alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c30899682d4955fd87b44d0/aku-suci-true-story-17
Lapor Hansip
05-01-2019 17:40
AKU SUCI (True Story 17+)
Past Hot Thread
AKU SUCI (True Story 17+)
Broken Home. Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian ya, jujur saja gua baru beberapa tahun lalu tau istilah ini. Kata itu mungkin paling dibenci oleh semua orang, termasuk diriku yg sudah merasakan dan mengalami hal itu. Yah semua orang tidak ada yg menginginkan hal itu, karena kita semua menginginkan yg terbaik untuk keluarga kita. Bukan begitu?

Pacaran sama kaka tiri, nemenin tidur kaka tiri. Dulu gua hanya baca hal kaya gitu di cerita-cerita dewasa yg kemungkinan besar juga fake/palsu. Tapi sekarang semua itu terjadi di kehidupan nyata. Dan gua sekarang melihat hal itu sangat biasa atau tidak aneh. Berbeda dengan dulu yg membaca ceritanya saja keringet bercucuran sampai celana basah dan napas ga beraturan (apaan sih? emoticon-Hammer )

Sebelumnya perkenalkan nama aku Dika umur sekarang 20 tahun. Enakan aku atau gua sih bahasanya? Gua aja kali ya? Oke deh!.

Sebenernya gua asli Jawa tapi karena sudah lama di Ibu Kota Jadi sudah terbiasa pake Bahasa Indonesia tapi bagusnya tidak sedikitpun bahasa Jawa gua hilang atau gua lupakan karena asal usul memang kudu selalu dijaga dan diingat. Gua udah lumayan lama liat2 cerita di forum ini khususnya curhatan orang2 di hth dan jadi tertarik sama forum hth & sfth karena tidak sengaja waktu itu lagi nyari2 cerita horor di google dan nyasar masuk ke forum ini jadi tau ada tempat untuk mencurahkan isi hati atau pengalaman unik kaya hth & sfth ini dan bagusnya daftar kaskus gampang ga ribet tanpa perlu ktp kk (dikira mau kredit motor kali emoticon-Big Grin).

Mohon ijin buat belajar nulis pengamalan hidup disini, kalo berantakan dan kurang dipahami tulisanya atau ada salah tempat mohon dikritik dan luruskan ya karena memang gua belum terlalu paham dengan fitur2 kaskus. Sebelumnya terimakasih dan happy reading gan/sis emoticon-Smilie
AKU SUCI (True Story 17+)


PART 1

Quote:Kampung Yang Asri

Suara burung berkicau menandakan fajar, sangat indah burung itu bersautan terdengar. Di halaman depan rumah juga terdengar sapu lidi bergesekan degan tanah. Yah itu suara ibu sedang membersihkan halaman depan, rutinitas yg selalu dilakukan setiap pagi oleh ibuku setelah selesai memasak sarapan. Kebetulan hari ini adalah hari minggu dimana banyak acara seru dan favorit tayang di tv. Bapak aku lihat sudah tidak ada mungkin sudah berangkat ke sawah untuk melihat padi yang hampir siap dipanen. Hari ini ibu mengajaku ke kebun untuk memetik tomat dan cabe yang sudah memerah, itu adalah hal yang paling aku sukai ketika libur sekolah, membantu ibu dan bapak memetik tomat dan terkadang aku menemukan beberapa jenis buah di kebunku yang sudah matang di pohon dan mengambilnya dengan antusias.

"Hati-hati manjatnya nak.."
"Nggih bu ini hati-hati.."

Akupun memanjatnya dan medapatkan 3 buah jambu klutuk atau biji yang sudah matang dan bergegas turun. Aku benar-benar bahagia dengan kehidupanku yg serdehana ini, rumah yang dikelilingi pohon mangga, kelapa juga nangka dan ada sungai kecil juga yang mengalir didepan rumah mengairi sawah-sawah di samping rumahku.

Sampai suatu ketika ibu menerima tawaran bekerja dikota, bapak dan aku benar-benar merasa keberatan karena semua pasti akan berubah apabila ibu bekerja keluar kota karena tidak ada yg mengurus rumah dan lainya. Tapi tekad ibu sudah bulat memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bapak pun mengizinkannya meskipun dengan gestur berat hati.

**Stasiun

Pukul 3 sore aku, ibu dan bapak sampai di stasiun kereta. Hari ini adalah keberangkat ibu ke kota untuk bekerja, dengan berat hati aku melepaskan pelukan ibuku.

"Ibu berangkat dulu ya nak, jangan nakal dirumah nurut sama bapak ya dan harus bisa bangun pagi sendiri mulai besok.. nanti kalo butuh apa2 kabari ibu aja ya.. ibu berangkat dulu.." ucap ibu sambil mengecup kening dan pipiku.

Setelah berpamit denganku dan bapak ibu masuk kedalam gerbong kereta dengan mata yang berkaca-kaca melihatku menangis tidak rela melihat kepergian ibu ke kota. Bapak disampingku mengusap-usap kepalaku dan berjanji akan membelikanku bola sepak baru sepulang dari sini. Aku sedikit terhibur dengan tawaran itu. Kereta pun berangkat ibu melambaikan tangan dari dalamnya, perlahan-lahan ibu menjauh dan tak terlihat dari pandanganku. Memang dari kecil aku tidak bisa jauh dengan ibu paling jauh ibu pergi belanja kepasar itupun aku bawel bertanya berapa lama dan kapan pulang secara terus-menerus.

"Ayo pulang le.."
"Dika boleh nyusul ibu ga pak?"
"Boleh, tapi nanti kalo kamu sudah lulus sekolah dan siap kerja, makanya belajar yg bener ya kamu biar bisa kerja sesuai yg kamu mau di kota. Ayo pulang udah sore nanti keburu tutup toko bolanya.."

Aku hanya mengangguk dan berulang kali melihat ke arah peron berharap kereta yg dinaiki ibu kembali lagi, tapi hal itu tidak mungkin terjadi.

**
Hari ini pertama kalinya aku dan bapak menjalani hidup tanpa ibu, biasanya pagi hari ada yg menyiapkan seragam sekolah dan sarapan tapi kali ini aku harus mempersiapkan itu sendiri dibantu bapak yg terlihat sangat tegar tidak sepertiku.

"Itu bapak sudah buatin ubi rebus buat bekel uang jajan kamu biasa di meja tv ya le, bapak mau ke kelurahan dulu"
"Iya pak, hati-hati ya pak.."

Bapak pergi bekerja dengan menggunakan motor tua kesayangannya. Sedangkan aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena memang jarak rumah ke sekolahku sangat dekat. Kebetulan aku anak satu-satunya dikeluarga ini jadi tidak ada adik atau kaka yg menemaniku.

Hari terus berlalu dan berganti, ibu sudah 3 bulan lebih bekerja dikota aku benar-benar merindukan sosoknya yg sangat membantuku dan benar-benar menjadi ibu yg sempurna untuku. Kali ini peran ibu sudah digantikan oleh bapak, beliau beperan sebagai kepala keluarga juga sekaligus sebagai ibu untuku dan dia juga sangat menyayangiku seperti ibu.

Hari ini sepulang sekolah aku sangat bahagia karena ada tukang pos mengantar paket dari ibu untuku. Saat aku buka ternyata isinya dua buah sepatu yg terlihat untuku dan bapak dan juga ada sebuah handphone keluaran terbaru yg sudah bisa kamera dan mp3, dimana hanya baru beberapa orang saja yg sudah memiliki handphone seperti itu disini karena memang dijaman itu harganya lumayan mahal.

**
Bulan terus berganti, ibu yg biasanya selalu menelepon dan memberi kabar setiap 3 hari sekali tapi 3 bulan kebelakang sudah jarang memberi kabar kepadaku dan bapak. Dan yg membuatku bingung sekalinya ibu menelpon bapak, selalu saja mereka bertengkar ditelepon, entah karena apa mereka seperti itu yg pasti aku sangat terpukul karena baru kali ini aku melihat bapak semarah itu kepada ibu. Aku benar-benar merasa semua sudah berubah dan tidak seindah dulu.

**
Hari ini ibu pulang dari kota, tapi entah kenapa suasana dirumah tidak seperti yg aku inginkan, lagi-lagi bapak dan ibu bertengkar dan kali ini lebih hebat sampai2 piring dan gelas pecah terlempar dan hampir melukai bapak. Aku hanya bisa berteriak "stop.. stop.. malu didengar tetangga"

"Aku mau kita pisah mas..." suara ibu berteriak

Aku yg mendengar itu hanya terdiam lemas dan tidak menyangka ibu yg selama ini aku hormati dan sayangi bisa mengeluarkan kata2 seperti itu, aku merasa ibu sudah benar-benar berubah.

"Yowis kalo itu maumu aku gabisa melarang, semoga kamu bahagia karo sing anyar.. Gusti Allah mboten sare aku ikhlas.." Bapak menjawabnya dengan tenang dan tersenyum.

Aku lagi2 hanya bisa terdiam semakin bingung dengan apa yg sedang terjadi, bapak menyuruhku masuk ke kamar sedangkan ibu merapihkan baju ke koper dan bergegas pergi tanpa aku bisa mencegahnya.

Apa ini yg kala itu bapak khawatirkan sehingga beliau tidak langsung mengijinkan ketika ibu mau bekerja dikota. Aku melihat bapak begitu tegar tapi aku yakin hatinya sangat kecewa dengan yg sudah terjadi. Perpisahan yg selama ini aku tidak pernah pikirkan hari ini terjadi dan terucap dari mulut kedua orang tua yg aku sangat sayangi.

"(Tok tok tok..) le tidur ya?"
"Belum pak masuk aja"
"Bapak mau ada yg diomongin sama Dika.." ucap beliau masuk

"Dika kan cowok udah gede udah mau masuk sma jadi pasti Dika tau mana yg baik dan buruk, ibu udah punya pilihan sendiri dan besar kemungkinan bapak gabisa ngurusin kamu lagi le jadi bapak mau pesan dengan siapapun kamu tinggal nanti tetep jadi anak yg baik dan berbakti sama orang tua ya.."

Ucap Bapak dengan wajah yg begitu kuat, aku mulai paham dengan apa yg sudah terjadi. Aku hanya bisa memeluk Bapak tanpa bisa berkata apa-apa.
Hari berganti tetangga sekitar sudah tau semua dengan apa yg terjadi dikeluargaku apalagi hidup di kampung yg orangnya sangat care dan selalu mau tau dengan apa yg terjadi di sekitarnya. Bapak belakangan ini juga banyak diam dan banyak menghabiskan waktu di masjid.

Seorang pengacara datang kerumahku dengan membawa sebuah surat dan bertemu dengan bapak.

"Sudah resmi ya pak, silahkan bapak baca dan tanda tangan disini. Hak asuh dimenangkan pihak perempuan ya pak.."

Kurang lebih seperti itu yg aku dengar dari obrolan mereka diruang tamu. Rasanya seperti mimpi, beberapa bulan yg lalu kami bertiga masih bercanda bersama tapi hari ini semuanya sudah berubah. Coba saja ya waktu itu ibu ga nerima tawaran itu pasti ini semua tidak akan terjadi. Andai waktu bisa diputar pasti aku bisa mencegahnya agar semua baik-baik saja. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Pengacara itupun bergegas pergi setelah menghabiskan teh di gelas. Bapak hanya terdiam melihat surat itu.

"Pak.. boleh Dika baca surat itu?"
"Eh kamu le, tolong beliin bapak obat sakit kepala sama koyo ya ke warung depan.." ucap bapak mengalihkan ucapanku

Saat berjalan ke warung hampir saja aku menginjak ular berwarna hitam putih yg sedang bersembunyi dibalik dedaunan, refleks aku menyebut nama Tuhan dan mengusir ular itu dengan kayu.

"Kamu yg sabar ya dik, semua orang yg hidup pasti ada cobaan dan kali ini keluarga kamu yg lagi di uji seperti ini.. tetep jadi anak yg baik ya" ucap tetanggaku atau pemilik warung
"Nggih bu.. matursuwun sanget.." jawabku sambil memberikan uang

Sampainya di rumah aku melihat bapak sedang mengemas barang-barang dan bajunya.

"Loh bapak mau kemana?"
"Besok bapak ijin pulang ke rumah mbah ya le, bapak udah ga ada hak tinggal disini lagi.. Lusa ibu kamu dateng jadi besok kamu dirumah bude dulu ya.."
"Kalo gitu Dika ikut bapak aja daripada ikut ibu"
"Lee.. kalo kamu ikut bapak nanti bapak salah. Inget pesen bapak kemarin toh, harus nurut dan tetep jadi anak baik ya dimanapun dan sama siapapun kamu tinggal nanti.."
"Tapi pak.."
"Kamu nanti kapan aja bisa ketemu bapak dan boleh main ke rumah mbah.. saiki kamu turu sesuk sekolah.. nurut yo.."

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Malam ini mataku susah untuk dipejamkan mengingat masa-masa indah yg dulu terbangun di keluarga ini sudah hancur karena orang ketiga. Ibu yg aku sangat hormati telah melalukan kesalahan dengan menyakiti bapak yg sudah mati2an menjaga keluarga ini. Siapapun laki2 itu aku bakal membuat perhitungan kepadanya.
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
die31 dan 126 lainnya memberi reputasi
119
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
06-09-2019 18:06
ILUSTRASI VIA

Untuk kesekian kalinya trit ini terbengkalai dan stop update, mohon maaf kalo sudah menunggu lama buat seleuruh reader yg menanti2 semakin kesini saya sadar makin sedikit waktu saya untuk trit ini. Sore ini 2 part saya udate dan untuk part penutup atau LAST PART segera mungkin akan di post ya gan/sis, story saya mungkin hanya bisa sampe part 30 saja dan akan segera saya selesaikan.

Terimakasih banyak buat reader&silent reader yg sudah mampir, baca, kasih cendol juga bata dan sudah sabar menunggu Dika yg tidak sesuai ekpetasi kalian bisa update lancar.
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sjdjskds dan 35 lainnya memberi reputasi
36
profile picture
kaskuser
09-09-2019 10:38
Semangat brow.. dika.
Hidup itu pilihan.. monggo dipilih..
Saya mohon dan berharap sesuai judul trit brow dika. Aku suci . Seharusnya trit nya berakhir di pelaminan. Hingga kesucian mu hilang...



Ayo.. siapa yg setuju..
profile picture
kaskuser
06-09-2019 23:43
what?? yg bener nih dik? ah gila aja kok cuman sampe part 30? kan masih panjang nih cerita.. lanjutin lah, dikit2 nyicil kaya trit trit sebelah. yg penting rl lancar sama ini trit juga
profile picture
kaskuser
09-09-2019 10:38
Semangat brow.. dika.
Hidup itu pilihan.. monggo dipilih..
Saya mohon dan berharap sesuai judul trit brow dika. Aku suci . Seharusnya trit nya berakhir di pelaminan. Hingga kesucian mu hilang...



Ayo.. siapa yg setuju..
profile picture
kaskuser
12-09-2019 07:58
@mesinhawk200 tapi aq yakin.. dika bakalan nambahin trit nya kok.. percaya dehhh
profile picture
newbie
20-09-2019 20:29
Yah dah mau selesai ya, semoga happy ending
26-07-2019 22:20
PART 27a



"(Door..dorr..dorr..)" aku mengetuk pintu semakin keras

"Nay aku tau itu kamu, keluar!! Apa yg kamu lakuin nay!! Sama siapa kamu di dalam!!!"

"Nay buka!!"

Berulang kali aku meminta untuk dibukakan pintu tetapi tidak kunjung dibuka juga akhirnya aku beranikan diri untuk mendobraknya

"Brakk...."

Satu kali saja dobrakan, pintu yg terbuat dari plastik itu terbuka dan aku sangat tekejut melihat Naya di dalam, dia tergeletak dengan darah tercecer di lantai dan satu lagi ternyata dia hanya sendirian di dalam, pikiran kotorku benar2 sudah sangat salah dan aku menyesal telah negatif thinking dengan Naya.

"Naya kamu kenapa??!! Kamu gapapa kan??!!" Tanyaku panik sambil membangunkanya

"Gapapa ko, itu awas kena darah nanti kotor.. udah lu ke kelas aja sana jangan urusin cewek kotor kaya gua.." jawabnya berusaha melepaskan peganganku

"Stop nay!! Kamu masih aja ya ga berubah.. jawab kamu kenapa??"

"Biasa kambuh.. dan tadi kepeleset"

Bau amis sangat menyengat, ternyata tadi benar suara Naya kesakitan bukan suara desahan aku benar2 merasa bersalah atas pikiran buruku tadi.

"Kamu bawa pembalut ngga?" Tanyaku sambil menyiram ceceran darah di lantai dan tangan satuku melingkar di perut Naya.
"Engga, bukan tanggalnya soalnya" jawabnya dengan suara menahan sakit
"Terus kamu ada yg luka ga gara2 jatuh tadi?"
"Engga, mungkin memar aja soalnya jatuhnya duduk dan ini kerasa sakit.." Jawab Naya sambil memegang posisi tulang ekornya
"Masih deres darahnya keluar?"
"Udah engga lagi.."
"Yaudah kamu bersih2 dulu nay, aku ke kelas dulu ya minta pembalut sama Via siapa tau dia lagi bawa"
"(Naya mengangguk lalu menatapku dan matanya sekarang mulai berkaca-kaca)"
"Kuat kan kamu berdiri?"
"Iyah kuat ko.."
"Yaudah kamu bersih2 dulu aku ke kelas sebentar jangan lupa dikunci pintunya.."

Aku langsung berlari ke kelas beruntung belum ada guru yg mengajar dan dengan nafas ngos2an aku menjelaskan ke Via dengan yg aku butuhkan, ternyata dia hari ini tidak bawa pembalut dan mau membantuku untuk menanyakan ke teman2 sekelasku.

"Gayysss.. diem dulu sebentar.. penting!!!" Teriak Via yg membuat seisi kelas langsung terdiam.

"Ada yg bawa roti jepang ga? Kalo ada gua minta, urgent si Dika tembus soalnya nih.." ucap Via asal jeplak

Serentak anak2 di kelas menatapku dengan wajah aneh.

"Hah masa sih dia?"
"Dika ternyata?"
"Wahhh dugaan gua selama ini ternyata benar.."
Ucap beberapa anak2 sambil menatapku. Sialan nih si Via

"Vi.. kamu nih.. emoticon-Hammer" ucapku menatap Via
"Hehe bercanda abang.. emoticon-Big Grin"
"Ada yg bawa ga serius nih??!" Lanjut Via

Dan ternyata ada beberapa anak yg membawa pembalut akupun mendapatkan 2 buah dan langsung bergegas berlari ke toilet dengan sebelumnya say thanks kepada Via dan orang yg merelakan roti jepangnya aku minta. Wajah anak2 di kelas semuanya bingung dan bertanya2 mungkin mereka percaya dengan kata2 Via tadi dan jadi meragukan kejantananku emoticon-Betty (S) emoticon-Hammer

Toilet

"Nay buka ini aku Dika.."

Pintu dibuka, wajah Naya terlihat sangat lemas dan menahan sakit karena jatuh tadi. Aku langsung memberikan 2 pembalut yg tadi aku dapatkan dan juga aku memberikan tisu kemasan kecil yg selalu ada di kantong celanaku.

"Makasih yah.." ucap Naya pelan dan menatapku

"Iyah sama2 nay, yaudah gih sana dipake.."
"Nay.. Naya.. ko kamu nalah nangis.."

"Maafin gua dik, maaf udah jahat sama lu, lu bener2 cowok baik saat gua jahat sama lu, lunya tetap mau care dan baik sama gua.." ucapnya pelan dengan nada menyesal

"Iyah dimaafin pastinya, udah sekarang kamu bersih2 dan dipake dulu itu ya.."
"Atau butuh bantuan??"

"Gausah dik, bisa sendiri.. sebentar ya.." balas Naya menatapku lalu menutup pintu

Aduh ada2 aja aku ini, masa iya nawarin bantuan untuk hal seperti itu, menang banyak yg ada nanti, dasar aku ya kadang2 emoticon-Hammer


**

Aku yg khawatir dengan keadaan Naya mengajak Naya untuk ijin pulang lebih cepat lalu aku memaksanya untuk ke dokter spesialis untuk memeriksakan keadaan Naya yg sering pendarahan secara tiba2 di luar siklus haidnya. Meski awalnya dia bersikukuh menolak saranku akhirnya dia luluh dan menerima saranku.

"Vi aku pulang duluan ya harus anter Naya soalnya, kalo ada PR kabari aku ya" pamitku ke Via
"Oh iya bang, hati2 ya bang dan semangat untuk itu emoticon-Smilie" Via menyemangatiku dibarengi senyum manis dari bibirnya
"Siap komandan.."

**

Kelas Naya

"Ayo nay, kamu kuat jalan kan?" Tanyaku menghampiri bangku Naya
"Iyah kuat ko.."
"Yaudah sini tas kamu aku yg bawain.."
"Jagain Naya baik2, awas aja kalo dibikin sakit!!" Ucap teman sebangku Naya yg tadi menunjuku saat di kantin
"Iya siap, aman ko sama aku.. aku bawa pulang dulu ya Naya nya" jawabku sambil mengambil tas Naya
"Kok dibawa pulang? Anterin ke rumahnya lah"
"Iya maksud aku juga itu emoticon-Hammer"

Sampai gerbang depan ternyata pak Ahmad yg menjemput kami belum sampai, aku mengajak Naya untuk duduk di warung terlebih dahulu karena aku tidak tega membiarkanya berdiri terlalu lama dalam keadaan badan yg sedang tidak begitu baik seperti ini dengan sebelumnya aku membelikan air mineral untuk Naya.

"Tau ga? Meski aku sangat betah dan suka dengan sekolah baru kita ini tetapi aku merasa ada hal yg hilang.." ucapku sambil memainkan botol dengan kedua kakiku tanpa memandang Naya
"Kenapah?" Ucap Naya sambil menutup air mineral yg ia minum
"Kamu.."
"Aku?" Tidak biasanya Naya memakai kata Aku
"Iya karena kamu.."
"Kenapa karena aku?" Tanya Naya sambil memandangku
"Karena... (tin..tin..)" belum selesai kata yg aku ucapkan pak Ahmad sudah sampe dan memanggil kami
"Itu pak Ahmad, ayo.." ajak Naya

Aku dan Naya pun bergegas ke mobil dan masuk duduk berdampingan. Naya menyampaikan ke pak Ahmad untuk mampir ke dokter spesialis terlebih dahulu, tanpa banyak bertanya pak Ahmad langsung mengiyakan dan melajukan mobil. Sampainya di tempat praktek dokter yg kami maksud aku langsung mengajak turun Naya. Naya sempat ragu2 tetapi karena tidak henti2nya aku meyakinkan dia bahwa ini yg terbaik agar semuanya jelas dan mendapatkan jalan keluarnya, dia pun mau dan mengikutiku berjalan.

Sangat rame pasien siang ini, dan kalian tau? Saat aku dan Naya masuk, pasien yg sedang mengantri langsung menatap tajam ke arah kami dengan wajah yg penuh tanda tanya. Aku yakin pasti mereka merasa aneh dan berpikir yg tidak2 melihat sepasang anak SMA masih mengenakan seragam datang ke prakter dokter spesialis seperti ini. Hey kalian apa tidak bisa lihat kalo wajah aku anak baik2 dan polos emoticon-Hammer Setelah mendaftar dan mendapat nomer antrian kami duduk bersama pasien2 lainya yg beberapa perutnya sudah sangat besar untuk menunggu giliran.

**

Yg ditunggu-tunggu pun tiba, Naya keluar dari ruang pemeriksaan dan dokter perempuan itupun kembali duduk di kursinya sedangkan Naya duduk disampingku menghadap sang dokter. Harap2 cemas aku menunggu dokter menjelaskan apa yg sebenernya terjadi pada Naya, begitupun Naya nampak wajahnya sangat tegang dan nampak tidak siap apabila harus mendapatkan hasil yg buruk atas pemeriksaan yg lumayan lama tadi. Dokter sibuk membaca secarik kertas yg penuh dengan tulisan khas ala dokter. Aku mencoba menenangkan Naya dengan mengelus lembut tanganya dan menatapnya untuk meyakinkan bahwa semua akan baik2 saja.

"Kalian pacaran?" Tanya dokter membuka obrolan
"Oh engga dok, kita hanya temenan saja.." jawab Naya dengan cepat dan jelas tanpa menatapku
"(Aku hanya menatap heran kearah Naya mendengar jawaban yg keluar dari mulutnya, dia benar2 sudah berubah dan niat menjauh dariku)"

"Kalian tidak perlu khawatir ya, semuanya baik2 aja kok"
"Oh Tuhan thanks.." ucap Naya lega
"Hanya saja memang kak Naya harus lebih menjaga kebersihan organ intim, juga harus stop mengonsumsi obat2an yg tidak penting atau bahkan obat2an yg berbahaya agar hormonya seimbang, terus kak Naya juga tidak boleh terlalu stres pikiranya jaga pola makan dengan baik juga. Ini saya buatkan resep agar pendarahan bisa berkurang dan haidnya teratur, nanti ditebus saja di tempat penebusan obat ya" ucap Dokter menjelaskan lebih rinci yg membuat kami bernafas dengan lega dan tersenyum saling tatap. Awalnya aku berpikir kalo Naya terkena penyakit yg serius atau lainya, untung saja pikiranku itu salah.

Semoga saja Naya bisa memperbaiki pola hidupnya setelah mendengar anjuran dari dokter tadi. Setelah menebus obat dan membayar dengan harga yg lumayan mahal kami langsung bergegas ke mobil.

"Kamu ikutin anjuran dokter ya nay, aku mohon semua demi kebaikan kamu dan masa depan kamu.." Ucapku mencoba lebih peduli dengan Naya sesuai saran Via di sekolah tadi
"Kenapa masih peduli dan ga jijik sama Naya setelah tahu semuanya??" Jawabnya
"Karena Dika mau Naya jadi lebih baik emoticon-Smilie"

Tidak ada jawaban lagi dari Naya, dan suasana saling diam lagi. Akupun meminta pak Ahmad untuk langsung mengantarku pulang. Menjelang siang jalanan terasa lengang sehingga mobil bisa melaju dengan sangat lancar. Tidak lupa aku menelpon ka Dinda untuk menanyakan kunci cadangan ada dimana karena hari ini aku pulang lebih awal dan ternyata kebetulan banget ka Dinda sedang berada di rumah. Wah asik nih bisa minta makan siang enak sama ka Dinda, pikirku dalam hati.

Mobil pun berhenti di depan rumahku.

"Makasih ya pak.." aku mengucapkan terimakasih pada pak Ahmad
"Sama2 mas.."

"Makasih dik emoticon-Smilie"
"Sama2 nay emoticon-Smilie diminum yg teratur ya obatnya.. jangan lupa minta bibi kompres juga yg tadi memar karena jatuh yah.. gws yah.."
"Iyah.." jawab Naya memalingkan wajahnya lalu tanganya mengusap sesuatu dari matanya

Akupun turun dari mobil, mobil pun berjalan. Selamat istirahat nay, ucapku pelan sambil memandang mobil Naya yg semakin menjauh. Aku langsung bergegas masuk ke rumah disambut ka Dinda yg masih mengenakan pakaian kerja.

"Bolos lu ya??" Sambut ka Dinda menuduhku
"Enak aja, engga lah aku mah anak rajin.."
"Yaudah sana ganti baju bersih2 dulu.."
"Siap kak. Kaka mau ke kantor lagi?"
"Engga dik, kenapa emang?"
"Kangen emoticon-Genit" godaku sambil menatap balon kembar
"Dih tumben lu.."
"Bercanda ka, aku ada yg mau ditanyain tentang masalah cewek sama kaka, boleh?"
"Yaudah nanti lu ke kamar gua aja, gua mau maskeran soalnya.."
"Oke siap akaku emoticon-Genit"
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ikhvan1922 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
profile picture
newbie
26-07-2019 23:25
Akhirnya gue tau juga kalo si naya gak kenapa2 emoticon-Smilie padahal udah dagdigdug takut ada hal2 buruk terjadi sama naya emoticon-Frown thx gan buat double partnya emoticon-Smilie keep update yaaa sukses juga buat di rl nyaa
profile picture
newbie
03-09-2019 07:08
sesuatu yang di gantung sekian lama itu ga enak gan, lebih baik ane ga baca di awal kalau tau akhirnya kaya gini , ga enak tauu huft wkwkk
profile picture
kaskuser
30-08-2019 05:27
@elita.ind mana yaaaa.. udah panen ketang neh .. dhika
profile picture
newbie
22-08-2019 18:30
Mas dikaaaa antum udah panen kentang nih 😅 Hayuhh dipetik sebelum kentangnya dimakan hama

Ana menunggu antum mas dikaaaa wkwkwkwk😂😂😂
profile picture
newbie
19-08-2019 20:31
Mantaff nih.. dapatlah sekenyot 2 kenyot... Tapi nih kentangnya mo dipanen.. keburu bukukan..be hahaha
01-02-2019 10:35
PART 16


Quote:"(Aku melepaskan pelukanya dan memegang bahunya)"
"Naya? Kamu kan cewek kuat ko nangis sii.. udah dong.. disini aku ga bakal berubah dan bakal terus berusaha jadi temen terbaik buat kamu.."

"Hanya sebatas temen dik??"


Aku terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan Naya dan belum sempat menjawabnya tetapi Naya sudah menyalakan musik lumayan keras dan sein kanan untuk melanjutkan perjalanan. Wajahnya kali ini berubah dan tatapanya berpaling dari mataku

"Udah gaperlu lu jawab dik, gua paham ko disini gua yg salah terlalu jauh berharap" ucapnya tanpa menatapku

"Aku gamau hubungan pertemanan kita yg baik ini rusak nay apabila harus menjalin suatu hubungan dan merubah status"

"Iya gua paham ko, gua juga sadar gua siapa makasih ya udah ngingetin gua emoticon-Smilie" balas Naya tersenyum ke arahku

"Aku gamau ada yg tersakiti di antara kita nay, semoga kamu paham dengan ini ya"

Naya hanya tersenyum tipis ke arahku.

Perjalanan sore ini terasa berbeda, yg biasa asik dan bercanda dengan hal apapun yg kami lihat tetapi kali ini kami lebih banyak diamnya. Mungkin ini momen terkaku yg pernah aku alami dengan Naya selama kita kenal, tidak ada kata candaan dan tawa hanya suara musik dari sound mobil yg lumayan membuat suasana tidak terlalu sunyi.


**
Rumah Naya


"Minta ke bibi aja ya dik kalo mau apa2 gua mau mandi dulu.." ucap Naya berjalan menjauh dariku

Aku hanya mengangguk dan duduk di sofa melepaskan sweater yg aku kenakan. Aku harus bagaimana? Suasana hati Naya pasti tidak bagus sekarang, gerutuku dalam hati sambil memutar2kan hp.

"(Daakk... Praankkk..)"

Sebuah suara benda keras dan kaca terjatuh terdengar dari dapur, akupun langsung menghampiri sumber suara itu dan mendapati bibi sedang syok memegangi dadanya dibarengi ucapan istighfar.


"Ada apa bi?" Tanyaku sambil melihat ke arah bibi

"Ini mas pintu atas kitchen setnya tiba2 lepas sendiri dan hampir niban bibi" jawab bibi dengan nada gemetar

"Yaudah bibi duduk dulu aja tenangin diri, biar Dika aja yg beresin ini semua bi.."

"Makasih ya mas, mas Dika hati2 ya bersihin kaca2nya"

"Iya bi siap.."

Ternyata suara tadi dari pintu kitchen set bagian atas yg terjatuh hampir mengenai bibi, kemungkinan baudnya tidak kuat menahan daun pintu yg lumayan lebar ditambah dengan beratnya kaca yg juga melapisinya. Benar-benar tidak pakai perhitungan tukang yg membuat ini, harusnya pintu yg jatuh ini bisa di bagi dua agar pembagian cengkraman ke bodinya kuat tetapi ini tidak, untung saja tidak ada korban.

Akupun membersihkan kaca2 yg berserak di lantai dan juga pintu2nya. Karena ketidak hati2anku dan terlalu memikirkan Naya, sebuah pecahan kaca sukses merobek kulit jari ku, tidak lebar tapi dalam yg membuat darah mengucur dengan sangat lancar. Aku mencuci luka itu dan megambil tisu di atas kulkas untuk membalut luka jariku.

"Jadi ini sumber suara yg keras tadi dik?" Tiba-tiba Naya sudah ada di belakangku dengan mengenakan handuk model kimono

"Iya nay, hampir aja tadi nimpa bibi pintunya yg lepas"

"Terus bibi mana?"

"Tadi aku suruh nenangin diri mungkin ada di kamarnya.."

"Terus itu kenapa tanganlu ko di balut tisu gitu?"

"Ga hati2 pegang kaca jadi kena deh hehe.."

"Lu ada2 aja sih dik bukanya hati2, jangan pake tisu jga dong itu lukanya nanti nempel jadinya!! Udah itu biarin lanjutin besok aja sama pak Ahmad udah ayo sini.." Naya menariku ke sofa ruang tamu

Terlalu kelewatan menurutku kekhawatiran Naya kepadaku, padahal aku hanya terluka kecil dan tidak terlalu parah.

Naya datang masih mengenakan handuk model kimono berwarna biru muda seperti warna hodie dan sapu tanganya yg kala itu dipinjamkan kepadaku, mungkin biru muda warna kesukaanya sehingga sebagian besar barang2 miliknya berwarna seperti itu.


"Lain kali hati2 dong, pasti bengong kan mikirin apa sih emang?" Cerca Naya kepadaku sambil tanganya membuka tisu yg membalut lukaku, wangi badanya tercium jelas di hidungku

"Tadi aku udah hati2 ko nay.."

"Kalo hati2 gamungkin kaya gini!"

"Awwww perih nay..."

"Maaf maaf, tahan sedikit dong ah cowok ko lembek banget.."

"Tapi boong 😜"

"Ih ngeselin yak.. bodo ahh males!" Ucap Naya sambil melepaskan tanganku

"Awww.. sakit nay.. jahat kamu ya, yah berdarah lagi deh.."

"Maaf dik maaf ga bermaksud.." wajahnya kali ini panik lalu tanganya kembali meraih tanganku

"(Cuupp...)" Naya memasukan tangaku yg kembali mengeluarkan darah ke mulutnya dan menelan darah yg keluar

"Nay jorok itu eeeuhh.." ucapku mengerutkan dahi

"Enak dik.. sering2 ya berdarah.." ucapnya sambil membasahi bibirnya

"Apaan sih nay kamu.."

"Bercanda dik hehe.. sini kasih alkohol dulu takut terinfeksi lud*h gua 😄" ucap Naya memasang wajah lucu kali ini

"Nah gitu dong jangan kaku2 kaya tadi.." ledeku menoel hidungnya

"Ih berani pegang2 ya sekarang.."

"Mending pegang2.. lah kamu malah udah berani emut jari aku, mana ngemutnya di nikmatin banget kaya lagi emut apa aja, jangan2 sambil ngebayangin something ya 😂" ledeku ke Naya

Naya hanya membalasnya dengan tatapan tajam dan cubitan ke lenganku. Dia manis, baik, pendiam, tapi entah kenapa banyak orang yg tidak suka dengan Naya di sekolah yg sampai saat ini aku belum mengetahui alasanya. Naya selesai membersihkan lukaku dan membalutnya dengan kasa dan plester lalu dia pergi ke dapur dan kembali dengan dua gelas susu coklat.

"Kamu pake baju dulu aja nay.."

"Gamau dik, enakan gini.."

"Hih dasar ah, nanti aku kemasukan setan terus aneh2in kamu tau rasa loh.."

"Biarin aja gatakut wleee.. 😛"

"Hayaaaa malah nantangin yak, dasar aneh kamu😂 emoticon-Hammer"

"(Naya hanya menjulurkan lidahnya lagi dan duduk di sampingku)"

"Udah ga badmood dan marah lagi nih sama aku?"

"Enggak.." Jawabnya menatapku
"boleh ga?" Lanjut Naya ijin untuk bersandar di bahuku

"(Aku tersenyum dan mengangguk)"

Kali ini kepalanya sudah bersandar di bahuku dan kedua tanganya melingkar di tangan kananku.

"Gua tau diri ko dik gua bukan tipe cewek yg lu mau, dan gua gamasalah kalo sebatas temen yg lu mau, yg penting lu tetep baik dan kaya gini sama gua jangan pernah berubah apalagi sampe ngejauh dari gua.." ucap Naya dengan gestur manja di sampingku

"Iya aku janji nay.."

"Bener ya janji.." ucapnya menatapku

"Iyah, aku boleh minta sesuatu ga ke kamu?"

"Boleh, apa aja yg lu mau pasti gua kasih.."
"Mau apah emang?" Lanjutnya

"Nyusu..."

"Dika serius?!"

"Iya serius lah.. nyusu coklat yg ada di gelas ini maksudku, aku ijin minum dulu ya.. 😂"

"Ih dasar kirain apaan.. ngeselin lu emang.." gerutu Naya sambil mendorong badanku


Akhirnya Naya sudah kembali lagi moodnya dan malem ini kita menghabiskan waktu di sofa dengan tv menyala menonton kami asik bercanda bernyanyi dan lupa dengan segala problematika. Jadi bukan kami yg menonton tv, tetapi sebaliknya emoticon-Hammer Sesekali karena saking asik bercanda dan membalas cubitan aku tidak sengaja membuat handuknya terbuka sedikit dan menyenggol balon milik Naya, tidak se besar Dinda tetapi lumayan juga sih emoticon-Hammer


"Dika.. ngantuk.."

"Yaudah sana tidur ke kamar nay"

"Gamau.." ucapnya manja

"Kan katanya ngantuk.."

"Iya.. tapi maunya disini aja bobonya" Naya semakin kencang memeluk lenganku dan semakin manja nada suaranya

"Ke kamar aja, aku jga mau pulang kan.."

"Gaboleh pulang ah.."

"Tapi nay.."

"Please..😢"


Entah kenapa aku tidak tega untuk beranjak dan pulang, wajah Naya ketika memohon mengingatkanku kepada Fera. Sejauh ini aku tidak bisa membuka hati untuk orang lain karena masih ada sosok Fera dalam hatiku ya meskipun mulutku kala itu sudah mengikhlaskannya dengan Cahyo.

Malam ini aku lebih mengenal Naya. Naya yg lembut banyak diam dan terlihat jutek ternyata orangnya sangat manja. Kami tiduran dengan setengah duduk di sofa menghadap tv, wajah Naya semakin nyaman bersandar di dadaku dengan tangan melingkar tidak sedikitpun ingin melepaskanku. Kaosku dan handuk model kimono yg Naya kenakan menjadi pembatas diriku denganya.

Malam semakin larut, Ibu dan Ka Dinda pasti mencari-cari ku. Aku mencoba mengeluarkan hp dari kantong celana sebelah kiri.

"Euummhh.. Dika mau kemana?" Ucap Naya pelan tanpa membuka matanya sepertinya dia benar2 sudah mengantuk

"Engga kemana2 ko nay, udah bobo aja.."

Ternyata hpku mati, aku coba menyalakannya dan benar saja banyak bbm masuk dan panggilan tak terjawab dari Ibu dan Ka Dinda. Aku mengabari mereka dan terpaksa berbohong kalo aku malam ini menginap di rumah Rangga karena suatu hal. Maafin Dika ya bu.. ka Dinda.

Satu hal yg belum terjawab adalah tentang orang tua Naya yg tidak pernah kelihatan dan rumah ini seperti di tinggali hanya oleh Naya dan bibi. Aku ingin bertanya tetapi takut menggangu privasi Naya jadi aku urungkan niat itu.

**

"Ko ga tidur Dikanya?" Naya tiba2 terbangun

"Lagi jagain temen terbaik aku kan emoticon-Smilie" aku menatap wajahnya yg terihat lebih manis saat berantakan seperti ini

"Ga nyaman ya posisinya? Kita ke kamar aja ya" pinta Naya

"Ga enak sama bibi nay, udah di sini aja biar aman"

"Yaudah kita bobo ya, Dikanya jangan melek aja"
"(Cupp..)" sebuah kecupan kering Naya sematkan di daguku

Mata sudah tidak kuat lagi untuk memandangi wajah Naya dan melihat tv, tidak lama akupun ikut terlelap bersama Naya.


**
Pagi Hari
Quote:Naya : bener sampai sini aja ga mau sampe rumah?
Me : iya sini aja deh nay biar aman
Naya : makasih ya dik untuk waktunya
Me : iya sama2 nay
Naya : gua salut sama lu
Me : maksudnya?
Naya : iya gua salut sama lu di posis ada kesempatan yg bisa dibilang tepat untuk ngelakuin hal itu tapi lu tetep bisa ngejaga kesucian lu, gua gatau kalo cowok lain mungkin ga bakal sekuat lu
Me : makasih nay pujianya, masih pagi jangan bikin terbang ah belum sarapan takut jatuh hehehe
Naya : dasar lu ah orang serius jga😂
Me : hehehe.. yaudah aku lanjut ya, kamu hati2 dijalan
Naya : iyah dik, see you..


Naya melajukan mobil menyusuri jalanan yg terlihat masih sepi dan dingin ini, jam menunjukan pukul setengah 6 pagi kurang lampu2 jalanan juga masih menyala mempercantik jalanan pagi ini, terlihat beberapa tukang ojek sudah standby menjemput rejekinya pagi ini. Akupun memanggil salah satu dari mereka untuk mengantarku ke rumah yg jaraknya beberapa ratus meter lagi. Bapak tua dengan motor keluaran tahun 2000an menghampiriku dan menanyakan arah tujuanku.

"Oke siap de" jawab tukang ojek setelah aku menjelaskan tujuanku

Ada satu alasan kuat kenapa aku menjaga dan tidak berani berbuat sesuatu dengan Naya, disatu sisi dia nyaman denganku apabila aku melakukan hal seperti itu bakal menjadikan Naya bisa menuntut banyak denganku dan semakin tidak bisa merelakanku dengan yg lain sedangkan di sisi lain aku sangat nenghargainya dan ingin menjaganya tanpa memberikan noda. Bilang aja kamu tidak ada nyali atau memang cupu? Ah yg benar saja aku tidak cupu tetapi aku ingin menjadi teman yg baik untuk Naya dan tanpa mengikut sertakan napsu.


"Berapa pak?" Tanyaku ke tukang ojek sambil turun dari motor

"10 ribu aja de.." jawabnya meraih helm yg aku berikan

"Ini pak, makasih ya.."

"Sama-sama de.."

Terlihat mobil ayah tiriku sedang di panaskan, akupun melangkahkan kaki ke pintu rumah.

"Assalamualaikum... (tok..tok..tok..)" aku memberikan salam dengan tangan kanan aku masuk ke sweaterku

"(Kleekkk..) Waalaikumsalam " pintu terbuka dan terlihat ibu sudah berpakain rapih dengan tas kerja di tangan kirinya

"Di anter siapa nak?" Tanya ibu

"Rangga bu tadi langsung pulang anaknya.." aku berbohong lagi kepada ibu (maafin Dika bu)

"Yaudah masuk nak mandi terus sarapan ya.." ucap ibu tanpa memarahiku

"Bu tangan Dika..." belum selesai aku berbicara ibu sudah memotongku

"Nak ibu buru2 harus sampe kantor lebih awal lewat hp aja ya nanti kalo Dika mau apa2, sarapan udah jadi uang jajan minggu ini udah ibu titipan ke kaka kamu ya.. ibu berangkat dulu" ucap ibu sambil bergegas dan masuk ke mobil

"Eh Dika baru pulang,saya berangkat dulu ya sama ibu.." sapa ayah tiriku

"Iyah hati-hati di jalan.." balasku singkat

Ibu benar-benar sudah berubah dan sibuk dengan dunianya. Buat apa toh aku meminta dimanja seperti dulu kali ini semua sudah berubah dan aku harus terbiasa dengan kehidupan yg sekarang.

Aku masuk dan mencuci muka di wastafel lalu duduk di sofa dan menyalakan tv mencari acara kartun kotak berwarna kuning yg hidup di laut kesukaanku sejak kecil.

Suara burung gereja dan deru pesawat di atas rumah juga menjadi backsound lamunanku pagi ini.


Quote:"Oh udah pulang..." terdengar Suara Dinda di belakangku

"Eh ka Dinda, pagi ka.." sapaku kepada Dinda yg masih mengenakan handuk terlihat baru selesai mandi

"Nginep dimana?" Tanyanya memasang wajah jutek tidak seperti biasanya

"Rangga ka.."

"Yakin..??" Dinda duduk disampingku

"Iyah ka.."

"Ini sweater lu bau parfum cewek loh.. masa iya Rangga pakenya parfum cewek" Dinda menatapku dengan wajah tidak percaya

"Rangga memang kaya cewek ko ka.."

"Oh iyaa?? Tapi gua tau mana parfum cewek dan cowok meskipun cowok itu kaya cewek sekalipun.." Dinda tersenyum aneh kali ini kepadaku

"Udahlah jujur aja sama gua, gausah pake bohong.." lanjut Dinda masih belum puas mencercaku dan seperti psikolog yg bisa membaca ekpresi wajah




profile-picture
profile-picture
profile-picture
deawijaya13 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
profile picture
kaskuser
01-02-2019 17:45
emoticon-Wkwkwk mau ngeles apalagi Dik!! emoticon-Jempol for update nya gan..
15-01-2019 16:34
PART 10


Sampai di kelas teman2 sekelasku tidak berani meledekku lagi seperti awal tadi aku masuk. Mereka hanya menatap heran ke arahku dan Naya, mereka terdiam tanpa kata.

"Andre sama gengnya emang gitu, bukan sekali dua kali dia ngelakuin kaya gitu ke cewe, cuma karena bokapnya orang berpengaruh di daerah sini makanya ga ada yg berani nyentuh dia anak2 sini, dan gua salut sama lu berani ngebela cewek ini dan mempertaruhkan kenyamanan lu sekolah di sini. Cuma kedepan gua saranin lu kudu hati2 dan waspada sama geng dia, karena mulai hari ini lu udah sah jadi musuh prioritas dia" ucap teman cowok sekelasku tiba2 menghampiri dan memberikan obat merah kepadaku

"Oke makasih ya infonya, prinsipku sih simpel. Salah bakal aku lawan benar bakal aku kawal (dalam hati mah : matilah aku berurusan sama orang kaya mereka emoticon-Hammer)" jawabku so berani sambil mengambil minuman dan roti yg di berikan Naya

"Oh ya kenalin gua Rangga" ucapnya mengulurkan tanganya

"Dika.." balasku mengulurkan tangan kepadanya. Dan entah kenapa saat bersalaman jarinya dia digerak2an di telapak tanganku dan tersenyum aneh kepadaku. (Kembali aku mendapatkan senyum aneh sebelumnya dari Dinda saat pertama kali ketemu, kali ini dari seorang cowok emoticon-Hammer )

Naya mengambil obat merah ditanganku dan mengobati luka dibibirku dengan kapas yg dia bawa, dengan sangat hati2 dan lembut dia mengobati lukaku. Anak2 di kelas semakin terheran-heran dengan pemandangan yg mereka lihat. Naya begitu perhatian dengan luka yg ada padaku dan kali ini ia banyak bicara tidak seperti awal aku melihatnya. Mungkin juga itu yg mebuat teman2 sekelasku heran.

Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara yg terpasang disetiap sudut kelas, hari ini guru ada rapat jadi sekolah pulang lebih awal setelah pengumuman itu selesai dilanjutkan dengan bell pulang sekolah dan anak2 langsung berhamburan keluar.

"Lu balik naik apa? Mau bareng gua ga?" Rangga menawariku
"Oh ngga usah aku pulang sama kaka soalnya"
"Yaudah kalo gtu gua duluan ya, lu pulangnya hati2.. byee.." balasnya

Entah kenapa gua merasa cowok itu berbeda dari cowok lainya. Naya disampingku hanya tersenyum seperti ada sesuatu yg ia sembunyikan.

"Dijemput?" Tanya Naya
"Harusnya sih, cuma ini kan pulang cepet kakaku taunya kan pulang siang, coba aku tanya dulu deh"
"Yaudah.."

Quote:Me : ka lagi dimana?
Dinda : kantor dik, gua langsung kerja hari ini jadi gabisa jemput lu nanti balik. Lu berani kan balik sendiri? Tanya satpam aja kalo lu bingung
Me : semangat ya ka kerjanya, berani ko
Dinda : so pasti, yaudah hati2 ya nanti baliknya kalo ada apa2 kabarin gua, hati2 sama cewek dan cowok genit awas aja kalo sampe ternodai
Me : aman ka, kan yg lagi baca chat aku yg suka menodai aku mah :'v
Dinda : but u like it right emoticon-Stick Out Tongue
Me : :'v
Dinda : byyee :*


"Lu kenapa senyum2 sama hp?" Tanya Naya
"Hehe gapapa nay"
"Ko ada ya orang kaya lu, gimana dijemput ga?"
"Hehe.. engga nih paling naik angkot nanti"
"Yaudah lu bareng gua aja ya baliknya, sekalian gua mau ngucapin thanks jadi gua mau ngajak lu makan siang di rumah, mau ya"
"Eeeuh gimana ya?"
"Anggep aja sebagai tanda terimakasih gua, ya gua tau itu ga seberapa sih dan ga sebanding atas luka yg lu dapet"
"gua jarang loh ngajak temen kerumah apalagi cowok" lanjutnya
"Yaudah deh, rejeki gaboleh ditolak kata bapak aku"
"Makasih emoticon-Smilie"

Kami berdua keluar kelas, terlihat sebagian murid sudah pada keluar sekolahan. Badanku mulai kerasa sakitnya terutama di punggung dan perut yg tadi bertubi-tubi terkena tendangan dari Andre and the geng.


"Mas Dika kenapa mukanya ko lebam gitu?" Tanya Pak Sunandi satpam sekolahku
"Gapapa ko pak"
"Bener mas?"
"Iya bener pak"
"Terus mas Dika di jemput atau gimana pulangnya?"
"Saya bareng sama dia pak, jadi nanti kalo ada yg jemput atau nanyain saya bilang aja sudah pulang ya" pintaku sambil menunjuk Naya
"Oke siap mas, hati2 ya"
"Siap pak"

"Oh itu udah sampe dik, ayo.." ajak Naya

Sebuah mobil sedan berwarna merah marun sudah menunggu kami di depan gerbang, akupun pamit ke Pak Sunandi.

"Siang non.. kita langsung pulang atau kemana dulu?" Sambut bapak tua di balik kemudi
"Siang pak, kita ke klinik langganan kita dulu ya pak setelah itu baru pulang" Jawab Naya dengan suara lembutnya

Mobil berjalan menyusuri jalanan yg lumayan rame dari dalam aku memperhatikan seksama ke arah luar kaca, rumah dan gedung 3 lantai berjejer rapih seperti di negara2 sebelah, sangat beda suasana disini dan desaku.

Mulai hari ini mentalku diuji, memang benar hidup di kota tak selembut kehidupan di desa. Aku jadi mengingat kejadian satu tahun yg lalu, saat itu aku berselisih paham dengan temanku sendiri di lapangan depan sekolahku, sehingga aku harus diskors selama 1 minggu karena kejadian itu. Tetapi yg membuat kejadian hari ini dan satu tahun lalu sangat berbeda adalah respon teman-teman sekolahku. Waktu di desa semua mencoba merelai sangat berbanding terbalik dengan kejadian hari ini, semua seakan menikmati dan menjadikan itu sebuah tontonan.

Kami sampai disebuah klinik yg tidak begitu besar tetapi lumayan rame dikunjungi orang-orang. Terlihat Naya sudah akrab dengan dokter yg jaga disini. Sebelumnya aku menolak dibawa ke sini tetapi Naya kekeuh dan memaksaku untuk mengikuti kemauanya.

"Tidak ada yg perlu di khawatirkan, dan masih jauh sama nyawa. Nanti saya kasih obat biar cepet kering ya luka di hidungya" Canda Dokter perempuan yg memeriksaku dan membuatku tercengang mendengarkan jawabanya

Disampingku Naya hanya tertawa, baru kali ini aku melihatnya tertawa. Setelah mengambil obat dan mendengarkan anjuran dari dokter kami berdua keluar klinik dan kembali ke mobil.

"Oh iya pak aku lupa, mampir ke toko perlengkapan sekolah dulu ya sebentar" pinta Naya sebelum berjalan

Setelah sampai di tujuan ke dua Naya langsung turun dan entah mencari sesuatu apa di toko perlengkapan sekolah itu, sedangkan aku menunggu di mobil. Rasa pusing masih terasa ditambah badan yg makin ga karuan rasanya. Terlihat Naya keluar dari toko tersebut dengan membawa bungkusan ditanganya. Sekilas aku perhatikan wajahnya, dia manis dengan wajah kalem rambutnya yg terikat menjadikanya lebih anggun, tapi apa yg membuat dia dijauhi anak2 disekolah? Sejauh ini aku melihat tidak ada yg aneh dari dirinya.

"Sudah pak, ayo kita langsung pulang aja" ucap Naya sambil menutup pintu mobil
"Baik non.." jawab bapak tua itu sambil menatap spion dalam

Mobil kembali berjalan menyusuri jalan yg lumayan padat. Disampingku Naya hanya diam saja sesekali menatap ke arahku, terlihat wajahnya masih syok dengan kejadian di sekolah tadi. Mobil masuk kesebuah rumah lumayan besar yg terletak dipinggir jalan utama.

"Ayo masuk.." ajak Naya

Akupun berjalan mengikutinya dengan sebelumnya mengucapkan terimakasih ke pak supir. Rumah dengan taman yg tidak begitu besar di depanya tapi terlihat sangat rapih.

"Sudah pulang non?" Sambut perempuan sekitar umur 40an
"Iya bi udah"
"Bibi udah masak ikan kuah kuning kesukaan kamu, nanti makan ya"
"Iya bi, aku ke belakang dulu ya tolong buatin minum dua"
"Siap non.."


Aku hanya memberikan senyum ke ibu itu dan salim lalu Naya mengajaku ke belekang.

"Lu ada2 aja nih, masa salim ke bibi, dia bukan ibu gua" ucap Naya tertawa
"Oh aku kira ibu kamu emoticon-Big Grin gapapa deh lagi pula beliau lebih tua jadi kita sebagai yg lebih muda harus memberi hormat"
"Iya iya deh pak ustad, yaudah duduk, ini gua beliin seragam baru lu salin ya nanti baju lu yg kena darah taruh aja disini biar di cuci bibi" Ucapnya sambil memberikan bungkusan yg tadi ia beli
"Jadi ngerepotin ini jga kan bisa di cuci"
"Udah gapapa itu ga seberapa dengan apa yg udah lu lakuin buat gua, gua ambil air panas dulu"

Hari semakin siang, perut juga sudah mulai bunyi. Dinda kayaknya sibuk di hari pertamanya ia kerja.

"Diminum ya mas" ucap bibi
"Makasih bu, kamar mandi sebelah mana ya bu?"
"Sebelah sana mas" jawabnya menunjuk ke sebuah pintu yg sedikit lebih menjorok kebawah dibanding lantai sekitarnya.

Akupun bergegas untuk mengganti pakaian, saat aku membuka seragam sekolah yg aku kenakan terlihat beberapa lebam di perutku, punggung dan wajahku. Bilang apa nanti ke ibu dirumah ya, bisa2 aku di omelin habis2an kalo ketauan habis berantem. Selesai memakai seragam yg dibelikan Naya dan merapihkan rambut aku kembali ke meja dan terlihat Naya sudah berada disana dengan mangkuk didepannya.

"Makasih ya.." ucap Naya lembut
"Buat?"
"Semuanya.."
"Iyah sama2 emoticon-Smilie" jawabku duduk didepanya
"Sini gua kompres dulu yg lebam, itu udah makin biru"
"Pelan2 ya, oh ya mau nanya boleh?"
"Iya apa?"
"Kenapa mereka yg disekolah pada jahat sama kamu?"

Saat Naya ingin menjawab, hpku berbunyi. Ternyata sebuah telepon dari Dinda, aku meminta ijin ke Naya untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.
Quote:emoticon-phone
Dinda : lu dimana sekarang? Tadi gua telepon Pak Sunandi dia bilang lu balik sama cewek dan muka lu lebam2? Lu habis diapain? (Dinda bertanya dengan nada panik)
Me : (aku bingung mau menjawab apa)
Dinda : Dika jawab!! Lu sekarang dimana? Kenapa ga bilang ke gua kalo lu kenapa2 siapa yg bikin lu gitu??
Me : aku gapapa ko ka, ini aku lagi dirumah temen dulu sebentar lagi pulang, please ya jangan bilang ke ibu dulu soal ini
Dinda : jawab dulu siapa yg bikin lu kaya gitu dan siapa cewek itu??
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nitaita1406 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
profile picture
newbie
15-01-2019 17:24
Mantul gan, di tunggu lg kelanjutannya
18-07-2019 16:59
PART 25


Malam ini lumayan mendung, setelah merapihkan barang2 pribadi dan beberapa oleh2 dari bude untuk Ibu aku dan Dinda langsung memutuskan berangkat ke Jakarta malam ini dengan bus malam angkatan terakhir. Sebuah kabar baik aku dapat dari Rangga ternyata Naya sudah sadar dan tidak sampai terjadi hal yg tidak kami inginkan, syukurlah aku menghela nafas lega mendengar kabar itu, juga ada sebuah pesan dari Fera mengingatkan untuk hati2 dan menjaga diri. Siap ra pastinya, kamu juga ya ra jaga diri baik2 dari tangan nakal Cahyo, aku ga kuat membayangkan kamu dibuat tidak berdaya oleh tangan nakalnya dan kamu diam saja tanpa berontak emoticon-Frown Ah ap sih ko pikiranku jadi kotor kemana2 emoticon-Hammer

Sepanjang perjalanan aku tidak henti2nya memikirkan apa yg sudah terjadi dengan Naya karena tadi Rangga tidak memberi tahu dengan detail apa penyebabnya sehingga Naya bisa sampai tidak sadarkan diri. Besok saat aku sampai sana, aku bakal langsung mencari tahu agar semua rasa penasaranku ini terjawab.

**

Bus melaju tanpa hambatan, hujan turun dengan sangat deras dan mengalir di kaca samping dengan sangat indah. Suhu ac yg tadinya masih biasa kali ini bertambah semakin dingin menusuk kulit. Dinda di sebelah kiriku juga sudah terlelap entah kenapa aku sangat suka menatap wajahnya saat tertidur seperti ini ditambah bibir tipisnya yg berwarna merah muda itu membuatku betah berlama-lama memandanginya dan juga pipinya yg mulus itu membuatku ingin mengelus lembut seperti kemarin, tetapi aku tidak tega kalo membuatnya kentang seperti kemarin lagi, maafkan adikmu ya kak, semua kan kaka juga yg ngajarin emoticon-Hammer

Tembang tarling selalu menjadi teman setia perjalan dengan bus malam ini, hingga mataku sudah tidak kuat menahan kantuk dan ikut terlelap seperti Dinda.

Skip..

JAKARTA

Pagi ini aku sudah menghirup udara Jakarta yg tidak begitu segar, hari ini adalah hari senin ibu dan si Om seperti biasa sibuk bersiap diri untuk urusan dan pekerjaanya masing2 (entah kenapa aku belum bisa memanggil dia dengan sebutan ayah sejauh ini, hati ini belum bisa menerima). Dinda masih tertidur pulas di kamarnya karena memang hari ini dia masih cuti kerja.

"Urusan sekolah kamu dan teman2 kamu hari ini bakal diselesaikan Ayah ya nak, jadi besok kalian bertiga bisa masuk ke sekolah baru kalian" ucap Ibu sambil menaruh susu di meja makan

"Oh iya bu makasih.." jawabku menuruni tangga

"Kamu bilang makasihnya sama ayah dong.." perintah ibu

"Makasih ya om.." ucapku singkat tanpa menatapnya

"Kamu ini ya nak mau sampe kapan kaya gitu?" suara ibu sambil menghela nafas

"Udah gapapa bu, ayah berangkat duluan yah.. Dika om berangkat ya.." ucap laki2 itu

Aku hanya tersenyum tipis lalu laki2 itu atau lebih tepatnya Ayahnya Dinda pun bergegas pergi.

"Tumben ibu ga bareng.." tanyaku sambil duduk dibarengi tangan mengambil singkong goreng, salah satu makanan kesukaanku

"Ibu berangkatnya siang nak, gimana kemarin bu de pada sehat kan?"

"Iya semua sehat.."

"Oh syukur deh.. kamu pagi2 gini urah rapih banget mau kemana?"

"Mau nengokin Naya bu.. Dika berangkat dulu ya"

"Ga nunggu ka Dinda bangun dulu, minta anter? Kamu kan belum begitu apal daerah sini"

"Gausah bu, kasian ka Dinda masih kecapean Dika juga pasti ga bakal nyasar ko, kan ada ojek.."

"Oh yaudah hati2 ya nak.."

**

Rumah Naya

Akupun sampai di rumah Naya setelah membayar ojek aku juga tidak lupa membawa buah yg tadi aku beli di jalan menuju ke sini. Rumah Naya seperti biasa, sepi dan seperti tidak ada kehidupan dan mobil merah marun yg biasa terparkir di garasi juga kali ini tidak ada. Sudah tiga kali aku memencet bell tetapi belum juga ada yg membukakan pintu jangan2 masih pada tidur, tapi mana mungkin Bibi jam segini masih tidur.

"Tin..tin..."

Sebuah suara klakson mobil mengagetkanku, akupun menengok ke belakang terlihat pak Ahmad dan Bibi keluar dari mobil sembari membawa belanjaan, pantas saja dari tadi tidak ada yg membukaan pintu ternyata Bibi sedang keluar.


"Eh mas Dika, udah lama ya?" Sapa bibi tersenyum ramah
"Belum ko bi, sini Dika bantu.."
"Makasih mas, sebentar ya Bibi buka pintunya"
"Oke bi, Naya ada kan bi?"
"Ada mas mungkin masih tidur, udah kangen ya mas Dika sama non Naya?" Bibi menggodaku
"Khawatir bi, soalnya kemarin dapet kabar Naya ga sadar makanya Dika pagi2 langsung kesini.."
"Non Naya udah gapapa ko mas, ayo masuk mas.."

Kami pun masuk dan menaruh belanjaan bibi ke dapur, bibi menyuruhku duduk dan aku meminta beliau untuk melihat Naya di kamarnya.

"Mas Dika di suruh ke kamarnya aja katanya.."
"Memang Naya masih drop bi? Naya sebenernya kenapa bi?"
"Udah engga ko mas, yaudah mas Dika ke kamarnya aja sekalian bawa aja ini buah yg mas bawa, nanti bibi buatin minum" jawab bibi tanpa mau memberi tahuku alasan sebenernya
"Yaudah bi, makasih ya sebelumnya.." jawabku masih bertanya-tanya

"Tok..tok..." aku mengetuk pintu kamar Naya

"Masuk aja.." jawab Naya dari dalam

Naya tersenyum kepadaku dengan mata seperti garis saja (kelewat sipit) dan rambutnya terurai tidak beraturan, mirip pemain film jepang favoritku deh kalo lagi kaya gini emoticon-Genit emoticon-Hammer sangat manis senyumanya terlihat pagi ini meski baru bangun tidur dan masih berantakan. Seperkian detik aku dibuat terpesona olehnya, baju tidur lengan pendek bermotif doraemon membalut tubuhnya pagi ini.

"Sok manis kamu nay.."
"Yee apa sih, engga.." jawabnya tersipu malu dan pipinya memerah seperti biasanya kalo aku tatap lama dan ledek
"Kenapa bisa gitu?" Tanyaku serius
"Gua udah gapapa ko.." jawabnya menunduk
"Oh oke gapapa kalo kamu juga gamau cerita.."
"Gua udah gapapa, bener deh.." jawabnya meyakinkan
"Yah percuma dong aku bawa buah, yaudah deh aku kasih bibi aja.." ledeku ke Naya mencairkan suasana yg sedikit tegang
"Ishh jahat ya, berharap gua kenapa2 berarti ,-"
"Bercanda jepangkuh emoticon-Big Grin" aku sambil meletakan buah di nakas
"Lama banget si di kampung??!"
"Ciee... ada yg kangen Dika"
"Rangga ya kangen bukan gua"
"Biasaan deh kalo lagi bohong gamau natap aku, se horor apa sih wajah aku emoticon-Hammer?" Aku duduk di depanya
"Maaf.."
"Maafnya sambil natap dong.."
"(Naya menatapku dan tersenyum)"
"Nah gitu dong, kan makin manis, jadi sukak deh liatnya aku.."
"apan sih, pagi2 udah gombal aja emoticon-Embarrassment"
"Udah sana kamu mandi anak perawan kok jam segini belum bangun kalah sama aku yg cowok emoticon-Big Grin"
"Perawan..??" Ucapnya pelan lalu menunduk

Naya tiba2 menatapku dalam setelah mendengar ucapanku dan terdiam tanpa kata.

"Nay.. kok diem? Ada yg salah sama kata2 aku?"
"Nay.." panggilku lagi sambil tanganku aku gerak2an di depan wajahnya

"Eh iya dik, gua cuci muka sama sikat gigi sebentar ya.." Naya tiba2 langsung bangun dari tempat tidurnya dan langsung ke kamar mandi yg juga berada di dalam kamarnya.

Semakin banyak pertanyaan yg terlintas di otaku. Sekilas tadi aku lihat juga badan Naya tidak ada bekas luka. Sebenarnya apa yg Naya sembunyikan dariku? Otaku terus bertanya2 dan mataku menatap ke seluruh sudut kamar Naya sampai mataku terhenti di sebuah poto anak keci yg berada di meja rias yg terbingkai indah, sepertinya itu poto Naya saat masih kecil, lucu dan ternyata memang benar dia sudah putih sejak kecil. Aku pikir putihnya suntikan emoticon-Hammer

Naya pun selesai dan sekarang duduk di depan meja rias. Wajahnya seperti ada beban yg disembunyikan

"Ada apa nay? Ada masalah?" Tanyaku
"Dika tulus kan temenan sama Naya?" Ucapnya tidak biasa dengan menyebut nama masing2
"Ko nanyanya gitu si kamu nay?"

("Kleeekk..")

Pintu kamar terbuka, ternyata Bibi membawakan sarapan untuk Naya.

"Permisi non.. ini sarapanya ya, ini susunya buat mas Dika, diminum ya mas.." ucap Bibi
"Makasih bi.." jawab kami berbarengan
"Ciee emang sehati deh ini.." ucap Bibi bercanda
"Apa sih Bibi dasar hehe.." Naya tertawa kecil
"Hehe.. yaudah Bibi ke dapur lagi ya non.."
"Iyah bi.. makasih ya" jawab Naya

("Kleeekk..") pintu kembali tertutup

"Di ruang belakang atau depan tv aja yu nay, ga enak sama bibi berduaan gini di kamar"

"Gapapa disini aja, bibi percaya ko sama lu lagian emang kita mau ngapain emoticon-Wink"
"Ketawanya gausah dimanis2in deh, sok manis banget dari tadi"
"Apa si, engga juga.." jawabnya tersipu malu
"Dasar tuan putri emoticon-Big Grin sini aku suapin aja.."
"Gausah gapapa sendiri aja, ngerepotin nanti" jawabnya malu2
"Oh yaudah bagus deh jadi aku ga cape emoticon-Big Grin"
"Ish kan emang gapernah tulus lu mah sama gua.."
"Yey dasar wanita, selalu saja laki2 yg tersalahkan emoticon-Nohope udah sini aku suapin aja, kalo gamau aku yg makan nih.. "
"Iya deh iya mau.. emoticon-Embarrassment"
"Pake malu2 segala kamu mah emoticon-Big Grin doa dulu sebelum makan nay jangan lupa.."
"Makasih ya lu selalu ngingetin gua meskipun kita beda.." jawabnya tersenyum lalu mengepalkan tanganya.

Naya makan dengan lahap sepertinya memang lapar atau karena ikan kuah kuning favoritnya yg Bibi masak.

"Cobain deh, enak tau.." perintah Naya
"Ga ah ga sopan main nyobain makanan kamu.."
"Gapapa ko, coba deh pasti enak"
"Ga usah nay buat kamu aja"
"Jijik dan takut ya karena kita beda? Tenang aja dik rumah gua gapernah masak B2 kok.."
"Bukan, bukan gitu nay maksudnya, cuma ga enak dan ga sopan masa main makan sarapan kamu.."
"Kan aku yg nyuruh emoticon-Smilie"
"Cieee aku.. manisnya emoticon-Kiss (S)"
"Gombal terus dia mah.." ucapnya malu2
"Iya engga ini aku cobain deh emoticon-Big Grin" jawabku sambil memasukan sendok ke mulutku

"Gimana? Bener kan enak?" Ucap Naya menatapku dengan wajah antusias menunggu jawaban dariku
"Mmm... Kurang.."
"Masa sih? Kurang apa? Ga enak ya? Berarti selera gua rendah ya?" Tanya Naya bertubi-tubi
"Emmmm.. kurang banyak nay maksudnya emoticon-Big Grin wleee kena kamu.. emoticon-Wink"
"Kan kan emang ngeselin anak satu ini ,- sebel ah males!! ,-"
"Hehe.. emoticon-Big Grin jadi laper nay.."
"Yaudah ini kita abisin berdua nanti kalo kurang kita ambil lagi, sini sekarang gua yg nyuapin lu.." Naya mengambil alih piring, menang banyak deh.. ucapku dalam hati emoticon-Hammer

Entah kenapa semakin hari aku semakin kagum saat melihat senyumnya juga saat di dekatnya seperti ini, tingkahnya yg lucu dan suka malu2 terkadang membuatku gemas sendiri. Apa mungkin aku udah mulai bisa melupakan Fera dan mulai ada rasa dengan Naya? Ah masa iya aku suka sama Naya kan aku sudah berjanji bakal menjaga pertemanan kita dengan baik agar kelak tidak ada sakit hati dan tidak ada yg berubah dari pertemanan kita yg sudah terjalin baik ini, lagi pula aku malas bermain hati dengan perempuan pasti endingnya sakit2 juga. (Reader : jangan2 Dika beralih ke cowok nih emoticon-Betty (S) emoticon-Ngakak (S))


"Udah dong dik, gua lemes.."

Akhirnya aku dan Naya sama2 lemas, lemas karena tidak henti2nya kami makan di barengi bercanda dan saling mengolok satu sama lainya, senang rasanya melihat Naya teetawa lepas dan bahagia seperti ini, jauh berbeda saat di sekolah lama kami dimana dia selalu diam dan murung karena perlakuan tidak baik teman2nya. Semoga saja di sekolah barunya nanti dia di perlakukan baik dan selalu tertawa lepas seperti ini meski sedang tidak bersamaku.

Entah kenapa makan satu piring berdua terasa lebih nikmat, gimana tidak nikmat makan berdua di kamar cewek manis dan disuapin lagi emoticon-Genit emoticon-Hammer
Naya ijin untuk mandi dan menyuruhku untuk tetap stay di sini karena ada hal yg harus aku kerjakan, coba tebak apa? Aku dimintain tolong oleh Naya untuk memasukan benang ke jarum, sudah berulang kali aku emut dan basahi tetapi tidak kunjung masuk juga benang ini ke jarumnya emoticon-Hammer

"Nay ada gunting ga?" Aku mendekat ke pintu kamar mandi
"Apaaahhh??" Teriak Naya dari dalamnya (memang dasarnya lembut ya teriak aja merdu dan enak didenger emoticon-Genit)
"Gunting dimana?"
"Oh gunting, di laci lemari cari aja.."
"Okee.."

Satu persatu laci aku buka dan tidak kunjung menemukanya, tadi Naya bilang laci lemari kan ya? Berarti laci yg ada di lemari, kenapa aku nyari yg disini, aku menggerutu sendiri emoticon-Hammer
Aku membuka lemari sleding yg lumayan besar dan akhirnya aku menemukan 2 tumpuk laci di dalamnya, nah ini dia gunting yg aku cari. Ini apa ya? Aku berbicara sendiri karena penasaran dengan 2 box putih yg bertumpuk tepat di sebelah dimana aku menemukan gunting, sepertinya aku tidak asing dengan label yg ada di box ini. Dan benar saja ini adalah obat berlambang K yg harus menggunakan resep dokter saat menggunakanya tapi untuk apa Naya menyimpan obat seperti ini dan sebanyak ini, atau jangan2 Naya.. ah tidak mungkin, aku tidak boleh berpikir negatif lagipula mana mungkun cewek kaya Naya menyalahgunakan obat2an seperti ini.

"Jangan buka itu!!" Teriak Naya mengagetkanku yg baru saja selesai mandi

"Kenapa? Kok kamu panik gitu?" Tanyaku berdiri dan menatapnya

"(Naya menunduk dan wajahnya seketika berubah)"

"Jawab nay, aku tau banyak yg kamu sembunyiin dari aku, jangan bilang kamu tidak sadarkan diri karena obat ini??!"

"Maaf, tapi inilah gua yg sebenarnya.." jawab Naya menunduk dibarengi air mata menetes di pipinya

"Kamu bercanda kan? Kamu ga serius kan?" Aku sangat berharap kalo yg dia bilang hanya lelucon dan akting belaka

"Gua ga se bersih yg lu kira dik, dan bukan hanya itu saja.." Ucap Naya sambil menunjuk 2 box obat yg aku temukan

"Ya Tuhan Nay... kenapa bisa sih? Apa yg ada di pikiran kamu, kamu tau kan apa efeknya??" Jawabku shock dan masih tidak percaya

"Maaf, gua bakal jelasin semua ke lu dik dan gua juga bakal buka jati diri gua yg sebenernya. Gua udah siap lu tinggalin dan jauhi saat nanti gua membuka semuanya dan lu tau tentang gua yg sebenernya. Karena memang itulah yg selalu gua dapatkan, ditinggalkan dan dijauhi oleh orang2 yg gua sayang dan orang2 yg awalnya baik juga orang yg gua pikir tulus berteman sama diri gua yg hina ini.." ucap Naya yg benar2 membuatku bingung

"Maksud kamu apa sih nay??"

Quote:"Duduk yah, banyak sesuatu yg bakal gua kasih tau ke lu dan bakal bikin lu jijik sama gua pastinya.. mungkin juga bakal bikin lu ngga sudi berteman sama gua lagi" ucapnya sambil menyuruhku duduk dan Naya mengambil sesuatu dari dalam lemarinya
Diubah oleh d11kaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 30 lainnya memberi reputasi
31
profile picture
kaskuser
20-07-2019 10:32
@Martincorp bg itu si jasinta juga kentang nohhhh!!!!!! Beli susu buat apaan???
Yg ini juga si mas'e...itu obat apaan coba????
profile picture
kaskus addict
19-07-2019 08:10
Aduh bang dika ngasih kentang kw super kualitas import lagi nihemoticon-Frown

Ijin Mau nebak penyakitnya naya ah
1. Kanker serviks
2. Sifilis
3. Depresi
4. AIDS
5. Keputihan
6. Hemoroid
7. Trauma pada a**s
profile picture
newbie
18-07-2019 21:35
Gan kalo bisa updatenya sehari sekali dong

Jangan dibuat penasaran begini
profile picture
kaskus addict
20-07-2019 19:08


@alvicenasanjaya wadaw... Ada yg nagih kentang disini wkwkwkwk
Minggu depan om ane panen lagi
Yg jelas susu sama obat tuh sama2 buat diminum emoticon-Ngakak
profile picture
kaskus addict
19-07-2019 14:06
Obat ARV mungkin, yg buat penderita aids.
Secara sampe dikucilkan juga
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lima-belas-menit
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.