Food & Travel
Batal
KATEGORI
link has been copied
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/547bda26529a452d428b4577/the-story-of-caldera-journey-backpacker
Selalu ada hal yang dilakukan untuk pertama kali. And this is my first time to traveling as a backpacker. Maaf koper tersayang, kamu tinggal di rumah dulu ya...kali ini saya mau ajak jalan si-Jack Wolfskin dulu. Saya ingin mencoba hal baru, trying new things, jumping to adventures as a backpacker. Bagi saya hidup adalah pengalaman. Kita hanya bisa memahami dan merasakan sesuatu ketika kita mau ter
Lapor Hansip
01-12-2014 10:01

The Story of 'Caldera Journey' Backpacker

The Story of 'Caldera Journey' Backpacker

Selalu ada hal yang dilakukan untuk pertama kali. And this is my first time to traveling as a backpacker. Maaf koper tersayang, kamu tinggal di rumah dulu ya...kali ini saya mau ajak jalan si-Jack Wolfskin dulu. Saya ingin mencoba hal baru, trying new things, jumping to adventures as a backpacker. Bagi saya hidup adalah pengalaman. Kita hanya bisa memahami dan merasakan sesuatu ketika kita mau terjun dan mengalaminya langsung.

Biasanya dalam perjalanan saya selalu membawa koper beroda, kali ini sebagai seorang backpacker, tentu saja saya harus memanggul sendiri backpack di punggung. Semakin banyak barang yang dibawa, semakin banyak pula beban dipikul. Dari sini saya belajar memilah dan membawa barang dengan efektif dan seefisien mungkin. Bebanmu adalah deritamu atau derita teman-teman seperjalanan yang berbaik hati mau membantu emoticon-Stick Out Tongue

Kalau biasanya ketika saya melakukan perjalanan dari airport langsung dijemput petugas hotel dan dilayani dengan nyaman sampai ke hotel, tidak dalam perjalanan kali ini. Anda adalah pelayan bagi diri Anda sendiri. Self service.

Kalau biasanya menginap di hotel, ini kali pertama mencoba bermalam di hostel atau dorm, dimana kita belajar berbagi dengan teman sekamar (bukan cuma seorang saja, ada yg sekamar segambreng cyiin). Saya banyak mengalami hal yang tak biasa saya lakukan sebelumnya, yang ternyata memberikan warna dan keindahan tersendiri. Kangen juga melihat kamar kita bersama berubah jadi berantakan dengan barang-barang yang bercampur dan berserakan bak kapal pecah. Hati-hati... Kaos kaki saja bisa kehilangan jodohnya disini. Hehehe.

Kalau biasanya di hotel, untuk ke lantai 2 saja selalu dimanjakan dengan fasilitas elevator atau eskalator, di hostel tempat kami menginap, silahkan naik ke lantai 6 lewat tangga yang sempit,pakai kaki sendiri sambil membawa backpack. Yuk mariiii... Hehehe. Rasa-rasanya kalau sudah sampai atas, dan perlu sesuatu di bawah, pengen gelinding aja deh... Wkwkwkwk. Tapi lumayanlah bikin paha dan bokong kenceng sih, hitung-hitung gantiin nge-gym emoticon-Big Grin. Sebenarnya ketika check out, saya ada ide buat pemilik hostel untuk membuat perosotan saja dari lantai atas ke bawah... Tapi ribet juga ga bisa bahasa vietnam. Dan saya juga ga punya kamus bahasa vietnam buat cari kata perosotan. Yasutralah...
Namun hal-hal tersebut justru menyadarkan saya untuk bersyukur atas karunia diberi tubuh yang sehat. Tubuh ini berperan penting dalam membantu saya mewujudkan perjalanan ini dan melakukan banyak aktifitas. Tubuh menjadi kendaraan bagi jiwa saya untuk melihat banyak hal. Saya berharap selalu diberi kesadaran untuk merawat raga ini dan merasakan nikmat sehat agar bisa terus berpetualang bersamanya. Amin.

Banyak kejadian selama dalam perjalanan yang membawa insight buat diri. Sewaktu plafon kamar mandi di kamar lantai 6 ambrol dengan manisnya, menyisakan debu2 plafon di kala mau mandi... Hmmm mungkin itu tanda dari atas (baca: loteng) kalau backpacker tak boleh sering2 mandi... ;p Dan walaupun di hostel-hostel berikutnya tak terjadi tragedi plafon jebol, tapi semangat malas mandi masih setia menemani, dengan alasan dingiiiiiin booo... Dan sedikit ngeles demi meresapi kehidupan ala backpacker... Wkwkwkwwkwk... Tapi walaupun backpacker ini malas mandi, yang penting hair dryer, catokan dan curly-an tetap siaga siap sedia.... 86 ;p

Berpetualang sebagai backpacker, terasa lebih dekat dengan budaya dan ritme kehidupan masyarakat setempat. Masuk ke gang-gang kecil tempat hostel yang kita tempati, melihat dan bersinggungan langsung dengan penduduk setempat ketika mereka menjalani hidup sehari-hari, menjadi pengalaman yang jarang didapatkan bila kita menginap di hotel ternama yg relatif rata-rata lokasinya tidak berada di sekitar perumahan rakyat. Ketika malam tiba dan mata sudah ingin terpenjam, bisa saja dari rumah tetangga sayup-sayup terdengar suara nyanyian dari radio lokal, mungkin Ayu Ting-ting versi lokal. Hihihi. Love the environment.

Menyatu dengan penduduk setempat di dalam transportasi umum: bus umum, night train, sleeper bus, MRT, adalah juga sebuah kenikmatan tersendiri. Sekelompok barisan backpacker rempong yang terkadang menyundul-nyundul penumpang lain dengan tas punggungnya... Berteriak INDONESIA! Menggemakannya di negeri asing. Ketika nasionalisme terasa lebih kental kala kita berada jauh dari negeri sendiri. Superb feeling emoticon-Wink

Baru kali ini juga saya merasakan bahwa tidak hanya ketika masuk musholla saja kita harus melepas sepatu atau sandal, ternyata masuk ke sleeper bus itu juga harus copot sepatu cyiiin... Hahahaaa... Rempong deh copotin boots eikeee.... Selain itu juga di sleeper bus ini, diperlukan ilmu melipat tubuh yang baik buat bisa tidur dengan nyaman ... Dengan space tempat tidur yang terbatas, berbahagialah manusia-manusia yang dikaruniai kaki ga panjang-panjang amat, alias ga tinggi, tapi untunglah eike jago origami cyiiinn.... emoticon-Big Grin. Hahaha apa hubungannya coba...

Bermalam di airport, menunggu penerbangan selanjutnya, mengistirahatkan tubuh sejenak dengan berhamparan di lantai airport... is also a new experience for me. Selama 11 tahun bekerja di airport dan melihat para backpacker ‘melantai’ di soekarno hatta airport, baru kali ini saya merasakan sendiri. Pengalaman yang tak dapat dilukiskan ataupun dirangkai kata, namun menyisakan pesan berharga, lain kali bawa sleeping bag ya cyiin.. emoticon-Big Grin

Dalam perjalanan kali ini saya juga menemukan banyak kebaikan dari orang-orang asing yang baru ditemui. Keterbatasan bahasa dapat ditembus dengan mudah oleh ketulusan dan kemurnian hati. Berkomunikasi cukup dengan membuka hati. Beyond words. Hal ini membuka mata saya dan membawa secercah harapan yang optimis di diri saya bahwa kita masih mampu untuk membuat dunia menjadi jauh lebih baik dari saat ini. Ternyata masih banyak orang baik yang tersisa di dunia yang sudah mulai terlihat tidak waras ini.

Walaupun sempat beberapa kali juga teman-teman seperjalanan saya harus memeragakan ayam petok-petok atau babi nguik-nguik ketika berkomunikasi di rumah makan untuk mencari makanan yang halal, toh hal ini justru menjadi cerita kenangan yang mampu membuat saya tersenyum hingga saat ini. Beruntung sekali saya berpergian dengan teman-teman yang aktingnya sangat natural.... Hahahaaa... Atau bahkan ketika peragaan petok dan nguik tak berujung pengertian dari pihak yang diajak bicara, mungkin karena kurangnya ekspresi dan penghayatan ketika menjadi ayam atau babi, silahkan langsung masuk dapur dan menggoreng sendiri apa yang kita mau... Wkwkwkwk. Anggap aja rumah sendiri. Urusan perut memang sering membuat manusia jadi lupa diri. Yang penting perut kenyang, hati senang.

Overall, im so happy travelling as a backpacker. Ketika kita merasakan hal baru, dan keluar dari comfort zone kebiasaan kita, berani mencoba dan menjalani perubahan, pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi, adrenalin mengalir deras dalam tubuh dan perjalanan dijalani dengan antusias dan dirasakan sepenuh hati. Seolah-olah saya diajarkan untuk berani menjalani hidup dengan segala kemungkinannya. Ketika saya berani mencoba, melompat ke petualangan yang baru dan menikmati semua kejadian didalamnya. I feel alive.Nothing can substitute experience. Benar-benar 15 hari terasa cepat dilalui. 15 hari seperti mimpi yang sekarang telah lewat dan hanya menyisakan rasa. Walaupun saya tidak pantas disebut backpacker sejati, dan hanya layak diberi gelar backpacker rempong, dengan pengakuan dosa bertambahnya bawaan bagasi ketika pulang ke jakarta.... at least i have tried emoticon-Big Grin. I’ve got many new experiences... Ketika high heels dan sneakers berubah menjadi boots, atau jaket outdoor yang menjelma menjadi mantel bulu emoticon-Big Grin Semuanya membuka cakrawala dan pandangan saya dalam melihat dunia. I feel that im in love with this new things. A new way to have a journey. Traveling as a backpacker . Can’t wait for another journey emoticon-Wink.

By Alma Allysan, alumni Caldera Journey 2012 (Cambodia- Vietnam - China - Hongkong)

Check out Journey trip untuk 2015! See you backpackers!
emoticon-Kiss
Diubah oleh Calderajourney
0
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
The Story of 'Caldera Journey' Backpacker
01-12-2014 14:10
tambahin foto2nya gan emoticon-Big Grin
0 0
0
The Story of 'Caldera Journey' Backpacker
06-12-2014 23:29
upload foto"nya gan emoticon-Toast
go go go backpacker emoticon-Traveller
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Oriental Exotic (Asian food)
dum-dum
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia