Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4603
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan
Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa di sana.
Lapor Hansip
11-11-2017 05:29

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Past Hot Thread
"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
ini kisah tentang anak jaman dahulu yang hidup di era
Kerajaan Majapahit.
Jelas ini bukan kisah nyata, ini 100% fiksi!
meski begitu, yang merasa tahu, kenal akan tokoh yang diceritakan. Mohon dengan amat sangat tidak membocorkannya, agar tidak merusak alur cerita.

Bila ada kesamaan kisah hidupnya dengan salah satu tokoh di cerita ini, saya mohon maaf, tidak ada maksud untuk membuka kisah lama Anda.
Saya hanya iseng nulis cerita.

Jadi.. Selamat membaca!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gimi96 dan 107 lainnya memberi reputasi
102
icon-close-thread
Thread sudah digembok
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
04-05-2019 02:04
OPERASI DI MALUKU


Pasukan Gembong berlayar menuju gugusan kepulauan Maluku. Disanalah tempat rempah rempah bersumber. Banyak saudagar besar Majapahit datang kesana membeli komoditas itu untuk dijual kembali di Jawa kepada saudagar saudagar Mancanegara. Kapal Raden Sastro salah satunya.
Majapahit dengan kekuatan armada lautnya memberi keamanan kawasan nusantara. Para saudagar menggantungkan keamanan mereka kepada armada Majapahit yang tersebar dari barat sampai ke timur. Majapahit tidak melakukan penaklukan kepada kerajaan kerajan kecil di Maluku selama mereka mau bekerjasama menjaga keamanan kawasan dan mendukung perdagangan yang diatur Majapahit. Jadi wajar bila kelak di Maluku tidak banyak ditemukan candi candi peninggalan Majapahit sebagai bukti adanya Raja Vasal dari keturunan Majapahit, Tidak seperti kerajaan Vasal Majapahit. Yang harus dipimpin oleh keluarga raja, atau bangsawan utusan Raja Majapahit. Masyarakat Maluku tetap dengan Raja dan tradisinya sendiri.

Di sebagian gugusan pulau pulau itu ada jejak Dutamandala. Sebagian prajurit yang korup bekerjasama dengan Dutamandala diam diam menguasai pulau pulau itu.

Awalnya pulau pulau itu diserang sekelompok begal dan bajak laut. Hasil bumi mereka dirampas, dibunuh dan ditenggelamkan ke laut. Tidak sampai disitu, para begal itu sampai menjarah ke rumah rumah. Pasukan kerajaan mereka tidak mampu mengatasi.

Dalam situasi mencekam itu. Datanglah pasukan Majapahit kroni Dutamandala. Mereka menawarkan pengamanan kawasan tersebut dengan sejumlah imbalan hak monopoli penjualan komoditas andalan mereka. Karena merasa terjepit, para Raja Raja kecil itu menyetujui. Dalam sekejap Kawanan begal dan perompak bisa diusir dan tak kembali lagi.
Sejak itu cakar cakar kekuasaan Dutamandala mencengkeram. Perlahan harga komoditas diturunkan dengan alasan ini itu dan biaya tinggi paska panen, harga pasaran anjlok dan segala macam yang tujuannya jelas, memperbanyak ceruk keuntungan.

Pihak armada laut Majapahit didaerah itu menutup mata. Selama setoran untuk pusat lancar, tak ada gejolak dan protes dari para raja kecil. Maka kejadian kejadian di lapangan dianggap wajar bahkan sudah dianggap seharusnya seperti itu untuk melanggengkan sistem yang udah ada.
Rakyat sendiri sampai lupa sakitnya. Karena semua merasakan kesakitan yang sama dalam jangka waktu yang amat lama. Mereka sampai pada tahap mewajarkan penderitaan yang menimpa mereka, mewajarkan harga rendah keringat mereka. Asal cukup untuk membiayai hidup.

Pasukan Ki Gembong mulai mendarat di berbagai tempa. Mereka menyamar sebagai pedagang keliling. Sedangkan Ki Gembong sebagai Nakhoda kapal menyamar menjadi pimpinan kapal dagang. Mereka semua bergerak memetakan kekuatan Dutamandala. Peta konflik yang bisa dikobarkan di masing masing daerah tersebut.

Secara umum, Pasukan Majapahit yang menjadi antek Dutamandala, kondisinya merosot. Secara fisik mereka sudah tidak layak menjadi prajurit. Perut buncit kebanyakan lemak dan arak. Gerak lamban nafas ngos ngosan. Mereka hanya memelihara tampang garang saja.

Mentalnya juga sama saja. Di kepala mereka hanya mencari harta dan kesenangan saja. Tidak tercermin sedikitpun sumpah prajurit dalam diri mereka. Entah menguap kemana cita cita leluhur Majapahit jaya. Mereka tak lebih adalah begal berseragam.

Sepekan sudah cukup informasi yang didapatkan dari lapangan. Pasukan Ki Gembong mulai menyusun rencana. Target pertama mereka mengincar kapal pengangkut hasil bumi dari perkebunan warga yang dikuasai Dutamandala. Saat kapal itu melewati celah antara dua pulau kecil tak berpenghuni. Pasukan Ki Gembong menyergap dari kedua pulau menggunakan perahu perahu kecil.

Penyergapan berlangsung singkat tanpa adanya perlawanan berarti. Para ABK ditangkap dan diikat di lambung kapal. Wajah mereka ditutup kantong kain. Kapal dipindahkan ke sebuah teluk pulau itu. Disana barang barang dipindahkan ke kapal sendiri.

Setelah semua muatan berpindah kapal. Awak kapal Dutamandala diturunkan ke pulau yang tak berpenghuni itu. Mereka digiring masuk kedalam lebatnya hutan. Didalam hutan mereka kembali diikat dengan simpul yang mudah lepas. Hal ini agar nanti bisa melepaskan diri setelah ditinggal.

Dipantai, kapal Dutamandala dilubangi lambungnya. Dalam sekejap kapal itu tenggelam sampau ujung tiang layarnya. Sementara pasukan Ki Gembong sudah bergerak jauh dengan barang memenuhi kapalnya.

Barang barang itu kemudian dijual di pasar gelap. Pasar tempat penduduk yang menyadari dan memiliki keberanian menentang monopoli. Meski harus mempertaruhkan harta dan nyawa. Meski tidak bisa dipungkiri, di pasar gelap juga berkumpul para penjahat, penipu dan pencuri.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Ki Gembong menggunakan tenaga lokal yang biasa berjualan di pasar gelap. Jumlah yang dijual disesuaikan dengan biasanya mereka menjual. Agar telik sandi Dutamandala tidak melacak keberadaan barangnya yang hilang.

Dari operasi itu, Pasukan Ki Gembong memiliki cukup dana melanjutkan aksi. Mereka sekarang mulai menyadarkan masyarakat pedalaman agar menentang monopoli hasil bumi. Menyiapkan jalur jalur yang aman untuk penyelundupan, serta memulai menampung dan menjual barang barang komoditas mereka dengan harga diatas yang ditetapkan kelompok Dutamandala. Jadi selain melemahkan kekuasaan Dutamandala, perlahan dan pasti Pasukan Ki Gembong membentuk jaringan perdagangan gelap sendiri.

Sekali waktu, ada penduduk ditangkap karena tidak lagi menjual hasil buminya kepada Kongsi Dutamandala. Ia dibawa ke kantor perwakilan pulau itu untuk di interograsi sambil disiksa. Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Pasukan Ki Gembong. Tanpa menunggu lama. Kantor perwakilan Dutamandala, tempat menahan penduduk itu langsung diserang. Penduduk yang ditangkap dibebaskan. Sedang para prajurit yang berada di kantor itu mudah dilumpuhkan. Mereka lantas ditelanjangi dan diikat. Diarak dari kantor menuju pantai lantas diusir pergi. Sementara kantornya langsung dibakar.

Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa para antek Dutamandala tidak hebat. Mereka bisa dikalahkan. Dan masyarakat bisa menang dan mempertahankan hak hidupnya dari para antek Dutamandala apabila berani dan bersatu menghadapinya. Setelah itu, Pasukan KI Gembong melatih para pemuda dan laki laki yang masih kuat mengangkat senjata. Mereka diajarkan beladiri dan organisasi pertempuran masal.

Dalam sekejap, gerakan penentangan para penduduk meluas ke pulau pulau sekitar yang dikuasai Kongsi dagang Dutamandala. Penduduk menolak menjual hasil buminya kepada Kongsi. Mereka memilih menjual ke jaringan Pasukan Ki Gembong. Saat ditindak oleh petugas. Mereka menolak dan melawan. Dengan dibantu pasukan Ki Gembong yang disusupkan. Para prajurit Majapahit bisa mereka usir dari pulau. Kantor kongsi dagang dibakar sebagai simbol kebebasan pulau itu dari penindasan Kongsi Dutamandala.

Di berbagai tempat, pasukan Majapahit kroni Dutamandala dibuat kocar kacir. Seringkali mereka hanya bisa menembaki dari atas kapal menghancurkan rumah rumah penduduk di pesisir. Sebagai pelampiasan kegeraman mereka setelah kalah dalam berbagai front tempur didarat.

Untuk memenuhi target pengadaan sesuai kontrak, terpaksa Kongsi dagang Dutamandala membeli barang di pasaran. Harganya jauh diatas harga yang biasa mereka dapat. Akibatnya keuntungan semakin tipis bahkan merugi karena tidak biasa bekerja efisien. Sementara biaya operasional Kongsi dan pasukan semakin meningkat. Untuk mengatasinya jalan termudah adalah berhutang ke Saudagar kaya, menutup kas yang kosong.

Sementara kondisi pasukan semakin buruk. Dengan kualitas prajurit yang tidak layak. Ditambah semakin seretnya dana operasional. Membuat pasukan mereka enggan melakukan pengejaran di lokasi lokasi sulit dan berbahaya di pulau pulau itu. Pimpinan Kongsi mencoba menggunakan cara lama. Mengirimkan para perompak, begal dan sejenisnya ke pulau yang menentang Kongsi Dutamandala. Namun hasilnya berbalikan dengan jaman dahulu. Penduduk pulau itu sudah waspada dan bersatu. Para perompak itu saat mendarat sudah langsung disergap penduduk. Pertempuran tak dapat dielakkan. Begitu terkejutnya para perompak itu mendapati kenyataan penduduk pulau begitu berani menghadapi mereka. Dan semakin terkejut menyadari mereka bukan lawan sepadan dari penduduk pulau. Dalam sekejap, mereka bertumbangan terkena senjata senjata penduduk pulau. Mayat mereka memerahkan pasir pantai.

Mendapat laporan para perompak yang dikirim mengacau pulau pulau mengalami nasib malang. Para pimpinan Kongsi mulai menyadari kondisi yang semakin mundur. Mereka diam diam mengantisipasi kebangkrutan dengan menyelipkan sebagian kas usaha dekalam kantong pribadi. Sikap egois ini membuat Kongsi dagang Dutamandala semakin cepat menuju kehancuran.

Disaat seperti itu. Pasukan Ki Gembong melakukan serangan terakhir. Catatan keuangan kongsi dicuri telik sandi Ki Gembong. Data itu kemudian diperbanyak menjadi beberapa catatan. Satu catatan diserahka kepada Laksamana Armada laut wilayah Maluku. Sedang salinannya dikirim ke Mahapatih Majapahit di Wilwatikta. Hal ini membuat Laksamana laut itu mau tak mau harus menindak kongsi jahat Dutamandala di daerah pengawasannya. Bila dirinya tidak ingin ikut terseret dan dituduh membiarkan kejahatan bahkan bisa dituduh terlibat jaringan jahat itu.

Dengan tindakan Laksamana armada laut. Berakhirlah kongsi dagang Dutamandala di wilayah kepulauan Maluku.

Sementara jaringan yang dibentuk pasukan Ki Gembong semakin lama semakin berkembang. Dalam enam bulan, jaringan itu menjadi kekuatan baru perdagangan rempah di Maluku. Pasukan Ki Gembong sudah memiliki armada sendiri sebanyak sepuluh kapal pelintas samudra. Kini mereka sudak tidak menjual hasil bumi itu di Maluku. Mereka menjual komoditasnya di pasar internasional di Gresik. Bersaing dengan armada kapal besar lain seperti milik Raden Sastro.


NB:
Maaf hanya sedikit updatan kali ini'
dan sekalian mengumumkan selama bulan Ramadhan. Update libur dulu. Insya Allah setelah puasa disambung lagi.

Saya pribadi mohon maaf atas khilaf dan salah kata dalam pembuatan cerita ini
Untuk rekan rekan, tulisan ini jangan dipercaya, apalagi dijadikan rujukan. karena seratuspersen cerita ini hanya hayalan penulis. tidak ada kebenarannya.
Sedang tokoh tokoh yang disebutkan bukanlah karakter asli. hanya comot sana comot sini tanpa kajian yang mendalam. Agar cerita seolah olah nyata. Agar tidak menjadi beban dosa bagi saya.
Terus terang, hal inilah yang kadang membuat saya malas melanjutkan menulis.

mohon kritik dan sarannya demi kebaikan bersama.
Semua pesan dan komen untuk trit ini saya baca dan saya jadikan pertimbangan di bab selanjutnya, meski tidak saya balas, Bukan karena apa, tetapi karena keterbatasan waktu saja. Takut tidak adil bila harus loncat loncat balasannya.

Demikian, selamat menyambut puasa bagi umat muslim
Semoga menjadikan kita manusia yang sebenar benarnya taqwa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 45 lainnya memberi reputasi
46 0
46
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
31-10-2019 04:46
REKONSILIASI


Tak beberapa lama datang Ranggapane bersama para pengawalnya. Ranggapane masuk ke dalam bersama Mahapatih. Kali ini Mahapatih sebagai pembawa acara yang mengatur pertemuan ini.
Ranggapane memberi hormat kepada keempat sesepuh Majapahit.
"Terimakasih atas kehadirannya, hamba Ranggapane yang mendapat mandat untuk mengendalikan situasi istana dan seluruh wilayah Majapahit hendak menyampaikan laporan resmi."
"Telah terjadi kudeta berdarah oleh Jingga, dibantu prajurit Bhayangkari. Mengakibatkan hilangnya Raja dan Permaisuri yang baru melaksanakan pernikahan.
Hamba diminta Mahapatih untuk memimpin pemulihan kondisi Majapahit paskah kudeta. Meski pada waktu yang sama, hamba diserang oleh orang tak dikenal yang mengakibatkan perutku tertusuk. Namun demi Majapahit, hamba sepenuh hati menjalankan mandat Mahapatih.

Atas ijin Tuhan, pemberontakan itu dapat dilumpuhkan tanpa banyak menimbulkan korban. Hanya tokoh utama kudeta, Jingga dan Raja serta permaisuri sampai saat ini belum ditemukan.
Kami sudah melakukan penyisiran keseluruh sudut di komplek istana ini. Hasilnya istana sudah bersih dari para pemberontak.
Kami terus mengejar Jingga dan berharap Paduka Raja dan permaisuri bisa ditemukan dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Saat ini pasukan organik yang semalam menyerbu masuk mengendalikan situasi, sudah ditarik kembali ke barak masing masing, karena situasi sudah terkendali."
"Apa rencana kedepannya?"
"Keadaan masih terlalu dinamis, kami fokus penertiban dan penegakan hukum dulu agar tidak terjadi gejolak di masyarakat. Namun kerajaan tidak boleh terlalu lama tanpa seorang Raja yang memimpin. Jadi kami akan mengajukan Raja pengganti untuk Ndoro sekalian periksa dan setujui atau tolak."
"Bukankah sudah ada Bhre Tumapel yang selama ini didaulat sebagai putra mahkota? Jadi tidak perlu ada seleksi lagi."
"Benar, namun kita juga harus mendengar aspirasi yang berkembang dikalangan bangsawan dan Rakyat. Saat ini mengarah ke pemurnian keturunan, beberapa keturunan Shang Rama Wijaya mulai menyatakan darahnya lebih murni dan berhak menjadi Raja daripada Bhre Tumapel. Kita tidak ingin kejadian pemberontakan Pamotan terulang di berbagai tempat. Itu yang hamba dapat dari data teliksandi yang hamba pimpin."
"Bagaimana bila Raja ditemukan dalam keadaan selamat?" Tanya salah seorang sesepuh Majapahit.
Sejenak Ranggapane terdiam.
"Kalau begitu, semua sudah selesai," jawab Ranggapane.
Rapat akhirnya ditutup. Ranggapane bergegas keluar ruangan. Ia seperti terburu buru. Mahapatih dan keempat sesepuh hanya diam menahan nafas memandang kepergian Ranggapane.
"Susah mendapat bukti Ranggapane sebagai otak kudeta ini, semua yang dilakukan sesuai aturan. Bila kita tindak, ini bisa menjadi senjatanya dan sekam panas yang membakar seluruh prajurit pengikutnya untuk melawan," kata Mahapatih kepada para sesepuh.
Disaat semua gamang, dari balik tabir, Raja muncul. Sontak seluruhnya memberi penghormatan.
"Kalau tidak bisa ditindak, sebaiknya kita rekonsiliasi saja. Kalau tidak bisa menangkap buruan yang kita jebak. Sebaiknya beri makan saja untuk dipelihara." Kata Raja menengahi.
Semua menangkap apa yang dimaksud Raja. Meski terasa sesak, namun kondisi mereka saat ini lemah bila harus berhadapan dengan Ranggapane yang telah menggenggam seluruh kekuatan prajurit Majapahit.
Mereka sepakat keberadaan Raja masih akan terus dirahasiakan sampai saat yang tepat. Namun tidak bisa terlalu lama. Karena bila lama, Ranggapane akan semakin kuat menanamkan pengaruhnya. Tidak hanya di istana dan kotaraja, bisa sampai seluruh kekuatan di kerajaan vasal Majapahit.

"Mahapatih, kumpulkan kekuatan untuk sewaktu waktu melindungi istana dari kudeta susulan."
"Siap Paduka,"
Mahapatih lantas menghormat dan pamit melaksanakan perintah. Diikuti keempat sesepuh Majapahit. Mereka tidak bisa berlama lama disini, menghindari kecurigaan pihak lain. Dan itu akan mengancam keselamatan Raja.

Sementara di dalam lorong, Jingga dan Ratna diam mengamati semua kejadian tadi. Ratna sebetulnya ingin berbicara banyak disaat berdua dengan Jingga seperti ini. Namun sejak semalam sikap Jingga berubah dingin dan tak peduli sekelilingnya. Membuat Ratna merasa tidak berarti dan malu sendiri. Seandainya ada cahaya dalam lorong ini, Ia bisa menilai ekspresi Jingga, sedihkah atau marahkah.

Ratna menghentikan lamunannya setelah pintu batu didorong dari luar oleh Raja. Sekejap cahaya terang menerpa kedalam lorong menyilaukan mata Ratna. Ia lantas menoleh ke Jingga, namun Jingga sudah pergi kedalam ruangan.

Pintu ditutup kembali dari dalam.
"Mana Jingga?" Tanya Raja.
"Itu didalam," jawab Ratna menunjuk kamar dibawah akar pohon raksasa.
Raja mengajak Ratna masuk menemui Jingga.
"Apakah kamu mendengar semua pembicaraanku diluar?" Tanya Raja kepada Jingga.
"Ya," jawab Jingga pendek. Suasana hening. Sibuk dengan pikiran masing masing.
"Apakah Paduka bisa berjanji, selama Paduka menjadi Raja, tidak akan menyerang Blambangan lagi?" Tanya Jingga menggambarkan keresahan hatinya.
"Ya saya janji," jawab Raja. Berusaha menenangkan.
"Terimakasih,"
Jingga memberikan makanan kepada Ratna dan Raja tanpa bicara. Lalu meninggalkan mereka berdua. Jingga kembali naik keatas pohon lewat rongga didalamnya. Sampai di puncak Ia menatap tanah tempat Ia mengubur Lencari. Airmatanya kembali mengalir deras tanpa bisa ditahan. Jingga menangis dalam diam. Lencari, bagaimana kamu disana? Kedinginankah? Kesepiankah? Ketakutankah? Ampuni aku Cari.

Dibawah, sambil makan dan minum, Raja bercerita kepada Ratna mengenai situasi pelik yang dihadapi. Pengikutnya tidak cukup kuat bila harus berhadapan dengan pengikut Ranggapane. Tidak cukup bukti untuk menangkapnya, tidak cukup bukti untuk meyakinkan pengikutnya merelakan Ranggapane diadili. Bila dipaksakan, bisa terjadi gejolak karena penindakan itu akan dikaitkan dengan intrik politik.
Ratna menyadari kesulitan Raja, kejadian ini hampir sama dengan yang dialami mendiang Ayahanda Bhre WIrabhumi. Dimana dalam keputusannya tak jarang harus mengikuti tekanan dari orang orang kuat di sekitarnya. Bahkan sampai harus mengusir Ratna agar tidak menimbulkan gejolak di dalam istana.
Sedang asyik berdiskusi. Tiba tiba muncul sekelebat bayangan hitam menyerang Raja dan Ratna dengan cepat. Bayangan itu begitu cepat dan ringan bergerak di ruangan itu.

Dalam keadaan gelap dan tidak siap. Raja dan Ratna langsung tumbang dan pingsan tanpa bisa melakukan perlawanan. Keduanya langsung dibungkus kain dan diikat dalam keadaan pingsan, dibawa pergi menyusuri lorong kearah penjara bawah tanah.

Bayangan gelap itu bergerak cepat keluar lorong. Dengan mudah menutup kembali sambil menghapus jejak yang tertinggal. Raja dan Ratna yang pingsan dipanggul di kedua pundaknya. Terlihat ringan seolah hanya membawa dua buah bantal kapuk saja.

Sampai di penjara, bayangan itu terus berjalan keluar. Mengamati sekitar sejenak, lalu dengan cepat melesat kearah alun alun.
Sekejap saja keberadaannya mencurigakan prajurit yang berjaga di kediaman Mahapatih. Disiang hari mengenakan pakaian gelap dengan topeng penutup wajah. Penampilannya amat menyolok. Ditambah dua belebat dikedua pundaknya semakin membuat curiga para prajurit itu.
Para prajurit kepatihan itu lantas mengejar dan berusaha mengepung. Sementara yang dikepung terus bergerak menuju tanah tegalan dekat alun alun. Ia lantas meletakkan perlahan Raja dan Ratna diatas rumput.
Para prajurit itu terkejut melihat siapa yang pingsan itu. Tak lain adalah Raja dan Permaisuri yang hilang.
"Jangan kau sakiti Raja dan Ratu kami, Kalau tidak nyawamu akan melayang!" Teriak kepala pengawal kepatihan.
Orang bertopeng itu diam saja, bergumam tidak jelas. Ia hanya berdiri di dekat kuburan baru tak mempedulikan para pengepungnya.
Salah seorang prajurit tanpa pikir panjang langsung menyerang menggunakan pedang. Pedang itu langsung tertuju ke paha untuk melukai saja. Orang bertopeng itu tetap tak acuh. Tanpa bisa dicegah, ujung pedang itu meluncur deras ke arah paha. Dalam hitungan sepersekian detik orang orang sudah mengira akan ada daging yang tertusuk. Namun ternyata tidak terjadi apa apa. Prajurit yang menusukkan pedang tadi serasa menerpa angin. Tidak ada benda apapun yang menerima tusukan itu. Padahal secara jelas mengenai paha orang bertopeng itu.
Seketika pimpinan pasukan kepatihan yang turut mengepung memerintahkan pasukannya waspada. Ia berpikir taktis. Ia bergerak kearah Raja dan Ratna. Dengan sikap awas, Ia dan beberapa prajurit mengevakuasi Raja dan Ratna. Karena yang utama adalah menjaga keselamatan Raja dan Ratna. Separuh pasukan langsung bergerak mengawal Raja dan Ratna. Separuhnya lagi tetap mengepung orang bertopeng itu.

Tiba tiba datang sepasukan yang tidak jelas dari kesatuan apa. Mereka langsung mengepung Jingga. Dan menyerang dengan keji. Titik titik serangannya tepat ke organ vital yang bila terkena akan berakibat kematian.
Kembali serangkaian serangan itu seperti menyerang bayang bayang. Senjata senjata mereka tak satupun yang mengenai orang bertopeng itu. Padahal orang itu diam tidak menangkis atau membalas.

Yang datang ke lokasi pemakaman semakin banyak. Sementara Raja dan Ratna sudah diamankan di kediaman Mahapatih dan dijaga ketat Mahapatih sendiri.

Pasukan yang tidak jelas tadi adalah Pasukan Rahasia bentukan Ranggapane yang beberapa waktu lalu digunakan untuk membunuh Bhre Wirabhumi. Pasukan lain dipaksa mundur kebelakang. Ciri pasukan ini adalah tidak mengenakan pakaian prajurit dan wajahnya ditutup kain tipis yang dilukis yang menempel di kulit wajah. Sehingga tidak ada yang bisa mengenali wajah asli mereka.

Terjadilah pengeroyokan pasukan bertopeng terhadap orang bertopeng. Kali ini orang bertopeng itu dijerat tali dari segala arah lalu ditusuk berbagai senjata tanpa bisa mengelak. Banyak mata memandang dengan tatapan bergidik membanyangkan tubuh yang dicincang berbagai macam senjata. Saking ngerinya tanpa sadar mereka menutup mata.

Namun saat mata mereka dibuka. Tak ada pemandangan berdarah darah seperti bayangan mereka. Yang terlihat hanyalah orang bertopeng itu tetap berdiri di samping kuburan Lencari. Disekitarnya banyak tali dan rantai putus serta berbagai macam patahan senjata seolah habis dipotong potong dengan mudah.
Disaat para pasukan bertopeng kehabisan akal. Dari arah kerumunan penonton datang seorang yang bertopeng sama masuk kedalam barisan. Dari langkahnya yang ringan, menunjukkan Ia lebih unggul dari prajurit bertopeng yang lain. Ia memberi kode sebuah formasi penyerangan dan kemudian Ia turut terjun dalam formasi itu. Sebuah formasi bak angin puyuh yang membuat tanah dan debu berterbangan disekitar pekuburan itu. Perlahan pertempuran -atau lebih tepatnya pengeroyokan karena yang diserang sendirian dan tidak melawan- semakin tidak terlihat tertutup debu. Tiba tiba dengan gerakan cepat prajurit bertopeng yang baru datang itu memeluk dan menghunjam senjata pusakanya berkali kali. Kali ini hunjaman itu melukai orang bertopeng itu. Darah bercucuran dari perut dan dadanya. Sedang Prajurit bertopeng yang menusuknya terpental mundur tanpa tahu siapa yang mendorongnya. Ia segera bangkit menyerang lagi.
Kembali tusukan demi tusukan menghunjam orang bertopeng itu, anehnya Ia tidak berusaha membalas penyerangnya.
"Penghianat! Mengapa tidak membalas?!" Maki Prajurit bertopeng itu.
Yang dihina diam saja, hanya tersenyum seolah luka lukanya bukan sesuatu yang sakit.
Semakin banyak darah mengucur di sekujur tubuh orang bertopeng itu. Pada tusukan terakhir, orang bertopeng itu tersungkur. Ia lantas merangkak mendekati kuburan Lencari dan merebahkan diri diatasnya.
Kembali tubuhnya dicacah berbagai senjata prajurit bertopeng yang mengepungnya. Baru berhenti kala sudah tidak bergerak lagi.

Pasukan itu lantas membubarkan diri tanpa ada yang berani mencegah. Sementara prajurit lain yang menyaksikan tidak berani mendekat. Salah seorang prajurit kepatihan melaporkan ke Mahapatih bahwa penculik Raja telah tewas.
Ratna yang sudah sadar dan dirawat di dalam kepatihan, ikut mendengar kabar kematian orang yang menculiknya tadi. Nalurinya menyatakan bahwa penculiknya tadi tak lain adalah Jingga. Ia berusaha keluar untuk melihat. Namun dicegah Mahapatih dan Raja.
"Harap Permaisuri bersabar, diluar jebakan untuk Permaisuri sedang disiapkan musuh musuh kita," nasehat Mahapatih sambil menggambarkan pengepungan yang dilakukan pasukan Ranggapane di sekeliling kepatihan.

"Tapi itu pasti Jingga," kata Ratna kepada Raja dengan nada putus asa.
Raja hanya mengangguk dan terus meminta Ratna sabar. Biar Mahapatih yang langsung memeriksa apakah benar Jingga atau bukan.
Akhirnya Ratna hanya bisa menangis didalam kamar. Meratapi nasib Jingga juga nasibnya harus berpisah selamanya dengan Jingga.

Mahapatih langsung ke lokasi memeriksa siapa sebenarnya manusia bertopeng itu. Ia membalik tubuh yang penuh luka dan darah. Menarik lepas topeng yang lengket oleh darah. Benar, Ia adalah Jingga. Diperiksanya nadi di lehernya, tak ada tanda tanda kehidupan.

Jingga telah tewas diatas pusara Lencari.

Mahapatih tertegun. Kenyataan yang terjadi di depan matanya masih amat membingungkan. Bila benar Jingga yang menculik Raja dan Ratna, lalu mengapa tadi melepaskan Raja untuk menemuinya? Lalu mengapa bisa diculik lagi? Apakah pikiran Jingga sudah rusak sejak kematian istrinya, sehingga selalu berubah ubah sikapnya.

Sikap Raja dan Ratna juga aneh, Seharusnya mereka gembira bebas dari penculikan dan penculiknya terbunuh. Ini malah Ratna seperti amat kehilangan dengan kabar kematian penculiknya, yang tak lain adalah Jingga.

Apakah ini usaha terakhir Jingga untuk menyelamatkan Raja dan istrinya dengan muncul terang terangan didepan pasukan kepatihan. Ia ingin menunjukkan dirinya menculik Raja dan permaisuri agar ditangkap oleh pasukannya. Padahal di istana banyak pasukan lain yang ada. Ia hanya memilih pasukannya, karena yakin Raja dan Permaisuri akan aman. Sekaligus solusi aman kemunculan Raja dan Permaisuri, daripada muncul tiba tiba di istana. Akan banyak menimbulkan kecurigaan di pihak Ranggapane.

Memikirkan itu, Mahapatih tak bisa membendung tangisnya, cepat Ia menghapus meski tidak bisa memutihkan matanya yang memerah. Ia sekuat tenaga menahan perasaannya. Ia harus menunjukkan kebencian kepada Jingga untuk menutupi dan menghargai bantuan Jingga dengan caranya sendiri. Ia memerintahkan pasukannya untuk merawat jasad Jingga dengan layak.

***

Sore harinya, kegembiraan menyelimuti seluruh istana dan Kotaraja. Kabar Raja telah kembali bersama permaisuri dan Kematian Jingga yang menculik mereka membuat seluruh kalangan lega prahara beberapa hari ini telah berakhir.

Malam harinya Raja memberikan penghargaan kepada Mahapatih dan Ranggapane atas dedikasinya dalam menjaga Majapahit tetap utuh saat terjadi kudeta beberapa waktu lalu. Sekaligus menarik mandat Mahapatih kepada Ranggapane sebagai pimpinan pemulihan keamanan dan ketertiban Majapahit.

Ratna yang terlihat rapuh. Ia tidak bisa bergembira atas kematian Jingga seperti yang dilakukan orang orang saat ini. I tidak bisa menerima pementasan drama yang dilakukan di panggung alun alun oleh pasukan kesenian yang menggambarkan Jingga adalah Raksasa yang menyamar menjadi pemuda tampan. Yang banyak membunuh prajurit. Mengguna guna Ratu dan merebut tahta Raja. Yang akhirnya tewas ditangan ksatriya Majapahit.

Berkali kali Raja harus mengingatkan dirinya untuk bersikap sebagai pemimpin.
"Pemimpin itu tidak boleh larut oleh perasaan, aku yakin Jingga akan mengatakan hal yang sama kepadamu. Kita harus menghargai pengorbanan Jingga. Ia ingin Majapahit tidak saling bunuh. Bila kau larut dalam kesedihan atas kematian Jingga. Akan sangat berbahaya bila musuh mengetahui itu, dan menjadikannya bahan menghancurkan pengorbanan Jingga."
"Iya aku mengerti, tapi aku kasihan kepadanya."
"Aku juga simpati, amat simpati kepadanya,"
"Tapi buat apa dibuat cerita cerita seperti itu?"
"Demi menyatukan Majapahit, kadang diperlukan cerita cerita seperti itu, perlu ada musuh bersama, yang sangat kuat, jahat melebihi siapapun. dengan musuh itu, kita bisa lemparkan semua kejahatan yang menimpa Majapahit kepadanya. Inilah jalan damai, jalan rekonsiliasi yang harus kita tempuh. Aku juga tidak enak kepada Jingga yang telah berkorban sebesar itu. Tapi kembali, inilah dunia pemimpin. Harus menekan segala perasaan pribadi untuk kepentingan rakyat Majapahit," papar Raja untuk menenangkan Ratna yang tidak terima Jingga difitnah dengan cerita keji.

"Selama bersama kita, apakah pernah terlihat Jingga makan atau minum?" Tanya Ratna tiba tiba seolah ingat sesuatu.
Raja mengeleng sambil memeriksa ingatan bersama Jingga.
"Ya aku baru sadar, Jingga tidak pernah makan atau minum. Ia hanya menyediakan untuk kita," jawab Raja.
"Apakah itu artinya Ia sebenarnya sudah menyiapkan kematiannya?" Duga Ratna.
"Sepertinya begitu,"
"Apakah Paduka akan memenuhi permintaan terakhirnya?"
"Tentang permintaan tidak menyerang Blambangan lagi?"
"Iya,"
"Ya saya berjanji sekuat tenagaku selama memimpin Majapahit, tidak akan menyerang Blambangan," janji Raja.
Ratna merasa ada aliran air segar menyiram batinnya. Setidaknya cita cita Jingga ingin Blambangan damai telah terwujud. Hal inilah yang membuat Ratna bertahan di sisi Raja. Ia ingin memastikan Blambangan, tanah tumpah darah Jingga, selalu terjaga.

Sementara mayat Jingga diam diam dimakamkan bersebelahan dengan makam Lencari. Beberapa tahun kemudian dibuat sebuah candi yang dinamakan candi Minakjingga. Sebagai penghormatan diam diam Raja dan permaisuri atas jasa Jingga yang hanya diketahui mereka berdua.

T A M A T


Sekian cerita Jingga versi ngawur ini.
Sekali lagi, cerita ini jangan dipercaya sebagai fakta. ini hanya hayalan saya saja.
Tokoh tokoh yang ada di cerita ini, tidak menggambarkan tokoh aslinya. Saya menggunakan nama nama itu hanya agar cerita bisa mengalir dan terasa wajar saja.
jadi semua tokoh yang kebetulan ada dalam sejarah, hanya dipinjam saja. kenyataanya saya tidak tahu.
Bila mencari kebenaran, silahkan pelajari sejarah Majapahit secara ilmiah.
Tulisan ini hanya untuk hiburan semata, jauh dari kebenaran sejarah yang ada.
Untuk itu saya mohon maaf kepada nama tokoh tokoh terkait yang penggambarannya tidak sesuai fakta.
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
09-10-2019 16:36
RENCANA BATANGA


Mahapatih terus memantau perkembangan. Ia sudah mendapat laporan kemunculan Jingga di depan kalangan istana di lapangan depan istana. Sudah dipastikan Senopati Bhayangkari terlibat. Kini yang belum jelas, dimana keberadaan Raja. Apakah dibunuh atau ditawan. Dimana juga keberadaan Bhree Matahun dan adik adiknya. Apakah mereka ikut dibunuh, ditawan atau terlibat kudeta ini. Karena kedekatan Jingga dengan Bhree Matahun begitu nyata. Bahkan Raja sampai cemburu melihatnya.
Dan siapa yang terlibat dengan kudeta ini selain mereka. Mahapatih terus menganalisa para pimpinan prajurit ketiga jala itu. Mereka semua abu abu. Tidak jelas kemana arahnya. Sepertinya mereka terbiasa hidup mencari aman saja. Didepannya mereka sepenuhnya mendukung Raja dan bertekad menumpas Jingga dan pengikutnya. Tapi nanti akan lain cerita bila terbukti Ranggapane ikut terlibat dalam kudeta saat ini. Karena selama ini pengaruh Ranggapane di ketiga Jala itu sangat kuat.

Mahapatih terlihat sangat lelah. Para prajurit yang berjaga mengitari istana juga terlihat tegang, mereka hampir seharian berada disana. Semua menunggu perintah selanjutnya.

Tiba tiba datang caraka menghadap Mahapatih. Caraka dari kesatuan Jalapati. Menyampaikan kabar mengejutkan.
"Lapor Mahapatih, hamba dari kesatuan Jalapatih. Hendak menyampaikan kabar terbaru."
"Silahkan,"
"Saat kami berpatroli di sisi timur istana. Kami menemukan seseorang pingsan dengan luka dipinggangnya didalam kanal."
"Siapa? Baginda Rajakah?" Tanya Mahapatih berharap yang ditemukan adalah Baginda Raja.
"Bukan Mahapatih, melainkan Wredamenteri Ranggapane."
Mahapatih terkejut, Ia tidak menyangka Ranggapane ditemukan dalam keadaan begitu. Awalnya Ia mengira Ranggapane yang berada di balik kudeta itu. Karena Senopati Bhayangkari adalah perwira didikannya sebelum bergabung ke Jalapati dan diangkat menjadi prajurit Bhayangkari. Dan dari semua pejabat Wilwatikta, hanya dia yang mampu mengendalikan seluruh lapisan pejabat. Meski secara jabatan Ia lebih rendah dari para Rakyan Tumenggung ketiga jala itu.
Mahapatih Gajah Lembana tiba tiba malu sendiri ketika mengingat selama ini Ranggapane menjadi anjing kampung Raja. Yang melakukan pekerjaaan pekerjaan diluar sistem yang ada untuk melanggengkan kekuasaannya.
"Lalu dimana Ranggapane sekarang?"
"Sudah dibawa pulang ke kediamannya,"
Mahapatih segera berangkat ke kediaman Ranggapane bersama dengan beberapa pengawalnya. Sampai disana sudah ada para pimpinan kesatuan Jala. Wajah mereka terlihat terkejut. Mereka berdiri memberi hormat menyambut kedatangan Mahapatih.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih tidak sadarkan diri. Beliau terlalu banyak mengeluarkan darah. Juga terlalu lama berendam di air."
"Kira kira siapa pelakunya? Kapan terjadinya?"
"Pelakunya belum jelas siapa, kejadiannya kemungkinan semalam," jawab Pimpinan Jalapati yang sempat memeriksa keadaan Ranggapane di kanal air.
"Parahkah?"
"Luka tusuk di pinggang belakang cukup dalam. Tapi tidak melukai usus maupun organ dalam. Kondisinya cukup berbahaya karena kedinginan dan kehabisan darah saat berenang di kanal."
"Berarti Beliau diserang orang dekatnya, dan berhasil kabur dari usaha pembunuhan."
"Untuk sementara kemungkinannya seperti itu."
Mahapatih lalu beranjak meninggalkan para petinggi Prajurit, Ia berjalan menuju keluarga Ranggapane. Memberi penghiburan agar mereka tetap bersabar serta mendoakan agar Ranggapane segera pulih kesehatannya.
Raden Arya, putra Ranggapane, mendampingi Mahapatih menjenguk kedalam, melihat keadaan Ranggapane yang masih pingsan di tempat tidur. Para tabib memberi hormat, memberi ruang kepada Mahapatih untuk mendekati Ranggapane. Wajah dan kulitnya terlihat pucat. Di pinggang kirinya sudah dibebat kain putih berisi bobor obat luka dan anti racun.
Kepala Tabib mendampingi menjelaskan kondisi Ranggapane.
"Puji kepada Tuhan, Ndoro Ranggapane cepat tertolong. Sekarang darahnya sudah mampat, Untuk organ dalam kondisinya baik, tidak ada luka luka lain. Pingsannya dikarenakan kehabisan darah dan hawa panas karena berendam terlalu lama di dalam air dalam keadaan terluka."
"Syukurlah, kalian lakukan sebaik baiknya untuk kesembuhan Wredamentri Ranggapane,"
"Siap Mahapatih." Jawab para Tabib serempak.
Mahapatih lantas berjalan keluar diiringi Raden Arya.
Beberapa saat Mahapatih kembali beramah tamah dengan orang orang yang semakin banyak datang. Setelah dianggap cukup, Mahapatih berpamitan kembali ke Kasatriyan. Memanggil seluruh pimpinan Prajurit membahas langkah langkah selanjutnya.
"Aku sudah melihat kesiapan pasukan kalian di seluruh gerbang Istana. Sekarang siapkan untuk penyerbuan ke dalam dengan kekuatan penuh. Ini agar menjadi pelajaran untuk siapa saja yang akan bikin rusuh Majapahit."
"Apa tidak kita kirim negosiator untuk meminimalisir korban? Terutama korban dari keluarga Raja yang saat ini berada dibawah kekuasaan Pasukan Bhayangkari."
"Ya, kita utus negosiator, untuk menyampaikan kesiapan kita menghancurkan mereka bila gagal berunding. Sampaikan bahwa seluruh kekuatan Majapahit bersatu untuk melawan mereka. Sampaikan usaha mereka membunuh Wredamenteri Ranggapane telah gagal. Bila mereka menyerah, akan diperlakukan baik sampai pengadilan memutuskan."
"Baik Mahapatih."
Setelah berunding, diputuskan pimpinan Pasus Jalapati yang menjadi negoisator. Ia dipilih karena cukup dekat dengan pimpinan Pasukan Bhayangkari. Banyak dari pasukan Bhayangkari adalah bekas pasukannya.

***

Jingga menemui Senopati Bedali yang terlihat gelisah. Terkejut saat mengetahui Jingga berada di dekatnya. Sejenak Ia memberi hormat.
"Ada perkembangan?"
"Belum ada Paduka,"
"Dari Ranggapane?"
"Juga belum ada,"
"Lalu sampai kapan kita seperti ini?"
"Entahlah, hamba hanya menjalankan perintah."
"Apakah saya boleh urun pendapat?" Tanya Jingga, karena selama ini Ia hanya ikut skenario Senopati Bedali.
"Silahkan Paduka,"
"Apakah kamu punya beberapa rencana bila rencana awal gagal?"
"Kami selama ini hanya menjalankan perintah, tidak ada rencana kedua ketiga dan seterusnya."
Jingga menarik nafas. Mereka benar benar prajurit yang lurus hanya mengikuti perintah. Jingga semakin yakin mereka dimanfaatkan.
"Kalian harus mulai berpikir banyak kemungkinan yang akan terjadi. Salah satunya seperti saat ini. Terputusnya komunikasi perintah dari Ranggapane. Kalau sudah begini kalian akan melakukan apa?"
Senopati Bedali terdiam, berpikir keras.
"Tidak mungkin," gumam Senopati berbicara dengan pikirannya sendiri.
"Kita tunggu sampai ada kabar dari luar."
"Mumpung masih ada waktu berpikir. Rencanakanlah beberapa rencana kedepan bersama pasukanmu. Cobalah menjadi pasukan Mandiri yang lepas dari bayang bayang Ranggapane. Kalian harus memikirkan banyak rencana, tidak hanya hana, kalau perlu sampai BATANGA,"
"Karena sampai saat ini belum ada kabar positif dari luar, misalnya kabar dukungan dari ketiga jala. Bahkan yang aku lihat, ketiga kesatuan itu memperkuat pengepungan terhadap istana. Aku takut keadaan tidak seperti yang sudah kalian rencanakan.
Sekarang tentukan batas waktu, agar kalian bergerak lebih cepat dari lawan."
Beberapa bekel Bhayangkari yang berada dalam ruangan mengangguk angguk setuju. Bagaimana kalau Ranggapane gagal mengendalikan pasukan diluar? Bukankah itu berarti situasi menjadi berbalik?
"Mau tidak mau, malam ini semua harus tuntas,"
"Tuntas bagaimana bila kita tidak mendapat dukungan dari ketiga jala dan para pembesar yang berada di luar istana?"
"Kita bertahan, sampai titik darah penghabisan,"
"Jangan dulu, masih banyak jalan. Itu putusan terakhir. Jangan ada lagi korban."
"Kita coba bernegoisasi, minta bahan makanan untuk keluarga istana. Juga mencari kabar sebenarnya dari mereka. Baru kita pilih strategi yang akan kita ambil selanjutnya."
Senopati Bedali setuju dilakukan negoisasi. Ia sendiri yang akan menjadi negoisator.

***
Belum memberi kode untuk berunding, dari luar terlihat sandi permintaan berunding. Permintaan berunding diajukan langsung oleh Rakryan Tumenggung Jalapati. Pejabat tertinggi keprajuritan Jalapati.

Senopati Bedali langsung mengiyakan, memerintahkan prajurit yang berjaga di gerbang memberi Ijin Rakryan Tumenggung Jalapati masuk. Senopati Bedali memberi hormat dan mempersilahkan Rakryan Tumenggung duduk di tempat pertemuan.
Rakryan Tumenggung terus memandangi gerak gerik Senopati Bedali. Sejenak Ia mengambil nafas panjang.
"Apa tujuanmu memimpin pemberontakan ini?"
"Kami ingin mengembalikan kejayaan Majapahit."
"Apakah begini caranya? Dengan membunuh Raja dan mengangkat Raja tidak jelas asal usulnya? Ini bukan mengembalikan kejayaan Majapahit, tapi menghabus trah Majapahit dari muka bumi."
"Bukankah saat ini bukan turunan terbaik Shang Rama Wijaya yang memimpin? Untuk mendapat legitimasi, maka menikahi Bhree Matahun, yang darahnya lebih murni. Tapi apa yang terjadi pada Majapahit? Semakin lama semakin terpuruk oleh perang saudara dan ketidak adilan dimana mana. Bahkan dihadapan Manca Negara, kita ini hina dina, tak mampu bayar denda kepada China. Hutang dimana mana. Sementara untuk membayarnya hanya mengandalkan pajak kepada rakyat jelata. Kami prajurit yang dari rakyat jelata sangat merasakannya. Kami berjuang bertaruh nyawa untuk memuaskan intrik politik. Sedang keluarga kami diperas untuk membiayainya.
Kalian pejabat tinggi tidak merasakannya, karena setiap saat uang pajak dan uang apa saja datang tanpa diundang.
Maka saat sidang Pangeran Jingga. Pembelaannya membuka mata kami, bahwa kami senasib dengan Beliau. Saat pengadilan memutuskan hukuman mati kepadanya, tanpa sedikitpun catatan kepada Pemerintah untuk memperbaiki sistem yang ada. Saat itu kami merasa langit semakin gelap. Dan kami harus bertindak sebelum semakin gelap."
"Saya akui jiwa kalian sangat bergolak ingin cepat mewujudkan cita cita kalian, tapi semua ada aturan dan prosesnya. Negeri ini bagaikan bangunan candi, terdiri dari tumpukan bata merah yang saling mengikat dan menyanggah satu sama lain untuk menguatkan. Nah kini kalian tiba tiba melepas satu ikatan bata itu, menjadikan candi tidak kokoh lagi dan rawan runtuh. Apa itu tujuan kalian?"
"Kami sudah bosan mendengar nasehat nasehat untuk selalu ikut proses sistem yang ada. Karena sudah berkali kali proses itu hancur atau dihancurkan oleh orang orang tua yang setiap saat berteriak aturan dan moral."
"Lalu setelah ini siapa yang akan jadi Raja? Apakah keluarga kerajaan mau menerima?"
"Sementara Pangeran Jingga menjadi Raja, Ia akan menikah dengan Bhree Matahun. Nanti Bhree Matahun yang darahnya paling tinggi yang akan memerintah Majapahit, dan Pangeran Jingga yang melaksanakannya. Sama seperti Raja Wikramawardhana dengan Prameswari Kusumawardhani."
"Bukankah Jingga sudah divonis mati karena memberontak? Apa kata dunia, bila Majapahit dipimpin pemberontak?"
"Bukankah Ken Arok juga pemberontak? Bukankah Sang Rhama Wijaya juga pemberontak? Mereka semua sama. Memberontak demi kejayaan menumpas ketidak adilan."
"Siapa yang akan mendukung kalian? Sampai saat ini seluruh unsur prajurit dan pemerintahan menentang pemberontakan kalian,"
"Kami hanya mengikuti keyakinan yang selama ini Rakryan Tumenggung ajarkan kepada kami," jawab Senopati Bedali seperti mengingatkan saat Ia dibina Rakryan Tumenggung dan Ranggapane. Diberi cerita cerita kejayaan Majapahit dimasa dulu dan dibandingkan dengan kondisi saat ini yang serba terpuruk. Hal itu secara tak langsung mengajarkan kebencian kepada Raja yang sekarang berkuasa karena tidak segera membuat Majapahit bangkit, malah membuat semakin terpuruk.
"Sebaiknya kalian menyerah, nanti kita bisa atur agar kalian tidak dihukum. Hanya Jingga yang akan dihukum. Bukankah hukuman mati satu kali atau beberapa kali tetap sama saja?"
Senopati Bedali tercenung berpikir. Haruskah cita cita mereka kandas saat ini?
"Orang yang mengenal baik kalian hanya aku saja. Tak ada yang bisa membela dan meringankan dosa kalian selain aku. Kalian sudah aku anggap anak anak kesayangan semua, Sedangkan Paman Ranggapane masih pingsan karena terluka, jadi tidak bisa berbuat apa apa. Apakah itu ulah kalian?"

Senopati Bedali terkejut mendapat kabar Ranggapane terluka, oleh siapa? Apakah rencananya ini ada yang menunggangi lagi? Pantas saja tak ada kabar sampai saat ini.
"Bukan kami pelakunya," jawab Senopati setenang mungkin.
"Apakah Jingga pelakunya? Karena hanya dia yang punya kemampuan diatas Ranggapane," Rakryan Tumenggung mencoba menimbulkan perpecahan dengan menuduh Jingga sebagai pelakunya.
"Akan kami selidiki,"
"Kalau benar Jingga yang melakukan, apakah pasukanmu akan berbalik melawan Jingga? Karena atas jasa Ranggapane kalian menjadi prajurit pilihan seperti ini."
Ranryan Tumenggung terus mencecar untuk meruntuhkan keyakinan Senopati Bedali.
"Baik, apa yang kalian butuhkan, Makanan? Minuman? Segera aku sediakan."
"Ya, kami butuh logistik untuk keluarga istana."
"Semua sudah siap, aku rasa pembicaraan telah selesai. Bicarakan dengan rekan rekanmu tawaranku, aku tunggu sore nanti. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantu kalian lepas dari beban besar ini. Aku takut Mahapatih memerintahkan penyerangan sewaktu waktu. Jadi jangan buang buang waktu."

Perundingan selesai, Rakryan Tumenggung Jalapati berjalan tegak keluar gerbang istana. Sementara Senopati Bedali seperti gamang mengetahui perkembangan yang terjadi. Ia tidak menyangka Wredamenteri Ranggapane terluka. Pantas saja dukungan dari luar tidak muncul. Lalu siapa yang menyerang Ranggapane? Ia masih termakan tuduhan Rakryan Tumenggung Jalapati kepada Jingga. Karena secara keilmuan, Jinggalah yang dianggap mampu melukai Ranggapane.

Keringat dingin sebesar kacang hijau mengalir deras dari dahi dan tangannya. Ia harus bertindak cepat mengatasi situasi yang diluar perkiraannya.

Senopati Bedali mengumpulkan para bekel pasukannya, merundingkan hasil perundingan. Mereka semua terkejut mendapat kabar Ranggapane terluka, yang kabarnya sampai saat ini masih pingsan.
Ada pro dan kontra atas dugaan Jingga sebagai pelaku, seperti yang dicetuskan Rakryan Tumenggung Jalapati.
"Daripada saling menduga, lebih baik kita tanya langsung. Biar cepat selesai."
Semua setuju. Mereka lalu bersama sama menuju bilik yang ditempati Jingga. Bukan bilik bekas Raja yang luas dan megah. Jingga menempati bilik penjaga.

"Paduka, apakah semalam bertemu dengan Wredamenteri Ranggapane?"
"Tidak, aku hanya menyembunyikan Raja dan istrinya. Lalu kembali kesini. Bukankah kalian melaporkan kepada Ranggapane perihal kedatanganku semalam?"
"Ya, tapi kami tidak bertemu langsung,"
"Bagaimana aku melukai Ranggapane yang membebaskanku dan mengajakku melakukan semua ini. Hanya Dia yang menjadi kunci semua ini. Jadi bagaimana mungkin aku mematahkan kunci itu. Sedang aku sendiri terkunci di dalam?"
"Maaf Paduka, ini karena muncul desas desus yang menuduh Paduka pelakunya."
"Jangan percaya, bukan aku pelakunya. Itu strategi lawan untuk menghancurkan mental kalian sebelum dihabisi."
"Siap Paduka, ampuni kami,"
Setelah suasana mulai cair, Senopati menjelaskan hasil perundingan dengan Rakryan Tumenggung. Bahkan ajakan untuk meninggalkan Jingga juga disampaikan. Meski Senopati harus berkali kali meminta maaf kepada Jingga. Untunglah Jingga tidak terpengaruh, malah Ia tersenyum mendengarnya.
"Aku rasa, ide itu bisa kalian pakai,"
"Maksud Paduka?"
"Kalian masih muda muda, penuh semangat namun minim pengalaman. Dunia politik kerajaan terlalu rumit untuk kalian mengerti. Tak ada hitam tak ada putih, semua saling menodai dan mengikat, menjadikan dunia ini serba abu abu.
Aku berhitung, malam nanti kalian akan diserang habis habisan. Tidak ada guna menjadikan keluarga kerajaan sebagai tawanan, karena bisa saja yang menyerang tidak peduli akan hal itu. Pemberontak sebenarnya adalah yang akan menyerang nanti malam. Mereka akan mengambil alih Majapahit. Mereka mendapat momentum untuk menumpas pemberontak yang disematkan kepada kalian. Mereka mendapatkan dukungan pejabat Wilwatikta. Mereka memiliki seluruh kekuatan Prajurit Majapahit. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan Raja baru?"

Semua terhenyak mendengar analisa Jingga. Mereka tidak berpikir sejauh itu. Wajah wajah cemas dan tegang tergambar jelas. Semangat mereka tiba tiba jatuh pada titik nadir.
"Jangan cemas, aku hanya memberi analisa. Jalan keluarnya bisa kalian gunakan usulan Rakryan Tumenggung Jalapati tadi, Ini bukan menghentikan cita cita luhur kalian, namu situasi saat ini kalian pada posisi dimanfaatkan. Kalian rentan di korbankan. Dengan mengikuti rencana itu, setidaknya mencegah Tahta Majapahit jatuh kepada orang licik yang tidak berani unjuk dada didepan."
Susasana seperti sarang tawon yang dilempar anak kecil. Semua berbicara menurut pikiran dan perasaan masing masing. Menebak nebak siapa yang nanti mengambil untung dengan kejadian ini.

NB:
Terimakasih untuk agan @Titikhitam198 atas ide idenya
emoticon-I Love Indonesia
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
22-04-2019 00:28
OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG


Pasukan Jingga yang dipimpin Ki Genter sudah menyusup ke beberapa tambang. Mereka perlahan mempengaruhi pemikiran para pekerja tambang tentang kebebasan, penindasan penguasa yang korup. Prajurit yang memperkaya diri. Mereka menceritakan kondisi di tempat lain yang lebih ideal. Harga emas di pasaran yang jauh dari harga disini.
"Emas yang kalian tambang itu dimakan para pembesar prajurit yang korup. Emas itu hanya sedikit yang diserahkan ke Majapahit."
"Wah biadab sekali, kamu tahu darimana?"
"Karena sebelum kesini, saya pernah di Wilwatikta. Cerita tentang ini sudah menjadi rahasia umum disana."
"Bagaimana caranya?"
"Lihat emas yang kalian tambang, mereka beli dengan harga murah. Emas itu kemudian dicetak. Disanalah kebocorannya, sebagian besar emas itu digelapkan. Hanya sebagian kecil di kapalkan ke Wilwatikta.
Pengiriman emas dari sini sebulan sekali. Dari peti peti kayu yang diusung menuju kapal pengangkut hanya sekitar Limaratus tail emas. Bandingkan dengan hasil kalian menambang setiap bulannya. Seribu tail. Itu satu tempat, di Sekampung ini ada berapa tempat penambangan seperti ini? Selaksa ! Kali kan berapa jumlahnya.
Lalu kemana emas emas murah dari kalian pergi?
Emas emas kalian dibawa diam diam oleh kapal dagang. Menggunakan kurir prajurit yang membawa emas sedikit demi sedikit dikumpulkan di kapal itu. Berapa jumlahnya? Ada sepuluh kali lipatnya dari yang dikirim ke Raja Majapahit.
Jadi intinya, kalian ini diperas, dijadikan budak. Majapahit tidak tahu menahu akan hal ini."
Perlahan ketidakpuasan mengalir dalam darah para penambang. Mereka mulai tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Namun belum sampai pada taraf memberontak. Mereka kini seperti perempuan yang hidup menderita bersuami laki laki brengsek. Merasa tidak bahagia dengan rumah tangganya namun belum sampai tahap harus bercerai karena masih banyak pertimbangan. Dan perilaku suaminya belum sampai merusak pegangan hidup istrinya.

Di tempat lain, sekelompok telik sandi Ki Genter memetakan jalur emas curian dari peleburan menuju kapal pengangkut. Sebuah kapal dagang milik Dutamandala. Untuk menyamarkan kegiatannya, kapal itu datang membawa berbagai macam kebutuhan hidup para prajurit yang bertugas di Tulangbawang dan Sekampung. Kembalinya membawa emas yang sudah dicetak ditutup berbagai hasil bumi seperti lada dan kapas.
Setelah penuh, kapal itu bergerak ke Jawa menuju kantor dagang Dutamandala.
Para telik sandi menghitung kekuatan kapal itu. Mengenakan senjata apa dan berapa personil yang mengamankannya.

Kapal itu dipersenjatai cetbang sebanyak empat buah diletakkan di kedua sisinya. Diawaki sekitar duapuluh orang ABK. Kemudian dijaga sebuah kapal patroli laut Majapahit yang berkekuatan limapuluh orang. Namun karena sudah lama tidak terjadi penghadangan kapal angkut emas itu. Maka kapal patroli mulai jarang mengawal sampai pelabuhan tujuan di Jawa.
Ki Genter menyusuri jalur pelayaran menuju Jawa dari pelabuhan Tulangbawang. Ia menemukan titik terbaik untuk menyergap kapal angkut emas Dutamandala. Tempatnya cukup jauh dari pelabuhan, yaitu di sepasang pulau kecil lepas pantai. Pulau itu titik terluar sebelum berlayar di lautan luas menuju Kerajaan Sunda dan Jawa.

Sebelum hari keberangkatan kapal angkut emas, Pasukan Ki Genter sudah bersiap di kedua pulau itu. Mereka menggunakan lima perahu kecil yang bisa melaju cepat mengejar kapal besar dan satu perahu lebar untuk mengangkut. Arah angin dan kecepatannya sudah diketahui, arus air sudah diketahui. Mereka membuat peta penyergapan dengan segala perhitungan titik pertemuan sesuai arus dan kecepatan angin saat ini.

"Kapalnya sudah berangkat!"
Semua bersiaga. Perahu cepat itu menggunakan kekuatan dayung.
"Berangkat ke titik masing masing!"
Perahu perahu itu bergerak tenang menuju titik masing masing. Demi menyamarkan diri, hanya dua orang yang terlihat di tiap tiap perahu seperti nelayan mancing. Sisanya tiduran ditutup kain.
Ketika kapal sudah pada posisi kejar. Kelima perahu bergerak cepat memotong jalur. Awalnya kapal itu tidak bereaksi, menganggap perahu perahu itu hanyalah perahu nelayan. Ketika salah satu perahu perahu dihalau untuk minggir agar tidak tertabrak. Mereka terkejut ketika perahu itu malah menempel di lambung kiri dan kanan kapal. Dengan tali berpengaruh mereka memanjat dan memantulkan diri keatas geladak. Tak ada ancaman atau peringatan. Mereka langsung menyerang.
Terjadilah pertempuran jarak dekat dengan awak kapal. Awalnya awak kapal terlihat mengepung pasukan awal Ki Genter. Namun setelah tiga perahu lagi sudah menempel dan menaikkan pasukan. Kini yang terkepung terbalik. Jumlah awak kapal yang hanya dua puluh orang kini dikepung empat puluh orang.
"Dalam hitungan kedua, lepaskan senjata kalian! Kalau tidak ingin kami cincang buat pakan cumi cumi!"
"Siapa kalian?!"
"Satu dua!"
Serentak mereka melemparkan senjata masing masing ke dek kapal.
Ke duapuluh awak itu lalu diikat dan ditutup matanya. Dan dibawa masuk kedalam lambung kapal. Disekap disana.

Perahu angkut diperintahkan merapat. Separuh pasukan membongkar peti peti yang disembunyikan dibawah karung lada dan kapas. Emas emas itu dimasukkan karung lalu diturunkan cepat ke perahu angkut.
Proses pemindahan sangat cepat. Setelah berpindah semua, perahu itu melaju cepat menuju pulau.
Ki Genter memerintahkan pasukan perahu kecil segera turun kembali ke perahu. Para tawanan itu sekali lagi diperiksa memastikan mereka tidak melihat keluar kapal. Salah satu abk ikatannya sengaja diikat tidak begitu ketat agar nanti bisa lepas setelah berlayar cukup jauh.
Diatas, dua pasukan Ki Genter mengikat haluan agar bisa berlayar tanpa diarahkan.
Setelah semua selesai, Ki Genter turun ke perahu lalu melaju deras ke balik dua buah pulau kecil.
Dari sana perjalanan diteruskan menuju kapal mereka di pulau pulau kecil tempat membuang kapal rusak. Di kejauhan terlihat kapal Dutamandala terus berlayar ke arah jawa.

Para pasus yang bekerja di tambang, kembali kesana. Mereka mengamati dari dalam bagaimana reaksi para Prajurit yang kehilangan emasnya.
Sepekan kemudian, para prajurit di Sekampung dan Tulangbawang ribut oleh kasus perampasan itu. Tapi mereka tidak bisa secara terbuka membeberkan kasus itu, karena barang yang hilang tidak tercatat dalam administrasi perbendaharaan negara. Jadi secara diam diam mereka melacak keberadaan emas yang dirampok.
Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan, terutama kepada pihak intern pasukan Majapahit. Mereka terbiasa licik sehingga sesama prajurit saling jebak dan curiga.
Dari saling memeriksa antar komandan pasukan, terungkap bahwa barang yang dikirim ke Dutamandala, juga dicuri oleh masing masing komandan. Terjadilah saling tuduh berujung saling serang dan bantai.
Ki Genter sampai geleng geleng kepala melihat mental prajurit Majapahit sekarang. Harta menjadikan mereka bodoh. Kalau hal ini diketahui lawan, pasti Majapahit akan jadi bulan bulanan mereka.
Perilaku mereka semakin membuat muak masyarakat Lampung. Sudah hilang citra prajurit Majapahit yang terkenal gagah berani dibawah Mpu Nyala dan Gajahmada. Tubuh mereka tambun tambun seperti gentong penuh arak karena kebanyakan makan dan mabuk.

Kondisi semakin kacau, setelah berperang sendiri sehingga banyak memakan korban sesama prajurit. Mereka kemudian memaksa para penambang mengganti emas yang hilang.
Terjadilah penolakan yang berujung penyiksaan kepada pekerja tambang. Kejadian ini memicu kemarahan para penambang. Mereka melawan dan terjadilah perkelahian brutal. Para Prajurit yang sudah lamban karena kegemukan menjadi sasaran kemarahan para pekerja tambang. Para Prajurit itu dibantai. Bahkan tubuhnya dicincang sebagai pelampiasan kebencian selama bertahun tahun ditindas.
Kerusuhan itu terdengar di penambangan lain. Bagai minyak tersulut api, baranya cepat menyebar. Dalam sekejap saja seluruh daerah penambangan emas di Sekampung dan Tulangbawang memberontak melawan. Para Prajurit Majapahit dibantai, yang lolos melarikan diri menuju kota tambang di pesisir Tulangbawang.
Ternyata di Tulangbawang, masyarakat ikut menyerang. Pembunuhan, pembantaian penjarahan terjadi dimana mana. Asap hitam membumbung tinggi dari bangunan bangunan milik Prajurit Majapahit. Bahkan kapal dan perahu juga dijarah dan dibakar.
Hari itu asap menutup seluruh kota pesisir Tulangbawang. Mayat prajurit yang sudah tidak berbentuk berserakan di jalan jalan.

Ki Genter beserta pasukannya segera bertindak untuk mengendalikan situasi. Mereka mencegah tindakan anarkis yang mengarah ke kerusuhan sosial. Beberapa penjahat berusaha menjarah harta benda penduduk. Pasukan Ki Genter langsung menghadang dan menghantam mundur.
Ki Genter sengaja menunjukkan kemampuan agar massa yang hendak menjarah menjadi ketakutan. Tanpa sungkan setiap penjarah dibuat tumbang.
"Yang kalian memusuhi adalah Prajurit yang memeras kalian! Bukan saudara sebangsa kalian! Bubar!"
Yang membandel langsung terkena pentungan.
Tindakan Ki Genter cukup efektif meredam kerusuhan meluas dan semakin liar. Orang orang pribumi yang masih waras mulai ikut bergabung mengendalikan situasi.
"Panggil Raja kalian untuk menenangkan situasi," perintah Ki Genter kepada orang orang yang ikut bergabung menenangkan situasi.
"Raja kami sudah kabur!"
"Siapa saja yang dituakan masyarakat Tulangbawang,"
"Baik!" Mereka lalu menjemput sesepuh Tulangbawang. Seorang yang sudah berumur tapi masih gagah. Ia menunggangi kuda. Ki Genter menemui dan meminta Ki Jura, nama sesepuh itu, memimpin pengendalian situasi Tulangbawang. Sementara Ki Genter dan pasukannya menjadi penyokongnya.

Strategi tersebut cukup efektif. Para perusuh memilih mundur setelah melihat Ki Jura berada di garis depan meredakan kerusuhan.
Dalam sehari, situasi baru bisa diatasi. Kota Tulangbawang nyaris hancur lebur. Ki Genter bersama pasukannya membersihkan jalanan. Mayat mayat dikumpulkan untuk dikubur masal. Salah seorang pasukannya berhasil mengambil buku catatan pengiriman dan penerimaan emas dari Tulangbawang.
Ki Genter menyerahkan buku catatan itu ke Ki Jura. Ki Genter menjelaskan bahwa prajurit Majapahit yang berada disini selama ini adalah Prajurit yang korup. Mereka tidak mengirimkan emas hasil tambang kecuali sedikit saja kepada Majapahit. Dan itu bukan kebijakan Raja Majapahit.
Dan biasanya pasukan seperti itu sangat liar dan buas. Tidak mau berpikir, hanya menyalahkan yang lain yang lebih lemah. Jadi Ki Genter mengingatkan penduduk Tulangbawang dan Sekampung untuk siaga menghadapi serangan pasukan Majapahit yang tidak menerima bagian emas yang dikirim dari sini.
"Kalian ini siapa?"
"Saya dan rekan rekan ini dulunya prajurit. Tapi terbuang karena menentang pimpinan kami yang korup seperti prajurit Majapahit disini. Akhirnya terdampar disini mencoba merubah nasib dengan menjadi penambang."
"Bagaimana kami mempersiapkan diri menghadapi pasukan Majapahit?"
"Kami sekuat tenaga akan membantu melawan mereka. Dan kami bersedia melatih para pemuda menjadi prajurit yang handal kalau tetua berkenan."
Ki Jura sejenak berdiskusi dengan orang orang dekatnya. Mereka terlihat mengangguk mendengar ucapan Ki Jura.
"Baik, kalian dipersilahkan membantu kami dan melatih para pemuda kami. Asal kalian tunduk pada aturan adat istiadat kami,"
"Kami akan patuh pada Tetua," jawab Ki Genter.

Tanpa menunggu lama, Ki Genter bersama Ki Jura berkeliling seluruh kawasan kota Tulangbawang. Mengkonsolidasikan semua kekuatan masyarakat pribumi serta pendatang. Membagi wilayah pengamanan. Membentuk jalur komando dari Ki Jura sampai kelompok kelompok terkecil.
Ki Genter didepan mereka menyampaikan kembali kemungkinan kedatangan pasukan Majapahit yang kalap. Mereka bisa saja datang untuk membumihanguskan seluruh Tulangbawang dan Sekampung sebagai pelampiasan kekesalan mereka.

"Untuk itu sebaiknya mulai sekarang membuat tempat persembunyian didalam hutan. Ungsikan orang orang yang tidak bisa mengangkat senjata. Timbunan makanan disana. Yang disini hanya para laki laki saja.
Kita lihat pasukan yang nanti akan datang hendak apa, bila datang baik baik, kita terima. Bila ingin perusuh. Kita lawan sebagai laki laki."

Sebagai kota tambang, mayoritas penduduknya adalah laki laki di usia produktif. Secara fisik mereka mudah dilatih untuk berperang. Otot otot yang kuat terbiasa ditempa pekerjaan menambang emas. Tinggal di olah sedikit untuk mengayunkan pedang.

Tak ada kesulitan berarti melatih mereka. Apalagi Ki Genter sebelum melatih, menunjukkan kemampuan olah kandungan dihadapan mereka, agar tidak meremehkan saat dilatih.

Para pasukan Ki Genter terus mengawasi kemungkinan datangnya telik sandi pasukan yang akan menyerang Tulangbawang. Seluruh penduduk dikerahkan untuk hati hati dengan kedatangan orang baru.
"Kalau ada yang mencurigakan, jangan diapa apakan. Segera laporkan keberadaan mereka. Nanti kami yang akan mengatasinya."
Untuk pembiayaan, diam diam Ki Genter menggunakan emas hasil rampasan. Emas itu digunakan untuk membeli bahan pokok dan senjata.
Tambang kembali dibuka dengan sistem yang lebih adil. Hal ini agar bisa menjalankan roda ekonomi masyarakat. Menerapkan sistem baru agar tidak terjadi krisis paska kerusuhan. Juga membuka mata masyarakat bahwa mereka bisa hidup mandiri tanpa harus diatur kekuatan diluar mereka sendiri.

Dalam beberapa hari saja, situasi sudah berjalan normal. Bahkan orang yang baru datang akan tidak percaya bila Tulangbawang dan Sekampung baru mengalami kerusuhan besar besaran. Yang berbeda hanyalah tidak terlihatnya prajurit Majapahit yang biasanya lalu lalang di tempat tempat strategis.

Untuk mencegah penyerangan, Ki Genter mengirim surat menjelaskan kejadian yang terjadi beserta buku catatan emas milik prajurit Majapahit ke Markas Jalayudha di Palembang. Dengan catatan itu agar panglima laut di Palembang menyadari kalau selama ini ada penggelapan besar besaran di Tulangbawang.

Masyarakat melaporkan kedatangan beberapa orang yang dicurigai sebagai telik sandi Prajurit Majapahit.
"Tetap awasi kegiatan mereka, beri informasi yang mengalihkan perhatian," perintah Ki Genter kepada yang melapor.

Ki Genter cemas karena utusan yang berangkat ke Palembang sampai sekarang belum ada kabarnya. Seharusnya mereka sudah kembali ke Tulangbawang.

Yang ditakutkan akhirnya datang juga. Kapal perang pengangkut Pasukan Majapahit dari kesatuan Jalapati terlihat bermunculan di lepas pantai. Kapal kapal itu datangnya dari timur. Berarti dari pulau Jawa.
Secara senyap perintah diberikan untuk bersiaga menuju pos masing masing. Hal ini untuk menghindari deteksi telik sandi yang sudah dikirim mereka ke Tulangbawang.

Kapal Kapal perang itu terus mendekat. Telik sandi yang mereka tanam memberi kode aman untuk mendarat. Semua gerak gerik mereka diam diam dipantau pasukan Ki Genter.
"Biarkan mereka mendarat, orang orang di sekitar pendaratan mereka perintahkan mundur perlahan," perintah Ki Genter yang diteruskan sampai ke komandan masing masing kelompok terkecil.

Kapal kapal itupun berlabuh. Para Prajurit berbaris turun. Jumlahnya lumayan banyak. Ada sekitar seribu Prajurit. Jumlah yang cukup untuk menghancurkan Tulangbawang, yang hanya kota tambang tanpa prajurit sendiri.
Dari jauh Ki Jura dan Ki Genter mengamati gerak gerik pasukan yang baru menginjakkan kaki di tanah Tulangbawang. Apakah mereka bergerak rapi meresap masuk tanpa merusak sekitar atau sebaliknya, menyerang membabi buta, merusak apapun yang ada di hadapannya.

Dari lapangan mendapat laporan bahwa pimpinan prajurit Majapahit ingin bertemu dengan sesepuh masyarakat Tulangbawang. Ki Jura langsung bergerak turun dari bukit menemui mereka. Dikawal oleh beberapa pasus Ki Genter.
"Apakah Ki Sanak sesepuh Tulangbawang?"
"Benar Ndoro, hamba Ki Jura adalah yang dituakan masyarakat sini," jawab Ki Jura tenang.
"Jelaskan apa yang terjadi di sini terhadap pasukan Majapahit yang bertugas disini?"
"Kejadian berawal dari adanya kabar dirampoknya kapal pengangkut emas ke Jawa. Lalu para Prajurit saling curiga dan tuduh. Mereka akhirnya berperang sendiri. Baik yang di Tulangbawang maupun di Sekampung.
Peperangan mereka akhirnya berhenti dengan meninggalkan banyak korban termasuk pimpinan Prajurit di Sekampung. Sebagai pemenang, Kesatuan prajurit di Tulangbawang mulai mengumpulkan emas sebagai ganti yang dirampok. Mereka memaksa para penambang menggantinya. Yang menolak disiksa. Akibatnya menimbulkan pemberontakan para pekerja tambang. Timbullah kerusuhan tambang.
Kerusuhan cepat menyebar dari tambang satu ke tambang yang lain. Dan terus menyebar ke Sekampung dan kesini, Tulangbawang. Para pekerja tambang yang depresi selama ini melampiaskan ke apa saja. Termasuk rumah rumah kami menjadi sasaran mereka.
Untunglah kami sigap menjaga kampung kampung kami. Kami melawan para perusuh dan memukul mundur mereka. Mereka lalu melarikan diri kedalam hutan hutan dan gunung sekitar sini."
"Lalu dimana Prajurit Majapahit yang tersisa?"
"Kami tidak tahu, mungkin mereka melarikan diri di tengah kerusuhan saat itu."
"Kamu ikut aku berkeliling," perintah Senopati Tegalarang kepada Ki Jura.
Rombongan Senopati Tegalarang bergerak berkeliling Tulangbawang, memeriksa seluruh tempat. Terutama bekas tempat tempat pasukan Majapahit yang luluh lantak.
Senopati dan para pengawalnya terlihat marah melihat kehancuran itu. Tapi mereka bingung harus dilampiaskan ke siapa.
"Kumpulkan penduduk kalian disini! Aku ingin bertemu langsung dengan mereka!" Senopati Tegalarang memerintahkan kepada Ki Jura untuk mengumpulkan penduduk Tulangbawang.
Ki Jura memerintahkan pengawal dari pasus untuk menyampaikan ke Ki Genter. Ia sepenuhnya percaya kepada Ki Genter.
Ki Genter menerima pesan itu. Ia menarik nafas panjang. Sebuah situasi yang berbahaya. Bila ada kesalahan sedikit, akan terjadi pembantaian.
Kalau menolak, akan dianggap melawan. Bila menerima, lalu berkumpul di tanah lapang tanpa senjata dan perlindungan. Akan sangat rentan bila pasukan Majapahit itu tiba tiba kalap.
"Perintahkan keluar berkumpul ke lapangan orang orang yang masih ada di rumah rumah tanpa kecuali. Jangan sampai prajurit Majapahit menemukan di rumah rumah mereka. Bila ada apa apa, kami siap menjaga."
"Baik Ki,"
Perintah diturunkan. Orang orang mulai keluar dari rumah rumah mereka. Ada sekitar seratus orang.
"Cuma segini?!" Tanya Senopati setengah membentak. Tak percaya penduduk Tulangbawang hanya sedikit.
"Benar Ndoro, selain banyak yang jadi korban kerusuhan, sebagian lagi sudah kabur ke hutan saat pasukan Senopati datang. Masih trauma melihat peperangan," jawab Ki Jura setenang mungkin.
Senopati memerintahkan prajurit investigator menanyai mereka yang hadir di lapangan. Apakah cerita mereka sama dengan cerita Ki Jura. Bahwa kematian prajurit Majapahit dikarenakan perang antar sesama prajurit dan kerusuhan dengan orang tambang.
Setelah sekian lama pemeriksaan, para pemeriksa melaporkan kalau yang diceritakan Ki Jura kurang lebih sama. Orang orang ini banyak tidak tahunya. Mereka hanya tahu terjadi perang sesama prajurit tanpa tahu sebabnya. Terjadi pembakaran dimana mana. Selebihnya mereka kurang begitu faham.
Karena tidak mendapatkan informasi yang berarti. Orang orang yang dikumpulkan di lapangan diperbolehkan kembali ke rumah masing masing. Ki Jura dan Ki Genter meski berjauhan, sama sama menarik nafas lega. Karena bisa lolos ujian pertama.

Keesokan harinya ujian kedua datang. Para laki laki yang kemarin datang ke lapangan. Pagi ini harus berangkat ke pertambangan emas untuk menggantikan penambang yang kabur. Kontan saja para penduduk menolak. Ini sama saja kembali ke massa dulu. Bekerja sebagai budak.
Ki Jura berusaha menenangkan situasi. Mereka diminta mengikuti kemauan Senopati untuk sementara sampai jalan keluarnya disiapkan.

Dengan berat hati para penduduk Tulangbawang berangkat menuju pertambangan. Mereka masih percaya Ki Jura dan Ki Genter. Sementara Ki Jura dan Ki Genter memutar otak bila harus berperang dengan Seribuan Pasukan Majapahit di Tulangbawang.
"Sepertinya, utusan kita ke Palembang gagal. KIta harus menyiapkan strategi lain."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 41 lainnya memberi reputasi
42 0
42
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
17-08-2019 00:25
PERNIKAHAN II


Pagi hari, udara segar menerobos masuk kedalam bilik Lencari yang baru dibuka. Mengganti udara hangat nan pengap semalam. Jingga yang biasa tidur dibale depan bilik, sudah keluar jalan jalan mengamati situasi sekitar. Sebelum orang orang beraktifitas, disaat para pemabuk masih lelap di gubug gubug persimpangan jalan. Disaat para pencuri baru pulang membawa barang curiannya, disaat para penjaga terlelap berat, Jingga sudah berkeliling. Mengamati apa ada yang aneh atau berubah suasananya di awal pagi ini.

Lencari sudah rapi ketika datang Jingga membawa jajanan untuk sarapan. Ia juga membawa beberapa bahan ramuan yang baru dipetiknya di sekitar penginapan.
"Itu pengantin belum ada yang bangun?" Tanya Jingga sambil tersenyum.
"Belum," jawab Lencari sambil mengerling. Tersenyum sedikit menggoda.
"Kalau gitu kita sarapan dulu, aku lapar," ajak Jingga, membuka bungkusan yang dibawanya. Singkong rebus yang diberi taburan kelapa dan garam.
Lencari membuka bungkusan lain yang berisi nasi ketan bertabur kelapa dan bubuk kacang.
Sesekali mereka saling suap untuk mencicipi makanan masing masing.
Setelah usai sarapan, baru terdengar suara dari penginapan Raden Kijang Anom.
Jingga langsung terkekeh tanpa sebab. Lencari tersenyum, tapi tangannya langsung mencubit lengan Jingga agar tidak keras keras tertawa.
"Jangan usil," protes Lencari. Ia kemudian membicarakan rencananya nanti sore berangkat ke kediaman Pangeran Mahesa. Sesuai pengamatan Jingga, biasanya sore hari, Pangeran Mahesa akan mampir ke rumah Ibundanya untuk makan malam, setelah malam, baru pulang ke kediamannya.

Pembicaraan terhenti ketika melihat Raden Kijang Anom dan Untari mendekati mereka. Terlihat mereka sudah berkemas hendak berangkat.
"Sudah siap?" Tanya Jingga. Dulu Jingga yang selalu mengikuti perintah Raden Kijang Anom, kini kondisinya berbalik. Sekarang Raden Kijang Anom yang mengikuti perintah Jingga.
"Siap Kakang," jawab Raden Kijang Anom sedikit kaku. Maklum ini kali pertama memanggil Jingga dengan sebutan Kakang. Semua tersenyum dibuatnya.
"Selamat jalan, hati hati di jalan. Titip Adikku, terimakasih banyak," Jingga lantas memeluk Raden Kijang Anom. Airmata Jingga menetes tanpa dapat ditahan. Ia lantas memeluk Untari.
"Jaga baik baik Suamimu, jaga baik baik Ayahanda Raden Sastro dan Ibunda RA Sulastri," pesan Jingga pada Untari.
Untari mengangguk, tak bisa bicara. Airmatanya tumpah tanpa Ia tahu kenapa. Hatinya tiba tiba ngilu.
"Jaga Ayah bundaku ya," Lencari turut berpesan. Mereka berdua lantas berpelukan, bertangisan.

Sebagai mantan Prajurit, Raden Kijang Anom tak berlama lama pamitan. Mereka lalu pergi menunggangi kuda masing masing menuju Sunda lewat jalan tengah, tidak menyusuri sungai Brantas menuju Kahuripan. Tapi langsung menuju barat lewat Kertabhumi, Jagaraga, Pajang, Mataram, Paguhan sampai Sunda. Sebuah perjalanan darat yang panjang.

Sepeninggal Raden Kijang Anom dan Untari, suasana terasa lengang.
"Kok terasa sepi ya?"
"Iya, biasa dengar kicauan Untari." Jawab Jingga sambil tertawa. Dalam hati Jingga menangkap kegelisahan dalam diri Lencari. Maka sejak saat ini, Jingga tidak akan meninggalkan Lencari sedetikpun.
Mereka berdua lantas berkemas, rencana sore nanti akan keluar dari penginapan. Barang barang dipindahkan ke kereta kuda.
Belum siang hari, kegiatan beres beres sudah selesai. Kini mereka terjebak pekerjaan menunggu. Tak ada pekerjaan lain lagi.
"Bagaimana kalau kita keluar dari sini sekarang, lalu kita jalan jalan melihat kotaraja," kata Lencari, mulai bosan diam menunggu.
Jingga menyetujuinya. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka bergerak menuju kotaraja. Lencari duduk disebelah Jingga yang mengendalikan kereta. Lencari menutup tubuh dan wajahnya dengan kain lebar kecoklatan, ditambah wajahnya dicoklatkan sehingga seperti orang dusun, sehingga orang sulit mengenalinya. Sementara Jingga merubah tampangnya menjadi seperti orang dusun. Gigi dicoklatkan dan tongos.
Dengan penampilan seperti itu, berdua menikmati pemandangan kotaraja dengan leluasa. Jingga mengunjungi tempat tempat yang berkesan dalam hidupnya. Kasatriyan, Alun alun, Kadewaguruan. Beberapa tempat tidak bisa didatangi karena bukan untuk kalangan biasa. Lencari juga menceritakan tempat tempat dan kerabatnya yang pernah didatangi di Kotaraja. Siang itu mereka benar benar menikmati perjalanan tak tentu arah. Mencicipi berbagai jajanan masa kecil, membeli mainan.
Lencari membeli sepasang wayang alit. Laki laki dan perempuan. Katanya itu wayang Rama dan Shinta.
"Kakang, dulu aku pernah membeli wayang seperti ini, rencananya untukku satu untuk Kakang satu, tapi lantaran sakit, wayang itu entah dimana sebelum aku berikan ke Kakang," Lencari memberikan wayang yang perempuan ke Jingga.
"Cantikan kamu daripada wayang ini," seloroh Jingga, memuji.
"Ya jelaslah," kata Lencari sambil mencibir aleman.

Mendekati sore, Mereka ke pemandian untuk membersihkan diri. Lencari berdandan sederhana. Wajahnya dibersihkan tanpa riasan. Meski begitu, Ia terlihat sangat cantik. Saat keluar pemandian, Lencari mengenakan jubah dan menutupi wajahnya. Sementara Jingga tetap dengan penampilan dusunnya, Ia menunggu diatas kereta.

"Sudah siap?" Tanya Jingga kepada Lencari yang terlihat gugup duduk didalam kereta.
"Siap," jawabnya sedikit gugup.
Jingga memacu kereta kudanya menuju kediaman Ibunda Pangeran Mahesa. Jalan yang dilalui mengingatkan Jingga masa masa menjadi cantrik di rumah Raden Natanegara. Lantas bermunculan nama Janur yang konyol, Dyah Pramesti yang tomboy dan Dyah Wulandari yang menginjak masa masa ingin bebas. Bagaimana kabar mereka sekarang? Batin Jingga.

Jingga menghentikan laju keretanya tepat didepan gerbang rumah Ibunda Pangeran Mahesa Ariya. Beberapa penjaga gerbang mengawasi. Jingga langsung turun membukakan pintu kereta mempersilahkan Lencari turun.

Para penjaga yang mengenal Lencari langsung memberi hormat,
"Aku mau menghadap Pangeran Mahesa," kata Lencari, kembali ke gaya angkuh tak butuhnya.
"Baik Ndoro, akan hamba sampaikan," kata penjaga lantas pergi masuk melaporkan kedatangan Lencari. Tak lama penjaga itu kembali dan mempersilahkan Lencari masuk diiringi mereka. Sementara Jingga dipersilahkan istirahat di bale khusus abdi.

Terjadi kegemparan didalam kediaman Ibunda Pangeran Mahesa. Saat itu Ibunda Selir dan Pangeran Mahesa sedang bersantai di taman ketika mendapat Laporan Lencari hendak menghadap. Butuh waktu beberapa saat untuk menentukan sikap. Akhirnya Ibunda Selir yang mengijinkan Lencari untuk masuk. Ia ingin tahu langsung dari Lencari duduk persoalannya kekacauan rumah tangga putranya ini.

Oleh Penjaga, Lencari dibawa ke taman.
Lencari menghormat dalam sesuai tata cara kerajaan. Ibunda Selir dan Pangeran Mahesa terus memandang tajam ke Lencari. Mereka terkejut melihat Lencari yang terlihat sangat kurus, ringkih.
"Silahkan duduk,"
"Terimakasih."
"Katakan apa maksud kedatanganmu, bukankah kamu sudah meninggalkan anakku?"
"Ampun Ndoro, memang benar hamba meninggalkan Pangeran."
"Lalu buat apa kembali? Apa belum puas menyakiti anakku?"
"Bukan maksud hamba Ndoro, hamba dipaksa menikah karena tekanan dari pihak luar," Lencari menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya. Hal itu juga sudah dijelaskan kepada Pangeran Mahesa dimasa lalu.
Ibunda Selir mendengarkan semua penjelasan Lencari. Pada dasarnya Ibunda Selir merasa sayang dan cocok dengan Lencari. Gadis yang cerdas dan bukan penjilat seperti umumnya gadis disekitar Pangeran Mahesa. Namun bagai petir disiang bolong, Ia mendapat kabar kalau Lencari kabur meninggalkan putranya. Selama ini hanya dari Putranyalah Ia mendapat penjelasan. Itu membuat dirinya yang semula sayang kepada Lencari, perlahan mulai membenci.

Berkali kali Ibunda Selir menanyakan ke Pangeran Mahesa, apa benar yang dikatakan Lencari. Dengan berat hati Pangeran Mahesa mengiyakan apa yang disampaikan Lencari. Semakin lama mendengar kisah Lencari, Ibunda Selir merasakan kemiripan nasib dirinya dengan Lencari.
Dahulu Ia adalah Seorang putri Raja di Swarnabhumi. Menjalin kasih diam diam dengan seorang perwira kesayangan Raja. Masa masa yang sangat indah untuk dikenang. Meski sembunyi sembunyi, Ia bisa menikmati indahnya cinta kasih itu.
Sampai akhirnya, Ia mendapat kabar kalau dirinya diminta utusan Majapahit untuk dijadikan istri Raja Majapahit. Ia tidak bisa menolak, karena wanita dalam hirarki kerajaan selalu dijadikan sebagai alat kekuasaan. Dengan adanya dirinya di lingkaran Raja, bisa berjuang untuk kerajaan dan Rakyatnya. Bahkan bisa bisa anak keturunannya akan menjadi salah satu Raja Majapahit kelak.

Berangkatlah Ia ke Wilwatikta. Untunglah Ayahandanya mengutus salah seorang pengawal kesayangannya untuk menjaga. Dari sekian prajurit, yang siap untuk ditugaskan ke Wilwatikta hanya dia. Jadilah keduanya berangkat bersama pasukan laut Majapahit menuju Wilwatikta. Mereka bersama namun ada tabir antara mereka.

Kini Ia memiliki dua anak dari Raja. Pengawal itu tetap menjaganya dan diangap Paman sendiri oleh kedua anaknya. Saking rapatnya menjaga rahasia, kedua anaknya tidak pernah tahu kisah itu.
Kekasih itu tak lain adalah Ki Halimun. Orang sakti yang sempat mengajari Jingga saat masih di kadewaguruan dan berlatih tanding saat menyamar jadi cantrik di rumah sebelah.

Maka saat Lencari bercerita lika liku kehidupannya selama bersama Pangeran Mahesa, yang tergugah perasaannya adalah Ibunda Selir sendiri. Ia sampai menangis. Hal yang tidak pernah dilihat oleh Pangeran Mahesa selama hidupnya.
"Ibunda tidak apa apa?"
Ibunda Selir menjawab dengan gerakan tangan, menyatakan dirinya tidak apa apa.
"Lencari, sebagai imbalan atas kejujuranmu, Bunda mengijinkan kamu meninggalkan anakku."
"Ibunda...." Seru Pangeran Mahesa kaget dengan perubahan sikap Ibundanya. Sejujurnya Pangeran Mahesa masih berharap Lencari kembali kepadanya dengan bantuan Ibunda. Ia ingin menyiksa Lencari sebagai balasan perbuatannya meninggalkan dirinya selama ini.
Bukan seperti ini.
"Pangeran, ceraikan Lencari. Kasihanilah dirinya, Ibu sebagai wanita bisa merasakan penderitaannya," pinta Ibunda Selir kepada Pangeran Mahesa.
Pangeran Mahesa diam mematung. Ibunda Selir sampai menggoncang goncangkan tubuhnya agar segera melakukan permintaannya. Sedang Lencari duduk menunduk bermohon permintaannya dikabulkan.
"Baiklah Bunda," akhirnya Pangeran Mahesa menyetujui.
"Katakan, kau menceraikan Lencari,"
"Aku Pangeran Mahesa Ariya, hari ini aku ceraikan istriku, Lencari. Sudah," ucap Pangeran Mahesa setengah terpaksa. Ia lantas berdiri meninggalkan Ibunya dan Lencari.
Ibunda Selir menghampiri Lencari, memerintahkan bangkit lantas memeluknya.
"Sudah, kejarlah mimpimu, hanya ini yang bisa bunda bantu. Maafkan kami,"
"Terimakasih Bunda, terimakasih banyak," ucap Lencari sepenuh hati. Rasa haru dan gembira memenuhi dadanya. Beban berat yang ditanggungnya kini telah terangkat dari pundaknya.
Bergegas Lencari memohon diri untuk melanjutkan perjalanannya. Kakinya terasa ringan melangkah meninggalkan kediaman Ibunda Selir.

Diluar, Jingga tak banyak bertanya, melihat ekspresi Lencari yang berbinar, sudah cukup memberi jawaban.
"Secepatnya kita pergi dari sini," pinta Lencari setelah naik kereta.
Tanpa banyak kendala, kereta mereka bergerak ke barat menuju tempat matahari tenggelam.
"Kemana kita?" Tanya Jingga.
"Ke rumah Eyang Sidatapa,"
"Siap,"

Jingga mengarahkan kereta ke kediaman Raden Sidatapa. Demi kerahasiaan, mereka kembali menyamar sebagai rekan Anjani. Tanpa banyak menimbulkan kecurigaan mereka masuk. Raden Sidatapa yang mantan prajurit, cepat bisa beradaptasi dengan skenario Jingga. Sehingga para penjaga rumah tidak curiga.

Raden Sidatapa membawa Lencari dan Jingga masuk. Di ruangan tersembunyi, baru Raden Sidatapa menanyakan semua yang muncul dibenakknya.
Lencari menceritakan semuanya, sampai terakhir yang dirinya dapat ijin bercerai dengan Pangeran Mahesa.
Suasana haru menyelimuti mereka. Anjani dan Lencari menangis berpelukan. Jingga dan Raden Sidatapa diam menyaksikan.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?"
"Eyang, maukah menikahkan kami sekarang?" Pinta Lencari langsung. Permintaan yang membuat Raden Sidatapa dan Anjani terkejut.
"Bagaimana bisa aku melangkahi kedua orang tuamu," jawab Raden Sidatapa sungkan.
"Tidak apa apa Eyang, aku yakin ayah-bunda setuju, kami mengejar waktu Eyang,"
Raden Sidatapa berpikir sejenak. Suasana berubah hening menunggu keputusan Raden Sidatapa.
"Baiklah, aku lakukan," kata Raden Sidatapa akhirnya.
Lencari langsung menghambur memeluk Raden Sidatapa. Kembali menangis haru.
"Sudah sudah, kalian bersiap dulu. Anjani, siapkan perangkat pernikahannya ya,"
"Baik eyang," jawan Anjani, bergegas keluar menyiapkan segala sesuatunya.

Setelah semua siap, Raden Sidatapa dengan terbata bata menikahkan Jingga dan Lencari dengan penuh kesederhanaan dan rasa haru. Setelah dinikahkan, Raden Sidatapa menjamu keduanya makan malam dan diberi kamar untuk bermalam.

Malam itu, malam puncak perjalanan kisah kasih Jingga dan Lencari. Puncak kebersamaan baik lahir maupun batin. Semuanya serasa dimampatkan, melebur menyatu dalam semalam. Rasa sedih, gembira, rindu, hasrat, harapan, kenyataan, ragu juga optimis. Semuanya.

Kini keduanya merasakan kesempurnaan hidup dan cinta mereka.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 38 lainnya memberi reputasi
39 0
39
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
12-08-2019 14:24
PERGI KE WILWATIKTA


Lencari diam lagi. Ia kehabisan tenaga setelah mengucapkan kalimat tadi.
"Cari, tenangkan dirimu, Kakang janji akan selalu menjagamu. Kakang tidak akan pergi meninggalkanmu lagi," Jingga terus berbisik ketelinga Lencari agar bangkit semangat hidupnya.
Lencari hanya terdiam, bibirnya yang kering pecah pecah bergerak gerak tanpa suara. Hanya airmatanya yang mengalir pertanda Ia mendengar semua ucapan Jingga.
Jingga lalu meneteskan air ke bibir lencari, sambil terus bercerita memberi semangat. Ia tak peduli ucapannya didengar Untari dan para emban. Ia tak peduli ucapannya didengar Raden Sastro dan RA Sulastri diluar. Ia hanya ingin Lencari pulih seperti dulu.
"Cari, kamu harus kuat, kamu harus bangkit. Kakang yakin kamu bisa bangkit seperti dulu,"
Perlahan Lencari kembali merespon, air yang diteteskan di bibirnya ditelan. Jingga mengangkat tubuh Lencari yang sangat ringan dan ringkih. Punggungnya dan kepalanya diberi bantalan bantal agar tidak tersedak.
Semua orang memperhatikan apa yang dilakukan Jingga penuh harap harap cemas. Tabib yang merawat Lencari juga datang ditemani Raden Sastro diluar. Membiarkan Jingga melakukan tindakan kepada Lencari.
Usaha Jingga tidak sia sia. Lencari kembali membuka matanya, Ia sudah menyadari kehadiran Jingga. Bibirnya tersenyum tipis. Tangannya terus menggenggam tangan Jingga seolah tak ingin lepas.
"Kakang," bisiknya pelan.
"Ya Cari, kamu makan ya, biar sehat,"
Lencari mengangguk lirih, bibirnya terbuka sedikit, menerima suapan bubur cair. Namun tak banyak, beberapa suap saja tubuhnya bereaksi menolak. Nafasnya pendek pendek.
Cepat Jingga memijat titik peredam muntah, agar makanan yang baru masuk tidak keluar.
Nafasnya kembali normal, pertanda mualnya sudah berangsur hilang.
"Nanti lagi makannya ya,"
Lencari mengangguk kecil. Matanya kembali berat untuk dibuka. Hanya senyumnya tetap terukir di bibirnya yang kering.
Ia tertidur.
Jingga terus menggenggam tangan Lencari, seakan cara itu untuk menemani Lencari dalam alam mimpinya.
Tubuh Lencari sudah lebih hangat, nafasnya teratur. Ia sedang tidur, tidak pingsan lagi.
Tiba tiba Jingga ingin kebelakang. Ia melepas pelan genggaman Lencari, meminta Untari menggantikannya.

Sekembali dari pemandian, Jingga memeriksa keadaan Lencari.
"Apa dia sempat bangun?"
Untari mengeleng. Dengan kode gerakan kepala, Untari menyuruh Kakangnya makan. Sejak datang sampai malam ini belum terisi sama sekali.
Jingga menuruti. Ia keluar bilik permisi hendak makan di bale depan bilik. Makanan sudah disediakan sejak sore tadi.
Tabib keluarga meminta ijin memeriksa kondisi Lencari. Ia lantas keluar menemui Raden Sastro yang bersamanya sejak tadi.
Mereka terlibat pembicaraan serius.
Jingga cepat menyelesaikan makannya. Ia segera menghadap Raden Sastro dan Tabib itu. Ingin tahu keadaan sebenarnya yang dialami Lencari.
"Terimakasih Pangeran telah membantu kesembuhan Ndoro putri," ucap Tabib memberi hormat kepada Jingga.
"Paman, bisa jelaskan kondisi Lencari yang Paman ketahui?"
Tabib itu menarik nafas panjang.
"Tubuhnya yang dulu pernah terluka, kini terluka lagi. Ada beberapa bagian dalam dirinya yang mengalami penurunan fungsi. Sebetulnya orang tidak makan tidak begitu membahayakan tubuh. Tubuh akan menyesuaikan dengan sendirinya. Namun ini karena beban batin, membuat kerja tubuh terganggu. Semoga dengan kehadiran Pangeran bisa memberi keajaiban hidup bagi Ndoro Putri,"
Tabib itu kemudian menjelaskan analisanya. Jingga menggeleng gelengkan kepala pelan seakan tak percaya. Ia menarik nafas panjang untuk menguatkan perasaannya. Gambaran dari Tabib mengindikasikan Lencari diambang kematian.
"Semoga analisaku salah, hidup mati bukan kita yang menentukan. Kita hanya membaca tanda tanda dan berusaha memperbaikinya,"
"Pangeran, saya meminta dengan hormat, mohon bantu anakku satu satunya," Raden Sastro meminta dengan sepenuh hati. Ia hampir bersujud kalau tidak ditahan Jingga.
"Tanpa diminta, tetap akan aku lakukan,"
"Terimakasih, terimakasih," Raden Sastro memeluk Jingga. Ia berharap banyak kepada Jingga.
Jingga pamit kembali ke dalam. Meminta Untari istirahat karena sudah larut malam. Untari memilih tidur dibilik Lencari, dengan menggelar selimut tebal sebagai alas. Ia ingin ikut menemani Lencari.

Malam itu Lencari terlelap, Jingga juga tertidur sambil duduk dengan terus memegangi tangan Lencari.

****

Jingga terjaga dari tidur, terasa ada yang menyentuh telinganya. Jingga lantas tersenyum lebar melihat Lencari memandanginya.
Ia mencium tangan kurus Lencari membuat Lencari tersenyum bahagia.
"Kakang,"
"Sudah bangun dari tadi?"
Lencari mengangguk pelan.
"Kok aku tidak dibangunkan?"
"Kasian," jawab Lencari. Dari nada bicaranya sudah membaik. Tidak berat seperti tadi.
"Mau apa?" Tawar Jingga.
"Minum,"
Jingga mengganjal punggung dan kepala Lencari dengan bantal sebelum mengambil minuman di meja samping. Menggunakan sendok perak Jingga menyuapi.
"Sudah," kata Lencari setelah beberapa suapan.
Jingga mengelap sedikit tumpahan air di pipi Lencari. Senyum Lencari semakin mengembang.
"Makan bubur ya?"
Lencari mengangguk. Perutnya tiba tiba merasa lapar.
Dengan sabar, Jingga menyuapi Lencari dengan bubur nasi yang sudah dingin.
Bubur yang diberi ramuan penguat perut dan kuah daging cepat diserap tubuh. Usai makan, Lencari mulai bisa mengamati keadaan sekitar.
"Siapa itu?" Tanya Lencari menunjuk dengan tatapannya mengarah ke Untari yang sedang tidur pulas.
"Untari, Ia yang mengantarkanku kesini,"
"Maaf aku gak tau,"
"Kami datang siang tadi, sekarang tidur, kecapean lama di perjalanan."
"Maaf Kakang, aku merepotkanmu,"
"Sudah jangan berpikir begitu,"
Lencari tiba tiba melepaskan pegangan Jingga. Seperti tersadar.
"Istrimu mana?"
"Maksudku Ratna? Ia bukan istriku," jawab Jingga datar.
"Tapi," ada nada ragu.
Jingga menjelaskan sejujur jujurnya siapa Ratna. Kisah perjalanan mereka. Mulai pertemuannya, sampai perpisahan pagi itu. Agar tidak ada keraguan lagi dihati Lencari.
"Kasihan Ratna," guman Lencari, Ia tahu Ratna amat mencintai Jingga. Saat mengaku dirinya adalah istri Jingga, mungkin itu cetusan dari keinginan hatinya yang terdalam. Setelah sekian lama menunggu sikap Jingga kepadanya.
Hanya Jingga tidak memberi ruang dihatinya kepada Ratna.
"Ya, aku merasa bersalah kepada semua orang," kata Jingga setengah menerawang. Wajahnya tiba tiba murung mengingat begitu banyak kesalahannya selama ini.
Lencari kembali menggenggam tangan Jingga. Wajahnya terlihat bahagia.
Jingga membalas senyum Lencari, Ia tidak boleh murung didepan Lencari. Biarlah semua penderitaannya tetap disimpan dalam hati.
"Kakang,"
"Ya," Jingga mendekatkan telinganya ke bibir Lencari.
"Kenapa Kakang tidak menerima Ratna? Ia baik, cocok dengan Kakang."
Jingga terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya memilih diam.
Lencari menyadari kesalahannya, Ia terjebak ke pertanyaan yang memaksa Jingga membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak mungkin memaksa Jingga mengatakan kekurangan orang lain demi memilihnya.
"Maaf Kakang,"
Jingga tersenyum.
"Cari, apa keinginanmu kedepan?"
"Aku tidak tahu," jawab Lencari, mengeleng pelan.
"Maukah kau terus bersamaku, selamanya?"
"Mau Kakang, tapi...,"
Jingga diam menunggu kelanjutan kalimat Lencari yang terasa berat terbentuk di bibirnya.
"Tapi, aku sakit begini."
"Aku akan berusaha menyembuhkanmu,"
"Tapi, aku masih istri orang," Lencari mengingat status dirinya, lantas menangis.
Jingga menggenggam jemari Lencari sambil berdiri dengan lututnya.
"Katakan semua yang ingin Cari ceritakan," Jingga menatap mata Lencari dalam temaram malam, memberi semangat. Mendekatkan telinganya kembali ke bibir Lencari.
"Orang pasti menganggap aku wanita tidak baik," sejenak mengambil nafas menguatkan diri.
"Sudah bersuami masih mengejar laki laki lain," matanya berkaca kaca.
"Ibunya sampai sakit, rumah dan kedai sampai dihancurkan orang,"
"Mencemari nama Kakang menjadi perusak rumah tangga orang,"
"Aku ingin menjadi manusia normal, tapi tidak bisa,"
"Maafkan aku Kakang,"
Jingga menggenggam erat jemari Lencari.
"Kamu tidak salah Cari, jangan menyakiti dirimu sendiri."
Jingga mengusap airmata lencari yang mengalir di ujung kanan kiri matanya.
"Aku tahu umurku tidak panjang, aku ingin mati dengan tenang,"
"Jangan begitu Cari, kamu bisa pulih lagi, kamu akan bahagia hidup bersamaku," bisik Jingga, terus berusaha meyakinkan.
Lencari tersenyum sambil mengeleng.
"Aku ingin sah bercerai,"
"Maksudmu?"
"Aku ingin meeminta cerai langsung."
"Bukankah terlalu jauh kalau ke Wilwatikta? Apalagi kondisimu sakit begini,"
"Sama saja, daripada terlambat," bisik Lencari. Tekadnya sudah bulat.
Jingga merenung memikirkan keinginan Lencari yang tidak masuk akal.
"Aku tidak mau mati dengan statusku seperti ini,"
"Jangan bicara seperti itu,"
"Aku ngantuk," bisik Lencari, sejenak kemudian sudah terlelap.
Tinggal Jingga termenung sendiri.
Sikap Lencari yang merasa akan meninggal dalam waktu dekat, ditambah cerita Tabib keluarga mengenai kondisi Lencari yang parah. Membuat Jingga bimbang. Ia tidak ingin kehilangan Lencari, Ia tidak ingin berpisah lagi dengan Lencari, apapun akan dilakukannya demi membahagiakan Lencari. Sementara keinginan mempertegas statusnya, cukup membahayakan kesehatan Lencari.
Dilain pihak, Jingga punya misi sendiri. Misi untuk menghentikan penderitaan Rakyatnya. Misi yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

Jingga lalu memikirkan kemungkinan membawa Lencari bersama ke Wilwatikta.

***

Pagi itu suasana rumah Raden Sastro tampak ceria. RA Sulastri memerintahkan orang dapur memasak masakan untuk semua. Para pekerja dijamu layaknya tamu keluarga. Sebagai rasa syukur sadarnya Lencari.
Pagi pagi, Raden Sastro dan RA Sulastri sudah berada di bilik Lencari, mereka sangat gembira melihat Lencari sudah sadar. Jingga dan Untari pamit istirahat di bilik yang disiapkan untuk mereka berdua. Memberi kesempatan keluarga Lencari berkumpul dan bercengrama.

"Kakang, ngapain memandangiku terus?" Tegur Untari, risih melihat Kakaknya memandanginya terus.
"Eh, Iya," tak jelas jawaban Jingga. Ia tidak berani mengakui apa yang ada dibenaknya saat memandangi adiknya.
"Tari, Kakang Kak Cari sepertinya ingin ikut ke Wilwatikta bersama kita,"
"Bukankah masih sakit?"
Jingga lantas menceritakan keadaan Lencari, juga keinginannya menyelesaikan urusan dirinya sebelum terlambat. Untari terdiam, tidak mengira kalau keadaan Lencari separah itu.
"Bukankah sama dengan..." Untari tidak melanjutkan kalimatnya, takut ucapannya menjadi kenyataan. Jingga mengangguk mengerti yang dimaksud Untari tentang resiko kemungkinan Lencari akan mencari mati bila datang ke Pangeran Mahesa.
"Aku harus menjaganya," gumam Jingga pelan, berjanji kepada dirinya sendiri.
"Apakah kedua Raden Sastro sudah tahu?"
"Mungkin sekarang,"
"Trus, tadi maksud memandangiku itu apa?" Kembali Untari bertanya.
Jingga langsung garuk garuk kepala. Anak ini kalau belum jelas, akan mengejar terus.
"Gini, kamu ini kan sudah besar, sebentar lagi menikah, apa sudah ada calon?"
"Yee, itu lagi yang ditanya, kan sudah dibilang aku masih belum mikir kesana, memangnya Kakang yang kecil kecil sudah genit," jawab Untari sambil meledek Kakangnya.
Untari berkelit sambil tertawa ketika tahu Kakangnya berusaha mencubit.
Jingga akhirnya tidak tega mengungkapkan rencananya kepada Untari. Biarlah Ia menikmati kegembiraannya.

Usai istirahat, Jingga dan Untari kembali ke bilik Lencari. Mereka langsung disambut Raden Sastro dan RA Sulastri. ekspersi Raden Sastro dan istrinya menunjukkan ada yang hendak dibicarakan dengan Jingga. Raden Sastro membimbing Jingga ke taman yang samping. Ia terlihat kesulitan menyampaikan keinginannya.
"Lencari tadi menyampaikan keinginannya," kata Raden Sastro membuka pembicaraan.
Jingga langsung menebak apa yang disampaikan Lencari.
"Ia ingin menemui suaminya,"
Jingga mengangguk, "Semalam Lencari sudah menceritakan keinginannya kepadaku,"
"Syukurlah, tapi perjalanan kesana jauh dan berbahaya. Apalagi kondisinya seperti ini,"
Jingga kembali mengangguk.
"Bisa Pangeran tahan tahan agar lebih lama menunda keberangkatannya, sampai dirinya pulih," pinta Raden Sastro, meski dirinya ragu dengan kepulihan Lencari.
"Akan aku usahakan,"
"Terimakasih Pangeran,"
Mereka lantas kembali ke bilik Lencari.
Raden Sastro dan RA Sulastri pamit.
Jingga dan Untari masuk bilik, disambut senyum Lencari yang sudah menunggu. Wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Mengenakan pakaian sutera halus berwarna pink muda bak kelopak mawar. Ia ingin terlihat cantik meski tidak bisa menutupi tubuhnya yang kering.
Untari langsung memeluk mencium Lencari dengan disaksikan Jingga disampingnya.
Untari lantas bercerita segala macam yang ada dibenaknya. Lencari mendengarkan dengan wajah ceria, seakan penyakit di tubuhnya sudah sirna. Adakalanya ceritanya menyerempet Jingga. Beberapa kali Jingga dehem dehem tapi tak dihiraukan Untari. Wajah Jingga jadi memerah karena dijadikan bahan cerita.
"Tari, kamu mau jadi adikku?"
"Mau Kak, memangnya ada apa?"
Lencari meminta emban untuk memanggil orang tuanya. Dengan beringsut emban itu keluar melaksanakan perintah.

"ada apa Nduk?" Tanya Raden Sastro yang buru buru datang setelah dikabari emban.
"Ayah, angkat Untari jadi adikku yah,"
Raden Sastro bernafas lega, dipikirnya Lencari hendak minta berangkat sekarang.
"Iya, asal Untari mau,"
"Tari sudah mau kok Yah,"
"Benar Tari?"
"Iya," jawab Untari.
"Nah kalau begitu, Tari mulai sekarang jadi anakku dan ibunda Sulastri. Kamu bebas tinggal disini. Hakmu sama dengan Kakakmu Lencari,"
"Terimakasih Rama," ucap Untari, matanya berkaca kaca. Sejak ditinggal ibundanya, Untari kehilangan sosok orang tua dalam kehidupannya. Disinilah Ia dulu merasakan kehangatan sebuah keluarga.
R.A Sulastri mendekati Untari, memeluknya dengan penuh rasa sayang dan tangis haru.

Suasana yang benar benar menyenangkan. Beban berat mereka terasa terangkat dari pundak masing masing. Celetukan Untari beberapa kali memancing tawa bersama.
Suasana itu membuat Jingga lalai akan tekad menuntaskan tanggungjawabnya kepada Rakyat Blambangan dan para pengikutnya. Berkali kali Ia harus menunda keberangkatannya, demi memberi kegembiraan kepada orang orang terkasihnya itu.

Sampai akhirnya takdir harus dihadapi. Pengobatan yang terbaik dan kehadiran Jingga, tidak cukup mampu mengembalikan kondisi Lencari. Lencari masih tidak bisa berjalan. Beberapa kali Ia mengalami kesakitan didalam tubuhnya.
"Kakang, Kapan berangkat? Aku takut tidak kuat lagi," bisik Lencari setelah mengalami kesakitan yang amat sangat dalam dirinya.
"Secepatnya Cari, masih dipersiapkan," jawab Jingga menenangkan.

Dengan berat hati, akhirnya Raden Sastro dan RA. Sulastri melepaskan kepergian Lencari bersama Jingga dan Untari. Dari Sunda, menaiki kapal ke Kahuripan. Sampai di Kahuripan, Jingga meminta hanya Ia dan Untari yang menjaga Lencari. Orang orang yang awalnya ditugaskan, ditolak halus oleh Jingga. Karena semakin sedikit, semakin mengurangi perhatian orang lain.

Perjalanan ke Wilwatikta menggunakan sebuah kereta yang dalamnya dibuat sebagai tempat tidur berjalan. Untari didalam menemani Lencari yang terus terbaring. Ia yang dengan suka cita melayani semua kebutuhan Lencari. Sementara Jingga di depan sendiri mengendalikan jalan kereta.

Tak ada kesan lain di pikiran dan hati Jingga selain bahagianya melakukan perjalanan dengan Lencari. Meski tidak dalam kondisi sehat. Keberadaan Untari yang lincah dan ceria memberi suasana sendiri ketika Jingga merenung.

Sampai di daerah Bubat, Jingga mencari penginapan sederhana. Ia dengan wajah samarannya, tidak mungkin menginap di tempat yang lebih mewah. Di Wilwatikta, mereka beralasan sedang mengunjungi Tabib yang akan mengobati istri Jingga. Lencari senang dengan statusnya sebagai istri Jingga meski hanya sebuah penyamaran.

Setelah masuk penginapan, Jingga berpamitan hendak menemui seseorang di Wilwatikta. Meminta Untari menjaga Lencari.

Dengan menyelinap, Jingga menemui Raden Sidatapa. Raden Sidatapa terkejut mendapat kunjungan Jingga. Buronan nomor satu Majapahit. Dan lebih terkejut lagi saat dikabarkan keinginan Lencari menemui suami yang sekian lama ditinggalkannya.
Raden Sidatapa menawarkan diri untuk membantu, tapi Jingga menolak. Ia tidak ingin Raden Sidatapa dan keluarga terkena getahnya bila terlihat membantunya. Ia hanya minta alamat dan kabar Raden Kijang Anom.
"Raden Kijang Anom saat ini tinggal diluar kasatryan. Beliau sepertinya mengundurkan diri dari keprajuritan," Raden Sidatapa lantas memberikan ancar ancar alamat Raden Kijang Anom.
Jingga mengucapkan terimakasih dan pamit pergi dengan senyap. Ia takut salah satu penjaga Raden Sidatapa adalah antek musuhnya.

Tanpa membuang waktu, Jingga langsung menuju kediaman Raden Kijang Anom. Ia tinggal di sebuah rumah milik kerabatnya. Rumah yang tidak begitu besar namun asri.
Raden Kijang Anom terperanjat mendapat tamu yang tidak disangka sangkanya. Cepat Jingga disusupkan masuk lantas memeriksa sekitar apakah ada orang lain yang mengawasi. Setelah dirasa aman, Raden Kijang Anom masuk menemui Jingga yang bersembunyi di dalam.

Mereka menceritakan perjalanan masing masing setelah pertemuan terakhir.
"Setelah Paman pergi, Blambangan dihancurkan oleh Senopati Branjangan."
"Iya, aku sudah mendengar, saat itu aku sudah mengirim Caraka, tapi sudah terlambat."
Mereka mengingat kebaikan Ki Andaka yang telah gugur dalam peperangan terakhir.
"Apakah kamu yang menghantam balik pasukan Senopati Branjangan?"
Jingga diam tidak menjawab. Ia tidak ingin hati Raden Kijang Anom kacau.
"Tenang saja, aku sekarang sudah tidak di keprajuritan lagi," kata Raden Kijang Anom.
"Paman, aku ingin mengenalkan Paman dengan adikku, Untari namanya," Jingga menyampaikan tujuannya.
"Maksudmu mau menjodohkanku dengan adikmu?" Tanya Raden Kijang Anom sambil tertawa. Wajahnya memerah.
"Maaf atas kelancanganku Paman,"
"Tidak apa apa,"
Jingga lalu menjelaskan nanti berkenalan saja dulu, kalau Paman Kijang Anom tertarik dan adiknya tidak menolak, maka Ia akan menikahkan.
Raden Kijang Anom menangkap maksud Jingga. Jingga ingin adiknya selamat dari huru hara. Setelah seluruh keluarganya tewas.
"Baiklah, aku coba ya, tapi kalau adikmu tidak suka aku bagaimana?"
Jingga garuk garuk bingung harus bagaimana. Ia tidak mungkin memaksa adiknya menikah.
"Kalau adikmu tidak suka, tetap aku jaga sebagai Kakaknya. Setuju?" Raden Kijang Anom menawarkan alternatif agar Jingga tidak bingung. Toh selepas dari Keprajuritan, Ia ingin merantau menjelajah negeri negeri di Nusantara. Menjauh dari hiruk pikuk pemerintahan Majapahit.
"Terimakasih Paman,"
"Lalu kapan?"
"Sebetulnya selain keinginanku mengenalkan Paman ke adikku, juga membantu Lencari menemui Suaminya."
Raden Kijang Anom terkejut mendengar nama Lencari disebut Jingga. Sudah lama sekali nama itu pernah menghiasi relung hatinya. Namun sejak dikabarkan menikah dengan seorang Pangeran Wilwatikta. Ia sudah membuang harapannya. Meski tak sepenuhnya mengalihkan perhatiannya kepada Lencari. Maka Ia selalu mengikuti kabar yang beredar di masyarakat. Tentang gemilangnya Lencari mengatur Kementrian Kawula Muda. Lalu mundur dan dikabarkan kabur meninggalkan suaminya. Terakhir dikabarkan diculik Raja Blambangan, yang tak lain adalah Jingga.
"Jadi, selama ini...."
Jingga mengeleng, "Sejak Lencari menikah, aku tidak pernah menemuinya. Paling hanya memandang dari jauh saat Lencari bekerja di kementrian."
Jingga menjelaskan pernikahan Lencari untuk menyelamatkan keluarga dari rongrongan Bhree Kahuripan.

Raden Kijang Anom agak jengah tatkala tahu kalau saat itu Ia ternyata bersaing dengan Jingga. Untung Ia tidak bicara terus terang tertarik kepada Lencari.
"Saat ini Lencari sakit keras, Ia ingin statusnya bebas sebelum akhir hayatnya,"
Raden Kijang Anom sampai menarik nafas dalam dalam usai mendengar kisah Jingga dan Lencari. Andai Ia tahu dari dahulu, akan dibantunya kedua kekasih ini bersatu. Namun waktu tak bisa dikembalikan lagi. Semua sudah terjadi.






profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 38 lainnya memberi reputasi
39 0
39
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
20-10-2019 07:56
RANGGAPANE DITUNJUK


Semua bingung berusaha memahami situasi dan kondisi yang ada. Ditambah dipusingkan laporan pasukannya saling berperang dengan pasukan lain yang menyerbu masuk. Para Rakyan Tumenggung ketiga Jala itu bukannya menenangkan pasukannya, mereka malah mulai saling curiga, kalau ada rencana tersembunyi dari pasukan lain.
Bukankah istana sekarang kosong tanpa Raja, jadi siapa saja yang bisa berkuasa disini, dialah yang akan jadi Raja. Bisa saja pikiran itu merasuki Pimpinan prajurit yang lain, lalu berbuat nekat demi meraihnya dengan menumpas semua saingannya, pikir masing masing Rakryan Tumenggung.

Semakin malam suasana semakin menegangkan. Meski pertempuran antar pasukan sudah reda, namun api dalam dada mereka semakin membara. Mahapatih yang mmenangkap gelagat buruk ini mengutus pasukannya untuk menjemput Wredamenteri Ranggapane di kediamannya. Sambil menunggu kedatangan Ranggapane, Mahapatih berusaha mencairkan suasana yang tegang itu. Mahapatih menyadari dirinya tidak bisa sepenuhnya mengendalikan ketiga kesatuan itu. Apalagi saat ini terjadi kekosongan kekuasaan.

Akhirnya datang rombongan yang membawa Wredamenteri Ranggapane. Ketiga Rakryan Tumenggung itu terkejut dengan kedatangan Ranggapane yang tidak mereka sangka sangka. Ada rasa lega karena kesatuan lain tidak jadi merebut kekuasaan, juga rasa malu karena sempat terpikir untuk mengambil kesempatan disaat kekosongan kekuasaan.
"Saya sengaja mengundang Wredamenteri Ranggapane untuk menenangkan situasi," kata Mahapatih lantas mempersilahkan Ranggapane berbicara.
Ranggapane memberi hormat kepada para pimpinan yang hadir. Ia sudah mendapat penjelasan situasi terakhir. Dengan menyerahnya seluruh Pasukan Bhayangkari, serta menghilangnya Jingga yang baru mengangkat dirinya menjadi Raja. Juga tidak ditemukannya Raja dan permaisurinya, apakah sudah tewas atau bagaimana. Belum ada kepastian.

"Sebagai Wredamenteri keamanan Negara, sudah menjadi tugas saya menyampaikan saran dan nasehat mengenai situasi saat ini dan nanti yang akan kita hadapi sebagai Abdi Majapahit.
Akibat kudeta yang dipimpin Jingga, saat ini sedang terjadi kekosongan pimpinan negara. Raja tidak diketahui dimana keberadaannya, kabarnya telah dibunuh JIngga. Namun sebelum ditemukan mayatnya, kita anggap Raja masih hilang. Maka jabatan Raja harus secepatnya diisi agar tidak menimbulkan kekacauan di seluruh kerajaan. Raja adalah simbol dari kekuasaan, kekuatan, hukum dan segala aturan bermasyarakat dan bernegara. Bila tidak ada Raja, semua itu ikut tidak ada. Tidak ada hukum, tidak ada aturan dan tidak ada perintah yang bisa dipatuhi oleh seluruh rakyat Majapahit. Semua akan jalan sendiri sendiri, yang akhirnya akan saling bunuh, seperti yang sudah terjadi barusan diluar. Maka Kerajaan ini tidak boleh terjadi kekosongan Raja."
"Menurut Mahapatih, siapakah yang pantas diangkat menjadi Raja saat ini. Yang tidak hanya sekedar menunda masalah, tapi menyelesaikan masalah?" Tanya Ranggapane kepada Mahapatih.

Mahapatih tercenung memikirkan beberapa nama Pangeran yang secara darah pantas menjadi Raja. Namun para Yuwana (Raja muda) itu semua telah dikerdilkan oleh sistem yang sekarang berjalan. Jadi tak ada calon kuat dan pantas.

"Sebaiknya kita meminta fatwa dari Bhatara Sapta Prabu (Dewan pertimbangan Raja) yang ada di istana saat ini."

"Benar, kita harus memohon pertimbangan Bhatara Sapta Prabu. Setidaknya kita harus punya gambaran siapa yang bakal menjadi penggati Raja. Kalau dari garis darah terkuat, ya hanya anak keturunan dari Bhree Wirabhumi yang berhak. Tapi mereka statusnya tawanan sekarang, apakah bisa menjadi Ratu Majapahit?"

"Setidaknya Raja itu bisa mengayomi kami, para prajurit Majapahit," tambah Rakryan Tumenggung Jalayudha yang diamini Rakryan Tumenggung yang lain.

Mahapatih menangkap makna tersirat dari ucapan pimpinan Jalayudha, bahwa Raja yang diangkat harus bisa mengendalikan ketiga jala dan para Bhayangkari yang beru memberontak itu, juga kekuatan kekuatan lain yang selama ini mendukung Raja. Dan saat ini yang bisa mengendalikan semua kekuatan itu adalah Ranggapane. Secara fakta dilapangan, Ranggapanelah yang saat ini berkuasa di Majapahit.
Akankah Ranggapane yang akan naik menjadi Mahapatih menggantikannya? Ataukah Ranggapane akan naik menjadi Raja?

Tiba tiba ketiga Rakryan Tumenggung itu mengusulkan kepada Mahapatih, agar Wredamenteri Ranggapane diangkat sebagai pimpinan lapangan seluruh pasukan pemulihan keamanan sampai terpilih Raja baru. Yang menjadi pertimbangannya, Senioritas Wredamenteri dan kemampuannya menjalin komunikasi ke seluruh lapisan kerajaan.
Tanpa bisa menolak, Mahapatih menyetujui.

Pagi harinya, didepan kalangan istana dan para pembesar Wilwatikta, Mahapatih mengumumkan keadaan negara Majapahit sudah terkendali. Semua yang terlibat kudeta akan diperiksa dan akan dihukum sesuai ketentuan yang berlaku. Hanya Jingga yang belum ditemukan. Serta Raja dan permaisuri juga masih belum jelas keberadaannya, apakah menjadi korban atau menyelamatkan diri.
"Untuk mempercepat mengatasi situasi sulit ini, maka kami memutuskan mengangkat Wredamenteri Ranggapane sebagai pimpinan kesatuan pemulihan keamanan kerajaan. Kepada Wredamentero Ranggapane, selamat menunaikan tugas," tutup Mahapatih dengan ucapan selamat kepada Ranggapane yang mendampingi di podium.
Dibawah, para prajurit yang hadir serempak meneriakkan pekikan.
"Jayalah Majapahit!"
"Jayalah Majapahit!"

Sejak pagi itu, resmilah Ranggapane menjadi komandan seluruh kesatuan Majapahit.
Langkah pertama yang dilakukan Ranggapane adalah memerintahkan seluruh kesatuan untuk melacak keberadaan Jingga, Raja dan Bhree Matahun.
Saya, Ranggapane, sebagai pimpinan tertinggi pemulihan keamanan dan kedaulatan Majapahit. Menyatakan:
1. Telah terjadi kudeta oleh Jingga, namun atas kesigapan seluruh Abdi Negara, kudeta telah digagalkan. Istana sudah diambil alih kembali, sementara pelakunya melarikan diri.
2. Raja dan Permaisuri sebagai korban kudeta, dinyatakan hilang. Saya perintahkan seluruh unsur bekerja sama mencari.
3.

****


Jingga membawa pergi Raja dan Ratna kedalam tahanan bawah tanah, tempat dirinya ditahan sebelumnya. Ia mengambil ruang lain yang lebih tersembunyi dan bersih. Disana Raja dan Bhree Matahun disembunyikan. Sambil menunggu sadar, Jingga bolak balik keluar masuk mengumpulkan barang barang dan makanan untuk Raja dan Bhree Matahun. Keduanya ditidurkan diatas kasur gulung yang tadi dibawa Jingga. Tak ada penerangan sama sekali.
Jingga menotok titik sadar Bhree Matahun. Sejenak Bhree Matahun kebingungan, Ia pikir dirinya sudah meninggal karena disekitarnya amat gelap gulita.
Jingga menutup bibir Bhree Matahun, agar tidak menimbulkan suara saat mengetahui dirinya tidak sendiri.
"Ratna, aku Jingga, jangan bersuara, banyak musuh mengintai disekitar," bisik Jingga pelan.
Meski dalam gelap, Ratna mengenal orang yang menutup mulutnya adalah Jingga. Ia sudah hapal aroma Jingga sejak melakukan perjalanan yang lalu. Perasaannya tiba tiba berkecamuk, entah harus berbuat apa. Dirinya kini sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah menjadi milik Raja. Sebagai wanita terhormat, dirinya harus menjaga diri. Sejenak Ia terlena oleh aroma Jingga. Ingin rasanya dirinya dipeluk untuk melepas beban selama ini. Sejenak kemudian Ia tersadar itu tidak patut dilakukannya.
Hanya air mata yang mengalir deras tanpa bisa tertahan, mengalir membasahi tangan Jingga yang menutup bibirnya.
"Mengapa kamu menangis?" Tanya Jingga. Melepas tangannya.
"Apa maksud Kakang melakukan semua ini?" Ratna tidak menjawab, malah balik bertanya.
Jingga menarik nafas dalam.
"Ranggapane merencanakan kudeta, dengan menjadikanku Raja. Ia memerintahkanku membunuh Raja dan merampas dirimu dari sisinya." Jawab Jingga.
Ratna terkejut.
"Dan Kakang menyetujuinya?"
"Ya, aku menyetujuinya. Aku hanya ingin memastikan kamu selamat. Aku yakin, tanpa aku, kudeta itu juga akan terjadi, semua sudah dipersiapkan, hanya menunggu waktu."
Ratna tersanjung mendengar Jingga masih ingin menjaganya, meski kini sudah bukan Ratna yang dulu.
"Apakah.... Kakang telah membunuh Raja?"
"Ah, tidak. Aku sudah berjanji tidak akan membunuh lagi. Raja hanya aku buat pingsan, sama sepertimu."
"Lalu dimana Raja?"
Jingga meraih tangan Ratna, menuntunnya ke sebuah sudut.
"Ini beliau masih pingsan,"
Ratna percaya saja saat menyentuh seseorang yang tergeletak diatas kasur. Ia tidak bisa mengenali Raja bila dalam gelap seperti ini.
"Apa rencanamu?"
"Aku hanya tidak ingin pertumpahan darah terus terjadi. Aku cinta Majapahit. Aku tidak bisa melihat Majapahit saling bunuh."
"Buat apa Kakang berbuat seperti itu? Padahal Kakang sendiri dilukai orang orang Majapahit?"
"Aku tidak akan berubah karena perilaku orang kepadaku,"
"Sampai kapan aku disini?"
"Sampai situasi aman dan memungkinkan,"
Jingga memberi isyarat Ratna agar diam. Terdengar lenguh kesakitan dari bibir Raja. Jingga langsung membekap Raja agar tidak menimbulkan suara ribut yang mencurigakan.
"Maaf Paduka, harap tidak bersuara, musuh sedang mengincar nyawa Paduka," bisik Jingga.
"Kamu siapa?" Tanya Raja bersusah payah karena mulutnya ditutup. Kebingungan dengan gelapnya tempat itu.
"Hamba Jingga,"
Tiba tiba Raja memberontak dari dekapan Jingga. Untung Jingga sudah waspada. Cepat Ia memukul titik lemas yang membuat Raja lumpuh sementara. Bahkan untuk membuka mulut saja tidak bisa.
"Maaf sekali lagi maaf Paduka, Hamba lakukan ini hanya untuk keselamatan Paduka."
Jingga lantas menjelaskan situasi istana. Bahwa Ranggapane merencanakan kudeta. Ia ditugaskan membunuh Raja. Ia juga dijanjikan menjadi Raja dengan menikahi Ratna.
"Hamba menuruti ajakannya, tujuan Hamba adalah menyelamatkan Paduka dan Bhree Matahun dari kudeta itu dengan membawa kesini. Ke penjara bawah tanah, tempat Hamba sebelumnya ditahan."
Setelah mendengar penjelasan Jingga, Raja mulai bisa menangkap maksud Jingga. Ia lebih tenang. Jingga mengamati dalam gelap perubahan itu. Lantas menotoknya agar titik lemas tadi terbebaskan.
Tiba tiba Raja menampar wajah Jingga. Jingga menyadari tapi tidak mengelak. Ia membiarkan Raja menampar wajahnya. Agar emosi Raja bisa terlepas dan bisa tenang.
"Kurang ajar!"
Plak! Plak! Plak!
"Jangan Paduka," pinta Ratna. Seketika tamparan Raja terhenti mendengar suara Ratna ada di dekatnya. Memang sejak Raja tersadar, Ratna memilih diam tidak berbicara sepatah katapun.
"Kau?! Apakah kalian bersekongkol?!" Emosi Raja kembali bergejolak.
Jingga akhirnya kembali menotok titik lumpuh Raja karena tidak bisa dikendalikan.
"Dengar Paduka, Anda terlalu naif menilai Bhree Matahun, yang secara darah lebih Majapahit daripada Anda. Bhree Matahun telah berjuang dan berkorban banyak demi keutuhan Majapahit. Namun Anda terlalu sibuk dengan harga diri sendiri." Jingga tidak bisa menahan amarahnya melihat prasangka buruk Raja kepada Ratna.
"Sudah Kakang," Ratna berusaha menahan amarah Jingga, Ia takut Jingga "Kumat" seperti saat di alun alun.
"Aku Jingga, bisa saja berbuat seperti yang Anda prasangkakan. Itu mudah. Tapi Aku dan Bhree Matahun tidak serendah itu."
Jingga langsung duduk bersila menenangkan diri. Telinganya berdengung, terdengar suara suara seperti di keramaian.
Tidak! Tidak boleh memberi peluang mereka datang lagi.
Setelah tenang dan suara suara itu tidak mengganggunya lagi, Jingga bangkit dari duduknya. Ia berpesan kepada Ratna untuk menjaga Raja. Jangan sampai memancing orang datang kesini. Ia hendak menyelesaikan urusan dengan Rangggapane.
Ratna mengiyakan permintaan Jingga.
Sebelum pergi, Jingga membebaskan totokan Raja. Ia kemudian menjelaskan benda benda disekitar yang disiapkan Jingga. Jingga lantas keluar meninggalkan mereka. Kembali ke Istana. Sengaja pintu tahanan tidak dikoncinya. Kalau Raja ingin selamat, Ia pasti bersikap waspada dan tidak memancing keributan. Jingga membiarkan Raja sadar sendiri.

***

Sepeninggal Jingga, suasana dalam tahanan sangat hening gelap dan pengap. Raja dan Ratna sama sama terdiam tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dan darimana. Raja merasa tidak enak setelah menuduh Ratna bersekongkol dengan Jingga. Sedang Ratna merasa sakit hati dituduh tidak tidak oleh Raja.

Meski kemampuannya tidak seperti Jingga dalam melihat dalam gelap. Raja masih mampu berjalan tanpa menabrak sesuatu dalam gelap. Ia berjalan sambil berpegangan dinding menuju pintu keluar ruangan.
"Mau kemana?" Tanya Ratna, Ia ingat pesan Jingga agar menjaga Raja tidak keluar.
"Bosan, aku mau keluar melihat keadaan sebenarnya," jawab Raja terus berjalan. Ia mencari kunci pintu, ternyata pintu itu tidak dikunci. Dengan dorongan saja pintu itu berdenyit membuka.
Raja tanpa bicara lagi, berjalan keluar menelusuri lorong gelap. Ia sudah hapal ruang ruang dalam penjara ini. Bahkan jalur jalur rahasianya. Seluruh tahanan sudah dipindahkan sejak kejadian kesurupan massal beberapa waktu lalu. Penjara bawah tanah ini kosong melompong.

Ratna memilih diam saja, tidak mengikuti juga tidak mencegah Raja pergi. Ia berusaha mengikuti sebisanya permintaan Jingga.

Sampailah Raja di pintu keluar tahanan bawah tanah. Ia mengintip ke sekeliling. Tak ada penjaga seorangpun. Hari sudah mendekati pagi. Cahaya kemerahan memenuhi langit. kabut membalut pepohonan sawo kecik di sekitar penjara. Benar benar sepi dan mencekam.

Saat hendak keluar melihat lihat lebih jauh, Ia teringat pesan Jingga untuk tetap sembunyi untuk menghindari pasukan Ranggapane yang akan membunuhnya. Ia ragu antara mengacuhkan peringatan itu atau mematuhinya.

Raja terkejut ketika sekelompok prajurit Bhayangkari berjalan cepat dengan senjata terhunus. Raja menempel rapat ke dinding agar tidak terlihat dari luar.
"Eh gerbang Penjara sepertinya tidak dikunci," kata salah satu pasukan Bhayangkari. Ia berhenti tepat didepan gerbang masuk.
"Biarkan saja, toh sudah tidak ada yang disana sejak kejadian kemarin,"
"Ayo cepat kita kerahkan orang orang istana ke alun alun. Mereka harus mendengar sabda Raja baru kita,"
"Siap!"
Mereka lantas meneruskan perjalanan. Mengumpulkan penghuni Istana ke tempat Jingga mengumumkan dirinya menjadi Raja.
Dari balik dinding, Raja mendengar semua pembicaraan para prajurit itu.
"Berani beraninya mengambil alih kekuasaan dariku!" Geram Raja.

Tiba tiba pikirannya terbayang kisah leluhurnya, yang terbunuh oleh tukang pijatnya karena dituduh menggoda istrinya. Bukankah itu hampir sama dengan yang dialaminya sekarang.
Bisa saja pembunuhan yang direncanakan adalah, Jingga membunuhnya karena sakit hati kekasihnya, Bhree Matahun ditawan lalu dijadikan istri olehnya. Lalu muncul pahlawan yang nanti membunuh Jingga. Pahlawan itulah yang sejatinya nanti menguasai Majapahit di tangannya.
Dan yang akan jadi pahlawan adalah Ranggapane. Namun yang dilakukan Jingga sepertinya menyimpang dari rencana Ranggapane. Jingga tidak membunuh dirinya, hanya menyembunyikan dirinya. Tapi selanjutnya masih belum jelas arahnya.

Raja mengendap endap masuk lagi kedalam lorong lorong penjara yang gelap dan pengap. Ia kembali ke tempat dimana dirinya dan Bhree Matahun disembunyikan. Ia berskyukur Bhree Matahun tetap berada di dalam Sel.
"Aku baru keluar mengamati situasi, saat ini akan ada pengumuman Raja baru,"
Ratna diam saja.
"Aku mau keluar lagi melihat kelanjutannya." Raja kembali pergi tanpa menunggu jawaban Ratna.
Raja kini berjalan ke sebuah sudut yang tergelap. Ia lantas mendorong sebuah dinding batu yang ternyata sebuah pintu kecil. Didalamnya terdapat lorong lorong sempit. Tanpa keraguan, raja menelusuri lorong itu. Cukup jauh Raja berjalan. Akhirnya sampai ke ujung lorong yang buntu. Ada setitik cahaya yang terpancar dari ujung lorong itu. Raja mendekatkan matanya ke titik cahaya itu. Ternyata itu sebuah lubang intip keluar lorong. Dibalik lubang itu adalah ruangan dibelakang singgasana tempat Ia biasa memimpin sidang atau bertemu tamu negara. Dari sana Ia bisa mengamati situasi dan pembicaraan di ruangan utama itu.

Suasana di Singgasana sangat lenggang. Tak ada orang satupun. Seharusnya Raja baru akan duduk di singgasana dan mengundang pihak pihak taklukannya untuk memberi penghormatan disini.
Raja terus menunggu di dalam lorong itu. Setiap ada yang datang, segera memusatkan pendengarannya. Ia tidak membuka pintu rahasia itu. Takut nanti meninggalkan jejak mencurigakan.

Atas kesabarannya, sedikit banyak Raja mendapatkan informasi pembanding dengan yang disampaikan Jingga. Beberapa kali ada saja prajurit datang kesana, mencari sesuatu sambil berdiskusi. Juga abdi dalemnya yang telaten merapikan setiap perkakas di ruangan besar ini.
Mereka membicarakan Raja baru, Jingga. Dan bertanya tanya dimana mayat Raja dibuang atau disembunyikan dan dimana keberadaan Bhree matahun.
Beberapa prajurit memuji sikap Jingga yang tidak berubah paska menyatakan dirinya sebagai Raja Majapahit. Dan memuji Ranggapane yang dianggap telah mempersiapkan segalanya dengan matang.

Rasa lapar membuat Raja harus kembali ke dalam Sel. Kini dirinya sedikit tenang. Ada sedikit kepercayaan kepada Jingga karena yang diucapkan tidak bertentangan dengan yang dibicarakan orang orang di luar. Berarti Jingga sudah bersikap jujur.

Dilihatnya Ratna masih duduk diam dalam gelap. Tidak mengacuhkan sedikitpun kedatangannya. Sebetulnya dirinya tidak tega dan sayang menjadikan Ratna sebagai senjata pelanggeng kekuasaannya. Ratna sangat tulus memperjuangkan keutuhan Majapahit.
"Terus terang kita berada pada titik yang sama, Kita sebagai pemimpin punya kewajiban menyatukan rakyat Majapahit agar tidak selamanya terjebak dalam permusuhan.
Memang diwaktu lalu aku banyak kesalahan. Aku bersikap keras kepada Ayahandamu yang menentang WIlwatikta. Hal ini aku lakukan agar permusuhan cepat selesai dan kita menjalani kehidupan yang normal lagi dalam kerangka persatuan Majapahit. Namun yang tidak kuduga, Senopati yang aku utus kesana bersikap keterlaluan dengan membunuh Ayahandamu. Untuk itu aku benar benar meminta maaf kepadamu.

Aku menikahimu sebagai Raja, demi mendapatkan keturunan pewaris tahta negeri ini. Bila tidak kulakukan itu, Majapahit akan semakin terjatuh dalam peperangan keluarga dalam memperebutkan singgasana Majapahit. Jadi itu bukan untuk bersenang senang. Itu salah satu tugasku sebagai Raja, semoga kamu mengerti.
Aku tahu kamu mencintai Jingga. Namun sebagai orang yang ditakdirkan menjadi keturunan Sang Rama Wijaya, Kita tidak bisa bersikap semaunya atas dasar cinta. Tanggung jawab kita terlalu berharga bila hanya ditukarkan oleh asmara."

Ratna tetap diam membisu.

"Bila tahta kembali kepadaku, aku pastikan kamu akan melahirkan anak pemersatu negeri ini. Didiklah Ia sebaik baiknya, agar kelak menjadi Raja dan Ratu Majapahit. Aku akan kembali menjalani pertapaku yang sekian tahun aku tinggalkan. Pimpinlah Majapahit sepeninggalku." Raja akhirnya menyampaikan sebuah wasiat, solusi untuk Ratna.

Memang Ia ditangkap sebagai tawanan. DInikahkan paksa dengan Raja. Agar mendapat keturunan dari darah terbaik pewaris tahta Majapahit. Setelah Ratna melahirkan, Raja akan meninggalkan istana, kembali menjadi pertapa seperti yang dulu sempat dijalani semasa mendiang Dyah Kusumawardhani masih hidup.

Jadi sejatinya, Ratna sedang disiapkan sebagai Ratu yang akan melahirkan Raja Ratu penerus Majapahit.
Namun sayangnya rencana itu berantakan oleh kudeta rekayasa Ranggapane
Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 36 lainnya memberi reputasi
37 0
37
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
18-10-2019 14:59
PEMBATALAN KUDETA


Di sebuah tempat tersembunyi di keramaian Kotaraja.
Sekumpulan laki laki sedang duduk menikmati minuman hangat serta ubi bakar.
"Ki Gembong, ada perkembangan baru tentang Pangeran,"
"Ya aku sudah dengar, tapi masih belum percaya. Mana mungkin orang yang sudah ditangkap, diadili dan difonis mati masih bisa memimpin kudeta yang belum pernah sekalipun direncanakan olehnya. Kalaupun benar, ini pasti namanya dicatut, atau Pangeran sedang dimanfaatkan kalangan tertentu di sekitar istana untuk mencapai tujuannya."
"Itu masuk akal bagi kita yang mengenal Pangeran. Pangeran tidak punya ambisi untuk menjadi Raja. Bahkan Tahta Blambangan yang sudah digenggamnya tidak begitu Beliau pedulikan. Hanya tanggungjawab yang terus Pangeran pikirkan. Sehingga Kita yang melihat penderitaannya sebagai Raja, merasa bersukur tidak punya darah keturunan Raja seperti Beliau."
"Lalu siapa yang memanfaatkan Pangeran?"
"Pastinya orang yang berambisi, dan yakin punya pengaruh."
"Tapi dari kabar yang tersebar, Pangeran melakukan kudeta dibantu Pasukan Bhayangkari. Kesatuan khusus yang menjaga keamanan Raja dan Istana. Sedangkan kesatuan tempur diluar Istana tidak ada yang menyatakan memihak Pasukan Bhayangkari."
"Ini perkara rumit dan sensitif, yang terjadi tidak mungkin sama dengan yang nampak di permukaan,"
"Apakah itu artinya ada yang mendukung Pasukan Bhayangkari melakukan pemberontakan?"
"Pemberontakan ini aku yakin sudah belajar banyak dari kasus pemberontakan Kuti yang bisa digagalkan Gajahmada. Saya yakin pemberontakan ini mendapat dukungan dari luar meski masih samar. yang tampak sekarang, ketiga Jala bersama Mahapatih Gajah Lembana menentang kudeta ini."
"Tadi Pangeran sendiri yang tampil mengumumkan kudeta didampingi Senopati Bhayangkari. Aku masih belum percaya, kapan mereka bisa dekat dan akrab sehingga saling percaya melakukan pekerjaan besar itu. Kudeta itu bukan pekerjaan biasa, butuh berhari hari bahkan berbulan bulan untuk mempersiapkannya. Mulai dari pengamatan, pemilihan personil yang benar benar dipercaya, pengkondisian situasi sampai eksekusi. Semua serba rumit dan tertutup."
"Bagaimana kalau kita menemui Pangeran?"
"Dalam situasi seperti ini, amat sulit menerobos masuk. DIluar pagar kita akan ditangkap Pasukan Mahapatih Lembana. Didalam pagar kita pasti ditangkap Pasukan Bhayangkari."
"Tapi kita tidak bisa tinggal diam seperti ini, kasihan Pangeran."
Akhirnya Gembong yang akan menghubungi Jingga. Ia berpesan rekan rekannya untuk tetap tersembunyi. Jangan sampai tindakan mereka malah membuat situasi semakin rumit dan memberatkan Jingga.

Gembong bergerak menyamar menjadi pedagang minuman keliling. Meski dirinya kini sebagai pimpinan kelompok pedagang dari timur. Namun postur dan penampilannya tetap dipertahankan seperti penduduk kampung pada umumnya. Badannya cenderung kurus berkulit coklat karena terlalu sering terbakar sinar matahari. Sorot matanyapun Ia jaga sedemikian rupa agar tidak mengundang curiga yang diawasinya.
Beberapa prajurit yang berjaga memeriksa Gembong, diamati postur tubuh, dagangannya dan bawaannya. Tak ada yang mencurigakan. Hanya tabung tabung bambu besar diikat di ujung ujung pikulan bambu. Tabung tabung itu berisi legen yang diider keliling Kotaraja.
"Kamu dari mana?"
"Trung Pak," jawab Gembong sesuai yang direncanakan.
"Disini tinggal dimana?"
"Ya dimana saja Pak kalau kemalaman. Lebih sering tidur di pasar,"
Para prajurit itu kemudian mencicipi jualan Gembong. Rasa haus berjaga seharian membuat mereka mendapat penyaluran, hampir seluruh prajurit yang berjaga di pos itu melepas dahaga. Sekejap saja dagangan Gembong nyaris habis. Tinggal dua tabung.
Sambil melayani, Gembong menyimak candaan para prajurit itu. Dengan begitu Ia bisa mengetahui kondisi terakhir di Wilwatikta.
"Kenapa tidak melanjutkan jualan?" Tegur salah satu prajurit kepada Gembong.
"Maaf masih capek jalan Pak,"
"Jangan lama lama disini, bahaya."
"Iya Pak, tidak nambah Pak, biar saya bisa langsung pulang," rayu Gembong agar bisa berlama lama disana.
"Hahaha, perutku sudah kembung ini, kebanyakan minum legenmu,"
"Atau kamu tawarkan ke sana tuh, gerbang yang tertutup itu, sepertinya mereka juga haus," canda salah seorang prajurit sambil menunjuk kearah gerbang barat istana.
"Memang boleh?" Tanya Gembong.
"Boleh kalau berani," jawab prajurit itu sambil tertawa. Sepertinya Ia sedang menggoda Gembong yang terlihat polos. Seperti mendapat hiburan gratis, prajurit yang lain memberi dukungan agar Gembong menawarkan ke prajurit Bhayangkari yang berjaga dibalik gerbang barat istana.
Dengan gaya polos, Gembong tergopoh gopoh memikul daganyannya ke gerbang diiringi tawa para prajurit yang menyuruhnya.
"Permisi, mau nawarkan legen," kata Gembong sambil mengintip dari sela sela gerbang.
"Kurang keras menawarkannya!" Seru salah seorang prajurit diiringi tawa yang lainnya.
"Legen pak! Legen!"
Terlihat bayangan prajurit di balik gerbang mendekati Gembong yang menawarkan legen.
"Pergi sana!" Usir prajurit itu.
Gembong mendapatkan kesempatan, langsung menyampaikan pesan secara lirih kepada prajurit itu.
"Saya pengawal Pangeran Jingga, ada pesan untuk beliau,"
"Mana?"
"Aku layani dulu legen untukmu, aku diawasi."
Gembong menuangkan legen ke cangkir bambu, disambut prajurit itu. Saat memberikan cangkir itu, diselipkan pesan rahasia kepada Jingga.
"Tolong sampaikan secepatnya, aku menunggu sambil menjual legen ini,"
Prajurit itu kembali ke posnya, menemui pimpinannya. Melaporkan mendapatkan pesan untuk Jingga. Segera salah seorang prajurit pergi ke Senopati Bedali menyerahkan pesan rahasia tadi.
Senopati memeriksa sejenak, tidak bisa memecahkan pesan apa yang ada. Ia lantas menyerahkan ke Jingga. Menerima pesan itu Jingga terkejut, Ia menjelaskan kalau ini pesan dari pasukannya dari Blambangan. Menanyakan keadaan sebenarnya dan menunggu perintah Jingga.
Jingga meminjam pakaian prajurit jaga, bergegas ke gerbang barat hendak menemui pengirim pesan.
Prajurit yang mengirim pesan, kembali bersama Jingga. Ia memberi penjelasan dengan kode kepada rekan rekannya yang menanyakan siapa yang bersamanya.
Jingga memberi hormat layaknya prajurit rendahan kepada pimpinan kelompok jaga.
Penuh waspada Jingga mendekati Gembong yang berada dibalik pagar. Dengan bisikan jarak jauh, Jingga memberi penjelasan kepada Gembong untuk segera pergi dari Wilwatikta secepatnya. Jangan ikut campur huru hara disini. Dengan ilmu yang sama meski belum sempurna, Gembong menjelaskan situasi diluar. Mereka terus saling bertukar pesan tanpa bisa didengar yang lain. Sedangkan yang terdengar adalah obrolan biasa tentang kabar dan kesehatan keluarga sambil minum legen yang dijual Gembong.
Jingga pamit dan kembali memerintahkan Gembong secepatnya pergi dari Kotaraja.

Agak lunglai Gembong meninggalkan gerbang. Dagangannya tandas habis, tapi pikirannya merasa dirinya tidak berguna sama sekali. Ia merindukan Jingga yang dulu, yang bersamanya memenangkan peperangan demi peperangan dengan strategi jitu dan detail. Dan kini Ia mendapat perintah untuk pergi tak ikut campur. Meski sedih, bagaimanapun itu juga sebuah perintah, bagian strategi yang saat ini tidak Ia pahami.
"Semoga kejayaan dan kebahagiaan diberikan kepada Pangeran," doa Gembong dalam hati sambil berjalan memikul bambu bambu panjang.

"Bagaimana Ki?" Tanya pasukannya sesampai di persembunyian.
"Benar informasi yang kita dengar, Pangeran memimpin pemberontakan Pasukan Bhayangkari. Tapi tidak detail menjelaskan. Beliau hanya meminta kita segera pergi dari WIlwatikta sebelum terjadi huru hara besar."
"Tapi..."
"Ini perintah, meski terasa menyesakkan, kembali ini adalah perintah yang harus kita laksanakan. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Pangeran dan seluruh Majapahit."
"Baik,"
"Kita bergerak sekarang,"
"Siap,"
Dalam sekejap saja, tempat itu menjadi sepi. Seluruh pasukan Gembong bergerak terpisah menyebar menuju ke luar Kotaraja dengan penyamaran masing masing.

***

Jingga langsung disambut Senopati Bedali.
"Apa ada perkembangan baru?" Tanya Senopati. Berharap Jingga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Gembong.
"Tidak ada, aku hanya memerintahkan mereka untuk pergi dari Wilwatikta. Tidak usah ikut ikut kekacauan disini."
Senopati Bedali terkejut dengan keputusan Jingga memerintahkan pengikutnya pergi. Bukankah mereka sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan. Apalagi mereka tidak terlacak keberadaannya, bila bergerak, maka akan sangat kuat dan mematikan.
Jingga menangkap keterkejutan Senopati.
"Saya hanya berhitung tentang kekuatan kita. Mari kita bicarakan secara mendalam dengan kepala dingin."
"Siap,"
"Pasukan Bhayangkari apakah sepenuhnya berada didalam kendalimu? Atau dibawah kendali Ranggapane? Bagaimana bila nanti pasukanmu harus berhadapan dengan Ranggapane dikarenakan perubahan situasi?"
Senopati Bedali tercenung, selama ini pasukannya setia dan patuh pada perintahnya, namun bila dipikir lebih dalam. Mereka berkumpul di kesatuan ini atas dorongan dan motivasi Ranggapane Pimpinan Jalapati. Persiapan pemberontakan sampai pelaksanaan inipun semuanya tidak lepas dari Ranggapane. Ini rencana bersama mereka. Bukan ambisi Senopati Bedali sendiri. Situasi kini seperti ayam kehilangan induknya.
Tanpa dijawab, Jingga sudah menangkapjawaban Senopati Bedali.
"Sebuah pasukan sekuat apapun tapi tidak punya tujuan yang kuat. Pasukan itu sudah kalah sebelum berperang. Setiap perintah tidak akan dilaksanakan secepat biasanya. Selalu ada keraguan akan kebenarannya."
"Dari segi jumlah, kita tidak sebanding dengan ketiga Jala bila mereka bersatu."
"Dari segi logistik, posisi kita terkepung. Jadi kita tidak bisa berperang dalam jangka waktu yang lama."

"Kelebihannya adalah kalian pasukan yang terlatih. Pasukan muda penuh semangat, pasukan berani mati demi kejayaan Majapahit. Pasukan yang tidak silau oleh harta disekitar. Pasukan yang sudah sangat saling mengenal satu dengan yang lain. Pimpinan mengenal semua pasukannya sampai yang terkecil. Kalian mengenal watak dan kemampuan masing masing. Itu bekal yang sangat bagus untuk pergerakan cepat dan perubahan strategi darurat."

Jingga menjabarkan secara rinci segala ukuran yang Ia pakai untuk memperkirakan pertempuran yang akan terjadi nanti. Bersama Senopati, Jingga mengotak atik berbagai taktik perang yang nanti akan dilaksanakan.
"Berarti kudeta ini dibatalkan?" Tanya Senopati.
"Betul, karena tidak cukup kekuatan untuk mempertahankannya."
"Bukankah Paduka sudah mengeksekusi Raja dan permaisurinya?"
"Tenang, Raja dan permaisuri hanya aku culik. Sekarang laksanakan rencana kita. Aku akan mengatur sisanya."
Senopati lantas memeluk Jingga yang kaget dipeluk tiba tiba.
"Terimakasih," hanya itu yang keluar dari bibir Senopati. Ia berterimakasih atas segala bantuan Jingga setelah menyadari dirinya dan pasukannya ditinggal sendiri tanpa dukungan siapa siapa. Disaat seperti itu Jingga datang memberi jalan keluar. Meski terlihat aneh dan beresiko, tapi hanya itu peluang yang tersisa.

***

Sejak siang hari, terjadi kesibukan luar biasa di Kasatriyan ketiga Jala. Seluruh pasukan sedang persiapan melaksanakan penyerbuan istana. Ini benar benar penyerangan dengan kekuatan penuh. Tak ada yang boleh tidak serta. Yang tak ikut akan dianggap pendukung kudeta. Sebetulnya mereka tahu kalau pengerahan ini berlebihan. Dengan seperempat pasukan saja, secara hitungan, pasukan Bhayangkari akan dapat dilumpuhkan. Tapi ini juga perang unjuk kesetiaan kepada Raja. Sekaligus unjuk kekuatan kepada siapa saja yang bermain main dengan Majapahit.

Sore Hari, pasukan itu bergerak dari masing masing Kasatriyan menuju keempat gerbang diempat penjuru. jalanan kotaraja penuh dengan prajurit yang akan menyerang istana. Masyarakat Kotaraja terlihat keluar memberi semangat para prajurit untuk mengatasi situasi. Sangat terlihat persatuan antara Prajurit dan rakyat, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat di Kotaraja. Selama ini Rakyat terlihat acuh dengan aktivitas para prajurit, karena terlalu banyak kabar perilaku negatif prajurit yang tersebar.

Namun kala dikabarkan terjadi kudeta, tiba tiba semua seperti tersadarkan, semua mata dan telinga mengarah ke istana dan bertanya tanya kemana para prajurit Majapahit. Mereka ketakutan kenyamanan hidup mereka yang dinikmati sejak dulu akan hilang, berganti huru hara dan kekacauan.

Ketika terlihat cepatnya pasukan Majapahit bergerak mengepung istana dan menjaga obyek obyek vital negara dan masyarakat. Membuat masyarakat Kotaraja merasakan keamanan dan dijaga dari orang orang yang mungkin memanfaatkan situasi dengan membuat rusuh.

Dalam situasi seperti ini, dimana konsentrasi semua komponen fokus ke istana. Para perusuh biasanya memanfaatkan dengan melakukan pencurian, perampokan bahkan pembakaran tempat tempat tertentu agar situasi semakin kacau. Karena dengan kacaunya situasi, membuat masyarakat sudah tidak fokus lagi menjaga harta benda. Mereka lebih fokus dengan keselamatan diri masing masing. Disinilah para kriminal menjarah harta benda yang ditinggalkan.

Kabar tentang Wredamenteri Ranggapane menjadi salah satu korban penusukan oleh pemberontak. Membuat Rakyat bersimpati kepadanya. Meski belum jelas kejadiannya, mereka sudah membuat skenario sendiri untuk memuaskan gosip. Bahkan ada yang bercerita kalau Ranggapane terluka saat melawan pembunuh Raja. Hal ini membuat semakin kokoh bahwa Ranggapane adalah penjaga Majapahit yang sebenar benarnya.

Gosip terus bergulir, menebak dan menimang nimang, siapa yang pantas menjadi Raja setelah pemberontakan itu bisa dikalahkan? Beberapa Pangeran dan putri keturunan terbaik bermunculan dalam pembicaraan. Baik karena darah maupun kemampuan. Namun semua hanya menghasilkan keraguan, ketakutan situasi saat Majapahit memiliki Raja yang lemah, membuat para Pahlawan pendiri Majapahit harus saling serang dan bunuh sebelum kemunculan Gajahmada. Padahal minimnya penerus Tahta dan pejabat lain, dikarenakan sistem yang ada sekarang tidak memberi peluang para penerus itu berkembang dengan benar. Banyak yang awalnya bagus, perlahan diseret kaum tua untuk bersikap dan hidup korup. Sehingga saat generasi muda itu mulai menggeliat menentang ketidak beresan. Mereka langsung ditelanjangi borok boroknya. Di tangkap bahkan di hukum mati. Sehingga yang lain memilih ikut hidup seperti para tetua itu.

***

Sekeliling tembok komplek istana sudah penuh dengan prajurit ketiga Jala. Mereka siap setiap saat menyerbu masuk. Taktik dan strategi sudah disiapkan dan dipahami. Tinggal menunggu perintah serbu saja.

Terdengar sorak sorai di tempat para Senopati bersiap. Ternyata ada kabar yang dibawa caraka membawa pesan dari Wredamenteri Ranggapane, beliau telah tersadar dari pingsannya. Namun tidak bisa ikut pasukan menyerbu para pemberontak. Beliau hanya memberi dukungan kepada seluruh pasukan untuk kejayaan Majapahit.

Pengaruh pesan caraka itu luar biasa. Seolah memberi kekuatan ganda kepada para pimpinan prajurit untuk melanjutkan misi. Mereka kini mulai gatal menunggu perintah penyerbuan.

Teriakan teriakan hasutan membantai pemberontak mulai diteriakkan dan terus bergema semakin lama semakin keras. Memompa adrenalin sampai ubun ubun setiap prajurit.

Sorak sorai tiba tiba terhenti. Semua mata tertuju kearah gerbang timur istana. Gerbang terbuka perlahan. Dari dalam berjalan Bekel Bhayangkari bersama dua pengawalnya. Bertiga tidak membawa senjata. Hanya sebuah tongkat dengan kain putih diatasnya, pertanda mereka hendak berunding atau menyerah.

Senopati yang bertugas di gerbang itu langsung memerintahkan memberi jalan ketiga orang itu untuk menemuinya.
"Salam hormat Senopati, Hamba bekel Bhayangkari yang berjaga di gerbang timur, hendak menyampaikan. Kami meminta perlindungan kepada Senopati, Kami berlepas diri dari Jingga yang melakukan kudeta. Kami sebagai prajurit rendahan, tidak tahu apa apa. Hanya mengikuti perintah pimpinan."
Senopati itu terkejut sekaligus gembira. Dengan menyerahnya pasukan Bhayangkari penjaga gerbang timur, pasukannya akan lebih mudah masuk ke dalam istana.
"Baik, kalian aku beri perlindungan. Panggil pasukanmu untuk keluar. Jangan ada yang membawa senjata dan bersikap aneh sedikitpun."
"Siap Senopati,"
Bekel Bhayangkari itu kembali masuk, memanggil pasukannya untuk keluar bersamanya menyerahkan diri. Dengan berbaris rapi, seluruh pasukan Bhayangkari yang bertugas digerbang timur berjalan keluar, menembus kerumunan Pasukan yang mengepung istana. Diluar, mereka langsung dikawal oleh pasukan tombak menuju sel sementara. Jumlah Pasukan Bhayangkari yang menyerah di gerbang timur sekitar seratus prajurit.

Kejadian menyerahkan diri tidak hanya di gerbang timur. Di ketiga gerbang juga terjadi hal yang sama. Bahkan Senopati Bedali yang langsung menemui Rakryan Tumenggung Jalapati, melanjutkan kesepakatan sebelumnya.

Otomatis, seluruh pasukan Bhayangkari istana menyerahkan diri. Istana tidak ada yang menjaga. Keempat gerbang terbuka semua.

Setelah proses menyerahkan diri, Para pimpinan perang langsung memerintahkan pasukannya menyerbu masuk ke istana. Mereka bergerak cepat menuju tempat tempat yang sekiranya menjadi kantong pasukan pemberontak yang tersisa. Beberapa kelompok mempunyai agenda sendiri dengan menjarah barang barang berharga milik istana. Kelompok kelompok inilah yang memicu pertempuran di dalam istana. Karena sebelumnya sudah ada pembagian wilayah yang jelas di keempat pasukan yang masuk dari empat sisi gerbang. Namun kelompok prjaurit yang berniat buruk, menjarah area pasukan lain. Perilaku tersebut ketahuan oleh pasukan yang bertugas di daerah itu. Maka terjadilah pertengkaran dan berujung pertempuran. Apalagi di kedua kubu saling meneriakkan lawannya diam diam bergabung pemberontak. Tumpahlah darah sesama prajurit Majapahit.

Di sisi lain, para senopati juga bersaing menunjukkan diri mereka paling berjasa bagi Majapahit. Mereka langsung mengincar kediaman Raja, hendak menumpas pimpinan pemberontak. Meski dalam hatinya juga ngeri karena sudah pernah merasakan kehebatan Jingga dalam olah kanuragan. Maka diambil strategi dengan saling menunggu agar pasukan lain yang masuk duluan, sehingga tidak menghadapi pemberontak langsung. Lantas bila situasi dirasa aman. Baru Pasukannya bertindak.

Setelah saling menunggu dan tak ada reaksi didalam. Para pimpinan Jala itu mulai masuk kedalam kediaman Raja. Tak ada seorangpun disana. Tak ada kekacauan didalamnya. Semua tertata rapi semestinya. Tak ada tanda tanda Singgasana ini diserang pemberontak. Disebuah ruangan khusus, perangkat dan pusaka kebesaran Raja masih tetap tersimpan pada tempatnya. Jingga entah menghilang kemana. Para prajurit dari ketiga Jala memeriksa setiap tempat dan sudut. Tidak ada tanda dan jejak yang memberi petunjuk keberadaan Jingga.

Semua bingung berusaha memahami situasi dan kondisi yang ada. Ditambah dipusingkan laporan pasukannya saling berperang dengan pasukan lain yang menyerbu masuk. Para Rakyan Tumenggung ketiga Jala itu bukannya menenangkan pasukannya, mereka malah mulai saling curiga, kalau ada rencana tersembunyi dari pasukan lain.
Bukankah istana sekarang kosong tanpa Raja, jadi siapa saja yang bisa berkuasa disini, dialah yang akan jadi Raja. Bisa saja pikiran itu merasuki Pimpinan prajurit yang lain, lalu berbuat nekat demi meraihnya dengan menumpas semua saingannya, pikir masing masing Rakryan Tumenggung.

Semakin malam suasana semakin menegangkan. Meski pertempuran antar pasukan sudah reda, namun api dalam dada mereka semakin membara. Mahapatih yang menangkap gelagat buruk ini mengutus pasukannya untuk menjemput Wredamenteri Ranggapane di kediamannya. Sambil menunggu kedatangan Ranggapane, Mahapatih berusaha mencairkan suasana yang tegang itu. Mahapatih menyadari dirinya tidak bisa sepenuhnya mengendalikan ketiga kesatuan itu. Apalagi saat ini terjadi kekosongan kekuasaan.

Diubah oleh curahtangis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
introvertpsycho dan 36 lainnya memberi reputasi
37 0
37
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
18-09-2019 13:51
AKSI RANGGAPANE



Semua orang tegang mendengarkan putusan itu. Tatapan mereka diarahkan ke Jingga. Berharap Jingga tidak mengamuk setelah mendengar putusan itu.

Tak ada respon dari Jingga. Ia hanya menatap sekeliling lekat lekat. Ia melihat Ki Gembong dan pasukannya, dengan bisikan jarak jauh, meminta Ki Gembong jangan menolong dirinya, Ia memerintahkan Ki Gembong meninggalkan dirinya. Kembali hidup normal atau meneruskan cita citanya sendiri. Ini jalan yang harus ditempuh bersama Lencari yang sudah lebih dahulu pergi. Semoga pengorbanannya ini tidak sia sia.
Mendapat pesan langsung, Ki Gembong jatuh berlutut ditanah. Ia menangis tertahan. Orang orang tidak memperhatikannya karena semua sibuk dengan pikiran dan perasaan masing masing.

Putusan Mati telah diambil. Sekarang tinggal pelaksanaannya. Suasana begitu mencekam. Para eksekutor yang mengenakan pakaian tertutup dengan wajah mengenakan topeng perlahan bergerak mendekati gerobak tempat Jingga dibelenggu. Tak ada lagi hinaan dan makian seperti saat awal sidang. Pembelaannya tadi membuka mata banyak pihak yang hadir di persidangan bahwa sejatinya Jingga adalah korban sistem didalam Majapahit sendiri. Dan Kini Ia mengorbankan diri demi memperbaiki sistem itu.

Para prajurit yang berjaga banyak yang menitikkan airmata. Nasib seperti Jingga bisa saja terjadi kepada mereka.

Pimpinan eksekutor memerintahkan pasukannya membawa Jingga keluar area persidangan. Jingga dibawa kembali ke tahanan. Mereka menunggu perintah langsung Raja untuk pelaksanaan eksekusi.
Sepeninggal Jingga, Balairung yang digunakan untuk sidang mulai ditinggalkan. Orang orang itu berjalan pergi dengan pikiran kacau balau. Mereka seolah disadarkan realita masalah yang ada di Majapahit. Dan mulai menduga duga apa yang terjadi pada Jingga, terjadi pula pada Bhree Wirabhumi yang tewas di penggal baru baru ini.

Ki Gembong kembali ke penginapan dengan wajah sendu. Semua pasukannya bersikap sama. Mata mata mereka merah terkena air mata. Sebagian dari mereka yang tadinya tidak setuju menyelamatkan Jingga, menyesal punya pikiran jelek tentang Jingga. Mereka lantas minta ampun kepada Ki Gembong atas sikapnya itu. Ki Gembong hanya mengangguk tidak mempermasalahkan. Karena sikap mereka didasari analisa dan data, bukan fitnah.
"Bagaimana langkah kita selanjutnya?"
"Dari pesannya, Pangeran tidak mau kita ikut campur."
"Apakah berarti kita membiarkan Pangeran dihukum mati?"
"Batin saya ingin menyelamatkan Pangeran. Tapi Pangeran sendiri tidak menghendaki. Tadi saat hendak dibawa pergi, Pangeran berpesan kepadaku untuk meninggalkannya. Ia ingin menyusul Lencari."
Semua terdiam. Kalau sudah begitu keinginannya, ditolong juga tak akan mau.
"Sebaiknya kita melanjutkan perjuangan yang dicita citakan Pangeran."
"Ya, kita kembali kepada cita cita kita bersama Pangeran dahulu. Mengembalikan kejayaan Majapahit dengan membersihkan para perongrong Majapahit. Namun kenyataannya, terlalu banyak yang berada di sisi perongrong. Membuat kita yang melawan perongrong, malah menjadi musuh Majapahit. Seperti yang terjadi pada diri Pangeran.
Dari Ki Osok, saya mendapat penjelasan mengapa Pangeran mengutus kita ke timur dan mengutus Ki Genter ke barat. Pangeran ingin tetap pada cita cita Kita. Bila terlalu lama di Blambangan, bisa bisa Kita menjadi pemberontak Majapahit karena terseret situasi."
"Kita disini sampai selesai,"
Semua mengangguk setuju. Situasi bisa berubah cepat di istana. Banyak kekuatan dan kepentingan yang saling tarik ulur disana.

***

Lalu dimana Wredamentri Ranggapane. Bukankah Ia otak operasi di Pamotan. Seharusnya Ia hadir dalam acara Parade kemenangan itu.
Wredamentri Ranggapane memang tidak muncul secara terbuka. Ia muncul diam diam menyamar menjadi prajurit biasa diantara ribuan prajurit yang hadir dalam acara tersebut.
Saat kemunculan Jingga yang menawan Dutamandala. Awalnya Ranggapane hendak menyelamatkan Dutamandala. Namun setelah Jingga berteriak teriak mengumbar dosa Dutamandala dihadapan Raja. Ranggapane menilai bahwa Dutamandala sudah tidak bisa dipertahankan. Kalau Ia disidang, bisa bisa Ia akan menyebut namanya. Dutamandala tidak boleh berbicara di persidangan. Ia terlalu banyak tahu sisi gelap Majapahit.
Dengan dalih menyelamatkan Raja dari Jingga. Ranggapane mengijinkan pasukannya untuk menyerang Jingga tanpa memperdulikan keselamatan Dutamandala. Bahkan Ia diam diam masuk menyerang Dutamandala langsung dengan senjata rahasia beracun. Serangan mematikan, membuat Dutamandala yang menjadi samsak hidup langsung tewas.

Kejutan terjadi saat Pangeran Mahesa berteriak teriak seperti orang gila menuju Lencari. Ranggapane cepat menghilang mencari ruang aman. Ia memerintahkan pasukan yang mengurung memberi ruang ke Pangeran Mahesa untuk mendekati Jingga. Ia ingin melihat apa yang bisa dilakukan anak manja itu.

Ranggapane tersenyum sinis, anak muda itu bisa dipakainya menjadi martir untuk membalikkan situasi. Ia ingin melihat sikap Raja setelah ini. Ranggapane memerintahkan pasukan tombak merapat di sekeliling arena dengan tombak mengarah ke Jingga. Formasi ini membuat Jingga dan Lencari seolah olah sedang berada di tengah tengah belantara senjata.

Pangeran Mahesa terus menyerang membabi buta. Mau tidak mau Jingga harus menendangnya agar tidak membahayakan Lencari. Tendangan Jingga terlalu keras untuk Pangeran Mahesa. Ia terlempar keatas dan jatuh mengenai tombak prajurit yang mengepung. Jiwanya tidak tertolong lagi.
Ranggapane tetap tersenyum sinis dari balik belebat kain di wajahnya. Menunggu drama kelanjutannya.
Kematian Pangeran Mahesa memancing seorang pendekar yang tersembunyi selama ini. Awalnya Ranggapane tidak memperhatikan gerak gerik Ki Halimun. Ia hanya mengenalnya sebagai kerabat dari salah satu selir Raja. Orangnya diam tidak banyak unjuk diri. Sehingga luput dari perhatian.
Ranggapane baru peduli ketika serangannya bisa menembus pertahanan Jingga yang kuat. Serangan belati terbang tepat menghunjam Lencari di punggung dibalik jantungnya. Seketika Lencari lunglai.
Jingga panik lantas kabur memanjat kepucuk pohon beringin raksasa di pinggir alun alun.

Ranggapane ikut kerumunan prajurit mengepung pohon beringin raksasa itu.
Beberapa saat kemudian terdengar erangan mirip auman harimau dari atas pohon. Tenaga auman begitu kuat, membuat banyak prajurit terjatuh dengan kaki gemetar tidak kuat menahan getaran di jantungnya.
Ranggapane diam diam kagum dengan Jingga. Anak muda ini sungguh sangat berbakat, kalau tidak disebut sebagai pemuda super ajaib. Diusianya yang masih sangat muda, sudah menguasai berbagai kesaktian. Seorang diri bisa melawan sebegini banyak prajurit pilihan Majapahit.
Ranggapane semakin kagum dan tergetar begitu melihat kemunculan Jingga yang mengerikan. Wujud yang dilihatnya kini lebih mirip raksasa. Kekuatan berlipat lipat. Kini tidak menghindari setiap senjata yang menyerangnya. Anehnya senjata senjata itu seperti daun ilalang saja. Tak menggores sedikitpun kulitnya.
Jingga terus bergerak mendekati Ki Halimun. Terjadi pertempuran dahsyat keduanya. Jingga yang kuat melawan Ki Halimun yang cepat.
Pertempuran itu seperti membuka mata Ranggapane, bahwa diatas langit masih ada langit. Dalam serangan sebelumnya, Ki Halimun terlihat kedalaman ilmunya. Kalau tadi diteruskan serangannya, Ia berhitung dalam duapuluh serangan. Jingga akan tumbang. Tapi itu sebelum Jingga melarikan diri keatas pohon.
Situasi kini berbeda saat Jingga muncul kembali dengan ajian yang mengerikan. Tak ada senjata yang bisa melukai tubuhnya. Bahkan sebelum menyentuhnya, senjata itu terpental membuat yang memegangnya terluka atau senjata itu patah, bagai ranting mangga yang kering.
Ranggapane melihat pertempuran tingkat tinggi. Gerakan keduanya cepat dan kuat sampai mempengaruhi keadaan sekitar. Pertempuran itu terlihat seperti angin punyuh ditengah alun alun.
Ketika Jingga berhasil mengalahkan Ki Halimun. Ranggapane mencari jarak aman. Ia tidak mungkin melawan Jingga. Otaknya berpikir keras untuk mengambil manfaat dari situasi saat ini. Karena tidak punya solusi, Ia memilih diam menyembunyikan diri. Membiarkan pasukannya jadi sasaran Jingga.
Tiba tiba Jingga meloncat ke tempat Paduka Raja. Semua terkejut. Ranggapane tetap diam membaca situasi. Ia pandangi Mahapatih dan para pejabat di sekitar raja. Mereka terlihat jeri melihat Jingga. Mereka kalah sebelum bertanding.

Hal yang tidak terduga terjadi. Ratna yang dianggap paling lemah, malah maju menghadang gerak Jingga mendekati Raja. Ratna mengajak bicara Jingga dengan kalimat akrab. Berarti desas desus selama ini benar, Jingga dan Ratna ada hubungan dekat, tebak Ranggapane.

Sikap nekad Ratna membuahkan hasil. Jingga menghentikan aksinya, Ia seperti tersadar. Bahkan Jingga menyerah.

Semua kejadian itu terus diolah oleh otak Ranggapane. Ia terus mengamati Jingga dari balik tabir.
Hatinya semakin penasaran dengan kekuatan Jingga setelah ditemui Ratna, gedung penjara seperti dikuasai mahluk gaib. Hanya Ratna yang berani masuk menemui Jingga. Dan sekali lagi kekuatan Ratna mengendalikan Jingga membuatnya salut dan berhati hati. Ratna bisa meyakinkan Jingga untuk menjaladi sidang. Padahal sidang itu sudah jelas hasilnya, putusan Mati.

Ranggapane bersama pasukannya yang menjadi eksekutor Jingga. Membawa Jingga masuk ke dalam tahanan lagi. Agak ngeri juga Ranggapane mengawal Jingga. Mengingat kekuatan Jingga saat bertempur kemarin. Kalau Jingga mau, Ia bisa saja mengambil alih kerajaan Majapahit seorang diri. Kini Ranggapane menggunakan kekuatan otaknya untuk menghadapi Jingga.
Didalam Penjara, Ranggapane memerintahkan pasukannya menunggu diluar. Ia mengambil keputusan berani. Menurutnya, kalau Jingga marah, ada pengawal tidak ada pengawal sama saja. Ia akan dibantai Jingga.

"Terima salam hormat dari hamba Pangeran. Kenalkan hamba adalah Ranggapane," kata Ranggapane membuka pembicaraan. Sikapnyapun berubah, dari berjalan tegap kini melangkah kecil kecil seperti anjing mengikuti tuannya jalan jalan.
Jingga terkejut mendengar ucapan eksekutor bertopeng itu, yang tak lain Ranggapane yang sedang menyusup. Namun Jingga cukup malas menanggapi penghormatan Ranggapane. Pikirannya hanya dipenuhi dengan kerinduannya ke Lencari.
"Maaf Pangeran, sebetulnya hamba ini diam diam berada di pihak Pangeran."
Akhirnya Jingga penasaran dengan isi pikiran Ranggapane yang selama ini cukup misterius.
"Maksudmu?"
Ranggapane tersenyum, merasa pancingannya berhasil.
"Terus terang hamba memberanikan diri mendekati Pangeran."
"Bukankah anda orang berpengaruh di Majapahit saat ini, buat apa merendahkan diri dihadapanku?"
"Itu dikarenakan situasi darurat kerajaan Majapahit. Hamba yang tidak bisa menerima Majapahit semakin hari semakin lemah karena dipimpin orang lemah. Sebagai Prajurit, hamba menginginkan Majapahit yang kuat, yang digjaya, setidaknya seperti dijaman Prabu Hayam Wuruk."
Ranggapane terus mengamati perubahan perubahan sikap Jingga di setiap kalimat yang Ia sampaikan. Jingga hanya diam mendengarkan tak bereaksi berlebihan. Karena tidak ada reaksi penolakan, Ranggapane meneruskan ucapannya.
"Hamba sudah berusaha mendidik anak anakku menjadi prajurit tangguh. Ternyata tidak semudah mendidik orang lain. Mereka hanya mewarisi sebagian dariku. Hamba hampir putus asa mencari orang yang pantas diajak bersama memajukan Majapahit.
Hamba sudah tertarik menarik Pangeran saat aktif di Pasus Jalayudha. Anakku bercerita kalau Pangeran telah menolongnya. Anakku yang satu, Arya juga bercerita bagaimana hebatnya Pangeran mengalahkannya di peperangan Blambangan tanpa harus mengorbankan banyak prajurit.
Meski posisi hamba saat ini berada diseberang Pangeran, namun Jiwa prajurit tidak bisa tidak menghormati dan mengagumi prajurit musuh yang tangguh.
Hamba memahami perasaan Pangeran. Dan menyayangkan seseorang yang sangat berbakat, bahkan menjadi Raja sekalipun pangeran pantas. Harus difonis mati. Padahal hamba yakin, Pangeran tidak bersalah, dalam darah Pangeran tidak ada jiwa pemberontak. Hamba yakin seyakin yakinnya.
Tapi, yah beginilah sistem yang rusak di Majapahit membuat orang berbakat seperti Pangeran harus menderita. Yang benar dan salah sulit dibedakan.
Saat mendengar pembelaan Pangeran. Diam diam hamba terasuki keinginan gila." Ranggapane berhenti bercerita, menunggu reaksi Jingga. Ternyata Jingga mendengarkan semua penuturan Ranggapane.
"Keinginan gila apa?" Tanya Jingga.
"Sebetulnya ini amat berbahaya, tapi demi kejayaan Majapahit. Hamba memberanikan diri. Meski resikonya kepala ini." Ranggapane memeriksa sekeliling kalau ada yang menguping. Sepi tidak ada orang lain di sekitar ruangan Jingga.
"Hamba menginginkan Pangeran mengambil alih kekuasaan Majapahit. Untuk prajurit Majapahit, biar hamba yang mengurus. Pangeran hanya mengatasi Raja. Lalu menikahi kekasih Pangeran, Bhree Matahun. Menyelamatkan seluruh keluarganya. Pangeran bisa membantu Bhree Matahun menjadi Ratu Majapahit. Sama seperti Raja sekarang.
Dengan begitu Pangeran bisa mencegah perang di Blambangan, bahkan mendamaikan seluruh Majapahit. Menumpas pejabat pejabat korup yang merongrong kerajaan yang selama ini dibiarkan Raja sekarang."
Jingga tersenyum, "Bagaimana bisa, sedang saat ini aku sedang menunggu dihukum mati?"
"Bisa Pangeran, karena yang ditugaskan mengeksekusi Pangeran adalah pasukanku. Kalau Pangeran mau, Pangeran akan aku loloskan dan menyusup istana, membunuh Raja tidak becus itu. Selesai."
Jingga mengangguk angguk.
"Baik, aku setuju."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 35 lainnya memberi reputasi
36 0
36
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
31-08-2019 00:09
DUTAMANDALA DIBUANG


Jingga dan Lencari menyaksikan dari jauh seluruh prosesi itu. Mereka terharu melihat perjuangan Ratna, tidak mudah bersikap di lingkungan keterpaksaan seperti itu. Apalagi bagi Ratna yang pernah melarikan diri dari lingkungan istana yang penuh kekangan dan aturan yang memasung kebebasannya. Lalu mengenyam hidup merdeka saat bersama Jingga. Lencari menggenggam erat tangan Jingga. Entah apa maksudnya. Sementara Jingga tidak tahu harus berbuat apa. Ada keinginan untuk menolong, tapi tidak tahu harus menolong apa. Ratna tidak terlihat meminta tolong. Sedangkan dirinya sendiri masih banyak masalah yang harus diselesaikan saat ini.

Sebaik baiknya menyelesaikan masalah orang lain, lebih utama menyelesaikan masalah diri sendiri. Kalimat nasehat yang dulu diucapkan ayahanda kini terngiang di benaknya.

Jingga lantas memandang Lencari yang terlihat cemas. Dengan halus, Jingga mengusap punggung tangan Lencari agar tidak terlalu tegang.
"Kasihan," kata Lencari simpati.

Jingga menjawab dengan anggukan.

"Ratna sedang berjuang, sama dengan kita. Hanya jalannya berbeda."

Lencari menangkap maksud Jingga dan Ia lega. Awalnya Ia takut suaminya fokusnya terganggu setelah melihat kehadiran Ratna yang bisa mengacaukan rencana yang sudah disusun jauh jauh hari.

Acara demi acara berjalan lancar. Diatas panggung panjang terlihat Mahapatih yang selalu dekat dengan Raja. Di sisi lain Dutamandala terlihat begitu ceria, menempati tempat yang paling dekat dengan Raja setelah Mahapatih. Membuat Jingga berpikir, apakah peperangan di Pamotan juga ada andil Dutamandala?

Jingga mencoba mengenali satu persatu pejabat yang hadir untuk mendapat kaitan antara mereka. Tak banyak yang Ia tahu. Ia mencoba mencari dimana Wredamenteri Ranggapane. Beberapa waktu lalu, Jingga sempat melihat Raden Ranggapane di suatu tempat. Namun kali ini tidak terlihat keberadaannya. Padahal dari informasi yang beredar, Wredamenteri Ranggapane ini sejak Jingga masih di Kadewaguruan sudah terkenal akan pengaruhnya.

Yang tidak diketahui Jingga dari Wredamenteri Ranggapane, di setiap orang yang mengenalnya punya persepsi yang berbeda beda.

Jingga merangsek mendekat ke tempat Dutamandala berada. Jingga mengukur kekuatan orang orang disekitar Dutamandala. Para pengawalnya saat ini tidak bisa ikut ke tempat undangan. Jadi keamanan dirinya bergantung pada prajurit pengamanan di sekitarnya. Yang tidak hanya menjaga dia, tapi seluruh undangan yang hadir siang itu. Sementara undangan lain, rata rata dari postur tubuh mereka yang keberatan perut. Bukan menjadi ancaman berarti.
Kini Jingga fokus kepada Dutamandala seorang. Dutamandala mengenakan keris panjang diselipkan di punggungnya. Keris gagang gading, dengan sarung campuran emas. Sedangkan di pinggangya terselip belati kecil, belati yang biasa dipakai Prajurit dalam kesehariannya. Sepertinya Dutamandala terbiasa menjaga diri menggunakan belati kecil itu. Sedang keris panjang nan mewah itu hanya dikenakan saat acara acara tertentu saja.

Acara inti selesai, berganti acara ramah tamah dan hiburan. Para undangan dan peserta bergerak bebas, bercakap cakap dan menikmati aneka hidangan. Di hadapan Raja, para putri kraton dan gadis gadis pilihan menari tarian perang, mereka berdandan ala prajurit yang sedang bertugas di medan laga. Tabuh tabuhan terdengar indah menarik hati untuk terus mengikuti setiap gerak para penari itu.

Dalam keceriaan yang ditebarkan para penari itu, Jingga sudah berada tepat dibelakang Dutamandala. Sementara Lencari diam menunggu di sisi panggung.
Sekali hentak, Jingga melenting ke atas panggung, langsung mengunci leher Dutamandala dari belakang. Secara reflek Dutamandala melakukan perlawanan dengan meronta berusaha melepaskan kuncian. Tangan kanannya mencabut belati kecil andalannya. Ia lalu menghunjamkan lewat samping kepala kirinya, mengincar wajah Jingga. Jingga sigap menghindari serangan, melepaskan cengkeraman tangan kanannya di leher Dutamandala, langsung menangkap pergelangan tangan Dutamandala tanpa melihat dan memelintir kebawah. Dengan kekuatannya, belati itu berganti mengarah ke dada Dutamandala sendiri. Sekuat tenaga Dutamandala mencoba melepaskan cengkeraman jingga. Sebuah pukulan tangan kiri Jingga di tengkuk Dutamandala mengakhiri perlawanannya. Dutamandala terjatuh tak sadarkan diri.
Cepat Jingga merampas belati dan membuang keris panjang yang diselipkan di punggung Dutamandala.

Seketika suasana menjadi gempar. Para penari berlari menjauh. Orang orang berhamburan kesana kemari berusaha menyelamatkan diri. beberapa dari mereka tanpa pikir panjang melompat dari atas panggung menimpa orang orang dibawah.

Prajurit pengamanan bergerak cepat mengepung Jingga yang mengunci leher Dutamandala dengan erat.

Yang dikepung bersikap biasa saja. Ia berjalan sambil menyeret Dutamandala ke bibir panggung undangan.

Melihat tuannya dalam bahaya. Para pengawal Dutamandala berhamburan menuju panggung. Mereka menyerang Jingga tanpa banyak bicara. Jingga melayani dengan tenangnya menjadikan Dutamandala sebagai perisai. Tak ayal mereka langsung menahan semua serangan takut senjata senjata mereka mengenai tuannya.

Saat Jingga perhatiannya teralihkan ke para pengepungnya, Jingga tidak mengetahui kalau Dutamandala sudah tersadar dari pingsannya dan kembali berkelit melepaskan diri. Usahanya kali ini berhasil, Ia menjatuhkan diri ke lantai kayu lalu menggelinding melarikan diri. Tapi Dutamandala tidak tahu yang dihadapinya kali ini adalah Jingga.
Jingga tidak berusaha menangkap. Ia hanya meloncat lalu menginjak sendi pundak Dutamandala, gerakannya seperti anak anak menginjak kepiting yang lari di pantai. Sekali injak terdengar bunyi krak!

Dutamandala langsung mengerang kesakitan, tulang selangkanya remuk. Benar benar pemandangan yang membuat ngilu. Para prajurit dan pengawal Dutamandala yang mengepung sampai meloncat mundur, menyadari musuh mereka bukan orang sembarangan.

Padahal saat Dutamandala menjatuhkan diri, peluang menyerang Jingga terbuka lebar. Bukan dengan meloncat mundur seperti itu.

Mendapat ruang, Jingga lantas melejit turun ke tengah alun alun dengan menenteng tubuh Dutamandala yang bagai kain basah, setengah pingsan karena kesakitan.

Gerakannya ringan dan cepat, seakan tubuh Dutamandala hanya berisi kapuk kering. Anak buah Dutamandala dan prajurit penjaga hanya bisa melongo melihat gerakan indah Jingga meloloskan diri dari kepungan mereka.

Prajurit Bayangkari yang berjaga di area Raja akhirnya bergerak mengurung Jingga dengan kurungan berlapis. Mereka hanya mengurung, tidak menyerang, takut serangannya melukai Dutamandala.
Mempertahankan jarak aman antara Jingga dan Raja yang mereka jaga.

Jingga mengerti, bila Ia terus maju, maka Ia akan diserang Prajurit Bayangkari, tak peduli Dutamandala akan tewas, karena tugas mereka menjaga keselamatan Raja. Jingga berhenti, memberi hormat kepada Raja.

Raja terlihat terkejut dan berhati hati. Ki Bekel Bhayangkari dan Mahapatih menghunus senjata berjaga di kanan kiri Raja.
"Siapa dia?!" Tanya Raja penuh amarah melihat pemuda dusun yang berani mengacau di acara kerajaan.

Mahapatih tak keburu menjawab. Ia seperti mengenal pemuda itu, apakah ini Jingga? Ia langsung tersentak dengan jawabannya sendiri. Mengingat sebelum ini Ia menolak keinginannya bertemu, puncaknya ketika Jingga mengembalikan lencana yang diberikan kepadanya. Kesalahannya, Ia tetap merahasiakan tentang kedatangan Jingga di Wilwatikta kepada siapapun.

Mahapatih tidak menduga sama sekali kalau Jingga akhirnya akan berbuat nekat seperti ini. Ia terus berhitung membaca situasi. Yang ditawan adalah Dutamandala. Pendana pekerjaan pekerjaan kotor di Majapahit. Dan kali ini Ia membutuhkan dananya untuk membayar denda Laksamana Cheng Ho. Jadi Dutamandala harus Ia selamatkan. Kepada perwira penghubung, Mahapatih memerintahkan sepasukan khusus untuk maju menyelamatkan Dutamandala. Pasukan itu lantas bergerak menyusup mendekat lokasi Jingga.

Ratna yang berada di baris belakang Raja bersama adik adiknya tak kalah terkejut melihat kehadiran Jingga disini. Orang yang selama ini selalu menghiasi mimpinya akhrnya hadir. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Apakah menyambutnya, atau diam saja. Ia mengenal Jingga yang selama ini dianiaya oleh Dutamandala. Tiba tiba Ratna mendapat kesadaran baru. Dalam kondisinya seperti ini, meski tidak bisa hidup bersama Jingga. Namun Ia masih bisa berjuang membela Jingga walau akhirnya harus mengorbankan dirinya. Saat ini dirinyalah yang paling dekat dengan Raja. Ia bisa menjelaskan langsung tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Ratna lantas maju mendekati Raja, mau mengatakan kalau Ia mengenal Jingga. Saat hendak mengatakan, Jingga sudah lebih dulu mengenalkan diri.

"Perkenankan hamba memperkenalkan diri, Hamba adalah Jingga, Raja Blambangan," kata Jingga dengan suara lantang.

Seketika seluruh orang yang mendengarnya berseru terkejut. Tokoh yang selama ini mereka kenal dari cerita cerita yang berkembang di Wilwatikta. Tokoh yang digambarkan amat seram dan kejam. Sekarang muncul dihadapan mereka. Beberapa tidak percaya, karena penampilannya yang mriyayeni meski berdandang ala orang dusun. Tak ada sedikitpun kemiripan dengan yang digambarkan di cerita cerita.

Memang sejak awal penetapan Jingga dijadikan buronan, latar belakangnya yang orang Blambangan disangkut pautkan dengan kisah raksasa dari Blambangan dalam kisah Panji. Ceritanya semakin mendapat pembenaran ketika tersebar kabar Jingga membawa lari istri salah seorang Pangeran. Mirip dengan raksasa dalam kisah panji yang merebut calon permaisuri. Lalu membunuh Senopati dan pengawalnya yang ditugaskan menjaga Blambangan. Para prajurit yang kembali dari Blambangan menambah cerita cerita yang semakin mengerikan, bahwa mereka melawan pasukan gaib, raksasa dengan gada cetbang. Hal ini dilakukan para prajurit itu untuk menutupi rasa malu karena kalah memalukan.

Jadilah Jingga dikenal di Wilwatikta sebagai sosok mengerikan dan ditakuti.

"Maaf Prabu Wikramawardhana, hamba telah lancang merusak susana gembira ini. Namun karena hanya saat inilah waktu yang tepat untuk menyelesaikannya, maka hamba memberanikan diri mengungkapkannya.

Mengapa Hamba menangkap orang ini? Ia adalah Dutamandala, yang punya dendam pribadi kepada Hamba, karena hamba menangkap putranya yang berbuat kejahatan dalam keprajuritan.
Ia membalas dengan memfitnah hamba sebagai pembunuh putranya. Sehingga hamba menjadi buronan Majapahit.

Tidak sampai disana, Ia memerintahkan orang membunuh Ayahanda Kebo Marcuet. Mengadu domba saya dengan kakakku.
Ia mengirim pasukan menggempur Blambangan sehingga hampir membunuh seluruh prajurit Blambangan termasuk Patih Etan dan Raja Blambangan.
Wajar hamba membalas, dengan memukul mundur pasukan itu. Hamba suruh pulang tanpa banyak melukai.

Tapi orang ini masih mengirim lagi Senopati Kijang Anom. Karena kami cinta damai, pasukan yang datang kami terima baik sepanjang mereka berbuat baik dan wajar."

Kalimat Jingga terhenti ketika sebuah anak panah meluncur deras mengincar keningnya. Jingga menoleh tanpa menggegerkan tubuh, tangannya berkelebat menangkap anak panah itu tepat di kepala besinya. Dengan sekali kibatan, Jingga mengembalikan anak panah itu ke asalnya.

"Errrggggh!"

Terdengar erangan disusul suara orang jatuh. Orang yang tadi melepas panah diam diam diantara kepungan prajurit.
Jingga kembali melanjutkan seolah tidak terjadi apa apa.

"Terakhir Ia mengirim Senopati Branjangan yang brangasan. Membunuh banyak rakyat Blambangan yang tak berdosa. Menyita harta dan tanah mereka. Menjadikannya budak di negeri sendiri.
Maka aku lawan senopati brangasan itu sebagai hukuman siapa saja yang merusak Blambangan."

Tak ada jawaban dari Raja, maupun para pejabat yang bertanggung jawab. Sementara Ratna masih menanti peluang untuk berbicara dengan Raja. Namun oleh para prajurit Bayangkari, Ratna dan adik adiknya digiring keluar dari lokasi.
Ratna menolak, "Biarkan aku menemani Paduka Raja,"
Raja menoleh kepada Ratna, memandang sejenak untuk memastikan kesungguhan ucapannya.
"Biar calon permaisuriku bersamaku,"
Para Prajurit Bayangkari memberi hormat lalu bergerak mengevakuasi yang lain.

Saat perhatian Raja dan Ratna teralihkan. Entah siapa yang memerintahkan, pasukan pengawal yang tadi sabar mengepung tiba tiba bergerak menyerang. Dengan tangan kiri memegang tubuh Dutamandala, dan tangan kanannya memegang belati rampasan. Jingga menyambut serangan serentak seolah menari diatas ilalang senjata. Satu persatu prajurit itu bertumbangan dengan luka terkena belati milik Dutamandala. Namun itu tidak membuat jeri pasukan yang mengeroyoknya. Malah jumlahnya semakin lama semakin banyak. Bagai semut yang menyerang serangga.
Tubuh Jingga sudah penuh dengan darah prajurit Majapahit yang dilukainya. Sementara tubuh Dutamanda seperti guling kapuk penuh darah. Tubuhnya dipontang panting Jingga mengikuti serangan prajurit Majapahit. Dari serangannya. Prajurit Majapahit sudah tidak menghiraukan nasib Dutamandala. Beberapa kali tubuhnya tertusuk senjata prajurit Majapahit. Dutamandala hanya bereaksi pelan. Ia sudah sekarat.
Sementara pasukan yang diutus Mahapatih untuk menyelamatkan Dutamandala kebingungan. Mereka tidak mendapatkan ruang untuk melaksanakan misinya.

Jingga merasakan ada perubahan perintah. Yang semula mengepungnya sangat hati hati agar tidak melukai Dutamandala, sekarang tiba tiba tidak peduli dengan keselamatan Dutamandala. Apakah Dutamandala sudah mereka buang? Lalu siapa yang memberi putusan itu? Benak Jingga penuh dengan pertanyaan.

Mahapatih juga bingung, misi menyelamatkan Dutamandala gagal total. Nyawa Dutamandala sepertinya tidak bisa ditolong. Beberapa kali ujung senjata para prajurit itu mengenai sekujur tubuh Dutamandala. Pasukan khususnya yang diutus gagal mendekati Jingga. Terhalang pertempuran antara prajurit yang mengepung dengan para pengawal Dutamandala yang tidak terima Tuannya diperlakukan seperti itu. Situasi menjadi sangat kacau.
Para undangan dan penontong yang menyaksikan parade kemenangan sudah pergi meninggalkan alun alun. Disana tinggal para prajurit, pimpinan prajurit dan pembesar pembesar istana yang dikawal ketat Pasukan masing masing. Hal ini membuat keberadaan Lencari menjadi mencolok. Wanita satu satunya diantara kerumunan Prajurit.

"Itu istriku yang dibawa lari Jingga!" Tiba tiba terdengar teriakan keras dari arah panggung para Pangeran. Sontak orang orang yang tidak bertempur menoleh ke arah sumber suara lantas berpaling mengikuti arah yang ditunjuknya. Semua pandangan akhirnya mengarah ke Lencari yang berdiri di samping panggung tempat para pengusaha berkumpul.
Sementara Pangeran yang berteriak itu lari kesetanan, seolah tak peduli akan pertempuran yang berlangsung. Ia berlari ke arah dimana Lencari berdiri.
Para prajurit yang berada dekat Lencari, awalnya bersiaga mengawasi pertempuran. Mereka lantas mengepung Lencari yang berusaha melarikan diri setelah diteriaki Pangeran Mahesa agar menahan Lencari.
"Kakaaang, Tolooong!" Teriak Lencari ketakutan.
Jingga yang mengetahui Lencari dalam bahaya. Lantas melemparkan tubuh Dutamandala ke arah prajurit yang mengepungnya. Sekali menjejal tanah, Jingga melayang, lalu menginjak tubuh Dutamandala yang masih melayang untuk digunakan sebagai batu loncatan. Seketika para pemanah menyerangnya saat berada di udara. Tapi tidak cukup cepat reflek mereka untuk mengenai Jingga. Mereka seperti memanah bayangan.

Sampai di dekat Lencari, Jingga langsung menghantam para prajurit yang menahan Lencari. Empat lima orang terpental terkena pukulan Jingga yang entah darimana datangnya. Mereka hanya melihat seseorang mendekat dan tanpa tahu bagaimana, wajah, perut dan dada sudah terasa sakit seperti dihantam balok besar.

Jingga langsung menggamit pinggang Lencari, digendong belakang dan diikat erat menggunakan kain selendang, lalu meloncat mendekati panggung tempat Raja berdiri bersama Mahapatih. Belum sampai ke tempat tadi, Jingga sudah dihadang pasukan Majapahit yang tadi ditinggalkannya.

"Hei penculik! Kembalikan istriku!" Teriak Pangeran Mahesa histeris. Ia seperti orang kalap tak peduli keselamatannya. Melihat Jingga dan Lencari kembali ke tengah lapangan. Pangeran Mahesa meloncat turun sambil menghunus kerisnya. Menyibak diantara para prajurit yang mengepung Jingga. Ia benar benar nekad. Yang ada dipikirannya adalah, membunuh Jingga yang telah merusak rumahtangganya, merusak hidupnya, karirnya. Lalu membawa Lencari kembali pulang.
"Ayo lawan aku!" Teriak Pangeran Mahesa penuh amarah. Para Prajurit memberi jalan padanya untuk mendekati Jingga dan Lencari yang sedang bertempur.
"Jangan menghindar terus!"
"Lawan Aku!"
"Pengecut!"
Begitulah teriakan Pangeran Mahesa diantara teriakan teriakan Prajurit yang bertempur. Ia benar benar ingin melampiaskan semua perasaannya yang tertekan setelah dipaksa Ibunda menceraikan Lencari. Padahal dalam dirinya tidak ingin melakukan itu. Kalaupun harus pisah, Ia harus membalas sampai tuntas seluruh sakit hati dan penderitaannya selama ini. Ia ingin Lencari dan Jingga menderita sampai menyembah nyembah didepan kakinya.

Jingga sengaja tidak meladeni dan balas menyerang Pangeran Mahesa. Jingga hanya menghindari serangannya. Ia lebih sibuk menghadapi serangan yang lain yang lebih berbahaya.
Diperlakukan seperti itu, Pangeran Mahesa semakin marah. Ia semakin nekad dan ngawur serangannya. Sampai akhirnya Ia berada dalam posisi sulit.

Jingga harus memutuskan, membela diri atau Ia atau Lencari yang terluka oleh keris warangan Pangeran Mahesa. Tanpa pikir panjang, Jingga menendang Pangeran Mahesa tepat di dadanya. Akibatnya Pangeran Mahesa terlempar kebelakang.
Tendangan Jingga sebetulnya tidak berbahaya, hanya menimbulkan sakit dan sesak didada. Tak merontokkan organ dalam Pangeran Mahesa. Itu perhitungan Jingga saat menendang Pangeran Mahesa.
Namun tendangan yang membuat Pangeran Mahesa terlempar kebelakang ternyata berakibat fatal. Pangeran Mahesa jatuh ke arah kerumunan Prajurit yang mengarahkan senjata kearah Jingga. Pangeran Mahesa tertancap tombak di punggungnya. Ujung tombak itu sampai menembus dadanya. Ia seperti tidak percaya dengan mengusap ujung tombak yang muncul di dadanya. Darah mengalir membasahi telapak tangannya. Tombak itu cepat cepat dicabut prajurit itu. Meninggalkan tubuh Pangeran Mahesa yang limbung dan akhirnya terjatuh.
Prajurit yang didekatnya segera membopong keluar Pangeran Mahesa dari pertempuran.

Ibunda Pangeran Mahesa berteriak histeris dari kejauhan melihat anaknya terluka parah. Ia berusaha mendatangi tempat Pangeran Mahesa, namun dihalangi para pengawal sambil menjelaskan, putranya akan dibawa kemari.
Saat Pangeran tiba, Ibunda Selir langsung memeluk putra kesayangannya yang sudah tak bernyawa. Ia tak peduli darah mengotori pakaiannya. Mayat putranya direbahkan di pangkuannya. berharap dengan memeluk kepalanya di pangkuan, Pangeran Mahesa akan hidup kembali.
"Bangun cah bagus, cah ganteng, ini ibu nak.."
Pangeran Mahesa yang dipeluk, terkulai lemah. Tak bereaksi apa apa.

"Perempuan tak tahu diuntung! Pembunuh!" Maki Ibunda Selir sambil menunjuk kearah Lencari. Segala makian buruk kepada wanita terlontar semuanya. Ibunda Selir benar benar lepas kendali. Putra kebanggannya, penghiburnya dalam menjalani hidup sebagai selir yang harus mengorbankan cintanya. Berharap suatu saat putra kesayangannya ini mewarisi tahta Ayahandanya, setidaknya menjadi Raja muda di tanah kelahirannya. Sekarang musnah laksana embun terpapar sinar matahari pagi.
Dan semua itu gara gara Lencari dan Jingga.

Ki Halimun menghampiri mencoba memberi penghiburan kepada Ibunda selir. Hanya gelengan kepala Ibunda Selir jawabannya sambil terus melaknat Lencari dan Jingga. Beberapa saat kemudian gantian Ibunda selir yang bicara dijawab dengan anggukan Ki Halimun.
Ki Halimun langsung meloncat ke arah pertempuran. Ia mendapat misi khusus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 35 lainnya memberi reputasi
36 0
36
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
Stories from the Heart
olivia
Stories from the Heart
kamu-hujan-yang-kunantikan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
horor-story-daun-singkong
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia