News
Batal
KATEGORI
link has been copied
14
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/537f3a8ba4cb17ad1c8b45a6/siapakah-dalang-mei-1998
Cuma repost dari thread di komp*siana yg ditulis oleh orang lain, yg saya lupa namanya. Saya repost karena article ini di komp*siana sudah dihapus. Alih-alih mengungkap Tragedi Mei 98, Presiden-Presiden RI justru berlomba memberi HADIAH kepada orang Cina agar sibuk main barongsai dan asyik merayakan Imlek lalu melupakan pemerkosaan amoi 98? Kesimpulan Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal
Lapor Hansip
23-05-2014 19:09

Siapakah Dalang Mei 1998?

Cuma repost dari thread di komp*siana yg ditulis oleh orang lain, yg saya lupa namanya. Saya repost karena article ini di komp*siana sudah dihapus.

Alih-alih mengungkap Tragedi Mei 98, Presiden-Presiden RI justru berlomba memberi HADIAH kepada orang Cina agar sibuk main barongsai dan asyik merayakan Imlek lalu melupakan pemerkosaan amoi 98?

Kesimpulan

Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya bahkan kemudian Jusuf Kalla berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan SOSIAL karena masyarakat yang tidak tahan lagi menanggung krisis ekonomi dan menghadapi kesenjangan sosial. Itu sebabnya tidak ada dalangnya karena dilakukan secara spontan oleh masyarakat yang frustasi.

Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 1998 adalah AMUK masa membalas dendam atas pembunuhan mahasiswa Trisakti, itu sebabnya tidak ada dalangnya karena dilakukan secara spontan oleh masyarakat yang marah.

Sejak tahun 1998, berdasarkan laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), “Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penyelidikan terhadap pertemuan di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 guna mengetahui dan mengungkap serta memastikan peran Letjen Prabowo dan pihak-pihak lainya, dalam seluruh proses yang menimbulkan terjadinya kerusuhan” Prabowo dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa TGPF memvonis Prabowo merancang kerusuhan Mei 1998 di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 bersama Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Rendra, Bambang Widjojanto dan lain-lainnya. Itu sebabnya Prabowo mustahil dalangnya sebab tidak mungkin merancang kerusuhan setelah kerusuhannya berlangsung.

Sejak tahun 1998 Prabowo Subianto dan begundal-begundalnya berusaha menggiring opini publik bahwa kerusuhan Mei 98 disulut untuk menjatuhkan Soeharto. Itu sebabnya, sebagai kroni apalagi menantu Prabowo mustahil mendalanginya.

Padahal, kerusuhan Mei 98 dipicu dan dipacu untuk melestarikan kekuasaan Soeharto baik dengan cara memfitnah mahasiswa mengobarkan kerusuhan anti Cina sehingga terpaksa dihentikan dengan kekerasan, maupun menyatakan negara dalam keadaan darurat.

Tujuan pembunuhan mahasiswa pada tanggal 12 Mei 1998 petang adalah memprovokasi mahasiswa untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran kebesokannya. Di tengah demonstrasi mahasiswa itulah preman-preman berbaju koko, berseragam SMA dan SMP akan merampok dan membakar gedung-gedung. Dengan cara demikianlah mahasiswa menjadi kambing hitam.

Karena kambing hitamnya tidak mau keluar kampus dan preman-premannya tidak berhasil merampok dan membakar gedung-gedung maka skenario kerusuhan pun diserahkan kepada pakarnya yaitu yang lebih baik kembali nama dari pada gagal di medan tugas untuk dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 1998?

Sayang sejuta sayang. Pada tanggal 14 mei 1998 kambing hitamnya kembali tidak mau keluar kandang meskipun sudah dibujuk, diejek, dimaki, ditakut-takuti, dilempari batu, bahkan ditawari aparat untuk diantar ke MPR.

Meskipun kambing hitamnya tidak keluar kandang, kenapa perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung? Karena sejak jam 06.00 pagi sang DALANG pergi ke Malang dengan banyak saksi itu sebabnya tidak bisa diajak berkomunikasi? Makanya lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas?

Penjarahan saja tidak cukup kejam. Itu sebabnya ditambahkan pembakaran. Penjarahan dan pembakaran saja tidak cukup kejam. Itu sebabnya ditambahkan penganiayaan dan pembunuhan bahkan pemerkosaan. Harus benar-benar kejam agar tidak ada yang marah ketika kambing hitamnya disembelih.

Bukan Kudeta Mustahil Ganyang Cina

Kerusuhan Mei 98 mustahil menjatuhkan Soeharto. Kerusuhan Mei 98 justru memberi peluang kepada presiden untuk melestarikan kekuasaannya dengan membantai mahasiswa atau menyatakan negara dalam keadaan darurat.

Kerusuhan Mei 98 bukan Ganyang Cina. Perasaan anti Cina di Indonesia bersifat pribadi, bukan kelompok. Perasaan anti Cina hanya berkobar di hati beberapa orang non Cina kepada orang Cina tertentu. Di Indonesia tidak ada SATU orang apalagi kelompok non Cina yang membenci SEMUA orang Cina. Di Indonesia memang ada kelompok yang melakukan gerakan anti Ahmadiyah, anti Syiah, anti Kristen secara sistemik dan sistematis namun tidak ada kelompok yang anti Cina secara sistemik dan sistematis.

Kerusuhan Mei 98 bukan AMUK masa BALAS DENDAM atas pembunuhan mahasiswa Trisakti. Bila hendak balas dendam masyarakat pasti menyerang aparat yang berjaga-jaga di luar kampus.

Kerusuhan Mei 98 bukan kerusuhan SOSIAL. Bila tidak tahan lagi menanggung krisis ekonomi rakyat pasti berteriak minta tolong sebelum menjarah.

Hadiah Untuk Orang Cina

Sumber: Gambar: hai hai


Selain Pasukan Khusus hanya teroris yang mampu menyulut kerusuhan Mei 98. Bila bukan ABRI pasti TERORIS. Bila bukan Pasukan Khusus maka kerusuhan Mei 98 adalah pelecehan dan penghinaan bagi ABRI dan NKRI. Satu-satunya cara untuk menegakkan HARGA diri adalah mengungkap DALANG kerusuhan Mei 1998.

Berdasarkan Keputusan Bersama Menhankam/Pangab, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung, dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Namun sayangnya, sampai hari ini Presiden-Presiden RI dan MA menganggap rekomendasi TGPF kentut belaka. Sementara itu DPR seolah main sinetron macan ompong. Mengaum namun tidak bertaring. Mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM Adhoc ke Presiden namun tidak menindaklanjutinya.

Habibie dan SBY berlagak pilon? Masyarakat maklum sebab Habibie adalah Wakil Presiden dan SBY menjabat Kasdam Kodam Jaya saat kerusuhan berlangsung. Membongkar aib sendiri? Tak U U ya! Kenapa presiden Gus Dur yang mulia dan presiden Megawati yang terhormat juga BUNGKAM tentang Kerusuhan Mei 1998?

Tahun 1998, Habibie menerbitkan Inpres No. 26 tahun 1998 tentang penghentian penggunaan istilah pribumi dan non pribumi. Tahun 1999 Habibie menerbitkan Inpres No. 4 Tahun 1999 untuk menjalankan Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1996 tentang penghapusan SBKRI (Surat Kewarganegaraan Republik Indonesia) bagi warga non pribumi.

Tahun 2000, Gus Dur menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 Tentang Pencabutan Inpres No. 14 tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, sehingga orang Tionghoa pun bebas main barongsai.

Tahun 2001 Gus Dur mengeluarkan Keppres No. 19 tahun 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (bagi yang merayakannya) sehingga orang Tionghoa pun merayakan Imlek terang-terangan.

Tahun 2002 Megawati mengeluarkan Keppres No. 19 tahun 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional, orang Tionghoa pun asyik merayakan Imlek.

Tahun 2006 SBY mensahkan UU No. 12 tahun 2006 Tentang Kewarganeraan RI dan UU No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, untuk membebaskan orang Tionghoa dari diskriminasi sistem administrasi kependudukan.

Tahun 2014 SBY mengeluarkan Keppres No. 12 tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera No. 6 tahun 1967, sehingga dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan istilah Tjina/China/Cina diganti dengan Tionghoa dan Republik Rakyat Cina (RRC) menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Tanya, “Kenapa?” Alih-alih mengungkap Tragedi Mei 98, presiden-presiden RI justru berlomba-lomba memberi HADIAH kepada orang Cina? Agar sibuk main barongsai dan asyik merayakan Imlek lalu melupakan pemerkosaan amoi 98?

HARTA yang musnah bisa diganti namun LUKA dan HINA yang ditanggung amoi-amoi yang diperkosa tahun 1998 diwariskan ke generasi berikutnya. Perasaan HINA yang ditanggung oleh lelaki-lelaki Tionghoa karena nggak BECUS melindungi amoi-amoinya tidak boleh dilupakan dari generasi ke generasi agar hal demikian tidak terulang lagi.

Wayang Pemerkosa Amoi 98

Sumber: Gambar: lintas.me


Memperkosa perempuan bukan tindakan mudah. Menyeret seorang perempuan dari keramaian lalu memperkosanya jauh lebih sulit lagi. Makanya, kebanyakan pemerkosaan dilakukan oleh orang yang dikenal baik. Seseorang HARUS benar-benar dikuasai nafsu birahi dan merasa AMAN barulah NEKAD memperkosa.

Pemerkosaan berkelompok mustahil terjadi secara spontan karena HANYA perlu satu orang tidak setuju untuk mencegah yang lain melakukannya. Takut yang tidak setuju buka mulut. Itu sebabnya pemerkosaan berkelompok selalu dilakukan TERENCANA. Para pelaku sepakat dulu untuk melakukannya bersama-sama barulah menentukan tempatnya kemudian mencari mangsanya.

Pelaku pemerkosaan pasti meninggalkan korbannya begitu nafsu birahinya terpuaskan. Pemerkosa yang melakukan kekerasan seksual merusak organ sex yang diperkosanya, bila tidak sakit jiwa pasti tentara terlatih yang mengemban tugas melakukan hal demikian.

Pemerkosa amoi 98 bukan orang yang tiba-tiba khilaf. Juga bukan preman-preman yang sepakat melampiaskan birahinya bersama-sama apalagi orang-orang sakit jiwa. Siapakah mereka? Mereka adalah tentara terlatih yang mengemban tugas menyulut kerusuhan Anti Cina.

Kerusuhan Anti Cina Untuk Membantai Mahasiswa

Gerakan mahasiswa menuntut Soeharto lengser dilakukan dengan damai sesuai konstitusi. Itu sebabnya ABRI tidak punya alasan untuk menghentikannya dengan kekerasan. Bila memaksa, maka Indonesia akan dikecam dan dikucilkan sebab pada tahun 1998, mata seluruh dunia tertuju ke Indonesia. Itu sebabnya satu-satunya cara adalah memprovokasi mereka agar bertindak anarki. DALANG kerusuhan Mei 98 melakukannya dengan tiga cara yaitu:

1. Menyusupkan agen untuk memprovokasi mahasiswa melakukan pengrusakan dan penyerangan aparat.

2. Mengerahkan masa tandingan untuk bentrok dengan mahasiswa.

3. Memicu dan memacu kerusuhan Anti Cina lalu menjadikan mahasiswa kambing hitamnya.

Pembunuhan Mahasiswa Trisakti

Sumber: Gambar: kompas


Karena jendral AH Nasution akan berorasi maka kurang lebih 6.000 mahasiswa dan dosen Trisakti pun hadir untuk mendengarkannya. Namun, sang jendera tidak kunjung datang. Kenapa AH Nasution tidak jadi ke Trisakti? Saya tidak tahu. Media tidak memberitakannya. Tim Gabungan Pencari Fakta pun tidak mengungkapnya.

Pembunuhan mahasiswa Trisakti terjadi antara jam 17. 05-18.30 WIB saat mahasiswa yang gagal ke MPR kembali ke kampusnya. Setelah provokator yang mengaku alumni Trisakti gagal memicu bentrokkan dan beberapa orang aparat yang mengejek dan menghina mahasiswa gagal memacu kemarahan mahasiswa maka sekonyong-konyong aparat menembak dan melontarkan dan gas air mata membabi-buta. Popor senjata dan pentungan menghajar mahasiswa tanpa pilih bulu lelaki atau perempuan. Yang sudah jatuh ditendang dan diinjak tanpa belas kasihan. Pasukan URC (Unit Reaksi Cepat) penunggang motor mengejar mahasiswa yang panik sampai ke depan pintu gerbang.




Puluhan mahasiswa terluka. Enam orang tertembak dan empat mahasiswa gugur ditembus peluru. Hendriawan Sie, 20 tahun ditembak lehernya. Elang Mulya Lesmana, 19 tahun, ditembak dadanya. Hafidhin Royan, 21 tahun, ditembak kepalanya. Hery Hartanto, 21 tahun ditembak punggungnya. Terbukti kemudian, peluru yang digunakan bukan milik ABRI. Bila demikian, siapa yang menembak mahasiswa dengan peluru tajam?

Kapten Agustri Heryanto, Komandan Kompi II Batalyon B Resimen I Korps Brimob yang diadili Mahkamah Militer sehubungan kasus penembakan mahasiswa Trisakti bersaksi, "Tembakannya keras. Lebih keras dari tembakan peluru karet, arah tembakan dari Tol di Citraland."

Lettu Anneke Wacano (Polwan) bersaksi kepada Komnas HAM tentang Land Rover hijau milik anggota TNI di jembatan layang di depan Kampus Trisakti. Dua anggota TNI seragam hitam membidik ke kampus Trisakti dengan senjata laras panjang berteleskop. Satu kali letusan senjata kemudian keduanya menghilang ke mall Citraland.

Tidak sulit untuk menarik kesimpulannya. Tim Mawar Kopassus dibentuk Prabowo untuk menculik para aktivis. Anggota tim Mawar mengaku hanya komandan tim yang tahu sepak terjang mereka. Anggota Kopassus penyerang LP Cebongan Sleman juga mengaku, hanya komandan tim yang tahu sepak terjang mereka. Itu sebabnya, tidak sulit untuk menelusuri jejaknya. Selain Kopassus pasukan mana lagikah yang bisa digerakkan seenak jidat komandan timnya untuk bertindak seenak jidatnya?

Kampus-Kampus Pada Tanggal 13 Mei 1998

Mahasiswa UI dan Unika Atma Jaya sama-sama mengirim perwakilan ke Trisakti dan menggelar “Solidaritas Trisakti” di dalam kampus. Untuk menghindari keributan dengan masa di luar kampus yang memaksa demo ke MPR, pintu gerbang pun ditutup dan dijaga.

Di Jakarta pada tanggal 13 Mei 1998 tidak ada mahasiswa yang beraksi di luar kampusnya masing-masing.

Kampus Trisakti Pada 13 Mei 1998

Kampus dipenuhi mahasiswa Trisakti, Untar dan Ukrida serta perwakilan barbagai kampus lain. Hanya yang menunjukkan kartu mahasiswa atau yang dikenal boleh masuk.

Sekitar jam 11.00, sekelompok masa berbaju koko dan berpeci, dilarang masuk karena tidak punya kartu mahasiswa dan tidak dikenal. Mereka memaksa masuk dengan bringas namun di halau tanpa tedeng aling-aling. Masa itu melakukan Shalat Ghaib (Shalat dari jauh untuk mayat) di jalan S Parman. Selesai shalat mereka pun berteriak-teriak mengajak mahasiswa ikut ke MPR. Karena diabaikan mereka pun memaki, "Mahasiswa Pengecut!" dan melempari mahasiswa dengan batu.

Sekitar jam 13.00, masa berseragam SMA dan SMP memenuhi Jl Kyai Tapa di luar kampus Trisakti. Seragam mereka tidak lengkap bahkan anak SMP pakai celana panjang. Umurnya terlalu tua untuk anak SMA apalagi SMP. Mereka mencegat lalu membajak truk tanah berwarna kuning yang lalu ditabrakkan ke pom bensin di sebelah terminal Grogol.

Ketika aparat bergerak menghalau, masa melawan dengan lemparan batu sambil berteriak, "Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!" Sebagian mahasiswa di dalam kampus ikut meneriaki polisi, "Hai anjing LU! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!"

Dari atas jembatan layang, beberapa orang aparat membidik mahasiswa di dalam kampus dengan senjata laras panjang yang siap diletuskan. Melihat hal demikian, mahasiswa Trisakti dan Untar pun kalap lalu keluar kampus dan menantang aparat untuk menembak. Tantangannya diabaikan mahasiswa pun melempari aparat dengan batu. Aparat kabur. Mundur.

Sekitar jam 14.00, mahasiswa dikejutkan teriakan, "Polisi datang. Siap-siap!" Sebagian mahasiswa segera berlindung yang lainnya justru mencari batu untuk berperang. Bunyi senapan Cumiakan telinga dan gas air mata mengebul di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa kampus lain pun memutuskan untuk meninggalkan Trisakti. Dipimpin oleh mahasiswa Ukrida dan Untar mereka memanjat ke kampus Untar lalu keluar di Jl. Tawakal dan menghilang lewat jalan-jalan tikus.
0
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Post ini telah dihapus oleh hansip
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:11
dalangnya bukan bowo yg jelas emoticon-Big Grin
TS kl mau curhat di forum supranatural yaaa
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:12
sudah tahu aturan BP? sudah baca tata cara pembuatan thread?

dilarang membuat thread dengan sumber tidak kredibel antara lain dari kompasiana emoticon-Smilie
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:15
trus klo tau mau apa ente?
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:19
pihak2 Yang munculin isu HAM adalah para cemen pecundang yang bodo !! lagi2 isu daur ulang mengenai HAM lah, PENCULIKAN lah, !! mana buktinya ?? ini sudah 4 rezim berkuasa mana ada pembuktian klo memang benar isu2 itu !! .... Beliau bukan yang pernah berkuasa ? takut sama siapa haahh ? hanya ketakutan yg luar biasa tidak berdasar utk menjatuhkan lawan....!! sudah jelas ini antek2 asing yang merongrong bangsa kita ! emoticon-Marah
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:21
"Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu...

Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, 'Sudah tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. Karena itu sudah waktunya diganti'...Benny kemudian berbicara mengenai gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, 'Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian gereja.' "

- Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, serangkaian kesaksian, Penerbit Mizan, halaman 316

Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang kemarin menyeberang ke kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang akhir Orde Baru karena terbukti terbukanya niat Benny menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang tidak terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang akan saya bongkar di bawah ini.

A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi Paling Keji Sepanjang Sejarah Indonesia

Selanjutnya bila kita hubungkan kesaksian Salim Said di atas dengan kesaksian RO Tambunan bahwa dua hari sebelum kejadian Megawati sudah mengetahui dari Benny akan terjadi serangan terhadap kantor PDI dan Catatan Rachmawati Soekarnoputri, Membongkar Hubungan Mega dan Orba sebagaimana dimuat Harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan Kamis, 1 Agustus 2002 maka kita menemukan bukti adanya persekongkolan antara Benny Moerdani yang sakit hati kepada Soeharto karena dicopot dari Pangab (kemudian menjadi menhankam, jabatan tanpa fungsi) dan Megawati untuk menaikan seseorang dari keluarga Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto, kebetulan saat itu hanya Megawati yang mau jadi boneka Benny Moerdani. Sedikit kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri:

"Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?

Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak."

Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati Soekarnoputri; Dr. Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah "eureka moment" yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet untuk regenerasi kepemimpinan Indonesia dan diganti Megawati; Dr. Soerjadi adalah orang yang menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI di Kongres Medan (kongres dibiayai Sofjan Wanandi dari CSIS) yang mengumpulkan massa menyerbu kantor PDI dan selama ini dianggap perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda bawahan Benny Moerdani, dan tentu saja saat itu Agum Gumelar dan AM Hendropriyono, dua murid Benny Moerdani berada di sisi Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana disaksikan Jusuf Wanandi dari CSIS dalam Memoirnya, A Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru.

Ini menjelaskan mengapa Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 27 Juli 1996 dan justru memberi jabatan sangat tinggi kepada masing-masing SBY yang memimpin rapat penyerbuan Operasi Naga Merah; Sutiyoso yang komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; Agum Gumelar dan Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Megawati bunuh diri bila menyelidiki kejahatannya sendiri!

Bila dihubungkan dengan grup yang berkumpul di sisi Jokowi maka sudah jelas bahwa CSIS; PDIP; Agum Gumelar; Hendropriyono; Fahmi Idris; Megawati; Sutiyoso ada di pihak Poros JK mendukung Jokowi-JK demi menghalangi upaya Prabowo naik ke kursi presiden.

B. Kerusuhan Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden.

Pernahkah anda mendengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Ini fakta dan bukan bualan. Banyak buku sejarah yang sudah membahas hal ini, dan salah satunya cerita dari Kopassus di masa kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja perwira bawahan dia melihat sajadah di kursi dan bertanya "Apa ini?", jawab sang perwira, "Sajadah untuk shalat, Komandan." Benny membentak "TNI tidak mengenal ini." Benny juga sering mengadakan rapat staf pada saat menjelang ibadah Jumat sehingga menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.

Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1977 mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 10 orang, 18 di antaranya adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said juga menemukan hal yang sama bahwa para perwira yang menonjol keislamannya, misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak akan mendapat kesempatan sekolah karena sang perwira dianggap fanatik, sehingga sejak saat itu karir militernya suram.

Silakan perhatikan siapa para perwira tinggi beken yang diangkat dan menduduki pos penting pada masa Benny Moerdani menjadi Pangad atau Menhankam seperti Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; Rudolf Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Johny Lumintang dan lain sebagainya akan terlihat sebuah pola tidak terbantahkan bahwa perwira yang diangkat pada masa Benny Moerdani berkuasa adalah non Islam atau Islam abangan (yang tidak dianggap "fanatik" atau berada dalam golongan "islam santri" menurut versi Benny). Inilah yang dilawan Prabowo antara lain dengan membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh kelompok Benny Moerdani namun tidak berhasil. Tidak heran kelompok status quo dari kalangan perwira Benny Moerdani membenci Prabowo karena Prabowo yang menghancurkan cita-cita mendeislamisasi Indonesia itu.

Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk melawan komunis namun setelah komunis kalah dia membuat analisa bahwa lawan Amerika berikutnya di Indonesia hanya dua, "Hijau ABRI" dan "Hijau Islam", lalu menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya di Kasebul, Sofjan Wanandi, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Hoemardani (baca kesaksian George Junus Aditjondro, murid Pater Beek).

Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu Golkar-PDIP-Hanura-NasDem ada hubungan dengan kelompok anti Islam santri yang dihancurkan Prabowo? Silakan perhatikan satu per satu nama-nama yang mendukung Jokowi-JK, ada Ryamizard Ryacudu (menantu mantan wapres Try Sutrisno-agen Benny untuk persiapan bila Presiden Soeharto mangkat); ada Agum Gumelar-Hendropriyono (dua malaikat pelindung/bodyguard Megawati yang disuruh Benny Moerdani); ada Fahmi Idris (rumahnya adalah lokasi pertama ketika ide awal Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 dilontarkan Benny Moerdani); ada Luhut Panjaitan; ada Sutiyoso; ada Wiranto dan masih banyak lagi yang lain.

Lho, Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut:

"Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu."

(Salim Said, halaman 320)

Tentu saja Wiranto membantah dia memiliki hubungan dekat dengan Benny Moerdani namun kita memiliki cara membuktikan kebohongannya. Pertama, dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai "ABRI Hijau", dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir mengenai hal ini Wiranto mengatakan cerita "daftar nama" adalah bohong. Namun bila kita melihat catatan penting masa setelah Soeharto jatuh maka kita bisa melihat bahwa memang terjadi banyak perwira "hijau" di masa Wiranto yang waktu itu sempat menuai protes.

Fakta bahwa Wiranto adalah satu-satunya orang Benny Moerdani yang masih tersisa di sekitar Soeharto menjawab sekali untuk selamanya mengapa Wiranto menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; mengatakan kepada BJ Habibie bahwa Prabowo mau melakukan kudeta sehingga Prabowo dicopot; dan menceritakan kepada mertua Prabowo, Soeharto bahwa Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga Prabowo diusir dan dipaksa bercerai dengan Titiek Soeharto. Hal ini sebab Wiranto adalah eksekutor dari rencana Benny Moerdani menjatuhkan karir dan menistakan Prabowo.

Membicarakan "kebejatan" Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal saat itu jelas-jelas Wiranto sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa semua kepala staf angkatan darat, laut dan udara serta menolak permintaan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh. Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka sangat patut diduga Wiranto memang sengaja melarang pasukan keluar dari barak menghalangi kerusuhan sampai marinir berinisiatif keluar kandang. Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:

1. Menjatuhkan lawan menggunakan "gerakan massa" adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).

2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!!!

3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329).

Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 ada di belakang Jokowi-JK dengan mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar) untuk melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menjadi penghalang utama mereka ketika mencoba mendeislamisasi Indonesia.
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:25
kesimpulannya ada di wikiemoticon-Ngakak
Siapakah Dalang Mei 1998?
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:26
kok kompas si anu emoticon-Cape d...
ane sih cuma harap yang maju jadi RI 1 bisa usut kasus '98 ini sampe tuntas emoticon-I Love Indonesia
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh blue_danube
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:36


Kasus ini ga akan pernah berhenti dibahas sampai benar2 dituntaskan setuntas2nya emoticon-Smilie
Diubah oleh seiwinterfell
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 19:51
dalangnya yg pasti bukan parto
soalnya parto dalangnya OVJ
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 20:09
Emang ada kumpulan org aneh pd saat 98, saat itu ane di perempatan harmoni sampe cideng barat, bamyak banget org aneh naik truk menuju glodok,tegap dan terkordinir pk kaos doank
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 20:34
yang jelas bukan prabowo, dia cuma pasukan yg terima komando sebagai executor. tapi tetap saja terlibat..
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
23-05-2014 22:04

Lanjutannya gan

Atma Jaya Tanggal 14 Mei 1998

Sejak pagi, masa di luar kampus mengajak mahasiswa ke MPR dan melempari aparat. Di dalam kampus, mahasiswa melakukan orasi mendukung reformasi. Adnan Buyung Nasution juga hadir dan diberi kesempatan berorasi.

Berkali-kali masa di luar kampus memaki dan menghina “Mahasiswa pengecut!” bahkan melempari mahasiswa dengan batu karena menolak ajakan mereka ke MPR.

Aneh bin ajaib! Aparat yang berjaga di luar kampus ujug-ujug menawarkan jasa untuk mengawal mahasiswa ke MPR. Tentu saja tawarannya ditolak mentah-mentah. Melalui radio, mahasiswa mendengar berita kerusuhan yang merebak di Jakarta.

Ukrida Tanggal 14 Mei 1998

Mahasiswa pun menjalani waktu dengan ngobrol dan main futsal sambil mendengarkan radio. Sekitar jam 14.00, masa bebaju koko, berseragam SMA dan SMP mendatangi dari Mall Taman Anggrek sambil mengacung-acungkan golok dan pentung. Sambil berteriak, “Bakar! Bakar!” mereka berusaha mendobrak gerbang. Mahasiswa pun mempersenjatai diri dengan kayu dan batu untuk menghadapi penyerang.

Tiba-tiba terdengar suara berondongan senapan dari arah Tanjung Duren. Masa pun lari tunggang-langgang. Sebagian masa dengan wajah ketakutan memohon untuk menyelamatkan diri ke dalam kampus. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Yang melepaskan tembakan adalah polisi-polisi polsek Tanjung Duren.

Pada Tanggal 13 Mei 98 Tidak Ada Kerusuhan

Sumber: Gambar: viva.co.id
TGPF: Dari sudut urutan peristiwa, TGPF menemukan bahwa titik picu paling awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya wilayah seputar Universitas Trisakti pada tanggal 13 Mei 1998.

TGPF salah! Pada tanggal 13 Mei 98, selain truck tanah yang dibajak sekitar jam 13.00 lalu ditabrakkan ke pom bensin oleh masa berseragam SMP dan SMA, tidak ada kerusuhan di seputar Trisakti. Sekitar jam 14.00 aparat menghujani kampus Trisakti dengan tembakan dan lontaran gas air mata, namun tidak ada korban.

Beberapa orang bersaksi, antara jam 18.00-19.00, melihat penjarahan di diskotik Top One di Jl. Daan Mogot padahal yang terjadi adalah satpam diskotik sebagian tanpa seragam mengeluarkan botol-botol kosong lalu membantingnya di halaman diskotik untuk membuat barikade beling guna menghalangi orang masuk.

Ada yang bersaksi melihat mall Tomang Plaza (Topaz) dijarah dan dibakar sejak sore dan apinya baru padam malam harinya, padahal, tidak ada kebakaran sama sekali. Yang terjadi sore itu adalah masa membakar sampah dan ban bekas di halaman Topaz.

Sekitar jam 20.00, masyarakat Jelambar berjaga-jaga karena mendengar kabar, di Jl. Angke (antara Jembatan Dua sampai Pesing) sudah terjadi penjarahan bahkan pembakaran, padahal, tidak ada penjarahan apalagi pembakaran.

Ada yang bersaksi, sejak sore terjadi penjarahan dan pembakaran di Jembatan Lima, padahal tidak ada sama sekali. Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada kondisinya aman-aman saja sampai tanggal 14 Mei 1998 pagi.

Jam 19.00, di Keresek, Jakarta Barat, masa meneriakan yel-yel anti Cina ke dalam komplek perumahan. Tindakannya memancing orang-orang kampung menontonnya. Masa kampung berdiri di belakang provokator, itu sebabnya ketika penghuni komplek keluar, mereka menyangka semua orang yang berdiri di seberang lapangan adalah penyerang. Makanya, ketika diserang dengan batu oleh masa provokator penghuni komplek pun membalasnya. Karena penduduk kampung yang berdiri di belakang masa provokator merasa diserang penghuni komplek maka mereka pun menyerang balik. Terjadilah saling lempar batu dan kayu. Ketika penghuni komplek berhenti menyerang orang-orang kampung pun berhenti membalas. Tidak ada yang terluka karena jaraknya kedua masa terlalu jauh. Karena tidak ada tontonan lagi masa kampung dan penghuni komplek pun pulang.

Kerabatku sekalian, pada tanggal 13 Mei 1998, tidak ada kebakaran apalagi pembakaran di Jakarta. Silahkan melakukan konfirmasi ke Pos Pemadam Kebakaran terdekat dari lokasi yang diisyukan terjadi penjarahan dan pembakaran. Yang terjadi sore hingga malam itu adalah kemacetan total karena sebagian masyarakat panik termakan isyu kerusuhan anti Cina merebak di mana-mana. Yang terjadi hari itu adalah preman-preman berkeliaran di jalan-jalan menyebarkan isyu tentang kerusuhan anti Cina kepada para pengendara. Yang terjadi hari itu adalah preman-preman gagal melakukan kerusuhan dan gagal pula memancing masyarakat untuk melakukan kerusuhan.

Prabowo Tentang Kerusuhan 13 Mei 1998

Sumber: Gambar: jurnal3.com
Tanggal 14 Oktober 1999, di Bangkok, 4 wartawan mewawancari Prabowo. Inilah yang dimuat di Majalah PANJI No. 28/III, 27 Oktober 1999:

Saya mulai dari 12 Mei 1998. Malam itu, pukul 20.00 wib, ketika di rumah Jl. Cendana No. 7, saya ditelepon Sjafrie (Pangdam Jaya saat itu, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin). Kata dia, “Gawat nih, Wo, ada mahasiswa yang tewas tertembak.” Saya lalu bergegas ke Makostrad. Saya sudah antisipasi, besok pasti ramai. Maka pasukan saya konsolidasi. Kalau perlu tambahan pasukan kan mesti disiapkan tempatnya. Mau ditaruh di mana mereka. Malam itu saya terus memantau situasi. Lalu, terpikir oleh saya, kelanjutan rencana acara Kostrad di Malang pada 14 Mei 1998. Rencananya inspektur upacara adalah Pangab Wiranto. Pangkostrad juga harus hadir. Kalau ibu kota genting, apa kita masih pergi juga?

Keesokan harinya, sejak pukul 08.00 WIB, saya mengontak Kol. Nur Muis dan menyampaikan usulan agar acara di Malang ditunda. Atau, kehadiran pangab dibatalkan saja karena situasi ibu kota genting. Biar saya saja yang berangkat. Jawaban dari Pak Wiranto yang disampaikan lewat Kol. Nur Muis, acara tetap berlangsung sesuai rencana. Irup (Inspektur Upacara—Red.) tetap Pak Wiranto dan saya selaku pangkostrad tetap hadir. Beberapa opsi usulan saya tawarkan kepada Pak Wiranto, yang intinya agar tidak meninggalkan ibu kota, karena keadaan sedang gawat. Posisi terpenting yang harus diamankan adalah ibu kota. Tapi, sampai sekitar delapan kali saya telepon, keputusan tetap sama. Itu terjadi sampai malam hari.

Jadi, pada 14 Mei, pukul 06.00 WIB kita sudah berada di lapangan Halim Perdanakusuma. Saya kaget juga. Panglima utama ada di sana. Danjen Kopassus segala ikut. Saya membatin, sedang genting begini kok seluruh panglima, termasuk panglima ABRI malah pergi ke Malang. Padahal, komandan batalion sekalipun sudah diminta membuat perkiraan cepat, perkiraan operasi, begini, lantas bagaimana setelahnya. Tapi, ya sudah, saya patuh saja pada perintah. Saya ikut ke Malang.

Inilah yang dimuat majalah Asiaweek Vo. 26/No. 8, 3 Maret 2000:

Kejadian tersebut bermula hari Selasa, 12 Mei, ketika Prabowo menerima panggilan telepon. Beberapa mahasiswa tertembak selama demonstrasi di Universitas Trisakti. Naluri pertama Prabowo adalah untuk menyalahkan pasukan keamanan yang tidak disiplin. “Kadang-kadang polisi dan tentara kita begitu tidak profesional. Anda dapat melihat beberapa kesatuan seperti itu. Ya, Tuhan, ini bodoh. Itu adalah reaksi pertama saya.”

Merasa situasi darurat segera terjadi, dia pergi ke markas besarnya di Medan Merdeka, yang hanya terletak di samping markas garnisun. Sebagai Panglima Kostrad, tugas Prabowo adalah menyediakan anak buah dan peralatan. “Saya memanggil pasukan, menyiagakan mereka,” katanya. “Pasukan ini selalu di bawah kendali operasional dari komandan garnisun (Pangdam Jaya). Itulah sistem kami. Saya pada dasarnya hanya berkapasitas sebagai pemberi saran. Saya tidak mempunyai wewenang.”

Dia kembali ke rumah setelah tengah malam, tetapi kembali ke markas Kostrad pagi-pagi esok harinya, 13 Mei. Ketika perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung, Prabowo menghabiskan waktu seharian untuk memikirkan cara bagaimana menggerakkan dan menampung batalion-batalionnya. Kecemasan lain: esok harinya Wiranto telah dijadwalkan memimpin sebuah upacara angkatan darat pada pagi berikutnya di Malang, Jawa Timur, sekitar 650 km lebih dari ibukota yang sedang kacau. Sepanjang tanggal 13 Mei, Prabowo berkata bahwa dia mencoba membujuk Wiranto untuk membatalkan kehadirannya di Malang. “Saya menganjurkan bahwa kita membatalkan upacara tersebut di Malang,” katanya. “Jawabnya: tidak, upacara tersebut tetap berlangsung. Saya menelepon kembali. Itu terjadi bolak-balik. Delapan kali saya menelepon kantornya, delapan kali saya diberitahu bahwa upacara itu harus tetap dilaksanakan.”

Jadi pada jam enam pagi, hari Kamis tanggal 14 Mei, Prabowo tiba di pangkalan udara Halim di Jakarta Timur. Dia mengatakan terkejut, pada situasi yang tegang seperti ini, menjumpai sebagian besar pimpinan militer ada di sana. Selama penerbangan dan upacara, dia mengatakan bahwa Wiranto dan dia tak banyak bicara satu sama lain.

Di halaman 85 bukunya yang berjudul, “Konflik dan Integrasi TNI-AD” yang diterbitkan oleh Institute for Policy Studies tahun 2004, Mayjen Kivlan Zen menyalahkan Wiranto yang kekeh jumekeh ke Malang untuk menjadi Inspektur upacara serah terima PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dari Divisi I Kostrad ke Divisi II Kostrad walaupun Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto telah menyarankan agar tidak usah berangkat karena saat itu Jakarta sudah genting sebab pembakaran dan kerusuhan terjadi di mana-mana.

Menyingkap Kedok Dalang Kerusuhan Mei 1998

Sumber: Gambar: nguungnguung


Wiranto menjadi inspektur upacara di Malang tanggal 14 Mei 1998 sudah dijadwalkan sejak bulan Maret 1998. Kivlan Zen yang menyiapkan acaranya. Tidak ada alasan yang cukup kuat bagi Wiranto untuk membatalkan kepergiannya. Jakarta aman-aman saja. Sampai keberangkatan Wiranto ke Malang jam 06.00 tanggal 14 Mei 1998 tidak ada situasi gawat apalagi perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung di Jakarta.

Kenapa Prabowo bersaksi Jakarta sedang gawat dan genting bahkan perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung padahal saat itu Jakarta aman-aman saja? Karena sang DALANG sudah memberi perintah, seharusnya perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung pada tanggal 13 mei 1998?

Kenapa Prabowo membantin, “sedang genting” padahal saat itu Jakarta aman-aman saja? Kenapa Prabowo “terkejut, pada situasi yang tegang,” padahal Jakarta aman-aman saja? Karena sang DALANG sudah memberi perintah kepada lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas agar perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung tanggal 14 Mei 1998?

Kambing hitamnya tidak mau keluar kandang pada tanggal 13 Mei 1998. Kenapa perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung walaupun kambing hitamnya tidak mau keluar kandang pada tanggal 14 mei 1998? Karena sang DALANG sedang pergi ke Malang bersama banyak SAKSI makanya tidak bisa berkomunikasi? Karena wayang-wayangnya tidak berani melanggar perintah sebab lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas?

Tahun 1998, Sjafrie Sjamsoeddin adalah Pangdam Jaya. Kapolda Metro Jaya dijabat oleh Hamami Nata. Prabowo adalah Pangkostrad. Kapolrinya Dibyo Widodo. Subagyo HS menjabat Kasad dan Menhan/Pangab dijabat oleh Wiranto.

Dalam kesaksiannya di depan TGPF, Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata menyatakan kerusuhan ini (red: kerusuhan Mei 98) sangat terorganisir dan dilakukan orang-orang terlatih. Ia memperlihatkan foto-foto yang membuktikan bahwa pelakunya sangat terlatih. Ia juga mengatakan bahwa alat komunikasi polisi di -jam (dibuat macet dan nggak berfungsi), dan pos-pos polisi dibakar. Ketika ia ditanya oleh tim TGPF, mengapa polisi tidak melakukan penembakan utk menghentikan para perusuh, ia menjawab: “Bagaimana kami mau menembak kalau di tengah-tengah masa itu ada orang-orang bersenjata dari angkatan?”.

Prabowo bersaksi, tanggal 20 Mei 1998, di rumah presiden Soeharto, Wiranto ada di sana, ketika menyangka dirinya akan mendapat pujian, Mamiek Soeharto justru menudingkan telunjuknya sejauh satu inci dari hidung Prabowo dan berteriak, “Kamu pengkhianat! Jangan injak kakimu di rumah saya lagi!” Sampai hari ini kita tidak tahu apa alasan Mamiek menuding Prabowo pengkhianat? Mungkinkah tindakan sang DALANG (tanpa sepengetahuan Soeharto dan Pangab) menyulut kerusuhan anti Cina yang gagal menjadikan mahasiswa kambing hitam dianggap pengkhianatan? Saya tidak tahu! Kalau saja Mamiek Soeharto mau bicara. Namun, kita harus mengakui bahwa kerusuhan Mei 98 hanya menyisakan satu pintu bagi Presiden Soeharto yaitu lengser karena semua pintu yang lainnya sudah dimusnahkan.

NB.

Sumber: Gambar: tempo.co


Meskipun Prabowo bilang, “... komandan batalion sekalipun sudah diminta membuat perkiraan cepat, perkiraan operasi, begini, lantas bagaimana setelahnya,” namun, kenapa saat kerusuhan berlangsung, tidak ada komandan batalion yang beroperasi mengamankan Jakarta? Mungkinkah operasi “begini, lantas bagaimana setelahnya” yang diperkirakan oleh para komandan batalion bukan operasi pengamanan Jakarta namun operasi kambing hitam?

Meskipun kepada Asiaweek Prabowo mengagulkan, “Saya memanggil pasukan, menyiagakan mereka, pasukan ini selalu di bawah kendali operasional dari komandan garnisun. Itulah sistem kami. Saya pada dasarnya hanya berkapasitas sebagai pemberi saran. Saya tidak mempunyai wewenang,” namun, kenapa dikatakan, “Ketika perusuh mulai merampok dan membakar gedung-gedung, Prabowo menghabiskan waktu seharian untuk memikirkan cara bagaimanamenggerakkandan menampung batalion-batalionnya,” Bukankah yang harus memikirkan bagaimana menggerakkan dan menampung batalion-batalion adalah komandan garnisun? Bukankah wewenang Prabowo hanya menyerahkan pasukan dan selanjutnya adalah tugas komandan garnisun? Kalau memang mau bantu pikir, bukankah seharusnya Prabowo tidak berpikir sendirian namun bersama komandan garnisun?

Karena wewenang Pangkostrad hanya memanggil dan menyiagakan lalu menyerahkan pasukan ke komandan garnisun, kenapa pada tanggal 22 Mei 1998, Kopassus yang berkeliaran di depan rumah presiden Habibie menolak perintah Komandan garnisun Paspampres, Mayjen TNI Endriartono Sutarto dengan alasan hanya menaati perintah Danjen Kopassus?

Kenapa baru atas perintah penasihat militer Presiden Habibie, Letjen Sintong Panjaitan, pada tanggal 22 Mei 1998 Wadanjen Kopassus Brigjen Idris Gasing berkoordinasi dengan Panglima Kodam Jaya, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin? Sebagian Kopassus ditarik kembali ke Serang dan sebagian lainnya ke Kartosuro.

Di dalam buku Konflik dan Integrasi TNI – AD, Kivlan Zen menulis, “Karena Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Pangdam Jaya kekurangan pasukan danmeminta ke Kostrad, maka Kostrad menyiapkan pasukan tersebut. Karena tidak mendapatkan ijin dari Mabes ABRI, maka dengan menggunakan biaya pribadi Prabowo menyewa pesawat milik Mandala di Makassar dan pesawat milik Garuda di Surabaya. Hal ini dilakukan karena keadaan mendesak. Pasukan inilah yang dinilai Habibie sebagai pasukan liar dan bisa membahayakan."

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, bila yang dikatakan oleh Kivlan Zen benar, Prabowo memanggil dan menyiagakan pasukan atas permintaan Pangdam Jaya, kenapa pasukan yang tiba di Jakarta alih-alih diserahkan ke Pangdam Jaya justru diperintahkan untuk berkeliaran seenak jidatnya di sekitar rumah presiden dan istana dan hanya mematuhi perintah Danjen Kopassus?

Prabowo bilang, pengerahan pasukan Kostrad di sekitar rumah Habibie adalah atas perintah Wiranto sebagai Panglima ABRI untuk mengamankan Presiden Habibie. Kerabatku sekalian, ketika menjabat Pangkostrad, Prabowo berpangkat Mayor Jendral, bukan calon mahasiswa AKABRI yang sedang diplonco. Dengan pangkat Mayjen mustahil Prabowo tidak tahu bahwa cara Pangkostrad menaati perintah Pangab untuk mengamankan presiden Habibie adalah memanggil dan menyiagakan lalu menyerahkan pasukan ke komandan garnisun Paspampres, BUKAN memerintahkan Kopassus ptantang-ptenteng di depan istana dan rumah presiden seenak jidatnya mengganggu tugas Paspampres.
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
26-09-2014 16:07
kalau tanya dalang ya pasti ki manteb
0 0
0
Siapakah Dalang Mei 1998?
26-09-2014 16:11
si jongos jadi babu aja,
dpr kmp yang kuasai emoticon-Big Grin

si jongos jadi babu aja,
dpr kmp yang kuasai emoticon-Big Grin

0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia