Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
39
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ae6815f5c7798e25e8b456a/project-the-illogical---a-side-romance-story-from-project-the-unseen
Sebuah side story dari Projects The Unseen. 'kisah' seorang pendaki, sama-sama menceritakan 'The Unseen', tetapi semua orang bisa merasakannya. Apakah itu?  Cinta? Persahabatan? Atau??
Lapor Hansip
30-04-2018 09:37

Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'

Past Hot Thread
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'


Sebuah side story dari Projects The Unseen. 'kisah' seorang pendaki, sama-sama menceritakan 'The Unseen', tetapi semua orang bisa merasakannya. Apakah itu?  Cinta? Persahabatan? Atau??


EPILOG - ANDONG


Sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu. aku masih belum bisa mencerna kenyataan pahit ini. bagaimana bisa, bintang yg setiap hari bersinar, tiba-tiba redup tanpa pertanda. kau pernah berjanji, untuk menyinari ku sampai ujung waktu, tetapi kenapa kini menukik tajam dan seketika merubah orbital?

kau bukan Pluto kan? sang pengkhianat terkenal dengan inkonsistensi yang akhirnya tidak diakui.

sesekali aku menatap rasi bintang di atas bukit andong, mendekap kedua kaki, pada akhirnya bintang yg mati akan jatuh. Apakah kesedihan? atau rasa kecewa? bukan! Bintang jatuh itu kemudian memberikan sebuah harapan, harapan untuk memulai semuanya kembali dengan sebuah tanda kutip 'tanpamu'.

0. EPILOG - Andong
1. The Calendar
2. Jejak
3. Langit Selatan
4. Dan
5. Januari
6. Jarak
7. 3450 MDPL
8. Selamat Menikah
9. Sepasang Engineer
10. Ikhlas
11. 2010



Selamat Menikmati !
Diubah oleh riissallele
profile-picture
profile-picture
profile-picture
newbie567 dan 10 lainnya memberi reputasi
7
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
30-04-2018 09:37
Reserved
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
30-04-2018 09:38
Reserved
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
30-04-2018 09:40
Reserved
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
30-04-2018 09:43

EPILOG

Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'


EPILOG - ANDONG


Sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu. aku masih belum bisa mencerna kenyataan pahit ini. bagaimana bisa, bintang yg setiap hari bersinar, tiba-tiba redup tanpa pertanda. kau pernah berjanji, untuk menyinari ku sampai ujung waktu, tetapi kenapa kini menukik tajam dan seketika merubah orbital?

kau bukan Pluto kan? sang pengkhianat terkenal dengan inkonsistensi yang akhirnya tidak diakui.

sesekali aku menatap rasi bintang di atas bukit andong, mendekap kedua kaki, pada akhirnya bintang yg mati akan jatuh. Apakah kesedihan? atau rasa kecewa? bukan! Bintang jatuh itu kemudian memberikan sebuah harapan, harapan untuk memulai semuanya kembali dengan sebuah tanda kutip 'tanpamu'.

Next Episode - 1. The Calendar
Diubah oleh riissallele
profile-picture
tikusil memberi reputasi
1 0
1
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
30-04-2018 09:48

The Calendar

Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'



The Calendar


Tidak biasanya aku sangat membenci Kota Solo. kalau tidak ingat kuliah dan setumpuk mimpi yang harus terwujud, mungkin aku sudah pergi dan tidak mau menjejak di kota ini lagi.

Aku terbangun dr tidur paling buruk sepanjang sejarah, mengambil air wudhu, kemudian menunaikan salat subuh. Sedikit bercerita kepada Tuhanku, kenapa harus melalui semua ini? Apakah ini ujian? Atau karma ?. Sesekali aku melihat layar smartphone, biasanya kau orang pertama sebelum mentari yg menyapa pria lusuh ini. kembali terbesit sebuah pertanyaan yg kemudian terngiang sepanjang hari, siapakah pria spesial yg kamu sapa pagi hari ini?

sembari membereskan alat salat -biasa aku menaruh nya di dalam lemari samping meja belajar-, pandanganku tertuju pada kalender duduk bergambar siput kecil, bukan siputnya yg membuatku tertarik, melainkan tulisanmu pada minggu ke-2 Desember, kau ternyata sudah menandai tanggal 'anniversary' ke-2 kita.

Aku tersenyum kecil sambil memegangnya dengan tangan kananku, semua kenangan tentangmu kembali menyeruak di kepala di iringi lagu Juara Kedua - Fiersa Besari yg aku putar.

Ada sebuah catatan kecil dengan tulisan latin mu yg khas, terselip di bagian belakangnya. Apa ini ? Dahiku mengerut.

Dear Cinta,

Terimakasih sudah menemaniku selama ini, tidak terasa kisah kita sudah mau 2 tahun. Aku tau aku menyebalkan, selalu merepotkan, bahkan sering marah karena alasan yg tidak jelas.

Bolehkah aku merepotkan mu sekali lagi?
aku ingin mengajakmu ke suatu tempat di hari anniversary kita, kau sangat menyukai bintang bukan? disana nanti kau bisa melihat semuanya lebih jelas, jauh dr hiruk pikuk kota solo. Hanya ada 2 cahaya nanti, aku dan bintang.

7°23′ LS 110°22′ BT

Love You.


Secara tidak sadar aku meremas note itu, mengepalkan jari dan memukuli kepala, supaya cepat tersadar dr mimpi buruk ini.

'kuliah ga lu ?'

perhatianku sejenak teralihkan oleh pesan wa.

'kuliah lah, ini lagi otw'
'buruan, bentar lagi dosen dateng, kelas udah penuh'
'iya !'

tidak salah memang, mencari indekos berjarak 15 menit dari kampus, dijamin ga pernah telat.

seperti biasa, setelah perkuliahan selesai, kami berdua nongkrong di warung belakang fakultas teknik. Menu-nya ga begitu banyak, kalau ga nasi goreng, palingan soto. Apapun itu, yg penting aku harus makan, kemarin sudah seharian ga nafsu, maklum hati dan perut memang berhubungan sangat baik. saking baiknya, dia tau hati sedang galau, dan si perut ga rewel buat minta makan.

'udah baekan sekarang?' si rambut ikal dan sedikit berotot hasil fitnes tiap hari memulai pembicaraan.

'sial, ga akan pernah bisa baek' sambil menyeruput es teh manis yg baru saja datang.

'gue heran, elu yg segitu batu-nya, bisa berantakan karena cewek'

'dia bukan cewek biasa, yog'

'cari yg laen lah lu, cemen bener'

'belum bisa, susah'

'itu si Putrie cakep, udah deket sama elu kan'

'traktir dia makan sehari, gue puasa seminggu yog, kismin mendadak gue. Udah ah gue mau cabut, males liat muka lu'

'Haha. Awas lu jangan bunuh diri'

'liat aja berita koran solo pos besok, kalau ada headline Mahasiswa Teknik Kimia UNS 2010, tewas bunuh diri lompat dari jembatan Jurug, nah itu gue'

'gue pastiin besok. haha'

Ada sebuah tempat favorit di kampus, sebutannya Danau UNS. Awal-awal kuliah, aku sering mampir kesana, disamping Fakultas Pertanian. Kanopi buat mahasiswa mengerjakan tugas juga disediakan. Satu kanopi selalu sepi, karena letaknya di bawah pohon besar yang katanya angker, nah di kanopi itu aku sering duduk (see The Unseen).

Aku teringat catatan kecil tadi pagi, bentuknya sudah lecek, terbawa emosi saat pertama kali membacanya.
Kembali aku cermati setiap kata yang kamu tuliskan, bukan benci, rasa kehilangan malah semakin menjadi.
kemana kamu akan mengajakku?
diam-diam kamu sudah merencanakan sesuatu.

aku garis bawahi kata 'BINTANG' mungkin ini sebuah tempat tinggi, jauh dari kota? atau hanya sebuah perumpamaan kata?

'aaargh, kenapa aku harus peduli?. Kemanapun itu semuanya sudah terlambat kan?'

sampai di akhir catatan, aku menemukan serangkaian angka 7°23′ LS 110°22′ BT.
LS ? BT ? sepertinya aku tahu arti dari angka-angka ini.
aku ingat kau seorang mahasiswi pecinta misteri, bahkan di akhir kisah kita pun kau mengakhiri nya dengan misterius.

'aku rasa, angka-angka ini adalah koordinat suatu tempat, akan aku coba plot di google maps'

Tanda panah google maps mengarah ke suatu tempat di daerah Magelang, Jawa Tengah. Bertuliskan Gunung Andong 1755 MDPL.

Tempat apa ini? Apa yg spesial? Kenapa kamu bisa berpikir merayakan anniversary di tempat antah berantah?

Aku ingin menanyakanya kepadamu langsung, tetapi urung aku lakukan. Kau pun sudah tidak peduli lagi denganku bukan? aku pun sedang berusaha untuk tidak mempedulikanmu hari ini, namun, maaf cinta, aku gagal berantakan.

-The End-

Previous Episode - 0. EPILOG - Andong
Next Episode - 2. Jejak
Diubah oleh riissallele
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan tikusil memberi reputasi
2 0
2
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
02-05-2018 23:20
wah bikin baru ternyata, gelar koran dulu ah emoticon-Traveller
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
03-05-2018 15:06
Quote:Original Posted By titahbayu
wah bikin baru ternyata, gelar koran dulu ah emoticon-Traveller


romance gan. haha. berbanding terbalik sama yang the unseen.
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
31-05-2018 21:17

JEJAK

JEJAK


Aku masih berusaha mencari alasan untuk mengikhlaskan, karena melupakanmu adalah hal yang tidak mungkin. Kalau boleh memilih aku ingin dilahirkan jadi manusia normal saja, tanpa ingatan fotografis. Menjadi seorang pria biasa, tanpa kemampuan spesial apapun, sehingga jika nantinya harus menghadapi hal seperti ini, aku mampu melupakanmu dalam waktu singkat.

Di sudut kamar indekos, aku masih memandangi catatan lusuh itu. Adakah misteri lain yang kau sembunyikan dariku, ?
Apakah ini benar-benar menjadi sebuah akhir ?

'APA YANG HARUS AKU LAKUKAN???'
Dia menggebrak meja sekeras tenaga. Kakinya meregang, pundaknya bersandar pada kursi. Sejenak pandangannya mengarah pada Tas Carier berdebu yang sudah lama menggantung tidak tersentuh.

'Kapan ya aku terakhir naik gunung?'

'sampai berdebu begitu'

'...' memandangi foto saat pertama kali menjejaki Gunung Lawu bersama.

‘Tunggu sebentar.. Serius ???'

'Aku harus naik kesana (Andong)?'

'Kalau aku jadi kamu, pasti itu kan yang mau kamu bilang?'

'Oke.. Aku turuti untuk terakhir kalinya'

Aku kemudian membuka laptop dan memeriksa arah dari solo menuju bukit Andong. Bergegas membeli logistik untuk 2 hari camping. Tidak lama, semua perlengkapan sudah siap. Bermodalkan google maps dan sedikit tekad menghapus luka, perjalanan pun di mulai.
..
Aku berhenti di depan rumah sederhana, terlihat beberapa orang sedang duduk di kursi kayu tua. ditemani secangkir kopi, dan sebatang rokok. Aroma manis tembakau menyeruak saat langkahku mendekat.

'sore mas. Apakah benar ini jalur menuju pendakian bukit Andong?'

'sore sore.. nggih mas. betul, tp belum dibuka untuk umum' sahut salah seorang pemuda diantara mereka.
'masnya darimana?'

'saya dari solo, lumayan 2.5 jam naik motor sampai sini'

'wah jauh juga. Masuk dulu mas, ga enak masa diluar. Biar ngobrolnya enak'

'oh, makasih mas.'

keramahan hangat dari pemuda desa menyambutku di ujung kota Salatiga. kesederhanaan yang sudah mulai pudar terutama di kota besar.

seorang ibu paruh baya keluar dari pintu dapur membawakan 2 cangkir kopi dan cemilan khas daerah kopeng.

'suwun nggih bu'

'monggo mas, di sambi'

'jadi merepotkan'

'ga apa mas, sudah biasa disini sering ada tamu' senyum si ibu.

'Fadlan. Mas ?' pemuda tadi menjulurkan tangan sambil menyebutkan nama.

'Arjuna. Panggil saja Nuna' jawabku dengan tegas.

'Tau tempat ini darimana mas? Mau rokok ?'
sambil mengambil gulungan tembakau, melinting nya di atas kertas papir, lalu memberikan sejumput cengkeh kering.

'maaf mas Fadlan, aku ga merokok, makasih. Mmh, aku ga tau harus mulai darimana, tetapi yang pasti, dari salah satu temanku di Solo'

'belum banyak orang yang tau tempat ini' dengan tangan memegang rokok lintingan, dan menghembus nafas penuh asap ke arah langit-langit.

'Tetapi di kalangan mahasiswa, tempat ini cukup terkenal. Mungkin karena hutannya, alasan mereka semua sama, yaitu untuk melakukan penelitian'
Menjentikan rokok yang sudah mulai berabu di atas asbak.

'aku bukan mau penelitian kok mas, aku cuma kebetulan saja ingin ke tempat yang senyap'

'sendiri ?'

'ada yang salah dengan 'solo hiker' alias pendaki yang selalu menyendiri?'

'haha. tidak mas, cuma tidak biasanya saja kami mendengar pendaki sendirian'

'oh iya mas. Mungkin beberapa bulan lalu ada mahasiswi penelitian disini?'

'setiap bulan pun ada. kenapa?'

'ngga mas. Mungkin masnya kenal sama temenku. Dia cewek sih, tingginya sepundakku, berjilbab, selalu menggunakan jaket jeans saat di lapangan'

'sebentar coba aku ingat. punya nama ?'

'Rengganis'

'a...' belum beres Fadlan berbicara. Tiba-tiba berlari seorang gadis remaja, yang ternyata sedari tadi menguping di balik pintu kamar.

'Rengganis? kakak tadi bilang Rengganis?'

'ii.. iya' aku menjawab dengan terbata.

'berarti kakak... Kak Arjuna??' sahut gadis itu bersemangat.

'...' aku hanya mengangguk.

'akhirnya! a..ku punya..'

'KEMALA! Ga sopan kamu..' Fadlan bernada agak tinggi.

'ih mas Fadlan galak !' raut wajah lala (nama panggilan dari Kemala) langsung berubah.

'yang sopan kalau sama tamu'

'aku terlalu senang mas, akhirnya yang aku tunggu datang juga'

'maksudmu ?'

'Ssst.. ini urusan aku sama Kak Arjuna'
sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
'Ayok Kak Arjuna, ikut lala, kita pergi jauh-jauh dr Monster Tembakau' Tanpa canggung, lala kemudian menarik erat tangan nuna.

aku tidak tahu apa yang spesial dari Kemala. Hanya saja, dia yg sangat energic dan ramah, mengingatkanku dengan Rengganis. Aku sedikit terhipnotis, tanpa pikir panjang, tanpa pamit, aku mengemas barang dan ikut kemana kaki Kemala melangkah.

'mau kemana dek?' tanyaku.

'ke tempat favoritnya kak Anis'

'ha? kamu kenal Anis?'

'hmm.' sambil tersenyum.

'bisa sih?' aku masih terheran-heran.

'aku dan kak Anis sama kak. Kita berdua menyukai ketinggian.'

'jadi?'

'Dulu sewaktu Kak Anis dan kawan-kawan ke desa ini, mereka meminta izin ke ayahnya mas Fadlan. Beliau adalah yang tertua disini, setiap yang akan melakukan kegiatan di bukit Andong, semua harus se izin si mbah'

'itu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kalian bisa kenal?'

'saat itu malam cukup larut, kak Anis dan kawan-kawan terlihat cukup kelelahan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di tempat si mbah. Karena tempatnya cukup kecil, akhirnya Kak Anis aku ajak menginap di rumahku..'
'eh kak, itu di depan sana, sebentar lagi sampai' tunjuk lala.

Langkah kita berhenti berderap sesaat setelah sampai di ujung jalan yang di naungi pohon pinus. Terdapat gubuk tua tempat istirahat pencari kayu bakar, mengarah pada sebuah lembah. dari situ, seluruh pemandangan eksotis desa sawit terlihat. Aku kemudian meletakkan tas carier, menghirup nafas dalam-dalam, memejamkan mata, dan merasakan energi positif hinggap di sekujur badan.

'cantik ya viewnya kak? sama seperti Kak Anis'

'haha. Bisa saja kamu dek. Memang Kak Anis cantik ?'

'Bukan hanya cantik. Kak Anis juga pintar, pecandu ketinggian, terutama.. dia juga ternyata romantis.'

'Tahu darimana rengganis itu romantis atau ngga'

'yakin mau tau kak??'

aku sudah tau Rengganis adalah sosok yang romantis 'dengan' cara dia sendiri. Bukan type wanita yang setiap saat mengumbar kemesraan dengan pasangan, atau menuliskan kata mutiara dari penulis ternama di media sosial.
.
ruang dan waktu terhenti sejenak. imajiku kembali berseluncur ke masa lalu.
.
Selepas minggu penat aku melalui Ujian Kompetensi (saat itu UNS tidak mengenal Ujian Semester). Kau yang tiba-tiba berdiri di arah pintu keluar Gedung 3 Fakultas Teknik.

'Anis ??????' tanyaku terheran.

'Hiii...' dengan senyum terindah yang pernah dia lemparkan.

'bukannya kamu sedang.. ??'

Anis membisikan sesuatu ke telinga Nuna.
'Selamat ulang tahun..'

Pernahkah membeku karena cinta? atau lupa caranya untuk mengucap dan tidak percaya bahwa kenyataan lebih indah dari mimpi ? itulah yang Arjuna rasakan.
.
.
'Kak? kak? Sudah melamunnya?' Tepukan lembut mendarat di pundak nuna.

'ah.. Maaf, aku terbawa suasana.'

'ingat siapa? kak Anis ya? '

'ga ada wanita lain di lamunanku dek.'

'Benar juga ya yang ada di buku ini, kakak memang orangnya sedikit gombal.' sambil memegang sebuah buku kecil berwarna merah muda.

'buku apa??' lagi-lagi aku dikejutkan oleh lala.

'aku tidak sengaja membaca isi dari buku ini kak.'

'hei tunggu dulu, buku itu milik Anis ?'

'yup. Betul kak. Makanya waktu kakak menyebutkan 'Rengganis' di ruang tamu tadi aku langsung lari ke arah kakak, aku teringat buku ini. Selain itu, aku penasaran dengan sosok Arjuna yang berhasil menaklukkan Rengganis.'

'jadi sekarang udah ga penasaran lg? '

'hehe.. aku punya segudang pertanyaan buat kakak.'

'aku boleh pinjam bukunya? '

'mmh.. mmh.. ga perlu pinjam. aku memang menunggu kakak buat ambil buku ini'

'menunggu? berati kamu sudah tau aku akan datang kesini?'

'kak Anis pernah janji, dia bakal balik lg ke andong. Kata dia di bulan Desember akan membawa 'Arjuna'nya ke bukit ini lagi.'

'aniversarry...' gumam nuna dengan halus.

'apa kak?'

'gpp dik. lanjut.. '

'mana kak Rengganis sekarang?'

'aku sama tidak tahunya denganmu dik..' menghela nafas.

'jd dia ga kesini kak?'

'aku mengharapkan dia kesini, tidak tahu kalau tuhan punya rencana lain'

'hubungan kalian baik-baik saja kan?'

'sudah seberapa jauh kau membaca buku itu?' Nuna berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

kemudian lala duduk di gubuk, sambil mengayunkan kaki.
'belum semuanya, aku hanya mencari cara mengembalikan buku ini ke kak Anis. Pada bagian akhir lembaran, tertulis.

'If you ever found this book. Please give it back to Rengganis or Arjuna'


ya aku pikir, toh kak nuna dan kak anis bakal dateng kesini lg, jd aku tunggu aja.'

'terus kamu percaya begitu aja?'

'aku melihat mata kak Anis penuh rasa bahagia ketika dia bilang akan mengajak Arjunanya. Ga ada alasan dia untuk berbohong'

'Anis memang tidak pernah berbohong'

'nah iya kan? kakak jg setuju.'

'Oke deh. Sepertinya aku sudah cukup mengerti. Ngomong-ngomong, arah pendakiannya kemana ya? '

'Kakak mau berangkat sekarang?'

'iya, matahari sudah mulai condong ke barat. aku ga mau kemalaman di jalan'

'ikuti jalan setapak ini saja kak, ini jalan potong menuju jalur pendakian, nanti kakak tinggal ikuti jalur yang menanjak saja, hanya ada 1 jalur, tidak mungkin tersesat.'

'kamu mau ikut?'

'boleh, tp aku takut Kak Anis marah. jadi, kakak sendirian aja ya. hehe'

'haha. dasar kau ini dek. Ok deh. Salam buat mas fadlan ya.'

'oke kak. hati-hati ya. Sampai jumpa besok'

Arjuna kemudian mengambil buku dalam tasnya dan mengusapnya dengan pelan. Lembar pertama ia kibas, 'LOG BOOK' sebuah tulisan tangan dari anis menghiasi lembar pertama buku itu.

Matanya tertuju pada salah satu halaman di buku itu, berjudul 7°23′ LS 110°22′ BT. Dia ingat betul bahwa itu ada koordinat dari tempat dia berdiri sekarang.

-End-

Previous Episode - 1. The Calendar
Next Episode - 3. Langit Selatan
Diubah oleh riissallele
profile-picture
tikusil memberi reputasi
1 0
1
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
31-05-2018 21:18

LANGIT SELATAN

LANGIT SELATAN


Dear Arjuna,

Kali ini aku harus berpetualang ke sebuah bukit di daerah magelang. aku tau kau selalu khawatir kalau aku pergi ke lapangan. Tenang saja, aku selalu di kawal kawan-kawan yang mengagumkan. ada bang ical yang siap melumat semua monster yang mendekatiku. dan jangan lupa, ada asna yang selalu siap siaga dengan segudang obat dan pengetahuan survival jika ada hal buruk menimpa saat kita bertualang.

kau sudah bertemu dengan bang ical kan?
kalau sudah, kamu berarti udah ga berhak cemburu lagi.
kalaupun aku ada niat selingkuh, dia orang terakhir yg aku pilih. Rambut gondrong nya aja udah bikin semua cewek takut, lagipula, dia ada rasa sama Asna.


...

Aku sedang bersandar di pohon pinus yang memang mewarnai perjalanan di awal pendakian bukit andong. Teringat kita pernah bertengkar hebat, karena hal sepele dan bodohnya lagi itu semua adalah salah paham.

ketika itu aku memergoki mu sedang asik ber'duan dengan bang ical. parahnya lagi, kalian berada di cafe tempat kita selalu menghapus rindu. aku datang menggebrak meja kalian, melemparkan minuman ke arah bang ical, dan mendaratkan pukulan tepat di pelipis kanannya.

seraya bang ical tersungkur, aku menatap tajam ke arah matamu yg masih terbelalak.

'pantas kau bertingkah aneh akhir-akhir ini !'

'nuna.. kau kenapa?! dia bang ical, kawanku.'

'aku tidak butuh penjelasan !'
'selamat tinggal'

'nuna, tunggu dulu'

'fuck off!'

aku kemudian pergi meninggalkan mereka berdua, dengan hati terbakar dan emosi terhunus.

sesampainya di indekos, aku memeriksa smartphone yang sedari tadi tidak berhenti berdering. semuanya hanya dari seorang gadis menyebalkan dan misterius, "Rengganis".

beberapa hari kemudian, di pagi hari bersambut rintik hujan, saat mentari terlambat datang. Kembali smartphone ku berdering, lagi-lagi namamu tersemat di layar.

'Nuna.. masih marah ?'

'...'

'keluar sebentar, aku di depan pagar indekosmu, kali ini aku sedang ditemani sang hujan, mau gabung?'

aku bergegas ke arah pintu pagar kos, membuka kunci, terlihat sesosok gadis dengan jilbab basah, beralaskan sepatu kets, terparkir di sampingnya motor berwarna merah. aku kemudian melihat senyum Anis menyeruak dari bibir tipisnya.

'kesini sebentar...'

aku berjalan perlahan mendekati Anis.

'Plak !!!' Suara tamparan dari Anis mendarat tepat di pipiku, menggelegar mengalahkan petir yang menyambar sedari shubuh.

'itu untuk mengabaikanku selama 3 hari ini'

kemudian air matanya mulai menetes, lengannya terbuka, memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku.

'maafkan aku, semuanya bukan seperti yang kamu kira.' sambil menangis tersedu.

aku menegakkan sandaran anis, sambil menyeka air matanya.
'sudah, aku paling tidak suka melihat kamu menangis'

Jemari Anis mencengkeram semakin kuat, dan menumpahkan semua rasa sedihnya bersamaan dengan hujan pagi itu. Nuna pun mendekap Anis dengan lembut, mereka berdua hanyut bersama air hujan dalam pelukan.

'coklat hangat untukmu'

'terimakasih'

'siapa yang mengajarkan mu untuk bertingkah konyol sepagi ini?'

'kamu'

'ish.. bagaimana kalau aku sedang tidak di sini?'

'aku tau kamu ga akan pergi kemana-mana tanpa pamit..' sambil anis tersenyum dan meminum secangkir coklat hangat.

'dasar gadis menyebalkan!'

'tetapi, kau tetap menyayangiku kan? seberapa menyebalkan dan menjengkelkan diriku?'

'harus aku jawab ?'

'tidak usah, aku sudah tau jawabannya' kemudian menaruh cangkirnya di meja dan berdiri.

Sekali lagi, Anis mendekap Nuna.
'jangan pernah menghilang lagi, aku mencintaimu'

'maafkan aku sudah mengabaikan mu beberapa hari ini'

'kamu masih mau mendengar penjelasan yg kemarin ?'

'tidak perlu, tidak ada gadis yang selingkuh, kemudian rela berkawan dengan hujan dan mendatangi pasangannya di pagi hari'

'Rengganis' sesosok gadis yang mampu memutar balikkan duniaku. bahkan ketika semesta salah, pada akhirnya aku yang harus meminta maaf.

..

Angin berhembus, mendesis di antara dedaunan runcing pohon pinus.
Seberapa besar rasa rinduku? aku bahkan merindukan tamparan kerasmu di pagi hari. jika saja waktu bisa di putar balik, aku tidak akan sampai tega membuatmu menangis.

Langkahku kembali menapak ke jalan berpasir bukit Andong, begitu pula lembaran surat dari Anis yang tertata rapi dalam sebuah log book terus aku jejaki.

...

'aku lebih sering bertemu dengan bebatuan di banding kamu. tetapi nilai tambahnya, aku ga mungkin berbuat macam-macam, beda dengan kamu yang setiap hari melihat cewek cantik. Aku tau Putrie dari yoga lho, cantik mana aku sama dia? ha?.
Tetapi aku percaya kamu kok, kita sama-sama berjuang. apa lagi yang bisa membuat kita bertahan selain rasa percaya?

Aku mulai menulis surat 'rahasia' ini sejak aku bertemu denganmu. Kita sering terpisahkan oleh jarak, aku benci itu. Di tempat seperti ini (hutan) tidak ada sinyal, sehingga satu-satunya cara untuk meredakan rinduku adalah dengan menulis. Aku tidak pernah tau kapan petualangan ku ini berakhir buruk, setidaknya aku punya catatan tentang mu selama perjalanan ku.'

..

Puncak bukit Andong sudah mulai terlihat, aku mempercepat langkah agar tiba sebelum malam. Bukan karena aku takut kehilangan mentari, tetapi ada sesuatu yang datang ketika malam tiba. Aku tidak mau bertemu dengan mereka para 'The Unseen' saat tubuhku dalam kondisi kelelahan.

sesampainya di puncak, jam tangaku menunjukkan pukul 16.15. Masih cukup waktu untuk mendirikan tenda dan memulihkan stamina sebelum malam menjemput.

Sayangnya sore itu berkabut, angin pun bertiup dengan cukup kencang sehingga pemandangan yang aku harapkan sirna. Aku terpaksa berdiam di dalam tenda, menyalakan headlamp dan memanaskan makanan yang sudah aku siapkan. sambil mengisi perut, aku meneruskan membaca surat 'rahasia' darimu.

..

'aku ingin marah, sudah capek ambil sample, tapi semua datanya hancur karena kertasnya terkena hujan deras sore itu. Aku menyalahkan semuanya karena tidak membawa cover anti air untuk menaruh kertas, kata ramalan cuaca hari ini akan cerah. Sejak kapan ramalan cuaca di negri kita bisa di percaya??

hujan mereda, bergantian dengan lembayung memaksa untuk memamerkan jingganya. kami bertiga memutuskan bermalam di bukit ini, biar besok paginya bisa meneruskan mencari sample untuk kebutuhan praktikum dan tidak harus mendaki dari bawah lagi. bang ical menggunakan hammock. Aku dan Asna membawa tenda kecil ultralight.

selepas memberi makan cacing cacing di perut. Asna mengajakku berjalan sedikit ke atas, yang kemudian aku sadari bahwa itu adalah puncak dari bukit Andong. Aku terdiam dan tertegun, ketika menyaksikan betapa indahnya tempat ini. Aku sudah sering naik-turun gunung, tapi puncak ini begitu magis. '


..

Aku mengintip dari pintu tenda, memeriksa apakah cuaca sudah membaik. Di ketinggian seperti ini, semuanya cepat sekali berubah, kabut tadi sore tiba-tiba menghilang. Dari kejauhan, gemerlap lampu kota bertaburan bagai bintang. Di puncak bukit, aku meneruskan membaca paragraf terakhir dari suratmu.

..

' 'Arjuna' aku ingin kau disini sekarang juga, menemaniku duduk menikmati rasi bintang. Akhir-akhir ini kau sangat sibuk, sesekali perhatikan lah 'gadismu' ini, aku punya segudang keluh kesah yang mau aku ceritakan. Cobalah melangkah dari penat kuliahmu, ada aku diluar sini. Aku bisa melenyapkan lelahmu, mengembalikan senyumanmu.

Aku punya hadiah spesial di Desember nanti. Letaknya ada di langit selatan di samping Orion. Dia berasal dari masa lalu, bahkan lebih tua dr semua manusia yang menghuni Bumi. Aku menyukainya karena dia setia datang di desember, aku ingin kamu seperti dia, 'Geminid'

Love You.
Rengganis.'


..

Arjuna yang kala itu sedang duduk menggenggam logbook Rengganis, perlahan berdiri dan menengadahkan kepalanya ke arah langit selatan.
1.. 2... kemudian puluhan asteroid menghujani bukit Andong Desember malam itu.

'Cantik.... Wish you were here Rengganis' Nuna terpukau memaku.

'aku tau kau menyembunyikan sesuatu. Kau tidak mungkin melakukan hal menyakitkan ini. Apakah sekarang kau sedang mengajariku untuk bertahan hidup? atau membunuh secara perlahan? keduanya samar, seperti kamu yang nyata berubah menjadi imaginer dan tak terdefinisi.'

Harapanmu sudah terwujud
'aku sama dengan Geminid, terbakar menghantam bumi.'

'Namun.. Terimakasih, atas hadiahmu di malam ini. Happy 2nd Anniversary'

Arjuna menutup logbook itu, membuka pintu tenda. Beristirahat, berharap Desember segera berakhir.

-End-

Previous Episode - 2. Jejak
Next Episode - In Progress
Diubah oleh riissallele
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan tikusil memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
01-06-2018 21:25
Nenda dulu bang
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
02-06-2018 02:09
lawu ya? jadi inget pertama nanjak di lawu juga.
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
02-06-2018 03:01
Mantab gan, ijin nenda
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
02-06-2018 23:22
Quote:Original Posted By phetotmania
Nenda dulu bang

monggo, sambil nunggu yang the unseen.

Quote:Original Posted By titahbayu
lawu ya? jadi inget pertama nanjak di lawu juga.

lawu pas pertama kali sama doi (nanti ada ceritanya). kalau yang ini andong.

Quote:Original Posted By tatax13
Mantab gan, ijin nenda

silahkan. bintangnya jngn lupa
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
03-07-2018 23:14
Lanjutken gan
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
16-09-2018 18:48

JANUARI

JANUARI

Matahari menembus celah jendela di kamar indekos nuna. Terdengar jelas suara gemerik sapu lidi si mbah depan indekos diiringi radio bersuarakan lagu jawa. Nuna menyibak rambutnya yang semakin gondrong, sekarang sudah tidak ada lagi yang cerewet untuk meminta bercukur.

di pagi hari yang cerah itu, nuna ditemani secangkir kopi, sebenarnya perut dia selalu tidak bersahabat sehabis meminumnya. Namun..

Pagi itu berbeda. sambil memegang logbook Rengganis di tangan kiri, ia melangkah ke depan pintu dan berdiri di samping pohon mangga yang cukup rindang. Pandangannya terpaku pada tulisan di logbook itu.

Dear Arjuna

Aku ingin bercerita sedikit tentangmu boleh?
kamu ingat kapan pertama kali kita pergi berdua? aku tersudut di kedai kopi kecil sekitaran UGM, menunggu dirimu datang. Aku tidak tahu kenapa saat itu meng'iya'kan permintaanmu untuk bertemu atau mungkin berkencan. Lucunya lagi, aku seakan benar-benar mendambakanmu untuk cepat hadir di kedai itu. Setiap kali pintu kedai dibuka, terdengar suara bel kecil, dalam hati kecilku, aku berharap kamulah yang bertanggung jawab membuat belnya bersuara.

di tengah resahku, datanglah seorang pria gondrong. Dia kemudian menyeka rambutnya, menarik kursi, dan meletakkan kunci motornya yang penuh dengan gantungan aneh. lalu dengan santainya dia bilang..

'sudah lama?'

'belanda sudah lama menyerang, dan kamu baru datang' jawabku ketus.

'haha.. ke lantai 2 yuk, kayanya tidak terlalu ramai'

'which one?' tanya si pria gondrong, sambil menyodorkan menu.

'aku suka cappucino, kamu?'

'aku mau coba Toraja espresso'

'yakin?'

'memang kenapa?'

'mmmh.. nothing sih. Tp.. oke deh, never mind'

sambil menunggu pesanan datang. Aku mengutarakan isi hati yang sedari tadi mengganjal.

'Nuna!! Aku ga suka liat kamu yang gondrong gitu, serem tau. Aku td mengira kalau kau itu adalah penculik.'

'kalau benar aku penculik, kau mau apa?'

'oh jadi ga mau potong rambut?'

'kalau jawabannya 'ga mau' ?'

'oh begitu, yaudah besok aku ga mau ketemuan lg'

'haha.. iy iya, besok aku aku potong rambut. sampe botak, biar kamu ga takut lagi.'

'nah gt dong'

'puas??'

aku mengangguk.
'BANGET!!'

Tidak lama pesanan mereka berdua pun datang.

Pesanan si cantik, datang dengan lathe art berbentuk bunga selada air, kata yg bikin, biar hubungan mereka bisa beruntung dan sampai ujung waktu.

Pesanan si gondrong, datang dengan cangkir kecil, kopi hitam pekat. Disertai 1 cup kecil gula cair.

'kenapa kamu memandangi cangkir itu dengan aneh?' Tanya anis.

'Tidak apa2'

'Nikmati dl aromanya, terus coba seteguk'

'pppft... Kok pahit?'

'ha? maksudmu? jelas lah pahit, yang kau pesan itu espresso.'

'memangnya berbeda ?'

Anis pun tertawa lebar melihat tingkah laku Nuna yang gagal sok keren di depan dirinya senja itu. Suara tawa renyahnya memantul di setiap pojokan kedai kopi kecil itu.

'minum punyaku, biar rasa pahitnya hilang'

'boleh ?'

'boleh lah, kenapa tidak. lain kali jangan sok tau ya, makanya aku kaget kok kamu berani pesan espresso.'

'ini pengalaman pertamaku ke kedai kopi..'

'hahaha... dan ini adalah hr pertama kita berdua, sementara kau gagal keren'

-END-
profile-picture
tikusil memberi reputasi
2 0
2
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
16-09-2018 18:49

DAN

DAN

Aku pernah gagal, bahkan sering. Aku pernah gagal 11 kali sebelum akhirnya bisa diterima di tempat kuliahku yang sekarang. Aku juga pernah gagal saat menjadi pemimpin di sebuah kegiatan di kampus. Gagal saat jadi tim Olimpiade, gagal saat dipercaya membela nama baik SMA (sewaktu dl). Bahkan, sekedar menjadi ketua Himpunan di jurusan saja aku gagal.

seorang bijak pernah berkata.

'kalau kau ingin sukses, habiskan jatah gagalmu'

Tp buat urusan cinta dan perasaan, aku tidak mau terlalu banyak gagal. Apakah aku takut? bukan itu.
Soal perasaan ini berat, belum lg aku yang sangat tidak mudah melupakan seseorang. Sampai detik ini, aku masih ingat isi pesan dari pria yang kau sebut dengan kawan dekatmu itu. lebih dari itu, kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga aster, di tempat kau dan dia asik bermesraan pun aku masih mengingat warna sayapnya nya dengan baik.

Perpisahan adalah hal yang paling tidak mengenakan. Sejahat apapun dirimu, aku pernah berjuang mati-matian memeluk hatimu. Menunggu kabar darimu yang seharian entah menghilang kemana, lalu kau berkalakar bahwa smartphonemu tertinggal. Mungkin kau lupa aku bisa tahu kebohonganmu hanya dengan melihat lirik matamu?

Pada diriku yang lain, aku tidak percaya bahwa kamu melakukan semua ini. Separah itukah dirimu?

Lalu...

Kamu berbicara panjang lebar, kepalaku hanya menengadah ke angkasa. Telingaku enggan mendengar semua celotehan yang keluar dr mulutmu. Tidak ada alasan yang perlu kamu bicarakan lagi.

hanya satu penggal kata yang terdengar dan terekam dalam kepalaku..

'Aku ingin kita udahan....'

Aku tidak tahu harus menjawab apa, semua rasa kecewa terkumpul di detik itu. Aku berusaha menghapus bayangan masa depan yang aku impikan bersamamu.

Aku menegakkan sandaran, menggeser kursi.

'Ok.....'

Aku bergegas menghilang dari cakrawala. Kembali ke lembayung senja tempat aku bersemayam.

Kemudian..

Kau pun datang dari ufuk timur bersanding dengan matahari. Tiba-tiba kau berada dalam horizon, sejajar dengan hati yang sedang patah. Kau ambil sisa hati yang porak poranda, memasukkan nya ke dalam kotak pandora. Kau adalah wanita pertama yang berhasil membuatku lupa bahwa sedang terluka.

Dan..

Aku mohon kembali lah. Sudut lembayung itu gelap, aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Aku terjebak di dalam kotak pandora, harus kemana lagi aku mencari kunci untuk membukanya kembali?

-END-
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan tikusil memberi reputasi
2 0
2
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
23-09-2018 21:16
Lanjutkan om
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
02-03-2019 21:27
the unseen eps4 ga dilanjut gan...
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
13-03-2019 14:12
ane gagal paham gan, putus gegara apa.
mungkin gara2 ceritanya belom kelar kali ya emoticon-Big Grin
0 0
0
Project 'The Illogical' - A side 'Romance' story from Project 'The Unseen'
06-04-2019 21:45

JANUARI

JANUARI


Matahari menembus celah jendela di kamar indekos nuna. Terdengar jelas suara gemerik sapu lidi si mbah depan indekos diiringi radio bersuarakan lagu jawa. Nuna menyibak rambutnya yang semakin gondrong, sekarang sudah tidak ada lagi yang cerewet untuk meminta bercukur.
di pagi hari yang cerah itu, nuna ditemani secangkir kopi, sebenarnya perut dia selalu tidak bersahabat sehabis meminumnya. Namun..
Pagi itu berbeda. sambil memegang logbook Rengganis di tangan kiri, ia melangkah ke depan pintu dan berdiri di samping pohon mangga yang cukup rindang. Pandangannya terpaku pada tulisan di logbook itu.

Dear Arjuna,


Aku ingin bercerita sedikit tentangmu boleh?

kamu ingat kapan pertama kali kita pergi berdua? aku tersudut di kedai kopi kecil sekitaran UGM, menunggu dirimu datang. Aku tidak tahu kenapa saat itu meng'iya'kan permintaanmu untuk bertemu atau mungkin berkencan. Lucunya lagi, aku seakan benar-benar mendambakanmu untuk cepat hadir di kedai itu. Setiap kali pintu kedai dibuka, terdengar suara bel kecil, dalam hati kecilku, aku berharap kamulah yang bertanggung jawab membuat belnya bersuara.
di tengah resahku, datanglah seorang pria gondrong. Dia kemudian menyeka rambutnya, menarik kursi, dan meletakkan kunci motornya yang penuh dengan gantungan aneh. lalu dengan santainya dia bilang..

'sudah lama?'

'belanda sudah lama menyerang, dan kamu baru datang' jawabku ketus.

'haha.. ke lantai 2 yuk, kayanya tidak terlalu ramai'

'which one?' tanya si pria gondrong, sambil menyodorkan menu.

'aku suka cappucino, kamu?'

'aku mau coba Toraja espresso'

'yakin?'

'memang kenapa?'

'mmmh.. nothing sih. Tp.. oke deh, never mind'

sambil menunggu pesanan datang. Aku mengutarakan isi hati yang sedari tadi mengganjal.

'Nuna!! Aku ga suka liat kamu yang gondrong gitu, serem tau. Aku td mengira kalau kau itu adalah penculik.'

'kalau benar aku penculik, kau mau apa?'

'oh jadi ga mau potong rambut?'

'kalau jawabannya 'ga mau' ?'

'oh begitu, yaudah besok aku ga mau ketemuan lg'

'haha.. iy iya, besok aku aku potong rambut. sampe botak, biar kamu ga takut lagi.'

'nah gt dong'

'puas??'

aku mengangguk.
'BANGET!!'


Tidak lama pesanan mereka berdua pun datang.
Pesanan si cantik, datang dengan lathe art berbentuk bunga selada air, kata yg bikin, biar hubungan mereka bisa beruntung dan sampai ujung waktu.
Pesanan si gondrong, datang dengan cangkir kecil, kopi hitam pekat. Disertai 1 cup kecil gula cair.

'kenapa kamu memandangi cangkir itu dengan aneh?' Tanyaku

'Tidak apa2'

'Nikmati dl aromanya, terus coba seteguk'

'pppft... Kok pahit?'

'ha? maksudmu? jelas lah pahit, yang kau pesan itu espresso.'

'memangnya berbeda ?'

Aku pun tertawa lebar melihat tingkah laku Nuna yang gagal sok keren di depan dirinya senja itu. Suara tawa renyahnya memantul di setiap pojokan kedai kopi.

'minum punyaku, biar rasa pahitnya hilang'

'boleh ?'

'boleh lah, kenapa tidak. lain kali jangan sok tau ya, makanya aku kaget kok kamu berani pesan espresso.'

'ini pengalaman pertamaku ke kedai kopi..'

'hahaha... dan ini adalah hr pertama kita berdua, sementara kau gagal keren'



Hari itu hanya ada kuliah 1 SKS, Arjuna, Yoga, dan Asna berkumpul di kantin Fakultas Teknik sepulang menghadiri kuliah.

'dapet apa lu pulang dari Andong ?'

'ga dapet apa-apa'

'serius lu? ga ada kabar soal Anis'

'ada sih, tp malah bikin semuanya makin pelik'

'yah idup lu kl ga soal patah hati, isinya cuma remedial ujian.'

'kampret lu...!!'

Di tengah percakapan Nuna dan yoga, datanglah seorang 'perempuan' setengah laki-laki.

'halo halooo... wah kacau hari ini, aku udah janjian sama pak dosen, malah ditinggal pulang. asem..'
sambil melempar tas jinjingnya ke atas meja.

'wah dateng ni ratu gosip tekkim...' ketus yoga.

'diem lu yog..!'

'nuna.. gimana skripsi mu? '

'gue lagi ga mood ngomongin itu..'

'Asna, temen kita ini lg patah hati, dia cuma pengen ngomongin Rengganis. bukan yang lain, ngertiin dikit kek. '

'Ya ampun, Rengganis lagi Rengganis lagi'

'kamu ada kabar soal dia ga ngomong-ngomong?'

'Aku udah lama ga kontak dia, kenapa sih emang? Kenapa ga kamu telpon aja sih? '

'Udah yaa, beberapa minggu ini nomernya selalu ga aktif'

'Dari pertama kali kenal dia emang penuh misteri sih ya, takluknya cuma sama kamu aja nuna. Satu-satunya orang yang paham keadaan dia sekarang ya cuma kamu'

'Dia tiba-tiba menghilang, aku udah coba kontak orang tuanya jg. Ga tau kenapa mereka semua terkesan menutupi keberadaan Rengganis. Gue kenal banget Rengganis, dia ga mungkin kaya gt, sehari ga gue WA aja bisa mencak-mencak. Lah ini udah 1 bulan lebih ga ada kabar'

'Terus apa yang kamu lakukan buat mencari dia?'

'Nih.. gue cuma punya ini' Menyodorkan logbook Rengganis.

'ini dapet darimana?'
'ini dapet darimana?'
Tanya Yoga dan Asna berbarengan.

'santai kali, ga usah bareng gt jg tanyanya. Gue dapet dr basecamp Andong kemaren.'

'udah lu baca isinya ?' yoga

'sebagian sih... makin jauh gue baca, makin kangen sama dia asli'

'apa sih isinya? ' tanya asna

'buat gue sih, ini lebih ke logbook, ada beberapa arsip perjalanan selama dia pergi ke lapangan'

'ah iya, gue baru inget dia anak geologi ya ga sih?'

'iya..'

'gue baca ya? '

stt... arjuna mengambil bukunya dengan cepat.

'ga ada yg boleh baca selain gue'

'buset deh lu..'

'gue ceritain aja, di salah satu logbook ini, tertulis alasan gue ke andong kemaren. Bahkan Rengganis sendiri yg emang pengen ngajak gue kesana.'

'jadi?' tanya asna
.
'dia sepertinya udah tau bahwa dengan atau tanpa dia ada disana. gue akan tetep ke andong.'

'jadi dia yang bikin semua alur cerita ini?'

'gue belum bisa menyimpulkan, tp sepertinya begitu. Dia mau gue mengetahui sesuatu yg di ga sanggup bilang'

'cerita lu mirip di novel cinta, parah'

'haha... gila lu ya, mana ada cinta-cintaan harus melintasi gunung'

'na, lu ada waktu kosong ga?'

'tergantung, kl gue ga lg bimbingan, gue free kok'

'gue mau kenalin lu ke salah satu temen yang ikut mawapres.'

'buat apa?'

'dia lagi bikin projek, unik sih menurut gue, judulnya PROJECTS THE UNSEEN. Ini kaya catatan perjalan gitu, keliling gunung di Pulau Jawa, tp yg di tulis lebih ke arah pengalaman mistis nya.'

'jadi gue disuruh jadi narasumbernya gt?'

'ya kan lu bisa liat mereka juga. Orangnya asik kok, dia pengen tau dunia mereka lebih dalam.'

'hmm.. oke deh'

-END-

Previous Episode - 3. Langit Selatan
Next Episode - In Progress

profile-picture
profile-picture
aan1984 dan tikusil memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
suami-gak-ada-akhlak
Stories from the Heart
sekar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
ranting-yang-patah
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia