alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.33 stars - based on 6 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/57510234c1d770280a8b456a/hes-my-doctor
Lapor Hansip
03-06-2016 11:06
[TAMAT] He's My Doctor!
Past Hot Thread
Quote:Aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu?

Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

-0o0-

Rafa : Pak Atteeepp tolonggg! Tolloongg! Pak Ateeepppp!!! (teriakku)
Ayah : Kamu juga Rafa, berisik! Daritadi suara kamu saja yang paling kencang. Siapa pula itu Pak Atep?
Rafa : He he he, iya maaf yah. Pak Atep, tetangga.
Ayah : Tetangga? Tetangga kita? Perasaan tidak ada yang namanya Pak Atep, ada gak mah tetangga kita yang namanya Pak Atep?
Bunda : Gak ada deh setau bunda selama 10 tahun kita disini yah.
Ayah : Terus siapa itu Pak Atep? (Tanya ayah kepadaku).
Rafa : Tetangganya si Roim, anak komplek sebelah.

-0o0-

Hey kamu, iya kamu, kenapa denganmu? Seakan-akan di dalam tidurmu pun kamu sedang membawa beban dunia di pundakmu, Memangnya kamu siapa?

Hey kamu, bisakah kamu mendengarku? Iya kamu yang namanya kiki saigo. Berhentilah berbuat sesuatu yang bodoh selama sisa hidupmu karena aku akan terus merasa ada yang kurang dalam hidupku jika kamu tak ada lagi di dunia ini.

-0o0-

2 tahun lalu, pacarnya kiki, Radit, meninggal. Tak lama setelah mereka bertengkar hebat. Kiki sangat sayang padanya, begitu juga radit, dia sangat sayang ke kiki. Saat itu kami sebagai orang tua kiki akan langsung bilang setuju jika mereka berniat melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan.

Tapi sebelum hal itu terjadi, mereka bertengkar hebat. Dan setelahnya, radit meninggal karena kecelakaan. Kiki merasa dirinyalah yang menjadi penyebab kematian radit. Kiki merasa sangat menyesal karena sikap egoisnya yang membuat mereka bertengkar dan akhirnya radit meninggal karena kecelakaan.

-0o0-

Rafa : Jadi yang mana bintangmu?
Ai : Maksudmu?
Rafa : Jadi selama ini kamu melihat bintang tanpa pernah menentukan mana bintang kamu?
Ai : Selama ini? Kamu tau darimana aku suka liat bintang?
Rafa : Tau kok

Rafa : Kamu liat bintang yang sebelah sana? Kumpulan beberapa bintang yang membentuk layang-layang!? Ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Ai : Ah iya, yang itu?
Rafa : Itu bintangku
Ai : Ih sejak kapan itu bintangmu? Memangnya kamu yang bikin bintang itu?
Rafa : Anak kecil juga tahu kalau bintang itu Tuhan yang bikin! Tapi kita bebas menentukan bintang mana yang kita sukai.

Rafa : Dan aku memilih bintang itu


Hai GanSis! emoticon-Big Grin

Lagi ane mau posting satu cerita baru lagi.

Kali ini cerita fiksi paling pertama yang pernah ane buat sebelum cerita The Left Eye ane buat.
Selain cerita The Left Eye yang udah ane posting sampai kelar. Ane juga posting cerita lain dengan genre yang berbeda, Cerita Tentang El (Edelweiss) yang juga ane posting di Kaskus forum SFTH.

Jika Cerita Tentang El (Edelweiss) genre-nya ke kisah percintaan yang ane angkat dari salah satu cerita nyata temen ane. Sekarang cerita baru ane yang judulnya He's My Doctor! ini juga ber-genre kisah cinta namun berdasarkan dari cerita fiksi yang ane buat.

Namun karena ini cerita awal yang ane pernah tulis, kedalaman cerita tetap masih tidak sedalam cerita The Left Eye. Ane tidak ada niatan untuk menambahkan isi cerita lagi di dalam cerita ini namun kedepan cerita yang akan ane tulis lagi (ane kebayang mau bikin project cerita lanjutan The Left Eye) ane usahain bisa sedalam seperti cerita pertamanya.

Quote:Walaupun sederhana tapi masih ada yang masih suka

Quote:Original Posted By scarecrow123
Keep update gan


Quote:Original Posted By jombloelegan
keliatannya keren nih.....
lanjutttttttttt mas doookkktterrrrrrrrr


Quote:Original Posted By kandadwipa
siap siap menunggu kedatangan episode 9


Quote:Komentar-komentar lain

Quote:Original Posted By jombloelegan
Wew cpr mouth to mouth....

Gw harus pelajari tehniknya nih...kliatannya asik


Quote:Original Posted By pm01
haish....

bisa aje si Rafa.... giliran kiki mau kasi CPR


Quote:Ada juga pembaca yang pernah ngikutin thread ane yang lain nongkrong dimari

Quote:Original Posted By bapak.die
wow wow, baru lagi ya? emoticon-Matabelo

keep update gan, ane tunggu :2tumbup

buatin cameo dong gan, rafa ketemu ama rafa yang cerita sebelumnya emoticon-Ngakak


Quote:Semoga cerita lain yang ane posting bisa lebih padat lagi ya

Quote:Original Posted By sulistiyotawang
last episode yaaa,,padahal bagus cerita nyaa...


Cut it short! Here we go,,,,
He's My Doctor!


Quote:
Diubah oleh rafa.alfurqan
1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
Lapor Hansip
03-06-2016 11:12
Episode 1
1
Aku

(Sudut pandang cerita dari Rafa)

Hari itu mungkin hari terpanas di Jakarta kupikir. Keringat bercucuran dari keningku kemudian masuk membasahi badanku. Tak hanya kondisi cuaca yang saat itu kurang mendukung tetapi aku juga sedang sibuk membereskan dan memindahkan semua barang-barang yang ada di ruang kerja kantorku ke dalam mobil.

Semenjak hari ini aku resmi berhenti dari tempat kerjaku yang sekarang. Bukan karena aku dipecat atas tingkah lakuku yang buruk ataupun kinerjaku yang jelek, tapi karena aku sudah mendapatkan tempat kerja yang baru, di sebuah Rumah Sakit di daerah Bandung.

Mari kuperkenalkan kepada kalian siapa diriku. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, namaku Muhammad Rafa Alfarizi. Kata mereka sih aku adalah seorang Dokter. Memang sih aku bekerja di Rumah Sakit dan tahun ini adalah tahun keduaku bekerja di profesi itu.

Tapi aku tidak terlalu suka jika aku dipanggil Dokter, aku lebih suka jika aku dipanggil dengan namaku meski saat itu aku sedang berada di Rumah Sakit. Sehingga tidak sedikit dari pasien-pasienku yang memanggilku dengan namaku sendiri, Rafa. Lagipula bagiku apa sih Dokter itu? Menurutku itu hanya panggilan untuk orang yang menggunakan jubah putih saja di Rumah Sakit. Sedangkan aku lebih suka dengan profesi orangnya, profesi orang yang bertugas menyembuhkan orang sakit.

2
Batman

Bunda : Raaafffaaaaaaaaaa, kenapa ini adikmu!? (teriak bunda dari ruang tamu).
Rafa : Sebentarrr bunnnnn....

Kemudian aku bergegas masuk ke dalam ke rumah.

Rafa : Kenapaa bun?
Bunda : Kenapa kenapa! Ini lho adikmu! Kamu apakan adikmu iniii? (ucap bunda sambil menunjukkan jarinya ke arah adikku).
Rafa : He he he,,, dia katanya pengen jadi batman ih. Rafa kan cuma bantu dia aja bun.

Rafa : “Bang, ilan (dilan) mau adi etmen (jadi batman)” (ucapku sambil menirukan gaya adikku saat itu).
Bunda : Tapi gak begitu juga kali batman! Masa kepalanya dilan kamu pasangin celana kamu!? Terus itu kenapa pipinya kamu kasih warna merah juga? Pake lipstik bunda lagi! (bunda tampak kesal)

Bunda : Itu bukan batman, tapi kaya anak orang gila! (ucap bunda sambil marah-marah dan menjewer kupingku).
Rafa : Aaahhh, aduudduuh sakit bun.
Bunda : Ayah, anakmu yang satu ini lho nakalnya gak hilang-hilang. Kemaren bi odah disuruh naik pohon buat ambil mangga, sekarang adiknya yang dibuat jadi kaya anak orang gila!
Rafa : Ih bunda ih, anak sendiri dibilang kaya anak orang gila. Lagi kalau anaknya kaya orang gila, berarti bundanya juga kaya orang gila dong? He he he.
Bunda : He he he (tersenyum kepadaku kemudian telingaku di jewer semakin keras)
Rafa : Aduuhhhhhhhhh saaakkkitttttt buuuunnnnn, ammppuuuuunnn.

Dilan menangis melihat aku yang sedang di jewer saat itu sama bunda. Tapi kalau kalian pikir dilan menangis karena kasihan melihat aku yang di jewer, maka itu salah. Dilan itu akan menangis kalau tiba-tiba ada yang berteriak tidak jelas di depan dirinya.

Ayah : Sudah sudah mah, tidak enak terdengar sama tetangga.
Rafa : Pak Atteeepp tolonggg! Tolloongg! Pak Ateeepppp!!! (teriakku)
Ayah : Kamu juga Rafa, berisik! Daritadi suara kamu saja yang paling kencang. Siapa pula itu Pak Atep?
Rafa : He he he, iya maaf yah. Pak Atep, tetangga.
Ayah : Tetangga? Tetangga kita? Perasaan tidak ada yang namanya Pak Atep, ada gak mah tetangga kita yang namanya Pak Atep?
Bunda : Gak ada deh setau bunda selama 10 tahun kita disini yah.
Ayah : Terus siapa itu Pak Atep? (Tanya ayah kepadaku).
Rafa : Tetangganya si Roim, anak komplek sebelah.

Aku dilempar koran yang waktu itu sedang dibaca sama ayah.

Bunda : Gitu tuh yah, anakmu yang satu ini. Ampun nakalnya, salah apa coba bunda sewaktu lagi mengandung dia.
Rafa : Bunda gak ada salah kok, yang salah si bi odah tuh waktu itu belum nikah.
Bi Odah : Lho, kok saya yang disalahin mas rafa? (Tanya bi odah yang baru saja masuk ke ruang tamu membawakan minum).
Bunda : Udah bi, gak usah di dengerin. Ini anak kadang-kadang gak bisa dimengerti.
Rafa : Tul, he he he.
Bunda : Kamu mau sampai kapan kaya begini rafa? Kamu itu Dokter lho, malu sama teman-teman kantor, sama pasien-pasien kamu.
Rafa : Itu kan kalau di kantor bun, kalau dirumah kan aku adalah bosnya batman!? He he he (ucapku sambil tersenyum ke arah dilan)
Dilan : Etmen yeeeeee etmeeen.

Kemudian kami tertawa melihat lucunya tingkah Dilan saat itu.

3
Dilan

Bundaku, namanya Milea Hasan Alfurqan. Kata ayahku, bundaku itu dulu primadona dikampusnya. Banyak sekali yang suka dan mengejarnya, tapi saat itu cuma ayahku lah yang berhasil mendapatkan hatinya. Dan buktinya sekarang dia sudah berhasil menikahi bunda.

Kata ayah mendapatkan bunda itu butuh perjuangan yang sangat besar. Aku sih waktu itu cuma bilang iya iya saja, padahal kupikir, ah memangnya waktu itu harus melawan penjajah dulu baru bisa dapetin bunda? Tapi karena aku anak baik, aku menghormati apa kata ayah dan bersikap seakan-akan aku percaya. Kemudian agar ayah senang, setelah ayah selesai cerita aku akan bilang.

Rafa : Yeeeeyyyy ayah hebat! Merdeka!

Ayah lebih suka memanggil bunda dengan panggilan mamah. Sedangkan aku dan dilan lebih suka memanggilnya dengan panggilan bunda. Tapi tak apa, karena kami keluarga cemara jadi semuanya tidak masalah asalkan semua senang.

Kemudian ayahku, nama ayahku itu adalah Muhammad Hasan Alfurqan. Ketika kalian bingung kenapa nama belakangku tidak sama dengan ayahku, maka tak usah heran. Karena nama ayahku sebenarnya itu adalah Muhammad Hasan. Tapi karena kata bunda, bunda gak suka nama ayah cuma terdiri dari 2 suku kata, karena kelihatan terlalu pelit.

Jadi sebagai salah satu persyaratan pernikahan mereka adalah, nama ayah harus ditambahkan minimal menjadi 3 suku kata. Akhirnya nama ayah menjadi Muhammad Hasan Alfurqan.

Ih, kasian ya ayah? Padahal nama bunda malah lebih pelit, cuma terdiri dari satu suku kata, Milea. Namun karena mereka sudah menikah, sekarang nama bunda berubah menjadi Milea Hasan Alfurqan. Tapi sayang kata ayah dirinya tidak berani membela diri saat itu karena takut ditolak sama bunda katanya.Cemen ya?

Ayahku itu ayah yang keren menurutku. Sama seperti bunda, ayah juga sangat sayang pada kami, kedua anaknya. Ayah bekerja sudah hampir 25 tahun lamanya di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perminyakan. Makanya gak usah heran kalau ayah sudah jadi General Manager sekarang. Katanya sih ayah itu lulusan Engineer, tapi kupikir ayah cuma seorang Engineer Stranger. Karena anehnya ayah berhasil menghasilkan seorang anak yang gak kalah aneh dari dirinya.

Terakhir, adikku. Namanya Dilan Hasan Alfurqan. Nah, kalau kalian bingung kenapa lagi-lagi cuma nama belakangku yang berbeda, maka gak usah nanya, karena aku kesal mengingatnya. Bunda ingin nama anak laki-lakinya itu Rafa, sisanya terserah ayahku, asalkan tidak hanya terdiri dari 2 suku kata.

Karena bunda memberi namaku Rafa, maka kata ayah dia juga punya hak memberikanku nama dari hasil pemikirannya waktu itu, dan itu adalah Alfarizi. Selebihnya mereka jadi berdebat panjang karena kata bunda nama belakangku jadi berbeda sendiri. Akhirnya dari hasil islah, biar ada kesamaan dengan nama dirinya, nama depanku diberikan dengan nama Muhammad. Sehingga namaku menjadi Muhammad Rafa Alfarizi.

Tetap saja kan berbeda sendiri namaku di keluargaku itu? Ah sudahlah, tidak apa. Aku juga tidak ingin menjadi kesal karena memikirkannya. Kembali lagi ke adikku, dilan. Beda umurku dengan adikku ini adalah 15 tahun. Jauh sekali bukan, kalau kalian bingung mengapa bisa, maka kubilang bisa saja. Karena dilan itu sebenarnya adalah anak yang di adopsi oleh orang tuaku ketika usianya masih berumur 6 bulan di sebuah panti asuhan.

Namun aku tak ingin membahas masalah itu terlalu banyak, karena kata adopsi di rumah kami adalah kata-kata tabu, kata-kata yang terlarang untuk diucapkan. Bagaimanapun kami mengenalnya, dan siapapun dia sebenarnya, maka kami tak perduli. Karena yang kami tahu dilan adalah keluarga kami, dilan adalah adikku dan dilan adalah anak dari orang tuaku.

Kalau kalian tanya macam-macam lagi, maka aku bersumpah akan menghajar kalian bagi kalian para lelaki, dan akan kunikahi kalian bagi kalian para wanita (hanya untuk para wanita cantik).

Aku sebenarnya punya adik kandung, kata Dokter dia adalah perempuan. Ayah dan bunda sangat senang sekali waktu itu, terasa keluarga kami akan lengkap jika adikku itu sudah lahir nantinya. Bahkan mereka sudah menyiapkan namanya terlebih dahulu, Alisha. Iya, itu nama untuk calon adikku. Tetapi ketika usia kehamilan bunda menginjak 7 bulan, bunda mengalami keguguran. Kupikir mungkin karena itulah salah satu alasanku mengapa aku ingin menjadi Dokter sejak aku masih kecil, agar aku bisa menolong orang-orang yang sakit.

Kehilangan anak kedua itu membuat bunda kehilangan kesempatan untuk bisa mempunyai anak lagi. Waktu itu rahim bunda juga harus diangkat karena keguguran. Butuh waktu beberapa tahun agar bunda bisa tenang, tanpa harus menangis di setiap shalatnya. Dan tepatnya 10 tahun yang lalu, saat itulah ayah memutuskan untuk mengadopsi anak, agar bisa mengurangi sedikit kesedihannya.

Padahal itu mungkin cuma sekedar alasan yang terdengar masuk akal saja dari ayah. Karena menurutku alasan sebenarnya adalah karena ayah sudah tak tahan lagi jika harus mendengar suara tangisan bunda yang selalu ada setiap tengah malam tiba. Aku sendiri sih kadang merinding dengarnya, kupikir menyeramkan apalagi kalau habis nonton film horor. Makanya kupikir ayah mencari cara bagaimana caranya menghentikan suara tangisan tengah malam itu. Dan dari semua anak-anak yang ada di panti asuhan tersebut, terpilihlah Dilan.

4
Bi Odah

Masih di ruang keluarga waktu itu. Masih bersama ayah, bunda dan adikku yang malang ini.

Ayah : Jadi kapan kamu sudah mulai bekerja di Bandung? (tanya ayah kepadaku)
Rafa : Besok yah (ucapku sambil memakan kue yang dibeli bi odah).
Ayah : Lantas bagaimana dengan semua barang-barang kamu? Kamu juga sudah dapat tempat tinggal disana?
Rafa : Rafa besok bawa secukupnya dulu aja yah, Bandung-Jakarta tidak sejauh Jayapura-Jakarta kok yah.

Rafa : Mengenai masalah tempat tinggal rafa udah dapat rekomendasi dari salah satu Dokter disana. Pulang kerja besok rafa langsung kesana jadi ayah tenang saja.
Bunda : Kenapa sih kamu harus nyari kerja disana rafa? Di Jakarta juga kan masih banyak. Dan kamu jadi jauh sama bunda.
Rafa : Bun, ragaku sih memang jauh dari bunda. Tapi jiwaku enggak.
Bunda : Emang jiwa kamu bisa misah dari raga gitu?
Rafa : Enggak, he he he.

Kami pun kembali tertawa, jika kalian anggap kami ini keluarga yang bahagia. Maka silahkan, aku juga tidak ingin membantahnya, karena kupikir kami memang selalu dan harus selalu bahagia.

Oh iya, aku akan berdosa jika aku lupa mengenalkan kalian dengan salah satu penghuni lainnya di rumah ini. Namanya adalah Odah Ramlan, kami memanggilnya bi odah. Dia bekerja di keluargaku sejak aku masih dalam kandungan bundaku. Waktu itu bi odah belum menikah, karena waktu itu katanya lelaki yang dekat dengannya ternyata sudah punya istri, untung saja dia tahu sebelum mereka jadi menikah.

Tapi untunglah setahun setelah itu, bi odah berhasil menemukan pasangan soulmatenya. Suaminya berasal dari Somalia, iya Somalia yang banyak bajak lautnya itu, keren kan. Padahal suaminya berasal dari Sumedang, tapi karena biar lebih keren, kubilang ke teman-temanku bahwa suami bi odah itu berasasl dari Somalia. Maklum lah, waktu itu lagi boomingnya film Johnny Deep yang judulnya The Pirates of Carribean.

Bi odah sampai sekarang belum mempunyai anak, dan suaminya bekerja jadi TKI di Arab sana. Mereka bertemu setahun sekali di Sumedang, bahkan kadang 2 tahun sekali. Selebihnya bi odah selalu ada jika kalian memanggil namanya di rumahku. Dia sangat sayang kepadaku dan adikku dan sudah menganggap kami sebagai anaknya sendiri. Begitu pula kami, kami sudah menganggap bi odah sebagai salah satu keluarga kami.

Tanpa dia, keluarga kami tak akan lengkap. Kalau kubilang sih Indonesia akan jatuh jika bi odah meninggalkan kami. Makanya tiap pagi aku selalu tidak pernah lupa untuk mengabsen namanya.

Tak terkecuali pagi ini...

Rafa : Biii odaaaaaah, bikinin aku jamu mangga bi!!!!!!
Bi Odah : Iyyaaa mas rafa. Jamu mangga jamu mangga. Eh jamu mangga!? Mas raafaaa....

Bersambung...
Diubah oleh rafa.alfurqan
0
Lapor Hansip
05-06-2016 22:30
Episode 2
5
Bandung

Pagi harinya aku berangkat ke Bandung. Seperti kataku, aku membawa kebutuhanku cukup seperlunya untuk sementara sampai aku menemukan tempat tinggal disana. Dan jika aku membutuhkan sesuatu aku tinggal balik ke Jakarta untuk mengambilnya. Lagipula aku akan rindu dengan orang rumah jika aku lama tidak bertemu mereka.

Lagi-lagi bunda dan bi odah jadi penyelamatku, kali ini sebelum berangkat aku lupa mengenakan celanaku. Iya, karena waktu itu aku bangun kesiangan. Soalnya pada malam harinya, aku bersikeras untuk ikut berpartisipasi menjaga komplek kami bersama Pak Akim. Siapa itu Pak Akim? Beliau adalah satpam di tempatku, biasanya beliau ngeronda bersama Pak Asep. Namun saat itu Pak Asep sedang pulang kampung.

Bunda : Rafaaaa, kamu mau ke Bandung pakai celana pendek?
Rafa : Aaahh, iyaa celana! Celana rafa bun tolong ambilin di kamar.
Bunda : Kamu itu yaa, kebiasaan!? Bi odah, tolong ambilin celananya rafa di kamar sekalian tolong setrikain sebentar (teriak bunda ke bi odah)
Bi Odah : Baik bu.

Kemudian bi odah langsung buru-buru masuk kamarku.

Bunda : Gimana coba kalau kamu disana sendirian, bunda jadi khawatir sama kamu.
Rafa : Tenang bun, nanti aku kalau mau tidur pake baju kantor deh. Jadi besoknya tinggal berangkat.
Bunda : Kamu pikir kaya superman, kemana-mana bawa baju tugasnya!?
Rafa : Hoho, boleh juga superman. Superman! (ucapku ke arah dilan yang waktu itu juga sedang sarapan denganku).
Dilan : Emoh, eeeetmeeennn! Ucapnya sambil makan. Dari mulut sampai hidungnya penuh bekas makanannya, maklum dia memang masih belum terbiasa makan sendiri.

Dilan memang pencinta batman, makanya kalian gak usah bingung. Aku sudah berkali-berkali mencoba meracuninya dengan tokoh superhero lain, seperti Rano Karno, eh salah itu mah “Si Doel Anak Sekolahan” ya? Maksudku superhero lain semacam superman, hulk, iron man sampai songokunya dragonball. Tapi dia menolaknya, bahkan menjadikan mainan tokoh superhero lain yang kubelikan itu sebagai musuh mainan batmannya.

Rafa : Ayah udah berangkat bun?
Bunda : Iya, ayah berangkat tadi subuh-subuh.
Rafa : Ayah memang sampai berapa lama di Perancis bun?
Bunda : Katanya sih seminggu. Makanya itu ayah lagi jauh, kamu juga mau pergi. Kamu gak kasihan sama bunda dan dilan?
Rafa : Mulai lagi deh, mellow lagi.
Bunda : Terus kamu itu ngapain coba ikutan ngeronda? Kan jadi telat bangun. Apalagi ke Bandung pasti bakal macet kalau berangkat jam segini.
Rafa : Ya udah mau gimana lagi, hari ini paling rafa juga cuma sebentar bun di kantor. Perkenalan terus ngurus beberapa berkas.

Rafa : Lagi, bunda gak kasihan sama Pak Akim yang beberapa hari ini menjaga komplek kita sendirian?
Bunda : Iya, tapi pas ada kamu malah gak keliling komplek sama sekali. Kalian malah asik main playstation kan!?
Rafa : Wuiihhh, tul! (betul!), nar! (benar!), ren! (keren!). Ucapku sambil memakan roti yang sudah disiapkan bunda.

Rafa : Nda, au ri na? (Bunda, tau dari mana?). Tanyaku sambil mengunyah sarapanku
Bunda : Taulah, orang pagi-pagi Pak Akim nganterin playstation nya ke rumah.
Rafa : Ih, dibilangin balikinnya pas ada rafa aja, ketauan kan jadinya. Gak jadi keren deh. (Gerutuku, kemudian kembali melahap roti keduaku)

Aku akhirnya tiba di Bandung kurang lebih jam 11 siang. Yah, mau bagaimana lagi, di jalan macet. Kalau bisa kugotong, kugotong deh mobilnya. Tapi bagi kalian, baik kalian itu Dokter atau siapapun kalian. Jangan pernah mengikuti kelakuanku ini, itu hanya akan membuat kalian terlihat buruk dimata orang lain dan juga dimataku. Lho mengapa dimataku juga? Ya kalau tingkah laku kalian sama sepertiku, terus yang membedakan aku dengan kalian apa?

Bandung, bagiku saat ini mungkin hanya sekedar geografis. Tapi pada nantinya, Bandung akan lebih dari sekedar dari geografis bahkan akan melibatkan perasaan (Pidi Baiq).

He's My Doctor!

6
Kamu

Aku, di tempat kerjaku yang baru. Kupikir sih tempatnya lumayan bagus. Ada pohon, kantin dan yang paling penting ada toiletnya. Bayangkan saja kalau tidak ada toiletnya? Mau jadi apa rumah sakit ini? Ah aku tidak ingin membayangkannya.

Andre : Morning
Rafa : Siang

Mari kukenalkan kalian dengan orang ini, kelak orang ini yang entah mengapa kok bisa menjadi teman baikku, namanya Andre. Kalau nama panjangnya Andre Bastian Sweisteigner, itu menurut versiku ya. Kalau dari versinya sendiri sih, nama panjangnya Andre Syaifuddin Utomo. Kalau kalian gak suka dengan versiku, aku sih tak mau pikir.

Dia itu English Man atau lebih tepatnya Morning Man, yang kadang-kadang kalau ngomong sama orang selalu dimuati dengan bahasa inggris. Makanya namanya kubikin british biar pas dengan orangnya. Dia sih katanya lulusan dari Harvard, tapi cuma sampai semester 5 habis itu pulang ke Indonesia buat nyelesein kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Katanya sih pas semester 5 dia disana, dia berbeda pola pikir dengan professor disana, sehingga dia tak betah. Itu sih katanya ya, coba aja kalian tanya sendiri ke dia bagaimana kisahnya yang sebenarnya.

Setiap kali menyapa orang-orang, entah itu ke teman-temannya, pasien-pasiennya, keluarganya atau bahkan nenek-nenek yang jualan cireng di kantin dia selalu menyapa dengan kata morning. Dia tak perduli entah saat itu sudah sore atau sudah malam hari. Kata dia, kita harus membentuk mind set kita agar semua selalu terasa di pagi hari (morning). Karena di pagi hari itu energi positif paling banyak berkumpul di sekitar kita, sehingga kita bisa selalu bersemangat menjalani aktifitas. Dan aku cuma bisa berkata.

Rafa : Aku tak perduli itu. Tapi jika kamu mau sogok aku dengan kue mungkin akan lain cerita.

Tak lama, kemudian mobil ambulance datang.

Rafa : Pasien apa? Tanyaku ke salah satu perawat disana, kalau gak salah namanya Eri.
Eri : Pasien yang baru coba bunuh diri mas rafa, dari info yang diberikan di telepon tadi, pasiennya meminum cairan obat serangga.
Rafa : Pria atau wanita?
Eri : Wanita
Rafa : Ah, pasti karena masalah pria. Ayo ndre, langsung kita bawa ke ICU (Intensive Care Unit).
Andre : Masalah pria? Tau darimana?
Rafa : Kalau misalkan kubilang kamu yang sedang dibawa ke RS karena percobaan bunuh diri dan penyebabnya karena masalah seorang pria. Apa itu masuk akal?
Andre : Ya enggak lah, memangnya aku pecinta pria!?

(Aku tersenyum)

Eri : Jadi maksud mas rafa dengan kata lainnya itu jika seorang wanita mengalami masalah itu disebabkan karena seorang pria. Sedangkan jika seorang pria mengalami masalah itu disebabkan karena seorang wanita?
Rafa : Ya kurang lebih seperti itu, he he he.
Andre : Teori macam apa itu!?
Rafa : Ah sudahlah, ayo kita kesana

Aku dan andre kemudian bergegas menghampiri mobil ambulance tersebut, kemudian aku melihat wanita tersebut. Wanita yang hampir membuat dirinya mati cuma karena masalah dunia, pikirku saat itu.

Dia cantik...

Kuperkirakan umur kami tak jauh berbeda jika aku simpulkan saat itu. Kemudian aku kembali ke pikiran sehatku untuk menolongnya.

Rafa : Ayo ndre, kita harus cepat!

Kami langsung membawa wanita tersebut ke ICU, kemudian langsung memberikan langkah pertama padanya agar dia bisa mengeluarkan cairan beracun tersebut dari dalam perutnya.

-0o0-

Sampai akhirnya dia sudah dalam kondisi stabil.

Saat ini dia sedang nyenyak tertidur. Kulihat dia mengerutkan dahinya.

Hey kamu, iya kamu, kenapa denganmu? Seakan-akan di dalam tidurmu pun kamu sedang membawa beban dunia di pundakmu, Memangnya kamu siapa? (gumamku dalam hati).

Andre : Kenapa fa?
Rafa : Ah gak papa.
Andre : Cantik ya…
Rafa : Bohong kalau aku bilang enggak. Pulang yuk aku sudah capek!? Biar kita minta tolong dimonitor sama dokter yang jaga shift berikutnya saja.
Andre : Oke. Tapi aku ambil buku sama tasku dulu sebentar.
Rafa : Sekalian tolong ambilin tasku ya ndre.
Andre : (Menadahkan tangannya kepadaku) 5 ribu!
Rafa : Ngutang dulu.
Andre : Dokter kok ngutang?
Rafa : Dokter kok malak?
Andre : Dokter kok nyuruh dokter?
Rafa : Yang nyuruh rafa bukan dokter
Andre : Ah, iya deh. Sekali-sekali mengalah kenapa. Tunggu di depan deh.

Kemudian aku keluar ruangan dan bertemu dengan keluarga pasien wanita tadi.

Rafa : Maaf, Ibu siapanya wanita itu?
Ibu Kiki : Saya ibunya dia, bagaimana keadaan anak saya Dokter?
Rafa : Ibu tenang saja. Keadaannya dia, maksud saya anak ibu sudah baik-baik saja. Sekarang dia sedang tertidur setelah kami berikan obat penenang.
Ibu Kiki : Puji Tuhan, syukurlah kalau begitu. Saya benar-benar khawatir.
Rafa : Iya bu, sementara biar anak ibu menginap dulu disini saja malam ini. Jadi kalau ada apa-apa, kami bisa langsung mengecek keadaannya.
Ibu Kiki : Iya, Dokter. Terima kasih.
Rafa : Ah, panggil saya Rafa saja bu. Saya tidak terlalu suka dipanggil Dokter. Dan nama anak ibu siapa kalau saya boleh tau?
Ibu Kiki : Iya nak Rafa, terima kasih. Nama anak ibu itu, Kiki Saigo.

Begitulah aku mengenal kamu saat itu, kamu yang akan tiba-tiba menjadi berharga dalam hidupku.

Hey kamu, bisakah kamu mendengarku? Iya kamu yang namanya kiki saigo. Berhentilah berbuat sesuatu yang bodoh selama sisa hidupmu karena aku akan terus merasa ada yang kurang dalam hidupku jika kamu tak ada lagi di dunia ini.

7
Doctor Stranger

Hari minggu kemarin adalah hari termalas dan hari yang paling melelahkan untukku. Sehari sebelumnya, aku kerja sampai larut malam di kantor. Aku sebenarnya sudah ingin pulang waktu itu bersama andre. Tetapi tepat sebelum pulang eri memberitahuku bahwa ada kecelakaan lalu lintas. Dan saat itu para korban sedang dibawa menuju ke rumah sakit kami.

Kami langsung mengumpulkan semua Dokter dan perawat yang ada saat itu dan melakukan persiapan secepat mungkin.

Rafa : Segera siapkan kasur untuk pasien dan bawa semua persediaan darah untuk transfusi!
Rafa : Hubungi bagian x-ray, orthopedi dan bedah saraf!

Kemudian setelah semua sudah bergegas mempersiapkan semua yang dibutuhkan aku dan yang lainnya langsung bergegas ke depan sambil menunggu pasien-pasien tersebut tiba.

Andre : Terkadang aku bingung dengannya. Tingkah lakunya kadang seperti anak kecil tapi kadang tak bisa ditebak seperti ini.

Andre : Meski aku suka dengan kesigapannya, tapi kenapa dia suka sekali menyuruh semua orang seenaknya? Dia kan bukan bosku, dan itu menyebalkan. (Keluh andre kepada eri yang waktu itu ada disampingnya)
Eri : Bagiku gak ada yang salah dengannya. Aku pikir mas rafa yang seperti itu keren. He’s pretty cool!
Andre : Benarkah? Haruskah aku bersikap begitu juga?

Tanpa menjawab andre, eri langsung berlalu kemudian pergi membantu menyiapkan semuanya. Dan tak lama mobil ambulance datang membawa pasien-pasien tersebut.

Petugas : Dokter, orang ini mengalami beberapa patah tulang dan hilang kesadaran
Rafa : Pak, bisa dengar suara saya pak!? (aku mencoba berbicara dengan pasien tersebut karena aku ingin tahu sejauh apa kesadarannya saat itu).
Rafa : Kemudian aku memeriksa detak jantungnya, ini cardiac arrest. CPR ndre cepat!
Andre : Oke

Kemudian andre langsung naik ke atas tubuh pasien tersebut, menduduki badannya dan melakukan CPR. Sambil saat itu kasur dorong tersebut dibawa petugas untuk dibawa masuk kedalam.

CPR atau cardiopulmonary resuscitation adalah langkah yang harus dilakukan terhadap seorang pasien yang sedang mengalami cardiac arrest atau kondisi dimana jantung seseorang berhenti berdetak.

Setelah itu aku menuju ke pasien lain. Aku melihat kondisinya sebentar, kemudian aku instruksikan kepada petugas dan perawat agar dilakukan x-ray terlebih dahulu.

Petugas : Tekanan darah 40/80 dan denyut jantung 115

Aku membuka kain kasa yang menutupi kaki pasien tersebut, kulihat bagian pahanya terluka.

Rafa : Periksa pembuluh darah bagian pahanya untuk memastikan seberapa dalam lukanya. Pintaku ke salah seorang dokter disitu.

Aku kemudian kembali memeriksa kondisi pasien berikutnya yang baru datang.

Petugas : Tekanan darah 50/90 dan denyut jantung 126

Aku membuka dan melihat bagian tubuh pasien yang mengalami luka tersebut, tulang paha pasien tersebut patah.

Rafa : Segera lakukan CT Scan, dan siapkan kain kasa serta beberapa saline solution. Pintaku terhadap beberapa perawat dan Dokter disana.
Rafa : Periksa bagian yang patah dengan CT scan dan segera beritahu jika ada pendarahan hebat. Cepat!

Terakhir, aku menuju ke pasien terakhir yang baru tiba.

Rafa : Tingkat kesadaran? Tanyaku ke salah satu petugas disitu.
Petugas : Hampir tidak ada Dokter.

Aku mengecek kondisi matanya, kemudian melihat kondisi lukanya. Parah, tulang kering kaki pasien tersebut patah, dan tulangnya menonjol keluar. Tak ada jalan lain selain harus dilakukan amputasi.

Rafa : Bawa ke ruang operasi segera!
Petugas : Baik.

Saat itu kondisi di rumah sakit benar-benar dalam penuh ketegangan. Kami harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pasien-pasien tersebut dan melakukan upaya-upaya yang terbaik untuk menolong mereka.

-0o0-

Keadaan menjadi terkendali setelah pukul 10 malam. Aku capek sekali saat itu, apalagi aku belum sempat makan.

Rafa : Ah, aku rindu masakan bunda. Bunda bagaimana kabarnya ya? Dilan juga.

Aku mengambil handphoneku. Aku berniat untuk menelepon mereka. Tapi ketika aku melihat jam pada saat itu, aku akhirnya mengurungkan niatku. Aku tak ingin mengganggu mereka jam segini. Biarlah mereka istirahat, besok juga aku masih bisa menelepon mereka, pikirku.

Kemudian andre bersama eri datang menghampiriku.

Eri : Heeeiiii, mas rafaaaaa. Tau gak?
Rafa : Heeeeiiiii! Apa apa apa apa?
Eri : Ih sekali aja cukup apa nya, he he he.
Rafa : He he he.
Eri : Mas rafa tadi kereeeeeennnn lho!
Rafa : Apanya?
Eri : Ya tadi itu pas nanganin pasien-pasien, kereeeenn! (sambil memberikan jempolnya, tanda itu benar-benar keren).
Rafa : Benarkah? Tadi cuma akting padahal.
Eri : Ih, kok akting. Akting apa memang?
Rafa : Akting jadi bos biar bisa nyuruh-nyuruh, he he he.
Eri : Ih, dasar nakal! Ucap dia sambil tertawa.

Andre : Rafa, makan yuk. Laper nih, belum makan kan?
Rafa : Belum lah, yuk.
Eri : Pada mau makan apa?
Rafa : Mau cokelat sama es krim.
Andre : Ih mau ngapain makan es krim jam segini?
Rafa : Biarin.
Andre : Ya elah, ya udah makan es krim rasa cokelat aja biar sekalian.
Rafa : Emoh, mau cokelat terus es krim rasa cokelat (senyumku kepada mereka).
Andre : Tuh, gak salah kan yang kubilang ri!? Ini orang ngakunya Dokter tapi mau makan es krim jam segini. Udah gitu mintanya harus diturutin semua lagi.
Andre : Apanya yang keren dari orang ini ri? (Tanya andre kembali ke eri).
Andre : Doctor stranger mah iya! Dia ini Dokter yang punya kepribadian ganda.

Aku dan eri tertawa mendengarnya. Kami kemudian pergi untuk membeli makan dan kemudian akhirnya kami bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega dan senang. Meski aku benar-benar capek saat itu, aku senang, sangat senang. Karena hari itu aku bisa membantu banyak orang, kupikir andre dan eri bahkan semua dokter-dokter dan perawat disitu juga merasakan hal yang sama denganku. Perasaan senang setelah berhasil menyelamatkan pasien.

Bersambung...
Diubah oleh rafa.alfurqan
0
Lapor Hansip
06-06-2016 19:36
Keep update gan
0
Lapor Hansip
06-06-2016 21:31
Quote:Original Posted By scarecrow123
Keep update gan



emoticon-2 Jempol
0
Lapor Hansip
06-06-2016 21:54
mudah2n update terus ya
0
Lapor Hansip
06-06-2016 22:52
keliatannya keren nih.....
lanjutttttttttt mas doookkktterrrrrrrrr
0
Lapor Hansip
07-06-2016 04:00
Quote:Original Posted By cilaleksingo
mudah2n update terus ya


Tenang gan, ini cerita lama yang udah kelar ane tulis, tinggal ane edit terus posting aja. emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
07-06-2016 04:01
Quote:Original Posted By jombloelegan
keliatannya keren nih.....
lanjutttttttttt mas doookkktterrrrrrrrr


semoga bisa dinikmati gan emoticon-Big Grin
0
Lapor Hansip
07-06-2016 17:51
Episode 3
8
Celana Batman

Kembali ke hari minggu pagi. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 09.45 bagian Indonesia barat. Namun aku masih tertidur pulas di kamarku. Di tempat tinggalku yang ada di bandung, saat itu aku tinggal bersama dengan andre, di sebuah komplek perumahan daerah dayeuhkolot, Bandung.

Andre : Morrniiinggg Doctor Stranger! Ucapnya ketika masuk ke kamarku dan kemudian langsung membuka gorden jendela.
Rafa : Aaaaaahhhh, get outtttt!
Andre : Heish! Mau sampai kapan kamu mau tidur terus?

Kemudian dia membuka selimutku dan langsung tertawa setelah melihat gambar celanaku. Iya, saat itu aku memakai celana boxer bergambar batman.

Andre : Hahahaha, emang bener-bener stranger ini orang. Yaaay! Kamu itu sudah umur berapa, masih aja makai celana gambar batman!?
Rafa : Bodo! Kamu itu berisik! Aku baru tidur jam 6 tadi pagi tau gak!? Ucapku saat itu dengan nada kesal.
Andre : Emangnya kamu habis ngapain? Perasaan kita nyampe di rumah jam 3 pagi setelah jalan-jalan sama eri tadi malam. Terus kamu ngapain sampai jam 6 pagi?
Rafa : Aku lapar terus bikin mie. Tapi aku gak mau langsung tidur setelah makan.
Andre : Terus masa cuma segitu aja?

Rafa : Iya habis itu bundaku telepon.
Andre : Ngapain bundamu telepon subuh-subuh begitu?
Rafa : Biasa lah bundaku itu selalu lapor kepadaku apapun yang sedang terjadi di rumah.
Andre : Emangnya apa yang terjadi di rumahmu?
Rafa : Si dilan habis bikin bunda girang.
Andre : Ouh adikmu dilan, kenapa sama dia?
Rafa : Dia baru bisa memfasihkan omongannya buat bunda.
Andre : Penting gitu buat dicurhatin?
Rafa : Bagi bundaku, apapun yang terjadi pada dilan sama seperti ketika Presiden kita menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak).
Andre : Damn! So what’s the matter?

Rafa : Dilan baru bisa ngomong dengan benar, “bunda pergi ke pasar”.
Andre : Done? Just it? Ha ha ha ha. Memangnya sebelumnya kaya gimana?
Rafa : Nda, egi ke acay (Bunda, pergi ke pasar). Ucapku sambil menirukan gaya dilan saat berbicara.
Andre : Ha ha ha, kalian lucu sekali sih.
Rafa : Apanya yang lucu!? Padahal apa bagusnya dilan bisa ngomong kaya begitu. Mau-maunya bunda disamain kaya sarimin sama si dilan. Sarimin kan sering di suruh ke pasar.
Andre : Siapa itu sarimin?

Rafa : Kamu gak pernah liat pertunjukan yang dijalan-jalan, “sarimin pergi ke pasar?”
Andre : Ahh iya tau! Ha ha ha ha. Kali ini andre ketawa sambil menepuk nepuk punggungku.
Rafa : Heiiissshhhh, sakit ndre!
Andre : Terus kalian ngobrol itu aja sampai pagi?
Rafa : Gak lah, bunda marah.
Andre : Marah karena?
Rafa : Karena tiap kali aku telpon, katanya aku lebih lama ngobrolnya sama bi odah.
Andre : Bi odah, pembantu rumahmu?
Rafa : Iya, emang siapa lagi? Istri presiden? Asal kamu tau bi odah itu sudah punya suami orang Somalia.
Andre : Heiissh, Somalia kepalamu, orang suaminya dari Sumedang juga, kamunya aja yang maksa. Tapi kok bisa kamu lebih lama ngobrol sama bi odah? Emang ngobrolin apa aja?

Rafa : Aku nanya kabar mangga-mangga yang udah mau masak di pohon mangga di belakang rumahku. Aku suruh cek tiap 2 jam sekali, kasih air, terus kalau udah masak, petikin mangganya terus simpenin dalam kulkas. Kalau aku udah datang tinggal bikinin jamu mangga.
Andre : Kamu kok sudah kurang ajar terus aneh-aneh aja sih mintanya?
Rafa : Ah suka-sukaku lah, kamu keluar sana! Aku masih ngantuk.
Andre : Heissh! Kamu gak mau jalan-jalan ke dago atau ke mall gitu? Mumpung hari minggu ini?
Rafa : Ah udah jalan-jalannya tadi malam, aku capek! Kamu aja yang pergi sana!?
Andre : Ya udah, kalau gitu aku ngajakin eri ah.
Rafa : Sana, hush hush hush! (Usirku kepadanya)
Andre : Eh fa, setidaknya kamu gantilah celanamu itu. Gak cocok dengan usiamu. Memangnya kamu mau jadi batman sampai umur berapa?
Rafa : Aku bosnya batman!!!! Sana pergi!
Andre : Ha ha ha.

9
Bintang

Eri : Mas rafa, mau pesan makan apa? Aku sama mas andre mau keluar beli makan sebentar.
Andre : Eriiii, ih udah kubilangin kalau nawarin dia makan itu jangan kasih dia pilihan makan apa tanpa ada menunya!
Rafa : Aku mau ayam KFC. Dada atas ya, tapi kalau habis pokoknya dadanya aja. Gak pake nasi tapi pake kentang, terus minumnya pepsi blue yang big cup. Thank you.
Andre : Telat deh. Rengek si andre.

Andre : Gitu tuh ri kalau kamu tanya dia tanpa persiapan. Orang macam dia, kita gak boleh lengah sedikitpun. Kita semua mau ke rumah makan padang, dia sendiri yang mau ke KFC. Kalau udah begini kan jadi susah ceritanya.
Rafa : Udah gak usah pake cerita-ceritaan, sana pergi cepetan. Nanti bahaya kalau tiba-tiba banyak pasien datang.
Andre : Hey hey, omongan itu doa. Kita lagi santai nih, gimana sih.
Rafa : Ha ha ha. Ya udah sana cepetan berangkat.

Rafa : Ah iya! Eri, hati-hati ya. Ingat kalau ada apa-apa di jalan langsung hubungi 911.
Eri : Lho kok 911 mas rafa?
Rafa : Nomor telepon polisi amerika, biar nangkep si andre.
Andre : Heissh, memangnya aku lelaki bejat apa!? Ucapnya kepadaku.

Aku dan eri hanya tertawa melihat tingkahnya.

Rafa : Hati-hati yaa, ucapku kepada mereka.

Malam itu, malam rabu. Aku kemudian berjalan menelusuri rumah sakit sambil melihat kondisi beberapa pasien. Sampai di depan lorong, aku memberhentikan langkahku. Karena dari kejauhan, aku bisa melihat seseorang wanita yang berada di seberangku waktu itu. Wanita tersebut sedang terjatuh dalam lamunannya sambil menengadahkan kepalanya melihat langit, melihat bintang-bintang di langit saat itu.

Memang malam itu langit sedang cerah dan bintang-bintang pun sangat banyak. Salah satu langit malam yang indah selama beberapa minggu aku berada di Bandung.

Rafa : Sepertinya aku mengenal wanita tersebut, mungkinkah dia? Gumamku dalam hati.

Aku kemudian berjalan, menghampirinya perlahan, aku tak ingin menimbulkan suara atau apapun sehingga dia sadar akan kehadiranku. Tidak, aku tak ingin dia terbangun dari lamunannya saat itu. Aku ingin melihatnya lebih lama lagi seperti itu, lebih lama lagi sampai aku berada sedekat mungkin dengan dirinya.

Aku kemudian tepat berada disampingnya, berhasil tanpa membangunkan dirinya dalam lamunannya. Saat dia tersenyum tiba-tiba, manis sekali saat itu kulihat dirinya. Dan untuk pertama kalinya aku merasa jantungku berdetak secepat ini.

Iya, tak salah lagi. Dia pasien itu, pasien yang kuselamatkan saat dia mencoba bunuh diri waktu itu.

Kiki Saigo.

Kemudian dia terbangun dari lamunannya dan sesaat kemudian dia menyadari bahwa saat itu aku berada dekat sekali dengan dirinya. Aku juga tak sadar kenapa jarakku jadi sedekat ini dengannya.

Rafa : Ah maaf, kiki saigo ya? Aku rafa. Ucapku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku padanya.

Namun dia hanya diam menatapku dan tak membalas ajakan dariku untuk bersalaman. Mungkinkah dia marah karena aku tiba-tiba disampingnya?

Rafa : Ah iya maaf juga, bukannya tadi aku mau menakutimu. Aku hanya sedang ingin tahu kamu sedang melihat apa?

Rafa : Aku orang yang kemarin membantumu sadar setelah kamu dibawa ke RS ini beberapa waktu lalu.

Ah kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini.

Rafa : Kamu, kok ada di rumah sakit lagi? Gak habis ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi kan?

Dia tetap diam sambil menatapku. Aku bingung, mungkinkah orang ini bisu? Dan lama-lama jika dia seperti itu, dia cuma akan menakutiku. Kemudian ada seorang ibu yang datang menghampiri kami.

Ibu Kiki : Kiki, kamu disini rupanya!? Ibu keliling mencari kamu kemana-mana.

Ibu Kiki : Ah Dokter rafa. Kita bertemu lagi disini. Dokter apa kabar?
Rafa : Ah iya, saya baik bu. Ibu sendiri bagaimana kabarnya?
Ibu Kiki : Saya juga baik. Kemarin maaf ya Dok, kami gak sempat pamitan.
Rafa : Iya gak papa bu, sebenarnya sih saya kemarin menyempatkan diri untuk menjenguk anak ibu. Tapi kata perawat, ibu sudah pulang tidak lama sebelum saya datang.

Rafa : Tapi ada apa lagi dengan kiki bu? Kenapa kiki masuk rumah sakit lagi?
Ibu Kiki : Iya Dok, ceritanya agak panjang.
Rafa : Kalau begitu kita antarkan kiki ke kamarnya dulu saja bu.
Ibu Kiki : Iya Dokter.

Setelah mengantarkan kiki masuk ke dalam kamarnya, aku dan ibunya kembali berbicara di luar.

Rafa : Ibu, gak usah panggil saya Dokter ya. Cukup panggil saya dengan rafa saja, tidak apa-apa kok bu (ucapku sambil tersenyum).
Ibu Kiki : Ah iya, ibu lupa. Maaf ya nak rafa. Oh iya, kita juga belum kenalan. Nama ibu, Monica.
Rafa : Sebenarnya saya tidak punya hak untuk bertanya seperti ini, tapi kalau saya boleh tau ada apa dengan kiki ya bu? Tanyaku.
Ibu Kiki : Anak ibu, kiki. Dia suda lama seperti ini, sudah hampir 2 tahun.

Dia dulunya anak yang periang dan selalu tersenyum. Tiap kali ibu melihat senyumannya, ibu selalu senang. Tapi sekarang sudah hampir 2 tahun lamanya dia tidak pernah tersenyum lagi. (Ucap ibu kiki yang mulai meneteskan air matanya).

2 tahun lalu, pacarnya kiki, Radit, meninggal. Tak lama setelah mereka bertengkar hebat. Kiki sangat sayang padanya, begitu juga radit, dia sangat sayang ke kiki. Saat itu kami sebagai orang tua kiki akan langsung bilang setuju jika mereka berniat melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan.

Tapi sebelum hal itu terjadi, mereka bertengkar hebat. Dan setelahnya, radit meninggal karena kecelakaan. Kiki merasa dirinyalah yang menjadi penyebab kematian radit. Kiki merasa sangat menyesal karena sikap egoisnya yang membuat mereka bertengkar dan akhirnya radit meninggal karena kecelakaan.

Setelah itu, kiki tak pernah keluar kamar selama 1 minggu lebih. Dia sudah berkali-kali mencoba melakukan usaha bunuh diri.


Aku hanya diam dan mendengarkan cerita beliau.

Ibu Kiki : Termasuk waktu nak rafa menyelamatkan kiki kemarin, dia juga saat itu berusaha bunuh diri lagi.
Rafa : Sekarang pun dia di rumah sakit, karena hal itu juga bu?
Ibu Kiki : Tidak, kali ini ibu hanya ingin membawanya ke rumah sakit. Dia sudah beberapa hari tidak makan dan sempat pingsan dirumah beberapa hari yang lalu. Tapi karena ibu khawatir, maka ibu bawa dia kembali lagi kesini.

Ibu Kiki : Kamu tau nak rafa, kiki selalu tahan melihat bintang-bintang dilangit? Karena sewaktu radit masih hidup, mereka selalu melihat bintang bersama-sama. Terkadang dia marah ketika dia sedang melihat bintang ada orang lain di sebelahnya, apalagi mengganggunya.

Ibu Kiki : Makanya ibu sempat bingung, kenapa tadi dia tak bereaksi apa-apa, padahal nak rafa saat itu sedang ada disebelahnya.
Rafa : Benarkah bu?
Ibu Kiki : Iya.

Akhirnya aku mulai mengetahui siapa dirinya. Bagaimana dirinya, dan apa yang terjadi pada dirinya. Dan sekarang aku juga jadi mengerti kenapa di saat tidur pun dia terlihat tidak bisa tidur nyenyak.

Aku tidak mengerti saat itu dengan perasaanku, apa karena kasihan atau hal lain. Ingatkah aku saat aku melihatnya tersenyum tadi, jantungku berdetak kencang!? Entahlah, aku masih belum mengerti tentang perasaanku terhadapnya waktu itu. Yang aku tahu dengan pasti tentang dia saat itu adalah dia sangat menyukai bintang.

Bunda, untuk pertama kalinya aku menemukan orang yang mempunyai kebiasaan yang sama denganku. Kebiasaan suka melihat bintang.

10
Ayah

Tanggal 11 maret adalah tanggal dan hari yang paling berisik di rumahku selama 6 tahun ini. Tapi aku menyukainya, ah bukan hanya aku yang menyukainya. Tapi semua orang di rumah sangat menantikan hari tersebut tiap tahunnya. Ayah, bunda bahkan bi odah akan bersuka cita menyambut hari tersebut. Apapun yang akan terjadi di hari tersebut dan tidak perduli apapun alasannya, semua anggota keluarga harus meliburkan diri dan harus ada di rumah.

Tanggal 11 maret adalah tanggal lahir bunda. Sedangkan ayah lahir pada tanggal 13 november. Aku sendiri lahir tepat pada tanggal 13 desember. Itulah salah satu alasan dari dua alasan mengapa tanggal 11 maret itu adalah tanggal merah dalam keluarga kami. Selain itu bagaimana dengan alasan lainnya?

Alasan lainnya adalah karena tanggal 11 maret juga ditetapkan sebagai tanggal lahirnya Dilan. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, dilan menjadi keluarga kami sejak dia berusia 6 bulan. Ayah dan bunda tidak tahu kapan tepatnya dilan dilahirkan, karena kata pengurus panti asuhan, dilan ditemukan di depan rumah panti pada saat pagi hari. Dan tidak ada info apapun baik mengenai orang tua, keluarga ataupun informasi tentang dilan sendiri. Sedangkan nama dilan sendiri adalah nama yang diberikan oleh pengurus panti tersebut.

Tapi bunda tidak mau memikirkannya, siapapun dilan saat itu bunda menyukainya. Tak perduli bagaimana latar belakang orang tua ataupun keluarga kandungnya. Tak perduli bagaimana kondisi dilan saat itu. Yang ada di mata bunda, mulai saat itu dilan akan menjadi anaknya dan akan terus menjadi anaknya sepanjang hidupnya. Tak akan ada yang bisa menggoyahkan kemauan bunda saat itu.

Ayah sangat mengerti watak bunda, sehingga apapun yang bunda inginkan akan ayah turuti. Sedangkan aku, aku juga menyukai dilan sejak aku bertemu dengannya pertama kali di panti asuhan tersebut. Bagiku, ketika bunda mengatakan dilan adalah anaknya, maka aku juga akan mengatakan ke semua orang, ah tidak hanya ke semua orang tapi aku akan katakan ke dunia dengan lantang, bahwa dilan adalah adikku!

Sejak dilan menjadi anggota keluarga kami, yang pertama dilakukan bunda adalah menetapkan tanggal lahir dilan. Bagi bunda itu hal penting, bunda tak perduli meski harga mata uang rupiah turun drastis terhadap mata uang dollar amerika ataupun harga cabai melambung tinggi. Yang penting adalah menetapkan tanggal lahir dilan. Dan saat itu bunda menetapkan pilihannya, tanggal lahir dilan adalah 11 maret, bersamaan dengan tanggal lahirnya.

Ayah sendiri tak sedikitpun memberi berkomentar. Ayah menyukainya, dan langsung mengurus akta kelahiran untuk dilan. Dan membuat nama dilan ada di dalam kartu keluarga kami hari itu juga. Entah bagaimana caranya ayah melakukannya pada saat hari itu juga. Ayah seakan tak perduli bagaimana caranya meski dia harus melawan birokrasi negara, pokoknya ayah ingin semua jadi hari itu juga.

Hari itu aku pikir juga menjadi salah satu hari yang membahagiakan untuk ayah. Kedatangan dilan ke rumah kami, ke keluarga kami, membawa angin yang sangat sejuk untuk keluarga kami. Membawa kebahagiaan yang sempat menghilang dari mata bundaku. Sebegitu besar cinta ayah terhadap bunda dan kuatnya keinginan ayah untuk membahagiakan bunda. Dia tak akan segan-segan dan tidak akan berpikir 2 kali untuk pasang badan jika terjadi sesuatu hal yang berkaitan dengan bunda.

Kupikir sosok itulah, sosok terkeren dari ayahku. Orang yang akan selalu menjadi panutanku dan aku sangat bangga mempunyai ayah seperti dirinya.

Bersambung...
Diubah oleh rafa.alfurqan
0
Lapor Hansip
08-06-2016 17:25
Update lagi dong gan emoticon-Toast
0
Lapor Hansip
09-06-2016 10:17
Quote:Original Posted By vandals.kaskus
Update lagi dong gan emoticon-Toast


Jumat ane update gan emoticon-Jempol
0
Lapor Hansip
09-06-2016 22:39
Episode 4
11
Ulang Tahun Bunda & Rafa

Hari itu tepat tanggal 11 maret, aku pun masih di Bandung saat itu. Masih berada di rumah sakit dan sedang menangani salah satu pasien yang mengalami luka bakar.

Aku sengaja mematikan handphoneku saat itu karena aku sudah meramalkan bahwa bunda akan terus menggangguku hari ini. Mengapa? Karena sampai dengan pagi ini aku masih belum ada di rumah. Aku tak perduli jika orang lain akan sulit menghubungiku, karena sehari sebelumnya aku sudah membuat selebaran yang kusebarkan ke seluruh area rumah sakit dan yang isinya berupa pengumuman bahwa pada hari ini, tanggal 11 maret, nomor handphoneku tak akan aktif dikarenakan sesuatu hal.

Namun bukan berarti aku akan lari dari tanggung jawabku sebagai seorang Dokter. Di pengumuman tersebut sudah aku informasikan bahwa mereka yang membutuhkanku masih bisa menghubungiku dengan cara menghubungi nomor yang sudah kutulis disana. Yap betul, kalau kalian bisa menebaknya. Nomor itu adalah nomor handphone andre. Lantas nomor siapa lagi yang bisa kutulis di situ, selain nomor sahabatku yang satu itu? Sahabat yang bisa aku andalkan kapan saja dan dimana saja.

Tentu saja untuk pengumuman tersebut andre tak boleh tahu. Aku sengaja tak memberikannya selebaran tersebut. Dan tak lupa isi pengumuman di selebaran itu aku tambahkan note: siapapun boleh tahu pengumuman ini terkecuali Dr. Andre Syaifuddin Utomo.

Quote:
PENGUMUMAN

Dengan ini disampaikan bahwa besok pada tanggal 11 Maret 20XX, saya yang bernama:

RAFA

Tidak dapat ditemukan dan diganggu selama 1x24 jam dikarenakan ada urusan yang luar biasa pentingnya. Hal ini sudah diketahui oleh pimpinan Rumah Sakit dan telah disetujui dengan seikhlas-ikhlasnya.

Untuk itu pemeriksaan rutin yang biasanya saya lakukan pada besok hari tidak dapat saya laksanakan. Namun jika ada hal yang sifatnya sangat URGENT maka saya dengan ikhlas untuk tetap membantu secara “DIWAKILKAN” oleh Dr. Andre Syaifuddin Utomo dengan nomor HP. 081242xxxxx

Demikian saya sampaikan dengan senang hati dan dalam kondisi waras sewarasnya. Atas pengertian dan kerja samanya saya ucapkan NUHUN.

Note: Untuk kesepekatan dan kenyamanan bersama, mohon kerja samanya untuk tidak memberitahukan pengumuman ini ke Dr. Andre.


-0o0-

Andre : Rafa, rafa, coba deh kesini sebentar!?
Rafa : Apa ndre? Kamu gak liat aku sedang sibuk ngurus pasien?
Andre : Hey kalau kamu ngomong begitu lantas bagaimana denganku? Kamu pikir aku gak ada kerjaan? Kamu pikir cuma kamu yang sibuk?
Rafa : Iya tau kok kamu ada kerjaan, tau kok kamu sibuk, kan kamu Dokter. Jawabku kali ini sambil memandangnya.
Andre : Lantas kalau kamu tahu aku juga sibuk, kenapa semua orang, semua pasien-pasienmu bahkan nenek yang jualan cireng di kantin menelponku cuma untuk nanya kamu lagi dimana dan lagi ngapain?
Andre : Memangnya kamu itu anak kecil yang selalu aku tenteng kemana-mana? Atau memangnya kamu itu istriku?

Andre : Lagi dari mana mereka semua tahu nomor teleponku coba!?
Rafa : He he he...

Aku tersenyum padanya kemudian memberikan selebaran yang aku buat kemarin.

Rafa : Maaf ndre, aku lupa ngasih kamu selebaran itu.

Kemudian dia membacanya, membacanya dalam hati sampai dia sadar kalau dia diperlakukan semena-mena disitu, hingga akhirnya dia marah dan secara reflek dia akan membaca kata-kata umpatan yang dibuat sendiri olehnya secara otodidak dengan volume yang kupikir cukup kencang.

Untuk menghindari dirinya semakin mengeluarkan kata-kata umpatan lain, aku langsung menghampirinya dan langsung membisikkan sesuatu di telinganya.
Rafa : Maaf ya ndre, semuanya karena ada alasannya.
Rafa : Sebagai gantinya, kita akan pulang cepat hari ini. Tenang aku sudah mendapatkan pengganti kita sementara.

Andre langsung diam.

Andre : Memangnya kita mau kemana?

Kupikir aku sudah berhasil menjinakkannya, dengan sebuah sogokan pulang cepat.

Rafa : Kita langsung ke Jakarta.
Andre : Jakarta? Ngapain?
Rafa : Udah ikut aja.
Andre : Ya sudahlah. Eh terus ini nasipku bagaimana. Aku kesal kalau tiap 5 menit ada yang mencarimu! Hey hey hey!!!

Andre kembali berteriak padaku karena aku sudah berlari meninggalkannya sebelum dia kembali sadar dengan nomor handphonenya.

Siang menjelang sore waktu itu aku langsung menuju Jakarta bersama andre dan eri. Aku ingin tiba di rumah sebelum malam.
Eri : Mas rafa, kok aku jadi ikut dibawa sih?
Rafa : Iya maaf ya ri, habisnya andre ngambek sama aku dari tadi. Dia baru mau ngomong lagi sama aku setelah kamu kuajakin ikut.
Eri : Ha ha ha, ih pasangan suami-istri ini bisa ribut juga ya. Tapi kenapa urusan rumah tangga kalian jadi bawa-bawa aku?

Eri : Tau gak, aku jadi gak enak sama cindy, karena aku tiba-tiba minta tolong dia gantiin aku.
Rafa : Iya maaf ya, nanti kamu sama cindy aku traktir makan kapan-kapan.
Eri : Yeeeeyy, janji yaaaa?
Rafa : Bungkus bu!
Eri : Ha ha ha

Melihat kami berdua yang asik mengobrol, rupanya ada yang tidak senang.

Andre : Terus kamu anggap apa aku disini jika kamu cuma mengajak eri dan cindy makan bareng?
Rafa : Kamu juga ikut deh, ih ngambekannya gak ilang-ilang nih. Tapi kamu bayar sendiri.
Andre : Hehh! utang-utangmu aja belum kamu bayar, giliran traktir orang aku gak diajak!?

Aku dan eri tertawa mendengar keluhan andre.

Eri : Emang kita mau kemana mas rafa?
Rafa : Ke rumahku. Hari ini bunda dan dilan ulang tahun.

12
Permintaan Bunda

Kami akhirnya tiba dirumahku, tepat jam 6 sore. Bunda yang mendengar suara mobilku langsung keluar rumah dan segera menghampiriku. Aku tahu bahwa bunda akan langsung marah-marah padaku karena aku datang telat dan sengaja mematikan handphoneku. Tetapi untungnya saat itu bunda jadi tak bisa marah setelah melihat kami keluar dari mobil.
Bunda : Ha ha ha ha. Kalian siapa? Maaf saya tidak mengundang badut ke rumah saya hari ini.
Rafa : Ih bunda ih, anak sendiri dibilangin badut.
Bunda : Terus kalian ngapain pake kostum begitu? Yang satu pake kostum batman (aku), terus yang satu pake kostum temennya batman ya? (andre)
Rafa : Itu kostum robin bunda, namanya andre teman kantor rafa.
Bunda : Ah iya robin (sambil mengajak bersalaman dengan andre). Salam kenal ya andre, terima kasih udah mau datang. Dan wanita ini siapa namanya? Teman kantor rafa juga? Cantik.

Eri : Terima kasih bunda, nama saya Eri. Jawab eri sambil tersipu malu.
Bunda : Oh namanya eri, salam kenal juga ya eri. Ya udah semuanya ayo masuk kedalam, anggap aja rumah sendiri. Lagian kalian udah telat datangnya.
Rafa : Ya mau gimana lagi bunda, kan kasian pasien-pasien kalau gak diurus dulu.
Bunda : Huh kamu bisa aja cari alesan. Bunda juga tau kamu sengaja datang pake kostum beginian biar bunda jadi lupa buat marahin kamu kan?
Rafa : He he he, bunda tau aja. Ih bundaaa keyeeeeeeen deeh.

Kami pun semua tertawa, sedangkan andre tampak jijik melihat melihat tingkah sok imutku, lain halnya dengan eri yang tertawa terbahak-bahak.

Bunda : Yah beginilah anak bunda, kadang dia emang kaya anak kecil.
Andre : Iya, udah tahu kok bunda.

Tak lama kemudian dilan datang bersama ayah.

Dilan : Bundaaa ada etmeeeeeeennnnnnnnn. Etmeeeeeeennn bundaaaa eeetmeeeen! Teriaknya sambil berlari ke arahku.
Rafa : Eeeetttmeeen dataaaanggg, cciiiiaaattttt!!!!! Kemudian aku memeluknya.
Andre : Roooobbbbiiiinnnnnnnnn! Kata andre ke dilan.
Dilan : Emoh, eeettttmeeeeennn!
Rafa : Hayo dilan, serang obbiiinnnn.
Dilan : Ccceeyyaaaanggggg!

Aku dan dilan menyerang robin, memukul-mukul robin dengan apa aja yang ada di dekat kami saat itu.

Andre : Dilan, ini robin temennya batman. Bilang andre ke dilan dengan muka memelas.
Dilan : Emmooohh, obbiin ahat (robin jahat). Dilan kembali memukul-mukul si robin dengan tangan kecilnya yang lucu.
Andre : Fa fa fa, sejak kapan robin jadi musuh batman sih!? Bilangnya kepadaku.
Rafa : Sejak kamu dirumahku. Ciiiiaaaattt! Aku kembali menyerang robin bersama dilan.

Semua tertawa melihat yang kami lakukan saat itu, bahkan bi odah sampai tak tahan ingin buang air kecil karena tertawa terbahak-bahak.

-0o0-

Kami akhirnya masuk ke dalam rumah, menyempatkan diri untuk shalat maghrib dan isha setelah makan bersama. Saat itu ayah sedang sibuk dengan teleponnya, entah sedang menelepon siapa. Sedangkan andre dan eri sedang bermain dengan dilan. Dan aku sendiri sedang duduk berdampingan dengan bunda.
Rafa : Bunda, selamat ulang tahun.
Bunda : Terima kasih rafa.

Kemudian bunda memelukku.

Bunda : Kamu dan dilan adalah kado hadiah terbaik selama hidup bunda. Bunda sayang kalian.
Rafa : Kalau sama ayah gak sayang?
Bunda : Kalau sama ayah, bunda sangat mencintainya. He he he.
Rafa : He he he. Bunda mau hadiah apa dari rafa?
Bunda : Hhhhmmm apa yaa?
Rafa : Hayooo apaaa?
Bunda : Berjanjilah sama bunda, kalau bunda meninggalkan kalian duluan. Kamu harus menjaga dilan dan ayah buat bunda.
Rafa : Bunda ngomong apa sih, jangan ngomong gitu ah.
Bunda : Berjanji sama bunda ayo! Itu permintaan bunda yang harus rafa turutin. Rafa mau bikin bunda senang kan?

Tiba-tiba air mata bunda menetes perlahan.

Rafa : Bunda kenapa? Tanyaku ke bunda sambil menyapu air matanya dengan jariku.
Bunda : Bunda gak papa kok, bunda malah senang kamu bisa datang hari ini, kamu gak lupa hari ini. Tapi bunda ingin kamu bisa berjanji sama bunda soal tadi. Janji ya nak?
Rafa : Iya bunda, rafa janji. Jawabku sambil memeluk bunda kembali.

Kami akhirnya kembali ke Bandung setelah dilan tertidur. Karena pada saat itu dilan tak ingin berpisah denganku. Sebelum kami pulang, aku menyempatkan diri ke kamar dilan.

Selamat tidur adikku sayang, bermimpilah yang indah dilan.
Terserah jika besar nanti kamu mau jadi presiden, pilot, engineer, dokter, musisi, penulis, pemain bola atau bahkan batman.
Abang akan selalu ada buat kamu.


Kemudian aku mencium kening dilan.

Rafa : Selamat malam batman, selamat malam dilanku.

13
Dia Akhirnya Kembali

Andre : Siapa yang telpon fa?
Rafa : Bunda
Andre : Tumben beberapa hari ini, tiap pagi bundamu selalu telepon?
Rafa : Iya, bunda marah-marah soalnya tulisan batman di kepala dilan belum bisa hilang-hilang.
Andre : Lho kok bisa? Kamu ya yang nulis?
Rafa : Iya lah, masa bi odah. Aku tulis di kepalanya dilan sebelum kita pulang. Nah aku gak tau kalau board marker yang kupakai itu permanen, waktu itu aku nulis lampu kamarnya dilan gak aku nyalain sih.

Andre dan eri tertawa mendengarnya.

Eri : Ih, mas rafa nakal ih. Kan kasian dilan.
Andre : Kalau gak nakal bukan rafa namanya ri. Lagi ngapain tulis begituan di kepalanya dilan?
Rafa : Cuma bikinin name tag buat dia kok. Eh, ngomong-ngomong pasien kamar nomor 1708 masih di sini kan?
Eri : Maksudnya kiki saigo? Iya masih, tadi pagi aku masih lihat dia kok.
Andre : Pasien yang dulu sempat bunuh diri itu kan ya? Tanya andre ke eri.
Rafa : Kalian pernah ngobrol dengan dia gak? Tentang apa aja.
Eri : Gak ada mas rafa, setauku dia gak pernah ngomong sama siapa-siapa.
Andre : Bisu ya?
Rafa : Heeiissssh! (kulempar baju kerjaku yang saat itu sedang aku pegang ke andre).
Rafa : Dia bisa ngomong kok, ibunya cerita padaku.

Tak lama eri pergi setelah mendapat panggilan telepon, kupikir saat itu ada yang harus dilakukannya.

Andre : Kenapa memang fa? Jangan bilang kamu tertarik sama kiki saigo itu? Dari kemarin kamu bertanya tentang dia terus
Rafa : Mungkin, jawabku singkat.
Andre : Ih, jangan ih! Kamu ini memang gak peka atau pura-pura gak peka?
Rafa : Apanya sih?
Andre : Eri itu suka sama kamu! Bayangin bakal gimana dia kalau tau kamu menyukai orang lain?
Rafa : Tapi aku gak suka sama eri, aku menganggap dia itu cuma temen.

Rafa : Kupikir, bukannya malah kamu yang suka dengan eri?
Andre : Iya, aku memang suka sama dia tapi dia sukanya sama kamu. Siapapun yang melihat tingkahnya saat dekat dengan kamu, udah bisa nebak kalau dia suka sama kamu.
Rafa : Lantas cuma karena dia suka sama aku, kamu memutuskan berhenti untuk menyukainya?

Andre langsung terdiam mendengar perkataan terakhirku.

Dengar, tak apa jika kamu berhenti menyukainya selama kamu belum mencintainya. Tapi jangan bilang kalau kamu sudah mencintainya jika kamu bisa berhenti menyukainya.

Jika memang kamu menyukainya, ungkapkanlah perasaanmu padanya, bagaimanapun caramu melakukannya. Toh aku yang kamu pikirkan sebagai salah satu sainganmu sudah memberitahumu bahwa aku tak pernah masuk ke dalam medan perangmu.

Tak perduli jika nanti pada akhirnya dia tetap menolakmu, selama kamu sudah menyampaikan isi hatimu. Perjuangkanlah dia dan suatu saat, suatu saat nanti dia akan merasa berarti ketika tahu kamu pernah memperjuangkankannya.


Andre hanya terdiam mendengarkanku. Aku mengambil baju kerjaku dan meninggalkannya sendirian agar dia bisa berpikir.

Kamar 1708, saat ini aku berada tepat di depan kamar tersebut. Aku lihat ibu kiki tidak ada di kamarnya. Namun orang yang sebenarnya sedang kucari saat itu adalah dia, kiki saigo. Iya, dia ada di kamar tersebut. Dia tidak sedang tidur, dia lagi-lagi seperti tenggelam dalam lamunannya. Selalu seperti itu setiap kali aku melihatnya. Tak inginkah dia keluar dari dunia buatannya itu, pikirku.

Aku masuk ke dalam kamar tersebut, sepelan mungkin agar dia tak terganggu dengan kedatanganku. Aku duduk di sampingnya, kemudian melihat wajahnya.

Hey kamu, kamu anggap siapa sih dirimu? Kenapa kamu membuat dirimu seakan-akan membawa beban dunia setiap saat?

Kemudian aku mengeluarkan sebatang cokelat dari kantong bajuku. Iya, aku selalu membawa cokelat kemanapun aku berada. Setiap kali aku merasa stress dengan overloadnya kerjaanku, cokelat akan meredakan kembali emosiku.

Rafa : Cokelat?

Dia terbangun dari lamunannya, namun dia hanya diam dan menatapku. Dia melakukannya selama beberapa menit sehingga cukup membuat bulu kudukku merinding.

Jujur saja aku jadi takut kalau lama-lama dilihat tanpa diajak berbicara sedikitpun. Sehingga aku memutuskan untuk mundur hari itu, kupikir cokelat tidak bisa membuat dia mau berbicara denganku.

Keesokan harinya, aku kembali datang ke kamarnya. Dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Aku duduk di sampingnya dan memberikan sesuatu, tapi kali ini tidak dengan cokelat.

Rafa : Ini boneka buat kamu.

Aku membelikannya boneka minion yang besar. Tapi sama, dia tidak memberikanku respon apa-apa. Hanya memandangku dengan diam. Sehingga aku memutuskan untuk kembali mundur hari itu.

Aku mundur bukan berarti aku menyerah. Aku kembali keesokan harinya, aku datang ke kamarnya kali ini bukan dengan membawa cokelat ataupun boneka tapi bunga.

Rafa : Ini bunga lily untukmu. Kamu suka bunga kan?
Ibu Kiki : Ibu senang kamu setiap hari datang menjenguk kiki, rafa.

Ibu Kiki : Kamu segitu inginnya berbicara dengannya ya?
Rafa : Iya, he he he. Tapi kayanya hari ini kesempatan terakhir saya untuk membuat dia mau berbicara dengan saya.
Ibu Kiki : Lho kenapa memangnya nak?
Rafa : Ibu katanya hari ini sudah ingin membawa kiki pulang. Jawabku sambil tersenyum

Ibu Kiki : Nak rafa boleh kapan saja datang ke rumah kami, ke rumah kiki. Ibu malah senang kalau nak rafa mau datang menjenguk kiki.
Rafa : Benarkah? He he he.
Ibu Kiki : Iya benar. Sini deh nak rafa, ibu kasih liat kamu sesuatu.
Rafa : Apa itu bu?
Ibu Kiki : Sejak kamu ingin tahu bagaimana kiki yang dulu, ibu sengaja hari ini membawa album foto kiki sejak kiki kecil dulu.

Kemudian beliau memperlihatkanku semua foto-foto kiki. Foto-foto yang menjadi bukti betapa berbedanya kiki yang dulu dengan kiki yang sekarang. Dia selalu tersenyum di setiap fotonya, baik itu saat dia lakukan dengan sadar maupun tak sadar.

Rafa : Dia sering tersenyum ya bu?
Ibu Kiki : Iya kan, ibu gak bohong kalau soal itu.
Rafa : Ih dia dulu ingusan yaa bu!? Ha ha ha. Ini lagi, kenapa dia nangis bu? Ah ini kotoran kuda ya bu?
Ibu Kiki : Ha ha ha, iya dia waktu itu pas jatuh terus pas banget jatuhnya di kotoran kuda. Ayahnya bukan nolongin dulu malah difoto.
Rafa : Lucu–lucu ya bu. Ibu rencananya mau pulang jam berapa?
Ibu Kiki : Ini sebentar lagi.
Rafa : Mau rafa anterin?
Ibu Kiki : Gak usah, kasian pasien-pasiennya nak rafa nanti. Ada yang jemput kok nanti.
Rafa : Oh gitu, baiklah.

Aku kemudian kembali mendekati kiki dan menyampaikan hal ini kepadanya:

Hey kamu, cepatlah bangun dari tidurmu. Ibumu sudah menunggu terlalu lama.

Hentikan berpikir yang terlalu banyak. Kamu bukan Presiden Indonesia bahkan bukan Presiden Amerika. Jadi berhentilah membuat dirimu seakan menjadi orang yang bertanggung jawab menanggung beban dunia ini sendirian.

Tersenyumlah, seperti kamu dulu. Tersenyumlah kapanpun dan dimanapun kamu. Radit juga pasti akan senang kalau melihat kamu tersenyum kembali.

Kamu tak bersalah atas apa yang terjadi pada radit. Radit juga pasti tak ingin kamu berlarut-larut dalam kesedihan yang seharusnya tak perlu kamu lakukan.


Dan plakk! Dia bereaksi setelah mendengar ucapan terakhirku. Dia menamparku! Dan kemudian dia menangis.

Kiki : Kamu tak tahu apa-apa tentang dia! Kamu tak tahu apa-apa tentang radit!
Kiki : Jadi hentikan omonganmu itu!

Tak lama kemudian dia langsung jatuh pingsan. Ibunya yang saat itu melihat kejadian tersebut hanya bisa terdiam seakan tak percaya bahwa kiki yang selama 2 tahun ini yang tak pernah berbicara, sekarang bisa berbicara bahkan bisa menamparku.

Tapi kemudian keadaan langsung berubah setelah kiki jatuh pingsan.

Ibu Kiki : Kikiiii! Teriak ibunya.

Teriakan ibunya membuat beberapa dokter dan perawat yang saat itu berada di luar langsung menuju kamar 1708 tersebut.

Aku kemudian langsung mengecek keadaannya. Aku tak merasakan detak jantungnya pada saat itu. Aku langsung memberikan CPR kepadanya. Hampir beberapa menit namun tak ada perubahan, kemudian aku melakukan langkah mouth to mouth kepadanya. Aku memberikan udara melalui mulutku ke mulutnya kemudian melanjutkan massage. Aku lakukan beberapa kali, dan akhirnya, untunglah detak jantungnya kembali.

Ibu Kiki : Kikkiii, kikiiiiii…
Rafa : Dia sudah tidak apa-apa bu. Sepertinya perubahan tiba-tiba yang terjadi padanya membuat tubuhnya bereaksi terlalu cepat sehingga membuat jantungnya sempat terhenti.

Rafa : Ibu sepertinya tak usah pulang dulu, biarkan kiki disini dulu. Biar nanti saya yang akan terus memonitor keadaanya.
Ibu Kiki : Iya nak rafa.

Kemudian beliau mendatangi kiki sambil menangis...

Akhirnya dia kembali. Itulah pertama kalinya dia berbicara kepadaku. Bahkan menamparku. Ah, sakitnya masih terasa sampai sekarang.
Diubah oleh rafa.alfurqan
0
Lapor Hansip
09-06-2016 23:35
Wew cpr mouth to mouth....

Gw harus pelajari tehniknya nih...kliatannya asik
0
Lapor Hansip
09-06-2016 23:40

Wah musti mejeng di pejwan nih gua
Btw maho pindah di bawah ye
|
|
|
|
\/
0
Lapor Hansip
10-06-2016 09:00
Quote:Original Posted By jombloelegan
Wew cpr mouth to mouth....

Gw harus pelajari tehniknya nih...kliatannya asik

buahaha si agan langsung semangat emoticon-Wakaka

Quote:Original Posted By memen82

Wah musti mejeng di pejwan nih gua
Btw maho pindah di bawah ye
|
|
|
|
\/

Ya Allah tolong selamatkan hamba emoticon-Mewek
0
Lapor Hansip
10-06-2016 10:33
sundul dulu.....

si kiki menjurus ke stress ato depresi ya?
0
Lapor Hansip
10-06-2016 11:24
jumat jadi update kah?
0
Lapor Hansip
10-06-2016 12:29
Ijin nenda gan
0
Lapor Hansip
10-06-2016 14:51
Quote:Original Posted By jombloelegan
sundul dulu.....

si kiki menjurus ke stress ato depresi ya?

wait ya gan sampe ceritanya udah jauhan dikit emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By sulistiyotawang
jumat jadi update kah?

enggak gan, sudah ane posting tadi malam

Quote:Original Posted By niat.baik
Ijin nenda gan

silahkan gan emoticon-Jempol
0
Lapor Hansip
10-06-2016 18:53
haish....

bisa aje si Rafa.... giliran kiki mau kasi CPR
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
luman--awaken
Stories from the Heart
i-think-love-is-bullshit
Stories from the Heart
7-tahun-penuh-cinta-atau-luka
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.