Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
11
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c0ead6b4601cf29da544c40/the-light-emanates-from-you
Cerita ini disadur dari sebuah komik asal jepang yang berjudul ;I Would Never Tell; dari karya Yagami Rina. Jika, kalian baca komiknya, pasti akan tau jalan ceritanya. Namun, jalan cerita di sini akan ada perbedaan dengan komiknya. Meski begitu, ada beberapa jalan cerita yang sama. Jika ada kekurangan atau kelebihannya, agan-agan bisa tinggalkan dalam komentar di bawah dan jangan lupa b
Lapor Hansip
11-12-2018 01:16

THE LIGHT EMANATES FROM YOU

Past Hot Thread
Cerita ini disadur dari sebuah komik asal jepang yang berjudul "I Would Never Tell" dari karya Yagami Rina. Jika, kalian baca komiknya, pasti akan tau jalan ceritanya. Namun, jalan cerita di sini akan ada perbedaan dengan komiknya. Meski begitu, ada beberapa jalan cerita yang sama.

Jika ada kekurangan atau kelebihannya, agan-agan bisa tinggalkan dalam komentar di bawah dan jangan lupa berikan nilai untuk cerita ini. Sebab, saya juga masih tahap belajar dalam pembuatan cerita. Semoga agan-agan bisa menikmati dan enjoy dalam membaca cerita ini yaaa.....
emoticon-Malu emoticon-Malu emoticon-Malu

SINOPSIS:
"Yuna adalah seorang wakil dewan kesiswaan yang tegas dan keras kepala. Namun, tiba-tiba harus menjadi pacar dari seorang Zaka ketua dewan kesiswaan yang memiliki sifat berbanding terbalik dari wakilnya. Mereka jadian hanya karena nama mereka tertulis disebuah tembok bangunan sekolah yang dapat mewujudkan sepasang kekasih yang dipercaya oleh penduduk sekolah. Lalu bagaimana reaksi Yuna mengetahui hal itu? Apakah Yuna akan menerimanya atau hanya menganggap semua itu hanya omong kosong?"


*****






BAGIAN 1


          Ada sebuah sekolah yang memiliki rumor tentang sebuah tembok yang bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai. Rumor itu berasal dari sekolah Yuna. Tembok itu berada disebuah bangunan lama yang dilarang untuk dimasuki karena bangunan tersebut sudah sangat lama tidak dipakai oleh pihak sekolah, takutnya akan terjadi apa-apa untuk para siswanya. Isi rumor itu adalah apabila ada seseorang menuliskan namanya dengan nama orang yang dicintai, maka mereka dapat bersatu. Hari ini ruang dewan kesiswaan diramaikan dengan siswa yang melanggar aturan tersebut, tidak sedikit siswa yang dipanggil ke ruangan dewan kesiswaan. Yuna Aliana yang sebagai wakil dari dewan kesiswaan harus menahan amarahnya pagi-pagi, sebab harus mengurusi para siswa yang lumayan banyak melanggar peraturan tersebut, pergi ke bangunan lama itu.
          "Yang ini! Yang ini! semuanya tentang masalah bangunan lama itu. Kenapa mereka masih pergi ke sana? Apa mereka tidak tau di sana itu sangat berbahaya, lalu buat apa aturan ini buat, kalau masih banyak yang pergi ke sana," ketus Yuna sambil meremas kertas yang dipegangnya.
          "Hei, coba kau lihat wakil dewan kita yang dingin dan tegas itu, tubuhnya diselimuti hawa yang tak mengenakan, bagaikan ada badai besar yang akan datang di ruangan ini," bisik salah seorang dewan siswi perempuan kepada dewan siswi perempuan yang lain.
          "Iya. Sejak rumor bangunan lama itu tersebar, setiap hari pasti ada saja siswa yang pergi ke sana dan tidak sedikit anak melangarnya," jawab dewan siswa perempuan itu. Ketika itu, tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke ruangan dewan kesiswaan dan memanggil Yuna dengan terengah-engah.
          "Wakil ketua Yuna! Aku ingin memberitahu, ada anak yang tertangkap basah keluar dari bangunan lama itu," ujar lelaki itu.
          "Apa? Lagi? Kau tau tenggorokanku sampai sakit, karena terus menceramahi mereka tentang peraturan ini," ujar Yuna terkejut dengan memasang wajah lelah dan mulai meredakan amarahnya.
          "Aku malah ingin melihat dan mendengar Yuna-ku menceramahi mereka dengan suara lembut dan manisnya," sambung seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang laki-laki yang memberi kabar. Yuna pun mengikuti sumber suara yang tiba-tiba muncul itu. Ketika Yuna mengetahui pemilik suara itu, emosi Yuna kembali naik.
          "Huh! Zaka!" panggil Yuna kepada Zaka , si ketua dewan kesiswaan sambil menahan emosi.
          "Ya!" jawab Zaka dengan suara lembut yang khusus diucapkannya untuk Yuna sambil tersenyum manis.
          "Hei, kau kan ketua dewan kesiswaan, seharusnya kau yang mengurusi mereka dan menceramahi tentang peraturan ini, bukannya ke sana kemari tidak jelas, apalagi kau membawa ilalang yang tidak ada gunanya itu. Kau tau, aku sudah lelah menceramahi mereka hari ini, sampai-sampai tenggorakanku ini sakit, seharusnya ini tugasmu," ketus Yuna kepada Zaka yang datang entah dari mana dan hanya tebar pesona di ruangan dan membawa ilalang di tangan kanannya. Mendengar omelan Yuna yang dilontarkan, Zaka malah mendekat.
          "Maaf Yuna-ku, aku terlambat karena harus mampir di suatu tempat untuk suatu urusan dan kau tau, aku menemukan bunga cantik ini! Oh iya, tolong berikan ini kepada Pak Agus bagian laboratorium sains, ya," ujar Zaka kepada lelaki itu sambil memberikan ilalang yang dibawanya.
          "Tentu ketua," jawab lelaki itu sambil mengambil ilalang dari Zaka, lalu pergi menemui Pak Agus. Setelah kepergian lelaki itu, Zaka kembali menatap Yuna sambil memberikan bunga cantik berwarna pink dari saku celananya ke tangan Yuna.
          "Oh, jadi kau ke sana kemari hanya memetik ilalang itu dan bunga apa ini?" sambung Yuna setelah melihat Zaka yang memberikan ilalang kepada lelaki itu dan bunga ditangannya.
          "Hei, mana mungkin kau bilang itu hanya ilalang saja, di situ kan juga ada bunga-bunga yang cantik, saking cantiknya aku langsung teringat padamu. Makanya aku membawa bunga itu untukmu, karena bunga itu sama cantiknya denganmu yang setiap harinya selalu cantik dan manis," ujar Zaka dengan memasang wajah sumringahnya.
          "Yuna, kau tau, aku pagi tadi menuliskan nama kita di sana, untuk mengetes apakah rumor yang selama ini tersebar itu benar adanya," bisik Zaka di samping wajah Yuna sambil tersenyum manis. Mendengar ucapan itu, wajah Yuna seketika itu pucat dan tubuhnya membeku.
          "Huh! A-apa kau bilang?" tanya Yuna gugup, seakan-akan Yuna kehabisan kata-kata untuk dilontarkan menjawab atas pernyataan Zaka.
          "Hahaha, tuh kan kau memasang wajah jelek itu lagi," ujar Zaka sambil mengetukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dahi Yuna untuk menyadarkan Yuna dari keterkejutannya, kemudian Zaka meninggalkan Yuna sambil melambaikan tangannya ke Yuna yang masih berdiri membeku di belakangnya. Pagi ini koran sekolah baru telah diterbitkan dari pihak sekolah. Koran sekolah bermuat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan para siswa maupun para guru serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolah kami. Koran sekolah diterbitkan biasanya 2 kali dalam seminggu.

*****




11 Desember, 2018

1.14


Risdhidha

THE LIGHT EMANATES FROM YOU


Diubah oleh Kehanchai04
profile-picture
profile-picture
profile-picture
timunsegar dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
11-12-2018 20:37
BAGIAN II

Hari ini pun sekolah kami di gemparkan oleh sebuah berita penting, berita tentang ketua dewan dan wakilnya.

"Eh, kau sudah lihat belum koran baru hari ini?" tanya salah seorang siswa kepada kedua teman siswinya.

"Sudah! Berita tentang Zaka, kan? Si ketua dewan siswa dan wakilnya!" jawab teman siswi keduanya.

"Itu benar mereka pacaran? Tidak mungkin, pasti berita itu ada kesalahan," sambung teman ketiganya.

"Tapi, aku dengar-dengar nama mereka tertulis di tembok bangunan lama itu dan kalian tau katanya yang menuliskan si Zaka sendiri, loh!?" bisik siswi pertama tersebut kepada temannya.

"Ah! tidak mungkin, kalian juga tau sendiri mereka berdua itu seperti apa," ujar teman siswi keduanya.

"Tapi kalian juga tau sendiri rumor itu sangat dipercaya siswa-siswi di sekolah kita, bahkan ada beberapa sudah kejadian, katanya, sih," sambung teman ketiga mereka.

"Tapi aku masih tidak percaya berita itu. Sudahlah, kita masuk kelas saja. Sebentar lagi bunyi bel masuk," ujar teman kedua mengajak kedua temannya untuk masuk kelas. Mendengar dan melihat berita heboh dari koran pagi ini, Yuna pun mencoba meredam amarahnya kepada Zaka. Yuna cepat-cepat pergi dari kelasnya dan mencari Zaka.

"Zaka! Gara-gara kamu menulis nama ku di sana, membuat gosip yang tidak-tidak. Kau harus bertanggungjawab meluruskan gosip ini," ujar Yuna mendekati Zaka yang duduk di pojok dekat jendela sambil bermain handphone nya dan Yuna masih mencoba menahan amarahnya.

"Wahh, langsung tersebar ya," jawab Zaka ringan sambil meletakkan handphone di meja dan menatap Yuna sambil tersenyum manis.

"Apa kau bilang. Cepat luruskan berita itu, kalau tidak kubunuh kau, Zaka!" ujar Yuna dengan amarah meluap-luap yang tak bisa dibendungnya lagi sambil mengangkat salah satu kursi terdekat untuk dilemparkan kepada Zaka. Melihat kejadian tersebut, salah satu lelaki dari dewan siswa di ruangan mencoba menahan Yuna atas perlakuannya dan mencoba memberi pengertian kepada Yuna.

"Yuna! Sabarlah, pasti Zaka memiliki alasan tersendiri atas apa yang telah dilakukannya," ujar lelaki itu.

"Kau bilang Zaka memiliki alasan. Mana mungkin cowok kacau begitu memiliki alasan," ketus Yuna yang masih membawa kursi.

"Mungkin Zaka ingin mencoba meredam rumor itu dengan menuliskan nama kalian berdua" kata lelaki itu yang masih menahan Yuna.

"Betul. Seandainya kak Yuna dan kak Zaka tidak jadian, maka rumor yang tersebar selama ini tidak benar dan mereka pasti tidak akan ada yang mencoba pergi ke bangunan lama itu," sambung siswi yang seperti adik kelas mereka dari dewan kesiswaan yang ikut membantu menahan Yuna. Yuna pun mencoba menenangkan dirinya.

"Kalian bilang dia punya alasan, mana mungkin cowok aneh ini sampai berpikiran sejauh itu!" ujar Yuna sambil menarik dasi Zaka, sehingga membuat wajah mereka sejajar.

"Adu..duhhh...," ucap Zaka merintih kesakitan.

"Jadi, bagaimana penjelasan dan tanggungjawabmu tentang gosip ini?" tanya Yuna mencoba melepaskan pegangannya dari dasi Zaka, tapi masih tetap menatapnya dengan tatapan tajam.

"Hmhmhm, tangungjawab ya...," ujar Zaka sambil membenahi dasinya dan memegang dagu, seolah-olah berpikir jawaban akan pertanyaan Yuna.

"Yah.. sayang sekali Yuna-ku, yang sudah ditulis tidak bisa dihapus lagi. Kita lihat saja bagaimana efeknya sama-sama," sambung Zaka polos dan lagi-lagi tersenyum manis kepada Yuna. Melihat itu, Yuna langsung menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, lalu kembali menatap Zaka yang memasang tampang polos.

"Kubilang, kau harus tanggung jawab, cowok alien!" kata Yuna kesal sambil menarik kerah baju Zaka.

"Bukannya bagus, kan. Baik rumornya itu benar ataupun tidak, Yuna-ku tetap diuntungkan, bukan," ujar Zaka sambil tersenyum manis.

"Untung?" tanya Yuna yang langsung dihinggapi beberapa pertanyaan dikepalanya dan terheran akan pernyataan Zaka itu.

"Iya, jika rumor itu tidak benar, berarti kehebohan ini akan berakhir dan jika rumor itu benar, maka kita bisa berpacaran. Sekali dayung dua pulau terlampaui, kan?" ujar Zaka sambil mengedipkan mata ke Yuna dan tersenyum simpul untuknya.

"Kau bilang kita bisa pacaran? Sampai mati pun aku tidak akan mau pacaran denganmu, cowok yang berpikiran seperti alien. Aku akan buktikan kalau rumor itu tidak benar," ujar Yuna menarik kerah Zaka kembali, sehingga wajah mereka bisa saling menatap satu sama lain dan Yuna menatap Zaka dengan tajam. Yuna pun langsung meninggalkan Zaka yang masih tersenyum manis kepadanya.

"Huh! Pacaran dengan Zaka, berarti sama halnya pacaran dengan orang yang daya pemahamannya setara dengan makhluk luar angkasa," batin Yuna yang meninggalkan ruang dewan kesiswaan. Beberapa hari, Yuna harus menghindari Zaka, sampai situasi tersebut meredam dan dingin seperti sediakala. Hari ini Yuna berencana untuk makan siang di atap sekolah. Sesampainya di atap sekolah, Yuna segera memakan bekal siang yang dibawanya. Setelah selesai, Yuna berencana untuk menanyakan apa saja yang terjadi pada hari ini kepada dewan kesiswaan yang lain melalui teman-teman dewan kesiswaannya tanpa harus pergi ke ruangan dewan kesiswaan. Saat Yuna ingin meninggalkan atap sekolah, tiba-tiba saja Zaka muncul di atap sekolah, seketika Yuna pun langsung bersembunyi.

"Kenapa dia bisa berada di sini? Tidak mungkin Zaka berpatroli mengawasi para siswa, selama ini, kan, kerjaanya hanya ke sana kemari tidak jelas," tanya Yuna pada dirinya sambil memperhatikan Zaka. Setelah beberapa menit Zaka melihat-lihat di sekitar atap sekolah, Zaka pun meninggalkan atap sekolah. Yuna pun keluar dari tempat persembunyiannya. Yuna memastikan bahwa Zaka telah pergi dari atap sekolah, setelah itu Yuna meninggalkan atap sekolah menuju teman-teman dewan kesiswaan. Setelah Yuna mengetahui informasi tentang peristiwa apa saja yang terjadi hari ini, Yuna berencana untuk berpatroli mendisiplinkan para siswa. Yuna mulai berpatroli dari gudang di ruang olahraga, karena tempat itu menurutnya adalah tempat yang cocok untuk para siswa melanggar peraturan. Tapi, ketika Yuna berpatroli dari gudang ruang olahraga, taman, bahkan dari tempat-tempat tersembunyi baginya, Yuna selalu saja bertemu dengan Zaka.

"Kenapa aku selalu bertemu dengannya terus, sih? Yang namanya kebetulan itu juga pasti ada batasannya, kan?" batin Yuna yang selalu bersembunyi ketika bertemu dengan Zaka saat berpatroli, meski pun begitu Yuna tetap melanjutkan berpatrolinya. Setelah kejadian Yuna yang selalu bertemu Zaka saat berpatroli, Yuna mulai waspada jikalau bertemu dengannya. Belakang sekolah merupakan tujuan terakhir Yuna untuk berpatroli. Sesampainya di sana, tiba-tiba Yuna bersembunyi. Ternyata di sana Yuna mendapati segerombolan para siswa yang sedang merokok dan hal itu merupakan salah satu pelanggaran aturan sekolah. Yuna pun mendekati mereka sambil membawa botol mineral ditangannya yang tadi sempat dibelinya karena kelelahan sebelum akan ke belakang sekolah.

"Sedang apa kalian? Apa kalian tau, kalian sudah melanggar salah satu aturan di sekolah ini! Apalagi kalian melakukan pelanggaran itu di tempat ini. Apa yang ada dipikiran kalian?" tanya Yuna geram, lalu menyemprotkan air mineral yang dibawanya kepada segerombol siswa untuk mematikan api dari rokok yang mereka hisap. Mereka pun terkejut atas perilaku Yuna itu. Mereka semua langsung berdiri dan menatap Yuna dengan tatapan tajam, walaupun Yuna adalah seorang perempuan, tapi mereka tidak peduli. Yuna pun mulai merasa takut ketika mereka mulai mendekatinya.

"Cihh! Jadi basah kuyup, kan. Kau bersiap-siaplah-," ujar salah satu lelaki yang mulai mendekat bersiap ingin melakukan sesuatu terhadap Yuna, tapi tiba-tiba sebuah batu berukuran kelereng kecil meluncur dari atas kepala lelaki tersebut. Tidak disangka, ternyata orang yang melempar batu tersebut tak lain adalah Zaka, ketua dewan kesiswaan. Zaka pun melompat keluar dari jendela dan mendekat ke arah kami.

"Jangan kau sentuh Yuna-ku. Jauhkan tanganmu dari Yuna," ujar Zaka santai sambil bergaya dengan sikap kerennya yang melompat dari jendela. Tanpa memerdulikan ucapan Zaka, segerombolan siswa itu langsung mendekati Yuna dan memegang tangannya dengan erat.

"Aakkhh!" rintih Yuna kesakitan.

"Sudah kita mulai saja!" ujar para siswa itu kepada Yuna. Melihat hal itu, Zaka langsung berjalan mendekati mereka.

"Sudah kukatakan, kan, jangan sentuh Yuna-ku, kau terlalu mengabaikanku, ya. Apa kau tak dengar ya kalau orang lagi bicara? Kau tidak lihat Yuna-ku kesakitan itu," ujar Zaka melepas tangan laki-laki itu dari tangan Yuna dan menarik tangan lelaki itu hingga ke belakang. Akhirnya mereka pun terlibat perkelahian. Zaka pun berhasil memenangkan perkelahian tersebut. Tapi, segerombolan siswa itu langsung kabur begitu saja ketika mereka melihat celah untuk kabur dari Zaka, setelah kalah. Zaka bertujuan untuk menangkap mereka, tapi tiba-tiba Yuna menahan Zaka dengan menarik baju belakananya.

"Zaka, tanganmu," panggil Yuna sambil memegang tangan kanan Zaka yang mengeluarkan darah segar. Mendengar panggilan Yuna, Zaka berbalik dan menatap Yuna yang memegang tangannya. Darah segar itu mengucur dari telapak tangannya tanpa ia sadari. Perkelahian tadi membuat telapak tangan Zaka terluka dan mengeluarkan darah. Hal tersebut sontan membuat Zaka merintih kesakitan.

"Adu..duu...hh, kenapa bisa jadi begini. Kenapa aku tidak menyadarinya, ya?" ujar Zaka yang merintih kesakitan sambil memegang tangan kanannya. Hal tersebut membuat Yuna langsung menarik Zaka ke UKS dengan menarik tangan kirinya. Yuna menggenggam tangan kiri Zaka, ketika mereka akan pergi menuju UKS. Hal itu membuat Zaka tersenyum gembira meskipun telapak tangan kanannya sedang terluka. Sesampai mereka di UKS, Yuna segera membersihkan luka yang ada ditelapak tangan Zaka, memperban luka Zaka. Lagi-lagi yang dilakukan Yuna membuat Zaka tersenyum. Tanpa sepengetahuan Yuna, Zaka lagi-lagi tersenyum manis. Merasakan ada sesuatu hal yang aneh, Yuna melihat Zaka. Zaka pun tertangkap basah karena sedang tersenyum ke arahnya.

"Kau! Jangan katakan kau dari tadi tersenyum. Memangnya di sini ada yang lucu?" tanya Yuna ketus dan langsung menekan luka Zaka yang telah selesai diperban. Zaka pun langsung memegang luka yang diperban Yuna.

"Auw! Sakit tahu. Kau tau, baru kali ini aku melihat sikapmu yang manis dan hangat seperti ini padaku, tak kusangka ternyata kau bisa juga bersikap seperti ini. Padahal selama kita bersama, kau selalu saja bersikap dingin dan tegas kepadaku, kenapa?" tanya Zaka dengan lembut sambil memandang Yuna dengan hangat, yang sedang mengembalikan obat-obatan ke tempat semula setelah mengobati Zaka. Yuna tidak memperdulikannya dan tetap melanjutkan menaruh peralatan kesehatan ke tempat semula. Setelah selesai meletakkan peralatan kesehatan, Yuna menatap Zaka.

"Jam 4 sore temui aku di ruang dewan kesiswaan. Tadi kau bilang kenapa aku selalu bersikap dingin dan tegas kepadamu? Bukannya kau sudah mengerti, kan. Jadi aku tidak harus menjelaskan lagi kepadamu. Satu lagi, aku melakukan ini sebagai tanda terima kasih, karena kau sudah menolongku dari mereka. Aku juga tidak ingin memiliki utang budi padamu," ujar Yuna dingin dan langsung meninggalkan Zaka yang masih duduk di tempat tidur UKS sambil tersenyum dengan kepergian Yuna.
1 0
1
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
13-12-2018 18:48
BAGIAN III

Yuna pergi ke ruang dewan kesiswaan lebih awal, sebab Yuna adalah orang tidak suka terlambat. Ketika Yuna sampai di ruang dewan kesiswaan, di sana Yuna tidak menemui siapa-siapa selain dirinya. Yuna pun menunggu Zaka di dalam ruangan. Waktu terus berjalan, tapi Zaka tak kunjung datang. Bahkan pukul 4 sore waktu perjanjian yang telah disetuji pun sudah lewat.

"Sialan kau Zaka. Ah, benar-benar kau...," gerutu Yuna keluar dari ruang dewan kesiswaan. Yuna yang tak tahan pergi untuk mencari Zaka. Ketika Yuna mau melewati ruangan BK, tiba-tiba Yuna bersembunyi di balik tembok dekat ruang BK. Di sana Yuna melihat Zaka sedang berbincang dengan guru.

"Wah Zaka, kau hebat bisa berhasil menangkap mereka. Kau luar biasa. Kau memang pantas menjadi ketua dewan kesiswaan di sekolah ini. Selama ini sudah banyak anak yang kau tangkap karena melanggar aturan sekolah dan semua itu atas kerjasamamu dan partnermu, Yuna. Kalian benar-benar pasangan dewan kesiswaan yang hebat," ujar bapak BK bangga sambil memegang pundak Zaka dan tersenyum. Zaka pun ikut tersenyum.

"Bapak ini bisa saja. Namun, semua itu hanya kebetulan saja, karena memang tempat itu biasanya dijadikan anak-anak sebagai tempat berkumpul dan biasanya mereka melakukan pelanggarn di tempat seperti itu, pak. Saya juga hanya sekedar berpatroli. Jadi wajar saja kalau saya bisa menangkap mereka," jawab Zaka sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan tersenyum kepada Pak Yudha, guru BK.

"Dasar kau itu pintar sekali bicaranya, ya. Padahal kau sudah beberapa kali menangkap anak-anak yang melakukan pelanggaran dan membawanya ke sini," kata Pak Yudha memukul Zaka dan tersenyum, Zaka hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dan ikut tersenyum. Mendengar perbincangan antara Zaka dan Pak Yudha saat itu, membuat Yuna bingung, terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Belum sempat kebingungan dan keterkejutannya hilang, tiba-tiba Pak Agus mendekat ke arah Zaka dan Pak Yudha.

"Ah, Zaka ternyata kamu ada di sini rupanya. Bapak dari tadi mencarimu," ucap Pak Agus ketika berada di hadapan Zaka dan Pak Yudha.

"Ohh... Pak Agus dari laboratorium sains. Ada apa?" tanya Zaka menoleh ke Pak Agus.

"Oh ini bapak mau tanya, Zaka. Kamu menemukan dan memetik tanaman ini dari mana? Kamu tahu ini tanaman yang beracun. Semisal ada anak yang memegang ini, itu akan berbahaya bagi tubuhnya. Untung kamu yang membawanya, sehingga tidak ada anak yang terkena tanaman ini, sungguh ini sesuatu hal yang penting, Zaka. Kamu hebat," kata Pak Agus sambil memegang sebuah plastik yang di dalamnya terdapat sebuah tanaman. Lagi-lagi Zaka hanya bisa tersenyum. Mendengarkan semua itu, Yuna pun langsung meninggalkan mereka dan kembali ke ruangan dewan kesiswaan.

"Hmhm, pak, karena urusan ini sudah selesai, saya permisi dulu, ya," ucap Zaka mohon pamit kepada kedua gurunya tersebut.

"Oh ya, kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih Zaka," ujar kedua guru tersebut.
Zaka pun meninggalkan kedua gurunya. Zaka berniat pergi ke ruangan dewan kesiswaan untuk mengambil tas yang ditinggalkannya di sana dan ingin segera pulang. Sesampainya di sana, Zaka melihat Yuna duduk seorang diri dan seperti sedang menunggu seseorang.

"Yuna, kenapa kau masih ada di sini? Bukannya sekarang sudah waktu pulang sekolah, ya. Jam pulang juga sudah lewat sejam yang lalu," tanya Zaka bingung mendekat kepada Yuna dan ingin mengambil tas yang berada ddekat dengan kursi duduki Yuna.

"Aku sedang menunggumu. Tapi, kau tidak datang," jawab Yuna dingin.

"Menungguku? Untuk apa?" jawab Zaka heran sambil melihat ke arah Yuna yang sedang bersedekap.

"Kau lupa...," ucap Yuna menatap Zaka dengan tajam.

"Ah, janji itu ya. Maafkan Yuna-ku aku lupa. Aku sibuk karena mengurusi sesuatu hal. Maaf, aku benar-benar lupa," ujar Zaka yang langsung mendekati Yuna dan membentuk tangan permohonan maaf kepada Yuna. Yuna yang tak merespons. Mengetahui hal itu Zaka melihat ke Yuna.

"Yuna, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zaka yang melihat Yuna tak merespon ucapannya.

"Zaka, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Siang tadi kenapa bisa kau berada di tempat itu? Kenapa kau bisa menemukanku dalam keadaan seperti itu, seolah-olah kau sudah tahu akan situasi saat itu? Padahal tempat itu merupakan tempat yang sangat terpencil dan tidak ada yang mengetahuinya, bahkan tidak terpikir oleh siapapun jikalau ada anak yang melanggar peraturan di tempat itu?" tanya Yuna dengan raut wajah keingintahuannya. Mendengar ucapan Yuna, Zaka hanya tersenyum manis sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Ah, siang tadi, ya. Mungkin itu kerena kekuatan cinta kita," jawab Zaka yang asal-asalan dan bersikap konyol seperti biasa yang dilakukannya.

"Yuna...," panggil Zaka ketika mengetahui Yuna tak merespons ucapannya kembali.

"Jangan bercanda, Zaka! Kau mengetahuinya, itu karena kau sering bertugas dan berpatroli ke tempat anak-anak berandalan berkumpul itu, kan! Kenapa kau berbohong kepadaku?" ujar Yuna yang mulai kesal.

"Baiklah jika kau ingin tau. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku dari ketua dewan kesiswaan sekolah ini sehingga selalu berpatroli dan bertugas untuk mendisiplinkan siswa-siswi sekolah kita untuk menaati peraturan sekolah ini dan itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawabku serta secara tak sengaja aku bertemu dengan Yuna-ku di sana-" ujar Zaka yang serius, tapi tak melanjutkan kalimatnya dan melihat tampang Yuna yang mulai ikut serius.

"Hahaha, bercanda. Aku bercanda kok. Sifat serius mu itu tidak cocok denganku. Aku pulang, ya, bye," lanjut Zaka tersenyum kepada Yuna. Lalu meninggalkan Yuna yang kebingungan sambil mengambil tasnya dan melambaikan tangan kepada Yuna. Melihat hal itu, Yuna langsung menahan Zaka yang hendak pergi.

"Tunggu! Lalu kejadian tadi bisa kau jelaskan, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Yuna yang masih tak mempercayai ucapan Zaka tadi.

"Kau masih tidak percaya, Yuna, padahal aku serius loh tadi. Baiklah lain kali aku kan bicara jujur kepadamu. Tapi, kalau aku bersikap seperti itu tadi, Yun-ku akan kesusahan, kan?"
"Maksudmu?"

"Bagaimana kalau Yuna mengetahui yang sebenarnya, bahwa aku lah yang sebenarnya yang menyebarkan rumor itu. Rumor tentang tembok yang bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai itu. Tujuan aku menulis nama kita berdua itu supaya bisa serius berpacaran denganmu," jelas Zaka.

"Tidak mungkin-,"

"Bagaimana kalau itu benar," ucap Zaka meyakinkan.

"Aku dari dulu menyukaimu Yuna-ku, bahkan ketika kita masih di SMP. Namun, sekarang kita berbeda. Kau tetap dingin, serius, keras kepala, bahkan kau tidak mau dikendalikan oleh orang lain dan itu berbeda denganku. Jika aku bilang bahwa aku masih menyukaimu, apa kau bisa menerimanya, Yuna?,"

"A-apa kamu bilang?" tanya Yuna gugup.

"Aku mengatakan bahwa aku masih menyukaimu bahkan sangat menyukaimu, lalu bagaimana dengan Yuna. Apa Yuna pernah menyukaiku?" tanya Zaka sambil mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya dan memandangnya.

"Kau pasti bohong," jawab Yuna memalingkan wajahnya dari Zaka.

"Aku tidak berbohong," sambung Zaka yang kembali mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya.

"Itu pasti bohong!" ujar Yuna emosi sambil melepaskan tangan Zaka dari wajahnya.

"Lalu kenapa kau berbohong?" sambung Yuna menatap tajam ke arah Zaka.

"Itu pelajaran untukmu, karena selama ini kau tak suka mengetahui maksud yang sesungguhnya dari orang. Baiklah cukup itu dulu, aku harus pulang. Kalau begitu sampai nanti ya. Oh ya, sekarang hari sudah mulai gelap, sebaiknya Yuna-ku juga harus segera pulang. Yuna-ku berati-hati lah kalau pulang, ya," ujar Zaka tersenyum lembut sebelum meninggalkannya.

"Dasar! Apa-apaan sih, dia itu? Dia bilang dari dulu menyukaiku. Benar-benar candaan yang kejam. Makanya aku benci orang yang seperti dia," ujar Yuna kesal, tapi tiba-tiba jantungnya berdetak-detak saat mendengar semua itu.

Pagi ini koran sekolah terbaru diterbitkan. Hari ini Yuna duduk di ruang dewan siswa sambil membaca koran sekolah terbitan baru yang dibawanya. Ketika Yuna sedang mencari berita yang lagi dibicarakan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah artikel yang menarik matanya. Artikel yang berjudul "Rumor Bangunan Tua itu Salah! Dua Orang yang Berselisih Jalannya dalam Hubungan Asmara". Setelah membaca artikel itu, tiba-tiba rasa sesak menghinggapi perasaannya. Saking fokusnya terhadap artikel dan perasaannya, sampai-sampai Yuna tak mendengar panggilan dari anggota dewan kesiswaan lain.

"Eh, ma-maaf. Kau bilang apa?" tanya Yuna kepada anggota dewan siswa yang memanggilnya.

"Strategi ketua sukses besar! Ketua dan wakil ketua hebat!" ujarnya dengan mengulang kalimat tadi yang disampaikannya kepada Yuna dengan wajah cerianya.

"Eh, i-iya," jawab Yuna tergagap.

"Duh, wakil ketua, ada apa, sih? Kenapa wakil ketua seperti gelisah, begitu?" tanya anggota dewan siswa lain kepada Yuna sambil menggodanya.

"Aku tidak gelisah. Dasar si Raja Pembohong!" ujar Yuna menatap tajam anggota dewan siswa itu dengan candaan yang dikatakannya. Anggota dewan siswa lain heran dengan melihat sikap Yuna hari ini.

"Pembohong? Maksudnya wakil ketua, itu si Zaka?" tambah dewan siswa lainnya dengan sedikit heran dengan ucapan Yuna.

"Iya lah! Memangnya siapa lagi? Memang ada orang dengan sebutan si 'Raja Pembohong' selain Zaka," tanya Yuna.
"Tapi, ketua bukanlah orang yang pembohong," ujar anggota dewan siswa dengan heran sambil memegang dagunya dan sedikit berpikir akan ucapan Yuna.

"A-pa maksudmu? Zaka kan orangnya seenaknya, selalu menghindar karena tidak mau bertanggungjawab dan dia juga seorang pembohong," jelas Yuna.

"Tapi, wakil ketua, baru kali ini aku mendengar kalau ketua dewan itu orang yang suka berbohong. Ketua itu tidak pernah sekali pun berbohong atau menipu, apalagi seenaknya dan tidak bertanggungjawab," terang angggota dewan siswa.

"I-tu tidak benar, dia menipu dan membohongiku," jawab Yuna menyakinkan. Seketika Yuna langsung teringat semua kejadian yang dialaminya atas perlakuan Zaka.

"Bukankah yang mengatakan dia pembohong itu adalah aku. Zaka tidak pernah menyangkal ataupun mengiyakannya. Apa benar yang dikatakannya waktu itu adalah sungguhan?" ketika Yuna sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba Zaka masuk ke ruang dewan kesiswaan dan memanggil Yuna.

"Yuna. Ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu?" tanya Zaka heran ketika melihat wajah serius di wajah Yuna.
"Hah?!" jawab Yuna terkejut.

"Ada apa?" tanya Zaka sekali lagi. Yuna pun langsung menatap Zaka yang lebih tinggi darinya dan memerhatikannya.

"Zaka, aku benar-benar tidak mengerti. Ketika ku pikir kau tak bisa apa-apa, seenaknya, pembohong, tapi ternyata kau bisa segalanya, kau orang yang bertanggungjawab, dan kau adalah orang yang jujur. Jadi selama ini kau selalu bersikap seperti ini. Kenapa kau melakukannya di hadapanku, Zaka?" tanya Yuna dengan tampang yang penuh kebingungan akan sikap Zaka yang selama ini berbanding terbalik dengan pikirannya.

"Kamu ingin tahu yang sebenarnya? Kau mau tau motif sebenarnya yang kulakukan kepadamu"

"Kau akan memberitahuku, Zaka?" tanya yuna dengan mata yang berbinar-binar akan jawaban yang mau diberikan Zaka.

"Tidak! Aku tidak akan memberitahumu," ujar Zaka tersenyum sambil menjulurkan lidahnya dan memberikan kedipan matanya kepada Yuna, lalu pergi mengambil tasnya.

"Huh?!"

"Hahaha, kamu tau, Yuna-ku itu spesial. Jika ada yang Yuna-ku tidak mengerti, aku ingin seumur hidup Yuna-ku akan tenggelam dalam ketidaktahuannya terhadapku. Aku ingin Yuna-ku terus memikirkannya ," ujar Zaka berbalik ke arah Yuna sambil mengangkat wajah Yuna hingga wajahnya sejajar dengan dirinya dengan mencangklong tasnya.

"Seumur hidup? Ma-maksudmu?"

"Yuna pasti berpikir bahwa aku adalah orang yang pembohong. Yuna-ku bersiaplah. Suatu saat nanti pikiranmu akan terkubur di dalam ketidaktahuanmu. Maaf ya, aku akan melakukan apa saja untuk terus mengikat dan menarik perhatianmu, Yuna-ku," ujar Zaka sambil mengetukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dahi Yuna, kemudian meninggalkan Yuna dengan lambaian tangan. Mendengar semua itu, jantung Yuna tiba-tiba berdegup kembali, membuat Yuna tak nyaman.

"Tunggu! Bagaimana jika semua orang akan gempar bahwa ternyata rumor itu sesungguhnya adalah benar," ujar Yuna menyembunyikan wajahnya yang mulai panas dengan memalingkan wajahnya. Mendengar hal tersebut, Zaka langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yuna.

"Makanya aku benci orang sepertimu, Zaka. Kau selalu suka sembarangan dan seenaknnya kepadaku sejak dulu dan selalu saja mempermainkan perasaanku," batin Yuna sambil memegang wajah yang menurutnya sudah merah padam akibat ucapan tadi. Ketika Zaka tepat berada di depan Yuna dan membalikkan tubuh Yuna yang membelakanginya dengan wajah Yuna tertunduk. Hal itu membuat Zaka mengangkat wajah Yuna dan mendapati wajah Yuna yang merah padam.

"Maksud Yuna? Kenapa wajahmu seperti itu juga?" tanya Zaka yang tak percaya, kalau-kalau dia tidak salah dengar dan heran akan wajah Yuna yang merah padam itu.

"Kau harus bertanggungjawab!" ulang Yuna tega dengan muka merahnya.

"Bertanggungjawab? Maksud Yuna?" ujar Zaka yang mencoba memahami ucapan Yuna. Lalu Zaka langsung tersenyum manis kepada Yuna. Melihat Zaka yang tersenyum seperti itu, jantung Yuna semakin berdegup. Zaka yang melihat wajah merah padam Yuna sedari tadi dan mulai memahami ucapan Yuna, langsung tertawa dan mengangkat wajah Yuna yang kemudian mendekatinya.

"Baiklah, aku akan bertanggungjawab. Aku akan patuhi semua perintahmu, tuan putri," ujar Zaka mulai mendekati wajah Yuna perlahan-lahan. Mengetahui perilaku yang akan Zaka kerjakan, Yuna sedikit mendorong Zaka dan berkata dengan pelan.

"Hei, apa yang akan kau lakukan? Disini banyak orang," ujarYuna pelan. Ucapan Yuna yang seperti bisikan itu mengundang tawa Zaka.

"Baiklah, ayo kita ke atap sekolah, tuan putri," jawab Zaka langsung menarik tangan Yuna dan mengajak pergi untuk ke atap sekolah. Melihat kelakuan Yuna dan Zaka, timbul berbagai pertanyaan para anggota dewan siswa atas sikap ketua dan wakil dewan siswa mereka. Sesampainya di atap sekolah, tanpa langsung diperintah, Zaka pun langsung memeluk dan mendekati wajah Yuna.

*Selesai*


*sampai bertemu di proyek/cerita selanjutnya emoticon-Hai
Buat agan-agan yang kasih :

emoticon-Cendol Gan : Semoga rezekinya dilancarkan
emoticon-Big Kiss : semoga diberikan jodoh yang diinginkan
emoticon-Cek PM : yang berkomentar semoga urusannya dipermudah

dan semangat agan-agan berkarya emoticon-2 Jempol emoticon-Cool
profile-picture
jejakasedih memberi reputasi
3 0
3
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
08-03-2019 22:03
Yuna nya tsundere. Sifatnya zaka mirip norman dari anime the promised neverland, murah senyum tapi misterius emoticon-Blue Guy Cendol (S)

Tolong ramein dong thread pertamaku. Aku masih belajar nulis, bantu komen, rate & cendol emoticon-Blue Guy Cendol (S)

Mantan Pacar Sekelas (True Story)
Diubah oleh RegainBrave
0 0
0
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
09-03-2019 07:31
kerenn
0 0
0
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
09-03-2019 09:44
Quote:Original Posted By Kehanchai04
BAGIAN III

Yuna pergi ke ruang dewan kesiswaan lebih awal, sebab Yuna adalah orang tidak suka terlambat. Ketika Yuna sampai di ruang dewan kesiswaan, di sana Yuna tidak menemui siapa-siapa selain dirinya. Yuna pun menunggu Zaka di dalam ruangan. Waktu terus berjalan, tapi Zaka tak kunjung datang. Bahkan pukul 4 sore waktu perjanjian yang telah disetuji pun sudah lewat.

"Sialan kau Zaka. Ah, benar-benar kau...," gerutu Yuna keluar dari ruang dewan kesiswaan. Yuna yang tak tahan pergi untuk mencari Zaka. Ketika Yuna mau melewati ruangan BK, tiba-tiba Yuna bersembunyi di balik tembok dekat ruang BK. Di sana Yuna melihat Zaka sedang berbincang dengan guru.

"Wah Zaka, kau hebat bisa berhasil menangkap mereka. Kau luar biasa. Kau memang pantas menjadi ketua dewan kesiswaan di sekolah ini. Selama ini sudah banyak anak yang kau tangkap karena melanggar aturan sekolah dan semua itu atas kerjasamamu dan partnermu, Yuna. Kalian benar-benar pasangan dewan kesiswaan yang hebat," ujar bapak BK bangga sambil memegang pundak Zaka dan tersenyum. Zaka pun ikut tersenyum.

"Bapak ini bisa saja. Namun, semua itu hanya kebetulan saja, karena memang tempat itu biasanya dijadikan anak-anak sebagai tempat berkumpul dan biasanya mereka melakukan pelanggarn di tempat seperti itu, pak. Saya juga hanya sekedar berpatroli. Jadi wajar saja kalau saya bisa menangkap mereka," jawab Zaka sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan tersenyum kepada Pak Yudha, guru BK.

"Dasar kau itu pintar sekali bicaranya, ya. Padahal kau sudah beberapa kali menangkap anak-anak yang melakukan pelanggaran dan membawanya ke sini," kata Pak Yudha memukul Zaka dan tersenyum, Zaka hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dan ikut tersenyum. Mendengar perbincangan antara Zaka dan Pak Yudha saat itu, membuat Yuna bingung, terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Belum sempat kebingungan dan keterkejutannya hilang, tiba-tiba Pak Agus mendekat ke arah Zaka dan Pak Yudha.

"Ah, Zaka ternyata kamu ada di sini rupanya. Bapak dari tadi mencarimu," ucap Pak Agus ketika berada di hadapan Zaka dan Pak Yudha.

"Ohh... Pak Agus dari laboratorium sains. Ada apa?" tanya Zaka menoleh ke Pak Agus.

"Oh ini bapak mau tanya, Zaka. Kamu menemukan dan memetik tanaman ini dari mana? Kamu tahu ini tanaman yang beracun. Semisal ada anak yang memegang ini, itu akan berbahaya bagi tubuhnya. Untung kamu yang membawanya, sehingga tidak ada anak yang terkena tanaman ini, sungguh ini sesuatu hal yang penting, Zaka. Kamu hebat," kata Pak Agus sambil memegang sebuah plastik yang di dalamnya terdapat sebuah tanaman. Lagi-lagi Zaka hanya bisa tersenyum. Mendengarkan semua itu, Yuna pun langsung meninggalkan mereka dan kembali ke ruangan dewan kesiswaan.

"Hmhm, pak, karena urusan ini sudah selesai, saya permisi dulu, ya," ucap Zaka mohon pamit kepada kedua gurunya tersebut.

"Oh ya, kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih Zaka," ujar kedua guru tersebut.
Zaka pun meninggalkan kedua gurunya. Zaka berniat pergi ke ruangan dewan kesiswaan untuk mengambil tas yang ditinggalkannya di sana dan ingin segera pulang. Sesampainya di sana, Zaka melihat Yuna duduk seorang diri dan seperti sedang menunggu seseorang.

"Yuna, kenapa kau masih ada di sini? Bukannya sekarang sudah waktu pulang sekolah, ya. Jam pulang juga sudah lewat sejam yang lalu," tanya Zaka bingung mendekat kepada Yuna dan ingin mengambil tas yang berada ddekat dengan kursi duduki Yuna.

"Aku sedang menunggumu. Tapi, kau tidak datang," jawab Yuna dingin.

"Menungguku? Untuk apa?" jawab Zaka heran sambil melihat ke arah Yuna yang sedang bersedekap.

"Kau lupa...," ucap Yuna menatap Zaka dengan tajam.

"Ah, janji itu ya. Maafkan Yuna-ku aku lupa. Aku sibuk karena mengurusi sesuatu hal. Maaf, aku benar-benar lupa," ujar Zaka yang langsung mendekati Yuna dan membentuk tangan permohonan maaf kepada Yuna. Yuna yang tak merespons. Mengetahui hal itu Zaka melihat ke Yuna.

"Yuna, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zaka yang melihat Yuna tak merespon ucapannya.

"Zaka, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Siang tadi kenapa bisa kau berada di tempat itu? Kenapa kau bisa menemukanku dalam keadaan seperti itu, seolah-olah kau sudah tahu akan situasi saat itu? Padahal tempat itu merupakan tempat yang sangat terpencil dan tidak ada yang mengetahuinya, bahkan tidak terpikir oleh siapapun jikalau ada anak yang melanggar peraturan di tempat itu?" tanya Yuna dengan raut wajah keingintahuannya. Mendengar ucapan Yuna, Zaka hanya tersenyum manis sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Ah, siang tadi, ya. Mungkin itu kerena kekuatan cinta kita," jawab Zaka yang asal-asalan dan bersikap konyol seperti biasa yang dilakukannya.

"Yuna...," panggil Zaka ketika mengetahui Yuna tak merespons ucapannya kembali.

"Jangan bercanda, Zaka! Kau mengetahuinya, itu karena kau sering bertugas dan berpatroli ke tempat anak-anak berandalan berkumpul itu, kan! Kenapa kau berbohong kepadaku?" ujar Yuna yang mulai kesal.

"Baiklah jika kau ingin tau. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku dari ketua dewan kesiswaan sekolah ini sehingga selalu berpatroli dan bertugas untuk mendisiplinkan siswa-siswi sekolah kita untuk menaati peraturan sekolah ini dan itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawabku serta secara tak sengaja aku bertemu dengan Yuna-ku di sana-" ujar Zaka yang serius, tapi tak melanjutkan kalimatnya dan melihat tampang Yuna yang mulai ikut serius.

"Hahaha, bercanda. Aku bercanda kok. Sifat serius mu itu tidak cocok denganku. Aku pulang, ya, bye," lanjut Zaka tersenyum kepada Yuna. Lalu meninggalkan Yuna yang kebingungan sambil mengambil tasnya dan melambaikan tangan kepada Yuna. Melihat hal itu, Yuna langsung menahan Zaka yang hendak pergi.

"Tunggu! Lalu kejadian tadi bisa kau jelaskan, bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Yuna yang masih tak mempercayai ucapan Zaka tadi.

"Kau masih tidak percaya, Yuna, padahal aku serius loh tadi. Baiklah lain kali aku kan bicara jujur kepadamu. Tapi, kalau aku bersikap seperti itu tadi, Yun-ku akan kesusahan, kan?"
"Maksudmu?"

"Bagaimana kalau Yuna mengetahui yang sebenarnya, bahwa aku lah yang sebenarnya yang menyebarkan rumor itu. Rumor tentang tembok yang bisa menyatukan dua orang yang saling mencintai itu. Tujuan aku menulis nama kita berdua itu supaya bisa serius berpacaran denganmu," jelas Zaka.

"Tidak mungkin-,"

"Bagaimana kalau itu benar," ucap Zaka meyakinkan.

"Aku dari dulu menyukaimu Yuna-ku, bahkan ketika kita masih di SMP. Namun, sekarang kita berbeda. Kau tetap dingin, serius, keras kepala, bahkan kau tidak mau dikendalikan oleh orang lain dan itu berbeda denganku. Jika aku bilang bahwa aku masih menyukaimu, apa kau bisa menerimanya, Yuna?,"

"A-apa kamu bilang?" tanya Yuna gugup.

"Aku mengatakan bahwa aku masih menyukaimu bahkan sangat menyukaimu, lalu bagaimana dengan Yuna. Apa Yuna pernah menyukaiku?" tanya Zaka sambil mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya dan memandangnya.

"Kau pasti bohong," jawab Yuna memalingkan wajahnya dari Zaka.

"Aku tidak berbohong," sambung Zaka yang kembali mendekatkan wajah Yuna ke wajahnya.

"Itu pasti bohong!" ujar Yuna emosi sambil melepaskan tangan Zaka dari wajahnya.

"Lalu kenapa kau berbohong?" sambung Yuna menatap tajam ke arah Zaka.

"Itu pelajaran untukmu, karena selama ini kau tak suka mengetahui maksud yang sesungguhnya dari orang. Baiklah cukup itu dulu, aku harus pulang. Kalau begitu sampai nanti ya. Oh ya, sekarang hari sudah mulai gelap, sebaiknya Yuna-ku juga harus segera pulang. Yuna-ku berati-hati lah kalau pulang, ya," ujar Zaka tersenyum lembut sebelum meninggalkannya.

"Dasar! Apa-apaan sih, dia itu? Dia bilang dari dulu menyukaiku. Benar-benar candaan yang kejam. Makanya aku benci orang yang seperti dia," ujar Yuna kesal, tapi tiba-tiba jantungnya berdetak-detak saat mendengar semua itu.

Pagi ini koran sekolah terbaru diterbitkan. Hari ini Yuna duduk di ruang dewan siswa sambil membaca koran sekolah terbitan baru yang dibawanya. Ketika Yuna sedang mencari berita yang lagi dibicarakan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah artikel yang menarik matanya. Artikel yang berjudul "Rumor Bangunan Tua itu Salah! Dua Orang yang Berselisih Jalannya dalam Hubungan Asmara". Setelah membaca artikel itu, tiba-tiba rasa sesak menghinggapi perasaannya. Saking fokusnya terhadap artikel dan perasaannya, sampai-sampai Yuna tak mendengar panggilan dari anggota dewan kesiswaan lain.

"Eh, ma-maaf. Kau bilang apa?" tanya Yuna kepada anggota dewan siswa yang memanggilnya.

"Strategi ketua sukses besar! Ketua dan wakil ketua hebat!" ujarnya dengan mengulang kalimat tadi yang disampaikannya kepada Yuna dengan wajah cerianya.

"Eh, i-iya," jawab Yuna tergagap.

"Duh, wakil ketua, ada apa, sih? Kenapa wakil ketua seperti gelisah, begitu?" tanya anggota dewan siswa lain kepada Yuna sambil menggodanya.

"Aku tidak gelisah. Dasar si Raja Pembohong!" ujar Yuna menatap tajam anggota dewan siswa itu dengan candaan yang dikatakannya. Anggota dewan siswa lain heran dengan melihat sikap Yuna hari ini.

"Pembohong? Maksudnya wakil ketua, itu si Zaka?" tambah dewan siswa lainnya dengan sedikit heran dengan ucapan Yuna.

"Iya lah! Memangnya siapa lagi? Memang ada orang dengan sebutan si 'Raja Pembohong' selain Zaka," tanya Yuna.
"Tapi, ketua bukanlah orang yang pembohong," ujar anggota dewan siswa dengan heran sambil memegang dagunya dan sedikit berpikir akan ucapan Yuna.

"A-pa maksudmu? Zaka kan orangnya seenaknya, selalu menghindar karena tidak mau bertanggungjawab dan dia juga seorang pembohong," jelas Yuna.

"Tapi, wakil ketua, baru kali ini aku mendengar kalau ketua dewan itu orang yang suka berbohong. Ketua itu tidak pernah sekali pun berbohong atau menipu, apalagi seenaknya dan tidak bertanggungjawab," terang angggota dewan siswa.

"I-tu tidak benar, dia menipu dan membohongiku," jawab Yuna menyakinkan. Seketika Yuna langsung teringat semua kejadian yang dialaminya atas perlakuan Zaka.

"Bukankah yang mengatakan dia pembohong itu adalah aku. Zaka tidak pernah menyangkal ataupun mengiyakannya. Apa benar yang dikatakannya waktu itu adalah sungguhan?" ketika Yuna sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba Zaka masuk ke ruang dewan kesiswaan dan memanggil Yuna.

"Yuna. Ada apa? Kenapa wajahmu serius begitu?" tanya Zaka heran ketika melihat wajah serius di wajah Yuna.
"Hah?!" jawab Yuna terkejut.

"Ada apa?" tanya Zaka sekali lagi. Yuna pun langsung menatap Zaka yang lebih tinggi darinya dan memerhatikannya.

"Zaka, aku benar-benar tidak mengerti. Ketika ku pikir kau tak bisa apa-apa, seenaknya, pembohong, tapi ternyata kau bisa segalanya, kau orang yang bertanggungjawab, dan kau adalah orang yang jujur. Jadi selama ini kau selalu bersikap seperti ini. Kenapa kau melakukannya di hadapanku, Zaka?" tanya Yuna dengan tampang yang penuh kebingungan akan sikap Zaka yang selama ini berbanding terbalik dengan pikirannya.

"Kamu ingin tahu yang sebenarnya? Kau mau tau motif sebenarnya yang kulakukan kepadamu"

"Kau akan memberitahuku, Zaka?" tanya yuna dengan mata yang berbinar-binar akan jawaban yang mau diberikan Zaka.

"Tidak! Aku tidak akan memberitahumu," ujar Zaka tersenyum sambil menjulurkan lidahnya dan memberikan kedipan matanya kepada Yuna, lalu pergi mengambil tasnya.

"Huh?!"

"Hahaha, kamu tau, Yuna-ku itu spesial. Jika ada yang Yuna-ku tidak mengerti, aku ingin seumur hidup Yuna-ku akan tenggelam dalam ketidaktahuannya terhadapku. Aku ingin Yuna-ku terus memikirkannya ," ujar Zaka berbalik ke arah Yuna sambil mengangkat wajah Yuna hingga wajahnya sejajar dengan dirinya dengan mencangklong tasnya.

"Seumur hidup? Ma-maksudmu?"

"Yuna pasti berpikir bahwa aku adalah orang yang pembohong. Yuna-ku bersiaplah. Suatu saat nanti pikiranmu akan terkubur di dalam ketidaktahuanmu. Maaf ya, aku akan melakukan apa saja untuk terus mengikat dan menarik perhatianmu, Yuna-ku," ujar Zaka sambil mengetukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dahi Yuna, kemudian meninggalkan Yuna dengan lambaian tangan. Mendengar semua itu, jantung Yuna tiba-tiba berdegup kembali, membuat Yuna tak nyaman.

"Tunggu! Bagaimana jika semua orang akan gempar bahwa ternyata rumor itu sesungguhnya adalah benar," ujar Yuna menyembunyikan wajahnya yang mulai panas dengan memalingkan wajahnya. Mendengar hal tersebut, Zaka langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yuna.

"Makanya aku benci orang sepertimu, Zaka. Kau selalu suka sembarangan dan seenaknnya kepadaku sejak dulu dan selalu saja mempermainkan perasaanku," batin Yuna sambil memegang wajah yang menurutnya sudah merah padam akibat ucapan tadi. Ketika Zaka tepat berada di depan Yuna dan membalikkan tubuh Yuna yang membelakanginya dengan wajah Yuna tertunduk. Hal itu membuat Zaka mengangkat wajah Yuna dan mendapati wajah Yuna yang merah padam.

"Maksud Yuna? Kenapa wajahmu seperti itu juga?" tanya Zaka yang tak percaya, kalau-kalau dia tidak salah dengar dan heran akan wajah Yuna yang merah padam itu.

"Kau harus bertanggungjawab!" ulang Yuna tega dengan muka merahnya.

"Bertanggungjawab? Maksud Yuna?" ujar Zaka yang mencoba memahami ucapan Yuna. Lalu Zaka langsung tersenyum manis kepada Yuna. Melihat Zaka yang tersenyum seperti itu, jantung Yuna semakin berdegup. Zaka yang melihat wajah merah padam Yuna sedari tadi dan mulai memahami ucapan Yuna, langsung tertawa dan mengangkat wajah Yuna yang kemudian mendekatinya.

"Baiklah, aku akan bertanggungjawab. Aku akan patuhi semua perintahmu, tuan putri," ujar Zaka mulai mendekati wajah Yuna perlahan-lahan. Mengetahui perilaku yang akan Zaka kerjakan, Yuna sedikit mendorong Zaka dan berkata dengan pelan.

"Hei, apa yang akan kau lakukan? Disini banyak orang," ujarYuna pelan. Ucapan Yuna yang seperti bisikan itu mengundang tawa Zaka.

"Baiklah, ayo kita ke atap sekolah, tuan putri," jawab Zaka langsung menarik tangan Yuna dan mengajak pergi untuk ke atap sekolah. Melihat kelakuan Yuna dan Zaka, timbul berbagai pertanyaan para anggota dewan siswa atas sikap ketua dan wakil dewan siswa mereka. Sesampainya di atap sekolah, tanpa langsung diperintah, Zaka pun langsung memeluk dan mendekati wajah Yuna.

*Selesai*


*sampai bertemu di proyek/cerita selanjutnya emoticon-Hai
Buat agan-agan yang kasih :

emoticon-Cendol Gan : Semoga rezekinya dilancarkan
emoticon-Big Kiss : semoga diberikan jodoh yang diinginkan
emoticon-Cek PM : yang berkomentar semoga urusannya dipermudah

dan semangat agan-agan berkarya emoticon-2 Jempol emoticon-Cool


Amin
1 0
1
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
09-03-2019 12:14
mantap
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
06-12-2019 22:02
emoticon-Paw
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
07-12-2019 14:16
masukin ke webtoon atau mangatoon gih
mereka ada novel juga
Diubah oleh MrJeffBezos
0 0
0
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
07-12-2019 14:32
jejak dulu emoticon-Paw
0 0
0
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
07-12-2019 15:01
menikmati cerita bagus
Diubah oleh alizazet
0 0
0
THE LIGHT EMANATES FROM YOU
07-12-2019 15:54
Nitip sendal dolo :nyantai
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
secangkir-kopi
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia