alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/559e2f1c96bde6e6708b456d/tamat-3200-miles-away-from-home
Lapor Hansip
09-07-2015 15:21
3200 miles away from home
Past Hot Thread
Selamat sore agan & aganwati semua... sore juga silent readers di pojok sana! emoticon-Big Grin

Buat yang sedang puasa, mudah-mudahan masih kuat puasanya... emoticon-Kiss (S)

Mohon izin ane silent reader yang mencoba untuk tobat buat bikin thread di sini... agak malu juga sih sama usia ID ane yang udah lebih dari satu dasawarsa tapi status masih noob... maklumlah... ini ID ane buat pas kaskus masih ada forum BB17 & fight club dan emang lebih banyak dipake buat ngepost di 2 (alm.) forum itu... blom lama ane cek ini ID dan ternyata masih aktif... well, kenapa ga dicoba ikutan nulis di sini...

Kalo soal cerita, terus terang ini gabungan antara cerita lama ane dengan fiksi... ane ga bakal kasih tau bagian mana yang nyata dan yang mana yang fiksi... yang jelas time span dari kisah ini antara tahun 2011 - 2012, khususnya waktu ane berkesempatan tinggal di negeri yang letaknya sekitar 3200 mil dari tempat ane tinggal sekarang... Penasaran di mana tempatnya? monggo dibaca di cerita...

Tokoh utama di cerita ini mungkin cuma tiga orang...ane, waktu itu umur 24... postur 175/55 (di awal cerita... di akhir no comment) secara fisik sebagaimana orang Indonesia lainnya... kecuali mungkin rambut yang agak kecoklatan dan kulit yang agak sedikit lebih terang...

tokoh kedua sebut aja Riani... dari namanya udah jelas doi cewek... seumuran ane... postur sebagaimana umumnya wanita seumurannya dengan ada bagian tubuh tertentu yang agak menonjol... IYKWIM... emoticon-Malu (S)

tokoh ketiga yang akan muncul di paruh kedua kisah ini... mungkin kalo ane sendiri ngeliat doi sebagai bidadari yang kesasar di bumi... hampir setinggi ane dengan postur yang sangat ideal... umurnya 4 tahun lebih muda dari ane... kulit putih, dan memang secara fisik akan jauh berbeda dari orang Indonesia karena dia memang bukan orang Indonesia... Yang paling ane gak bisa lupakan sih rambut merahnya itu... bener-bener ga bisa hilang dari memori...

Tokoh lain akan ane deskripsikan lebih lanjut di cerita...

Kalo rules, ya silakan merujuk rules umum di SFTH dan kaskus aja... Dan jangan kepo!

singkat kata... enjoy emoticon-Smilie

Quote:

Prolog:

Saat itu bulan Oktober 2011. Aku dalam perjalananku mendaki bukit menuju kamarku di asrama setelah mengumpulkan paper ujian tengah semester. Suhu udara bulan ini menurutku masih cukup bersahabat. Suasana hatiku saja yang sedang tidak bersahabat. Beberapa tugas paper tengah semester yang masih bersisa merupakan salah satu penunjang utama kegalauanku saat itu. Tapi penyumbang utama kegalauanku saat itu adalah e-mail yang kuterima pagi ini. E-mail perpisahan dengan sosok yang sudah mewarnai kehidupanku 5 tahun belakangan ini.

Hatiku semakin galau ketika mengingat kata demi kata dalam e-mail itu. Kepalaku semakin menunduk menahan kesedihan seolah bersimpati dengan suasana hatiku. Angin musim gugur yang berhembus perlahan dan bergugurannya daun-daun beraneka warna secara perlahan menambah dalam kegalauanku.

Satu daun merah. Dua daun merah. Empat daun kuning. Lima daun jingga. Dan kemudian diikuti kawan-kawan daunnya secara perlahan gugur dengan keanggunan dan seolah satu ritme dengan langkah kakiku.

Ya. Aku dengan sukses berubah menjadi orang yang kehilangan semangat hidup hari itu.

Namun di depan pintu masuk asrama aku berpapasan dengan sosok lain berambut merah yang baru kukenal sekitar dua bulan belakangan. Senyum manisnya secara instan muncul ketika berpapasan denganku di situ. Melihat senyumnya aku memaksa kedua ujung bibirku membalasnya. Dia seolah mengerti ada sisa-sisa kegalauan dalam air mukaku. Dia langsung menghampiriku dan memelukku sejenak. Sejurus kemudian dia memeluk tangan kiriku dan menggiring langkahku ke spot favorit kami di lantai basement asrama. Sesampainya di sana kami duduk bersebelahan di sofa empuk yang sudah jadi langganan kami. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung merebahkan kepalaku di pundaknya dan secara refleks air mataku mulai menetes seiring mulutku yang mulai terisak.

“It’s alright Jojo, it’s alright. Just let it out now and you’ll feel better soon. I’m here just for you.”, hiburnya sembari mengelus-elus rambutku.

Yah, moodku jadi sedikit membaik hari itu. Sedikit. Sedikit sekali.



Ngondek... eh... indeks! emoticon-Malu (S)

Paruh Pertama: Korea Sweet Korea
That Call at The Tip of the Year
Obat galau combo di malam tahun baru
the List
farewell, comrades (1)
Farewell, Comrades (2)
See you again Jakarta!
Touchdown!
Indonesian Strong Guy!
The First Night
노래 (Norae) Time!
Please...
Kompatriot
Di Atas Bukit!
My Neighbour My Bro!
Annyong Haseyo! Jeo neun...
Different Faces of Women
Ari
Different Faces of Women Part Deux
Prelude to Interogation
MT!
The Other Compatriot
Rara dan Riani
Dealing with The English
Cheats
wanderlust
harem time
Ketika Teman Lama Menghubungi (1)
Side Story: Lila dan Mas Ghe
Ketika Teman Lama Menghubungi (2)
Side Story: Astro
Kembali Ceria
Destination: Ansan
Halo... Perkenalkan Nama Saya...
urgent call to Daejeon
confession
Nasi Goreng and the Polyglots
Menghindari Babi
Tipe-tipe Orang Korea
Sempitnya Duniaku
Destination: Busan Part 1
Destination: Busan Part 2
(not so) lonely birthday
side story: Papa Jo
Men Sana in Corpore Sano
Orang-orang Indonesia di Negeri Ginseng
Berita dari Tanah Air
Side Story: I'll Do Everything for Them, Jo!
See You on September, Jen!
Summer Class
Muddy Love (1)
Muddy Love (2)
Side Story: Jangan Lama-lama ya perginya...
Mamaaaaa! Aku pulang!
Mamaaaaa! Aku Pulang! Part Deux
Side Story: Belajar Berenang
Mamaaaaa! Aku Pulang! Part Troix
Hae Gaes!
Side Story: The Ozawa Theory
Compact Version a.k.a. Bonsai
Kembali ke Negeri Ginseng

Preambule to second half:
Side Story: Permission from Her

Paruh Kedua: Si Rambut Merah
Huda's Story
The Red Haired Girl
When She Meets Her
When She Meets Her Part Deux
When She Meets Her Part Troix
Terus Aku Kudu Piye?
Numpang Makan di Daejeon
Kolam Ikan
Sepiring Besar Sashimi dan Pantai
Gwangalli dan Mimpi-mimpi Kami
Side Story: Rendezvous after Gwangalli
And She's Getting Deep and Deeper
And She's Getting Deep and Deeper (cont'd)
Loneliness
1915 metres above the sea level
Side Story: Monyet Bersenapan Mesin
1915 metres above the sea level part deux
1915 metres above the sea level part troix
Side Story: Kejutan Tengah Malam
She Moves
Bad Company
Cerita Semalam
Cerita Semalam Part Deux
Anak Bekasi di Kelas
Tesis dan Ajakan Saddam
Ipselenti
Chon-Am Jon
Side Story: Coklat, coklat dan coklat!
Side Story: Kisah 4 Matahari Terbit
My oh My
Elegi Hujan
Fainted
Ashitaka
She's Here
Escape! Escape!
N
She's My Cheerleader
Side Story: 14 Januari 2016
Masa Ujian dan Ujian yang Sebenarnya
D.A.B.D.A
Fixing a Broken Heart
Ternyata...
Heartbreak Makes Me...
Asfala Safilin
Side Story: Singin in The Rain
Triple Date (?)
You Called Yourself a Man?!
I Quit!
She's a Rebel
Dancing in The Moonlight
Booty Call
Side Story: He is Indeed My Son
Haven's Here
La Vie et le Raison d'etre
Welcoming 2012
Side Story: Who is She?
The Moment of Truth
Metasequoia
Mimpi
Sepasang Kotak Abu-abu
Concluding Part: The Day

Epilog
Catatan-catatan Riani (1)
Catatan-catatan Riani (2)
Meet The ...
Meet The ... (Cont.)
Catatan-catatan Riani (3)
Menage a Trois
Polling

Poll ini sudah ditutup - 89 Suara

Kira-kira apa status ane sekarang? 
16.85%
Single
15.73%
Married to Riani
57.3%
In a Relationship with Azra
10.11%
Married/in a Relationship/Engaged to Someone Else
Diubah oleh valerossi86
profile-picture
profile-picture
mutiaalhusna dan Idrus599 memberi reputasi
4
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 89
09-07-2015 15:32
Lanjut om jojo....
profile-picture
may14cry memberi reputasi
1
09-07-2015 15:33
That Call at the Tip of the Year

Quote:Hari itu tanggal 30 Desember. Aku baru saja menyelesaikan makan siangku bersama beberapa rekan kantorku. Ketika aku mau kembali ke ruanganku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Nomor yang belum ada di daftarku. Kucoba saja menjawabnya.

Quote:“Selamat siang, dengan Jojo. Ini dari mana?”

“Siang Mas Jojo, saya Avi dari Badan Kerja Sama Internasional Korea. Saya mau ngabarin aja nih kalo Mas Jojo aplikasi beasiswanya diterima dan diharapkan bisa berangkat kira-kira dua bulan lagi.”

“eh yang bener nih Mbak? Jadi saya ke Korea nih dua bulan lagi?”

“iya Mas. Ini saya sebentar lagi juga mau kirim surat resminya ke kantor Mas Jojo dan Kedutaan. Nanti Mas kami tembuskan juga kok.”

“....”

“Mas Jojo? Masih di situ?”

“eh, i... iya Mbak. Saya masih ga percaya aja saya bakal dapet beasiswanya.”

“hahahaha... ya udah Mas. Selamat ya”

“i... iya Mbak. Terima Kasih.”

“sama-sama”.


Dan panggilan pun berakhir. Langsung kubuka menu sms dari ponselku dan segera kuketik sebaris pesan singkat.

Quote:To: Riani
Sayang, aku lolos yang program beasiswa ke Korea. Kira-kira berangkat dua bulan lagi.


Begitu sukses terkirim, aku tidak terlalu menunggu pesan tadi dibalas segera. Aku masih sedikit gembira, euforia dan ada rasa tidak percaya atas semua yang baru saja terjadi.

Kira-kira pada pukul 1630 masih pada hari yang sama ponselku berbunyi lagi. Kali ini caller ID menunjukkan nama Riani.

Quote:“Halo Abang, selamat ya!”, ada suara renyah di ujung sana.

“Terima kasih sayang.”

“Maaf ya tadi aku rapat jadi ga bisa langsung bales pesennya. Yang jelas aku ikut senang kamu akhirnya bisa lanjut sekolah sebagaimana kamu impikan.”

“iya, alhamdulillah.”

“Tapi jujur ya Bang, tadi aku agak sedih juga begitu sadar bakal kamu tinggal ke sana. Jadi kita bakal LDR kan Bang?”

“...”

“Duh, aku jadi ga enak ngerusak suasana begini. Besok Abang ke tempatku aja gimana?”

“Iya deh kalo gitu. Sekalian tahun baruan kali ya?”

“iyaaaaa! Tahun baruan sebelum aku kamu tinggal. Btw, keluargamu udah dikabarin belom?”

“hehehe... kamu kayak ga tau aku aja”

“Nah kan... Jadi kapan kamu mau kasih tau surprise ini ke mereka?”

“Abis tahun baruan aja deh. Itung-itung jadi kado tahun baru”

“ya udah, sampe ketemu besok yaaaaa... mmuuuaaahhh”

“sampe besok sayang”


Lanjut besok lagi yes... masih kudu diketik lagi soalnya... emoticon-Big Grin
0
09-07-2015 15:42
Kayanya di cerita bakal panjang
Izin nenda dulu bos
0
09-07-2015 15:44
pertamax? ijin ngekost dulu gan
0
09-07-2015 22:16
Quote:Original Posted By allex23use69
Kayanya di cerita bakal panjang
Izin nenda dulu bos


mudah-mudahan nggak yes... mungkin ada beberapa bagian yang akan ane skip dengan pelbagai alasan... tapi ane akan coba bikin ceritanya terus mengalir kok...
0
09-07-2015 22:17
Numpang mejeng pejwan akh..
Sapa tau cerita.a rame..emoticon-Blue Guy Peace
0
09-07-2015 22:18
Ijin nenda om
0
09-07-2015 23:47
nenda dulu dah, suka sama cerita di LN~
lanjut bang
0
10-07-2015 00:11
ikut nimbrung bang emoticon-Embarrassment
jangan lupa indexnya om emoticon-Big Grin
0
10-07-2015 05:43
amanin pejwan
lanjuuttt...
0
10-07-2015 14:42
izin nenda ye gan??
0
10-07-2015 15:05
Lanjut dikit yes... tapi kayaknya bagian ini sebaiknya dibaca setelah buka puasa... emoticon-Malu (S)

Quote:Obat Galau combo di malam tahun baru

Besoknya aku begitu pulang kantor langsung menjemput Riani di tempat kerjanya. Dia terlihat sudah menungguku di depan lobby utama kantornya. Ia terlihat cukup berubah semenjak mengenalnya di masa awal kuliah. Dulu dia cenderung berpenampilan tomboi di mana lebih sering terlihat berambut pendek, tidak memakai make-up dan berpakaian cukup kaos dan jeans serta sepatu kets. Namun makin ke sini dia mulai berubah di mana dia sudah mulai bersolek serta berpakaian yang lebih feminin seperti blouse dan rok. Sesekali Ia terlihat memakai sepatu wanita dengan heels yang cukup tinggi.

Begitu melihat mobilku, ia langsung berlari menuju mobilku dan langsung masuk ke dalamnya. Begitu di dalam ia langsung memelukku erat dan mencium bibirku. Tentu saja aku merasa jadi sedikit canggung.

“Eh jangan cium-cium gini ah. Malu nih kita masih di parkiran kantormu.”

“Biarin ah, mumpung Abang masih di sini.”, katanya yang diikuti juluran lidahnya.

“Yeee... nanti keburu macet & tahun baruan di jalan lho... mau?”

“ya udah yuk, jalan.”

Sepanjang perjalanan tangan Riani tidak mau lepas dari tubuhku. Terkadang cukup memegangi tanganku yang bertumpu pada persneling, kadang lebih jauh sampai memeluk lengan kiriku. Terkadang malah ia tidak ragu-ragu menciumi pipiku. Entah kenapa ia jadi sangat manja.

Tidak. Bukan entah kenapa karena sepertinya aku tahu kenapa.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya tiba juga di rumahnya di daerah Bogor. Kami sempat bertemu sejenak dengan orang tua dan adiknya yang berencana bermalam tahun baru di daerah puncak. Kami? Tidak ikut. Riani hanya ingin menghabiskan malam tahun baru kali ini cukup berdua saja di rumahnya. Keluarga Riani tak pernah keberatan putrinya hanya berdua saja denganku di sini. Selama 5 tahun lebih kami berhubungan memang orang tuanya cenderung membebaskan kami. Bahkan aku sudah berkali-kali menginap di sini. Dan jujur saja, kami berdua sudah melepas keperawanan dan keperjakaan kami di tahun ketiga hubungan kami.

Setelah melepas keluarga Riani, aku langsung mandi dan mengganti bajuku dengan pakaian yang lebih santai. Setelah itu aku segera melangkah menuju tempat favoritku di rumah Riani: balkon kamar Riani yang menghadap ke sungai di belakang rumahnya.
Sejenak di atas sofa di balkon itu kumelamunkan apa saja yang sudah terjadi antara kami berdua khususnya di balkon itu. Balkon di kamarnya yang lantai atas itu seakan menjadi saksi bisu banyak interaksi kami selama 5 tahun belakangan. Obrolan ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, perdebatan, pernyataan cinta, kemesraan, bahkan ciuman pertama kami terjadi di balkon ini.

“Dor! Jangan ngelamun gitu dong Jo. Kesannya jadi galau banget kamu.”, Riani rupanya sudah ada di sampingku sambil membawa makanan.

“Mau ninggalin seseorang yang udah jadi bagian penting dalam hidupku selama 5 tahunan ini? Wajar atuh kalo galau mah.”

“Please sayang, jangan kayak gitu. Ini malam tahun baru lho. Please jangan rusak suasana malam yang seharusnya jadi simbol harapan kita di tahun depan.”

“iya maaf.”

“Udah yuk kita makan aja dulu. Ini aku sudah bawain sate padang kesukaan kamu. Tadi Mami beliin khusus untuk kamu.”

sebaiknya baca bagian ini setelah buka puasa


“udah gak galau nih ceritanya?”, tanya Riani mengusik sensasi orgasme mulutku.

“obat galauku yang paling mujarab!”, jawabku antusias sambil mengangkat piring yang isinya sudah berpindah ke perutku itu.

“kamu tuh ya, ga berubah. Masak iya semua penderitaan bisa dinulifikasi Cuma pake sate padang?”

“Well, that works at least for me!”

“iya aku ngerti. Tapi aku tau kok alternatif nulifikasi kegalauanmu selain sate padang”, Riani mengatakan hal itu sambil senyum dan menatapku tajam.

“alternatif?”

bagian ini juga!


Dan, yak! Hilang sudah semua kegalauanku hari itu! Benar-benar nol!

0
10-07-2015 22:35
emoticon-Belo ane heran sama idnya, umurnya sudah hampir 12 tahun :matebelo:
0
12-07-2015 13:20
Lanjut om ceritanya
0
13-07-2015 13:49
Lanjut dikit lagi... sori kalo agak tersendat yes... emoticon-Betty (S)

Quote:The List
Pukul 2330, kami sudah kembali berada di atas sofa di balkon dengan hanya berlapiskan selimut. Kami saling peluk, belai dan sesekali berciuman sambil menikmati keindahan malam itu serta sisa-sisa sensasi orgasme kami.

“Sayang...”, Riani memecah kesunyian.

“iya kenapa?”

“Aku boleh minta sesuatu gak?”

“sesuatu”

“sebenernya ada beberapa hal sih”

“...”

“iya. Jadi sebelum kamu pergi aku punya list hal yang harus aku lakukan sama kamu berdua aja”

“asal ga aneh-aneh sih, mangga”

“nggak lah. Ini hal-hal yang gampang kok. Cuma biar kita bisa nikmatin sisa waktu kebersamaan kita selama dua bulan ke depan kok.”

“Misalnya?”

“ke dufan, keliling Jakarta pake KRL & busway, ke warung special sambal, yang kayak gitu-gitu deh. Mau ya? Please...”

biasanya Riani kalau sudah begini raut mukanya sudah 11-12 dengan raut muka puss in boots kalo lagi minta sesuatu. Irressistable! Mana bisa ditolak?!

“yah... okelah. Kalo aku jawab nggak nanti galaunya malah pindah lagi ke kamu.”

“yeee... Mau ditinggalin seseorang yang udah jadi bagian penting dalam hidupku selama 5 tahunan ini? Wajar atuh kalo galau mah”

“Dih... ngebales...”

Riani cuma membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.

Tidak lama nyala kembang api yang menandakan pergantian tahun terlihat oleh kami. Yah, semoga tahun 2011 ini bisa jadi lebih baik lagi.


Besok siangnya aku kembali ke rumahku dan bertemu dengan keluargaku yang nampaknya masih agak capek sehabis tahun baruan. Berhubung aku tiba di rumah pada saat yang tepat (baca: makan siang), aku pun langsung menuruti nafsu biologisku yang muncul akibat perjalanan cukup jauh dari rumah Riani. Tidak lupa juga momentum ini akan kugunakan untuk menyampaikan berita baik yang perlu keluargaku ketahui.

“Ma... Pa...”, ucapku sambil mulai mengunyah ayam goreng dan nasi.

“Kenapa? Abis nyenggol ya mobilnya?”, Papa mulai interogasi.

“Nggak lah... ini mungkin berita bagus kok”

“yaitu...”, sambung Mama.

“Februari nanti aku mau ke Korea”

“Oh... tumben... biasanya Jenewa... brapa lama?”, tanya Papa.

“yeee... bukan dines yang biasa... Aku bakal lanjut sekolah di sana”

Hening... semua orang pada stop mengunyah...

“S2 maksudmu? Yang bener nih?”, tanya Papa yang seakan ga percaya.

“Kapan seleksinya emang? Kok ga pake cerita-cerita sih?” Mama ikutan interogasi.

“Kapok ah kalo pake cerita-cerita pas seleksi. Beberapa yang sebelom ini aku kan gagal terus, jadi ya coba ga pake cerita-cerita. Kali aja dapet surprise... dan bener kan? New year surprise!”

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Facepalm berjamaah! Tapi bagaimanapun keluargaku sangat senang saat itu. Sontak suasana jadi lebih ceria dan mereka mulai bertanya-tanya lebih detail bagaimana proses penerimaan beasiswaku serta rencanaku setibanya di sana.

Diubah oleh valerossi86
0
13-07-2015 14:37
satu lagi deh... mumpung lagi oke koneksinya...

Quote:
Farewell, comrades (1)

Semenjak hari itu, fokusku sehari-hari selain pekerjaan rutinku adalah memenuhi list yang telah dibuat Riani. List itu sebenarnya sederhana. Sangat sederhana. Intinya adalah memaksimalkan waktu dua bulan tersisa ini untuk kebersamaan kita berdua. Yup. Kebersamaan yang sepertinya mustahil didapatkan saat aku sudah pergi nanti.

Demi memenuhi list tersebut aku sampai harus resign dari pekerjaan sampingan, bangun pagi saat weekend, mengurangi jatah bermalas-malasan akhir pekan dan tentu saja materi yang juga perlu dikeluarkan. Tapi semua itu rasanya bukan apa-apa jika harus mengingat keberangkatanku yang sebentar lagi.

Selain dengan Riani, aku juga meluangkan waktuku untuk pamitan dengan rekan-rekan kantor, keluarga-keluarga terdekat, dan tentu saja teman-teman satu “geng” yang memang sudah jadi partner paling asyik buat diajak menggila.

Aku ingat malam itu, Jumat di awal bulan Februari, aku dan rekan-rekan satu “geng” membuka room karaoke yang cukup besar di daerah kelapa gading. Kami memesan ruangan itu untuk 3 jam. Setengah jam pertama, kami masih bernyanyi-nyanyi dengan normal. Suasananya masih jinak. Satu-persatu dari kami menyumbangkan suara yang kategorinya beraneka ragam mulai dari platinum, emas, sampai ke tingkat besi berkarat.

Lewat setengah jam, pintu room terbuka dan datang pelayan membawa beberapa gelas dan tentunya tiga botol ‘air api’.

“Jo, seriusan Jo? Ente traktir ini semua?”, Tama kaget melihat kedatangan botol-botol itu.

“iye... kan ini farewell ane... puas-puasin deh...”

“Ente juga nikmatin dong Jo... ga enak banget masak cuma bayarin doang?”, Toro mulai mancing-mancing.

“Ane nikmatin ntar yang nyetir pulang siapa? Ente smua kan kalo ama yang ginian bisa dijabanin ampe ke Jonggol”

“Jadi terharu ane, Jo. Ane gak bakal lupa sama kebaikan ente kali ini, Jo. Ente memang sahabat terbaik.”, sahut Tyo sambil menahan matanya yang mulai berkaca-kaca. Agak geli juga melihatnya terharu mengingat di geng kami, Tyo merupakan personil yang memiliki tongkrongan paling sangar. Tinggi besar (183/73), sangar dan kulit gelap yang sesuai dengan profesinya sebagai anggota tim SAR. Memang tampang bukan jaminan isi hati.

Sebelum air mata Tyo membasahi pipinya, tiba-tiba pintu room kami dibuka dari luar dan muncullah dua wajah yang tidak asing bagi kami. Yak, dua orang anggota geng kami menyusul kami. Bli Hendra dan Pak Dokter Dana.

“wah, dateng juga akhirnya ente berdua!”, sambutku.

“Sori, kita ngejemput temen dulu soalnya.”, jawab Hendra cengengesan.

“temen?”

“Come on girls, get inside!”, seru Dana.

Dan masuklah enam orang gadis berpakaian seronok ke room kami. Tampang? kami tidak terlalu peduli karena room karaoke kami suasananya sudah remang-remang. Nama? Buat apa kami pedulikan lagi? Dan seolah sudah mengerti perannya, keenam gadis itu mengambil tempat di antara kami.

Apa yang terjadi kemudian sepertinya tidak perlu diceritakan di sini. Intinya begini:

Akhir Pekan + Malam hari + Room karaoke sejuk dan remang-remang + air api + gadis-gadis seksi + partners in crime = PROFIT! BLOODY HUGE PROFIT!

Setidaknya sampai dua jam dan lima belas menit ke depan... sampai kemudian entah siapa yang menyusun lagu-lagu terakhir di playlist...

1. Seasons in the sun - Westlife
2. Sebuah Kisah Klasik – Sheila on 7
3. Ingatlah Hari ini – Project Pop

Semua kenakalan di ruangan itu seolah berhenti ketika ketiga lagu terakhir mulai dimainkan. Atmosfir berubah drastis. Tidak ada lagi suasana panas dari kenakalan-kenakalan kami. Bahkan pengaruh alkohol seolah sirna begitu saja. Semua orang di ruangan kompak bernyanyi. Semua orang, termasuk gadis-gadis seksi yang asalnya sampai saat ini tidak begitu kupahami. Aura kami seolah membiru. Masing-masing kami sadar bahwa suasana saat itu akan menjadi langka di masa depan. Kami hanya bernyanyi dengan penuh penghayatan. Sambil mencoba menahan air mata yang mulai membebani pelupuk mata kami.

“ingatlah hari ini....”, pungkas kami saat itu.

Setelah selesai, teman-temanku memelukku satu persatu. Kami mencoba meresapi makna kebersamaan kami melalui pelukan dan ucapan-ucapan dusta yang berupaya saling menguatkan. Ya, ucapan dusta. Kami sadar ucapan-ucapan tersebut dusta belaka karena memang kami tidak kuat dengan perpisahan tersebut. Terutama aku yang memang sudah sepuluh tahun bersama mereka. Tapi persetanlah. Mungkin ucapan-ucapan dusta itu merupakan pengisi terbaik untuk kebersamaan terakhir kami saat itu.

Sekitar 40 menit kemudian, aku sudah tiba di muka jalan di mana rumahku berada. Aku memang meminta teman-temanku untuk mengantarku sampai di sini saja. Begitu mobil mereka sudah tidak terlihat lagi, aku mulai melangkah kearah rumahku.
Namun baru beberapa langkah aku berjalan...

0
14-07-2015 05:44
[QUOTE=]
namun beberapa langkah aku berjalan[/QUOTE]
Aku menemukan kentang bertebaran emoticon-Hammer2
Diubah oleh oshinchova
0
14-07-2015 09:20
Quote:Original Posted By oshinchova

Aku menemukan kentang bertebaran emoticon-Hammer2


emoticon-Ngakak (S)

nih Gan biar ga kentang!

Quote:Farewell, Comrades (2)

Namun baru beberapa langkah aku berjalan ke arah rumah, dari belakang sebuah mobil sedan berjalan agak kencang dari arah belakang dan tiba-tiba berhenti ketika mobil itu sudah berada di sampingku.

"Jo!", seru seseorang dari dalam.

Aku lalu menundukkan kepalaku sedikit untuk melihat sosok yang memanggilku tersebut. Seorang wanita. Kuning langsat manis seperti putri solo dengan rambut bergelombang sepanjang punggung.

Ya. Dia adalah Wulan. Wanita yang pernah jadi bagian dari mimpi basahku di masa remaja. Kedekatanku dengannya sedikit lebih tua daripada keanggotaanku dengan geng yang barusan menggila bersamaku. Kami bahkan pernah mengkonfirmasikan perasaan kami masing-masing, namun entah kenapa kami menolak untuk terikat. Awalnya kami cukup nyaman dan percaya diri dengan persamaan perasaan yang tak terikat tersebut. Namun semua berubah ketika kami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di kota yang berbeda. Selain itu, kami juga pada akhirnya menemukan tambatan hati kami masing-masing.

"Eh, lu rupanya. Sudah malem ini. Ga baik anak gadis keluar malem sendirian. Nyatronin cowok pula."

"Masuk sini dulu. Aku mau ngomong sedikit sama kamu."

Aku penuhi ajakannya untuk masuk ke dalam mobil. Wulan lalu memacu mobil itu dengan perlahan entah ke mana tujuannya. Yang jelas rumahku sudah terlewat.

"Kamu jahat Jo! Mau pergi jauh ga kabar-kabari aku.", kata Wulan dengan lirih sembari terus menyetir.

"Yeeee... sama juga lu... punya cincin bagus ga ngabar-ngabarin...", sindirku tentang cincin yang melingkar manis di jari manisnya.

"Eh, itu... aku..."

"Gua sudah tahu kok soal pertunangan lu bulan lalu. Gua sama sekali ga ada masalah dengan itu. Toh kita cuma masa lalu. Mungkin dia memang sudah ditakdirkan jadi masa depan lu. Dan masa depan gua, doain aja memang sama Riani."

"..."

Wulan mulai agak sesenggukan di sini.

"Gua ikhlas kok lu mau lanjut berkeluarga sama dia. Cuma ya itu aja. Lu sama dia sudah harus dewasa kalo memang mau lanjut. Jangan kayak waktu enam bulanan lalu."

Enam bulan lalu mungkin memang masa kritis dalam hubungan mereka berdua. Entah kenapa Wulan dengan Tora, pacarnya sering berkelahi. Aku yang memang secara historis sangat dekat dengan Wulan terkena imbas buruknya hubungan mereka berdua. Wulan sering sekali meneleponku hanya untuk curhat. Lebih gila lagi, beberapa kali dia menghampiriku di rumah pada tengah malam hanya untuk minta ditemani jalan-jalan keliling Jakarta tengah malam dengan mobilnya. Sebagai sahabat dan mantan HTSan yang baik aku hanya manut-manut saja. Tapi ya namanya lelaki dan perempuan yang berdekatan, apalagi di antara kami memang pernah ada perasaan, beberapa kali terjadi hubungan intim antara kami berdua. Hubungan kami yang dekat pada saat itu kemudian merenggang setelah Riani mulai cemburu dengan kedekatan kami. Di sisi lain, Wulan dengan Tora mulai mereda konfliknya. Dan kami pun akhirnya kembali ke jalur kami masing-masing.

"Jangan ribut lagi sama Tora ya. Gak sampe dua minggu lagi gua sudah jauh lho. Ga bisa lu satronin tengah malem lagi kayak biasa", kataku cengengesan.

"Kamu tahu gak sih kenapa aku bisa sama Tora?"

"Heh?"

Mobil lalu berhenti karena sudah sampai di tujuannya: rumah Wulan.

"Yuk masuk dulu. Kita lanjut di dalem aja", ajak Wulan padaku.

"Jadi ga enak ini namu malem-malem begini."

"Ga papa. Cuma ada aku doang kok."

"Sianjrit!"

Wulan lalu masuk ke dalam setelah mempersilakanku duduk di ruang tamu. Sepenanakan nasi kemudian, Ia kembali ke tempatku duduk sambil membawa teh manis hangat dan kue kuping gajah.

“Wah... jadi ngerepotin nih...”

“Ga papa kok Jo.”

“Jadi gimana? Apa yang mau lu ceritain tadi?”

“Aku akan nikah bulan depan Jo”

“Yah... gua ga bisa dateng dong... ntaran aja napa? Bulan Juli sebelum puasa gitu... mungkin gua balik buat liburan summer”

“Kamu emang ga ngerti sama aku ya Jo”, Wulan mulai menangis.

“Yah Lan... Jangan nangis dong... Gua ga ngerti knapa nih...”

“Jadi balik lagi nih... Kamu tahu gak sih kenapa aku bisa sama Tora?”

“Nggak... tapi kalian udah pacaran lumayan lama kan? Udah banyak mengalami susah seneng bersama lah.”

“Kamu udah pernah ketemu dia kan?”

“Iya sih... asik orangnya... kalo sama gua gampang banget nyambung gituh... Lagian orangnya juga baik dan ga macem-macem lah... Kadang rada cabul juga sih... tapi pinter banget...”

“Dan dia mirip siapa coba gaya & kelakuannya?”

“Heh? Siapah? Iya sih kayak pernah tau gituh siapa yang gayanya mirip kayak dia”

“Kamu pernah ngaca ga sih Jo?”

“Ngaca mah pasti atuh....”

“...”

“Eh... bentar... bentar...”

“...”

“Masak sih? Ga mungkin ah... Lu ga serius kan Lan?”

“Seriusan Jo! Aku tuh akhirnya mau sama dia karena dia mirip banget sama kamu! Apalagi waktu kita jadian kamu lagi mesra-mesranya sama Riani sampe sering banget share foto di friendster (ada yang masih inget socmed purba ini?)! Dia tuh KW-supernya kamu tau gak?!”

Ada yang tahu lukisan The Scream masterpiecenya Edvard Munch? Waktu pas Wulan bilang itu, pikiranku pas banget sebagaimana digambarkan lukisan itu. Ada suatu perasaan tidak percaya yang mendesak ingin keluar dari dalam hati sehingga memaksa Jojo kecil di dalam sini untuk teriak. Tapi yang keluar dari mulutku saat itu...

[TAMAT] 3200 miles away from home

“Huehehehe... KW-super gua! Anjrit gelo ieu mah! Aing aya KW-super na!”

Jika sedang menggila atau marah memang bahasa sundaku sering keluar dengan sendirinya tanpa terkontrol.

“Aku nggak becanda Jo! Kamu tau waktu enam bulan lalu waktu aku sama dia di titik kritis? Salah satu sebabnya itu karena aku berharap dia bisa berubah jadi lebih mirip kamu! Gimanapun dia adalah dia dan kamu adalah kamu! Pasti ada yang beda dan perbedaan itu yang bikin aku berantem sama dia waktu itu!”, berondong Wulan.

“Sori Lan... gua ga tau kalo sampe segitunya”

“Tapi makin ke sini, aku makin sadar kalo aku sayang banget sama Tora. Dan mulai bisa terima dia apa adanya khususnya setelah konflik waktu itu. Aku harus bisa terus sama dia dan relain kamu buat lanjut sama pilihan kamu Jo.”

“...”

“Bulan lalu waktu dia melamar aku, aku sengaja ga undang kamu biar aku bisa lebih mudah move on. Dia sendiri sempet nanyain kamu tau gak?”

“Trus gua kudu ngapain? Terus terang gua agak kecewa juga sama lu ga diundang ke acara lamaran lu kemaren”

“Bulan depan aku nikah Jo. Dan kamu pasti gak bisa hadir karena ga sampe dua minggu lagi kamu udah berangkat ke tempat yang jauh. Aku cuma mau minta satu hal aja untuk terakhir kalinya”

“...”

“Temenin aku malem ini. Aku janji aku akan completely move on dari kamu setelah malam ini berakhir.”

“Well, if that’s what you wish”

Dan... kami pun menghabiskan sisa malam itu berdua di rumah Wulan. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu dan juga berbagai posisi, IYKWIM. Ketika pagi menjelang, Wulan tampak sudah ikhlas untuk melanjutkan hidupnya tanpa aku dan melihat Tora sebagai masa depannya.

Dan pagi itu aku melihat senyum Wulan yang manis. Sangat manis. Senyum termanis darinya yang pernah kulihat.


Sori yes... masih belum masuk cerita waktu ane di negeri ginseng... kira-kira dua chapter lagi lah masuk cerita ane di sana...

Btw, ada yang tau cara buat indeks?
Diubah oleh valerossi86
0
15-07-2015 14:33
Lanjut dikit lagi... skip ke beberapa hari menjelang keberangkatan...

Quote:See you again Jakarta!

Waktu itu sudah 1 minggu menjelang keberangkatan. Ya, akhirnya perwakilan dari Badan Kerja Sama Internasional Korea mengabarkan bahwa seluruh perizinan, visa dan tiketku sudah selesai semuanya dan aku harus meninggalkan Jakarta pada tanggal 21 Februari. Itu artinya juga bahwa hari ini adalah hari valentine.

Jujur antara aku dan Riani sebenarnya tidak pernah menganggap hari ini sebagai hari yang spesial. Tidak pernah ada event spesial dalam lima tahun lebih hubungan kami pada hari valentine karena kami menganggap setiap hari dalam hubungan kami adalah hari yang spesial. Tapi selalu saja ada pengecualian khususnya untuk hari ini. Dan ini sebenarnya tidak terlalu terkait dengan keberangkatanku ke Negeri Ginseng.

Siang itu di sela-sela kesibukanku di kantor aku iseng mengecek timeline twitterku. Aku melihat dua kicauan dari dua orang yang ku-follow yang muncul dalam waktu yang berdekatan. Isinya sebenarnya tidak eksplisit, lebih seperti kode. Secara tidak sadar otakku mencerna maksud kode tersebut dan akhirnya mengerti maksud kode tersebut. Ini benar-benar berita!

Dan tidak lama setelah aku mengerti maksud kode tersebut ponselku berbunyi. Caller ID menunjukkan: Lita.

"Joooo! tega lu ye ga ngajak farewell sama temen2! Udah ga nganggap gue jadi temen nih ceritanya?!"

Lita ini salah satu sahabat semasa aku kuliah. Gadis asli Tanah Karo yang saat itu bekerja di sebuah LSM anti korupsi ini cenderung rame dan pintar pastinya. Tapi skill yang paling menonjol dari dirinya adalah insting gosip yang luar biasa! Jika dia menelepon, aku sudah bisa menebak akan ke mana arah pembicaraannya.

"Lu yang keasikan kerja sampe kaga jawab sms & telpon kita! Udah seharian dihubungin ga bisa... sibuk bener sih Kaka aktipis anti korupsi inih..."

"Hish! jangan ngeledek deh! Pokoknya ntar malem gue ga mau tau kudu ada farewell dinner sama gua! Dan berhubung gua ngerti hari ini hari palentin, lu ajak Riani sekalian biar agak romantis-romantis gimana gituh..."

"Kalo gua ajak Riani, lu mau ajak siapa?"

"Bangke lu Jo! Tega nian kau sama jomblo berkualitas ekspor macem gua ini! BTW, ngomong2 soal jomblo... kayaknya gua bakal seret jomblo keluaran terbaru aja nih buat ikutan dinner ntar malem..."

"Maksud lu?"

"Iya... lu udah liat twitternya Ian & Riani (bukan pacar ane) kan? Itu kode banget kalo mereka udahan kali... dan berhubung Riani sedang di Jakarta dan tempat praktiknya ga terlalu jauh dari kantor gue, kayaknya perlu banget tuh doi gue seret & interogasi ntar malem"

"heh? seret? interogasi?"

"udah yah... sampe ketemu ntar malem di restoran vegan di plaza semanggi ya! dadah!"

Dan, klik! Panggilan telepon diputus. Padahal belum aku setujui ajakannya. Tapi ya ga masalah toh malam ini aku tidak ada rencana sama sekali. Lagipula ngerumpi sama Lita akan selalu seru apalagi akan ada rencana 'seret dan interogasi'. Segera saja kukabari Riani (pacarku) untuk ikut bergabung di acara dinner kami.

Malamnya aku dari kantor langsung menuju tempat yang dijanjikan. Di sana rupanya sudah menunggu tiga orang yang memang akan hadir: Riani (pacarku), Riani (yang jomblo) dan tentu saja Lita.

“Oke... pemainnya udah lengkap nih... sambil nunggu Jojo pesen makanan monggo Riani kasih klarifikasi kenapa kok tau-tau bisa udahan sama Ian.”, kata Lita.

Sekilas mengenai Riani, jadi dia itu dulunya adalah pacar dari Ian, sohib kentalku semasa kuliah. Dokter gigi lulusan sebuah universitas di surabaya ini mulai mengenal Ian setelah Ian ditugaskan kantornya untuk bekerja di Surabaya. Secara fisik Drg. Riani ini sangat-sangat mirip dengan Riani pacarku. Jadi bukan hanya nama saja, tetapi juga ciri-ciri fisik juga. Sempat ada kecurigaan jika sebenarnya Ian sangat terobsesi dengan aku, sahabatnya, sehingga mencari pasangan pun harus dengan wanita yang karakteristiknya mirip dengan pasanganku. Pasangan ini sebenarnya kalau boleh terus terang merupakan pasangan yang bisa bikin iri siapapun yang melihat baik dari segi fisik maupun tingkah laku. Mereka bisa sangat romantis namun tetap menjaga perilaku mereka. Sori buat penggemar pasangan Bintang & Bastian di serial tetangga masa gitu, tapi aku merasa mereka agak berlebihan romantisnya.

Jadi menurut Riani masalahnya bermula dari ketidaknyamanan Ian di tempat kerjanya, dan satu lagi yang cukup klasik: LDR. Sahabatku ini rupanya tipe yang tidak ingin berkali-kali pacaran sebelum menikah dan berniat untuk menjadikan Drg. Riani sebagai masa depannya. Namun demikian Ian merasa kurang sreg dengan karirnya sedangkan ia sudah menandatangani kontrak jangka panjang dengan tempat kerjanya tersebut. Ketidaknyamanan karirnya itulah yang sering mengakibatkan Ian sangat ragu untuk melangkah lebih jauh dengan Riani. Ketika Riani masih di Surabaya, ia selalu berhasil untuk memotivasi Ian untuk dapat bertahan dengan karirnya. Masalah lain timbul ketika Riani pindah praktik ke Jakarta agar dapat lebih dekat dengan keluarganya. Perkembangan teknologi rupanya tidak dapat menggantikan keberadaan fisik seorang kekasih bagi Ian. Akibatnya makin ke sini Ian jadi lebih tempramental. Ian sadar sifat tempramennya jadi sering menyakiti Riani dan ia juga tidak yakin dengan masa depannya. Dengan berat hati akhirnya Ian memutuskan untuk bubar dengan Riani agar Riani dapat memilih masa depan yang lebih baik.

“Jujur ya Lit, aku masih sayang banget sama dia. Aku sebenernya udah mulai kebal sama sifat tempramennya dia itu. Dan sumpah aku kaget banget waktu dia putusin aku. Tadi siang aja aku terus nangis waktu lagi ga ada pasien. Tapi aku mengerti kok keputusannya. Dan kalo di masa depan bisa balik sama dia, aku mau banget buat balikan sama dia.”

Kita cuma bisa diam saja mendengar kata-kata Riani.

“Jo, Ri, aku juga mau kasih tau... LDR itu bakal berat banget... Berat banget karena biasanya kita terbiasa dengan keadaan fisik orang yang kita sayang, tapi tau-tau dia gak ada... Aku termasuk orang yang gagal... Mudah-mudahan kalian ga ngikutin jejak aku ya“

DEG! Lagi-lagi LDR! Beberapa waktu yang lalu Wulan juga menyinggung soal ini. Dia cerita tentang temannya yang sedang sekolah di negeri ginseng akhirnya putus setelah berpacaran 7 tahun. Dan lebih parah lagi, kelakuan temannya itu jadi sangat berubah jadi terlalu bebas setelah putus dari LDR itu. Se-horror itukah LDR? emoticon-Takut (S)



Skip ke hari keberangkatan, hari itu Riani pulang lebih cepat dari kantornya agar bisa membantu packing serta ikut mengantarku ke Bandara bersama keluargaku. Setelah makan malam dan Shalat Isya, kami beranjak dari rumah menuju bandara. Sepanjang perjalanan ke Bandara, Orang tuaku memberi beberapa wejangan untuk hidupku di Korea. Intinya sih jangan lupa ibadah, fokus belajar, tahan godaan dan juga hati-hati dengan makanan yang tidak halal. Adik-adikku yang ikut mengantar juga ikut berpesan padaku, yaitu pesan jersey original klub sepakbola K-league. emoticon-Hammer (S)

Setibanya di bandara, kami dikagetkan dengan Tyo yang sudah menunggu kami di pintu terminal.

“Selamat datang Bapak Jojo! Flight jam berapa Pak?”, sambut Tyo cengengesan.

“Waaahhhh! Ga nyangka ente ada di sini!”

“Pas ane lagi jadwal jaga di kantor sih sebenernya. Mumpung lagi santai ane sempetin lah ke sini ngelepas ente”

Lalu Tyo bersalaman dengan rombongan pengantarku dan lanjut mengobrol dengan mereka sementara aku check in penerbangan dan mengurus bagasiku. Selesai check in, aku kembali keluar untuk menunggu bersama keluargaku juga Tyo dan Riani. Kami pun mengobrol sambil menikmati makanan dan minuman.

Ketika waktu menunjukkan satu jam sebelum keberangkatan, aku memutuskan untuk masuk ke dalam dan menunggu pesawat di anjungan keberangkatan. Tentunya aku berpamitan dulu dengan rombongan pengantarku. Suasananya cukup haru ketika aku memeluk satu persatu keluargaku dan juga Tyo. Dan ketika aku berpamitan dengan Riani...

“Abang, pesenku ga jauh beda sama orang tuamu. Sering-sering kontak aku ya biar kita bisa survive. Aku percaya sama kamu. Dan satu lagi, jangan ngerokok lho!”

Aku sebenarnya memang merokok, hanya saja sebatas social smoker. Dan Riani saat itu menginginkan aku untuk berhenti total.

Setelah itu Riani memelukku cukup lama. Adikku dan Tyo dengan iseng mengambil foto kami ketika sedang berpelukan. Dan begitu melepas pelukannya, terlihat mata Riani berkaca-kaca namun mulutnya memaksa untuk tersenyum. Jadi agak berat meninggalkannya seperti itu.
Aku coba menghela napas panjang dan kemudian melangkah ke dalam sembari melambaikan tangan tanda perpisahan kepada para pengantarku. Mudah-mudahan aku kuat dan bisa survive!

Setibanya di anjungan keberangkatan, aku mendengarkan lagu yang ada di ponselku. Pas sekali yang berputar adalah lagu klasik dari John Denver... Leaving on a jet plane...



Pikiranku melayang sembari mendengarkan lagu lama tersebut... terbayang Riani, teman-temanku, keluargaku, kantorku... sampai akhirnya terbayang satu hal yang sangat penting dan entah kenapa aku bisa lupa memikirkan hal ini...

Bahasa Inggris! Aku jadi teringat jika aku harus menggunakan bahasa ini untuk pendidikanku! Khawatir? Pasti, mengingat aku tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisku. Okelah untuk sekadar percakapan atau menulis tulisan pendek aku masih bisa sedikit percaya diri. Namun untuk menulis essay panjang, makalah atau bahkan tesis?!

(Sebenarnya aku harus bersyukur karena tidak harus menggunakan Bahasa Korea untuk pendidikanku saat itu)

Lagi-lagi lukisan the scream dari Edvard Munch menggambarkan dengan jelas kondisi mentalku saat itu. Dan belum hilang Lukisan the scream tersebut, badan pesawat Boeing 777-900 Korean Air sudah membawaku sejauh 3200 mil ke utara.
Diubah oleh valerossi86
0
17-07-2015 04:58
Lanjut dikit ah... oh iya, selamat lebaran semuanya... Taqabalallahu minna wa minkum... Mohon maaf lahir dan batin... emoticon-Blue Guy Peace

Quote:Touchdown!

Kegalauan atas kemampuanku berbahasa Inggris ternyata tidak sanggup melawan lelahnya tubuhku hari itu. Hanya beberapa menit setelah burung besi Korean Air mengudara dari langit Tangerang mataku terasa berat dan sukses membawa pikiranku berwisata ke dunia paralel yang biasa dikenal sebagai alam mimpi. Aku tidak begitu ingat mimpiku saat itu. Yang aku ingat hanyalah turbulensi yang cukup keras yang berhasil memaksa pikiranku kembali ke dunia nyata dari perjalanan wisatanya.

Aku sama sekali tidak mengingat berapa lama aku tertidur. Yang jelas aku terbangun seolah dibangunkan oleh suatu ledakan hebat.

"Äre you alright Sir? Can I get you something?"

Rupanya tidak jauh dari tempat dudukku ada seorang pramugari yang sedang stand by. Wajah dari pramugari bernama Lee Myeong-Ju ini cantik sebagaimana tipikal wajah wanita Korea umur 20-an. Nampaknya bagaimana aku terbangun dari tidur cukup menarik perhatiannya. Mungkin aku perlu terbangun dengan cara unik tadi ketika tiba di negeri ginseng nanti agar dapat menarik perhatian gadis-gadis cantik.

"eeehhh.... aaaahhhh... Have you got any liquors?", tanyaku yang masih mencoba mengumpulkan nyawaku. Sepertinya pertanyaanku tadi merupakan pertanyaan setengah sadar.

"Öf course Sir. We've got Johnnie Walker Red Label, Bombay Sapphire, Baileys...."

"Ah, Baileys please... on the rocks"

"Please wait for a moment, Sir"

Sembari menunggu, aku mencoba mengutak-atik layar di depan mataku. Aku coba cek sudah berada di wilayah mana burung besi yang sedang kutumpangi ini. Terlihat di peta digital yang muncul di layar bahwa burung besi ini baru saja melewati Pulau Formosa atau yang lebih dikenal dengan nama Taiwan.

"Here's your Baileys Sir. Please enjoy it", sahut Myeong-Ju dengan memberikan senyum termanisnya.

"Kamsa Hamnida", jawabku sambil mengucapkan satu dari sedikit kata dalam Bahasa Korea yang bisa kukuasai pada saat itu. Myeong-Ju hanya merespon ucapanku dengan tawa kecilnya. Mungkin agak janggal baginya seorang dengan tampang melayu sepertiku berbahasa Korea.

Kusesap sedikit Baileys dalam gelas itu dan mencoba merasakan efeknya di kerongkongan, perut sampai akhirnya di otakku. Sensasinya selalu sama: hangat dan dingin pada waktu yang nyaris bersamaan dan diakhiri dengan hantaman lembut di ujung saraf otak. Kusesap kembali minuman itu sedikit demi sedikit sampai kemudian habis dan dengan sukses mataku kembali berat tanda pikiranku ingin kembali plesiran ke alam mimpi.

Tidak seberapa lama, aku kembali tersadar. Hanya saja kali ini aku terbangun dengan cukup lembut tidak seperti sebelumnya. Dan tentu saja tidak ada wajah manis Myeong-Ju yang menghampiriku kali ini. Sedikit penyesalan muncul dalam diriku. Tiba-tiba kuteringat pesan dari orang-orang yang mengantarku tadi. Kulihat arlojiku dan waktu menunjukkan pukul 0520. Aku langsung mengambil posisi untuk tayamum untuk kemudian menjalankan ibadah Subuh.

Mungkin pembaca agak heran dengan kelakuanku yang masih beribadah setelah beberapa jam sebelumnya minum-minum. Well, terus terang aku pun pada saat itu juga heran namun tak pernah kuambil pusing. Aku selalu mencoba menyeimbangkan ibadah yang harus kulakukan dengan dosa yang juga kuperbuat. Mungkin istilah gaulnya STMJ. Solat Terus, Maksiat Jalan. Kira-kira sudah lima tahun terakhir aku menjalani pola hidup yang demikian. Bagian dari kenakalan masa muda, mungkin?

Tidak lama setelah solat, Myeong-Ju kembali menghampiriku dan menanyakan makanan apa yang kuinginkan untuk sarapan. Aku tidak terlalu ingat apa menu yang kupilih saat itu, namun aku ingat bahwa aku merasa cukup puas dengan menu yang kudapatkan.

Satu jam kemudian, terdengar suara dari pilot bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara International Incheon dan seperti biasa disampaikan juga prosedur keselamatan pada saat pesawat akan mendarat. Seiring dengan berkurangnya ketinggian pesawat, kegalauanku atas kemampuan bahasa Inggrisku muncul kembali. Namun kali ini aku mencoba untuk berdamai dengan kegalauan tersebut mengingat posisiku saat itu sudah pada point of no return.

Begitu pesawat berhasil mendarat dengan mulus, kegalauanku masih tersisa. Sampai saat pilot mengumumkan...

"Ladies and Gentlemen, We have landed safely at the Incheon International Airport. The local time here is two hours ahead of Jakarta time. The temperature outside is minus six degrees of celcius. bla bla bla....."

What?! Minus six?! emoticon-Hammer (S)

Gila! Aku sebenarnya sudah siap untuk bertemu dengan udara dingin, tapi ya tidak sedingin ini juga! Pakaianku waktu itu lebih sebagaimana pakaianku jika berjalan-jalan ke puncak pas. Baru hari pertama dan Korea sudah menghadiahiku dengan suhu di bawah nol! Korea 1 - Aku 0!
0
Halaman 1 dari 89
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kunikahi-sahabatku
Stories from the Heart
two-sides-of-the-same-coin
Stories from the Heart
dua
Stories from the Heart
dibatasi-jendela-kamar
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.