alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c5b073e4601cf32cb1fdee4/penghuni-villa-putih
Lapor Hansip
06-02-2019 23:11
PENGHUNI VILLA PUTIH
Past Hot Thread
Sore itu langit terlihat sangat gelap, awan hitam memenuhi angkasa. Kilat sambar menyambar, membuat ciut nyali setiap yang mendengarnya. Ratih menghidupkan perapian untuk mengusir hawa dingin yang semakin terasa menggigit. Alunan suara Diana Ross terdengar menghentak dari gawai hp-nya. Tiba tiba matanya menangkap sekelebat sosok yang berjalan cepat.

"Bi Surti ....bi... belum tidur ?."

Tak terdengar jawaban. Beberapa menit kemudian terdengar suara pisau yang bersentuhan dengan talenan dari arah dapur. Ratih beringsut dari duduknya berjalan kearah dapur, ia heran sedang apa bi Surti selarut ini. Sebelum memasuki dapur, ia melintasi kamar bi Surti, dilihatnya bi Surti sedang tertidur dengan lelapnya. Desss....jantung Ratih berdetak cepat, tubuhnya mulai bergetar.

"Siapa yang ada didapur, malam malam gini?,"

Ratih sampai di dapur, dilihatnya ada sosok gadis tengah membelakanginya. Rambutnya dibiarkan tergerai.

"Eh...apa itu Tiwi ya. Tadi dia bilang dia terjebak macet, koq sudah sampai, lewat mana ia masuk?."

Belum lagi tanyanya terjawab, terdengar suara bel pintu dipencet orang. Bi Surti terlihat bangun dan merapikan pakaiannya.

"Eh..nyonya, sedang apa disitu?."
"Gak apa2 bi. Tolong lihat bi, siapa yang datang !."

Ratih menyusul bi Surti kearah pintu. Dari balik pintu terlihat Tiwi sedang merapikan rambut panjangnya yang basah oleh hujan. Ratih tak bisa menyembunyikan kebingungannya, dia hanya diam mematung melihat saudara sepupunya itu

"Haii..haii....halloo ..non ...!!." Tiwi menggoyang2kan tangannya didepan muka Ratih.
"Kamu kenapa sih, kayak lihat setan aja. Ini aku saudara sepupu kamu, Tiwi." lanjut Tiwi sambil menggerak2kan hidungnya. Tingkah yang selalu ia lakukan jika melihat saudara sepupunya ini bersedih, dan biasanya Ratih akan tertawa terbahak2, tapi kali ini ia tidak bergeming. Tiwi mencubit lengan Ratih, terdengar suara Ratih mengaduh.

"Aduuhhh...apa apaan sih kamu Tiwi. Sakit tau."
"Kamu yang apa apaan, dari tadi bengong aja." gerutu Tiwi.
"Ada apa sih Rat ? Koq lo sampe bengong gitu?" lanjut Tiwi.
"Ah..gak apa apa Wi. Yuk masuk!!.

Tiwi mengikuti Ratih berjalan ke ruang makan. Dan mereka terlihat makan dengan lahapnya. Sesekali terdengar tawa mereka memecahkan keheningan malam.

"Wi...lo tidur ama gue aja ya, mas Herman gak kesini. Jadwalnya lagi padet katanya."

"Jiaahh...pengantin baru, dianggurin." ledek Tiwi
"Apaan sih lo." ujar Ratih sambil mencubit pinggang Tiwi.

Malam mulai menyelimuti bumi, halimunpun mulai turun. Udara bertambah dingin, Ratih melirik sepupunya yang sudah sedari tadi tidur mendengkur. Sedang ia sendiri belum bisa memejamkan mata. Sudah ia coba untuk menutup mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Pikirannya dihantui oleh bayang sosok gadis yang lihat didapur tadi sore. "Siapa gadis itu ya?," pertanyaan itu menghantui pikirannya. Tengah ia melamun tiba2 lampu kamar mendadak mati, dan perlahan dari balik tirai terlihat sesosok tubuh wanita, tidak begitu jelas terlihat, berdiri dan berjalan menghampirinya, wajahnya tertutup oleh rambut yang menjuntai, ketika tiba2 wajah itu ada dihadapannya dan tetes darah menerpa wajahnya, Ratih berteriak, tapi ia tidak dapat mengeluarkan suaranya, lehernya seperti kaku dan semua organ tubuhnya tak dapat digerakan. Ratih terus berteriak, hingga tiba2 tubuhnya terasa ada yang mengguncangnya.

"Rat...Ratih, Ratih bangun...bangun."

Ratih membuka matanya, dilihatnya Tiwi sudah duduk disampingnya, sambil memegang tangannya.

"Hey...lo kenapa sih, teriak2 gitu?, lo ngimpi apa?," Tiwi memberondongnya dengan pertanyaan.

"Nggak Wi." Ratih gak mau bercerita, karena ia tau sepupunya itu sangat penakut dan dia bakalan minta pulang kalau dengar cerita Ratih.

"Makanya kalo mau tidur tuh baca doa dulu, jangan baca komik," Tiwi meneruskan celotehnya.
"Nih..minum dulu," ujarnya sambil menyodorkan segelas air.

Ratih meneguk air itu dan mulai berbaring. Tiwi juga merebahkan tubuhnya dan dengkurnya kembali terdengar.
profile-picture
profile-picture
Mahendra888 dan redbaron memberi reputasi
11
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
08-02-2019 05:52
Part - 4

Malam semakin larut, waktu mendekati jam 11.45 menit, halimun dingin yang turun bersama rinai hujan semakin membuat suasana terasa begitu mencekam. Suara lolongan anjing dikejauhan terdengar semakin keras. Ratih belum bisa memejamkan matanya, kelopak matanya masih belum bisa diajak kompromi untuk tidur dan melupakan semua kejadian2 aneh yang semakin sering ia temui. Diperiksanya jendela dan pintu. Aman, semua sudah dalam posisi terkunci. Bergegas ia menaiki ranjang, belum lagi satu kakinya naik, tiba tiba terdengar langkah kaki, menapaki satu demi satu anak tangga.

"Wi..Tiwi bangun Wi!!," Ratih menggoyang goyangkan bahu Tiwi. Tapi Tiwi terus dalam dengkurnya.
"Ah...kelewatan banget sih nih anak, gimana kalo ada gempa, bisa mati duluan ketimpa bangunan." Ratih menggerutu.

Suara langkah itu tiba2 hilang, Ratih terus memperhatikan dari sudut ranjang. Tiba2 netranya menangkap sekelebat bayang putih melintas dengan cepat. Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang, keringat mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Suhu saat itu menujukan angka sebelas derajat, tapi keringat Ratih mengucur deras. Belum lagi rasa takut hilang tiba2 saja terdengar ketukan didinding yang teramat keras, disertai suara jeritan yang entah dari mana asalnya. Ratih semakin gemetar, tubuhnya berguncang hebat, wajahnya pucat. Mulutnya tak henti melantunkan doa.

"Ya..Allah lindungi hamba. Hamba lebih mulia dari mahluk ini, beri hamba kekuatan."

Tiba2 suasana kembali hening tidak terdengar suara apapun. Ratih diam. Tiwi menggeliat, dilihatnya Ratih masih belum tidur, duduk disudut ranjang.

"Koq lo belom tidur Rat, kangen ya sama Herman," tanya Tiwi sambil bangkit dari ranjang.
"Gue haus, mau minum, lo mau gak?,". Ratih menganggukan kepalanya, dengan tanpa suara. Tiwi bergegas turun, menapaki anak tangga, Ratih masih belum bergerak dari tempatnya, ketika tiba2 terdengar jeritan Tiwi, disertai suara gelas yang pecah mengenai lantai. Ratih berlari menuju suara teriakan Tiwi. Dilihatnya Tiwi pingsan didekat dispenser. Sementara pecahan gelas berserakan di lantai. Bi Surti, sudah ada disana merapikan serpihan2 gelas.

"Ada apa bi?, ada apa sama Tiwi."
"Gak tau nyonya, tadi waktu bibi datang dia sudah terkapar disini."

Ratih, memperhatikan bi Surti, dilihatnya baju Bi Surti basah dan ada bercak darah dikebayanya. Bi Surti adalah seorang wanita produk lama? yang kemana2 memakai kebaya.

"Bi Surti dari mana?, kenapa baju bibi basah, dan itu ada darah dikebaya bibi."
"Itu nyonya tadi disudut dapur bocor, bibi cari ember di belakang, kehujanan."
"Yasudah bibi ganti baju dulu, nanti sakit lagi."

Tanpa mendengar perintah kedua, bi Surti melangkah meninggalkan Ratih yang duduk disisi Tiwi.

"Wi bangun wi," Ratih mengoleskan minyak kayu putih dibawah hidung Tiwi. Tiwi perlahan membuka matanya.

"Gue ada dimana?, perempuan tadi kemana perginya?"
"Ini diruang tamu non?, elo tadi pingsan. Gak ada siapa2 disini wi."
"Enggak.... gue lihat ada cewek tadi di dapur, rambutnya panjang sepinggang, tapi gue gak lihat mukanya, soalnya dia membelakangi gue, tapi suara tawanya...hiii, aku takut banget Tih."
"Ah...lo halu kali, gue gak liat siapa2 tadi."
"Bener Tih, gue liat. Netra gue masih belum rabun."
"Tih, besok kita pulang ya, gue gak mau disini, gue takut," ujar Tiwi dengan mimik muka ketakutan.
"Ih..gak ada apa2 Wi. Kita kan gak bisa pulang. Jembatan yang menghubungkan kita ke jalan utama putus, kita belum bisa pulang, sabar ya." Ratih berusaha menenangkan Tiwi. Tiwi diam sambil memeluk erat tubuh Ratih. Hingga pagi menjelang mereka berdua belum juga bisa memincingkan mata. Suara adzan subuh terdengar dari Hp Ratih, Ratih dan Tiwi shalat berjamaah. Selepas subuh, barulah mereka bisa tidur nyenyak.
Diubah oleh agusmulyanti
7
09-02-2019 17:08
Part - 8

Herman terbangun ketika ada tetesan air jatuh diwajahnya. Dipandangnya langit langit Villa, dia tak melihat ada genangan air disana, semua terlihat biasa saja. Hingga tiba tiba netranya menangkap bayang hitam berdiri tepat didepannya dengan senyum menyeringai...gigi giginya yang runcing dipenuhi oleh cairan yang mengeluarkan aroma busuk. Herman merasakan mual yang teramat sangat, digulingkannya badannya menjauh dari makhluk hitam jelek. Mahluk hitam itu terus memburu dan mengejarnya. Herman terus menghindar. Nafasnya tersengal sengal, keringat membasahi wajah dan bajunya. Mahluk hitam jelek itu seperti ingin menelan Herman hidup hidup. Herman terus berdoa dan tak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh mahluk hina. Mahluk hina itu perlahan menjauh dan meninggalkan Herman yang duduk kelelahan

"Astagfirullah tempat apa ini?, mengapa banyak mahluk astral disini?."

Herman kembali menyusuri setiap sudut di Villa itu, nihil...tak ada jejak kemana Ratih dan Tiwi pergi. Herman berusaha menghubungi temannya...tapi sinyal disini teramat buruk, hingga kadang hilang kadang timbul.

Setelah sekian lama akhirnya Herman dapat menghubungi temannya.

"Assalaamualaikum.."
"Waalaikumusallam.."
"Bimo ini aku ....Herman."
"Iya Her, ada apa?, apa yang terjadi sama kamu ??,"...Her....Herman, kamu denger aku??."
"Iya Bim, Bimo!!!....Bim...tolong aku, tolong aku Bim,...aku dalam bahaya Bim."
"Herman!!!...Her...kamu dimana?? suara kamu gak jelas."
"Villa Putih...C****O."
"Herman...Her...Her...."

Herman berjalan lesu, darah masih terus menetes, merembes membasahi kemejanya. Herman menghidupkan semua lampu, dibersihkan badannya, diambilnya kaos dan celana pendek milik Tiwi. Dengan bersarungkan tirai, Herman mulai melaksanakan shalat. Tangisnya tak dapat dibendung lagi saat ia meminta, agar Ratih dan Tiwi dikembalikan padanya.

"Ya..Allah, tolonglah hambamu, bebaskan istri dan saudara hamba dari cengkraman jin dan Iblis yang hina, tolong hamba ya Allah, kasihani hamba."

Herman terus mengaji dan berdzikir, hingga kantuk membungkusnya. Entah hanya ilusi atau nyata, tiba tiba Herman berada pada suatu situasi yang benar benar berbeda. Ia seolah olah berada diantara dunia nyata dan mimpi.

Dihadapannya terbentang pemandangan yang sangat berbeda. Seorang wanita berkebaya, muda dan cantik terlihat sedang bersama seorang gadis belia yang tidak kalah cantiknya.

"Mah...papah kapan pulang ?."
"Entahlah nak, mama gak tau."
"Koq mama gak telpon?, bilang sama papa, aku juga kangen!!. Kenapa papa cuma sayang sama istri dan anaknya yang di sana, aku juga kan anaknya."
"Bella..!!!, gak baik kamu bicara seperti itu, mama gak suka."
"Mama yang gak pernah mikirin aku. Mama tau gak aku malu??, malu mah...malu diejek sama temen2, kata mereka aku anak haram, aku gak punya bapak. Apa emang betul aku ini anak haram?...betul mah...jawab??."
"'Bellaaaa...!!," sebuah tamparan mendarat di pipi gadis cantik itu. Bella mengerang menahan sakit. Dengan rasa marah Bella berlari ke kolam renang di samping Villa, dia berlari dengan marah, setan telah memperdaya gadis cantik itu, untuk menceburkan diri dan ....

BYURRR

tubuh gadis cantik itu masuk kedalam kolam, ia terlihat megap2 ditengah kolam, sebelum akhirnya diam tak bergerak. Herman berusaha menolong gadis itu, tapi sepertinya mereka berada di dimensi yang berbeda, tangannya tak bisa menyentuh Bella, meski ia berusaha sekuat tenaga. Wanita berkebaya menyusul berlari kearah kolam. Melihat Bella sudah tidak bergerak, ia menjerit dan berteriak teriak histeris, panikk...diapun menceburkan dirinya ketengah kolam.

Karena tak bisa berenang, akhirnya wanita itupun ikut tenggelam dan meninggal. Herman berteriak sekuat tenaga, tapi tak ada satupun yang mendengar. Herman diam membeku seperti patung, ia tak percaya dengan pemandangan yg ada dihadapannya. Entahlah ia harus menangis, berteriak atau apa...dunia seperti berputar.
Diubah oleh agusmulyanti
5
09-02-2019 03:39
Part - 5

Herman memacu mobilnya perlahan, iya tak dapat menembus derasnya hujan dengan kecepatan tinggi, derasnya hujan membuat netranya tak dapat melihat dalam jarak jauh, ditambah halimun yang mulai merambat turun. Perlahan mobilnya dihentikan, ketika jembatan yang menghubungkan jalan utama dan Villa putih terputus karena longsor.

"Hadeuh...gimana ini ?."

Seorang pria tua, entah dari mana datangnya, menghampiri Herman.

"Mau ke Villa Putih pak?."
"Iya kek, tapi koq jembatannya putus ya."
"Iya nak, kemarin hujan sangat banyak, jadi tebingnya longsor."
"Trus saya mau ke Villa Putih gimana ya kek."
"Bisa nak, nanti kakek tunjukan jalan pintasnya, tapi gak bisa pake mobil."
"Trus kita jalan kaki gitu kek."

Kakek itu mengangguk perlahan. Herman tak berfikir dua kali, dikenakannya jas hujan yang tersimpan disudut mobil. Hari sudah semakin senja, ketika mereka berjalan menuju Villa Putih. Herman melangkah beriringan dengan kakek tua yang kan mengantarnya ke Villa Putih. Sebenernya dia agak ragu untuk mengikuti kakek tua, tapi rasa cemas akan keadaan Ratih dan Tiwilah yang membuatnya dirinya dapat menepis rasa takut dan keraguan itu.

Perjalanan awalnya baik2 saja, hingga sampai malam menjelang, barulah Herman merasakan keganjilan, Villa yang merka tuju belum juga terlihat, sedangkan suasana semakin gelap dan menyeramkan. Herman mempercepat langkahnya, mengikuti kakek tua, yang berjalan sangat cepat, untuk ukuran orang seusianya. Nafasnya tersengal2, dihapusnya keringat yang mulai memenuhi wajahnya. Kakek tua itu berjalan menuju gubug tua yang ada ditengah hutan. Hanya diterangi pelita kecil, hanya ada tikar pandan dan meja kecil, serta kasur yang sudah sangat usang.

"Kita harus istirahat dulu nak, hari sudah malam, besok kita lanjutkan perjalanannya."
"Masih jauhkah kek."

Kakek tua itu lagi lagi hanya mengangguk, kemudian ia masuk kedalam.gubuk tua, meninggalkan Herman duduk sendiri.

Sudah hampir dua jam Herman duduk di beranda, tapi.kakek tua itu tak terlihat batang hidungnya. Herman melangkah menuju pintu, perlahan diketuknya pintu gubuk, tapi tak ada jawaban dari dalam, dan pintu tak terkunci. Herman melangkah masuk, ia belum shalat maghrib, dan berniat mau ke kamar mandi.

"Kek...kakek. Kek saya boleh pinjam kamar mandinya?."

Tak ada sahutan, ruangan itu seperti kosong tanpa penghuni, hanya ada alas tidur dan lampu sentir disudut ruangan. Herman terus melangkah meski rasa takut sudah menyelimutinya.

Sreeek...

Pintu kamat mandi perlahan dibukanya, tiba2 seekor cicak putih jatuh menerpanya.

"Astagfirullah, apa ini?."

Herman terus masuk dan mulai berwudhu. Air yang mengalir terasa dingin menyentuh kulitnya. Ia tak lagi menghiraukan kakek tua yang hilang entah kemana, dia hanya ingin memasrahkan diri pada sang khalik, jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, ia hanya ingin kembali dalam keadaan sudah menunaikan kewajiban dan ketaatannya..

"Allahhu Akbar." Herman mengangkat tangannya dan mulai menjalankan shalat.

Blam...

Terdengar suara berdebum keras, lampu padam dan erangan yang sangat menakutkan. Herman terus membaca ayat2 suci, suaranya menembus pekatnya malam, suara lolongan anjing dan jeritan terdengar sangat jelas dan dekat ditelinga Herman.

Herman mengucap salam, dia khusuk berdoa. Dia sudah pasrah. Perlahan dibuka matanya. Gubuk yang tadi ia singgahi sudah tak ada lagi. Yang ia jumpai hanya sebuah makam tanpa nama. Bulu kuduknya mulai meremang, desir angin menerobos masuk menembus kemeja tipis yang ia kenakan.

"Ya...Allah, dimana aku ini." gumam Herman. Herman terus melangkah. Belum lagi rasa takutnya hilang, tiba2 netranya menangkap sosok gadis berbaju putih berjalan didepannya.

"Mbak...mbak..tunggu."

Gadis itu terus berjalan dengan cepat dan tak menghiraukan panggilan Herman. Wangi aroma melati begitu kuat memancar dari tubuhnya. Herman mengikuti gadis itu separuh berlari, tak dihiraukannya bajunya yang koyak terkena ranting, darah mulai menetes dan membasahi bajunya. Hingga disebuah perempatan tiba2 gadis itu menghilang.

Herman terus berjalan, hingga netranya melihat Villa Putih sudah tidak jauh dari tempatnya. Herman mempercepat langkahnya, ia menarik nafas lega.

"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa sampai," ujar Herman sambil terus melangkah menuju pintu Villa. Belum lagi tangannya mengetuk pintu, tubuhnya sudah limbung dan terhuyung jatuh. Ia tak sadarkan diri karena luka yang menganga telah mengeluarkan cukup banyak darah dan sedari siang perutnya belum terkena nasi.
Diubah oleh agusmulyanti
5
07-02-2019 23:16
Part -- 3

Ratih berjalan keluar Villa, udara sore ini terasa dingin, halimun yang turun semakin lama semakin tebal. Ratih menarik nafasnya dalam2 dan perlahan dia hembuskan. Sesaat ia menebarkan pandangan kesekelilling, sepi. Villa putih ini memang agak jauh dari pemukiman warga, letaknya begitu terpencil, sehingga tak ada seorangpun yang lalu lalang disana. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara serangga malam dikejauhan. Ratih tersentak dari lamunannya ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya.

"Astagfirullah."

Tiwi tertawa ngakak mendengar teriakan sepupunya itu.

"Tiwiiii....hampir saja jantungku copot," ujar Ratih sambil istigfhar .

"Kenapa sih lo? Kayak habis lihat hantu aja," ujar Tiwi sambil terus tertawa.
"Tiwi...jangan tertawa kayak gitu, ini mau maghrib loh!."
"'Yaelah Ratih, hari gini lo masih percaya sama takhayul, ada2 aja," ujar Tiwi sambil memonyongkan bibirnya. Tiba tiba Tiwi melihat Ratih diam, matanya membelalak dan mulutnya berdesis.

"Tih...nggak lucu. Gak usah main2 deh, gue gak bakal ketipu tau." Ratih tetap mrmbelalakan matanya, sambil terus berdesis. Tiwi mundur selangkah, wajahnya terlihat ketakutan.

"Ratih...!! Sadar ini gue Tiwi," ujar Tiwi sambil terus mundur, wajahnya semakin pucat.

Ratih tak bisa menyembunyikan tawanya, melihat raut wajah Tiwi, Tawanya pun akhirnya pecah.

"Ratih...!!!, awas lo ya. Gak lucu tau," ujar Tiwi sambil melayangkan pukulan ke bahu Ratih.

"Tadi katanya gak percaya sama takhayul, masa gitu aja dah takut....hihi...hihi," ujar Ratih sambil terus tertawa.

Tiba tiba dari kejauhan, dibalik pepononan terdengar suara tertawa mengikuti suara tawa Ratih. Ratih dan Tiwi berpandangan, lalu lari berhamburan masuk ke Villa.

"Tih...tadi suara tertawa siapa ya?," ujar Tiwi.
"Tawa apa, aku gak denger apa2," ujar Ratih berusaha menutupi rasa takutnya.
"Ah....masa lo gak denger, suara ketawa orang, seudah lo ketawa."
"Tiwi...Tiwi, penakut banget si lo. Itu tadi suara gue, guekan pinter drama. Lo tau kan waktu SMA gue dijuluki Ratu Drama."

Tiwi diam, dalam hati ia mengakui kehebatan Ratih dalam bermain peran.

"Yaudah lah...yuk kita makan, gue dah laper nih." Ujar Ratih sambil menarik tangan Tiwi. Menu hari ini betul2 menggugah selera, Ratih dan Tiwi terlihat begitu menikmati makan malamnya. Bi Surti tersenyum, melihat semua hidangan yang ia sajikan, habis.

"Bi Surti top deh...makanannya enak tenan." Ujar Tiwi sambil mengacungkan dua jempol.
"Syukurlah kalau non Tiwi dan nyonya suka sama masakan bibi."
"Iya bi, masakan bibi enak banget," ujar Ratih menimpali kata2 sepupunya.

Bi Surti membawa piring2 kotor kedapur, sementara Ratih dan Tiwi, beranjak ke ruang tengah. Tanpa mereka sadari, mereka tertidur di kursi. Haripun semakin larut, dan kesunyian semakin menyelimuti.

------------

Malam semakin larut, suara burung han tu terdengar diantara rimbunnya pohon. Ratih terbangun, merasakan terpaan angin yang mengenai wajahnya. Dilihatnya gawai HP menunjukan angka satu, Ratih melihat daun pintu terbuka. Tiba tiba terlihat sosok seorang gadis berjalan melintas disisinya, Ratih tersentak, perlahan diikuti gadis itu. Betapa terkejutnya Ratih, melihat gadis itu berjalan menuju kolam, dan tanpa menoleh, gadis itu terus berjalan memasuki kolam. Ratih berteriak, tapi suaranya seperti tercekat. Hingga akhirnya ia terbangun, karena Tiwi menggoyang goyangkan badannya

"Tih...Ratih...bangun, bangun!!."
" Kenapa sih Wi ?,"
" lo tu tadi teriak2, gue aja sampe kaget."
"Ngimpi apa sih lo?," pasti lo mau bilang , Gak apa2 Wi, udah tau gue apa jawaban elo." Ujar Tiwi sambil tersenyum. Ratih tersenyum mendengar seloroh Tiwi
Diubah oleh agusmulyanti
5
07-02-2019 00:00
Part - 2

Jam menunjukan pukul 04.00 dinihari, ketika Ratih membuka matanya. Tubuh Tiwi terlihat masih melingkar disampingnya, selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Ya, suhu udara pagi memang sangat dingin, mungkin karena hujan yang turun sepanjang malam. Ratih bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar mandi, belum lagi kakinya melangkah, didengarnya suara air berderak derak dikamar mandi, seperti ada orang yang tengah mandi.

"Siapa yang sedang mandi sepagi ini? Tiwi masih tidur, apa mas datang ya,? bikin surprise buat aku,"

Ratih baru hendak melangkah menuju kamar mandi, senyum terlihat mengembang dibibirnya, ketika tiba2 handphonenya berdering. Diangkatnya perlahan, dihandphone tertulis dari Cintaku, Ratih terhenyak, perlahan didekatkan handphone itu ketelinganya.

"Hallo...Assalamualaikum mas."
"Waalaikumusallam...hai sayang, sudah bangun,? alhamduillah, mas juga sudah siap2 mau subuhan nih. Sayang maafin mas ya, mas belum bisa kesana, kerjaan mas gak bisa mas tinggal. Mas janji kalau sudah selesai mas langsung kesana. Hallo...sayang kamu gak marah kan,? terdengar suara diujung sana bernada khawatir.

"Iya mas aku dengar, gak.apa apa mas, mas selesaikan saja kerjaan mas, aku gak apa apa koq."

"Oh yasudah, kamu baik2 disana ya. Awas jangan ngelirik yang lain ya.! gurau suara diujung sana.

"Ih...apa sih mas," Ratih merajuk sambil tertawa.
"Yasudah kalo gitu kamu siap2 subuhan ya, nanti kesiangan. Assalamualaikum cinta."
"Waalaikumusallam mas."

Ratih mematikan handphonenya. Suara dari kamar mandi sudah tak terdengar lagi. "Ah...mungkin tadi cuma halusinasi aku saja." gumamnya.
Ratih mulai mandi dan bersiap hendak shalat, ketika didengarnya suara Adzan memecah hening pagi.

Ratih berjalan menuruni tangga, tercium aroma kopi menghampiri hidungnya. Terlihat bi Surti tengah menyiapkan sarapan.

"Pagi nyonya."
"Pagi bi, hmm wangi kopinya enak banget nih."
"Iya non, ini kopi asli, dipetik langsung dari pohon."

Ratih menyeruput kopi dari cangkirnya, hmm...memang rasa kopi ini betul betul nikmat, dan aromanya amat wangi, beda dengan kopi2 yang ada dipasaran.

"Gimana nyonya, enak gak?."
"Enak banget bi, beda rasanya dengan kopi yang biasa aku minum."
"Oh..iya bi, selain bibi, aku, mang Kardi dan Tiwi, ada lagi gak yang tinggal disini?."
"Gak ada nyonya. Memangnya ada apa?."
"Oh..enggak, enggak apa2 bi, cuma tanya aja."

Bi Surti meneruskan memasaknya. Terlihat langkah kaki menuruni tangga, Tiwi terlihat cemberut.

"Heh...kenapa waja lo kusut gitu."
"Auah...lo becandanya gak lucu tau."
"Becanda apa?" tanya Ratih sambil bengong.
"Ngapain lo cubit tangan gue?, nih lo liat cubitan lo bikin tangan gue biru.

Ratih melihat bekas cubitan ditangan Tiwi, terlihat memar disitu. Ia heran siapa yang sudah mencubit lengan Tiwi.

"Yaudah...aku minta maaf ya..please!!, aku janji gak akan ulangi lagi." Ujar Ratih, sambil memasang mimik sedih. Tiwi tak tega dan mulai tersenyum.

"Iya gue maafin. Tapi awas ya kalo lo gitu lagi, gue bales sampe lo nangis2."
"Baik tuan putri." Ratih berseloroh sambil tersenyum.

Keduanya kemudian terlihat asik menikmati sarapan pagi, sambil sesekali terdengar tawa memecah dingin pagi.

------------

Villa putih adalah Villa milik keluarga Herman, yang diwariskan kepada Herman setelah ia menikah. Orang tua Herman adalah keluarga terpandang. Herman adalah anak laki2 satu satunya, dari tiga bersaudara. Dua saudara perempuan dan ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, karena kecelakaan, mobil yang dikemudikan Ibunya terserempet sebuah truk dan kecelakaan itu telah merenggut tiga orang yang amat dicintainya. Keajaibanlah yang membuat Herman kecil bisa bertahan hidup. Ia terpental keluar dari jendela. Masih lekat dalam ingatannya, ketika tubuh kecilnya merangkak disisi mobil, wajahnya berlumur darah.

"Mama...mama sakit mah!,"
"Iya sayang, tunggu mama ya, sebentar mama kesitu nak." Ibunya terlihat berusaha melepaskan diri dari himpitan besi yang menekannya. Wajahnya terlihat dipenuhi darah. Sementara kedua kakaknya sudah tak bergerak lagi
"Mama ..sakit mah,.sakit..."
"Ia sayang, mama datang."

Tiba tiba dari kap mobil terlihat percikan api. Herman menjerit sambil menahan sakitnya.

"Mama...awasss...apiiii....!!!,"

Tidak butuh waktu lama api melalap semua yang ada didalam mobil. Herman menjerit dan tak sadarkan diri. Ia terbangun ketika mendengar suara orang bercakap2. Dibuka matanya, dan terlihat dokter tengah membersihkan luka2nya. Ayahnya terlihat menangis sambil terus berdoa. Peristiwa itu sudah lama tapi Herman terkadang masih dihantui oleh bayang2nya. Villa putih itu adalah Villa yang belum pernah ia kunjungi, juga oleh ibu dan dua kakaknya. Entah bagaimana ceritanya sampai ayahnya, bisa menutup rapat kehadiran Villa itu, dan baru memberikannya setelah ia menikah.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
DianikaL memberi reputasi
5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.