alexa-tracking
Female
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5c5a9348c38d6c226aa746/love-letter-3-kepada-bunda-tiri-yang-hatinya-seluas-samudra
Lapor Hansip
07-02-2019 23:19
[Love Letter 3] Kepada Bunda Tiri yang Hatinya Seluas Samudra
[Love Letter 3] Kepada Bunda Tiri yang Hatinya Seluas Samudra

Salam, Bunda! Apa kabar Bunda di sana? Semoga sayap-sayap langit selalu menaungi Bunda. Rasanya ini menjelang haul Abah yang ketiga, di mana Bunda tak pernah lagi datang ke sini, menemui kami, anak-anak Abah yang dulu begitu membenci Bunda. Tapi sekarang, keadaan sudah sangat berubah, Bunda. Sungguh, kini kami sangat menyesal, dan sangat rindu dengan kehangatan kasih sayang Bunda.

Mungkin Bunda sangat kaget membaca surat kami ini. Sebab Bunda tentu masih ingat bagaimana perlakuan dan ucapan kami yang begitu menusuk hati Bunda waktu itu. Karena itu, andaikan Bunda punya waktu, sudilah kiranya Bunda ke sini, layaknya waktu Abah masih ada. Atau jika Bunda keberatan, maka izinkanlah kami yang datang ke tempat Bunda. Namun jika kedua hal itu tidak bisa juga, maka perkenankanlah kami menyibak semua permasalahan yang selama ini terjadi, melalui surat ini.
***
Banyak hal sebenarnya yang ingin kami curahkan kepada Bunda. Namun kiranya di sini kami cukupkan dengan hal-hal pokok saja:

Pertama, ucapan ampun dan maaf. Dari lubuk sanubari kami yang paling dalam, kami mengakui semua kesalahan yang pernah kami lakukan terhadap Bunda, selama Bunda mendampingi Abah. Karena itu, tanpa ada paksaan atau intimidasi dari pihak manapun, dengan setulus hati, kami memohon ampun dan maaf kepada Bunda.

Tentu Bunda takkan semudah membalikkan halaman buku untuk menerima ucapan maaf kami ini. Karena kami sendiri masih ingat, bagaimana ucapan Kak Erma, si sulung, yang mengata-ngatai Bunda dengan ucapan yang begitu pedas, saat Bunda baru menikah dengan Abah.

“Kamu ini, mau menikah dengan Abah hanya karena mengharap harta warisan dan gaji pensiunan Abah,” kurang lebih begitulah redaksi kalimatnya, yang selalu diulang-ulangnya pada setiap kesempatan, jika Abah tiada di rumah. Kami yang lain hanya diam, namun kata-kata itu seolah-olah telah mewakili perasaan kami semua, sehingga kami mengaminkannya saja.

Dan setiap kali mendengar kalimat itu, Bunda hanya tersenyum, tanpa membalas sepotong kata, entah apa yang Bunda sembunyikan dalam senyuman itu. Padahal dengan kata-kata itu, kami saat berharap Bunda tersinggung, lalu meninggalkan Abah.

Selain itu, kami berlima anak-anak Abah, tak pernah satu kali pun memanggil Bunda dengan sebutan Ibu atau Mama, tapi kami panggil Bibi, sebuah sebutan untuk seorang pembantu. Sekali lagi, Bunda tak pernah marah atau tersinggung, tapi terus dengan ikhlas mengayomi kami, layaknya ibu kandung kami sendiri. Mulai dari urusan makan, mengurus rumah tangga, hingga mengeloni si bungsu yang sedang bandel-bandelnya.

Terlebih pada saat Abah sakit keras, Bunda lah yang paling telaten dan perhatian menjaga Abah. Hal itu membuat kami semakin curiga, bahwa Bunda mengharapkan Abah akan membuat surat wasiat yang isinya akan memberikan sebagian besar hartanya untuk Bunda. Kami semakin benci sama Bunda, sehingga semua surat berharga milik Abah kami sembunyikan, begitu juga benda-benda bergerak lainnya.

Namun pada kenyataannya, sampai detik ini, tak pernah sedikit pun Bunda menanyakan apalagi meminta bagian dari harta warisan Abah. Padahal sebagai istri yang dinikahi Abah secara resmi menurut agama dan negara, Bunda berhak atas hal itu. Bahkan gaji pensiun Abah yang Bunda terima setiap bulan, selalu Bunda serahkan sepenuhnya kepada kami, beserta bukti jumlah uang yang diterima. Semula kami menduga, uang itu sudah Bunda sunat, dan semua bukti itu hanya palsu. Namun setelah kami cek ke Bank yang menyalurkan gaji pensiun Abah, ternyata jumlah itu benar adanya.

Kedua, Bunda tetaplah Bunda kami. Meski kami bukan lahir dari rahim Bunda, namun sebenarnya kami dapat merasakan bagaimana rahim (kasih sayang) Bunda terhadap kami. Namun karena didorong oleh kebencian dan berbagai dugaan jahat, maka kami mengabaikan semua kebaikan Bunda tersebut. Bahkan kami sempat menuduh semua yang Bunda lakukan itu hanyalah sebuah akting, suatu kepura-puraan yang hanya bertujuan untuk mengambil hati kami, agar diterima di dalam keluarga kami. Tapi pada kenyataannya, semua yang Bunda lakukan adalah benar-benar tulus keluar hari hati Bunda yang suci. Bahkan andai tiada Bunda, rasanya kami tak sanggup merawat Abah ketika beliau sakit sebelum wafat saat itu. Terlalu besar dosa kami yang menuduh Bunda dengan tuduhan yang tak berdasar, atas keikhlasan niat Bunda. Karena itu, mulai detik ini, kami semua anak-anak Abah, akan memanggil Bunda dengan sebutan Mama, dan akan menyayangi dan menghormati Bunda layaknya terhadap ibu kandung kami sendiri.

Ketiga, persoalan harta warisan. Sungguh, kami sangat zalim terhadap Bunda, jika kami terus menerus menahan dan memakan harta yang sebenarnya menurut hukum agama adalah hak Bunda. Sebagai istri yang sah, Bunda berhak mendapat seperdelapan dari semua harta peninggalan Abah. Karena itu, semua harta warisan telah kami hitung, dan kami bagi menurut ketentuan syariat Islam. Dan bagian Bunda telah kami sisihkan dan disimpankan dengan aman.

Adapun gaji pensiunan yang Bunda terima setiap bulan, kami harap mulai bulan depan tidak lagi dikembalikan kepada kami. Sebab itu sepenuhnya menjadi hak Bunda sebagai istri penerima pensiun. Andaikan Abah tidak menikah lagi, maka uang pensiun itu juga sudah habis atau putus. Kami berharap, uang pensiunan Abah terus mengalir sebagai amal jariyah bagi beliau.
***
Itulah tiga poin penting yang ingin kami sampaikan. Kami sangat berharap Bunda bisa berhadir pada acara haul Abah yang ketiga minggu depan. Meski kami yakin, tanpa hadir di sini pun, Bunda setiap saat pasti mengirimkan doa-doa terbaik buat almarhum Abah. Namun dengan kehadiran Bunda, kami sangat berharap akan menjadi hujan di musim kemarau, di tengah kegersangan kehidupan anak-anak Abah yang masih merindukan kehadiran seorang Ibu. Dan sekaligus kami akan menyerahkan semua harta yang menjadi hak Bunda.

Sekali lagi kami mohon ampun dan maaf, dan kehadiran Ibu di acara haul nanti, bukan hanya membahagiakan hati kami, tapi kami yakin Abah juga pasti akan tersenyum di alam kedamaian sana.

Salam damai dari kami, anak-anak Bunda.
***
Diolah sendiri.
Diubah oleh Aboeyy
1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Lapor Hansip
07-02-2019 23:19
Reserved
0
Lapor Hansip
08-02-2019 17:12
mungkin karena kami anak2 yg lahir di era lagu Ratapan Anak Tiri lagi hits, sehingga lirik lagu itu mempengaruhi pola pikir kami.
0
Lapor Hansip
08-02-2019 22:18
Karena ibu tiri tak sekejam ibu kota.
1
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.