Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
5696
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aa348cb6208816d548b4569/girl-im-your-future
 Di bulan Juni 2016... Adalah pertama kalinya gw membuat thread sekaligus cerita di forum terbesar se-Indonesia yaitu KASKUS. Berbekal keahlian menulis yang seadanya, gw memberanikan diri mempublikasikan cerita pengalaman hidup gw melalui sebuah karya tulis di salah satu subforum Heart to Heart (H2H) yang kita kenal dengan SFTH. Hasilnya sama sekali ngga g
Lapor Hansip
10-03-2018 09:54

Girl, I'm Your Future

Past Hot Thread

Girl, I'm Your Future

Girl, I'm Your Future

Girl, I'm Your Future


Girl, I'm Your Future



Prakata :


 Di bulan Juni 2016... Adalah pertama kalinya gw membuat thread sekaligus cerita di forum terbesar se-Indonesia yaitu KASKUS. Berbekal keahlian menulis yang seadanya, gw memberanikan diri mempublikasikan cerita pengalaman hidup gw melalui sebuah karya tulis di salah satu subforum Heart to Heart (H2H) yang kita kenal dengan SFTH. Hasilnya sama sekali ngga gw sangka. Cerita tersebut mendapatkan respon yang cukup baik, terbukti dari jumlah viewers yang mencapai 1,5 juta lebih dalam kurun waktu belum genap setahun. Ditambah apresiasi dari para pembaca yang terus berdatangan semakin membuat cerita ini terus berkembang hingga beberapa part lebih banyak dari yang sudah ditetapkan oleh gw sendiri. Bahkan ngga cukup sampai disitu, masih di tahun yang sama, pihak KASKUS melalui moderatornya pernah mengundang gw untuk hadir pada acara On Air disalah satu Radio. Dan, amazing!  Hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut gw. Tapi sayang beribu sayang, karena posisi gw saat itu berada diluar pulau untuk keperluan pekerjaan, akhirnya gw batal memenuhi undangan tersebut. Tapi ucapan terima kasih ngga akan pernah habis gw haturkan kepada KASKUS yang telah mengapresiasi karya seorang kaskuser merangkap penulis amatir seperti gw.


 Wew, ternyata menulis itu menakjubkan! Ngga hanya tentang merangkai kata demi kata, namun juga dari menulis, kita dapat menyampaikan apa yang kita rasakan dan apa yang ada pikiran kita kepada seluruh dunia. Seiring waktu berjalan, perbaikan demi perbaikan gw lakukan demi meningkatkan kualitas dari tulisan gw. Di KASKUS, gw pun ngga pernah segan untuk bertanya pada para penulis yang sudah malang melintang di dunia karya tulis. Beberapa dari mereka berbaik hati mau berbagi ilmu dengan gw. Lagi-lagi ucapan terima kasih gw haturkan kepada mereka yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk meladeni kecerewetan gw emoticon-Big Grin


  Disamping itu gw juga mau berterima kasih sama agan ini yang sudah bersedia me-reborn cerita gw yang sempat hilang dari peredaran dikarenakan satu dan lain hal emoticon-shakehand


 Thread ini berisi kelanjutan cerita dari yang sebelumnya berjudul Kesunyian Adalah Sahabat Terbaik



Girl, I'm Your Future




Girl, I'm Your Future

Girl, I'm Your Future



Girl, I'm Your Future

Girl, I'm Your Future




Girl, I'm Your Future




Quote:
DILARANG KERAS :

1. Mengcopy, menyimpan dan memperbanyak lalu mempublikasikan cerita ini untuk tujuan komersial atau demi keuntungan pribadi tanpa ada izin dari penulis yaitu gw sendiri inginmenghilang a.k.a Prima.

2. Mengcopy dan menyimpan lalu membelokkan (mengedit) isi cerita sehingga merubah esensi dari jalan cerita yang ada.

Mengabaikan peringatan diatas dapat dianggap perbuatan melawan hukum dan ada konsekuensinya. Poin diatas sewaktu-waktu dapat dirubah tergantung situasi dan kondisi.

Girl, I'm Your Future



Polling

Poll ini sudah ditutup - 231 Suara

Siapakah Wanita Yang Akhirnya Menjadi Pendamping Hidup Prima? 
60.61%
CItra
19.91%
Veren
5.19%
Cindy
4.33%
Noura
9.96%
Syamira
Diubah oleh inginmenghilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
vansshoesindo dan 67 lainnya memberi reputasi
64
Girl, I'm Your Future
02-08-2019 23:41
PART 51 : Area 51









Pukul 22.00 WITA

Quote:
"Em, yank.. kita ga harus begini. Untuk apa selama ini kamu berusaha menjaga kesucianmu tapi harus berakhir seperti ini?" Ucap gw.

Veren menghentikan aktifitasnya dan lalu menatap gw dengan seksama.

"Kalo gitu bawa aku pergi dari sini. Nikahin aku meskipun tanpa restu orang tuaku." Pinta Veren.

Dan gw pun kembali terdiam tanpa bisa memberi jawaban. Gw ga pernah nyangka Veren akan senekat ini. Veren yang gw kenal adalah orang yang penuh perhitungan sebelum bertindak atau melakukan sesuatu. Namun malam ini dirinya terlihat benar-benar tampak putus asa dan rela melakukan hal irasional.

"Nah, kan.. kamu emang ga punya keberanian untuk itu."

"Kasih aku waktu untuk memikirkan ini semua, ya.. aku.."

Belum juga gw selesai ngomong tapi tiba-tiba kemeja gw ditariknya dengan kuat. Kami berdua pun terbaring di ranjang empuk bernuansa putih. Posisi tubuh gw menindih Veren. Bibir merahnya yang merekah nan sensual terlihat sangat menggoda. Tatapan matanya yang syahdu mengisyaratkan dirinya sudah siap untuk dicumbu.

skip aja



Pukul 06. 00

Gw terbangun tiba-tiba. Tubuh ini terasa pegal dimana-mana karena efek pertempuran semalam. Tubuh Veren terbaring sambil memunggungi gw. Dengan perlahan gw memeluk pinggangnya dari belakang. Hangat tubuhnya begitu terasa karena sensasi kulit ketemu kulit. Karena kelelahan, kami berdua ga sempat memakai pakaian dan langsung terlelap dalam indahnya malam. Beberapa kali kami melakukannya secara bertahap sampai akhirnya gw bisa membenamkan si imron dengan utuh.

Baru aja mata gw akan kembali terpejam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu hotel dengan keras. Awalnya gw pikir room service tapi kenapa harus sepagi ini. Dan lagi kenapa harus ngetuk keras-keras ga ada sopannya. Perasaan gw pun mulai ga enak. Veren terbangun lalu menatap gw dengan raut wajah kebingungan.
Diubah oleh inginmenghilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hkm777 dan 45 lainnya memberi reputasi
46 0
46
Girl, I'm Your Future
01-07-2019 16:38


PART 47 : Evakuasi







Di penghujung tahun 2012


Pertama tiba di lokasi yang gw lihat hanya sebuah tanggul yang jebol berantakan. Seperti ada benda yang menghantamnya dengan keras. Beberapa orang berdiri di atas tanggul dan berusaha menjulurkan tali ke bawah. Seseorang terlihat bersiap untuk turun ke bawah. Gw memberhentikan LV tepat di depan tanggul. Secepat kilat gw turun dari LV dan berlari menaiki tanggul setinggi 1 meter. Dan setelahnya hanya pemandangan sangat mengerikan yang gw saksikan.

Sebuah truk terjun bebas ke bawah parit setinggi 10 meter dari hauling. Dari kerusakan terlihat cukup fatal, kabin truk ringsek menghantam pinggiran parit berupa tanah padat yang keras. Sekilas gw melihat tulisan "FUEL TRUCK" dengan jelas di bagian sisi tanki truk. Beruntungnya solar adalah jenis bahan bakar yang ga mudah terbakar seperti bensin. Sesaat gw terhenyak tapi bukan waktunya untuk berdiam diri. Seseorang pasti membutuhkan pertolongan di sana.

Beberapa orang yang tiba lebih dulu di lokasi kejadian adalah para mekanik yang kebetulan melintas. Kami berlarian mencari berbagai peralatan yang tersedia di LV untuk mempersiapkan evakuasi sembari menanti kedatangan tim ERT. Di bak belakang LV kami tersedia linggis, gada dan gulungan tali tambang. Dari LV mekanik, mereka menyiapkan kabel sling baja dan beberapa perkakas yang mungkin bisa berguna nanti. Gw melilitkan tali tambang ke tubuh sambil membawa linggis di tangan lalu bergegas menuruni lereng dengan kemiringan 45°. Yonathan dan lainnya sudah lebih dulu di bawah untuk mengecek kondisi sang driver. Gw terjerambab ke dalam lumpur sebatas lutut saat melewati aliran sungai yang tenang.

Aroma solar tercium cukup menyengat saat gw mendekati truk. Samar-samar terdengar suara orang merintih kesakitan. Suaranya begitu memilukan dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Gw berlari secepat mungkin ketika kaki mulai terbebas dari jebakan lumpur yang menghambat.

Seseorang terlihat terjepit diantara jok kemudi dan dashboard kabin. Usia korban sekitar 30an tahun. Yonathan berusaha melepaskan pintu kabin yang hampir terlepas. Gw aja sampe ga tau itu pintu mobil saking ga berbentuknya. Ingin rasanya gw memalingkan wajah karena ga kuat saat melihat kondisi sang driver, tapi gw harus tau kondisinya seperti apa. Ini bukan masalah kuat ga kuat.

Gw menyerahkan linggis pada Yonathan untuk mempermudah tugasnya. Setelah itu gw mengamati dengan seksama kondisi driver yang terjepit di dalam kabin. Salah seorang mekanik menyerahkan senter ke gw sementara dia mencoba mengecek kebocoran solar dari tangki. Gw baru sadar saat ini kami pun bekerja di bawah ancaman maut. Solar memang zat yang ga mudah terbakar tapi bukan berarti ga bisa menjadi pemicu ledakan.

Seorang mekanik berusaha melepaskan setir kemudi, mungkin maksudnya untuk memberikan ruang lebih banyak untuk korban, tapi gw menahannya..


"Sebentar, pak.. usahakan setiap pergerakan jangan sampai malah memperparah kondisi korban. Kita cek dulu bawahnya." Ucap gw sambil mengarahkan senter ke bawah dashboard. Sontak gw terkejut melihat kondisi kaki sang driver. Partikel tajam berasal dari dashboard menancap tepat di lututnya. Nafas gw tertahan sambil mengamati bagian tubuhnya yang lain. Jantung gw ga kuat, gw ga pernah diajarkan menghadapi situasi yang begitu ekstrim seperti ini.

Wajah korban mulai pucat, hanya mulutnya yang terlihat bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu. Entah apa yang sedang dia ucapkan gw sama sekali ga tau. Gw takut dia kehabisan darah.

"Ada air minum?" Tanya gw berinisiatif ke semua orang di sekitar.

"Ada di LV, saya ambil sebentar." Seorang mekanik segera berlari menuju ke atas.


Disaat seperti ini ingin rasanya gw mengumpat tim ERT dan medic. Hampir setengah jam belum juga ada tanda-tanda kedatangan mereka. Berulangkali gw monitor lewat radio jawabannya selalu sama yaitu siap berangkat. Gw dan yang lainnya ga berani bertindak tanpa ada orang yang lebih berkompeten. Tapi nyawa orang udah diujung tanduk. Akhirnya kami semua berembuk untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.

Dengan semua pengetahuan yang kami miliki dan setelah melihat situasi di tkp, kami memutuskan untuk mengevakuasi korban secepatnya. Tapi pertanyaannya, andaikata kami berhasil mengeluarkan korban dari kabin lalu bagaimana cara memperlakukan korban? Sementara kami ga didukung petugas dan peralatan medis yang memadai.

Ditengah kegusaran gw tiba-tiba terdengar samar-samar suara sirine di kejauhan. Perasaan lega datang menghampiri. Mungkin itu mereka pikir gw..


"Pak, jangan tidur.. usahakan tetap sadar. Sudah berapa lama bapak kerja di perusahaan ini?" Tanya gw bersemangat.

"Masa kamu nda kenal saya, Prim?" Ucapnya.

Gw pun tertegun. Dia kenal gw tapi gw ga kenal dia. Setelah gw amati wajahnya dengan seksama ternyata gw memang pernah liat bapak ini sesekali.

"Maaf, mungkin saya lupa. Nama bapak siapa?" Tanya gw.

"Rahmat.." Jawabnya pelan sambil meringis menahan sakit.

"Oh, iya.. Pak Rahmat. Lama kita ga jumpa, ya.." Ucap gw pura-pura inget. Padahal gw emang ga kenal sama dia. Tapi gw berterima kasih karna dia kenal siapa gw.

Dia hanya tersenyum kecil.

"Apa yang bapak rasain sekarang?" Tanya gw.

"Ka..kaki.." Ucapnya terdengar lirih.

"Sabar ya, pak.. sebentar lagi kita keluarkan bapak."


Disela-sela obrolan antara kami dan korban, akhirnya tim ERT dan medic datang bersamaan. Puluhan orang berlarian menuruni lereng terjal untuk mendatangi kami dan diantaranya berpakaian serba merah. Ada yang membawa tandu, sebagian lainnya membawa peralatan medis seperti tabung oksigen dan berbagai peralatan pendukung kehidupan lainnya. Ga berselang lama ambulan dan alat-alat berat untuk evakuasi berdatangan kemudian.

Kondisi korban semakin kritis. Dia mulai kehilangan kesadaran. Gw terus berusaha mengajaknya berbicara tapi jawaban yang gw dapat hanya rintihan pelan tak bertenaga. Rasa khawatir semakin mendera. Andai aja ada yang bisa gw lakukan untuk mengeluarkannya dari penderitaan ini, pasti gw lakukan, apapun..

Sambil meminta tim medis untuk lebih cepat, tanpa terasa gw meneteskan airmata. Gw ga tau kenapa bisa begitu, padahal gw ga kenal sama korban. Tapi perasaan ini sangat ga terima melihat kondisi korban seperti itu.

Ternyata jalannya evakuasi ga semudah yang gw kira. Berdatangannya tim ERT dan medic belum bisa mengeluarkan korban yang terjepit sesegera mungkin. Menurut tim medic, hal itu dikarenakan kesalahan kecil saat evakuasi korban bisa memperparah cedera sampai dengan kematian. Menangani korban kecelakaan ga sesederhana yang kita pikirkan. Salah penanganan bisa jadi membuat kondisi cedera korban semakin parah.

Kondisi korban sedikit terbantu dengan pemberian oksigen. Tim ERT masih berupaya untuk mengeluarkan korban dengan cara memotong bagian-bagian dashboard dengan sangat berhati-hati. Berbagai peralatan mereka gunakan. Mereka terlihat lebih yakin dibanding tim kami yang lebih dulu tiba di tkp.

Berjam-jam lamanya jalannya evakuasi sampai tanpa terasa pagi pun tiba. Langit biru mulai tampak meskipun belum begitu terang. Sepertinya insiden ini sangat menyita perhatian semua pihak tanpa terkecuali bos besar alias PM itu sendiri. Dia memantau langsung proses evakuasi dan sempat turun berkali-kali melihat kondisi korban. Raut wajahnya terlihat begitu tegang. Gw ga mau berpikiran negatif, tapi menurut gw yang membuatnya tegang bukan hanya kondisi korban melainkan hal lain yang bisa menyebabkan perusahaan ini kolaps. Yup, setiap ada insiden fatal yang menimbulkan korban (injury) pasti menjadi ancaman bagi perusahaan manapun. Berdasarkan peraturan pemerintah tentang keselamatan kerja, sudah cukup untuk dijadikan landasan untuk membekukan izin suatu perusahaan untuk beroperasi. Tinggal kuat-kuatan ngelobi aja ke pemerintah.

Kabar baik pun tiba. Sebentar lagi korban bisa dikeluarkan dari kabin. Tim ERT mulai menyiapkan peralatan untuk menggotong korban ke atas. Proses evakuasi menggunakan teknik vertical rescue. Prinsip kerjanya sama seperti flying fox tapi bedanya objek ditarik ke atas. Korban akan diletakkan ke tandu yang terhubung pada kabel sling.

Terdengar erangan kesakitan ketika tim ERT mencoba memapah korban. Kami semua yang berada di lokasi kejadian hanya berdiri bergeming tanpa bisa berkata apapun. Menyaksikan pemandangan tragis yang membuat hati miris. Kaki korban terlihat remuk berbalut celana jin biru donker yang basah oleh darah. Dia terilihat pasrah, tatapan matanya begitu sayup antara tidur dan terjaga.

Setelah mengikat korban pada tandu dan memastikan semuanya aman, ketua tim ERT memerintahkan anak buahnya untuk segera menarik korban ke atas. Gw dan beberapa orang lainnya berjalan mengikuti kemana tandu itu bergerak. Hanya sekedar berjaga-jaga bila sesuatu terjadi ditengah proses evakuasi.

Ambulan pergi meninggalkan pusat keramaian di lokasi kejadian insiden dengan membawa korban ke klinik untuk pertolongan pertama. Gw hanya teduduk lemas di samping pintu LV sampai suara sirine ambulan menghilang dan ga terdengar lagi. Dalam diri gw terus berdoa agar pak Rahmat bisa diselamatkan dan dijauhkan dari hal-hal yang lebih buruk. Dan baru gw sadari truk pembawa solar itu adalah unit yang sedang bergerak menuju PIT atas permintaan pengawas malam itu.


Pukul 07.30 WITA.

Sebelum pulang gw harus ke pondok safety untuk membuat laporan tentang insiden yang baru saja terjadi. Tapi ternyata ada perintah untuk berkumpul di office. PM memerintahkan semua yang terlibat evakuasi untuk berkumpul di ruangannya. Gw pun bergegas ke office bersama lainnya.

Setelah memarkir LV di parkiran office, kami berempat berjalan menuju kerumunan orang yang berdiri di depan pintu masuk utama. Kedatangan kami cukup menyita perhatian mereka. Entah apa yang mereka perhatikan.. mungkin karena pakaian kami terlihat kotor dan dekil, atau mungkin mereka ingin bertanya tentang kronologis insiden yang terjadi pagi ini. Setelah melepaskan sepatu safety berikut kaos kaki yang basah, gw berjalan di atas pelataran gedung. Namun saat gw melewati mereka, ga ada satupun yang berani menanyakan sesuatu.


"Hei, kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Veren tiba-tiba udah ada disamping gw. Aroma wangi tubuhnya terasa masih segar.

Gw hanya mengangguk pelan.

"Kamu makan dulu ya sebelum meeting. Aku siapin sarapan buat kamu." Ucap Veren. Dia langsung menarik tangan dan menggiring gw entah kemana.

Setelah menyusuri tiap koridor gedung, tibalah kami berdua di dapur.

"Duduk, aku ambilin pack meal dulu buat kamu." Perintah Veren.

Gw duduk di kursi dapur dekat dispenser. Sambil menunggu Veren, gw memandang keluar jendela dimana terdapat sebuah pondok. Itu tempat gw mangkal waktu pertama masuk kerja di tambang sebagai helper. Semenjak gw pindah ke safety, udah jarang kesitu. Sekarang pondok itu terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja datang untuk mengambil perlengkapan APD di gudang.

Veren meletakkan packmeal di meja makan lalu duduk di sebelah gw. Entah kenapa dia lebih peduli sama kondisi gw dibanding insiden yang baru aja terjadi. Atau mungkin dia hanya berusaha menenangkan gw yang baru aja mengalami sesuatu hal yang mengerikan. Jujur, kejadian tadi cukup memukul mental gw. Wajah dan kondisi korban insiden itu terus terbayang di benak gw. Entah kapan gw bisa melupakan kejadian nahas itu.. atau mungkin hal itu ga akan pernah terlupakan dalam seumur hidup gw.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
agung2828165 dan 42 lainnya memberi reputasi
43 0
43
profile picture
newbie
03-07-2019 18:38
Di tunggu update nya om.. hehe
1
profile picture
newbie
02-07-2019 18:52
Serem ya kerja di tambang....di tunggu lanjutannya nya om...
1
profile picture
01-07-2019 17:48
Dari awal tread ini di buat, serasa baca lika liku drama percintaan. Baru episode terakhir ini, seolah2 berubah jadi tread horor.........ruarrrr biasyah gan............:terimakasih
1
Girl, I'm Your Future
07-08-2019 23:43
PART 52 : Perempuan Dengan Logikanya



Quote:Dengan tergesa-gesa gw mengambil lalu mengenakan celana boxer yang tergeletak di lantai. Gw berdiri di belakang pintu dan berusaha melihat siapa tamu diluar melalui lubang intip. Setelah mengetahui siapa gerangan, gw pun membuka pintu kamar..

Seorang pria tinggi bertubuh sedang berdiri persis di depan pintu. Ekspresinya terlihat bahagia dan sedikit teler.

"Woi, ade! Keras memang ngana. Jadi ngana su badapa (bertemu) deng orang tua Veren kah?" Tanya Mandagi dengan nada suara yang cukup keras.

"Ssstttt.." Gw meminta Mandagi untuk menutup mulut. Lalu gw memberi gestur bahwa ada seseorang di dalam kamar.

Mandagi tampak kebingungan.

"Veren kah di dalam?" Tanyanya sambil berbisik.

Gw menjawabnya dengan anggukan.

"Ade, ngoni belum baku nikah tapi su bacuki? Mantap memang ngana ini bah." Ucap Mandagi sambil menggelengkan kepalanya.

"Kaka, ngana tunggu kita di lobi, ya.. Sebentar ku susul nanti." Pinta gw.

"Oh, nyanda usah ke lobi. Kita pe kamar di seberang sana." Saut Mandagi sambil menunjuk ke sebuah pintu yang berada di ujung koridor.

"Kaka baru check in kah?" Tanya gw.

"Iyo, kita juga ada bawa maitua (pacar), ade.. nanti ngana pasti bajumpa deng dia."

"Mantap lah."

"Oke, copy kah ade?"

"Copy lagi.."


Mandagi mengacungkan kedua jempolnya lalu bergegas meninggalkan gw. Semerbak aroma alkohol bertebaran di udara sekitar kamar. Entah dimana dia minum-minum tadi malam. Sebelum berangkat ke Manado, gw menghubungi Mandagi tapi posisi dia kebetulan ada di luar kota saat itu. Baru tengah malam tadi dia mengabari ke gw sudah ada di Manado.

Setelah menutup pintu, gw kembali ke ranjang. Veren masih terbaring lemas di atas ranjang bertutupkan selimut. Udara kamar yang cukup dingin karena tiupan AC membuat hasrat gw ingin kembali menggaulinya. Saat gw membuka selimut dan akan merebahkan diri di ranjang, bercak merah terlihat membekas di atas seprai putih. Lalu gw menatap Veren dan mendapati dirinya hanya diam termenung seribu bahasa. Dalam diamnya, gw tau dia sedang memikirkan sesuatu, entah apa..

Karena gw bingung mau memulai obrolan darimana, akhirnya gw memilih untuk memeluk tubuhnya yang bergeming. Kami berdua rebahan di atas ranjang layaknya sepasang suami istri.

Quote:"Kenapa semua harus seperti ini, sih.." keluh Veren sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh gw.

"Semua rencana itu ga mesti berjalan mulus. Adakalanya kita dihadapkan sama persoalan seperti yang kita alami sekarang." Ucap gw sambil menyibakkan helai rambut yang menutupi keningnya dengan jari tangan gw.

"Aku nyesel ga cerita ke mereka dari awal tentang semuanya.." Lanjut Veren.

"Hasilnya juga akan sama. Kita ga bisa berbuat apa-apa."

"Terus apa yang harus kita lakuin sekarang?"

"Apa aja yang bisa kita lakuin, tapi kita jangan gegabah. Aku saranin kamu di rumah dulu dan perlihatkan ke ortu kamu seolah semua baik-baik aja." Ucap gw tenang.

"Kamu gimana, sih.. bukannya mereka bakal lebih curiga kalo aku keliatan baik-baik aja?"

"Ya, atur aja gimana baiknya."

"Pokoknya begitu aku hamil, kamu harus cepet bawa aku." Senyum tipisnya yang khas mengembang.

Dan gw hanya mengangguk untuk mengiyakan.



Siang harinya setelah makan siang, gw meminta Veren untuk pulang ke rumahnya. Ini semua demi kebaikannya. Meskipun dia terlihat berat hati namun dengan terpaksa menuruti permintaan gw. Untuk saat ini gw ga mungkin membawa dia kembali ke Bogor. Masalah besar akan menimpa kami berdua. Jujur, ada perasaan ga tega membiarkannya seperti itu, tapi gw ga punya pilihan lain. Pikiran gw stuck.

Kios-kios kecil berjajar di pinggiran pantai. Bebatuan menghampar di sepanjang garis pantai dan rimbun pepohonan menciptakan kesan teduh. Laut luas menjadi pemandangan eksotis yang membuat siapapun terpana melihatnya. Matahari pun mulai tenggelam menuju garis cakrawala. Pemandangan semakin tampak elok karena terdapat sebuah gunung bernama Manado tua di depan mata. Warga Manado menamainya pantai Malalayang.

Gw dan Mandagi memilih salah satu kios untuk dijadikan tempat bersantai. Tempat duduk yang kami pilih sengaja yang menghadap ke laut. Suara deburan ombak terdengar seperti berirama, angin sepoi-sepoi menerpa wajah terasa begitu segar..

Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman datang, kami terlibat obrolan ringan. Kebanyakan seputar kenangan saat kami masih bekerja di satu perusahaan. Banyak obrolan yang membuat gw sejenak dapat melupakan masalah yang menimpa gw. Sampai akhirnya Mandagi menyinggung tentang hubungan gw dan Veren. Akhirnya gw menceritakan semuanya pada Mandagi. Dan sejujurnya gw juga butuh temen ngobrol untuk mengurangi beban pikiran ini.

Quote:"Jadi begitu rupanya kah, ade..? Kaka su senang sekali melihat kalian cocok, tapi ada saja penghalangnya." Ucap Mandagi terlihat bersimpati. Dia terlihat begitu serius menanggapi cerita gw. Ga ada hasrat sedikitpun untuk ngebanyol seperti yang biasa dia lakukan.

"Aku bingung kaka, kalo ku bawa kabur dia su pasti masalah. kutinggal dia pasti jadi beban perasaan."

"Jangankan ngana, Prim.. Kaka pun kalo ada di posisi ngana su pasti bimbang. Sulit juga kita rasa mo pilih bagemana.."

"Tadi malam dia susul aku, kaka.. tiba-tiba dia minta dihamilin. Dia seperti bukan Veren yang aku kenal."

"Begitu sudah perempuan itu, ade.. perempuan itu lebih memakai logika dari kita para lelaki, tapi kalo mereka sudah kalut, aduh ade.. bisa lebih nekat dari kita orang." Ucap Mandagi sambil meringis seperti menahan sakit.

Gw dan Mandagi menikmati malam di pinggir pantai sambil berbincang. Entah sudah berapa gelas kopi yang kami habiskan. Sesekali gw memandang ke sebelah kanan dimana kota Manado berada. Cahaya lampu-lampu perkotaan yang berpijar menambah keanggunan suasana malam. Kota yang sangat indah, mungkin suatu saat nanti gw akan rindu untuk kembali datang menyambangi kota ini.

Karena dingin udara malam serasa semakin menusuk ke tulang, kami berdua memutuskan untuk kembali ke hotel. Besok pagi gw harus kembali terbang ke Jakarta dan pulang ke Bogor. Sesuai dengan jadwal tiket pulang-pergi yang gw beli.

Setelah memarkir mobil di basement, kami berjalan menuju lobby hotel melewati tangga.

"Ade, ngana duluan saja. Sebentar kaka mo pigi cari rokok." Ucap Mandagi.

"Kutemani kah?"

"Ah, nyanda usah. Aman aja."

"Oke, kaka.. Jangan lama, nanti kaka pe maitua ada cari."

"Ngana temani dia dulu, bilang kita cari rokok sama makanan di depan." Ucap Mandagi sambil berlari kecil ke jalan yang dipadati kendaraan bermotor.


Setelah membuka pintu utama lobby hotel, gw langsung menuju ke lift yang akan mengantarkan gw ke lantai atas. Petugas resepsionis menyapa gw dengan senyum hangatnya. Cantiknya lumayan tapi gw ga punya cukup waktu untuk memikirkan itu.

Gw berdiri di depan pintu lift sambil menunggu lift turun. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka. Lift tampak kosong, gw pun bergegas masuk ke dalamnya. Namun saat kaki gw baru melintasi pintu lift, tiba-tiba ada seseorang yang mencengkram pergelangan tangan gw dengan kuat..
Diubah oleh inginmenghilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zoopy dan 41 lainnya memberi reputasi
42 0
42
profile picture
kaskus holic
05-11-2019 06:59
@hkm777 bisa jadi.. kl g dah sibuk di rumah. Jaga toko ama mbak citra gan...
1
profile picture
newbie
05-11-2019 06:25


Iye bro keknya TS lagi sibuk disite atau keenakan bawa HDT keliling2 pit. Xixixixixi..... emoticon-Smilie
1
profile picture
newbie
04-11-2019 21:44
Ayo2 mana neh updatenya gan... Xiixiixixixi...
1
profile picture
23-10-2019 13:36
Woe prim,,, update dong???!!!! Lama bget update ny
1
profile picture
kaskus holic
23-09-2019 22:03
Semoga mas prima bisa bahagia di ending nya... jgn sampai hancur lagiiiii... keep update and make finnally these stories..
1
Girl, I'm Your Future
26-02-2019 20:14
PART 32 : Permintaan Sang Ibu




Quote:"Nak, ibu nda keberatan dan akan sangat senang sekali kalau nak Prima mau menikahi Citra, anak perempuan ibu satu-satunya.."



Bagai karang tersapu ombak, tubuh gw bergeming mendengar kalimat yang keluar dari mulut bu Sri. Apakah itu sebuah permintaan atau hanya sekedar tawaran, entahlah.. Perlahan pun gw memandang wajah bu Sri. Dia hanya tersenyum kecil dan seolah menanti gw untuk bersuara. Waktu terasa berjalan lambat sehingga isi kepala gw dapat memikirkan banyak hal. Bayangan Veren dan Citra mengisi benak di kepala dan gw seolah membiarkan mereka berdua menari-nari dalam kebingungan yang gw alami.

Tiba-tiba bu Sri tertawa sambil tangannya menepuk pundak gw pelan.


Quote:"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kalian berdua masih muda, masih punya banyak waktu untuk menentukan masa depan kalian. Intinya, ibu sudah merestui kalian andaikata memang ada jodohnya." Ucap bu Sri setelah tawanya reda berganti senyum yang teramat tulus.

Dan perasaan gw berangsur-angsur tenang setelah mendengar ucapan beliau barusan.

"Terima kasih, bu.. insya Allah, kalau kami memang berjodoh bukan ga mungkin saya jadi mantu ibu." Ucap gw sambil tersenyum malu.. malu-malu mau.

"Nak, kalau kamu ga keberatan, ajak ae Citra ke tempatmu.. ibu mu pasti masih inget sama Citra, kan? Mumpung Citra belum berangkat kerja." Bu Sri meminta dengan sopan tapi terlihat sedikit memaksa.

Lagi-lagi gw dibuat bingung dan ga berdaya. Dan bodohnya gw mengangguk pertanda menyetujui usulan beliau. Padahal cuti berikutnya gw mau memperkenalkan Veren ke keluarga gw. Veren sudah mengatur jadwal cuti berikutnya supaya bisa cuti berbarengan sama gw. Terus gw harus ngenalin dua cewe ke keluarga gw, gitu?

"Senangnya dalam hati kalau beristri dua..
Seperti dunia ana yang punya.."
Dung tek tekdung tek...

Tiba-tiba entah darimana datangnya, lagu itu terngiang di benak gw.



2 hari kemudian..

Hari-hari selama di Semarang hanya gw habiskan di kediaman bu Sri. Gw terlalu takut untuk napak tilas ke tempat-tempat dimana gw menghabiskan masa-masa remaja gw. Ada hal-hal yang menyenangkan untuk dikenang namun ada juga hal yang membuat sesak di dada, semua bersatu padu menjadi rangkaian kenangan yang akan terus abadi dalam ingatan.

Pada awalnya Citra menolak ide sang ibu yang menyuruhnya untuk ikut gw ke Bogor. Tapi sepertinya bu Sri serius mendorong anaknya untuk sowan ke keluarga gw. Kayanya ga becanda nyokapnya Citra minta gw untuk jadi menantunya. Akhirnya gw membawa anak perawan bu Sri pulang ke Bogor. Gw memilih untuk menggunakan bus, karena gw memang sengaja menghindari untuk naik kereta. Ah, kota ini benar-benar sukses bikin mata gw berkaca-kaca.. ingin rasanya gw cepat-cepat pergi dari sini, pergi dari semua bayangan masa silam.

Minggu depan Ferly kembali berlayar dan Citra akan berangkat ke site dimana sekarang dia bekerja. Bu Sri akan kembali merasakan kesendirian saat tiba masa itu. Tiba-tiba gw baru menyadari alasan bu Sri yang meminta gw untuk segera meminang Citra.. dia pasti ingin berkumpul bersama lagi di usianya yang semakin senja.

Sedikit demi sedikit gw mulai mengemasi barang-barang termasuk pakaian ke dalam koper berwarna merah maroon berukuran sedang. Selain koper, gw juga membawa ransel biru berlogo perusahaan tambang di punggungnya. Gw duduk sejenak di atas kasur. Di dinding yang persis berada di depan gw terpampang poster Jim Morrison yang bertelanjang dada. Kedua tangan gw membentuk kepalan untuk menopang dagu selagi mata gw terus mengamati poster tersebut. Ada sobekan kecil memanjang secara horizontal di bagian kiri bawahnya tapi udah ditambal selotip.


Quote:"Mabok lu rese, hampir aja tu poster kesayangan gw lu robek-robek waktu kita nokib bareng dulu.." Ucap Ferly. Suaranya memecah keheningan dalam kamar. Gw memalingkan wajah ke arah Ferly lalu kembali menatap ke arah poster jadul tersebut.

"Oh, iya.. gw baru inget kenapa posternya robek gitu." Saut gw santai tanpa dosa.

"Ga kerasa kita udah makin tuir gini, ya.. pengen rasanya gw balik ke masa-masa sekolah dulu." Ferly berjalan dari pintu kamar dan mendaratkan bokongnya di kasur dan kami duduk bersebelahan.

"Enakan kaya sekarang kali, kita ga perlu minta duit ke ortu lagi.. Apa aja yang kita pengen tinggal buka dompet, masalah selesai. Dulu gw pengen sesuatu aja harus minta dan belum tentu langsung dikabulin ortu gw." Ucap gw.

"Tapi dulu kita ga perlu mikirin hidup sampe segininya. Masalah terberat gw cuma PR matematika sama fisika." Saut Ferly ga kalah santainya sama gw.

"Ada benernya juga kata lu.. Ah, tapi gw lebih nyaman di kehidupan sekarang, sih.." Ucap gw.

"Ya, kalo itu sih hak kita masing-masing mau punya pandangan kek gimana dalam menyikapi hidup, yang jelas itu cuma sekedar keinginan gw dan mustahil untuk terkabul.. kecuali doraemon mau mampir kemari trus minjemin gw mesin waktu." Ferly berkelakar.

Gw tertawa kecil.. tapi harus gw akui, terkadang dalam diri gw pun ada rasa kangen ingin kembali ke masa sekolah dan mengulang semua cerita yang pernah gw lalui.

Tiba-tiba gw keingetan sesuatu dan rasanya gw perlu berkonsultasi sama si Ferly..

"Fer, gw mau ngomongin sesuatu, tentang ade lu.. kemaren nyokap lu..." belum selesai gw ngomong

"Prim.. sori gw potong omongan lu. Di dunia ini ga ada satu pun orang yang gw hormati melebihi dari nyokap gw sendiri. Apapun keputusan yang dia buat.. ga ada alasan gw untuk bertolak belakang sama dia." Ucap Ferly terdiam sejenak.

"Makasih, bro.." Ucap gw sambil menundukkan wajah. Entah kenapa gw merasa malu. Sebenernya dia tau gw udah punya cewe tapi yang jadi pertanyaan, kenapa dia ga sampein hal itu ke nyokapnya pikir gw.

"Tapi sori, Prim.. gw ga mampu ngomong ke nyokap kalo lu udah punya pacar. Gw ga mau ngerusak harapan dia.. mendingan lu aja yang nyampein, ga harus sekarang juga sih, sampe lu nemuin momen yang tepat aja." Ucap Ferly terlihat serius.

"Fer, kita semua sayang sama Citra.. ibu lu sebagai ortu nya, lu sebagai kakaknya dan gw sebagai.." Gw pun ga bisa nerusin kalimat barusan.

"Prim, kenapa selama ini gw percayain ade gw ada di deket elu, bro? Karna gw tau lu sayang sama dia, entah sayang sebagai apa, itu sama sekali ga penting buat gw. Dan lu tau tempat kerja gw jauh, ada di belahan bumi yang lain.. gw percaya kalo Citra ada di tangan lu, tapi sekarang lu berdua ga di satu kerjaan lagi, itu bikin gw kepikiran." Ucap Ferly. Kami berdua saling berdiam diri. Gw mulai mengerti inti dari semua ini.. Ferly dan nyokapnya memang berharap gw bisa menjaga Citra bukan untuk sekarang aja, tapi selamanya.

"Gw akan berusaha untuk ga ngecewain ibu, Fer.." Ucap gw.

"Gw tau lu lagi kebingungan, jangan jadiin masalah ini sebagai beban.. apapun itu, yang berhak memutuskan jalan hidup lu ya elu sendiri, bukan gw, nyokap gw apalagi Citra." Lanjut Ferly. Dia berusaha membuat gw tenang tapi tetep aja kepala gw mumet.



Selama ini gw selalu menahan rasa sayang gw ke Citra supaya ga kebablasan. Pertama, gw merasa keluarganya sangat berjasa di kehidupan gw, hal itu membuat gw berusaha membalas jasa mereka dengan menjaga kepercayaan mereka. Kedua, gw takut keluarganya ga merestui hubungan gw sama Citra. Jujur gw ga munafik, tanpa disuruh nyokapnya pun gw pasti dengan senang hati nikah sama Citra asal dapat restu.. Tapi persoalannya ga sesimpel itu. Masalah yang lebih besar akan datang kalo gw ga hati-hati dalam mengambil keputusan.

Sore hari di sebuah pool bus. Gw dan Citra duduk di ruang tunggu ber-AC. Bus datang silih berganti tapi belum juga tampak bus yang akan kami naiki. Semua bus di sini adalah bus antar propinsi. Ferly langsung pulang setelah mengantarkan kami berdua.

Citra terlihat cantik dengan dandanan kasualnya. Celana panjang jeans hitam ketat memperlihatkan lekuk betis sampai pahanya. Atasan kemeja denim dan beralaskan flat shoes membuat penampilannya yang simpel namun tampak spesial di mata gw. Sesekali tangannya menyingkirkan poni rambut yang menutupi keningnya. Dari tadi dia cuma duduk aja sambil mainin handphone.


Quote:"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu jadi pendiam? Kaya bukan Citra yang kaka kenal.." Ucap gw berusaha mencairkan suasana. Gw pun sadar sikap dia ga akan sama seperti yang dulu setelah kejadian di dermaga waktu itu.

"Perasaan kaka aja mungkin," saut Citra tampak biasa.

"Kamu sekarang keliatan makin dewasa, ya.." ucap gw memuji.

"Makasih.. emm, kak.. kalo ada yang mau diobrolin ga usah pake basa basi, bisa?" Tanya Citra.

"Ga ada, kok.. masa iya kita mau diem-dieman sampe Bogor nanti?" Saut gw selow, sungguh selow, tetap selow.

"Aku tau lagi ada yang kalian rahasiain dari aku?" Tembak Citra.

"Ha? Rahasia apa? Ngawur aja kamu, tuh.." Gw berkilah.

"Kenapa ga ada yang mau jujur sama aku, sih??" Tanya Citra mulai bete.

Gw pun hanya bisa diam membisu. Belum saatnya gw untuk cerita semuanya ke dia.

Ga berselang lama bus yang kami tunggu pun tiba. Kami berdua beranjak dari ruang tunggu dan segera menuju ke bus. Setelah meletakkan koper di bagasi, gw meraih tangan Citra yang berdiri di belakang gw lalu menggiringnya ke dalam bus.

Tanpa berlama-lama, bus langsung berjalan perlahan meninggalkan pool. Interior bus yang bersih dan nyaman membuat gw rileks untuk sejenak. Seat (kursi) 2-1 membuat ruangan terlihat lega. Flat TV yang terletak di kabin bagian depan menayangkan sebuah film yang belum terlalu gw perhatikan. Gw mulai sibuk menyediakan keperluan untuk selama di perjalanan seperti cemilan dan powerbank.

"Mau..?" Gw nawarin Citra minuman bersoda.

"kak, dari tadi kerjaan ku tuh minum aja di ruang tunggu.. yang ada nanti aku pipis terus." Tolak Citra.

"Yaudah, nanti kalo mau minum ambil sendiri, ya.." Pinta gw sambil meletakkan plastik yang penuh dengan cemilan di bawah kursi.

"Kak.." Citra manggil gw pelan.

"Apa? Mau minum?" Jawab gw sok tau.

"Bukan itu." Saut Citra.

"Trus?" Tanya gw penasaran.

"Em.. waktu kejadian di dermaga.. aku khilaf." Ucap Citra tampak malu-malu.

"Kejadian yang mana, ya?" Tanya gw pura-pura bego.

"Ga usah bikin aku malu, lah.." Ucap Citra sewot.

"Iya, trus kenapa?" Tanya gw lagi.

"Habis kejadian itu aku udah niat banget ga akan mau ketemu kamu lagi, tapi takdir berkata lain.. sekarang ibu malah nyuruh aku ikut ke rumah kamu, kak." Ucap Citra.

"Hidup itu penuh misteri, hehe.." Saut gw.

"Malah cengengesan.." Ucap Citra sambil menatap gw heran.

"Ehem.. Cit, coba kamu liat sisi positifnya, ga ada salahnya ngebahagiakan ibu kamu." Ucap gw berusaha terlihat serius.

"Emang menurut kaka, ibu bahagia gitu?" Tanya Citra.

"Kamu kan anaknya, harusnya kamu yang lebih tau.. gimana, sih?" Saut gw.

"Ga tau lah, ya.." Citra pun mengalihkan pandangannya keluar jendela bus.

Gw hanya bisa menghela nafas mendengar ucapannya barusan. Cuek bener ni anak pikir gw.



Beberapa jam perjalanan telah kami lalui. Langit gelap menghiasi malam dan hujan gerimis yang sedari tadi turun membasahi kaca-kaca jendela bus yang terus melaju di jalan sepi. Citra tertidur lelap di sebelah gw. Kepalanya bersandar pada jendela beralaskan bantal kecil. Gw mengambil selimut yang memang disediakan lalu menutupi sebagian tubuhnya. Udah jam 1 malam saat gw melirik jam tangan.

Sekali lagi gw terbangun dalam tidur. Kadang gw heran sama si Citra, gimana caranya dia bisa tidur pulas di jalan begini? Gw kembali mencoba memejamkan mata, barangkali bangun-bangun udah sampe Jakarta. Beberapa menit berlalu, mata gw mulai terasa berat, tapi tiba-tiba handphone gw bergetar.

"Anjay telepon dari Veren? Angkat jangan, ya?" Tanya gw dalam hati.




Diubah oleh inginmenghilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
deawijaya13 dan 40 lainnya memberi reputasi
41 0
41
profile picture
kaskus holic
24-09-2019 21:14
@romandhoni kek nya nikah ma citra neh
0
profile picture
aktivis kaskus
27-02-2019 10:55
Akhirnya ada update, hmm apakah hubungan Prima & Citra akan ada kemajuan, menarik untuk diikuti next chapter
Keep update
0
Girl, I'm Your Future
02-03-2019 23:09

PART 34 : Tragedi Mobil Matic



Citra berdiri menyambut kedatangan cowo itu. Dari yang gw perhatikan, sepertinya mereka sudah saling kenal lama. Mereka berdua saling bertatap wajah. Tiba-tiba..


Quote:
"Yaa ampun, centong benjets yey sekarang.. eyke hampir ga kenal sama yey, ih.." Ucap cowo itu dengan gestur lebih cocok cewe yang melakukannya.

"Prim, ini Rivaldi.. Rivaldi, ini Prima." Citra memperkenalkan kami berdua.

"Hai, Prim.. Rivaldi tapi panggil aja Dini.." Ucapnya dengan senyum menggoda ala-ala bencong taman lawang. Gw kaget bukan main liat tingkahnya yang seperti itu.

"Asterix, yey udah lama ya nungguin eyke? Maafin, yaa.." Ucap Dini, eh Rivaldi, eh..

"Engga, kok.. kita berdua juga baru dateng." Saut Citra sambil melirik gw yang masih berdiri mematung.

"Kak, duduk." Pinta Citra.

"Eh, iya iya.." Saut gw menuruti Citra. Tiba-tiba tubuh gw jadi kaku karena dari tadi gw diliatin terus sama makhluk amphibi itu. Penampilannya sangat menyesatkan.

"Eh, cyin.. jadi kan kita ke rumah dia?" Tanya Rivaldi alias Dini. Mereka berdua sepertinya udah mengatur rencana untuk mengunjungi seseorang.

"Jadi, dong.. aku udah kangen banget sama anak itu." Jawab Citra mantap.

"Tapi eyke mau meni pedi dulu. Tuh, liat.. kuku eyke udah kasar, ih.." Ucap Rivaldi lagi-lagi dengan mimik menggelikan. Gw jadi gelisah dibuatnya, harusnya tadi gw pergi aja kemana kek.



Setelah satu jam lamanya gw dianggurin di salon, akhirnya kami bertiga pergi mendatangi sebuah rumah di daerah Kelapa Gading. Perasaan gw makin ga enak karena gw khawatir yang mau didatengin ini jangan-jangan sejenis makhluk amphibi berikutnya. Citra dan Rivaldi asik mengobrol sedangkan gw lebih banyak diam, karena hal-hal yang mereka bicarakan bukan kapasitas gw untuk ikut nimbrung. Gw ga mungkin tau kalo ditanya seputar alat kosmetik dan kecantikan.

Taksi berhenti di depan pintu gerbang besi setinggi 1,5 meter. Rumah bercat putih di dalamnya tampak terlihat sepi. Setelah Citra membayar argo lalu kami bertiga turun. Gw semakin was-was.. makhluk apa lagi yang bakal gw temuin dimari pikir gw.

Rivaldi memencet bel berulangkali sampai akhirnya pintu rumah tersebut terbuka. Seorang perempuan paruh baya setengah berlari menuju pagar, sepertinya dia asisten rumah tangga di sini. Tatapan gw terus terpaku pada pintu rumah yang masih terbuka. Pasti seseorang bakal muncul di situ. Bener aja.. tapi kali ini dugaan gw meleset. Mungkin bisa dibilang ini adalah obat penawar dari rasa gelisah gw saat ketemu Dini kw 16.

Seorang cewe berambut hitam panjang lurus sepinggang muncul dari balik pintu. Dia berdiri di atas teras sambil menggendong kucing putih berbulu lebat. Hanya mengenakan hotpants hitam dan t-shirt kuning membuat kulit putih tubuhnya cukup terekspos. Semua makin lengkap dengan wajah dihiasi paras yang cantik. Meski tanpa sentuhan make up yang berarti, pipinya tampak merah merona. Bibir merah tipis nan menggoda macam siap untuk dikecup.

Citra mengajak gw untuk masuk ke halaman rumah, gw pun dengan senang hati mengikutinya tanpa beban, hehe.. emoticon-Malu


Quote:"Citra, apa kabar? Lama banget kita ga ketemu." Cewe itu memberikan si kucing pada asisten rumah tangganya lalu menghampiri dan memeluk Citra.

"Baik, kamu sih apa kabar? Makin unyu aja kamu tu.." Ucap Citra. Mereka berdua berpelukan seperti layaknya sahabat yang telah lama berpisah.

"Cowo kamu, tah?" Tanya si cewe sambil melirik ke arah gw. Citra terdiam tanpa bisa menjawab sambil melepaskan pelukan. Dia bingung mau ngomong apa. Gw juga sama..

"Oh, lagi pedekate.. I see, hihi.." Ucapnya sambil tersenyum menatap Citra dan gw.

"Kak, kenalin nih salah satu sahabat aku waktu sma." Ucap Citra.

"Oh, jadi kalian bertiga ini temen sekolah?" Tanya gw.

"Emberrr.. kita dulu punya gengs.. ya kan, Cyin?" Timpal Rivaldi lagi-lagi dengan gestur yang lama-lama bikin gw ngakak. Citra hanya tertawa.

"Aku Jessica." Ucapnya sambil meyodorkan tangan.

"Eh, aku Prima" Saut gw buru-buru menyambar tangannya.

"Ayo masuk, kita ngobrol di dalem. Bi, tolong bikinin minum, ya.." Pinta Jessica sambil mengajak kami semua masuk ke dalam rumah.

Dari belakang gw terus memperhatikan dari pinggul sampai betis Jessica yang mulus jenjang dan berisi. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Citra. Tapi harus gw akui, bentuk tubuhnya juga ga kalah menggoda dari Veren dan Citra.

Di ruang tengah terdengar suara gaduh. Dari suaranya ini orang lagi main ps, nih pikir gw dalam hati. Suasana di dalam rumah terasa nyaman. Furniture dalam ruangan ini di dominasi oleh kayu-kayu berukiran Jepara. Kami duduk di atas sofa kulit berwarna coklat dengan meja kaca berbentuk bundar dan besar di tengahnya. Ada bingkai foto keluarga berjumlah lima orang menghiasi dinding ruang tamu. Sepertinya Jessica adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Seorang cewe terlihat lebih tua darinya dan gw yakin dia adalah kakak Jessica. Jessica tampak cantik dengan busana kebaya yang dikenakannya. Gw kurang fokus dengan foto orang-orang disekitarnya selain Jessica.

"De, jangan terlalu berisik, kaka ada tamu, nih.." Pinta Jessica terdengar lantang.

"Iyaaa... kapan aku dibeliin burger m*d, aku udah laper nih." Saut suara anak cowo yang gw perkirakan masih sekolah smp.

"Kata mamah, kamu ga boleh makan makanan cepat saji mulu.." saut Jessica santai.

"Aaaaah... aku mau burger, cepet beliin sekarang!" Bocah itu berlari dari ruang tengah menghampiri Jessica. Tubuhnya terlihat tambun dengan rambut cepak. Anjir, bisa patah-patah gw kalo di smack ma dia pikir gw. Bentuk tubuh bocah itu terlihat kontras dengan sang kakak yang bertubuh seksi tapi warna kulit mereka berdua tampak sama. Bisa panjang urusannya kalo ada cowo yang coba-coba nyakitin hatinya Jessica. Mereka bakal berhadapan sama adiknya yang sangat prospek jadi pegulat.

"Mau nurut ga sama kaka? Kasian bibi udah masak cape-cape tapi ga di makan.. sana makan yang ada, jangan dibiasain buang-buang makanan." Ucap Jessica menasehati adiknya yang masih berdiri di sebelahnya. Sepertinya bocah itu tetap bergeming.

"Mau nurut ga?" Tanya Jessica sekali lagi tapi dengan mimik serius. Tiba-tiba adiknya menuruti perkataan si kakak meskipun terlihat raut kecewa di wajahnya. Anak itu balik kanan dan berjalan dengan gontai kembali ke ruangan dimana dia berada sebelumnya.

"Doni udah gede banget sekarang ya, Jess.." Timpal Citra sambil tertawa pelan.

"Oh, iya.. eh, kenapa main ngilang aja. Salim dulu sama temen-temen kaka." Perintah Jessica. Adiknya kembali lagi dan melakukan apa yang disuruh kakaknya.

"Doni udah kelas berapa?" Tanya Citra saat anak itu menghampirinya.

"Udah kuliah," saut si Doni santai.

"De, jawab yang bener.." Sergah Jessica sambil melotot ke arah adiknya.

"Kelas 8, kak." Jawab Doni malas-malasan sambil terus menciumi tangan kami bertiga.

"Dah, masuk sana.. awas kalo berisik." Pinta Jessica.

"Udah, Jess.. kasian dimarahin mulu." Ucap Citra.

"Biarin, bandel banget, sih.. jadi harus keras aku nya." Saut Jessica yang masih terus memperhatikan adiknya berjalan ke ruang tengah.

Tanpa terasa hari semakin sore. Gw akui sebagai tuan rumah, Jessica adalah seorang yang ramah dan baik. Dia selalu mengimbangi obrolannya dengan selalu melibatkan gw di dalamnya. Gw sama sekali ga ngerasa jadi obat nyamuk. Awalnya gw pikir yang akan mereka obrolin hanya seputar kenangan mereka di sekolah dulu, dan gw udah siap-siap nyari kesibukan lain di handphone.. tapi ternyata mereka ga gitu.


Pukul 16.00 petang.

"Jadi, ga, Cit?" Tanya Jessica di sela-sela obrolan.

"Ke sana? Aku sih terserah kalian." Saut Citra.

"Mau pada kemana?" Tanya gw penasaran. Pertanyaan itu gw tujukan ke siapa aja yang mau jawab.

"Jessica mau ngajak main ke Villa papahnya yang di Puncak." Jawab Citra sambil melirik gw. Dia seperti memohon untuk diberi ijin sama gw.

"Main ke tempat jajahan gw ini mah.." dalam hati gw berkata.

Selain Citra, Jessica pun ikut-ikutan menatap gw.

"Kenapa?" Tanya gw celingak celinguk ngeliatin mereka satu persatu.

"Boleh, kak?" Tanya Citra.

"Ooh.. ya boleh, silahkan aja. Kirain apa?" Saut gw tertawa terpaksa.

"Yeay, aku siap-siap dulu, deh.." Jessica beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke dalam ruang tengah. Lagi-lagi perhatian gw terpaku pada gerak geriknya yang emang enak diliat.

Disaat kepala gw lagi pening gini, ada aja hal-hal yang bikin gw tetap semangat menjalani cobaan idup. Diantara awan gelap selalu ada celah sinar matahari emoticon-Big Grin

Gw dan Rivaldi membuka pintu garasi yang berada tepat di samping bangunan rumah. Sebuah mobil Ma*da biante berwarna putih terparkir di dalam garasi. Jessica dan adiknya sibuk memasukkan berbagai perlengkapan ke dalam mobil melalui pintu belakang. Doni terlihat sibuk menggendong ps dan berbagai macam mainan di tangannya.

Jessica dan Citra kompak memakai t-shirts dan celana jeans berbalut sweater. Jessica mengenakan sweater warna biru dan jeans hitam sedangkan Citra bersweater coklat muda dan jeans biru donker. Mereka berdua memakai sepatu kets putih. Gw curiga dari dulu ini anak emang selalu kompakan masalah penampilan.

Tanpa berlama-lama gw mengikuti Rivaldi masuk ke dalam kabin mobil lewat pintu tengah model geser.

"Eh, eh.. ga malu apa, kak.." Citra menahan gw dengan menarik-narik kaos merah gw.

"Kenapah?" Tanya gw linglung dan ga jadi naik ke dalam mobil. Kaki gw kembali menginjak lantai keramik garasi.

Citra hanya melirik kursi supir di depan sambil jari telunjuknya mengarah kesana.

"Kaka yang nyetir? Ga ah, berabe nanti mobil orang kalo kenapa-napa, apalagi kaka tuh belum pernah bawa mobil segede gaban gini." Saut gw setengah berbisik dan berusaha menolak. Dan gw emang belum pernah bawa mobil beginian, kabin depannya aja gede udah kaya apaan tau. Di pikir-pikir kaya kabin pilot pesawat.

"Ayo, kita let's go.." Celetuk Jessica setelah menutup pintu belakang mobil lalu berjalan ke pintu depan bagian kanan. Doni merangsek naik ke dalam kabin melewati gw dengan penuh semangat. Ceria banget ini anak pikir gw.

Gw memperhatikan Jessica yang sudah duduk di kursi supir. Akhirnya gw mencoba untuk berbasa basi.

"Jess, biar aku yang bawa sini.." Gw menawarkan diri dan berharap dia menolak.

"Oh, yaudah.." Jessica langsung membuka lagi pintu yang hampir ditutupnya.

Mampus gw..

Gw hanya bisa termenung memperhatikan persneling tipe matic di sisi kiri tangan gw. Jujur gw emang belum pernah bawa mobil bermesin matic.

"Cepet jalan, kak.." Pinta Citra dari kursi belakang bersebelahan dengan Doni dan Rivaldi alias Dini.

"Ni anak ga ngerti sikon emang dah.." ucap gw menggerutu dalam hati.

"Kamu bisa bawa matic, kan?" Tanya Jessica sambil menatap gw.

"Bi.. bisa, bisa.." Saut gw berusaha pede.

"Tahan rem dulu trus langsung aja ke D, nanti kalo udah di tol tinggal geser ke sebelah." Terang Jessica sembari jari lentiknya menunjuk ke arah tuas.

"Oh, oke.. yu kita jalan..loh, eh, mana tempet kuncinya ini?" Gw celingukan mencari-cari letak kunci untuk menyalakan mesin.

"Di sebelah tombol pengatur spion ada tombol, itu starternya, kak.. mobil ini ga pake kunci."

"Ohh, hahaha.. keren, ya.." Ucap gw berusaha membuang rasa malu. Di belakang terdengar suara cekikikan. Yang jelas gw sukses jadi bahan tertawaan seisi ruangan mobil.

Tinggal lepas rem tangan, deh..

"Loh, mana rem tangannya ini?" Tanya gw udik. Jangan-jangan ni mobil produk gagal karna ada komponen yang lupa dipasang pikir gw.

"Parking brake nya di bawah, kak.. sebelah rem kaki. Push aja.." Lagi-lagi Jessica menerangkan dengan tawakal dan penuh kesabaran. Cocok banget yang model begini jadi ibu dari anak-anak gw.. eh.. yang dua aja belom kelar udah mau main gasak aja.

Hahahahaseum..... Tapi makasih Jess, berkat lu akhirnya gw bisa bawa matic sampai detik ini



profile-picture
profile-picture
profile-picture
hkm777 dan 38 lainnya memberi reputasi
39 0
39
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia