alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2865
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5779c713d675d4cd2a8b4571/18-based-on-going--reality-bias-bias-kegilaan
Aku Bila, cewek yang baru selesai puber dan mulai belajar tentang berbagai pandangan dalam hidup. Orang bilang ini proses kedewasaan. Mungkin itu berarti aku belajar dewasa dari segala kemanjaan yang ada. Mungkin kegilaan, aku dulu suka menyebutnya begitu.
Lapor Hansip
04-07-2016 09:16

Bias-Bias Kegilaan [18+ Based 'on going' Reality]

Past Hot Thread
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan img credit to : Agan awayaye~ Thanks emoticon-Kiss


Permisi, Momod dan Mimin. Izin share cerita sederhana dari kehidupan aku.

Salam Kenal Dan selamat kepoin trit aku ya agan sista. Kepoin kelanjutan cerita aja, jangan kepoin siapa dan apa dibalik kisah aku emoticon-Kiss
Sebelumnya aku ada curhat di Kaskus. Curhat tentang seorang "dia" yang aku cinta. Lama-lama kupikir, pasti menarik untuk coba share pengalaman pribadi dalam bentuk cerita. Cuma demi privasi, banyak hal seperti nama, plot, kondisi, 'n situasi yang aku samarkan. Mudah-mudahan bisa enjoy baca kisah yang bakal aku tulis, dan aku bisa komitmen update, biarpun aku belum tau ending-nya. Lah? Iya... sebab dia yang menginspirasi cerita aku ini belum bersama aku, dan hidupku masih berjalan.
Ambil hal positif, 'n dont try hal negatif-nya wherever u stand!

Enjoy!

emoticon-Toast


°I N D E X°




Quote:
Akunya Ada THREAD Lain Lohh...

- Prasangka Dalam Canda [CerBung - TAMAT]
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ndank83 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Halaman 1 dari 144
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 09:17

Readers Impression

Sebenernya masih banyak yang pengen aku masukin... berhubung karakter huruf nggak cukup... So Thanks Guys!!!

imoressions
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dayray dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 3 balasan
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 09:19

Ini Prolog

Aku Bila,  cewek 21 tahun yang baru selesai puber dan mulai belajar tentang berbagai pandangan dalam hidup. Orang bilang ini proses kedewasaan. Jika iya, mungkin itu berarti aku belajar dewasa dari segala kemanjaan yang ada. Mungkin kegilaan,  aku dulu suka menyebutnya begitu.
Sebenarnya semua ini lahir akan kisah tentang seorang cowok yang sudah dua tahun aku kenal, dimana untuknya hati ini sanggup menyemai benih sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku sampai pada level cinta. Pemuja rahasia,  dimana pada malam aku merindunya, pada siang aku mendamba dirinya.
Aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Kemewahan dari orang tua menuntun aku untuk menyombong. Membuat segala hubungan yang terjadi sebelum aku mengenal dia,  hanyalah kesenangan semata. Belum pernah aku merasa cinta,  yaa...  mungkin dulu aku menganggap segala nafsu dan hasrat itu cinta. Hasrat untuk dapat cowok keren,  atau paling famous dilingkungan sekitar,  mau itu sekolah,  additional course,  sampai ke sekedar lingkungan hang out. Dulu aku ratunya pacaran sistem "PHP". Aku berhura-hura dengan perasaan mereka para mantan.

Tapi sekarang?  Kehadiran dia yang membuat aku berada pada level rasa yang jauh lebih tinggi dari sekedar hasrat. Rasa yang mampu membunuh logika yang bermain dalam hidup,  merantai segala ego. Aku membuta akan cinta saat ini. Buta yang justru membuka mata hati,  dan merasakan lebih dalam tentang apa yang sudah terjadi dalam hidupku, dan segala sesuatu disekitarku. Cinta ku buta, tapi dia cahaya... Mungkinkah ini karma?  Atau alam sedang mengajarkan aku hal baru.  Who knows?

Cerita yang pada nyatanya belum ber-ending disini,  di hidup aku sampai detik aku memutuskan untuk coba menceritakannya kini. Mungkin karena itu aku mulai share dengan kembali ke hidup aku 5 tahun kebelakang. Mungkin ada pelajaran disana, positif maupun negatif...
Tentang "Dia"? Entahlah, akan sampai di episode ke berapa kehadiran "Dia"...  Semoga aku konsisten emoticon-Big Grin
Mari...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian990 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 1 balasan
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 09:22

1. Babak Baru, SMA World!

Seingatku saat itu pertengahan bulan Juni 2011, musim hujan. Seperti biasa, jadwal rutin saat bersekolah di SMP, pagi-pagi sekali mobil antar-jemput aku sudah melaju kerumah sahabatku sejak SD. Mereka si kembar Ana dan Ani. Tapi kali ini kami ke sebuah tempat baru, bangku belajar baru, guru baru, lingkungan Sekolah baru. Kami sudah SMA, yeay!
Walaupun yaah, Ospek melelahkan 2 hari lalu masih menghantui ego. Jiwa remaja, penuh ego nan pendendam. Kuberi tanda semua kakak kelas yang sudah tega humiliated aku dan sahabatku. Cewek ataupun cowok. Segala cara akan kulakukan sampai tanpa sanggup otak mereka menyadarinya, mencerna saat dendamku terbalaskan. Karena itu, aku sudah ada rencana dengan atau tanpa sahabatku.
Tapi... There is always some mistakes could be happen. Sebuah rencana balas dendam yang ternyata tanpa kusadari akan merubah hidup polos masa SMP aku, menjadi neraka kesenangan, drama, dan kegilaan remaja.

Dirumah Ana-Ani.
Aku membuka pintu belakang, lalu masuk ke seat disamping supir.
Ana berlari kecil mendekat, kasih "cipika-cipiki", lalu menutup pintu mobil depan, dan beranjak masuk ke seat belakang.
Ani yang baru selesai mengunci pagar menyusul masuk, dan mobil pun tancap gas.

"Udah baekan kamu, Bil?" kata Ani sambil memeluk aku dari belakang, bersama sandaran seat kursi depan sekalian emoticon-Big Grin

"Udah donk, fit and ready to rock!" kataku sambil elus-elus lengan Ani yang bersilang di badanku.

"I wonder... Kita bertiga satu kelas nggak ya?" Kata Ani dengan suara manja.

"Kayaknya iya deh, nilai rata-rata kita kan sama, beda koma doang." kata Ana.

"Iya, sama-sama pake otaknya kamu doang." Aku cekikikan sambil menoleh ke Ana.

Ana memang provider kita untuk jawaban soal-soal pelajaran. Demi apalagi kalo bukan untuk selalu sama-sama satu kelas. Ani dan aku tak sepintar dia, tapi juga tidak dibawah standar. Setidaknya 60-70% dari soal mampu kami atasi, sisanya, buah pikir Ana plus kebaikan dan kekompakan dia melempar contekan ke kami berdua.

Jika bukan karena rasa kebersamaan, IQ Ana yang mampu satu kelas dengan revolusioner kontroversial, Adolf Hitler, sudah membawa dia ke kasta yang berbeda. Yak, IQ dia hit di angka 138-140. Track record dia untuk IQ seperti itu sangat fantastis, hanya sepanjang SD juara umum. SMP? No! Dia terpisah kelas dari saudara kembarnya yang punya IQ minus 20-an dari dia. Kenaikan kelas dua? Dia sukses menjalankan program self downgrade yang paling konyol di dunia, dan satu kelas dengan kami. Persahabatan memang selalu indah dan konyol.

Di Sekolah.
"Kyaaaaa....! Kita satu kelas! Asek!" Suara jerit Ani dari HP yang ku loud speaker-kan. Begitu juga aku dan Ana yang berpelukan di kantin Sekolah setelah dapat info dari si Ani yang berkorban berdesakan ke papan pengumuman pembagian kelas.

"Kelas mana kita beb?" Kata Ana mendekatkan bibirnya ke HP yang kuletakkan dimeja.

"1A my dear! Diih, tau nggak? Si Arif yang rese kemarin satu kelas sama kita ding." Balas Ani.

"Yaelah... tuh anak yang sok kegantengan pas Ospek kemaren? Jijik aku." Balas mulutku mencibir habis figure Arif. Memang ganteng sih, tapi tidak dengan gayanya yang norak selangit.

Teng tong! Speaker sekolah mengalun, lalu suara super "cempreng" lantang memberi perintah.
"Anak-anak kelas I diharapkan berkumpul dilapangan, buat baris yang rapi sesuai Kelas kalian. Ada 4 kelas, artinya 4 barisan. Ada Pak Harahap yang mengatur barisan dilapangan!" Teng-Tong, kembali suara yang kelak jadi legendaris di memory kami itu, menandai berakhirnya seruan Guru Killer. Sebuah asumsi killer berasal dari suara "Cempreng" sang Ibu Guru yang kedepannya adalah benar.

Kami berbaris. Panas pagi cukup menyengat.

"I hate this." keluh Ani dibelakangku yang menunduk menyembunyikan muka dari sinar matahari dibalik badanku.
Ana mengekor dibelakangnya. Sementara aku yang paling depan? Crap! Arif baru masuk barisan, tepat disampingku. Dia melirik, lalu... Grin! Muka setan nan mesumnya keluar ditujukan ke aku. Sebalnya lagi, ada acara pindah tempat. Kemana lagi kalau bukan didepanku. Aku mundur, diikuti yang lain dibelakang.

"Psssst... Hei manis..." Cengir si Arif sambil menoleh kearah ku.

"Go hell, bangke..." Aku balas mencibir dengan bibir semonyong-monyongnya. Lalu dengan muka sebal aku menoleh kearah lain.

Dan... Tap! Tap! sesuatu yang agak keras menyundul dada kiri ku yang baru saja mau ranum, dua kali. Dua kali! The fu....
Saat itu aku ingin menjerit, mengadu ke Pak Guru di sana yang sedang mengatur barisan. Tapi... Emosiku menang telak dari rasa itu.

Plakkk! Plakk! Plakk! "Jaga sikut kamu ya!!" Telapak tangan ku dari samping-belakang mendarat tepat ditelinganya.

Awww... Awww... Awww...! Jerit Arif meringis, telinganya merah.
Kenapa Bila? Pak Guru Ngeliatin tuh... Ani buru-buru merangkul aku.

Mata Pak Guru awas. "Ehh... Kenapa itu ribut kalian!" Arif diam. Aku bungkam.
"Jangan ribut lagi, sudah besar-besar kalian itu, bukan lagi anak SMP. Jangan kalian bawa-bawa kelakuan SMP kalian." Warning Pak Guru.

Tapi... Ada sesuatu rasa tak terima. Dadaku pecah perawan! Aku sendiri saja risih dan absurd rasanya untuk menyentuh bagian depan ini tanpa alasan. Eh malah cowok tengik satu ini... Aku tahu dia sengaja!
Plakk! rasa tak puas dan tak akan puas aku tampar lagi telinganya. Tapi kali ini dia woles. Menoleh ke Aku dan lagi-lagi.... A snare!

"Sakit otak kamu! bisikku dengan nada amarah.

Hari pertama SMA yang super gila, karena orang gila dengan muka dan senyum mesum serupa setan. Hari pertama aku mengenal dan selalu berpikiran semua cowok itu "Mesum Biadab" hingga 5 tahun yang melelahkan kedepan....
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g.gowang. dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 09:34
Numpang bab dulu ya sist
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 09:35
Quote:Original Posted By discovered
Numpang bab dulu ya sist


Toilet disebelah gan emoticon-Ngakak
Diubah oleh anasabila
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 16:52

The Amber Hero

Suasana masih ribut. Guru belum hadir, 30 menit sudah berlalu. Aku duduk manis,  tangan melipat rapi diatas meja. Tapi jari tangan kanan sedang berduka atas rusaknya kesucian dada kiri ku. Ku elus bagian yang kini serasa rusak itu, berharap bisa tenang hati. Tapi otak runyam bukan main. Fokus pandangan aku dalam satu titik didepan pertanda aku sedang berkonsentrasi. Apalagi jika bukan mencari cara membalas dendam si Arif yang tanpa dosa sedang ngobrol dengan kawan barunya.

"Tenang beb,  mommy disini." Ani senyum coba kasih hiburan. Ani sering bilang gitu,  kebiasaan sedari SD,  tiap ada yang bersedih,  Ani yang jadi Mommy-nya.

"(Balik dari sini aku bakalan cari buku gimana cara membalas si Arif. Tapi apa ada buku setan kayak gitu ya.... )" hatiku berkata-kata merefleksikan buah pikir.

Plok.. Plok.. Suara sepatu Ibu guru muda,  masuk keruangan. Ibu Guru yang lumayan cantik, sayang bedaknya terlalu tebal. Keributan suara di kelas drastis menurun.

"Sikap,  beri salam." seorang cowok disudut sana mengambil inisiatif untuk mengambil komando.
"Selamat Siang Bu Guru." Sedikit kurang kompak,  karena semua hanya spontanitas.

"Selamat siang. Segar-segar semua wajah anak kelas unggulan ya. Semangatnya juga segar,  semoga nggak menurun nantinya." Kata si Ibu Guru, yang tak lama kemudian beliau menulis sebuah nama dipapan tulis.

"Kita perkenalan dulu. Mulai dari saya, itu nama saya, kakak kelas kalian biasa panggil saya Bu Naning. Saya mulai sekarang,  jadi Wali kelas kalian,  kelas I.A yang mana kalian disini sudah lolos dan  diseleksi dari hasil tes kemarin. Selamat,  kalian resmi berseragam putih -  abu-abu. Untuk perkenalan,  kita mulai dari sudut sini ya."

Dan begitulah,  kami maju kedepan dan memperkenalkan diri satu persatu. Sementara aku masih mengambang di perasaan kesal. Tanpa aku tahu, Arif berulah lagi.

"Nama Arif,  asal dari SMP Negeri 7. Hoby membaca dan menulis,  Cita-cita memberi yang terbaik buat cewek manis itu..." lantang tanpa beban,  tanpa ada rasa rakut ke Wali kelas baru.  Ditambah sebuah kiss bye yang memang ditujukan ke aku.

Sontak kelas ricuh,  semua menyoraki. Ibu Guru,  hanya tersenyum membiarkan. Mungkin dia membaca situasi dan karakter anak-anak didiknya yang baru.
Semakin membara amarahku. Jelas, dia target utamaku, lupakan sejenak kakak kelas yang habis-habisan mengusili kami semasa Ospek. Aku malu bukan main dijiadikan bulan-bulanan mesum.

"(Liat aja nanti kamu bakalan kubuat sengsara..)" geram. Terasa kedua sahabat mengelus pundakku,  meminta aku sabar.

Istirahat-Kantin Sekolah
Bel istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Aku, Ana-Ani sudah dikantin. Nge-gossip soal si Arif.  Jam 12 adalah istirahat pertama yang akan berlangsung 1 jam,  istirahat yang benar-benar panjang,  aku suka. Lalu akan ada istirahat kedua, pukul 14.30, selama 1 jam juga. Lalu jam 17.30 sore Sekolah bubar. Siklus ini terjadi dari hari Senin-Jum'at.
Sedangkan hari sabtu,  hanya setengah hari dari jam 7 pagi hingga ke jam 12 siang,  itupun untuk ekstra-kulikuler wajib, Renang 2 jam sampai pukul 9 pagi,  sisanya ekskul pilihan. Yeay!

Jam belajar yang lama?  Ya,  sebab ini Sekolah dengan embel-embel "Life-Skill" di Kota tempatku tinggal. Sekolah yang tergolong baru, karna memang baru menelurkan 2 Lulusan.

Dari pagi jam 7 sekolah sudah dimulai sampai ke batas Istirahat Pertama,  diisi dengan Mata Pelajaran Umum. Lalu mata pelajaran tambahan, English Conversation,  dan Aritmatika Sempoa, hingga jam Istirahat Kedua. Lalu dilanjutkan dengan mata pelajaran "Life-Skill", yaitu mata pelajaran Komputer,  Bahasa Pemrograman Dasar, yang terakhir mata pelajaran Agama tambahan sesuai dengan keyakinan masing-masing siswa.

Ya bukan bermaksud menyombong, Sekolah ini menawarkan pelajaran plus-plus dan fasilitas mewah seperti full AC, makan siang free ala franchise. Juga fasilitas Olahraga yang cukup termasuk Kolam Renang semi indoor dan Lapangan Badminton/Tenis Meja dilantai atas, Lapangan Volley, dan Basket di belakang sekolah. Bayaran Sekolah?  Tak usah dibahas.  Urusan orang tuaku. Walau sekarang, dewasa ini jika kupikir nilai yang cukup fantastis untuk sebuah Sekolah.

"Maniis..." suara brengsek itu lagi. Arif.

"Eh setan,  nggak usah deket-deket ya." bentakku sambil isyarat mau melempar sendok makan.

"Hey Bila... Wahh masuk Sekolah sini juga rupanya." Muncul satu cowok, dia keren, besar dan tinggi, ehem. Tapi aku tak kenal. Tapi kenapa dia sok kenal?

"Eh...  disini juga ya. Cieee... Kemana aja si Bila pasti kamu kejar ya." Lebih kaget lagi, Ana membalas seperti kenal. Huh?
Cowok keren itu mendekat dan mengobrol, tanpa sadar si Arif sudah menjauh. Aku dan Ani melongo melihat Ana yang sangat Akrab dengan si cowok keren

"Thanks ya..." Kata Ana yang tiba-tiba berhenti dari topik tak jelas yang mereka bahas 1-2 menit. Matanya melirik Arif yang sudah jauh.

"Its okay,  kapan aja kalian diganggu lagi, "Ping" aja aku."
Itu cowok menuliskan kombinasi huruf dan angka dengan menggoreskan meja memakai garpu.
Aku baru sadar yang tadi itu drama penyelamatan,  setelah aku sadar yang ditulis cowok itu dimeja adalah Pin BB. Begonya aku.

"Thanks ya,  aku Bila." kusodorkan tangan.

"Aku Ron." dia menyalami tanganku. But Eh....  ada yang aneh.

Sebelumnya aku dan dia tak sempat saling tatap saat drama singkat tadi terjadi.  Tapi saat aku menyalami dia,  mata kami bertemu... Matanya pakai kontak lens? Tidak!
Dang!  Amber? Nyaris! Pupil matanya coklat pudar nyaris kuning. Pertama kali aku lihat mata amber atau setidaknya amber wannabe secara live gitu. Dan satu lagi, sekilas rambutnya hitam,  tapi dipangkal agak sedikit pirang, begitu juga alisnya. Artinya nih cowok rambutnya disemir hitam. Face oriental, walau lebih ke Asia. Keturunan ras kaukasoid? sudah pasti.

Dling... Suara khas notifikasi BBM dari HP si Ron. Sekejap ada senyum dari Ron saat menatap layar HP,  lalu melirik si kembar.

"Yang mana yang add?" Ramah si Ron bertanya.

"Aku. itu aku... Nama aku Ani." Terlihat muka nafsu si Ani. Untung nggak netes liurnya.

"Satunya,  Ana... Right?" balas si Ron. Senyumnya emang deadly!

Teeeetttt...! Bel berbunyi,  tanda istirahat selesai.

"Okay, see u next charlie angels." Kata Ron berlalu. Sempat mungkin sekian detik matanya kembali bertemu dengan mataku.

Dang that eyes! Just by those amber eyes,  he clearly succeed in flirting us,  without such a word...
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian990 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 17:37
Wah ada yang baru ntapz emoticon-Leh Uga nyok dilanjut sis bila emoticon-Genit
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 17:49
ijin bangun apartemen sist emoticon-Big Grin
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 17:50
dopost emoticon-Marah
Diubah oleh pempektunu69
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 17:53
kenapa suka bener pake ++?

ga boleh ++ seharusnya cerita cerita disfth
biasakan kalau mau nulis cerita baca dulu rules napa emoticon-Cape deeehh
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 18:15
nongkrong dulu

salken sis emoticon-Salaman
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 18:40
Quote:Original Posted By akusangatkepo
Wah ada yang baru ntapz emoticon-Leh Uga nyok dilanjut sis bila emoticon-Genit

Salken gan, makasih ya emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By pempektunu69
ijin bangun apartemen sist emoticon-Big Grin

Masih lebar kok gan, sekalian sama lapangan bolanya emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By jangkrikgokil
nongkrong dulu

salken sis emoticon-Salaman


Salken gan, makasih, moga betah emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By lushen02
kenapa suka bener pake ++?

ga boleh ++ seharusnya cerita cerita disfth
biasakan kalau mau nulis cerita baca dulu rules napa emoticon-Cape deeehh


Maaf sebelumnya kalo emang salah ya gan, akunya open mind ajah kalo mimin n momon mau nindak emoticon-Smilie

Why pake ++?
Karen kalau pakai tulisan kebijakan pembaca disarankan, bisa kepanjangan judulnya gan emoticon-Big Grin
Kita semua tau jaman udah maju, anak SD aja udah ngaskus emoticon-Ngakak

Ya setidaknya sebagai yg bikin trit, udah berusaha untuk ngingetin pembaca kalo ini layaknya dibaca 18+ (bagi yg piktor, mungkin langsung kemana arahnya) emoticon-Smilie

Anak dibawah itu ga baek baca cinta2an gan, sekalipun nggak ada erotisnya. emoticon-Big Grin

Vulgar maybe, erotic atau sampe porn, nggak banget gan...
kalo masih ada salah, mohon ditegur emoticon-Big Grin
Diubah oleh anasabila
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
04-07-2016 18:43

Sesuatu yang Private

Pukul 4 sore. Hari ini dipenuhi perkenalan. Kami dipandu mengelilingi gedung Sekolah yang berlantai 5,  dan diperkenalkan dengan 48 ruang yang ada, termasuk ruang semi indoor diatas.

Aku beriringan bersama Ana,  sedangkan Ani, dia sudah bagai terkena glue dari si Amber Hero,  Ron. Mereka berdua cepat akrab dan sangat menikmati percakapan sepertinya.

Beruntung sekali Arif menjaga jarak,  itu karena Ron ada didekat kami.  Yaa... Arif sudah menjadi momok di pikiranku. Tak akan puas hati ini, sampai suatu hari aku bertekad dia rela menangis didepan umum. Akan kupersiapkan hari itu sejak sekarang.

Dling... Notifikasi BBM. Aku mengecek HP, ada chat dari Ryan. Dia pacar pertama yang sudah putus dariku beberapa bulan lalu. Aku yang meminta putus karena mau fokus ke ujian kelulusan SMP. Ryan sebenarnya tak terima, karena itu sampai sekarang dia tetap bersikukuh menghubungi dan sering mencari kesempatan untuk meminta aku kembali.

"Gimana skulnya tadi hun?"

"Ini masih di skul kok."

"Wew, lama ya."

"Iya... Emang jam 1/2 enam baliknya. Tapi sabtu minggu libur."

"Wenaaakk sabtu libur... "

"Aku lanjut dulu ya, nanti kena marah main HP."

"Oke sayang."
Kututup HP. Sedikit miris memang si Ryan. Masih juga panggil aku dengan bahasa begitu. Tapi aku belum terlalu tega untuk mengingatkannya. Kemungkinan aku tak ingin kembali berpacaran. Sementara aku mau menikmati masa SMA dengan sahabatku. Yaa... mungkin pelan-pelan Ryan akan menyerah sendiri, yang jelas aku tak boleh kasar. Aku tak ingin dibenci dan membuat situasi malah jadi runyam.

Jalan-jalan keliling Sekolah usai. Ana sibuk mencatat jadwal. Ani hanya memperhatikan.

"Cieeee.... yang udah deket sama cowok keren." aku menggoda Ani.

"Apaan sih... kan cuma temen, asyik aja ngobrol sama dia."

"Emang dia dikelas mana?"

"Katanya sih 1.C" Jawab Ani.

"Ehemmm... Bantuin aku catetin jadwal dong, jangan cowok aja yang kalian peduliin."
Aku dan ani tertawa.

Dling... BBM lagi. Dari Mbak Mira, dia pacar abang sepupuku. Dia baru membalas BBM tentang sesuatu yang kutanyakan siang tadi.

"Dek Bila, ada banyak buku kayak gitu. Mbak nggak bisa rekomen, tapi kalo kamu lagi cari buku yang tipis aja, ada 3 judul kalo nggak salah. Buku saku doang, tapi lumayan kena isinya."

"Oke, makasih banyak ya Mbak Mira, 'N please jaga rahasia, jagan kasih tau bang Alex ya :* "

" Iya sayang..."

Rasanya sudah tak sabar kunanti jam pulang, lalu pergi ke toko buku. Ada sesuatu yang sedang kucari, ini terkait rencana balas dendamku. Beruntung kata Mbak Mira ada benda dengan spesifikasi yag kucari. Maklum, Mbak Mira kerja sebagai Admin pendata buku disebuah toko buku raksasa. Dia memang sudah terbiasa jadi sumber informasi jika keluarga kami mencari suatu buku.

Sejenak kuperhatikan si Arif, entah kenapa sejak jam istirahat tadi dia mendadak jaga jarak. Karena Ron? Why? Ahh mungkin dia hanya segan, atau takut karena badan Ron tinggi besar? Entahlah bagaimana pikiran mereka para cowok. Seperti kucing garong yang pipis sembarang tempat buat menandai territory mereka. Lalu Si Arif berfikir Ron sudah lama kenal kami jadi kami diluar territory-nya, tak mau rebutan territory, atau gimana kah?
Atau memang Arif sudah kenal Ron? Entahlah.

Bel tanda pulang berbunyi. Aku girang bukan main. Bersemangat untuk ke toko buku.
Setelah bubar sekolah, aku mengantar Ana-Ani pulang.

"See u next ya beb." Kata Ana,  dia memberikan cipika-cipiki yang sudah jadi kebiasaannya setiap hari, selama bertahun-tahun, setiap bertemu dan berpisah.

"Oke,  nanti aku ada kejutan yaa..."

"Huuuhh... Oke deeh,  jangan sampe copot jantung aja kitanya." Balas Ani.

Mobil melaju arah pulang. aku sedang berpikir mencari alasan untuk ke toko buku.

"Pak,  tolong anterin Bila ke Mall bentar dong...."

"Nggak besok aja, Bila? Tadi kata kalian Sabtu libur."

"Besok?  Tapi mendadak Pak,  gawat darurat ini."

"Udah izin sama Mama?"

" Hehe... Bilang aja aku mau beli sesuatu...."

"Haha...  Ohh...  Ngerti,  tapi di mini market kan ada."

"Sesuatu yang lebih dalem,  Pak. Jangan ditanya deh..."

"Siap. Siap... Paham. Haha.."

Mobil pun putar arah menuju pusat kota. Aku semakin tak sabar. Akan kudapatkan benda itu, semoga sesuai harapan.

Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian990 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 02:18

Sinetron (Spesial Part buat aku)

"Sinetron"


Hujan.
Aku berdiri di Halte. Terjebak hujan saat ingin kembali ke mobil yang parkir di mall 20 meter di depan sana. Seperti biasa, aku si tukang kibul baru saja mengelabui supir.  Kukatakan jika aku hendak ke Mall di depan sana. Masuk Mall dari depan,  keluar dari pintu belakang, lalu masuk ke toko buku sekitar 10 meter dibelakang halte.

Si Pak Darman,  Supirku yang sudah mengabdi untuk bekerja ikut Papa sejak belum menikahi Mama. Awalnya Pak Darman supir di Usaha Kuliner Papa, namun beliau sempat terkena penyakit cacar dan terpaksa meliburkan diri 10 hari,  diluar izin istirahat sakit. Tanpa sepengetahuan Papa, Pak Darman dipecat oleh Manajemen. Karena surat dari dokter hanya sanggup memberikan dia izin istirahat sakit selama 8 hari. Tragisnya,  cacar yang mendera Pak Darman cukup parah.
Karena itu Pak Darman nekat datang kerumah keluarga Papa, tubuhnya saat itu belum fit,  datang bersama istrinya yang menggandeng anak kecil,  dan menggendong seorang bayi. Itu kondisinya jika ku kenang cerita Papa.
Saat itu Pak Darman memohon untuk tidak dipecat.  Karena iba,  Papa mengajak Pak Darman untuk jadi Supir Pribadi. Bahkan dengan gaji lebih besar dari sebelumnya.  Love you Papa emoticon-Kiss

Karena sudah kadung makan jasa,  begitu kata Pak Darman,  dia tak sudi berpaling dari keluarga kami. Ikatan tumbuh,  dan dia sudah seperti Paman buat aku. Bahkan,  setelah aku masuk sekolah,  Pak Darman ditugaskan untuk jadi Supir Pribadiku, dan Papa meng-hire Supir baru untuknya. Kenapa? Sebab ikatan yang tulus itulah yang membuat Papa percaya,  menyerahkan urusan antar-jemput aku si anak tunggal tersayang kepada Pak Darman daripada mencarikan Supir baru untukku.

Jadi apa hubungannya harus mengelabui Pak Darman untuk ke toko buku? Yak,  karena sudah seperti Paman,  dan beliau sudah menganggap aku seperti Keponakan,  membuat Pak Darman menerapkan hukum yang sama dengan rules dari Papa yang super disiplin. Salah satunya? Aku dilarang ke toko buku sendirian! Aneh? Dimasa remaja kupikir iya,  sungguh aneh dan konyol.

Alasan Papa sangat simple sebenarnya,  dan itu hanya karena Papa sangat memperhatikan perkembangan aku. Di toko buku memang gudang ilmu komersial. Tapi bagi Papa disana banyak bacaan yang benar-benar dilarangnya untuk dibaca,  Komik! Aku tak tau mengapa. Papa tak pernah menjelaskan alasannya.

Tapi kini jika kunilai, larangan Papa mungkin ada benarnya,  petuah orang tua? Sebab, buku bersampul putih nan mungil yang baru kubeli dan kusembunyikan di balik bra mungilku adalah buku yang kelak memanduku ke neraka para remaja... Hanya aku tak akan menyadarinya hingga setidaknya 3-4 tahun kedepan.

Angin cukup kencang,  jelas kulihat arak-arakan butiran air menggelombang diudara sebelum menumpahi jalan. Titik air tampias cukup membuatku merasa lemab,  dan dingin. Dan dimulai hal menjengkelkan,  aku bersin-bersin. Sial...
Ku kucek-kucek hidungku dengan saputangan.

"(Ojek payung mana ya?)" keluhku dalam hati.

Sebuah motor ngebut dari kejauhan berhenti di depan halte. Motor yang kiri dan kanannya terdapat Bag besar dari bahan kanvas tebal. Seorang cowok turun, lalu menarik plastik transparan besar untuk menutupi bag itu. Bag Cover anti hujan emoticon-Big Grin

Si cowok tak peduli badannya sudah kuyup. Setelah selesai melapisi bag,  dia naik ke halte. Dibuka helmnya. Tampak wajah cowok itu berkulit kuning langsat,  berkacamata. Dia membuka kacamatanya, lalu susah payah membersihkan kacamatanya dengan jari yang basah. Bajunya basah,  celananya basah,  dia seolah tak ada pilihan. Lalu menoleh kearahku yang sedang duduk. Matanya tertuju sesuatu yang ku genggam.

"Maaf mbak,  ada tissue? Boleh mbak tolong bagi selembar, aku beli kalau perlu."

"(Gilee,  jelas aku pakai seragam sekolah,  dan muka imut ini... Setua itukah aku dipanggil Mbak?)" gerutuku dalam hati.

"Sorry ya mas,  aku nggak bawa tissue. Ini sapu tangan mas." Aku menunjukkan saputangan kecil yang kugenggam. Aku tau dia mungkin berpikir jika saputangan ini adalah tissue.

"Kalau kertas Mbak?"
(Masih juga panggil mbak nih cowok) emoticon-Berduka (S):

"Nggak ada juga mas,  tas aku ditinggal dimobil." (Bisa saja kusobek halaman daftar isi dari buku kecil yang baru kubeli,  tapi buku itu sedang nyaman dan hangat dibalik bra)._.
"(Wait.. Aku keceplosan,  harusnya aku nggak boleh mencolok di tempat umum saat sendirian,  begitu pesan Papa. Gimana kalau itu cowok tiba-tiba nodong aku?)"

Si cowok mulai mendekat, kugenggam erat dompet berisi HP dan sejumlah uang di tangan kananku, aku mulai takut. (Ngapain dia deket-deket?)

"Mbak aku beli aja saputangannya. Please mbak,  aku harus antar paket. Kacamata aku basah beneran. Mungkin mbak nggak tau,  tapi sumpah mbak, mata aku minus 3,5. Beneran meraba mbak kalo nggak pakai kacamata hujan-hujan gini." Si cowok senyum memelas. Disodorkan uang 25 ribu ke aku.

"Mas bukan aku nggak mau bantu,  aku lagi pilek loh.  Ngertilah mas saputangannya kotor." (Ogah,  ingus aku meler-meler udah di saputangan ini).

"Biarin mbak,  yang penting masih ada keringnya." Wajahnya super melas.
(Aku galau lihat muka si mas ini)._.

"Kita nggak kenal juga mbak,  nggak usah malu kalau ada ingusnya."
(Sialan,  vulgar bener ini cowok)!

Dengan penuh kerelaan,  kepasrahan,  dan coba menahan malu dalam keraguan tak berbatas,  aku menyodorkan saputanganku.  Sumringah,  merekah,  cerah seketika wajah si cowok.
Aku berpaling malu saat ia memilah-milah posisi kering disaputangan itu,  lalu mulai membersihkan kacamatanya.

Selasai itu,  kulihat ia mengantongi saputanganku,  tanpa jijik!
Si cowok bergegas ke motor,  ia mengambil obeng,  lalu kembali ke halte. Tampak ia sangat terburu-buru.

Aku tak begitu paham apa yang dia kerjakan,  tapi sepertinya kaca helm-nya stuck, tak bisa turun. Setelah bongkar ini dan itu,  dia memakai helm-nya,  dan testing naik-turun kaca helm. Sukses sepertinya.

Dia berpaling ke aku, yang masih malu perihal saputangan.

"Ini mbak,  aku cuma ada segini. Beneran." dia sodorkan pecahan duit yang nominalnya diatas sebelumnya,  entah berapa,  mungkin diatas Rp50k.

"Eh... Nggak usah mas,  aku yang nggak enak kasih saputangan kotor."

"Nnggg... Mbak kehujanan ya? Mobilnya parkir dimana?"

"Di depan Mall sana,  mas..." Jawabku setelah anggukan kepala.

Pria itu menuju motor lagi,  mengambil sesuatu dibalik jok motornya.

"Ini Mbak,  jas hujan, pakai aja,  nanti aku antar ke mobilnya."
Ragu-ragu kuterima jas hujan yang super gede itu.


"Nggak usah takut mbak,  pasti kuantar ke mobil,  bukan kuculik." ia tersenyum tulus.

"Sorry mas,  bukan itu,  tapi aku bisa dimarahin kalo diantar stranger.  Maksud aku orang asing. Ada supir aku nunggu di mobil soalnya."

"Oh,  ok.  Kalau gitu Mbak bawa aja jasnya,  nggak masalah. Mbak udah bantu aku juga."

"Beneran nih mas?"

"Iya... makasih banyak loh Mbak,  aku cabut duluan." katanya terburu-buru kembali ke motor.

"Nama Mbak siapa? Kalo boleh tau?" Teriaknya yang samar terdengar oleh derasnya cucurann hujan dan deru angin.

"Aku Bila,  jangan panggil Mbak kali Mas..." Balasku teriak juga.

"Oke maaf, Bila ya... Makasih banyak sekali lagi Bila."

Pemuda itu menancap gas menembus kabut air,  tanpa sempat aku tanyakan namanya emoticon-Smilie

Aku bergegas ke Mall berbekal jas hujan tadi. Kusempatkan mampir ke toko pakaian dalam,  kutarik beberapa sheet celana dalam,  lalu segera membayar ke kasir. Aku memang bilang mau membeli pakaian dalam,  karena itu Pak Darman pasti mengerti privasi cewek dan tak mengawalku ke Mall.

Lalu aku berlarian menuju area parkir.  Seperti biasa,  Pak Darman selonjoran di kursi depan.  Kuketuk kaca,  Pak Darman segera bangun dan membuka pintu belakang. Mobil melaju keluar area parkir. 

Sempat mata aku memandang sebuah jas hujan berwarna green army, terhampir di tiang tangga stainless, di depan Mall. Aku tak punya pilihan,  aku harus membuang jas hujan itu. Seingatku,  tanpa alasan jelas, entah mengapa jika memang cukup lama jas hujan itu kupandangi sampai hilang dari sudut pandang kaca mobil, lalu ia terlupakan.

Tanpa kusadari, jika 5 tahun kedepan,  yaitu real time kini,  aku bercucuran airmata,  berharap mampu kembali ke masa lalu, akan kubawa Jas Hujan lusuh itu walau harus dimarahi karena menerima barang dari orang asing.
Lalu akan kupajang dikamarku, didalam lemari kaca, dengan ukiran kayu terbaik dan termahal, walau andaikata itu dapat menghabiskan seluruh tabunganku kini sekalipun,  aku lebih dari sekedar sudi untuk melakukannya....
emoticon-Frown emoticon-Frown emoticon-Frown

Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrian990 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 03:07
Quote:Original Posted By anasabila

Salken gan, makasih ya emoticon-Big Grin




Salken juga sis emoticon-Big Grin sip dah lanjut lg sis. pengen tau mau dibales apa si arif, semoga gak di mutilasi si arifnya emoticon-Wakaka
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 03:12
nenda ya gan emoticon-Malu
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 04:02
Orang tamvan numpang mejeng sist emoticon-Betty emoticon-Ngakak
Diubah oleh akutamvan7
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 04:33
Masih anget numpang rebahan ya gan emoticon-Ngakak
0 0
0
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 04:54
ciamikkk sist..emoticon-Belo semangat update ya emoticon-Betty
profile-picture
salebbo memberi reputasi
0 1
-1
[18+ Based 'on going' Reality] Bias-Bias Kegilaan
05-07-2016 13:33
Quote:Original Posted By anasabila


Aku lebih sadis dari itu loh gan emoticon-Malu (S)




Kanibal gitu sis? emoticon-Takut udh mutilasi dimakan emoticon-Wkwkwk

0 0
0
Halaman 1 dari 144
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
jangan-panggil-aku-ibu
Stories from the Heart
istri-tua-vs-istri-muda
Stories from the Heart
cinta-dalam-penyesalan
Stories from the Heart
madu-yang-beracun
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.