Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
226
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57f5118f507410131b8b456d/18-only-trust-my-voice-tamat
Bayu sebenarnya tidak pernah kepikiran kalau hubungannya dengan Hilka akan menjadi serumit ini. Setelah lebih dari empat tahun ia ditinggal oleh Hilka ke Perancis, sekarang ia hadir lagi dan mengatakan ingin Bayu kembali. Emang gue cowok apaan? Kalau butuh aja lu datang. Kemarin waktu gue minta lu tinggal lu dimana?
Lapor Hansip
05-10-2016 21:43

(18+ Only) Trust My Voice

Past Hot Thread
Quote:

Ane khusus bikin id cuma buat nulis cerita ane di sini emoticon-Big Grin

Ini cerita udah lama ane buat dan ini cerita berdasarkan dari obsesi ane emoticon-Takut (S)

So, ane beneran pernah ketemu cowok di dalam cerita ini. Meski siapa dia, namanya siapa ane juga ga tau. Ada sedikit lah kebenaran dari si cowok yang ane gambarin di sini emoticon-Big Grin

Selebihnya, Only God Knows emoticon-Kiss (S)

Daripada engga ada yang naca dan ga mau diterbitin sama penerbit , ane lepas di SFTH aja ah.

Ceritanya hanya untuk hiburan dan fiksi belaka....

Enjoy GanSis.


Quote:
Buat para Sis (dan para Gan juga boleh)....menurut kalian......

lebih menarik Satya, Haikal, atau Bayu?

emoticon-Big Grin

komen yah......


Quote:SEPULUH RIBU VIEWERS!!! emoticon-Selamat


Quote:PARTS

PART 1

PART 2/1
PART 2/2
PART 2/3

PART 3

PART 4

PART 5

PART 6

PART 7

PART 8

PART 9

PART 10

PART 11

PART 12

PART 13

PART 14

PART 15

PART 16

PART 17

PART 18

PART 19

PART 20

PART 21

PART 22

PART 23

PART 24

PART 25

PART 26

PART 27

PART 28

PART 29

PART 30

PART 31

PART 32

PART 33

PART 34

PART 35

PART 36

PART 37

HILKA'S LETTER

EPILOGUE-SIX YEARS LATER



Quote:
Prolog

Bayu sebenarnya tidak pernah kepikiran kalau hubungannya dengan Hilka akan menjadi serumit ini. Setelah lebih dari empat tahun ia ditinggal oleh Hilka ke Perancis, sekarang ia hadir lagi dan mengatakan ingin Bayu kembali.

Emang gue cowok apaan? Kalau butuh aja lu datang. Kemarin waktu gue minta lu tinggal lu dimana?

Tapi Bayu menahan lidahnya dan menelan makian itu, mengingat Hilka dalam keadaan sedih dan putus asa, bisa-bisa ia makin depresi kalau mendengar Bayu menghina.


Diubah oleh paycho.author
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adindaper25 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 12
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
05-10-2016 21:51
Quote:

PART 1

Pertama kali Bayu ketemu Hilka memang karena kebetulan saja, biar disebut kebetulan juga anehnya Hilka dan Bayu tidak akan bisa lupa saat itu. Kebetulan saja Bayu masuk ke bus yang sama dengan Hilka. Memang waktu pertama kali ketemu, ia masih hidup di jalan dan mencari uang dengan menjadi pengamen di bus.

Tidak ada yang menarik dari Hilka waktu mereka ketemu pertama kali dan di waktu-waktu lainnya setelah itu. Hilka selalu kelihatan lelah dan kurang semangat. Mukanya kusut, kalau ada awan di atas kepalanya pasti cuacanya mendung terus, sesekali ada petir kecil menyambar. Yang menarik perhatian cuma bawaannya, kadang-kadang Bayu melihat Hilka menenteng sebuah case berwarna hitam yang sepertinya dijaga betul oleh Hilka. Terlalu kecil buat gitar, kemungkinan buat biola. Setiap bertemu lagi dengan Hilka, semakin lama duduknya semakin mundur, sampai jajaran belakang malah kadang-kadang, padahal di depan kosong. Jarang ada cewek yang mau duduk di bagian belakang bus, apalagi kalau bagian belakangnya agak gelap dan sepi.

Tapi wajar juga kalau Bayu ingat pada Hilka meski waktu itu mereka belum saling kenal. Selain karena Hilka yang sering kelihatan cemberut, Bayu punya firasat kalau Hilka bukan cewek biasa.
Wuih cewek tajir. Ngapain cewek tajir naik bus?

Violin case yang dibawa Hilka yang paling pertama membuat Bayu merasa kalau ia cewek tajir. Case itu terbuat dari serat karbon warna hitam dan di bagian atasnya diukir nama.

Hilka S. K.


Yup, beginilah cara Bayu tahu siapa nama makhluk mendung di dalam bus itu.

Bayu tahu tas yang dibawa Hilka merknya terkenal dan terbuat dari kulit asli, harganya mahal. KWnya sih banyak, teman-teman perempuan Bayu juga pada punya. Tapi lihat yang asli baru kali ini.
Dan tidak biasanya ada orang memberi uang besar ke pengamen, beberapa kali memang ada orang yang memberi di atas kebiasaan, tapi kalau setiap kali ketemu Bayu dikasih uang segitu, lama-lama jadi sungkan juga. Beberapa kali ia menolak, tapi Hilka tidak pernah acuh dan hanya menggelengkan kepala.

Dan satu hal yang paling diingat Bayu adalah mata Hilka. Setiap mereka ketemu, Hilka selalu menatapnya dengan pandangan penuh ketertarikan, matanya bulat besar, jadi jelas sekali kalau Hilka sedang menatap sesuatu. Awal-awal sih biasa saja, lama-lama jadi creepy, ngeri kalau ternyata Hilka mata-mata atau psycho, makanya melihat terus ke arah Bayu. Kadang-kadang memang lagu yang dinyanyikan Bayu terlalu frontal dan politis. Mungkin ada orang yang tidak suka sama lagu-lagunya.

"Siapa, yah tuh cewek?"

"Cewek yang mana, Bay?"

"Pernah ngeliat enggak? Biasanya di bus ke Bogor. Orangnya pendek, agak gemuk, putih orangnya. Suka bawa-bawa biola tempatnya warna item."

"Mana gue hapal siapa-siapa aja penumpang bus...."

Iya juga, sih. Biasanya pengamen tidak pernah memperhatikan penumpangnya, lagipula kalau ngamen di bus malam-malam kan gelap. Mungkin memang Hilka agak spesial.....dan creepy sampai Bayu ingat terus.

Malam ini yang agak lain, sudah hampir tiga minggu tidak melihat Hilka di bus, gayanya agak lain. Bukan karena dia tidak bawa biolanya, tapi karena malam ini Hilka sibuk mencorat-coret sebuah buku dengan pensil. Tidak jelas juga lagi ngapain, yang pasti matanya tidak melihat Bayu lagi, cuma sesekali saja dan ketika Bayu keliling sambil menyodorkan kantong kulitnya. Kali-kali bisa diintip tadi Hilka ngapain.

Ternyata tidak.

Hilka memeluk buku yang ia corat-coret dengan erat sementara satu tangan yang lain menaruh uang di kantung kulit yang disodorkan.

"Makasih, Mbak." Hilka mengangguk sambil matanya terus menatap.
Bay, jangan malah lu yang ngeliatin dia terus, nanti malah lu yang dikira obsesi sama dia. Anak orang kaya, salah-salah lu yang dituntut.

Namanya penasaran tetap penasaran. Setelah duduk di kursi belakang sambil memegang gitarnya, sesekali Bayu melirik, cuma untuk memastikan saja.

Nah, kan .....

Benar saja, Bayu mendapati Hilka yang sesekali menoleh ke belakang, ke arahnya.

Kok ada, yah, cewek seram macam gini? Maunya apa, sih?

Macem-macem pala lu gue getok.

Dan hampir saja Bayu benar-benar memukul Hilka ketika ia berjalan ke belakang.....
Diubah oleh paycho.author
1 0
1
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 05:38
Bangun Tenda dulu
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 12:01
Dopost
Diubah oleh mooniequeenie
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 12:02
Rwserve tempat
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 12:36
Quote:PART 2

"Ka.....oy, Hilka....."

Menurut teman-teman seangkatannya, Hilka memang agak-agak aneh. Lebih banyak menyendiri tapi tangannya jalan terus, menggambar di atas buku sketsanya. Anti-mainstream juga lagi orangnya, heboh di saat orang diam dan diam di saat orang heboh.

Mahasiswi DKV semester V di sebuah universitas swasta di Jakarta, Hilka memang dikaruniai bakat seni terutama menggambar, karena itu Hilka berani menentang keinginan orangtuanya agar Hilka belajar bisnis. Mimpi Hilka justru ingin jadi artis jalanan, seperti yang sering dia lihat di depan Kebun Raya Bogor.

"Yaudah, sarjanamu boleh seni. Tapi mastermu bisnis. Selesai kuliah, kamu berangkat ke Perancis. Biar Si Aa yang urus sekolahmu di sana. Susah sih, sarjana seni pengen lanjut ke ekonomi. Enggak ada Si Aa enggak masuk kamu."

"Yang pengen masuk ekonomi, kan Abah. Bukan Hilka. Maunya Hilka mah tinggal di sini jadi pelukis."

"Sok sakarepna wae. Mau jadi gembel kamu? Makan apa kamu nanti kalo jadi pelukis? Berapa banyak coba pelukis yang bisa sukses di Indonesia. Kamu belajar yang bener..... nanti perusahaan Abah kamu yang pegang kalau Abah sudah tidak kuat lagi."

Kalau dengan abahnya Hilka masih mau heueh buweuk alias mengangguk-angguk saja tanpa arti. Kalau dengan ibunya, itu yang Hilka susah sabar. Ada masalah sedikit langsung berantemnya ganas, kadang pukul-pukulan dan Hilka tidak keluar kamar selama beberapa hari sampai ibunya minta maaf.

Keluarga Hilka adalah cerminan keluarga Sunda yang, konon, ideal. Setidaknya cukup ideal untuk menjadi kover majalah keluarga terkenal dan dijadikan panutan bagi keluarga Indonesia lain, istri sukses sendiri, suami sukses sendiri, anak-anak sukses sendiri, tapi tetap bisa akur. Kalau melihat foto di majalah itu Hilka selalu ingin ketawa, sempurna sekali fotonya sampai aslinya tidaknya nampak.
Hilka Saraswati Kartawijaya, anak kedua dari tiga bersaudara, kakak dan adiknya laki-laki.

Yang pertama, Satya Sabrata Kartawijaya, sekarang tinggal di Swiss dan bekerja di bank. Kelihatannya saja baik, aslinya predator, mantan pacarnya mungkin sudah ada dari berbagai latar belakang. Kalau adiknya Ganesh Bima Kartawijaya sekarang sudah tidak terlacak adanya dimana, terakhir dia ada di Amsterdam, ikut kelompok punk anarkis, setelah itu hilang tiada kabar.

Cuma Hilka yang kelihatannya baik.

Kelihatannya, loh, yah.

Karena perempuan, ekspektasi keluarganya adalah Hilka menjadi anak baik, nurut, anggun, dan sopan. Selama ini Hilka manut saja, alasannya lebih karena dia malas berdebat dengan orangtuanya, cuma sekali dia melawan orangtua, waktu dia minta untuk kuliah seni rupa. Akhirnya, sih Hilka memang diizinkan untuk kuliah seni, seni terapan tapi di DKV karena dianggap bisa lebih berguna daripada seni murni.

Di kelasnya juga Hilka termasuk yang minim konflik, duduk di depan mendengarkan dosen, mencatat materi, langsung balik ke rumah. Kegiatan UKMnya cuma satu, chamber orchestra kampus, Hilka main biola di sana.

Tipenya kupu-kupu alias kuliah pulang, kumpul-kumpul atau hangout jarang, teman dekat saja dia enggak punya. Hilka tinggal berpindah-pindah, kadang antar kota, antar provinsi, sampai antar negara. Supaya menghindari sentimen, dia meyakinkan diri supaya tidak perlu punya teman yang terlalu dekat. Buat orang yang suka berpindah, susah pasti buat berteman, baru berteman sebentar harus pindah lagi.

Apalagi punya pacar.....

Kabar anginnya Hilka tidak pernah punya pacar. Kabar anginnya lagi, dia memang tidak suka cowok. Kabar anginnya lagi.....

Sampai sini Hilka tidak menyangka ada orang yang tega mengompori berita bohong separah ini. Untung gosipnya tidak sampai ke telinga ibunya yang menurut Hilka 'Ratu Lebay'.

Walau sebal, tapi Hilka berusaha supaya kabar ini tidak sampai ke Ratu Lebay, minimal supaya ibunya tidak jantungan lagi untuk yang kedua kalinya setelah kejadian dengan Ganesh yang menghilang di Amsterdam dan sekarang sudah jadi anak punk.

lanjut bawah gansis......
Diubah oleh paycho.author
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 12:45
Quote:Satu lagi yang sering dibicarakan orang tentang Hilka adalah kebiasaannya naik kendaraan umum. Tidak salah kan sebenarnya? Bagus malah. Tapi buat teman- teman Hilka kebiasaan ini malah jadi bahan bergunjing.

"Emangnya kalau anak orang kaya enggak boleh naik umum?" jawabnya ketus kalau teman-temannya sudah mulai nanya-nanya kenapa Hilka enggak bawa mobil sendiri saja.
Lagi kalau Hilka bawa mobil sendiri, mungkin dia tidak bakal pernah kenal dengan Bayu.
Sama seperti Bayu, Hilka juga acuh ketika mereka ketemu pertama kali. Sebelum sampai ke Bogor, bus yang biasa ditumpangi Hilka biasanya masuk ke checker bus di Cibubur, biasanya di sini ada pengamen yang masuk. Biasanya Hilka memang enggak ambil peduli kalau ada pengamen, kalau ada uang kecil baru dikasih, kalau enggak yah tinggal menggelengkan kepala. Selain itu tergantung nyanyinya enak atau enggak. Kalau Cuma buat bikin ribu di dalam bus mah buat apa dikasih?

Baru malam itu ada pengamen yang bisa bikin Hilka mencopot headset nya dan memperhatikan dengan tekun. Gayanya beda, agak 'heri', alias heboh sendiri, lagi ngamen saja macam lagi pidato, pakai pembuka, isi, baru penutup. Tapi suaranya bagus, agak serak dan ada suara nafasnya yang terdengar setiap bernyanyi.

And kinda sexy......pikir Hilka.

Main gitarnya juga bagus, bukan asal genjreng, lebih mirip akustik daripada main kord. Dan lagu-lagunya bukan lagu mainstream, setidaknya belum pernah ada di radio atau masuk list top 40, mungkin juga lagu sendiri karena one in a million ada lagu Indonesia yang enggak membawakan tema cinta.

He's good looking too.....

Cakep sih memang relatif, yah. Tapi menurut Hilka dia cukup ganteng. Bukan ganteng standar Orang Indonesia yang masih berputar di Aliando dan Al Ghazali atau artis sinetron lainnya. Eksotik lah minimal, kalo itu jelas banget, tampangnya agak Timur Tengah, hidungnya mancung, tapi kulitnya gelap. Ia memakai kacamata thick frame warna hitam, entah asli entah cuma buat gaya.

Yang Hilka tidak pernah kira, beberapa kali ketemu, Hilka selalu merasa seperti disambar geledek. Baru sekarang kalau ketemu cowok pipinya terasa panas dan ia mengalami hyperventilating, tangannya sakit dan agak kaku. Namanya Hilka masih polos dan jarang gaul, dia malah mengira jantungnya mulai bermasalah seperti ibunya.

"Si Hilka kenapa, sih?"

"Kenapa gimana? Aneh dari dulu dia mah."

"Agak beda anehnya sekarang."

Hilka memang tidak punya teman dekat di kelas, tapi kalau cuma teman ngobrol-ngobrol saja pasti ada. Dan yang tiga orang ini yang biasanya diajak ngobrol Hilka, Stevie, Nico, dan Dian.

"Lu kenapa, Ka?" Tanya Stevie.

"Hah?"

"Belakangan lu aneh aja, kayanya lebih....lemes."

"Lu sakit?" Nico menyentuh dahi Hilka, ingin mengukur suhu tubuhnya. Hilka mundur sedikit sambil menggelengkan kepala.

"Enggak juga. Cuma kadang-kadang kenapa yah muka gue suka panas. Kadang-kadang jantung gue berdebar gitu. Tapi kemarin gue periksa ke dokter enggak apa-apa."

"Pasti symptomsnya keluar setelah lu ketemu cowok, yah?" Teman-teman Hilka cuma bisa ketawa kecil.

Buset, polos amat ini anak sampai yang beginian aja dikira sakit jantung.

"Itu namanya jatuh cinta, Ka. Lu masa beginian aja enggak ngerti?"

"Masa ada orang jatuh cinta cuma gara-gara ketemu sekali, doang? Enggaklah, cinta itu kompleks."
"Ah, sotoy lu kaya yang pernah jatuh cinta aja. Minimal lu naksir lah."

Bedanya naksir sama jatuh cinta itu apa lagi?

Tapi Hilka malas nanya, malas juga dia membahas masalah seperti ini, takutnya malah nyebar lagi kalau Hilka bicara terlalu banyak.

Apa Hilka jatuh cinta atau sekedar naksir Hilka tidak tahu, dan dia tidak peduli, lama-lama dia menikmati saja rasanya. Kalau tidak ketemu rasanya ada yang kurang, tapi kalau ketemu dadanya sakit dan mulutnya kering.

Salah satu kelebihan Hilka adalah ia punya photographic memory yang jarang ada, Hilka bisa ingat apa yang dia lihat dalam waktu sangat lama dan bisa ia gambarkan di buku sketsanya.
Diubah oleh paycho.author
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 12:48
Quote:"Itu cowok yang lu taksir, Ka?"

Terlambat buat Hilka, dia tidak bisa menyembunyikan gambarnya. Terpaksa dia pura-pura santai aja ketika teman-temannya melihat-lihat gambar Hilka.

"Ganteng Ka orangnya. Arab, yah?"

"India kayaknya....."

"Enggak tau gue juga." Hilka menjawab tanpa ekspresi.

"Lah, kok enggak tau. Enggak nanya?"

"Boro-boro nanya yang itu. Namanya aja gue enggak tahu."

"Lah, emang lu nemu dimana? Kok bisa enggak tahu gitu?"

"Di bus."

"Sama-sama penumpang gitu?"

Hilka sudah malas meladeni pertanyaan teman-temannya. Ia hanya menggeleng dan berharap teman-temannya segera cabut. Eh tapi malah makin gencar nanya. Masalahnya mau Hilka ladenin juga gimana, dia tidak tahu apa-apa tentang cowok itu. Tekad Hilka cuma satu, kalau ketemu lagi dia bakal bertanya, minimal bisa kenalan. That's it, she needs nothing else. Tapi masalahnya juga buat Hilka hal itu sulit, jangankan kenalan sama orang asing yang dia taksir, kenalan sama teman sekelas saja Hilka kesulitan.

Que sera sera.

Setelah tiga minggu tidak ketemu, akhirnya ketemu lagi, malam, ketika Hilka pulang ke Bogor. Hilka biasanya duduk di belakang, tapi sekarang dia memilih untuk duduk di tengah supaya bisa mempersiapkan mental. Okay, dia sudah niat banget, harus kenalan dengan cowok ini, minimal bisa tahu namanya. Sisanya terserah dia mau ngomong apa sama Hilka.

"Hi...."

"Ya?"

Hilka tidak tahu mau ngomong apa lagi. Gimana sih cara kenalan yang baik dan benar sama orang asing? Hilka berdiri, kaku, sepertinya tidak bisa menggerakkan badan lagi.

"Mmm.....mau duduk sini?" Hilka mengangguk dan duduk di sebelah Bayu.

"J'aime ta voix."

"Sorry?"

Wah gawat. Kalau Hilka susah ngomong, dia suka kepleset lidah. Hilka bisa empat bahasa, Inggris, Indonesia, Perancis, dan Sunda, biasanya bahasa-bahasa ini kecampur-campur kalau Hilka sedang grogi. Dan bagi Hilka, lebih mudah berbicara dalam Bahasa Inggris atau Perancis, mungkin karena dia berharap orang tidak akan paham apa yang dia katakan.

"I like your voice....."

"Thanks a lot."

"Um.....Vous vous appelez com.....your na......argghhh.....boleh tahu namanya?"

Di luar perkiraan Bayu tertawa melihat Hilka yang sepertinya susah sekali cuma mau mengajak kenalan. Ia menyodorkan tangannya, mengajak Hilka salaman. "Gue Bayu.... lu?"

"Hilka....."

"Okay, lu pulang-pergi Jakarta-Bogor karena kuliah atau kerja?"

"Gue kuliah."

"Oh, anak seni, yah?" Lucky guess. Tapi toh memang Hilka sering terlihat membawa kertas dan portofolio.

"Iya.....DKV sebenernya."

"Oh, okay."

"Lagunya....bikinan lu sendiri, bukan?"

"Enggak semua. Kita ada satu komunitas, seniman jalanan. Biasanya ada yang suka nulis-nulis lagu juga di sana." Hilka mengangguk dan diam, bingung mau ngomong apalagi, "kenapa? Lagunya jelek, yah?"

"Enggak, kok. Gue suka malah. A break from love songs is always nice."

Ngomong apalagi, yah gue?

"Eh gue turun di sini, yah. Ngobrolnya lanjut pas ketemu lagi aja nanti."

"Oh okay. Umm..... bye."

"Sip.....duluan, yah."
Diubah oleh paycho.author
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 14:27
Gelar tiker, moga ga ngantuk bacanya emoticon-Smilie

Bau2 PE ts emoticon-Thinking
Diubah oleh aghilfath
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 14:32
Jejak dlu emoticon-Paw lg di luar , ntr klo dah pulang di baca emoticon-Big Grin
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 14:44
Quote:Original Posted By aghilfath
Gelar tiker, moga ga ngantuk bacanya emoticon-Smilie


Quote:Original Posted By uzuaan
Jejak dlu emoticon-Paw lg di luar , ntr klo dah pulang di baca emoticon-Big Grin







Ish..ish..ish kalian ini.....



Idem emoticon-Big Grin

emoticon-linux2
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 15:06
Quote:Original Posted By aghilfath
Gelar tiker, moga ga ngantuk bacanya emoticon-Smilie


Nyumbang kopi om..... emoticon-Big Grin
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 15:09
ndeprok dl sambil pelan2 baca..

 (18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
06-10-2016 23:18
Quote:Tidak ada yang menarik dari Hilka waktu mereka ketemu pertama kali dan di waktu-waktu lainnya setelah itu.


pernah punya pengalaman kayak gini ..




Sambil nunggu kelanjutannya ....
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
07-10-2016 11:12
Quote:
PART 3

"HILKA!!!" Inginnya Hilka loncat dari jendela kalau sudah dengar Si Ratu Lebay memanggil-manggil.

Pagi-pagi udah bikin ribut! Terpaksa Hilka bangun dari tempat tidurnya dan turun ke lantai bawah. Biasanya jam segini ibunya sudah ada di ruang makan sementara abahnya sedang ada urusan.

"Cepat sarapan, jam segini kok masih tidur. Perempuan apa yang kayak gitu?" Hilka menolak, dia cuma mengambil gelas tehnya dan pergi ke halaman belakang, duduk di ayunan.

Hari ini kuliahnya libur, tapi tugasnya yang tidak libur. Mau dikerjakan juga malas, kayanya sudah tidak mood saja mengerjakan tugas-tugas kuliah. Segini dia kuliah di bidang yang dia mau, gimana kalau abahnya berhasil bikin Hilka kuliah ekonomi? Gantung diri bisa-bisa.

Bayu..... Akhirnya Hilka tahu juga namanya.

Sudah begini dia malah jadi tidak puas, ingin tahu lebih banyak lagi kalau bisa. Apa yah pendapat Bayu tentang Hilka?

Urgh, I came on to strong. He must be thinking I'm a freak.....

Menyesal juga sebenarnya Hilka kalau sudah begini, seharusnya dia tanya dulu pendapat teman-temannya, sebaiknya apa yang harus dia lakukan. Mungkin itu, yah gunanya teman. Jangankan sekadar kasih saran, bantu nembak saja ada kok yang mau. Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya Hilka benar-benar suka sama seseorang, sebelumnya tidak pernah sekalipun. Kenapa, yah? Tidak tahu juga. Entah karena selama ini tidak ada cowok yang masuk hitungan menarik di mata Hilka atau memang Hilkanya saja yang aneh. Atau memang karena Hilka was made for that one guy only? Nope.....that can't be it....

Wajahnya langsung merah, memang benar yah ada yang namanya destiny? Kok bisa Hilka langsung naksir gitu sama orang yang entah siapa? Dari zaman SD-SMA Hilka berpindah- pindah dan tidak ada satupun yang bisa bikin Hilka luluh. Dari SD yang naksir Hilka banyak, habisnya dari kecil memang dia terkenal sudah manis wajahnya, pipinya tembem, putih, matanya besar, rambutnya keriting-keriting persis mie goreng. Mulai SD kelas 3, Hilka sudah tinggal di London. Zaman SMP, di saat yang lain mulai belajar pacaran, Hilka malah sibuk sembunyi di kelas sambil latihan biola atau menggambar. Mulai kelas 1 SMP Hilka pindah ke Perancis, otomatis demografi cowok yang naksir Hilka pun berubah, dari mulai bule sampai keturunan Afrika Utara. Kurang bervariasi apa coba, tapi tetap Hilka said no, sampai pernah abahnya bawa-bawa senjata untuk mengusir kakak kelas Hilka

yang teriak-teriak 'Hilka, je t'aime. Je ne veux pas vivre sans toi' di depan rumahnya sambil bawa-bawa buket mawar dan cokelat. Hilka sih kalem saja melihat abahnya, toh Hilka juga tidak suka. Mulai SMA sampai kelas 2 Hilka pindah ke Singapura, kelas tiga baru mulai sekolah di Bogor tapi mundur lagi ke kelas dua untuk membiasakan diri dengan kurikulum Indonesia yang luar biasa ribetnya. Baru sekarang kuliah di Jakarta.

Tapi kalau mau dicari penyebabnya, Hilka rasa itu juga karena orangtuanya yang selalu mengajarkan Hilka untuk selektif, sama teman apalagi sama pacar. Namanya juga orangtua zaman dulu, inginnya mereka Hilka punya pacar yang idaman calon mertua, kalau masih kecil dilihat orangtuanya, agak dewasa dilihat potensinya di masa depan. Beberapa kali Hilka dikenalkan dengan anak rekan orangtuanya, tidak ada yang menarik. Jatuhnya memang Hilka suka curiga sama orang, dia punya trust issue yang parah pada siapapun. Susah buat Hilka percaya kalau masih ada orang yang tulus, maklum, turunan dari abahnya yang pengusaha dan mamahnya yang politikus. Semua anak-anak mereka diajarkan supaya jangan gampang percaya sama orang, maksudnya sih supaya hati-hati.
"Hilka!!!"

"Astaga ini mak lampir...." Hilka membuang sisa tehnya ke kolam dan masuk ke dalam.

"Ka, mama hari ini ada rapat sampai malam. Kamu makan sendiri, yah. Ada uang buat makan?"

"Ada, Ma."

"Jaga rumah, yah...." Setelah memberikan ciuman pipi kilat. Hilka menghapus bekas lipstik yang nempel di pipinya. Sudah biasa Hilka sendiri di rumah, malah aneh kalau rumahnya ramai. Biasanya kalau sepi begini Hilka latihan main biola atau menggambar, dan harusnya sih Hilka menyelesaikan tugas buat besok. Tapi hari ini Hilka punya agenda lain. Setelah mandi, jarang-jarang Hilka mau dandan. Sedikit bersolek lah, sekali-kali, namanya juga perempuan, apalagi Hilka seperti perempuan baru beger, baru kenal yang namanya cowok dan baru tahu kalo naksir orang tuh bagaimana rasanya.

"Pak, antar ke Cibubur Square, yah." Kata Hilka pada supirnya. Hilka memang tidak diizinkan bawa mobil sendiri entah apa alasannya. Kenapa yah nyokapnya paranoid banget Hilka bakal kabur, sampai-sampai bawa mobil sendiri saja enggak boleh. Tidak lupa bersama dengannya, Hilka membawa biolanya.

"Pak, pulang duluan saja, yah. Nanti saya pulang naik bus saja."

"Wah, jangan, Neng. Nanti saya dimarahi ibu kalau ninggalin Neng di sini."

"Kan Ibu lagi rapat."

"Iya, Neng. Tapi suka dibilangin sama Si Bibi kalau saya pulang sendiri."

"Hm....yaudah tungguin saya di Baranangsiang aja gimana, Pak? Atau, Bapak ikut nunggu sama saya di sini, tapi saya pulang pakai bus. Bapak ikutin aja busnya dari belakang." Supir Hilka kelihatannya bingung mencerna instruksi dari Hilka. Kenapa enggak sekalian aja pulang sih? Harus banget pulang naik bus? Tapi akhirnya si Bapak mengikuti keinginan Hilka. Ia menunggu sementara Hilka masuk ke kedai kopi. Sambil duduk,

Hilka mengamati tempat duduk yang ada di dekat checker bus yang kebetulan tempatnya di depan kedai kopi yang dikunjungi Hilka. Biasanya orang yang menunggu bus naik di sini, termasuk pengamen yang baru masuk dari Cibubur. Agak lama Hilka menunggu, yang dicari tidak datang juga. Kalau sudah terlalu sore baiknya Hilka pulang saja ke rumah. Agak sedih juga, perjuangan Hilka jadi sia-sia. Mau pulang pun Hilka merasa berat karena ia sudah sampai di sini dan pulang tanpa membawa hasil itu tidak nikmat rasanya, mungkin sebaiknya Hilka menunggu sebentar lagi. Setengah jam paling lama.

Emang kalau ketemu, what are you gonna do, Hilka? He's gonna see you as a freak.... or a psycho..... Sejak dulu, Hilka selalu punya sesuatu yang disebut sebagai inner voice dan kalau kebanyakan orang tidak bisa mendengar dengan jelas inner voice mereka, buat Hilka inner voicenya sangat jelas, seperti teman bicara. Mungkin karena Hilka biasa sendirian dan yang bisa dia ajak bicara hanya inner voicenya itu.

You're looking hopeless....

"Shut up!" Rupanya Hilka bicara terlalu keras, sampai orang di sekitarnya melihat ke arah dia. Hilka malu sedikit, tapi setelah itu dia mulai konsentrasi lagi ke objek semula. There you are! Hilka keluar dari kedai kopi sambil berlari sedikit dan menenteng biolanya, mengejar bus yang sebentar lagi berangkat. Ia membuka pintu belakang bus dan segara naik dan duduk di bangku paling belakang yang kebetulan kosong.

"Hai...." Oke, mungkin Bayu sudah lupa dengan Hilka, karena itu, biar Hilka yakin 100% Bayu melihat dia naik ke bus, Bayu tidak menyapa sama sekali. Akhirnya Hilka menyapa duluan, mending begitu daripada Hilka kehilangan kesempatan emas lagi.

Do you still remember my name?

"Eh....Hil....ka, yah?" "Yup...." kata Hilka sambil tersenyum manis.

"Habis darimana?"

"Rehearsal....." Hilka menunjuk ke arah case biolanya.

"Itu.....biola, yah? Lu main biola?"

"Iyalah. Ngapain bawa-bawa biola kalau enggak main?"

"Lu ada perkumpulan gitu? Atau lagi les?"

"Gue gabung di chamber orchestra kampus. Ini gue lagi ada latihan, dua minggu lagi ada tampil."

"Oh....udah jago banget yah pasti?"

"Enggak juga...."

Niatnya Hilka mau lanjut ngobrol, tapi obrolannya dipotong oleh kenek yang menagih ongkos dan menegur Bayu. "Pacaran aja lu, Bay. Ngamennya kapan? Kalau enggak ngamen bayar ongkos lu...."

Bayu memohon diri dan bangun dari tempat duduknya. Ternyata suara bicara enggak beda jauh dengan suara nyanyinya. Cewek memang paling sensitif kupingnya, karena itu suara Bayu lebih berpengaruh buat Hilka daripada yang lain. Hampir Hilka lupa memberitahu supirnya kalau dia sudah ada di dalam bus.

If only I can listen to your voice everyday.....

"Sorry ditinggal, yah tadi."

"Eh, kok tumben ngebut?"

"Enggak apa-apa.....lagi bentar lagi juga suara gue habis."

Did you do it for me?

"Boleh.....lihat biolanya?" Hilka mengangguk kemudian membuka kunci casenya. Biasanya Hilka tidak mau ada orang lain yang menyentuh biolanya. "Beludru, yah?"

"Iya."

"Kalau biolanya buatan mana?"

"Cecilio, dari California."

"Kalau peralatannya udah secanggih ini pasti yang mainnya juga udah canggih, kan?" Hilka bingung harus jawab apa. Jago? Lumayan, Hilka sudah belajar biola sejak umur 7 tahun. Tapi gaya permainannya kaku, susah kalau dia harus improvisasi, karena itu Hilka sangat bergantung pada sheet dan latihan karena sebagian besar permainnya itu hasil dari ingatannya ketika latihan. Kalau lupa, yah habis sudah. Makanya Hilka lebih cocok dengan aliran klasik yang strict mengikuti panutan dari lembar musiknya. Masih jauh kalau mau jadi Lindsey Stirling.

"Won't say I'm good......"

"Enggak mungkin lah. Orang juga mikir pasti, kalau enggak bisa main enggak bakal beli instrumen mahal. Minimal, sudah bisa tampil di publik....."

"Mmm....coba lu nilai, yah. Kalo jelek jangan tutup kuping. Geser dikit, nanti kena bownya." Hilka menaruh biola di pundaknya, tapi kemudian diturunkan lagi. "Enggak ganggu emang?"

"Gue ngamen aja masih ada yang mau ngasih duit. Santai aja, Non."

Hilka menarik nafas, berbarengan dengan hembusan nafasnya, ia menarik gesekan biolanya. Satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan secara spontan saat ini adalah The Dying Swan dari Camille Saint-Saëns. Lagu pertama yang dibawakan solo oleh Hilka ketika mengiringi sepupunya menari balet. Lagunya tidak terlalu panjang, jadi bus baru bebas dari macet, lagu sudah selesai. Penumpang bus menengok ke belakang, penasaran siapa yang main biola dalam bus, karena pengamen yang tadi kan bawa gitar, bukan biola.

"Keren, Ka."

"Makasih...."

"Eh main lagi, dong. Sedikit aja. Bagian depannya."

"Bentar...." Hilka menunggu sampai busnya berhenti lagi, baru dia bisa main.

Kali ini Hilka tidak main solo, tapi diiringi dentingan gitar. Spontan saja Bayu mengikuti permainan biola Hilka. Yang kepo makin banyak, bahkan sampai ada yang terang-terangan balik badan.

"That was amazing!"

"Iya. Ternyata bisa juga gue main lagu klasik." Kata Bayu ambil tertawa.

"Gue baru tahu ternyata bisa juga The Swan dimainin duet sama gitar. And you were awesome too....lu pernah denger lagunya?"

"Baru tadi....."

"Wow....." Hilka speechlees. Kata gurunya, kalau mau duet, harus ada koneksi antara dua orang yang mau duet, jadi tanpa bicara pun mereka sudah paham, bisa saling menutupi kesalahan, tanpa merasa paling benar. Dan Hilka tidak pernah mengira kalau duetnya dengan orang yang baru kenal bisa dia anggap sempurna. Kalau mentor orkesnya dengar, pasti mereka berdua bakalan dikasih kesempatan duet buat konser mini kampus bulan depan. Dan karena duet yang sempurna itu Hilka langsung gemetaran. Saking gemetararannya ia hampir menjatuhkan biolanya. Untung Bayu sigap dan memegang biola Hilka.

Sebelum benar-benar jatuh, Hilka memasukan biolanya dan mengunci casenya. "Lu beneran musisi, yah Bay? I mean, there are musicians who do musics for money. Tapi ada orang kaya lu, yang memang bermusik emang buat musik."

"Yah, emang pengennya sih dapet uang banyak dari musik. Tapi susah buat jadi pemusik idealis. Dan gue enggak punya duit buat indie-indiean. Ya udah, tempat yang mau nerima gue cuma jalanan. Bebas gue mau nyanyi apa aja di jalan."

"Wow...." Hilka tertawa sedikit, dia ingat betul kalau Bayu selalu bilang, lagu yang dia mainkan mungkin bukan lagu selera sejuta umat, bukan lagu-lagu cinta-cintaan. Kebanyakan berbau politis dan pesan moral.

"Lu kalau mau sekali-kali ikut ketemu teman-teman gue. Mereka sama kayak gue kurang lebih, kita semua musisi. Idealis, anti mainstream. Sekali-kali bikin lagu cinta-cintaan bolehlah. Tapi kebanyakan bikin lagunya.....perjuangan, politik. Macem gitulah."

"I'd love to! Gini deh, kalau kita ketemu lagi, dan lu percaya gue, langsung lu bawa gue ketemu kumpulan lu itu. Gue pengen tahu, musisi idealis itu kayak apa." "Oke gue bakal bawa lu. Gue rasa lu bisa ikut jadi musisi idealis. Lu turun di Baranangsiang?"

"Iya. Kenapa?"

"Nanya aja. Rumah lu dimana?"

"Villa Duta."

"Oh, oke lah...." Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam, Bayu masih duduk di sebelah Hilka yang sepertinya bakal kena penyakit jantung setelah turun dari bus. Daritadi jantungnya deg-degan terus, tangannya juga sakit, untung dia bisa menguasai diri waktu main biola. Sampai di rumah, Hilka langsung membanting dirinya ke kasur. Oke positif, ini namanya jatuh cinta.

"Bay.....I'll make you mine..."
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
07-10-2016 20:45
ngintip dulu ah....
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
08-10-2016 18:31
Quote:

PART 4

"Eh Bayu....makin ganteng aja."

"Eh Satar....makin hombreng aja."

"Jahat lu, Bay."

Malam sebelum pulang, Bayu biasanya kumpul dengan teman-temannya di Lapangan Sempur. Kalau malam memang biasanya Sempur kelihatan kosong, padahal kalau dilihat lebih jeli, dengan bantuan teleskop, lapangan ini tidak sepi-sepi amat, banyak yang nongkrong, dari mulai nongkrong biasa sampai nongkrong luar biasa, sambil mabok misalnya.

Di sini lah orang-orang yang disebut Bayu sebagai para pemusik idealis, yang kumpul tidak banyak, malam ini tidak lebih dari sepuluh orang. Ada juga yang main biola seperti Hilka tadi, ada yang sambil menulis lagu langsung dipraktekan buat merayu cabe-cabean.

"Jadi pengamen emang paling enak kaya si Bayu, suara oke, main gitar jago, ganteng lagi lu. Dapet banyak pasti hari ini?"

"Banyak sedikit mah rejeki Allah. Enggak ngaruh sama gue ganteng atau enggak."
Bayu mengeluarkan sebagian uang hasil ngamennya dan melemparkan ke depan teman-temannya. Bagi-bagi rezeki seperti biasa, terserah mau dibelikan apa oleh mereka. Sisa uangnya dikeluarkan dari kantong kulitnya dan dimasukan ke dompet. Uang yang dilempar Bayu langsung ada yang mengambil dan dibelikan minuman.

"Kobam, deh, kobam ulud....."

"Tumben beberapa hari ini lu jalan sendiri, Bay. Bukannya Bayu harus selalu ada pendamping, yah?"

Bayu mendekati Satar yang masih sibuk dengan gitarnya. Masalah seperti ini lebih baiknia percayakan pada bos mereka, self proclaimed boss tentu, tapi tanpa Satar, para pengamen ini tidak akan pernah berkumpul.

"Ada cewek yang lagi ngedeketin gue."

"Agresif bener tuh, cewek. Tapi tumben Bay lu cerita. Lu mah bukannya sama cewek tinggal ngedip, yah?"

"Yang ini beda. Kapan-kapan gue bawa kemari. Dia musisi juga, udah profesional malah."

"Yah bawa aja, biasanya juga lu kalo ada cewek lu bawa kemari. Apa bedanya sih?"

"Entar juga lu tau." Bayu bangkit dari duduk dan mohon izin pada teman-temannya.

"Sombong lu, Bay. Tinggal aja dulu, napa. Minum aja, dulu."

"Makasih, Dev. Lu lanjut aja dulu sama cowok lu. Gue mau balik cepet, ada panggilan dari Nyonya Besar."
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
08-10-2016 18:44
Quote:

PART 5

Hilka kelimpungan. Jam empat pagi sudah ribut dengan laptopnya. Gila! Bisa-bisanya Hilka lupa pada tugas, baru pertama kali Hilka keteteran seperti ini. Untung masuk siang, masih ada waktu sampai jam 10 dan semoga waktunya cukup.

"Alamak.....program error lagi." Lagi-lagi laptopnya freeze, gara-gara membuka Photoshop yang RAMnya berat, laptop Hilka memang sudah belakangan ini sering crash kemungkinan karena virus. Oh iya, padahal kemarin seharusnya Hilka scanning malware dan virus di laptopnya.
Kelupaan lagi dua tugas gara-gara......

Sekarang Hilka paham, kenapa banyak teman-temannya yang dipanggil ke ruang guru gara-gara punya masalah yang sering berkaitan dengan masalah cinta, misalnya nilai yang turun sejak putus dengan pacarnya, bahkan pernah ada percobaan bunuh diri karena patah hati. Gawat kalau Hilka akhirnya masuk sebagai salah satu dari orang-orang itu.

Pukul sepuluh lewat sedikit, Hilka lari-larian ke kamar mandi dan membereskan isi tasnya. Kalau sudah begini tidak ada jalan lain, Hilka minta diantar sampai ke kampus.

"Buset, Si Hilka berantakan amat. Tugas lu udah belum."

"Nih, Stev....mau mati gue ngerjainnya." Hilka menyerahkan flashdisknya.

"Lah, lu kan kemaren libur, kemana aja emangnya? Bukan ngerjain tugas. Pacaran, ye? Sama cowok misterius yang lu suka?"

Sementara Stevie meninggalkan Hilka sambil ketawa-ketawa, Hilka menaruh kepalanya di atas meja. Pusing, hari ini kayaknya serba terburu-buru, rambut Hilka masih berantakan, bajunya kusut, mandinya juga tidak benar, Hilka mulai gatal-gatal. Belum lagi ternyata tugasnya salah, kalau boleh sebenarnya ingin sekali menangis hari ini. Untung Hilka masih bisa mengendalikan diri.

Bayu, you're a bad news for me.

Baru sekarang Hilka merasa tidak.ingin bertemu Bayu. Ini jelas-jelas sudah enggak terkendali, masa gara-gara cowok Hilka harus merelakan kuliahnya? Nilai kuliah Hilka bagus-bagus, baru sekarang dia pernah dimarahi dosen gara-gara keteteran tugas.

"Lu kenapa, Ka?"

"Enggak apa-apa."

Kali ini Hilka agak kurang semangat ketika, lagi-lagi secara 'kebetulan' ketemu dengan Bayu. Tapi agak terlalu juga kalau Hilka menjadikan Bayu akar masalahnya. Ini salah Hilka sendiri yang tidak bisa mengendalikan perasaannya.

Lagi lu lebay, Ka. Pacaran juga enggak. Kalau hidup lu jadi berantakan, itu kerjaan lu sendiri.

"I know how to cheer you up....." Bayu berbisik di telinga Hilka dan berdiri di sebelahnya sambil memegang gitar, kali ini Hilka duduk di tengah, jadi Bayu bisa berdiri di sebelahnya.

"Selamat malam, ayah, bunda, kakak, mas dan mbak. Kalau biasanya saya sendiri, bernyanyi sendiri, sepi juga, saya mau mengajak seorang teman, teman baru saya, untuk membawakan duet. Seorang violinis, masih muda, cantik juga....."

"Bayu, you're kidding right?"

Tapi Bayu tidak mendengarkan protes Hilka karena perkenalannya masih panjang, padahal kenal Hilka juga baru.

"Kalau berkenan Hilka mau menemani saya....."

"Bay, bercanda, ah lu."

"Mainin lagu yang kemarin aja. Pasti gue temenin, kok."

Hilka langsung merasa tangannya kebas. Harusnya Hilka bisa lebih santai, dia sudah biasa tampil di depan umum, pernah sekali tampil di Royal Albert Hall di London, bagian dari children orchestra yang waktu itu mengumpulkan anak-anak dari beberapa negara dan Hilka termasuk dalam salah satunya. Dengan hati-hati Hilka mengeluarkan biolanya, sementara wajah para penumpang bercampur antara penasaran dan tidak peduli.

These people won't understand my song.

Hilka mencari posisi yang aman agar ia tidak menggangu penumpang dengan gesekan biolanya. Karena kebiasaan, Hilka membungkukkan badan, seperti kalau ia sedang tampil di gedung pertunjukan. Ada penumpang yang tertawa tertahan ketika melihat Hilka membungkuk. Cukup membuat nyali Hilka ciut, tapi kemudian ia siap untuk memainkan biolanya, membawakan The Dying Swan diiringi dengan petikan gitar.

He's prepared for this.

Sementara Hilka memainkan melodi, Bayu mengiringinya. Inilah duet yang sebenarnya, dan Hilka tidak menyangka kalau mereka bisa sinkron, padahal sebelumnya mereka belum pernah latihan untuk ini.

Setelah lagu pertama selesai, Hilka menarik nafas dalam-dalam. Penumpang bus bertepuk tangan, membuat Hilka menjadi lebih lega bernafas.

"Satu lagi, Ka."

"Eh....."

"Lagu apa aja, gue bakal ngikut."

Satu lagu yang terlintas di otak Hilka. Moon River. Kenapa, Hilka juga tidak tahu, tapi ketika judul itu terlintas di otaknya, Hilka langsung menyebutkan lagu yang ia mau pada Bayu.

"Nyanyi, yah, Bay....please. Taukan lagunya?"

"Tau, sih. Kenapa enggak lu aja yang nyanyi?"

"Suara gue sumbang.....seriusan, enggak ada yang mau karaoke ama gue."

Bayu hanya tersenyum mendengar penjelasan Hilka. Ia bernyanyi bersamaan dengan gesekan biola Hilka, suaranya yang khas, ditambah iringan biola dan gitar, Hilka hampir pingsan mendengarnya. Moon River adalah salah satu lagu yang menurut Hilka seksi, dan sekarang Bayu yang nyanyi, di dekat dia pula.

Heaven does exist.....

Yang pasti masalah Hilka tadi siang langsung hilang entah kemana.

Selesai lagu kedua, Hilka membungkukkan badannya lagi dan menaruh biolanya di dalam case.

"You go solo from here."
"Sure. You're more than just amazing."


Kebas di tangannya sudah hilang, tapi keringatnya masih mengucur dan tenggorokan Hilka terasa kering sekali. Malam ini mungkin Hilka tidak tidur lagi, dan kalaupun tidur, pasti terbayang-bayang terus kejadian sore ini.

"Ka, habis ini harus langsung pulang atau bisa main dulu sebentar?"

"Selow aja. Emang kemana gitu?"

"Tau Sempur, kan? Ke sana dulu, gue janji mau ngenalin lu sama temen-temen gue."

"Okay, then."

"Sure. Cuma jangan kaget, yah kalo ketemu temen-temen gue. Gue rasa seumur hidup lu, lu belum pernah ketemu orang macem mereka "

Memangnya orang seperti apa mereka? Hilka sudah pernah bertemu dengan berbagai macam orang, dari berbagai macam latar belakang, seharusnya sih tidak ada yang aneh dengan teman-teman Bayu, minimal kalo gaya mereka semua seperti Bayu, harusnya sih enggak apa-apa.

"Naik angkot enggak masalah, kan lu?"
Hilka memandang Bayu sambil menyipitkan matanya. Sama saja, kenapa semua orang mengira Hilka tidak bisa naik kendaraan umum? Cuma angkot doang mah kemana-mana juga Hilka naik angkot kalau tidak dipaksa naik mobil sendiri.

"Lu nape ngeliatin gue kaya gitu?"

"Enggak apa-apa.... " Hilka langsung mengubah ekspresinya dan tersenyum manis.

Hari sudah gelap ketika Hilka sampai di depan lapangan Sempur. Jalan agak licin sehabis hujan, Hilka hampir jatuh kepeleset ketika menuruni jalan ke lapangan.

"Yah....." Hilka jelas lebih khawatir pada biolanya daripada pada dirinya sendiri. Suara dentingan gitar dan orang-orang yang sedang bernyanyi mulai terdengar. Liriknya janggal, bebas, tidak terikat aturan supaya terdengar puitis, berani, malah agak vulgar, yang pasti bisa bikin Hilka memerah pipinya.

"Stop....stop....noh situ noh.....cieee....ada yang bawa gandengan baru....."

"Baru kemaren ditanya kok sendiri, udah bawa mangsa baru aja."

Hilka berusaha tenang, meski kata-kata itu jelas bikin Hilka tidak nyaman. Bayu sendiri tidak mencoba untuk mendiamkan teman-temannya, atau mengkoreksi mereka. Ia hanya menyuruh Hilka duduk di dekat mereka sementara ia sendiri menjauh.

"Namanya siapa?"

"Gue Hilka...."

"Oh. Devi.....lu pacarnya Bayu, yah?"

"Bu....kan. Temen aja, kok."

"Oh....tumben Si Bayu deket ama cewek tapi kagak digarap. Biasanya nyelonong aje tuh orang."

Astaga.....ternyata. Ganteng dikit langsung jadi playboy. Tapi Hilka percaya percaya saja kalau Bayu disebut playboy, beberapa kali Hilka melihat Bayu dengan beberapa cewek berbeda. Rata-rata memang makhluk dari genus Capsicuum, alias cabe-cabean. Persis seperti cewek si sebelahnya ini, umurnya pasti jauh lebih muda dari Hilka, tapi gayanya luar biasa, boros bedak.

"Minum, Ka....."

Hilka mengambil gelas plastik yang disodorkan dan meminumnya.

By God! Moonshine!

"Gue harus ikut bayar enggak kalau ikut minum?"

"Enggaklah. Duitnya juga dari pacar lu."

Hilka hanya tersenyum, ngapain juga susah-susah membela diri dan bilang kalau Bayu bukan pacaranya. Toh Bayu sendiri tidak peduli dengan temannya dan tidak berusaha mendeny. Dari tadi Bayu hanya tersenyum mendengar teman-temannya itu.

"Ikut kenalan juga, dong." Datang satu lagi, kali ini cowok yang mengajak Hilka kenalan, namanya Ares. "Itu biola, yah?" Hilka mengangguk. "Boleh liat? Lu aja yang buka." Ares juga tahu kalau biola Hilka tidak murah, karena itu ia tidak berani menyentuhnya.

Hilka membuka kunci casenya, Ares kelihatan ragu ketika harus menyentuh biola Hilka, sehingga ia meminjam bownya saja.

"Ini bukan fiber yah?"

"Bukan, surai kuda....."

"Oh.....tipnya juga lain...."

"Itu perak asli....."

"Buset.....mainan orang kaya emang beda. Bay, lu kok bisa naik kelas dari cabe-cabean ke anak orkay gini?"

"Berisik banget, dah. Si Hilka ga suka dibilang orkay. Ka, ke sini sebentar, yuk."
Hilka membereskan biolanya dan mengikuti Bayu setelah sebelumnya menghabiskan minumannya.

"Sabi kobam juga, nih anak." Kata Bayu pelan.

Mereka duduk agak jauh dari yang lain, dan Bayu menyodorkan sejumlah uang kepada Hilka. Tidak banyak, tapi lumayan juga jumlahnya. "Nih, persenan lu, Ka. Duit hari ini 2 kali duit yang biasanya. Pasti karena ada lu."

"Eh, enggak usah, Bay. Gue enggak nyari duitnya, kok."

"Enggak apa-apa, ini hak lu. Aturan mainnya emang gitu."

"Enggak mau, ah. Ini lu ambil aja semua. Gue beneran enggak mau. Lagi lu kan lebih butuh duit ini......"

Langsung saja Hilka mengerem mulutnya. Dia kelepasan omong, kata-katanya seperti menegaskan I am richer than you. Langsung Hilka merasa tidak enak dan mengambil uangnya.

"Kita pake cara pembagian yang lebih adil aja. Lu tadi nyanyi total berapa lagu?"

"Lima...."

"Nah, ini bisa dibagi lima uangnya. Gue nyanyi dua lagu, jadi persenan gue yang ini. Setuju?"

"Okelah." Bayu memasukan uangnya kembali ke dalam kantong kulitnya. Kata-kata Hilka memang menusuk, tapi dia paham kalau Hilka cuma kelepasan omong. Mudah-mudahan benar kelepasan, bukan karena dia mabuk.

"Bay, tadi gue seneng bisa duet sama lu. Gue mau lagi. Kalau lu mau jalan, kasih tau gue, yah. Nih nomor gue." Di atas sebuah kertas yang dirobek dari buku gambarnya, Hilka menuliskan nomor teleponnya. "Kalo gue bisa bakal gue kasih tau."

"Yakin Ka lu mau mulai hidup di jalan?"

"Waktu gue di Amsterdam, dan beberapa kota di Eropa, gue liat orang-orang yang hidup di jalan itu kayanya orang yang paling bahagia. Mereka hidup dengan kehendak mereka sendiri. Berkarya dengan kemauan mereka. Sejak saat itu gue mimpi bisa hidup di jalan, jadi pelukis jalanan. Emang kalau di Indonesia tantangannya pasti lebih banyak, tapi gue siap aja. Toh gue ada mentor pribadi, kan?"

"Oke, kalo lu emang pengen hidup di jalan, gue bawa lu, ngamen keluar masuk bus. Tapi dengan gue enggak sembarangan, tetap lu harus latihan yang rajin."

"Siap boss!" Hilka menaruh tangannya di dahi, siap berjuang bersama.

Memangnya oleh Hilka tidak kepikiran kalau orangtuanya tahu dia ikut-ikut ngamen orangtuanya bakal ngamuk? Kepikir kok, kepikiran banget malah. Tapi Hilka tidak peduli, mumpung ada orang yang mau membawa dia untuk hidup di jalan, dia siap menerima resikonya.

I'm not a child anymore.

"Sebentar Ka. Gue mau lu ketemu seseorang."

Bayu kembali dengan mengajak Satar. Ia memperkenalkan Hilka pada Satar dan sebaliknya, mereka saling bersalaman dan Satar membungkukkan badannya sedikit dengan sangat sopan.

"Gue udah denger tentang lu, Ka. Pemusik juga?" Hilka mengangguk. "Ho keliatan, sih. Yaudah baik-baik, ya ama Si Bayu. Kalo macem-macem getok aja. Lu juga, Bay. Jangan macem-macem lu. Si Bayu kalo liat cewek engga tahan enggak macem-macem."

Hilka tersenyum sambil melambaikan tangannya ketika Satar memohon diri. "Bay, gue balik, yah."

"Oh iya, udah malem juga. Bareng, deh. Gue anter."

"Gak usah kali. Tinggal sekali naik angkot."

"Bareng jalan doang. Sampai balkot."

"Terus lu mau kemana?"

"Jalan lagi, nyari apa, kek. Nyari duit udah, tapi masih terlalu siang kalau pulang jam segini."

Selama mereka jalan berdua, Hilka lebih banyak diam, pertama karena dia lelah, kedua, karena berat biolanya mulai mengganggu, ketiga, karena setelah hari ini Hilka mulai ragu pada Bayu. Mungkin Devi cuma melebih-lebihkan, tapi potongan cowok seperti Bayu.....kayanya memang pasti banyak yang suka.

Saking sibuknya dengan pikiran-pikiran itu, Hilka bisa menangkis omelan ibunya, karena Hilka pulang malam-malam dan bajunya basah kena hujan. Hilka cuma diam, kemudian melangkah dengan gontai ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamar dan masuk ke kamar mandinya. Sambil berendam dalam air panas, Hilka melamun, kebiasaannya kalau sedang bingung walau dia tahu, enggak bagus berendam di dalam air panas terlalu lama.

Ngapain juga Si Bayu susah-susah milih cewek kayak lu, Ka. Dia bisa dapet cabe-cabean yang lebih cantik dan muda dari lu. With less risks and less costs. A guy like him would always think a white bread girl like you is just another spoiled lady, cannot live on her own will.

Sejak mendengar kata 'cabe-cabean', Hilka agak geli sendiri mendengarnya. Ternyata dia diserang juga oleh kata-kata itu.

"Terus kenapa Bayu bisa secepat itu deket sama gue?"

He might want something from you. A rich, lonely lady is always a good choice for a gold digger.

Sampai di negara orang saja masalah Bayu tetap sama, dengan perempuan, walau detailnya seperti apa Hilka juga tidak tahu.

Bisa dipercaya enggak yah orang seperti itu?

Tapi memangnya Hilka mengharapkan apa, sih dari Bayu? Kalau Hilka memgharapkan macam-macam, lebih dari yang dia dapat juga pasti ujungnya paling-paling kecewa. Dan Hilka tidak mau, catatan bersihnya sebagai seorang cewek rusak gara-gara patah hati, karena heartbreak can change people, for better or worse.

Takut amat patah hati sih lu, Ka. Mungkin patah hati bisa jadi pengalaman baru buat lu. Sekali seumur hidup, enggak ada salahnya lu patah hati.
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
08-10-2016 18:46
Mayan nih bacaan baru, menarik juga penulisannya, enak buat nemenin malem minggu.emoticon-Cool
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
09-10-2016 17:17
Quote:Original Posted By b234azm
Mayan nih bacaan baru, menarik juga penulisannya, enak buat nemenin malem minggu.emoticon-Cool


makasih om emoticon-Kiss (S)

direkomen ke yang lain yah om emoticon-Kiss (S)
0 0
0
(18+ Only) Trust My Voice [TAMAT]
09-10-2016 17:20
Quote:PART 6

Ka, Minggu ada acara enggak? kl g gue ajakin lu ngamen, tp Sbtnya lu ktm dl....
Bayu

---------------------------------
Ok, Sbt ktm dmana?
---------------------------------
Tmpt kmrn jam 5

Bayu sudah menunggu Hilka di tempat janjian mereka, hari ini mereka cuma berdua, teman-teman Bayu baru berkumpul lepas jam 9 malam biasanya.

"Buat besok, kita ke Taman Heulang. Gue gak akan bawa lu naik turun bus. Kemaren gue liat lu jalan kaki kayanya ngos-ngosan banget, takutnya lu cidera. Kaki lu pendek sih."

"Makasih loh, Bay. Kurang nyelekit kata-kata lu."

"Iyalah kurang, kalo nyelekit beneran, orang nangis denger omongan gue."

Hilka menggulung bibir. Wah Bayu serius ternyata hari ini. Demi menjaga keharmonisan, Hilka diam saja seharian. Yang mereka lakukan adalah mempersiapkan lagu untuk besok, Hari Minggu biasanya Taman Heulang penuh, dan Bayu menganggap kegiatan busking besok super serius. Untung Hilka sudah biasa berada dalam pre-performance pressure.

"Kita coba sejam pertama dulu, deh. Jam enam lu harus udah standby di lokasi. Keberatan enggak?"

"No, Boss!"

"Good.....sejam itu cukup buat.....sekitar 10 lagu, lah. Mau duet semua atau ada solonya?"

"Ada solo, deh. Jujur gue enggak begitu bisa main lagu-lagu pop. Lagi kalau kita buntu harus main lagu apa lagi, kita bisa main sendiri-sendiri."

"Lagu yang bisa dibawain berdua?"

Susah menyamakan pikiran Hilka dan Bayu, mereka berdua punya aliran yang berbeda. Sementara Hilka berkutik di lagu klasik, jazz, dan oldies, Bayu lebih tahu lagu-lagu Iwan Fals, Slank, lagu indie, rock, 80's rock. Satu-satunya persamaan mereka adalah dua-duanya tidak tahu lagu-lagu pop terbaru.

Dalam list Hilka mereka sudah setuju, selain membawakan Moon River dan The Dying Swan, mereka akan membawakan Bengawan Solo, Yesterday dari The Beatles, dan May It Be dari Enya.

"Cukup, nih?"

"Dicoba aja dulu. Sisanya bisa dipikirin nanti OTS."

"Lu tau lagu-lagu Disney's enggak?"

"Apaan? Let It Go?"

"Jangan yang itu juga kali, Bay. Yang klasik Disney's, Once Upon A Dream?"
Hilka menyanyikan beberapa bait untuk membantu Bayu mengingat-ingat lagu yang ia maksud.

"Oh, Tchaikovsky. Tau sih versi instrumentalnya. Kalo lagunya enggak tau. Boleh aja...."

Sampai malam mereka berkumpul berdua, terutama karena menurut Bayu suara Hilka parah, sementara Hilka harus bernyanyi besok.

"Baru gue liat cewek cantik-cantik suaranya sember."

"Makasih jilid dua loh, Bay."

"Jangan ribut dulu. Suara lu, kok gitu amat yah, Ka? Lu terkahir nyanyi kapan?"

Sebenarnya, sejak SD Hilka tidak pernah menyanyi lagi, dia sadar suaranya di bawah garis pas-pasan. Aneh juga sebenarnya, Hilka yang seorang pemusik punya suara yang fals dan tidak bisa mengikuti nada dan tempo ketika bernyanyi.

"Lu kemana, sih Ka nyanyinya? Emang ketukannya engga jelas?"

"Gue bukan penyanyi kayak lu, Bay. Sori kalau suara gue jelek."

Akhirnya, Hilka mulai ngambek. Kalu ngambek, susah lagi diredakannya si Hilka itu. Makanya, orang yang kenal Hilka lebih pilih diam dan mengalah, daripada panjang urusannya dengan Hilka. Kalau marah, Hilka tidak pernah mengungkapkannya, tapi dia bisa diam selama berhari-hari dan kalau sudah begitu, pasti orang akan selalu merasakan hawa negatif keluar dari diri Hilka.

Akhirnya Bayu mengalah. Kebalikan Hilka, mulutnya memang terkenal tajam, kadang lupa kontrol, tidak aneh kalau banyak orang yang tersinggung kalau Bayu yang bicara.

"Maaf, yah Ka. Jangan baper kalau sama gue. Gue mah emang suka ceplas-ceplos orangnya."

"Biasa aja kali."

Meski bilang biasa dan melanjutkan permainan biolanya, sudah jelas Hilka mulai ngambek. Dan baru pertama kali Bayu merasa tidak enak telah menyinggung perasaan orang. Bayu mengacak rambut Hilka dan memegang pundaknya.

"Jangan marah, yah."
Diubah oleh paycho.author
0 0
0
Halaman 1 dari 12
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
am-i-indigo
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
aku-mencintai-bandot-tua
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia