alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b989d6cddd77027208b456a/gie
Lapor Hansip
12-09-2018 12:00

Gie

Past Hot Thread
Gie


emoticon-Shakehand2Pertama-tama ijinkan nubie sungkeman dulu sama Momod & suhu-suhu sekalian yang karyanya bagus-bagus emoticon-Matabelo



Cerita ini sebelumnya udah pernah diposting 5 tahun yang lalu kira-kira dan berhubung banyak yang dirubah, ya ane bikin baru lagi aja. General rules udah ane baca dikit-dikit, terkait BB17 ane serahin ke momod sekalian. Sok atuh kalau mau ditutup, karna batasannya sampai mana ane juga gak ngerti.emoticon-Bingung (S)

Ini merupakan karya pertama dan kemungkinan terakhir, lantaran bagian dari ceritanya ane alamin sendiri. Pastinya dengan nama-nama karakter yang disamarkan. 
Langsung aja ya agan-sista, gak nolak kalau dapet cendol ataupun bintang kejora.emoticon-Betty 

Mohon kritik dan saran buat kelanjutan penulisan.emoticon-Imlek
Terkait update, tergantung mood dan respon ya gan, gak menutup kemungkinan mingguan atau bulanan.

Nuhun

emoticon-Hai


Quote:
Prolog 


“Mbak, kita stop dulu” kata seorang lelaki yang terbaring di atas tempat tidur
“Kenapa emang ‘a? tanya seorang wanita berparas cantik khas wanita-wanita Bandung dengan muka kecewanya.
“Percuma mbak, aku nggak merasa apa-apa”
“A’a mah aneh”
Antara sindiran atau kritik, aku tidak begitu paham maksudnya. Aku memilih bangun dari tempat tidur dan meninggalkan wanita itu.
“Terus gimana ‘a? aku capek ‘a kalau sampai harus service 2x nantinya”
Tanpa memperhatikan pertanyaannya, aku berlalu ke kamar mandi yang berada di sisi sebelah kanan tempat tidur. Sejenak aku memikirkan segala sesuatu yang telah aku lakukan dalam 20 menit terakhir.
“Menurut mbak, aku aneh?”
“Aneh ‘a. Aku perhatiin juga dari tadi Aa gak fokus ke aku. Keliatan dari matanya ‘a, Aa tuh kayak banyak pikiran. Kalau gini kan jadi aku yang gak enak ‘a, jadi sayang duitnya ‘a kalau gak dinikmatin…malah” jawab Renata yang mengambil shower dan membasuh kulitnya
“Aku gak nuntut macem-macem mbak. Buat apa gak enak? Aku juga nggak serendah yang mbak kira.” balasku menyela
“…… pinjam sabunnya ‘a” pinta Renata yang sudah selesai membasuh kulitnya
Aku melihatnya lagi, tubuh sempurna seperti impianku. Tapi aku berlalu meninggalkannya dan kembali ke tempat tidur.
“Kenapa sih ‘a” tanya Renata yang mengenakan kembali bajunya dan duduk bersamaku di ranjang.
“Masih ada 30 menit kan mbak waktuku? Kita sambil ngobrol ya mbak”
“Sok atuh ‘a, mau ngobrol teh gak usah pakai izin. Menurut aku teh, A’a mending periksa ke dokter”
“Saling jujur ya mbak. Aku sendiri … “ sebelum menjelaskan, aku merebahkan diriku kembali ke tempat tidur setelah selesai mengenakan bajuku. “aku jujur gak ngerasain apa-apa. Bukannya mbak gak menarik buat aku, toh aku yang milih mbak kan? Cuma aku ngerasa aneh mbak kalau baru ketemu, tapi langsung ngelakuin seperti ini.”
“Terus kenapa atuh ‘a nyoba-nyoba kayak gini?” tanya Renata yang ikut merebahkan dirinya di sampingku.
“Namanya juga penasaran. Terus kalau mbak, apa yang mbak rasain tadi?”
“Kalau kita mah ‘a. Kalau aku gak berusaha nikmatin, malah sakit di akunya ‘a” jawab Renata sambil menyalakan rokok Marlboro Light Mentolnya.
Sejenak aku merenungkan apa yang baru saja ia ucapkan, mengambil rokok yang aku letakkan di laci samping tempat tidur. (Jika orientasinya pada uang, bagaimana mungkin ia menggantinya dengan seks. Maksudku adalah, banyak lelaki hidung memang orientasinya akan berfantasi seks saat pertama kali mengambil layanan ini. Tetapi bagaimana dengan perempuan? Mungkinkah Vivi merasa sakit jika ia mengingat kalau yang ia lakukan hanya untuk uang, lantas menggantinya dengan perasaan nikmat?) pikirku.
“Terus gak cari kerja tempat lain mbak?” tanya ku
“Bisa dibilang gampang kayak gini atuh ‘a”
Di situ aku tidak berkomentar, mungkin memang jalan pilihannya. “Oh iya, aku punya sesuatu buat mbak” kataku mengambil tempat aku menyimpan berkas-berkas.
“A’a dapet darimana fotoku yang ini?” tanya Renata
“Dari IG mbak”
“Berarti A’a mah tau gitu nama asli aku?”
“Menurutmu? Iya mbak Vivi aku tau”
“Boleh liat gambar yang lain ‘a?” tanya Vivi penasaran dengan filekeeper berwana hijau yang ku pegang. “Bagus-bagus ‘a, jago A’a teh”
“Yang jago banyak mbak, aku cuma kebetulan bisa”. Entah kenapa aku paling malas saat disebut hebat atau jago.
“Terus ini siapa aja ‘a yang digambar kok cewek semua?” tanya Vivi yang berpindah-pindah dari gambar satu ke yang lainnya.
“Kebanyakan mantan-mantanku mbak. Kenapa juga aku harus gambar laki-laki, kalau aku sukanya perempuan”
“Hahahahaha. Terus kok aku digambar ‘a?”
“Anggep aja hadiah mbak karna udah jadi pacar aku selama 1 jam” jawabku tersenyum
“Hahahaha, makasih ya ‘a buat gambarnya” kata Vivi yang langsung menyosor pipiku
“Kalau gitu aku pamit ya mbak, sudah lewat 1 jam. Nggak enak sama yang lain kalau akunya kelamaan”
“Iya ‘a hati-hati di jalan”
“Jangan panggil ‘a mbak, aku baru 16 tahun” kataku mengakhiri dan meninggalkan kamar itu dengan raut muka keheranan yang Vivi perlihatkan.





Quote:INDEX

Bag I - Gie Fajar Putera
Bag II - Winda Wulandari
Bag III-I - Vivi
Bag III-II - Vivi
Pengenalan Tokoh
Bag IV-I - Cover, Judgement, Attitude
Bag IV-II - Cover, Judgement, Attitude
Mulustrasi
Bag V-I - Inquisitorial
Bag V-II - Inquisitorial
Bag V-III - Inquisitorial
Bag V-IV - Inquisitorial
Bag VI-I - Do U?
Bag VI-II Do U?
Bag VI-III - Do U?
Bag VII-I - A-P-E
Bag VII-II - A-P-E
Bag VII-III - A-P-E
Bag VII-IV - A-P-E
Bag VII-V - A-P-E
Bag VII-VI - A-P-E

Diubah oleh chrisbaldam
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Fadliashi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 12
12-09-2018 12:19
Bag I


Gie

Quote:
Tepat pukul 05:45 beberapa murid telah berdatangan. Bukan hal yang aneh jika murid datang ke sekolah cukup pagi, selain sarapan dan piket beberapa juga mengerjakan PR di sekolah,, maklum anak TELADAN,, kalau kerjain PR itu wajib di sekolah, kalau yang ngerjain di rumah itu berarti anak BERPRESTASI. Bangunan tua sekolah dan pohon-pohon yang rindang di tiap sudut taman menemani pagi yang sejuk untuk beraktivitas murid-murid SMA Negeri 16.
Gie yang sedang membawa ember berisi air dan kain pel tampak terhuyung-huyung saat menaiki tangga.
" Oi Gie udah aku sapuin itu!! kata Ape
" Sama,, udah gue angkat-angkatin juga bangkunya, tinggal lu pel'in aja men" sambung Caesar
" Ok, ditinggal aja, biar gue yang selesain sisanya. Thanks ya!!" jawab Gie
Lalu Ape dan dan Caesar pun keluar kelas dan meninggalkan Gie yang sedang mengepel lantai beranjak ke kantin sekolah.
* * * *
" Duhhh, mati nih gue!!! Kok bisa lupa sih sama PR Ekonomi??" rutuk Winda sambil menggendong tas Jansport Aqua kesukaannya. Secepat kilat dia berlari menuju ruangan kelas XII-IPS 2 agar bisa menyelesaikan tugas Ekonomi tepat waktu sebelum bel sekolah berbunyi.
“Win”
“Kenapa?"
“Hmm,,gakpapa” jawab Gie
“Gak jelas deh lu”

* * * *

“Aaaaaaaaaaaaa.....!!!!!! Dasar cowok sinting!!!! Lu ngapain sih!!!!” Teriak Winda melihat rok putihnya yang bersih sekarang basah dan penuh dengan kotoran bekas air pel
" Aaaaaaaaaaaa....!!!! Kotor nih rok gue " lanjut Winda kesal karena Gie menyiram rok putihnya yang putih bersih dengan air bilasan pel.
"Eeeeehhhh,,jangan cabut lo!!!!TANGGUNG JAWAB!!!" teriak Winda saat melihat Gie malah meninggalkan dirinya yang basah kuyup sendirian di kelas.
Tanpa disadari teriakan Winda tadi telah mengundang banyak perhatian tetangga kelas dan seisi sekolahnya. Kelas XII-IPS 2 pun seketika menjadi padat, penuh, dan sesak merayap seperti kemacetan di setiap sudut-sudut jalan ibukota, setiap murid-murid mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Win, lu kenapa sih? Pagi-pagi gini udah ngomel aja kayak bokap gue!! tanya Shakinah
"Gimana gak ngomel? Lu liat dong rok gue! jawab Winda
Bola mata bulat milik Shakinah pun membesar setelah melihat kondisi rok Winda. Rok yang basah dan penuh kotoran. Tidak bisa dibayangkan lagi betapa joroknya rok itu. Shakinah yang bingung mencoba menerka-nerka apa yang terjadi dengan sahabat cantiknya.
"Jadi ceritanya gimana sih Win?" tanya Shakinah
"Ahhh,, bukannya nolongin malah banyak nanya!!" ketus Winda
"Iya,,iya sorry,, lapor guru aja sekarang Win.. Emangnya lu gak malu apa diliatin segini banyak orang ngomel-ngomel pakai rok jorok kayak gitu" balas Shakinah mencoba memberi solusi
"Tapi itu cowok harus tanggungjawab, lu liat dong tadi si GieTONG malah cabut ninggalin gue!!gimana gak makin kesel coba" kata Winda kesal
"Udah Winnn, malu nih,, nanti aja ngomelnya. Mendingan juga ke toilet bersihin rok lu terus ke wali kelas minta izin buat pulang ganti rok" balas Shakinah
"Aaaahhhhh,,,kenapa sial banget sih gue ini hari,, yaudah temenin gue yok ke Bu Sri” ajak Winda
Winda dan Shakinah pun berlalu meninggalkan ruangan kelas yang berisi kerumunan murid yang dihasilkan teriakan Winda. Malu bukan main saat menyusuri koridor sekolah, sudah cantik tapi rok dan sepatunya jorok. Berbagai ekspresi terlihat murid-murid SMA Negeri 16 saat melihat Winda melintasi koridor sekolah, mulai dari kebingungan, tertawa, bahkan ada juga yang jatuh cinta. Maklum saja, Winda sudah menyandang predikat Wanita Pujaan. Banyak laki-laki mencoba peruntungannya menyatakan cinta ke Winda, bahkan sampai memasang SUSUK. Tapi tetap saja hasilnya selalu NIHIL. Perlu DUKUN berstandar internasional untuk mendapatkan Winda -

* * * *

Pagi itu lonceng tanda upacara, murid-murid berhamburan keluar dan berbaris menurut kelasnya masing-masing, 20 menit berjalannya upacara sudah terlihat beberapa murid pingsan dan ditandu keluar lapangan menuju UKS. Berbeda dengan sekolah lainnya, saat lagu INDONESIA RAYA dikumandangkan, semua murid, guru-guru, dan karyawan mengangkat tangan kanannya dengan sigap dan menempelkan ujung jari di pinggir alis. Seusai upacara, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi keras, seorang guru berperawakan gendut dan berkacamata tebal memasuki kelas XII-IPS 2. Semua murid langsung menempati posisi duduknya masing-masing. Pelajaran Sejarah pun dimulai. Ketua kelas langsung memimpin kelas untuk berdoa dan dilanjutkan dengan memberi salam kepada guru. Tanpa dikomandoi lagi, semua murid langsung mengeluarkan buku pelajaran dan buku catatan dari dalam tasnya. Dari 35 siswa, 5 orang TIDUR, 5 orang sibuk bermain poker, 10 orang sibuk dengan gadget-nya, 10 orang gak bisa berkutik karna duduk dibarisan depan, dan 5 orang sisanya sibuk SELFIE. Murid-murid XII-IPS 2 sudah lama mendeklarasikan bahwa pelajaran Sejarah adalah pelajaran paling membosankan, tidak menarik,, apalagi kalau gurunya Pak Mulyanto.
"Gie,,,,,," bisik Ape
"Kenapanya kau sama Winda??" tanya ape
"….." jawab Gie
"Maklum aja men,,bidadari emang suka kayak gitu, turun ke bumi cuma numpang tenar sama tebar pesona” sambung Caesar santai sambil mengibas-ngibas rambut gondrongnya "Kurcaci macem kita mana pernah ada di dunia dongengnya dia"
"Tapi jahat kali kau bah, udah kau siram, kau tinggal pula pas dia ngomel-ngomel" tukas Ape
"Ngomong mulu,, itu tugas kerjain.." jawab Gie sambil membuka-buka halaman yang dimaksud pak Mulyanto.
"Ah, pak Mul nyantai. Gak kau liatnya itu Roni macam di Vegas, gelar kartu bah” balas Ape santai
Seperti hari-hari biasanya,, hari Senin adalah hari KIAMAT untuk anak XII-IPS 2, pagi-pagi buta sudah disuguhi pelajaran dan guru yang super duper GAK JELAS,, coba deh bayangin,, Gurunya dateng langsung absen murid-murid, kasih tugas yang gak ketulungan banyaknya,, gak bikin semangat,, krik pula,, bahkan sistem penilaian tugas tergantung kepintaran murid-murid dalam merangkai kata di lembar jawaban tugasnya,, kalau sudah selesai pekerjaannya hanya ada 2 pilihan dalam kebiasaan Pak Mulyanto,, main I-pad atau keluar kelas. Seusai pelajaran Sejarah, kita disuguhi pelajaran E-K-O-N-O-M-I, dimana yang mengajar adalah wali kelas kami sendiri sehingga kami tidak bisa cabut pelajaran atau bermimpi indah di dalam kelas, tidak hadir dalam kelas adalah MALAPETAKA tersendiri bagi sebagian murid-murid yang diasuh Ibu Sri Budiarti, tidak segan-segan Bu Sri akan menghubungi pihak orang tua, kerabat, bahkan menjemput muridnya di Warnet (Warung Internet) kalau muridnya Caesar. Belum lagi setelah pelajaran Ekonomi selesai,,murid-murid yang masih setengah sadar otaknya langsung digembreng pelajaran M-A-T-E-M-A-T-I-K-A.
Itulah KIAMAT XII-IPS 2,,,bagaimana dengan KIAMAT di sekolahmu???

* * * *
Sepulang sekolah, Gie, Ape dan Caesar pun bergegas turun menuruni tangga dan menuju parkiran motor di samping masjid. Penuhnya parkiran kerap kali membuat kemacetan saat keluar dari pintu gerbang sekolah. Gie yang sudah menunggu cukup lama mencari-cari teman dan kuda besinya di depan gerbang sekolah.
“Ayo men!!! Lu mau gue turunin dimana nih? Di pertigaan kayak biasanya?” tanya Ape
“Yaa,, kayak biasa aja. Nanti gue lanjutin naek angkot ke arah kost-kost’an” jawab Gie sembari mengangkat tubuhnya duduk di jok motor bebek yang sepertinya sudah jengah harus menahan tiga orang setiap harinya.
Sambil menyalakan motor Ape langsung memasukkan gigi persneling dan memutar gas “Oke!!”

* * * *
Kak Gie!!! teriak 2 anak kecil di seberang pintu kamar kost Gie
"Hei Lala, Hei Boom-Boom gimana sekolahnya tadi?" tanya Gie sambil membukakan pintu mempersilahkan 2 anak kembar itu masuk
"Sukses dong kak,, kita dapet nilai 10 pas Ulangan!!" sahut mereka berbarengan
"Wah bagus dong!! Itu udah kakak beliin film kartunnya. Yuk masuk kita nonton" ajak Gie
2 jam sudah film Peter Pan diputar. Gie yang sudah rapi dengan kemeja dan sepatu pantofelnya mengajak Lala dan Boom-Boom keluar kamar.
“Kak Gie mau berangkat kerja lagi?” tanya Lala dengan muka cemberut
Gie yang sedang membenarkan tali ikat pinggangnya hanya bisa mengangguk dan tersenyum, Ia tau bagaimana rasanya ketika 2 anak ini selalu ditinggal orang tuanya bekerja dan hanya memiliki Gie sebagai sahabat yang dipercaya.
“Iya, kakak mau berangkat kerja sekarang” balas Gie
Boom-boom dengan muka kesal menatap Gie “Kenapa sih Kak Gie sama saja kayak papa dan mama?? Selalu ninggalin kita berdua!!!
“Loh, papa kan sama mama kerja kan buat kamu berdua, buat sekolah kamu, buat beliin kamu baju, dll” kata Gie sambil mengelus kepala kedua anak itu. “Makanya Lala sama Boom-boom harus belajar yang rajin, terus kalau bisa buatin teh hangat kalau mama sama papanya pulang, kan enak kalau ngeliat mama sama papa seneng” lanjut Gie meyakinkan kedua anak itu.
“Udah ya, kakak sudah telat nih!!” kata Gie sambil menyalakan motornya dan keluar dari pintu gerbang kost-kostan
“Tapi kakak jangan lupa ya besok sama permennya” teriak Lita
“Iya,, Dah Lala, Dah Boom-boom” sahut Gie dari kejauhan
Gie Fajar Putra, itulah namanya. Tinggi badan hanya sekitar 168 cm, tinggal di kost-kostan daerah Kebon Jeruk. Berpakaian serba simple, sepatu tidak ber-merk menghiasi kakinya yang kekar! Tampak celana jeans robek-robek sebatas lutut ia kreasikan menjadi tas sekolahnya. Tidak tanggung-tanggung KUTEKS berwarna ungu pun menghiasi jari-jari di kukunya!! (Yang ini sih udah pasti ngaco!!! Jangan percaya!! Keep reading okay).
“Eh Gie,, darimana aja sih lu??” tanya seorang gadis dari arah cafe
“Kenapa emang?” balas Gie
“Udah telat 20 menit lu gak sadar!!”
“Terus marah gitu kenapa? Kapan gue kerja kalau lu marah-marah” jawab Gie

* * * *

Cafe tempat Gie bekerja bertempat di daerah Tanjung Duren persis berada di belakang Mall Central Park. Cafe dengan hiasan pohon anggur yang sedang berbuah dan kursi-kursi tinggi dengan gaya minimalis mulai dipenuhi beberapa remaja yang menikmati pancake strawberry dan coklat hangatnya. Sungguh teduh sinar matahari sore kala itu. Caren yang sudah bekerja berdua dengan Gie sejak 4 bulan lalu, selalu saja mendambakan pacar seperti Gie. Yang baik, sopan, ganteng, rapih, suka sama anak-anak, mandiri, and the list goes.
“Duh!!sebenernya Gie suka gak sih sama gue??kurang apa sih gue??tinggi 175, cantik, body lumayan oke, pinter lagi!! Masa cewek cantik kayak gini malah dianggurin!!!” decak Caren yang kesal
“Mbak...” teriak pelanggan dari meja nomor 4
“Mbak...” teriak pelanggan itu lagi kepada Caren yang tengah sibuk berandai-andai
“MBAK!!!”
“Oh iya,, maaf mas. Mas mau pesen apa” tanya Caren
“Ngelamunin apanya kau mbak?? Gak kau tengoknya aku bah” tanya lelaki itu kembali
“Aku pesen teh tawar anget 1 sama tolong panggilin Gie bilang dari temennya si Gondrong” jawab lelaki itu
Caren nampak kebingungan, karena baru kali ini ada pelanggan memesan teh tawar hangat. Padahal tidak ada di list menunya.
“Maaf mas, di sini nggak ada teh tawar hangat, mungkin mas nya salah” jelas Caren sambil memperlihatkan list menu yang dipegangnya
“Ah cemananya kau?? Warkop belakang pun bisanya ku pesan” balas lelaki itu
Caren hanya bisa pasrah menanggapi permintaan pelanggannya yang aneh-aneh. Lalu berpalinglah ia meninggalkan lelaki itu dan masuk ke dalam dapur.
“Gie!! Ada temenmu tuh yang nyariin namanya Gondrong. Dia pesen teh tawar anget katanya” pesan Caren
“Loh..??itu kan nggak ada di menu?? Yaudah biar aku yang urus dia nanti.” Jawab Gie sambil mengambil gelas dan teh celup
“Siapa sih Gie namanya?” tanya Caren
“Namanya Ape, emangnya kenapa” jawab Gie
“Ahh,,enggak. Cuma bikin kesel aja orangnya” balas Caren
“Oke aku tinggal ya!!Lagi banyak pelanggan soalnya” lanjut Caren

* * * *

"Aaaahhhh!!! Dasar cowok gila!!!" gerutu Winda sambil melempar guling ke arah kasurnya.. Winda yang kesal hanya bisa mondar-mandir tak karuan di kamarnya.
"Jadi ceritanya gimana sih Win? gue masih bingung SUMPAH" tanya Shakinah "gue denger-denger sih itu salah lu juga Win" lanjut Shakinah
"Ya ampun,, gue cuman nginjek lantai bekas dia pel,,lagian cuma kotor dikit sih,,dia nya aja jadi cowok sensitif banget" ketus Winda
"Nggak bisa gitu juga Win,,gue juga setuju kalau lu salah,, namanya orang baru selesai ngepel malah lu injek-injek,, gimana gak kesel coba??" balas Shakinah yang sibuk mengutak-utik rambut ikal nya "Terus tadi lu minta maaf gak pas lu injek lantainya?" sambung Shakinah
"Ehhmmmmm,,,nggak sih. Habisnya dia udah bikin gue emosi duluan!!" jawab Winda sambil menggerutu

* * * *

Beberapa menit berlalu di kamar Winda sampai senja tiba. Kamar dengan desain minimalis dan tirai berwarna krem menghiasi senja. Cocok sekali untuk menenangkan suasana hati Winda yang kesal. Tiba-tiba pintu kamar Winda ada yang mengetuk -
"Siapa???" tanya Winda
Gagang pintu pun perlahan mulai terbuka dan tampak wanita separuh baya muncul dari balik pintu -
"Maaf non,,itu makanannya udah siap di bawah" kata Bi Lastri
"Iya bi,,sebentar lagi dina turun kok. Makasih ya Bi" ucap Winda "Kin,,makan yuk,,udah laper gue. Ga nyangka emosi itu bikin laper juga" ajak Winda
"Itu mah lu nya aja rakus,, oke-oke yuk ke bawah" jawab Shakinah

* * * *

Waktu menunjukkan pukul 19:00, malam yang mendung mengharuskan Shakinah pulang ke habitatnya -
"Win,,gue pulang ya. Udah malem nih, takut bokap gue nyariin"
"Yayayayaya,," jawab Winda sambil membuka gerbang rumahnya
"Oh iya Win,,gue saranin kayaknya lu minta maaf aja deh sama Gie. Daripada lu cuma ngomel-ngomel gak jelas gini.
“Dah ya supir taksinya kasian tuh udah nungguin gue. Bye Win” sahut Shakinah
Melihat rintik-rintik hujan mulai turun, Winda pun langsung masuk kamarnya dan sibuk berandai-andai bagaimana jadinya kalau dia meminta maaf.
Masa gue yang harus minta maaf sih sama itu cowok!!Mau ditaruh mana muka gue?? gerutu Winda sambil menatap dirinya di kaca. Lagian mau gimana ngomongnya coba??

“Gie gue minta maaf ya, gue tau gue salah banget udah nginjek lantai bekas lu pel”
Sesaat Winda berdiam merenungi perkataannya sendiri.
Dih kok gue jadi manja gini sih!!!” decak Winda
“Gie terserah lu mau maafin gue atau enggak. Tapi niat gue baik mau minta maaf atas kejadian yang kemarin” lanjut Winda melihat ekspresi mukanya saat berbicara, berharap besok tidak memalukan dirinya di depan umum.
“Loh kok malah jadi lebih parah!!Gue kayak cewek yang pasrah gini sama keputusan cowok!!Inget Med lu itu cewek!! Jaga harga diri!! Jual mahal!!” Teriak Winda dalam kamar

* * * *

“Nonn,,,,Non Dina gapapa kan??sapa bibi dibalik pintu
“Iya bi,, Dina lagi latihan teater aja kok. Tenang aja bi” balas Winda sambil menenangkan dirinya
Ya sudah lah. Besok ya besok. Ngapain juga dipikirin sekarang, cuma bikin pusing. Ya nggak??. Lalu Winda berpaling ke arah kasur, merebahkan tubuhnya dan hanya bisa berharap yang terbaik buat besok.
Diubah oleh chrisbaldam
profile-picture
profile-picture
yukinura dan jenggalasunyi memberi reputasi
4 0
4
12-09-2018 12:43
gelar tenda dulu gan,, prospek bagus kayaknya nihemoticon-Ngakak (S)
profile-picture
yukinura memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 15:44
segini dulu ya gan/sis. lepi lagi dibawa adek, kemungkinan entar malem atau besok update bag 2
profile-picture
yukinura memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 15:58
ijin buka lapak bre
sekalian nyumbang cover emoticon-Ngakak (S)
Gie
0 1
-1
12-09-2018 16:15
Quote:Original Posted By tikus.celurut
ijin buka lapak bre
sekalian nyumbang cover emoticon-Ngakak (S)
Gie


wakwakwak,, emang namanya terinspirasi dari situ gan.. sama presiden soekarno sih.. kalau baca otobiografi karangan cindy adam
profile-picture
yukinura memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 19:11
Bag II


Gie



Winda Wulandari, berbicara bidadari yang satu ini tidak akan ada habisnya. Dia adalah anak bungsu dari Bapak Insinyur yang terkenal kreatifitasnya,,kecantikannya. Lekukan tubuhnya yang sangat simetris membuat kaum Adam berangan-angan memilikinya. Bagaimana tidak?? lekukan badannya,, bagian-bagian dari dirinya yang menonjol...Uhhhh,,, membayangkannya saja sudah tidak KUAT!!!
(Mohon maaf,,yang lelaki mesum tolong dibuang pikiran-pikirannya yang aneh-aneh,, maksud penulis disini yang MENONJOL itu K-E-P-R-I-B-A-D-I-A-N-N-N-Y-A!!!!)
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Winda datang ke sekolah, berharap Gie datang lebih awal dari biasanya supaya tidak ada seorang pun yang melihat dirinya saat meminta maaf ke Gie. Tapi apa daya, sudah 30 menit dia menunggu di dalam kelas seorang diri, tak terdengar satu pijakan kaki pun dari luar kelas. Karna sudah lelah menunggu, Winda pun beranjak turun menuju kantin memesan bubur ayam langganannya jika ia lupa sarapan di rumah.
Pagi yang cerah menambah keseruan anak-anak XII-IPS 2, guru pendek dengan perut bucit memasuki kelas dan menyuruh masuk anak-anak dan membuka buku latihannya.
“Ah bapak!! Masa pagi-pagi gini mainan sama rumus pak!! teriak salah saeorang murid di ujung barisan depan
Dengan lagak seperti orang berwibawa guru itu berkacak pinggang. “Ehh,, Titis ngomong apa kamu Tiss!! Inget, 5 bulan lagi kalian ujian. Masa mau jadi Veteran di sini?? Mau kamu?? Sudah buka buku semuanya, kita mulai pelajarannya sekarang!
“Yahh,, bapak masa tega sih sama kita-kita?” goda beberapa murid perempuan dengan muka memelas “Ehh,, Frisca,, Utha,, Shakinah!! Godaan kalian sudah nggak mempan lagi sama bapak” balas Pak Durmid
* * * *
“Win, ayo dong godain Pak Durmid, tolongin kita please” bisik Frisca
Tidak ada respon dari Winda, Frisca mencoba melambaikan tangan tepat di depan muka Winda. “Win...HALOOOO!! Ah yaudahlah, mungkin lagi ada masalah”. Melihat Winda yang masih saja kebingungan, Frisca mencoba mencari akal. “Eh Tis, nggak ada ide lagi apa buat jinakin Pak Durmid? tanya Frisca sambil menyikut lengan Titis
“Bentar bol!! masih cari siasat juga gue!! Gue juga nggak pengen lah belajar matematika hari ini. Kasih gue waktu 5 menit, oke?” balas Titis sambil menggaruk-garuk kepala mencari ide
Titis yang menggaruk-garuk kepala sendiri, ternyata telah mengundang perhatian Pak Durmid yang sudah memperhatikan gerak-geriknya dari tadi. Dikeluarkannya kaki dari kolong meja, diangkatnya gesper dan perut buncitnya lalu berjalan menuju tempat Titis yang masih menggaruk-garuk kepalanya.
“Titis, kamu ngapain garuk-garuk kepala?” tanya Pak Durmid “Oh,,enggak pak. Heran aja sama bapak, tumben pakai dasi sama kemeja hari ini? Biasanya kan bapak pakai baju guru. Ada yang spesial ya pak hari ini!!” “Kamu!!!Bukannya ngerjain soal malah merhatiin bapak!!Sholat tahajud TITIS!! Istighfar!!”
Tanpa mempedulikan omelan gurunya, Titis tetap gencar mencari celah. “Ulang tahun pernikahan ya pak sama istrinya?”
“Enggak kok, emangnya keliatan ganteng ya tis?” tanya pak Durmid seraya tebarpesona “DORR!!” teriak Titis dalam hati. Umpannya sudah disambar “Ganteng pak!! Tapi masih gantengan saya sih” jawab Titis setelah hening beberapasaat. “WOOOOOO!!! teriak anak-anak dalam kelas memecahkan kesunyian “Apa lu..??” tunjuk Titis ke semua teman sekelasnya. “Kalau enggak suka, keluar”
Tanpa rasa belaskasihan lagi, Pak Durmid langsung memukul kepala Titis menggunakan penggaris yang terletak di atas meja Frisca.
“Bapak GURUNYA, kamu yang keluar!!” gertak pak Durmid “Duhh!!Ampun pak. Habisnya pada nggak setuju sih pak kalau saya ganteng” jawab Titis sambil memegang kepalanya yang kesakitan akibat penggaris yang diarahkan ke kepalanya “Jangankan mereka, bapak saja TIDAK SETUJU!” teriak pak Durmid
Saat itu juga meledaklah tawa seisi kelas, melihat guru dan muridnya yang sedang bertengkar layaknya Tom and Jerry. Sebuah tontonan baru yang tak kalah menarik dari jajaran BOX OFFICE MOVIES di bioskop.
“Eh iya pak, coba metode pembelajaran terbaru lah. Masa zaman sudah modern kayak gini cara belajarnya masih kuno aja pak” bujuk Titis “Bapak kan punya laptop, kita belajar aja pak dari CD Latihan Ujian Nasional yang kemarin dikasih sama Binus” lanjut Titis menjelaskan “Tapi, kamu yang atur ya. Bapak belum tahu cara pakainya, baru belajar ngetik biasa saja” “Don’t worry lah pak” Tanpa menunggu komando lagi, Titis mohon izin ke pak Durmid untuk mengambil proyektor di ruang Tata Usaha. Sekembalinya dari ruang Tata Usaha, Titis langsung menyambungkan kabel proyektor ke laptop milik pak Durmid.
“Ada yang bawa CD nya gak?” tanya Titis “Gue bawa nih Tis!!” teriak Fabil
Seusai menerima CD, Titis langsung memasukkan CDnya ke dalam laptop. Bukannya membuka materi, Titis malah sibuk mencari suatu file di dalam data milik pak Durmid. Teman-teman Titis yang kebingungan memandangi LCD Proyektor di depannya, mencari tahu apa yang dicari Titis. Diketiknya di kolom pencarian “.3gp” sebuah format video.
“Pak,,??” panggil Titis “Ini apa ya pak? Kok judulnya “Young Mother?”
Seketika itu juga meledaklah lagi gelak tawa seisi kelas saat semuanya melihat ke arah LCD Proyektor
“Wahhh,, apaan tuh pak??” tanya seorang Ojan sambil tertawa terbahak-bahak diikuti Fabil, Roni, dkk “Wahhh,, bapak simpenannya yang kayak gini?? lanjut seorang murid yang lainnya “Ya ampun!!Bapak, apa kata istrinya nanti??” tanya Utha
Pak Durmid yang kebingungan, melirik ke arah laptopnya. “Heh!!!Titis nakal kamu ya” teriak pak Durmid sambil menjewer kuping kanan Titis dan menutup langsung laptopnya.
Tanpa disadari bunyi tanda pelajaran Matematika sudah berakhir. Murid XII-IPS pun bersorak gembira diikuti kelas sebelahnya. Murid-murid berhamburan keluar kelas, langsung menuju kantin untuk berlomba mendapatkan jatah makanan, tempat duduk, dan tidak lupa oksigen juga tentunya.

* * * *

“Pe, Gie kemana ya kok gak masuk sekolah? tanya Winda sembari membawa mangkuk bakso ke meja tempat Ape dan Caesar makan
“Loh, kenapanya kau Win?” tanya Ape kembali
“Ya, ada urusan lah. Kok lu malah gak jawab pertanyaan gue sih?”
“Oh iya lupa,,kau tanya Caesar lah” lanjut Ape
“Palingan dia kecapean Win, dia kan gak cuma sekolah.. Dia kerja di cafe daerah Tanjung Duren, emang kenapa sih lu nyariin dia?” sambung Caesar
“Ohh,, lu temenin gue ketemu dia dong, gue ada urusan yang mau dibicarain” jelas Winda
“Eitttssss,, gak bisa gue Win, ada urusan. Kalau mau lu sama ape aja, dia juga tau kok tempatnya” balas Caesar
“Yaahhhh,,terus gimana pe? Pliss kali ini aja!!” pinta Winda
“Nanti lah ya, lagi makan aku” jawab ape santai
“Nanti gue yang bayarin nasi goreng sama es teh nya deh”
“MANTAP!! Terus kekmana temenin kau ke Cafe nya? Nanti sore??
“Yaaa,, boleh juga sih. Tapi nanti gue pulang dulu ya. Mau ganti baju sekalian, kita ketemu jam 5 aja di depan gerbang” kata Winda mengakhiri dan kembali bersama teman-temannya yang tidak jauh dari meja tempat Caesar dan Ape yang sedang makan.

* * * *

Di kamar mandi, sudah setengah jam Winda berendam di dalam bak mandi, diambilnya handuk dari gantungan. Dikeringkan dan ditutupi badannya beranjaklah ia ke kamar. Dibukanya lemari pakaian, ditariknya satu baju blus berwarna putih tanpa lengan dengan renda-renda di sekitar kerahnya. 1 jam sudah berlalu, Winda pun turun ke bawah dan mengambil sepatu high heels nya berwarna perak. Tidak berapa lama kemudian datang juga taksi pesanannya dan langsung menuju SMA Negeri 16.
“Biii!!” teriak Winda sambil menarik pintu gerbang rumahnya. “Ya non?? ada apa? tanya bibi keluar dari pintu parkir mobil. “Nanti tolong bilang ke Mama, Winda pergi ke Cafe daerah Tanjung Duren mau ketemu temen” jawab Winda “Iya non, nanti Bibi sampaikan. Hati-hati non” balas Bibi “Makasih ya bi”

* * * *

Sementara itu, di lain tempat Rafael sudah lama menunggu di depan gerbang. Orang yang ditunggu-tunggunya belum juga datang. “Mampus dah ini gue! Kenapa sih jadi cewek repot banget! Harus dandan lah, mandi susu lah” umpatnya dalam hati. Di rogohnya saku mencari-cari permen lolipopnya, dengan santai ia mengemut permen, sesekali dia melihat ke ujung komplek sekolah. Karna sudah merasa bosan, dirogohnya kocek beberapa lembar uang ribuan dan membeli sebotol minuman. Baru beberapa teguk saja, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dengan sikap antisipasi Ape langsung melompat jauh ke depan dan memasang kuda-kuda tanda siap bertarung.
“Oh.. My.. God” bisik Rafael dalam hati. Baru kali ini ia lihat Winda dengan busana selain seragam sekolah. “Pe, sorry ya telat. Macet soalnya di jalanan Binus” sapa Winda sambil meminta maaf “Pe?” panggil Winda “Pe?” panggil Winda lagi sambil melambaikan tangan. “WOOIII!!!” teriak Winda mencoba menyadarkan temannya yang masih melamun. Ditepuknya kedua tangan di depan muka Ape sehingga Cumiakkan telinga. Ape yang dari tadi melamun akhirnya sadar juga.
“Eh, Win. Kapan dateng..??” tanya Ape “Daritadi gue panggil-panggil sama gue tepokin masih nggak sadar juga?” tanya Winda kembali yang masih heran sama satu monyet arab ini. “Mendingan lu ke dokter hewan deh, periksa kuping lu!” lanjut Winda. “Weehhh,, belum pernah ngeliat orang Batak makan orang kau??” balas Ape sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan dada. “Lama kali kau datang” lanjut Ape penasaran “Kan udah gue bilang kejebak macet di Binus!!! Tapi pas gue keluar dari gerbang rumah juga udah telat sih. Namanya juga cewek. Maklum ya!! Peace.”
Dilihatnya kembali setelan blus putih yang dipakai Winda kala itu, sangat cocok dengan warna kulitnya, sebuah ikat pinggang, dan high heels berwarna putih menghiasi kaki kecilnya. Mau tidak mau Ape terjebak lagi dalam lamunannya di sore hari.
“WOI!!!Ampun deh!!! teriak Winda yang sudah capek melihat tingkah temannya sambil menepuk-nepuk dahinya sendiri.
Hiruk-pikuk suasana murid yang mengikuti ekskul di dalam sekolah mengagetkan Rafael yang sedang asik sendiri menikmati sosok bidadari di depannya.
“Oh iya Win, sorry-sorry. Buat bidadari apa sih yang enggak??” goda Ape
“Apaan sih lu??udah deh buruan jalan. Malu nih gue diliatin anak-anak 16!!”
“Siap ibu Komandan!! yok ke tempat motor ku” ajak Ape

* * * *

Sepanjang perjalanan menuju cafe, kaki Winda terasa pegal karena harus duduk menyamping. “Ah, nanti minta pijitin aja sama bibi” umpatnya dalam hati. Winda sibuk menahan blusnya agar tidak terbang ke sana kemari melawan terpaan angin sore. Dilihatnya beberapa ibu membawa kereta bayi sambil mengelilingi taman yang terletak di pinggir jalan, terlihat juga beberapa anak kecil sedang bermain layang-layang di taman itu. “Tumben motor lu bersih Pe? biasanya juga dekil kayak yang punya” ejek Winda waktu melihat ada sesuatu yang beda dengan motor Ape.
“Yee,, jangankan menghadap Tuhan, bawa bidadari juga harus KINCLONG motor ku” balas Ape santai. “Ngomong-ngomong kenapanya kau sama Gie? Macam penting kali” tanya Ape “Itu lho Pe, lu inget kan tempo hari gue ribut sama dia gara-gara pel’an doang?” jawab Winda dengan suara agak keras. “Ohhh,, yang itu!! Baru minta maafnya kau sekarang?” tanya Ape lagi. “Kau pun, nyantainya sama Gie, ku rasa pun ga ada dipikirinnya lagi itu” lanjut Ape “Tapi kan rasa bersalahnya masih ada Pe” balas Winda
Mendengar penjelasan Winda, Rafael mencoba mencerna dan mencari solusi sambil mempercepat laju motornya.
“Baik-baiknya lah kau. Kekmana ya ngomongnya, dia malas kali pun kalau ada orang minta maaf padahal kejadiannya udah kelewat lama” lanjut Rafael
Setelah mendengar penjelasan semacam itu, Winda mendadak menjadi sedikit takut dan sempat mengurungkan niatnya untuk meminta maaf. Tapi mana mungkin bisa?mubazir sudah ditolongin orang malah takut kenapa-kenapa yang padahal belum tentu saja terjadi nantinya.
“Ya,,tapi nanti kau coba lah, siapa tau moodnya pun lagi bagus??” kata Ape “Yaahhh,, gue jadi takut gini Pe! Apa kita balik aja ya?” balas Winda “Ohh,, inang-inang. Udah jalan ini argonya!” balas Ape dengan muka geram “Kau santai lah, nanti biar ku jinakin kalau kenapa-napa” “Yaa,, tapi gimana?? Lu sih pakai ngomong segala! Lu nanti bantuin gue ngomong ya!” pinta Winda “Ada syaratnya!” pungkas Ape “Apa?” tanya Winda
Dengan hati-hati Rafael meminta kepada Winda “Bayarin parkir, bensin, sama milkshake” “Itu lu MERAS atau apa?” bentak Winda “Kalau enggak mau ya udah, puter haluan motorku” balas Ape “Ahh,, lu kok tega sih sama gue!!Yaudah,, tapi kali ini aja ya!” kata Winda
Beberapa lama kemudian, terlihat sebuah café di persimpangan jalan. Begitu rindang dengan pohon-pohon di tepi jalan. “Ah, tidak begitu ramai juga ternyata” pikirku. “Semoga saja Gie lagi goodmood”. Lalu diparkirnya motor, persis di sebelah Cafe tempat Gie bekerja. Dicabutnya kunci dan beranjak mencari tempat duduk yang kosong. Tanpa berpikir panjang Ape langsung mengajak Winda masuk dan mempersilahkannya duduk.
“Win, jadi gini rencananya! Kau duduk di sini, aku duduk di sebelah sana” sambil menunjuk bangku yang dimaksud. “Nanti ku panggilkan orangnya, nah sisanya suka-suka mu lah?” kata Ape menjelaskan rencananya “Oke. Gue tunggu di sini ya!” balas Winda

* * * *

“Wah!!Boleh juga nih cafenya, unik, lucu lagi desainnya” pikir Winda. “Kok gue baru tau ada cafe kayak gini”. Diambilnya daftar menu dan melihat-lihat daftar minuman yang tersedia. “Minum apa ya? mau pesen coklat tapi takut gendut! Pesen pancake? Apalagi pancake!!bisa-bisa nggak ada cowok yang ngelirik gue nanti!! Yaudah lah, pesen lemon tea aja” gerutu Winda yang pasrah melihat daftar menunya. Dilihatnya di meja tempat Ape duduk, dia melambaikan tangan memanggil waitress.
“Mbak!!” sahut Ape “Iya mas, mau pesan apa?” tanya Caren “Bisa minta tolong panggilin Gie?” kata Rafael “Oke, nanti saya panggilin. Tapi masnya mau pesen apa?minuman atau makanan gitu?” tanya Caren kembali “Numpang wifi aku” balas Ape santai
* * * *
“Gie, si Gondrong nyariin kamu tuh!” teriak Caren dari balik pintu dapur
Gie yang penasaran, langsung mencuci tangan dan melepas celemeknya. Dibukanya pintu dapur, tanpa sadar kepala Caren terbentur pintu dapur yang terbuka tiba-tiba.
DUG!!
“Eh Caren!! sorry gue gak sengaja” kata Gie sambil menjulurkan tangan “Iyaa,, gapapa kok. Cuma kebentur dikit aja” kata Caren “beneran gapapa?” kata Gie seraya menyingkirkan rambut Caren mencari luka yang mungkin saja ada. Diperhatikannya seluruh muka Caren sampai-sampai membuat muka Caren memerah. “Untung aja gak kenapa-kenapa” Gie bernafas lega “Sekali lagi gue minta maaf ya!”
“Iya!! Buruan gih, kasian temen kamu nungguin” “Emangnya dia gak pesen makanan atau minuman sama kamu?” tanya Gie “Enggak tuh, dia minta dipanggilin kamu aja sama numpang wifi’an” jelas Caren “Emang dasar orang kaya udik!!” pikir Gie mempunyai teman seperti Ape. “Yaudah, aku tinggal dulu ya!”

* * * *

“Woi Gie!!! panggil Ape
Gie yang keluar dari pintu Cafe langsung mencari-cari darimana suara cempreng itu berasal. Didapatinya Rafael yang sedang meneguk milkshake seorang diri, berjalanlah perlahan ia menuju meja di luar cafe dimana Ape duduk. Gie yang penasaran langsung menanyakan maksud kedatangannya dan mengambil kursi di dekatnya.
“Maaf mas mbak, saya pinjam ya kursinya” kata Gie “Oh iya silahkan mas” jawab pemuda itu “Terimakasih” balas Gie tersenyum sopan
Seketika itu juga gadis yang bersama dengan pemuda itu terpana melihat senyuman Gie yang tulus. Jarang-jarang ada pemuda sopan seperti Gie, pikirnya. Andai saja pacarnya seperti Gie. Tidak tersadar, pacar wanita itu mulai memperhatikan tatapan wanitanya ke Gie.
“Sayang?” kata pemuda itu
Selama beberapa detik terdiam terpaku memandang Gie, akhirnya wanita itu sadar juga pacarnya memanggil dia. “Tau gini sih, gak bawa pacar deh!” rutuk wanita itu dalam hati
“Hei men, kenapa? Tumben dateng ke sini terus?” tanya Gie “Numpang wifi’an gratis, mau nanya kabar, sama ada satu hal lagi.” jawab Ape sambil menghabiskan milkshakenya “Kau dicariin sama Ibu Sri. Kenapanya kau?” tanya Ape “Oh itu. Gue gak enak badan Pe tadi pagi gara-gara lembur kemarin.” jelas Gie. “Terus satu hal nya apa?” tanya Gie penasaran “Itu cewek yang pakai blus warna putih” bisik Ape sambil menyampingkan bola matanya ke arah kanan “Dia??” tanya Gie memastikan orang yang ditunjuk Ape “Iya! Udah kau samper lah” jawab Ape “Eh iya Gie,, bolehnya minta milkshake lah, kau pun pelit kali?” kata Ape “Oke, lu minta aja sama abang-abang yang di sana” balas Gie, lalu beranjak ke arah gadis itu
Tidak ingin melewatkan moment langka ini, Ape langsung mengambil secarik kertas dan spidol dari dalam tasnya. Ditulisnya beberapa kata dengan ukuran yang cukup besar supaya bisa terbaca dari tempat duduk Winda.
“Permisi, katanya mbak mencari saya?” tanya Gie sopan “... kenapa?” tanya Gie
Tidak terlihat sedikitpun bibir Winda bergerak. Takut bukan main ia dibuatnya, diliriknya Ape di ujung barisan meja.
KEEP CALM WIN!! lirik Winda yang heran melihat Rafael mengacungkan jempol sambil menegakkan kertas agar bisa dibaca Winda
“Duh,,gimana nih!! Mana Ape gak ngebantu sama sekali!!” kata Winda dalam hati dengan kepala menunduk
JUST DO IT!! Kali ini tulisannya berbeda. Tapi tetap saja tidak membuat bibir mungilnya berbicara
“Maaf ya Win, kalau emang ada urusan mending selesain sekarang, gue masih banyak pekerjaan” kata Gie menyudahi pembicaraan Melihat Gie yang beranjak dari tempat duduk, Winda berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk berbicara dengan Gie.
“Gie tunggu!!” teriak Winda sambil menarik tangan Gie “Oh, punya mulut juga ternyata!” kata Gie “Gue,,gue,,gue” kata Winda dengan nada gugup “Gue apa?” tanya Gie “Ehhhmmm, yang masalah tempo hari itu” kata Winda “Masalah yang mana?” tanya Gie “Yang,,gue,,gue,,nginjek lantai habis lu pel” bisik Winda kecil, sampai-sampai ia bisa mendengar sendiri degup jantungnya yang cepat “Gue gak ambil pusing kok” balas Gie “Ada lagi?” tanya Gie “Yaaa,,gue mau minta maaf. Gue tau gue salah. Makanya gue mau minta maaf sama lu” kata Winda dengan suara kecil “Gini ya,, gue cuma gak suka orang yang gak ngehargain pekerjaan orang” jawab Gie santai “Masih ada lagi? lanjut Gie berusaha mengakhiri pembicaraan yang tidak penting buatnya “EH!! SUMPAH YA!! Tau gini gue gak usah capek-capek ke sini buat minta maaf. Lu kira waktu gue cuma buat lu doang gitu?” teriak Winda di luar cafe
Dengan muka kesal Winda beranjak dari tempat duduknya, diambilnya tas kecil dan dompet lalu menuju kasir membayar tagihannya.
“Maaf mbak berapa tagihan saya sama teman saya yang gondrong di sebelah sana?” tanya Winda di meja kasir
“Dua puluh empat ribu mbak” jawab wanita kasir itu dengan ramah “Ini mbak, makasih ya”
Berpalinglah Winda keluar pintu dan berjalan ke arah jalan raya mencari taksi.
Diubah oleh chrisbaldam
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 19:14
UP MALAM!!!emoticon-Sundul
profile-picture
oggy.aji memberi reputasi
2 0
2
12-09-2018 19:30
Bag III - I


Gie


Quote:
“Lu sudah selesai ren?” tanya Gie
“Yahh, tinggal beberapa meja lagi sih. Tumben juga ramai gini, kenapa emangnya?”
“Mau numpang ke belakang CL kalau gak keberatan”
“Ya ampun, kayak sama siapa saja. Bisa kok, sebentar ya Gie, gue beresin meja depan habis itu baru kita berangkat”
“Makasih ya ren”
Tak lupa untuk pamit kepada beberapa rekan kerja, Gie dan Caren keluar dari restoran tempat mereka bekerja. Keduanya berjalan bersama ke tempat parkir kendaraan yang terletak persis di depan restoran, dengan hati-hati Gie mengeluarkan motor Caren yang diapit oleh dua mobil di kiri dan kanannya.
“Gie, ini tempat apa sih? Nama tempatnya kok kayak klinik tapi kok suasananya remang-remang ya?” sahut Caren saat mereka berdua berhenti di dekat gedung yang letaknya bersebelahan dengan kali.
“Udah jangan banyak nanya, buruan balik. Atau gue panggilin om-om yang di sana?” balas Gie sambil menunjuk pria berperawakan gendut yang baru saja turun dari mobilnya.
“Dihhh, ogah ah amit-amit. Gue duluan ya Gie”
“Iya ren, hati-hati”
Setelah selesai dengan Caren, Gie menyapa kedua security yang berjaga di luar gedung. Beberapa rekan kerjanya pun menyambut Gie dan mempersilahkannya masuk untuk mengganti baju yang kini dikenakannya. Setelah selesai berganti baju, Gie mulai membereskan gelas dan botol yang berserakan di atas meja. Dari meja lounge terdengar beberapa orang memesan minuman dan makanan yang tersedia di daftar menu. Gie yang masih merasa capek setelah bekerja di café, mencoba mengistirahatkan dirinya sejenak di belakang dapur. Temannya Bian yang seorang chef datang menghampiri dan menawarkan makanan karena melihat kondisi Gie yang lemas.
“Woi men, makan nih. Lemes banget kayaknya lu”
“Eh bang, gak usah repot-repot. Bukannya itu buat orang yang mesen?”
“Gue lebihin tadi pas masak. Buruan makan daripada mubazir. Mau gue ambilin minuman gak? Gue traktir dah ini hari tapi jangan yang berat-berat, sekolah kan lu besok?”
“Makasih bang Bian. Tapi gue gak minum”
“Iye sama-sama. Gue balik masak dulu men, banyak pesenan”
“Ho’oh bang”
Mendapat makanan seperti nasi goreng membuat perut Gie yang tadinya tidak merasa lapar menjadi lapar, dari sekian banyak nasi goreng yang sudah pernah ia makan hanya di tempat ini yang bisa membuat orang ketagihan untuk memakannya. Setelah selesai dengan suapan terakhir, Gie kembali ke lounge melihat banyak botol dan gelas yang berserakan lagi. Dibantu temannya, Gie memindahkan piring, botol, dan gelas kepada temannya lalu menyemprot permukaan meja yang kotor dengan cairan pembersih.
“LU JADI CEWEK JANGAN KEBANYAKAN GAYA!!!” teriak seorang laki-laki dengan muka seram dan sedikit bekas luka di wajahnya yang diselingi musik DJ. Karena teriakan itu Gie langsung menghampiri rekan kerjanya yang masih beradu mulut dengan pengunjung.
“Permisi bang, ini kenapa ya?” tanya Gie
“LU BILANGIN YA INI CEWEK, JADI PELACUR JANGAN KEBANYAKAN GAYA!!” dengan nada meninggi, pria itu menunjuk seorang wanita yang masih berdiri di atas meja dansa. Semua perhatian pengunjung pun teralihkan kepada orang itu, DJ yang tadinya masih asyik memainkan lagu pun perlahan menghentikan permainannya.
“Kalau abang gak pesan makanan atau minuman, gimana mau full service? Toh bayar minuman gak mampu”
“NGOMONG APA LU TADI HAAHHH!!!” bentak teman orang itu yang sedari tadi berada di sampingnya. Tidak puas dengan penjelasan Gie, orang itu pun berlalu ke meja yang ada di seberangnya dan memecahkan botol hinggal tersisa bagian lehernya saja.
“Abang mau nusuk saya, AYOOOO!!!” balas Gie dengan nada mengancam. “bukannya itu sama saja abang ngebuktiin kalau omongan saya benar?”. Mendengar teriakan dari Gie, suasana di dalam lounge pun menjadi riuh, semua pengunjung yang hadir kecuali teman orang itu menyoraki agar mereka keluar. Karena tidak tahan dipermalukan oleh banyak orang, lantas kedua orang itu pun pergi bersama security yang mengamankan mereka.
“Mbak gapapa?” tanya Gie
“Teteh gapapa Gie, thanks ya!”
Keadaan pun kembali normal, semua penari kembali ke tempatnya masing-masing saat DJ memainkan kembali musiknya. Beberapa pengunjung tampak antri menunggu wanita yang dipesannya sudah selesai dengan sesinya. Gie yang sudah kelelahan keluar dari gedung itu dan mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
“Siapa tadi bang?” tanya Gie kepada salah satu security yang ikut duduk bersamanya di koridor gedung.
“Biasa Gie, ormas itu. Mau bubarin awalnya, eh pas masuk khilaf mereka. Hahahaha” sahut security yang bernama Imran
“Bisa aja lu bang. Hahahaha”
“Terus gimana lu Gie, ada yang luka kagak?”
“Engga bang”
“Syukur dah. Emang rese orang kayak gitu, ngakunya aja ormas. Tapi niat cari gratisan juga”
“Yah, nggak ngerti gue bang yang gitu-gitu. Lagian gue kan kerja di sini”
“Lu mah gak salah tadi, salahnya sekarang. Lu ngapain ngerokok? Udah kagak sekolah lu?”
“Sekolah masih lah bang, kan larangannya “siswa dilarang merokok” jadi kalau gue lagi gak di sekolah ya bebas dong. Kan statusnya bukan siswa kalau di luar sekolah. Hahahaha” jawab Gie berusaha menghindar
“Lu sekolah malah buat ngibulin gue lu ya. Hahahaha”
“Engga lah bang, kan itu dari aturannya mereka. Kalau ada celahnya ya berarti salahin aturannya dong?”
“Bener-bener, cocok lu jadi apa tuh? Yang kerjanya di pengadilan”
“Pengacara?”
“Nah iya itu, ngomong-ngomong lu jadi cabut dari sini?”
“Iya bang, banyak kegiatan di sekolah. Belum lagi nanti ujian bang, jadi harus fokus”. Selesai dengan hisapan rokok terakhir, Gie izin pamit untuk kembali masuk ke dalam karena sudah waktunya untuk berbenah. Berempat dengan temannya, Gie membersihkan setiap sudut ruangan dengan sapu yang sudah ada dalam genggamannya. Seringkali ia merasa jengah saat menemukan air ludah berada di lantai yang membuat ia kesulitan untuk menyapu. Meski merasa jijik dengan kelakuan pengunjung seperti itu, Gie tetap melakukan tugasnya untuk membersihkan setiap kotoran yang ada. Tak lama kemudian beberapa wanita sudah selesai membersihkan diri, sebagian dari mereka memilih untuk beristirahat sebentar di sofa panjang yang terletak di pinggir lounge sambil menunggu jemputannya datang sementara yang lainnya memilih untuk langsung pulang.
“Gie, lu angkut sampahnya ke belakang ya!! Gue balik duluan!!” sahut Bian dengan keras dari balik lounge.
“Iya bang, hati-hati”

* * * *

“Jadi abang lebih suka main belakang ya?” ucap Gie sinis, saat melihat tiga orang tadi yang membuat kericuhan dengan rekan kerjanya di lounge tempat ia bekerja menunggunya di belakang bar. Bukannya ia tidak berani melawan mereka bertiga, hanya saja tenaganya tidak cukup lantaran sudah lumayan habis saat bekerja.
DUUAAAGG!! Hantaman keras ke arah ulu hati membuat Gie melepas kantong sampah yang ia genggam dan memegangi perutnya. Tak berhenti sampai di situ, salah satu teman orang itu memegangi seragam kerja yang Gie gunakan. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Gie mengambil kantong sampah yang ia pegang dan menghempaskannya sesaat sebelum teman orang itu mencoba memegang seragam Gie. Kantong sampah yang berisi botol minuman keras sepertinya cukup membuat rekannya terhuyung ke belakang, tampak beberapa botol kaca keluar dari kantong sampah saat Gie melemparkannya. Tidak sempat mengambil waktu yang cukup untuk memulihkan rasa sakit di ulu hatinya, salah seorang memanggil rekannya yang lain bernama Najib untuk memberikan pukulan berikutnya. Bukan pukulan yang Gie dapatkan, melainkan tendangan yang mengenai ulu hatinya lagi. Gie dengan susah payah menahan tendangan yang bertubi-tubi itu dengan kedua tangannya. Tapi sayangnya kedua tangan Gie yang tengah terfokus untuk menahan pukulan dengan posisi menunduk, tidak ia kira Najib akan menyikut tengkuk leher. Mau tidak mau, Gie jatuh tersungkur ke bawah.
“UDEH GEDE LU HAAA?” bentak orang itu sambil menginjak kepala Gie dengan kaki kanannya. Layaknya pegulat jalanan, orang itu dengan sengaja menundukkan badannya dan mendekatkan mukanya ke arah muka Gie, lalu meludahinya seperti binatang mengerat.
Tidak terima diludahi seperti itu, dengan sisa tenaga yang ada, Gie mencoba menggerakkan kedua tangannya. Sambil menunggu saat yang tepat, Gie berpura-pura kesakitan dan tetap menerima air ludah yang sudah berulang kali membasahi mukanya. Saat Gie merasa pijakan kaki musuhnya mengendur, secepat kilat ia memegang kaki yang tadi menginjaknya dan menariknya ke arah belakang Gie. Musuh yang kehilangan keseimbangannya pun terjatuh dengan kepala belakangnya yang pertama menyentuh aspal. Ia tampak meringis kesakitan. Baru saja bangkit berdiri, sebuah pukulan dari kepalan tangan yang cukup besar dan kuat sudah mendarat di pipinya. Mendapati Gie yang terjatuh lagi ke tanah, orang itu lantas menendang pinggang Gie satu demi satu. Dengan insting membunuh, orang yang merasa dikalahkan oleh Gie lewat ucapannya mengambil botol kaca yang berserakan dan memecahkan botol itu dengan memukulkannya ke arah dinding. Gie yang masih terbaring lemas hanya bisa mendengarkan bunyi pecahan yang nyaring dari arah depannya. Dengan penglihatan yang sedikit kabur, Gie berteriak saat benda tajam menancap di punggungnya.
“Teh Vivi, gue duluan ya” ucap Bian rekan kerja Gie
“He’eh bian, eh tunggu. Kamu teh ngeliat Gie nggak?”
“Yeuuhh, lagi ngerokok paling sambil buang sampah”
“Buang sampah masa iya 20 menit, bentar atuh tunggu di sini dulu. Jadi berangkat pulang bareng”
“Ya ampun teh, udah gerimis ini. Kehujanan nanti gue”
“Yee si beleguk, mana ada ngerokok sambil ujan-ujanan. Ayo ah temenin dulu liat ke belakang”
Mendapati omongan Vivi yang benar, Bian pun melepaskan tas yang sudah dikenakannya dan meletakkan di atas meja bar serta berjalan beriringan bersama Vivi.
“Astagfirullah!!” teriak Vivi dan Bian saat mendapati Gie yang tergeletak di aspal. Payung yang sudah dibentangkan pun Vivi lepaskan dan berlari ke arah Gie terbaring, Bian yang berbadan besar langsung mengangkat badan Gie kembali masuk.
“Ke kamar atas Bian!!” kata Vivi dengan volume suara yang agak tinggi disertai rasa panik. Bian dengan susah payah membawa Gie menaiki anak tangga ke lantai 3 memasuki kamar yang biasa digunakan pengunjung untuk melepas rasa lelahnya. Perlahan-lahan Bian menurunkan Gie tepat di atas kasur. “Jangan sampai terlentang ya Bian, miringin badannya biar bisa aku bersihin lukanya. Kamu ambilin es, handuk 3, air anget sebaskom, sama kopi bubuk yang gak ada gulanya ya”
Setelah mendapat komando, Bian langsung berlari ke bawah mengambil semua barang yang diminta dan lekas kembali ke kamar.
“Ini kopi buat apa teh?” tanya Bian disela-sela kesibukan Vivi yang melepaskan kancing kemeja Gie.
“Angkat dulu sedikit badannya Bian, biar bisa aku lepas bajunya” pinta Vivi “Nah, kamu anak kota ngertinya cuma ke dokter ya apa-apa?”
“Ya gimana teh, gue mah takut kenapa-kenapa doang” jawab Bian. Sambil berhati-hati, Vivi mengambil handuk dan mencelupkannya ke baskom yang berisi air hangat. Dilihatnya luka sobekan Gie yang berada di punggungnya, “Untung gak terlalu dalam lukanya” sahut Vivi.
“Eh-eh serius teh itu?” tanya Bian panik saat melihat tangan Vivi yang mengusap punggung dan memerciki air hangat ke luka Gie. Tampak kucuran air yang bercampur darah menuruni punggung Gie. Untungnya sebelum memerciki air hangat itu, Vivi sudah menaruh handuk kering tepat dibawah badan Gie agar tidak merambat ke kain sprei.
“Aku bisa kok, tenang aja. Ini tinggal bersihin luka terus dikasih kopi kok biar darahnya berhenti”
“Beneran bisa teh?”
“He’eh, kamu kalau mau pulang mah pulang aja Bian. Biar aku selesain sisanya. Eh iya aku lupa, cariin kain kering yang bersih ya 2, buat nanti nutup lukanya sama ngompres bagian yang lebam”
“Ada lagi teh? Biar sekalian”
“Udah itu aja”
“Bentar ya teh aku cari dulu”. Setelah beberapa menit lamanya Bian mencari kain kering di bawah, ia dengan tergesa-gesa kembali lagi. “Ini teh kainnya, udah gak ada lagi yang dibutuhin?”
“Enggak Bian, sok atuh kalau mau pulang”
“Nanti kalau ada apa-apa telpon gue langsung ya teh”
“Iya Bian, makasih ya”
“Sama-sama teh”
Sepulangnya Bian, Vivi sudah selesai membersihkan luka di punggungnya Gie dan mengambil kopi sedikit demi sedikit lalu menempelkannya ke luka tersebut. Takut membangunkan Gie, Vivi perlahan-lahan melepaskan kancing celana Gie dan meloloskan celana tersebut. Setiap jengkal badan ia basuhi dengan air hangat tanpa terkecuali dan menggosoknya dengan sabun yang berada di dekatnya. Setelah selesai membersihkan badannya, Vivi yang takut Gie merubah posisi tidurnya, berbaring di samping Gie menahan sedikit bobot tubuhnya, ditariknya selimut untuk menutupi badan Gie yang telanjang agar ia merasa hangat dan terlelap bersama sampai keesokan paginya.

* * * *

Diubah oleh chrisbaldam
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 19:50
Bag III-II


Gie



Quote:
Paginya Gie terbangun dan seperti normalnya orang yang baru saja terbangun dari pingsannya. Karena seingat Gie dirinya berada di belakang bar berkelahi dengan beberapa orang dan ia kalah telak malam itu. Gie merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia tidak merasakan apapun di bawah sana. Ia pun mengibas selimut yang menutupi dirinya dan mendapati tidak ada satupun kain yang menutupi. Lantas ia mencoba bangkit berdiri, tetapi tindakannya dicegah saat terdengar pintu kamar mandi terbuka dan Vivi keluar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“‘A!! Bener-bener kamu mah. Belum juga sembuh udah gerak asal-asalan. Kamu mau ngapain?
“Mau ambil minum mbak”
“Yaudah tidur lagi, biar aku ambilin” Vivi lalu bergerak ke arah meja yang tidak jauh dari kasur yang berada di kamar. “nih” ucap Vivi seraya memberikan gelas yang berisikan air mineral.
“Gak ada handuk lain mbak?” tanya Gie karna melihat Vivi yang telanjang bulat di depan matanya.
“Yeeuuhh mana ada atuh, handuknya mah udah abis buat bersihin luka kamu kemarin. Lagian juga gak sekali ini kan kamu ngeliat aku kayak gini? Kayak sama siapa aja kamu mah” jawab Vivi sambil membuka lemari pakaian.
“Waktu itu kondisinya kan beda mbak”
“Huss, udah jangan banyak ngomong. Angkat dulu kaki kamu ‘a” ucap Vivi melonggarkan celana yang sering ia pakai sehari-hari dan memasukkannya mulai dari kedua mata kaki Gie.
“Mbak jangan, aku bisa sendiri” balas Gie yang merasa malu karena tidak bisa memakai celana sendiri. Ia coba menggerakkan kedua tangannya, tetapi sayang hanya satu tangan yang bisa ia gunakan. Mulai dari situ ia merasakan kesakitan di siku tangan kanannya karna dihantam benda tumpul. Belum pulih benar, Gie membungkukkan badannya mencoba meraih celana yang sudah sampai di pangkal betisnya. Karena merasa kesal dengan sifat Gie yang keras kepala, lantas Vivi menyentikkan jarinya tepat di kening Gie.
“Kamu teh bandel ya ‘a!! Udah dibilang gak sekali ini kita kayak gini. Masih aja malu-malu” kata Vivi. Entah kenapa ia mengingat Gie saat pertama kali datang ke apartemen yang mereka gunakan. “Itu roti favorit kamu udah aku taruh di meja ya” lanjut Vivi sambil menunjuk roti yang dimaksud dan kembali membuka lemari pakaian.
“Mbak mau pergi kemana?” tanya Gie yang melihat Vivi mengenakan pakaian dalamnya.
“Aku mau ke SMA kamu, ngurus absen. Kamu teh di kelas yang mana ‘a, aku gak tau?” tanya Vivi setelah mengenakan blus batik
“XII IPS 2 mbak, nanti pas di pos satpam bilang ‘mau ketemu sama Ibu Sri Ekonomi’. Itu wali kelas aku”
“Yaudah aku tinggal ya ‘Aa Kamu jangan banyak gerak, nanti kalau ada apa-apa telpon aku ya” ucap Vivi sambil mendekatkan dirinya ke arah Gie yang tidak bisa banyak bergerak. Vivi mendaratkan bibirnya ke kening Gie “makasih ya, gara-gara aku lagi kamu kena masalah”
“Hmmmm, mbak cantik kalau pakai baju batik” ucap Gie melepas keheningan
Dengan wajah tersipu Vivi mengambil sandal dengan tali kulit berwana putih tepat di bawah wastafel.
“Nanti kapan-kapan jalan yuk mbak, tapi pakai baju batik itu lagi”
“Bener kamu ‘a”
“Iya bener”
“Jalan kemana emang pakai batik?”
“Ke sekolahku, jadi wali murid” tawa Gie cengegesan
“HEEEHHH!! Bener-bener ya!” ucap Vivi sambil tertawa. Dicengkeramnya tangan Gie yang penuh memar.
“Ah..ah..ah ampun mbak”
“Apa ah..ah..ah? belum juga ngapa-ngapain”
“Itu tanganku mbak, udah sakit tambah disakitin”
“Tinggal aku obatin tangannya lagi kok repot” kata Vivi sambil tertawa
“Iya mbak, udah ampun” balas Gie yang meringis kesakitan

* * * *

Pagi itu di hari kamis tepat pukul jam 9, seorang wanita turun dari taksi mengenakan baju batik. Kaki jenjang yang ia hentakkan ke tanah membuat mata beberapa tukang ojek teralihkan sejenak. Dengan paras seperti Wulan Guritno semasa mudanya, ia menyapa sang satpam yang tengah menutup gerbang.
“Permisi pak, saya kakaknya Gie. Mau ketemu sama ibu Sri Ekonomi” ucap Vivi mengikuti instruksi Gie
“Langsung atuh neng ke dalem isi buku tamu” balas Endang satpam SMA 16 dengan muka terpana.
“Akang teh urang Sunda, Sundanya mana kang?” tanya Vivi yang mendapati logat seseorang dengan logat daerahnya
“Garut neng”
“Oalah Garut, yaudah atuh kang. Nuhun buru-buru” kata Vivi mengakhiri.
Selesai berbincang sedikit dengan pak Endang, Vivi beranjak masuk ke dalam ruang semacam lobi dan duduk di salah satu bangku kayu setelah mengisi buku tamu tentunya. Sekitar 15 menit Vivi menunggu, wanita paruh baya datang menghampiri.
“Mbak ini ibu Sri nya” ucap guru piket yang berada di ruangan itu. Dipanggil seperti itu, Vivi langsung berdiri dan menyalami guru Gie.
“Vivi ibu, saya kakaknya Gie” ucap Vivi mengenalkan diri
“Panggil aja Oma, sayang” balas Ibu Sri dengan ramah. Setelah saling mengenalkan diri, Vivi diajak untuk beranjak dari lobby ke ruang guru. Tidak seperti jam-jam istirahat, ruang guru terasa sepi. Hanya beberapa guru yang terlihat, mungkin banyak dari mereka yang sedang mengajar. “Yah syukur deh, gak ramai” ucap Vivi dalam hati. Setelah dipersilahkan duduk, Vivi menjelaskan garis besar kejadian di tempat kerja kemarin. Tidak lupa ia meminta maaf karna sudah berbohong sebelumnya karena mengaku sebagai kakaknya Gie, bukan sebagai rekan kerjanya.
“Ya ampun anak Oma” ucap ibu Sri yang mendapati anak didiknya terkena masalah. “Habis ini kita ke tempat kerja kamu ya nak, Oma mau lihat Gie”
“Eh,,eh,, mmm gak perlu Oma” ucap Vivi tergagap saat Oma mengatakan ingin menjenguk. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika seorang guru mendatangi tempat kerjanya dan Gie.
“Apanya yang gak perlu nak, Oma harus jenguk Gie. Kamu tunggu di sini sebentar ya, oma mau izin ke guru piket” balas Oma yang bersikeras dan beranjak dari kursinya.
“Beneran atuh Oma, gak perlu” ucap Vivi sedikit berteriak.” Gie juga udah siuman, tinggal butuh istirahat yang cukup sampai lukanya kering. Paling 1-3 hari istirahat besoknya bisa masuk sekolah. Berhubung ini hari kamis kan Oma, jadi Gie mohon izin absen buat Jum’at besok sisa hari Sabtu sama Minggunya dia bisa istirahat total. Aku pamit ya Oma” kata Vivi mengakhiri, tak lupa ia menyalami lagi guru paruh baya itu.
“Heh” teriak Oma. Vivi yang kaget saat hidung mancungnya tergesek kulit Ibu Sri yang keriput pun menatapnya ketakutan.
“Ayo ke kantin dulu makan. Stok snack Oma habis, jadi gak bisa nyuguhin apa-apa pas kamu dateng”
“Eh Oma, gak usah repot-repot atuh”. Tapi apa daya saat pergelangan tangan Vivi sudah dirangkul Oma dan diboyong ke kantin sekolah. Tidak lama setelah mereka berdua memesan 2 mangkuk bakso, bel tanda istirahat berbunyi. Sudah barang tentu, semua anak langsung berhamburan memenuhi kantin dan menggerayangi setiap penjaja makanan serta minuman yang ada. Bak artis terkenal seperlima dari siswa-siswi yang berada di kantin menyalami Oma, tidak terkecuali Vivi yang terkena imbasnya juga. Hanya saja yang menyalaminya lebih banyak anak laki-laki dibanding perempuannya, entah mencuri-curi pandang atau benar menaruh hormat pada mojang Bandung ini.
“OMAAAA” teriak Sakinah dan Frisca berbarengan, lalu menyalami Ibu Sri dan diikuti Titis, Fajrin, Fabil, serta Ojan.
“halo saayyaaanng” balas Ibu Sri dengan ramah. “Ayo pesan makan, kita makan sama-sama di sini” ajak Ibu Sri
“Siap komandan” sahut mereka semua berbarengan. Vivi yang ada di situ hanya bisa tertawa dibuatnya melihat kekompakan anak-anak ini.
“Oma” panggil Ape dan Caesar. “Eh ada kak Vivie, tumben kak”
“Iya Pe, baru selesai ngurus absen Gie”
“Makk, kenapanya si kawan itu?” tanya Ape
“Ya ampun Caesar, gimana kamu mau sehat kalau makannya tiap hari mie instan?” sela Ibu Sri melihat Caesar yang membawa mangkuk berisi mie instan porsi double diikuti oleh anak-anak lainnya yang turut bergabung di meja itu.
“Oma, oma, oma. Masa kemarin aku dicuekin sama kakak kelas, kesel deh Oma” ucap Sakinah memulai obrolan
“Emang urusan Oma” balas Oma cuek
“HAHAHAHAHA MAMPUS” ucap Ojan
“IH JIJIK AMAT SIH LU TIN” lanjut Fabil. Tawa mereka langsung lepas melihat raut muka Sakinah yang dikecewakan Ibu Sri, tidak terkecuali Vivi yang berada di sana juga ‘Famous pisan ini guru ya? SWAG’ kata Vivi dalam hati. Di sela-sela tawa mereka, Fajrin tersedak dan berusaha membuka air mineral yang sudah dibelinya. “
“Fajrin, kalau makan jangan buru-buru. Tunggu 10 detik baru nyuap lagi nak” ucap Oma mendapati anaknya yang tersedak. “Kenalin ini anak-anak ini kakaknya Gie”
“Vivi”
“ Frisca kak”
“Vivi”
“Ojan kak”
“Vivi”
“Sakinah kak”
“Vivi”
“Fabil GANTENG kak” ucapnya dengan percaya diri.
“WOOOOO” teriak sisanya berbarengan
“Najis amat sih lu Bil” kata Ojan. “Tau nih, si gobl*k emang” lanjut Sakinah
“Sakinaaaaahhh” panggil Ibu Sri. Sakinah seakan lupa kalau Ibu Sri berada tepat di sampingnya. Sebuah tarikan kecil di kuping Sakinah membuatnya memohon ampun.
“Iya gitu Oma, turunin nilainya sekalian” balas Fabil yang merasa menang.
“Ya ampun Fajrin, gemes liatnya deh. Sampai dihitungin lho Oma” sahut Frisca saat menyadari Fajrin menggerakkan jarinya seperti menghitung saat mengunyah makanan di dalam mulutnya. “Oh iya kak, emang Gie kenapa sampai gak masuk?” tanya Frisca tiba-tiba
“Sakit dia?” tampak dua orang sedang menguping saat Frisca sedang bertanya.
“Iya lagi sakit dek” jawab Vivi
“Ya orang tuanya kan bisa telpon Oma langsung, gak perlu sampai ke sekolah tau kak” jelas Frisca.
“Bener-bener ye lu bol” kata Sakinah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gak ikut-ikutan aku lah bol” sambung Ape
“Eh,, eh,,eh,, eh lupa.. maaf. Terus sakit apa kak kok kayaknya parah banget?” tanya Frisca yang lupa kalau Gie berstatus yatim piatu
“Itu…..” saat Vivi mau menjelaskan panjang lebar. Ibu Sri memotong penjelasan Vivi dan mengatakan kalau Gie hanya terlibat perkelahian dengan salah satu ormas yang cukup terkenal di daerah itu.
“Gie rebutan lahan parkir Oma?” tanya Ojan
“Lu kira Gie anggota Ormas sebelah! Udah gila lu ya” sahut Titis membalas pertanyaan Ojan yang mengikuti berita-berita Ormas yang sibuk baku hantam terkait lahan parkir.
“Terus kondisinya gimana kak?” tanya Sakinah bergantian
“Udah lumayan kok, tinggal nunggu luka robeknya ketutup. Hari Senin mungkin udah bisa masuk, do’a in ya”
“AAMMIIINNN” sahut mereka berbarengan. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi, semua anak yang berada di meja beranjak dari tempat duduknya. Vivi juga pamit dan tak lupa mencium tangan ibu Sri. Tipikal orang Indonesia persis, seperti biasa anak-anak meninggalkan sisa sampah makanannya di atas meja layaknya bos.
Ojan, Fabil, dan Titis langsung berlari menuju ruang kelas dan berdiri mengantri untuk absen. Buat mereka hanya di pelajaran ini mereka bisa berbangga diri karena nilainya tidak terlalu mengecewakan karna cukup menandatangani buku absen. Barang siapa absen paling pertama, nilainya bisa dipastikan lebih bagus. Tidak berapa lama kemudian pak Mulyanto yang berbadan tambun memasuki ruang kelas dan duduk di bangku yang cukup tinggi. Selama penjelasan singkat mengenai peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi, pak Mulyanto menugaskan setiap anak untuk membuat kelompok presentasi mengenai “Peristiwa Sekitar Proklamasi”, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang dan akan dimulai minggu depan. Setelah selesai dengan penjelasannya, pak Mulyanto meninggalkan kelas dan berakhir ricuh.
“Pe, Sar udah ada kelompok belum?” tanya Sakinah
“Kita bertiga ikut kelompok lu ya?” sambung Medina
“Kau pun, ngomong bertiga datangnya berdua. Cemananya kau?”
“Ada Winda kok, sini Win!!” panggil Medina memanggil Winda dari kejauhan. Entah kenapa setelah mendapat respon yang tidak baik menurutnya saat di café dan lalu perkelahian yang menimpa Gie, Winda sedikit melunak. Dirinya mengatakan hal itu secara tidak langsung pada Medina.
“Gue gabung sini ya Pe” sahut Winda
“Nah mantap. Terus kekmana kurang 1 orangnya kita, baru berlima?”
“Gie gak ikut?” tanya Winda tiba-tiba. Ia berharap bisa berbaikan dengan Gie saat dikelompokkan bersamanya.
“Mak,, mak,, santai lah kau kalau kasmaran. Nanti lah ya ku kabarin Gie. Terus mau kerjain di rumah mu tin?” tanya Ape yang langsung menyikut Caesar
“Gimana kalau kita kerjain di rumahnya Gie? Sekalian ngejenguk kan” sahut Medina menginisiasi
“Yah, gundah lah ya mukamu sar” sindir Ape “Boleh lah, aku pun sama Caesar pegang kunci rumahnya. Jadi gak pakai izin kalau mau masuk, tancap gas kita hari Sabtu?”
“DEAL”

* * * *
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 19:57
emoticon-Sundul UPDATE BAG III!!!!
profile-picture
jenggalasunyi memberi reputasi
1 0
1
12-09-2018 20:03
Masuk thread ini krn penasaran
Soalnya judul thread nya sama dg nama kecil My Hero emoticon-Wowcantik
0 0
0
12-09-2018 20:14
Quote:Original Posted By riegazendra
Masuk thread ini krn penasaran
Soalnya judul thread nya sama dg nama kecil My Hero emoticon-Wowcantik


hero jugaaa ini aku.. pahlawan mamah papah kalau nugas rumah. cukup diumpanin jatah rokok
0 0
0
12-09-2018 20:20
soe hok gie wa kira
0 0
0
12-09-2018 20:27
Quote:Original Posted By chrisbaldam
hero jugaaa ini aku.. pahlawan mamah papah kalau nugas rumah. cukup diumpanin jatah rokok


Iya kah emoticon-Belo

Baca dulu ah sama ga ceritanya dg karakter My Hero emoticon-Wowcantik
0 0
0
12-09-2018 20:48
Quote:Original Posted By aldriechz14
soe hok gie wa kira


maaf gan gak sesuai harapan. Nama karakter udah ane pikirin dari 5 tahun yg lalu dan nyatanya ane terinspirasi sosok muda Soe Hok Gie, Ir Soekarno (disebut putra sang fajar dalam buku otobiography Soekarno by Cindy Adams
0 0
0
12-09-2018 20:49
Quote:Original Posted By riegazendra
Iya kah emoticon-Belo

Baca dulu ah sama ga ceritanya dg karakter My Hero emoticon-Wowcantik


sok atuh, semoga berkenan. emoticon-Malu (S)
0 0
0
12-09-2018 21:39
ijin bakar jagung dulu
0 0
0
12-09-2018 22:22
tembus 500 viewer, ane update bag 4.1
emoticon-Sundul Up

Btw makasih buat yang udah mampir gan/sis
profile-picture
metalbee memberi reputasi
1 0
1
13-09-2018 14:30
Judulnya kaya Idol aku
Tapi kelakuannya jauh beda😀😀😀
0 0
0
13-09-2018 14:49
Quote:Original Posted By yunie617
Judulnya kaya Idol aku
Tapi kelakuannya jauh beda😀😀😀


gimana ceritanya bisa tau kelakuan dia sis, padahal cuma sebatas mengidolakan.
bukannya kelakuan yg dikasih liat itu sebatas untuk konsumsi publik?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
petualangan-indigo
Stories from the Heart
broken-heart
Stories from the Heart
petaka-batu-safir-kisah-nyata
Stories from the Heart
love-life-lost
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.