Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
110
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3c129edc06bdd2498b4567/fast-lane
Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicar
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 6
Fast Lane
14-07-2018 23:17
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
15-07-2018 13:55
"Mum, what's the matter," Jeff pun sempat nimbrung diantara perbincangan kami berdua.

"Mommy left the key, sweetheart," jawab Darlene singkat kepada Jeff.

"Should i drive back to your house then take the key?" tanya gue memberikan sebuah solusi.

"No, no, you stay here, i'll do it," jawabnya lagi.

"Oh, alright," angguk gue mantap.

"Twenty minutes, i'll drive fast, jawab Darlene dari balik topi biru nya itu. The freaking Sydney is shining bright, that day.

"No, wait," cegah gue setelah Darlene berjalan menjauhi kami berdua. Gue ada ide lagi kan.

"Lemme' call your husband," jawab gue berdiplomasi.

"Sure, call him," jawab Darlene cepat.

Kemudian gue pun menelfon Jackie, panggilan gue diangkat dengan cepat. "Hello, Jack, you didn't tell Darlene to left the key? we're at your hangar, where r u anyway," omong gue cepat.

"Crap," jawabnya singkat, lalu ada suara sebuah tepukan terdengar di ponsel gue.

"All hail budweiser," canda gue iseng, menyindir hobi seorang Jackie yang suka minum budweiser.

"Don't panic. Call this number, i'll give it to you after the call, and uh, his name is Anthony, he got the spare key,"

"Where are you anyway?" tanya Jackie balik kepada gue.

"I told u, at, the hangar," respon gue.

"Number what?" tanya dia lagi.

"Don't make this complicated, Jack, number twelve!" ketus gue nggak ramah, not funny, Jack. Yang sudah jadi kebiasaan kita semua malah elo tanya tanya lagi. Capek deh....

"Hahahaha, okay, just call his number, let him give my spare key to you," perintah Jack jelas pada gue.

"Aight," gue pun langsung menutup telfon dari dia.

"How's that?" tanya Darlene, agak riang gitu wajahnya.

"Solved in a good way," jawab gue mengkonfirmasi.

"Great, way to go, Jeff, mommy's having a holiday!" teriak Darlene bahagia.

Disitu gue mendadak terbatuk batuk. Jefferson menoleh ke arah gue, tatapan nya sinis banget man.

"Palma, please be aware of this bag," tunjuk Darlene kepada sebuah tas yang sedang di gendong oleh Jefferson, all his goods are in this bag, please don't let Jeff lose control of this bag, all the medication is inside," terang Darlene kepada gue, Jeff punya penyakit aneh, yang kalau dia sampai salah minum obat nya, dia bakal segera tamat.

"Understood, ma'am," jawab gue mengerti atas apa yang disampaikan oleh Darlene kepada gue.

"Jeff, fancy some ice cream before flying?" tanya gue kepada Jefferson.

"No, i'm good, no, i'm not a kid who want ice cream everytime they got sulky," balasnya rewel mendebat penawaran dari gue untuk dia.

"Hahahaha, okay then." sial, hahaha, kepintaran nya nggak berkurang samasekali memang.

"Darl, let's not stand here," ajak gue kepada Darlene dan Jefferson untuk menghindar dari panasnya terik matahari saat itu. Kami kembali berjalan memasuki terminal sepuluh, hangar nomor dua belas, kasihan kandungan nya Darlene yang masih berumur satu bulan waktu itu, gue nggak mau ada Jefferson kedua, soalnya, eh tahu nya, muncul lah Jefferson kedua, sama persis kayak kakak nya. Yah, gue harap tidak persis - persis amat deh, and now, Nelson kecil baru berumur tiga tahun, tahun 2018 ini.

Nggak lama setelah kami berada di depan hangar dua belas, gue mulai menelfon Anthony, orang titipan nya Jackie, satu dua sampai tiga kali telfon tidak tersambung juga panggilan gue ini, walaupun ada nada panggil, sih, nah dari situlah gue mulai memikirkan lagi ide gue untuk kembali ke Tamarama, ke rumah nya Jackie, well, melihat tingkah gue yang gelisah seperti itu, Darlene jadi tanya sesuatu sama gue, she said, "Who's that you're trying to call?" tanya Darlene cepat.

"A man named Anthony, Jackie told me," jawab gue.

"Okay, starting from now, if Jackie told you to call a man named Anthony, you better tell me fast, Palma," kata Darlene kepada gue.

"Why's that so?" tanya gue lagi.

"Because Anthony is a lil' bit difficult to reach, if you aren't a family, now, i'll use my number to contact him,"

"Oh, i see, okay then,"

"A minute, Pal," dan Darlene pun mulai menghubungi orang yang bernama Anthony itu, dan ajaibnya, "Hello, Anthony," panggilan dari Darlene langsung di angkatnya, duh, memang rumit juga ya kalau bukan keluarga... atau kenal terlebih dahulu.

"I need Jackie's jet key." ucap Darlene

"At the hangar," lanjutnya lagi.

"Uh huh,"

"Yes, could you please um, come here," gue hanya bisa memperhatikan ketika dia berbicara dengan orang suruhan Jackie itu.

"Thanks, I'll be waiting," jawab Darlene kemudian mengakhiri percakapan pada ponsel miliknya itu.

Setelah itu kami bertiga ngobrol ngobrol lagi, ngobrol santai aja, nggak terlalu lama juga, kalau gue boleh sedikit cerita, suasana pada tarmac (mostly americans use this term untuk menyebut runway) di Kingsford ini ramai akan aktivitas orang orang aviasi, dan ini hampir selalu bisa ditemukan pada airport manapun di dunia ini, gue paling
geli kalau sudah berpapasan dengan lavatory tug, bisa dibayangkan kan... sedikit doang bisa, kan? oh, nggak bisa ya, ya udah, itu... lavatory tug tuh adalah truk kecil yang biasa bawa, maaf, poop onboard, yang ditampung oleh unit kapal selama terbang.

Jadi question answered mungkin ya, bagi elo yang suka bertanya tanya, kalau gue buang tahi di pesawat pada saat pesawat sedang mengudara, tahi gue bakalan kemana ya larinya? pasti langsung jatuh ke darat deh? Hahahahahaha, ya enggak lah, tahi lo itu di vaccuum, dan di tampung dulu di airplane holding tank. Barulah setelah pesawat yang lo tumpangi itu landing, semua kotoran nya akan di sedot oleh lavatory tug.

Sekarang gini aja deh, kalau misalkan tahi lo itu langsung jatuh ke darat pada saat pesawat lo sedang mengudara diatas ketinggian empat puluh ribu kaki, yang namanya gravitasi kan tetap aja hukumnya sama, jadi ya, tahi lo akan selalu jatuh ke bawah. Ya kali ternyata jatuhnya itu pas pesawat lo lagi mengudara diatas pulau Bintan, tuh tahi bakal mengotori resort orang man.

Dan kalau semua pesawat seperti itu, mungkin semua maskapai baik yang komersial maupun yang privat pun akan segera dituntut oleh para aktivis penyelamat lingkungan, hahahahaha.

***

Dan akhirnya gue melihat bahwa ada seseorang yang mengendarai pushback truck datang tepat di hadapan kami, ohh itu toh rupanya yang bernama Anthony, soalnya sekitar tiga tahun lalu orang yang diminta untuk kontrol jet nya si Jackie tuh kan namanya Darlene, hahahahaha, i'm sorry Darl, (mungkin Darlene nggak suka, jadi dia suruh orang lain lagi) bukan Anthony.

"Good morning," sapa Anthony kepada Darlene.

"Morning, Tony. Where's the plane key?" tanya Darlene cepat.

"This.." ucap Anthony lalu memberikan kunci jet milik Jackie kepada Darlene.

Dimanakah Jefferson di momen momen seperti ini? dia sibuk memperhatikan kami semua bercengkrama, man, this kid is an observer, hati hati lo sama model anak kecil yang kayak begini, takut takutnya besok hari dia berubah jadi Edmund Kemper, kan horor juga sebetulnya. Hahahahaha, Von Palma hanya bercanda ya Jeff, no offense, really. Jangan sampai deh, serem... sama aja kayak Krueger, nggak beda jauh.

"Good morning, Sir," sapa Anthony berlanjut, lalu dia segera berjabat tangan dengan gue. Wow, ganteng juga si anjing ini ya...

"Morning," jawab gue lalu tersenyum mantap.

"Who's piloting?" tanya Anthony lagi.

"My bro," jawab Darlene cekatan.

"Good, wait yeah, let me open your space," kata Anthony cepat.

"Please," jawab Darlene mempersilakan.

Nggak lama setelah itu Anthony yang memakai seragam nya sebagai seorang airport worker pun mulai membuka private hangar milik Jackie, yang jelas, bukan punya gue, man, terlalu absolut bagi gue untuk berinvestasi di ranah ini, having a jet ownerships dan segala macamnya, kenapa demikian? ya simpel sekali lah, everybody would know that, ya karena nilainya akan menurun terus dari tahun ke tahun, bukan nya malah bertambah. Nggak apa apa, this is for pleasure, kalau kata Jackie.

Setelah pagar hangar terbuka dengan sempurna, Anthony melanjutkan usahanya dengan menyalakan lampu pada panel lampu yang letaknya ada di bagian kanan pada hangar ini, kala itu, ketika semua lampu sudah menyala, betul betul gue sadari, gue langsung ngomong begini sama Jefferson, "Boy, welcome—to the sweet land of vindication." ucap gue dramatis, sambil berjongkok dan memegang bahu Jefferson.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
15-07-2018 20:09
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
17-07-2018 00:04
Bump.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
17-07-2018 06:40
Hi, Ru, dilanjut ya.

***

"Its your dad's—Jeff," omong gue sambil mengagumi sesuatu yang elok terpajang di hadapan kami berdua.

"I know it's my dad's, i've flown on this one, love it," jawab Jefferson santai.

***

Setelah melihat pemandangan yang betul betul menakjubkan itu, Jefferson yang waktu itu sudah melongo duluan—rupanya bukan melongo hanya karena bizjet punya bokap dia aja, melainkan dia tuh melongo, juling or whatever is that us Indonesian people name it, karena melihat jet yang ada di belakang jet bokapnya lagi.

Gue segera menyipitkan mata gue untuk berada di dalam satu pandangan bersama dengan Jeffy, and, honestly, man, gue tidak pernah merasa begitu tercerahkan oleh kasih Tuhan, kesalehan, serta blessing nya di muka bumi ini—selain menyaksikan sebuah jet legendaris berdiri megah di balik si kecil Falcon milik bokap nya Jefferson. Anjis, man.

It's a Concorde.

Fuck! gue sempat agak merinding disana, man. I'm shaking and i barely stop. It's like you—have a meeting, with the almighty God! and you have been told that you got a free pass to the fucking heaven. (Speaking in an Indian accent, hahahahahaha) Gue tidak pakai sungkan sungkan lagi, langsung aja gue bertanya ke si Anthony, "Excuse me for asking this, Sir, but who's owning that Concorde?" tunjuk gue ke arah jet itu.

Bukan Anthony yang menjawab pertanyaan yang gue lontarkan itu, melainkan Darlene, "Its Triguboff, dear," jawab Darlene gesit. Justru Anthony tidak bisa menjawab samasekali pada saat itu.

"I'm sorry, Triguboff?" tanya gue untuk kedua kalinya sama Darlene, agar Darlene mengulang lagi apa yang baru aja dia omongin ke gue.

"Yes, Triguboff." aku Darlene lagi.

"Oh..." gue akhirnya cuma bisa menjawab, oh... karena honestly, i have no idea who's that fucking Triguboff.

"What's that? did you just smirk?" tanya Darlene kepada gue, sambil ikut menyeringai juga, melihat ekspressi absurd yang gue tampilkan.

"I don't know, Darl, who is that, Triguboff," jawab gue jujur, karena gue merasa agak kebingungan pada saat itu.

"Oh, hahah, that... tho. It's Sharon Triguboff, dear, Jackie's friend, my friend," jawab Darlene menjelaskan lagi, memberitahu siapa owner dari Concorde itu.

"Well, great" sahut gue lagi. Untuk selebihnya gue nggak perlu menjelaskan tentang hal ini lagi karena anggaplah seperti ini, masih ada langit, di atas langit. Without forgetting the fact that there is always one tiny feelings, where you felt small, when you're actually owning a Citation, Embraer, Hawker, Phenom, Bombardier, Falcon, or name whatever you have and feels like you're the dominant one. Kemudian semua itu kalau disatukan, ternyata hanyalah serpihan serpihan mungil bila dihadapkan dengan sebuah Concorde yang amat sangat legendaris itu...

Merasa terpukul? pasti, man. Apalagi untuk orang yang selama ini di didik dan bertumbuh besar, agar sedikitnya mencintai aircraft - aircraft legend yang memiliki nilai historis (lumayan) tinggi, seperti Skyhawk, Fokker, Enola, 172, Bell X1, Air Force One (dikata nggak bersejarah, ini sih istana di atas langit coy), dan masih banyak airplane lainnya lagi. — Dan Pilots, itu, terbagi menjadi beberapa aliran, yeah, us Pilots, are divided into two genres, pertama ada yang seumur hidupnya cuma cinta Blackbird, Raptor, Bleriot, Gripen, Sukhoi, that means dia biasanya bekerja di instansi militer. Say, u.s air force, dan kalau di orang kita, tahu sendiri lah ya apa nama instansi nya.

Dan ada juga Pilot yang rada rada flamboyan, mereka lebih menyukai airplane secara menyeluruh, tapi lebih berat, atau lebih memiliki tendensi untuk menyukai pesawat pesawat sipil. Maka ya, menyaksikan Concorde seperti itu adalah pukulan telak bagi kami - kami ini—kok hari ini, gue belum bisa punya Concorde, ya? kemana aja duit gue selama ini? hahahahaha, bercanda, man. That's not even necessary to be said. Devilish jokes ya memang begitu, jangan diambil hati ah, nggak bagus.

Padahal sih tetap, secara diam diam, di dalam hati nya tuh dia menjerit keras, "Concordeee, when did you'll be mineeeee!?" sambil nangis nangis dan ngumpulin centurion karena limitnya kebanyakan dipakai belanja sama istri. Fuck my wife and her fashionable world. Loh, kok gue jadi kasar begini ya? ampun DJ.... — Jadi ya, as a living Pilot (you know when i'm dead, i'm a corpse), i didn't stop by just loving the Airbus, Cessna, Boeing, ATR, all of their instrument, not for a long time if you're really (or trying to be) passionate about it.. Because you'll find yourself loving every flavour of aircraft that ever, existed, in this universe.

I deliberately would condemn myself, my capability, if I ain't handy in operating or being in the seat of that Concorde, but that's no big deal, though, since i have my Skymaster being my only happiness for a very-very-long-time. Hip hip, hooray! Hip hip, hooray! (Norak)

Dan enggak bisa lebih lebay lagi, gue pun hanya bisa tersenyum disana :-) karena beruntung banget gue bisa mengalami momen seperti itu sekali seumur hidup—dalam hidup gue. Dan nggak pakai pecicilan lebih lanjut lagi man, karena ya, gue nggak ketemu langsung sama owner Concorde nya, masa sihhh gue harus ke Blagnac atau Brooklands dulu untuk melihat Concorde lainnya yang sudah di museumkan, kan enggak lucu, man, kalau bikin ribet sih iya... dan ya waktu itu gue cuma mengitari bagian ekor dari Concorde itu aja, nggak kuat karena bakal merinding lebih dahsyat lagi. Walaupun tetappp, gue kepengin banget lihat flight gear yang ada di dalamnya. Kerumitan nya itu lah yang membuat gue jatuh cinta terhadap dirinya. I know, shame on me.

***

"Let's fly!" teriak Jefferson seru, he feels excited, secara tiba tiba, dia juga mengagetkan lamunan gue. Dan akhirnya Darlene pun ngomong lagi sambil meremas pipi anak kesayangannya nya itu, "Have a safe flight, so long, sweetheart." lalu lanjut ngomong lagi ke arah gue, "Palma, I trust you, please take care of him," tunjuknya kepada Jefferson lalu langsung gue respon, "No worry," sambil cipika cipiki sama Darlene. Sedangkan si Anthony mulai memasangkan katrol pushback truck nya ke depan pesawat punya Jackie.

"Bye mum!" teriak Jefferson sangat girang, Darlene is now leaving us, she's exiting the hangar, walking away. Saat si Anthony sibuk dengan tugasnya, gue segera melakukan tugas gue sendiri, making sure my stuff is all good, and that goodie bag in Jeff's back still stays on him. Gue berjalan ke arah Falcon milik Jackie ini, segera membuka plane door, menurunkan airstair lalu masuk kedalamnya.

Jeff mengekor di belakang gue, gue tadinya sempat mau iseng dan jail sama dia, but considering the fact that he is moody, gue enggak jadi deh mau ngejailin dia lagi, karena kalau tiba tiba dia murung dan mengadu sama mami atau papi nya kan gue yang kena imbasnya man... yang jelas, membuat Jeff tetap bertingkah dingin dan tidak memaksa untuk memasuki flight deck saja sudah lebih dari cukup, dan itu adalah hal yang terbaik yang bisa gue lakukan...

Setelah berhasil masuk kedalam pesawat, gue segera menaruh semua barang gue di dalam kabin penumpang, kemudian berjalan menuju galley, gue lihat, snack nya lengkap, berarti Jackie baru baru ini habis terbang juga.

"Sir, may i?" tanya Anthony agak berteriak kepada gue dari front visor pesawat ini.

"Hold a moment," jawab gue sambil memberikan isyarat, mengeluarkan jari telunjuk gue.

Jeff sudah duduk manis di salah satu passengers seat, dia sedang mamam Lays, waktu itu kondisinya jet masih belum gue hidupkan, karena demikian lah bajingan kecil itu mulai mengoceh, menghampiri gue yang lagi sibuk checking sendirian di dalam flight deck,

"Lever.."
"Fuel.."
"Nav,"
"Alti," kemudian gue duduk dan memasang radio.

"Kingsford Ground. This is Foxtrot Nine Golf Charlie." ucap gue menguji komunikasi didalam pesawat ini.

Lima detik kemudian.

"Foxtrot Nine Golf Charlie. Kingsford Ground." jawab orang tower cepat. Setelah itu gue langsung melepas radio nya. Hanya meminta feedback saja.

"Alright, comm's good," ucap gue sendirian.. masih sibuk mengatur pesawat ini, and then suddenly, "Von!" teriak Jefferson, sudah hadir lagi dia didalam flight deck ini.

Alamak, here comes the kid. Oh lorddd, you know how i hate children!

"Yes?" jawab gue sambil menggaruk ringan kulit kepala gue, lalu menatap Jeff kecil yang sedang menyandarkan tubuhnya di dekat galley itu, sambil ngunyah makanan nya dia itu kan.

"Are you talking to the controller?" tanya dia comel kepada gue.

"Are you in a closed-loop communication?" tanya dia bertubi tubi, kepada gue.

"Are you?"

"Do you?"

"Will you?"

Oh fuck, just let me die.

"Sir, hold on," ucap gue memberikan instruksi kepada Anthony setelah lima belas menit gue gunakan untuk memulai pengaturan awal pada pesawat ini. Setelah itu gue mengajak Jefferson pergi kembali ke kabin penumpang sambil menjawab beberapa pertanyaan yang sudah dia ajukan kepada gue.

"Yes, i am talking to the controller." jawab gue kepada Jefferson. Hanya gue lah yang baik hatinya, yang mau menjawab wawancara mendadak dari dirinya itu.

Setelah menaruh dia di kursi penumpang, gue kembali berjalan masuk ke dalam kokpit, sibuk dengan urusan yang harus gue lakukan.

And then, dia (Jefferson) kembali berjalan menuju kokpit, mengikuti gue.

Dasar tolol.

"Hello... you might want to sit down while you are eating that Lays, Jeff..." omong gue kepada Jeff karena dia sembarangan aja makan snack nya di dekat flight deck ini, tumpah tumpah lho itu remah dari kentang nya...

"Look, it's spreading around, making a mess," jelas gue lagi agak sebal karena dia makan nya tumpah tumpah kannn...

"What..." tanya dia, masih asyik mengunyah makanan nya, masih tumpah tumpah juga. Muka nya belagu banget man, belagu ala anak kecil gitu lah...

"The potato's crumb," tunjuk gue kepada kantung snack yang Jeff pegang dengan kedua tangannya.

"Oh, oh, sorry, sorry," jawab dia akhirnya tersadarkan.

Kalau bukan putra nya Jackie, sudah gue teriakin itu anak, gue keluarkan semua Indonesian rude words yang notabene nya akan langsung menyayat nyayat hati kecil nya (bila di terjemahkan ke bahasa Inggris guys). Tapi kan gue tidak di didik untuk tumbuh besar seperti demikian oleh Ibu dan Papa, jadi ya, enggak ada basic buat gue dalam mengutuki perilaku seseorang, unless my own behaviour, mungkin?

Yeah, probably.

"Thrust.."
"Emergency, off.." ucap gue, masih melakukan konfigurasi pada pesawat.

Nggak lama setelah selesai melakukan konfigurasi terhadap Falcon itupun, gue segera meng 'ok' kan jari gue kepada Anthony, sambil berseru ke arah dia, "Sir, let's freed this girl," ucap gue santai. Kemudian Anthony pun segera menghidupkan pushback truck nya dan menarik pesawat kami keluar dari dalam area hangar. Bukan keluar di dalam, ya... bukan, hahahah.

Anyhow Jeff sudah gue amankan di passengers seat (lagi), tepat di tengah tengah, kalau bisa sih jauh jauh dari kokpit, dan gue rasa saat itu gue punya cara khusus untuk membungkam si anjing itu dari tingkah pecicilan nya, lalu apakah itu, caranya simpel... berikanlah dia... flightradar24.

Dan ampuh memang, Jefferson kecil pun langsung asyik memain mainkan ponsel gue sambil memperhatikan jenis jenis pesawat apa saja yang sedang mengudara secara real time pada saat dia melihat ponsel gue itu, terima kasih HTC, elo memang pahlawan dalam hidup gue.

"Cirrus!"
"There is another Cirrus!" gue mendengar Jeff berteriak dari belakang sana, asyik sendirian.

***

Setelah pesawat kami berhasil keluar dari hangar, gue sempat berpikir untuk turun lagi kemudian keluar dari pesawat lalu memberikan beberapa lembar hepeng kepada si Anthony, tetapi gue ingat, itu bukanlah cara yang pas untuk memberikan gratitude atau suatu bentuk terima kasih di sini, di Sydney, because, kalau nggak salah, dalam ingatan gue, Australians didn't love tipping or that sort kind of thing. Beda dengan di tempat kita, melempar koin seratus perak di dermaga ketika sedang menaiki kapal laut saja pasti ada yang ambil.

Australians, mereka lebih suka dibelikan hadiah atau kado saja nantinya. Maka oleh karena itu gue ngomong aja ke si Anthony, gue bilang gini, "Sir, thanks for helping, i'll save you some souvenirs from Rotorua later, gave it to Darlene," kata gue antusias dari atas kokpit karena telah dibantu oleh jasa nya.

"Certainly," jawabnya nyantai. Wah ganteng ini orang, kalau gay mau gue lempar ke si Didiw sih, hahahahahahahaha. Tapi enggak, dia enggak gay man, tahu persis itu gue. Jarang² marshallers macam dia orientasi seksual nya homo, kecuali yang kerjanya di industri fesyen.

"Okay, that's all," jawab gue lagi.

"Good, i'm leaving now?" dia menunjukkan gestur tubuh, meminta izin untuk pergi.

"Sure, goodbye," jawab gue mantp.

"Bye!" jawab Anthony.

Setelah Anthony selesai menutup hangar dan berpisah dengan gue, dia pergi berjalan menjauh dari pandangan mata gue. Akan kembali bertugas. Nggak lama, gue yang sudah terduduk di captain seat ini pun segera mengambil pulpen dan checkboard sambil kembali menghubungi tower untuk meminta clearance sebelum akhirnya bisa lepas landas dengan jelas dan sempurna.

"Kingsford Ground. This is Foxtrot Nine Golf Charlie at gate eleven. Ready to taxi." ucap gue kembali berkomunikasi dengan air traffic controller. Ini adalah suatu keharusan.

"Foxtrot Nine Golf Charlie. Kingsford Ground. Follow taxiway Romeo. Turning left at Tango." jawab tower merespon permintaan gue untuk melakukan proses taxiing.

Setelah berhasil senggol kanan senggol kiri. Gue ngomong lagi, "Kingsford clearance, Foxtrot Nine Golf Charlie ready to copy IFR to Rotorua." walaupun gue tahu, Dassault Falcon sebenarnya tidak terlalu butuh atau perlu perlu banget untuk menggunakan IFR, karena sudah menggunakan VFR, (thanks to the fucking honeywell) yang mana bersifat lebih modern daripada IFR. Tapi tetap, gue kadang membutuhkan IFR, karena, you know, old habits never lost in my way.

Empa menit menunggu, tower merespon lagi.

"Foxtrot Nine Golf Charlie, cleared to Rotorua via radar. Fly on runway heading, north, terminal one one left. Climb and maintain seven thousand feet; expect three four thousand twenty. Squawk 4365." jawab tower menjelaskan, menyuruh gue untuk melakukan proses identifikasi.

"Squawk 4365. (Four three six five)" jawab gue kepada tower. — Kemudian setelah itu, gue dikagetkan dengan kehadiran seorang Jefferson yang berdiri tepat di samping kanan gue, menatap gue dengan wajah ingin dipeluk nya, assuming that he is a deadhead, but no, he's not even a fucking deadhead, he's this adorable little bastard whose overly in love with all sort of this aircraft motion.

Rupanya flightradar24 itu tidak berhasil membungkam dirimu ya, Jeff...

After that i went to talk again with the ATC. "FNGC requesting clearance for takeoff to Kingsford tower." ucap gue meminta permissions untuk segera melakukan proses lepas landas dari bandara Kingsford.

Dua menit menunggu. Akhirnya di respon kembali, "Foxtrot Nine Golf Charlie. Kingsford tower. Cleared for take off runway one one left. Wind is three five one at four knots." oh, this one is a good day, man, flying is easy.

..50.. 60.. rotate. Flaps up, airspeed alive. Jet is cruising (terdengar bunyi tet tot tet tot, hal ini selalu terjadi) and... we're flown away, Choco.

"Hi, boy," ucap gue menyapa Jefferson setelah pesawat mengudara pada ketinggian tiga puluh ribu kaki di langit Sydney yang nampak membiru. Rotorua, here we go. (Lebay banget, padahal durasi terbang nya hanya satu jam empat puluh menit doang)

"Von....." ucap Jeff halus.

"Yes, Jeff?" balas gue lagi.

"May i try...?" ucap dia lalu menunjuk ke arah yoke (kendali) pesawat yang sedang gue pegang ini.

Ya, Jeff sudah berubah, dulu dia lompat lompat di kabin penumpang. Sekarang, dia ingin memegang kendali pada pesawat yang sedang gue terbangkan...



Fast Lane
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
20-07-2018 00:41
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
20-07-2018 06:18
Sayang yg kemarin dah berpuluh2 part di apus pal

Pasti permintaan si nyonya yah pal emoticon-Ngakak



Sory kang rea tataros ti paster ka sukajadi macet pisun emoticon-Hammer2 kamari2 sih emoticon-Hammer
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Fast Lane
21-07-2018 05:05
Balasan post kkaze22
Quote:Original Posted By kkaze22
Sayang yg kemarin dah berpuluh2 part di apus pal

Pasti permintaan si nyonya yah pal emoticon-Ngakak



Sory kang rea tataros ti paster ka sukajadi macet pisun emoticon-Hammer2 kamari2 sih emoticon-Hammer


Hahahahaha. Yah, begitulah suka dukanya punya nyonya galak gan emoticon-Big Grin

Wah, Bandung gimana sekarang gan? Ah teu sawios tataros sakedik mah emoticon-Smilie

profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
21-07-2018 05:57
Quote:Original Posted By henseyashburn
Hahahahaha. Yah, begitulah suka dukanya punya nyonya galak gan emoticon-Big Grin

Wah, Bandung gimana sekarang gan? Ah teu sawios tataros sakedik mah emoticon-Smilie


pantes kemarin ngilang LAMA
tau2 tred di apus, beratti abis kimpoi lo pal 😂😂😂

Kalo kaga salah part terakhir kemarin sebelum di apus ketemu sama cewek yg nolongin waktu sma di tusuk di lounge hotel mewah salah satu jakardah 😁

Curiga bini yg sekarang dia yah ah sayang di apus 😢 (sory kepo)


Halo nyonya PAL kalo baca tolong ijinin misuanya.

Bikin tred dari masa awal sma/ato ketemu sama nyonya dan ahirnya
kimpoi sama anda 😁 plzz
yg kemarin sudah di apus sayang banget heheh emoticon-Blue Guy Peace


moga2 nyonya baca dan kasih ijin itu masa lalunya Tuan pal.
yang penting sekarang Pal sama nyonya sampe kakek nenek AMIN piss nyonya emoticon-Ngacir
Diubah oleh kkaze22
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Fast Lane
22-07-2018 06:40
Balasan post kkaze22
Quote:Original Posted By kkaze22


pantes kemarin ngilang LAMA
tau2 tred di apus, beratti abis kimpoi lo pal 😂😂😂

Kalo kaga salah part terakhir kemarin sebelum di apus ketemu sama cewek yg nolongin waktu sma di tusuk di lounge hotel mewah salah satu jakardah 😁

Curiga bini yg sekarang dia yah ah sayang di apus 😢 (sory kepo)


Halo nyonya PAL kalo baca tolong ijinin misuanya.

Bikin tred dari masa awal sma/ato ketemu sama nyonya dan ahirnya
kimpoi sama anda 😁 plzz
yg kemarin sudah di apus sayang banget heheh emoticon-Blue Guy Peace


moga2 nyonya baca dan kasih ijin itu masa lalunya Tuan pal.
yang penting sekarang Pal sama nyonya sampe kakek nenek AMIN piss nyonya emoticon-Ngacir


Heheheh, agan, sampai segitunya emoticon-Big Grin
Tapi terima kasih banyak ya gan, buat apresiasinya emoticon-Angkat Beer

Iya, sampai kakek nenek mudah mudahan heheheh.

profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
23-07-2018 05:11

He teaches flying

Akhir bulan November tahun 2013, ingat banget gue waktu itu, akhirnya gue mempersilakan Jefferson, untuk duduk di jumpseat, hanya sekadar duduk dan memegang yoke pada pesawat milik daddy nya. Setelah melalui tanya jawab yang benar benar panjang, dan lebarrr, ada satu hal yang membuat gue memperbolehkan bajingan kecil ini untuk duduk di kokpit gue; dia jenius,

Dan dia memang penuh dengan antusiasme, plus, wajah memohon nya itu nggak bisa gue tolak...

Maksud gue, gue memperbolehkan Jeff untuk berada disini tidak dengan memainkan panel panel yang terdapat di dalam kokpit pesawat sembarangan. Memindahkan, menekan tombol ini, itu, tanpa instruksi terlebih dulu dari gue, nggak boleh asal asalan pokoknya, jadi Jeff, hanya boleh duduk, diam, memperhatikan dengan seksama, tidak main main, tidak cengar cengir, tidak lompat lompat, tidak...

And guess what? Jeff berhasil melakukan semuanya, dia berhasil menjadi serius, pandangan matanya yang tajam itu menunjukkan bahwa dia memang sedang berkonsentrasi, terkendali lah ya intinya, ketika melihat Jeff sedang serius seperti itu, gue tanya sesuatu sama dia, "Jeff, yang menyala dengan simbol salju itu dinamakan dengan apa?" kemudian dia menjawab, "Anti Ice," ucap nya simpel, cukup mengesankan untuk anak yang masih berumur sembilan tahun. Jeff juga sudah tahu dasar dasar instrumen pada penerbangan, hal ini membuat gue berkaca terhadap diri gue sendiri.

Hal ini betul betul berbeda bila dibandingkan dengan diri gue yang waktu pertama kali mencoba pesawat, adalah karena diminta oleh Papa, bukan atas keinginan gue sendiri. Percaya nggak percaya, dulu gue pernah takut sama yang namanya terbang, sempat, takut, maksudnya, tapi karena dibiasakan terus menerus dan secara berulang ulang kali, gue akhirnya jadi santai santai aja.

Kalau menurut opini gue yang masih awam, ini bisa jadi adalah sebuah jawaban bagi orang orang yang takut untuk terbang, karena biasanya kan awal awal memang suka pingsan, tapi ini hanyalah sugesti aja.

Jadi biarkan walaupun pingsan, terus aja di bawa terbang (orang yang takut terbang itu), nanti lama kelamaan keadaan seperti itu akan memaksa under consciousness, atau alam bawah sadar mereka untuk merasa 'biasa' ketika mereka harus terbang, pingsan itu biasa, itu hanya awalnya saja, untuk selanjutnya nggak akan terlalu berlebihan lagi pingsan seperti itu.

Sedikit cerita lagi, soal pengalaman waktu gue pertama kali terbang, waktu itu umur gue masih sekitar enam tahun, gue terbang bareng sama Papa, waktu itu gue masih kecil, dan pertama kali terbang ya pakai helikopter, bukan propeller, bukan glider, bukan large sized jet, juga bukan bizjet sama sekali.

Sampai nangis gue waktu itu, orang naik heli, RIBUT banget kan... jadi mana gue tahan, (goyang goyang pula, helikopter nya itu, dan heli nya adalah heli punya militer, model Comanche, yang pintu nya besar dan lebar, jadi angin itu berhembus nya kencang sekali, dan kalau melihat ke bawah, betul betul mau mati rasanya) apalagi kalau dasarnya anak mamih kayak gue dulu dulu itu...

Semua pengalaman itu, kalau gue ingat ingat lagi gue malu banget, gue sampai nangis jerit jerit, meraung raung sambil ngomong, "NGGA MAU, NGGA MAU NAIK, NGGA MAU!" sedangkan Papa ketawa tawa memegang gue dalam pelukan dia, dan Ibu, Ibu memang kejam, why's that so? karena KETAWA nya lebih keras daripada ketawa nya Papa. Anak cowok kok cengeng, begitu deh kalau kata Ibu.

Sehabis kejadian itu berlalu, gue nggak mau ngomong, sudah hampir dua minggu gue nggak mau ngomong baik sama Ibu maupun sama Papa, walaupun gue sudah dibelikan mainan, Atari, Nintendo, Playstation, Betamax, VCD, serial Full House, ATV, Roller Blade, Nerf, Lego, Buzz Lightyear action figure, dan semua permainan papan yang waktu itu semua anak ingin punya dan idam idamkan, serta kaset lengkap pertandingan Smack Down, yang masih ada Andre the Giant nya.

Namun, gue masih saja nggak mau ngomong, sampai akhirnya, ada satu hal yang bisa membuat gue mau angkat bicara lagi, kira kira hal apakah itu?

Puppy, ya, puppy. (anak anjing)

You had me at this one, Bu.

Betul, gue dibelikan seekor English Bulldog yang dodol nya kebangetan, udah kecil, lucu, gendut, dodol lagi, semenjak Ibu belikan gue si Tubalcain, (nama mendiang doggy gue) menemani gue dari tahun 97 sampai 2000 an akhir, setelah akhirnya gue pindah ke Rotorua, kemudian akhirnya dia beristirahat dalam damai di tahun 2002, meninggal karena terkena diabetes (kalau orang yang suka pelihara EB, udah nggak heran EB tua nya pasti kena diabet). Singkat cerita, Tubal, gue memanggil dia, tidak pernah seperti Ibu, yang suka menertawakan gue kalau gue suka takut terhadap suatu hal. Gue mendidik Tubal agar dia galak terhadap Ibu, dan bagaimana jadinya? akhirnya, upaya gue berhasil, setiap kali Ibu pulang dan masuk ke dalam rumah, Tubal selalu menggeram tanpa alasan yang jelas, ya sebetulnya ada sih alasan nya; gue yang suruh dia untuk benci sama Ibu.

Tapi tetap aja, walaupun Tubal sudah menggeram, mau se-horor apapun ancaman dan geraman nya itu, yang namanya English Bulldog mau bagaimanapun juga tetap kelihatan tolol, jadi ya... yang ada, dia malah ikut diketawain sama Ibu. Lagi lagi, Ibu yang harus menang. Kami kapan? maaf ya Bal, elo hidup hanya untuk ditertawakan oleh Ibu. Juga maaf, karena diam diam, gue juga suka menertawakan elo. #savage

***

Oh ya, bukan tanpa alasan gue tarik cerita gue dari waktu waktu itu, ada alasan nya. Nanti pada akhirnya ada penjelasan nya juga.

***

Kembali lagi ke hari itu... melihat Jeff duduk tenang di jumpseat mengingatkan gue akan sesuatu, mengingatkan gue akan sosok gue di masa lalu. Jeff pertama kali boleh duduk di kokpit umur sembilan tahun, dia sudah diperbolehkan sama bokapnya, sebelumnya, dan pendapat gue, ini anak memang keren, dia bilang ke gue pas di momen² kami lagi ngobrol itu, dia mau coba duduk di kokpit karena dia bukan ingin jadi seperti gue, karena gue tanya ke dia kann, mau ngapain lo duduk di jumpseat?

Lalu dia jawab begini, "aku penasaran, aku kepengin nikmatin pemandangan nya, waktu itu juga daddy, mommy dan aunt Olly bolehin aku diem di kokpit kok, masa von Palma jahat sih ga bolehin aku duduk di kokpit," begitu jawabnya, gak pakai resek, kayak elemen mengadu ke bokapnya atau yang lain lain gitu? enggak...

Walau demikian keren nya gue memuji Jefferson, bagaimanapun juga, tetap, lebih keren gue dong. (Sombong sedikit nggak apa apa kan... hehe) Gue melakukan penerbangan solo pertama gue saat masih berumur delapan tahun, tepat dua tahun setelah di brainwash oleh Papa, begini ceritanya...

Pagi hari itu di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (jadi ingat woyla hahahaha) November (yang gue ambil memang rata rata dari bulan November) tahun sembilan puluh sembilan, semalam sebelumnya gue sudah menginap di hotel Sandjaja di kota Palembang, kenapa harus di Palembang, alasan nya simpel, karena Papa sering bertugas untuk antar pejabat BUMN yang berlokasi nggak jauh dari kota itu, jadi gue kesana untuk berlibur, karena kan gue kecilnya tinggal di Bandung, makanya harus menginap.

Anyway dulu di Palembang belum kayak sekarang, Palembang tahun 98 sederhana banget, gue lumayan sering main kesana soalnya, hanya untuk sekadar beli pempek lenggang dan menikmati pemandagan sungai Musi, sambil main ke dalam klenteng yang ada di dekat sungai Musi itu.

Malam harinya gue menginap di Sandjaja, jadul sekali, hehe, itu kalau di lihatnya dari sekarang ya. Karena kalau sekarang, sudah banyak hotel yang lebih modern lagi. Gue ingat waktu itu di Palembang, Papa belikan gue seekor iguana, dan berakhir dengan dikembalikan lagi ke toko hewan nya karena gue muntah muntah melihat iguana tersebut, betul, gue muntah muntah, entah karena alasan apa dikasih reptil gue malah muntah muntah, nah setelah sembuh, gue diajak ke bandara sama Papa, untuk menerbangkan sebuah pesawat, 337 Skymaster.

Tidak banyak yang bisa gue ingat, hanya serpihan memori nya aja, tapi yang paling berkesan dan enggak pernah gue lupa adalah, pagi hari itu, cerah sekali, saat mau terbang, kami harus menunggu selama setengah jam tepat di runway, dengan kondisi pesawat menyala, karena banyak pesawat yang harus terbang, namun lajur lepas landas nya sedikit, jadi harus mengantri.

Mungkin ada secuil pertanyaan, kenapa kok terbang nya di Sultan Mahmud dan bukan di Rotorua? masih ingat nggak... kan gue pindah ke Rotorua aja tahun dua ribu, jadi ya sebelum tahun itu gue masih tinggal dan sekolah di Indonesia, justru sebelum pergi ke Rotorua gue lebih dulu terbang ke Kanada, lalu pergi ke Charlottetown, katanya Papa ada beli tanah disana (sekarang sudah jadi rumah), itu tahun sembilan enam, udah lama banget.

Pagi hari itu, cuaca nampak cerah, angin nya tidak terlalu gusar, menandakan bahwa terbang akan menjadi lebih mudah karena pesawat tidak harus goyang karena angin yang berhembus. Pagi itu, gue sudah duduk di dalam pesawat berdua dengan Papa, jadi kalau dikatakan sebagai solo flying, ya enggak benar benar solo, heheh. Karena masih ada Papa didalam cockpit bersama dengan gue, hanya saja gue yang duduk tepat di captain seat nya untuk mengoperasikan pesawat, sudah simulasi terlebih dahulu pastinya, di Bandung sudah pernah.

Gue ingat, waktu itu Papa ku masih muda banget, heheh, rambutnya masih hitam semua, jadi belum ada putih putihnya, dan giginya juga belum ada yang tanggal. Sembari menunggu dia selalu mengucap hal yang sama kepada gue, "Remember the number, my boy, remember to sequentially checking it out." ucap dia santai, dilanjutkan dengan instruksi lainnya lagi seperti, "Fuel?"

Gue jawab, "Good," lalu dia tambahkan, "Sufficient," kemudian, "Flaps?" tanya dia lagi, "Checked, normal." sambung gue menjawab pertanyaan dari Papa, "Landing gear?" dan controller lain seperti lever. Setelah itu gue rasa kami sudah siap terbang, namun secara tiba tiba Papa berucap lagi kepada gue, "Keluar dari kokpit, Pal." gue menjadi heran, lalu dia ngomong lagi, "Get out of the cockpit, leave the power on," dan akhirnya gue menuruti komando dia dan keluar dari kokpit. Gue mulai menampakkan ekspressi wajah kayak orang kebingungan.

"Nggak apa apa, kita turun dulu," jawab Papa lagi setelah kami berdua sama sama keluar dari dalam pesawat, "Sekarang kamu dengerin suara baling baling nya nak," suruh dia cepat kepada gue.

"Udah, kenapa?" tanya gue bingung, sambil menggaruk kepala.

"Menurutmu normal nggak?" tanya Papa lagi.

"Normal," ketus gue masam, sambil menperhatikan baling baling pesawat yang berputar kencang, dan juga ribut.

"Who says... kamu kira sebelum terbang itu cuma cek di dalam kokpit aja, Pal? ya enggaklah, di luar juga harus ya. Oke, kamu betul, itu normal, baling baling nya, sekarang kita pindah ke bagian ekor, perhatikan airframe nya baik baik ya," ucap dia mengintruksi lalu berjalan ke bagian ekor pesawat ini.

"Iya, iya," jawab gue menurut saja. Dan setelah itu dia mulai memperkosa bagian ekor pesawat kami, semuanya dia pegang, semua dia raba, bahkan sampai baut terkecil sekalipun dia pandangi letak dan keberadaan nya, kalau bisa sih sampai di perbesar hingga seratus kali, alias di macro zoom, bitch.

Masih berada di sayap pesawat, sekarang Papa menyuruh gue untuk kembali masuk kedalam kokpit, "Palma, sekarang masuk kokpit, cek radio dan komunikasi, betfungsi secara normal atau tidak, jika tidak, kita tunda lenerba gan kita, jika normal, kita lanjut terbang, coba, Papa harus tau," setelah itu gue masuk ke dalam kokpit, duduk dan mengambil radio, lalu mulai bingung lagi, dan bertanya, "Pa, ini nanti ngomong apa anjis?" hahahahaha, bercanda, nggak pake anjis, man.

"Pa, ini nanti ngomong apa?" tanya gue kebingungan.

"Say, Badaruddin tower, this is November Juliet Romeo, Seven Five, Seven Three, requesting for clearance," jawabnya sambil bersandar dari luar pintu pesawat kami, gayanya nyantai banget, gue ingat dia itu terkesan kayak belagu, padahal lagi santai aja.

Setelah ngomong via radio, gue disuruh keluar lagi dari kokpit.

Hebat, ya, mungkin anak kecil lain sedang asyik menonton Cartoon Network di dalam kamarnya sambil memakan kukis coklat buatan Ibu mereka di saat sedang berlibur, sedangkan gue? gue disuruh megang megang pesawat, sampai Papa ngajak gue berbaring berdua di bawah Skymaster ini, "Palma, let's lie down beneath this beauty lady," ucap dia kepada gue. Arti simpelnya; Palma, ayo kita berbaring di bawah pesawat ini, dan lihat, pesawat ini kelamin nya apa.

Yeah, Pa, i'll do everything you say, cause i love you...
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
23-07-2018 11:57
Worry.

It's the most unpleasant feeling in the universe.

Perhaps. For once in my life. I do worry.

Sometimes...

I've push myself down to the limit. Thinking in such a perspective to the utmost vagueness of life.

My world has been a susceptible reality. It's filled with power, politics and vice of my people.

My heart, on some heartbeat, are often a resemblance of those vainly glamorous life.

... It's freezing.

Until one day, that boy came up into my life. A heart stopping session i saw.

That's my first worry. Something, melts, on my heart.

From that moment on... I wish. All of my worries could be vanished.

In other words, if happiness does exist, i want safety beyond all things.

For Hensey. A boy who's reaching out for a prosperous life.

Congratulations on behalf of your graduation.

But still, i've been worry about you.

profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
25-07-2018 23:48
Betapa senangnya.

Menyaksikan kehadiranmu.

Ke dunia ini.

Nanti, kita belajar bersama sama ya.

Pokoknya, selamat datang.

Soon, kita hepi hepi.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
28-07-2018 01:20

Flying Freely

"Fuel leak?" kata Papa. "Kamu tau contoh dari fuel leaking itu yang kayak gimana?" tanya dia lagi sambil menoleh ke arah gue, kami berdua lagi berbaring di bawah pesawat pada saat itu.

"Enggak," jawab gue cepat, lalu Papa menunjuk ke arah sebuah lubang yang ada di Skymaster itu.

"Kalau fuel leak itu ada dan terjadi, nanti bensin nya bisa keluar dari sini...," terang dia lagi, menunjukkan jari nya pada sebuah lubang di bawah pesawat kami.

"You got it, right? eh, rambutmu sudah panjang lagi, potong ya nanti," kata Papa lagi.

"Nggak mau," jawab gue cepat, nggak suka gue potong rambut itu... nanti rasanya kayak nggak punya kepala.

"Ayo dipotong rambut nya, nanti Papa ajak kamu berenang ya nak," kata dia lagi.

"Beneran nggak nih? nanti aku ditinggalin lagi, nanti taunya Papa pergi kemana, aku dititip lagi sama orang, terus disuruh pulang naik pesawat lagi deh kayak waktu itu," jawab gue beralasan panjang dan lebar, gue kapok, man, Papa suka gitu soalnya, janji ngajak main (waktu itu katanya mau ke cagar alam di daerah Lahat, du Palembang, atau pergi kemana, eh taunya dia pergi, ujung ujungnya gue disuruh sendiri lagi, ya gue malas lah kalau udah sendiri gitu, mending gue pulang ke Bandung aja, ngapain juga kan..

"Nggak... nggak nak, nanti kita beneran berenang," jawab dia mencoba meyakinkan gue.

"Ya udah," akhirnya gue iyakan janji nya paoa.

"You got it, right?" tanya dia memastikan sekali lagi.

"Got it." jawab gue singkat.

"Potong rambut ya?" yaelah sialan, lagi lagi pertanyaan yang sama.

"Berenang dulu," jawab gue memancing janji nya.

"Okay,"
"Mau dibelikan mainan apa?"

"Nggak, mau berenang aja,"

"Okay."
"Sekarang kita pindah unit untuk cek kondisi engine ya, kita cek bagaimana oli nya, lalu cek katup mesin," ucap Papa, kemudian dia berdiri dan mengangkat gue dari posisi gue yang sedang berbaring waktu itu.

"Kamu perhatiin baik baik, pesawat itu rumit, jadi nggak bisa lepas landas kalau ini ini semua belum kamu kontrol, ini, contohnya... ini kamu buka dulu ya tangki bensin nya," lalu Papa membuka tangki bensin pesawat kami.

"Kamu lihat, kondisi dari fuel meter itu kadang suka menipu, nak, apalagi pada pesawat yang sudah berusia tua, jadi it's better for you to look at it manually," terang dia lugas ke arah gue, gue hanya bisa manggut manggut menanggapi omongan nya dia, kalau masih sesimpel itu, dan pada saat itu, gue masih bisa menangkap apa maksud Papa.

"Udah selesai belommm? kapan terbangnya!" tanya gue merusuh.

"Kamu kalau pecicilan kayak gitu mending Papa ajak berenang aja dulu, terus terbang nya nanti," jawab Papa mengkritik ucapan yang gue lontarkan pada dia.

"Yah, iya, deh, okay, okay," balas gue cengengesan.

"Iya, jadi nak... kamu harus sabar yaa, much needs to be reviewed, to be checked, kalau kamu nggak sabar sabar, kamu nggak perlu naik pesawat, kamu naik yang lain aja, naik kereta, misalnya, kamu tidak usah terbangkan pesawatmu," jawab Papa akhirnya kesal.

"Papa kok gitu," balas gue dengan tingkah emoh emohan, apa ya, acuh tak acuh gitu pokoknya.

"Ya Papa harus dan perlu menjelaskan, karena ini proses prosesnya... sebelum kamu akan menggunakan pesawat, dan kemudian terbang setelah itu." ucapnya lagi dengan nada yang agak mendingan.

"Iyaaa!"

"Mau dibeliin apa nanti?" tanya dia memotong.

"Nanti aja, belajar pesawat dulu," jawab gue mencoba fokus.

"Good, that's my boy," pujinya ringan.

"Aku mau kaset Star Craft sama Thief," pinta gue cerdas, to the point dong... heheheh.

"Iya, nanti dicarikan," jawabnya singkat.

"Tapi jangan Ibu yang belanja nya, harus Papa yang belanja," ucap gue berdiplomasi lagi.

"Iya, nanti sama Papa," tukas dia kalem.

"Jangan iya aja, harus sama Papa," gue ngotot ke Papa gue.

"Iya, harus sama Papa, ya.." jawabnya menyerah.

"Iya," jawab gue mengikuti dia.

"Sekarang kita perlu cek, roda ini, fungsingnya adalah untuk mendarat, untuk lepas landas, ya, kita pastikan tidak ada yang longgar pada baut pengencang nya, tidak bagus, itu, jadi oleh karena itu harus kita lihat, kita pantau secara berkala," Papa mulai menerangkan tugas tugasnya lagi, setelan andalan dia itu cuma celana corduroy sama kemeja hitam, RL, dia suka pakai sabuk biadab kesukaan dia yang logo nya bikers nggak jelas gitu, entahlah itu apaan. Pokoknya gue masih ingat aja keanehan bokap gue sendiri.

Bokap gue di satu sisi, orangnya sederhana sekali, nggak kayak gue yang kadang suka ingin showoff enggak jelas, everybody knows it, gue akan selalu mencari celah ketika contohnya Grady, musuh bebuyutan gue itu punya Audemars Piguet, gue harus punya produk buatan Schaffhausen atau minimal dark side of the moon nya Omega, Axel nggak kalah kencang, kalau gue punya Voutilainen, dia punya Titus, semua memang sudah menjadi hewan kalau harus selalu bersanding.

Tapi ada kok orang orang yang biasa biasa aja tanpa harus selalu memaksakan untuk bertingkah konyol seperti ini, Papa adalah contohnya, dia lah yang mengajarkan kepada gue bahwa Timex saja sudah cukup, jangan terlalu berlebihan, toh semuanya tidak harus dimenangkan.

Ini adalah dunia perang jam tangan, urusan nya bisa panjang lebar cuma gara gara jam tangan. Gue mendebat Papa, gue bilang, "Pa, semua orang pasti punya preferensi yang ingin mereka tonjolkan, Ibu, opa Sadeli, tante Kartika, atau amang Toba, atau Axel, Jackie, Olly, Dewinta, atau Ara, atau Freya, even granny Ro punya atribut yang ingin mereka tonjolkan, Papa juga punya kan, Papa aja maksa maksain beli Volante cuma karena Papa pengen tersenyum puas, Palma juga punya dong Pa..." ucap gue mencoba mengutarakan idealisme gue kepada Papa.

Dia cuma bisa manggut manggut, nampaknya dia setuju dengan prinsip gue yang satu itu.

"Jadi nggak bisa dipukul rata Pa... somebody has always something that makes the people notice, that something is what makes 'em stand out among so many things," debat gue di kala itu.

Kembali lagi ke pagi hari itu, pagi hari saat cek kapal, "Cek ini..." lanjut Papa ngomong sama gue.

"Haaaaaa cek apalagi, bosen!" teriak gue merajuk dengan nada bercanda buat Papa.

"Ini yang terakhir, cek kerapatan pada kursi penumpang, cek sabuk pengaman nya, lalu cek jendela nya, pastikan tidak ada yang longgar, karena terbang pada ketinggian 30 ribu kaki dengan jendela yang terbuka tidak akan kamu suka, percaya sama Papa, tidak akan kamu suka," jelasnya mulus.

"Tidak akan kamu suka, hahah, dasar nggak bisa ngomong bahasa Indonesia, kaku," ejek gue kepada bokap gue sendiri.

"Heyyy, don't judge me, i'm still learning," jawab dia sambil menyikut bahu gue.

"Hahahahahaha," gue ingat gue cuma bisa ketawa, nyaring pula ketawanya, hahahahahaha.

"Sekarang cek,"

"Oh no what the fuck," ucap gue sadis. Apalagi sih... yang harus di cek.

"Nak, words," Papa memperingatkan gue.

"Iyaaaa aduhhhh cek apalagiii,"

"Sekarang sudah selesai, ayo kita masuk ke kokpit lagi," kemudian masuklah gue kedalam kokpit, mulai berkomunikasi dengan tower, hampir nggak banyak tegang yang gue rasakan karena sudah biasa simulasi, walaupun masih ada karena ya simulasi tetaplah simulasi, salah menggerakkan yoke atau lupa mengaplikasikan gust lock sebelum terbang tidak akan membuat Anda tewas seketika, dan juga karena gue sudah dibikin kesal sama Papa, gue menerbangkan Skymaster ini semudah membuat telur mata sapi, karena merasa tertantang, tentunya.

And then while we fly, my old man says, "Oh... boy, you are good," ucapnya sambil menepuk bahu kanan gue, pandangan gue lurus ke depan, kami berdua sudah cruising pada ketinggian 20 ribu kaki, sebelumnya untuk terbang Papa memang bantu gue untuk berkomunikasi menggunakan radio dengan orang tower.

Berhasil sebagai seorang penerbang tidak membuat gue jadi besar kepala, tapi justru malah membuat gue sedih, mengingat bahwa beliau (Papa) sudah tidak bersama gue lagi di saat ini, karena dia lah yang membuat gue berhasil menguasai semua ini.

Waktu gue kecil dulu, gue, Dee, Axel sering main bareng di rumah gue dan kalau udah nakal nakal yang nasihatin nya ya Papa, gue sering di kasih nasihat gara² gue terlalu sering berbuat tidak senonoh kepada Dewinta, apa ya istilah nya, kecanduan mencabuli si Dee, dan Papa sering marah kalau melihat kelakuan gue sudah kayak begitu, sedangkan si Axel sering dimarahin gara gara dia suka hisap cannabis di kamar mandi Ibu, who the fuck did that on elementary times anyway? Axel, yap, cuma Axel.

Sedangkan Dewinta suka kena marah karena dia kecanduan gue cabuli. Pengin nangis gue ingat ingat waktu itu lagi (nangis dalam artian yang lucu), masalahnya, ckckck, pusing gue, gimana cara ngomongnya, masalahnya Deedee itu cerita ke ambu (nyokap) nya kalau kita abis cium ciuman, dasar sinting, kalau suka ya jangan dibocorin juga lahhhh hahahaha.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
30-07-2018 03:54
That afternoon, i see through. The air feels humble. The sound of the twin-turbofan be heard that tiny, clinging to both of my ears. I was standing, looking at the finest of European sublime. Inside this jet, she was smiling, i remember. We were laughing, until i stops to a beautiful reverie.

I remember back then Papa was with me, hiking the cinque terre. Twas what makes me realize, that life isn't a life without your beloved father.

Sudah jauh rasanya dari hari hari itu, hari hari dimana gue bisa ketawa lepas dan nggak perlu khawatir akan keberadaan diri gue sendiri. Nggak ada yang namanya tanggung jawab, nggak ada yang namanya bertingkah laku selayaknya orang dewasa yang super duper rigid ini. Nggak ada yang perlu di takuti.

Apa yang gue cari di dalam kehidupan, hampir pasti gue selalu merasa cukup buat semuanya. Tapi buat gue hal yang termahal di hidup gue itu adalah Papa. Papa adalah gue, dan gue adalah dia. Apapun yang mencoba membandingkannya dengan hal hal yang menurut orang orang lebih dahsyat lagi.

Gue akan tetap menjawab, bahwa Papa adalah selengkap lengkapnya kehidupan bagi gue. Gue percaya, bahwa tidak ada yang lebih mahal dari harga salah seorang yang sangat kita sayangi dalam hidup ini. Nggak terbatas. Tiada bandingnya. Quale il padre tale il figlio. Which means; like father, like son.

profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
30-07-2018 05:01
Kembali ke waktu itu, waktu dimana gue dan Jeff sedang terbang menuju ke Rotorua, "Hello Ol, would you pick us up at the airport," ketik gue via sms kepada bibi Olly.

"My goodness, in a flash?" balas Olly kaget.

"No, in about 15 minutes," balas gue lagi.

"Yeah, in a flash, honey," respon dia lagi.

"My apologies," balas gue meminta maaf kepada bibi gue.

"No worry, i'll see you there," jawab Olly kemudian selesai, kira kira begitulah conversation nya, kemudian setelah itu, gue ngomong lagi sama Jefferson, "Jeff, we're disembarking, you put that harness onto your body, don't speak a word, i'm landing the jet." ucap gue memberi instruksi kepada Jefferson.

"Okay, von," jawabnya cepat, mengerti atas perkataan gue.

Setelah itu gue pun mendarat, walaupun kondisi bandara lagi padat, tapi masih bisa mendarat tanpa mengantre, karena masuknya walaupun sudah menjadi bandara internasional, tapi masih selalu di anggap regional oleh orang orang. Kalau aktivitas penerbangan yang lebih padat lagi adanya di Wellington. — Setelah taxiing dan memasukkan kapal ke hangar dua puluh lima, terminal dua puluh, gue berbusa busa mengingatkan Jeff agar dia bertingkah lebih kalem, pasalnya dia terus ngomong, "I'm going to see java, java, java3x," sampai panas kuping gue dibuatnya, honestly, i understand, Jeff, jadi tolong hentikan mengulang ulangi ucapan yang kamu katakan itu.

Sekitar siang, setelah jam makan siang, lebih precise nya lagi, akhirnya, kita berdua ketemu sama Olly di titik kedatangan bandara Rotorua, kala itu gue yang belum terlalu lusuh, ya iyalah orang gue nggak ngapa ngapain juga... langsung memeluk erat bibi gue karena, gue nggak ingat persisnya Olly pakai busana macam apa, yang gue ingat cuma wajahnya aja, she's getting old, yang jelas tuh.

Setelah ketemu, secara konstan, gue langsung memeluk bibi gue.

Lalu dia kaget dan langsung ngomong, "What's with this hugging?" tanya dia ketika dia gue peluk secara tiba tiba.

"Pet the kid, feels good to see you, now i'm taking a nap." bisik gue kepada bibi gue yang sedang kebingungan dalam pelukan gue. Di usia 35 nya dia masih belum married juga, gue santai aja kalau gitu, tapi pas dia udah married waktu itu, gue langsung ambil ancang ancang buat segera menikah juga, malu lah, man! figur sejati dalam hidup gue nih, ini orang, kalau gue nggak mengikuti jejak dan langkah nya, alamat kebingungan sendiri nanti gue jadinya, hahahahaha.

********

Side note:

Pagi hari itu di sebuah acara, acara yang melibatkan banyak sekali orang, acara yang diadakan di rumah seseorang, acara yang riuh, ribut, dan menyesakkan dada.

Saat gue sedang duduk dan ngobrol dengan salah seorang teman gue yang mengadakan acara dengan tema camping camping sialan ini, namanya adalah Erde, by the way, panggil saja demikian, Erde dan gue sedang ngobrol, empat mata atau apalah itu bahasa nya, gue ngomong ke Erde, "Er, jadi nanti kita itu total camping nya bakal berapa lama?" tanya gue singkat di pagi hari itu, kami berdua sedang mengobrol di halaman belakang rumah seseorang, pagi hari itu nampak cerah dengan cahaya matahari yang masuk menembus ke dalam sela sela rumah ini.

Betul, gue kebagian menjadi salah seorang tutor pada acara camping yang diadakan oleh kami semua ini, oleh Erde lebih tepatnya lagi, gue dan teman teman gue dari jaman SD. Anyway gue hanya volunteer aja disini... Setelah gue bertanya, Erde pun menjawab, "Sekitar lima sampai delapan hari Ash," dan tiba tiba ada sesosok mahluk kecil yang datang dan menghampiri gue, dia berdiri tepat di depan gue dan berkata kata dengan lucunya, "uncle Palma, do you know my other name?" omong perempuan kecil ini, ekspressinya imut, wajahnya bulat kecil, rambutnya dipotong sebahu pendeknya, matanya bulat berwarna coklat menyala, hidungnya mungilll, tapi mancung, bibirnya berwarna merah muda, tipis, wajahnya putih, ada freckles nya, dan yang paling bikin manis adalah dua gigi didepan nya itu, betul betul kayak gigi kelinci.

Walaupun sebenernya gue jiper kalau lihat kelinci.

Satu lagi, model busana yang dipakainya hari itu adalah sebuah turtleneck berwarna coklat dengan celana katun panjang berwarna gading, mengingatkan gue akan hobi seseorang, namun hanya berbeda tipis saja, karena orang itu tidak akan mengenakan celana berwarna gading, namun dia akan mengenakan celana berwarna coklat, yang warna nya seperti warna tanah di musim kemarau, dan orang itu adalah diri gue sendiri.

"Yes, Diory?"
"I don't know, what's the matter?" jawab gue kepada dia.

"Nevermind, just forget it." jawab dia lagi, wajahnya lucu sekali. Setelah itu dia berlari sambil berteriak, "Mommm, he didn't know my other namee," melewati banyak anak anak lainnya yang sedang kami urusi di rumah ini, lalu ada teriakan balasan yang merespon ucapan si Diory, "Who don't know your other namee," jawab seorang perempuan lainnya lagi, sambil datang menghampiri ke arah gue dan Erde..

"Uncle Palmaaa," teriak Diory yang kini sudah menghilang entah kemana rimbanya.

"Eh, sorry ya gue anggurin kalian berdua, mau dibuatin minum apa?" tanya perempuan ini kepada kami berdua.

"Gue lemonade aja deh," jawab Erde cepat, "Gila ya Dew, anak lu cantik banget, pinter lagi, lu kasih mimik apa tu anak sampe pinter begitu?" tanya Erde kepada Dewinta, membuat Dewinta merespon pertanyaan yang Erde lontarkan, "Ah elo bisa aja, nggak gue kasih apa apa kok, biasa aja minum nutrilon, dia pinter nurun dari nyokapnya kalee," jawab Dewinta sambil bercanda, lalu duduk di sebelah gue.

"Udah berapa taun sekarang umurnya dia?" tanya Erde lagi.

"Mau lima, Er, anak lo umur berapa sekarang?" balas Deedee balik bertanya.

"Gue masih baby banget, masih dua taun Dew," jawab Erde lalu meraih sesuatu dari atas meja.

Tiba tiba, "Palma, kamu mau dibuatin apa, minumnya?" pertanyaan Dewinta menodong lamunan gue, masih di pagi hari itu.

"Ka-ka-ka,kah," jawab gue terbata bata karena kaget.

"Kok diem, Pal?" ucap Dewinta sambil melambai lambaikan tangannya tepat didepan wajah gue.

Betul, di pagi hari itu, gue terdiam. Ada perasaan sedih sekaligus kagum melihat betapa cantiknya seorang Diory. Gue bukan pedofil ya, awas aja lo sampai salah berasumsi.

Putri Dee satu satunya itu sekarang udah gede lagi, nggak kerasa, benar benar nggak kerasa, perasaan waktu beberapa tahun yang lalu dia masih kecil, masih lari lari, ditangkap sama bapaknya yang brengsek itu, dan yes, inilah warna dalam kehidupan kami semua.

"Kahlua, Dee," jawab gue kepada Dewinta.

"Yeeee, kamu, pagi pagi udah minta yang begituan aja," sindir Dewinta kemudian dia iseng menyenggol bahu kiri gue.

Sedang gue terdiam karena kagum, sedang gue terdiam karena sedih.

Dee, semua orang tahu tentang masalahmu, tetapi, apakah semua orang juga perlu tahu tentang masalahku?

Belum tentu, Dee. Belum tentu.

Dan hari itu, hingga sore harinya, gue ngobrol² sama ibu Dewinta di halaman belakang rumahnya, kami ngobrol banyak, sampai lupa soal apa yang kami obrolin, yang jelas, banyak yang kami obrolin adalah tentang keluarga kami, dan tentang Diory juga, itu anak cantik banget soalnya, bayangin, dari kecilnya aja udah cantik, nanti gedenya pasti lebih cantik lagi.

Anyway, happy birthday to you, Diory.

May you have a blissful birthday, dear.

Taste the endless sweetness of July.

Nanti o'om bawain Chucky dari tempat o'om, ya. Jangan minta Barbie, o'om takut, nggak suka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
30-07-2018 09:40
Lah?, kirain lo masih sama dewinta pal emoticon-Sorry , padahal lucu aja kalo baca cerita lo lagi ribut ribut kecil sama DeeDee.

Anyway, have a good day pal, it’s good to see u again here. emoticon-Ultah
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Fast Lane
31-07-2018 06:52
Balasan post xxnahanbeolxx
Quote:Original Posted By xxnahanbeolxx
Lah?, kirain lo masih sama dewinta pal emoticon-Sorry , padahal lucu aja kalo baca cerita lo lagi ribut ribut kecil sama DeeDee.

Anyway, have a good day pal, it’s good to see u again here. emoticon-Ultah


Heheheh, we weren't meant to be (lovers), gan emoticon-Big Grin But don't worry.

Thanks! you too, brah! Have a great day!emoticon-afro
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
31-07-2018 06:56
"Oh honey..."
"By the time you got here with that little chipmunk, that means we have a change of plans, yeah?" omong aunt Olly berbisik sambil menepuk nepuk ringan punggung gue, menatap Jefferson yang diam kebingungan memperhatikan kami berdua berpelukan, cukup lama, yang membuat gue pun lanjut berbicara lagi, masih dalam pelukan ini, gue ngomong, "Enjoy the life-absorbing machine, Ol," balas gue jahil kepada aunt Olly.

"With pleasure," jawabnya sigap.

Hahahah, sialan, dititipin Jefferson dia (sikapnya) malah antusias banget, gue sih mampus kocar kacir dibuatnya, tapi enggak dengan bibi gue yang satu ini, dia malah dengan senang hati menerimanya. Entahlah, apa alasan dari rasa senangnya itu, mungkin kalau diingat ingat lagii, dulu Olly dititipin gue sama bokap gue selama hampir lebih empat tahun lamanya aja nggak pernah mengeluh, mungkin karena dia orang keren kali ya? atau mungkin karena gue memang bocah yang nggak suka bikin bubi gue ribet kali ya? ah nggak ngertilah. Yang jelas, gue nggak ada mirip miripnya kalau dibandingin sama si grandong kecil yang bernama Jefferson ini.

Setelah itu, gue pun melepaskan pelukan gue, lalu kembali berjalan, menenteng koper yang gue bawa beserta segenap suvenir dan oleh oleh yang gue bawa dari Portofino, yang jelas, Genovese yang rasanya enak banget itu sudah gue lahap habis saat gue masih berada di pesawat, during the midair, selama gue dan Didiw sedang terbang menuju ke Indira Gandhi. Dalam ingatan gue, hari itu Rotorua cukup padat, kami berjalan bertiga, gue dan Jeff mengikuti langkah kaki Olly yang ada didepan kami, setelah kami semua sampai ke halaman parkir kendaraan, kenapa harus ke halaman parkir, padahal dijemputnya bisa dari depan hanggar, it's a simple question with a simple answer, man. Di keluarga kami, hanya ada satu orang yang malasnya setengah mati untuk memasukkan mobil dia ke landasan pacu bandara, dan orang itu adalah; Olivia Ashburn.

Karena menurut dia, the runway is a sacred surface, it's for plane and people walking around, not to be screwed up by her rusty car. Bahasa simpelnya; terserah aunt Olly, segimanapun juga, dia tetap kekeuh, nggak mau membawa mobilnya masuk ke dalam landasan pacu yang secara penuh nya adalah milik para pesawat... dan diperuntukkan bagi para pesawat. Okay, let's stop talking about that. It's boring.

Setelah berhasil tiba di halaman parkir, gue masuk kedalam mobil milik Olivia, a renault—kini keluarga gue yang tinggal di Rotorua sudah tidak menggunakan Jeep convertible itu lagi karena semakin kesini menggunakan convertible car dirasa semakin ribet nggak karuan, kap terbuka... tapi kondisi di jalanan sudah tidak se asri dulu dulu. Lagian si Jeep itu juga udah dijual sejak tahun 2009, lumayan lama kan, yes, karena menjualnya pun penuh dengan perjuangan, menjualnya punnn harus pakai berantem dulu, lalu siapakah yang berantem? ya siapa lagi kalau bukan Hensey a.k.a Neal a.k.a Papa dengan Olivia si adik bontotnya yang menuntut agar mobil keluarga kami diganti aja dengan sejenis Minivan yang lebih membuat nyaman di saat berkendara... realistis sekali, Ol. Gue juga emang sering masuk angin sih kalau terus²an disuruh naik itu Jeep gila, berasa telanjang gue jadinya.

***

Di perjalanan, Olly's driving, cuaca diatas sana agak agak mendung tapi enggak hujan, gue duduk di kursi belakang sama si Jeff, dan Jeff masih seperti biasanya, ngoceh nggak jelas soal pesawat, atau soal dia di sekolahan nya. Di perjalanan, dari bandara menuju kerumah bokap gue, yang dulunya kalau tahun dua ribuan hanya memakan waktu lima belas menit, tertotal, sekarang bisa sampai satu jam kurang, benar benar luar biasa, sekarang jadi ada macet lhoo, jangan salah, nggak cuma di Jakarta doang, disini juga ada. Kenapa? ya simpel lah, karena jumlah manusia yang kepengin dan bisa punya mobil, sudah bertambah dari tahun ke tahun... long story short, akhirnya kami tiba di rumah keluarga kecil kami.

"Haunted house!" gue ingat Jeff sempat ngomong begini, dasar bajingan, giliran disuruh main kerumah lama bokapnya, begitulah omongan pertama ya g dia keluarkan, bener bener anak milenial.

It's good to be back, setelah sekitar delapan bulan yang lalu gue sudah enggak kesini lagi, akhirnya! gue bisa menghisap aroma khas Mangakakahi lagi, aroma khas dari tanah di halaman depan rumah Papa dan bibi gue ini, just some info, mau sampai kapanpun itu, gue enggak pernah benar benar bisa, menganggap rumah ini, seratus persen sebagai rumah kesayangan gue, kenapa? ya karena ini kan rumah Papa, ya karena rumah gue (yang gue anggap secara sepenuh hati) kan adanya di Bandung, barang barang gue aja adanya di sana, including my private stuff, kalau kalian masih maksa dan ingin tahu apa aja itu private stuff nya, gue hanya bisa jawab; underwear, man, underwear gue adanya di Bandung, tersimpan aman di dalam lemari di kamar gue.

Malu maluin sedikit nggak apa apa lah ya, lagian gue juga lagi pengin cari bahan buat ketawa.

Setelah masuk kedalam rumah, seperti biasanya, naik ke lantai dua, stopping before a bathroom, gue taruh barang gue di kamarnya aunt Olly, sekarang (ini sebenarnya udah dari dulu sih) sistemnya udah beda, my man, karena gue takut secara berlebihan (takut yang dibuat sama diri sendiri) dengan perapian yang ada di kamar Papa, gue jadi pakai kamar nya auntie Olly, dan dia jadi pakai kamar Papa. Setelah gue selesai merapikan barang, aunt Olly memanggil gue dari lantai bawah, "Henseyy, come downn, i made a tea for you," teriaknya merdu di siang menjelang sore hari itu.

Gue turun ke lantai bawah, saat bertemu dengan aunt Olly, dia ngomong, "Come, let's have some tea," ajaknya kepada gue sambil mengangkat dua buah cangkir berisi teh hangat yang berada dalam kedua tangannya. Setelah itu kami duduk di ruang tamu rumah Papa, gue tanya, "Where's Jeff?" cari gue kebingungan, "He's dreaming, in my room." jawab Olly cepat, lalu segera duduk, dan, "Please, the tea," dia mempersilakan gue agar segera meminum teh yang sudah dia buatkan untuk gue. Kemudian gue minumlah teh yang rasanya nggak ada apa apanya kalau dibandingkan dengan Sauvignon atau Lafite kesukaan gue.

"Feeling better?" tanya aunt Olly sambil tersenyum menatap gue.

Gue memperhatikan seisi rumah ini, lantai dan temboknya yang terbuat dari dari kayu, kursi kursi dan cabinets yang ada di ujung sana, televisi tua yang suka dipakai granny Ro untuk menonton acara the price is right, what can i say, i'm feeling better, jawab gue di momen momen nge-teh kami itu.

"Before i get down to my business, i know that i couldn't fix that problem of yours," ucap aunt Olly, mulai berbicara kepada gue, ini selanjutnya gue coba terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia aja ya, "Masalahmu itu bibi sudah tahu persis, menyoal Papa mu, yang enggak pernah hilang hilang dari wajahmu itu meski bertahun tahun sudah berlalu, masih aja sulit hilang.. bibi paham, Hensey, bibi paham.. even sejak Februari lalu kamu mampir berkunjung kesini, kamu tuh masih samaaa aja." ucapnya tenang dan penuh hati hati, tapi ya gitu, ngomongnya panjang lebarr.

"Sekarang kamu jangan coba simpan rahasia yaaa sama bibi, kamu nggak ngomong aja bibi udah tau, kamu cerita apa dan kemana bibi nggak peduli, yang membuat satu hal menjadi jelas, semakin kamu simpan simpan, semakin kamu ingat ingat, maka disitulah semakin kamu merasakan sedih yang sama... jadi kalau bisa, kurangi, sayang, kurangilah itu, bibi tau, Ibumu nggak pernah sampai kayak begini soal menasihati kamu, she is way too busy for you. Makanya Papamu selalu titip kamu sama bibi, enggak pernah ada satu hari pun dalam hidup bibi, bibi nggak sayang sama kamu, okay, mungkin kalau merasa kerepotan, iya, tapi selebihnya, bibi peduli sama masalahmu,"

"Jadi Hensey, jangan pernah merasa sungkan, jangan, kalau ada apa apa, cari bibi, ceritakan masalahmu sama bibi, nanti bibi bakal berusaha buat dengar masalahmu," ucap dia mengakhiri omongan nya.

"Tapi kan aku takut ganggu, Ol, aku udah gede, nggak semuanya harus kuadukan ke kamu juga kan," potong gue di sela sela perbincangan kami.

"You are right, honey, i can't argue for that—now, you are a grown-up, but stays, in my heart, you are my little dear whenever it comes to a family problems, so you better not, handle it yourself." ucapnya dengan nada rendah, lalu dia kembali meminum teh nya yang berada di atas meja ini secara perlahan lahan.

Kini giliran gue yang berbicara, "Iyaaa, nggak ku tanggung sendirian juga lah Ol.., kemarin aku juga udah ngobrol² sama Jackie juga..," jawab gue lagi.

Dan gue lanjut ngomong lagi, "Don't you worry about me, Ol, relax, i have a very jaundiced view of my own problems," jawab gue lagi, mencoba untuk merontokkan masalah masalah yang agaknya memang bersarang di dalam kepala gue.

"Don't exaggerate that," respon gue mencoba untuk mengakhiri perbincangan kami, perbincangan yang agak emosional nggak jelas ini.

Lalu tiba tiba auntie Olly meraih dan memegang tangan gue, dan dia kembali ngomong, "The point is, whenever you got problems, i know," ucapnya tajam dan dalam.

"I will never stops, until that-next-secret-of-yours is divulged to me," jawab aunt Olly lagi. "You better talk, or i will beg you, to drink another cup of tea, hahah~" ancamnya sambil sedikit bercanda, nggak terlalu memiliki dampak juga sih, tapi okey lah..

"You... and your tomfoolery, Hensey..," ucap Olly panjang sambil melingkar lingkar kan jarinya seolah dia sedang menggambar sketsa dari wajah gue, kemudian lanjut ngomong lagi, "Will not deceive my eyes, not anymore, now... i have bind with the mother-nature and have the full-potency to my judging senses. Welcome to the supreme court, honey." ucap auntie Olly dengan nada serius yang dia buat buat sendiri.

"HAHAHAHAHAHAHA," tawa gue meledak di hari yang gue anggap cukup bersejarah itu.

Bener bener di skakmat gue sama bibi gue yang satu ini...
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Fast Lane
01-08-2018 04:03

bukan bagian dari cerita :D

Terkadang... kita ada di pertengahan malam, terbangun, menarik nafas, mempertanyakan tentang berapa lama lagi kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Kalau aku, menatap menara Manhattan yang aku lihat dari lantai delapan puluh dari kamar hotelku mungkin memang bisa menjadi jawaban nya, tapi kalau nggak, ya nggak apa - apa, terkadang sebuah tanya nggak harus selalu ada jawabnya.

Aku nyesel, Ash, setiap detiknya dalam hidupku, aku lebih memilih karir dibandingkan bahagia dalam kehidupan cintaku sama dia, aku lebih memilih prestis, jabatan, dan segala macam hal yang notabene nya bisa aku capai hanya dengan kerja kerasku, dengan kepandaianku dalam mengelola segala macam aspek dalam diriku ini... baik secara ruhani maupun jasmaniah, tapi aku lupa.. aku enggak bahagia sama sekali, kamu tau nggak sih, kamu kalau bercanda, "Nanti nggak bisa liburan... nanti nggak bisa ini, nggak bisa itu..." pake nada bencong yang kamu bikin bikin itu, itu nyebelin lho.

Dalam hati, aku males banget ngomongnya, kamu tau dong rasanya kosong kayak gimana.. sekarang, bayangin aja itu. Kamu akan terus begitu bahkan ketika usiamu akan mencapai tiga puluh tahun atau bahkan lebih, jangan di anggap remeh, hati, hati, lebih baik kamu belajar dari aku.

Sekarang kasarnya, aku rela, nyerahin apa yang jadi punyaku asalkan dia mau 'nerima' aku lagi, tapi kan dia enggak pernah begitu, walaupun kita selalu temenan, kadang orang juga berubah, dan dia berubah, Ash, ada beberapa hal dalam hidup dia yang tidak akan pernah mau dia terima, dan aku, adalah contoh paling nyata yang enggak pernah mau dia terima lagi, aku ini cuma orang sombong yang memandang kehidupan itu bisa di handle pakai uang.

Tapi segitunya dia udah baik banget sama aku, dia masih mau dengerin aku, senyum buat aku, dan dia masih mau aku peluk, segitu aja aku udah senenggg bangettt, walaupun sebenernya aku pengenn banget kita bisa kayak dulu lagi. Ah, rupa rupa deh pokoknya. Kehidupan asmaraku ya begini, kehidupanmu ya semoga tidak sepertiku.

Kita udah ada di titik ini, sekarang, waktunya kamu traktir akuuuuu~

Yaudah.

Ke Bluenote ya?

Iya deh, iya...

Oh, what the hell.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 2 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
para-pemuja-iblis
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia