filantropis dan merdeka. Mungkin juga sedikit agnotis. Tapi, banyak liarnya kalau tidak ada kegiatan yang mengikat. Ah.. entahlah. Males mikirin hal receh seperti itu, sialnya.. hal-hal semacam itu sudah umum hadir dan Menuhin otak gw, bisa jadi itu iklan?. Mungkin.

Kerja..

Tidur..

Kerja..

Tidur..

Monoton parah hidup gw, bisa jadi.. gw ini masuk kasta manusia goa abad dua satu. Lagian, gw bingung harus apa dan bagaimana, mangkanya.. kalau malamnya nggak gw list apa-apa yang akan gw lakukan, jadinya ya seperti ini. Nggak jelas yang terus berulang-ulang.

Mau keluar, kemana?

Mau makan, nggak ada gambaran.. mau makan apa?

Sungguh, gw tak pernah tau, ini hidup.. hidup yang seperti apa. Minim perjuangan, minim target, minim harapan.. mengalir saja.. tanpa peduli esok akan seperti apa. Tapi satu yang gw garis bawahi, hari ini adalah SAYA, jadi—gw harus melakukan apapun itu sebaik-baiknya, apalgi sudah masuk di jurnal harian.

Back to kehidupan gw yang absurd. Pernah suatu ketika, temen jauh gw.. yang juga seorang HRD di sebuah perusahaan multi nasional nyaranin, buat membuka diri, sholat?. Ini.. itu.. bla bla bla. Okelah, mungkin dia pengalaman, dan memang seharusnya itu yang harus gw lakukan. Tapi apa kamu tahu, gw nya saja yang nggak mau, sepemahaman gw, asal gw nyaman.. bodo amat sama yang namanya ke-ideal-an.

Jika kamu peka, diksi-diksi diatas adalah alibi semata, faktanya.. gw fakir nyali sekarang. Apa-apa, musti di pikirin dahulu. Banyak mikir, endingnya nggak jalan. Sering gw seperti itu, tapi.. mau apalagi, gw nya aja slowlly begini.

Mungkin, umurku sudah cukup.. mengingat, teman-temanku sudah banyak yang punya anak. Tapi, secara mental dan pengalaman bermanusiawi, gw masih miskin. Kenapa, ya karena gw anti social? Terlebih, untuk beberapa tahun ini. Alasanya banyak, mulai dari kisah cinta yang kandas, iklim keluarga yang.. yang.. materialis, labelis, hubungan social yang terlalu mempola—lebih-lebih banyak narasi bodong yang terus saja di amini, agama dan perpolitikan konyol lainya.

Semua itu masuk dengan sangat mudah, mungkin—bandwidth gw emang didesign buat arus besar, jadi.. apapun itu pasti masuk, sialnya.. saringan gw kadang nggak cukup kuat buat memilah, mana yang benar dan mana yang salah, sampai suatu titik—gw nggak lagi percaya apa itu benar dan salah. Terkecuali, hal itu bisa dibuktikan secara empiris.

Haiya, malah ngelantur ke Namek.

STOP yak..

Tolonglah dibantu, kiranya—apa yang harus gw lakukan, setidaknya—biar gw jadi manusia normal, dan matipun juga normal. Masa, gw moksa!.

Moksa..

Not bad lah, lagipula.. itu lebih baik, daripada hidup gw jadi sampah, mati jadi limbah, buat susah.. mending lenyap untuk dilupakan. Anggap saja, gw tak pernah ada. Simple.

***

Dan waktu pun terus beranjak, beserta toa-toa yang terus menggema di dalam batok kepala. Entah.. apa mau mereka. Mungkin benar, di kepala manusia pendiam.. ada jutaan pasar, jutaan mimbar dan ribuan kebisingan yang setiap saat bisa membuat gila si pemilik kepala.

Sering, gw keluar buat lihat bintang.. sampai gw hafal, mana rasi bintang luku, jajar genjang—yang katanya buat penunjuk arah dan.. dan banyak lagi lainya. Tapi, itu yang paling berkesan. Lagipula, mau membahas Orion.. juga Orion cap apa, nggak penting.

Sering juga, gw nongkrong di pingir jalan, beli buah irisan. Atau!, ngopi di warkop sama abang becak, tukang gaple, om-om pengila catur dan bapak-bapak yang hobinya mancing. Meski mereka nggak kenal gw, toh gw bisa santai di anatara mereka. Mungkin mereka bertanya, ini orang siapa sih, sering nongkrong, sering ngumpul—tapi nggak pernah ngobrol. Paling, sebatas senyum doang. Yah.. itulah gw, bisa dimana-mana, tak peduli mereka siapa, asal gw duduknya nyaman. Pasti bakalan gw terusin. Karena apa, tak lain karena otak. Pertama, otak gw butuh reseter, kedua.. naluri gw dan yang paling penting ide-ide dan kewarasan gw.

Gw orangnya suka sendiri, jadi—kalau sedang di keramain, malah jadi bego. Nggak bisa mikir dan serba nggak nyaman.

Lucu memang, dan inilah hidup. Gw yakin, masih banyak manusia-manusia gampang punah macam gw di luar sana, sepi.. nggak punya teman.. dan kalaupun bahagia, ya bahagia sendiri. Mau bahagia sama yang lain, ah.. itu Cuma basabasi.

CLING..

Ponsel gw bunyi, dan siapa lagi kalau bukan Lola.

LO.. LA..

Dengan lambat, gw baca nic name di atas layar. Tiba-tiba gw ingat Rania tempo hari, kenapa gw sampai lupa sama dia, biasanya gw mikir, kenapa dia? Ada apa?—tapi, kenapa gw malah acuh, seolah nggak terjadi apa-apa.

Seperti dulu, meski gw diam. Gw tetap berdoa ‘..semoga kamu baik-baik saja’. Ah lupakan, mikirin dia bikin mod ku buyar. Mending baca wa-nya Lola, lama nggak ngacangin dia. Mungkin, yang tampak dari pribadi gw adalah es batu, tapi.. sisi lain dari gw adalah banyak ngomong, apalagi kalau nggak sedang bertatap muka.

“Kak, jumat depan tangal merah, sabtu minggu libur, mau nggak jalan ke malang,”

“Males..”

“Gitu amat, sekali-kali napa sih, aku setirin yak..”

“Maaf, gw bukan cowok Bombay,”

“Hahaha, mangkanya.. dah, jumat pagi aku jemput, aku juga sudah pesen penginapan,” 

“Ok..”

Sebenarnya gw ngikik, mengingat dia juga tau arah pembicaraan kita kemana, toh lola juga bukan manusia bodoh. Dia tau kalau gw pemalas, apalagi kalau kegiatan itu di luar jurnal.

Ok, fik gw mau ngadem di malang.

Semoga, gw masih kuat jaim.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
manusia.baperan dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Tak Punya Hati ?
24-02-2019 06:35
Dia..
Diubah oleh seenue
0 0
0
Tak Punya Hati ?
26-02-2019 20:57
Quote:Original Posted By seenue
Dia..


.. ancoookkk emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
gonspunk memberi reputasi
1 0
1
Tak Punya Hati ?
02-03-2019 22:52
ceritanya bagus simple ga bertele tele.. lanjut :merdeka
0 0
0
Tak Punya Hati ?
02-03-2019 22:54
Quote:Original Posted By gugun299
ceritanya bagus simple ga bertele tele.. lanjut :merdeka


Oi, makasih..
0 0
0
Tak Punya Hati ?
02-03-2019 22:55
Quote:Original Posted By seenue
Oi, makasih..


bikin index cuy biar enak bacanya emoticon-Blue Guy Peace
profile-picture
erfanegeng memberi reputasi
1 0
1
Tak Punya Hati ?
03-03-2019 08:03
mantap . udah cem zombie aja ya cuy.. raga berjalan tapi gada nyawanya wkwkwk emoticon-Ngakak
Diubah oleh gugun299
0 0
0
Tak Punya Hati ?
03-03-2019 09:02
Quote:Original Posted By gugun299
mantap . udah cem zombie aja ya cuy.. raga berjalan tapi gada nyawanya wkwkwk emoticon-Ngakak


Nikmati saja, emoticon-Big Grin
1 0
1
Halaman 1 dari 10
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
we-kiss-before-we-acquinted
Stories from the Heart
taste-of-life
Stories from the Heart
illusi
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
sang-pelahap-sukma
Stories from the Heart
dusta-chapter-1
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia