Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
88
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c17c85eaf7e93150d5ca9c0/ruang-kosong
Aku Diana, seorang jurnalis majalah seputar politik Indonesia. Sebut saja majalah Record. Namaku tidak seharum jurnalis kebanyakan, walaupun nyatanya aku sudah berusaha semampuku. Lagian aku pikir mimpiku sudah sangat sempurna. Sederhana saja, menjadi seseorang yang ber
Lapor Hansip
17-12-2018 23:01

RUANG KOSONG (Fiksi, Crime, Romance, Friendship, Family)

Past Hot Thread
RUANG KOSONG


-SISI EKSTRIM KEBAIKAN DAN KEJAHATAN-


Prolog

Prolog-nya nih.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
RUANG KOSONG
17-12-2018 23:19

Mohon bantuannya yah. Agan dan Aganwati. ane newbie banget disini.

semoga tulisannya bisa berdampak positif bagi kita semua.



emoticon-Sundul Upemoticon-Sundul Up :


Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
official.pj dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
17-12-2018 23:59
Bab 1; episode pertama.


Aku menghirup napas dalam-dalam– mengeluarkannya cukup keras, kali ini untuk memberikan kode pada temanku yang sedang asik menerangkan, bahwa aku sudah mulai bosan mendengar celotehannya dan badanku bahkan sudah menolak apapun itu yang keluar dari mulutnya, apa dia tidak lelah terus menerus berbicara selama 3 jam penuh? Heran. Saking asiknya dia bergulat dengan kata-katanya, dia lupa bahwa respon yang aku berikan terbilang minim, hanya ‘oh’ ‘gitu’ ‘iya’ atau sekadar manggut-manggut malas sambil memainkan mouse komputer di depanku.

Di ruangan yang tidak cukup besar, bisa dibilang sepetak. Hanya ada 2 meja kerja dan beberapa peralatan kerja lainnya, dalam satu kantor yang terisi oleh beberapa sekat, seperti aquarium, jelas saja itu membuat ruangan seakan tambah sesak. Aku memiliki ruangan yang sama dengan Roy. Walaupun sebenarnya di ruangan itu ada AC. Tapi, gema suara yang dihasilkan oleh Roy membuat kepalaku ini pening dan muak. Andai saja di dunia nyata bisa memblokir orang, maka orang pertama yang akan di blokir pasti Roy. Tekad sudah bulat.

“Hey! Bisa kali, dengerin dulu, gue lagi cerita. Ini penting!” Bentaknya.

“Apa sih yang lebih penting dari jatah makan siang gue yang udah kelewat 1 jam?” Aku tersenyum sinis, sepertinya kata-kata sarkastik yang keluar tadi sudah membuat dia sadar dari virus bawel yang membuatnya terlihat seperti monster terompet saja. Imajinasi liar. Aku gak bisa menahan tawa ketika membayangkannya. Dia tercenung, seperti baru waras dari segala kesurupannya. “Hey! Jangan ketawa, cebol—’’ Dia menyikutku pelan. “Ya, udah deh ke kantin yuk.” Emang sulit dipercaya laki-laki yang menyebut diriku cebol ini, tingginya cuma beda 5 cm, malu-maluin. Aku memukul lengannya cukup keras. Merasa tidak terima oleh makiannya barusan. Dia berpura-pura seperti sedang kesakitan. Dasar penjilat, rutukku.

Dari sekian banyak orang yang bekerja di divisi lapangan, kenapa harus dia yang menjadi partner-ku untuk meliput setiap kejadian olah perkara sih? Sekali lagi, aku merutuki nasib sialku sendiri sambil berlalu mengikutinya untuk pergi ke kantin. Koridor tampak lengang. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Wajar saja, kita istirahat 1 jam lebih telat dari yang lainnya. Dia berjalan terlalu cepat, kaki pendekku ini tidak bisa menyusul ketertinggalan, bukan berarti aku mengaku cebol loh! Sosok Roy udah gak keliatan, Aku menyerah dan mulai berjalan santai saja. Ditengah perjalanan menuju kantin, Aku gak sengaja mendengar sebuah percakapan orang sedang mengobrol. Muncul dari ruangan Pak Surya, seseorang yang mempunyai pengaruh besar terhadap perusahaan ini. Beliau adalah penasihat yang paling dipercaya oleh direktur.

Karena rasa penasaran yang terlalu besar, akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan langkah di depan kantornya. Syukurnya, koridor di sekitar situ juga sedang sepi, jadi gak akan ada siapapun yang tahu kalau aku mempunyai niat untuk menguping pembicaraan orang lain. Tapi, bukan maksudku ingin menguping, salahin aja Pak Surya, Kenapa mengeluarkan suara yang begitu nyaring? Ya, aku berusaha menemukan alibi atas perbuatan lancangku ini. “Baiklah, Pak. akan Saya urus semua berkas-berkas rahasia yang dimiliki redaksi ini. Secepatnya akan saya berikan pada Bapak, jikalau data-data sudah sesuai standar.” Tuhkan! Aku sudah menyangkanya sejak awal, ada yang gak beres dari gelagat Pak Surya ini. Sepertinya Pak Surya lagi ngobrol sama orang yang ia panggil Bapak, ada kemungkinan, orang itu punya jabatan sederajat dengan direktur atau bahkan mungkin punya kekuatan yang lebih dari itu.

Entahlah, pikiranku sudah mengembara terlalu jauh. Pusing sekali memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan terkelam. “Apa mungkin dia itu seorang pengkhianat?” Gumamku lirih, antara percaya dan tidak pada hipotesa terburu-buruku kali ini. Membuat opini secepat ini bukan sesuatu yang bijak.

“Siapa yang berkhianat, Di?” Deg! Jantungku rasanya mau pecah aja, saking kagetnya.

Aku menoleh ke belakang dengan perlahan. Sudah mempersiapkan yang terburuk. Bulir-bulir keringat sudah membasahi dahi sejak tadi. Aku merasa tubuhku sedikit lemas dan tanganku membeku. Jika melihat cermin, kayanya aku terlihat seperti hantu. Pucat pasi. Tidak ada darah yang ingin mengalir lagi. “Ah, cuma lo, Roy,” desisku. “Gue kira siapa tadi, ngagetin aja lo, rese.” Ada perasaan lega campur kesal berkumpul menjadi satu kesatuan yang selaras. Merasa jengkel, kenapa harus ada dia sih di situasi sakral kaya gini? Tapi, ada untungnya sih, kalau direktur yang mergokin, kan, bisa bahaya.

Mulai merasa tenang, aliran darah pun mengalir normal lagi. Aku mencubit lengannya, kulihat dia meringis. Rasain deh, itu balasan karena bikin aku hampir mati berdiri dan juga balasan karena sudah membuatku bosan mendengarkannya berceloteh seharian tentang tokoh pahlawan super kebanggaannya itu. Heran deh, Kenapa harus berambisi sama tokoh pahlawan fiksi macam gitu? Aku menggelengkan kepala, lalu menyeretnya.

“Hey, jangan di seret dong. Jelasin dulu sama gue. Kenapa lo ada di depan kantor Pak Surya? Lo mau ngu-”

“Jangan sembarangan kalo ngomong!”

“Pil! Ngupil, Di. Sensi amat, dih.” Aku langsung menyumpal mulutnya dengan tangan.

Nguping emang gak sopan sih, seenggaknya aku bisa menyelamatkan kantor dari pengkhianatan yang perih nantinya? Entahlah, bahkan kalau aku memberi tahu pada semua orang pun belum tentu mereka percaya, yang ada nanti malah aku yang kena pecat.
Tugasku disini untuk menegakkan keadilan bagi rakyat, menolong kantor ini bukan termasuk tugasku, kan? Bingung. Sudahlah, berhenti berpikir terlalu jauh. Sekarang aku hanya butuh makan siang. Habis itu boleh deh mikirin jalan keluarnya. Aku harus memastikan gak ada yang tahu dulu soal ini, sebelum ada bukti yang menguatkan dugaanku.

“Lo tuh seneng banget sih ngasarin gue.” Rengek Roy. Duh. Astagfirullah. Pemandangan yang menjijikan ini berhasil membuyarkan semua pikiranku. Seorang wartawan seperti Roy melakukan hal imut kaya gitu udah cukup buat perut mual. Pengen rasanya menghapus adegan tadi. Anggap aja itu musibah deh. “Terserah lo deh.” Ketusku, acuh. Akhirnya, kita pun berjalan ke kantin dengan pikiran masing-masing. Ada yang aneh sama Roy, dia kaya lagi mikir keras. “Serius amat sih, gak pantes tau lo pasang muka kaya gitu.” Candaku. “Serba salah ih, heran lo mah. Diem salah, ngomong terus apalagi. Gue juga bisa serius, Diana, emang lo doang yang boleh serius. Ngebosenin deh lo!” Aku hanya mendelik, sama sekali gak nyangka bakal dapet balasan kaya gitu. Takut aja sih, kalau seriusnya Roy kali ini tuh gara-gara mikirin kasus nguping tadi. Gimana kalau mulut embernya tuh nyampe ke atasan? Pasrah deh, mau gimana lagi.

Langkah kita berirama. Tapi, gak ada lagi satupun dari kita yang ingin mengeluarkan suara selain suara langkah kaki dan helaan napas panjang-panjang. Setiba di kantin, aku lihat Roy langsung memesan makanan dan duduk di pojok paling kanan, melambaikan tangan agar aku segera menyusulnya. Jujur aja, nafsu makanku sudah meredup sejak tadi.

Tapi, perutku gak bisa bohong, dia meneriaki minta diisi. Aku memesan makanan sekenanya, berjalan pelan menghampiri Roy. Pemandangannya sama seperti di koridor, di sini pun terlihat lengang. Tampaknya hanya beberapa orang yang duduk-duduk sambil rapat dadakan. Gak ada yang terlihat sedang makan siang. Jelas saja, berkat Roy aku kehilangan momen makan siang bersama teman-teman yang lain. Terimakasih loh, Roy! Batinku berteriak sambil memberikan tatapan seperti harimau sedang memangsa sang korban. Duduk di depannya, masih dengan tatapan yang sama. Kita seperti sedang battle rolling eyes.

Beberapa saat kemudian, makanan datang, tampak wajah ibu kantin yang sudah kelelahan. Walau begitu, dia tetap berusaha tersenyum padaku dan juga Roy yang sejak tadi melihatku seperti melihat maling. Risih sekali rasanya. Kita makan dengan pelan-pelan dan sedikit kikuk, Roy masih saja melihatku dengan tatapan itu. Kayanya udah cukup deh, rasanya udah mulai gerah sama sikapnya dan situasi kaya gini. “Roy, bisa gak sih lo gak ngeliatin gue kaya gitu.” Tegasku.

“Hah? Kaya gimana?”

Sedikit geram, “Gitu!” Aku menunjuk matanya.

“Oh.” Entengnya.

“Gue bukan bandit kali, Roy.”

“Lo lebih buruk dari itu.” Santai banget dia ngomongnya, kaget banget aku sama pernyataannya itu. Gak ada satupun pembelaan yang keluar dari mulutku setelahnya. Ragu untuk membuat keputusan. Lebih baik, kalau cerita soal Pak Surya, aku simpan sebagai rahasia. Roy bukan orang yang mudah percaya, apalagi sama aku, teman bertengkarnya. Ini tuh bukan sesuatu yang gampang buat dibeberkan ke sembarang orang, bukan berarti aku gak percaya sama Roy, tapi, cari aman aja. Posisi dia masih samar di sini.

“Udah deh, gak usah disembunyiin. Gue udah duluan tahu soal pak tua itu, kali ini dia bertingkah aneh lagi, kah?” Aku melotot. Roy?! Karyawan teladan yang dekat sama Pak Surya aja bisa mikir hal yang sama denganku? Dunia oh dunia. Benar-benar sulit dipercaya.
Anehnya lagi, aku sering sekali tenggelam dan tersesat dalam pikiranku sendiri. Kali ini jelas sekali aku melihat sebersit senyum sinis yang menyiratkan kepuasan dimukanya, membuatku sedikit merasa jengah dan bodoh. Selama ini dia tahu kejahatan Pak Surya, tapi sama sekali gak ada rasa empati? Apa-apaan sih dia? Ngakunya seorang jurnalis yang haus kebenaran, faktanya malah berkata lain.

Selain itu, aku sama sekali tidak menyukai caranya berpenampilan. Terlalu metrosexual untuk seorang jurnalis. Dia lebih terlihat seperti anggota boyband. Miris. Siapa dan apasih barometernya? Sungguh memalukan. Dengan penampilannya itu, sepertinya, dia lebih pantas menjadi selebgram ketimbang orang yang bekerja di belakang layar. Terserahlah. Sejak kapan aku menjadi komentator style gini?

“Diana... Diana.... Di!” Aku tersadar dari lamunan tentangnya yang cukup panjang. Aku tekankan, jika saja dia memang benar menjadi seorang selebgram. Pastinya, aku adalah orang pertama yang bakalan jadi haters-nya. “Ah, maaf...” Ucapku cepat.

“Apasih yang lagi lo lamunin? Gue udah manggil lebih dari 10 kali dan tanpa respon.” Tampak sekali dari wajahnya kalau Roy sedang kesal. Entah kenapa, kali ini aku merasa senang sudah membuatnya kesal. Rasain tuh, dasar monster terompet bawel. Lo gak termaafkan.

“Lo gak penasaran nih soal Pak Surya?”

Aku menggeleng. “Gak.”

“Yakin?” Nadanya seperti mencemooh ketidaktahuanku selama ini mengenai Pak Surya. Kalau nanya, aku yakin dia gak bakal dengan mudah memberikan jawabannya gitu aja. Dia pasti bakal mempermalukanku dulu, itu sudah menjadi tabiatnya. Kelak reputasiku bakal rusak. Aku akan lebih bersabar dan mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, seorang diri tentunya. “Hm, gue gak butuh info dari lo. Simpan aja omong-kosong itu. Gue mau nyari tahu semuanya sendiri.” Kesombongan dan rasa percaya diri sudah mengalahkan semuanya. Ego akan membuatku terlihat seperti orang yang begitu emosional di depan Roy. Aku tak peduli soal itu. It’s my pride. Lagian, tidak ada jaminan apakah perkataannya itu fakta atau hanya karangan delusi yang dia buat sendiri. Sama sekali tak ingin mengambil resiko apapun.

“Ya, udah sih. Toh, lo sendiri yang bakal rugi.” Dia ketawa sambil berlalu. Aku terpaku. Entah, apa semua pilihanku ini tepat atau tidak. Setidaknya, sekarang aku bebas dari mahluk paling menyebalkan di muka bumi ini. Kalau aja dewa air berpihak padaku. Aku akan memintanya untuk membuang Roy ke Neptunus! Nah, tempat yang paling dasar kalau bisa.

Emang dewa air itu nyata, kah? Itu cuma dongeng sebelum tidur. Tersadar. Di sini cuma tinggal ada aku dan ibu kantin. Sepi banget pokoknya. Aku melirik jam tanganku. Oh, pantes. Udah hampir jam tiga sore. Waktunya untuk aku menyelasaikan deadline yang harus di serahin besok pagi. Kayanya sih, aku mau minta izin pulang lebih awal aja hari ini. Tak ingin melihat wajah menyebalkan itu lagi. Karena terlalu banyak yang di pikirin, dunia udah kaya komidi putar aja, dufan. Aku belum shalat dzuhur nih. Udah hampir memasuki waktu Ashar. Sebelum pulang sepertinya sembahyang di kantor itu ide bagus, dan mudah-mudahan gak ketemu lagi sama monster terompet itu lagi. Semoga saja.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
18-12-2018 00:50
menarik nih, nunggu lanjutan nya
0 0
0
RUANG KOSONG
18-12-2018 02:48
Quote:Original Posted By rfqmaulana07
menarik nih, nunggu lanjutan nya


Makasih sista. emoticon-Shakehand2
0 0
0
RUANG KOSONG
18-12-2018 09:30
ane subs dlu deh bacanya nanti kalo udh ada waktu luang, kayanya menarik nih emoticon-2 Jempol
0 0
0
RUANG KOSONG
18-12-2018 17:01
Quote:Original Posted By reallylovedaw
ane subs dlu deh bacanya nanti kalo udh ada waktu luang, kayanya menarik nih emoticon-2 Jempol


Makasih gan... Nanti malem insyaAllah mau update bagian 2 nya emoticon-Shakehand2
1 0
1
RUANG KOSONG
18-12-2018 20:38
Bab 1; episode kedua



Allah sepertinya sedang memberikan ujian yang bertubi-tubi padaku hari ini, entah dosa apa yang membuat kesialan demi kesialan datang satu persatu tanpa belas kasihan. Setelah seharian direcoki oleh monster terompet, terus harus berurusan dengan masalah Pak Surya, apesnya lagi kena marah sama koordinator divisi lapangan, katanya minta pulang lebih awal saat deadline sudah manggil-manggil minta dituntaskan itu ide yang konyol.

Boro-boro dapat ide buat beresin laporan, Otak udah kalut banget. Padahal, kalau aja gengsiku gak segede ini sama Roy, mungkin sekarang gak akan kedinginan ditengah senja, bermuram durja meratapi nasib sambil memandang daun di tepi jalan sana. Duduk sendiri di bangku halte bis seperti seorang janda tua yang ditinggal mati suaminya sejak lama. Sepi. Temaram. Hatiku pasrah aja menerima semuanya, walau sempat mengeluh dalam hati. Tapi, beberapa kalimat dari guru pengajianku cukup menenangkan hati. Masih terngiang dalam benakku, beliau pernah mengutip satu ayat Al-qur’an. (Al-anfal : 46). “...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Mungkin memang benar materi sabar dan ikhlas itu gampang sekali diingat tapi paling sulit untuk diterapkan, apalagi disaat-saat seperti sekarang ini. Rasanya ingin sekali membuang orang-orang menyebalkan itu ke rawa-rawa sungai Hades, sungai terkelam dalam sejarah peradaban Yunani kuno, biar jasad mereka dimakan Dewa Odin.

Maafkan. Sebelum aku berhijab seperti sekarang, dulu aku menyukai hal-hal berbau mitologi. Bagiku itu hal yang boleh-boleh aja. Asalkan gak menaruh prioritas padanya aja. Setiap individu di dunia, kan, punya kecondongan pada Sang Pencipta alam semesta sekalipun dia seorang Atheis, tidak dapat diragukan lagi. Sudah mulai ngelantur rupanya. Sudah cukup, terlalu banyak membicarakan prinsip akan mengakibatkan lelah berkepanjangan.

Aku berbicara pada diriku sendiri untuk kesekian kalinya. Setelah beberapa puluh menit menunggu bis yang tidak kunjung datang, aku mulai dirasuki kebosanan yang menggila. Biasanya, ketika bosan gini, aku selalu melampiaskannya dengan mendengarkan lagu-lagu folks indie sambil membaca buku-buku puisi chairil anwar, melebur dan terangkat semua beban di hati. Sayangnya, baterai handphone-ku hampir habis, layarnya sudah meredup dan peringatan low battery juga udah muncul. Sebaiknya, aku matikan aja biar nanti pas di charge tidak terlalu kosong.

Sudut mataku menangkap gerakan di ujung jalan dekat lampu merah. Jalanan begitu sunyi, tidak terlihat sama sekali ada aktifitas. Jadi, sedikit gerakan akan membuat perhatianku otomatis tertuju pada sumber suara. Karena rasa ingin tahu yang besar, aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya. Kaki ini mulai berjalan, terus saja berjalan sampai mendekati lampu merah, sekitar 2 meter dari halte bis. Setelah diam-diam aku cek, ternyata, sesuatu yang bergerak itu hilang. Yakin banget deh suara berisiknya datang dari sini, tapi ngilang gitu aja. Aku menghela napas kesal. Entahlah, rasanya bumi memang sedang ingin menggelitikku aja hari ini. Terus, kenapa juga jalanan sepi gini? Udah kaya kota nagasaki yang baru di bom nuklir! Aku memutuskan untuk mengakhiri drama horror ini dengan berjalan santai kembali ke halte bis. Berharap dengan sekejap akan datang bis yang ditunggu-tunggu sejak tadi. Bisa sinting aku kalau bisnya gak datang juga.

Jam ditanganku berdetak lambat, seperti jalannya kakek-kakek yang mengidap penyakit tulang. Aku harus segera menyelesaikan jurnalku, udah muak rasanya kena marah. Gak rela kalau besok harus menanggung nasib yang sama kaya tadi. Langit mulai terlihat mendung. Fana merah jambu. Titik-titik air langit mulai berdentuman ke aspal jalanan. Awalnya sedikit, lama-lama membawa temannya, layaknya sedang tawuran. Terlalu ricuh, Deras— Hujan lebat. Bagi orang yang mengaku kalau dia menyukai hujan, aku adalah orang yang benci hujan-hujanan saat semua berkas pentingku harus ikut basah juga.

Ibaratkan seorang pujangga yang mencinta, tapi takut untuk sakit cintanya, karena ketidaktulusan yang membuatnya takut, segala kepentingan diri sendiri dan ego selalu menjadi raja yang berkuasa. Anehnya, dulu waktu kecil, bermain dan menari di bawah langit yang sedang hujan adalah hal yang paling menyenangkan, berharga dan bahagia. Sekarang bukan waktunya bersikap sok melankolis gini. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Aku menggeleng frustasi. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. “Gak baik loh seorang gadis melamun sendiri disaat hujan, bisa kesurupan nanti.” Aku menoleh. Merasa terkejut, insting ini mengatakan kalau aku sedang dalam bahaya. Tanpa pikir panjang, aku meremas tangan yang masih memegang pundak ini, mencoba memutarkannya dengan kencang. Peraturan pertama saat menerima perlakuan tidak senonoh di jalanan adalah melawannya sekuat tenaga, semua energi ini aku keluarkan. Ada erangan ‘aw’ yang keluar dari mulut orang asing ini. Saat itu aku membeku. Dia berusaha melepaskan cengkramanku, “Hai.” Akhirnya, aku berbalik.

“Roy!” Dia lagi, Dia lagi.

“Kuat juga lo, Di. Salut gue— ’’ Senyumnya kikuk, lalu matanya berhenti pada tangan yang masih, ehm, gitu deh. Nyadar sama situasi yang canggung ini, akhirnya, cengkramannya aku lepas pelan-pelan, ngerasa malu. “Untung tangan gue gak patah!”

“Lebay lo. Ngapain sih di sini?”

“Inikan tempat umum, Di. Siapa aja boleh ke sini. Ya, kan?” Dia meniup tangannya, sambil meringis, sikapnya memang selalu berlebihan.

“Semua orang kecuali lo, Roy.” Dia pura-pura kaget, terkekeh. “Segitunya sih gak suka sama gue, awas ah, kualat.”

“Kualat?”

“Iya, kualat, nanti sikap lo jadi kebalik loh, bisa jadi nempel terus sama gue.” Sampai kapan sih dia bakal nyebelin kaya gini. Lagian ngapain dia ke sini. Seingatku, biasanya dia tuh pulang dan pergi ke kantor naik motor sendiri deh. Aneh aja tiba-tiba nongol di halte bis kaya gini.

“Kaget gak? Maaf, motor gue lagi jajan ke bengkel. Jadi, gue naik bis aja.”

“Gue gak peduli.” Mungkin.

“Dih, tadi lo yang nanya, kan.” Dia geleng-geleng, sambil benerin rambutnya.

Aku cuma bisa natap sembari ngangkat bahu, lagi-lagi acuh. Kasian sih ngeliatnya, rambutnya klimis, bajunya basah kuyup terus napasnya seperti terengah-engah. Jangan-jangan dia orang yang tadi ada di perempatan lampu merah sana? Tapi, ngapain juga di situ? “Roy, tadi lo ke lampu merah sana gak?” Aku bertanya sambil menunjuk ke arah lampu merah. Masih simpati sama rambutnya yang klimis oleh air hujan dan wajah kusutnya. Pemandangan yang langka sih, seorang Roy Pratama bisa berpenampilan sekacau ini juga.

Dia menggelengkan kepalanya. “Enggak, Di. Gue baru dateng banget nih. By the way, kita naik bis yang sama, kan? Rumah kita satu arah.” Dia buru-buru mengalihkan topik. Roy berbicara terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari skala kecepatan cahaya. Kalau sudah gini aku bisa apa. Hanya bisa mendesah dan menerima satu lagi nasib burukku. Aku kehilangan kata-kata. Rasanya malas sekali menanggapi ocehannya. Terperangkap.

Setelah 10 menit berlalu dengan hening. Akhirnya bis yang kita tunggu datang juga. Kenapa baru datang sekarang sih? Bukannya dari tadi, jadi aja 10 menitku terbuang sia-sia bareng orang ini. Lagi-lagi perjalanan di dalam bis sangat hening. Kemana sih orang-orang? Kenapa dunia begitu sunyi hari ini? Mungkin mereka sedang enak-enakan tidur berselimut setelah menikmati coklat panas. Membuatku iri saja. Sedangkan, aku terkurung dalam bis dangan monster terompet ini.

Tunggu sebentar. Aku melirik ke arah sebrang tempat duduk di sebelah. Pertama kali masuk bis, Roy bersikukuh pengen duduk di sebelahku, tapi ditolak dan menyuruhnya menjauh. Sekarang, dia menatapku dengan sorot mata yang aneh. Sorot mata yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kali ini Roy sangat pendiam. Bagus sih, cuma aku jadi ngerasa bersalah aja pas ngeliat ekspresi yang gak biasanya. Kayanya, omonganku ada yang bikin dia kesinggung. Pengennya sih cuek aja, tapi, gagal. Padahal, dia tuh penyebab hariku berantakan. Pulang lebih awalku kali ini untuk melarikan diri darinya, tapi, kita malah bertemu di halte.

Aku lagi malas berbasa-basi. Tapi, gak tega juga. Roy melihat ke arah jendela tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Akhirnya, Aku menghampirinya. Duduk hati-hati di sampingnya. Menepuk pelan pundaknya. “Berhenti bersikap seolah-olah lo lagi dateng bulan deh. Lo itu laki-laki.” Aku berusaha mencairkan suasana. Dia tertawa, tapi, sedikit. Baiklah, mission completed. Maybe?

“Diana....” Nadanya tidak pernah seserius itu. Roy kenapa, sih? Apa dia emang benar-benar lagi datang bulan? Konyol. Kali ini, dia menatapku dengan tampang waspada. Lalu clingak-clinguk. Aku hanya terdiam sambil mengedip-ngedipkan mata. Terlalu heran dengan tingkahnya yang absurd. “Gak usah ngeliput kasus Mafia judi itu lagi. Gak ada satupun wartawan yang berani untuk gangkat topiknya, selain lo, Di.” Aku terdiam lalu menunduk. Perasaanku kacau. “Nyawa lo dalam bahaya...” Dia berbisik ke telingaku. Aku terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba, kemudian mendorong badannya yang terlalu dekat. Seketika, melihat ada goresan merah di pelipisnya. Ada sedikit darah yang keluar.

“Lo berdarah, Roy.” Refleks, aku memegang pelipisnya. Wajahnya tertegun, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dia memalingkan wajahnya. Air mukanya tampak memperlihatkan kesedihan dan rasa khawatir. Apa sih yang dia khawatirkan? Memang, kasus yang di angkat terlalu beresiko. Kali ini aku harus mengakuinya. Tapi, aku harus menyelesaikan apapun yang sudah aku mulai. Ini adalah jalan satu-satunya untuk membungkam sikap-sikap kriminal dan pikiran kerdil para mafia itu. Tak mau selamanya takut pada mereka. Jika tak ada satupun yang mau membela kebenaran, maka aku akan melakukannya. Seberapa pun besar bahaya yang menghalau, tekadku sudah bulat.
Terus, kenapa dia peduli? “Kenapa lo peduli?” Jackpot, pikiran kita sama. “Harusnya gue yang ngomong gitu kali, Roy.”Jurnalku sudah setengah jalan. Para mafia itu harus dilenyapkan. Tak bisakah manusia memberi hak untuk kebahagiaan manusia lainnya? Bukan malah merenggut paksa setiap hak bahagia yang dimiliki setiap orang lewat jalan pintas yaitu kriminalisasi, dalam bentuk apapun itu tak dapat dibenarkan.

“Maaf, Roy. Gue gak bisa ngabulin permintaan lo yang ini. kalo lo gak mau bantuin gue, mendingan gak usah ikut campur.” Aku berdiri meninggalkannya. Kebetulan kata-kata itu keluar tepat di depan gang rumahku, bukan rumah, lebih tepatnya kosan. Aku tak ingin melihat lagi ekspresi memelasnya. Aku tahu dia berkata seperti itu bukan berlandaskan kepedulian. Dia hanya tak ingin nyawanya ikut terseret ke dalam lingkaran setan juga. Dia terlalu egois. Itu menambahkan rasa benciku untuk dirinya bertambah banyak. Tak akan ada yang bisa menghentikanku untuk membongkar kebusukan para mafia itu.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
i4munited dan diadem01 memberi reputasi
3 0
3
RUANG KOSONG
19-12-2018 01:41
memang ya kalo kita mau berbuat baik itu selalu ada rintangan, beda kalo bikin hal buruk selalu dimudahkan, keep update mbak! emoticon-2 Jempol
profile-picture
diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
19-12-2018 19:44
Quote:Original Posted By rfqmaulana07
memang ya kalo kita mau berbuat baik itu selalu ada rintangan, beda kalo bikin hal buruk selalu dimudahkan, keep update mbak! emoticon-2 Jempol


Makasih banyak mbak. InsyaAllah kalo gada halangan ntar maleman update lagi emoticon-Cendol Gan
1 0
1
RUANG KOSONG
19-12-2018 20:47
Bab 1; episode 3




“Selamat datang di kosan terkasih lo ini, Di. Lo pulang terlambat lagi.” Suara parau itu menyambutku dengan bibirnya yang cemberut. Aku sudah dapat memprediksi adegan ini akan terjadi. Wajah teduh dan rambut sepundak yang sengaja dia urai membuatnya terkesan seperti seorang anak yang merajuk pada ibunya. Untung saja aku punya siasat yang ampuh untuk mengobati marahnya.

Emang tabiat, dia menyukai coklat. Apalagi coklat pemberian. Baginya itu hal sederhana yang manis. Bagiku dia terlalu banyak menyukai hal-hal sederhana. Tapi, tak mengapa. Itu adalah prinsipnya. “Makasih dan maaf—’’ Sambil membuka sepatu tanpa tangan, terlalu repot bawa barang soalnya. “Oh, iya. Gue bawain lo makanan dan coklat nih, pasti lo udah nunggu, kan? Jangan bertingkah konyol deh. Makan aja, Put. Nanti asam lambung lo bisa kumat.” Aku menyerahkan bungkusannya pada Putri yang sedang nonton drama korea kesayangannya. Setelah dia mengintip ke dalam bungkusnya, matanya langsung sumringah. Dia menggumamkan pelan ‘so sweet’. Sudah bukan hal yang aneh kalau Putri bersikap kaya gitu.

Anyway, perkenalkan teman, sahabat, keluarga bahkan lebih dari seorang kekasih satu kamarku ini. Nama awalnya Putri dan nama belakangnya Utami, Putri Utami. Tapi, dia tidak pernah tahu kalau diam-diam aku sudah mengganti namanya di dalam benakku. Nama awalnya Miss, nama belakangnya Mellow. Sssst! Jangan dibocorkan, rahasia. Kalau dia tahu, bisa-bisa terjadi perang di kosan ini. Cukup aku dan Allah aja yang tahu soal ini. Aku tertawa dalam hati. Sepertinya dia kelaparan, makannya semangat banget.

Tv yang masih menyala, membuyarkan imajiku, terlihat ada adegan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol dalam sebuah bis. Sontak saja membuatku teringat kembali pada wajah sedih dan khawatirnya, Roy. Aku menepuk dahiku, Putri yang lagi asik nonton sambil makan tak menyadarinya. Kayanya, aku harus mandi supaya pikiran ini gak berantakan dan ngaco terus. Butuh guyuran air yang sangat banyak, butuh inspirasi untuk membuat sistem saraf di otak ini berfungsi dengan semestinya dan menghilangkan orang-orang yang tak seharusnya mengusik pikiran ini, enyah. Habis sampai ke rongga tulang belakangnya.

“Ke-kenapa tadi lo gak mau pulang bareng gue sih? Apa ada janji sama orang lain dulu?” Lamunanku soal permandian langsung lenyap bak ditiup angin topan. Sekilat dan tanpa jejak. Kata-katanya gagap diawal, mulutnya terisi penuh oleh makanan. Dia memaksakan mulutnya untuk melakukan dua aktifitas yang berbeda. Pikiranku berselancar lagi. Mata kita bertemu. Tidak mungkin aku berkata padanya kalau tadi aku pulang bersama Roy. Bisa-bisa dia akan sedih. Satu hal yang tak ingin aku lakukan adalah membuatnya bersedih.

Apa aku harus bohong? Lagian pertemuan aku dan Roy itu cuma kebetulan, terus, kita gak ngapa-ngapain juga. Aku sih bisa berpikiran secara logis. Tapi, aku gak yakin Putri bisa menerimanya dengan tingkat yang sama. Ya, Putri menyukai Roy. Sangat mengaguminya. Tapi, sepertinya Roy menyukai semua orang dan memperlakukan semua orang dengan sama. Tipikal seorang player. Entah sejak kapan benih-benih perasaan itu hadir menggebrak Putri. Aku hanya takut dia menerima sinyal yang salah, menginterpretasikannya secara keliru. Bisa-bisanya dia menyukai monster terompet itu. Aku tak rela. Tapi, siapa sih yang bisa mengendalikan perasaan? Tak ada.

Satu-satunya yang dapat aku lakukan untuknya hanya menjaganya dari keterpurukan tanpa henti, memberinya semangat lah intinya. Sebenarnya, Putri adalah orang yang kerap kali mendapat banyak keberuntungan. Nasibnya terlalu baik dalam perundian dan giveaway barang-barang di online shop. Berbanding terbalik dengan kisah cintanya yang selalu naas. Unrequited loves. Untung aku menyayanginya, walaupun kata-kata itu jarang keluar dari mulutku dan sebaliknya. Tapi, kita akan saling menjaga satu sama lain. Entah sampai kapan. Mungkin tidak bisa selamanya, paling tidak sampai kita sama-sama mempunyai pria yang rela menjaga kita 24 jam nonstop layaknya satpam hotel di sebrang jalan sana.

Aku tak menjawab pertanyaan Putri dan langsung bergegas melarikan diri ke kamar mandi. Merasakan matanya yang terus mengintai. Seperti mata-mata yang ingin segera membombardirku dengan segala bentuk pertanyaan. Matanya melihatku dengan sinis. Dengan segera, aku menutup pintu kamar mandi. Bergidik takjub. Melupakan sejenak soal semua orang. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan malam ini. Jurnal yang ditugaskan koordinator mengenai seorang siswa yang tertangkap sedang melakukan aksi percobaan bunuh diri pun mulai menghantui pikiranku. Sebenarnya, bukan tidak bisa untuk diselesaikan. Tapi, aku hanya tidak ingin saja. Guyuran air dingin menancap sampe ke pori-pori terdalam kulit rambutku. Membuyarkan pikiran liar, membuatnya seakan buram sejenak. Tenang.

Sekarang Pukul 9 malam. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mandi jam segini. Seperti ritual penyembahan kepada washtafel, sebelum akhirnya dapat meneruskan tulisanku. Aku sedang merasa tidak berguna sebagai seorang wartawan. Kemarin aku mendatangi kantor polisi, tugas dewan direksi. Aku pergi kesana sendiri karena Roy sedang ditugaskan ke tempat lain. Di sana aku melihat wajah tak bersalah seorang pria muda sekitar umur 15 tahunan. Duduk lunglai. Ditembaki berbagai macam pertanyaan oleh investigator. Mukanya pucat. Raut wajahnya tampak datar. Tidak menunjukkan emosi apapun seperti mayat hidup.

Tanpa sengaja aku meneteskan air mata. Pikiranku bercabang dan membuat kepalaku sakit. Hatiku perih dan semua badanku ikutan sakit. Setelah keluar dari kamar mandi, aku yakin, Putri tak akan menyerah untuk memancing kejujuranku. Aku harus mempersiapkan alasan yang konkrit dan sedikit praktis. Seenggaknya harus terlihat tidak dibuat-buat.

Akhirnya, setelah keluar dari kamar mandi dan melihat Putri sudah tidur pulas di kasur. Aku menoleh ke arah jam dinding di sebelah kanan kasur, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Wow. Ternyata aku sudah satu jam bermeditasi di kamar mandi. Tapi, Syukur deh, jadinya, kan, aku gak usah membohonginya. Pasti besok juga dia udah lupa sama kejadian malam ini.

“Put, lo itu gadis naif dan polos. Gue sih pengennya lo selalu bahagia dan terhindar dari bahaya. Lo satu-satunya keluarga yang gue punya di kota asing sebesar ini.” lirihku.

Keep the ones that heard you when you never said a word, as long as you happy. Put...
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
i4munited dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
19-12-2018 22:36
Bab 2; episode 1



00:00

Sudah lebih dari 2 jam mataku terpaku pada layar 14 inch berbentuk persegi panjang di depanku. Menatapnya dengan pikiran kosong. Melototi aplikasi microsoft word yang sejak tadi masih kosong tanpa sepenggal kata yang terketik. Inspirasi buntu. Aku tak bisa mengeluarkan ide-ide gagasan apapun soal jurnal kasus siswa SMA yang nekad motong urat nadinya dengan cutter. Sedangkan deadline sudah melambai-lambai seram padaku. Tetap saja tak satupun kalimat yang bisa dirangkai. Padahal, koordinator udah mempercayai judulku kali ini akan menjadi headline news. Suatu kebanggan tersendiri bagi wartawan sepertiku yang biasanya hanya dapat kolom kecil di halaman terakhir majalah dan sekarang diberi kesempatan untuk mengisi tajuk rencana majalah berita seputar politik paling populer di Indonesia. Sesekali aku mengisi kolom berita, itupun berita yang tidak terlalu penting. Sepertinya, kali ini aku harus rela membiarkan keong emas lepas begitu saja dari genggaman.

Aku menghembuskan napas lelah, merasa terbebani dengan tugas kali ini. Masih ada beberapa jam untuk mempersiapkan mental, alih-alih kalau nanti aku kena damprat seisi divisi lapangan. Tak ada yang dapat aku presentasikan untuk besok. Padahal berita harus publish siang harinya. Memikirkan kemarahan semua orang padaku saja sudah membuatku frustasi.

Argh! Such a failed journalist you are, Diana!

Berteriak lantang dalam hati. Sambil menutup erat mata dan mengerutkan dahi. Kesal. Mengacak-acak rambut panjangku. Lalu, menempelkan pipi pada meja. Lampu kamar yang tidak terlalu besar itu temaram. Kulihat ke arah kasur yang berada di sebelah kanan meja. Putri terbangun, kemudian mengucek-ngucekkan kedua tangannya ke mata terpejamnya. Seperti anak kecil. Aku tertawa geli menatapnya.

“Bergadang lagi...” Suaranya sedikit serak. Mungkin karena habis bangun tidur. Dia menyisir-nyisir rambut acaknya dengan tangan, berniat merapikannya. Kemudian menghampiriku. Tapi, aku masih dengan posisi yang sama. Tidak bergerak sedikit pun, malas sekali rasanya. Tidak ada semangat untuk melakukan hal apapun. Otakku mulai kram. Mungkin mendekati geger otak. Seperti biasa, aku hanya bisa terdiam dan mendesah pelan. Tidak tahu apa yang harus aku jawab. Dia duduk di sebelahku. Kursinya memang panjang, jadinya muat berdua. Dia menutup laptopku. Lalu menepuk pelan pundakku. Aku sedikit terperanjat.

“Gue lagi nulis jurnal...” Akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar.

Dia mengangguk pelan. “Nulis jurnal dengan font yang transparan udah jadi ciri khas lo sekarang. Tidur gih, biarin deh besok kena marah, gue bakal bantu belain—’’ Senyumnya emang tulus, tapi, fakta dari kata-katanya sedikit menggelitik. “Gue udah denger semuanya dari Roy tadi di kantor. Lo pulang cepet gara-gara kasus siswa SMA itu, kan?”

Sejak kapan dia bisa mengeluarkan kata-kata yang tercium sedikit sarkas seperti itu. Mungkin saja terpengaruh olehku. Dia juga tahu kalau kena marah bukan ketakutan terbesarku, tapi gengsi aja kalau sampai koordinator mempermalukanku di depan umum kaya tadi.

Aku menatap matanya. Tak dapat menebak apalagi yang ada dipikirannya selain yang keluar dari mulutnya. Mungkin memang hanya itu yang dia tahu soal hari sialku tadi. Aku memikirkan jawaban yang akan menimbulkan sedikit korelasi. Lagian, tidak salah juga sih. Salah satu depresiku kali ini emang ada hubungannya sama kasus siswa SMA itu, tapi, ada masalah lain selain itu yang menggangguku. “Bener sih. Lo sendiri tahu, kan, kasus-kasus kaya gini bisa bikin jiwa sensitif gue muncul. Bahkan, gue gak bisa bayangin judul yang pas buat jurnal besok. Apalagi ngerangkai isinya. Rusak deh semua karir gue kalo kaya gini caranya....”

Win : Win solution

Aku tak sepenuhnya berbohong. Memang semuanya fakta. Tapi, sebagian cerita yang lain biar menjadi rahasia. Bukan karena tidak percaya. Aku sangat percaya. Namun, memastikan keselamatannya, itu prioritas utama. Kalau dia ikut masuk pada permainan ini juga, dia akan susah keluar dan celakanya, bisa sampai menghilang. Aku tak bisa kehilangannya atas dasar kesalahanku. Biar saja aku mencoba menyelesaikan masalah ini seorang diri. Putri sudah cukup terbebani dengan segala macam masalah keluarga dan percintaannya.

“Oh, Miss Idealis-Sarkasme. Udahlah. Gue tahu kok. Sebenernya lo lebih peduli anak itu ketimbang karir lo itu, kan?” Dia emang seorang peramal. Fix! Anyway, aku sama sekali gak suka julukan ‘miss idealis-sarkasme’ Mataku menatapnya dengan sinis sambil cemberut.

“Tentu aja...”

“Lo bisa aja nyelesain jurnalnya dalam waktu 20 menit. Lo udah punya data-data yang lengkap dari penyidik, cuma gak pengen anak itu jadi viral. Apa lo masih gak terima kalau anak itu mencoba bunuh diri karena kakak satu-satunya tertangkap polisi dengan kasus pembunuhan dan ibunya harus tergeletak sakit kanker selaput otak di rumahnya sendirian?” Dia menaikkan alisnya. Senyum khasnya keluar lagi.

Saat-saat seperti inilah yang membuatku merasa kesal. Dia dengan mudah membacaku seperti buku anak-anak di TK. Tanpa penyelidikan terlebih dulu. Tanpa analisa dan pemikiran yang serius. Dia memiliki intuisi yang lumayan kuat. Itu kenapa diskusi dengannya tidak akan pernah membuatku bosan. Mungkin semua orang akan nyaman jika diperlakukan seperti itu. Dia menasehatiku dengan mimik wajah yang beragam. Semua perkataannya sudah aku simpan dalam memoriku. Biarpun kapasitas memori otakku sedikit lemah, karena aku terkenal pikun dalam beberapa hal. Sedangkan, mengingat hal-hal lain yang biasa orang lain tidak ingat.

Bibirnya berkerucut. Dia berdialog seolah-olah sedang main opera. Tangannya menari-nari mengikuti intonasinya. Pikiranku kabur sejenak. Bagaimana nasib ibu separuh baya itu sekarang, jika warga tak datang ke rumahnya dan mendapati Jaka yang nekad memotong sendiri urat nadi dipergelangan tangannya itu?

Aku yakin, motif Jaka tidak hanya masalah keluarga dan himpitan ekonomi. Semua informasi mulai terjabarkan kembali. Perlahan otak ini mulai mengolahnya secara detail. Jaka adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya adalah seorang penjudi dan perampok. Ibunya sakit-sakitan. Bahkan, mengidap kanker selaput otak yang katanya dapat menular. Dia sendiri masih duduk di bangku SMA. Dengan kondisinya yang terbilang sengsara itu. Jaka harus mengurus ibunya seorang diri. Tidak punya biaya untuk pergi ke rumah sakit. Tak dapat mendaftarkan diri untuk BPJS Kesehatan karena KTP ibunya bukan domisili Jakarta.

Satu-satunya sumber dana mereka hanya kakaknya. Tapi, belakangan kakaknya dikejar-kejar seseorang. Katanya orang itu adalah teman Ahmad, kakaknya Jaka. Suatu ketika Teman kakaknya yang bernama Alex itu menghampiri ke sekolahan Jaka. Mengancam akan membunuh Jaka kalau hutangnya tidak juga lunas. Ahmad yang kebetulan akan menjemput Jaka disekolahnya itu melihat Jaka kena tampar Alex sampai tersungkur ke tanah. Dari situ perseteruan terjadi. Sampai mereka bertiga kejar-kejaran ke taman tidak jauh dari sekolah.

Di depan sebuah air mancur, Ahmad mengeluarkan pistol lalu menembak Alex tepat di kepalanya. Dengan satu tembakan Alex langsung tumbang dan masuk ke dalam kolam air mancur tak jauh dari situ. Atas kejadian tersebut Jaka dipanggil pihak berwajib sebagai saksi dan Ahmad dikenakan hukuman semaksimalnya 15 tahun penjara. Mungkin itulah yang membuat Jaka sangat putus asa. Terlalu rumit. Dengan mudah aku dapat menalarkan kejadiannya itu. Tapi, entah kenapa semua data yang diberikan penyidik kepadaku ada sedikit kejanggalan. Entah apa. Ada yang tidak beres. Putri mulai menguap. Lagi-lagi pemandangan ini membuatku tersenyum geli.

“Lo pulang bareng Roy?” Pertanyaan jebakan macam apa ini. Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba aja dia menodongku tanpa ampun. Aku ingin membuat alibi. Tapi, sorot mata itu hadir lagi. Rasanya ingin sekali mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Aku benci sorot mata itu, Di dalamnya terdapat bahagia yang sia-sia. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu melihat ada nanar di air mukanya. Apa yang Roy perbuat sehingga dia tampak begitu terluka? Padahal dia tahu aku dan Roy hanya rekan kerja. Tidak lebih dan tidak akan pernah bisa lebih.

Hening sejenak. “Syukurlah, Gue sempet mencemaskan kalian tadi. Gak ada satupun dari kalian yang ngasih kabar. Untung kalian selamat.” Ucapnya lirih. Lalu menghembuskan napas sambil berlalu dan tidur kembali atau lebih tepatnya berpura-pura tidur.

Hah? Apa maksudnya? Aku telah melukai hatinya...

Aku sudah melakukan hal yang selama ini tak ingin aku lakukan terhadapnya. Ternyata, aku tak dapat mengendalikan takdir. Allah sebaik-baik pengatur. Aku melihatnya menarik selimut, lalu berjalan tidur disampingnya. Melihat bagian belakang dari tubuhnya dengan pikiran yang mengembara. Tak dapat menerka apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin, bertanya sama Roy soal Putri, besok, ide yang cukup bagus. Tapi, kita kan lagi perang dingin.

02.00

Tinggal beberapa jam lagi aku akan menyerahkan diri ini pada siksa neraka dunia. Masalah demi masalah datang tanpa penyelesaian. Gantung tanpa kejelasan. Pertama, aku harus merangkai kata dan membuat alasan untuk diberikan pada koordinator besok. Lalu, mencoba menyelesaikan perkara Putri dan Roy. Setelah itu memikirkan masalah pak Surya dan tentu saja jurnal setengah jalanku harus menerima nasib yang buruk. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari jurnal bahaya itu. Segala aktifitas yang berhubungan dengan mafia judi, aku cancel dulu. Setelah masalah selesai. Baru deh, mulai lebih ganas lagi. Wish me luck!
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
i4munited dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
21-12-2018 21:48
Bab 2; episode 2



Semua mata mulai tertuju padaku, sepertinya inilah akhir dari karirku. Pandangan seisi ruangan sangat mencekam. Meminta tumbal sebagai balasan kebodohanku kali ini. Rapat sudah mulai dan sudah di buka oleh koordinator. Aku tidak tahu kalau rapat ini begitu penting sebelum melihat ada direktur dan beberapa pemegang investor majalah Record hadir di deretan kursi-kursi dengan meja persegi panjang di tengah, berukuran sekitar 4 meter. Memiliki bidang yang cukup luas sehingga muat minimal 10 orang.

Aku menelan ludah, menggaruk kepala sambil merapikan hijabku sedikit. Membenarkan posisi kacamataku yang minus 1,7 kanan dan kiri 1,5 itu. Semua prasangka mulai mengeroyok batinku. Ada beberapa senior yang berbisik-bisik. Entah apa yang mereka obrolkan, yang jelas pasti ada sangkut pautnya denganku. Tidak berniat untuk terlalu percaya diri atau suudzon. Namun, posisi dudukku sekarang ada di depan layar proyektor. Otomatis aku menjadi pusat perhatian. Sama sekali kondisi yang tak ingin aku alami sebelumnya. Dahiku sudah berkeringat, mengucur. Badanku tiba-tiba saja mengalami kenaikan suhu secara drastis, menggigil. semua tulang terasa lemas dan lidahku kelu.

Ini akan menjadi pengalaman paling tak terlupakan dalam sejarah hidupku kelak. Aku lihat ada sosok Putri yang sedang berdiri tenang disamping kanan direktur. Ya, dia menjabat sebagai sekretaris yang paling manis yang direkturku punya. Beruntung sekali bukan? Aku bersyukur karenanya. Dia tersenyum ke arahku, seolah ingin memberi semangat.

Setelah itu, koordinator mempersilahkanku untuk melakukan presentasi. Dengan perasaan yang masih bimbang, mataku mengembara ke seisi ruangan. Tak ada tanda-tanda dari Roy. Padahal, Artikel ini seharusnya adalah tugas kita berdua. Tapi, dia dengan santai dan tanpa rasa bersalah lepas dari semua tanggung jawabnya. Dengan sedikit bad mood, aku manggut-manggut saja, sambil mencolokkan flashdisk ke laptop. Tadi subuh aku memaksa otakku untuk bekerja kilat. Lalu, artikelku terpampang di layar besar itu.

Bissmillah...

Records.CO, Jakarta – Polisi telah memeriksa pria muda berusia 15 tahun berinisial J terkait dengan pembunuhan terhadap korban bernama Alex, seorang karyawan toko sembako, 30 tahun. J telah ditetapkan sebagai saksi ahli tersangka yang juga kakak kandungnya sendiri, pelaku pembunuhan berinisial AH.
“Adikku tidak terlibat,” kata pelaku berinisial AH, tersangka pembunuhan dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.
“Tersangka di duga tidak merencanakan tindak pidana pembunuhan tersebut,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Andi Hutagalang, Minggu, 22 April 2018.
Alasan AH menghabisi nyawa Alex karena kesal melihat adiknya J terus-menerus dibully perihal masalah hutang-piutang. Kepada polisi, AH menyatakan pada saat kejadian dia hanya ingin memberi pelajaran kepada Alex, bukan membunuh. Namun, setelah baku hantam terjadi di sekolah J hingga di depan air mancur Taman Anggrek. Akhirnya, AH mengeluarkan pistol yang berada disaku celana kanannya dan menembak sekali ke arah kiri kepala korban, bagian inti otak. Kejadian tersebut terjadi hari Selasa, 2 Februari 2018, Taman Anggrek.
Walhasil, akibat kejadian tersebut saksi berinisial J nekat mengakhiri hidupnya di kediaman pribadinya, 10 Maret 2018, Bojongkenyot, Jakarta. Namun, nyawa J selamat setelah salah satu warga mendatangi kediamannya. Setelah kejadian ini pelaku berinisial AH meninggalkan ibu yang sakit kanker selaput otak dan adiknya yang masih duduk dibangku SMA, biaya hidup mereka berdua untuk sekarang ditanggung PT. Record magazine.

Alhamdulillah.

Aku mendesah ragu. Tepuk tangan mulai riuh memenuhi ruangan. Setelah beberapa saat artikel last minute action-ku terpampang dilayar. Entah perasaan apa yang seharusnya menetap dalam dada ini. Jujur saja, ini adalah langkahku yang paling idiot. Kesuksesanku kali ini tak dapat membuatku bahagia, sama sekali tidak ada senyum yang tersungging pada sudut bibirku. Sunyi menyelinap diantara keramaian. Mataku mengudara. Aku lihat Putri bertepuk tangan dengan senyum yang begitu sumringah, itu satu-satunya hal yang dapat membuatku tersenyum sejenak.

Terkejut. Dengan cepat sudut mataku menangkap sosok Roy, berdiri lunglai dipojok ruangan, mukanya menampakkan kesedihan yang begitu dalam. Kekecewaan jelas ada di sana. Seketika semua keberanian ini menciut, mengecil. Seperti koloni semut yang ditumpahi air samudera. Lenyap dalam seketika. Rasa malu mulai mengahantuiku dengan beribu alasan pahit.

Ironi! Idealis yang tergadaikan rasa gengsi. Macam sampah yang berserakan. Aku telah menodainya. Rasanya tak akan ada yang dapat menebus keteledoranku kali ini. Aku sudah membahayakan mental seorang pemuda malang itu. Hot news yang akan membuat perusahaan ini untung besar. Materil.

Seisi ruangan terlihat seperti zombie-zombie yang sedang kelaparan. Lapar pengakuan. Lapar kekuasaan. Kelaparan yang bersumber dari sifat hawa nafsu manusia. Condong ke arah keduniawian dan parahnya aku mulai masuk dalam perangkap mereka, tertekan seperti dipaksa menjadi bagian dan salah satu dari mereka. Idiot, Diana. Aku mengutuk sebisaku.
Astagfirullah. Maaf. Aku memejamkan mata. Merasa terlalu penat.

I think i’m giving up on this...

Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
i4munited dan diadem01 memberi reputasi
2 0
2
RUANG KOSONG
23-12-2018 23:20
Bab 2; episode 3


“Selamat, Miss sarkas. Sukses yang begitu gagal.”

Aku menelan ludah. Menatapnya serius. Sudah kuduga, orang yang pertama kali akan membuatku merasa paling bersalah adalah monster terompet ini lagi. Raut wajahnya mencibir. Mata kita bertemu dengan sadis. Ada sekat kebencian diantaranya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku mengaku kalah dihadapannya. Aku membisu. “Bener-bener, ya, Di. Gak perlu lo repot-repot nyantumin nama gue juga di artikel lo itu.” Dia memukul meja, marah. “Gue tahu, Di. Berita ini penting untuk masa depan majalah Record dan karir lo. Tapi, lain kali hargain pendapat gue dong. Idealis? Oh no thanks. Maybe one day.” Wajahnya memerah. Nadanya meninggi. Tatapannya marah. Kenapa dia begitu kecewa? Setahuku dia itu perfeksionis bahkan cenderung kompetitif dan visioner. Itu bukan hal buruk. Tapi, citranya dalam divisi sudah tak dapat diragukan lagi. Dia akan melahap segala macam berita selagi itu membuat karirnya untung. Sekarang malah terlihat sebaliknya. Seakan-akan aku menjilat air liurku sendiri. Aku lebih tidak terpuji dari semua yang telah aku pikirkan soal Roy selama ini.

Angin berhembus cukup ganas sore ini. Jam pulang hampir tiba. Ruangan mulai kosong, semua karyawan satu persatu sudah memutuskan untuk pulang. Tinggal aku dan Roy yang sedang terpatung di layar laptopnya. Suasana mulai kikuk. Lampu-lampu dengan perlahan padam, hanya lampu kecil yang menerangi ruangan kita. Tak ada gerakan dari Roy. Aku mulai sedikit khawatir lalu melirik padanya. Tangan kanannya memegangi mata dan tangan satunya memegang flashdisk. Aku mencoba menghampirinya dengan perlahan, berdiri disampingnya. Apa dia lagi nangis? Cemen! Disaat-saat seperti ini masih saja ada pikiran-pikiran negatif yang bersemayam soal Roy. Aku mencoba membuang semuanya perlahan.

“Roy...” Aku menyesal telah memanggil namanya dengan begitu lembut. Setelah ini wajahku harus menerima sedikit tamparan dipipi.

Memalukan sekali. Dia bergerak dengan hati-hati. Menyerahkan flashdisk-nya padaku setelah mengusap sedikit sudut matanya. Menangis?

“Besok, kita bakal ambil cuti dari divisi lapangan.”

“Apa?”

“Lo ikut sama gue ketemu Toni Brawijaya, Tim investigasi kasus Jaka.” Langit seakan runtuh. Roboh menerpa ubun-ubunku. Dengan sekali tancap, berharap semuanya ini hanya mimpi buruk. Mataku terbelalak. Hatiku sakit. Bodoh sekali, Diana!

“Kenapa? Ayolah, move on. It’s been 4 years!”

Seenak jidatnya aja kalo ngomong, aksen bahasa inggris yang lumayan fasih sih, tapi, ya, gitu deh, udah gak heran sama keahliannya, pandai mencampurkan sesuatu, dari mulai bahasa, hingga profesionalitas; meramunya menjadi sesuatu yang tadinya tabu, jadi lumrah.

Diana Syatifa move on dari seorang Toni Brawijaya? Aku bahkan tidak percaya sama tahayul! “Gue udah ngelupain dia kok!” Intonasi yang terlalu gegabah. Dia pasti tak akan percaya dengan perkataanku itu. Dia tertawa geli. Aku mengepalkan flashdisk ditanganku dengan erat, tanganku sudah memerah dibuatnya. Panas. “Gak usah cengengesan deh, intinya ngapain kita harus buka kasus ini lagi, sih? Udah jelas siapa dalangnya, kan.” Ketusku, selalu.

“Muncul kecurigaan baru, Di.”

“Kayanya gue gak ikut deh.”

Roy memainkan alisnya, “gue yakin lo gak bakalan nyesel deh, jangan egois dong, gara-gara masa lalu, lo nolak perintah negara.”

“Gue tetep gak mau, Roy. Lagian gak penting juga gue masuk tim itu.” Debat kecil kita terhenti. Putri menghampiri kubik ruangan dengan jalannya yang anggun. Rambut sepundaknya terurai rapih. Melihat matanya yang teduh membuat hati ini sedikit tenang. A walking enigma adalah julukan lain untuknya. Dia tersenyum padaku, tunggu sebentar. Aku koreksi. Dia tersenyum pada kita. Aku dan Roy sedang menatap ke arahnya.

“Kita pulang barengkan?” Nadanya selalu menggelitik. Seperti air di musim kemarau panjang, Oasis diantara padang pasir. “Iya!” Kita menjawabnya serentak. Aku menoleh pada Roy, mencibir. Dia tersenyum manis pada Putri. Buaya air rawa lo! Mereka saling balas membalas senyuman. Heran sekali rasanya melihat mood laki-laki itu bisa berubah dengan cepat. Sulit sekali di percaya.

“Bukannya lo naik motor? Sejak kapan bis jadi kendaraan yang nyaman buat lo?” Aku mengeluarkan kata-kata sarkas yang tadi sempat ditahan-tahan.

“Motor gue masih di bengkel. Lagian kita satu arah. Apa salahnya?” Putri cuma manggut-manggut sambil tersenyum tulus. Situasi yang terlalu menyebalkan. Tapi, bagaimanapun juga, perasaan Putri harus aku jaga. Aku tidak bisa terus-terusan bersikap egois.

“Di, malam ini Roy ikut makan malam di kosan kita. Gak apa-apakan?” Salah satu pertanyaan yang tak bisa disanggah dengan hanya teriakan kata ‘tidak!’ Aku mengangguk malas. Berjalan terlebih dulu. Meninggalkan mereka berdua di belakang, terdengar suara mereka yang terus-menerus memanggilku. Sayup-sayup suara mereka akhirnya hilang. Aku penasaran dan menoleh ke belakang. Ternyata jarak kita sudah cukup jauh, sekitar 2 meter. Aku melihat Putri memberikan sesuatu pada Roy. Matanya berbinar penuh makna.

Aku tak sanggup untuk mengagalkan bahagianya itu. Aku berpura-pura saja tidak tahu. Sesekali suara tawa mereka terdengar. Lalu sayup kembali. Perjalanan dari kantor ke halte bis kali ini menjadi perjalanan yang begitu lambat. Membuatku ingin lenyap saja dari situ. Semakin lama kupikirkan, apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaanku, situasi ini semakin liar dan gelap. Begitu memilukan mengingat pengalaman malam ini. Ada gejolak yang aneh dalam diriku. Tapi, ini mungkin hanya spekulasi belaka.

Akhirnya, kami tiba di halte bis. Seperti pelari marathon yang tiba digaris finish. Rasanya melegakan. “Ini tuh menyenangkan.” Putri berkata.

“Kenapa?” Kutanya.

“Situasi ini.”

Semilir angin malam kali ini cukup kencang, padahal baru selesai Isya. Aku belum shalat, sepertinya air wudhu akan membuatku tenang kembali. Kita duduk bertiga di bangku halte, memperhatikan bis-bis yang lewat. Siapa tahu memang bis yang akan kita tumpangi tiba. Beberapa menit berlalu dengan senyap. Menuai pujian dari bintang-bintang, betapa mencekamnya situasi seperti ini. Hanya ada kita bertiga, untung saja Putri duduk di tengah, auranya sedikit demi sedikit mulai merdu.

Senyum Putri seakan menyibak kegelapan. Roy menatapku. Matanya melacak. Ada sebuah teka-teki di sana. Aku keheranan. Orang paling logis pun sesekali bisa tertipu. Setidaknya salah satu dari kita bertiga ada yang merasa senang, itu juga sudah merupakan bentuk prestasi, karena momen seperti ini terlalu langka terjadi. Roy dan diriku memiliki perasaan yang sama mengenai situasi kali ini, yaitu kikuk. Sedangkan kenyamanan hanya dimiliki oleh Putri seorang diri. Entah dia peka atau tidak, apa hanya ingin membuat suasana sedikit meleleh dan rasa kikuk ini jadi memuai.

Bis pun tiba.

Situasi di dalam bis tak jauh berbeda. Tapi, kali ini kita bisa mengobrol selaras. Sesekali memunculkan guyonan yang nyeleneh. Namun, piala kali ini tetap di dominasi oleh Roy. Dia memang pembicara yang ulung. Aku pun mengalah saja. Membiarkan mereka berdua asik berbincang sambil sesekali tertawa. Tak sadar, aku masih memegang flashdisk ditanganku. Lalu mengepalkannya erat-erat. Masih begitu penasaran sama isi yang ada di dalamnya.

Aku larut dalam diskusi dengan diriku sendiri lagi. Akan seberapa mengenaskannya diriku besok? Dari sekian banyak Polisi, kenapa harus aku yang menjadi tim investigator kasus Jaka dan Ahmad, dan dari sekian jurnalis, kenapa harus aku yang terpilih?
Pepatah bilang, dunia memang tak selebar daun kelor. Namun, itu tak berlaku padaku. Dunia bahkan lebih kecil dari itu. Jika dunia saja sekecil itu, bagaimana nasibku? Sekerdil apa jadinya. Lagi-lagi, takdir seperti sedang menertawakan kemalanganku. Disaat-saat seperti inilah, kata-kata guru pengajianku mulai mendengung kencang ditelingaku. “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Q.S At-taubah ; 40).

Hati ini mulai berdamai. Pikiran mulai berjalan dengan santun. Bis malam ini begitu syahdu. Mungkin karena aku mengingat Allah. Ini adalah titik kelemahanku, menyadarkan diri mengenai keberadaan bantuan Allah S.W.T adalah titik balik segalanya bagiku. Dalam keadaan terjepit sekalipun. Bersyukurlah.

Bis berhenti tepat di gang kosan. Putri menepuk pelan pundakku. Ada rasa khawatir dalam dirinya, terlukis dari raut wajahnya. Tanpa basa-basi aku turun dari bis. Tak menunggu mereka. Suara desahan Putri terdengar begitu nyaring. Api ini harus terpadamkan oleh air wudhu. Setibanya di kosan, aku langsung segera shalat. Putri sedang datang bulan. Jadi dia absen dulu. Aku membereskan shalatku yang tadi sengaja aku panjangkan kuantitas waktunya, tidak seperti biasanya. Supaya terhindar saja dari percakapan mereka. Mengulur waktu sebisa mungkin. Terdengar suara tawa riuh di ruangan tengah.

Kosanku cukup luas. Layaknya rumah biasa saja. Dengan dapur, kamar, toilet dan ruang tengah untuk nonton televisi. Corak cat yang minimalis membuat kosan ini terkesan mewah. Padahal, kami membayar tempat senyaman ini dengan harga yang relatif terjangkau.

Makan malam sudah tersedia di ruang tengah. Tertata rapi diatas meja kecil. Kami makan sambil duduk di lantai ubin dinginnya. Hening sejenak. Kemudian Roy pamit untuk shalat, tak lama berselang dari itu, dia kembali ke ruang tengah. Makanan yang dimasak Putri memang selalu enak. Aku mencernanya dengan perlahan dan ragu-ragu. Melihat ekspresi Putri sejak di kantor sampai sekarang, senyum yang tidak pernah lepas. Dia bahagia sekali. Mungkin, karena ada Roy di sini. Aku merasa Roy selalu mencuri pandang padaku, membuat hati ini semakin tidak nyaman dibuatnya.

Biarlah, lupakan saja. Rasa lapar selalu menjadi pemenang. Akhirnya, kami menyelesaikan makan malam hari ini dengan aman. Aku memandang ke luar jendela yang terbuka. Bulan menyinari tepat ke dalam rumah ini. Sinarnya meledek.

“Terimakasih, Put.” Roy berkata antusias.

“Sama-sama. Kamu gak mau berterimakasih sama Diana juga?”

Roy tertawa renyah. “Gak usah! Dia gak banyak berkontribusi malam ini.”

Aku mendengar mereka ngobrol pake ‘aku-kamu’ dengan geram. Memaksa diri untuk terus bersabar dan bersabar. “Aku pamit dulu ya, Put. Udah larut. Lagian aku gak pake motor. Takut bis udah gak lewat lagi. Sekali lagi makasih, aku seneng banget. Lain kali aku yang traktir kamu di kafe bergaya vintage tak jauh dari kantor deh!” Kata Roy riang sambil pamit lalu keluar menuju pintu. Tanpa melihat lagi padaku, sama sekali tak keberatan dengan semua itu, yang kubutuhkan saat ini hanyalah laptop untuk flashdisk yang sekarang sudah disimpan di atas meja, di kamar.

Putri mengantarnya sampai pintu. Memberinya ucapan selamat malam yang manis. Bergumam ‘hati-hati dijalan’ padanya. Setelah beberapa saat, Putri berjalan kembali ke meja makan. Duduk disampingku. “Lo kenapa sih hari ini? Ngelamun terus, pendiem juga.”

“Gue lagi menikmati kebahagian lo. Gak ada hak untuk merampasnya.”

Dia diam. “Jujur, gue emang bahagia hari ini, bukan karena Roy aja kok. Tapi, karena gue baru sadar. Betapa bahagianya gue punya dua orang yang sangat berharga, yang selalu peduli. Akhirnya, bisa makan malam satu meja seperti ini. Bertiga. Sama-sama menikmati masakan buatan gue. Seperti keluarga yang bahagia.” Dia tersenyum.

Here we go again. Dia dengan hal-hal yang sederhana itu lagi.

As long as you happy, Put. Kita membereskan semuanya, aku kebagian tugas mencuci piring-piring tadi. Putri pamit untuk tidur duluan. Setelah semuanya beres. Aku buru-buru membuka laptop dan mencolokkan flashdisk-nya, ceroboh. Tergesa-gesa. Rasa penasaran ini begitu besar. Tiba-tiba muncul hasil otopsi mayat Alex, beserta barang bukti yang tidak aku lihat sewaktu di persidangan waktu itu. Gambar CCTV lapang Taman Anggrek. Ada notes yang bertuliskan ‘Baca!’ Ketika membacanya, aku terkesiap. Mataku membulat seperti bulan purnama. Terpaku pada layar seutuhnya. Merasa dipermainkan oleh keadaan.

‘Ini adalah beberapa barang bukti dan background dari pelaku dan juga korban yang sengaja disembunyikan pihak polisi. Entah berlandaskan motif apa. Tapi, ada salah satu polisi yang bersedia membantu kita untuk mencari tahu apa dan kenapa semua ini begitu membuat para penguasa ingin ikut campur. Pelajari semua dengan baik-baik. Ini penting buat jurnal lo, percaya sama gue. Jangan lupa besok kita ketemu mantan terindah lo, Jam 9 pagi. Teng. Bersikaplah profesional!’

Sensasi yang begitu bersaut-sautan dalam diriku. Pada satu sisi aku sangat tidak sabar untuk ikut andil dalam penyelidikkan kasus ini. Tapi, pada satu sisi yang lain diriku menolak keras untuk menemui Toni. Orang yang sudah membuat duniaku terasa hambar. Orang yang sudah membuat hari-hariku kelam dan aku memutuskan untuk tak percaya lagi akan cinta sejati. Tapi, benar apa yang Roy katakan. Aku harus bersikap profesional di depannya. Dulu, aku adalah orang yang sudah menyia-nyiakan kasih sayangnya. Sekarang karma sudah menuntut balasnya. Aku sudah belajar dari kesalahan. Berdeham. Aku menyimpan laptop dan flashdisk di tempat yang aman. Ini adalah bukti berharga yang harus aku simpan layaknya sebuah harta karun. Ngomong-ngomong soal bukti, aku masih memperhatikan Pak Surya. Gelagatnya makin mencurigakan. Dia sudah banyak sekali menerima telepon dari orang luar selain orang-orang yang bekerja di Record. Semoga saja semua dugaanku tidak benar-benar terjadi. Tidak tega rasanya melihat ekspresi kecewa direktur kalau tahu anak buah kesayangan yang selalu dia banggakan itu mempunyai niat jahat terhadapnya dan nasib Record. Sudahlah. Aku butuh istirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Mental siap. Allah bersamaku.
Diubah oleh feymega24
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
RUANG KOSONG
24-12-2018 00:15
Tinggalin jejak dlu mbak, baca nanti emoticon-Big Grin
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 10:07
Quote:Original Posted By malibuuuu
Tinggalin jejak dlu mbak, baca nanti emoticon-Big Grin


Makasih agan emoticon-Cendol Gan
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 11:17
bacaan lumayan berat nih


btw semangat nulisnya emoticon-Toast
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 12:38
Quote:Original Posted By sicadelllll
bacaan lumayan berat nih


btw semangat nulisnya emoticon-Toast


Haha makasihhhh agannn emoticon-Cendol Gan
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 13:21
Quote:Original Posted By feymega24
Haha makasihhhh agannn emoticon-Cendol Gan


Sippp....lanjutkan sist


Usahakan batasi dalam menuliskan identitas...stalker kaskus ngeri ngeri jagonya
Diubah oleh sicadelllll
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 18:15
Quote:Original Posted By sicadelllll
Sippp....lanjutkan sist


Usahakan batasi dalam menuliskan identitas...stalker kaskus ngeri ngeri jagonya


Makasihhh banget loh gan, atas infonya. Tapi, belum ngerti nih cara nyembunyiin-nya hehe. Terlanjur di isi emoticon-Cendol Ganemoticon-Mewek
1 0
1
RUANG KOSONG
24-12-2018 18:35
Quote:Original Posted By feymega24
Makasihhh banget loh gan, atas infonya. Tapi, belum ngerti nih cara nyembunyiin-nya hehe. Terlanjur di isi emoticon-Cendol Ganemoticon-Mewek


Kalo menurut sista kontenya aman gk usah dirubah gak apa tapi kalo mau dirubah tinggal edit post aja....
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
energi-negatif
Stories from the Heart
journey-to-marriage
Stories from the Heart
the-third-eye-tamat
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
gadis-kecil
Stories from the Heart
aku-diantara-kalian-18
B-Log Collections
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia