alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/59bc0d021a997561248b456b/sinden---a-song-from-the-demon-horor
Lapor Hansip
16-09-2017 00:25
SINDEN - A SONG FROM THE DEMON [HOROR]
Past Hot Thread
sebelumnya, mohon maaf kepada para sepuh-sepuh sfth karena gw kembali lagi ke sini. dan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada siapapun yang nanti sudi mampir, singgah dan membaca trit ini.
seperti biasa, mengikuti adat yang sudah ada, biarkan gw untuk sedikit berbasa-basi.


quest and ask


RULES


UNTUK YANG MAU MAMPIR KE BLOG GW, SILAHKAN KLIK -RUANG KOSONG-

lalu, mari, kita mulai cerita ini ... kisanak... siapkan kopinya.

Quote:
SINDEN


Quote:
SINDEN - A SONG FROM THE DEMON [HOROR]


BACKSOUND - KIDUNG WAHYU KOLOSEBO



Quote:
-DAFTAR ISI-


--------------------------------























Diubah oleh vayu.vayu
-1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
Lapor Hansip
16-09-2017 00:25
PROLOG





Semua berawal seperti film-film horror yang sudah banyak beredar di pasaran. Tentang satu keluarga yang pindah ke sebuah rumah baru dan akhirnya mereka hidup bahagia. Walau tentu saja kebahagian itu tidak berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Karena rumah yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman pada penghuni barunya itu, ternyata menyimpan mistik yang sudah lebih dulu bersemayam di sana.

Begitupun keluarga gw yang pindah ke sebuah rumah di desa mungil di pelosok jawa tengah. Sebuah desa dimana mantra dan jampi-jampi masih di yakini keabsahannya, dimana segala hal beraroma ghaib masih lekat dalam keseharian. Desa itu, kita namakan desa Menyansari, yang terletak di sudut terpencil kabuten Temanggung, jawa tengah
Diubah oleh vayu.vayu
0
Lapor Hansip
16-09-2017 00:31
Loh.. Gtu doank???
emoticon-Ngacir masih sepi jhon emoticon-Traveller
0
Lapor Hansip
16-09-2017 00:47
Badjingan comeback emoticon-Matabelo
0
Lapor Hansip
16-09-2017 00:47
balik lagi nih
0
Lapor Hansip
16-09-2017 01:03
uncchhh mas mat kembali lagi
0
Lapor Hansip
16-09-2017 01:11
Quote:Original Posted By linglung.13
Loh.. Gtu doank???
emoticon-Ngacir masih sepi jhon emoticon-Traveller
sabar kang sabar .. jangan kemana mana.. heyy ..

Quote:Original Posted By morguev
Badjingan comeback emoticon-Matabelo
ah, emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By tagkingirul
balik lagi nih
ho[oh..emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By mr.ling
uncchhh mas mat kembali lagi
emoticon-Big Grin
emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
16-09-2017 01:27
PINDAH





Rumah dua lantai itu berada di sisi jalan yang masih berupa terasahan batu-batu kali. Letaknya dekat dengan perempatan. Kalau dilihat dari bagian depan, yang tampak hanyalah lantai dua yang sejajar dengan jalan. lantai satunya baru nampak kalau kalian melihatnya dari arah samping sebab posisinya berada di bawah jalan. sehingga kalau hanya sekilas, kalian akan mengira kalau rumah itu adalah rumah berlantai satu.

begitupun gw saat pertama kali pindah ke desa menyansari dan melewati rumah itu. Barulah setelah agak lama gw baru tahu kalau rumah itu adalah rumah dua lantai yang cukup mewah, hanya saja kurang terawat karena katanya rumah itu sudah kosong sejak lama.
Gak begitu banyak yang gw tahu soal rumah itu, karena saat pindah ke menyansari gw baru menginjak kelas 4 sekolah dasar. Terlebih lagi, gak ada gunanya buat gw cari tahu tentang rumah itu. Yang gw tahu hanya rumah itu memang sudah tidak berpenghuni untuk kurun waktu yang cukup lama.

Di menyansari, keluarga gw tinggal di rumah si mbah dari pihak emak bersama beberapa saudara yang lain sampai kelas 5. Lalu pindah ke rumah yang bapak bangun sendiri di kampungnya, desa Kejajar, Kabupaten wonosobo. namun karena alasan bapak dan emak gagal membuka mata pencaharian di sana, akhirnya pertengahan semester kelas 5, dengan paksaan dari pihak keluarga emak, keluarga gw kembali lagi ke menyansari. Rumah di kejajar pun di kontrakan.

*ngopi dulu, haus juga gw euy, anying.*


Sampai saat gw menduduki kelas 6 sd beberapa bulan. sepulang sekolah, emak,si mbah, dan saudara-saudara gw berkumpul di ruang tengah, mereka duduk berhadapan, tampak sangat khusyuk.

“dek, sini!” bu lek gw melaimbaikan tangannya. “doain bapakmu!”

Gw yang masih berdiri di depan pintu dengan seragam lengkap, jelas kebingungan mendapat sambutan macam begitu. “doain apa tho?” tanya gw sambil melangkah mendekat.

“gini, bapak lagi ngelobi rumah. Kamu tahu rumah yang di pinggir jalan itu? Yang deket perempatan? Yang mau ke rumah riyan?” Emak menimpali pertanyaan gw yang masih berdiri bingung.

“oh rumah yang gede itu?” gw manggut-manggut walau sebenarnya masih belum mengerti arah dari pembicaraan yang tiba-tiba ini.

“iya rumah itu. Sekarang bapak lagi di kejajar, kemaren rumah yang di sana ada yang nawar. Nanti kalau jadi laku, duitnya mau buat beli rumah di sini, rumah gede itu!” emak menjelaskan dengan perlahan, dan barulah gw paham kenapa orang-orang di hadapan gw ini memasang wajah sedemikian rupa.

Hanya butuh waktu seminggu buat bapak. di tangan dinginnya, bisnis berjalan mulus tanpa kendala. rumah di kejajar terjual dengan harga tinggi, sementara rumah yang lama kosong itu terbeli dengan harga yang murah. Terlalu murah malah. Namun semua orang tak perduli lagi.

*ngudud dulu cuk, pegel.*


Hari ini, bapak mengajak gw, emak dan teteh untuk menengok rumah itu. Rumah yang selama ini gw lewati tanpa gw perhatikan saat gw melewatinya untuk ke rumah riyan. Rumah yang dulu gak pernah sedikitpun gw bayangkan bagaimana rupa dalamnya.
Saat pintu pertama kali di buka, tercium aroma menyengat dari tembok-tembok yang lembab dan berberapa sudutnya mulai berjamur. Namun semua itu sama sekali tak mengurangi kesan bahwa rumah ini adalah rumah yang memang mewah, setidaknya di desa menyansari.

Aroma menyengat itu semakin kuat saat bapak mengajak berkeliling memasuki setiap ruangan yang ada. warung yang berada di samping ruang tamu, lalu ke ruang tengah, dan di ruang tengah yang lapang ini gw baru sadar kalau ternyata lantainya terbuat dari papan-papan kayu. Sehingga saat melangkah di atasnya akan menimbulkan suara yang sedemikian rupa. Di lantai ini, ada tiga ruangan berukuran sama. Dua kamar tidur, dan satu kamar yang lebih kecil lagi yang menghubungkan ruang tamu, ruang tengah, dan tangga menuju ke lantai bawah.

Di lantai bawah, aroma lembab yang tadi terasa ribuan kali lebih menekan rongga dada setiap kali nafas di hela. Lantainya yang hanya acian semen halus membuat hawa lembab itu semakin menusuk. Di lantai bawah ini, ada tiga kamar berukuran sama dan satu kamar mandi yang agak sedikit lebih kecil. Kamar-kamar itu berderet di sebelah kanan, sama seperti kamar-kamar di lantai atas. Di sebelah kiri, ada wastafel yang sudah penuh oleh noda dan bercak-bercak entah apa. Di samping wastafel, ada pintu yang mengarah ke kebun singkong sebelah rumah. Dari sana, ada tangga di luar yang langsung menuju ke atas, ke sebelah warung.

*bentar-bentar, kok aing pusing ya. Lo lo pada pusing gak? Ya pokoknya begitu lah.*


Hari ini, semuanya tampak gembira. Sampai-sampai aroma lembab yang menyengat itu tak lagi terhiraukan. Bahkan teteh gw udah memilih kamarnya yang berada di lantai atas. Dan bisa pastikan, hari ini, keluarga gw adalah keluarga yang paling bahagaia di seluruh alam semesta. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.
0
Lapor Hansip
16-09-2017 01:31
SCRATCH MY FIRST NIGHT




Butuh waktu kurang lebih satu minggu untuk membereskan setiap bagian rumah ini yang sudah sekian tahun dibiarkan kosong tanpa penghuni. Setelah semua barang-barang keluarga gw di boyong dan di tata rapih pada tempat yang semestinya, malamnya barulah di adakan ritual pindahan yang di pimpin oleh sesepuh desa menyansari. Maka keesokan harinya resmilah gw menempati rumah ini yang tak lagi tercium aroma lembab yang menyengat rongga hidung.

Di jendela lantai dua yang terbuka sepenuhnya, gw berdiri sambil menghirup udara segar sore hari. Di kejauhan sawah terhampar dengan helai-helai padinya yang menguning sewarna senja. di ruang depan samping warung, terdengar lirih suara bapak dan emak yang berbincang hangat. Sementara di dalam kamarnya, teteh masih sibuk menempel poster-poster sheila on 7 yang jadi idolanya.

Dengan langkah tenang gw beringsut menuruni anak-anak tangga yang tabah merebah, untuk menuju kamar gw yang berada di lantai bawah. Di atas kasur lantai gw membaringkan badan, memandangi langit-langit kamar yang sekaligus menjadai lantai atas. Tak berapa lama, suara bapak menggelinding dari satu anak tangga ke anak tangga yang lain, mengangetkan gw yang sedang membayangan membawa riyan untuk menginap di sini.

“dek, maghrib, sholat!”

“iya bentar!!” gw menyahut lalu bergegegas bangkit.

Gw ambil wudhu seperti sebagaimana seharusnya. Lalu masuk ke kamar di sebelah kamar mandi yang oleh bapak memang di kususkan menjadi tempat sholat. Namun saat sholat, gw benar-benar gak tenang. di lantai bawah gw yakin kalau gw Cuma sendirian, tapi ada perasaan bahwa gw sedang di perhatikan.

Akhirnya rakaat ke dua dan ke tiga gw sholat tanpa membaca apa-apa dan langsung berlari ke lantai atas. Entah gw yang terlalu pengecut atau memang ada yang gak beres di bawah sana. Ada sesuatu yang auranya sangat menekan. Entah apa.

*udud dulu cuk, fiiuuuhhh.*


Di lantai atas, gw utarakan semuanya pada bapak yang tengah sibuk mencumbui rokok di dji sam soe di apit sela jemarinya. Namun semakin gw bersikeras bahwa ada yang aneh di lantai bawah, semakin bapak juga bersikeras bahwa itu hanya perasaan gw aja. Sampai akhirnya gw merasa yakin pada apa yang bapak katakan.

Di lantai atas, obrolan-obrolan dan seloroh bersilang belit. Kehangatan menjalar melebur dalam rapatnya lingkaran. Sampai tanpa terasa telah banyak detik yang berguguran. Sampai bapak dan emak sudah lebih dulu memasuki kamar. Sampai akhirnya hanya tinggal gw yang berdiri di anak tanggga yang pertama.

Mendadak hening begitu hebat menjerat segala suara yang ada di dalam rumah. Membuat suara-suara hewan malam bergaung tanpa ada lagi penghalang. Anak-anak yang hanya beberapa baris itu kini belipat ganda. Sial. Gw hanya punya dua pilihan. Membangunkan bapak dan memintanya mengantar gw ke bawah, atau, langsung saja turun tanpa memperdulikan segala macam bayangan sosok carut marut yang berkelebatan di kepala.

Pilihan pertama sepertinya layak untuk di coba. Maka gw berbalik dan kemudian mengetuk pintu kamar bapak yang langsung di sambut oleh rentet omelan.

Di anak tangga yang pertama, lagi, gw berdiri tanpa punya kehendak untuk mengayunkan kaki. Tapi kedua pilihan itu masih ada walau sudah agak berbeda. Kembali mengetuk pintu kamar babapk dan merengek memohon pertolongannya, atau, berlari turun melompati tiga anak tangga sekaligus. Pilihan kedua sepertinya lebih bijaksana, karena jujur saja omelan bapak rasanya lebih mengerikan di banding sosok-sosok yang makin liar berkelebatan di dalam kepala.

Setelah beberapa menit menimbang ragu, gw melesat turun, masuk ke kamar, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu berusaha untuk lekas jatuh pada dekap lelap. Dan berhasil.

Namun malam masihlah panjang. perjuangan belum juga setengah jalan. pun pagi masih jauh sampai ke jarak pandang. Jam 2 pagi buta, gw terbangun, urusan kencing yang kadang memang tak pernah perduli pada situasi. Sial.

Di luar udara kian dingin, dan gw jelas tak akan sudi beranjak kemana-mana. Maka selimut di tarik lagi, kelopak-kelopak mata di rapatkan lagi, berharap agar lelap yang tadi lekas kembali. Tapi nihil, selama hampir satu jam gw hanya bisa membalik-balikkan badan tak karuan.

Sampai akhirnya seluruh gerakan gw yang sia-sia itutu terhenti karena tepat dari atas gw, datang sebuah suara yang dengan tajamnya menggores daun telinga.

“kreeekkhhh … kreeekkkhh … krekkkhh….”

Ada sesuatu yang menggaruk permukaan papan kayu tepat di atas gw sehingga menghasilkan suara seperti itu. Sambil mendudukkan badan, gw tajamkan lagi indra pendengaran.

“kreeekkhhh … kreeekkkhh … krekkkhh….”

Suara itu semakin jelas. Dan kalau ini memang suara permukaan kayu yang di garuk oleh sesuatu, maka mustahil kalau garukan ini berasal dari lantai atas, karena papan-papan di lantai atas itu sudah dilapisi karpet. Sambil menahan nafas, akhirnya gw berdiri.

“kreeekkhhh … kreeekkkhh … krekkkhh….”

Untuk beberapa saat gw membeku, karena menyadari bahwa apapun itu yang menggaruk papan kayu di atas, sebenarnya berasal dari dalam kamar gw sendiri. Dan mungkin sesuatu itu sedang berdiri berhadapan dengan gw yang gemetaran dari kepala sampai kaki.

Detik berikutnya, gw mengumandangkan sumpah serapah dan umpatan sejadi-jadinya. Lalu berlari melompati 3 atau 4 anak tangga sekaligus menuju lantai atas.
0
Lapor Hansip
16-09-2017 01:42
DURMO





Sudah sebulan lewat sejak suara garukan pada permukaan kayu kamar gw. dan Selama rentang waktu itu, tidak ada kejadian lain lagi yang terjadi. walau demikian, gw tetaplah bersikukuh pada bapak untuk memindahkan kasur lantai gw ke sudut lantai atas, tepat bersebelahan dengan kamar bapak. Buat gw, tidak masalah kalau tak memiliki kamar sebagai ruang pribadi, daripada gw menempati kamar namun harus berbagi dengan sesuatu yang bisa saja punya wujud mengerikan. Buat gw, sudut lantai atas adalah pilihan terbaik yang gw punya. Karena sejak kejadian di malam pertama itu, haram hukumnya buat gw turun ke lantai bawah selepas maghrib.

Bekas kamar gw yang di bawah itu kini menjelma menjadi gudang bagi dagangan warung. Karena setelah resmi menempati rumah ini, seminggu setelahnya emak membuka warung kelontongan yang lumayan lengkap, selain itu, emak juga menerima hasil bumi para petani untuk kemudian ia jual ke pengepul di pasar dengan sistim bagi hasil.

Hari demi hari berlangsung sebagaimana adanya. Udara di dalam rumah pun sudah tidak lagi terasa asing. Semuanya berjalan seperti seharusnya. Gw sekolah, tetah yang tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA setelah pindah ke menyansari akhirnya tak punya pilihan selain membantu mengurusi urusan rumah. Bapak dan emak sibuk mengurusi warung dimana pembeli datang dan pergi. menurut gw, ini adalah potret sebuah keluarga yang bahagia.

Namun seperti yang ada dalam film-film horror yang sudah berseliweran di layar tv, lambat laun, kebahagian yang ada mulai terkikis, berubah menjadi sebuah kengerian. Terlebih lagi sejak bapak membuka bengkel di Dieng dan kepulangannya ke rumah tak punya waktu yang pasti, karena entah kenapa, ada sesuatu hal yang membuat bapak tidak pernah betah untuk berdiam lama di menyansari. Maka, di rumah ini, kini hanya ada gw, teteh dan emak.

*wait a minute, ngudud dulu cuk.*


Sebulan lagi berlalu, tanpa pernah sedikitpun kejadian-kejadian seperti malam itu terulang. Warung yang emak jalankan semakin ramai, pun bengkel bapak yang berada di Dieng semakin maju. namun, teteh mulai menunjukkan tanda-tanda kebosanannya. Gw memaklumi keadaannya itu, yang terkucil dari lingkungan sekitar hanya karena keterbatasaan bahasa dan ketidak kemampuannya beradaptasi. Di menyansari, teteh hanya memiliki beberapa teman yang masih bisa di hitung dengan jari, salah satunya adalah mas Duta yang sekaligus menjadi kekasihnya.

dua bulan kemudian, sebuah kabar tentang duka tergeletak di pangkuan teteh. sebuah duka tentang hubungannya dengan mas Duta yang terpaksa kandas entah karena apa. Sampai pada suatu hari yang teduh, seorang tetangga datang ke rumah, tujuannya adalah menawarkan pekerjaan pada teteh. Tawaran ini jelas tidak teteh sia-siakan.

Setelah berlangsung musyawarah yang cukup sengit dengan bapak dan emak, setelah teteh mengantongi ijin dan berbagai wejangan-wejangan dari bapak, maka pada suatu sore yang agak mendung, berangkatlah teteh ke Jogjakarta. Baginya, ini adalah cara terbaik untuk membasuh segala bosan yang telah melekat, sekaligus, menyapu bersih remah-remah rasanya pada mas Duta, walau pasti semua itu tak akan mudah.

Kepergian teteh ke Jogja, ternyata membawa dampak yang mengerikan pada rumah ini. Karena di rumah, Cuma teteh dan bapak yang sering menghabiskan waktu di ruang sholat lantai bawah untuk tadarusan. Hari demi hari setelah kepergian teteh, aroma lembab itu kembali lagi. udara di tiap-tiap ruangan terasa makin mencekam. Lebih-lebih di lantai bawah yang kini tak lagi sudi gw datangi selepas ashar. Emak dan keluarganya berulang kali mengatakan bahwa semua itu hanya perasaan gw, namun, perasaan gw tak meleset. Ketakutan gw akhirnya terbukti. Begitu nyata.

*fiiuuhh, ngopi dulu kisanak.*


Detik masih hinggap pada tangkai dua jarum jam yang menunjuk angka tiga, ketika dari arah warung suara emak menyusur jarak mencapai gw yang duduk bersila di depan tv di ruang tengah.

“dek, emak mau ke candiroto dulu! Mau itung-itungan cengkeh yang kemaren. Kamu di rumah jangan kemana-mana, emak pulang habis isya!”

Tak lama terdengar rolling dorr warung di tutup. Sehabis ashar emak berangkat. Meninggalkan gw yang duduk menggigil tak bergerak. Segera setelah langkah-kaki emak tak terdengar lagi, gw bangkit berdiri, membuka setiap jendela yang ada di lantai atas. Volume tv gw naikkan sampai suaranya menggaung kemana-mana. Dengan perlahan gw melangkah memasuki warung, mengambil sebatang rokok dan gw hisap hembuskan di ruang tamu. Sampai ashar berganti maghrib. Sampai gw mulai membayangankan wujud-wujud mengerikan yang bisa muncul kapan saja. dan tiba-tiba, dari arah dapur, suara-suara naik merayapi tangga.

“trrerrekh …trerrekkh ….”

Gw kecilkan volume tv lalu gw tempelkan daun telinga ke lantai atas dari kayu agar mendengar lebih jelas bahwa suara itu memang ada dan bukan berasal dari kepala gw sendiri.

“trrerrekh …trerrekkh ….”

Gw menelan ludah, seketika jantung gw seperti kehilangan degupnya saat yakin bahwa suara itu memang benar-benar ada, bukan hanya halusinasi gw semata.

“trrerrekh …trerrekkh ….”

Antara ketakutan dan penasaran, setelah mengatur irama nafas agar tak saling berkejaran, akhirnya gw berjinjit menuju tangga. Di anak tangga paling atas, gw berjongkok mengintip dapur. Namun nihil, tidak gw dapati apa-apa. Sampai tiba-tiba jantung gw nyaris saja lepas dari tempatnya saat lantai kayu di atas mengeluarkan suara gaduh seperti sedang ada sepasang kaki yang berlarian. Seketika gw berlari ke warung, mengabil sebatang lagi rokok dan segera gw nyalakan. Gordyn yang menutupi jendela depan gw buka lebar-lebar. Di luar sepi dan mulai gelap.

Setelah beberapa menit berdiri di depan jendela, gw kembali lagi ke ruang tengah sambil berulang-ulang menelan ludah. Berharap bahwa tidak akan ada wujud-wujud mengerikan yang tiba-tiba datang.

Adzan isya sebentar lagi akan berkumandang, ini membuat keberanian gw yang padam perlahan-lahan mulai menyala karena tak lama lagi emak akan pulang. Namun kenyataannya, lagi-lagi jantung gw kembali kehilangan degupnya saat dari arah dapur terdengar lagi suara.

“krrreekkk …. Cuuurrrr…”

Keran wastafel terbuka, air mengalir. Dan belum cukup sampai di situ, terdengar samar-samar suara serak seorang perempuan. Suara paling serak yang pernah gw dengarkan. Suara itu kemudian di seret mengikuti sebuah irama. irama yang cukup untuk membuat bulu-bulu halus di tengkuk gw meremang, menantang udara dingin yang berhembus masuk dari jendela-jendela yang gw biarkan terbuka. Irama itu adalah sebuah tembang dengan bahasa jawa yang beberapa bagiannya belum pernah gw denger sebelumnya. tembang mocopat. durma rangsang - pelog barang.


Quote:



Quote:
”Di punsami
Ambanting sa riranira
Cegah dhahar lan
Guling.

Darapon su…daa
Napsu kang ngambra-ambra
Lerema ing
Tyasireki
Dadi sa…barang.

Karyanira les…tari
Bener luput
Ala becik lawan begjo
Cilaka mapan … saking
Ing badan priyangga
Dudu saking wong…liya
Mulane den, ngati-ati.

Sakeh gur …gama
Singgahana den eling.”


detik berikutnya, setelah bersembunyi di balik selimut teteh, gw langsung berlari tanpa menoleh, tujuan gw cuma satu, rumah si mbah. gw berlari meninggalkan nyanyian di dapur tanpa mengunci pintu rumah. di sepanjang jalan, suara serak itu seakan mengikuti dan terus terngiang-ngiang.
0
Lapor Hansip
16-09-2017 06:13
masih sepi nih akang rahmat pejwan nya.... emoticon-Bingung

Oh mungkin karena adegan mbak frida di rumah itu belum keluar emoticon-Peluk

Eh...nanyain mbak frida gak masuk larangan kan? Di rules gak ada tuh nama mbak frida emoticon-Ngakak
0
Lapor Hansip
16-09-2017 06:19
Welcome back bro emoticon-Angkat Beer
0
Lapor Hansip
16-09-2017 10:19
dari liriknya bagus bray ..
Tapi sebagus2nya kalo yang nembang gak nampak sih ngeri banget emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
16-09-2017 12:08
Dikampung denger lirik2 tembang jawa biasa aj.

Neng jakarta kok dadi sesuatu yg ngeri emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
16-09-2017 12:10
mejeng emoticon-Cool
0
Lapor Hansip
16-09-2017 18:44
nyimak udah sampe abis.. update jangan lama2 gan
0
Lapor Hansip
16-09-2017 20:14
jangan lu gambar lagi peta rumah lu mat, sialan baru inget gw... jelek bgt tulisan lu cuk haaaha emoticon-Nohope
Diubah oleh jack.107
0
Lapor Hansip
16-09-2017 20:23
Bikin tenda dulu ya, sekalian pejwan di trid horror
Diubah oleh zafid.m
0
Lapor Hansip
16-09-2017 20:25
welcome back um...
ikut mejeng di trit barunya :nyantai
0
Lapor Hansip
16-09-2017 20:34
Gk ada peta rumah lagi gitu? Akwowkwo emoticon-Ngakak (S)
0
Lapor Hansip
16-09-2017 20:35
ini rahmat kan???????
aq belum bisa move on dari ceritamu yg lama bang, mana baru dikit lagi bacanya.
gara2 baca kisahmu, aq jadi tergila2 sama guns n roses,,,,
btw ntar klo apdet jangan lama2 ye bang...
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
luman--awaken
Stories from the Heart
i-think-love-is-bullshit
Stories from the Heart
7-tahun-penuh-cinta-atau-luka
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.