alexa-tracking
Kembali ke Versi Lama
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5bbec8b912e257f77a8b4567/di-sidang-imf-bali-bos-the-fed-new-york-pastikan-suku-bunga-as-bakal-naik-bertahap
11-10-2018 10:51
Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

10 Okt 2018, 13:45 WIB

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Pimpinan the Federal Reserve New York John Williams (Foto: Dok BI)


Liputan6.com, Nusa Dua - Transparansi dan komunikasi terbuka akan menjadi kunci untuk hindari gangguan pasar dan kesalahpahaman. Hal ini seiring langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) terus menaikkan suku bunga seiring ekonomi AS yang kuat.


Ekonomi negara berkembang rentan terhadap arus modal keluar investor asing seiring bank sentral AS mengencangkan kebijakan.


Presiden the Federal Reserve New York, John Williams mengharapkan kenaikan suku bunga secara bertahap. Hal itu disampaikan John Williams dalam pertemuan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018).

Ia menuturkan, AS menikmati pasar tenaga kerja sangat kuat tanpa tanda-tanda inflasi bisa naik terlalu banyak.
Dalam laman Bank Indonesia (BI), Ia menyampaikan ekonomi AS saat ini berada dalam keadaan sangat positif. Hal itu diindikasikan dari tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan diperkirakan masih berlanjut.


Dengan keadaan ekonomi lebih baik itu, otoritas AS pun melakukan normalisasi kebijakan, dengan menaikkan suku bunga acuan bank sentral dan normalisasi neraca.


Meski pun demikian, disadari dengan salingnya terhubungnya ekonomi dunia, kebijakan AS dapat berpengaruh pada ekonomi global. Pada gilirannya dapat kembali mempengaruhi ekonomi AS.


Dua hal penting yang ditekankan adalah normalisasi AS akan dilakukan secara bertahap. Selain itu, AS akan terus melakukan komunikasi transparan. Kedua hal ini diharapkan dapat kurangi dampak global spillover.

"Pelajaran utama tentang pembuatan kebijakan dalam dunia yang saling berhubungan adalah transparansi dan jalur komunikasi yang terbuka sangat penting untuk meminimalkan kesalahpahaman, gangguan pasar, dan volatilitas yang dapat ganggu tujuan bersama kita memiliki ekonomi yang kuat dan stabil," ujar dia seperti dikutip dari laman CNBC.


Adapun pengangguran AS telah jatuh ke level terendah dalam 49 tahun menjadi 3,7 persen pada September 2018. Siklus pengetatan mata uang hampir tiga tahun, the Federal Reserve (the Fed) sebagian telah mendorong perubahan global dari modal dalam pasar negara berkembang yang mengarah pada depresiasi mata uang yang tajam dan bebani Turki serta Argentina.

https://www.liputan6.com/bisnis/read...-naik-bertahap


Negara Berkembang Saling Curhat Soal 'Keperkasaan' The Fed

10/10/2018, 22:59 WIB 

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Forum bank sentral dunia di Bali (Fedrik Tarigan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Rangkaian acara Pertemuan Tahunan Internasional Monetary Fund (IMF) World Bank 2018 telah dimulai. Seluruh bank sentral dan para Menteri Keuangan saling bertukar pikiran soal perekonomian global saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, bank sentral Filipina dan Meksiko, misalnya, mengatakan sedang mengalami tekanan yang besar sebagaimana yang sedang dialami Indonesia. Kemudian, permasalahan itu dibahas dan dicarikan jalan keluar.


"Langkah yang mereka ambil adalah mengupayakan agar nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya. Penting menjaga resiliensi ekonomi agar kurs tidak bergerak liar," kata Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10).


"Satu lagi, memperkuat instrumen hedging, itu ditekankan sekali oleh para gubernur [bank sentral] tadi," tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi strategi The Fed dalam melakukan normalisasi kebijakan. Apalagi, langkah tersebut dilakukan secara transparan.


"Sehingga, walaupun dampaknya besar, unsur ketidakpastian dari normalisasi kebijakan di AS berkurang," tuturnya.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve New York John Williams memberi sinyal The Fed akan terus menaikkan suku bunga. Hal itu dilakukan agar perekonomian Negeri Paman Sam tetap tumbuh.

"Kenaikan itu akan dilakukan untuk stabilitas perekonomian AS," pungkasnya.
https://www.jawapos.com/ekonomi/10/10/2018/negara-berkembang-saling-curhat-soal-keperkasaan-the-fed


'Tak ada Kepastian Arah Kebijakan yang Diambil The Fed'
22 jam yang lalu

Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, meyakini bahwa kebijakan moneter AS sedang menuju 'titik normal'. Setelah menjalani era suku bunga rendah selama bertahun-tahun, The Fed terus melanjutkan kebijakannya dalam menaikkan suku bunga acuan secara bertahap.

Bahkan Presiden The Fed New York, John Williams, mengungkapkan bahwa tidak ada kepastian mengenai arah kebijakan yang akan diambil The Fed di tahun-tahun yang akan datang. Namun satu hal yang pasti, menurutnya, keputusan untuk menaikkan suku bunga adalah 'keniscayaan' setelah menjalani suku bunga rendah. 


Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

© ABC News The Fed/Ilustrasi

"Arah kebijakan ke depan tak sejalas beberapa tahun terakhir. Di masa depan, tidak akan lagi jelas apakah suku bunga perlu naik atau turun, dan panduan yang jelas tentang kebijakan tidak akan lagi sesuai," jelas Williams dalam Central Banking Forum di Conrad Bali, Rabu (10/10).

The Fed, ujar Williams, meyakini bahwa kenaikan suku bunga adalah jurus ampuh untuk menjawab dua tantangan terbesar AS saat ini. Kedua tantangan yang dihadapi AS saat ini adalah mempertahankan ekspansi ekonomi jangka panjang dan mempertahankan angka pengangguran tetap rendah.

William juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2018 ini sebesar 3 persen dan 2,5 persen pada 2019 nanti. The Fed juga menargetkan angka pengangguran di bawah 3,5 persen untuk menjaga laju pertumbuhan. AS juga mempertahankan laju inflasi di 2 persen.

Pada September 2018 lalu The Fed sudah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 2,25 persen dari 2 persen sebelumnya. The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebelum akhir 2018 dan beberapa kali lagi di tahun 2019. Secara sederhana, ekonomi AS sedang menuju 'normal'.
https://www.msn.com/id-id/ekonomi/ekonomi/tak-ada-kepastian-arah-kebijakan-yang-diambil-the-fed/ar-BBOaUB4?li=AAfuAgL


Perang Dagang Dengan China Tak Berdampak Ke Ekonomi AS

10 Oktober 2018 14:54 WIB

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) Wilayah New York John C. Williams menyampaikan pandangannya dalam sesi Central Banking Forum 2018 pada Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, NUSA DUA--Federal Reserve tidak melihat adanya dampak signifikan dari ketegangan dagang antara negaranya dan China.  John C. Williams, Presiden dan CEO Federal Reserve New York, menuturkan pihakknya tidak melihat tekanan terhadap ekonominya terutama dalam pertumbuhan lapangan kerja dan inflasi.


"Jika perang dagang meluas ke berbagai negara, jelas ini akan berdampak kepada pandangan kami," papar Williams, Rabu (10/10).


Apapun yang terjadi di dunia, dia menegaskan Fed akan memperhatikan perkembangan tersebut. Saat ini, Fed telah banyak melakukan analisis terkait dengan efek hambatan dagang terhadap inflasi dan pertumbuhan lapangan kerja di AS. 
Dari analisa tersebut, dia mengatakan pihaknya akan membuat kebijakan yang mampu mengurangi dampak tersebut. 

http://finansial.bisnis.com/read/20181010/9/847719/perang-dagang-dengan-china-tak-berdampak-ke-ekonomi-as

DAMPAK KETERANGAN BOSS THE FED DI SIDANG PERTEMUAN IMF DI BALI?
Saham Teknologi Berguguran, Wall Street Ditutup Turun Tajam
Kamis, 11 Oktober 2018 - 07:34 WIB


Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Ilustrasi. (Foto: Reuters)


NEW YORK, iNews.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup turun tajam pada Rabu (10/10/2018) waktu setempat karena meningkatnya kekhawatiran kenaikan suku bunga dan saham teknologi mengguncang pasar.

Mengutip Xinhua, Kamis (11/10/2018), indeks Dow Jones Industrial Average turun 831,83 poin, atau 3,15 persen, menjadi 25.598,74. Indeks S&P 500 turun 94,66 poin, atau 3,29 persen, menjadi 2,785.68. Indeks Nasdaq Composite jatuh 315,97 poin, atau 4,08 persen, menjadi 7.422,05.


Sektor teknologi mencatatkan kinerja terburuk dalam tujuh tahun, membawa Dow jautuh ke level terendah dalam delapan bulan.


Saham Amazon turun 6,15 persen, sementara Netflix turun 8,38 persen. Facebook dan Apple juga masing-masing turun lebih dari 4 persen. Sektor teknologi termasuk perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar di AS dan berkontribusi besar dalam kenaikan di pasar saham.


Kekhawatiran meningkatnya imbal hasil obligasi AS juga memberikan tekanan pada pasar saham. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mencapai 3,26 persen pada Selasa, level tertinggi sejak 2011. Pada Rabu, imbal hasil obligasi AS dua tahun mencapai 2,91 persen, level tertinggi dalam satu dekade.


Pelaku pasar telah bergulat dengan suku bunga yang lebih tinggi menyusul serangkaian data ekonomi utama dan komentar baru-baru ini dari pejabat bank sentral. Tingkat pengangguran turun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja non-pertanian meningkat sebesar 134.000, menurut departemen tenaga kerja AS.


Pada September, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada payroll atau penggajian non-pertanian swasta meningkat 8 sen AS menjadi 27,24 dolar AS. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam telah meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen.


Ketua Fed Jerome Powell pekan lalu mengatakan bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi dalam waktu dekat.


Data yang kuat dan komentar dari pejabat Fed dapat menjadi bullish untuk ekuitas. Namun, hal itu menimbulkan kekhawatiran adanya kenaikan inflasi dan suku bunga, yang pada gilirannya negatif untuk ekuitas.


Sementara itu, para investor juga bersiap untuk musim laporan laba mendatang, dengan JP Morgan Chase, Citigroup dan Wells Fargo dijadwalkan untuk melaporkan kinerja keuangannya akhir pekan ini.


Laba gabungan perusahaan-perusahaan kuartal ketiga diperkirakan meningkat 21,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. Tidak termasuk sektor energi, estimasi pertumbuhan pendapatan menurun menjadi 18,5 persen, menurut Thomson Reuters.

https://www.inews.id/finance/read/sa...n-tajam/276401

Trump Sebut The Fed "Gila" Karena Hobi Menaikkan Suku Bunga

Kamis, 11 Oktober 2018 - 07:18 WIB

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

PENNSYLVANIA - Presiden Amerika Serikat Donald John Trump kesal dengan bank sentral negaranya, The Federal Reserve yang terus menerus menaikkan suku bunga, dimana berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan gejolak di pasar saham.

"Saya pikir The Fed membuat kesalahan. Mereka membuat pengetatan kebijakan. Saya pikir The Fed sudah gila," ujar Trump setelah turun dari pesawat kepresidenan Air Force One menuju Erie di Pennsylvania, seperti dilansir CNBC, Kamis (11/10/2018).

Menurut Trump, sejatinya kenaikan suku bunga merupakan hal yang sudah lama ditunggu-tunggu untuk menggairahkan ekonomi. Namun, ia tidak setuju dengan cara The Fed yang terlalu sering dan terlalu cepat menaikkan suku bunga.

The Fed telah menaikkan suku bunga tiga kali pada tahun ini, dan akan menaikkan sekali lagi suku bunga sebelum tahun 2018 tutup kalender. FedWatch CME Group memberikan ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga pada Desember memiliki tingkat probabilitas 76,3%. 

Kenaikan suku bunga pada September lalu mendapat kritik dari Trump. Ketika itu, Trump khawatir pengetatan kebijakan monter yang terlalu cepat bisa memperlambat ekonomi. “Mereka (The Fed) tampaknya suka sekali menaikkan suku bunga. Kita tidak harus pergi secepat itu, kita bisa melakukan hal lain untuk meningkatkan uang,” katanya.

Kritik seorang presiden kepada The Fed merupakan jarang terjadi di Amerika Serikat, karena bank sentral merupakan lembaga independen. Dan beberapa pendahulu Trump, sebagian besar memilih diam mengenai arah kebijakan moneter dari bank sentral.

Selain kenaikan suku bunga acuan, imbal hasil obligasi (surat utang) pemerintah alias US Treasury bertenor 10 tahun juga terus meningkat, dan naik ke level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun.
https://ekbis.sindonews.com/read/1345255/35/trump-sebut-the-fed-gila-karena-hobi-menaikkan-suku-bunga-1539217129


---------------------------

Selagi President Trump, Boss World Bank, Boss Bank Sentral Uni-Eropa,  Boss IMF, atau Boss WTO  ternyata tak ada yang mampu bisa mempengaruhi kebijakan independent The FED untuk menaikkan suku bunganya, apalagi cuman curhat para Menkeu dan Ketua Bank Sentral negara-negara berkembang yang saat ini sedang berkumpul di sidang tahunan IMF di Nusa Dua Bali itu. 

emoticon-Wkwkwk


Diubah oleh madcabonger2018
0
Kutip
Balas
11-10-2018 10:59
Quote:The Fed itu lembaga independen, ngak mudah diintervensi.
0
Kutip
Balas
11-10-2018 10:59
jadi gini.. ngikut aja dah

apakah uang bisa membuatmu bahagia?
Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
-1
Kutip
Balas
11-10-2018 11:00
PAHAMI DULU PIRAMIDA DIBAWAH INI,
BARU KALIAN BISA MEMAHAMI,
BETAPA KUAT DAN PERKASANYA ''THE FED'' DI DUNIA SAAT INI


Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Diubah oleh madcabonger2018
0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:02
ngeri juga the fed america abis liat di yutub, gua yakin capres wowo juga g bakal berani sama fed
0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:03
suku bunga indonesia akan meroket
0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:09
Sri Mulyani:
Rupiah Melemah Akibat Kebijakan The Fed
Minggu, 11 Maret 2018 | 19:50 WIB

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS akibat dampak dari kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang menaikkan suku bunga hingga empat kali lipat.

Pergerakan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh mata uang negara seluruh dunia.

“Semua ini disebabkan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell yang akan menaikkan suku bunga dari tiga menjadi empat kali. Ini menyebabkan laju ekonomi tinggi dan menghadirkan inflasi. Ini alasannya,” ujar Menkeu memberikan penjelasan saat jumpa pers usai dialog nasional kedelapan ‘Indonesia Maju’ di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Minggu 11 Maret 2018.

Pelemahan mata uang terhadap US$ juga dipicu kebijakan di bidang fiskal dan perdagangan AS yang menciptakan ketidakpastian, sehingga menyebabkan perlombaan penurunan pajak dan tarif masuk di pabean pada semua negara. “Ini menyebabkan ketidakpastian perekonomian di seluruh dunia,” ujar Menkeu.

Sebagai upaya mengantisipasi kenaikan suku bunga di AS yang hingga empat kali, Menkeu di bersama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian dan Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas perekonomian Indonesia tetap stabil.
https://www.viva.co.id/berita/bisnis...ijakan-the-fed


0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:14
Rupiah Masih dalam Bayang-Bayang The Fed pada September 2018
28 Agustus 2018

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap
Bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Reuters/Kevin Lamarque

Berbagai langkah dan kebijakan dibuat pemerintah untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global, termasuk ancaman dari kebijakan The Fed di bulan depan.

tirto.id - Awal bulan depan bisa jadi momen yang ditunggu bagi pemerintah banyak negara, para pelaku usaha, dan pasar di seluruh dunia. Rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) yaitu The Federal Reserve (The Fed) menaikkan tingkat suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) sudah jadi perhatian. Potensi The Fed yang kembali naik akan menjadi masalah baru bagi banyak negara.

“Jika pertumbuhan kenaikan upah dan ketersediaan lapangan kerja terus berlanjut, maka kenaikan Fed Funds Rate (FFR) secara bertahap secara bertahap untuk mencapai target inflasi kemungkinan akan sesuai,” ungkap Kepala Federal Reserve Jerome Powell dalam sebuah simposium yang digelar di Jackson Hole, Wyoming, AS, 24 Agustus lalu dikutip dari Reuters.

Pernyataan Powell menyiratkan kepastian soal rencana kenaikan FFR sebanyak dua kali lagi tahun ini yaitu pada September dan Desember. Sebelumnya, bank sentral AS telah dua kali menaikkan suku bunga acuan masing-masing pada Maret dan Juni. Tujuan The Fed menaikkan FFR adalah sebagai langkah sehat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS dan inflasi mendekati target dua persen.

Baca juga: Bagaimana Dana Asing Kabur di Tengah Krisis Turki dan Bangkitnya AS

Dalam kesempatan itu, Powell juga menyebutkan kenaikan suku bunga bertahap adalah cara terbaik untuk melindungi pemulihan ekonomi AS dan menjaga pertumbuhan pekerjaan sekuat mungkin dan inflasi terkendali. Rencana kenaikan FFR sudah diprediksi oleh para pelaku pasar, yang bahkan telah membaca arah kenaikan suku bunga acuan terus berlanjut hingga dua tahun mendatang.

“Kenaikan FFR adalah konfirmasi lanjutan bahwa The Fed tegas dalam melakukan kebijakan pengetatan moneter,” kata Jeff Greenberg, Ekonom Pasar Modal J.P. Morgan Private Bank kepada Reuters.

Meski demikian, langkah pengetatan kebijakan moneter ini dianggap riskan oleh beberapa pihak karena AS juga tersangkut masalah perang dagang. Seperti yang disampaikan oleh Joe Manimbo, Senior Market Analis di Western Union Business Solution, AS.

“Pernyataan The Fed adalah campuran antara optimisme dan kehati-hatian. Di satu sisi kenaikan bunga akan segera terjadi, tapi di sisi lain ditandai dengan tingkat kekhawatiran tinggi terhadap eskalasi perang dagang yang berpotensi merusak pertumbuhan ekonomi,” ucap Joe Manimbo masih melansir Reuters.

Baca juga:
- Di Balik Penetapan Suku Bunga oleh The Fed
- Bank Indonesia: Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar AS karena Trump Kritik The Fed

Jeff Kravetz, Regional Investment Strategist di US Bank Private Wealth Management berpendapat masih terbuka peluang The Fed untuk urung menaikkan FFR pada akhir tahun ini. Imbas perang dagang merupakan salah satu faktor ekonomi yang tidak bisa diprediksi saat ini. “Perang dagang bisa memengaruhi keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga pada Desember nanti,” ucap Jeff dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters.

Kenaikan bunga The Fed membuat nilai tukar dolar AS terus menguat di banyak negara termasuk Indonesia. Sehingga, harga barang ekspor produk AS ke negara lain menjadi tidak kompetitif. Padahal, AS tengah berjibaku untuk mengurangi defisit perdagangan dengan berbagai negara di dunia, seperti dengan Cina, Uni Eropa dan Kanada, dengan menjatuhkan berbagai sanksi berupa bea masuk impor.

Terbaru, Presiden AS Donald Trump juga mengenakan tarif bea masuk impor yang besar kepada barang asal Turki, meski lebih terkait dengan langkah politik dibanding proteksionisme dagang. Perang dagang yang diumumkan Donald Trump terhadap Turki, memicu pelemahan nilai tukar lira Turki yang jatuh nyaris 40 persen sejak awal tahun hingga 24 Agustus.

Gejolak yang terjadi di Turki turut menyeret negara-negara berkembang dan sektor perbankan. Sebab, investor telah ramai-ramai menarik dana dari negara-negara berkembang karena khawatir negara tersebut akan memiliki nasib yang sama seperti Turki. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara berkembang ikut anjlok menyusul merosotnya nilai tukar lira.

“Krisis di Turki meningkatkan kekhawatiran terhadap negara-negara berkembang yang lebih rentan dan memiliki defisit transaksi berjalan lebar seperti Turki. Contohnya Brasil, Afrika Selatan dan Argentina,” tulis Wells Fargo Investment Institute dalam laporannya.

Wells Fargo juga menulis, jika diakumulasi, cadangan devisa yang telah dikuras oleh para negara berkembang mencapai $6 triliun untuk menjaga kemerosotan nilai tukar mata uang. Dalam jangka waktu yang sama, pasar utang luar negeri di negara-negara berkembang juga menurun dari 38,3 persen menjadi 29 persen.

Krisis mata uang Turki juga menimbulkan ancaman bagi bank-bank Eropa yang memiliki eksposur bisnis di negara tersebut. Jatuhnya nilai tukar lira akan menekan kinerja serta saham perbankan AS, Uni Eropa dan juga Jepang, yang memiliki unit bisnis di Turki. Mengutip Reuters, di antara bank-bank Eropa yang berbisnis di Turki, ada lima bank yang paling rentan terpapar jatuhnya mata uang Turki.

Kelima bank tersebut yaitu BBVA dari Spanyol, UniCredit dari Italia, BNP Paribas dari Perancis, ING asal Belanda serta HSBC dari Inggris. Bahkan BBVA dan UniCredit yang memiliki unit bisnis di Turki, tak terhindarkan mengalami kemerosotan nilai saham. Investor juga khawatir, lemahnya perbankan Turki akan berdampak pada bank-bank asing yang memiliki aset di negara tersebut.

“Penguatan dolar AS hanya akan menambah masalah yang dihadapi Turki dan negara-negara berkembang lainnya,” jelas David Dietze, Presiden Point View Wealth Management seperti dilansir dari CNBC.

Di Sidang IMF Bali, Bos The Fed New York Pastikan Suku Bunga AS Bakal Naik Bertahap

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang ikut terseret pelemahan lira. Pada akhir pekan (24/8), nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp14.584 per dolar AS. Sejak awal tahun hingga 24 Agustus, rupiah telah melemah sebanyak 6,97 persen terhadap dolar AS. Terendah, rupiah menyentuh level Rp14.630 per dolar AS pada penutupan perdagangan 23 Agustus.

Data Bank Indonesia dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat pelemahan nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga 24 Agustus mencapai 7,59 persen. Level terlemah rupiah di pasar spot menyentuh Rp14.655 per dolar AS pada 24 Agustus 2018.

Akibat pelemahan nilai tukar rupiah, cadangan devisa Indonesia telah terkuras sebesar $13,67 miliar dalam rangka operasi pasar untuk menekan laju pelemahan rupiah. Per Juli 2018, cadangan devisa Indonesia menurut catatan BI tersisa $118,31 miliar, turun tajam dibanding Januari 2018 yang mencapai $131,98 miliar.

Untuk mengurangi terkurasnya cadangan devisa, pemerintah mengaji pengenaan pajak terhadap 900 komoditas guna menekan laju impor. Pemerintah berencana menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 pada 900 komoditas dan menyiapkan penggantinya yang merupakan produk buatan dalam negeri.

Penyesuaian pajak tersebut menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani merupakan upaya agar laju impor bisa dikendalikan secara optimal. Selain itu, dalam mencari barang pengganti atau substitusi komoditas impor yang dimaksud, pemerintah akan memastikan kesiapan industri dalam negeri.

“Terutama para pengusaha mikro, kecil dan menengah, kami akan melakukan langkah yang sangat tegas untuk mengendalikan impor barang konsumsi tersebut,” ujar Sri Mulyani.

Kajian mengenai evaluasi pajak 900 komoditas ini, akan disampaikan pada awal September. Tingginya laju impor dapat memengaruhi tingkat inflasi Indonesia ke depannya padahal target tahun ini di kisaran 3,5 persen. Tingginya laju impor mengakibatkan semakin melebarnya defisit transaksi berjalan.

“Kami akan fokus pada inflasi yang diakibatkan oleh volatile food dan inflasi yang berasal dari nilai tukar. Apa yang menjadi langkah ke depan adalah agar imported inflation tidak memicu terjadinya inflasi,” imbuh Sri Mulyani.

Dalam rangka menekan defisit transaksi berjalan, pemerintah juga berencana menghentikan importasi 500 komoditas. Rencana penghentian impor lebih ditekankan pada barang konsumsi. “Akan dikaji lagi komoditasnya dan kebanyakan adalah barang konsumsi. Bahan baku dan barang modal tentu tidak dipersulit,” ucap Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian.

Identifikasi komoditas impor akan dilakukan untuk memisahkan jenis barang konsumsi, bahan baku dan bahan modal yang dapat diproduksi di dalam negeri sehingga dapat menjadi substitusi. Rencana penghentian 500 komoditas impor ini, telah disampaikan kepada para pelaku industri. Bahkan, beberapa bahan pengganti dalam negeri juga sudah ada yang disiapkan.

Namun, rencana kebijakan pengurangan impor ini akan tetap memperhitungkan produktivitas dan daya saing hasil produksi industri dalam negeri. “Pengurangan akan dilakukan untuk tetap dapat mempertahankan daya saing dan produktivitas, bukan untuk menurunkan itu,” imbuh Airlangga.

Mengantisipasi kenaikan FFR, Bank Indonesia juga telah menaikkan tingkat suku bunga acuan 7Day Repo Rate sebesar 25 basis poin pada pertengahan Agustus lalu. Langkah ini dilakukan sebagai upaya ahead the curve atau menjaga dari efek kenaikan FRR yang ditimbulkan. Sepanjang 2018, bank sentral Indonesia telah menaikkan tiga kali tingkat suku bunga acuan yaitu pada bulan Mei sebanyak dua kali dan Agustus sebanyak 1 kali, masing-masing sebesar 0,25 persen.

Bila melihat langkah-langlah BI dan pemerintah, kebijakan AS khususnya The Fed masih jadi perhatian serius terutama risiko implikasi pada gejolak rupiah terhadap dolar.
https://tirto.id/rupiah-masih-dalam-...september-cU5R

0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:22
Silakan ditebak siapa yang ada di belakang the fed
0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:31
intinya sih 1, meruntuhkan dominasi perekonomian cina doang...

us citizen mah ga bakal protes kalo negaranya bangkit, malah pada seneng karena roda bergerak lagi...emoticon-Stick Out Tongue
0
Kutip
Balas
11-10-2018 11:36
The Fed jadi penentu, apalagi ini ini independent (Di The FED ada orang yg gila ekonomi, dijamin banyak negara yg gak kuat ambruk)

Semua karena US$ digunakan seluruh dunia untuk transaksi, mulai berkurang sejak ada Euro, tapi itupun cuma mengurangi transaksi antar negara Eropa yg bergabung di Euro, Inggris keluar seingatku.
0
Kutip
Balas
11-10-2018 12:41
Balasan Post boyzok
Quote:Original Posted By boyzok
ngeri juga the fed america abis liat di yutub, gua yakin capres wowo juga g bakal berani sama fed


nah akhirnya faham juga
klo melawan mamarika, the fed, zion, dan temen2nya

mo ganti presiden 1000x pun tetap susah ngelawannya
mau wowo kek wiwi kek beye naik lagi pun percuma emoticon-Big Grin

cinak udah ngerasain ditabokin bolak balik koq gara2 perang dagang


emoticon-Wkwkwk



0
Kutip
Balas
11-10-2018 19:41
Quote:Original Posted By dwiatmaja


nah akhirnya faham juga
klo melawan mamarika, the fed, zion, dan temen2nya

mo ganti presiden 1000x pun tetap susah ngelawannya
mau wowo kek wiwi kek beye naik lagi pun percuma emoticon-Big Grin

cinak udah ngerasain ditabokin bolak balik koq gara2 perang dagang


emoticon-Wkwkwk





nonton di yutub yg buatan orang sana keren bgt sampe skandal pembunuhan kennedy kaya pas bgt peristiwa, g tau bwneran apa g
0
Kutip
Balas
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2018 Kaskus – The Largest Indonesian Community