alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
65
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c651dc8337f930f3c11675f/kealpaan-hati
Cinta adalah segala petikan dawai hati yang terus membisiki, terus menggoda. Polos bagai anak-anak gemas pecandu permen. Dan aku menyerahkan diri padanya, tanpa tedeng aling-aling atau pun prasangka. Perkenalan kita, seperti kau tahu, begitu kekinian. Dimulai dengan sebuah pesan singkat yang kau kirim dari ponselmu, dimulai dengan pertanyaan tentang usia dan statusku, dan tetiba saja obrolan h
Lapor Hansip
14-02-2019 14:50

Kealpaan Hati

Past Hot Thread
Kealpaan Hati

Baca juga : Kumpulan Cerita Pendek Inspiratif


Cinta adalah segala petikan dawai hati yang terus membisiki, terus menggoda. Polos bagai anak-anak gemas pecandu permen. Dan aku menyerahkan diri padanya, tanpa tedeng aling-aling atau pun prasangka.

Perkenalan kita, seperti kau tahu, begitu kekinian. Dimulai dengan sebuah pesan singkat yang kau kirim dari ponselmu, dimulai dengan pertanyaan tentang usia dan statusku, dan tetiba saja obrolan hangat itu membuatmu menunjukkan minat. Setidaknya, itulah yang kurasakan dari gambaran-gambaran isi pesanmu.

Katamu, kita perlu bersua untuk menjadi dekat. Katamu, aku adalah wanita yang ingin kau kenal secara hati. Katamu, kau sudah ingin menikah. Katamu ... dan katamu. Segala katamu adalah hipnotis yang memenjarakanku dan membuat pikiran waras melayang pergi tanpa keinginan untuk kembali.

Awalnya, aku meragu. Tak sedikit lelaki yang datang padaku dengan mengemas serangkai kata-kata manis, tak sedikit pula berujung kepergian yang menyumbang lara. Hadiah dari dusta-dusta mereka, atau kedunguanku sendiri.

Namun, aku tak setrauma itu. Telah kusingkirkan segenap kisah buruk, pun begitu, telah kucecap segala manis dan tersimpan rapat dalam memori. Aku hanya perlu mencoba kembali, atau tak mendapatkan apa-apa jika hanya diam merutuki kegagalan.

Dan aku telah memutuskan.

Pada senja yang ceria, aku mengumpulkan segenap nyali untuk menemuimu. Kita berjumpa di beranda rumah yang sepi. Sengaja kubawa dirimu ke sana tersebab itulah satu-satunya tempat yang membuat tenang, bebas menjadi diri sendiri tanpa merasa risih akan banyak mata yang melihat. Berdua saja dengan lelaki bagiku adalah tabu, dan malu.

Adrian, namamu. Lelaki berjanggut tipis dengan tubuh berisi. Langkahmu tegap dan pakaian sederhana menandai status sosialmu. Membuatku tak perlu merasa minder dengan keadaanku.

Melihatmu, aku tidak jatuh cinta. Namun, mengenalmu, mengamati cara bicara dan ekspresimu, menikmati canda tawamu, memahami kedewasaanmu, membuat dadaku menyala, mengobarkan segala hasrat untuk terus di sampingmu. Rasa nyaman apakah ini?

Senja itu menjadi pertemuan pertama kita yang indah, menyisakan lembar-lembar kisah dalam bayanganku, dan akan kita isi bersama. Kau pribadi yang santun. Tak ada kata cinta dan rayuan-rayuan, hanya mendengar dan memahami. Kurasa, keseriusanmu membuat segala kewarasan menguap, menyisakan buih-buih kedunguan, menjadi penyakit yang menggerogoti.

Malam itu kau mengetik balasan untuk sebuah pesanku. Entah kalimat apa yang hendak kau tulis, hingga membuatku menunggu sedikit lebih lama dari biasanya. Membuat penasaran.

Lima belas menit berlalu, pesanmu baru masuk saat aku hampir terlelap.

"Nindya, kau gadis yang baik. Wajahmu juga manis. Aku sangat menyukaimu."

Aku tersenyum. Kau pernah mengatakannya. Jemariku sibuk mengetik balasan ketika sebuah pesan lanjutan masuk, diiringi bunyi 'cring!' ponselku yang mengejutkan.

"Aku sudah ingin sekali menikah, seperti yang pernah kukatakan padamu saat itu. Dan aku tak ingin menundanya."

Secepat itukah keputusan kau buat? Kita baru saja bertemu sore ini. Aku gugup membayangkan bagaimana akhir bahagia ini tercipta. Gugup akan apa yang akan kuketik sebagai balasan, aku memilih diam menunggu. Diam-diam hati ini tersenyum.

"Jadi, tolonglah aku ...."

Hah? Apa maksud dari kalimat 'tolonglah aku' di sini? Pengalamanku mendapat pernyataan ini sering kali tidak mengenakkan. Perasaan berbunga-bunga itu lenyap bertransformasi menjadi setumpuk pertanyaan. Secepat kilat kuketik balasan.

"Apa maksudmu? Menolong bagaimana?"

Aku menunggu. Rasa penasaran membawaku dalam imajinasi liar. Dugaan-dugaan mengerikan telah berhasil menguasai pikiran, mengendapkan segala asa akan sebuah cinta yang niscaya.

"Kau sudah dalam usia yang matang untuk menikah. Kakakku, dia kesulitan mencari jodoh. Dia akan menerima gadis mana pun yang akan kukenalkan padanya. Dia sangat memercayaiku ...."

"Aku dan kekasihku sudah lama bersama, dan ingin segera menghalalkan diri, tapi kami tak bisa menikah. Kepercayaan di keluarga tak membolehkanku melompati anak sulung di keluarga kami. Dia kakakku satu-satunya."

"Kakakku harus menikah. Kuharap kaulah gadis itu. Aku menyukaimu dan telah menganggapmu seperti kakak sendiri."

Sebuah bom baru saja meledak di dalam dada. Dentum-dentum kemarahan bergaung di kedua telinga. Aku sungguh tak memercayai apa yang tertulis di pesanmu. Omong kosong macam apa ini? Itukah alasan kenapa kau tak pernah mengumbar kata cinta barang sekali saja? Menanyakan usia dan status, hal terbodoh yang membuatku tak pernah lulus dari pelajaran 'pedekate'.

Menjijikkan!

Air mataku menganak sungai. Kekecewaan meluap bagai ombak menenggelamkan cadik yang mengapungkan mimpi. Betapa dungunya. Betapa tidak manusiawinya sebuah kesalahpahaman. Aku mengutuki diri sendiri.

Tak ada pesan balasan yang musti kuketik. Ponsel itu telah melayang jatuh dari genggaman dengan sengaja. Ia membentur lantai keras dan menyisakan hatiku yang berdarah-darah.

Setidaknya setelah jatuh cinta yang sebentar tapi meluap-luap itu, aku memiliki satu keyakinan pasti : tak boleh totalitas menggantungkan harapan pada hati. Bayi-bayi kekecewaan akan lahir setelahnya, serupa rahim-rahim kedunguan yang luput dari kontrasepsi.

Pelajaran baru dari sebuah kealpaan hati.
Diubah oleh YenieSue0101
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamaproduktif dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Halaman 1 dari 4
Kealpaan Hati
21-02-2019 19:37
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Kealpaan Hati


Cinta adalah segala petikan dawai hati yang terus membisiki, terus menggoda. Polos bagai anak-anak gemas pecandu permen. Dan aku menyerahkan diri padanya, tanpa tedeng aling-aling atau pun prasangka.

Perkenalan kita, seperti kau tahu, begitu kekinian. Dimulai dengan sebuah pesan singkat yang kau kirim dari ponselmu, dimulai dengan pertanyaan tentang usia dan statusku, dan tetiba saja obrolan hangat itu membuatmu menunjukkan minat. Setidaknya, itulah yang kurasakan dari gambaran-gambaran isi pesanmu.

Katamu, kita perlu bersua untuk menjadi dekat. Katamu, aku adalah wanita yang ingin kau kenal secara hati. Katamu, kau sudah ingin menikah. Katamu ... dan katamu. Segala katamu adalah hipnotis yang memenjarakanku dan membuat pikiran waras melayang pergi tanpa keinginan untuk kembali.

Awalnya, aku meragu. Tak sedikit lelaki yang datang padaku dengan mengemas serangkai kata-kata manis, tak sedikit pula berujung kepergian yang menyumbang lara. Hadiah dari dusta-dusta mereka, atau kedunguanku sendiri.

Namun, aku tak setrauma itu. Telah kusingkirkan segenap kisah buruk, pun begitu, telah kucecap segala manis dan tersimpan rapat dalam memori. Aku hanya perlu mencoba kembali, atau tak mendapatkan apa-apa jika hanya diam merutuki kegagalan.

Dan aku telah memutuskan.

Pada senja yang ceria, aku mengumpulkan segenap nyali untuk menemuimu. Kita berjumpa di beranda rumah yang sepi. Sengaja kubawa dirimu ke sana tersebab itulah satu-satunya tempat yang membuat tenang, bebas menjadi diri sendiri tanpa merasa risih akan banyak mata yang melihat. Berdua saja dengan lelaki bagiku adalah tabu, dan malu.

Adrian, namamu. Lelaki berjanggut tipis dengan tubuh berisi. Langkahmu tegap dan pakaian sederhana menandai status sosialmu. Membuatku tak perlu merasa minder dengan keadaanku.

Melihatmu, aku tidak jatuh cinta. Namun, mengenalmu, mengamati cara bicara dan ekspresimu, menikmati canda tawamu, memahami kedewasaanmu, membuat dadaku menyala, mengobarkan segala hasrat untuk terus di sampingmu. Rasa nyaman apakah ini?

Senja itu menjadi pertemuan pertama kita yang indah, menyisakan lembar-lembar kisah dalam bayanganku, dan akan kita isi bersama. Kau pribadi yang santun. Tak ada kata cinta dan rayuan-rayuan, hanya mendengar dan memahami. Kurasa, keseriusanmu membuat segala kewarasan menguap, menyisakan buih-buih kedunguan, menjadi penyakit yang menggerogoti.

Malam itu kau mengetik balasan untuk sebuah pesanku. Entah kalimat apa yang hendak kau tulis, hingga membuatku menunggu sedikit lebih lama dari biasanya. Membuat penasaran.

Lima belas menit berlalu, pesanmu baru masuk saat aku hampir terlelap.

"Nindya, kau gadis yang baik. Wajahmu juga manis. Aku sangat menyukaimu."

Aku tersenyum. Kau pernah mengatakannya. Jemariku sibuk mengetik balasan ketika sebuah pesan lanjutan masuk, diiringi bunyi 'cring!' ponselku yang mengejutkan.

"Aku sudah ingin sekali menikah, seperti yang pernah kukatakan padamu saat itu. Dan aku tak ingin menundanya."

Secepat itukah keputusan kau buat? Kita baru saja bertemu sore ini. Aku gugup membayangkan bagaimana akhir bahagia ini tercipta. Gugup akan apa yang akan kuketik sebagai balasan, aku memilih diam menunggu. Diam-diam hati ini tersenyum.

"Jadi, tolonglah aku ...."

Hah? Apa maksud dari kalimat 'tolonglah aku' di sini? Pengalamanku mendapat pernyataan ini sering kali tidak mengenakkan. Perasaan berbunga-bunga itu lenyap bertransformasi menjadi setumpuk pertanyaan. Secepat kilat kuketik balasan.

"Apa maksudmu? Menolong bagaimana?"

Aku menunggu. Rasa penasaran membawaku dalam imajinasi liar. Dugaan-dugaan mengerikan telah berhasil menguasai pikiran, mengendapkan segala asa akan sebuah cinta yang niscaya.

"Kau sudah dalam usia yang matang untuk menikah. Kakakku, dia kesulitan mencari jodoh. Dia akan menerima gadis mana pun yang akan kukenalkan padanya. Dia sangat memercayaiku ...."

"Aku dan kekasihku sudah lama bersama, dan ingin segera menghalalkan diri, tapi kami tak bisa menikah. Kepercayaan di keluarga tak membolehkanku melompati anak sulung di keluarga kami. Dia kakakku satu-satunya."

"Kakakku harus menikah. Kuharap kaulah gadis itu. Aku menyukaimu dan telah menganggapmu seperti kakak sendiri."

Sebuah bom baru saja meledak di dalam dada. Dentum-dentum kemarahan bergaung di kedua telinga. Aku sungguh tak memercayai apa yang tertulis di pesanmu. Omong kosong macam apa ini? Itukah alasan kenapa kau tak pernah mengumbar kata cinta barang sekali saja? Menanyakan usia dan status, hal terbodoh yang membuatku tak pernah lulus dari pelajaran 'pedekate'.

Menjijikkan!

Air mataku menganak sungai. Kekecewaan meluap bagai ombak menenggelamkan cadik yang mengapungkan mimpi. Betapa dungunya. Betapa tidak manusiawinya sebuah kesalahpahaman. Aku mengutuki diri sendiri.

Tak ada pesan balasan yang musti kuketik. Ponsel itu telah melayang jatuh dari genggaman dengan sengaja. Ia membentur lantai keras dan menyisakan hatiku yang berdarah-darah.

Setidaknya setelah jatuh cinta yang sebentar tapi meluap-luap itu, aku memiliki satu keyakinan pasti : tak boleh totalitas menggantungkan harapan pada hati. Bayi-bayi kekecewaan akan lahir setelahnya, serupa rahim-rahim kedunguan yang luput dari kontrasepsi.

Pelajaran baru dari sebuah kealpaan hati.


Oh harapan yang pasti akan datang
2 0
2
Lihat 1 balasan
Kealpaan Hati
Lapor Hansip
21-02-2019 19:43
Balasan post erina79purba
Terima kasih sudah mampir. Aku belum sempet mampir ya. Nanti pasti 😉😉😉
2 0
2
Kealpaan Hati
21-02-2019 19:49
ok mba
2 0
2
Kealpaan Hati
04-03-2019 21:08
waduhhhh, sedihnya...
3 0
3
Lihat 1 balasan
Kealpaan Hati
04-03-2019 22:44
numpang lesehan, ahhh
3 0
3
Lihat 1 balasan
Kealpaan Hati
Lapor Hansip
04-03-2019 22:53
Balasan post meanynovendi
Quote:Original Posted By meanynovendi ►
waduhhhh, sedihnya...


Endingnya bikin kecewa ya
2 0
2
Kealpaan Hati
Lapor Hansip
04-03-2019 22:54
Balasan post sitinur200
Quote:Original Posted By sitinur200 ►
numpang lesehan, ahhh


Silakan, kakak. Mau dibuatin kopi?
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:01
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Silakan, kakak. Mau dibuatin kopi?


Kopi hitam manis ada?
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:08
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Terima kasih sudah mampir. Aku belum sempet mampir ya. Nanti pasti 😉😉😉


Quote:Original Posted By meanynovendi ►
waduhhhh, sedihnya...


Quote:Original Posted By sitinur200 ►
numpang lesehan, ahhh


Quote:Original Posted By sitinur200 ►
Kopi hitam manis ada?


Leyeh-leyeh penak tenan.. Ngantuk iki sambung besok lagi dah
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:17
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Endingnya bikin kecewa ya


Ngenes banget. 😂
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:18
Quote:Original Posted By sitinur200 ►
Kopi hitam manis ada?


Ada nih, kasih gula yang banyak
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:26
Quote:Original Posted By bekticahyopurno ►
Leyeh-leyeh penak tenan.. Ngantuk iki sambung besok lagi dah


Turu sek, sesok nyambut gawe. 😉😉
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:57
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Ada nih, kasih gula yang banyak


Gak usah kasih gula, cukup lihat si dia yang manisemoticon-Betty
2 0
2
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:58
Quote:Original Posted By sitinur200 ►
Gak usah kasih gula, cukup lihat si dia yang manisemoticon-Betty


Aishh, janganlah, nanti kebawa mimpi emoticon-Kiss
1 0
1
Kealpaan Hati
04-03-2019 23:58
Quote:Original Posted By bekticahyopurno ►
Leyeh-leyeh penak tenan.. Ngantuk iki sambung besok lagi dah


Iyo lah, pak bos
1 0
1
Kealpaan Hati
05-03-2019 00:01
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Aishh, janganlah, nanti kebawa mimpi emoticon-Kiss


Ha ha ha

Jadinya tidur terus gak mo bangun😴
2 0
2
Kealpaan Hati
05-03-2019 00:03
Quote:Original Posted By sitinur200 ►
Ha ha ha

Jadinya tidur terus gak mo bangun😴


emoticon-Toast
1 0
1
Kealpaan Hati
05-03-2019 06:59
Quote:Original Posted By sitinur200 ►
Iyo lah, pak bos


Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
emoticon-Toast


Pagi semuanya
2 0
2
Kealpaan Hati
05-03-2019 07:11
Quote:Original Posted By bekticahyopurno ►
Pagi semuanya


Pagi, Pak Guru
1 0
1
Kealpaan Hati
05-03-2019 09:08
Quote:Original Posted By YenieSue0101 ►
Kealpaan Hati


Cinta adalah segala petikan dawai hati yang terus membisiki, terus menggoda. Polos bagai anak-anak gemas pecandu permen. Dan aku menyerahkan diri padanya, tanpa tedeng aling-aling atau pun prasangka.

Perkenalan kita, seperti kau tahu, begitu kekinian. Dimulai dengan sebuah pesan singkat yang kau kirim dari ponselmu, dimulai dengan pertanyaan tentang usia dan statusku, dan tetiba saja obrolan hangat itu membuatmu menunjukkan minat. Setidaknya, itulah yang kurasakan dari gambaran-gambaran isi pesanmu.

Katamu, kita perlu bersua untuk menjadi dekat. Katamu, aku adalah wanita yang ingin kau kenal secara hati. Katamu, kau sudah ingin menikah. Katamu ... dan katamu. Segala katamu adalah hipnotis yang memenjarakanku dan membuat pikiran waras melayang pergi tanpa keinginan untuk kembali.

Awalnya, aku meragu. Tak sedikit lelaki yang datang padaku dengan mengemas serangkai kata-kata manis, tak sedikit pula berujung kepergian yang menyumbang lara. Hadiah dari dusta-dusta mereka, atau kedunguanku sendiri.

Namun, aku tak setrauma itu. Telah kusingkirkan segenap kisah buruk, pun begitu, telah kucecap segala manis dan tersimpan rapat dalam memori. Aku hanya perlu mencoba kembali, atau tak mendapatkan apa-apa jika hanya diam merutuki kegagalan.

Dan aku telah memutuskan.

Pada senja yang ceria, aku mengumpulkan segenap nyali untuk menemuimu. Kita berjumpa di beranda rumah yang sepi. Sengaja kubawa dirimu ke sana tersebab itulah satu-satunya tempat yang membuat tenang, bebas menjadi diri sendiri tanpa merasa risih akan banyak mata yang melihat. Berdua saja dengan lelaki bagiku adalah tabu, dan malu.

Adrian, namamu. Lelaki berjanggut tipis dengan tubuh berisi. Langkahmu tegap dan pakaian sederhana menandai status sosialmu. Membuatku tak perlu merasa minder dengan keadaanku.

Melihatmu, aku tidak jatuh cinta. Namun, mengenalmu, mengamati cara bicara dan ekspresimu, menikmati canda tawamu, memahami kedewasaanmu, membuat dadaku menyala, mengobarkan segala hasrat untuk terus di sampingmu. Rasa nyaman apakah ini?

Senja itu menjadi pertemuan pertama kita yang indah, menyisakan lembar-lembar kisah dalam bayanganku, dan akan kita isi bersama. Kau pribadi yang santun. Tak ada kata cinta dan rayuan-rayuan, hanya mendengar dan memahami. Kurasa, keseriusanmu membuat segala kewarasan menguap, menyisakan buih-buih kedunguan, menjadi penyakit yang menggerogoti.

Malam itu kau mengetik balasan untuk sebuah pesanku. Entah kalimat apa yang hendak kau tulis, hingga membuatku menunggu sedikit lebih lama dari biasanya. Membuat penasaran.

Lima belas menit berlalu, pesanmu baru masuk saat aku hampir terlelap.

"Nindya, kau gadis yang baik. Wajahmu juga manis. Aku sangat menyukaimu."

Aku tersenyum. Kau pernah mengatakannya. Jemariku sibuk mengetik balasan ketika sebuah pesan lanjutan masuk, diiringi bunyi 'cring!' ponselku yang mengejutkan.

"Aku sudah ingin sekali menikah, seperti yang pernah kukatakan padamu saat itu. Dan aku tak ingin menundanya."

Secepat itukah keputusan kau buat? Kita baru saja bertemu sore ini. Aku gugup membayangkan bagaimana akhir bahagia ini tercipta. Gugup akan apa yang akan kuketik sebagai balasan, aku memilih diam menunggu. Diam-diam hati ini tersenyum.

"Jadi, tolonglah aku ...."

Hah? Apa maksud dari kalimat 'tolonglah aku' di sini? Pengalamanku mendapat pernyataan ini sering kali tidak mengenakkan. Perasaan berbunga-bunga itu lenyap bertransformasi menjadi setumpuk pertanyaan. Secepat kilat kuketik balasan.

"Apa maksudmu? Menolong bagaimana?"

Aku menunggu. Rasa penasaran membawaku dalam imajinasi liar. Dugaan-dugaan mengerikan telah berhasil menguasai pikiran, mengendapkan segala asa akan sebuah cinta yang niscaya.

"Kau sudah dalam usia yang matang untuk menikah. Kakakku, dia kesulitan mencari jodoh. Dia akan menerima gadis mana pun yang akan kukenalkan padanya. Dia sangat memercayaiku ...."

"Aku dan kekasihku sudah lama bersama, dan ingin segera menghalalkan diri, tapi kami tak bisa menikah. Kepercayaan di keluarga tak membolehkanku melompati anak sulung di keluarga kami. Dia kakakku satu-satunya."

"Kakakku harus menikah. Kuharap kaulah gadis itu. Aku menyukaimu dan telah menganggapmu seperti kakak sendiri."

Sebuah bom baru saja meledak di dalam dada. Dentum-dentum kemarahan bergaung di kedua telinga. Aku sungguh tak memercayai apa yang tertulis di pesanmu. Omong kosong macam apa ini? Itukah alasan kenapa kau tak pernah mengumbar kata cinta barang sekali saja? Menanyakan usia dan status, hal terbodoh yang membuatku tak pernah lulus dari pelajaran 'pedekate'.

Menjijikkan!

Air mataku menganak sungai. Kekecewaan meluap bagai ombak menenggelamkan cadik yang mengapungkan mimpi. Betapa dungunya. Betapa tidak manusiawinya sebuah kesalahpahaman. Aku mengutuki diri sendiri.

Tak ada pesan balasan yang musti kuketik. Ponsel itu telah melayang jatuh dari genggaman dengan sengaja. Ia membentur lantai keras dan menyisakan hatiku yang berdarah-darah.

Setidaknya setelah jatuh cinta yang sebentar tapi meluap-luap itu, aku memiliki satu keyakinan pasti : tak boleh totalitas menggantungkan harapan pada hati. Bayi-bayi kekecewaan akan lahir setelahnya, serupa rahim-rahim kedunguan yang luput dari kontrasepsi.

Pelajaran baru dari sebuah kealpaan hati.


Ini juga keren
2 0
2
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
hypnophobia--kisah-cintaku
Stories from the Heart
tarian-kata-cinta-2
Stories from the Heart
rembulan-di-ujung-senja
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia