News
Batal
KATEGORI
link has been copied
9989
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57befbef98e31bac3f8b456a/update--diskusi-hasil-persidangan-kasus-kopi-maut---part-1
Menanti Sidang tanggal 5 September 2016 Rangkuman sidang super singkat 1/9/2016 Menghadirkan ahli kriminologi dan psikologi. Yang menurut kesaksian para kaskuser yg menonton persidangan, mengambil kata2 ahli sebelumnya, ahli2 ini sangat tidak lazim dan sangat tidak umum dalam memberikan kesaksiannya, berkesan semaunya dan seenaknya saja. TS saat itu ada kasus, sehingga tidak mengikuti jalannya per
Lapor Hansip
25-08-2016 21:08

UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut

Menanti Sidang tanggal 5 September 2016

Rangkuman sidang super singkat 1/9/2016

Menghadirkan ahli kriminologi dan psikologi. Yang menurut kesaksian para kaskuser yg menonton persidangan, mengambil kata2 ahli sebelumnya, ahli2 ini sangat tidak lazim dan sangat tidak umum dalam memberikan kesaksiannya, berkesan semaunya dan seenaknya saja. TS saat itu ada kasus, sehingga tidak mengikuti jalannya persidangan. Yang jelas di sini Jess lebih banyak berkata2 daripada sidang2 sebelumnya, antara lain "Pendapatnya banyak yang tidak benar. Bohong semuanya. Terima kasih" dan "Keterangan ahli banyak yang tidak benar. Saya pertegas lagi, saya tertarik hanya kepada laki-laki, dulu, sekarang dan selamanya"

Rangkuman sidang super singkat 31/8/2016

Saksi ahli forensik dr BS. Berpendapat bahwa Otopsi adalah Golden Standart, namun kemudian berdasarkan apa yang dilihat di CCTV, gejala2 korban, maka menyimpulkan kematian korban sesuai dengan tanda-tanda keracunan Sianida. Dan yang aneh menurut TS, saat menjelaskan kenapa Thyosianat tidak ditemukan, beliau berteori bahwa thyosianat telah rusak karena adanya formalin sehingga tidak ditemukan, dan berdalih bahwa formalin tidak sampai ke lambung, hanya sampai di dinding lambung, sehingga sianida tidak hilang. Padahal, sesungguhnya thyosianat ini jauh lebih stabil zatnya daripada sianida yg sangat mudah menguap, ditambah lagi di lambung sianida bertemu dengan HCl, belum lagi kenyataan bahwa suhu jenazah sudah sama dengan suhu lingkungan, di mana sianida malah tambah gampang menghilang di suhu tersebut.

Rangkuman super singkat sidang 30/8/2016

Saksi 2 orang dokter yang ada di IGD saat itu di RSAW. Korban datang sudah dalam kondisi DOA (Death On Arrival). Pada korban sempat dilakukan resusitasi. Mulut korban kebiruan, kuku korban pucat. (Sekedar informasi, pada keracunan sianida, karena terbentuknya sianmethemoglobin akibat adanya sianida, akan memberikan warna pink pada lebam mayat, yang biasanya dapat dilihat pada daerah kuku, lebam mayat ini mulai timbul sekitar 15 menit - 30 menit setelah kematian).

Berita terkait http://www.solopos.com/2016/08/29/si...jessica-748477

Gak nyangka klo ternyata trit ini bisa 7 kali jadi Top Trit BP, lebih gak nyangka sampe ke part 1 emoticon-Malu

Dan terima kasih banyak utk Momod yang sudah bantu merubah Judul emoticon-Malu

Dan terima kasih juga utk agan2 pengunjung trit yang saling berdiskusi secara sehat sehingga isi trit menjadi menarik dan semoga menambah pengetahuan bagi agan2 lain yg mengikuti trit ini. Semuanya silahkan kembalikan kepada penilaian masing2, namun marilah kita jaga bersama supaya trit ini tetap sehat walafiat.

Bukti TT 1


Bukti TT 2


Bukti TT 3


Frequently Asked Question (FAQ)



Bagi yang baru membaca page one, sebenernya hanya sebagian kecil diskusi dari keseluruhan diskusi yang ada di trit ini, dan di page belakang, diskusinya sudah tidak berkaitan dengan judul trit ini lg, karena isinya berkaitan dengan berlangsungnya persidangan kasus kopi bersianida ini emoticon-Big Grin

Contoh, dari hasil diskusi di dalam trit ada bbrp yg TS angkut ke depan, sayangnya tidak semuanya bisa diangkut mengingat kapasitas terbatasnya page one, dapat dilihat di post ke 2 di bawah, ttg mekanisme kerja sianida, metabolisme sianida, dan SOP Olah TKP.

Update berita ada di post ke 3




Pengacara Jessica: Barista Terima Uang Rp 140 Juta dari Arief untuk Bunuh Mirna

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah seorang barista kafe Olivier yang bersaksi dalam persidangan kasus kematian Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna.

Hal itu diungkapkan salah satu kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan, pada sidang lanjutan untuk mengadili terdakwa dalam kasus itu, yaitu Jessica Kumala Wongso.

"Rangga itu mengaku sama dokter waktu diperiksa, dia juga mengiyakan kalau dia menerima transfer dari Arief untuk membunuh Mirna. Rangga mengiyakan dan itu ada dalam BAP (berita acara pemeriksaan) polisi. Kami bukan mengada-ngada," kata Otto pada Rabu (27/7/2016) malam.

Menurut Otto, dari data yang dia miliki, seseorang mengaku polisi sempat mendatangi kafe dan mencari orang yang namanya Rangga. Orang itu mengatakan bahwa Rangga adalah suruhan Arief untuk meracuni Mirna.

Sebagai imbalannya, Rangga ditransfer bayaran sebesar Rp 140 juta.

Saat mendengar keterangan seperti itu, anggota majelis hakim, Binsar Gultom, menanyakan langsung kepada Rangga yang hadir pada persidangan itu.

Rangga mengungkapkan, dia telah membantah pernyataan Otto dan sebelumnya sudah pernah melaporkan hal itu ke Jatanras Polda Metro Jaya atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Saya membantah, Yang Mulia. Kalau saya terima, saya sudah berhenti kerja," tutur Rangga.

Meski sudah dibantah, Otto bersikeras bahwa keterangan Rangga yang dia ucapkan tadi bukan keterangan palsu. Otto kembali menegaskan bahwa keterangan Rangga yang membenarkan menerima uang ratusan juta rupiah dari Arief untuk membunuh Mirna adalah valid.

Secara terpisah, Arief yang masih mengikuti jalannya persidangan juga membantah. Menurut Arief, dia belum pernah bertemu dengan Rangga sebelum di persidangan kasus pembunuhan istrinya.

"Enggak pernah (ketemu Rangga), enggak benar itu," ujar Arief.

Sidang untuk mengadili Jessica masih akan dilanjutkan pada Kamis (28/7/2016) besok dengan agenda pemeriksaan saksi dari kafe Olivier yang belum memberi keterangan pada sidang hari ini.

Sidang yang berlangsung sejak tadi pagi menghadirkan belasan saksi, termasuk Darmawan Salihin dan Hanie, selaku ayah dan teman Mirna.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2...campaign=Kknwp

Waaawwww saat2 injury time menjelang sidang ditutup ada info yg bikin panik sekelompok org kyknya nih emoticon-Hammer (S)

Taktik jitu dari pengacara si J emoticon-Big Grin

Dengan begini, klo hakim mau, hakim bisa minta bukti2 baru, dan mau tak mau, apa yg diminta sama pak hakim harus dipenuhi, jd walopun kinerja pak pol melempem, dan ada data2/bukti2 yg kurang karena dari awal terlanjur sudah fokus nuduh si J sehingga mengabaikan kemungkinan yg lain. Bisa diperbaiki lewat "celetukan" injury time ini.

Ada 2 hal sih yg perlu dilakukan utk membuktikan "isu" ini (yg seharusnya dikerjain pak pol dari awal kasus). Dan semoga itu yg terjadi nanti emoticon-Peace

Walopun hasilnya blom pasti sih, tp namanya penyelidikan itu, ya semua tersangka emg harus diperiksa, biar jelas.

-----------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------

Quote:Original Posted By pieceofcrap
OK, gue emang blm nonton full sidang yg baru2 ini. Gue cm baca2 artikel Kompas, jd ga tau yg di berita akurat ataw ga.

Mengenai otopsi. Ternyata comment gue di awal2, otopsi yg prosesnya dibawah 1 jam ga menyeluruh & ga akurat hasilnya, ternyata beneran terbukti. Dokter forensik mengaku TIDAK otopsi si Mirna. Cuma ambil lambung (tanpa dibuka & diperiksa stomach contents), hati, empedu & urine. Hasilnya cm di lambung terdapat sianida 0.2mg/L & yg lain bersih. Padahal buat kematian yg ga bisa dijelaskan sebabnya malah harus full otopsi & prosesnya bisa 2-4 jam, bahkan bisa lebih. Buat deteksi keracunan sianida ante mortem, biasanya darah, urine & cairan lambung (kalo racun masuk lewat oral) yg paling pertama diperiksa. Kalo post mortem, pemeriksaan yg lumayan lengkap di darah, lambung, hati, limpa, urine, jantung, otak.

Terus mengenai penjelasan knp di hati, empedu & urine knp ga ada konsentrasi sianida sama sekali gara2 proses metabolisme stop setelah 30menit krn si Mirn koit.... BWAHAHAHAHAHA. Ini bullshit. Gue udah pernah jelasin hal ini di post gue sebelumnya. Cara mekanisme sianida itu menempel ke iron-rich protein (zat besi) yg terdapat di sel darah merah. Lha sel darah merah itu apa ga didistribusikan ke seluruh tubuh & organ tiap kali jantung berdetak? Jd selama 30 menit si Mirna msh hidup, berapa kali tuh sel2 darah merah yg ditempeli ion CN bolak balik keluar masuk organ2 tubuh yg butuh oksigen? Silahkan hitung sendiri ye. 1 menit aja jantung bisa pompa sekitar 5 liter darah ke seluruh tubuh. Kalo detak jantung cepat, ya bisa lbh banyak lg. Tabel di bawah ini gue ambil dr buku. Situ bs cek sendiri hasil post mortem dr kasus2 cyanide poisoning yg pernah terjadi. Yg ga ada isinya ataw simbolnya --- berarti ga diperiksa. Cocokin hasil temuan konsentrasi sianida di organ & berapa lama korban bertahan hidup seblm akhirnya koit. Kalo emang si Mirna langsung mati detik itu jg ya berarti metabolisme stop, tp kenyataanya kan dia koitnya sejam lebih seabis minum VIC.

UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1hosting images

Terus mengenai pernyataan sianida yg dipakai bukan sianida murni. BWAHAHAHAHA. Sianida (kecuali HCN bentuk gas yg bisa 99.9% pure) yg beredar di pasaran, export, import, digunakan di mining industry, electroplating, pancing ikan, lab, dll, semuanya ga ada yg 100% murni. NaCN & KCN puritynya cuma 98%, sisanya bisa berupa Chloride, Hexacyanoferrate, Sulfide, Lead, Sodium Hydroxide, Sodium Carbonate & senyawa2 lain yg ga bs dilarutkan air, tergantung bahan2 & cara pembuatannya. Sianida yg puritynya lbh rendah dr 98% bisa dibikin sendiri, tp prosesnya ga segampang masak nasi & sangat2 berbahaya terutama kalo ga pake perlengkapan yg aman & pengetahuan kimianya minim.

Terus mengenai garuk2. Dalam keadaan kering, NaCN & KCN ga berbahaya (bener ini serius, swear!), tapi lembab sedikit aja langsung bereaksi & kalo di kulit, bukan gatal2nya yg hrs dikahwatirkan krn bs dibilas air banyak2, tp penyerapan yg hrs ditakuti. Sianida yg basah, terkena kulit bisa terserap melalui pori2 & menimbulkan gejala keracunan sampai bahkan koit (tergantung jumlah & daya serap). Kecuali kalo kulit yg bersentuhan dgn sianida itu super super dry, maka ga ada reaksi, tp keringat setetes aja bs bikin sianida aktif. Kalo emang si Jess garuk2 gara2 sianida, dia kan ikut ke Abdi W sampe malem tuh. Ada ga saksi yg lihat si Jess terus garuk2 selama dia di sana? Yg namanya gatel tuh maunya digaruk terus. LOL.

Terus masalah volume VIC yg ditelan si Mirna. KOK MALAH JADI PERCOBAAN SEDOT2AN? Kalo mau ukur volume yg akurat ya VIC sebelum si Mirna minum & sesudah diminum hrs diukur. Gimana sih? Ini malah asisten yg coba2 sedot. Yakin banget kalo yg diminum si Mirna 20ml. Pake ngomong "bila satu kali sedotan sekitar 5 mililiter hingga 10 ml baru sampai leher. Namun, dalam kasus Mirna, Nursamran menemukan 0,2 mg per liter sianida dalam lambung Mirna." Dosis obat batuk pilek demam, dll yg bentuk syrup buat anak2 umur 2.5-5 taon tuh rata2 5ml diminum 2-3 kali perhari. Kalo cm nyangkut di tenggorokan, gimana caranya tubuh nyerap obatnya? Biarpun minum obatnya ga pakai air putih setelahnya, pasti bs masuk ke lambung apalagi bisa dibantu dgn saliva.

Terus masalah prediksi jam brp si Jess tuang sianida ke VIC, gmn cara percobaan dilakukan? Apa persis seperti yg terjadi tgl 6 Jan sampe VIC dibawa ke labfor. Maksud gue suhu diperhitungkan, perpindahan wadah diperhitungkan, cara menyimpan VIC diperhitungkan, dll. Dan jg jumlah sianida yg diperkirakan diminum si Mirna pakai perhitungan yg complex. Kalo ada rumus yg akurat, gue jg mau tau nih. Toxicologist LN aja ngaku susah ukur konsentrasi sianida dlm darah kalo ga cepet2 diperiksa seabis korban terpapar ataw ditemukan jejak sianida di TKP, kok ini malah segitu gampangnya bisa tau si Mirna telan berapa banyak? Sifat half-life sianida yg cm 1 jam udah diperhitungkan? Kemampuan tubuh untuk menyerap sianida? Faktor2 lain yg bs bikin kadar sianida naik misal asap rokok? Kemampuan liver buat detoxifikasi sianida secara alami udah dicek? Kadar Thiocyanate di liver & urine udah diukur jg? Genius sekali yg bs menemukan formula ini.

Sampe di sini gue rasa cukup keanehan2 yg gue baca di Kompas. Gue yakin pasti ada lg keanehan tp sekarang enaknya masuk ke bagian pertanyaan yg timbul seabis baca berita.
1. Kenapa polkis cm "order" partial autopsy? Cm Lambung, hati, empedu & urine yg dianalisa.
2. Kalo ga salah, lambung ga dibuka. Bener apa ga nih? Kalo bener, apa alasannya?
3. Kenapa darah post mortem ga dianalisa?
4. Setau gue, papi si Mirna ini pernah bilang dia suruh dokter Abdi W pompa isi perut si Mirna spy dianalisa. Apa ini udah dilakukan? Hasilnya?
5. Gue yakin sewaktu di Abdi W, dokter sana pasti ambil darah si Mirna & dianalisa. Standar rutin di semua RS. Hasilnya?

Kenapa gue tanya ini? Ya karena buat deteksi keracunan sianida yg paling akurat ya lewat test darah. Mustinya darah diambil ante mortem & post mortem, diukur cyanide concentration di darah, apa jumlahnya 50-200mg (lethal dosis) atau lbh tinggi atau lbh rendah atau ga ada sama sekali? Alasannya kenapa, bg yg ga ngerti, plz baca lg mekanisame dr cyanide poisoning. Selama ini yg beredar di berita cm volume sianida di VIC & lambung. Itu aja. Ga pernah diberitakan tentang jumlah konsentrasi sianida dlm darah si Mirna. Dan dokter forensic & ahli toksikolog bisa ambil kesimpulan kalo si Mirna bener2 keracunan cm dr penemuan sianida di VIC & lambung, dicocokan ke CCTV? Pengalaman dokter forensic yg baru pertama kali periksa korban keracunan sianida & kesaksiannya sebagian besar hny dia dapatkan dr literatur yg dia pernah baca, ini jg jd tanda tanya kompetensinya. Kalo sampe di sini masih ada yg percaya ama bullshitnya polkis, yah... emang mereka satu species kali. Peace, brah!




Diubah oleh RyoEdogawa
0
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 501
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08

Autolock Thread by Hansip

Thread ini adalah thread lanjutan dari :
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
PEMERIKSAAN PADA KASUS KEMATIAN TIDAK WAJAR

Jika pada pemeriksaan luar dokter menemukan adanya luka, adanya bau yang mencurigakan dari mulut atau hidung, adanya tanda bekas suntikan tanpa riwayat berobat ke dokter, serta adanya tanda keracunan lainnya, maka kasusnya kemungkinan merupakan kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar dapat terjadi pada kematian akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus-kasus ini dokter sebaiknya hanya berpegang pada hasil pemeriksaan fisik dan analisisnya sendiri dan bisa mengabaikan anamnesis yang bertentangan dengan kesimpulannya. Biasanya pada kasus kematian tidak wajar, ada kecenderungan keluarga korban untuk membohongi dokter dengan mengatakan korban meninggal akibat sakit, karena malu (misalnya pada kasus bunuh diri, narkoba) atau karena mereka sendiri pelakunya (pada kasus penganiayaan anak, pembunuhan dalam keluarga) atau takut berurusan dengan polisi (pada kasus kecelakaan karena ceroboh).

Dokter Puskesmas yang menemukan kasus dengan dugaan kematian yang tidak wajar, berdasarkan Pasal 108 KUHAP, sebagai pegawai negeri (dokter PTT dianggap sebagai pegawai negeri) wajib melaporkan kasus tersebut ke polisi resort (polres) setempat. Pada kasus ini dokter Puskesmas TIDAK BOLEH memberikan surat Formulir A kepada keluarga korban dan mayat tersebut harus ditahan sampai proses polisi selesai dilaksanakan. Dokter Puskesmas sebaiknya tidak memberikan pernyataan mengenai penyebab kematian korban ini sebelum dilakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah.

Berdasarkan adanya laporan tersebut, penyidik berdasarkan pasal 133(1) KUHAP dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dengan mengirimkan suatu Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) jenazah kepada dokter tertentu.

Untuk daerah DKI Jakarta, pemeriksaan bedah jenazah umumnya dimintakan ke Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI/RSCM, akan tetapi pemeriksaan luar jenazah dapat dimintakan kepada Puskesmas dan Rumah Sakit manapun. Dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah bisa dokter yang melaporkan kematian tersebut, bisa juga dokter lainnya.

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah oleh penyidik WAJIB melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam SPV. Dokter yang secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jenazah yang diminta oleh penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan (pada kasus pidana) dan 6 bulan (pada kasus lainnya) berdasarkan Pasal 224 KUHP. Dengan demikian, seorang dokter Puskesmas yang mendapatkan SPV dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan jenazah WAJIB melaksanakan kewajibannya tersebut.

Segera setelah menerima SPV dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah tersebut. Jika pada SPV yang diminta adalah pemeriksaan bedah jenazah, maka dokter pada kesempatan pertama cuma perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediaannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berkewajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 2 x 24 jam sejak mayat dibawa ke dokter Selewat tenggang waktu tersebut, jika keluarga tidak ditemukan, maka dokter dapat langsung melaksanakan otopsi tanpa “izin” dari keluarga korban.

Pemeriksaan luar jenazah dalam rangka SPV dari penyidik harus dilakukan secara seksama, selengkap dan seteliti mungkin, dan bila dianggap perlu dilengkapi dengan sketsa atau foto luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban. Untuk mencegah kemungkinan adanya data yang terlewatkan, maka dokter yang melakukan pemeriksaan luar hendaknya berpedoman pada formulir laporan obduksi. Lihat formulir laporan obduksi dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI pada lampiran..

Jika pemeriksaan yang diminta oleh penyidik hanya pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) saja, maka setelah pemeriksaan luar selesai dilakukan, mayat dan Formulir A dapat langsung diserahkan kepada keluarga korban. Pada Formulir A tersebut, dokter harus menyatakan bahwa penyebab kematian korban “ tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah sesuai dengan permintaan penyidik”. Kesimpulannya harus demikian karena pada kematian yang tidak wajar berlaku ketentuan bahwa “penyebab kematian hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan dalam (otopsi atau bedah jenazah)”.

Jika penyidik meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dan keluarga korban tidak menyetujuinya, maka dokter Puskesmas wajib menjelaskan tujuan otopsi kepada keluarga korban. Dokter pada kesempatan tersebut hendaknya memberikan beberapa keterangan sebagai berikut:
Bahwa kewenangan meminta pemeriksaan dalam atau otopsi ada di tangan penyidik POLRI, berdasarkan Pasal 133(1) KUHAP.

Dokter yang diminta melakukan pemeriksaan jenazah hanya melaksanakan kewajiban hukum, sehingga setiap keberatan dari pihak keluarga hendaknya disampaikan sendiri ke penyidik yang mengirim SPV. Keputusan boleh tidaknya dilakukan pemeriksaan luar saja pada kasus ini, ada di tangan penyidik. Jika penyidik mengabulkan permohonan keluarga korban, kepada keluarga korban akan dititipkan surat pencabutan visum et repertum, untuk diserahkan kepada dokter yang akan melakukan pemeriksaan jenazah. Dalam hal ini, dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja.

Jika penyidik tidak menyetujui keberatan keluarga korban, maka keluarga korban masih mempunyai dua pilihan, yaitu menyetujui otopsi atau membawa pulang jenazah secara paksa (disebut Pulang Paksa) dengan segala konsekuensinya. Jika keluarga menyetujui otopsi, maka untuk kasus di DKI Jakarta, mayat akan dibawa ke RSCM untuk diotopsi.
Jika keluarga memilih pulang paksa, maka mereka baru boleh membawa pulang jenazah setelah menandatangani Surat Pulang Paksa. Surat Pulang Paksa merupakan surat yang menyatakan bahwa mayat dibawa pulang secara paksa oleh keluarga, sehingga tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah merupakan tanggung jawab keluarga korban dan bukan tanggung jawab dokter. Berdasarkan surat ini, maka keluarga korban yang menandatangani surat tersebut dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan karena menghalang-halangi pemeriksaan jenazah, berdasarkan Pasal 222 KUHP. Bagi dokter surat ini penting, karena merupakan surat yang mengalihkan beban tanggung jawab atas tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah dari dokter ke keluarga korban. Atas dasar itulah, maka surat ini harus disimpan baik-baik oleh dokter sebagai bukti pulang paksa, jika di kemudian hari penyidik menanyakan Visum et Repertum kasus ini ke dokter. Untuk amannya, pada kasus semacam ini dokter sebaiknya memberitahukan adanya pulang paksa ini ke penyidik yang mengirim SPV sesegera mungkin.

Dalam hal keluarga korban cenderung untuk memilih pulang paksa, maka dokter hendaknya menerangkan terlebih dahulu konsekuensi pulang paksa kepada keluarga korban, sebagai berikut :
Dokter tidak akan memberikan surat kematian (formulir A). Tanpa adanya surat formulir A, maka keluarga korban akan mengalami kesulitan saat akan mengangkut jenazah keluar kota/negeri, menyimpan jenazah di rumah duka atau saat akan mengubur atau melakukan kremasi di tempat kremasi/kuburan umum.
Karena tidak diberikan Formulir A, maka keluarga korban tak dapat mengurus Akte Kematian korban di kantor Catatan Sipil. Akte Kematian merupakan surat yang diperlukan untuk pengurusan berbagai masalah administrasi sipil, seperti pencoretan nama dari Kartu Keluarga, dasar pembagian warisan, pengurusan izin kimpoi lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, pengajuan klaim asuransi dsb.
Dokter tak akan melayani permintaan keterangan medis dalam rangka pengajuan klaim asuransi sehubungan dengan kematian korban.
Dokter tidak akan membuat Visum et Repertum, sehingga kasus tersebut tidak mungkin bisa dituntut di pengadilan.
Di kemudian hari mayat dapat digali kembali jika penyidik menganggap perlu dan jika hal itu dilakukan, maka biaya penggalian menjadi tanggungan pihak keluarga korban.
Keluarga yang membawa pulang mayat secara paksa dapat dikenakan sanksi pidana menghalang-halangi pemeriksaan jenazah berdasarkan Pasal 222 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.

Pada kasus kematian tidak wajar yang diotopsi, setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan dalam, mayat dan formulir A dapat segera diserahkan kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter hendaknya menuliskan penyebab kematian sesuai dengan kesimpulannya berdasarkan temuan otopsi. Dalam hal masih perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan sedangkan penyebab kematian belum dapat ditentukan, dokter hendaknya menulis penyebab kematian “belum dapat ditentukan”.

Jika terhadap mayat yang meninggal tidak wajar perlu dilakukan pengawetan jenazah, maka pengawetan baru boleh dilakukan setelah mayat selesai diperiksa sesuai dengan permintaan penyidik. Untuk kasus yang pulang paksa, pengawetan jenazah TIDAK BOLEH dilakukan, karena tindakan pengawetan jenazah dapat menyebabkan hilangnya banyak barang bukti biologis sehingga dapat menyulitkan penentuan penyebab kematian jika kemudian mayatnya digali lagi. Dokter yang nekad melakukan pengawetan pada kasus kematian tidak wajar sebelum proses polisi selesai, dapat dituntut oleh penyidik karena secara sengaja menghilangkan barang bukti dari suatu tindak pidana.

posted by AtmadjaDS,dr.SpF,SH,PhD,DFM http://pemeriksaanluarjenazah.blogsp...ian-tidak.html
Thanks to agan nightwalker7069


Fakta :
Yg menyarankan tempatnya di Cafe Olivier adalah H
Yg minta pesenin Vietnam Ice Cofee adalah si J
Bisa diliat di video di bawah ini, thanks to agan@Jabluk007 emoticon-Big Grin


Mengenai mekanisme kerja sianida

Quote:Original Posted By RyoEdogawa


Jadi sianida itu kerjanya di intraseluler (di dalam sel), yaitu di dalam mitokondria, terutama di komplek IV di sitokrom c oksidase (ini enzim). Komplek IV adalah komplek terakhir terjadinya transfer elektron dalam proses pembentukan energi (pembentukan ATP) pada rantai pernafasan.

Transfer elektron ini, bisa dibilang diwakili oleh Oksigen. Nah si sianida, menghalangi ikatan si Oksigen ini dengan sitokrom c oksidase. Sehingga oksigen tidak bisa diangkut. Padahal sel2 di tubuh kita ini sangat butuh oksigen.

Klo kita zooming out. Kita narik napas, oksigen masuk ke paru2, diangkut ke jantung trus diedarkan ke seluruh tubuh. Nah karena sianida, itu oksigen gak bisa masuk ke dalam sel, karena ikatannya tadi udah diganggu/dihambat. Akhirnya sel2 kehabisan oksigen, sel2nya mati demikian juga dgn organ/jaringannya, ikut mati.

Nah, sianida dosis letal itu maksudnya adalah dgn jumlah sianida segitu, efeknya sudah sistemik alias sudah kemana2 termasuk sudah sampe ke otak, ke jantung maupun ke paru2. Nah klo sel2 otak, sel2 jantung, dan atau sel2 paru2 udah diganggu angkutan oksigennya sama sianida, ya matilah otaknya, matilah jantungnya, matilah paru2nya, dan yg pasti matilah orangnya. Dan dosis letal ini efeknya cepet banget, cuma hitungan menit (semakin besar dosisnya ya semakin cepat). Kasarnya, dalam hitungan menit itu, sianida sudah lgs membuat sel2 di jantung, paru2 dan atau otak mati seketika.

Kira2 begitu Gan, semoga bisa dipahami emoticon-Peace



Mengenai metabolisme Sianida dalam tubuh

Quote:Original Posted By pieceofcrap


Fakta ilmiah:

Ketika sianida masuk ke dalam tubuh, sampai dgn 80% dr jumlah awal akan diubah menjadi Thiocyanate dlm proses detoxifikasi yg nantinya akan dikeluarkan lewat urine. Tubuh manusia yg mempunya liver yg sehat, mampu detox sianida di kecepatan rata2 0.017 mg/kg berat badan per menit. Sifat half life Thiocyanate jg jauh lbh lama dr sianida yg cm 1 jam. Thiocyanate mempunyai half life sekitar 2.7 hari di tubuh dgn fungsi ginjal yg sehat sampai sekitar 9 hari di tubuh dgn disfungsi ginjal.

Kesimpulan:

Ga ada Thiocyanate di hati & urine, berarti ga ada Cyanide yg masuk ke tubuh.


Bagi yang kepengen tau SOP olah TKP

Quote:Original Posted By ulatbulugatal


agak panjang nih gan yah,

prosedural SOP olah tempat kejadian perkara,



Sebelumnya, kami akan menyebutkan pengertian penyelidikan yang terdapat dalam Pasal 1 angka 5 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”), yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa dalam proses penyelidikan, belum tentu ada tindak pidana yang dilakukan.

Lain halnya dengan penyidikan. Menurut Pasal 1 angka 2 KUHAP, penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Artinya, dalam proses penyidikan sudah ditemukan suatu tindak pidana, namun tindak pidana tersebut perlu dibuat terang lagi dengan cara dicari atau dikumpulkannya bukti-bukti. Penjelasan selengkapnya dapat Anda simak dalam artikel Soal Penyidik, Penyelidik, Penyidikan, dan Penyelidikan.

Untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai adakah kaitannya olah TKP dengan penyelidikan, maka kita mengacu pada Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana(“Perkapolri 14/2012”).

Berdasarkan Pasal 12 ayat (1) Perkapolri 14/2012, kegiatan penyelidikan meliputi:
pengolahan TKP;
pengamatan (observasi);
wawancara (interview);
pembuntutan (surveillance);
penyamaran (under cover);
pelacakan (tracking); dan
penelitian dan analisis dokumen

Dari sini bisa kita ketahui bahwa salah satu kegiatan penyelidikan adalah pengolahan TKP. Jadi, menjawab pertanyaan Anda, pengolahan TKP itu memiliki keterkaitan dengan proses penyelidikan karena pengolahan TKP merupakan bagian dari proses penyelidikan.

Adapun kegiatan-kegiatan dalam pengolahan TKP itu meliputi (Pasal 24 huruf a Perkapolri 14/2012):
mencari dan mengumpulkan keterangan, petunjuk, barang bukti, identitas tersangka, dan saksi/korban untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya;
mencari hubungan antara saksi/korban, tersangka, dan barang bukti; dan
memperoleh gambaran modus operandi tindak pidana yang terjadi;

Ketentuan lain yang mengatur tentang Pengolahan TKP adalah Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Manajemen Penyidikan Oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (“Perkapolri 6/2010”) yang kami akses dari laman resmi Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Dari peraturan ini diketahui bahwa pihak yang berwenang melakukan pengolahan TKP bukan hanya Polri melainkan juga Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).

Dalam rangka pengolahan TKP, tindakan yang dilakukan oleh PPNS sebagai berikut [Pasal 20 ayat (1) Perkapolri 6/2010]:
a. mencari keterangan, petunjuk, barang bukti serta identitas tersangka dan korban maupun saksi untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya; dan
b. pencarian, pengambilan, pengumpulan, dan pengamanan barang bukti, yang dilakukan dengan metode tertentu atau bantuan teknis penyidikan seperti laboratorium forensik, identifikasi, kedokteran forensik, dan bidang ahli lainnya.
Selanjutnya dalam Pasal 20 ayat (2) Perkapolri 6/2010 dikatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh PPNS dalam pengolahan TKP dituangkan dalam berita acara pemeriksaan di TKP.

Sebagai contoh, kami akan menjelaskan mengenai pengolahan TKP untuk tidak pidana tertentu, yakni Tindak Pidana Pertambangan (Illegal Mining). Dalam sebuah Petunjuk Lapangan (Juklap) Badan Reserse Kriminal Polri Direktorat Tindak Pidana Tertentu, yakni Penanganan Tindak Pidana Pertambangan (Illegal Mining)yang kami akses dari laman resmi Humas Polri, dikatakan bahwa pengolahan TKP dilakukan oleh team olah TKP (Penyidik Polri, Badan Planologi, BPN, Dinas Pertambangan Kabupaten/Propinsi, Dinas Kehutanan Kabupaten/Propinsi), dengan disaksikan oleh orang yang berada di TKP khususnya orang yang melakukan kegiatan pertambangan ilegal.

Tindakan pengamanan di TKP dilakukan dengan menutup dan mengamankan TKP (mempertahankan status quo) dengan membuat batas/tanda garis polisi (police line) di TKP bila lokasi memungkinkan.Atau membuat tanda patok batas TKP yang didasari hasil pengambilan titik-titik koordinat (hal. 16).

Selain itu, dalam Juklap tersebut juga disebutkan mengenai tahapan tindakan penanganan di TKP, antara lain: melakukan pemotretan dengan maksud untuk mengabadikan situasi TKP termasuk keberadaan saksi-saksi, kegiatan/aktivitas pertambangan dan barang bukti yang berada di TKP dan untuk memberikan gambaran nyata tentang situasi dan kondisi TKP serta untuk membantu melengkapi kekurangan-kekurangan dalam pengolahan TKP termasuk kekurangan-kekurangan dalam pencatatan dan pembuatan sketsa, obyek pemotretan TKP secara keseluruhan dan berbagai sudut, detail atau close-up terhadap setiap obyek yang diperlukan untuk penyidikan; dan pembuatan sketsa TKP. Sketsa dibuat dengan maksud untuk menggambarkan TKP seteliti mungkin dan sebagai bahan untuk menggambarkan kondisi TKP pada saat dilakukan olah TKP (hal. 16-17).

SOURCE :
http://m.hukumonline.com/klinik/deta...hukum-olah-tkp










Update: Kurang tepat klo update kyknya, cuma merefresh aja kali yaaa. Dan karena persidangan sedang berjalan serta berkaitan dgn kesaksian pegawai cafe, gak ada salahnya kita kembali sebentar ke masa lalu emoticon-Peace

Awal2 kasus wa inget pernah baca berita ini, tp sampe skr wa gak tau siapa orgnya, dan karena dari awal pak pol udah "fokus" ke si J, wa berasumsi org ini pun luput dari pemeriksaan.

Sumber : http://m.okezone.com/read/2016/01/27...=utm_source=br

Depresi Kasus Pembunuhan Mirna, Pegawai Kafe Olivier Resign

JAKARTA - Banyaknya pemberitaan mengenai kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin (27) juga berdampak ke salah satu pegawai Kafe Olivier di West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Menurut pengakuan pegawai yang masih aktif bekerja di kafe itu, ada rekannya memilih resign dari Kafe Olivier. Alasannya, pegawai tersebut mendapat teguran dari atasannya karena memberikan pernyataan kepada media mengenai kasus Mirna.

"Dia depresi gara-gara pemberitaan di media yang pakai nama dia, jadinya dia ditegur sama atasan, akhirnya dia memilih untuk resign," ungkap seorang pegawai Kafe Olivier yang enggan disebut namanya kepada Okezone di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Penyebab lain dari depresinya sendiri adalah karena ada beberapa media yang mengutip penuturannya, namun menggunakan nama yang berbeda.

"Iya, kemarin ada lima media yang salah pakai namanya. Sampai beda-beda namanya, itu bikin dia kepikiran sampai depresi," ungkapnya.

Sebelumnya, Kafe Olivier berusaha menutupi alasan sesungguhnya mengapa ada salah satu rekan pegawai yang keluar dari sana. Bahkan, beberapa pegawai menyebutkan alasan resign dari rekan mereka tersebut adalah karena kinerjanya yang kurang bagus. (fmi)


0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Kejutan sidang tanggal 25 Agustus 2016

Surat Permintaan Visum (SPV) untuk korban yg dibacakan oleh Penasehat Hukum, ternyata Permintaan dilakukan Pemeriksaan Luar dan Dalam (Otopsi), dan bukan pengambilan sampel seperti fakta di kesaksian persidangan sebelumnya. Penasehat Hukum akan memanggil ahli forensik untuk memeriksa kebenaran isi SPV tersebut.

Thyosianat diakui oleh ahli toksikologi tidak ditemukan pada korban. Sang ahli berteori bahwa Thyosianat tersebut menghilang karena telah mengalami penguraian menjadi karbon monoksida dan lain-lain karena adanya mikrobiologi/mikoorganisme. TS pribadi sangat kagum sama mikroorganisme super tersebut, karena masih mampu bekerja keras membanting tulang padahal pada korban telah dilakukan embalming/pengawetan dengan menggunakan formalin. Dan padahal saksi ahli forensik sebelumnya pernah bersaksi, karena adanya proses pengawetan semua proses (pembusukan) terhenti.

Menurut laporan langsung dan pendengaran seorang kaskuser (gajah.tewur) melalui tipi kreditannya "karyawan ol***r memindahkan data dvr dari tanggal 1 sd tanggal sebelum kejadian ke suatu media/penyimpanan tersendiri, sedangkan data rekaman pada hari kejadian dipindahkan oleh karyawan ol***r ke flashdisk, dan kemudian flasdisk tsb yang disita ke poli ciandehlu". Kejutan yg ini blom dapat dipastikan kebenarannya karena didahului oleh kata2 ilustrasi oleh JPU.

Dan bagi sebagian penonton persidangan kali ini, setelah selesai mendengarkan kuliah dari saksi ahli hukum pidana, masing2 merasa telah merasa bergelar S.S.H.B.K.B (Sadar Suramnya Hukum Bikinan Kolonial Belanda). Ternyata kita masih dijajah sodara2 emoticon-Frown

Demikianlah laporan singkat sidang hari ini 25/8/2016

emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga




Quote:Original Posted By resi.betmen
klo boleh merangkum
1. apakah BENAR terjadi pembunuhan? --> belum pasti
ALASAN:


note: hasil uji lab di RS AW tidak dibuka oleh polisi. pdhl di RS AW pasti ada uji darah.


2. bagaimana proses pembunuhan dan dimana TKPnya? --> belum pasti
ALASAN:


note:
- CCTV kondisi kafe O pasca kejadian (terutama di pantry) tidak diperlihatkan oleh JPU.
- CCTV utuh saat kumpul2 M juga tdk diperlihatkan oleh JPU.
- apakah JPU mampu memperlihatkan gelas yg jd tempat minum kopi (brarti ada sidik jari M dan J)?
- apakah KUHP - tidak menjamin hak terdakwa utk menguji alat bukti????

3. J sangat mencurigakan --> subjektif krn dinilai stlh kejadian dan J dijadikan terdakwa.
ALASAN


note: mencurigakan/tidak umum bukan brarti kriminal.. meski bisa jadi dasar utk menyidik seseorang lbh lanjut (fokus mencari bukti terkait orang tsb). tp itu bukan alat buktinya sendiri.

mohon dikoreksi jika salah merangkum.






Krishna Murti Pastikan soal Uang Rp 140 Juta Tak Ada di BAP Rangga

Kamis, 28 Juli 2016 | 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Salah satu saksi dalam kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Rangga Dwi Saputra, disebut kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, mengaku didatangi polisi menerima uang Rp 140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna, untuk membunuh Mirna.

Menanggapi hal itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mengatakan, pernyataan Rangga itu saat diperiksa oleh tim psikiater.

"Tidak ada di BAP, jadi itu kan kami mem-profile semua potential suspect. Jadi salah satu caranya kami membawa ke psikiater. Itu adalah hasilnya, psikiater hasil dari curhatannya Rangga," ujar Krishna kepada Kompas.com, Kamis (28/7/2016).

Krishna menjelaskan, saat itu, yang mendatangi Rangga bukanlah orang yang mengaku polisi, melainkan seorang wartawan. Wartawan itu mendatangi Rangga untuk mengonfirmasi mengenai uang sebesar Rp 140 juta yang diterima dari Arief.

"Rangga curhat ke psikiater ada wartawan yang menuduh dia, datangi dia dan bilang Rangga dapet transferan dari Arief. Jadi itu curhatan Rangga di psikiater. Itu catatan medis dari psikiater," ucapnya.

Krishna mengungkapkan, pemeriksaan psikiater tidak hanya dilakukan pada Rangga, tetapi kepada semua potential suspect dalam kasus tersebut.

"Jadi itu bukan hanya Rangga yang kami bawa ke psikiater, yang lain juga kami periksa, kami profile, supaya untuk mencari tahu keterangan itu valid atau tidak," kata Krishna.

Sumber:http://www.tajuk.id/read/kompas/kris....di.bap.rangga

soktaudotcom mode on
Klo wa sih berharap, "misi" Otto utk membuat org lain terutama tim Hakim berpikir bahwa bisa saja kemungkinan pelakunya org lain dapat menjadi pertimbangan.

Tapi karena ini sidang Jessica, dimana tim hakim akan menilai apakah si J bersalah atau tidak, dan juga bukan kewajiban hakim mencari tau siapa pelaku sebenernya karena itu sudah di luar koridor persidangan. Maka kemungkinan yg disebut Otto, baru bisa ditangani lebih lanjut dengan serius apabila hasil sidang memutuskan bahwa si J tidak bersalah.

Dan wa pribadi, seandainya emg bener si J tidak bersalah nanti, akan memberikan informasi (bagi pihak yg membutuhkan) ttg kemungkinan2 bagaimana kasus ini bisa terjadi sehingga semoga bisa menuntun kepada pelaku sebenarnya. Karena setelah mengikuti persidangan, wa punya teori, namun teori itu perlu dibuktikan dengan data2 yg hanya bisa dikumpulkan oleh pihak berwenang. Apabila data2 tsb mendukung teori wa, maka pelakunya bisa ketahuan emoticon-Peace

soktaudotcom mode off





Reserved for Update 2

Mulai dari menit 65:40



Terima kasih kepada Agan Kondektur
Diubah oleh RyoEdogawa
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Rangkuman - update berkala

Quote:Original Posted By mrlullaby
1.Racun sianida bukan barang umum yang mudah didapat,jadi hanya orang dengan akses atau latar belakang tertentu yang bisa dapat dengan mudah,seharusnya bisa di cek di tempat tempat penjualan zat tersebut , apakah ada pembeli di luar ketentuan atau hal hal yang tidak wajar.
2.Pembunuhan dengan racun bukan hal spontan juga bukan hal yang mudah dilaksanakan,kalau referensi Detektif Conan , pencampuran racun harus dilakukan dengan sangat hati hati karena bisa saja racun tercecer dan malah balik mengenai pelaku atau malah salah sasaran ( yang minum kopi ternyata orang lain) dan barang bukti alias wadah penyimpan racunnya juga tidak bisa begitu saja disimpan atau dibuang kan ?
3.Dalam dosis rendah SIanida mampu membunuh dalam kurun waktu tertentu alias tidak langsung bereaksi goggling aja ,jadi seharusnya titik fokus bukan hanya saat di TKP melainkan ditarik 1-2 jam ke belakang seperti Mirna diantar oleh suaminya namun bisa datang berbarengan dengan Hani.kurang detail prosesnya.
4.Kesaksian atau referensi pihak cafe sangat memberatkan Jessica bahkan di rekaman nya pihak cafe yang wanita itu bisa dengan detail menceritakan setiap menit dan detiknya malahan kedua teman Mirna bisa salah mengingat dan memberikan keterangan yang bisa berbeda beda,pertanyaannya siapa wanita dari pihak cafe itu ? kenapa di media yang diekspos pelayan laki laki yang diinterogasi ?
5.Soal keterangan hasil interogasi yang berbeda menurut saya wajar karena daya ingat setiap orang berbeda beda jadi perlu komparasi dari setiap pernyataan,seperti apakah hani ikut mencicipi ? kalau ikut mencicipi harusnya ada reaksi sama seperti saat pegawai cafe yang ikut mencicipi atau meneteskan ke tangan saja bisa membuat kebas...lalu kapan tas / bag diletakkan dari penyajian kopi sampai mirna datang atau sudah dipindahkan sebelum kopi datang ? lalu siapa yang mendampingi mirna saat di mobil menuju rumah sakit ? di TV one jessica berkata Hani yang mendampingi tapi di kesempatan lain ada fakta bilang jesica yang mendampingi mirna ....
6.Selain CCTV sebenarnya kunci utama adalah dokter yang memeriksa mirna namun entah kenapa tidak ada keterangan bahwa dokter atau pihak rumah sakit diinterogasi atau apa hasil dari pemeriksaan awal mirna setelah dari cafe,karena dari keterangan dokter itu bisa didapat beberapa fakta akurat seperti apa penyebab pasti meninggalnya Mirna , apakah Hani sempat ikut diperiksa , bisa juga didapat reaksi spontan dari setiap orang yang ada saat itu di Rumah Sakit.
7.Dari awal semua mata seolah olah diarahkan pada satu situasi dimana jessica yang dicurigai termasuk soal bayar , pemilihan tempat dll menurut saya seperti disengaja,karena seharusnya Hani mendapat porsi yang sama dengan jesica karena berada bersama sama di TKP dan kalau memang penyebabnya kopi seharusnya dapat difokuskan titik titik yang masih tersisa residu racun tersebut dan pihak cafe seharusnya masuk dalam daftar calon tersangka karena bisa saja kelalaian menjadi penyebab kecelakaan tersebut , karena sianida bisa jadi terkandung dalam berbagai jenis bentuk.
8.Motif bukan hal utama dalam pembuktian,motif bisa diketahui belakangan walau tidak menutup kemungkinan motif bisa dikembangkan menjadi alasan menentukan tersangka,beberapa motif yang mungkin terjadi :
- Mirna mengurus salah satu perusahaan ayahnya,jadi siapa bilang ekonomi.harta tidak bisa menjadi motif bahkan keluarga terdekatnya bisa saja melakukannya .
- Motif asmara bisa jadi juga dapat dijadikan pertimbangan seperti hubungan sejenis,kecemburuan juga affair.Maka hani seharusnya lebih dapat dicurigai karena lebih dekat dengan suami mirna dibanding jesica bukan berarti saya menuduh hani namun saya hanya menguakkan apa yang bisa menjadi kemugkinan (Lihat Mirna datang dengan Hani dan dijelaskan Mirna diantar suaminya ,apakah termasuk Hani yang diantarkan?bisa dilihatkan kedekatannya)
- Motif persaingan usaha juga tidak bisa dikecilkan artinya bisa jadi dengan dalih mencemarkan nama cafe olivier lalu secara random dilakukan terhadap pengunjung dengan melibatkan pegawai cafe (kalau ini bisa memasukkan tris es batu seperti kasus Conan karena es kopi pasti tidak habis dalam sekali teguk) atau malah persaingan usaha dari perusahaan lawan bisnis keluarga Salihin.
9.Kesimpulan nya adalah kasus ini masih terlalu dini untuk diputuskan bahkan lambatnya penyelidikan menurut saya membuat pelaku kasus ini lebih leluasa membelokkan kejadian sebenarnya.Yang disayangkan adalah kalau kepolisian mebuat kesalahan namun tidak cukup beretika untuk mengakuinya malahan menggiring judgement kepada pihak yang lemah dan membuatnya menjadi tersangka(tidak sedikit kasus salah tangkap) atau malah salah memberikan laporan mengenai penyebab utama kematian Mirna.

Quote :
"Trik adalah puzzle yang dibuat manusia… jika manusia mau memeras otak, suatu saat pasti bisa mendapat jawaban yang logis…
(Shinichi Kudo)
"when you have eliminated the impossible,whatever remains,however improbable,must be the truth


0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Ayo2 kumpulin bukti2nya,
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Quote:Original Posted By RyoEdogawa
Reserved for Update 1


gan emoticon-Malu
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Ada bukti transfernya ya monggo
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Lah lah melengosnya kok ke pegawai cafe nih kasus, mana bapaknya mirna ngaku ga pegang rekaman cctv yg dulu sering dia bilang di media lagi. Apa pertanda win win solution kah?
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
jurus apa pula ini... canggih canggih...
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
lohhh naaahhh emoticon-Bingung
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
agak ganjil juga kalau rangga naro minuman buat bunuh mirna, secara yang pesen jessica. atau mau bunuh jessica, apa motifnya?
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:08
Hakim bisa minta bank buka data rekening si Rangga kan??

0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
reserved

Diubah oleh knight
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
Quote:Original Posted By unwell
agak ganjil juga kalau rangga naro minuman buat bunuh mirna, secara yang pesen jessica. atau mau bunuh jessica, apa motifnya?


Duit lah bro, aneh jga tuh si rangga
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
Quote:Original Posted By knight
Weleh beneran ada threadnya

Kentang gan bersambung besok sidangnya emoticon-Hammer


Iya Gan, makanya wa sediakan tempat buat update emoticon-Big Grin

Besok itu bener2 besok hari kamis 28 Juli, atau maksudnya besok dipersidangan selanjutnya (yg mungkin bisa seminggu mendatang)?

Quote:Original Posted By .koray.


gan emoticon-Malu


Alo Gan koray emoticon-Big Grin...

Akhirnya wa gak ditanyain villa lagi deh wkwkwk emoticon-Big Grin

0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
Quote:Original Posted By unwell
agak ganjil juga kalau rangga naro minuman buat bunuh mirna, secara yang pesen jessica. atau mau bunuh jessica, apa motifnya?


kenapa makin semrawut yah ini kasus emoticon-Bingung
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
Jgn2 ini pelornya bapaknya mirna emoticon-Big Grin
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
Dear pak hakim, bsk tolong summon dtektif conan kalau ga si sherlock ajaemoticon-Big Grin
Rumitnya kasus ni hadeh..
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
tinggal buka bukti trnsferan di rekening
0 0
0
UPDATE : Diskusi hasil persidangan kasus kopi maut - Part 1
25-08-2016 21:09
seiring berjalannya waktu, ada hal2 baru yg terungkap emoticon-Big Grin
semakin lama akan semakin menunjukkan kinerja plokis yg bobrok emoticon-Big Grin

khususnya ayah mirna tuh, ampe kejang2 td waktu ane nonton tipi emoticon-Ngakak (S)
ampe pengacara jess meminta hakim supaya ayah mirna dijauhkan dari para saksi emoticon-Ngakak (S)

harusnya para saksi khususnya rangga kudu di masukkan dlm perlindungan saksi emoticon-Big Grin

ada 2 hal baru,
ternyata sedotan gak ilang tapi dibuang oleh pelayan kafe.
ada isu rangga didatangi sesorang utk menanyakan duit 140 jt.

yg ane penasaran dan curiga ame si yohannes, kesaksiannya berbeda dgn rangga mengenai sedotan.
yohannes bilang sedotan udah gak ada saat di pantry, dan dia liat si devy memakai sedotan baru..
padahal rangga dan devy bilang sedotan msh ada, dan devy bilang sedotan dibuang ame pelayan kafe lainnya setelah ia mencicipin kopi itu.

hakim harus konsen pada hal2 yg tidak masuk akal, sehingga gak terpaku ame isi dakwaan jaksa.

yg ane heran itu, napa cctv kliatan buram??
pengacara harus jeli jg meliat hal ini, baiknya mengenai kualitas cctv harus dijadikan perhatian, misalnya manggil ahli cctv utk memeriksa cctv kafe itu.
0 0
0
Halaman 1 dari 501
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia