Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
267
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c4efe8ed43972111401dd02/tiga--bisikan-pelepas-jiwa
Gue dan nenden segera bergerak menjauhi tubuh imas, dan di saat itulah gue melihat imas kembali menggeram disertai dengan pergerakan tubuhnya yang terangkat ke atas hingga membentuk lengkungan pada tubuhnya,
Lapor Hansip
28-01-2019 20:07

Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Past Hot Thread
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 59 lainnya memberi reputasi
58
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 12
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
28-01-2019 20:14
Chapter 1






1993
Pijaran cahaya kilat yang sesekali terlihat diantara gugusan awan yang gelap kini perlahan mulai menyemaikan butiran air hujan yang mulai turun membasahi bumi, keterdiaman gw yang kini tengah berada di dalam salah satu mobil yang terparkir di depan sebuah bangunan konseling kejiwaan yang berada di kawasan jakarta barat, perlahan mulai terusik begitu melihat kehadiran papah dan mamah yang terlihat mulai keluar dari bangunan tersebut
“ kamu tunggu disitu aja dar.....mamah bawa payung kok....”
Mendengar teriakan yang terlontar dari mulut mamah, gw pun kini mengurungkan niat untuk keluar dari dalam mobil guna memberikan payung kepada papah dan mamah, dan kini diantara keterbatasan pandangan mata yang terhalang oleh derasnya air hujan, nampak mamah mengeluarkan sebuah payung dari dalam tasnya lalu mengembangkannya, dan seiring dengan payung yang telah mengembang, papah dan mamah terlihat mulai berjalan menembus hujan
“ derasnya hujan hari ini.....” ujar papah begitu memasuki mobil, diantara untaian senyum yang masih menghiasi wajahnya, papah terlihat berusaha menepiskan butiran air hujan yang nampak sedikit membasahi rambutnya
“ kamu sudah lama menunggu dar.....?” tanya mamah dari deretan kursi penumpang yang berada dibagian belakang, mendapati pertanyaan mamah tersebut, gw pun menolehkan pandangan mata ini ke arah mamah, nampak terlihat mamah tengah menyimpan payung telah digunakannya ke dalam sebuah kantong pelastik hitam
“ hampir setengah jam mah....untung aja tadi darma pulang kuliah cepat....”
“ iya dar....untung aja ada kamu, tadi papah berpikir untuk menggunakan taksi begitu mendapatkan kabar dari bi idah yang memberitahukan kalau mang kohar terpaksa harus pulang ke rumahnya dikarenakan istrinya sakit, padahal sewaktu tadi mang kohar mengantarkan papah dan mamah....mang kohar enggak mengatakan apa apa mengenai kondisi istrinya....”
“ yaa namanya juga penyakit pak....kita enggak akan pernah tau kapan datangnya...” ujar mamah begitu bapak telah mengakhiri perkataannya
Darma Prasetya Aernout....ya itulah nama gw yang mungkin bagi sebagian besar orang yang baru pertama kali mengenal dan mengetahui nama gw ini, akan menduga kalau gw ini adalah seseorang yang terkesan sombong dan agak kebarat baratan....tapi semua dugaan miring tersebut dapatlah gw maklumi, hal ini di dasari karena ketidaktahuan mereka akan garis keturunan yang gw miliki, sejujurnya gw terlahir dari keluarga yang mempunyai garis keturunan belanda, dan garis keturunan tersebut gw dapatkan dari papah gw yang juga mempunyai nama belakang Aernout atau lebih lengkapnya Agustinus Aernout.....seorang pria yang mempunyai garis keturunan belanda dari ayahnya yang bernama Boudewijn Aernout
Rentang waktu yang berjalan mencatat Boundewijn Aernout yang merupakan kakek gw adalah seorang anggota militer yang mempunyai sebuah jabatan penting di salah satu barak militer belanda yang berada di daerah Sukabumi, atau lebih tepatnya di kampung Cixxxxxg, dan seiring dengan penjajah Belanda pada waktu waktu itu, kakek gw itu pun menikahi seorang gadis muda dari desa setempat, dan hasil dari pernikahannya tersebut, kakek gw mempunyai dua orang anak, dimana salah satu dari anak tersebut telah meninggal dunia pada saat usia anak anak, dan yang tersisa dari hasil pernikahan tersebut hanyalah papah
Seiring dengan usia papah yang terus bertambah, tepat pada usia dua puluh tujuh tahun papah pun menikahi mamah, dan hasil dari pernikahan tersebut menghasilkan empat orang anak yaitu nenden, gw, imas dan angga, tapi sayang setelah usia dua tahun pernikahan papah tersebut, kakek meninggal dunia pada usia tujuh puluh tujuh tahun, jadi bisa dikatakan gw sama sekali belum pernah melihat secara langsung akan bentuk rupa kakek gw itu
“ bagaimana pah dengan hasil dari pemeriksaan tadi....?” tanya gw diantara laju mobil yang mulai berjalan meninggalkan bangunan konseling kejiwaan, mendapati pertanyaan gw tersebut, papah pun terlihat terdiam sejenak, hanya raut mukanya saja yang menggambarkan bahwa hasil pemeriksaan yang telah papah lakukan telah menghasilkan sebuah penilaian yang baik
“ papah kamu itu enggak kenapa napa dar...mungkin kegelisahan yang dialaminya selama ini hanyalah efek dari kesibukannya dalam bekerja....” ucap mamah mewakili jawaban papah yang masih nampak terdiam, mendapati perkataan mamah tersebut, terlihat papah menghela nafas panjang
“ entahlah mah....kegelisahan yang saya rasakan itu sepertinya bukanlah sebuah kegelisahan biasa, saya merasa seperti ada tanda tanda kurang baik yang akan terjadi pada mamih....”
“ tanda tanda kurang baik pada nenek....?” tanya gw memotong perkataan papah
“ iya dar....tapi entah apa, tapi bisa juga...kegelisahan yang papah rasakan ini adalah sebuah bentuk dari rasa bersalah papah yang telah meninggalkan nenek kamu itu di rumah jompo....” jawab papah yang berbalas dengan keterdiaman gw dan mamah
“ papah benar benar merasa bersalah....” ujar papah dengan suaranya yang bergetar
“ pah....itu bukan sepenuhnya salah papah....” diantara keterdiaman mamah yang tidak melanjutkan perkataannya itu, nampak mamah meletakan jari jemari tangannya yang lembut di bahu papah, mendapati perlakuan mamah tersebut, raut wajah papah yang semula terlihat menegang kini nampak mulai sedikit tenang
“ semuanya itu pilihan hidup pah....di satu sisi papah harus memenuhi kehidupan keluarga ini dengan bekerja dan pekerjaan tersebut mengharuskan papah untuk pergi meninggalkan rumah, tapi di sisi yang lain mamih bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya.....hingga akhirnya kita terpaksa mengambil jalan tengah dengan menempatkan mamih pada sebuah rumah jompo.....” seiring dengan berakhirnya perkataan mamah, nampak sekali terlihat ekspresi penyesalan di wajah mamah, sepertinya mamah pun merasa keputusan untuk meninggalkan nenek di rumah jompo adalah sebuah keputusan yang teramat berat untuk diambil
“ nenek kamu itu sekarang sudah berusia delapan puluh satu tahun dar.....dan itu sudah merupakan usia yang sangat tua, papah tidak ingin......”
“ apapun keputusan papah....darma pasti akan mengikuti pah, apalagi ini adalah keputusan menyangkut nenek.....” ujar gw memotong perkataan papah, sejujurnya saat ini gw sudah mengetahui akan arah dari pembicaraan ini, mendapati perkataan gw tersebut terlihat mamah menganggukan kepalanya
“ yaa...kita lihat saja nanti ke depannya, semoga papah dapat mengambil keputusan terbaik bagi keluarga kita ini.....”
Tepat pada pukul dua siang hari, akhirnya kami pun tiba di rumah, nampak terlihat keberadaan bi idah yang tengah membersihkan halaman rumah, sepertinya efek dari hujan deras yang telah terjadi tadi kini telah menimbulkan gugurnya daun daun dari pepohonan yang ada di halaman rumah
....tinnnn....
Seiring dengan suara klakson yang terdengar, bi idah pun terlihat menghentikan aktifitas yang tengah dilakukannya, lalu berjalan untuk membuka pintu gerbang rumah
“ maaf ya bi jadi ngerepotin....” canda gw yang berbalas dengan senyuman bi idah, seiring dengan senyuman bi idah tersebut, gw pun segera memasukan mobil ke dalam halaman rumah
“ anak anak sudah pada pulang bi.....?” tanya mamah begitu keluar dari dalam mobil
“ sudah bu....hanya neng nenden aja yang belum pulang....” jawab bi idah yang berbalas dengan anggukan kepala mamah, dan seiring dengan jawaban bi idah tersebut, terlihat papah keluar dari dalam mobil lalu berjalan memasuki rumah
“ sepertinya teh nenden sedang banyak tugas di kampusnya mah....” ujar gw yang berbalas dengan senyuman di wajah mamah
“ ahh teteh kamu itu terlalu banyak kesibukannya....” seiring dengan berakhirnya perkataan mamah, nampak mamah mulai berjalan memasuki rumah, mendapati hal tersebut gw pun segera mengikuti langkah mamah untuk memasuki rumah
“ wahhh enaknya yang sedang menonton film kartun....” canda gw yang berbalas dengan kejengkelan angga akibat keusilan gw yang mencoba menghalangi pandangan angga dari layar televisi
“ ahhhh bang darma rese nih.....awas dong bang...” ujar angga yang berbalas dengan keinginan gw untuk mengakhiri keusilan ini
“ imas dimana ngga...?”
“ tuh ada dikamarnya.....” jawab angga dengan acuhnya, pandangan matanya terlihat masih terfokus pada layar televisi, mendapati hal tersebut, gw pun segera berjalan menuju kamar imas dan mendapati imas yang tengah berada di meja belajarnya
“ ehhh bang darma udah pulang.....” ujar imas begitu menyadari kehadiran gw di dalam kamar
“ kamu lagi ngapain imse....?” tanya gw seraya menyebut nama kesayangan gw dalam memanggil imas, sejujurnya diantara kedua adik gw ini, gw lebih memberikan perhatian khusus kepada imas, hal itu didasari atas pertimbangan gw akan kelabilan mental imas akibat dari proses kelahirannya yang prematur
“ photo photo ini unik ya bang....unik sekaligus ada perasaan enggak enak jika melihatnya....” ujar imas yang berbalas dengan keterheranan gw atas perkataan imas tersebut
“ enggak enak dilihat bagaimana sih imse...mungkin itu hanya perasaan kamu aja....”
Dengan seksama kini gw pun ikut mengamati beberapa photo yang tersimpan di dalam album, nampak terlihat keberadaan kakek yang mengenakan pakaian militernya tengah duduk diantara beberapa warga desa yang tengah melakukan aktifitasnya
“ gagahnya kakek kita itu.....” gumam gw yang berbalas dengan ekspresi datar di wajah imas
“ iya gagah....gagah diantara senyum dari orang orang yang telah tiada.....”
Mendapati perkataan imas tersebut, gw pun kini hanya bisa terdiam seribu basa, sejujurnya saat ini gw mulai merasa tidak nyaman atas perkataan itu, entah mengapa kini gw merasa rangkaian photo yang tengah gw lihat ini, kini seperti menyimpan sebuah misteri dari masa lalu
“ maksud kamu apa sih imse....?”
“ terkadang imas ingin tahu bang akan apa yang ada didalam pikiran orang orang yang tersenyum dan berada disekitar kakaek itu...apakah mereka tersenyum bahagia...ataukah ada perasaan lain yang tersembunyi dibalik senyuman itu.....”
“ duh imse...pikiran kamu ini udah terlalu jauh nih...” ujar gw seraya mencoba menepis bibit bibit rasa tidak nyaman yang mulai muncul di hati gw ini
“ coba lihat itu bang....seorang wanita yang duduk agak jauh di sisi kakek, pandangannya terlihat tajam menatap kakek...senyuman yang mengembang di wajahnya seperti menutupi akan perasaan yang ada dihatinya....” seiring dengan perkataan imas tersebut, gw pun kini memperhatikan keberadaan dari seorang wanita yang duduk dan berada jauh dari sisi kakek, seorang wanita desa yang cantik tengah duduk mematung dengan pandangan menatap kakek, senyuman yang menghiasi wajahnya seperti berpadu sempurna dengan sanggul serta balutan kebaya kuno yang dikenakannya
“ itu bukan nenek kan bang....?”
“ bukan...itu bukan nenek......” jawab gw dengan keyakinan yang tinggi
“ sebentar....”
Selepas dari perkataan gw tersebut, gw pun segera berjalan keluar dari dalam kamar gun mengambil sebuah album photo, dimana di dalam album photo tersebut tersimpan keberadaan photo nenek di saat masa mudanya
“ cari apaan sih bang.....?” tanya angga begitu melihat gw mengambil album photo yang tersimpan di salah satu rak yang berada tidak jauh dari televisi, dan kini tanpa menjawab pertanyaan dari angga, gw pun segera kembali berjalan memasuki kamar imas
“ ini photo nenek sewaktu masih mudanya....kamu bisa lihat perbedaannya kan....” ujar gw seraya menunjukan photo nenek dan berbalas dengan keterdiaman imas untuk beberapa saat lamanya, hingga akhirnya setelah keterdiamannya tersebut, imas pun kembali mengarahkan pandangannya ke arah wajah wanita muda yang ada di dalam photo tua
“ sama sama cantik...tapi sepertinya lebih ramah yang ada di photo kakek ini ya bang....”
“ husshhh...kamu ngomong apa sih imse...enggak baik kamu membanding bandingkan nenek seperti itu, lagi pula kamu kan belum terlalu mengenal nenek....” tegur gw dengan nada yang agak meninggi, mendapat teguran gw tersebut terlihat ekspresi keterkejutan di wajah imas
“ ya tuhan....memangnya tadi imas mengatakan apa bang...?” tanya imas yang berbalas dengan kebingungan gw dalam menyikapi pertanyaan tersebut, dan diantara rasa kebingungan yang gw rasakan ini, sempat terbersit rasa kesal dihati gw karena merasa saat ini imas sedang mempermainkan gw, tapi begitu kini gw menatap wajah imas yang penuh dengan kepolosan, entah mengapa gw merasa imas memang sedang bersungguh sungguh atas pertanyaan yang telah dilontarkannya itu
“ bang tadi imas mengatakan apa....?” tanya imas kembali dan berbalas dengan keterdiaman gw untuk beberapa saat
“ kamu enggak mengatakan apa apa kok....sudahlah sebaiknya kamu istirahat aja, mungkin hari ini kamu terlalu lelah di sekolah...” jawab gw dan berbalas dengan ekspresi ketidakpuasan di wajah imas atas jawaban yang telah gw berikan tersebut, dan kini diantara keinginan gw yang tidak ingin berlama lama dalam situasi yang tidak jelas ini, gw pun memutuskan untuk mengambil album photo yang tergeletak di atas meja belajar lalu membawanya keluar dari dalam kamar
“ habis lihat apa sih bang...kok mukanya lecek gitu.....?” tanya angga begitu melihat gw memasukan album photo ke dalam rak, mendapati pertanyaan angga tersebut, gw pun hanya tersenyum kecil seraya beranjak pergi memasuki kamar
“ si imse kenapa jadi aneh begitu ya....?” tanya gw dalam hati seraya merebahkan tubuh ini diatas ranjang, dan kini diantara ketiadaan jawaban atas pertanyaan gw tersebut, pandangan mata gw yang memang telah sedari tadi memandang langit langit kamar tanpa terasa kini mulai terpejam, hingga akhirnya gw pun kini mulai terlarut dalam lautan mimpi yang tidak bertepi
....srekk....srekkk.....
“ teh nenden....” gumam gw pelan begitu kini pandangan mata gw telah terbuka akibat dari suara yang telah terdengar, sinar terang dari cahaya lampu kamar yang telah menyala, kini memperlihatkan keberadaan teh nenden yang tengah menutup gorden jendela kamar
“ sudah jam berapa ini teh....?” tanya gw seraya menggeliatkan tubuh ini
“ sudah jam enam dar...enggak baik loh kalau magrib magrib begini lu masih tidur.....” jawab nenden diantara langkah kakinya yang terlihat berjalan menghampiri
“ ahh teteh...masih aja percaya dengan hal hal seperti itu, lebih baik gw tidur teh, dari pada seperti teteh...udah tau magrib tapi enggak mau sholat....” canda gw yang berbalas dengan ekspresi rasa jengkel di wajah nenden, sejujurnya candaan yang baru saja terlontar dari mulut gw itu bukanlah sebuah candaan yang bersifat serius, karena sudah menjadi rahasia umum di keluarga gw ini, kalau agama islam yang kami anut ini hanyalah sebuah agama yang hanya tertera di dalam ktp, sedangkan untuk pelaksanaan ibadah sehari harinya semuanya itu masih jauh dari kelayakan kami untuk menyandang status sebagai manusia yang beragama
“ ohh iya dar....bagaimana dengan hasil pemeriksaan papah tadi....?” tanya nenden diantara pergerakannya yang mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur
“ kalau dari apa yang gw lihat sih teh...sepertinya papah baik baik aja, kalau kata mamah sih...papah itu hanya kelelahan dalam bekerja....”
“ hahh kelelahan bekerja..., kok bisa sih kelelahan bekerja menyebabkan papah mimpi secara berulang ulang akan keberadaan nenek yang terbaring dalam liang lahat....” ujar nenden yang berbalas dengan keterkejutan gw
“ ohh jadi selama ini papah bermimpi seperti itu teh....wahhh sepertinya gw baru tau nih...”
“ iya dar...papah pernah mengatakannya seperti itu.....”
“ kalau memang mimpi papah seperti itu....berarti sangatlah masuk akal jika papah mengatakan merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan nenek di panti jompo......dan sepertinya....”
“ dan sepertinya apa....?” tanya nenden memotong perkataan gw, sepertinya nenden mulai merasa tidak sabar atas kelanjutan dari perkataan gw tersebut
“ sepertinya dalam waktu yang tidak beberapa lama lagi...papah akan mengambil sebuah keputusan....entah keputusan apa....” seiring dengan berakhirnya perkataan gw tersebut, terlihat nenden mencoba menerka nerka atas keputusan yang akan papah ambil....”
“ apa mungkin papah akan memutuskan untuk kembali ke rumah nenek yang di sukabumi dan tinggal disana....?”
“ entahlah teh....bisa jadi seperti itu....” ujar gw lalu terdiam untuk sesaat
“ ohhh iya teh....tadi gw baru saja mendapati keanehan pada diri imse....”
“ keanehan bagaimana....?”
“ entah ini ada hubungannya dengan mimpi papah atau tidak...tapi tiba tiba aja imse seperti tertarik untuk melihat lihat album photo lama, dan menanyakan tentang keberadaan seorang wanita desa yang ada di dalam photo kakek.....bahkan imse pun sampai membandingkan sosok wanita desa itu dengan nenek..... ” jawab gw yang berbalas dengan keterkejutan nenden
“ hahh imse membandingkan wanita desa itu dengan nenek....?”
“ iya teh...dan yang lebih aneh lagi, setelah imse membandingkan sosok wanita desa itu dengan nenek, imse seperti orang bingung...sepertinya imse merasa bahwa dia sama sekali tidak mengingat akan perkataannya itu....”
“ wahh ini benar benar aneh dar....padahal baru saja beberapa hari yang lalu gw juga menemukan keanehan pada diri imse....”
“ keanehan seperti apa lagi teh.....?” tanya gw yang mulai merasa tidak sabar atas perkataan yang akan terucap dari mulut nenden
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amron7497170 dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
28-01-2019 20:21
Chapter 2







“ beberapa hari yang lalu imse pernah mengatakan kepada gw, kalau dirinya sempat beberapa kali mendengar adanya seseorang yang mencoba untuk berkomunikasi dengan dirinya....walaupun semuanya itu imse rasakan ketika dirinya sedang tertidur....”
“ maksud teh nenden...imse mengalami semuanya itu disaat imse bermimpi....?” tanya gw berusaha mempertegas akan maksud dari perkataan nenden
“ bukan...bukan bermimpi dar...imse mengatakan, dia merasakan semuanya itu seperti sebuah bisikan, dan kerena bisikan bisikan itulah terkadang imse merasa enggan untuk melanjutkan tidurnya, tapi untuk satu hal yang pasti...imse bisa memastikan kalau suara bisikan yang telah didengarnya itu adalah suara bisikan dari seorang wanita....”
“ wanita....?” gumam gw pelan
“ apa mungkin teh...bisikan yang telah imse dengar itu ada hubungannya dengan rasa ketertarikan imse atas wanita yang ada di album photo lama....karena...”
“ ahhhh...kamu jangan terlalu berpikir jauh dar....justru saat ini gw menjadi sangat khawatir akan kondisi mental imse, kan lu tau sendiri bagaimana kondisi mental imse selama ini, bisa jadi apa yang telah imse alami dalam beberapa hari belakangan ini adalah akibat dari ketertutupannya atas masalah yang tengah dialaminya di sekolah....” ujar nenden yang berbalas dengan keterdiaman gw, sejujurnya kini gw begitu merasa sedih jikalau membayangkan kejadian kejadian yang telah imas alami dalam beberapa hari belakangan ini erat hubungannya dengan ketertutupan imas atas masalah yang tengah dialaminya di sekolah
“ kalau memang kejadiannya seperti itu, biar besok gw akan mengajak imse untuk berbicara...ya siapa tau aja imse mau menceritakan akan masalah yang tengah dialaminya....”
“ sebaiknya memang begitu dar...tapi lu harus ingat, lu enggak boleh memaksa imse untuk menceritakan semua masalahnya itu....”
“ iya teh....”
Seiring dengan berakhirnya percakapan antara gw dan nenden, nenden pun memutuskan untuk beranjak keluar dari dalam kamar dan meninggalkan kesendirian gw yang masih terbaring dalam keterdiaman
Keesokan paginya sesuai dengan apa yang telah gw bicarakan dengan nenden, gw pun mencoba untuk menggali keterangan dari imas mengenai masalah yang mungkin kini tengah dihadapinya, tapi sepertinya seiring dengan pembicaraan yang gw lakukan itu, usaha gw untuk menggali keterangan dari imas harus berakhir dengan tangan kosong, imas tetap bersikukuh bahwa dirinya saat ini memang tidak sedang menghadapi suatu masalah seperti apa yang telah gw dan nenden sangkakan
Empat bulan sudah waktu berlalu dari pembicaraan antara gw dan imas, sinar mentari pagi yang masuk melalui beberapa celah lubang jendela, kini seperti mengantarkan akan adanya sebuah kabar berita yang akan kami dengar pagi ini, untuk beberapa kali terlihat papah mengarahkan pandangannya ke wajah mamah, hingga akhirnya seiring dengan ekspresi persetujuan yang terlihat di wajah mamah, papah pun mulai menceritakan akan maksud dan tujuan dari permintaan papah yang meminta kami untuk berkumpul pagi ini
“ jadi kita akan benar benar pindah ke sukabumi pah.....?” tanya gw yang masih berusaha meyakinkan diri ini, bahwa apa yang telah gw duga selama ini kini telah terucap dari mulut papah
“ iya dar....tapi kamu enggak usah khawatir, papah enggak akan menjual rumah kita ini....jadi dengan kata lain kamu dan nenden masih bisa tinggal di jakarta ini untuk menyelesaikan perkuliahan kalian, sedangkan untuk angga dan imas...papah dan mamah memutuskan untuk membawa serta mereka...”
“ tapi pah....”
“ enggak ada tapi tapian dar....semuanya ini sudah papah putuskan dengan matang dan telah mendapat persetujuan dari mamah kamu juga....”
“ boleh nenden tau pah...apa alasan papah sebenarnya hingga memutuskan untuk pindah ke sukabumi, apakah salah satunya karena mimpi papah itu....?” tanya nenden yang berbalas saling berpandangnya papah dan mamah
“ mungkin itu salah satu alasan dari banyaknya alasan....tapi alasan utama papah adalah, papah merasa posisi papah sebagai seorang anak, masih sangat jauh dari kata berbakti....jangankan papah membahagiakan nenek kalian, di usia nenek kalian yang sudah setua ini...papah malah meninggalkannya di panti jompo...” untuk sesaat terlihat papah menghentikan perkataannya, sebuah cangklong rokok yang sedari tadi hanya bermain main ditangannya, kini telah berpindah tempat diantara himpitan dua bibirnya yang berwarna hitam
“ bagi papah....mimpi mimpi yang papah alami itu hanyalah sebuah pertanda yang diberikan oleh alam untuk menegur kelalain papah selama ini, usia nenek kalian itu kini sudah semakin tua....dan mungkin waktu yang diberikan tuhan bagi nenek kalian untuk menikmati semua keindahan yang ada di dunia ini hanya tinggal sebentar lagi, dan papah benar benar ingin memanfaatkan waktu yang sebentar itu untuk membahagiakan nenek kalian......” ucap papah yang berbalas dengan anggukan kepala mamah
“ lantas bagaimana dengan pekerjaan papah.....?” tanya gw dengan perasaan yang masih merasa bimbang atas keputusan papah ini
“ papah sudah memikirkan semuanya, usia papah kini sudah empat puluh sembilan tahun.....dan di usia tersebut papah sudah mendapatkan semuanya, jadi kemungkinan besar papah akan memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan berprofesi sebagai konsultan lepas di perusahaan tempat papah bekerja sekarang ini....”
“ mengundurkan diri....” ujar gw dan nenden hampir bersamaan
“ iya mengundurkan diri.....sepertinya saat ini tuhan memang telah memberikan jalan kepada papah untuk mengambil semua keputusan ini, entah mengapa disaat mimpi mimpi buruk itu mulai papah alami, disaat itu juga perusahaan tempat papah bekerja kini sedang mengeluarkan kebijakan mengenai program pengurangan karyawan bagi karyawan yang bersedia untuk mengundurkan diri......dan tentu saja disertai dengan kompensasi yang sesuai....”
“ hmmmm...kalau memang keputusan papah itu sudah bulat, nenden rasa....nenden enggak bisa berkata apa apa lagi, kira kira kapan papah akan memulai perpindahan ini....?”
“ mungkin dalam beberapa bulan kedepan nden.....banyak yang harus papah urus terlebih dahulu, mulai dari mengurus perpindahan sekolah adik adik kamu, mengurus administrasi perpindahan nenek kamu sampai dengan mengurus proses pengunduran diri papah di kantor....”
“ mudah mudahan aja perpindahan itu berbarengan dengan masa libur kuliah darma dan teh nenden, jadi kami berdua bisa ikut serta ke rumah nenek....” ujar gw dan berbalas dengan anggukan kepala papah dan mamah
Pergerakan dari jarum jam yang terhenti pada pukul sepuluh malam, kini mengiringi kegelisahan gw untuk memejamkan mata ini, bayangan gw akan proses perpindahan yang akan terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan ini, kini seperti bermain main di dalam pikiran gw ini, entah mengapa kini gw merasa seperti ada sedikit keraguan di hati gw untuk menyetujui proses perpindahan ini...dan hal ini jelas sangat berbanding terbalik dengan keputusan awal gw yang mengatakan akan mengikuti apapun keputusan yang akan diambil oleh papah
“ kenapa gw jadi ragu begini ya....” ucap gw dalam hati seraya menghela nafas panjang, lama gw kembali terdiam didalam balutan keheningan malam, hingga akhirnya diantara ketidakberdayaan gw untuk memejamkan mata ini, gw pun memutuskan untuk beranjak keluar dari dalam kamar dan mendapati suasana di dalam rumah yang telah sepi
“ sepertinya mereka semua udah pada tidur....” seiring dengan perkataan gw tersebut, pandangan gw pun terarah ke setiap sudut yang ada di dalam rumah, bayangan gw akan rencana perpindahan yang akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan ini, kini seperti mengikis kenangan gw akan hangatnya canda dan tawa yang pernah tercipta di rumah ini
“ andai nanti gw hanya tinggal berdua dengan teh nenden....pastinya rumah sebesar ini akan terasa sepi....”gumam gw diantara irama langkah kaki ini yang berjalan menuju ke arah rak penyimpanan album photo, untuk sesaat lamanya, gw pun kini hanya bisa terdiam dengan pandangan menatap ke arah beberapa album photo yang tersimpan di dalam rak, hingga akhirnya setelah beberapa saat gw terpaku dalam keterdiaman itu, gw pun memutuskan untuk mengambil beberapa album photo dari dalam rak, lalu membawanya menuju ke kursi santai yang biasa dipergunakan oleh angga dalam menonton siaran televisi
“ ya tuhan...gw enggak akan mampu jika harus hidup berjauhan dengan mereka....” keluh gw diantara pergerakan mata ini yang tengah memandang ke sebuah halaman di dalam album photo...yaa sebuah halaman yang berisikan kumpulan dari photo photo yang mengabadikan kehangatan dari keluarga gw ketika menjalani beberapa aktifitas keseharian, dan sepertinya hampir cukup lama juga gw menikmati semua kenangan indah masa lalu ini, hingga akhirnya disaat kini gw mulai membuka halaman baru pada album photo, tanpa adanya sebuah kesengajaan, gw pun menemukan beberapa lembar photo yang mengabadikan bangunan rumah nenek, mulai dari bangunan rumah secara keseluruhan hingga beberapa bagian ruangan yang ada di dalam bangunan rumah, dan hal ini jelas saja menimbulkan sedikit tanda tanya di hati gw, karena sejujurnya baru kali ini gw melihat keberadaan dari beberapa photo ini di dalam album photo
“ apa mungkin papah baru menyimpan photo photo tua ini ya......”
Seiring dengan gumaman yang meluncur dari mulut gw tersebut, gw mencoba untuk mengingat ingat kembali atas keberadaan dari beberapa photo tua yang ada di dalam album photo, hingga akhirnya gw pun kini mengambil kesimpulan bahwa lembaran photo photo tua tersebut memang ada dan telah tersimpan dari dahulu, hanya saja ketika itu gw memang tidak begitu memperhatikannya dengan seksama, hingga akhirnya disaat kini gw merasakan kegamangan atas berita perpindahan yang telah disampaikan oleh papah, lembaran dari photo photo tua tersebut kini telah dapat menarik perhatian gw guna memperhatikannya secara lebih seksama
“ sumpah.....gw benar benar buta dengan apa yang ada di rumah nenek...hanya sebagian kecil aja dari ruangan ruangan ini yang gw ingat....” ujar gw seraya memperhatikan beberapa photo tua yang ada di dalam album photo, dan diantara keterfokusan pandangan mata gw tersebut, pandangan mata gw pun kini terhenti pada salah satu lembar photo yang mengabadikan sebuah gambar rumah besar, dengan ornamen bangunan belanda yang kental
....tik...tik...tik....
“ ini rumah siapa....?”
Putaran dari suara jarum jam dalam keheningan malam, kini mengiringi sebuah pertanyaan yang terbersit di hati gw ini, rasa keterasingan gw terhadap bangunan rumah tersebut telah membuat gw terdiam dalam beberapa saat, dan kini diantara keterfokusan gw dalam memandang photo bangunan tua tersebut, nampak terlihat di beberapa bagian photo tersebut, terdapat bercak bercak hitam yang sepertinya disebabkan oleh keberadaan jamur yang mulai menghinggapi photo tua tersebut, dan hal ini berarti mengindikasikan bahwa photo tua tersebut telah berumur sangatlah tua, hingga akhirnya disaat kini gw mulai memperhatikan bentuk bangunan rumah yang ada di dalam photo tua itu secara lebih seksama....entah ini karena tipuan mata gw yang sudah merasa lelah dalam memandang kumpulan photo tua tersebut, gw melihat di antara jendela yang terdapat pada bangunan rumah yang ada di dalam photo tua tersebut, seperti memperlihatkan adanya bayangan hitam yang tersamar dalam transparansi redupnya kaca jendela bangunan rumah, mendapati hal tersebut, kini diantara rasa percaya dan tidak percaya atas apa yang telah gw lihat, gw mencoba untuk memperhatikan bayangan hitam tersebut secara lebih seksama lagi....tapi kini baru saja beberapa saat pandangan mata gw kembali terfokus pada bayangan hitam tersebut, sebuah kejadian yang sangat tidak masuk akal kini tersaji di hadapan gw....
“ siallll.....ini enggak mungkin....!!” umpat gw seraya menghempaskan album photo yang tengah berada ditangan ini ke atas lantai, untuk sesaat lamanya gw pun kini hanya bisa terdiam dengan tatapan memandang ke arah album photo, bagi gw apa yang telah gw alami ini adalah sesuatu yang sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat ini...bagimana mungkin sebuah photo yang seharusnya adalah sebuah obyek yang tidak bernyawa kini memperlihatkan adanya aktifitas dari bayangan hitam yang ada di dalam photo tua tersebut
“ mana mungkin...semua ini pasti enggak nyata...gw pasti udah salah lihat....”
Dan kini diantara kalimat penyangkalan yang terucap dari mulut gw ini, gw mencoba untuk meredakan rasa takut yang muncul akibat kejadian baru saja gw alami tadi, hingga akhirnya disaat kini gw mulai bisa meredakan rasa ketakutan tersebut, dengan rasa ragu, gw pun mulai menggerakan tangan ini untuk mengambil album photo yang tergeletak di lantai, tapi disaat kini pergerakan dari jari jemari tangan gw mulai mendekati album photo tersebut....tiba tiba gw seperti mendengar adanya suara wanita yang terdengar begitu lirih memanggil nama gw, dan suara tersebut bisa gw pastikan terdengar dari arah belakang tubuh gw
.....darrmaaa.....
Untuk kali keduanya suara lirih yang memanggil nama gw itu kembali terdengar dari arah belakang tubuh gw, dan untuk kali ini gw bisa merasakan kalau suara wanita itu terasa semakin mendekat....bahkan bisa dikatakan suara lirih wanita itu kini benar benar telah berada tepat di belakang tubuh gw
“ ya tuhannn....apa ini yang telah dialami oleh imse.....” gumam gw dengan penuh ketakutan, dan kini diantara pergelutan rasa takut yang mulai meremangkan bulu kuduk di tubuh gw ini, keberadaan dari suara lirih yang tadi terdengar, kini secara perlahan mulai menghilang....tapi sepertinya fenomena menghilangnya suara lirih tersebut bukanlah menjadi sebuah pertanda yang baik, hal ini didasari oleh kenyataan yang gw alami saat ini, kini diantara pikiran gw yang masih mencoba menerka nerka atas fenomena menghilangnya suara lirih tersebut, gw bisa merasakan adanya hembusan nafas yang terasa menyentuh kulit sensitif di bagian tengkuk gw ini....mendapati hal tersebut, bayangan menyeramkan akan sesuatu yang akan gw temui malam ini kini seperti bermain main di dalam pikiran gw....hingga akhirnya disaat bayangan menyeramkan itu mulai merangkak naik menuju puncak dari rasa takut yang kini gw rasakan....sebuah tepukan keras yang gw rasakan pada bahu ini, kini telah membuat puncak dari rasa takut yang gw rasakan itu telah berubah menjadi sebuah teriakan keras yang terlontar dari mulut ini
“ astaga dar....lu kenapa sih...” tegur nenden dengan ekspresi rasa paniknya, sepertinya nenden tidak menyangka, kalau apa yang telah dilakukannya malam ini telah membuat gw berteriak sekeras itu
“ ya tuhan teh....lu apa apaan sih....jantung gw terasa benar benar mau copot nih...” gerutu gw dengan rasa jengkel, dan kini baru saja gw hendak kembali menumpahkan rasa jengkel yang tengah gw rasakan ini, sebuah pergerakan yang terlihat dari gagang pintu kamar papah, kini telah memperlihatkan keberadaan papah yang tengah berdiri dengan menunjukan ekspresi wajahnya yang terlihat bingung
“ tadi itu suara teriakan siapa....?” tanya papah dan berbalas dengan saling berpandangnya gw dan nenden
“ darma pah...gara gara teh nenden tuh main ngagetin aja....” mendapati jawaban gw tersebut, papah hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali beranjak masuk dan menutup pintu kamar
“ hehh lu kenapa sih dar...enggak biasa biasanya lu kaget seperti itu......”
“ sumpah teh...jantung gw ini benar benar mau copot nih, lagian teteh iseng banget sih...malam malam begini ngagetin orang...” ujar gw seraya mengambil album photo yang tergeletak di lantai, kini begitu mendapati nenden yang masih terdiam dalam kebingungan, gw pun segera membawa dan menyimpan album photo di dalam rak penyimpanan
“ ehh dar...lu masih belum jawab pertanyaan gw tuh, lu ini kenapa sih...?” mendengar pertanyaan nenden tersebut, dengan segera gw pun kini menarik tangan nenden untuk keluar dari dalam rumah, karena gw khawatir pembicaraan yang akan gw lakukan saat ini akan kembali mengusik ketenangan istirahat papah malam ini
“ wahh...sepertinya bakal ada yang serius nih....” ujar nenden begitu tiba di teras depan
“ teh...ada yang mau gw tanyakan sama lu....” gumam gw pelan seraya menghela nafas panjang, sepertinya udara segar yang kini gw rasakan, telah dapat sedikit meredakan rasa takut yang tadi sempat gw rasakan
“ lu mau bertanya apa dar...?”
“ apa teteh masih ingat dengan rumah nenek....?” mendengar pertanyaan gw tersebut, terlihat nenden tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya
“ pertanyaan lu aneh banget sih dar....”
“ yaa elah teh...tinggal jawab aja kok susah banget sih.....” ujar gw
“ yaa jelas gw masih ingatlah dar....tapi gw bisa maklum sih kalau lu udah lupa, soalnya saat itu usia lu itu baru empat tahun kurang, sedangkan usia gw udah enam tahun....memangnya kenapa sih dar lu menanyakan hal itu...?” tanya nenden dengan ekspresi keingintahuannya yang tinggi
“ rumah nenek itu apakah besar teh......?”
“ besar....?, setau gw sih rumah nenek ya enggak begitu besar.....”
“ apakah rumah nenek bergaya ornamen belanda teh...?”
“ ahhhh lu ini apa apan sih....pertanyaan lu jadi tambah aneh nih....” ujar nenden dengan rasa kesalnya, mendapati hal tersebut, gw pun segera merayu nenden untuk menjawab pertanyaan gw itu
“ rumah nenek itu yaa rumah kampung biasa....enggak ada tuh gaya gaya belandanya, memangnya kenapa sih dar...?”
“ tadi itu teh...secara enggak sengaja gw menemukan sebuah photo yang menggambarkan sebuah rumah besar dengan ornamen belan.....”
“ ohhh jadi itu yang menjadi penyebab lu bertanya seperti ini.....” sebuah perkataan yang terucap dari mulut nenden kini memotong perkataan gw, dan kini begitu mendapati perkataan nenden tersebut, gw pun hanya bisa terdiam dalam rasa bingung
“ lohh kok teteh tau...memangnya photo rumah tua itu sudah ada dari dulu....?”
“ yaa taulah...photo itu memang sudah ada dari dulu, lu nya aja yang mungkin enggak pernah melihat tuh photo....” jawab nenden dengan santainya
“ memangnya itu rumah siapa teh....?”
“ itu milik keluarga besar kita dar...ahh ceritanya sangat panjang jika gw harus menceritakan sejarah tentang rumah itu....” jawab nenden dengan ekspresi wajahnya yang datar, mendapati jawaban nenden tersebut, gw pun kini kembali merayu nenden untuk menceritakan akan apa yang telah diketahuinya mengenai rumah tersebut

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rassof dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
28-01-2019 20:24
ini Sfth y
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
28-01-2019 22:41
Izin nenda gan..
emoticon-Smilie
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
29-01-2019 11:28
ijin nenda yaa gan
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
29-01-2019 16:38
Quote:Original Posted By traktompel
ini Sfth y

yups esefteha emoticon-Ngacir

Quote:Original Posted By indahmami
Izin nenda gan..
emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By cieaprilia89
ijin nenda yaa gan

silahkan emoticon-Big Grin

2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
29-01-2019 16:44
Chapter 3






“ ayo dong teh...tolong ceritakan mengenai sejarah rumah itu......” rayu gw dan berbalas ketidakperdulian nenden
“ teh...!”
“ lelah dar...lelah...bisa kering nih tenggorokan gw kalau harus menceritakan semua itu....” begitu mendapati perkataan nenden tersebut, gw pun sadar bahwa nenden kini tengah menginginkan sesuatu, dengan segera gw bergegas masuk ke dalam rumah guna membuat minuman kesukaan nenden...yaa..sebuah teh manis hangat yang tercampur dengan perasan lemon adalah sebuah minuman yang sangat disukai oleh nenden...dan sepertinya minuman tersebutlah yang menjadi syarat utama nenden agar mau menceritakan tentang apa yang telah diketahuinya itu, hingga akhirnya setelah beberapa saat menghilang guna membuat minuman tersebut, gw pun kembali lagi ke teras depan dengan membawa dua buah gelas minuman yang berisikan kopi panas dan teh manis hangat
“ nih teh....” ujar gw seraya meletakan gelas diatas meja
“ nahh gitu dong....itu baru namanya adik gw....” canda nenden dan berbalas dengan kedongkolan gw
“ papah pernah menceritakan kepada gw dar...kalau keluarga besar kita ini sebenarnya mempunyai sebuah rumah besar bekas peninggalan markas tentara belanda....”
“ markas tentara belanda...?”
“ iya dar...markas tentara belanda...dulu rumah kita itu dijadikan markas kecil oleh tentara belanda dan kakek menempati jabatan yang penting di markas itu, tapi seiring dengan berjalannya waktu...kekalahan belanda oleh jepang pada saat itu, telah membuat markas kecil itu berpindah tangan ke kekuasaan jepang, hingga akhirnya disaat disaat kita merebut kemerdekaan pada tahun 1945, markas kecil itu pun dalam beberapa tahun kedepan menjadi terbengkalai dan tidak terurus....nahh pada saat itulah kakek melalui bantuan dari keluarganya yang ada di belanda memutuskan untuk membeli rumah tersebut.....”
“ lohh kok bisa teh...apakah saat itu kakek tidak tertangkap oleh jepang...?”
“ kamu harus ingat akan keberadaan nenek kita dar....” untuk sesaat terlihat nenden menghentikan perkataannya, segelas air teh manis hangat yang semenjak tadi hanya menjadi penghias dari meja yang berada di teras depan nampak kini diminumnya
“ nenek kita itu adalah warga asli kampung Cixxxxxg, jadi bisa dikatakan nenek sangat mengetahui akan seluk beluk tersembunyi yang ada di kampung Cixxxxxg, dan disaat jepang menduduki kampung Cixxxxxg, nenek menyembunyikan kakek di sebuah tempat yang sangat tidak diketahui oleh warga luar kampung Cixxxxxg...barulah setelah jepang mengakhiri kekuasaannya...nenek pun mengeluarkan kakek dari tempat persembunyiannya.....”
“ wahh edan...berarti rumah kita itu benar benar mempunyai sejarah yang panjang, ohh iya teh dari apa yang kita tau, kakek kita itu kan mantan dari tentara belanda...yang secara logikanya adalah musuh dari penduduk kampung.....”
“ gw mengerti akan kemana arah perkataan lu itu dar.....” ujar nenden dengan senyum yang mengembang di wajahnya
“ kakek kita itu walaupun seorang tentara belanda, beliau sangat ramah terhadap warga kampung, bisa dikatakan kakek itu sangat jarang sekali untuk menggunakan kekerasan dalam karir militernya, jadi sangatlah wajar jika warga kampung menerima keberadaan kakek walaupun saat itu belanda sudah tidak berkuasa lagi....” begitu mendapati penjelasan nenden tersebut, gw pun segera menghirup kopi panas guna mengusir udara malam yang mulai terasa dingin
“ apakah keluarga kita itu pernah menempati rumah itu teh....?”
“ bukan keluarga kita dar....lebih tepatnya papah dan keluarganya, dan entah karena sebab apa...setelah beberapa lama papah dan keluarganya menempati rumah itu, kakek memutuskan untuk pindah ke rumah, dimana di rumah itulah kita dilahirkan....”
“ entah kerena sebab apa...?, teh...tolong jangan ada yang disembunyikan dari cerita teteh ini, gw yakin pasti teteh mengetahui akan penyebab dari perpindahan itu, karena sudah menjadi rahasia umum kalau teteh itu adalah anak yang paling sering diberitahu oleh papah mengenai hal hal yang enggak diketahui oleh anak papah lainnya....”
“ ahhh gw takut dar kalau harus menceritakan semuanya ini, ketakutan gw itu didasari oleh ketidakinginan gw melihat lu mempunyai pikiran negatif atas rumah milik keluarga besar kita ini....”
“ ahh itu kan hanya pikiran lu aja teh, udah deh...sebaiknya teteh ceritakan tentang apa yang teteh ketahui.....”ujar gw dengan memasang ekspresi wajah memohon, mendapati ekspresi wajah gw tersebut, terlihat nenden kembali memamerkan senyum kecilnya
“ dulu itu papah mempunyai seorang kakak wanita, dan entah apa penyebabnya...kakaknya papah itu meninggal dunia dengan cara yang sangat enggak wajar...”
“ sangat enggak wajar....?”
“ iya...sangat enggak wajar...kakak papah itu meninggal di area kandang angsa yang berada di sekitar halaman rumah, dan meninggalnya pun dalam keadaan tertusuk oleh bambu kuning yang menjadi pagar pembatas dari kandang angsa tersebut.....hingga akhirnya setelah beberapa tahun setelah kejadian itu, kakek memutuskan untuk membawa keluarganya pergi meninggalkan rumah itu dan menempati rumah yang baru...bahkan kalau gw enggak salah dengar, kakek itu pada saat memutuskan untuk pindah ke rumah yang baru, barang barang yang ada di rumah itu enggak turut serta dibawanya....”
“ apa mungkin ya teh, kakaknya papah yang telah meninggal itu memberikan gangguannya, hingga membuat kakek memutuskan untuk mengosongkan rumah itu....”
“ ahhh lu ngomong apa sih dar....tuh kan lu jadi menilai begitu, inilah yang menjadi penyebab gw malas untuk menceritakan kejadian itu sama lu....” ujar nenden dengan ekspresi kekesalannya
“ itu kan cuma dugaan gw aja teh...soalnya....” untuk sesaat kini gw kembali terdiam, keinginan gw untuk melanjutkan perkataan ini seperti terpasung oleh bayangan menyeramkan dari kejadian yang menimpa gw sewaktu memandang photo tua
“ hehh...soalnya apa...!” ujar nenden dengan suaranya yang meninggi
“ jangan berisik teh...nanti papah bangun lagi, haduhh sumpah nih...gw kok jadi merinding lagi ya....” ujar gw diantara tatapan mata nenden yang terlihat begitu kesal
“ tadi itu teh....gw mengalami kejadian aneh, sewaktu gw memandang photo yang mengabadikan rumah kita itu, gw menemukan adanya keanehan di sekitar jendela rumah kita itu, pada awalnya gw hanya melihat sekilas adanya sebuah bayangan hitam yang berada pada jendela rumah dan tersamar oleh transparansnya kaca jendela...tapi setelah gw mencoba memperhatikannya secara lebih seksama lagi...gw melihat bayangan hitam itu seperti mulai memudar seolah olah ingin membentuk sebuah tampilan wajah...entah wajah siapa, dan gw pun enggak bisa memastikan akan jenis kelamin dari wajah yang akan terbentuk tersebut...karena pada saat itu gw memutuskan untuk menghempaskan album photo tersebut ke lantai....” seiring dengan berakhirnya perkataan gw tersebut, terlihat nenden hanya menggelengkan kepala seraya mengeluarkan tawa kecilnya
“ lu terlalu banyak berkhayal dar....gw sama sekali enggak percaya dengan omongan lu itu....”
“ ikut gw teh.....” ujar gw diantara tawa kecil nenden yang belum terhenti, dan kini dengan sangat terpaksa, nenden pun mengkuti arah tarikan tangan gw yang membawanya menuju ke rak penyimpanan album
“ coba lu lihat sendiri kalau enggak percaya....” ucap gw dan kembali berbalas dengan senyuman kecil di wajah nenden, kini diantara keterdiaman gw yang menanti atas apa yang akan nenden temui di dalam album photo tersebut, terlihat nenden mulai menyibak satu persatu halaman yang ada dalam album photo tersebut, hingga akhirnya pergerakan tangan nenden pun terlihat terhenti pada salah satu halaman yang sepertinya adalah halaman yang memperlihatkan keberadaan dari photo tua yang mengabadikan bangunan rumah milik keluarga besar kami itu
“ bagaimana teh....?” tanya gw dengan perasaan cemas begitu melihat ekspresi wajah nenden yang terlihat menegang, hingga akhirnya diantara rasa keingintahuan gw yang begitu besar, terlihat nenden memperlihatkan photo yang tengah dilihatnya itu kepada gw
“ tadi gw lihat bayangan itu dar....tapi sepertinya udah kabur, mungkin dia takut dengan satpol pp....” canda nenden dengan gelak tawanya, mendapati candaan nenden tersebut, gw segera merebut album photo dari tangan nenden dan manyimpannya kembali di dalam rak penyimpanan
“ udah ah....lebih baik gw tidur, daripada gw harus dengerin lu berkhayal lagi....” ujar nenden seraya melangkah pergi memasuki kamarnya, dan kini begitu melihat nenden yang telah memasuki kamarnya, gw pun memilih untuk memasuki kamar guna menghindari kesendirian gw bersama album photo tua tersebut
.....tin...tin......
Tanpa terasa rentang waktu yang berjalan begitu cepat kini mengiringi terdengarnya suara klason sebuah mobil kixxxx super yang terhenti di depan pintu gerbang, keberadaan gw yang sedari tadi hanya terpaku dalam memandang deretan angka yang terpampang pada kalender dinding, perlahan mulai terusik seiring dengan terdengarnya kembali bunyi suara klakson
“ dar...buka pintunya tuh...papah udah pulang....” teriak nenden yang sepertinya tengah asik menikmati siaran televisi bersama angga dan imas, mendapati permintaan nenden tersebut, gw pun segera bergegas keluar dari dalam rumah guna membuka pintu gerbang
“ bagaimana kabarnya nenek mah...?, siapa yang sekarang menjaga nenek di rumah...?” serentetan pertanyaan yang terucap dari mulut gw kini menyambut keberadaan mamah yang telah keluar dari dalam mobil
“ kamu tuh ya dar...orang tua baru sampai rumah udah ditanya yang macam macam....” gerutu mamah yang terlihat sibuk dengan beberapa map kertas yang berada ditangannya, mendapati hal tersebut, gw pun segera membantu mamah untuk membawa map kertas itu ke dalam rumah
“ bagaimana pah...mah...?” tanya gw kembali begitu papah dan mamah telah duduk di kursi yang berada di teras depan, dan tidak lama berselang setelah pertanyaan gw tersebut, imas dan angga pun nampak keluar dari dalam rumah, disusul oleh nenden yang terlihat keluar dari dalam rumah dengan membawa serta dua buah gelas yang berisikan air putih
“ bagaimana hasilnya pah...kapan kira kira kita akan mulai pindah....?” tanya nenden seraya meletakan gelas yang dibawanya di atas meja
“ rasanya waktu lima bulan yang telah papah lewati untuk persiapan perpindahan ini masih terasa kurang nden....mungkin dalam dua bulan ke depan kita baru akan mulai bisa menjalani proses perpindahan ini, dan dalam rentang waktu dua bulan ke depan itu, papah akan mempergunakan rentang waktu itu untuk menyelesaikan proses adminisrasi nenek kamu serta perbaikan rumah yang nanti akan kita tinggali....”
“ wahhh...berarti itu artinya proses perpindahan itu berbarengan dengan waktu libur kuliah, dengan kata lain darma dan nenden bisa ikut serta ke rumah nenek.....” ujar gw yang berbalas anggukan kepala papah dan mamah
“ ohh iya pah...kira kira nanti saat kita pindah, kita akan menempati rumah yang mana....?” tanya gw dan berbalas dengan ekspresi keterkejutan papah
“ nenden yang memberitahu darma pah...habisnya kemarin itu darma menanyakan tentang rumah yang ada di dalam photo tua itu....” mendapati perkataan nenden tersebut terlihat papah menganggukan kepalanya lalu terdiam untuk beberapa saat
“ kita akan tinggal di rumah papah yang lama...rumah yang ada di dalam photo tua itu....”
“ lohhh kita enggak tinggal di rumah kita yang dulu pah....?” tanya nenden yang sepertinya sedikit merasa terkejut atas perkataan yang baru saja terucap dari mulut papah
“ ada sesuatu yang sebenarnya belum papah kasih tau kepada kalian, dan hal ini menyangkut tentang rumah yang dulu pernah kita tinggali itu.....” seiring dengan perkataannya yang terhenti, terlihat papah mengambil gelas air putih yang berada diatas meja lalu meminumnya
“ sebenarnya papah sudah lama menjual rumah itu, dan itu pun atas persetujuan nenek kalian....hasil dari penjualan rumah itu papah pergunakan untuk membiaya aktifitas nenek kalian selama tinggal di rumah jompo, sedangkan sedikit sisa dari hasil penjualan yang masih tersimpan di papah, rencananya akan papah pergunakan untuk memperbaiki kerusakan yang ada pada rumah kita itu.....” seiring dengan berakhirnya penjelasan papah, gw pun kini hanya bisa terdiam dengan ekpresi kegelisahan yang begitu tergambar jelas di wajah gw ini
“ kamu kenapa dar....?” tanya papah yang sepertinya mengetahui akan kegelisahan yang kini tengah gw rasakan
“ darma enggak kenapa napa pah...mungkin nanti darma hanya butuh sedikit penyesuain dengan rumah lama yang akan kita tinggali, karena darma kan belum pernah tinggal di rumah itu...” jawab gw dengan rasa bingung, karena gw sama sekali tidak menyangka kalau papah akan bertanya seperti itu
“ pah...apakah di rumah yang akan kita tinggali nanti...wanita desa yang berphoto bersama kakek itu masih ada....?” tanya imas dengan polosnya, dan kini begitu mendengar pertanyaan imas tersebut, gw dan nenden pun hanya saling bertukar pandang
“ wanita desa....wanita desa yang mana?”
“ ohhh yang dimaksud imse itu...wanita wanita desa yang ada di photo kakek pah.....sewaktu kakek masih bertugas menjadi anggota militer.....” ujar gw mencoba memotong perkataan yang mungkin akan terucap dari mulut imas
“ wahh kalau imas bertanya tentang wanita wanita desa itu...yaa papah enggak tau mereka itu masih ada atau enggak atau lebih tepatnya masih hidup atau sudah meninggal....tapi papah yakin, sebagian besar yang ada di photo kakek kalian itu pasti sudah meninggal...andaikan masih hidup mungkin kondisinya sekarang ini sudah hampir sama persis dengan nenek kalian.....”
“ ahhh teh imas sih ada ada aja...orang udah meninggal ditanyain...” canda angga dan berbalas dengan gelak tawa kami, dan sepertinya gelak tawa keceriaan yang terlontar dari mulut kami ini, kini menjadi sebuah mantra pengantar yang mengantarkan kami untuk melalui bulan demi bulan menuju ke waktu perpindahan
Juni 1994
“ mang kohar...tolong dimasukan kedua kardus itu ke dalam mobil.....”
Sebuah kalimat permintaan yang terucap dari mulut papah, kini mengantarkan pergerakan mang kohar yang memasukan dua buah kardus terakhir ke dalam mobil, untuk sesaat lamanya terlihat papah kembali mengecek keberadaan dari barang barang yang mungkin luput dari perkiraan papah untuk membawanya, hingga akhirnya setelah kini papah dapat memastikan kalau barang barang yang akan dibawanya telah berada di dalam mobil, ekpresi wajah yang diperlihatkan papah terlihat begitu ceria
“ untung aja dari kemarin itu kita sudah terlebih dahulu mencicil membawa barang barang yang akan kita dibawa, kalau enggak...mungkin kamu dan nenden enggak akan bisa turut serta dalam mobil ini....” ucap papah seraya menepuk nepuk bahu gw
“ ohh iya pah...apakah baju darma dan teh nenden sudah ada di dalam mobil....?”
“ kamu gimana sih dar...bukankah baju kamu dan nenden itu telah dibawa oleh mang kohar kemarin, mungkin saat ini baju baju kalian itu telah dibereskan oleh bi idah di lemari kalian masing masing....” ujar papah seraya beranjak pergi memasuki mobil, mendapati hal tersebut gw pun kini segera mengecek keadaan pintu rumah yang mungkin saja belum terkunci, hingga akhirnya setelah gw dapat memastikan bahwa semua pintu rumah telah terkunci, gw pun segera menyusul keberadaan dari keluarga gw yang telah terlebih dahulu menaiki mobil
Sebelas bulan....yaa itulah hitungan waktu yang telah keluarga gw lewatkan guna mematangkan rencana perpindahan yang kini kami lakukan ini, dan diantara rentang waktu tersebut, beberapa keputusan yang sebenarnya sangatlah tidak gw duga kini telah diputuskan oleh papah dan mamah, dan salah satu diantara beberapa keputusan yang telah diambil oleh papah dan mamah tersebut antara lain adalah papah dan mamah memutuskan untuk turut serta mengajak mang kohar dan bi idah dalam proses perpindahan ini
“ ehemmm....sepertinya bakal ada yang akan kangen anak istri nih....” canda gw yang tertujukan kepada mang kohar, mendapati candaan gw tersebut terlihat mang kohar tertawa kecil diantara senyuman anggota keluarga gw yang lain
“ ahhh kang darma bisa aja, itu udah resiko pekerjaan mamang kang....kalau hanya mau duduk manis dengan anak istri di rumah...keluarga mamang akan dikasih makan apa....” ujar mang kohar dengan bijaknya
“ memangnya anak dan istri mamang itu setuju kalau mang kohar tinggal berjauhan seperti ini...?”
“ selama tujuannya untuk mencari nafkah...ya anak istri mamang pasti setuju.....” jawab mang kohar diantara pergerakan tangannya yang terlihat sangat cekatan dalam mengendarai mobil
Tepat pada pukul tiga sore hari, kami pun akhirnya tiba di kampung Cixxxxxg...hal ini berarti menunjukan bahwa kami telah menghabiskan waktu sekitar empat jam perjalanan guna mencapai kampung ini
“ sepertinya angga bakalan betah tinggal disini pah...” ucap angga begitu melihat beberapa anak kecil yang tengah bermain main di sungai, mendapati perkataan angga tersebut, terlihat mamah mengusap usapkan telapak tangannya di kepala angga
“ kamu akan lebih sehat jika tinggal disini ngga...kamu bisa bermain bola, memetik buah dan juga main di sungai seperti anak anak itu...” ucap mamah berbalas dengan anggukan kepala imas dan angga
“ apa rumah kita itu masih jauh pah....?” tanya nenden yang sepertinya mulai merasa bosan dengan perjalanan ini

Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meizhaa dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
30-01-2019 21:07
Asiekk..crita baru..ijin gelar kasuremoticon-Blue Guy Cendol (L)
3 0
3
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
30-01-2019 21:23
ijin bookmark gan kayanya seru
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
31-01-2019 15:04
Penasaran sama rumah nya deh .....


Hokya hokyaaaa
emoticon-Traveller
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
03-02-2019 22:20
updateeeee brooooo
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
05-02-2019 23:04
Chapter 4







“ enggak beberapa jauh lagi nden...nanti juga kamu akan tau sendiri....” jawab papah diantara pandangan matanya yang mengamati keadaan sekitar, hingga akhirnya setelah beberapa saat setelah perkataan papah tersebut, mobil yang tengah kami naiki ini pun nampak mulai menuju ke sebuah pertigaan jalan, dan tepat di pertigaan jalan tersebut, gw melihat adanya sebuah bangunan rumah tua besar bergaya eropa yang berdiri dengan megahnya
“ apakah itu rumah kita pah....?” tanya nenden kembali dengan tatapan memandang ke arah bangunan rumah
“ iya nden....kenapa....?”
“ benar benar terlihat kelasik banget pah...sangat enggak berbeda jauh dengan apa yang ada di photo, perbedaannya hanya warna cat dindingnya aja yang sepertinya rumah ini telah papah cat ulang....” seiring dengan berakhirnya perkataan nenden tersebut, mobil pun kini terhenti di depan pintu gerbang, dan kini tanpa menunggu perintah dari siapapun, terlihat mang kohar keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah pintu gerbang, nampak sesekali terlihat mang kohar mencoba menghindari genangan air dari beberapa kubangan kecil yang terdapat di tanah, untuk sekedar gambaran keberadaan jalan kampung yang menjadi akses bagi aktifitas warga sehari hari adalah sebuah jalan yang beraspalkan tanah dan mempunyai lebar yang cukup bagi dua mobil untuk berjalan secara beriringan
“ ada apa mang....?” teriak bapak begitu melihat mang kohar yang agak kesulitan untuk membuka pintu pagar, dan tidak berselang lama setelah bapak meneriakan pertanyaannya itu, nampak mang kohar telah berhasil membuka pintu pagar, lalu kembali berjalan menuju ke arah mobil
“ sepertinya rel pintu gerbang itu sudah agak berkarat pak, jadi agak susah untuk dibukanya...biar besok saya akan memeriksanya.....” ucap mang kohar begitu menaiki mobil, dan kini dengan sangat perlahan, mang kohar pun mulai membawa mobil memasuki halaman rumah
Luas dan rindang....itulah sebuah kesan yang pertama kali gw rasakan begitu mobil kini mulai memasuki halaman rumah, keberadaan dari rumput hijau serta beberapa pohon kecil dan besar yang menghiasi halaman rumah, seperti memperlihatkan keberadaan dari rumah tua yang tertata rapih dan terawat, nampaknya bapak memang telah benar benar mempersiapkan rumah ini sedemikian rupa, sehingga kami tidak menjumpai adanya kesan rumah tua yang kuno dan kotor
“ alhamdulillah...akhirnya kita sampai juga....” ucap papah begitu keluar dari dalam mobil, dan kini baru saja beberapa saat papah mengucapkan perkataannya itu, nampak terlihat keberadaan bi idah yang telah membuka pintu rumah dan berjalan ke arah kami
“ aduhh maaf bu....pak...tadi saya harus merapihkan mamih dulu karena setelah makan tadi, pakaian mamih kotor karena makanan....”
“ iya enggak kenapa napa bi....saya mengerti kok...” ujar mamah dengan senyumannya yang ramah, begitu mendapati respon mamah tersebut, bi idah pun nampak segera membantu mang kohar guna mengeluarkan barang barang dari dalam mobil, lalu membawanya memasuki rumah
Lama kami terdiam dalam keterpukauan atas pemandangan yang tersaji di halaman rumah, rasa sejuk yang gw rasakan diantara hembusan angin yang menggoyang dedaunan, kini seperti membuai gw untuk berlama lama dalam memanjakan diri di halaman rumah, hingga akhirnya seiring dengan terdengarnya suara papah yang meminta agar kami memasuki rumah, gw pun segera tersadar, dan memutuskan diri untuk mengikuti permintaan papah tersebut
“ ayo masuk....memangnya kalian ini enggak kangen nenek kalian apa....”
“ kangenlah pah.....” ujar gw dan nenden hampir bersamaan, mendapati bahwa kini papah telah berjalan memasuki rumah, terlihat mamah dan angga mengikuti langkah papah yang telah terlebih dahulu memasuki rumah
“ imse.....” gumam gw begitu hendak mengikuti langkah kaki nenden yang sudah melangkah menuju ke arah pintu rumah, dan kini begitu mendengar gumaman gw tersebut, nenden terlihat menghentikan langkahnya, pandangan matanya kini terlihat menatap ke arah imas yang tengah berdiri terpaku dengan pandangan menatap ke sebuah sudut halaman rumah
“ dar....imse kenapa....?”
“ gw enggak tau teh.....” seiring dengan jawaban yang terlontar dari mulut gw tersebut, gw segera berjalan menghampiri imas guna mengetahui akan apa yang kini tengah menjadi obyek dari pengelihatan imas
“ kamu sedang lihat apa ims....?” tanya gw diantara ketidakperdulian imas atas kehadiran gw yang telah berdiri di sisinya, mendapati bahwa kini imas sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan gw itu, gw segera mengarahkan pandangan ke arah sudut halaman yang menjadi pusat dari keterpakuan imas saat ini
“ kandang angsa....” gumam gw dengan rasa tidak percaya begitu pandangan gw kini melihat keberadaan dari sebuah kandang kecil yang dikelilingi oleh pagar bambu kuning berada di sudut halaman
“ ada apa dar....!” tegur nenden diantara keterpakuan gw yang tengah menatap ke arah kandang angsa
“ apakah itu kandang angsa yang pernah teteh ceritakan waktu itu....?”
Mendapati pertanyaan gw tersebut, kini nenden hanya bisa terdiam, dengan tatapan mata yang ikut memandang ke arah kandang angsa
“ entahlah dar....gw kurang begitu yakin...tapi kalau melihat dari bentuknya, sepertinya memang kandang itu yang dulu pernah gw ceritakan sama lu....” ujar nenden dengan kalimat yang terasa ragu, dan entah mengapa seiring dengan kalimat yang terucap dari mulut nenden tersebut, gw bisa merasakan adanya perubahan suhu di halaman rumah ini
“ kok jadi dingin begini ya teh....” ucap gw yang berbalas dengan ekspresi ketidaknyaman nenden atas situasi yang kini tengah dialaminya
“ angsanya lucu lucu ya bang...tapi...tapi imas kasihan dengan anak perempuan itu...anak itu.....”
“ imse.....” bentak nenden seraya menggerakan tangannya menutup mulut imas
“ kamu enggak sedang melihat apa apa imse...itu hanya perasaan kamu aja....” ucap nenden seraya memalingkan pandangan imas dari kandang angsa
“ tapi teh.....” dengan ekspresinya wajahnya yang menampakan ketidaksetujuan atas perkataan nenden, sepertinya imas mencoba untuk membantah perkataan nenden, dan hal tersebut kini telah membuat gw berpikir untuk segera mengajak imas masuk ke dalam rumah
“ sebaiknya lu aja yang mengajak imse ke dalam teh...gw takut pengelihatan imse itu akan bertambah parah.....” pinta gw dan berbalas dengan anggukan kepala nenden
“ terus...lu mau kemana dar....?”
“ gw mau ke kandang itu sebentar teh....sumpah gw akan penasaran kalau sampai belum bisa memastikan kalau kandang itu adalah kandang angsa yang pernah lu katakan itu.....” kini begitu mendapati perkataan gw itu, dengan segera nenden pun mengajak imas untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan gw seorang diri di halaman rumah
“ semoga apa yang telah imse lihat tadi sama sekali enggak benar....” gumam gw diantara pergerakan kaki ini yang mulai berjalan menuju ke arah kandang angsa, hingga akhirnya seiring dengan keberadaan gw yang mulai mendekati area kandang angsa, gw bisa merasakan adanya suasana yang mencekam di area kandang angsa...dan sepertinya kehadiran rasa mencekam yang gw rasakan saat ini adalah efek dari keberadaan sebuah patung angsa yang berada tepat di area dalam dari kandang angsa
“ apa maksud kakek membangun patung angsa ini di area kandang angsa...?, apa mungkin patung angsa itu dibangun hanya untuk mempercantik tampilan dari kandang angsa ini....?” tanya gw dalam hati seraya memperhatikan patung angsa tersebut secara lebih seksama lagi, dan kini setelah beberapa saat gw hanya terdiam dalam memandang patung angsa tersebut, gw pun memutuskan untuk segera memasuki kandang angsa walaupun dengan perasaan yang sangat ragu
“ sepertinya memang kandang angsa ini yang dulu pernah diceritakan oleh teh nenden....” ucap gw pelan begitu menyentuh pintu pagar kandang angsa yang terbuat dari bambu kuning, bayangan gw akan kejadian kelam beberapa tahun yang lalu dan pernah terjadi di kandang ini, kini seperti memenuhi pikiran gw saat ini
“ andai memang kakaknya papah telah meninggal di tempat ini dengan cara seperti apa yang telah diceritakan oleh teh nenden....lantas apa yang menjadi penyebab hingga kakaknya papah bisa tertusuk oleh pagar bambu ini....? tanya gw dalam hati seraya mencoba untuk membuka pintu pagar
“ lagi cari apa kang darma.....”
“ siall....!!!” maki gw dalam hati begitu mendengar suara teguran yang terdengar secara tiba tiba, dan kini diantara rasa keterkejutan yang tengah gw rasakan, gw segera mengarahkan pandangan mata ini ke arah sumber teguran, nampak terlihat keberadaan mang kohar yang tengah berdiri dengan memasang ekpresi wajah bingung
“ ampun deh mang.....ngagetin aja sih....” ujar gw dengan perasaan dongkol
“ maaf...maaf kang....habisnya mamang khawatir melihat kang darma seperti orang ketakutan gitu, memangnya kang darma sedang cari apa sih....?” tanya mang kohar dan berbalas dengan kebingungan gw untuk menjawab pertanyaan mang kohar, karena sangatlah tidak mungkin bagi gw untuk berkata jujur atas peristiwa yang telah terjadi di kandang angsa ini
“ saya hanya lagi lihat lihat aja mang....kebetulan saya sangat tertarik dengan keunikan kandang angsa ini.....” jawab gw beralasan
“ iya...kandang angsa ini memang unik kang....mamang juga baru menemui kandang angsa yang sebagus ini......” ujar mang kohar diantara tatapan matanya yang menatap ke arah patung angsa
“ kalau di tempat mamang sih kang....angsa atau yang biasa disebut oleh masyarakat kita soang, adalah hewan yang banyak fungsi dan kegunaannya.....”
“ banyak fungsi dan kegunaannya....?” tanya gw karena merasa bingung dengan maksud dari perkataan mang kohar, dan seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut gw itu, gw pun segera memasuki kandang angsa guna memeriksa keadaan di area kandang angsa
“ iya kang...banyak fungsi dan kegunaannya, selain dagingnya enak untuk dimakan, menurut orang dulu suara angsa juga berfungsi sebagai alarm jika melihat adanya keberadaan maling dan mahluk ghaib, bahkan bisa dikatakan mahluk ghaib sangatlah tidak menyukai suara angsa....” seiring dengan berakhirnya perkataan mang kohar tersebut, gw pun kini hanya bisa tertawa kecil seraya mengakhiri pencarian gw atas upaya mencari tau akan sumber penyebab dari kejadian yang menimpa kakaknya papah
“ ahh mang kohar bisa aja, kalau daging angsa enak untuk dimakan dan suaranya bisa menjadi alarm jika melihat orang...yaa saya percaya..., tapi kalau soal angsa bisa melihat mahluk ghaib dan suaranya enggak disukai oleh mahluk ghaib...nahh itu saya kurang percaya mang, karena apa mungkin suara angsa itu merupakan lantunan ayat suci yang diucapkan oleh angsa....” canda gw yang berbalas dengan senyuman mang kohar
“ yaa mamang juga kurang begitu mengerti sih kang, tapi mamang percaya kalau di dunia ini banyak hal yang enggak masuk akal tapi hal yang enggak masuk akal itu sangat terbukti untuk mengatasi kejadian kejadian yang berhubungan dengan hal yang ghaib....”
“ husss...mang kohar enggak boleh berpikir seperti itu, itu namanya syirik mang....saya walaupun enggak taat dalam menjalankan perintah agama, tapi saya menghindari pemikiran yang seperti itu mang...” ucap gw dan berbalas dengan senyuman mang kohar, melihat hal tersebut, gw pun memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan mang kohar
“ kamu habis ngapain aja sih dar...bukannya melihat kondisi nenek kamu, ini malahan asyik main di halaman...” tegur mamah begitu melihat keberadaan gw di dalam rumah
“ iya...maaf mah, ohh iya...nenek dimana mah....?”
“ ada dikamar...bersama saudara saudara kamu yang lain....” jawab bapak mewakili jawaban yang belum terucap dari mulut mamah, dan kini baru saja gw hendak menanyakan keberadaan kamar nenek, terlihat bapak menunjukkan jari tangannya ke arah sebuah kamar, mendapati hal tersebut, gw segera melangkah ke arah kamar dan memasukinya, kini nampak terlihat keberadaan dari nenden, imas dan angga yang tengah memperhatikan bi idah meminumkan obat kepada nenek
“ wihhh seperti nonton layar tancap aja....” canda gw seraya berjalan menghampiri nenek yang tengah terbaring di ranjang
“ nek apa kabar...saya darma, pasti nenek udah enggak ngenalin darma...karena saat nenek melihat darma, saat itu darma masih kecil....” ucap gw diantara pergerakan gw yang mencium tangan nenek, untuk sesaat lamanya nampak nenek hanya terpaku menatap gw, hingga akhirnya setelah keterpakuannya tersebut, ekspresi wajah nenek terlihat menegang dengan kedua bola matanya terlihat membesar....”
“ arhhh hahhh arhhhh....”
“ nenek kenapa bi...bicara apa....?” tanya gw dengan rasa terkejut atas sikap nenek tersebut, walaupun saat ini gw sama sekali tidak mengerti dengan apa yang akan dikatakan oleh nenek, tapi melihat dari pergerakan tangannya yang terlihat mengarah ke arah gw sepertinya nenek mencoba untuk berkomunikasi dengan gw
“ mungkin nenek mengenal kang darma....atau mengerti dengan ucapan kang darma tadi....” jawab bi idah seraya meletakan gelas yang dipegangnya diatas meja kecil yang berada di sisi tempat tidur, medengar jawaban bi idah tersebut, gw pun kini segera berdiri menjauh dan bergabung dengan nenden, imas serta angga
“ sepertinya nenek udah enggak bisa bicara lagi ya teh....”
“ ya iyalah dar...usia nenek itu udah tua, kalau enggak salah...usia nenek sekarang sudah delapan puluh dua tahun....dan di usia yang sudah lanjut seperti itu...nenek bisa merespon perkataan lu seperti itu aja bagi gw sudahlah teramat hebat....” ujar nenden dan berbalas dengan anggukan kepala gw, hingga akhirnya setelah kini kami merasa puas untuk melepaskan rasa kangen kami kepada nenek, kami pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar guna membantu mamah dan papah dalam membereskan barang barang yang kami bawa serta dalam proses perpindahan ini
“ ohh iya pah....kalau kamar darma ada dimana ya...?” tanya gw seraya memperhatikan keberadaan dua buah kamar yang ada di lantai bawah dan salah satunya adalah kamar nenek
“ kamar kamu ada di lantai atas dar, begitu juga dengan kamar nenden...berhubung rumah ini hanya mempunyai empat kamar yang berukuran besar dan satu kamar yang berukuran kecil, papah memutuskan kamar yang berukuran kecil itu sebagai kamar bi idah, sedangkan untuk dua kamar yang besar itu papah peruntukan untuk kamu dan angga serta nenden dan imas....” jawab papah diantara pergerakan mata gw yang memandang keseluruh sudut rumah, bisa dikatakan rumah tua ini adalah rumah yang indah...hal ini di dasari atas keberadaan dari ornamen kayu kayu dolken yang berpadu serasi dengan batu kali besar hingga menciptakan pemandangan yang artistik dan megah
“ ya udah...kalau begitu darma mau ke lantai atas dulu pah...” ujar gw lalu melangkah pergi menuju tangga kayu yang berada di sudut rumah
“ ehh kalau gitu...nenden juga mau lihat kamar dulu deh....” seiring dengan perkataannya tersebut, terlihat neneden segera berlari menyusul gw yang sudah terlebih dahulu menaiki anak tangga, dan kini seiring dengan tibanya gw di lantai atas nampak terlihat keberadaan dari tiga kamar yang tadi telah disebutkan oleh papah, untuk sekedar gambaran, keberadaan dari dua kamar besar ini berada berdampingan sedangkan satu kamar berukuran kecil nampak berada di sisi yang lain dan terpisah oleh lubang yang memungkinkan kami untuk memandang ke lantai bawah
“ sepertinya itu kamar mandi...” ucap gw seraya menunjuk ke sebuah pintu yang berada diantara dua sisi yang saling berhadapan ini
“ sepertinya iya dar...dan tempat itu sepertinya akan menjadi tempat bersantai kita dalam membaca baca buku...” seiring dengan perkatannya tersebut, terlihat nenden menunjuk ke arah ruangan yang berada di samping kamar bi idah, sebuah ruangan yang dihiasi oleh sebuah rak kayu besar dan kursi kayu berbentuk huruf U
“ mudah mudahan dalam waktu sebulan yang kita punya ini...kita bisa beradaptasi dengan rumah ini teh...”
“ ya semoga aja dar....lagi pula gw juga udah enggak sabar untuk menyelesaikan perkuliahan gw itu, gw enggak mau hidup terlalu lama terpisah dengan keluarga ini...” ujar nenden dan berbalas dengan anggukan kepala gw, dan seiring dengan anggukan kepala gw tersebut, nenden pun segera berjalan menuju ke arah kamar yang sepertinya telah diberi tanda oleh papah dengan sebuah kertas kecil yang tertempel di pintu kamar dan bertuliskan nama nenden serta imas, mendapati kalau kini nenden telah memasuki kamarnya, gw pun segera memasuki kamar besar yang lain yang berada tidak jauh dari kamar nenden
“ ini benar benar kamar impian.....” ucap gw dengan penuh kekaguman begitu memandang keadaan di dalam kamar yang memperlihatkan keberadaan dari dua buah tempat tidur, sebuah lemari besar dengan kacanya yang besar, serta sebuah meja belajar yang semuanya itu berbahan dasar dari kayu
“ lampunya juga unik dan kuno....” gumam gw seraya mencoba untuk menyalakan lampu kamar, dan kini seiring dengan cahaya lampu yang telah menerangi kamar, keberadaan dari sebuah jendela yang berada di sudut kamar kini telah memancing rasa keingintahuan gw atas pemandangan indah yang mungkin tersaji di luar sana, dan benar saja...begitu kini pandangan mata gw menatap ke arah luar rumah melalui jendela kamar yang telah terbuka, nampak keberadaan dari halaman rumah yang berhiaskan rumput hijau serta pepohonan rindang
“ pantas aja...kandang angsa itu dibuat seindah itu...rupanya kandang angsa itu adalah bagian dari pemandangan indah ini....” gumam gw kembali diantara pandangan mata gw yang kini menatap ke arah kandang angsa, dan sepertinya keberadaan kandang angsa tersebut kini telah terselimuti oleh sinar mentari yang mulai meredupkan cahayanya
“ bagus ya dar pemandangannya.....” tegur nenden dengan tiba tiba
“ ya tuhan teh....bisa enggak kalau hari ini lu enggak ngagetin gw...” gerutu gw dan berbalas dengan tawa kecil nenden
“ ahh lu aja dar yang mungkin udah tua jadi gampang kaget kagetan....” canda nenden seraya ikut mengarahkan pandangannya ke halaman rumah
“ gw masih penasaran teh dengan kematian kakaknya papah itu....”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rassof dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
07-02-2019 17:16
horor ya
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
07-02-2019 23:26
Jejak dulu om
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 00:24
nenda dulu
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 07:05
Juoss lah agan meta, kelar Sulaksmi ad cerita baru lg emoticon-2 Jempol
2 0
2
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 10:02
Quote:Original Posted By traktompel
horor ya

ane enggak pernah nulis yang horor2 gan...hanya seram dikit emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By khayraken
Asiekk..crita baru..ijin gelar kasuremoticon-Blue Guy Cendol (L)

Quote:Original Posted By indra.blora
ijin bookmark gan kayanya seru

Quote:Original Posted By vestycide
Penasaran sama rumah nya deh .....
Hokya hokyaaaa
emoticon-Traveller

Quote:Original Posted By ariefdias
updateeeee brooooo

Quote:Original Posted By romandhoni
Ikut gelar tikar menyimak cerita
Keep update

Quote:Original Posted By rengez183
Jejak dulu om

Quote:Original Posted By ariid
nenda dulu

Quote:Original Posted By abnorth
Juoss lah agan meta, kelar Sulaksmi ad cerita baru lg emoticon-2 Jempol

yang ingin memantau dipersilahkan....yuks kita lanjut emoticon-Big Grin

profile-picture
asyivacatering memberi reputasi
2 1
1
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 10:07
Chapter 5






“ penasaran...?”
“ iya teh...gw penasaran akan penyebab dari meninggalnya kakaknya papah di kandang angsa itu, sebenarnya sih pada awalnya gw enggak terlalu perduli dengan peristiwa meninggalnya kakaknya papah di kandang angsa itu...tapi begitu waktu itu gw melihat adanya keberadaan bayangan hitam di photo tua yang gw lihat saat itu...gw jadi berpikir dan menduga kalau bayangan hitam itu adalah bentuk penampakan dari kakaknya papah yang telah meninggal itu, karena bukanlah hal yang tidak mungkin kalau kakaknya papah itu akan menjadi sebuah sosok ghaib yang penasaran akibat dari proses meninggalnya yang tidak wajar....” jawab gw yang berbalas dengan keterdiaman nenden, terlihat nenden menghela nafas panjangnya diantara tatapan matanya yang menerawang ke arah halaman rumah
“ selain itu...apa lu enggak curiga teh, dengan keputusan kakek yang memutuskan untuk pindah setelah kejadian meninggalnya kakaknya papah itu....?”
“ gw enggak curiga...dan enggak akan mau curiga dar....” jawab nenden dengan kalimatnya yang tegas
“ loh kok sikap lu begitu teh....?”
“ sikap gw begitu...?, memangnya apa ada untungnya buat lu dengan mencurigai kematian kakaknya papah itu, sama sekali enggak ada untungnya dar...yang ada lu hanya akan semakin merasa bahwa rumah kita ini penuh dengan misteri....” untuk sejenak terlihat nenden menghentikan perkataannya, ekspresi wajahnya yang terlihat kesal seperti berusaha menunjukan kalau nenden sangatlah tidak menyukai akan perkataan gw yang mengatakan bahwa peristiwa kematian kakaknya papah adalah suatu peristiwa yang mungkin disebabkan oleh sesuatu
“ lantas kalau memang lu curiga dengan peristiwa kematian kakaknya papah itu...siapa yang hendak lu curigai...? lu mau mencurigai papah...kakek atau ne....”
“ bukan...bukan begitu maksud gw teh.....gw sama sekali enggak mencurigai mereka, gw hanya....”
“ udahlah dar....lebih baik kita berpikir lurus lurus aja, enggak ada yang harus dicurigai dari peristiwa kematian kakaknya papah itu...semua yang terjadi itu sudah merupakan kehendak tuhan, lebih baik sekarang ini kita lebih fokus dalam memperhatikan nenek dan juga memperhatikan imse, karena menurut gw saat ini imse sedang dalam kondisi mental yang kurang bagus.....”
“ iya teh...gw akan mencoba untuk enggak memikirkan hal itu lagi...ohh iya teh mengenai imse yang tadi seperti melihat sesuatu, menur....”
“ tuh kan lu mulai lagi.....” tegur nenden memotong perkataan gw
“ iya teh...maaf...maaf...”
“ ya udah...lebih baik sekarang kita membantu mamah dan papah dulu, karena sepertinya hari mulai beranjak gelap...” usul nenden dan berbalas dengan persetujuan gw
Suara dentang bandul jam yang memecah kesunyian, nampak mengiringi dari pergerakan jarum jam yang telah menunjukan pukul tujuh malam, keberadaan gw, nenden, angga dan imas yang kini tengah berada di dalam kamar, perlahan mulai terusik dengan terdengarnya suara mamah yang memberitahukan bahwa makan malam telah tersedia, dan kini begitu mendapati pemberitahuan tersebut, kami pun segera bergegas menuju ke lantai bawah guna melaksanakan makan malam
“ pasti kalian udah pada lelah ya....?” tanya mamah diantara pergerakan bi idah yang telah selesai menyajikan sajian makan malam diatas meja
“ enggak kok mah...tadi kami sedang berbincang bincang aja di kamar...” jawab nenden seraya menyendok nasi dan meletakannya ke dalam piring makan
“ bi idah.....mang kohar jangan lupa untuk disuruh makan malam juga yaa...”
“ udah kok bu...tadi saya sudah mengantarkannya ke kamar mang kohar...” selepas perkataanya tersebut, bi idah pun terlihat berjalan menuju ke dapur
“ mang kohar itu berani juga ya pah..tidur di kamar gudang itu sendirian...” ujar angga sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
“ beranilah ga...memangnya apa yang harus ditakutkan...papah juga waktu muda dulu suka kok tidur di kamar gudang itu....ohh iya...bagaimana menurut kalian dengan rumah ini...?”
“ bagus kok pah...semua ini diluar perkiraan nenden yang membayangkan rumah tua dan enggak terawat....” jawab nenden yang berbalas dengan senyuman papah dan mamah
“ kamu tuh nden...makanya jangan suka mengambil kesimpulan dulu sebelum melihat....” seloroh ibu dengan pandangan menatap imas
“ imas...kamu kenapa...? kok mamah perhatikan dari tadi kamu diam aja...?”
“ badan imas agak kurang enak mah...rasanya dingin....” begitu mendapati perkataan imas tersebut, terlihat mamah bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri imas
“ badan kamu enggak panas kok, sepertinya kamu hanya kelelahan aja....ya udah malam ini kamu tidur sama mamah dan papah aja....” ujar mamah diantara pergerakan tangannya yang memegang kening imas, mendapati perkataan mamah tersebut, gw dan nenden pun hanya saling bertukar pandang dalam benak tanya atas apa yang telah terjadi pada diri imas
“ ada satu hal yang ingin papah beritahu kepada kalian....terutama kepada kamu dan nenden....” seiring dengan perkataannya tersebut, pandangan papah terlihat mengarah ke arah wajah gw
“ papah mau memberitahu apa...sepertinya serius banget sih...” ucap gw dan berbalas dengan keterdiaman papah, keberadaan papah yang kini telah menyelesaikan makan malamnya, nampak menyisakan sebuah cangklong rokok diantara kedua belah bibirnya
“ ini hanya bersifat sementara....berhubung kalian sedang berada disini selama satu bulan, papah berharap kita bisa membagi tugas dalam menjaga nenek kalian...itu pun kalau kalian memang bersedia untuk menjaga nenek.....”
“ ya udah pasti bersedia lah pah...” ujar nenden diantara kepulan asap rokok yang terlihat keluar dari mulut papah
“ memang rencana papah itu seperti apa...? tanya gw yang berbalas dengan penjelasan papah akan pembagian tugas dalam menjaga nenek, dan inti dari penjelasan papah tersebut adalah papah menugaskan mamah, nenden dan bi idah untuk menjaga nenek secara bergantian sedari pagi hingga makan malam, sedangkan dari waktu makan malam hingga tengah malam tugas tersebut jatuh kepada papah...dan sepertinya papah sangat mengetahui akan kebiasaan gw yang agak sulit untuk tidur di saat malam hari, hal ini lah yang menjadi dasar bagi papah untuk menugaskan gw menjaga nenek di rentang waktu tengah malam hingga azan subuh terdengar
“ waduh pah....bagaimana kalau terjadi hal hal yang sifatnya darurat, seperti nenek ingin buang air besar atau pun ingin buang air kecil....” ucap gw diantara bayangan akan kejadian tersebut terjadi disaat gw bertugas menjaga nenek
“ seharusnya kamu bisa mengatasinya sendiri dar...itukan nenek kamu, tapi kalau kamu memang merasa jijik dengan semua itu, kamu bisa membangunkan bi idah, mamah atau pun papah....” kini begitu mendengar perkataan papah tersebut, gw pun dapat sedikit bernafas lega, karena sejujurnya mungkin gw tidak akan sanggup untuk mengerjakan hal hal yang seperti itu
Selepas berakhirnya makan malam, gw memutuskan untuk melihat keberadaan dari kamar mang kohar yang berada di halaman belakang, yaa sebuah kamar multifungsi...yang mana kamar tersebut dapat juga dipergunakan untuk menyimpan barang barang yang sudah tidak di perlukan lagi, sesampainya gw kini di kamar mang kohar, nampak terlihat pintu kamar yang masih terbuka, sepertinya mang kohar belum memutuskan untuk beristirahat malam ini
“ sedang apa mang.....” tanya gw secara tiba tiba dan berbalas dengan keterkejutan mang kohar, kini begitu mendapati keberadaan gw yang tengah berdiri di depan pintu kamar, mang kohar pun meminta gw untuk masuk ke dalam kamarnya
“ biasalah kang....kalau udah berumur ya seperti ini, jadi enggak kuat sama yang namanya dingin....” jawab mang kohar dengan mengembangkan senyumnya, dan kini seiring dengan pergerakan tangan mang kohar yang membalurkan minyak hangat di bagian kakinya, gw bisa mencium aroma dari wangi minyak hangat tersebut
“ mang....” ujar gw dengan rasa ragu seraya mengambil posisi duduk di sisi mang kohar yang tengah terduduk di lantai
“ ada apa kang....?”
“ apa mamang percaya kalau orang yang meninggal dalam keadaan enggak wajar....maka orang yang meninggal tersebut akan menjadi hantu penasaran....? tanya gw dan berbalas dengan ekspresi kebingungan di wajah mang kohar
“ loh kok tumben kang darma bertanya seperti itu...memangnya ada apa kang....?” selepas dari perkataan yang terucap dari mulut mang kohar, gw bisa merasakan adanya aroma kecurigaan dari mang kohar atas pertanyaan gw yang terkesan janggal itu
“ enggak ada apa apa kok mang...kebetulan tadi itu saya baru aja menonton film horor yang mengisahkan kejadian seperti itu....”
“ jujur aja...kalau mamang sih percaya kang, karena dulu pernah juga ada kejadian seperti itu di kampung mamang, ceritanya...dulu itu pernah terjadi sebuah peristiwa perampokan terhadap sebuah keluarga di kampung mamang...dan akibat peristiwa perampokan itu, seluruh anggota keluarga menjadi korban pembunuhan dari perampok sadis itu, hingga akhirnyas selepas dari kejadian pembunuhan itu...di rumah yang menjadi tempat dari lokasi pembunuhan, sering sekali terjadi kejadian kejadian yang tidak masuk akal...mulai dari terdengarnya suara jeritan dan tangisan, hingga penampakan sosok sosok yang dibunuh itu dalam tampilan sosok yang menyeramkan, intinya sosok tersebut seperti berusaha menunjukan akan keadaan dirinya sewaktu mengalami peristiwa pembunuhan itu....” terang mang kohar dan berbalas dengan keterdiaman gw
“ kang darma kenapa, kok jadi diam begitu...”
“ jadi dengan kata lain...sebenarnya sosok yang dibunuh itu hendak menunjukan apa yang pernah dialaminya, atau bisa juga berusaha memberitahukan akan sosok pelaku yang telah melakukan pembunuhan itu...”
“ bisa jadi seperti itu sih kang....tapi kalau menurut orang pintar yang bisa menerawang hal yang berbau ghaib seperti itu, sosok penampakan itu bisa saja merupakan sebuah energi negatif yang berusaha menyebarkan teror bagi manusia...mereka berusaha menanamkan keyakinan kepada kita akan kekuatan mereka, dan hal tersebut dilakukan dengan cara menyerang ruang ruang kosong di dalam pikiran kita hingga menimbulkan perasaan takut, khawatir dan bahkan yang lebih ekstrim lagi...kita akan bersekutu dengan kekuatan ghaib itu...”
“ energi negatif...kalau kita berbicara tentang energi negatif...saya yakin, semua penampakan yang terjadi akibat dari peristiwa masa lalu pasti akan menyimpan energi negatif..entah itu dendam ataupun rasa marah, intinya mereka yang telah meninggal itu merasa enggak terima dengan proses kematian yang mereka alami...” ujar gw seraya membayangkan peristiwa kelam yang telah dialami oleh kakaknya papah, dan saat ini gw berpikir, mungkin saja kakaknya papah itu tidak menerima akan proses kematian yang dialaminya
“ kang...apa kang darma tidak merasakan adanya keanehan pada rumah ini...?” sebuah pertanyaan yang terlontar secara tiba tiba dari mulut mang kohar, kini dengan serta merta menimbulkan rasa keterkejutan gw atas pertanyaan yang terkesan bahwa mang kohar mengetahui akan apa yang ada didalam pikiran gw saat ini
“ keanehan...keanehan seperti apa mang...?”
“ tadi itu kang...selepas mamang melakukan kegiatan bersih bersih di halaman depan, mamang berniat untuk kembali ke kamar guna melaksanakan sholat magrib, tapi sewaktu mamang berjalan melintasi kandang angsa...mamang seperti melihat adanya bayangan hitam yang terlihat berdiri enggak jauh dari lokasi kandang angsa....untuk sesaat mamang merasa enggak percaya dengan apa yang telah mamang lihat...hingga akhirnya mamang memutuskan untuk menghampiri bayangan hitam tersebut, dan disaat mamang telah menghampiri bayangan hitam tersebut, bayangan hitam itu seperti memudar dan terlihat menelusup ke dalam tanah....sumpah kang...saat itu mamang benar benar merasa takut...tapi baru saja mamang berpikir untuk meninggalkan tempat itu...mamang merasakan kaki mamang ini terasa sulit untuk digerakan...bisa dikatakan seperti ada sesuatu yang menahan pergerakan kaki mamang....dan itu entah apa....” nampak kini mang kohar menghentikan perkataannya, helaan nafasnya terlihat begitu dalam
“ lantas apa yang terjadi mang....?”
“ disaat itulah kang....mamang seperti tertarik untuk mengarahkan pandangan mata ini ke arah kandang angsa...hingga akhirnya di saat pandangan mata mamang terarah pada patung angsa yang berada di kandang itu...mamang seperti melihat warna putih pada patung angsa itu telah berubah menjadi warna merah pekat... dan bisa mamang katakan kalau warna merah pekat yang terdapat pada patung angsa itu adalah cairan darah...karena mamang bisa melihat kalau cairan itu terlihat menetes jatuh ke rerumputan, saat melihat semuanya itu, mamang benar benar merasa ingin pingsan...untung aja disaat itu mamang mendengar adanya suara panggilan papahnya kang darma...kalau enggak...wahh mamang enggak bisa ngebayangin atas apa yang akan terjadi selanjutnya....”
“ astaga mang....apakah mamang menceritakan semua yang mamang alami itu kepada papah...?”
“ enggak kang...mamang enggak meneceritakannya, karena mamang khawatir...cerita mamang itu akan merusak suasana nyaman yang ada di keluarga ini....” jawab mang kohar dan berbalas dengan rasa lega di hati gw
“ alhamdulillah mang kalau mamang memang enggak menceritakannya kepada papah, karena sejujurnya saya enggak begitu mempercayai atas apa yang telah mamang lihat itu, bisa jadi apa yang telah mamang lihat itu adalah efek dari rasa lelah karena aktifitas kesibukan yang telah mamang lakukan hari ini... mungkin ada baiknya kalau sekarang ini mamang istirahat aja, dan saya yakin disaat besok di saat mamang sudah merasa segar kembali, mamang pasti enggak akan mengalami kejadian seperti itu lagi.....” ucap gw mencoba menenangkan mang kohar, walaupun di dalam hati kecil gw kini muncul sebuah pertanyaan atas apa yang telah dilihat oleh imas dan mang kohar di kandang angsa, dan kini berdasarkan atas apa yang telah di lihat oleh imas dan mang kohar di kandang angsa, kecurigaan gw atas sesuatu yang tidak beres di rumah ini kini semakin bertambah besar
“ amin kang...semoga apa yang kang darma katakan itu benar...”
“ya udah mang...kalau begitu saya ke dalam dulu, kebetulan malam ini saya mendapat tugas untuk menjaga nenek....” seiring dengan anggukan kepala mang kohar, gw pun segera berjalan pergi meninggalkan kamar mang kohar
Jam 11.30...yaa itulah waktu yang kini terlihat di sebuah jam yang menempel di dinding kamar, keadaan dari jendela kamar yang masih gw biarkan untuk terbuka, kini mengantarkan udara dingin yang berhembus memasuki ruangan kamar, nampak terlihat angga yang tengah tertidur dengan lelapnya kini mulai terusik dengan keberadaan udara dingin di dalam kamar, hal tersebut terlihat dari pergerakan tangan angga yang menarik selimut yang tengah dikenakannya hingga menutupi keseluruhan tubuhnya, mendapati hal tersebut, gw pun segera menutup jendela kamar guna mengurangi keberadaan udara dingin di dalam kamar
“ apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah ini....?” tanya gw dalam hati diantara berbagai macam praduga yang menghinggapi pikiran gw ini, dan kini belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan gw itu, terdengar suara ketukan pada pintu kamar yang diiringi dengan kehadiran papah diantara pergerakan daun pintu kamar yang telah terbuka
“ ada apa pah....?”
“ papah hanya mengingatkan kamu agar jangan lupa untuk menjaga nenek....” jawab papah tanpa bergeming dari tempatnya berdiri
“ iya pah....darma ingat kok....”
“ ya udah kalau begitu....nanti kamu langsung ke bawah aja, kebetulan papah sudah mulai agak mengantuk....” ujar papah lalu menutup pintu kamar, dan kini seiring dengan langkah kaki papah yang mulai terdengar menjauh, gw pun segera bangkit dari tempat duduk guna mengambil baju hangat yang tersimpan di dalam lemari pakaian
“ mudah mudahan tidur nenek malam ini nyenyak....” gumam gw begitu kini gw telah selesai mengenakan baju hangat, dan tanpa berlama lama lagi, gw segera melangkahkan kaki ini menuju ke lantai bawah atau lebih tepatnya menuju ke kamar nenek
“ nek...darma datang, biar malam ini darma yang menjaga nenek....” ucap gw begitu memasuki kamar nenek, kini nampak terlihat keberadaan nenek yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan kedua kelopak matanya yang terpejam, sehelai daster hitam panjang yang dikenakan nenek nampak membungkus tubuh nenek yang sudah keriput dan terlihat kurus
“ maafkan darma ya nek...karena darma baru bisa menemani nenek disaat kondisi nenek sudah seperti ini....” ucap gw pelan seraya membelai bagian atas dari rambut nenek yang terlihat tergerai, dan kini diantara belaian yang gw lakukan itu, bisa gw rasakan rambut nenek yang berwarna putih itu sudah terasa begitu menipis, hal ini seperti mempertegas akan usia nenek yang sudah teramat tua
Lama kini gw kembali terdiam dalam titian waktu yang terus berlalu, bunyi kentongan bambu yang dibunyikan oleh beberapa warga kampung yang sepertinya tengah bertugas untuk berjaga malam, kini seperti memberikan gw sebuah isyarat akan malam yang telah beranjak semakin larut, keberadaan gw yang sedari tadi hanya terdiam dalam sebuah lamunan panjang, kini mulai terusik oleh rasa bosan, merasakan hal tersebut gw pun memutuskan untuk beranjak dari kursi dan menatap keberadaan nenek yang terlihat sedang terbuai dalam tidur lelapnya

profile-picture
profile-picture
profile-picture
meizhaa dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 10:38
mantep kisah horor lagi
ijin nenda ganemoticon-Big Grin
3 0
3
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
08-02-2019 11:16
horornya gan meta nih pasti mantepemoticon-Toast
profile-picture
sriwidyaning93 memberi reputasi
3 0
3
Halaman 1 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-gunung-kemukus
Stories from the Heart
sakti-wirajati
Stories from the Heart
elang-mataram
Stories from the Heart
si-anak-yang-kebingungan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia