alexa-tracking
Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.2 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5c358a28f4d69521b12ab22f/dengan-slow-fashion-kejamnya-industri-mode-bisa-dilenyapkan
Lapor Hansip
09-01-2019 12:44
Dengan Slow Fashion, Kejamnya Industri Mode Bisa Dilenyapkan!
Past Hot Thread
Ngomongin soal dunia fashion memang nggak pernah ada habisnya ya. Di tengah perkembangan industri Fast Fashion yang melejit dengan cepat, dan modelnya terus berganti hampir setiap minggu, kini muncul gagasan yang melawannya yakni Slow Fashion atau sering juga disebut Ethical Fashion.

Mungkin Agan dan Sista udah banyak yang tau ya kalau Fast Fashion ini berfokus pada kecepatan dan juga biaya produksi yang rendah tapi tetap menghadirkan secara rutin koleksi baru yang terinspirasi dari tampilan gaya selebriti. Siklus mode ini biasanya terjadi setiap 6-8 minggu dan kemudian berganti dengan yang baru. Hmmm.. cepet banget ya ternyata! Nah, pertumbuhannya yang sangat cepat dan agresif  ini dianggap berlawanan dengan isu lingkungan serta kelayakan kerja.

Dengan Slow Fashion, Kejamnya Industri Mode Bisa Dilenyapkan!

Slow Fashion atau Ethical Fashion pun hadir seolah meredam pertumbuhan Fast Fashion yang kian pesat. Dalam produksinya, Slow Fashion dinilai lebih memperhatikan lingkungan, ekonomi, dan sosial terhadap perkembangannya. Alasan munculnya gagasan ini nggak lain ya akibat banyaknya pemberitaan dari media tentang efek buruk yang ditimbulkan oleh sektor Fast Fashion, dan kemudian wacana Slow Fashion pun mulai dipraktikkan di sejumlah negara.

Nggak hanya terjadi di negara-negara besar aja, bahkan Indonesia pun turut melakukan praktik fashion berkelanjutan yang ramah lingkungan ini lho. Cara ini mulai diterapkan oleh beberapa desainer dengan langkah-langkahnya yang beragam. Misalnya saja dengan memperhatikan bahan pembuatan produk, seperti menggunakan bahan yang cepat larut dengan tanah. Jadi jika pakaian sudah mulai  usang dan tidak mau dipakai lagi, jenis pakaian ini nggak akan jadi sampah.
 
Saat ini nggak sedikit desainer Indonesia yang menerapkan bahan-bahan produk fashion mereka menjadi ramah lingkungan. Misalnya seperti Ria Miranda yang menggunakan kain serat kayu pinus untuk membuat pakaian. Novita Yunus yang memiliki label Batik Chic yang juga memanfaatkan teknik eco print dan pewarna alami dari daun jati. Selain itu juga ada Merdi Sihombing yang tampil di Eco Fashion Week Australia beberapa saat lalu yang juga menggunakan pewarna alami dari kulit pohon beringin, tanaman salaon, dan harimontong.

Dengan Slow Fashion, Kejamnya Industri Mode Bisa Dilenyapkan!

Nggak cuma dipelopori oleh para desainer, jika ingin menerapkan cara lain, bisa juga dilihat dari sudut pandang konsumen. Kalau Agan atau Sista yang pengen menerapkan Slow Fashion ini, Agan dan Sista bisa menerapkan cara reversible atau multi-function pada pakaian. Jadi nggak perlu lagi  membeli pakaian dalam jumlah banyak karena bisa mengkombinasikan sedikit item untuk menghasilkan banyak look. Hmmm.. menarik nih karena bakalan menghemat pengeluaran juga kan!
7
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Lapor Hansip
13-01-2019 12:07
huh? dilenyapkan? dikira yang bisnisnya niru fesyen terbaru atau istilahnya produsen barang kw bakal terpengaruh ? kan kaga? peduli setan itu yang ori mau ramah lingkungan atau kagak....bisnis tiru2 jalan terus....emoticon-Traveller

tepatnya dikurangi, bukan dilenyapkan....emoticon-Thinking
3
Lapor Hansip
13-01-2019 12:09
kalo dilenyapkan keknya sulit emoticon-Bingung
1
Lapor Hansip
13-01-2019 12:10
Kirain topiknya berhubungan dengan model yg banyak jumlahnya dikurangi menjadi sedikit
1
Lapor Hansip
13-01-2019 12:34
kirain ada batasan keluar desain tiap taun di batasi
1
Lapor Hansip
13-01-2019 12:39
Dengan Slow Fashion, Kejamnya Industri Mode Bisa Dilenyapkan!
2
Lapor Hansip
13-01-2019 12:40
ini cuma cara alternatif aja. istilah "melenyapkan", sulit.
1
Lapor Hansip
13-01-2019 12:42
Ane kerja didunia garment. Lebih tepatnya merchandiser, atau bisa disebut follow up.

Sebenernya fashion itu dinamis. Ada trend terbaru, para designer cari manufaktur yang bisa buat cepet. Mereka cuma nafsu aja, gak mentingin hal hal lain. Yang penting gua bayar dan barang harus ada pada saat deadline.

Dibalik brand fashion ternama, ada hal hal yang gak mereka tau. Brand brand ternama itu bikin bajunya di far east factories. Cina, Taiwan, Vietnam, Bangladesh dan Indonesia. Dan buruh-buruh pabriknya dibayar sesuai dengan regulasi upah aja, gak bisa nego gaji, yang penting pabrik comply dengan aturan pemerintah.

Ada juga bahan bahan fashion yang gak ramah lingkungan, liat aja denim jeans, itu dari serat cotton di celup indigo, terus celup lagi warna lain, udah gitu mau warnanya pudar, udah berapa kali dobelnya mencemari lingkungan.

Sekarang klo manufacture besar dan brand besar udah pada sadar dengan isu lingkungan, mereka bikin produk yang eco friendly, mulai proses kain sampai jadi baju udah dihandle biar gak mencemari lingkungan.

Sebenernya harga produk merek terkenal itu di mark up. Yang beli itu cuma beli merek, gak beli produknya. Harga kain berapa, ongkos jahit, aksesoris terus.margin keuntungan dikalkulasi jadi satu. Misal harga dari pabrik itu 10 dollar, nah pas di retail harga bisa 5000 dollar. Ane yang kerja didunia apparel udah tau sih kaya begini.

Cuma memang brand brand ternama itu pake material yang premium, tapi dari pikiran sendiri, memang mau beli t shirt cotton dengan merek Gucci seharga motor Lexi Yahama baru. Mending jalan jalan ke Matahari, beli t shirt harga 35 - 65 ribuan. Yang ada kebanyakan orang cuma beli merek dan memuaskan gengsi aja.

Untuk yang slow fashion, memang proses produksinya lebih lama. Tapi banyak yang ramah lingkungan. Brand lokal Indo banyak kok. Ane tau beberapa brand womenswear, menswear dan aksesoris asli Indonesia.

Ada yang maen di batik. Ada yang pake serat kain dari bambu. Linen yang ramah lingkungan.

Ada yang pake dye stuff(pewarna textile) alami. Tapi minusnya ya proses lama.

Mau cepat ya pake chemical stuff. Tapi mencemari lingkungan.

Selama orang pake baju, industri fashion akan ada terus. Dan gak akan tergantikan oleh robot, bikin baju harus pake tangan manusia, dibantu mesin jait.
10
Lapor Hansip
13-01-2019 12:47
Ane lebih prefer wisdom fashion, gan.

Atau polite fashion.

emoticon-Shakehand2
2
Lapor Hansip
13-01-2019 12:49
Balasan post hhendryz
Quote:Original Posted By hhendryz
huh? dilenyapkan? dikira yang bisnisnya niru fesyen terbaru atau istilahnya produsen barang kw bakal terpengaruh ? kan kaga? peduli setan itu yang ori mau ramah lingkungan atau kagak....bisnis tiru2 jalan terus....emoticon-Traveller

tepatnya dikurangi, bukan dilenyapkan....emoticon-Thinking


sepaham dan sependapat gannn

emoticon-Ngacir2
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:04
mau slow mau fast ngk ngaruh bagi sy yg ekonominya pas2an
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:12
Quote:Original Posted By willyoke
Ane kerja didunia garment. Lebih tepatnya merchandiser, atau bisa disebut follow up.

Sebenernya fashion itu dinamis. Ada trend terbaru, para designer cari manufaktur yang bisa buat cepet. Mereka cuma nafsu aja, gak mentingin hal hal lain. Yang penting gua bayar dan barang harus ada pada saat deadline.

Dibalik brand fashion ternama, ada hal hal yang gak mereka tau. Brand brand ternama itu bikin bajunya di far east factories. Cina, Taiwan, Vietnam, Bangladesh dan Indonesia. Dan buruh-buruh pabriknya dibayar sesuai dengan regulasi upah aja, gak bisa nego gaji, yang penting pabrik comply dengan aturan pemerintah.

Ada juga bahan bahan fashion yang gak ramah lingkungan, liat aja denim jeans, itu dari serat cotton di celup indigo, terus celup lagi warna lain, udah gitu mau warnanya pudar, udah berapa kali dobelnya mencemari lingkungan.

Sekarang klo manufacture besar dan brand besar udah pada sadar dengan isu lingkungan, mereka bikin produk yang eco friendly, mulai proses kain sampai jadi baju udah dihandle biar gak mencemari lingkungan.

Sebenernya harga produk merek terkenal itu di mark up. Yang beli itu cuma beli merek, gak beli produknya. Harga kain berapa, ongkos jahit, aksesoris terus.margin keuntungan dikalkulasi jadi satu. Misal harga dari pabrik itu 10 dollar, nah pas di retail harga bisa 5000 dollar. Ane yang kerja didunia apparel udah tau sih kaya begini.

Cuma memang brand brand ternama itu pake material yang premium, tapi dari pikiran sendiri, memang mau beli t shirt cotton dengan merek Gucci seharga motor Lexi Yahama baru. Mending jalan jalan ke Matahari, beli t shirt harga 35 - 65 ribuan. Yang ada kebanyakan orang cuma beli merek dan memuaskan gengsi aja.

Untuk yang slow fashion, memang proses produksinya lebih lama. Tapi banyak yang ramah lingkungan. Brand lokal Indo banyak kok. Ane tau beberapa brand womenswear, menswear dan aksesoris asli Indonesia.

Ada yang maen di batik. Ada yang pake serat kain dari bambu. Linen yang ramah lingkungan.

Ada yang pake dye stuff(pewarna textile) alami. Tapi minusnya ya proses lama.

Mau cepat ya pake chemical stuff. Tapi mencemari lingkungan.

Selama orang pake baju, industri fashion akan ada terus. Dan gak akan tergantikan oleh robot, bikin baju harus pake tangan manusia, dibantu mesin jait.


Jadi sebenarnya industri fashion yang mengikuti selera pasar (masyarakat), atau pasar yg ngikutin perkembangan fashion?
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:12
masih dipejwan
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:13
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

Fashion dan segala macam rantai industrinya itu salah satu industri terkutuk di dunia emoticon-Ngakak (S)

Bayangkan aja, brand2 ternama ngabisin duit buat marketing, bayar mahal model, seleb, influencer dll utk campaign produk mereka.

Tapi mereka bayar murah utk tiap pcs garment yg dihasilkan dan selalu nekan factory yg kbnykn ada di negara dunia ke3 utk ngasih harga murah dgn dalih price pressure, efisiensi. Efisiensi my ass. Kedengarannya bagus secara teori tp praktiknya = waktu kerja panjang, lembur dgn upah super minimum, bahkan di hari libur. Baju terlalu panjang 0.02cm aja minta remake. Quality control katanya. Hello, ini buat baju, bukan pesawat. Perlu bgt ya presisi 0.02cm?

Belum lg di sektor bahan baku. Udah rahasia umum negara2 penghasil katun bnyk yg memperkerjakan anak di bawah umur dan tenaga kerja paksa. Demi menjual katun murah. Belum lagi soal pewarnaan tekstil yg pke dye stuff yg sudah pasti berbahaya bg lingkungan. Dan industrial laundry yg biasanya jd fasilitas di garmen2 factory. Udah pasti mereka cari lokasi deket sungai biar "water treatment "nya gampang.

Dan, masih ada kasus polyester fabric, serat sintetis lain yg entah apakah ramah lingkungan atau tidak pasti jadi pertimbangan nomor sekian. Yg penting fashion diutamakan.

Jadi, setuju dgn artikel TS. Kembalikan fashion sbg fungsi penyedia kebuthhan primer manusia yg sesungguhnya. Bukan lagi ajang pamer kemewahan dan konsumerisme.

8
Lapor Hansip
13-01-2019 13:24
ane cukup baju item.. jeans item... di semua tempat dan waktu cocok
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:24
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:36
Tampaknya Slow Fashion lebih banyak sisi positifnya yang lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas
2
Lapor Hansip
13-01-2019 13:36
Quote:Original Posted By gimdolanan
Jadi sebenarnya industri fashion yang mengikuti selera pasar (masyarakat), atau pasar yg ngikutin perkembangan fashion?


Dua arah gan, bisa fashion mengikuti selera pasar, atau bisa juga masyarakat/pasar yang mengikuti fashion.

Contohnya fashion mengikuti selera pasar, sekarang masyarakat lagi suka jaman old school atau retro, atau hal-hal nostalgia, jadi si designer buatlah produk yang model jadul, color storynya pake warna-warna taun 80an. Buat motif yang trend pada jamannya. Ini pemikiran ane aja ya soalnya ane gak jago forcasting trend. Ada lagi bidangnya yang urus ginian.

Klo masyarakat yang ikut fashion, ya ini karena influencer, atau ada trend sesaat. Masyarakat ikut lah meramaikan. Contohnya Pangeran George pake sendal bobo dipadukan piyama bobo, setelah foto atau tv tayang, seluruh inggris bahkan dunia cari brand yang di pakai Pangeran George.
2
Lapor Hansip
13-01-2019 13:37
Quote:Original Posted By namakuhiroko
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

Fashion dan segala macam rantai industrinya itu salah satu industri terkutuk di dunia emoticon-Ngakak (S)

Bayangkan aja, brand2 ternama ngabisin duit buat marketing, bayar mahal model, seleb, influencer dll utk campaign produk mereka.

Tapi mereka bayar murah utk tiap pcs garment yg dihasilkan dan selalu nekan factory yg kbnykn ada di negara dunia ke3 utk ngasih harga murah dgn dalih price pressure, efisiensi. Efisiensi my ass. Kedengarannya bagus secara teori tp praktiknya = waktu kerja panjang, lembur dgn upah super minimum, bahkan di hari libur. Baju terlalu panjang 0.02cm aja minta remake. Quality control katanya. Hello, ini buat baju, bukan pesawat. Perlu bgt ya presisi 0.02cm?

Belum lg di sektor bahan baku. Udah rahasia umum negara2 penghasil katun bnyk yg memperkerjakan anak di bawah umur dan tenaga kerja paksa. Demi menjual katun murah. Belum lagi soal pewarnaan tekstil yg pke dye stuff yg sudah pasti berbahaya bg lingkungan. Dan industrial laundry yg biasanya jd fasilitas di garmen2 factory. Udah pasti mereka cari lokasi deket sungai biar "water treatment "nya gampang.

Dan, masih ada kasus polyester fabric, serat sintetis lain yg entah apakah ramah lingkungan atau tidak pasti jadi pertimbangan nomor sekian. Yg penting fashion diutamakan.

Jadi, setuju dgn artikel TS. Kembalikan fashion sbg fungsi penyedia kebuthhan primer manusia yg sesungguhnya. Bukan lagi ajang pamer kemewahan dan konsumerisme.


Kerja didunia apparel juga gan?
1
Lapor Hansip
13-01-2019 13:38
Quote:Original Posted By sagutumbuk
ane cukup baju item.. jeans item... di semua tempat dan waktu cocok


Men in Black.
2
Lapor Hansip
13-01-2019 13:39
Quote:Original Posted By Papa.T.Bob


Papa T. Bob bikin lagu anak-anak lagi dong. Ane jaman dulu tau nama aslinya Wanda Chaplin.
1
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.