Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
568
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57e6552b14088d13558b457a/the-story-of-roy
Gw melanjutkan langkah kaki gw yang baru saja pulang dari sekolah dasar bersama teman-teman sekelas dengan jarak kurang lebih 1 kilometer. Gw menuju ke pintu belakang rumah gw. Seperti hari-hari biasanya
Lapor Hansip
24-09-2016 17:27

The Story Of ROY

Past Hot Thread
The Story Of ROY


Cover By Agan awayeye

INTRO


"Gw duluan ya, hati-hati"

"Yooo"


Gw melanjutkan langkah kaki gw yang baru saja pulang dari sekolah dasar bersama teman-teman sekelas dengan jarak kurang lebih 1 kilometer. Gw menuju ke pintu belakang rumah gw

"Assalamu'alaikum"

Gw berkata demikian lalu membuka pintu yang memang tidak terkunci

Seperti hari-hari biasanya, kedua orang tua gw sedang berada dikebun, mereka hanya pulang kerumah untuk sholat zhuhur dan makan siang lalu balik lagi ke kebun, mereka pulangnya sore nanti.

Gw melepas pakaian sekolah gw lalu mengambil piring dan makan siang.

Dirumah sederhana ini, rumah tanpa teras, dengan dinding papan, atap rumbia yang beberapa bagiannya bocor, dan lantai semen serta tikar yang sudah banyak sobekannya, tinggallah kedua orang tua gw tinggal bersama gw, anak laki-laki kesayangan mereka.

Setiap memasuki bulan puasa, gw membantu nenek gw berdagang di pasar, dan karena itu gw selalu punya baju dan celana baru ketika lebaran tiba.

Masa kecil yang indah.

Masih lebih indah dari hidup gw sekarang (menurut perasaan gw saat itu), merantau ke kota yang dipenuhi dengan orang-orang egois.

Disinilah gw, didepan sebuah sekolah yang gw harap bisa memberikan ilmu yang berguna untuk masa depan gw nantinya.

~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~


30 hari sudah gw tinggal di kota ini

Gw sejak 30 menit lalu sepulang dari sekolah, berbaring di lantai kos seluas 3 x 4 meter dengan perabotan seadanya

"Roy, udah makan?"
Dia mengintip melalui jendela kosan gw

"Hahaha, ngapain bertanya kalo udah tau jawabannya?"

"Yaaa kali aja lo udah makan di Ka Ef Si"

"Tadi sih gw telepon kesana, katanya ayamnya masih keluyuran, ga mau dipotong tuh ayam"

"Ada juga ayam kayak gitu ... yaudah, yuk"


Gw beranjak menuju ke kosannya, yakni tepat di sebelah kosan gw, yang mana hanya dibatasi sebuah dinding papan saja

"Menu apa hari ini chef?"
Tanya gw ke manusia disebelah gw yang sedang menyalakan kompor lalu mengambil panci berisi air untuk dididihkan

"Hmmm ... Soto spesial"

"Favorit gw ... hahaha"


Ya, itu adalah rasa mie instan.

Gw dan orang itu berbagi jadwal merebus mie instan, hari ini gilirannya lalu besoknya giliran gw, tanpa boleh protes rasa apa yang akan disajikan oleh Chefnya.

"Gimana kemarin mendaki gunung Roy?"
Dia memulai pembicaraan ditengah kami menyantap menu seadanya

"Membosankan"

"Membosankan?"

"Ya. Anak-anak kota itu lebay bro, kayak baru lihat gunung aja"

"Emang baru kan?"

"Iya sih, lo tau ngga, ada tuh temen gw yang paling rese di kelas, baru setengah pendakian aja udah ngos-ngosan hahaha"

"Maklumin aja lah, mereka beda dengan kita yang naik turun gunung tiap hari. Bagi mereka naik gunung adalah rekreasi, tapi bagi kita?"

"Pekerjaan"

"Wakwokwakwok"

"Gyahahaha"


Kami pun melanjutkan makan siang beserta obrolan-obrolan kecil didalamnya yang membuat kami senantiasa tidak mengingat siapa kami, dimana kami, dan akan kemana kami nantinya.

Seperti itulah keseharian kami di kosan.
Diubah oleh tyrex90an
profile-picture
profile-picture
profile-picture
defriansah dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 29
The Story Of ROY
24-09-2016 17:29
Diubah oleh tyrex90an
0 0
0
The Story Of ROY
24-09-2016 17:45
SEASON 1 : TYSON

PART 1


pertama kali gw bertemu dengan bocah itu saat mendaftar di sekolah kejuruan.

Gw masih ingat saat gw baru pertama kali ke kota dan gw berada ditengah kebingungan akan bagaimana cara mendaftar disekolah ini? Hahaha kampungan.

~~~~~~~
~~~~~~~

Disinilah gw, didepan sebuah sekolah yang gw harap bisa memberikan ilmu yang berguna untuk masa depan gw nantinya.

Gw tengah berdiri melihat dari kejauhan, banyak bocah seumuran gw yang berdesak-desakan di sebuah jendela. Ada beberapa orang tua juga, mungkin mereka mendaftarkan anaknya.

Gw pun berniat menunggu hingga antrian atau gw lebih senang menyebutnya rebutan mendaftar ini berkurang penunggunya. Sehingga gw leluasa mendaftar tanpa perlu berdesak-desakan yang membuat keringat antara manusia yang satu bercampur dengan keringat manusia yang lain, kebetulan siang itu matahari sangat terik.

Entah mengapa disekolah yang luas ini, ada ribuan murid baru yang coba mendaftar tiap tahunnya, tapi hanya satu saja loket yang di buka.

5 menit ....

30 menit ....

60 menit ....

120 menit ....

"Anjritt... kapan sepinya nih? masih rame aja tuh antrian" dalam hati gw ngomel sendiri

"Oy bro"

Gw mendengar suara seperti ada yang memanggil.

Gw mencari arah suara itu ke kiri dan ke kanan. Tidak ada.
Gw menoleh kebelakang, tidak ada juga.

Mungkin gw salah dengar. gw masih berdiri menatap ke loket yang dipenuhi manusia-manusia yang tergesa-gesa.

"Oy bro, ngapain?"
Lagi-lagi gw mendengar suara yang sama.

Seorang pria seumuran dengan gw berdiri disamping kanan gw.

"Umm.. hai bro.. gw lagi nunggu antrian sepi, trus gw mendaftar"

"Oh gitu ya, hmm antriannya masih rame, padahal udah jam segini"

"Gw udah 2 jam nunggu tapi yah masih rame gini. Btw, tadi lu yang manggil gw? Gw cari-cari tapi ga ada orang tadi?"

"Oh itu, gw lagi ngikat tali sepatu"

"Pantesan"


Kami berdiri di antrian(rebutan) paling belakang.

Pria disampingku diam sambil memandangi sekeliling.

Sekolah ini tepat berada di samping jalan utama dimana lalu lintas yang ramai lancar.

"Nama lo siapa?"
Dia bertanya ke gw

"Gw Royan, lo?"
Gw sedikit mengangkat tangan kanan, gw berniat menyalaminya.

"Oke Royan, bersiap"

Apa maksudnya nih bocah?

Tanpa memperdulikan tangan gw yang mau berjabat tangan dengannya, Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, 3 kali dia melakukan itu, lalu...

"Royyyaannn..... lihat disana, ada kecelakaan di ujung jalan, cepat.. cepaatt.. cepaatt... lihhaattttt"

Dia berlari sambil menarik tangan gw, gw ngikut aja.

Seketika itu juga puluhan orang yang sedang mengantri, melihat ke arah kami. Mereka berhenti sejenak dari kegiatan mereka. Istilahnya mereka mem"pause" kegiatan mereka.

"Royyaaannn... cepaaattt, disaanaaaaaa"

Dia menunjuk keujung jalan

Orang-orang yang tadi sedang mengantri, mulai dari orang tua yang mendaftarkan anak mereka, serta bocah seumuran gw yang akan mendaftar berlarian ke tepi jalan untuk melihat apa yang diteriakkan "teman" gw tadi.

Eh.. kemana dia?

Beberapa detik yang lalu dia masih berada disamping kananku.

Gw mencari keberadaanya. Dan...

Itu dia, dia sedang berada di jendela atau loket pendaftaran. Sendirian. Tanpa antrian.

Gw menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Hmmm.....

"Orang yang menarik"
Diubah oleh tyrex90an
0 0
0
The Story Of ROY
24-09-2016 19:06
emoticon-Wakakakocak
ijin nenda om brayemoticon-Bookmark (S)
0 0
0
The Story Of ROY
24-09-2016 20:17
Quote:Original Posted By jin.bolo.bolo
emoticon-Wakakakocak
ijin nenda om brayemoticon-Bookmark (S)


yoi bray, silahkan emoticon-Sundul Up
0 0
0
The Story Of ROY
24-09-2016 21:13
lagi update nya gan, kocak tu anak emoticon-Ngakak (S)
Diubah oleh ikooooo
0 0
0
The Story Of ROY
24-09-2016 22:41
hahaha emoticon-Wakaka licik bgt
0 0
0
The Story Of ROY
25-09-2016 03:12
Quote:Original Posted By ikooooo
lagi update nya gan, kocak tu anak emoticon-Ngakak (S)


sebisa mungkin ane akan update emoticon-Smilie tapi biasanya malam ye gan

Quote:Original Posted By kandadwipa
hahaha emoticon-Wakaka licik bgt


ini nih agan yang minta cerita selanjutnya di trit sepi ane yang pertama emoticon-Ngakak

0 0
0
The Story Of ROY
25-09-2016 07:00
Quote:Original Posted By tyrex90an


sebisa mungkin ane akan update emoticon-Smilie tapi biasanya malam ye gan



ini nih agan yang minta cerita selanjutnya di trit sepi ane yang pertama emoticon-Ngakak



bukan sepi gan tapi kebanyakan SR ny
0 0
0
The Story Of ROY
25-09-2016 07:35
wah roman baru nih? genrenya moga aja adventure
0 0
0
The Story Of ROY
25-09-2016 18:15
Quote:Original Posted By curahtangis
wah roman baru nih? genrenya moga aja adventure


adventure? hmmm...
0 0
0
The Story Of ROY
25-09-2016 18:18
Part 2


Nama gw Royan. Gw anak tunggal. Sejak kecil gw tinggal dikampung bersama kedua orang tua gw, hidup dengan kualitas dibawah rata-rata.

Kedua orang tua gw bekerja dengan sangat keras untuk membahagiakan gw, gw bisa merasakan itu saat gw ingin membantu mereka bekerja dikebun namun mereka tidak mengizinkan.

"Kalau kamu mau bantu Bapak sama Ibu, bantunya nanti saja kalo kamu sudah besar"
begitu kata bapak gw

Saat itu gw belum mengerti apa-apa. Namun kini gw menyadari apa maksudnya, mereka tidak ingin masa kecil gw, masa bermain gw hilang karena harus bekerja.

Terima kasih banyak Bapak, Ibu.

Sebuah motivasi besar untuk membahagiakan kedua orang tua gw, gw mulai dari keputusan gw untuk sekolah ke kota yang gw rasa bisa menjadi langkah awal yang sempurna.

Segi fisik, tinggi gw 175 cm, kulit kuning langsat, wajah oval, rambut lurus.

Rata-rata nilai gw sewaktu SD-SMP bisa dibilang tinggi. Dalam rentang itu, gw selalu mendapatkan beasiswa. Beasiswa kurang mampu.

Sejauh ini gw belum pernah yang namanya pacaran. Kenapa? Karena gw belum cukup umur untuk menjalin hubungan dengan wanita.

Wanita itu ribet, kalo ditanya ya jawabannya berkisar di "gapapa", "terserah kamu aja", "kamu ga peka", "kamu ga pernah ngertiin aku" dan masih banyak lagi.

Gw ga punya waktu untuk itu semua.

Oke oke. Sebenarnya gw mau, tapi gw ga punya biaya untuk malam mingguan, dan juga belum ada cewek yang mau sama gw.
Jones detected.

Kini gw ngekos dekat dari sekolah tapi jauh masuk lorongnya. Kosan yang dibawah rata-rata, dimana tikus berlarian siang malam, bunyi jangkrik ditengah kota, kamar mandi ada 2 sedangkan kamarnya sejumlah 20.

Jadi tiap hari gw bangun subuh, supaya kalo mandi tidak pake antri yang mana bisa membuat gw terlambat kesekolah.

gw bisa ngekos disini karena pertama kali gw mencari kosan dari lorong ke lorong, gw ga dapat kosan yang sesuai kantong.

Keasyikan mencari malah tersesat, dan gw tersesat di kosan ini. Takdir menuntun!!!!
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 17:29
Part 3


Kosan kami berjumlah 20 kamar, berbentuk lorong dengan kamar yang saling berhadap-hadapan.

Gw tinggal dikamar nomor 2, sedangkan Tyson dikamar nomor 1.

Oh iya, Tyson.

Tyson adalah orang yang gw temui tempo hari saat gw mendaftar di sekolah kejuruan.

Tyson ini sama tingginya dengan gw, wajah juga agak mirip, cuman saja dia lebih putih dan bersih. kalo kami berdua sedang berjalan bersama, kelihatan seperti adik kakak. Padahal gw ga ada hubungan darah apapun sama Tyson.

Entah kebetulan atau takdir, tapi gw lebih memilih takdir sehingga gw bisa bertemu dengan Tyson.

Satu lagi teman gw di kosan ini, namanya Dermawan.

Namanya boleh dermawan, tapi orangnya preman.

Gilaaa men..... Kerjaannya disekolah berantem tiap hari.

Gw ingat ketika itu hari senin. Gw pulang dari sekolah jalan kaki sendirian, saat gw sampai dipagar sekolah gw dengar ribut-ribut dari belakang, gw pun berbalik.

Dermawan sedang berlari disusul senior berjumlah 5 orang, yang mana salah seorang senior bibirnya mengeluarkan darah.

"Tahan dia... tahan dia..."
Teriak seorang senior kearahku

"Lari... lari... lari..."
Teriak Dermawan

"Woii bangs*t... tahan dia atau gw hajar lo"
Teriak senior lainnya

Saat tiba di pagar, Dermawan menutup pagarnya lalu melanjutkan berlari. Gw pun menyusulnya berlari sekencang-kemcangnya daripada dihajar sama senior.

Gilaa aja cari ribut sama senior.

gw melihat didepan ada Tyson sedang jalan kaki, gw dan Dermawan yang dikejar oleh senior masih berlari dengan kecepatan penuh.

Bunyi klakson kendaraan tidak gw hiraukan. Toh mereka juga ngga kenal gw.

Sebelum gw melewati Tyson, Tyson juga malah ikut-ikutan lari bersama kami. Ni bocah sama gilanya dengan Dermawan.

Dermawan yang memimpin pelarian ini, gw dan Tyson hanya mengikuti kemana arahnya. Ternyata dia memutar jalan, dia masuk kelorong sebelah lalu memutar ke lorong kami.

Tibalah kami di kosan dengan selamat sentausa.

"Air... air... aiiiirr..."

"Hahaha, baru segitu aja udah ngos-ngosan lu Roy, lemah"

"Bangke lu Wan, gue disini cari ilmu bukan cari ribut"

"Sekali-kali bro, hahaha"

"Elu mah tiap hari, udah biasa, lah gw? Mana ada"


Tyson keluar dari kamarnya membawa air penuh diteko dan 3 gelas plastik

"Seru juga Wan, kapan lagi kayak tadi?"

"Serah lu berdua dah"

"Hahahahahaha"

Tawa mereka berdua
Diubah oleh tyrex90an
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 17:49
Kegilaan anak muda, lanjut...!!!

Racun masa muda adalah madu saat tua, asal jangan keracunan duluan sebelum tua.

Kata-kata temen ane tuh, sekarang malah jadi pendeta dia. emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 18:03
Quote:Original Posted By greynimation
Kegilaan anak muda, lanjut...!!!

Racun masa muda adalah madu saat tua, asal jangan keracunan duluan sebelum tua.

Kata-kata temen ane tuh, sekarang malah jadi pendeta dia. emoticon-Ngakak (S)


kalimat yang luar biasa emoticon-Shakehand2

tapi sebenarnya ini dilematis.
kalo kita berperan sebagai orang tua pastinya kita tidak mau anak kita jadi racun emoticon-Takut
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 18:44
Seru karena berpacu dg adrenaline wkwkwkwk
Diubah oleh kandadwipa
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 19:37
Quote:Original Posted By kandadwipa
Seru karena berpacu dg adrenaline wkwkwkwk


wkwkwk sarap emang si Tyson emoticon-Wakaka
0 0
0
The Story Of ROY
26-09-2016 19:38
Part 4


Dengan bekal duit jajan 25rb/pekan, gw harus bisa mengirit semaksimal mungkin agar gw tetap bisa makan setiap hari.

Tak pernah terlintas untuk bekerja karena sedari kecil gw tidak punya pengalaman bekerja mandiri.

"Nonton konser yuk"
Tyson masuk kekamar gw dengan penampilan yang menurut gw lumayan black, celana jeans black, baju black, topi black, sepatu black, pokoknya serba hitam.

Mau nonton konser apa mau nyolong malam-malam?

"Sekarang? Baru juga jam 7, konsernya aja jam 10 baru mulai"

"Stupid... kalo ga cepet-cepet, nanti ga dapat tempat didepan"

"Okedeh, gw mandi dulu"


Kami pun otw dengan berjalan kaki, miris bener waktu itu, naik angkot Rp 2000 aja masih mikir 2 kali.

Setelah menempuh jarak sekitar 2 kilometer, kami pun tiba di lokasi.

"Yah Son, pake tiket. Ga punya duit gw. Balik aja yuk"

"Slow bro. Lu tunggu disini, jangan kemana-mana"


Tyson pun berjalan mendekati pintu masuk.

Dia berbincang-bincang dengan penjaga pintu masuk yang berbadan kekar, tato dimana-mana, brewokan, pokoknya serem deh, cocok banget jadi pemeran antagonis di film-film action.

Tyson melambaikan tangannya ke gw, memberikan tanda agar gw menyusulnya.

"Yuk masuk"

Tyson berjalan memasuki tempat konser, gw dibelakangnya.

Penjaga pintu masuk yang berbadan kekar itu menatap mata gw, tajam. Gw pun mempercepat langkah kaki gw.

"Ahh leganya"
Batin gw.

"Son, lu kenal penjaga tadi?"

"Ngga"

"Trus? Kok bisa masuk?"

"Diem aja, jangan banyak tanya"


Gw memang selalu bersama Tyson dan juga Dermawan, tapi gw belum tau asal usul mereka. Biarlah waktu yang menjawab. Hahaha

****

Jreng jreng jreeeennnggg

Dum dum tak dum tak dum dum tak

Konserpun dimulai. Irama distorsi dan teriakan khas vokalis band rock menggelegarrrrrr diseluruh penjuru lokasi konser.

Konserpun selesai

****

Quote:Reader : "Woy TS, kenapa cerita konsernya singkat banget? Apaan tuh? ga seru!"


Kaga ada yang perlu gw ceritain dikonser itu, berjalan seperti biasa saja.

Sepulangnya dari nonton konser dengan pakaian yang basah akibat ulah dari water cannon, kami pun berjalan kaki menuju ke kosan.

Setibanya kami dilorong, gw melihat ada sekumpulan pria sedang mabuk-mabukan.

"Son, muter aja yuk"

"Jauh... mending kita menunggu disini"

"Nunggu sampai pagi? Ngga deh, besok gw mesti sekolah"

"Sekali-kali absen gapapa kali"

"Ngga, gw ga mau"


Gw pun bersikeras untuk memutar jalan agar bisa segera tiba di kos dengan selamat. Seseorang dari mereka menatap kearah kami, lalu meneriaki kami

"Woy bocah, sini lu"

Daripada dikejar, kami nurut aja, toh besok-besok ketemu lagi sama mereka karena kita semua satu lorong. Itu menurut gw.

"Bagi duit"
Kata seorang dari mereka

"Kaga ada bang"
Gw menjawab

"Keluarin duit lu atau gw yang periksa?"

"Periksa aja bang, kita berdua aja makan mie instan tiap hari, kita cuman anak kosan bang yang numpang hidup di kota"

"Lu kan yang ngekos di kosannya pak Karim?"

Kata pria lainnya, gondrong, body Ade Rai, tato dibahu kiri kanan.,

"Iya bang, saya yang tinggal di kamar 2"

"Lu ga tau gw hah?"

"Ga tau bang"

"Gw dikamar 4 bego"

"Oh gitu ya bang, hehehe"

"Ha he ha he.... pergi sana lu"

"Eh iya bang.... Son, cabutt..."


Gw menarik lengan Tyson yang berdiam diri, tidak banyak bicara, entah kenapa, tidak seperti biasanya.

"Eh tunggu.. lu bukannya Tyson Dwi ****?"
Kata pria lain yang gw ingat malam itu, botak polos, anting dikedua telinganya, tindik dihidungnya dan tak lupa juga tato dilehernya.

"Bukan bang"
Tyson menjawab

"Tapi kayaknya lu deh"

"Bukan bang, bener, hanya mirip doang kali"

"Oh iya juga ya, yaudah... sana sana"


Kamipun berjalan perlahan tengah malam itu menuju kosan.
Sepanjang perjalanan, Tyson hanya diam saja. Wajahnya lebih sering menunduk, seolah ada yang sedang dipikirkannya.
0 0
0
The Story Of ROY
27-09-2016 17:41
Part 5


Ujian kenaikan kelas sudah selesai, kami tinggal menunggu raport dari sekolah.

Sore itu gw dan Tyson duduk bersandar saling membelakangi di pintu kosan masing-masing.

"Son, liburan nanti lu mau mudik?"

"Ngga Roy, disini aja"

"Kenapa?"

"Males gw kalo mudik"

"Sudah hampir setahun, kaga rindu sama bapak ibumu?"

"Kaga, mereka sibuk"

"Sibuk? Bukannya mereka dikampung bertani?"

"Bokap gw memang dikampung, tapi...."

"Tapi?"

"Ga usah dibahas Roy"

"Owh... okey"


Sebuah sepeda motor berhenti didepan kosan, orang yang dibelakang turun dari motor lalu melepas helmnya.

Ternyata si Dermawan.

"Woy bocah-bocah ntar malam clubbing yuk"

"Gilaa lu... biaya masuknya aja berapa?"

"Gratis bro, khusus malam ini"

"Mana ada kayak begitu"

"Beneran bro, gratis, klo ga mau yaudah"


Dermawan lalu masuk kekamarnya.

"Roy, clubbing yuk"
Ajak Tyson

"Ga tau gw clubbing. Lagi pula ga ada duit buat gituan, pasti mahal semua kan didalam? Jangankan didalam, bayar masuknya aja ga bisa gw"

"Kan gratis Roy"

"Emang lu mau?"

"Gw mau sih, nambah pengalaman bro"

"Okedeh gw ngikut"


Pukul 23.00

"Beneran gratis kan Wan?"
Tanya gw ke Dermawan

Gw, Tyson, dan Dermawan kini berada di angkot menuju ketempat clubbing atau apa ya namanya gw ga tau.

"Iya gratis, takut amat sih, ndeso lu"

"Emang gw dari kampung kan?"

"Serah lu"


Mungkin ini angkot terakhir yang beroperasi hari ini. Setelah turun dari angkot, kendaraan umum yang gw lihat hanyalah taksi.

"Kesana yuk"
Dermawan menunjuk kearah trotoar dekat tempat parkir.

"Rokok bro?"
Dermawan menawarkan marlbo*o merahnya ke gw dan Tyson.

"Ngga, gw ga ngerokok"

"Hohoho, yaudah kalian tunggu disini ya, gw kesana sebentar"


Dermawan meninggalkan kami berdua. Gw melihat dia sedang berbicara dengan 2 orang disisi kanan tempat parkir. Dermawan menawarkan rokoknya kepada kedua orang itu, merekapun merokok bersama.

"Son rame juga ya, padahal sudah larut malam"

"Stupid... tempat ini memang buka larut malam, kaga ada yang buka pagi"

"Oh gitu ya.. Eh lu liat Dermawan ga?"

"Kayaknya tadi di...sa...na.."


Dermawan dan 2 orang tadi sudah tidak berada ditempatnya.

"Roy cari Dermawan... tapi lu jangan jauh-jauh dari gw, ntar lu juga ilang"

"Iya iya"


Gw mengikuti kemanapun Tyson pergi. Kesana kemari, menyusuri bagian depan tempat yang sangat ramai ini.

"Eh ada brondong... cakep juga... nama kamu siapa sayang?"

"Jangan diganggu, nanti nyokapnya marah hahaha"

"Tapi cakep kan?"

"Iya sih hahaha"


Beberapa wanita dengan rok diatas lutut menggoda kami, maksudku menggoda Roy, tapi tidak kami pedulikan. Kami masih sibuk mencari Dermawan.

"Balik aja ke parkiran, siapa tau Dermawan juga cari kita disana"
Ucap gw

Kami pun kembali ke parkiran.

30 menit kami menunggu, Dermawan juga tidak menunjukkan wajahnya.

"Son... pulang aja"

"Iya Roy... pulang aja"

"Tapi kayaknya ga ada angkot. Taksi doang. Kira-kira kalo naik taksi berapaan ya?"

"Sampe dilorong mungkin 100rb"

"Gilaa, habislah kita. Jadi kita nunggu sampe pagi baru ada angkot baru kita pulang?"

"Lu mau kayak gitu Roy?"

"Ngga lah"

"So?"

"So apa?"

"Jalan kaki?"

"Njiirrr jauh amat Son"

"Sekalian lari subuh"

"Emang sekarang jam berapa?"


Tyson melihat jam tangannya

"Jam 1 Roy"

"Gilaaa"


Entah kesialan apa yang menimpa gw sehingga harus merasakan ini.
Keputusan pun sudah bulat, gw dan Tyson akan berjalan kaki.

30 menit sudah kami berjalan kaki, disekeliling gw melihat toko-toko yang tertutup, kendaraan sepi yang melintas. Keheningan ini sangat berbeda dengan siang hari. Yaiyalah, wong sekarang pukul 01.30. Orang-orang pada tidur dengan nyaman. Tinggallah kami 2 bocah idiot tengah berjalan kaki.

"Roy lomba lari yok"

"Ayok"


1 2 3 rruunnnn

300 meter berlari gw sudah kehabisan nafas.

"Son capek gw"

"Yah cemen, baru segitu aja udah abis"

"Istirahat dulu Son"


Gw pun berbaring dijalan sambil mengatur ulang nafas. Tyson juga berbaring disamping gw.

"Besok siang lu baring disini lagi Roy, nanti gw susul lo ke kamar mayat Rumah Sakit"

"Bangke"

"Hahaha... nyesel gw tadi ikut si Dermawan"

"Lu aja nyesel, apalagi gw?"

"Hahaha... santai aja... pengalaman bro"

"Emang ga ada apa pengalaman yang agak kerenan dikit selain jalan kaki tengah malam gini?"

"Umm... ga ada kayaknya hahaha"

"Gila lu"

"Roy, yang sudah terjadi terjadilah. Ngapain lu pikirin? Toh kita juga sudah disini, berbaring dijalan. Kalaupun lu pikirin, emangnya bisa lu langsung tiba dikosan? Ngga akan. Kalaupun lu pikirin lagi, lu ga akan bisa mengulang keputusan yang sudah lu ambil"
"Jadi santai aja Roy"

"Ya ya ya... serah lu... lanjut jalan, gw ga mau lari lagi, capek gw"

"Hahaha yes commander"


Perjalanan pulang pun kami lanjutkan. Gw berharap selama kami berjalan, akan ada angkot yang lewat.

Naas. Sampai pukul 03.00 tidak ada angkot yang lewat. Kami pun sudah tiba dikosan.

Gw langsung masuk kamar lalu tidur. Besoknya gw bangun pukul 11.30. Pertama kalinya gw absen masuk sekolah.

Quote:tetap update walau sepi. LAKI!!
Diubah oleh tyrex90an
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
The Story Of ROY
27-09-2016 18:23
Part 6


"Roy kerja yuk"
Tyson membuka pembicaraan.
Sejak tadi pagi kami hanya berdiam diri di kosan, tanpa ada kegiatan berarti.

"Kerja apa?"

"Jualan koran. besok kan pengumuman pelulusan SMA/SMK sederajat, pasti laris lah"

"Jadi penjual musiman dong?"

"Ya gapapa,"

"Jualannya besok doang?"

"Iya besok doang"


Masuk akal juga bisnis sehari yang dikatakan Tyson. Pada masa itu pengumuman siswa sekolah kelulusan disampaikan melalui koran.

"Tapi Son, gimana caranya kita dapat koran? Emang lu mau beli ke penerbitnya?"

"Ngga, tapi nanti aja lu lihat"


Subuh hari pukul 03.00 gw dan Tyson sudah berada dijarak 50 meter dari kantor penerbit koran.

"Son, kenapa ngga langsung kedalam aja sih?"

"Lu ga bakalan dikasi sama penerbit"

"Kok gitu"

"Karena memang jumlah cetakannya sudah dikalkulasi, diarea sini berapa cetakan, area sana berapa cetakan, area sono berapa cetakan, bisa marah noh penjual koran sejati kalo kita ambil bagiannya"

"Oh gitu ya... jadi gimana caranya kita dapat?"

"Santaaaiiiiii....."


Kami masih menunggu, mataharipun sudah mulai menampakkan sinarnya.

Beberapa pedagang koran eceran terlihat keluar masuk dari kantor penerbit.

05.30
Seorang pedagang koran bersepeda menuju kearah kami.

"Beli koran dek?"
Sapa pedagang koran yang sudah berumur tersebut, terlihat jelas dari kulitnya yang agak keriput dan rambut putih dikepalanya.

"Iya pak, saya mau beli koran. Harganya berapa pak?"
Tyson memulai negosiasi

"10 ribu dek"

"Wah mahal amat pak, biasanya juga 3rb"

"Itukan hari biasa, ini bukan hari biasa, 8rb aja deh, hitung-hitung penglaris"

"4rb aja pak"

"Ga usah deh dek, saya mau jual keorang lain saja, hari ini pasti habis kok walau 10rb"

"Gini nih pak, sekarang itu semua siswa sudah pesan koran masing-masing disekolahnya, mereka mempercayakan satu orang untuk membeli secara paket. jadi ga beli eceran lagi"

"Mana ada kayak gitu, lu mau bohongin gw?"

"Terserah bapak mau percaya apa tidak, cuman disekolah saya saja yang tidak kompak begitu, nah kebetulan saya dipercaya sama teman-teman untuk beli dipenerbit secara paket, saya mau beli 100 koran"

"Emang lu sekolah dimana?"

"Di SMK **** pak. Bapak jualan disekitar sekolah saya ga?"

"Bukan area gw jualan tuh"

"Yaudah sini saya beli korannya, daripada bapak jualan sampai siang panas-panasan, belum tentu habis. hanya pedagang area sekolahan saya yang laku korannya"

"Gini deh 7500 aja, gimana dek?"

"Gajadi deh pak, ga dapat untung saya"

"Untung? Emang lu mau jualan lagi"

"Bukan gitu pak, eh emm... gini... gw bilang sama teman-teman, harga korannya 5.500. Kalo bapak kasi saya harga 5rb, saya juga kan dapat untung 500 per korannya"

"Yaudah deh, 5rb aja, mau beli berapa?"

"100 pak"

"Adanya cuman 30, yaudah tunggu disini, gw ambilin lagi kedalam"

"Iya pak"


Pak tua itupun kembali kedalam kantor penerbit, cukup lama kami menunggu hingga pak tua itu keluar dari kantor.

"Maaf ya dek, lama. Soalnya tadi harus alasan ini itu supaya dikasi lagi hehehe"

"Iya pak gapapa. Ini pak, hitung uangnya 550rb"

Tyson menyerahkan uangnya ke Pak Tua

"Ini dek hitung korannya"
Pak tua menyerahkan korannya ke Tyson dan gw pun membantu Tyson menghitungnya

"Cukup pak?"

"Iya dek cukup, tapi ini malah lebih 20rb"

"Gapapa pak, ambil aja buat bapak"

"Makasih ya dek"

"Sama-sama pak"


Pak Tua pun berlalu meninggalkan kami

"Nah Roy, lu ambil 50, gw ambil 50. Lu jualan disekitaran SMA *** dan gw jualan di SMA ***. Jual dengan harga 15rb, ga boleh kurang."

"Jauh tuh"

"Naik angkot lah"


Tyson menahan angkot yang lewat

"Tapi Son, darimana lu dapet duit 570rb?"
gw bertanya

Tyson masuk kedalam angkot. Lalu berbicara melalui jendela

"Dari tabungan"

Gw pun menunggu angkot yang lewat karena tujuan kami berbeda.
Diubah oleh tyrex90an
0 0
0
The Story Of ROY
27-09-2016 18:57

btw ini cerita fiksi atau orang terdekat agan. kayakny ga ad hub ama thread sebelumny
Diubah oleh kandadwipa
0 0
0
Halaman 1 dari 29
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
death-among-us
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia